You Should Be Mine [Chapter 8]

fanfiction 17

Title : You Should Be Mine [Chapter 8]

Author: J.A.Y

Genre: Romance, school life

Main Cast:
1. EXO-K Kai
2. EXO-K Baekhyun
3. Jung Ahyeon (OC)
4. Shin Seorin (OC)

Support Cast:
1. EXO-K Chanyeol
2. EXO-M Kris

Rating: PG-17

Length: 4,703 word

Disclaimer : FF ini milik saya! Dilarang keras mengcopy paste/plagiat FF ini. Ini FF pertama yang author buat. Jadi mungkin jika ada kekurangan tolong tinggalkan komentar agar author bisa mengkoreksi letak kesalahan nya dimana aja. Terimakasih~ 😀

Bagi yang belum baca part sebelumnya bisa lihat disini 😀

[Chapter 1] [Chapter 2] [Chapter 3] [Chapter 4] [Chapter 5] [Chapter 6] [Chapter 7]

Happy Reading ^^

***********

[Preview]

“aku ingin kau jadi pasangan ku Kai” ucap Seorin.

“kenapa harus aku?”

“karena aku mau dirimu yang menjadi pasangan ku?”

“kenapa bukan Baekhyun? Aku sudah memiliki pasangan ke pesta itu. Mungkin kau bisa mengajak yang lain” ucap Kai malas.

“siapa?? Ahyeon yang kau maksud?”

“hahahaha. Aku fikir kau pintar Kai. Ahyeon tidak akan mau pergi bersamamu. Aku bisa jamin itu” ucap Seorin sambil menahan tertawanya.

“aku butuh bantuan dari mu” sambung Seorin.

Kai menaikan sebelah alisnya.

“aku tau kau sangat berambisi mendapatkan Ahyeon. Tapi, jika kau mau membantuku aku yakin kau akan mendapatkannya malam itu juga”

“bantuan apa yang kau minta dariku?”

“hanya menjadi pasangan ku dipesta itu. Bukankah itu mudah?”

Kai nampak berfikir. Sepertinya Seorin sudah memiliki sebuah rencana saat pesta itu. Tapi tidak ada salahnya Kai menerima ajakan Seorin. Lagipula ia sudah menjanjikan Ahyeon akan jatuh ditangannya.

“sepertinya menarik. Baiklah aku akan membantu mu” ucap Kai.

“aku tau kau tidak bisa menolaknya jika aku menyebutkan nama yeoja itu.

Kau akan mendapatkannya Kai dan aku yakin Baekhyun tidak akan kembali padanya lagi” ucap Seorin.

‘tentu saja. Baekhyun akan kembali padaku seperti dulu’ batin Seorin.

[Preview End]

*******************

Baekhyun memandang lurus kearah jalanan didepannya. Sedangkan Ahyeon yang disebelahnya sibuk memainkan permainan yang ada diponselnya. Pagi ini Baekhyun akan mengantar Ahyeon pulang kerumahnya. Sesekali Baekhyun melirik kearah Ahyeon yang sibuk berkutat dengan ponselnya.

“KYAAA!! Pabbo!! Kenapa masuk kesitu” teriak Ahyeon sambil memandang lurus kearah ponselnya.

Sesekali Baekhyun terkekeh melihat tingkah yeojachingunya itu. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“kau kalah lagi?” tanya Baekhyun.

Ahyeon tidak menjawab. Tatapannya masih serius dengan permainan yang sedang dimainkannya sekarang. Baekhyun menghela nafasnya. Ini sudah pertanyaannya yang kedua tidak dijawab oleh Ahyeon. Apa permainan itu lebih menarik dari dirinya? 10 menit berlalu. Ahkirnya yeoja itu menyerah.

“haaaaa~ ada apa dengan permainan ini!” ucap Ahyeon sambil menaruh ponselnya diatas pangkuannya.

Baekhyun melirik sekilas kearah Ahyeon. Ia sudah bisa menebak. Yeoja itu pasti kalah lagi. Tergambar jelas diraut wajahnya jika ia sedang frustasi.

“kau kalah lagi?”

Ahyeon mengangguk tidak semangat. Sekali lagi Baekhyun terkekeh melihat tingkah Ahyeon.

“kenapa aku selalu game over saat di level 2?” gerutunya.

“level 2!!?? Kenapa setiap kau bermain game apapun kau selalu berahkir di level 2 hahaha” ucap Baekhyun seraya menertawakan Ahyeon.

“kau payah” ucap Baekhyun.

“mwo??”

“itu kan hanya permainan. Jika ku hitung-hitung selama perjalanan kau sudah kalah dua kali”

Ahyeon tidak terima dengan ucapan Baekhyun barusan. Ucapannya sangat mudah dia keluarkan begitu saja.

“yaa! ini sangat sulit. Memang nya kau bisa memainkan ini” ucap Ahyeon.

“jika aku menang kau harus memberi ku hadiah. Bagaimana??”

“jangan terlalu percaya diri dulu oppa. Kau tidak akan berhasil memainkan ini”

Baekhyun tersenyum simpul. Ia meminggirkan mobilnya di tepi jalan.

“mana ponselmu?” ucap Baekhyun.

“aku yakin kau tidak akan bisa” ucap Ahyeon sambil menyerahkan ponselnya.

