[Freelance] First Snow In December (Chapter 4)

971046_10200499918394465_1624040310_n(1)

Cast :Song Jongki

        Kim So eun as Kim Yoo Jin

        Jung Ill woo as Kevin Jung

Other Cast : Lee Seung Ki

                  Song Seung Hun

Rating : PG-17

Genre : Romance, Friendship

Author : Vinna Karnawiredja

Yoo jin termenung didepan pintu apartemen kevin, ia ragu untuk memencet bel. Apa ia harus datang kemari? Apa ia harus menjelaskan peristiwa antara ia dan jongki kemarin malam? Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam benaknya.

Sebenarnya jarak antara apartemen yoo jin dan apartemen kevin cukup jauh, karena apartemen kevin berada di pinggiran kota, walau hari sudah malam yoo jin sengaja datang kemari. Yoo jin menarik nafas kemudian memencet bel dan menunggu pintu terbuka. Dan klik…suara pintu terbuka. Dengan langkah berat, yoo jin masuk ke dalam apartemen kevin dan langsung disambut dengan pelukan hangat dari kekasihnya itu.

“kejutan sekali kau datang kesini, masuklah“ kevin menemani yoo jin masuk dan menyuruh gadis itu untuk duduk di sofa ruang tengah sementara ia menyiapkan minum dan beberapa camilan.

Kevin merasa bingung saat siang tadi yoo jin meneleponnya dan mengatakan bahwa ia akan mampir ke apartemennya setelah pulang kerja, sungguh ini tidak seperti yoo jin yang biasanya. Jika kevin mengajak yoo jin ke rumahnya, yoo jin selalu menolak dengan alasan jarak antara rumah mereka jauh. Maka dari itu mereka lebih banyak menghabiskan waktu di tempat umum atau di apartemen yoo jin. Tapi tiba-tiba saja ia bilang ingin datang kemari. Kevin dapat melihat raut wajah yoo jin tidak begitu baik. Apa ia dalam mood yang buruk saat ini? ataukah ada sesuatu hal penting yang ingin ia bicarakan?

Kevin kemudian berjalan menuju ruang tengah dan menaruh segelas air mineral dan kue kecil yang baru ia beli tadi. Kemudian ia duduk di samping yoo jin, dan ia dapat melihat dengan jelas kesedihan dari wajah gadis itu.

“apa terjadi sesuatu? Wajahmu terlihat tidak baik” tanya kevin

Yoo jin menatap kevin, dan terlihat jelas sekali ada keraguan yang terbaca dari ekspresi wajahnya. Setelah beberapa detik, yoo jin pun menghela nafas dan menggenggam tangan kevin

“kevin ah, sebenarnya aku ragu apakah aku harus mengatakan ini atau tidak. Tapi setelah aku pikir-pikir, jika aku tak memberitahukanmu itu artinya aku adalah orang brengsek. Jadi aku akan memberitahukanmu”

Kevin tersenyum kecil, dan menggenggam tangan yoo jin lebih erat “aku jarang melihat wajahmu seserius ini, aku pikir ini bukan kabar baik“ kevin menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi “baklah,sekarang ceritakan padaku”

Yoo jin menatap wajah kevin dengan tatapan nanar, dan ia pun mulai berbicara

“kemarin malam, aku merayakan lulus ujian pegawai negeri bersama jongki, dan saat itu kau tidak bisa bergabung dengan kami karenaada pekerjaan. Jadi kami bersenang-senang. kami memanggang daging, bermain beberapa permainan konyol, dan juga minum beberapa gelas soju.“ Yoo jin menarik nafas sebelum melanjutkan ceritanya “saat itu mungkin karena kami sudah agak mabuk, tiba-tiba saja jongki….dia…dia menciumku“

kevin tampak sangat terkejut, tubuhnya mendadak menjadi kaku. Yoo jin merasakan genggaman tangan kevin menjadi semakin erat, sehingga membuat tangannya sedikit kesakitan. Karena kevin tidak mengucapkan apa-apa, yoo jin pun melanjutkan “saat itu aku benar-benar terasa seperti tersihir, aku juga tidak tahu apa yang terjadi dengan otakku. Aku juga tidak mengerti kenapa aku malah menyambut ciumannya. Kemudian dalam beberapa detik aku tersadar bahwa yang aku lakukan saat itu salah, kemudian aku mendorongnya menjauh dan meninggalkan dia sendiri“ yoo jin memandang kevin, ingin mengetahui bagaimana reaksi kevin setelah mendengar pengakuannya, tapi reaksi kevin masih tidak terbaca seperti tadi “maafkan aku kevin ah, aku benar-benar minta maaf“ yoo jin tertunduk lemah dan menangis.

