[Freelance] First Snow In December (Chapter 3)

PicsArt_1368979262706

Cast : Song Jongki

          Kim So eun as Kim Yoo Jin

         Jung Ill woo as Kevin Jung

Other Cast : Lee Sung Ki

Rating : PG-17

Genre : Romance, Friendship

Author : Vinna Karnawiredja

Dua minggu kemudian

     Jongki sedang melamun di meja kerjanya, catatan pasien ditangannya tak dilihatnya sama sekali, karena pikirannya berkelana entah dimana. Jongki memikirkan perkataan yoo jin padanya di hari kejadian kevin mengalami kecelakaan. Ia pun menyadari kalau yoo jin sudah tidak seperti dulu,mereka jarang bertemu dan gadis itu lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kevin.

     Malam itu yoo jin menceritakan padanya percakapan antara kevin dan seungki yang tidak sengaja ia dengar. Yoo jin merasa menjadi orang egois karena sering meninggalkan kevin untuk dirinya. Kevin pria yang baik bahkan terlalu baik. Itu kata-kata yoo jin yang masih terngiang-ngiang dikepalanya. Benar, semua yang dikatakannya benar. Kevin memang pria yang sangat baik, dan tak pernah mengeluh. Tapi itu bukan berarti kalau yoo jin adalah gadis yang egois. Untuk apa yoo jin menyalahkan dirinya sendiri?

     Dan yang paling membuatnya bertanya-tanya adalah, Kenapa ia merasa kesepian saat iajarang bertemu dengan yoo jin? Kenapa ia selalu merindukan gadis itu setiap detik? Ia bahkan merasa sangat kecewa saat yoo jin tidak bisa bertemu dengannya karena sedang bersama kevin? Apa dia cemburu? Apa ia menyukai yoo jin? tidak ini tidak boleh, ia tidak boleh jatuh cinta pada sahabatnya itu. Telepon dimeja kantornya berdering, dan membuyarkan semua pikiran di kepalanya.

     “yeobuseo… baiklah biarkan mereka masuk“ jongki menutup teleponnya. Beberapa detik kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu kantornya tok…tok…tok…

     “masuklah“ jawabnya,.

Kemudian dua orang yang sangat dikenalnya itu pun masuk, dan entah kenapa tiba-tiba saja rasa rindu menyelimuti dirinya. Rindu karena sudah beberapa hari tidak bertemu dengan sahabat baiknya

     “jongki ya…annyong “ yoo jin memberikan senyum terbaiknya

     “Annyong jongki ssi…kuharap kami tak terlambat“ kevin pun menyapanya dan tersenyum kecil.

     “tentu saja tidak, duduklah“ jawabnya

     Yoo jin dan kevin duduk di bangku yang biasa digunakan oleh pasien jongki bila sedang berobat. Tujuan mereka datang adalah karena hari ini gips yang digunakan kevin selama 2 minggu ini akan segera dibuka. Perlahan-lahan jongki memindahkan kursinya dan duduk di hadapan kevin. Dengan sangat teliti dan cekatan ia pun segera melepaskan gips itu sedikit-demi sedikit.

     “jongki ya kau tahu saat kau melakukan pekerjaanmu kau terlihat sangat tampan, apa ada pasienmu yang jatuh cinta padamu?“ yoo jin mulai menggoda jongki

     “berhenti menggodaku, kalau tidak kau akan aku suntik“ jongki melotot ke arah yoo jin

     “ya…kau pikir aku masih murid sekolah dasar yang takut dengan jarum suntik?“ yoo jin mendengus

     “Baiklah kalau begitu, biar aku menyuruh perawat untuk membawakan jarum suntik untukmu“ jongki pun mulai memencet tombol telepon, tapi tiba-tiba saja yoo jin menghentikannya

     “ah baiklah-baiklah…dasar kau ini“ yoo jin terlihat kesal

Kevin pun tertawa mendengar lelucon kedua sahabat ini, ia pun bertanya pada jongki

     “apa yoo jin takut dengan jarum suntik?“

     “benar, dia akan lari terbirit-birit jika melihat jarum suntik di depan wajahnya. Bahkan saat masih di sekolah dasar dia pernah mengompol karena terlalu ketakutan saat hendak disuntik“

     Kevin tertawa puas “kenapa kau baru memberitahukannya sekarang, aku bahkan sangat sulit untuk menakut-nakutinya“

     “yaa…apa kalian puas menertawaiku?“ yoo jin pun melotot kepada kedua pria dihadapannya itu

Kevin dan jongki pun semakin keras tertawa karena berhasil menggoda yoo jin.