Baekhyun menerima ponsel yang diberikan Ahyeon. Ia mulai memainkan permainan yang dimainkan Ahyeon tadi. 15 menit tatapan nya tidak sekalipun teralihkan dari ponsel yang ada ditangannya. Benar-benar sangat serius. Sesekali Ahyeon melirik kearah ponselnya itu. Kenapa sekarang jadi Baekhyun yang sangat serius memainkan itu?

‘itu kan hanya permainan’ batinnya.

“YAAA!!! Aku menang!!!!” teriak Baekhyun.

Sontak Ahyeon membuka matanya lebar-lebar.

‘tidak mungkin’

“ini lihatlah! Aku menang! Hahaha” ucap Baekhyun dengan sangat membanggakan dirinya.

“bagaimana bisa aishhh~” ucap Ahyeon frustasi seraya merebut ponselnya lagi.

“sekarang kau harus memberiku hadiah” ucap Baekhyun.

“mwo??”

“aku sudah menang tadi jadi kau harus memberikan ku hadiah?” ucap Baekhyun.

“kau sengaja melakukannya ya?”

“aniya…” tolak Baekhyun.

Ahyeon masih melihat Baekhyun dengan tatapan mengimiditasinya.

“baiklah,,, untuk sementara aku menyimpan permintaan ku. Tapi, suatu hari nanti kau harus janji untuk mengabulkannya”

“kenapa tidak sekarang?”

“aku masih berfikir tentang keinginan ku” ucap Baekhyun sambil tersenyum.
Baekhyun mulai menyalakan mesin mobilnya dan menancapkan gas. Hatinya sangat senang. Sebenarnya ia tidak menginginkan apapun dari Ahyeon. Semua hal yang ia inginkan sudah ia dapatkan sekarang. Termasuk yeoja yang ada disebelahnya dan Baekhyun mensyukuri akan hal itu.

======================

Sesampainya di rumah Ahyeon….

“kau tidak ingin masuk?” ucap Ahyeon.

“apa eomma mu ada didalam??”

“aku tidak tau. Ini kan hari minggu. Sepertinya ia tidak pergi bekerja hari ini”

Dalam sejenak Baekhyun berfikir. Tidak ada salahnya kan. Bukankah ini hal yang bagus. Masuk dan memperkenalkan diri secara resmi sebagai namjachingu Ahyeon. Sepertinya itu akan menjadi sebuah permulaan yang bagus untuk Baekhyun.

“baiklah”

Mata Ahyeon nampak berbinar. Sepertinya yeoja itu sangat senang. Ia langsung menarik tangan Baekhyun masuk kedalam rumahnya. Baekhyun merasa sangat gugup. Apalagi jika ia harus bertemu dengan nyonya Jung. Tapi…. Hey!! Tunggu dulu. Bukankah eommanya hanya tau jika Ahyeon menginap dirumah Ji Eul semalam. Lalu bagaimana reaksinya jika melihat putrinya diantar pulang oleh namja lain. Tidak. Baekhyun bukanlah orang asing bagi Ahyeon. Ia adalah namjachingu Ahyeon.

Ini adalah pertama kalinya Baekhyun menginjakan kakinya di rumah Ahyeon. Selama berpacaran mereka hanya menghabiskan waktu berdua di rumah Baekhyun atau di dalam apartemen Ahyeon. Lamanya mereka berpacaran bisa dikatakan baru seumur jagung. Sebenarnya tidak banyak yang diketahui Baekhyun tentang Ahyeon. Bagaimana kehidupan masa lalunya, siapa cinta pertamanya, hal apa yang yeoja itu takutkan, makanan kesukaannya, bagaimana hubungan keluarganya. Baekhyun tidak mengetahui semua itu.

“nona sudah pulang” ucap ahjumma lee.

“ne. Eomma mana??” tanya Ahyeon.

“nyonya baru saja pergi menemui temannya diluar. Ahh~ ini nyonya juga menitipkan ini jika nona sudah pulang”

Ahjumma Lee langsung memberikan secarik kertas kepada Ahyeon.

Eomma akan menemui teman eomma. Dia nyonya Kim. Orang yang kita bicarakan saat itu mengenai perjodohan mu. Dia sudah menentukan tanggal pertemuannya. Jadi siapkan dirimu Ahyeon. Kau mengerti??

Nafasnya tercekat saat menemukan kata perjodohan dalam surat itu. Tangannya Ahyeon mulai meremas kertas yang ia pegang. Pikirannya kalut. Lagi-lagi masalah perjodohan. Sepertinya cepat atau lambat perjodohan itu akan di laksanakan dan sesegera mungkin Ahyeon harus bisa membatalkannya.

“gwenchana??” ucap Baekhyun lembut sambil menyentuh pundak Ahyeon.

Suara Baekhyun menyadarkan dirinya dari lamunannya. Bagaimana ini? Ahyeon merasa bingung. Memberitahu masalah ini atau tetap merahasiakannya dari Baekhyun. Tapi jika disembunyikan, pasti masalahnya akan bertambah besar.

“oppa sepertinya hari ini kita tidak bisa bertemu dengan eomma? mianhae”

“aku mengerti. Sepertinya eomma mu orang yang sangat sibuk. Mungkin lain waktu” ucap Baekhyun seraya tersenyum lembut.

‘Tidak. Bagaimana bisa aku menyembunyikan ini’ batin Ahyeon.

