[Freelance] First Snow In December (Chapter 5)

971046_10200499918394465_1624040310_n(1)

Cast :Song Jongki

        Kim So eun as Kim Yoo Jin

        Jung Ill woo as Kevin Jung

Other Cast : Lee Seung Ki

                  Song Seung Hun

Rating : PG-17

Genre : Romance, Friendship

Author : Vinna Karnawiredja

     Sabtu pagi di awal bulan desember tampak sangat indah. Matahari pagi memancarkan sinarnya yang lembut dan hangat,walaupun udara sudah terasa sangat dingin. Pagi itu kevin tampak sedang mengendarai mobilnya menuju suatu tempat, dan di sisinya ada yoo jin yang terlihat bingung karena tak tahu kemana tujuan mereka sebenarnya.

     “kevin ah sebenarnya kita mau kemana?“ tanya yoo jin

     “rahasia…tapi sebentar lagi kita akan sampai” kevin melihat yoo jin dan tersenyum jahil

     Kevin terus melajukan mobilnya sampai mereka sampai di pinggiran kota. Dan semakin lama jalan yang mereka lalui semakin kecil, sampai akhirnya mobil yang dikendarai kevin berhenti tepat di depan sebuah rumah bergaya modern minimalis. Kevin kemudian keluar dari mobil, dan membukakan pintu untuk yoo jin. Saat yoo  jin keluar dari mobil ia dapat melihat sebuah rumah yang sangat indah di depan matanya. Rumah itu tidak mewah dan terlihat sederhana dengan tembok yang di cat dengan warna beige sehingga terkesan natural seperti kayu, rumah itu juga dikelilingi oleh halaman yang cukup luas. di halaman terdapat sebuah ayunan yang menghadap ke sungai. Kemudian di sisi sebelahnya terdapat kebun yang sudah di tanami beberapa jenis bunga. Karena ini musim dingin belum ada bunga yang mekar. Kemudian ada pijakan-pijakan yang berbentuk bulat yang terbuat dari batu-batuan dari pintu pagar menuju ke pintu masuk rumah. Benar-benar sangat indah, seperti sebuah villa di pegunungan. yoo jin tampak kagum dengan hanya melihat dari depannya saja. Kemudian ia memandang kevin dan bertanya

     “apa ini rumah yang kau design?”

     “benar, bagaimana menurutmu?”

     “sangat indah, terlihat sangat sederhana dan natural“

     Kevin melihat yoo jin yang sedang tersenyum sambil menatap rumah di hadapan mereka. Dan ia tersenyum puas karena yoo jin terlihat sangat menyukainya.

     “tapi kenapa kau membawaku kesini? Apa ini rumah yang kau design untuk klienmu“

“aku ingin menunjukan rumah ini padamu untuk pertama kalinya. Ayo kita masuk“

     Kevin kemudian menggengam tangan yoo jin dan membawa gadis itu masuk ke rumah yang ia design

***

Jongki sedang berdiri di depan jendela kantor sahabatnya, ia melihat orang-orang yang menggunakan mantel tebal berwarna-warni sedang berlalu lalang di bawah. Kemudian suara pintu yang terbuka mengalihkan pandangannya. Seorang dokter yang sebaya dengannya terlihat memasuki ruangan dan memandang jongki dengan pandangan menyesal. Daniel choi yang juga bekerja di rumah sakit yang sama dengan jongki, adalah dokter ahli kejiwaan, dan juga merupakan seorang pskiater.

Sejak 1 tahun yang lalu jongki selalu rutin menemui nya dan selalu menceritakan apa yang di rasakannya.

“maaf, sudah menunggu lama. Kau tahu kalau sesi terapi kadang membutuhkan waktu yang sedikit panjang. duduklah“

“tidak masalah, lagipula aku belum lama disini“

Jongki kemudian duduk di hadapan daniel yang juga merupakan rekannya itu.

“tapi, kenapa kau datang saat ini. bukankah jadwalmu masih 1 minggu lagi?“

“karena aku sekarang benar-benar bingung dengan diriku sendiri, jadi aku butuh seseorang yang dapat memberikan aku solusi dan jalan keluar dari kebingungan ini“

“kalau begitu ceritakanlah. Aku akan mendengarkanmu dan membantumu semampuku.

