[Freelance] First Snow In December (Chapter 7)

971046_10200499918394465_1624040310_n(1)

Cast :Song Jongki

Kim So eun as Kim Yoo Jin

Jung Ill woo as Kevin Jung

Other Cast : Lee Seung Ki

Song Seung Hun

Rating : PG-17

Genre : Romance, Friendship

Author : Vinna Karnawiredja

NO BASHING, NO SILENT READER, NO PLAGIATOR

 

Jam dinding terus berputar. Detik-demi detik,menit demi menit berlalu dengan begitu cepatnya. Kevin masih menunggu di depan ruang ICU. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Kenapa belum ada seorang dokter pun yang keluar dari sana dan memberitahukannya mengenai kondisi Yoo Jin? Apakah kondisi Yoo Jin sangat parah sehingga butuh berjam-jam di dalam?

Tak lama kemudian ia pun melihat Jongki keluar dari ruang ICU. Wajahnya terlihat pucat pasi, seluruh tubuhnya berkeringat. Dan ia tampak kehilangan seluruh energinya. Kemudian Kevin pun menghampiri Jongki dan mengajukan berbagai pertanyaan yang sejak tadi melintas di pikirannya.

“Jongki ssi apa yang terjadi? Bagaimana keadaan Yoo Jin? Ia akan baik-baik saja kan?”

Jongki menatap mata kevin. Matanya sembab seperti habis menangis “Kevin ssi  Yoo Jin dia…dia…” Jongki tak sanggup meneruskan kata-katanya

“Yoo Jin kenapa? Apa yang terjadi dengannya? katakan padaku”

Jongki menatap Kevin dengan tatapan nanar “dia mengalami gagal jantung” ucapnya pelan. Jongki tak sanggup menahan air matanya lagi. Ia menangis, ia masih tak percaya kalau selama ini Yoo Jin menyembunyikan penyakitnya dari semua orang. Bahkan darinya, dari sahabatnya sendiri.

Kevin tak mengerti apa yang dikatakan Jongki. Kemudian ia memegang bahu Jongki dan menatap tajam ke arah pria itu “apa maksudmu gagal jantung? Penyakit apa itu? Jelaskan padaku?”

“jantungnya tidak berfungsi dengan baik. Jika jantung orang normal dapat mengedarkan darah ke seluruh tubuh, jantung Yoo Jin tidak bisa melakukannya. Maka dari itu metabolisme tubuhnya tidak bekerja dengan baik. Ia tidak bisa melakukan aktifitas seperti biasa, karena jika jantungnya bekerja terlalu keras  Yoo Jin bisa meninggal kapan saja.”

Kevin sangat terkejut, ia tidak menyangka  kalau penyakit yoo jin sangat serius. Tiba-tiba saja ia merasa lemas. Matanya kini berkaca-kaca. Bagaimana mungkin wanita yang ia cintai harus terkena penyakit ini. Dari semua orang yang ada di dunia kenapa harus Yoo Jin yang mengalaminya. Kevin berharap ini semua hanyalah mimpi buruk,dan ia akan terbangun dari mimpi ini. Tapi ia sadar kalau semua ini adalah sebuah kenyataan pahit yang harus diterimanya.

“apa kalian bisa menyembuhkannya? Apa ada cara agar ia sembuh?” tanya Kevin

“Kevin ssi jujur saja, penyakit Yoo Jin sudah sangat parah. Kita bisa menyembuhkannya jika ia mendapatkan donor jantung. Tetapi jika ia tidak mendapatkannya dalam waktu dekat, Yoo Jin tidak akan bisa selamat”

“tidak…kau harus bisa menyelamatkannya. Kau harus bisa menemukan pendonor untuk Yoo Jin dengan cara apapun” Kevin sudah terlihat panik

“apa kau pikir mencari donor jantung itu mudah? Aku bahkan baru mengetahui kalau ia adalah pasien di rumah sakit ini, dan telah ada di dalam daftar tunggu untuk orang yang mencari pendonor jantung. Apa kau tahu aku bahkan lebih syok dibanding dirimu. Jadi kumohon tenanglah dan jangan panik. Kita harus berada di sisi Yoo Jin dan memberikan kekuatan untuknya”

Kevin menjadi lebih tenang setelah mendengar perkataan jongki. tetapi ia terlihat seperti orang yang telah kehilangan jiwanya.

