[Freelance] TRY TO LOVE (Chapter 2)

Untitled-1

Author :

Kim Mirna

Main Cast :

Wu  Fan/Kris Wu (Exo M)

Song Nara (OC)

Other Cast :

Find it by yourself

Genre :

Romance, marriage life, sad (?)

Ratting :

PG 13

Lenght :

Multichapter

 

Annyeonghaseyo…. joneun Kim Mirna imnida. Aku masih pemula dalam bidang per-ff-an, jadi mian kalau ceritanya gaje, ngebosanin, terlalu banyak typo dsb. Aku masih butuh bimbingan, so mohon bimbingannya sunbae!! (sambil membungkuk 180o (??)).

Sekarang author hadir dengan try to love chapter 2, dan buat chingudeul yg udah coment ff try to love chapter 1 aku ucapin banyaaaak terima kasih, kamsahamnida!!! #bungkuk bareng Sehun#

Dan juga terima kasih untk admin(Anita Febriany) yg udah bikin posternya try to love yg kemarin, nan jeongmal johae…..

Kyknya udah dl cuap cuap-cupnya…… don’t copas ya….!!!!!

HAPPY READING N DON’T BE A SILENT READER!!!!!

 

Chapter 2

 

^^di taman^^

Disebuah bangku, dibawah pohon yang berada di taman belakang kampus disitulah aku terduduk sekarang, pandanganku lurus kedepan dengan tatapan kosong, airmataku tidak henti-hentinya mengalir sejak kejadian tadi, aku memegangi dadaku yang terasa sesak, aku sesenggukan menahan tangisku, mengapa begitu menyakitkan. Apa serendah itu mereka memandangku?? Apa mereka tidak bisa memahamiku??? Mengapa mereka memperlakukanku seperti itu?? Mereka bahkan belum mengenalku dengan baik??? Geunde wae??? “ tanyaku bercampur aduk dalam hati. Aku masih saja menangis hingga sahabatku, Ji Eun menghampiriku, mungkin ia sudah tahu semuanya.

“ Nara-ya…..!!!! “ panggilnya sambil menatap nanar padaku

Aku mendongakkan kepalaku, aku tidak menjawab pertanyaannya, aku hanya menatapnya dengan tatapan bertanya ‘mengapa ini semua harus terjadi?’ dengan mataku yang mulai sembab karena menangis. Ji Eun kemudian duduk disampingku dan memelukku erat.

“uljima Nara-ya….. aku akan selalu bersamamu, jangan hiraukan mereka, mereka seperti itu karena mereka belum mengenalmu, mereka belum tau bagaimana dirimu yang sebenarnya “ujar Ji Eun dengan nada lirih, aku hanya menangis dibalik pelukannya, aku tidak tahu apa yang harus ku katakan, mulutku terasa berat untuk berbicara, saat ini yang bisa kulakukan hanyalah menangis.

***

Wu Fan poV

Aku duduk didepan sebuah meja bundar yang cukup besar, tidak hanya diriku terlihat beberapa ajhussi dan ajhumma yang berapakaian sangat rapi, mereka sedang berbisik satu sama lain, sepertinya mereka sedang mendiskusikan sesuatu. Dan disampingku tampak seorang wanita dengan mengenakan pakaian yang sangat modis dan juga sangat berwibawa, dia hanya memandang lurus kedepan dengan tatapan yang tampak seperti sedang tegang. Sekarang aku berada dalam rapat dewan direksi untuk menentukan president direktur Wu Corporation.