Jongki mendesah,kemudian ia mulai bercerita

     “kemarin kevin mengajakku bertemu di sebuah toko perhiasan, dan menunjukanku 2 buah cincin yang sangat indah dan cukup mahal. Dia meminta pendapatku, cincin mana yang yoojin akan lebih sukai. Aku pikir ia ingin memberikan yoo jin sebuah hadiah, tapi ternyata cincin itu akan dia gunakan untuk melamar yoo jin hari ini“ jongki manahan nafas, dan menatap daniel dengan tatapan serius “saat itu entah kenapa dadaku terasa sangat sesak, hatiku sakit sekali. Aku merasa dia ingin membawa pergi seseorang yang paling penting dalam hidupku, seseorang yang paling aku butuhkan. Aku merasa tidak rela“ jongki menyelesaikan ucapannya, dan wajahnya terlihat lesu.

Daniel membetulkan posis iduduknya, kemudian menatap jongki tajam, dan mulai berbicara, suaranya terdengar tegas dan jelas

“jongki ya…kurasa kau jatuh cinta  pada yoo jin“

     Jongki menatap daniel dengan tatapan tidak percaya “apa??? Tidak mungkin. Kau tahu sendiri bagaimana perasaanku pada yoo jin. Dia adalah sahabat terbaikku, aku tidak mungkin mencintainya“

     “kau berusaha untuk tidak jatuh cinta padanya, tapi kau gagal, dan kau tidak mau mengakuinya karena itu akan menjadi sangat menyakitkan untuk dirimu“

“tidak, ini semua tidak benar“ jongki masih berusaha untuk menepis perasaannya sendiri

“jongki ya, apa yang pernah dialamai kakakkmu tidak semua orang pernah mengalaminya. Memiliki bukanlah awal dari kehilangan, kakakmu hanya tidak beruntung dengan takdirnya“ kemudian daniel mengambil sesuatu dari laci mejanya. Ia mengeluarkan sebuah tab, dan tampak mengutak-atiknya. Kemudian ia memperlihatkan sebuah artikel di internet pada jongki. jongki melihat sebuah gambar disana. Gambar pasangan suami istri yang sudah berusia lanjut. “mereka adalah salah satu pasangan suami istri tertua di di dunia. Mereka baru saja merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke 70

tahun ini. Mereka saling memiliki selama lebih dari 50 tahun, dan sampai sekarang mereka tidak berpisah, karena maut belum memisahkan mereka“ daniel menaruh kembali tab nya di meja kerjanya dan menatap jongki “jongki ya…memiliki bukanlah awal dari kehilangan, tapi awal dari sebuah kisah yang baru. Jika kau dapat menjaga kisah itu, dan membawanya pada kebahagian  maka kisah itu akan terus bertahan hingga puluhan tahun. Tetapi jika kau tidak mampu menjaganya maka kisah itu akan cepat berakhir dan menghilang. Kau terlalu takut untuk memiliki yoo jin sehingga kau mencoba untuk tidak jatuh cinta padanya, tapi hatimu berkata lain. Secara tidak sadar kau sudah jatuh cinta pada sahabat baikmu. Maka dari itu kejarlah cintamu sebelum itu terlambat dan membuatmu menyesal.“

Jongki terdiam, ia mencerna kata-kata yang tadi diucapkan daniel padanya. Benar, ia sudah jatuh cinta pada yoo jin. Ia berusaha untuk tidak mencintai sahabatnya, tapi ia gagal dan ia tidak mau mengakui hal itu karena dia terlalu takut, ia terlalu pengecut.

“daniel ah…terimakasih. aku rasa aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang“

Jongki bangkit dari duduknya dan tersenyum pada daniel, kemudian ia pamit dan pergi dari sana.

Jongki tahu ia belum terlambat, ia masih punya kesempatan untuk mengatakan perasaannya pada gadis itu. Ia tahu kalau yoo jin masih punya sedikit perasaan padanya.

***

Yoo jin melangkah masuk ke dalam rumah. Ia sangat takjub melihat isi rumah itu. Saat masuk ada sebuah ruang tamu cantik dengan sofa berwarna salem dan meja kecil bergaya eropa kuno yang terbuat dari kayu jati. Kevin kemudian membawanya ke ruang tengah, disana ia melihat sebuah lcd tv besar menempel di dinding yang sudah diberi walpaper berwarna krem dan didepan tv ada sebuah sofa nyaman dengan warna yang senada dengan wallpaper. Diruang tengah ia melihat sebuah pintu di sisi kanan dan kirinya. Kemudian kevin membuka sebuah pintu di sisi sebalah kanan, dan ia melihat sebuah kamar yang langsung menghadap ke sungai. Kevin tersenyum saat melihat ekspresi terkejut yoo jin

“ini adalah kamar utama, apa kau bisa bayangkan jika ini menjadi kamar kita kelak? saat kau bermimpi buruk aku akan memelukmu dan mengatakan tak usah takut karena ada aku disampingmu“

yoo jin menatap bingung pada kevin, dan pria itu hanya tersenyum. Kemudian ia membawa yoo jin ke kamar yang berada di sisi sebalah kiri, ia dapat melihat kamar itu terkesan lebih kekanak-kanakan karena walpaper yang digunakannya bermotif awan dan pelangi.