“berapa lama lagi Yoo Jin bisa bertahan?” tanya Kevin tiba-tiba

Jongki sedikit terkejut dengan pertanyaan Kevin, ia menarik nafas dan menatap pintu ICU di hadapannya

“kapan saja Tuhan bisa mengambilnya. Kita tidak bisa memprediksi kematian untuk penderita jantung. Karena lebih dari 50% manusia yang menderita jantung meninggal secara mendadak.”

Kevin semakin tenggelam dalam kesedihannya. Ia tidak pernah menyangka Yoo Jin menderita penyakit ini Kenapa Yoo Jin harus menyembunyikannya dan menderita seorang diri? Seandainya ia mengetahui tentang penyakit Yoo Jin, mungkin ia bisa sedikit memberikan kekuatan pada gadis itu.

***

Kevin melangkah ke dalam ruang ICU, dan Jongki ikut masuk bersamanya. Mereka memakai jubah dan juga masker karena ruangan harus tetap steril. Hati Kevin miris dan sedih saat melihat wanita yang dicintainya berbaring tak berdaya di tempat tidur, dengan berbagai selang dan juga infus yang menghiasi seluruh tubuhnya. Ia dapat melihat layar ECG yang menampilkan detak jantung Yoo Jin yang terlihat naik turun.

Selangkah-demi selangkah ia mendekati Yoo Jin dan memegang tangannya yang sudah ditusuk oleh jarum infus

“ia sangat takut dengan jarum, tapi bahkan sekarang ia harus menggunakannya” Kevin meringis, ia sungguh tidak tega melihat Yoo Jin menderita seperti ini.

“Kau benar. Mau tidak mau ia harus menggunakan benda yang amat dibencinya itu” Jongki pun merasa sangat terpukul dan sedih.

Lalu tiba-tiba saja Yoo Jin membuka matanya. Ia melihat Kevin dan Jongki yang berdiri di sisi nya, terlihat sekali kesedihan dan kekhawatiran di wajah mereka, dan Yoo Jin pun menyadarinya. Saat melihat mata Yoo Jin yang terbuka kedua pemuda itu pun terlihat senang

“Yoo Jin ah kau sudah sadar? Bagaimana perasaanmu?” tanya Kevin

“Yoo Jin ah. Kau bisa melihatku? Kau bisa merasakan sekelilingmu?” tanya Jongki

Yoo Jin pun mengangguk dan berbicara dengan sangat pelan “maaf, aku membuat kalian khawatir. Maaf karena menyembunyikan penyakitku. Kupikir aku akan bisa mengatasinya seorang diri”

“Dasar bodoh. Kau bahkan menyembunyikan hal ini dariku? Dari orang yang telah menjadi sahabat baikmu selama 10 tahun lebih. Apa saat ini aku benar-benar sudah tak kau anggap?” Jongki menangis dan terdengar kekecewaan dalam kata-katanya

“Kau tetap sahabatku yang terbaik. Aku menyembunyikan ini semua karena aku tak mau kau melihatku tak berdaya sepert ini. Aku ingin kau menjalani kehidupanmu seperti biasa”

“lalu bagaimana denganku? Kita bahkan akan segera menikah dalam beberapa minggu? Kenapa kau tidak bisa memberitahuku?” kali ini Kevin yang bertanya

“karena kau adalah calon suamiku makanya aku menyembunyikannya” Yoo Jin kemudian mencoba untuk tersenyum jahil “jika kau tahu mungkin kau tidak akan jadi menikahiku”

Kevin tersenyum, ia tak menyangka bahkan di saat kritis Yoo Jin masih bisa bergurau. “jika aku tahu, aku akan mempercepat tanggal pernikahan kita” gerutu Kevin

“Kevin ah maaf karena koondisi ku seperti ini, aku pikir kita harus menunda pernikahan kita, atau mungkin pernikahan itu tidak akan terjadi jika Tuhan memanggilku”

Kevin merasa sesak mendengar perkataan Yoo Jin, begitu pun dengan Jongki.