“oppa sebenarnya ak-”

Baru saja Ahyeon akan mengatakannya. Tapi suara deringan dari ponsel Baekhyun menghentikannya. Baekhyun segera mencari ponselnya yang ia taruh didalam saku celananya. Namun bukannya malah mengangkat panggilan tersebut, Baekhyun malah menatap layar ponselnya itu dengan tatapan yang sulit di artikan.

Seorin is calling

Ia tercekat melihat nama Seorin yang tercetak jelas di layar ponselnya. Baekhyun ragu-ragu akan mengangkat panggilan dari Seorin. Ahyeon menatap Baekhyun bingung. Kenapa dari tadi Baekhyun hanya menatap layar ponselnya?

“kenapa tidak dijawab??” tanya Ahyeon.

Baekhyun segera mungkin menyentuh tombol merah yang ada dilayar ponselnya sebelum Ahyeon melihat. Mungkin akan lebih baik jika ia tidak menjawab panggilan itu.

“aku tidak kenal. Mungkin hanya orang iseng” ucap Baekhyun setenang mungkin.

Ahyeon tersenyum mendengarnya.

Jauh dilubuk hatinya ia merasa bersalah telah membohongi Ahyeon. Tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah cara agar tetap menjaga hubungannya agar tetap berjalan dengan baik.

“kalau begitu aku pulang dulu chagi” ucap Baekhyun.

“ne. Kenapa harus buru-buru?” ucap Ahyeon dengan nada kecewanya.

“besok masih bisa bertemu lagi di sekolah chagi”

Ahyeon menghela nafasnya. Ia tidak mau berpisah terlalu lama dengan Baekhyun. Ia ingin agar tetap disamping namja itu.

“arasseo” ucapnya.

Baekhyun mencium kening Ahyeon sekilas sebelum pergi “aku pergi”
Ahyeon mengangguk. Ia mengantar Baekhyun sampai pintu gerbang rumahnya. Mengamati mobil Baekhyun yang semakin lama semakin menjauh.

==========================

At D’Maris Restaurant in Cheonho

Ketiga orang itu sedang bercengkrama satu sama lainnya. Saling berbicara masalah perusahaan yang sedang mereka kembangkan bersama-sama. Nyonya Kim dan tuan Kim sepakat akan menyatukan proyek besar pengembangan perhotelan yang dimiliki keluarga Jung.

“jadi bagaimana rencana selanjutnya” ucap nyonya Jung.

“ bagaimana jika kita mengembangkannya disetiap kota-kota besar di Korea. Kita bisa mengembangkannya disekitar Daegu, Gwangju, Daejeon, dan Ulsan?” saran tuan Kim

“itu ide yang bagus apalagi kita mempunyai saham 15% di The Ritz-Carlton” ujar nyonya Kim.

“kau benar. Aku memiliki 18% saham disana sedangkan mendiang suamiku memiliki 20% nya dan Ahyeon hanya memegang 5% sisanya dipegang oleh pemegang saham lain” ucap nyonya Jung.

“sebenarnya saham itu akan ku berikan kepada Jongin nanti” ucap tuan Kim.

“benarkah??” tanya nyonya Jung.

“dia akan belajar nanti setelah lulus SMA. Bagaimana pun juga ia harus memulai dari bawah” ucap nyonya Kim.

Nyonya Jung tersenyum. Ia merasa sepertinya Jongin adalah pilihan yang tepat. Ia dibesarkan dari keluarga yang baik. Sebenarnya ia juga tidak tega jika harus menjodohkan Ahyeon sekarang. Ia juga ingin putrinya memilih pilihannya sendiri. Tapi bagaimana jika pilihannya itu tidak baik untuk dirinya sendiri?. Ia tidak mau itu terjadi.

“aku rasa kalian berdua membesarkan anak kalian dengan baik” ucap nyonya Jung sambil menyesap kopi nya.

“kau juga hebat, kau membesarkan putrimu sendirian selama 7 tahun belakangan ini. Kau benar-benar wanita yang hebat” puji nyonya Kim.

“bagaimana dengan perjodohan ini?” tanya nyonya Jung.

“Jongin sudah menyetujuinya. Bagaimana dengan Ahyeon?” tanya nyonya Kim.

“Ahyeon pasti setuju” ucap nyonya Jung.

“ahh~ aku sudah tidak sabar melihat mereka berdua bersama” ucap nyonya Kim.

Tuan Kim terheran mendengar perkataan istrinya. Yang ia tau dari pembicaraan terahkirnya dengan Jongin bahwa anak itu menolak mentah-mentah perjodohannya. Tapi bagaimana bisa Jongin bisa berubah pikiran sekarang?

“bagaimana kau membujuknya?” tanya tuan Kim kepada istrinya.

“itu rahasia yeobbo” ucap nyonya Kim sambil terkekeh melihat suaminya yang masih bingung.

Nyonya Jung hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan dua orang yang ada didepannya. Betapa bahagianya mereka. Terkadang nyonya Jung juga merindukan kehadiran mendiang suaminya. Tapi mau bagaimana lagi? Waktu tidak bisa berputar kebelakang. Ia harus ikhlas melepas kepergian suaminya.

======================

Kai memutar bola matanya malas ketika melihat gerak-gerik yeoja yang sedang duduk berhadapan dengannya. Berkali-kali yeoja itu sedang berusaha menghubungi seseorang tapi sepertinya orang yang dihubungi tidak mau mengangkat panggilan dari yeoja ini. Dirinya lelah melihat pemandangan yang menurut nya sangat membosankan.