Lalu perlahan-lahan kevin memeluk yoo jin, dan membelai punggungnya lembut

“sudahlah tak perlu menangis. Aku mengerti mungkin saat itu kalian sudah agak mabuk sehingga tak sadar apa yang telah kalian lakukan. Ini bukan masalah besar, jadi kau tak perlu merasa bersalah. Aku akan memaafkanmu, lagipula aku percaya padamu. Jadi lupakan saja dan tak usah menangis lagi“

Yoo jin terkejut, karena reaksi kevin tidak seperti apa yang telah diprediksi olehnya. Demi tuhan apa ini? Tidak kah kevin marah dan meneriakinya? Ia merasa menjadi sangat jahat karena sikap kevin yang seperti ini. kemudian dengan kasar yoo jin pun mendorong tubuh kevin dan bangkit dari sofa

“kevin ah…kenapa sikapmu seperti? Tidak tahukah kau seharian ini aku memikirkan cara bagaimana untuk memberitahukanmu tentang masalah ini? apa kau tahu semalaman aku tak bisa tidur karena aku merasa bersalah padamu. Apa kau tahu berapa lama aku berdiri di depan pintu apartemenmu sebelum memencet bel? Tapi apa kau bilang? Bukan masalah besar? Kau tahu sikapmu yang seperti ini malah menjadikanku sebagai orang yang sangat jahat. Apa kau pikir aku senang kau bersikap seperti ini? apa kau sama sekali tidak cemburu mendengar kekasihmu berciuman dengan pria lain? Aku bahkan bertanya-tanya benarkah kau mencintaiku? Aku lebih senang jika kau memarahiku, membentaku atau bahkan mengusirku dari sini. Itu akan membuatku merasa sedikit lebih tenang. Tapi kau malah…“ yoo jin mendesah, kemudian ia mengambil tasnya dan melangkah menuju pintu keluar. Tapi tiba-tiba kevin memeluknya dari belakang, menghentikan langkahnya

“aku sangat cemburu, aku marah dan kecewa. Aku bahkan ingin pergi menemui jongki, memukul wajahnya, kemudian berkata untuk tidak pernah menemui wanitaku lagi. Tapi aku tahu aku tidak bisa melakukan hal itu. Kau tahu rasanya sangat menyakitkan saat kau tidak bisa melakukan sesuatu yang sangat ingin kau lakukan. Aku yang dulu mungkin akan membentakmu, memarahimu dan menemui jongki untuk membuatnya babak belur. Tapi aku yang sekarang berbeda, aku yang sekarang tak bisa melakukan itu. Kau bahkan bertanya apa aku mencintaimu atau tidak?“ kevin kemudian melepaskan pelukannya dan membuat yoo jin menghadap ke arahnya, sehingga ia bisa menatap wajah gadis itu

“Yoo jin ah…saranghanda…“

Yoo jin melihat wajah kevin yang sudah terlihat pucat, dan matanya berkaca-kaca. Ia dapat mendengar ketulusan dari kata-kata yang diucapkan kevin tadi.

***

Kevin dan yoo jin duduk berhadapan di ruang makan,kemudian yoo jin memberanikan diri untuk bertanya

“apa ada sesuatu yang terjadi padamu sehingga kau bersikap seperti ini?“

Yoo jin tahu sebenarnya apa yang pernah dialami kevin di kanada, ia masih ingat saat seungki menceritakan padanya. Tapi ia bersikap seolah tidak tahu, ia ingin kevin sendiri yang menceritakannya dan bersikap terbuka padanya. Dan tampaknya yoo jin berhasil karena kevin mulai membuka mulut