Tak lama kemudian jongki pun menyelesaikan pekerjaannya.

     “Baiklah sudah selesai, kurasa tanganmu saat ini sudah jauh lebih baik. Mungkin hanya akan sedikit kaku selama beberapa jam, karena pengaruh obat. Tapi setelah itu semua akan kembali normal. “

     “ne…kamsahamnida jongki ssi.“

     “bagaimana dengan luka di kepalanya?“ tanya yoo jin

     Jongki pun melihat hasil pemerikasaan ct scan kevin yang tersimpan di komputernya. “tidak ada masalah, semua baik-baik saja”

     “ah syukurlah, aku lega mendengarnya” katanya.

     Tiba-tiba jongki pun mengagetkan yoo jin dengan mengeluarkan jarum suntik yang tadi ia sembunyikan di saku jas nya

     “yoo jin ah…kau mau aku suntik” jongki pun menjulurkan tangannya yang memegang jarum suntik, sehingga membuat gadis itu terkejut hingga berdiri dari duduknya.

Kevin dan jongki yang menyaksikan hal itu malah tertawa puas.

Yoo jin sangat terkejut dan ketakutan. Tapi tiba-tiba saja dadanya terasa sesak, sakit, seperti ditindih oleh ribuan ton batu. Jantungnya berdetak 3 kali lebih cepat dari biasanya. Ia membungkuk dan memegangi dadanya yang terasa nyeri. Kevin dan jongki yang tadinya tertawa, langsung cemas dan mendekati yoo jin.

     “yoo jin ah…kwenchanayo” tanya kevin panik

     “yoo jin ah…apa yang terjadi? Biar aku memeriksamu” jongki mendekati yoo jin untuk memeriksanya

Yoo jin yang tak inginmembuat kedua pria yang ada di hadapannya ini khawatir, akhirnya mencoba menahan rasa sakitnya.

     “aku baik-baik saja,tak perlu khawatir“ yoo jin pun mencoba bangkit dan menatap jongki dan juga kevin “aku hanya bercanda dengan kalian, karena kalian menggodaku, jadi aku pura-pura kesakitan“ yoo jin pun memberikan senyum nakalnya

     “apa kau yakin? Tapi kau tadi seperti orang yang benar-benar kesakitan?“ Kata kevin

     “biar aku memeriksamu, jadi aku bisa tenang“ kata jongki yang terlihat tidak percaya

     “aigoo…kalian berdua memang tertipu dengan aktingku yang meyakinkan, aku baik-baik saja. Kalian lihat kan“ yoo jin menepuk-nepuk dadanya untuk membuktikan kalau ia baik-baik saja. Dan jongki pun menjadi marah karenanya.

     “yaa...jangan bercanda seperti itu, kau tahu betapa khawatirnya aku? Jangan membuat lelucon dengan pura-pura sakit sepertiitu, karena  itu membuatku terkejut setengah mati“ jongki pun melempar stetoskop yang sedang dipegangya dan berjalan keluar.

     “yoo jin ah..kurasa tadi bercandamu sedikit keterlaluan. Kau tahu kalau jongki adalah seorang dokter, ia pasti akan sangat khawatir.“ Kevin mencoba menenangkan suasana yang sudah tegang.

     Wajah yoo jin terlihat merah, dan matanya berkaca-kaca “benar…semua yang aku lakukan memang keterlaluan, tapi tidakkah kalian juga keterlaluan saat menakut-nakutiku dengan jarum suntik?“ yoo jin pun mengambil tasnya yang tergeletak di meja dan pergi. Kevin terlihat kebingungan akan apa yang baru saja terjadi.