“ baiklah, kami telah memutuskan “ ujar salah seorang ajhussi

“ Tuan Wu Fan yang akan bertanggung jawab atas perusahaan ini “ sambungnya disambut tepuk tangan yang lain, ajhumma yang sedari tadi diam disampingku akhirnya menyunggingkan senyum kearahku, aku melihatnya datar, aku sama sekali tidak begitu bahagia sekarang sampai harus bertepuk tangan ataupun tersenyum. Setiap dari mereka berdatangan padaku dan berjabat tangan sembari mengucapkan selamat. Aku tidak mengerti mengapa mereka begitu antusias terhadapku, saat ini aku benar-benar tidak tertarik menjadi seorang direktur menggantikan ayahku yang kini tengah terbaring lemah di salah satu Rumah Sakit Di Seoul dan karena keadaannya itu aku dituntut menjadi direktur untuk tetap menjalankan perusahaan keluarga yang sudah dibangun kakekku sejak dulu, dan karena usahanya yang gigih ia berhasil mengembangkan perusahaan ini hingga keluar negeri dan masuk kedalam 5 besar perusahaan terbesar di Korea Selatan.

Aku menghempaskan tubuhku di atas sofa dalam ruangan yang kini menjadi ruanganku. Aku mendesah berat, aku menaruh tangan kananku di atas dahiku dan memjamkan mataku, aku mencoba mencerna semua yang terjadi hari ini, aku merasa ini terlalu tiba-tiba bagiku.

“ kenapa kau begitu tidak bersemangat hari ini?? Bukankah harusnya kau senang sekarang karena cita-citamu untuk menjadi orang yang hebat seperti ayahmu telah tercapai? “ ujar wanita yang tiba-tiba masuk ke ruanganku dan berdiri tepat disampingku. Aku hanya melihatnya sesaat dan kemudian mengalihkan lagi pandanganku, aku masih dengan posisi yang yang sama.

“ hhaa…. aku mengerti, mungkin sekarang kau belum siap menghadapi semua ini, geunde kau satu-satunya yang bisa memegang jabatan itu, kita tidak bisa terus menerus menunggu appamu yang sampai sekarang belum ada perkembangan, apa kau ingin melihat perusahaan yang susah payah didirikan keluarga kita hancur begitu saja huh???“ ujarnya dengan nada kesal.

“ arasseoyo…. eomma tidak perlu menjelaskan semua itu, saat ini aku hanya merasa aneh tanpa kehadiran Appa disini “ ujarku datar, sekarang aku bangkit dan duduk menghadap eomma, aku hanya tertunduk lesu.

“ Mianhe, kau harus menanggung beban ini, tapi percayalah appamu pasti bangga padamu sekarang. Eomma juga tahu kau sangat sedih dengan keadaan Appamu tapi kita tidak bisa melakukan apa-apa “ ujar eommaku lebih lembut dan mengusap lembut kepalaku.

Entah sudah berapa lama aku berada dalam keadaan ini, keadaan yang membuatku tidak bergairah, aku tampak seperti mayat hidup, sekarang aku lebih banyak diam dan melamun dan kata teman-temanku sikapku jauh lebih dingin sekarang. Yaaah…. itu terjadi sejak kecelakaan yang menimpa ayahku yang membuatnya harus terbaring lemah di Rumah sakit, sudah 2 bulan sejak kecelakaan terjadi ayahku belum juga sadar, ia masih bertahan dengan keadaannya yang sedang koma. Aku sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa ayahku, aku sangat menyayangi ayahku daripada ibuku. Ayahku sangat memahamiku, walaupun ia sibuk menjalani perannya sebagai seorang Presdir tetapi ia selalu menyempatkan waktunya untuk berbincang denganku dan menanyakan keadaanku, hal itulah yang membuatku sangat dekat dengannya ketimbang ibuku yang cenderung lebih mementingkan urusan karirnya. Ayahku adalah seorang ayah yang hebat bagiku dan karena itulah aku bertekad ingin menjadi seperti ayahku, meskipun sekarang aku sudah menjadi seorang Presdir seperti ayahku, tapi aku rasa ini masih belum saatnya, aku ingin ayahku juga berada disini sekarang. Selain ayahku, ada seorang lagi yang sudah cukup lama menghiasi hari-hariku. Kim Yoona, nama gadis yang sampai saat ini aku masih mencintainya. Kami berpacaran sejak tahun terakhir kami di tahun pertamaku di bangku kuliah sampai 2 bulan yang lalu. Ia seorang gadis yang cantik dan juga baik hati tapi ia juga seorang gadis yang sangat ambisius, jika ia menginginkan sesuatu, ia akan berusaha untuk mendapatkannya. Ia seorang gadis yang berambisi menjadi seorang model, dan karena ambisinya itulah ia meninggalkanku 2 bulan yang lalu tepat saat kecelakaan appaku terjadi, ia bahkan tidak mendengarkanku dan justru memutuskan hubungan kita secara sepihak dan sampai sekarang aku belum mendapat kabar darinya karena aku juga tidak bermaksud ingin mencari tahu tentang dirinya lagi.