“dulu saat aku kuliah di kanada, aku mempunyai kekasih, dan aku sangat sayang padanya. Dia adalah gadis keturunan asia-amerika, dan besar di kanada. Kau tahu pergaulan orang barat dan orang timur sangat berbeda. Maka dari itu aku bersikap protektif. Setiap jam aku selalu meneleponnya atau mengirim pesan padanya hanya untuk mengetahui dimana dia? Apa yang dia lakukan? Dan siapa saja yang berada di dekatnya. Aku melarang segala hal yang disukainya, dengan alasan itu akan berdampak buruk terhadapnya. Saat itu aku belum sadar kalau aku sudah sangat keterlaluan. Sampai suatu hari aku datang ke apartemennya dan melihat dia sudah tak sadarkan diri dan banyak darah berceceran di sekitarnya“ kevin tampak menarik nafas panjang, suaranya tampak bergetar, begitupun dengan tangannya. Yoo jin sadar sangat sulit untuk kevin menceritakan masa lalunya yang telah ia tutup rapat selama ini. Kemudian ia mengenggam tangan kevin, mencoba untuk menenangkannya. Kevin menatap yoo jin kemudian tersenyum kecil

“dia mencoba memotong nadi nya. Saat itu aku sangat panik dan langsung membawanya ke rumah sakit. Untung saja dokter berhasil menyelamatkan nyawanya. Setelah ia sadar, aku baru tahu kalau ia mencoba bunuh diri karena depresi. Ia mengalami depresi karena sikapku yang terlalu overprotected bahkan menjurus pada sikap posesif. Setelah itu kami memutuskan untuk berpisah dan aku kembali seoul“.

Yoo jin bangkit dari duduknya kemudian duduk disamping kevin, dan memeluk pria itu dengan lembut “aku mengerti saat itu pasti adalah masa yang sulit dan berat untukmu. Tapi kau berhasil melewatinya dengan baik. Itulah yang aku sukai dari dirimu“

***

Tanpa terasa bulan desember telah tiba, jongki melihat jam tangannya dan mulai membereskan meja kerjanya. Ponselnya berdering

yeobuseo…ne…aku akan segera kesana dalam 10 menit”

Jongki pun mematikan ponselnya dan menaruh di saku jasnya. Kemudian dengan tergesa-gesa ia keluar dari ruangannya dan berjalan menuju tempat parkir.

Di jalan, ia berpapasan dengan kakaknya yang notabene adalah kepala rumah sakit. Kakaknya tampak di dampingi oleh beberapa dokter spesialis. Sepertinya mereka sedang meninjau situasi rumah sakit. Mau tak mau jongki pun menundukan kepalanya dan menyapa kakaknya.

annyonghaseo“ sapa jongki

“jongki ya…kemana kau akan pergi? Kau tampak terburu-buru“ tanya kakaknya

“aku ada janji dengan temanku hyung. Kalau begitu aku pamit dulu“

“baiklah hati-hati di jalan“

ne…kamsahamnida“ Jongki membungkukan badannya dan segera melangkah pergi.

“jongki ya…tunggu sebentar“ panggil kakaknya tiba-tiba kemudian jongki pun membalikan badannya dan menatap kakaknya

“ada apa hyung?“

“aku tadi melihat yoo jin, apa kau ada janji dengannya?“

“yoo jin kemari?“ jongki tampak terkejut

“jadi dia kemari bukan untuk menemuimu?“ kakaknya pun tampak bingung

“dimana hyung melihatnya?“

“aku tadi melihatnya d lantai 1, kupikir dia datang ke rumah sakit karena dia ingin menemuimu“

“ah…mungkin dia menjenguk sahabatnya yang sedang sakit hyung“

“mungkin juga. Baiklah selesaikan urusanmu, dan jangan kembali terlambat“

ne hyung“

Jongki kembali berjalan menuju tempat parkir. Tapi ia sungguh bingung untuk apa yoo jin datang kemari? Biasanya yoo jin datang kerumah sakit hanya untuk bertemu dengannya. Tapi sekarang yoo jin bahkan diam-diam datang kemari. Apa terjadi sesuatu dengan gadis itu?

