You Should Be Mine [Chapter 17]

fanfiction 25

Title : You Should Be Mine [Chapter 17]

Author: J.A.Y

Genre: Romance, school life

Main Cast:
1. EXO-K Kai
2. EXO-K Baekhyun
3. Jung Ahyeon (OC)

Support Cast:
1. EXO-M Tao/Huang Zi Tao
2. EXO-M Kris
3. Han Ji Eul

Rating: PG-15

Length: 5,681 word

Disclaimer : FF ini milik saya! Dilarang keras mengcopy paste/plagiat FF ini. Untuk Scene Luhan dan Ji Eul dibandara saya terinspirasi dari FF ‘hypocrities’ karya author zelowifey. Ini FF pertama yang author buat. Jadi mungkin jika ada kekurangan tolong tinggalkan komentar agar author bisa mengkoreksi letak kesalahan nya dimana aja. FF ini juga sudah pernah diterbitkan di www.saykoreanfanfiction.wordpress.com www.readfanfiction.wordpress.com www.kpopsotoybanget.wordpress.com www.highschoolfanfiction.wordpress.com  dan di page Facebook https://www.facebook.com/EXOFanFiction?ref=ts&fref=ts Terimakasih~ 😀

Chapter sebelumnya >> [Chapter 16]

Happy Reading ^^

***********

You clearly are there, you still remain there just the same
I remember the pictures that I forgot all this time, small tremblings gush out of my body
It’s a bit sad that I can’t go back to those times
How much did you change while the clock’s springs were turning
I turned the last page that is written about you
But I have no courage to read it, I will erase the sad words
Our story is not be over
Because we will meet again

[Preview]

Ahyeon menatap tidak percaya kearah Kai. Ia ingat kejadian itu. Tujuh tahun lalu ada anak yang seumurannya memberikan sapu tangan ini kepadanya. Mereka saling tidak mengetahui nama masing-masing. Ahyeon mengingat bagaimana pertemuan pertama nya dengan anak itu. Sangat singkat tapi berkesan manis di hatinya. Setiap tanggal 21, jika Ahyeon sedang berkunjung ke tempat itu ia berharap bisa bertemu lagi dengan anak itu. Tidak banyak yang ia inginkan. Hanya ingin menanyakan nama anak itu dan mengucapkan terima kasih kepadanya.

“apa kita bisa bertemu lagi??”

“Tentu saja. Suatu saat mungkin kita bisa bertemu lagi”

Mata nya mulai memanas mengingat hari itu. Dengan sekali kedipan butiran bening itu sukses jatuh dari kedua matanya. Ia menatap manik hitam milik Kai dalam-dalam. Benarkah Kai adalah anak itu? Anak laki-laki yang memberikan sapu tangan ini?

“setiap hari aku selalu menunggu mu disana, tapi kau tidak pernah datang”, Kai menghapus bekas air mata di pipi Ahyeon.

Kalau kita brtemu lagi, saat itu aku akan mengenalimu lebih dulu

Kalau kita brtemu lagi, saat itu aku akan mencintaimu lebih dulu

[Preview End]

At Incheon Airport

Setibanya dibandara, Sehun membantu menurunkan koper dan barang-barang lainnya milik Luhan. Sehun hanya bisa mengantarkan Luhan sampai di terminal keberangkatannya saja. Luhan membaca layar monitor yang berisi tentang status penerbangan. Ia lalu melihat nomor penerbangan miliknya dan menyamakan dengan status yang ada dilayar monitor. Nomor penerbangannya menunjukkan status waiting room, artinya sudah banyak penumpang lain yang melakukan check in dan tinggal menunggu naik ke pesawat.

“aku hanya bisa mengantar sampai disini hyung” ucap Sehun.

“tidak papa. Gomawo, sudah mengantar ku”

“hyung disana jangan lama-lama. Cepatlah kembali” ucap Sehun.

Luhan hanya tersenyum tipis kearah namja itu, “kau harus menjaga yang lain” ucap nya sambil menepuk pelan bahu Sehun.

“kenapa harus aku. Aku kan yang paling muda diantara kalian”

Luhan terkekeh pelan mendengarnya, “kau akan tau maksud ku nanti”

Sehun tidak merasa ada sesuatu yang aneh dengan Luhan. Ia berfikir bahwa Luhan memang selalu seperti ini. Ia hanya melempari Luhan dengan senyum simpulnya.

“aku harus masuk kedalam Sehun-a”

“ne, beritau aku jika kau akan kembali” ucap Sehun. Lagi-lagi Luhan hanya menunjukan senyum tipisnya kearah Sehun.

Di luar bandara,,,,

Ji Eul dengan tergesa-gesa turun dari taksi setelah membayar argonya. Ia sengaja mengikuti Sehun dan Luhan hingga kemari. Terlebih untuk pria itu, Xi Luhan. Tanpa memperdulikan penampilannya yang masih terbalut seragam sekolah, ia masuk sambil berlari kedalam bandara.

Brukkk

Tanpa sengaja Ji Eul menabrak seseorang. Gadis itu hanya membungkuk tanpa melihat orang yang ia tabrak.

“mianhamnida” ucapnya. Ji Eul ingin berlari lagi tapi orang tadi telah menahan tangannya.

Ji Eul berbalik dan melihat kearah orang itu. Apa orang itu tidak mendengar jika Ji Eul sudah minta maaf? Saat ini Ji Eul sangat sedang terburu-buru karna Luhan dan dengan santainya orang itu malah menahan tangannya sekarang.

“shì nǐ shì yī gè gāo zhōng xué shēng cóng bǐ qǐ (kau siswi dari SMA Cheungdam)?” ucap orang itu.

Ji Eul hanya melihati orang itu dari atas sampai bawah dengan alis yang berkerut. Apa yang dibicarakannya? Ahh~ Sudah lah. Tidak ada waktu untuk memikirkan itu sekarang.

“mianhamnida, tapi aku sedang terburu-buru sekarang” ucap Ji Eul. Entah orang itu mengerti atau tidak dengan ucapannya, Ji Eul tidak peduli. Yang jelas Ji Eul berbicara dengan bahasa yang berbeda dengan yang di ucapkan orang itu.

Orang itu segera melepaskan tangannya dari Ji Eul, “ohh, duì bù qǐ (maaf)”

Ji Eul membalikan tubuh sambil membenarkan tali ranselnya yang turun di bahu kanannya.

‘orang aneh’

Kini Luhan tengah duduk di sebuah bangku yang terletak di dalam bandara . Ia melirik jam tangannya dan menghela nafas, tidak lama lagi pesawat mereka akan segera take off. Luhan beranjak dari duduknya, namun entah mengapa setiap langkah yang dia ambil terasa begitu berat. Dan sayangnya, memikirkan Ji Eul hanya dapat membuat langkah yang diambil menjadi semakin berat.