“ hhhAaa…. !!“ aku mendesah keras mencoba menghilangkan kesedihanku. Aku tidak boleh terlarut dalam keadaanku sekarang, pikirku.

***

Song Nara poV

Sudah 1 minggu sejak kejadian di ruangan waktu itu, aku belum juga ke kampus. Aku malas bertemu dengan orang-orang yang selalu melecehkanku, aku lebih memilih bekerja paruh waktu sebagai penjaga kasir sebuah minimarket yang tidak jauh dari rumahku.

Ting Ting….

Dentingan lonceng berbunyi yang tergantung diatas pintu dan itu pertanda ada seorang yang masuk, aku langsung tersenyum dan menyapanya.

“ annyeonghaseyo….. selamat datang ditoko kami “ ujarku ramah sambil membungkukkan sedikit tubuhku. Orang yang kusambut kemudian tersenyum dan berjalan ke arah rak-rak berisi makanan instan yang akan dibelinya.

“ semuanya 3500 won, ajhumma “ ucapku setelah menghitung belanjaannya.

“ gamsahamnida “ ucapku lagi setelah ajhumma itu memberikanku bayarannya dan berlalu keluar toko.

“ Nara’ssi…. kau boleh pulang sekarang, ini sudah larut malam “ ujar seorang ajhussi yang keluar dari suatu ruangan.

“ Ne ajhussi… gamsahamnida “ ucapku sambil membungkukkan tubuhku

“ Ne.. kau sudah bekerja keras hari ini “ Ujarnya lembut sembari menepuk-nepuk pundakku.

“ bawa ini, ini hadiah atas kerja kerasmu hari ini “ sambung ajhussi sambil menyodorkanku sebuah kantong plastik yang berisikan makanan instant “

“ aah… aniyo, anda tidak usah repot-repot seperti ini, membiarkanku bekerja disini saja sudah cukup bagiku “

“ gwencana…. terima saja, hari ini banyak pelanggan yang membeli, kau pantas mendapatkannya. “ ujarnya lagi sedikit memaksa.

“ Ne… gamsahamnida ajhussi…. ghamsahamnida “ ujarku sambil terus membungkuk

“ sudahlah, sebaiknya kau pulang sekarang, ini sudah  larut malam.

“ ne, kalau begitu aku permisi dulu “

“ Ne, hati-hati di jalan“

^^Skip^^

“ wah…. ajhussi itu baik sekali “ ujarku pada diri sendiri sambil terus melihat kantongan yang diberikan padaku, sekarang aku sedang berjalan ditrotoar jalan menuju rumahku, toko tempatku bekerja memang tidak terlalu jauh dari rumahku, aku bisa menempuhnya hanya dengan berjalan kaki. Aku mengusap-usap lenganku, mencoba memberi kehangatan. Udara malam ini memang sangat dingin walaupun aku sudah mengenakan jaket yang cukup tebal tetapi tetap saja dinginnya kota Seoul tetap saja menembus hingga ketulang-tulangku. Aku masih saja ingin melanjutkan langkahku tapi kuurungkan niatku, aku berhenti di sebuah pertigaan, aku melihat seseorang yang sangat tidak asing bagiku, ia sedang menendang ban mobilnya dengan kesal, Wu Fan.