Dengan penuh rasa penasaran bercampur khawatir, jongki pun mengambil ponselnya dan segera menelepon yoo jin, terdengar suara yoo jin di ujung telepon

“yoo jin ah, kenapa kau datang ke rumah sakit diam-diam? apa yang terjadi? Apa kau sakit?“

“darimana kau tahu kalau aku datang ke rumah sakit?‘

“tentu saja aku tahu, ini kan tempat kerjaku dan hyungku tak sengaja melihatmu. Tapi apa yang sebenarnya kau lakukan disini?“

aku…aku menjenguk temanku yang sakit. Kau tak perlu cemas, aku baik-baik saja“ terdengar nada panik dalam suaranya

“kalau begitu kenapa tak menghubungiku?“

“karena aku sedang terburu-buru jadi tidak sempat untuk menghubungimu“

“kupikir kau sedang sakit“

“tidak, aku sehat-sehat aja tak perlu khawatir“

“syukurlah kalau begitu. Baiklah yoo jin ah aku sudah sampai di depan mobilku. Kita lanjutkan nanti pembicaraannnya ya, annyong

Jongki menutup teleponnya, memasukan ke saku jasnya dan segera meluncur dengan mobilnya.

***

Jongki sampai di tempat yang di tujunya, sebuah toko perhiasan yang cukup besar. Ia bingung kenapa kevin membuat janji dengannya di tempat seperti ini. Dengan langkah kecil akhirnya ia masuk ke toko itu. Tak lama ia melihat kevin melambai ke arahnya.

“apa kau sudah menunggu lama?“ tanya jongki

“tidak, aku juga baru sampai“

“tapi kenapa kau memintaku untuk bertemu di tempat seperti ini?“

Kevin tersenyum, kemudian ia menyuruh pelayan toko itu untuk membawa pesanannya. Tak lama kemudian pelayan toko itu menaruh dua buah cincin di atas meja etalase. Cincin pertama adalah cicin yang bertahtakan berlian biru berbentuk oval yang berkilau dan berukuran cukup besar, dan yang satu lagi cincin yang terlihat lebih sederhana dan berhiaskan batu rubi berwarna merah muda. Jongki pun bingung dan menatap kevin dengan pandangan bertanya-tanya. Kevin yang menyadari kalau jongki tak mengerti apa yang ia maksud akhirnya menjelaskan

“cincin yang pertama adalah cincin berlian berukuran 5 karat, sedangkan cincin yang kedua adalah cincin batu ruby merah muda. Menurutmu mana yang akan lebih disukai yoo jin?“

Jongki menatap heran pada kevin “kenapa kau bertanya soal ini padaku? Jika kau ingin memberikan yoo jin hadiah bukankah lebih baik kau mengajak yoo jin kemari“

“aku bertanya padamu, karena kau adalah sahabat baik yoo jin. Dan lagipula ini bukan hadiah untuknya. Aku ingin melamarnya” kevin tersenyum samar dan menatap jongki, ingin tahu bagaimana reaksi pria itu setelah mengetahui kalau ia akan melamar yoo jin.

Jongki sangat terkejut setelah mendengar apa yang dikatakan kevin. Apa benar pria itu akan melamar sahabat baiknya? Mereka baru bertemu 2 tahun yang lalu. Apa dalam waktu sesingkat ini kevin akan mengajak yoo jin menikah? Tiba-tiba saja jongki merasa hatinya sakit sekali, dan tidak rela jika sahabatnya menjadi milik orang lain. ia tak mengerti kenapa ini bisa terjadi. Kenapa ia begitu takut kehilangan yoo jin. Apa ia jatuh cinta pada gadis itu? Apa selama ini ia telah membohongi perasaannya sendiri dan tak mau mengakui kalau hatinya memang menyukai yoo jin? Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam benaknya. Wajahnya tiba-tiba menjadi pucat, dan bibirnya bergetar. Ia diam membeku dan tak mengucapkan apa-apa. Ia bertanya-tanya apa maksud kevin sebenarnya? Kenapa kevin mengajaknya kemari dan memperlihatkan cincin-cincin itu padanya? Apa kevin sengaja melakukan ini untuk mengetahui perasaannya terhadap yoo jin?