Dia meyakinkan dirinya untuk tidak terlalu menghawatirkan gadis tersebut. Luhan kembali melajukan langkah kakinya yang sempat tertunda, namun langkah yang dia ambil justru menjadi semakin berat, dan pandangan matanya tertunduk ke bawah lantai bandara yang bewarna putih salju. Pikirannya terlalu fokus dengan kenangan yang sempat terlewat bersama Ji Eul.

“Luhan oppa!”

Secara naluri Luhan terbangun dari lamunannya begitu mendengar suara seorang gadis yang baru saja memanggil namanya. Suara yang berasal dari seorang gadis yang begitu familiar baginya. Luhan membalikkan tubuhnya lalu dia membelalakkan matanya begitu melihat Ji Eul yang kini berlari menghampirinya dari kejauhan. Luhan tidak tinggal diam, ia meninggalkan kopernya di bawah lantai, dan mulai berlari menghampiri Ji Eul.

“Apa yang kau lakukan disini?” Luhan bertanya dengan suara menunduh. Ia melihat Ji Eul dalam keadaan yang sama sejak terahkir pertemuannya dengan gadis itu.

“meminta penjelasan,,,” ucap Ji Eul seraya mengatur nafasnya.

Luhan menarik tangan Ji Eul mencoba menariknya keluar dari bandara, “aku akan menghubungi Sehun agar menjemput mu”

“lepas!”, Ji Eul menarik tangannya kasar dari genggaman Luhan.

Langkah Luhan terhenti dan menatap wajah Ji Eul lekat-lekat. Luhan hanya ingin Ji Eul berada dirumah sekarang. Ia berniat menghubungi Sehun untuk kembali dan membawa Ji Eul pulang. Namun sayangnya ia gagal akibat kekeras kepalaan gadis ini. Terdapat rasa takut dan juga kekhawatiran yang terlihat jelas dari dalam bola mata Luhan, karena dia sama sekali tidak ingin meninggalkan Ji Eul di tempat ini sendirian.

“katakan kau akan kembali. Katakan kalau ucapan mu di hotel tadi tidak benar. Iya kan?” ucap Ji Eul lirih.

Gadis itu mulai menangis didepan Luhan “aku mendengar apa yang kau ucapkan tadi. Aku mengikutimu sampai didepan apartemen mu, dan aku mendengar apa yang kau bicarakan sebelum Sehun datang”

“aku tidak akan kembali”

“apa?”

“bukan tidak akan tapi tidak bisa”

“apa maksudmu?”

Luhan menarik Ji Eul kedalam pelukannya, “kau harus percaya padaku. Aku benar-benar tidak ingin kita berpisah”

Luhan menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Ji Eul. Gadis itu tidak merasakan pelukan yang biasa diberikan oleh Luhan untuknya. Luhan semakin mengeratkan pelukannya, ia yakin jika suatu saat nanti ia akan merindukan hal yang seperti ini. Apa yang dirasakan pria itu sekarang? Perasaan tidak rela, takut, khawatir, semua menjadi satu. Ia tidak siap jika harus melepas Ji Eul.

=============================

Kai merengkuh wajah Ahyeon dengan kedua tangannya. Ia memaksakan pandangan gadis itu agar melihat kedua matanya. Ahyeon sudah tidak tau harus berkata apa. Bibirnya sudah terlalu kaku untuk bergerak. Yang bisa ia lakukan hanyalah menatap manik hitam milik Kai dalam-dalam. Namja itu berusaha sekeras mungkin agar membuat Ahyeon percaya kalau inilah kenyataannya.

*flashback

7 tahun yang lalu,,,

Hari semakin siang. Tapi Ahyeon beserta pengasuhnya belum juga beranjak dari tempatnya. Mereka selalu melakukannya di saat tanggal 21. Apalagi kalau bukan karena permintaan gadis kecil itu. Hanya sebulan sekali ia bisa mengunjungi tempat ini. Ia sangat menyayangi ayahnya sudah tiada. Tidak ada yang bisa menemaninya disini selain pengasuhnya.

Eomma nya? Jangan bertanya tentang hal itu? Ahyeon juga sangat ingin bisa ketempat ini bersama eommanya. Tapi eommanya selalu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Apa salahnya jika eommanya bisa meluangkan waktu hari ini untuk putrinya sendiri? Itu tidak akan membuat semua harta miliknya hilangkan?

“aku masih ingin disini” ucap Ahyeon.

“tapi agassi, ini sudah sangat siang”

“aku masih ingin disini 30 menit lagi, ahjumma kembali lah kemobil”

“tapi agassi-“

“hanya 30 menit ahjumma. Aku janji. Setelah 30 menit ahjumma bisa menjemputku disana” ucap Ahyeon sambil menunjuk pohon yang ada jauh didepannya.

“baiklah, setelah 30 menit saya akan menjemput nona disana”

Pengasuhnya sudah pergi meninggalkannya jauh. Ahyeon lalu mulai berjalan kearah pohon besar yang jaraknya 5 meter dari tempatnya. Selalu dipohon ini Ahyeon selalu menunggu anak itu datang. Walaupun kemungkinannya hanya 2 banding 10 tapi Ahyeon akan tetap menunggunya. Ia juga tidak tau kenapa ia harus melakukan ini? Ia hanya merasa tidak enak jika harus memiliki benda itu. Jadi akan lebih baik jika Ahyeon bisa mengembalikkan sapu tangan itu.

Mungkin memang terlihat aneh. Ahyeon tidak tau siapa anak laki-laki itu. Ia hanya tidak sengaja bertemu namja itu disini. Terahkir bertemu ketika namja itu sedang kabur dari rumahnya. Mungkin saja ia hanya tersesat sampai ketempat ini. Lalu bagaimana caranya agar bisa mengembalikan sapu tangan itu? Ahyeon tidak tau dimana rumah anak itu. Satu-satunya tempat adalah disini. Mungkin saja jika namja itu ingin mengambil saputangannya lagi ia selalu menuggu Ahyeon disini.

*Flashback end

Kini ia tau, bukan hanya dirinya yang menunggu disana. Tapi Kai juga.

“kau adalah anak itu? Kau orangnya?“ tanya Ahyeon. Suara gadis itu mulai terdengar sedikit bergetar.