“siapa yang kau hubungi eoh?” ucap Kai.

“Baekhyun” ucap Seorin yang masih berusaha menghubungi Baekhyun.

“pabbo!” ucap Kai sambil meminum jus orange nya.

“tentu saja dia tidak mau mengangkatnya. Dia pasti menghindar dari mu karena perkataan mu semalam” ucap Kai sarkatis.

Memang benar. Seorin sudah menceritakan semua nya kepada Kai tentang kejadiannya saat bersama Baekhyun semalam. Bagaimana cara Seorin meminta Baekhyun agar kembali padanya. Seorin juga telah menceritakan kenapa saat itu ia tiba-tiba pergi ke LA. Ia bahkan sudah menceritakan tentang perjodohannya dengan Joonmyeon.

“tunggu dulu. Jika kau meminta Baekhyun kembali lalu bagaimana dengan masalah perjodohan mu dengan pengusaha kaya itu?” tanya Kai sambil menaruh gelas orange jus nya.

“aku harus bisa membatalkan perjodohan ini sebelum pertunangan itu terjadi” ucap Seorin.

“kapan?”

“3 bulan lagi. Setelah aku lulus”

Kai menghela nafasnya kasar. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki. Rupanya bukan hanya dia yang terbelit dengan masalah perjodohan. Ternyata Seorin juga mengalaminya. Kai berfikir. Apakah ia juga harus dipaksa bertunangan dengan seseorang yang tidak ia cintai?.

“kau tau sebenarnya aku juga di jodohkan?” ucap Kai pelan.

Seorin mengeryit heran. Ia tidak percaya dengan yang dikatakan Kai barusan. Seorang Kai namja yang terkenal akan sifat badboy nya disekolah ternyata juga dijodohkan. Mungkin Kai hanya membuat sebuah lelucon untuk menghiburnya. Tapi, dilihat dari ekspresi namja itu sepertinya ia serius.

“dengan siapa?”tanya Seorin

“molla. Aku baru bertemu akan dengannya minggu depan”

“kau menerimanya begitu saja”

“eomma yang memaksaku. Cara nya benar-benar licik untuk membuat ku menerima perjodohan ini. Aku tidak bisa menolaknya” ucap Kai pasrah.

“setidaknya posisi kita disini sama” ledek Seorin.

“ya! Setidaknya aku masih bisa meminta yeoja yang akan dijodohkan dengan ku untuk membatalkannya. Sementara dirimu, kau bahkan tidak bisa memaksa Joonmyeon untuk membatalkan ini semua kekeke” sindir Kai.

Mendengar itu Seorin langsung memberikan tatapan sinisnya kearah Kai.

“kau benar. Tapi, sejujurnya aku merasa kasihan dengan yeoja yang akan dipasangkan dengan mu?”

“wae? Aku tampan, kaya, sexy, juga pintar dalam memuji. Yeoja itu seharusnya merasa beruntung karena dijodohkan dengan ku. I’m manly perfect” ucap Kai dengan cengiran khasnya.

Seorin mendengus mendengar Kai yang mulai membanggakan dirinya sendiri. Seorin fikir sifat Kai selama ini sudah berubah. Ternyata tidak. Ia masih saja suka membanggakan dirinya sendiri.

“kau melupakan satu hal” ucap Seorin.

“mwo??”

“you pervert Kai hahahaha” ucap Seorin.

Perkataan nya sukses membuat Kai harus melemparkan tatapan death glarenya kearah Seorin. Sementara Seorin, ia masih saja tertawa melihat reaksi Kai. Sudah lama ia tidak meledek namja yang ada didepannya ini.

=========================

Ahyeon berdiri di balkon rumahnya. Dirinya begitu menikmati pemandangan yang tersaji indah dimatanya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Merasakan bagaimana oksigennya menjalar masuk kedalam otaknya. Menjerihkan pikirannya dari kepenatan yang ia rasakan.

Beberapa detik kemudian matanya melihat akan sebuah objek baru yang begitu menarik dilihatnya dari atas sini. Ia melihat seorang lelaki paruh baya yang sedang mengajari anaknya bermain sepeda beroda dua. Lelaki itu sedang memegangi sepeda anaknya dari belakang agar anaknya itu tetap terjaga dengan keseimbangannya. Suara tawa dan canda masih terdengar jelas dari tempat Ahyeon berdiri.

Ahyeon terpaksa menarik sebuah senyuman dibibirnya. Ia teringat kepada appa nya. Cara yang dilakukan lelaki itu sama dengan cara appanya saat mengajarinya bermain sepeda dulu. Ia rindu appanya. Sangat merindukannya. Ahyeon bahkan lupa kapan terahkir kali ia memeluk appanya.

Perlahan genangan itu muncul di pulupuk mata yeoja itu. Hanya sebuah kedipan dari matanya sukses membuat air matanya terjatuh membasahi pipi Ahyeon.

‘appa’

‘jeongmal bogoshipo’

Ahyeon mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan masuk kedalam kamarnya. Ia melihat kalender yang terpasang rapih didinding kamarnya. Sebuah tanda bulatan merah besar yang melingkar sempurna di setiap tanggal 21 nya.