     “aku bahkan mendesign sebuah kamar untuk anak kecil, lucu bukan?“ tanpa menuggu jawaban yoo jin, kevin kemudian membawa yoo jin ke dapur yang terletak di sebelah ruang tengah. Dapur itu dominan berwarna coklat karena lemari dan meja-mejanya terbuat dari kayu. Di depan dapur itu terdapat sebuah meja makan dengan 6 buah bangku, dan di samping meja makan ada sebuah jendela dan pintu kaca menuju balkon yang menghadap ke halaman rumah. Kevin kemudian mengajak yoo jin ke dapur, lalu ia sendiri duduk di meja makan “yoo jin ah, saat aku memasak sarapan disana, aku akan memperhatikanmu dari sini dan menunggu masakanmu. Lalu…“ kevin tertawa kecil  dan berdehem “lalu akan ada seorang anak kecil yang keluardari pintu kamar dan berkata ‘eomma…aku lapar‘  bukankah membayangkan hal seperti ini terasa sangat menyenangkan?“

     Yoo jin sangat terkejut dengan perkataan kevin ,kenapa semua bayangannya tentang sebuah pernikahan persis sama seperti apa yang dikatakan kevin padanya. Wajahnya sangat bingung dan terkejut. Kenapa kevin mengatakan hal seperti itu dan mengajaknya ke rumah ini? Apa maksudnya?

     Kevin sadar kalau yoo jin sangat bingung, kemudian ia menghampiri gadis itu dan mengajaknya duduk di meja makan. Kevin kemudian menggenggam tangan yoo jin dan menjelaskan sesuatu yang membuat yoo jin sangat terkejut sekaligus terharu.

     “yoo jin ah…sebenarnya rumah ini aku membangunnya untukmu. Satu tahun yang lalu aku mulai mendesignnya, aku tahu kau menyukai alam dan sesuatu yang sederhana. Kemudian aku membangun rumah ini, membeli semua perabotan dan hiasan-hiasan agar rumah ini terlihat cantik dan nyaman. dan satu minggu yang lalu semuanya telah rampung. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu di rumah ini“ kevin kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya, dan saat ia membuka kotak itu, yoo jin dapat melihat sebuah cincin berhiaskan batu ruby merah muda yang sangat cantik  “yoo jin ah mari kita bangun sebuah keluarga kecil disini, aku berjanji aku akan membuatmu bahagia dan tak akan membuatmu menangis. Menikahlah denganku kim yoo jin“

Yoo jin sangat terkejut. Ini sebuah lamaran yang tak terduga. Baginya semua ini tampak seperti mimpi. Kevin pria yang selama ini selalu tulus mencintainya bahkan dengan tangannya sendiri sengaja mendesign rumah ini untuk dirinya. Apa yang harus dilakukannya kini? Apa ia harus menerima lamaran kevin? Apa ia sudah yakin terhadap perasaannya sendiri? Tapi kevin adalah pria yang baik, bahkan terlalu baik. Ia tidak mungkin melepaskan pria sebaik ini. Saat itu tiba-tiba saja ponsel yoo jin berdering, ia melihat nama jongki muncul di layarnya. Karena tidak mau merusak suasana yoo jin sengaja me reject panggilan itu. Tap beberapa detik kemudian ponselnya kembali berdering. Saat yoo jin hendak mematikan ponselnya, kevin menahannya

     “angkat saja, tidak apa-apa. Mungkin itu panggilan yang penting“

Yoo jin tersenyum kecil pada kevin, ia terlihat menyesal karena telah merusak suasana yang ‘sakral‘ itu.

Kemudian yoo jin berjalan ke balkon kecil yang menghadap ke halaman rumah dan dengan sedikit enggan yoo jin pun menjawab teleponnya

“yeobuseo“

yoo jin ah…dimana kau sekarang“ suara jongki terdengar panik, dan yoo jin pun menyadari hal itu

“aku sedang bersama kevin sekarang. Tapi kenapa kau menghubungiku?“

“apa kevin memintamu untuk menikah dengannya?“

Yoo jin sangat terkejut, darimana jongki tahu kalau kevin sedang melamarnya?