“ne”

“kau pasti bohong? Itu tidak mungkin. Kau tidak mungkin anak itu”

“aku anak laki-laki yang memberikan sapu tangan itu untuk mu. Kau lihat simbolnya, KJI. Itu singkatan dari nama ku”

Ahyeon melihat kearah saputangan itu lagi. Jadi KJI adalah Kim Jong In. Sebenarnya ini nyata atau hanya rekayasa namja itu saja? Ahyeon tidak tau apa yang harus ia perbuat. Berbicara pun ia tidak bisa. Ini terlalu mengejutkan untuknya. Kai? Kenapa harus dia lagi orang nya? Dunia ini begitu luas, tapi kenapa? Ahh~ Entah lah. Ahyeon sudah tidak bisa memikirkan apa-apa lagi sekarang.

“kau masih tidak percaya?” tanya Kai dengan lembutnya.

Ia ingin sekali untuk percaya. Tapi ini masih terlalu sulit baginya. Bukannya tidak mau menerima kenyataan, hanya saja,,,,

“aku,,, “

“akan ku tunjukan satu hal lagi kepadamu” ucap Kai.

Ahyeon menaikkan pandangannya saat Kai sudah pergi dari kamarnya. Namja itu pergi kekamar nya sendiri dan Ahyeon tidak tau apa yang dilakukan pria itu disana. Tidak lama, hanya beberapa menit saja Kai sudah kembali lagi dengan membawa sebuah lembar foto ditangannya. Ia menghampiri Ahyeon yang masih setia memandangi sapu tangan miliknya itu.

“kau pasti pernah bertemu dengannya”, Kai menyerahkan foto itu kepada Ahyeon.

Awalnya Ahyeon sedikit ragu menerima foto itu. Ia takut dirinya tidak bisa menerima ini. Apa ia bisa berfikir kalau ini hanya kebetulan lagi atau?

”mungkin kita berdua memang sudah ditakdirkan”

”aku lebih menganggap ini hanya kebetulan”

“terserah, tapi aku menganggap ini memang sudah direncanakan oleh Tuhan. Aku dan dirimu memang sudah ditakdirkan”

“kau percaya dengan itu? Bagaimana jika aku memang bukan takdir mu?”

“bagaimana jika iya?”

“yaa, kenapa kau malah bertanya balik?”

“bukankah kau tau jawabannya”

“itu diriku 7 tahun yang lalu” ucap Kai.

Ahyeon semakin menangis saat melihat foto itu, bahunya bergetar kuat. Bulir-bulir bening dimatanya seakan saling berlomba untuk keluar.

Kai mendekatkan tubuhnya dan membawa Ahyeon kedalam pelukan nya, “uljima,,, “, ia mengusapkan lembut tangannya di kepala Ahyeon “uljima Ahyeon-a”

Ahyeon membalas pelukan yang Kai berikan kepadanya. Pelukan yang begitu hangat. Ia tidak tau kenapa ia harus menangis didepan namja ini. Airmatanya seakan keluar begitu saja dari kedua matanya. Aneh. Tapi Ahyeon merasa lega karena ini.

Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya saat Kai mengusap lembut punggungnya. Pelukan Kai terasa begitu hangat dan nyaman. Rasanya berbeda ketika ia menagis di pelukan Baekhyun. Bukannya ia ingin membanding-banding kan kedua pria itu, tapi Ahyeon masih bisa merasakan jelas perbedaan disini.

Sepuluh menit sudah mereka tetap di posisi yang sama. Kai merasa bahu Ahyeon sudah tidak lagi bergetar seperti tadi. Tidak ada isakan tangisan yang ia dengar dari Ahyeon. Gadis itu mulai sedikit merasa lebih tenang dari sebelumnya. Kai mulai melepaskan pelukannya dan menatap Ahyeon lekat-lekat.

“kau percaya sekarang?”

Sulit untuk menyangkal, tapi ia tau inilah kenyataannya. Ahyeon mengangguk kecil sebagai tanda jawaban untuk Kai.

“sejak kapan kau mengetahuinya?”

“baru-baru ini”

Ahyeon menghela nafas sambil memandang lantai kamarnya yang berwarna putih pasir, “aku tidak menyangka dunia begitu sempit”

“kau sudah mengatakannya kemarin”

Pandangan gadis itu mulai beralih ke Kai yang duduk di sebelahnya, “apa kau percaya?”

“,,,,”

“kau masih percaya dengan takdir?” ucapnya dengan tatapan sendu.

Kai memandang Ahyeon dengan lembut, “aku percaya”

Tidak ada yang tau tentang takdir manusia. Ahyeon lebih suka untuk menunggu takdir itu datang menghampirinya dan menjadi sebuah kejutan untuknya. Ada yang bilang bahwa takdir manusia bisa dirubah jika manusia itu mau berusaha. Dari dulu Ahyeon tidak percaya dengan hal yang seperti itu. Tapi takdir tetaplah takdir, dan itu mutlak. Jika Tuhan sudah menetapkannya, maka itulah yang akan terjadi.

Jika Kai percaya, haruskah ia juga percaya?

=========================

At Oklahoma City, Amerika Serikat

“Aku akan mengambil penerbangan pertama ke Seoul”

Anna melihat kakak iparnya yang sedari tadi sedang menurunkan gantungan pakaian dari dalam lemari.

“harus sekarang? Tapi kau baru tiba disini”

Nyonya Jung memberikan jeda sejenak dengan aktivitasnya, ia melihat Anna yang sudah berdiri didekatnya, “maaf Anna, aku tidak suka jika harus menundanya”

“tapi Ahyeon dan Jongin masih duduk di bangku SMA, bagaimana kau bisa melakukan itu kepada mereka?”

“itu usul yang bagus dari keluarga Kim. Aku sangat menyetujuinya”

“bagaimana dengan Ahyeon dan Jongin? Kau tidak bisa memaksa mereka melakukan itu. Mereka belum mengenal satu sama lain”

“mereka sudah terikat sekarang, pasti tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Jongin dan Ahyeon saling mengenal”

“kau seperti memenjarakan putrimu sendiri”

“jika mereka mereka tidak mau, rencana ini masih bisa diundur”

“tapi intinya kalian akan tetap melakukan itu kan?”

“jika itu demi kebaikan Ahyeon, aku harus melakukannya”

Nyonya Jung menutup resleting kopernya dan menyeretnya keluar kamar. Anna hanya mengikuti wanita paruh baya itu keluar dari rumahnya. Sampai di pelataran rumah para pembantunya sudah membantu nyonya Jung untuk memasukan barang-barangnya kedalam mobil.

“jika sudah sampai segera hubungi aku”

“emm, kau tidak mau berkunjung dan menemui Ahyeon? Dia pasti senang bertemu dengan mu”

“masih banyak yang harus diselesaikan disini”

“aku akan mengirim undangannya kesini nanti, dan kau harus datang”

“baiklah, aku tau. Aku juga ingin melihat keponakan ku sendiri” ucap Anna sambil tertawa kecil.