“sudah lama aku tidak mengunjungi appa” gumamnya.

Ahyeon tersenyum simpul. Ia mengambil sebuah pulpen dan buku agendanya yang ada didalam tasnya. Buku yang selalu ia gunakan untuk mencatat jadwal-jadwal penting yang harus ia lakukan.

“tanggal 21 juli mengunjungi appa”

Ucapannya senada dengan tulisannya yang ia tulis di buku itu. Setelah menulisnya Ahyeon menaruh bukunya itu kembali kedalam tasnya.

===================

Baekhyun merebahkan tubuhnya di atas kasur besar miliknya. Memandang kearah plafon kamarnya. Sejenak ia memejamkan matanya.

Ddrrtt…ddrrrttt…

Untuk kesekian kalinya juga ponselnya itu selalu berdering. Tanpa melihatnya Baekhyun sudah bisa menebaknya. Yang menelfonnya itu pasti Seorin. Terkadang ia berfikir, kenapa sifat gadis itu tidak pernah berubah dari dulu?

*Flashback

Hujan masih setia menemani kota Seoul sore ini. Gadis itu masih saja berdiri di halte tempat biasa ia menunggu bus. Tidak. Sebenarnya bukan bus yang ia tunggu sore ini. Lebih tepatnya ia menunggu seseorang. Berkali-kali ia menghubungi orang itu tapi tidak ada satupun jawaban dari orang yang diharapkannya.

Seorin hanya pasrah menghela nafas nya. Ia masih berusaha menghubungi namjachingunya. Sudah satu setengah jam ia menunggu kedatangan Baekhyun. Tapi Baekhyun tidak kunjung menampakan batang hidungnya.

Hari ini Baekhyun janji akan mengajari Seorin pelajaran kimia. Baekhyun sudah mengatakan kepada gadis itu untuk pulang lebih dulu karena hari ini Baekhyun mendapatkan kelas tambahan disekolahnya. Tapi Seorin tetap bersikeras akan tetap menunggunya ditempat yang biasanya.

“haahh~”

Itu sudah helaan nafasnya yang ke 15 kali nya. Waktu benar-benar membunuhnya sekarang. Seorin mengayunkan kakinya seraya memandang kearah jalanan yang sedang terguyur hujan. Hingga beberapa saat kemudian sudut bibirnya mengembang menjadi sebuah senyuman. Orang yang diharapkannya ahkirnya datang. Baekhyun datang menghampiri Seorin dengan payung hijau nya.

“sudah kukatakan pulanglah dulu” ucap Baekhyun.

Seorin berdiri dan tersenyum kearah Baekhyun “aku sudah bilangkan akan tetap menunggu disini”

Baekhyun heran kenapa Seorin begitu keras kepala.

“kau tidak membawa payung?” tanya Baekhyun.

Seorin menggelengkan kepalanya. Sudah Baekhyun duga. Gadis ini benar-benar tidak pintar dalam meramalkan cuaca yang akan terjadi. Setidaknya Baekhyun selalu mengingatkan Seorin untuk selalu membawa benda penting itu. Tapi Seorin selalu bilang hari ini cuaca akan cerah.

“ayo pulang” ucap Baekhyun.

“dengan apa??” tanya Seorin.

“tentu saja dengan ini” ucap Baekhyun sambil melihat payung hijau nya.

Seorin menaikan sebelah alisnya. Apa Baekhyun mau membuatnya basah kuyup. 1 payung untuk 2 orang. Baekhyun benar-benar gila.

“apa bisa??” tanya nya ragu.

“tentu saja. Ini akan membuat kita seperti pasangan romantis yang ada di drama-drama” ucap Baekhyun senang.

Seorin masih tetap berfikir. Mungkin karena Seorin terlalu lama berfikir sampai membuat Baekhyun merasa jengah.

“sudahlah percaya padaku. Jika kau tidak mau basah tetaplah merapat didekatku” ucap Baekhyun seraya menarik pinggul Seorin agar mendekat dengan tubuhnya.

Seorin tersentak kaget. Posisinya benar-benar rapat dengan Baekhyun membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Sedangkan Baekhyun, ia hanya memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.

Mereka berdua jalan ditengah hujan yang sedang mengguyur kota Seoul. Baekhyun melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Seorin agar gadis ini bisa menyamakan langkah kakinya. Sedangkan Seorin yang memegang payung nya. Baekhyun merasa senang bisa seperti ini dengan Seorin.

Sebenarnya Baekhyun membawa payung cadangannya didalam tas untuk Seorin. Karena ia tau gadis ini selalu lupa untuk membawa payung. Tapi sepertinya Baekhyun lebih senang jika seperti ini.

“kenapa kau tidak mengangkat telfon ku?” tanya Seorin.

“Kau tau kan jika aku tidak mengangkatnya itu berarti aku sedang ada dijalan. Kau sendiri tidak lelah menelfon ku terus menerus??”

“kau tau kan aku akan selalu menghubungimu sampai kau mau mengangkat telfon dari ku”

Baekhyun terkekeh mendengarnya “kau tau sebenarnya aku membawa 2 payung hari ini”

Seorin sontak menoleh kearah Baekhyun. Sedangkan Baekhyun hanya memberikan cengiran khasnya.

“kau sengaja”

Baekhyun mengangguk mantap.