Mata jongki masih memandangi 2 buah cincin yang harganya pasti sangat mahal itu. Kemudian perlahan-lahan ia menatap kevin, ia sadar kalau sejak tadi kevin memperhatikannya. Kemudian dengan usaha yang keras ia mencoba tersenyum, walau dapat terlihat dengan jelas kalau itu adalah senyum yang sangat dipaksakan

“ yoo jin adalah tipe gadis yang tidak terlalu menyukai benda-benda mewah, baginya sebuah ketulusan adalah yang terpenting. Jadi menurutku cincin berhiaskan batu ruby itu lebih cocok untuknya. Elegan, sederhana, dan sangat indah“

***

Kevin sedang mengendarai mobilnya menuju apartemennya, jam sudah menunjukan pukul 22.00. ia melihat cincin di tangannya. Cincin yang baru saja ia beli beberapa jam yang lalu bersama jongki. Ia sadar kalau sikapnya mungkin agak keterlaluan, tapi ia harus melakukannya karena ia ingin tahu bagaimana perasaan jongki terhadap yoo jin. Dan ternyata tepat seperti yang dia duga. Jongki mencintai yoo jin. Ia bisa melihat sendiri bagaima reaksi jongki saat ia mengatakan akan melamar yoo jin, dan itu terbaca jelas dari ekspresi wajahnya. Kemudian ia menggunakan headset dan memencet angka 1 dilayar ponselnya, kemudian terdengar suara seorang wanita menjawab dari ujung telepon

“yeobuseo”

“yoo jin ah…apa kau belum tidur?”

aku sedang menyelesaikan pekerjaanku. Kau tahu menjadi pegawai baru itu sangat melelahkan karena semua senior menyuruhku macam-macam”

Kevin tersenyum “dulu aku juga pernah merasakannya. Tapi jangan terlalu lelah bekerja, dan beristirahatlah yang cukup“

“baiklah…tapi kenapa kau meneleponku? Biasanya kau sudah ada di alam mimpi“

“aku ingin hari sabtu ini kau meluangkan waktumu untukku“

“memangnya kau mau mengajakku kemana?“

“ada sesuatu yang ingin kutunjukan padamu. Sesuatu yang penting, jadi pastikan sabtu ini kau meluangkan waktumu untukku“

“baiklah…kalau begitu sampai jumpa sabtu nanti“

“mmm…sampai jumpa“

***

Yoo jinbaru saja menutup ponselnya, ketika suara bel apartemennya berbunyi. Ia langsung beranjak dari duduknya dan menuju ke pintu depan sambil menggerutu

aigo…siapa yang datang malam-malam begini“

Saat pintu nya terbuka, ia melihat jongki berdiri disana dengan membawa satu botol minuman di tangannya. Kemudian ia tersenyum dan memperlihatkan bawaannya

“yoo jin ah…temani aku minum ya“

Jongki langsung masuk dan duduk di ruang tengah, yang saat itu keadaannya sudah seperti kapal pecah karena banyak tumpukan kertas dimana-mana.

yaa...kau sedang apa? Mengapa berantakan sekali?“

Yoo jin kemudian membereskan kertas yang ada diatas meja, dan menaruh dua buah gelas kecil. ia tak menghiraukan pertanyaan jongki dan malah balik bertanya

“apa lagi yang terjadi sekarang? Kalau kau sudah mengajakku minum itu artinya ada sesuatu yang terjadi“

“ya…apa harus terjadi sesuatu yang buruk dulu baru aku boleh mengajakmu minum di malam hari?“

Yoo jin menatap mata jongki penuh curiga “lalu kalau bukan? Apa ada sesuatu yang harus dirayakan?“

“aku hanya bosan, dan butuh teman“ kemudian jongki menyerahkan gelas yang telah diisinya kepada yoo jin

“cheers“

Satu jam telah berlalu, dan botol yang tadi dibawa jongki pun sudah habis setengahnya. Yoo jin tampak duduk bersandar di sofa ia terlihat sudah agak mengantuk, sedangkan jongki duduk di sampingnya.

“yoo jin ah…apa kau masih ingat 2 tahun yang lalu kau pernah mengatakan kalau kau ingin menikah di usia 25 tahun?“

Yoo jin tampak berpikir, dan kemudian ia teringat kata-kata yang pernah diucapkannya itu

“ah…benar. kau bahkan masih ingat aku pernah mengatakan hal itu?“

“tentu saja aku ingat, aku tak akan melupakan kata-kata yang pernah kau ucapkan padaku. Lalu bagaimana sekarang? Bukankah tahun ini kau berusia 25 tahun?“

Yoo jin membetulkan posisi duduknya, sehingga ia duduk tegak dan menatap jongki.