Nyonya Jung membalas senyuman Anna. Ia kemudian masuk kedalam mobilnya dan menuju bandara.

==============================

At Ahyeon’s Apartemen

Tok tok tok

“Ahyeon-a, kau sudah bangun?”,

Kai mengetuk pintu kamar Ahyeon pelan. Tidak ada sahutan apapun dari dalam. Kai membuka pelan kamar Ahyeon. Ia menyembulkan sedikit kepalanya kedalam kamar, kosong.

Kai membuka lebar pintu kamar gadis itu dan masuk sedikit lebih dalam. Tidak ada siapapun? Dimana Ahyeon? Tempat tidur gadis itu masih terlihat berantakan.Tidak mungkin jika Ahyeon sudah berangkat kesekolah lebih dulu. Tempat tidurnya saja belum dirapihkan sama sekali.

‘Apa dia sedang mandi?’,

Tidak ada maksud lain, ia hanya ingin memastikan bahwa yeoja itu memang belum meninggalkan apartemennya. Kai berjalan mendekat kearah pintu lain yang ia yakini adalah kamar mandi. Laki-laki itu lalu menempelkan telinganya ke daun pintu, hening. Tidak ada suara apapun didalamnya.

Ahyeon selesai mengeringkan tubuhnya yang basah dengan handuk. Ia lalu membalut dirinya dengan kimono handuk dan melepas lilitan handuk yang membungkus rambut panjang nya. Sambil melepas handuk itu, ia berjalan menuju pintu dan akan membukanya. Sampai knop pintu itu terbuka,,,,

“KYAAAA!!”

Kai langsung terlonjak kaget kebelakang saat mendengar sebuah teriakan yang teramat keras di telinganya. Sedetik kemudian ia mendengar suara pintu terbanting yang sangat keras didepannya.

BLAMM

Ahyeon menutup kasar pintu kamar mandinya saat melihat Kai ada didepannya. Tepat saat ia membuka pintu, dirinya sudah disambut oleh sisi dari wajah Kai yang begitu dekat dengan dirinya. Sontak saja ia merasa terkejut dan langsung berteriak membanting pintu.

“apa yang kau lakukan! Kau mengintip ya!” teriak Ahyeon dari dalam kamar mandi.

“tidak. Kau salah paham” ucap Kai yang masih mengusap-usapkan telinga kanannya karena insiden tadi.

“lalu apa yang kau lakukan disitu! Kau pasti mengintip ku sedang mandi kan? Iya kan?”

“yaa! untuk apa aku mengintip mu”

“kau itukan pervert! Otak yadong! Kau king of yadong!”

“yaa!! Untuk apa aku mengintip mu. Aku bisa melihat yang seperti tubuh mu itu didalam koleksi ku”

Ahyeon terus mengumpat dari balik pintu. Ughh! Apa Kai sedang mengintipnya tadi? Ia lalu melihat kearah lubang kunci pintu dengan teliti, memastikan apakah ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh namja pervert seperti Kai.

“haa~ syukurlah”

Ia menghela nafasnya lega saat tidak menemukan sedikit celah pun disana. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di balik pintu dan mengelus dadanya pelan.

Tunggu! Apa tadi Kai bilang? Koleksi?

“cepatlah keluar. Kau tidak akan didalam kamar mandi itu selamanya kan?” teriak Kai dari luar.

Dasar otak yadong, pervert. Bagaimana ia bisa keluar jika masih ada Kai didalam kamar nya?

“kau gila! Bagaimana aku bisa pergi jika kau masih disitu? Pergilah! Aku tidak akan keluar jika kau belum pergi”

Kai mendengus kearah pintu, ‘Dasar berlebihan’

Lagipula Kai berniat baik disini. Walaupun mereka tinggal di atap yang sama, Kai tidak mau melakukan hal seperti itu lagi. Ia sadar akan kesalahannya dulu. Dan untuk apa mengintip? Kai sudah terlalu sering melihat yang seperti itu di dalam koleksi nya.

Ia lalu keluar dari kamar Ahyeon dan menutup pintu sekeras mungkin agar Ahyeon bisa dengar. Apa Ahyeon harus se protektif itu jika melihatnya? Hey! Apa yang salah dengan dirinya? Ia hanya ingin memastikan bahwa yeoja itu ada didalam kamar mandi tadi.

BLAMM

Ahyeon sedikit terkesiap saat mendengar suara pintu terbanting dari luar. Tidak salah lagi, Kai pasti sudah keluar. Tapi apa harus membanting pintu kamarnya seperti itu?

“aissshh!! Bisa-bisa pintu ku rusak! Dasar byuntae”

Kai berjalan kemeja makan dan melihat beberapa makanan sudah tersaji di atasnya. Dahinya mengernyit saat melihat makanan itu. Yang jadi pertanyaannya adalah siapa yang sudah memasakan ini? Ia menoleh kebelakang dan menatap pintu kamar Ahyeon. Mungkin gadis itu yang memasak? Kai menggeser kursi dan mendudukan diri disana. Mungkin benar gadis itu yang memasak. Jika bukan dia lalu siapa lagi? Yang tinggal apartemen ini hanya dirinya dan Ahyeon.

Tidak lama, hanya sekitar sepuluh menit Ahyeon sudah keluar dari dalam kamar dengan tatapan yang horor kearah dirinya.

“cepatlah duduk, aku akan berkomentar tentang masakan mu” ucap Kai sambil membalik piring makannya.

Ahyeon berjalan mendekat sambil menarik kursi nya pelan. Sebelum ia duduk ia masih melihat Kai dengan tatapan penuh mengimiditasi darinya.

“kau mengintip ku ya tadi?”

Kai hanya menggeleng pelan sambil melihat Ahyeon datar. Bahkan sampai di meja makan ini saja Ahyeon masih membawa –bawa masalah tadi.

“kau terlalu berlebihan”

Ahyeon mendudukan dirinya sambil membalik piringnya dan juga tidak lupa, tatapan penuh mengimiditasi darinya. Ia selalu melayangkan tatapan itu kearah Kai. Sedangkan pria itu, dengan santainya ia mengambil nasi dan lauk pauk yang sudah tersedia di depannya dan mulai memakan pelan makanannya.

“ternyata kau pintar memasak”

“bukan aku yang memasak”

Kai terhenyak ditempatnya. Dengan sedikit nasi yang masih mengisi rongga mulutnya, ia menghentikan aktifitas mengunyahnya.

“kenapa?” tanya Ahyeon.