***

     Hari pertama di bulan november, itu artinya sudah satu minggu berlalu sejak insiden jarum suntik itu terjadi. Dan selama 1 minggu itu yoo jin maupun jongki sama-sama keras kepala dan tak ada yang mau meminta maaf dahulu. Mungkin ini adalah pertengkaran terlama yang pernah terjadi selama persahabatan mereka.

     Yoo jin terlihat duduk di sebuah cafe seorang diri. Ia tengah memandangi ponselnya sejak tadi, dan ia menggerutu sendiri “baik kita ihat saja siapa yang akan menelepon dahulu, aku tak akan pernah meneleponmulebih dulu“

kemudian seseorang duduk di bangku di hadapannya, dan yoo jin tersenyum ramah pada pemuda itu

     “maaf, aku sedikit terlambat. Tadi tiba-tiba saja ada urusan mendadak. Apa kau sudah menuggu lama?“

     “lumayan, tapi tidak apa-apa. Oh ya seungki ssi apa kau mau memesan sesuatu?“

     “segelas moccacino, dengan sedikit gula“

     “wah seleramu persis seperti kevin“

Kemudian yoo jin pun memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan seungki. Setelah pelayan itu pergi, yoo jin pun langsung membuka pembicaraan.

     “sebenarnya kenapa kau memintaku untuk bertemu disini? Dan kenapa harus merahasiakannya dari kevin?“ tanya yoo jin

Seungki langsung duduk tegak dan menatap yoo jin dengan tatapan serius

     “sebenarnya aku tahu saat di rumah sakit kau mendengar pembicaraanku dan kevin. Aku dapat melihat pantulan wajahmu dari cermin yang ditaruh disana“  Yoo jin terkejut, wajahnya tertunduk malu, kemudian seungki melanjutkan “aku minta maaf jika kata-kataku membuatmu tersinggung. Tapi aku hanya mengeluarkan semua yang ada di dalam hatiku, dan kuharap kau mengerti“

     “aku mengerti, sangat mengerti. Semua yang kaukatakan benar, mungkin aku kurang memperhatikan kevin. Tapi begitulah persahabatanku dan jongki, aku tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata sedekat apa hubungan kami. Tapi bagiku, ia adalah sahabat terbaik di dunia. Tidak lebih“

     “aku mengerti” seungki terlihat berpikir beberapa detik sebelum melanjutkan kata-katanya “Tapi apa kau tidak merasa bingung kenapa kevin bisa bersikap seperti itu? Sangat pengertian dan tidak menunjukan rasa cemburunya sedikit pun“

Yoo jin tampak berpikir. Benar juga apa yang dikatakan seungki. Kevin memang bersikap sangat pengertian, tidak pernah marah maupun mengeluh. Ia sangat berbeda dengan pria-pria yang mengencaninya dulu,yang tidak bisa menerima persahabatannya dengan jongki.

     “benar, ini memang aneh. Kevin tidak pernah marah sama sekali jika aku pergi menemui jongki walaupun itu sudah larut malam. Apa mungkin sesuatu terjadi di masa lalunya?“ yoo jin memandang seungki dengan rasa penasaran. Seungki mengangguk membenarkan, dan wajah yoo jin menjadi tegang.

     “maka dari itu aku ingin memberitahukan tentang masa lalu kevin. Ia menutup rapat-rapat kejadian itu. Dan tak ada seorang pun yang ia beritahu mengenai masalah ini. Ia berusaha sekuat tenaga untuk melupakannya. Sebenarnya aku tidak boleh memberitahukannya padamu, karena jika kevin tahu dia bisa membunuhku. Maka dari itu setelah aku ceritakan semuanya, kuharap kau dapat bersikap seolah-olah tidak tahu apa-apa, dan jangan pernahmengatakan pada kevin kalau aku yang memberitahukan ini padamu. Karena aku percaya suatu hari ia akan menceritakannya sendiri padamu.“

Yoo jin mengangguk mengerti. Saat itu pelayan datang membawa pesanan seungki, seungki tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Setelah pelayan itu pergi, seungki kembali menatap yoo jin dan mulai bercerita

     “peristiwa ini terjadi 5 tahun yang lalu. Dulu kevin adalah seorang pria yang protektif, karena terlalu protektif kekasihnya sempat menjadi stress dan mencoba untuk bunuh diri. Untung saja gadis itu selamat. Semenjak saat itu kevin berjanji pada dirinya sendiri kalau ia takakan pernah melarang kekasihnya untuk melakukan apa yang disukainya. Dan kau adalah kekasih pertamanya semenjak peristiwa itu. Jadi kuharap kau tak akan pernah menyakitinya“

Yoo jin terperangah, ia tidak menyangka kalau kevin pernah menghadapi peristiwa seperti itu di masa lalunya. Kevin selalu ceria dan tertawa di hadapannya, bahkan ia tak pernah sekalipun terlihat bersedih.