“bagaimana…bagaimana kau tahu?“

“yoo jin ah…kumohon jangan menerimanya. Jangan menikah dengannya“ suara jongki terdengar putus asa

Yoo jin semakin kaget mendengar hal itu. Kenapa jongki memintanya untuk tidak menerima lamaran kevin? Apa haknya meminta hal seperti itu? Wajah yoo jin sudah memerah, matanya tampak berkaca-kaca      “kau tidak punya hak untuk meminta hal seperti itu jongki ya…kau hanya sahabatku“

     “saraghaeyo…kim yoo jin“

Yoo jin semakin terkejut, mulutnya menganga tak percaya. Itu adalah kata-kata yang selalu ingin di dengarnya dari jongki sejak 5 tahun yang lalu. Tapi kenapa jongki harus mengatakannya sekarang, disaat ia sudah memiliki pria lain dalam hidupnya. Yoo jin pun kemudian berbalik dan menghampiri kevin yang sedang menatapnya bingung, kemudian ia berbicara dengan suara yang keras agar jongki dapat mendengarnya

“kevin ah…ayo kita menikah“

 

***

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, udara malam itu semakin dingin. Kevin memarkirkan mobilnya didepan pintu masuk gedung apartemen yoo jin.

“yoo jin ah, haruskah aku mengantarmu sampai di depan pintu apartemenmu?“

“tidak perlu, lagipula ini sudah malam“

“kau yakin? Apa kau tahu tadi siang aku melihat berita cuaca, dan katanya malam ini salju pertama akan turun. Bukankah akan sangat dingin saat salju turun. Apa kau tidak perlu seseorang untuk membuatmu hangat?“

Yoo jin kemudian menjitak kepala kevin, sehingga membuat pria itu terlihat sedikit kesakitan

     “aku hanya butuh selimut untuk membuatku hangat“

“tapi aku lebih hangat dari selimut“

Yoo jin kemudian menjitak kepala kevin sekali lagi,dan membuat kevin semakin kesakitan

“kau boleh membuatku hangat saat kita sudah menikah nanti“

“apa bedanya sekarang dan nanti? Lagi pula cepat atau lambat kita akan menikah“ goda kevin

Saat yoo jin hendak menjitak kevin lagi, kevin langsung menahan tangan yoo jin dan menariknya sehingga wajah yoo jin langsung mendekat ke arahnya. Dan dengan gerakan yang lembut, kevin kemudian memegang kedua pipi yoo jin dan mulai mencium bibir gadis itu.

Jongki melihat hal itu dari kejauhan, hatinya sakit sekali. Kenapa ia bisa sebodoh ini. Jika dulu ia bukan seorang pengecut, mungkin kini ia sudah memiliki yoo jin. Tapi ia terlalu takut untuk memiliki gadis, itu. Ia takut suatu hari yoo jin akan meninggalkannya.

     Ia melihat yoo jin keluar dari mobil kevin, dan melambaikan tangannya saat mobil kevin melaju pergi. Saat ia melihat yoo jin akan masuk ke gedung apartemennya, jongki pun keluar dari tempat ia bersembunyi tadi dan memanggil gadis itu

     “yoo jin ah…“

Yoo jin terkejut saat mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya memanggil namanya, saat itu juga ia berbalik dan melihat jongki sedang berdiri memandangnya. Yoo jin tak kalah terkejut saat melihat penampilan pemuda itu. penampilan jongki terlihat sangat kacau dan berantakan. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya terlihat lusuh, mantel yang dipakainya pun terlihat tipis untuk cuaca dingin seperti saat ini. Wajahnya sembab seperti habis menangis dan matanya sayu. Apa yang terjadi dengannya? Biasanya jongki tidak pernah seperti ini. Dengan perlahan-lahan yoo jin pun mendekati jongki

“kenapa penampilanmu seperti ini? Apa kau tidak merasa dingin? Masuklah, aku akan membuatkanmu segelas teh hangat“

“tidak perlu. Aku kemari hanya untuk memastikan 1 hal padamu“

“apa ini tentang pernikahanku?“

     “apa kau benar-benar akan menikah dengan kevin?“

Yoo jin menatap jongki, matanya sudah terlihat berkaca-kaca

     “benar, aku akan menikah dengannya tepat saat hari natal“

jongki tersenyum pahit, butiran airmata kini membasahi wajahnya. Seperti yang sudah ia duga, ia terlambat 1 langkah. Apakah kesempatannya benar-benar sudah habis?