“ne. Aku sengaja. Bukankah aku sangat romantis. Kita berjalan ditengah hujan seperti ini. Sepayung berdua dan… aww!!” rintih Baekhyun sambil memegangi kakinya

Seorin baru saja menginjak kaki Baekhyun dengan kuat. Ia menatap Baekhyun yang sedang kesakitan karena sebelah kakinya baru saja ia injak.

“itu hukuman” ucap Seorin.

“Ya! Ya! Kau seharusnya senang kan aissshhh~”

*Flashback End

Tanpa ia sadari se-ulas senyuman teukir di bibir namja itu. Namun tidak lama senyuman itu perlahan menghilang dari wajah imutnya. Mengingat akan masa lalu nya bersama Seorin membuat nya harus membuka luka lama nya kembali.

‘jika saja saat itu kau tidak pergi’

================================

At Cheungdam High School, Seoul

Pagi yang indah bagi seorang Kai untuk tetap terlelap diatas mejanya. Suara keributan disekitarnya bukanlah menjadi masalah untuknya. Namja itu masih tetap tidur dengan nyenyak. Alam mimpi telah membawa pria itu terlalu jauh dari kehidupan nyatanya.

***

Langkah kakinya membawa dirinya terlalu jauh dari pusat keramaian kota. Ia sendiri juga tidak tau dirinya ada dimana. Sepanjang mata memandang hanya padang rumput dan sebuah pohon yang berdiri kokoh di hadapannya.Tenang. Hanya suara semilir angin lembut yang terdengar. Hingga pada ahkirnya ia merasakan ada sebuah tangan besar yang menyentuh pundaknya lembut. Ia membalikan tubuhnya.

Dapat ia lihat lelaki paruh baya yang memakai pakaian serba putih yang menyilaukan. Warna putihnya begitu silau hingga harus membuat ia menyipitkan matanya.Lelaki itu hanya tersenyum kearahnya.

“kau yang terbaik” ucap lelaki itu.

Dahi nya berkerut seakan mencerna perkataan yang terlontar dari lelaki itu.

“ne”ucapnya tidak mengerti.

“kau adalah orang yang baik”

“maksud ahjussi?”

Lelaki itu hanya tersenyum tanpa berkata apapun. Ia tidak mengerti yang diucapkan laki-laki itu. Ia tidak kenal dengan laki-laki itu. Baru saja ia akan menanyakan apa maksud nya tiba-tiba semua nya menjadi gelap.

***

“KAI!! KAI!”

Kai tersentak kaget. Ia mendengar suara Kris yang berteriak membangunkannya. Namja itu benar-benar belum mengumpulkan seluruh nyawanya. Kepalanya terasa pusing. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya melihat keadaan sekitar yang begitu riuh. Sesaat ia tersadar bahwa dirinya berada di sekolah.

‘hanya mimpi’ batinnya.

Kris menatap bingung kearah Kai. Ada apa dengannya? Biasanya ia akan marah-marah jika dibangun kan sebelum guru masuk kedalam kelas.
Kai memberikan tatapan sinisnya kearah Kris. Kris sedikit tersentak mendapat tatapan yang begitu tajam dari Kai.

“ada apa?” tanya Kai.

“tidak ada apa-apa” ucap Kris.

Kai berdecak. Ia kembali menaruh kepalanya diatas meja. Kali ini ia memutar tubuhnya menghadap jendela yang ada disampingnya. Ia menghela nafas nya sejenak. Sudah berkali-kali ia bermimpi hal yang sama.

‘siapa dia sebenarnya?’

======================

Ahyeon baru saja tiba di kelasnya. Gadis itu membawa beban pikiran yang begitu berat didalam otaknya. Perjodohan, Baekhyun, pejodohan, Baekhyun. Hanya dua kata itu yang selalu berputar-putar dalam benaknya.

Ia menaruh tas nya diatas meja dengan asal. Tangannya masih menggenggam kuat pegangan tasnya. Pandangannya kosong. Ia hanya terlalu sibuk memikirkan masalahnya sendiri. Gadis itu bahkan belum mendudukan dirinya. Ji Eul menatap heran kearah temannya itu. ada apa dengannya pagi ini?

“selamat pagi” sapa Ji Eul dengan senyum malaikat nya.

“hari ini kau ter- YAAA!”

Ji Eul belum selesai berbicara dengan Ahyeon. Tapi Ahyeon sudah pergi begitu saja.

“aisshh! Ada apa dengannya. Apa dia tidak mau ku puji?” gerutu Ji Eul.

Ahyeon melangkahkan kedua kakinya dengan cepat. Kedua tangannya saling meremas kedua ujung rok seragamnya. Ia harus memberitahu Baekhyun tentang perjodohannya. Masalah ini bukan masalah yang sepele yang ia bisa atasi hanya seorang diri.

Disisi lain……

Baekhyun baru saja ingin memasuki kelasnya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika merasakan seseorang memegang lengan kirinya. Baekhyun menoleh kearah orang tersebut. Ia terkejut ketika mendapati Seorin yang memegang lengannya. Gadis itu sudah berdiri disampingnya sekarang. Baekhyun segera merubah ekspresi wajahnya sedatar mungkin.

“kita perlu bicara?” ucap Seorin.

Baekhyun menarik tangannya dan merapikan blazernya yang sedikit berantakan. Ia membuang pandangannya kearah depan. Baekhyun tidak ingin menatap mata Seorin secara langsung. Itu akan membuatnya menjadi laki-laki tidak berdaya.