     “aku benar-benar tidak menyangka kalau kevin pernah mengalami masa yang berat seperti itu. Aku memang egois, hanya mementingkan diriku sendiri tanpa mempedulikan perasaannya“

     “aku rasa saat ini kau mulai berubah, sejak kau mendengar pembicaraanku dan kevin di rumah sakit aku merasa kau lebih mengabiskan banyak waktu dengan kevin yang notabene adalah kekasihmu dibandingakan dengan sahabatmu. Dan jujur saja aku senang melihatnya“  seungki tersenyum dan meneguk capuccino yang dipesannya tadi.

***

     Jam menunjukan pukul 8 malam, yoo jin tampak termenung di depan laptopnya. Ia masih memikirkan pertemuannya dengan seungki siang tadi, dan apa yang dibicarakan pria itu.

Tak lama kemudian terdengar suara seseorangmemencet bel rumahnya. Dengan sedikit malas yoo jin pun bangkit dari duduknyadan berjalan untuk membuka pintu. Dan ia terkejut saat melihat jongki berdiri di depan pintu sambil membawa sesuatu di tangannya. Yoo jin terdiam seperti patung. Sudah satu minggu ini mereka tidak berhubungan sama sekali, dan sekarang sahabatnya ini secara mengejutkan malah terlihat di depan rumahnya, perkataan jongki menyadarkan yoo jin darilamunanya

     “apa kau hanya akan berdiri seperti patung dan membiarkanku membeku di luar?“

Tanpa berbicara sepatah kata pun yoo jin masuk kedalam apartemennya dan jongki mengikutinya. Kemudian mereka duduk di ruang tamu.

     “apa kau masih marah padaku?“ tanya jongki

     “seharusnya aku yang bertanya seperti itu, karena kau yang melemparkan stetoskop dan berjalan pergi?“

     “baiklah aku yang salah, aku terlalu kasar saat itu, aku minta maaf. Kuharap kau mengerti kalau aku seorang dokter. Jadi jika seseorang bercanda dengan kesehatan tubuhnya sendiri aku bisa menjadi panik dan emosi.“

Yoo jin sadar ia memang keterlaluan, tapi ia melakukan itu karena ia mencoba untuk menyembunyikan rasa sakit yang sebenarnya ia rasakan saat itu. Ia tak ingin jongki maupun kevin mengkhawatirkannya. Maka dari itu ia bersikap seolah-olah ia sedang berakting.

     “aku juga minta maaf, aku rasa leluconku sudah keterlaluan“

     “jadi kau sudah memaafkanku kan?“

Yoo jin mengangguk dan tersenyum

     “ah syukurlah. Yoo jin ah kau tahu selama seminggu ini aku begitu tersiksa. Karena tak ada seorang pun yang bisa kuajak berdiskusi, bercanda, dan berjalan-jalan saat sedang suntuk. Aku begitu kesepian“

Jongki tersenyum lega, kemudian menyerahkan bungkusan yang dibawanya tadi pada yoo jin.