“jangan bicara seperti itu Yoo Jin ah. Kau akan sembuh. Kau ingat rumah yang aku bangun untukmu? Kau ingat pernikahan impian kita? Kita bahkan belum melakukan semua itu. Jadi sebelum semua itu terjadi kau tidak boleh meninggalkanku.” kata Kevin

“benar, kau tidak boleh bicara seperti itu. Kami pasti akan menyelamatkanmu dan mendapatkan donor jantung untukmu” timpal Jongki

Sebutir airmata jatuh dari mata Yoo Jin. Ia merasa beruntung karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat peduli padanya, tapi ia juga merasa sedih karena membuat orang-orang yang disayanginya mengkhawatirkannya.

“aku merasa beruntung karena memiliki kalian berdua. Walau aku tak pernah memiliki orangtua sejak kecil. Tapi aku memiliki kalian berdua, dan itu sudah cukup untukku. Terimakasih karena kalian berdua telah datang dalam kehidupanku. Dan maaf karena membuat kalian khawatir”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Yoo Jin merasa dadanya tiba-tiba sesak dan seluruh tubuhnya merasakan sakit yang amat sangat. Yoo Jin mencoba untuk menjaga kesadaranya, tapi ia tidak kuat menahan semua rasa sakit yang kini menyerangnya.  Tiba-tiba saja layar ECG yang menunjukkan detak jantung yoo jin menjadi tidak stabil dan kadang garis-garis yang melengkung itu menjadi lurus. Kemudian Yoo Jin tak sadarkan diri.

Kevin yang melihat Yoo Jin menutup matanya menjadi sangat panik. Ia memegang wajah gadis itu dan mencoba menyadarkannya

“Yoo Jin ah sadarlah, buka matamu“ tapi Yoo Jin masih diam tak bergeming “Kim Yoo Jin kumohon sadarlah” teriak Kevin

Kemudian Jongki mendorong Kevin ke pinggir “ minggirlah”

Jongki lalu memeriksa Yoo Jin, tampak kepanikan dan kecemasan luar biasa dari wajahnya “Yoo Jin ah  sadarlah kau bisa mendengarku? Yoo Jin ah

Detak jantung Yoo Jin semakin tak karuan dan itu terlihat jelas di layar. Di tengah kepanikan itu Jongki kemudian memencet tombol yang berada di dekat ranjang Yoo Jin. Dalam beberapa menit orang-orang berjas putih pun masuk, dan berkumpul di sisi tempat tidur Yoo Jin. Seorang perawat meminta Kevin untuk menunggu di luar. Dan dengan terpaksa Kevin pun keluar dari sana. Wajahnya sudah penuh dengan airmata, dan mulutnya terus meneriakkan nama Yoo Jin.

***

Lima belas menit kemudian seorang dokter  yang kira-kira berumur setengah baya keluar dari ruang ICU. Kevin pun kemudian menghampirinya, wajahnya terlihat sangat khawatir

“Dokter apa yang terjadi? Dia baik-baik saja kan”

“dia saat ini dalam keadaan koma. Jika ia tidak mendapatkan donor jantung dalam waktu dekat,  kurasa kau harus bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk”

Dokter itu menepuk bahu kevin seolah-olah menyuruhnya untuk tabah.

Kevin langsung jatuh terduduk seolah-olah kakinya tak kuat menopang tubuhnya. Tak lama Jongki muncul dari ruang ICU dan langsung berbicara pada dokter senior itu

Sunbae aku pasti menemukan pendonor untuk Yoo Jin. Bagaimana pun juga aku harus menemukannya. Jadi tolong jaga Yoo Jin tetap hidup sampai aku membawa sebuah jantung kemari”

“Jongki ya…aku…”

“Sunbae kumohon, berjanjilah padaku kalau kau bisa membiarkannya hidup sampai hari itu. Berikan aku waktu 3 hari hanya 3 hari. kau adalah Dokter spesialis jantung terbaik di rumah sakit ini, aku yakin kau pasti bisa mengabulkan permintaanku”

Dokter itu mendesah. Ia  terharu dengan semangat Jongki yang tidak menyerah dan menunggu kematian sahabatnya itu.