“ bukankah itu Wu Fan sunbae?? Apa yang dilakukannya disitu??? “ tanyaku tanpa ditujukan pada siapapun. Aku sedikit penasaran, aku ingin menghampirinya mungkin saja ada yang bisa kubantu. Tapi ketika aku ingin melangkah, aku berpikir lagi, untuk apa aku menghampirinya?? Memangnya apa yang bisa kulakukan?? Lagipula aku masih malu bertemu dengannya sejak kejadian waktu itu meskipun aku tidak yakin kalau dia masih mengingatnya. Akhirnya kuputuskan untuk mengabaikannya, aku baru saja ingin melangkah tapi aku melihat 2 Van hitam yang berhenti tepat dibelakang Wu Fan dan menyeretnya masuk kemobil itu tentu saja itu membuatku panik setengah mati, apa mereka akan menculik Wu Fan Sunbae?? pikirku dan tanpa berpikir panjang lagi aku berlari menghampiri orang-orang itu.

“ chankaman….!! apa yang kalian lakukan??? “ teriakku pada orang-orang itu tapi mereka tidak menghiraukanku, mereka tetap saja masuk kedalam mobil dan berlalu meninggalkanku. Aku jadi semakin panik.

“ Tolong!!! Tolong!!! Tolong!! “ teriakku sekencang-kencangnnya tapi nihil tak seorangpun yang mendengarkanku, tempat ini memang sangat sunyi, tidak seorangpun yang lewat tapi aku tidak putus asa, aku berlari mengejar mobil itu dan tetap berteriak.

“ berhenti berhenti kalian !!! “ tariakku dan kemudian aku berhenti, aku memegangi kedua lututku, dadaku naik turun karena berusaha mengumpulkan udara dalam paru-paruku.

“ Aisshhh….. “ desisku kesal. Aku baru akan melanjutkan aksi gilaku mengejar mobil itu, tapi aku tidak perlu melakukannya, salah satu mobil tadi berjalan mundur kearahku. Aku hanya bisa terdiam kaku, tiba-tiba saja kedua kakiku terasa berat untuk dilangkahkan, keringat dinginku mulai bercucuran, aku menelan ludahku,  perasaanku jadi tidak enak.

2 orang pria berpakaian serba hitam dan bertubuh kekar keluar dari mobil itu dan berjalan ke arahku, dengan tenaga yang masih tersisa, aku melangkah mundur namun dengan sigap tangan kedua orang itu mencengkram kuat kedua lenganku.

“ kau juga harus ikut “ terdengar suara berat salah satu pria itu dan menyeretku ke mobil

“ shireo….!! lepaskankan aku…. lepaskankan aku…. “ ujarku memberontak, kesal dengan aksiku yang terus memberontak, akhirnya salah satu dari mereka menyumbat hidungku dengan sebuah kain yang berhasil membuatku kehilangan tenaga seketika pandanganku berubah jadi gelap dan kemudian tidak melihat apapun.

***

Author PoV

Sinar matahari memantulkan cahayanya tepat di wajah Nara melalui cela jendela di sebuah tempat yang sangat mewah, ia mengerang sebentar kemudian perlahan membuka matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba melihat lebih jelas tempatnya berada sekarang. Ia merasa aneh dengan tempatnya sekarang berada jelas berbeda dengan kamarnya dan ia merasa ada sebuah benda hangat di atas pinggangnya, ia kemudian berbalik dan betapa kagetnya ia ketika melihat seorang namja sedang tertidur pulas disampingnya dan benda di atas pinggangnya itu ternyata tangan namja itu. Sementara Nara masih mematung saking terkejutya, sang namjapun perlahan membuka matanya dan saat itulah kedua mata mereka saling bertemu, tidak ada reaksi, mereka masih terdiam saling mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi dan setelah mereka kembali ke kesadaran mereka, mereka berteriak kaget secara bersamaan sambil duduk.