     “apa ini?“ tanya yoo jin

     “hadiah. ini ungkapan permintaan maafku“

Yoo jin membuka bungkusan itu dan melihat ada 10 porsi kue beras di dalamnya, ia pun menatap jongki dengan tatapan bingung  “kenapa memberiku kue beras sebanyak ini?“

Jongki tersenyum dan mengusap kepala yoo jin sehingga membuat rambut gadis itu berantakan

     “dasar miss pikun. Aku kan masih berhutang 10 porsi kue beras padamu, kau ingat malam saat kevin tertabrak sepeda motor?“

Yoo jin tampak berpikir “ah..iya aku rasa aku ingat“

     “baguslah, kalu begitu ayo kita makan bersama“

     “aku akan mengajak kevin bergabung ya, lagipula kita berdua tak akan habis makan kue beras sebanyak ini.  Bagaimana menurutmu?“

     Jongki terlihat sedikit kecewa, sebenarnya ia ingin merayakan membaiknya persahabatan mereka hanya dengan yoo jin. Tapi apa boleh buat, kevin adalah kekasih yoo jin dan ia tak bisa melarangnya sebagai seorang sahabat. Kemudian dengan sedikit enggan ia akhirnya mengangguk“

     Malam itu mereka bertiga terlihat senang. Menghabiskan 10 porsi kue beras hingga tak bersisa, dan bercanda sampai perut mereka sakit karena tertawa. Jongki juga dapat melihat kemesraan antara yoo jindan kevin, dan itu membuat perasaannya tidak nyaman. Apakah ia cemburu? Tidak. Jongki mencoba menepis perasaaan yang ia rasakan.

     Beberapa menit kemudian yoo jin kelelahan dan jatuh tertidur di sofa, kemudian jongki berinisiatif untuk menggendong yoo jin kekamarnya agar ia  bisa tidur nyaman di ranjangnya. Tapi saat ia hendak mennggendong yoo jin, tangan seseorang menghalanginya. Ia melihat kalau kevin sedang menatapnya. “biar aku saja yang melakukannya” ucapnya

kemudian kevin menggendong yoo jin dan menidurkan gadis itu di ranjangnya. Beberapa menit kemudian jongki dapat melihat kevin mematikan lampu kamar yoo jin kemudian ia keluar dan menutup pintu kamar.

***

     Udara di bulan november semakin hari semakin dingin, walau salju belum turun tetapi cuaca saat itu sudah mencapai 8 derajat celcius. Saat itu yoo jin tengah berdiri di depan balaikota untuk melihat pengumuman siapa saja yang lolos ujian pegawai negri yang ia ikuti beberapa minggu yang lalu. Ia menggunakan mantel bulu tebal berwarna coklat dan juga sepatu boots hitam agar terasa hangat. Jantungnya berdebar-debar karena ini adalah ke lima kalinya ia mengikuti ujian pegawai negri, dan jika yang ini gagal lagi ia memutuskan untuk menyerah.

Tampak banyak orang yang juga menunggu hasil ujian sama seperti yoo jin.

     Tepat pukul 8 pagi pintu kantor balaikota pun dibuka, puluhan orang langsung berlari memasuki gerbang dan menuju papan pengumuman. Yoo jin pun bergabung dengan orang-orang itu, dan bedesak-desakan di  depan papan pengumuman. Ia mencoba untuk berjalan kedepan dan menyingkirkan orang-orang yang menghalanginya, tetapi tiba-tiba saja dadanya terasa sesak, ia seperti tak bisa bernafas. Rasa saklt ini sama seperti yang ia rasakan saat di kantorjongki beberapa waktu lalu. Lama kelamaan rasa sakit di dadanya semakin menjadi karena orang-orang disekitarnya semakin banyak dan semakin berdesak-desakan, dan akhirnya semuanya menjadi gelap.

     Yoo jin tersadar satu jam kemudian, matanya tampak beradaptasi dengan cahaya. Ia melihat kevin sudah berdiri di sampinya, wajahnya menunjukan kekhawatiran

     “yoo jin ah..apa kaubaik-baik saja?” tanya kevin

     “dimana ini? Kenapa kau bisa ada disini?” yoo jin melihat ke sekeliling dan tampak ruangan asing baginya

     “ini ruang kesehatan di balaikota. Kau pingsan karena terdesak oleh orang-orang dan seorang petugas membawamu kemari”

Kemudian tampak seorang pegawai balaikota masuk dan menyapa yoo jin

     “agashi syukurlah kau sudah siuman”

Yoo jin mencoba bangun dan menunduk mengucapkan terimakasih pada pria setengah baya itu

     “terimakasih, karena sudah menolongku”

     “seorang petugas keamanan yang membawamu kemari, aku hanya menelepon suamimu dan memberitahukan yang terjadi padamu”

Yoo jin dan kevin tampak berpandangan, mereka terlihat terkejut dengan tebakan pegawai balaikota itu.