“benar, tahun ini usiaku 25 tahun. Jongki ya…aku bahkan tidak memikirkan hal itu. Tapi kau malah bertanya seperti itu.“

“lalu apa kau akan menikah jika ada seseorang yang melamarmu?“ suara jongki tampak sangat serius kali ini.

Yoo jin memandang ke atas dan bersandar lagi disofa, “entahlah. Tapi jika memang ada seseorang yang serius ingin menikahiku, dan menghabiskan sisa hidupnya dengaku, kurasa aku akan menerimanya, asal dia tulus mencintaiku. Kau tahu kehidupan pernikahan yang kuimpikan?“ Yoo jin menutup matanya dan tiba-tiba bayangan-bayangan indah muncul di otaknya

“memangnya seperti apa kehidupan pernikahan yang kau impikan itu.“ Jawab jongki

Yoo jin kemudian mengatakan apa yang dibayangkan pikirannya saat ini “saat aku bermimpi buruk, akan ada seseorang yangmembangunkanku dari mimpi burukku dan memelukku untuk membuatku tenang. Saat terbangun di pagi hari akan ada seseorang yang mencium pipiku dan berkata ‘good morning honey‘ dan yang lebih menyenangkan adalah, saat aku membuat sarapan akan ada seseorang yang menunggu masakanku di meja makan sambil memperhatikanku. Kemudian ada seorang anak kecil yang masih mengantuk keluar dari kamar dan berkata ‘eomma…aku lapar‘ , jika aku mengalaminya mungkin aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia“

Jongki menatap yoo jin, yang masih menutup matanya sambil tersenyum-senyum kecil. Tiba-tiba saja ia ingin menjadi bagian dalam impian gadis itu. Mungkinkah itu? Tentu saja tidak, karena ia tidak punya hak untuk itu. Ia hanyalah sahabat yoo jin tidak lebih. Hatinya sakit sekali, jika memikirkan yoo jin akan menikah dengan orang lain. Akankah gadis itu berubah setelah menikah? Akankan persahabatan mereka akan terus seperti ini bahkan setelah mereka tua?

“yoo jin ah. Setelah kau menikah masihkah kau bisa seperti ini denganku? Masihkah persahabatan kita seperti saat ini?“ jongki bertanya pada yoo jin, tapi ia tak mendengar jawaban apa-apa dari sahabatnya itu. Saat ia berpaling dan menatap yoo jin, ia sadar kalau gadis itu telah jatuh tertidur. Jongki tersenyum kemudian ia memandang yoo jin dengan tatapan nanar. Ia baru sadar kalau yoo jin terlihat sangat cantik saat sedang tertidur .Kemudian dengan perlahan-lahan ia membelai wajah yoo jin. Jongki tak sadar bahwa sebutir airmata jatuh dan membasahi wajahnya. Dan semakin lama butiran-butiran airmata itu semakin banyak.

9 responses to “[Freelance] First Snow In December (Chapter 4)

  1. Huaaa…. Adakah cowok Ϋά̲̣̥ηġ seprti Ilwo oppa…. Huhuhu

    Wahhh….. Ilwo oppa aksn melamar Sso….
    Lalu bagaimana dengn jongki?????

    Makinnn seruuuu…. Makin penasaran ma kisah cinta segi3 mereka…..

  2. aihh…..il woo oppa pengertian banget ..tapi terlalu pengertian sampe yoo jin meragukan cintanya …haha ..
    emmm …kasihan jong ki ..dia baru nyadar ternyata selama ini dia suka sama yoo jin …huaaaaaaaaaaaaaaa……
    #terharu
    author daebaaaaaaaaakkkkk !!!!

  3. Ya ampun kasian banget jongki..
    Tp diawal salah jongki jg sih puny pemikiran aneh..
    Klo sekarang ngerebut yoojin kan kasian kevin..
    Kevin berhati malaikat gt..

  4. kasian jongki oppa..
    pasti dy nyesel..
    nyesek jg jd jongki oppa.. 😥
    tp pny cowo kyk kevin oppa bruntung bgt, bs sabar sma hubungan persahabatan yoo jin jongki oppa..

Leave a Reply to yeol_lu Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s