[Freelance] Try to Love (Chapter 1)

Untitled-1

Author :

Kim Mirna

Main Cast :

Wu  Fan/Kris Wu (Exo M)

Song Nara (OC)

Other Cast :

Find it by yourself

Genre :

Romance, marriage life, sad (?)

Ratting :

PG 15

Lenght :

Multichapter

Annyeonghaseyo…. joneun Kim Mirna imnida. Aku masih pemula dalam bidang per-ff-an, jadi mian kalau ceritanya gaje, ngebosanin, terlalu banyak typo dsb. Aku masih butuh bimbingan, so mohon bimbingannya sunbae!! (sambil membungkuk 180o (??)).

Thankz for admin yang sudah mau mempublish ff gaje ini…. nan jeongmal gomayo…! (sambil sujud bareng member EXO)

Sebenarnya masih banyak yang ingin kusampaikan tapi ini bukan acara curhat-curhat tetangga jadi, sekiranya sampai disini saja…. (woi!! Pidato kallllEEE!!!)

HAPPY READING N DON’T BE A SILENT READER!!!!!

 

Chapter 1

 

Apakah salah jika aku dilahirkan dari rahim seorang pelacur??? Aku tidak pernah bisa memilih, aku terlahir begitu saja tanpa pilihan yang diberikan padaku, bukankah semua orang juga terlahir seperti itu? Jika ada pilihan sebelum lahir, pasti aku akan memilih lahir dari orang tua yang kaya raya, dari keluarga yang berlatarbelakang baik.  Tapi pada kenyataannya aku memang anak seorang pelacur…..

***

Song Nara PoV

Lampu berwarna-warni menerangi ruangan tempatku sekarang berada, cahayanya kerlap-kerlip yang menyilaukan mata dengan lantunan musik yang begitu keras, begitu memekakan gendang telinga. Aku mendesah kesal saat melewati ruangan itu, aku lirik orang-orang yang berada disitu, tampak beberapa wanita yang sedang bermanja-manjaan dengan pria-pria yang tampak lebih tua darinya, kalau bisa dibilang lebih pantas menjadi ayahnya. Ada yang cekikian dan tertawa ria entah apa yang lucu, pakaian wanita-wanita itu sangat minim dengan rok pendek yang diatas lutut dan baju bertali satu. Dipojokkan, disebuah sofa, tampak seorang ajhumma yang sedang dirangkul oleh seorang pria berperut buncit yang sedang cekikikan, aku menghampirinya dengan tatapan kesal.

“ ajhussi, apa kau punya istri dan anak?? Apa mereka tahu kelakuanmu sekarang??? “ ujarku sekeras mungkin, karena tidak mungkin aku berbicara pelan dengan musik yang begitu keras.

“ Nara-ya….. jaga mulutmu!!!“ bentak ajhumma yang berada disamping pria itu, dia berdiri dan menatapku kesal.

“ wae??? Kenapa eomma yang marah??? Apa dia pacarmu??? Hhhaaa…. kau bahkan terlalu tua untuk mempunyai pacar “ sindirku pada ajhumma yang tidak lain adalah eommaku, aku menatapnya tajam, aku bisa memastikan kalau sekarang mataku memerah karena menahan amarah begitu juga eommaku yang berdiri didepanku, dia menatapku tajam dengan matanya yang tampak merah saking kesalnya, tatapannya mengintruksikanku untuk diam.

“ geumanhae…. baiklah aku akan pulang sekarang chagi, besok kita lanjutkan lagi, urusi saja anakmu yang kurang ajar ini “ ujar pria itu sambil berdiri, dia menyindirku dan melirikku sebelum akhirnya ia meninggalkan kami.

^^skip^^

“ Plakkk “ eomma menamparku, sekarang tempat kami tidak lagi diruangan yang tadi, kami sudah berada di lantai atas, tempat yang lebih tenang meskipun musik-musik keras dilantai bawah masih terdengar ditelingaku.

“ kau puas sekarang huh??? kau tahu, pria yang tadi merupakan pelanggan penting disini, dia membayar dua kali lipat dari yang lain dan kau sudah menghancurkan semuanya “

“ jadi, eomma lebih mementingkan orang itu dari pada aku??? “ ucapku lirih dengan masih memegang pipi kiriku yang ditampar eomma, airmataku sudah berhasil menembus pelupuk mataku dan membanjiri kedua pipiku.