“jika bukan kau, lalu siapa?”

“ahjumma Lee yang memasaknya”

“siapa?”

“ahjumma Lee, dia pelayan di rumah ku. Aku mana mungkin bisa memasak yang seperti ini”

“jadi bukan kau yang memasak selama ini”

“tentu saja. Aku tidak bisa memasak, ahjumma Lee yang selalu mengantarkan makanan kesini setiap pagi buta agar aku tidak kelaparan”

“pantas saja”

“pantas apanya?”

“aku tidak yakin kau rela bangun pagi-pagi hanya untuk ini. Bangun mu saja lebih siang dari ku”

Ahyeon lebih memilih diam jika Kai sudah mulai menyombongkan dirinya. Andai saja Ahyeon tau, Kai itu lebih parah dari nya. Jika bukan di apartemen ini, Kai tidak akan bagun lebih awal dari biasanya. Laki-laki itu sengaja menyalakan jam weker nya dan alarm di ponsel nya setiap pagi agar bisa bangun lebih awal. Bukankah itu bagus? Ia akan memiliki nilai plus di mata Ahyeon nanti.

“kau harus belajar memasak, kau ini perempuan”

“untuk apa aku memasak jika ada ahjumma Lee yang selalu memasakkan untuk ku”

“apa pelayan mu itu akan selalu mengikutimu terus sampai kau menikah? Belajar lah memasak untuk suami mu nanti”

“haa~ Ini sudah zaman modern, untuk apa susah-susah melakukan hal itu. Banyak manusia di luar sana yang mencalonkan diri sebagai pembantu rumah tangga. Jadi untuk apa repot-repot?”

“kau tidak bisa selalu mengandalkan mereka baby, kasihan suami mu nanti”

“kenapa kau selalu memanggilku seperti itu?”

“seperti apa?” ucap Kai santai.

“baby, kau selalu memanggil ku seperti itu”

“itu panggilan kesukaan ku, jika kau tidak suka aku bisa menggantinya menjadi,,,”

“chagi~” sambung Kai sambil terkekeh pelan, “tapi aku serius dengan yang tadi, kau harus belajar memasak dari sekarang. Belajarlah dari eomma mu”

“eomma ku sibuk. Dia tidak pernah meluangkan waktu seperti itu untukku” ucap Ahyeon.

“kalau begitu belajarlah dari eoma ku?”

“kau gila?”

“kenapa? Lagi pula eomma sangat menyukai mu. Kalian bisa lebih dekat”

“aku tidak mau”

“harus”, Kai lalu meraih ponselnya yang ada di samping piring makannya dan menghubungi eommanya.

=======================

At Kai’s Home

Pagi yang indah untuk keluarga Kim. Tenang dan damai. Tuan Kim benar-benar menikmatinya paginya yang indah ini. Sunyi. Tidak seperti biasanya. Setiap pagi ia harus mendengarkan teriakan istrinya dari lantai atas hanya untuk membangunkan Kai. Istrinya itu termasuk tipikal istri yang cerewet. Tapi tidak dengan hari ini. Kai sedang tidak ada dirumah sejak 2 hari yang lalu dan secara otomatis ia tidak akan mendengar teriakan istrinya yang selalu menggema disetiap rumah.

Sesekali tuan Kim menyesap kopi tanpa beralih dari koran paginya. Nyonya Kim turun dari lantai atas sambil memperbaiki tatanan rambutnya dan menghampiri suaminya yang ada di ruang makan.

“pagi yeobo”

“emm”

“bagaimana rambut baru ku?”

“bagus”, ucap tuan Kim yang masih terfokus dengan koran paginya.

“aku terlihat 10 tahun lebih muda kan?”

Tuan Kim menurunkan koran bacanya dan melihat kearah istrinya, “astaga Jaesil, ada apa dengan rambut mu?”

“kenapa? Bagus kan??”

Tuan Kim terus mengkerut kan keningnya melihat tatanan rambut baru milik istrinya. Nyonya Kim menyambung rambutnya yang pendek, mewarnainya menjadi warna coklat madu, dan menggelombangkan sedikit di bagian bawah rambutnya.

“kenapa merubahnya seperti itu?”

“ini bagus kan? Kau juga seharusnya merubah gaya rambut mu yeobo”

Tuan Kim hanya menggeleng pelan melihat perilaku istrinya yang sedikit kekanak-kanakan. Mungkin istrinya tidak ingat jika usianya sudah menginjak 49 tahun. Maksudnya, untuk apa ia masih melakukan hal itu.

“ahhh~ Aku sudah tidak sabar melihat Ahyeon menjadi bagian keluarga kita” ucap nyonya Kim.

“aku yakin mereka tidak akan setuju dengan rencana mu”

“kenapa? Mereka pasti setuju yeobo”

“mereka baru di jodohkan beberapa hari yang lalu dan sekarang kau-“

“ne yeoboseyo Jongin-a. Ada apa?”

Tuan Kim menghentikan kalimatnya saat istrinya menerima panggilan dari Kai. Ia lalu mulai membaca koran paginya dan tidak peduli dengan segala rencana yang di buat oleh istrinya. Ia lebih membiarkan istrinya mengambil alih segala urusan yang berbau dengan Jongin. Bukannya tidak peduli? Tapi menangani urusan kantor itu jauh lebih menyenangkan daripada harus mengurusi urusan perjodohan ini. Tuan Kim hanya tinggal mengikuti keputusan anaknya. Jika Jongin setuju maka ia juga setuju.

tidak papa eomma, Ahyeon menanyakan keadaan eomma dan appa. Tapi ia terlalu malu untuk bertanya langsung

“benarkah? Eomma dan appa baik. Bagaimana dengan mu dan Ahyeon?”

kami baik eomma. Oh iya, Ahyeon bilang ia ingin lebih dekat dengan eomma

“eomma juga. Ajaklah ia main kerumah”

baiklah, nanti sepulang sekolah kami akan kesana. Ahyeon bilang dia juga ingin belajar memasak dari eomma. Eomma mau mengajarinya kan nanti?

“tentu saja. Dengan senang hati eomma mau. Cepatlah ajak dia kesini. Eomma sudah tidak sabar”

baiklah. Sudah dulu ya eomma. Aku tutup telfonnya

Pip

“ada apa?” tanya tuan Kim.

“Jongin dan Ahyeon akan kesini nanti”

“kau akan memberitau mereka?”