“aku mengerti, aku akan menjaganya semampuku. Tapi kurasa kau sebagai dokter pun tahu bagaimana kritisnya keadaan dia saat ini. Ia bisa meninggal kapan saja. Jadi kau harus cepat-cepat mendapatkan pendonor”

“terimakasih sunbae. Aku pasti akan mendapatkannya.” Kata Jongki.

Kevin yang mendengar semua pembicaraan mereka pun langsung sedikit bersemangat. Ia menghampiri Jongki “Jongki ssi, biar aku membantumu untuk mencari pendonor, kumohon. Aku juga ingin melakukan sesuatu untuk Yoo Jin dan tidak hanya diam menunggu disini”

Jongki tersenyum dan memegang pundak Kevin

“baiklah, kalau begitu ayo kita cari mulai sekarang”

***

Ternyata mencari donor jantung tidak semudah membalikan telapak tangan. Ini sangat sulit seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Jongki dan Kevin sudah menelepon semua Rumah Sakit besar di Korea, tapi hasilnya nihil. Bahkan mereka mendatangi semua Rumah Sakit di Seoul, tapi jawaban yang mereka terima sama saja. Jongki bahkan menelepon teman-temannya yang bekerja di Rumah Sakit di luar negri, tapi entah kenapa tidak ada 1 pun yang dapat mendonorkan jantung. Kalau pun ada, jantung itu sudah dimiliki oleh pasien lain.

Waktu 3 hari sudah berlalu dan kondisi Yoo Jin semakin hari semakin memburuk. Bahkan jika alat-alat medis itu tidak dipasang di tubuhnya mungkin Yoo Jin akan meninggal. Ya hidup Yoo Jin sekarang ditopang oleh alat-alat medis yang memenuhi seluruh tubuhnya. Jongki sudah putus asa, ia benar-benar tak bisa mendapatkan pendonor jantung untuk Yoo Jin. Ia terduduk lemas di kursinya dan menangis, saat telepon dari temannya, harapan terakhirnya untuk mendapatkan pendonor mengatakan bahwa ia tidak dapat membantu.

Kevin yang melihat reaksi Jongki pun sadar kalau harapan terakhir mereka pun telah hilang “apa mereka juga tidakmemilikinya?” tanya Kevin

Jongki mengangguk lemas “maaf…semua sudah berakhir”

Kevin mendesah, wajahnya sudah terlihat kacau karena kurang istirahat. “Jongki ssi. Apa kita hanya akan menyerah seperti ini? apa tidak ada jalan lainnya?”

“aku sudah menghubungi semua Rumah Sakit, dan menghubungi semua kenalan dan kolegaku juga kolega hyung ku. Tapi semuanya tidak dapat membantu”

Setelah mendengar jawaban Jongki, Kevin seolah-olah  tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tatapannya kosong. Dan tiba-tiba saja ia berbicara pelan “apa aku bisa mendonorkan jantungku?” tanyanya

Jongki terkejut mendengar perkataan Kevin “apa kau gila? Apa kau pikir kau bisa hidup tanpa jantung? Kevin ssi  dengarkan aku, hanya orang yang sudah meninggal yang bisa mendonorkan jantungnya. Apa kau mengerti?”

“hanya orang yang sudah meninggal. Karena aku masih hidup aku tidak bisa mendonorkannya” Kevin tertawa pahit

***

Kevin sedang berada di samping ranjang Yoo Jin, dan menggenggam tangan gadis itu. Ia sungguh tidak tega melihat keadaan Yoo Jin yang seperti ini. wajahnya menjadi tirus, kakinya bengkak, dan tubuhnya sangat kurus. Sudah 4 hari ia koma, dan dokter mengatakan padanya kalau Yoo Jin tidak ada harapan lagi. Semua hidupnya bergantung pada alat-alat medis yang memenuhi tubuhnya, jika alat itu dicabut maka Yoo Jin akan meninggal dunia. Ini hanya masalah waktu sampai Yoo Jin pergi.