“ eomma, sampai kapan kau akan begini terus??? Kapan eomma akan berubah?? “ sambungku dengan tatapan memohon pada eomma.

“ yak…! apa kau pikir aku ingin menjalani ini semua huh?? ini semua karena takdir, jadi jangan pernah menyalakan eomma, kau tidak tau apa-apa arasseo?? “ ujar eomma dengan nada keras dan keluar meninggalkanku yang masih menangis.

“ eomma !“ panggilku tapi eomma tidak menghiraukanku

Dadaku terasa sesak karena menahan kesakitan ini, aku terduduk lesu dan menangis sejadi-jadinya. Mengapa takdir memperlakukan kami seperti ini??? Batinku

***

Aku berjalan melewati koridor kelas, aku berjalan dengan langkah yang lebih cepat, aku tidak tahan dengan tatapan orang-orang disekitarku. Ya, mereka memang sudah tahu kalau aku anak seorang pelacur, mereka melihatku seperti melihat sampah, mungkin begitulah aku dimata mereka, begitu menjijikkan tapi aku sedikit terbiasa dengan sikap mereka semua karena aku sudah melalui ini semua selama 3 tahun, sejak awal pertama aku masuk dikampus ini, Seoul University. Aku sekarang seorang mahasiswa semester 6 di fakultas Ekonomi.

Aku masuk kedalam ruangan yang akan menjadi ruang kuliahku hari ini, aku celingak-celinguk mencari seseorang yang mungkin ku kenal, dan ternyata ia berada dibangku belakang, ia melambaikan tangannya  dan memberiku isyarat untuk duduk disampingnya, ia adalah Lee ji eun, sahabatku sejak SMA, ia satu-satunya orang yang mau berteman denganku dan juga orang yang paling memahamiku.

“ kau sudah lama disini?? “ tanyaku ketika sudah duduk disampingnya.

“ Ne… aku bahkan sempat tidur tadi “ ujarnya sedikit kesal.

“ mian, tadi aku keperpus dulu “

“ gwencana…. “ ucapnya sambil tersenyum dan akupun ikut tersenyum.

“ yeoribeun!! Apa kalian tidak mencium sesuatu yang busuk?? Aku seperti mencium bau sampah?? “ teriak salah seorang gadis yang sangat modis sambil melirik kearahku dan tangan kanannya menutup hidungnya. Aku tahu kalau sindiran itu ditujukan padaku. Sedangkan yang lainnya langsung tetawa sambil menatap ke arahku.

“  aishhh… jjinja…” dengus Ji Eun kesal, dia baru saja ingin berdiri membalas orang-orang yang melecehkanku tapi aku menahannya, menurutku itu tidak ada gunanya.

“ geumanhae Ji Eun-ah, kau tidak usah mendengarkan mereka “ ucapku tenang sambil memegang tangan kanannya.

“ yaak…. neo pabo-ya??? Apa kau tidak marah dilecehkan oleh mereka??? “ ujar Ji Eun kesal

“ kalau aku marah berarti aku tersinggung dengan ucapan mereka dan itu juga berarti kalau aku memang sampah “ ucapku berusaha tersenyum, meskipun aku sangat sakit hati dan rasanya ingin menangis. Ji Eunpun akhirnya mengalah dan diam, mungkin dia sangat kesal sampai-sampai selama perkuliahan dia tidak memperhatikan mata kuliah yang disampaikan, ia hanya terus menatap keluar jendela.

^^Skip^^

“ Nara-ya…. lihat itu Wu fan sunbae sedang bermain basket, wah dia keren sekali!! “ ujar Ji Eun bersemangat, aku hanya meliriknya sepintas lalu tersenyum simpul “ ya… dia memang keren “ batinku dan lanjut membaca buku yang sedari tadi kubaca sedangkan Ji Eun masih saja memandanginya dengan tatapan memuji, dia bahkan tidak berkedip. Sekarang  kami berada di Perpustakaan yang berada di lantai tiga, kami duduk dekat jendela sehingga kami bisa melihat semua mahasiswa yang sedang beraktivitas dibawah sana.