“tidak sekarang yeobo”

-At Ahyeon’s Apartemen-

Ahyeon menggeram kesal didepan Kai. Seenak nya saja pria itu berbicara dengan eommanya di telfon. Apa katanya tadi? Belajar memasak? Hey! Ahyeon benar-benar tidak ingin melakukannya. Terahkir kali saat tidak ada seorang pun di rumahnya. Tidak ada seorang pun di rumahnya termasuk eommanya dan ahjumma Lee. Ia belajar memasak tanpa didampingi seorang pun disampingnya dan itu berhasil membuat hampir seluruh dapur rumahnya terbakar –hampir–.

Sejak hari itu Ahyeon tidak mau lagi melakukan hal yang seperti itu. Itu cukup membuat dirinya sedikit trauma jika memasuki dapur. Sampai sekarang jika yeoja itu memasuki dapurnya sendiri ia masih merasa sedikit was-was. Terutama jika dirinya berdiri didekat kompor.

“yaaakk! Apa yang kau katakan tadi?”

“kau dengar sendiri kan tadi. Tenang saja, eomma ku itu baik” ucap Kai santai lalu meneguk air putihnya.

“aku tidak mau. Kenapa kau berkata sesuka hati mu eoh?”

“lalu jika tidak begitu kau tidak akan mau belajar kan? Sudahlah. Itu pasti menyenangkan untuk mu”

Tidak ada gunannya berdebat dengan Kai. Ahyeon menaruh sendok makannya dan beranjak menuju kamarnya, “aku sudah selesai”

“yaa, kau belum menghabiskan sarapan mu” ucap Kai.

=========================

At Cheongdam High School

Ahyeon keluar dari mobil Kai dengan tas kardus di tangan kanannya. Sejak didalam mobil pria itu terus saja menanyakan isi dari tas kardus itu dan mau tak mau Ahyeon harus memberi tau pria itu. Isinya adalah blazer milik Huang Zi Tao. Ahyeon fikir Kai mau membantunya mengembalikan blazer itu, tapi ternyata tidak. Yang dikatakan Kai hanya ‘Kau yang membuat masalah, jadi selesaikan masalah mu sendiri dan hati-hati dia itu berbahaya

Berbahaya apa maksudnya? Justru dirinya lah sendiri yang berbahaya. Tidak. Lebih tepatnya otak nya lah yang lebih berbahaya. Sejak Kai tinggal diapartemennya selalu saja ada hal yang terjadi pada gadis itu. Mulai dari pagi sampai paginya lagi. Terus dan terus berputar seperti itu.

“ingat pulang sekolah nanti, kita akan kerumahku bersama” ucap Kai sambil menutup pintu mobilnya.

Ahyeon hanya mendengus dan meninggalkan Kai yang masih di tempat parkir.

-Di kelas-

Kedua matanya benar-benar menjadi bengkak karena menangis semalaman. Ini semua karena Luhan. Tidak bisakah pria itu pergi ketika lulus nanti. Lalu bagaimana jika Ji Eul merindukan pria itu? Kepalanya terasa sangat penuh dengan nama Luhan dikepalanya. Hanya Luhan dan Luhan.

Belum lagi dengan rengekkan teman sebangkunya yang selalu mengguncang-guncangkan lengannya. Dari tadi Ahyeon tiada henti-hentinya meminta untuk ditemani ke suatu tempat. Kepalanya semakin terasa pusing karena gemaan suara Ahyeon yang selalu memenuhi ruang di telinga nya.

“ayolah Ji Eul, temani aku. Aku takut melihat sunbae itu”

“minta tolong saja dengan Baekhyun sunbae”

“yaa~ Aku malas mendengar ceramahnya itu. Pasti nanti dia akan berkata ‘seharusnya kau minta maaf, dia itu sunbae mu. Belajarlah menghormatinya dan bla bla bla’ Kau tau kan dia itu orang nya seperti apa?” ucap Ahyeon sambil menirukan suara Baekhyun.

“baiklah” Ji Eul berdiri dari duduknya tanpa ada semangat sama sekali.

“Asik!” ucap Ahyeon sambil mengikuti Ji Eul yang sudah berjalan didepannya.

-Kelas XII B-

Namja itu membolak-balikkan blazernya kedepan dan kebelakang. Bersih dan wangi. Tao melihat dengan puas blazer yang ia pegang dan tersenyum manis kearah Ahyeon.

“baiklah, jangan diulangi lagi ya hoobae cantik” ucap Tao seraya mengacak pelan rambut Ahyeon. Tao lalu memakai blazernya dan mengancingkannya.

“apa aku boleh pergi sekarang?” tanya Ahyeon.

“tentu saja, pergilah”

Baru saja Ahyeon membalikkan tubuhnya tapi tangan Tao sudah menahannya lagi. Ahyeon berbalik dengan tatapan yang mengartikan ‘ada-apa-lagi-sunbae’.

“dia teman mu?” tanya Tao yang menunjukkan jarinya kearah punggung Ji Eul.

“ne, dia teman ku”

“kenalkan aku padanya”

“ne?”

“siapa namanya?”

Ahyeon mengernyit bingung, ia tidak habis pikir. Apa Tao tidak tau jika Ji Eul itu yeojachingu Luhan sunbae?

“dia itu pacarnya Luhan sunbae”

“Luhan?”

“iya, nama nya Ji Eul”

“teman kelas mu?”

“iya, sekarang aku boleh pergi?”

“tunggu”, Tao mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Ahyeon,

“masukkan nomer ponsel mu”

“yaa, urusan ini sudah selesai kan? Untuk apa kau meminta nomer ponsel ku?”
“masukkan saja, cepat”

Ahyeon meraih ponsel Tao dan mengetikkan nomernya disana. Setelah selesai ia memberikkannya lagi kepada Tao tanpa menyimpannya lebih dulu.

“nama mu Nayeon kan?” tanya Tao sambil mengetik sesuatu di ponselnya.

“Ah-Yeon. Nama ku Jung-Ah-Yeon. Berhenti menyebut nama Nayeon pada ku. Nama ku bukan Nayeon”

“benarkah? Ku fikir selama ini nama mu Nayeon” ucap Tao sambil tertawa kecil.
Ahyeon menghela nafas beratnya, “aku boleh pergi?”

“tentu saja, pergilah”

Ahyeon membalikkan tubuhnya dan menghampiri Ji Eul yang membelakangi dirinya dan Tao dari tadi di balkon gedung. Tao melihat sedikit perbincangan kecil yang dilakukan Ahyeon dan perempuan yang bernama Ji Eul itu. Dari jauh Ji Eul nampak mengangguk menanggapi Ahyeon dan saat Ji Eul membalikkan tubuhnya, dahi Tao seketika berkerut. Ia seperti pernah melihat Ji Eul di tempat lain.