“AaArrrgggggg!!!! “ teriak mereka bersamaan. Nara kemudian melihat tubuhnya yang tertutup selimut, saat itu ia baru menyadari kalau sekarang ia sedang tidak mengenakan pakaian sehelaipun begitu juga dengan namja disampingnya, mereka kembali berteriak.

“ AAaaaRggHHH “

“ Yaak, kenapa kau bisa ada disini bersamaku?? “ tanya namja itu setengah berteriak dengan mata yang melotot hampir saja keluar.

“ harusnya aku yang tanya, kenapa sunbae bisa disini?? “ tanya Nara bingung pada namja yang ternyata adalah Wu Fan.

“ Sunbae, apa kau melakukan sesuatu padaku? ” sambungnya

“ mwo??? Michosseo??  Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu, aku bahkan tidak mengenalmu “

“ geunde, kenapa kita bisa disini? Dan juga ini dimana?”

Wu Fan mengedarkan pandangan mencoba mencari sesuatu yang mungkin ia kenal.

“ sepertinya kita sedang di Hotel sekarang? “

“ mwo??? “ pekik Nara terkejut

Wu Fan kemudian mencoba mengingat kembali apa yang sebelumnya terjadi, kenapa ia bisa berada di Hotel bersama yeoja yang tidak ia kenali. Dan tiba-tiba sebuah gambaran samar-samar tentang kejadian semalam terlintas dipikirannya semalam ia diseret paksa oleh segerombolan orang yang tidak ia kenal kemudian ia mengingat kalau mulut dan hidungnya disekap dengan sebuah kain dan saat itu pula ia tidak mengingat semua yang terjadi.

“sepertinya kita dijebak “ ucap Wu Fan kemudian

“ Ne?? a apa maksudmu sunbae? “ tanya Nara sedikit gugup dan bercampur bingung.

“ sudahlah jangan banyak tanya, sebaiknya kita pergi dari tempat ini “ ujar Wu Fan kemudian bangkit dari tempat tidur dan kemudian mengenakan pakaiannya lagi yang sedang tergeletak dilantai, begitu juga dengan Nara.

ketika Wu Fan ingin keluar kamar, Nara dengan polosnya mengekor dibelakang Wu Fan dan tentu saja tindakannya itu membuat Wu Fan berbalik dan menatap dingin dirinya.

“ apa yang kau lakukan?? “ tanya Wu Fan dingin

“ Ne? aku juga ingin keluar “ timpal Nara dengan wajah innocentnya

“ pabo-ya?? Apa kau tahu sekarang kita sedang dijebak, dan jika kita keluar dari hotel ini secara bersamaan, maka orang-orang diluar sana benar-benar akan berpikir kalau kita telah melakukan sesuatu….. arasseo??? “

“ aah…. arasseo Sunbae “ ujar Nara sambil mengangguk, Wu Fan hanya menggeleng-geleng melihat tingkah gadis didepannya itu, apa dia begitu bodoh?? Pikirnya.

“ aku keluar dulu, nanti kalau sudah 20 menit kau baru keluar juga “ ujar Wu Fan masih dengan ekspresi dinginnya, ia kemudian memutar knop pintu dan melangkah keluar kamar. Sedangkan Nara hanya kembali duduk ditempat tidur dan menunggu waktu untuk dirinya keluar sesuai dengan yang diperintahkan Wu Fan.

^^Skip^^

Wu Fan melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas 100 km/jam, ia masih kesal terhadap orang yang sudah berani menjebaknya, ia bertaya-tanya siapa gerangan yang sudah berani melakukan tindakan yang rendah dan menjijikkan seperti itu pada dirinya dan juga kenapa gadis itu bisa bersamanya dan ia merasa kalau gadis itu pernah ia lihat sebelumnya tapi entah dimana…. semua pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban itu berkelebat dalam otaknya membuat Wu Fan semakin kesal dan menambah kecepatan mobilnya, ia menatap lurus dan tajam dengan kemarahan yang tergambar jelas diwajahnya.