Kemudian kevin tampak tersenyum-senyum senang karena pegawai itu menyangka mereka adalah suami istri.

     “agashi apa kau merasa sudah baikan saat ini? perlukah pergi ke rumah sakit?“ Tanyanya

     “tdak perlu, aku sudah jauh lebih baik. Sekali lagi aku mengucapkan terimakasih“

     “ah tidak perlu sungkan, kau bukan orang pertama yang jatuh pingsan karena berdesak-desakan saat melihat papan pengumuman“

     Tiba-tiba saja yoo jin teringat maksud dan tujuannya datang ke balaikota ini “ah benar, aku sampai lupa kalau aku datang kemari karena ingin melihat hasil ujianku”

     “agashi, aku telah melihat hasil ujianmu. Namamu kim yoo jin bukan? Dan ID mu 198****“

     “apakah anda sudah melihatnya? Apakah aku lulus?“

Kemudian pegawai balaikota itu memberikan selembar kertas pada yoo jin, saat membukanya yoo jin tahu kalau itu adalah daftar orang-orang yang telah lulus tahap seleksi dan bersiap untuk wawancara akhir. Yoo jin melihat namanya tertulis disana, ia adalah salah satu dari 10 orang yang lulus dan berhak mengikuti wawancara akhir. Rasa syukur dan senang terpancar dari wajahnya. Ia seolah tak percaya kalau akhirnya ia berhasil lulus tes. Kevin sudah menebak hasilnya saat ia melihat ekspresi wajah kekasihnya itu

“kau berhasil. Benar bukan?“ tanya kevin.

Yoo jin pun memandang kevin dan menganggukan kepalanya. Ia lalu memeluk kevin karena bahagia.

“aku berhasil, aku berhasil“ teriak yoo jin puas.

     Malam harinya yoo jin merayakan kelulusannya bersama jongki di apartemen miliknya. Saat itu kevin tidak bergabung karena sedang ada pekerjaan yang belum ia selesaikan. Kevin adalah seorang arsitek,dan ia harus siap kapan pun klien menemuinya. Maka dari itu malam ini ia tidak bisa bergabung bersama mereka.

      Yoo jin dan jongki terlihat duduk di  di lantai di ruang tengah sambil membuat daging bakar dan minum sebotol soju

     “chukae…aku tak percaya akhirnya kau berhasil juga meraih impianmu“ jongki mengangkat gelasnya mengajak yoo jin untuk bersulang, kemudian yoo jin pun mengangkat gelasnya dan mereka pun bersulang dan meminum seteguk soju.

     “gumawoyo…kurasa aku akan sibuk di masa depan, jadi kau tidak akan bisa seenaknya memanggilku keluar“

     “apa kau yakin akan melewati wawancara tahap akhir?“

     “kau tahu wawancara akhir hanyalah sebuah prosedur, karena hanya 1 dari 10 ribu orang yang gagal dalam wawancara akhir ujian pegawai negri“

     “aigo…kau benar-benar percaya diri. Oh ya kudengar tadi kau jatuh pingsan karena berdesak-desakan, lebih baik kau segera periksakan dirimu ke dokter“

     “tidak perlu, lagipula kata pegawai yang berkerja di sana, ini bukan pertama kalinya hal seperti yang kualami terjadi. Jadi wajarsaja kalau ada yang pingsan“

     “kau ini benar-benar nakal. Sini biar aku saja yang memeriksamu“

kemudian jongki pun menghampiri yoo jin hendakmemeriksanya, tapi yoo jin mencoba menghidar “tidak, aku tidak mau“ yoo jin menolak

tapi jongki tetap memaksa karena ia khawatir dengan kondisi yoo jin yang semakin lama terlihat semakin lemah.