Wu Fan, mendengar nama itu entah kenapa ada desiran yang hebat didalam darahku, jantungku memompa lebih cepat, mungkin karena aku sangat mengaguminya sebagai seorang sunbae yang tinggal beberapa hari lagi akan meninggalkan kampus ini, ia akan segera wisuda dan itu berarti aku tidak mempunyai kesempatan lagi untuk melihat wajahnya yang kharismatik. Aku mengaguminya sejak pertama masuk kuliah, dia adalah Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, dia sangat ramah terhadap mahasiswa baru dan juga seorang yang cerdas. aku dengar ia mempunyai seorang yeojachingu yang juga teman seangkatannya tapi terakhir kali aku mendengar kalau mereka putus karena sang kekasih harus mengejar impiannya sebagai seorang model dan saat itu juga aku merasa kalau Wu Fan sunbae sedikit berubah, ia tidak seceria dulu lagi, mungkin dia frustasi diputuskan pacarnya, pikirku.

“ yaak….. kau sedang melamunkan apa?? “ tanya Ji Eun membuyarkan lamunanku. Aku baru sadar kalau aku melamun ternyata.

“ a-aniyo…. aku tidak melamun “ sanggahku

“ eeyy…. daritadi aku memanggilmu tapi kau tidak menyahut-menyahut juga, kalau tidak melamun lalu apa  huh??? “ ujarnya sambil mempoutkan bibirnya. Aku hanya tersenyum geli melihat tingkah sahabatku itu.

***

“ geumanhae ajhumma !!!” teriakku pada seorang ajhumma yang sedang menjambak rambut eommaku, semua orang sudah berkumpul menyaksikan perkelahian itu namun tak satupun dari mereka yang meleraikan kedua wanita yang sedang bertengkar itu. Tubuhku yang mungil tidak cukup kuat melerai perkelahian wanita-wanita itu, mereka terus saja saling menjambak diiringi dengan caci makian dari keduanya.

“ eomma….. geumanhae…. !!!” teriakku lagi, sekarang mereka mendengarkanku, mereka berhenti berkelahi tetapi masih saja saling menatap tajam, mereka tampak ngos-ngosan.

“ dasar kau wanita jalang!! Apa kau tidak puas dengan pria-pria yang selama ini kau tiduri??? Kenapa kau mengganggu suamiku huh?? “ cerca wanita itu dengan nada yang cukup keras

“ mwo??? Siapa yang mengganggu suamimu??? Suamimu sendiri yang mendatangiku, mungkin saja karena dia sudah bosan padamu “ timpal eommaku dengan suara yang tidak kalah kerasnya. Mendengar ucapan eommaku, ajhumma itu tampak naik pitam, dia sudah akan memukuli wajah eommaku tapi aku berlari ditengah-tengah mereka dan akhirnya aku yang terkena pukulan itu dan berhasil membuatku tersungkur kesamping, aku meringis kesakitan.

“ yaak!! Kau berani memukuli anakku?? “ gusar eommaku

“ wae?? Apa kau marah?? Bukankah anakmu juga sama sepertimu?? Aku tidak yakin kalau dia tidak ikut menggoda suamiku??? “  ujar ajhumma itu sambil melirikku dengan tatapan merendahkan.

“ yaakk!! “ eommaku mulai akan melayangkan pukulannya pada ajhumma itu tapi aku mencegatnya, aku berpegang pada kedua kakinya.

“ eomma geumanhae….. geumanhae…” ujarku terisak sambil mendongakkan kepalaku, menatap eommaku dengan tatapan memelas. Eommaku terlihat kesal dengan aksiku itu.

“ kau dengar baik-baik, kalau kau sampai mengganggu suamiku lagi, aku benar-benar akan menghancurkan hidupmu dan juga anak tersayangmu itu “ ujar ajhumma itu lagi dengan nada mengancam dan menunjukku ketika mengucapkan kalimat terakhirnya dan akhirnya pergi meninggalkan kami.

^^Skip^^

“ neo paboya???? Kenapa kau bertindak begitu ceroboh ?? “ ujar eommaku dengan nada kesal, sambil membubuhkan plester antibiotik di ujung bibirku yang terluka akibat pukulan ajhumma tadi.