^^Skip^^

Masih dengan ekspresi marahnya, Wu Fan masuk ke dalam rumah dan belum sempat ia masuk ke dalam kamar, ia dicegat oleh ibunya, ternyata ia sudah menunggu Wu Fan sejak tadi.

“ dari mana saja kau semalam? Kenapa baru pulang? Kau taukan masih banyak yang harus kau kerjakan, jangan membuang-buang waktumu hanya untuk berpesta dengan teman-temanmu “ celoteh ibunya panjang lebar, ia tidak memberikan jeda untuk Wu Fan menjawab karena memang tidak niat untuk menjawab, ia sedang tidak mood untuk menjawab pertanyaan ibunya apalagi memberitahu ibunya tentang kejadian semalam, ia merasa itu tidak ada gunanya. Tanpa menoleh pada ibunya, ia berjalan terus menuju kamarnya.

“ aku merindukanmu appa…” lirih Wu Fan yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya.

^^Skip^^

Nara masih berbaring lesu di kamarnya, ia tidak berniat untuk kekampus lagi hari ini, ia masih teringat dengan kejadian semalam, kenapa Wu Fan di culik? Kenapa ia bisa bersama Wu Fan di hotel? apa maksud Wu Fan mngatakan kalau mereka dijebak?? Dan yang lebih membuatnya sakit hati adalah ketika Wu Fan mengatakan kalau ia tidak mengenalnya. Pikiran-pikiran itu berkelebat dibenak Nara.

“ Aisshhh……. kenapa juga tadi malam aku berusaha menolongnya “ runtuk Nara pada dirinya. Ia semakin membenamkan kepalanya di balik selimut tebalnya.

***

 

Plaakk!!!

Tangan Ny. Wu mendarat sempurna di pipi kiri Wu Fan dengan wajahnya yang merah padam karena menahan amarahnya sedangkan Wu Fan hanya memegang pipinya kirinya dan menatap ibunya penuh keheranan dan tanda tanya, bagaimana ia tidak ia baru saja bangun tidur dan tiba-tiba ibunya melayangkan tangan dipipinya.

“ eomma, waeire??? “ tanya Wu Fan bingung

“ mwo?? Kau masih bertanya kenapa??? Kau sadar dengan apa yang kau lakukan Kris-ah??? Lihat ini” ujarnya Ny.Wu setengah berteriak sambil membanting surat kabar di atas meja. Masih dengan tatapan bingungnya, Wu Fan atau yang akrab dipanggil Kris mengambil surat kabar itu dan melihat berita yang menjadi halaman sampul. Tiba-tiba mata Wu Fan terbelalak, ia merasa panas dingin dan tangannya gemetar saat membaca berita yang berada di halaman paling depan.

WU FAN PEWARIS TUNGGAL WU CORPORATION ADALAH SEORANG PEMAIN WANITA

Kalimat itu begitu jelas tertera di halaman depan dengan bertuliskan huruf kapital bercetak tebal, siapapun bisa membacanya bahkan dari jarak jauh sekalipun dan dibagian bawahnya terpajang jelas gambarnya sedang memeluk gadis yang tidur disampingnya.

“ i-ige mwoya??? “ tanya Kris dengan suara bergetar

“ kenapa kau bertanya padaku Kris-ah harusnya kau yang menjelaskan semua ini, kenapa ini bisa terjadi dan siapa pula wanita yang tidur disampingmu itu? Inilah alasannya kenapa aku selalu melarangmu bergaul dengan sembarang orang “

“ nan jeongmal mollaseoyo eomma dan aku juga tidak mengenal wanita ini, yang aku tahu ada orang yang mencoba menculikku dan membuatku pingsan setelah itu aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, percayalah padaku eomma  “ ujar Kris mencoba menjelaskan yang sebenarnya pada eommanya dengan tatapan berharap agar eommanya benar-benar percaya apa yang ia katakan.