“apa?” jawab Baekhyun dengan nada dinginnya.

“tidak disini” ucap Seorin.

“aku tidak ada waktu”

“ini yang terahkir, ku mohon Baekhyun-a kita perlu bicara sekarang” pinta Seorin.

Tidak ada kata lain. Baekhyun tidak bisa menolak permintaan Seorin dari dulu.

“hanya 5 menit” ucap nya.

Seorin tersenyum tipis. Ia tau Baekhyun tidak akan bisa menolaknya.

================

Hanya tinggal beberapa langkah lagi Ahyeon sampai pada tempat tujuannya. Yeoja itu bahkan sudah tidak memperdulikan lirikan sinis dari orang-orang yang berdiri disepanjang koridor sekolah. Ada saja beberapa yeoja yang masih tidak percaya jika Baekhyun sudah memiliki yeojachingu. Wajar. Itu karena Baekhyun masuk kedalam salah satu daftar namja terpopuler disekolahnya selain Kai.

“Chanyeol sunbae” panggilnya.

Ia beruntung dapat bertemu Chanyeol. Chanyeol baru saja keluar dari kelasnya. Dahi nya mengeryit saat melihat Ahyeon yang ada disini. Kenapa gadis itu bisa ada disini? Ini adalah lantai dimana seluruh kelas hanya dipakai oleh kelas 3.

Ahyeon segera menghampiri Chanyeol. Mereka berdua berdiri tepat didepan kelas Chanyeol.

“apa Baekhyun oppa ada didalam?”

“Baekhyun?? aku belum melihatnya pagi ini” ucap Chanyeol.

Kedua alis yeoja itu saling bertautan. Jelas-jelas 10 menit yang lalu Baekhyun dan dirinya telah sampai disekolah ini. Bagaimana bisa Baekhyun belum sampai dikelas nya? Apa dia pergi ketempat lain??.

“kau yakin sunbae??” tanya nya sekali lagi.

“ne. lihat saja. Tempat duduk nya masih kosong” ucap Chanyeol sambil menunjuk kearah tempat duduk Baekhyun.

Ahyeon menghela nafasnya. Benar. Ia melihat tempat duduk Baekhyun yang masih kosong. Dengan terpaksa ia harus mengurungkan niatnya pagi ini.

Sementara di dalam kelas…..

Kris sedang membolak-balikan halaman per halaman majalah yang ada dipangkuannya. Bosan. Tidak ada hal yang menarik dari majalah itu. Ia lantas segera menutup majalah itu dan memasukannya kedalam laci mejanya. Kris mengedarkan pandangan nya asal. Ia mendengus kesal ketika melihat papan tulis yang masih dipenuhi dengan rumus-rumus kalkulus yang belum sempat terhapus. Ia melihat Kai disebelahnya yang masih tetidur dengan membelakanginya.

“kapan bel masuk itu berbunyi. Lebih cepat masuk lebih cepat juga aku keluar dari sini”

Ia memandang asal kearah pintu kelasnya. Ia melihat Chanyeol yang sedang berbicara dengan seseorang. Orang itu tertutupi oleh tubuh Chanyeol yang tinggi. Hanya tangan orang itu yang terlihat. Kris menyipitkan matanya ketika melihat jam tangan berwarna pink soft yang dikenakan orang itu.

‘seorang yeoja’

Kris baru saja akan menghampiri Chanyeol. Namun sepertinya pembicaraan mereka telah berahkir. Ia melihat Chanyeol yang sedang melambai-lambaikan tangannya kearah yeoja itu. Chanyeol segera berbalik kedalam kelasnya. Kris tidak sempat melihat siapa yeoja itu. Yeoja itu sudah pergi duluan sebelum Kris melihatnya.

‘sepertinya aku pernah melihat jam tangan itu’

Chanyeol melihat Kris yang memandang kearah pintu tanpa berkedip sedikitpun. Ia pun melambaikan tangannya di depan wajah Kris tapi Kris tak kunjung sadar. Chanyeol menolehkan kepalanya kearah pintu. Tidak ada siapa-siapa di pintu itu. Ia lalu meninggalkan Kris yang masih berdiri mematung di samping tempat duduknya sendiri. Kris terlihat benar-benar seperti orang yang aneh.

===================

Ahyeon berjalan kembali menuju kelas nya. Dijalan tanpa sengaja ada seorang namja yang menabraknya. Orang itu membawa minuman dan minuman itu tidak sengaja mengenai rok Ahyeon. Namja itu melihat rok Ahyeon yang sedikit basah karena terkena tumpahan dari minumannya.

Baru saja Ahyeon akan marah-marah kearah namja itu tapi nyali nya seketika menciut. Dilihat dari wajahnya sepertinya namja ini sangat dingin dan tidak bersahabat. Tatapannya saja begitu dingin melihat Ahyeon. Ahyeon perlahan menunduk dan sedikit mundur dari namja itu.

“tidak papa. Kau tidak perlu minta maaf” ucap nya pelan.

“baguslah. Lagipula itu hanya tumpah sedikit di rok mu” ucap namja itu.

Ahyeon mencelos mendengar perkataan namja itu barusan. Benar. Dia memang bukan orang yang ramah. Sangat jelas terlihat dari raut wajahnya. Tapi setidaknya ia harus minta maaf kan.