“ eomma….. kau berhenti saja, kita pergi saja dari sini, kita pergi ketempat yang jauh dimana orang-orang tidak mengenali kita, kita mulai dari awal, bekerja yang selayaknya eoh?? “ ujarku pada eomma dengan suara parau, aku menatap eommaku dengan mata yang berkaca-kaca.

“ hhee… apa kau pikir semudah itu memulai hidup dari awal?? Apa kau pikir ada orang yang akan membantu kita dengan senang hati tanpa mengaharapkan apa-apa??? “

“ geunde eomma, aku sudah tidak tahan dengan semua ini, aku tidak tahan dengan teman-teman yang menganggapku seorang pelacur, aku tidak tahan dengan orang-orang yang memandangku seperti sampah, aku tidak tahan dengan ajhumma-ajhumma yang hampir tiap hari datang memukuli eomma karena mengganggu suami mereka, aku tidak tahan eomma “ ujarku terisak, aku tidak bisa lagi menahan semua ini.

“ mwo?? Jadi apa kau malu mempunyai eomma seorang pelacur sepertiku??? Kalau begitu kau pergi saja sana, pergi cari orang tua kandungmu dan hiduplah selayaknya dan jangan pernah kembali lagi “ ujar eommaku dengan nada tinggi, ia juga menangis.

“ a-apa maksud eomma?? O-Orangtua kandung?? “ tanyaku terbata, aku benar-benar tidak mengerti maksud perkataan eomma.

Ekspresi eommaku berubah, ia berhenti menangis dan terlihat salah tingkah, ia seperti mengatakan sesuatu yang harusnya tidak dikatakan. Eommaku tidak menjawab pertanyaanku.

“ eomma…. apa maksud eomma??? “

“ sebenarnya kau bukan anak kandungku, aku menemukanmu ketika kau masih berusia sekitar 1 tahun didekat sebuah bar, aku kemudian mengambilmu karena kau tampak kedinginan. Jadi, eomma yang seorang pelacur ini bukan eomma kandungmu “ terang eommaku dengan suara parau.

Aliran darahku terasa berhenti, jantungku berhenti memompa dan mataku membulat sempurna dengan butiran-butiran airmata yang masih saja membanjiri pipiku. Aku begitu terkejut mendengar ucapan eommaku, aku merasa itu semua tidak masuk akal. Tidak mungkin wanita yang selama ini merawatku bukan ibu kandungku. Atau itu hanya alasan eomma agar aku meninggalkannya, karena aku sudah mengucapkan kata-kata yang sangat menyakitkannya.

“ mi-mianhe eomma, aku tidak bermaksud menyakiti perasaan eomma, aku hanya mengeluarkan unek-unek yang selama ini kupendam, jadi hentikan omong kosong ini…. nan jeongmal mianhe eomma….” ujarku lirih dan memeluk erat eommaku.

“ ani, aku tidak mengucapkan omong kosong padamu, aku berkata yang sejujurnya “ ujar eomma sambil melepaskan pelukanku. Ia beranjak keluar kamar, aku masih mematung. Setelah beberapa menit, eomma datang lagi dengan sebuah kotak hitam kecil ditangannya.

“ ige” ucap eommaku dan menyodorkan kotak itu kepadaku

‘ ige mwoya?? “

“ itu satu-satunya benda berharga yang ada padamu saat aku menemukanmu”

Dengan ragu aku membuka kotak kecil itu dan menemukan sebuah kalung dengan batu giok berwarna hijau tua sebagai bandulnya, aku mengangkat dari tempatnya berada, aku masih menatapnya dengan penuh tanya.

“ eomma sengaja menyimpannya, karena eomma berpikir itu akan berguna untukmu suatu hari nanti “ ujar eommaku dan berbalik hendak meninggalkanku lagi tapi aku langsung mencegatnya dengan memeluknya dari belakang.

“ ani…. aku tidak akan meninggalkan eomma sendiri, aku akan tetap menjadi anak eomma, sampai kapanpun “ ujarku lirih dan eommaku hanya menangis mendengar ucapanku.

“ kau akan menderita jika terus bersamaku “ ujar eommaku masih dengan suara paraunya

“ nan gwencana,, aku sudah terbiasa menjadi anak eomma, aku pasti akan baik-baik saja “ ujarku mantap.