Ny. Wu jelas percaya pada Kris, meskipun ia tidak begitu dekat dengan anaknya tapi ia masih tetap sebagai seorang ibu, ia tahu benar sifat Kris, ia tidak mungkin melakukan hal menjijikkan itu, ia tahu pasti selera Kris terhadap wanita benar-benar tidak biasa, sudah banyak gadis kaya dan cantik yang ia kenalkan pada anaknya itu tak satupun yang menarik bagi Kris tapi ia juga tidak bisa membiarkan ini semua, semua petinggi-petinggi perusahaan dan juga para wartawan menuntut penjelasan Kris, mereka tidak mau image perusahaan hancur hanya karena tindakan Presiden Direkturnya yang tidak senonoh(??).

“ Eomma bisa saja percaya padamu Kris-ah karena aku adalah eommamu, tapi bagaimana dengan yang lain?? Mereka tidak mungkin dengan mudah percaya padamu???  Dan kau tahu berita ini mempengaruhi keadaan peusahaan. Kau tidak maukan appamu kecewa karena kau tidak mampu meminpin perusahaan dengan baik “ ujarnya Ny. Wu mulai melembut.

Mendengar ucapan ibunya, Kris semakin bingung apalagi saat ibunya mengungkit masalah ayahnya, ia jadi semakin bingung dan kacau. Ia benar-benar tidak menyangka hidupnya akan hancur dalam sehari.

Melihat Kris yang hanya mematung tanpa ada reaksi, Ny. Wu angkat biacara lagi.

“ bawa gadis itu kesini, eomma ingin menemuinya “ujar Ny. Wu kemudian berlalu dari hadapan Kris. Yang bisa Kris lakukan hanyalah membelalakan matanya karena terkejut, entah sudah berapa kali ia membelalakkan matanya pagi ini.

^^Skip^^

Na Ra berjalan di koridor kampus, ia akhirnya memutuskan untuk kekampus hari ini, ia tidak ingin usahanya untuk kuliah sia-sia hanya karena berusaha menghindari hinaan teman-teman kampusnya. Aku harus kuat… hwaiting!!!! Batin Nara bersemangat.

Sepanjang langkah Na Ra menuju ruang kuliah, orang tidak henti-hentinya memandangnya, mencibir dan bahkan berbisik. Na Ra memang merasa kalau itu sudah biasa tapi pagi ini lebih aneh, semua orang memperhatikannya dan bisikan mereka lebih riuh dari biasanya apa karena ia tidak hadir selama 2 hari?? Pikirnya.

Sepertia biasa Na Ra akan mengambil kursi paling belakang untuk duduk tapi belum sempat ia duduk, ia sudah dicegat oleh gadis paling ia hindari karena selalu mencibir dan menghinanya setiap hari, ia sampai bingung kenapa gadis ini hobi sekali mengganggunya padahal ia tidak pernah melakukan kesalahan apapun terhadapnya.

Plakkk! Satu tamparan dipipi Na Ra, ia bahkan belum berbicara. Na Ra masih memegang pipi kirinya, lalu memandang bingung pada gadis didepannya itu yang tampak sangat marah.

“ kenapa kau menamparku? “

Plakk !! gadis itu melayangkan tamparannya yang kedua tanpa menjawab pertanyaan Na Ra.

“ yaa! Apa yang kau lakukan” tanya Na Ra sedikit keras

Plakkk !! tamparan ketigapun melayang

“ neo…. “ Na Ra ingin berbicara lagi tapi gadis itu langsung memotongnya.

“ wae?? Apa kau marah huh?? yak… Song Na Ra, gadis sepertimu memang pantas untuk ditampar, aah ani, bahkan kau lebih pantas untuk mati. Harusnya Kris oppa yang melakukan ini, tapi aku benar-benar tidak tahan melihat sampah sepertimu melakukan ini terhadap orang yang paling kusayangi “ cerca gadis itu panjang lembar dengan nafas yang memburu karena berusaha menahan amarahnya.