=============================

Kris merebahkan tubuhnya di tengah-tengah lapangan setelah berhasil mengalahkan Kai. Matanya menerawang langit-langit yang menutupi ruangan lapangan basket sekolah mereka. Kai mengulurkan tangan agar membantunya untuk duduk.

Setelahnya namja itu duduk disebelah Kris seraya memberikan sebotol air mineral. Kai masih mengatur nafasnya karena permainan basket tadi. Ia meluruskan kedua kakinya sambil memejamkan mata dan mengadahkan kepalanya keatas.

“aku hampir mengalahkan mu hyung,–hampir–” ucap Kai sambil merebahkan tubuhnya diatas lantai.

Kris terkekeh pelang sambil menutup tutupan botol air mineralnya, “hampir”

Kai menjadikan kedua tangannya sebagai bantal kepalanya. Namja itu memandang jauh kearah langit-langit lapangan yang di penuhi dengan lampu,

“aku berhasil memilikinya”

Kris menoleh cepat kearah Kai, “siapa?”

“Ahyeon”

“huh?”

“kau terkejut hyung?”

Kris terkejut nya bukan main. Alisnya masih terangkat memandang Kai yang masih menerawang langit-langit. Kris butuh penjelasan lebih tentang ini. Sejujurnya ia tidak begitu mengerti dengan maksud Kai. Memiliki? Apa maksudnya?

“jangan bilang kau,,,,??” ucap Kris tidak percaya.

“iya hyung. Kami sudah terikat sekarang”

“huh? Kapan kau melakukannya?? Kapan Kai? Ceritakan”

Dahinya mengernyit melihat Kris, “melakukan apa?”

“kau sudah melakukan nya dengan Ahyeon kan?”

Baiklah, pada dasarnya ini hal yang mudah dimengerti olehnya. Tidak butuh waktu lama untuk Kai mencerna kalimat Kris barusan. Ia bangun dan mendudukan dirinya sambil menyilangkan kaki.

“bukan memiliki seperti ‘itu’ yang ku maksud hyung”

Kris semakin tidak mengerti. Lalu memiliki seperti apa yang dimaksud Kai? Tidak mungkin kan Kai berpacaran dengan Ahyeon. Satu-satu nya kemungkinan yang muncul dikepalanya, ya hanya itu. Kai sudah melakukan sesuatu kepada Ahyeon.

“aku dijodohkan hyung”

“kau bercanda?”

“tidak. Aku serius”

“tunggu! Jadi maksud mu??” ucap Kris.

Kai tersenyum lebar melihat Kris. Menunjukkan betapa bahagia nya ia sekarang. Ia senang jika harus berbagi kabar bahagia ini kepada Kris.

“aku mengerti Kai”

“jangan bilang siapapun hyung, hanya kau yang tau”

“tapi bagaimana bisa? Apa Ahyeon tidak menolak sama sekali?”

“karena itu, selama acara makan malam aku selalu was-was jika dia mulai berbicara. Saat dia merasa keberatan dengan perjodohan ini, aku langsung memotong pembicaraannya” ucap Kai.

“hahaha, lalu apa yang dia lakukan saat kau memotong kalimatnya?”

“dia tidak berbicara apapun. Hanya diam dan melihat ku dengan tatapan penuh mengimiditasi”

“tapi kenapa kau baru cerita sekarang eoh? Sejak kapan kalian dijodohkan?”

“tepat saat kau membuka club baru mu hyung”

“aku mengerti, tapi Kai?,,,” Kris menggantungkan kalimatnya karena memikirkan sesuatu, “jika hanya aku yang tau, bagaimana dengan Baekhyun?” sambungnya.

“tentu saja dia tidak tau. Ahyeon menutupi hal ini mati-matian dari Baekhyun hyung”

“lalu bagaimana jika dia tau?”

“mungkin dia langsung akan membunuh ku, hahaha” ucap Kai sambil beranjak dari duduk nya, “ayo kekantin. Aku lapar”

“kau yang mentraktir kali ini” gurau Kris.

“arasseo” ucap Kai sambil merangkul pundak Kris.

-Kantin-

Tepat disudut kantin, Baekhyun dan Ahyeon mendudukan diri mereka disana. Kantin terlihat ramai hari ini. Gadis itu mengedarkan pandangannya kesegala arah guna menemukan seseorang.

“aku tidak melihat Luhan sunbae dari tadi, apa dia tidak masuk?” tanya Ahyeon.

“dia tidak masuk hari ini dan tidak memberikan keterangan apapun dikelas” ucap Baekhyun.

“benarkah?”

“mana teman mu?”

“Ji Eul? Dia baru kuantar ke UKS tadi. Sepertinya dia sakit, suhu badannya sedikit hangat tadi” ucap Ahyeon sambil mengaduk minumannya.

“bagaimana dengan laporan mu?”

“laporan yang mana?”

“tugas laporan kimia mu, bagaimana hasilnya?”

“biasa saja”

“kau bisa mengerjakan sendiri?”

“te,,,tentu saja bisa. IQ ku kan tinggi. Mana mungkin aku tidak bisa mengerjakannya”,

Ahyeon tersenyum palsu didepan Baekhyun. Sedangkan Baekhyun hanya terkekeh pelan mendengar ucapannya. Ahh! Jika saja Baekhyun tau, dibutuhkan waktu yang lama untuk Ahyeon agar bisa mengerti materi itu. Kalau bukan karena Kai, mungkin tugas itu tidak akan selesai sampai sekarang.

Tapi bicara tentang itu, Ahyeon jadi mengingat kejadian semalam. Ia baru mengenal Kai, tapi rasanya Ahyeon sudah mengenal lama namja itu. Apa ini karena pengaruh pertemuan mereka dulu? Ahyeon juga tidak tau. Jika berada didekat Kai, ia juga merasa berbeda. Seperti ada perasaan hangat dan nyaman yang ia rasakan.

Entah benar atau salah, tapi Ahyeon merasa seperti terlindungi jika berada di dekat namja itu. Bukankah ini gila, ia mulai memikirkan tentang Kai sekarang. Ahyeon memejamkan matanya sebentar dan menghela nafas untuk kesekian kalinya. Ia takut jika Kai mulai menyita setiap pemikirannya.

“bagaimana jika pulang sekolah kita nonton di bioskop? Sudah lama kita tidak melakukan itu” tanya Baekhyun.

“ne? Bukankah oppa harus mengikuti jam tambahan nanti?”

“haaa~ Aku lelah. Kepalaku seperti ingin meledak jika harus mengikuti jam tambahan itu setiap hari”

“oppa mau membolos lagi?”

“hanya sekali, tidak papa kan?”