‘sabarlah Jung Ahyeon’

Merasa urusannya telah selesai namja itu segera meninggalkan Ahyeon. Ahyeon segera mengangkat pandangannya kearah namja itu.

“kau tidak punya perasaan eoh??!!” ucap Ahyeon kearah namja itu.

Namja itu berhenti. Ia mendengar yang barus saja Ahyeon ucapkan. Tubuhnya berbalik. Ia melemparkan tatapan sinisnya kearah Ahyeon. Sontak Ahyeon merasa kaget. Apa namja itu mendengarnya?

Ahyeon segera membalik badannya meninggalkan namja itu yang masih menatap sinis kearahnya. Tatapannya membuat Ahyeon bergidik ngeri. Ahyeon tidak mau menoleh kebelakang sedikit pun. Karena ia tau jika sedikit saja ia menoleh, ia langsung mendapatkan tatapan yang menyeramkan dari namja itu.

========================

Tidak ada siapapun di tempat ini. Hanya ada mereka berdua. Seorin dan Baekhyun. Keduannya sedang ada ditaman belakang sekolah mereka. Baekhyun masih merasa enggan untuk melihat Seorin. Ia masih membuang pandangannya kearah kolam kecil yang ada didepannya.

Baekhyun masih saja berdiri di samping bangku panjang yang diduduki oleh Seorin. Ia ingin ini segera selesai lalu pergi secepatnya. Seorin memandang Baekhyun yang masih saja tidak ingin melihat kearahnya.

“lebih baik jika kau duduk” ucap Seorin.

Baekhyun melihat sekilas kearah jam tangannya. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Ia tidak mau membuang waktunya hanya untuk berdiri di tempat ini.

“cepat waktu mu 5 menit” ucap Baekhyun

“kenapa seharian kau tidak mengangkat telfon ku?” tanya Seorin.

“aku malas” jawab Baekhyun singkat.

“aku merindukan mu Baekhyun”

“hanya ini yang ingin kau bicarakan” ucap Baekhyun.

“masih ada yang lain” sergah Seorin.

Baekhyun kembali melihat jam tangannya. Hanya 3 menit lagi waktu yang tersisa.

Seorin menghela nafasnya “maafkan aku”

Baekhyun masih menunggu Seorin melanjutkan kata-katanya. Sedangkan Seorin, ia bingung harus menjelaskan semuanya dari mana. Ia tidak bisa menunggu sampai pesta milik Kris dilaksanakan. Itu terlalu lama. Lebih cepat lebih baik baik. Semakin cepat Baekhyun mendengar semuanya semakin cepat juga ia bisa membawa Baekhyun kembali padanya.

“maaf aku pergi meninggalkan mu waktu itu”

Tidak ada respon dari Baekhyun. Namja itu masih berdiri ditempatnya.

“aku terpaksa melakukannya Baekhyun-a”

Tunggu. Baekhyun tidak bisa mendengar kan ini lebih lama lagi. Ini tidak bisa diteruskan. Ia harus segera menghentikannya. Ia tau arah pembicaraan ini. Mendengarkan nya sama saja akan membuka luka lama nya kembali. Baekhyun sudah hampir bisa melupakan semuanya dan memulai yang baru dengan Ahyeon.

“Cukup. Jika kau ingin menceritakan masa lalu itu percuma Seorin. Hubungan kita sudah berahkir Shin Seorin” ucap Baekhyun.

Baekhyun segera pergi dari tempatnya. Ia mengepalkan kuat tangannya. Seorin yang melihatnya tidak terima. Ia bahkan belum selesai menyelesaikan semuanya.Seorin segera beranjak dari duduknya. Ia mengejar Baekhyun dan memeluknya dari belakang. Tidak peduli dengan reaksi apa yang akan diberikan Baekhyun.

Seorin semakin melingkarkan tangannya di perut Baekhyun. Namja itu tercekat. Detak jantung nya seakan berhenti untuk berdetak. Ia tidak tau harus melakukan apa. Perasaan ini tidak boleh muncul kembali.

“lepas Seorin” ucap Baekhyun sambil melepaskan tangan Seorin yang melingkar sempurna di perutnya.

“tidak akan”

“percuma jika kau menceritakannya. Aku sudah tau semuannya. Cerita mu itu tidak akan merubah keadaan” ucap Baekhyun

“kau tidak tau apa-apa Baekhyun-a”

Baekhyun sudah tidak merespon lagi. Keduanya saling terdiam dalam pikiran masing-masing. Baekhyun membenci masa lalu nya. Ia ingin membuang memori masa lalunya sejauh mungkin.

Hening..

Seorin tetap pada posisi nya. Ia tidak mau sama sekali untuk melepaskan Baekhyun. Ia tau jika tidak seperti ini mungkin Baekhyun akan pergi lagi tanpa mau menunggu ucapannya selesai. Ia ingin Baekhyun mendengar semuanya. Semuanya. Dari awal kepergiannya hingga saat ini.

“aku di jodohkan Byun Baekhyun!!” ucap Seorin dengan keras.

 

 

 

 

TBC

102 responses to “You Should Be Mine [Chapter 8]

  1. jangan2 yg di mimpi kai itu ayahnya ahyeon lagi, aduh itu c seorin, begimana kalau ahyeon lihat baekhyun di peluk2 seorin …..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s