“Yoo Jin ah, kenapa harus kau yang mengalami hal ini kenapa tidak aku saja” Kevin menangis “Yoo Jin ah, aku akan mendapatkan donor jantung untukmu. Aku berjanji. Dan saat kau sudah mendapatkannya, kau bisa hidup dengan baik kan? Kau harus bahagia. Aku tahu kau mencintai Jongki, dan aku harap kau bisa bahagia dengannya. Jadi berjanjilah padaku kalau kau kan bahagia sampai tua” Kevin mengusap air mata di wajahnya “saranghaeyo Kim Yoo Jin“ Kevin kemudian mengecup singkat kening Yoo Jin dan meninggalkan ruang ICU.

***

Jongki sedang terduduk di depan laptopnya saat suara ponselnya berdering.

“yeobuseo”

“Jongki ssi ini aku Seungki sahabat Kevin apa kau masih ingat?”

“ah tentu saja Seungki ssi tapi ada apa kau meneleponku?”

“apa Kevin berada di Rumah Sakit bersamamu?”

“tidak, aku bahkan belum melihatnya sejak kemarin. Tapi kenapa kau menanyakan Kevin?”

“kurasa Kevin sedikit aneh”

“apa maksudmu?”

tadi dia meneleponku dan bicaranya aneh. Dia minta maaf padaku dan menyuruhku untuk hidup dengan baik. Dia seolah-olah mengucapkan perpisahan”

Jongki terkejut, kemudian ia mengingat pertemuan terakhirnya dengan Kevin 2 hari yang lalu.

“apa aku bisa mendonorkan jantungku?”  tanya Kevin

“apa kau gila? Apa kau pikir kau bisa hidup tanpa jantung? Kevin ssi dengarkan aku, hanya orang yang sudah meninggal yang bisa mendonorkan jantungnya. Apa kau mengerti?” Jawabnya

“hanya orang yang sudah meninggal, karena aku masih hidup aku tidak bisamendonorkannya” Kevin tertawa pahit

Jongki terkejut, mungkinkah Kevin akan  melakukan sesuatu yang bodoh?

“Seungki ssi, kurasa Kevin akan melakukan sesuatu yang bodoh”

“apa maksudmu?”

“dia bilang dia ingin mendonorkan jantungnya untukYoo Jin”

“APA? Apa dia sudah gila?” suara Seungki terdengar syok

“Seungki ssi dengarkan aku. Kita berdua harus mencari Kevin. Apa kau tahu dia mungkin pergi kemana?

“aku akan mencari ke Apartemen dan Kantornya. Kau cari dia di apartemen Yoo Jin atau…”

“atau dimana?”

“di rumah yang ia bangun untuk Yoo Jin. Aku akan mengirimkan alamatnya padamu.”

“baiklah kalau begitu kita pergi sekarang

“aku mengerti”

Jongki menutup teleponnya, dan mengganti jas dokternya dengan jas biasa kemudian ia langsung pergi mencari Kevin

***

10 responses to “[Freelance] First Snow In December (Chapter 7)

  1. Huaaaa….. Bener2 di bwt mewek ma part Ĭηĭ …. (-̩̩̩⌣́_⌣̀-̩̩̩)

    Andweee….. Andwe…. Jangan bikin Sso meninggal….. 😦

    Ituuu kevin_mau bunuh dri kah???
    Demi ϐïśª mendonorkan jantungnya????
    Jong ki sukses nyegah kevin gk yah…atau malh dy Ϋά̲̣̥ηġ donorin???
    (●̮̮__●̮̮) Ɨƚι̇ƙƨ̃:'(Ɨƚι̇ƙƨ̃:'(Ɨƚι̇ƙƨ̃…… (⌣́_⌣̀”).

    Huaaa….. Makinnn seruuuu……

    Next partnya di tunggu… 🙂

  2. Aq yakin udh baca FF ini tp aq lupa udh baca sampe chapter brp T.T
    Jd klo baca ulang gpp kan thor^^

    Kevin ny meninggal ya??? Gmn nasib yoojin klo udh bangun nanti.. Ya ampunn

  3. Huaa,, hikz,hikz,
    Keren bgt crtax aku ampe nangis,,
    Kevin rmntis bgt,,,
    Smoga akhirnya bhgia bwt smua, brhrp klo kevin g mninggl dan yoo jin dpet dnor jntung,,😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s