“ani. Kau sudah janji padaku kan saat itu”

“hanya sekali Ahyeon-a. Apa kau mau melihat kepalaku botak saat keluar dari sekolah ini? Karena setres rambut ku jadi suka rontok belakangan ini” ucap Baekhyun sambil menarik pelan rambut yang ada diubun-ubun kepalanya.

Ahyeon jadi merasa prihatin dengan Baekhyun. Namja itu selalu terkekang dengan waktu belajarnya setiap saat. Harus selalu belajar dan belajar. Tapi bukankah memang harus seperti itu?

Hati nuraninya sedikit tergerak. Apa ia harus membiarkan Baekhyun membolos lagi?,,,, Hey! Baekhyun sudah berjanji dulu. Mana boleh seperti itu. Tapi,,, mendengar dari nada bicaranya, sepertinya Baekhyun benar-benar setres. Ahyeon sebenarnya mau menerima tawaran Baekhyun, hanya saja,,,

ingat pulang sekolah nanti, kita akan kerumahku bersama

‘Ughh!! Haruskah hari ini. Dia bahkan sudah terlihat seperti eomma ku sekarang’ batin Ahyeon.

“bagaimana chagi?” tanya Baekhyun lagi.

“baiklah, kita akan nonton nanti”

“jeongmal?”

Ahyeon mengangguk semangat didepan Baekhyun. Biarlah, Baekhyun tidak boleh terlalu serius dengan belajarnya. Sesekali namja itu juga membutuhkan refreshing sedikit. Masalah Kai ia bisa pikirkan itu nanti. Lagipula waktunya juga tepat.

Jika Baekhyun sedang mendapat jam tambahan dikelasnya otomatis Kai juga pasti mendapatkannya. Dan selagi Kai mengikuti jam tambahan itu, ia bisa menunggunya sambil berkencan dengan Baekhyun. Tidak mungkin kan Ahyeon harus menunggu Kai selama 2 setengah jam hanya karena jam tambahan itu.

“kalau begitu tunggulah aku didekat halte nanti, arasseo?” ucap Baekhyun.

“emm, ara”

Dari arah lain Kai datang bersama Kris dan langsung mencari meja yang kosong. Hanya ada satu meja yang kosong, yaitu disudut kantin dan mejanya bersebelahan dengan meja Ahyeon dan Baekhyun. Kris melihat ekspresi wajah Kai yang tiba-tiba berubah dingin. Pasti karena pemandangan itu. Tapi mau bagaimana lagi? Satu-satu meja yang kosong hanya terletak disana.

“ayo”

“aku tidak lapar”

“mwo? Kau bilang tadi kau lapar?”

“kau saja yang makan hyung”, Kai langsung pergi meninggalkan Kris di tengah kantin.

Kris melihat punggung Kai yang semakin menjauh, “siapa suruh kalian menyukai yeoja yang sama”

TBC

115 responses to “You Should Be Mine [Chapter 17]

  1. Yaaahhh .. klo kai g ngikut jam tambahan gmn????
    Pdhl lg seru”‘a ..
    Baek malah ngajak nnton ..
    Hahahahhaha ..
    Jd plih kai apa baek nh ..

  2. Aish~ untuk s”t ini, haruskah aku menemukan nama kris yg kesekian kalinya ? Ini trlalu menyakitkan untukku thor *ma’af pembhasan keluar dari fanfic ini thor.
    Smua ini krena kau. YOUNGMIN-AH~ DAMN IT :3

  3. kasihan Kai harus selalu ngeliat Ahyeon bareng Baek di sekolah. padahal kan seharusnya dia yang selalu bareng Ahyeon….

  4. Miriss liat kisah cinta abang Luhan 😦 mudahan kai dan ahyeon bisa menyatu dan Luhan sama Ji Eul bisa kembali sama2 , but what happen with Tao ? kenapa dia tiba2 minta nomr hp ahyeon dan ngeliatin Ji Eul ? naksirkah ? kalo iya , pertarungan sengit akan di mulai

  5. Wuah, ottokeh?
    Kasihan kai oppa tpi baek oppa juga kasihan.
    Jdi, aku harus milih yang mana nih, bingung deh. #plak hahahaha terkena syndrome gila

  6. anyeon pilihlah salah satu. tentukan pilihan muu??
    kasian ke2 namja itu..serasa dimainin 😦
    next chap 🙂
    hwaiting 🙂

  7. aduh…. ribet ya jadi ahyeon.
    kasian baekhyun di chapter ini 😦
    koleksi apa tu maksudnya??? dasar pervert.

  8. Jieun kasian bgt sih , luhan knp sih?
    Hahahah cie ahyeon mulai suka yah sm kkamjong , udh baek sm soerin aja hehe

  9. Bacanya bikin ngeselin ..kasian baekhyun nya, pasti dia sedih banget

    eomma nya ahyeon ngeselin banget, mau menang sendiri

  10. Coba sehun tau klo luhan pergi ke cina dan gak akan balik lagi, pasti dia gak ada setenang itu

    ji eul nya kasian, luhannya juga
    emg isi surat nenek nya luhan apaan sih ?#kepo

  11. Luhan gak jelas ni, kenapa coba dia
    Isi suratnya apa sih emgnya??

    Ji eul sama tao ni entr jangan2

    Duhhhh ahyeon harusnya ngasi tw baekhyun, nyebelin jga ni lama2

  12. aku merasa luhan situ jahat banget kalo kayak gitu -_- *gebukin luhan*
    kalo ji eun di rebut tao baru tau rasa elu bang.

    cieee kai cemburu cieeee. gemes banget kalo kai lagi marah gitu.

  13. Pingback: rekomendasi ff exo berchapter | choihyunyoo·

  14. Jieul putus ne sma luhan??????
    Tao?????? Cma figuran app saksi kunci?????
    Akhhhh kok aq kesel sma sikap Ahyeon yh kesannya dy kya maenin perasan Kai. Yhhh wlpun Kai gk pernah nuntut Ahyeon buat bles perasannya tp setidaknya ksian lah sma ortuny kai…akhhh Ahyeonnn kmmmmm aq kecewa sma tingkah km

  15. Pingback: rekomendasi ff EXO berchapter part 1 | choihyunyoo111's Blog·

  16. Yang ditabrak ji eul pas di bandara siapa ya?
    iihh tao naksir sama ji eul???
    Hhmmm gimana terus kisahnya luhan sama ji eul thor???

  17. Tuh kan skrg malah jdi mikirnya kasian sma kai yg hrs pura” gtu dan jdi lbh suka klo kai sma hayeon/?, kyanya kai emg udh mulai jadi anak baik” dan dewasa.. apa mereka akhirnya jodoh?*sotaudeh
    lanjut yaa thor>>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s