***

Seperti biasa aku hanya akan menghabiskan waktuku dengan membaca buku saat menunggu sahabatku, Ji Eun datang. Sekarang aku datang lebih awal dikampus dan tidak ke Perpus dulu, pikiranku masih belum sepenuhnya pulih atas apa yang terjadi kemarin, masih banyak yang mengganggu pikiranku.

Dan seperti biasa pula, aku selalu duduk dibangku paling belakang aku tidak suka duduk didepan, karena pasti akan lebih banyak mata yang memperhatikanku tentu saja dalam hal yang negatif.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa beruntung karena bisa kuliah di kampus ini, salah satu kampus terbaik seKorea selatan, hanya orang-orang dengan ekonomi tinggi yang mampu bersekolah ini dan tentunya aku tidak masuk dalam hitungan. Yah…. aku bisa kuliah dikampus ini berkat bantuan otakku yang bisa dibilang diatas rata-rata, aku selalu menduduki nilai tertinggi seangkatanku, saat ini kecerdasankulah menjadi sumber kekuatanku.

“ ya Song Nara!!! “ panggil seorang namja yang sedang berdiri disampingku, ia melihatku sambil senyum-senyum penuh arti, aku tidak mengerti maksud dibalik senyumnya itu.

“ waeyo?? “ tanyaku

“ eyyy…. c’mon Nara, tidak usah sok polos seperti itu “ ujarnya lagi dengan kata-kata yang benar-benar tidak ku mengerti.

“  apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti “

“ bisa kau temani aku malam ini??? Aku akan membayar berapapun yang kau mau?? “ ujar namja itu dengan angkuhnya disambut dengan kekehan seisi ruangan. Aku langsung mengerti maksudnya, aku benar-benar marah sekarang, aku berdiri dan menatapnya tajam.

“ wae??? Aaahhh….. kau tidak suka kalau orang lain mendengar?? Kalau begitu nanti aku akan mengirimu pesan, berikan nomormu” ujarnya lagi sambil menyodorkanku Handpone miliknya. Aku mengambil handponenya, aku melihat dia tersenyum meremehkan saat aku mengambil handponenya tapi sontak senyum itu hilang ketika aku berhasil membuang Handponenya keluar jendela.

“ yaakk michosseo??? “ teriaknya padaku

“ kalau kau berani mengucapkan kata-kata seperti tadi, KAU akan bernasib sama dengan handphonemu !!!“ ujarku sedikit penekanan pada kata “KAU” dan masih tetap menatap tajam matanya. Aku bisa melihat kalau dia sekarang bergidik ketakutan dengan ucapanku yang terdengar sedikit horor, itu terlihat jelas dari ekspresinya yang tampak ketakutan. Aku tidak tahan berada diruangan ini dan akupun memutuskan keluar, semua orang yang sedari tadi tertawa tiba-tiba terdiam ketika melihat aksiku tadi. Aku berjalan tanpa menghiraukan tatapan mereka. tapi langkahku terhenti, darahku tiba-tiba membeku dan mataku terbelalak ketika mendapati seorang namja yang sangat ku kenal, Wu Fan sunbae, sedang berdiri di dekat pintu dan menatapku datar. Sejak kapan dia disitu?? Apa dia menyaksikan semua kejadian tadi??? Pikirku bercampur aduk. Aku semakin tidak tahan, entah kenapa aku jadi semakin malu, aku melanjutkan langkahku dan berlari sekencang-kencangnya ke arah taman.

To Be Continued

KyaaaAAa!!! Finally selesai juga chap 1nya…. otteo chingudeul??? Ceritanya anehkah?? Gajekah?? Ngebosaninkah??? FfiUUhh…….

Kritik dan saran dr klian berarti banget demi masa depan ff ini so don’t forget to comment…. arra????!!!

26 responses to “[Freelance] Try to Love (Chapter 1)

  1. Yi fan nya Mo Wisuda!

    OH..Nara Kajja kejar yi fan

    dichp 1 bnyk POV na Ra y!
    Joah joah
    kgk ada kritikan dech

  2. Waww keren ceritanya seru seru saya lanjut baca ya thor mian ga bs bnyk coment, pemasaran lebih dominan soalnya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s