     “aku ini dokter, kau tidak percaya padaku?“ jongki terlihat pura-pura marah,

Melihat hal  itu, yoo jin mencoba menjahili sahabatnya itu dan dia menjulurkan lidahnya pada jongki. Kemudian ia pun mencoba berdiri untuk meghindar dari sahabatnya itu. Jongki pun tidak mau kalah, ia memegang bahu yoo jin sehingga gadis itu terduduk kembali, dan dengan satu serangan ia berhasil menahan yoojin ke dinding, sehingga gadis itu tidak dapat bergerak kemana-mana

     “sudah kubilang, jangan bermain-main dengan dokter pintar sepertiku“ jongki tersenyum, tetapi ia langsung meyadari bahwa jaraknya dan yoo jin sangat dekat tidak lebih dari 5 cm, tiba-tiba saja jantungnya berdegup lebih kencang. Yoo jin terlihat sangat cantik dari jarak sedekat ini? apa yang terjadi padanya sekarang? Tiba-tiba saja instingnya menjadi nakal. Degan perlaha-lahan ia mendekatkan wajahnya kepada yoo jin, dan dengan satu gerakan ia mencium bibir sahabatnya itu, ciuman yang semakin lama semakin dalam. Entah kemana akal sehatnya pergi, tapi ia senang karena yoo jin menyambutnya, dan tidak menolaknya.

     Beberapa detik kemudian, kesadaran yoo jin kembali. Ia ingat kalau apa yang ia lakukan saat ini salah. Kenapa ia menikmati ciuman itu? Apa ia sudah gila? Apa ia masih memiliki perasaan untuk jongki? Demi tuhan kenapa ia begitu tidak berdaya di hadapan pria ini? kemana akal sehatnya pergi?

Lalu dengan satu sentakan ia mendorong jongki kebelakang. Wajahnya memerah. Ia benar-benar merasa kalau ini sudah kelewatan.

     “Kenapa kau lakukan ini? bukankah kita hanya sahabat? Kau yang selalu bilang kalau hubungan kita tidak bisa lebih dari sahabat, tapi kenapa sekarang kau melakukan ini?“ yoo jin menjadi marah. Ia marah pada jongki dan juga pada dirinya sendiri.

Jongki pun menatap mata sahabatnya itu, wajahnya sayu. Ia juga tidak mengerti kenapa ia melakukannya. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan yoo jin yang bahkan ia sendiri tidak tahu jawabannya, karena itu ia hanya bisa mengatakan 1 kata pada sahabatnya itu

“miane…yoo jin ah“

 

 

12 responses to “[Freelance] First Snow In December (Chapter 3)

  1. nah lo.. nah lo.. ayo dong joongki..yg tegas. kalo suka, ya akui aja.. kalo mau sahabatan ya jgn ky gitu. hoho

  2. Aigoo… Apa yojin punya pnyakit..
    Kyak.y jongki udah mulai cinta ma yojin.. Ya udah blg aja ,gak usah bhong … Tpii kzhand sama kevin …
    Hemm,, galau -,-

  3. Ok….ok……ceritanya makin kesini makin seru aja nih
    Sso napa ya??????????
    Waaaaa…emang nih crt bkn penasaran aja…
    Ok next part di tunggu
    Semangat sll buat author…..
    Gomawo..

  4. Huh…. Apa Sso eunni mempunyai penyakit?????

    Nahlhooo….. Mereka ngapain tuh????
    Jongki udah mulai mencintai Sso nih…
    Lalu Sso????
    Masi cinta kah??
    Sukaa sih Sso ma jongki_tapi kasian juga ma Ilwo oppa… U.U

    Nextttt…. .͡▹​

  5. jongki emang udh cita dan smkin cinta tw kevin lbih utama dt mantan2nya dl. mulai lah cmburu. sso eoni sakit????
    selamat keterima

  6. Ffnya bgs koq thor. Cuma kalo blh saran skaligus req please ff romantic main castnya kim bum oppa n kim so eun ennuie krn sejak drama bbf smpe skrng pun mreka cocok (ngarepnya moga mreka real couple). Hehe, thq

  7. aih ….tuh kan , jong ki kebawa suasana …haha….
    yoo jin masih punya perasaan ke jong ki ya ?
    terus gimana kevin ? haha ..jangan melupakan kevin …
    emmmm …..seru banget !
    read next part …….
    author daebaaaaaaaakkkkk !!!!!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s