“tidak bisakah kau membatalkannya dan bersamaku yoo jin ah? Aku…aku…aku mencintamu“

Yoo jin tak bisa menahan airmatanya lagi, ia sudah terlihat kesal dan kecewa pada sahabatnya itu

“apa sekarang kau baru menyadari kalau kau mencintaiku? Jongki ya jika kau mengucapkan hal itu 2 tahun yang lalu, mungkin aku akan sangat bahagia karena itu adalah kata-kata yang sangat aku ingin dengar darimu sejak 5 tahun yang lalu. Tapi kenapa kau baru mengatakan hal itu sekarang?“

“karena dulu aku terlalu pengecut. Aku berusaha untuk tidak jatuh cinta padamu, tapi aku gagal. Aku tahu sudah terlambat mengatakan ini padamu, tapi perasaanku tulus. aku benar-benar mencintaimu“          jongki kini menatap mata yoo jin dan menggenggam tangan gadis itu “ yoo jin ah katakan padaku Apa kau mencintai kevin? Atau kau mencintaiku?“

Yoo jin sangat terkejut dengan pertanyaaan jongki, kenapa tiba-tiba pria itu menangaykan tentang perasaannya.

     “kenapa kau menanyakan hal itu? apa kau tidak terlalu egois? Kau tahu benar bagaimana sikap kevin padaku selama 2 tahun ini? Apakah ia pernah marah dan cemburu saat melihat kita bersama? Tidak, ia bahkan tidak pernah merasa keberatan. Dan sekarang kau masih bertanya tentang perasaanku padanya?“ yoo jin menarik nafas “dua tahun yang lalu aku pernah mengatakan padamu kalau aku akan mengubur perasaanku padamu dan hanya menganggapmu sebagai sahabat baikku. Dan aku juga pernah mengatakan kalau suatu hari kau mencintaiku itu semua sudah terlambat. Kesempatanmu sudah hilang sejak2 tahun yang lalu. aku akan jujur padamu. Aku memang pernah jatuh cinta padamu, dan kau tahu sangat sulit untuk bisa membuangmu dari hatiku, sulit sekali. Tapi kevin telah membuatku berubah. Sikapnya, kasih sayangnya, semua yang telah ialakukan padaku telah menggerakan hatiku. Saat tadi ia mengajakku ke rumah yang segaja ia bangun untukku aku sadar kalau aku sudah jatuh cinta padanya. Aku mencintai kevin“

     Jongki tak percaya dengan apa ya ng baru saja didengarnya. Apa ia kini benar-benar telah kalah? Apa ia benar-benar telah kehilangan yoo jin.

“jongki  ya…kumohon jangan membuatku goyah lagi. Biarlah kita tetap seperti sekarang. Saat aku sudah menikah pun, kita masih bisa bersahabat seperti saat ini. Kau bisa memanggilku kapan pun kau membutuhkanku“

     Jongki merasa seluruh tubuhnya lemas. Wajahnya sudah basah oleh airmata. Ia sadar kalau saat ini ia benar-benar telah kehilangan yoo jin. Kemudian ia menatap gadis itu. ia melihat wajah yoo jin sudah sama sembabnya seperti dia karena airmata. Kemudian ia melihat kepingan-kepingan salju yang mulai turun. Jongki menatap ke langit dan mengadahkan tangannya ke atas

“yoo jin ah…ini adalah salju pertama yang turun. Kau ingat 3 tahun lalu saat salju pertama turun kau mengatakan kalau kau menyukaiku. Dan saat itu dengan sangat bodohnya aku menolakmu. Bukankah saat ini persis sama seperti 3 tahun yang lalu? hanya bedanya kali ini kaulah yang telah menolakku“ jongki mendesah “mungkin saat ini tuhan sedang menghukumku“

Yoo jin hanya dapat menatap mata jongki dengan tatapan nanar, tatapan penuh rasa bersalah

     “mianhe…jeongmal mianhe“

     “selamat atas pernikahanmu yoo jin ah...aku pergi“

     Jongki kemudian berbalik dan berjalan pergi. Yoojin  hanya dapat memandang punggung jongki sampai menghilang di tikungan.

     Tiba-tiba rasa nyeri itu muncul kembali. Rasa nyeri di dadanya. Yoo jin jatuh terduduk sambil memegang dadanya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap menjaga kesadarannya

     “Tuhan…kumohon…kumohon beri aku waktu sebentar lagi, hanya sebentar lagi.“

8 responses to “[Freelance] First Snow In December (Chapter 5)

  1. Huaaaa….. Di buwat mewek di part Ĭηĭ …
    (-̩̩̩⌣́_⌣̀-̩̩̩)

    Terharu dengan sikap ilwo oppa……
    Tapiii kasian ma jongki oppa…..
    Dan itu Sso eunni sebenerny Þüñ¥ά penyakit apa?????? 😥

    Naxttttt…. .͡▹​

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s