“ apa maksudmu ?? “ tanya Na Ra yang juga berusaha menahan amarah dan air matanya karena dipermalukan.

“ mwo??? Berhenti sok polos aku jijik melihatnya, lihat ini” ujar gadis itu sambil menyodorkan Na Ra sebuah surat kabar dengan kasar.

Meskipun masih dalam keadaan bingung, Na Ra mengambil surat kabar itu dan seketika matanya terbelalak ketika melihat gambarnya yang sedang tidur bersama Wu Fan.

“ hhee…. apa kau terkejut atau pura-pura terkejut???  Memang benar kata pepatah kalau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, kalau eommanya seorang pelacur, anaknya juga seorang pelacur “ ujar gadis itu dengan memberi penekanan pada kata ‘pelacur’.

Nara tidak bisa lagi menahan amarahnya, ia tidak bisa lagi membiarkan gadis didepannya itu mengeluarkan kata-kata yang menyakitinya, ia tidak suka eommanya disebut-sebut.

“ yak geumanhae!! “ teriak Na Ra sambil mengangkat tangannya bersiap untuk menampar gadis didepannya itu. Tapi tiba-tiba tangannya berhenti, bukan karena ia sengaja menghentikannya tapi sebuah tangan yang kekar dengan kuat menahan tangannya. Na Ra menoleh untuk melihat orang itu.

“ W-Wu Fan sunbae “ bisiknya

“ wae??? Kenapa kau begitu marah nona Song Na Ra? Bukankah itu semua adalah kenyataan? Aku curiga kau berkomplot dengan orang yang menculikku untuk memerasku, benar kan?? “ ujar Kris dingin dan menusuk hati, tatapan yang tajam dengan smirknya.

“ mwo? Mungkin aku memang miskin tapi aku tidak bodoh untuk melakukan hal serendah itu “ ujar Na Ra sedikit berat karena menahan amarah dan airmatanya, ia tidak ingin menangis didepan orang-orang yang melecehkannya karena hal itu hanya memberikan kesan lemah pada dirinya. Ia kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Kris dan berlari keluar ruangan. Sementara di ruang kuliah tiba-tiba hening, orang-orang masih tegang dengan kejadian tadi tak satupun dari mereka yang angkat bicara, Kris masih berdiri di tempatnya begitu pula gadis didepannya itu.

“ o-oppa na… “ ujar gadis itu memecah keheningan namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Kris sudah memotongnya.

“ jangan ikut campur Yoo rin-ah, ini masalahku “ ujar Kris dingin berjalan keluar sedangkan gadis yang dipanggil Yoo rin itupun terdiam dan mengepalkan tangannya dengan ekspresi yang penuh kebencian.

“ aku tidak akan memaafkanmu Song Na Ra “ desisnya

^^Skip^^

Seperti biasa, jika semua orang melecehkannya, ia pasti akan berlari ke taman belakang kampus untuk menumpahkan semua airmatanya.

Airmatanya mengalir deras dipinya, airmata yang dari tadi ia tahan, dadanya kembali sesak dan sakit, entah kenapa ia lebih sering merasakannya akhir-akhir ini. Ia menangis sejadi-jadinya, ia benar-benar tidak tahan dengan semua ini, ia butuh tempat untuk bersandar dan mencurahkan semua isi hatinya tapi tidak tahu pada siapa karena sahabanya satu-satunya tidak kekampus hari ini.

“ eomma…. nan ottkheo???? “ lirihnya dalam tangisnya yang terisak.

“ berhentilah mengeluarkan airmata buayamu karena itu hanya akan merusak matamu “ ujar seseorang dari belakang dengan nada yang sangat dingin dan menohok hati. Na Ra berbalik dan ketika melihat Wu Fan yang berdiri dibelakangnya, ia buru-buru berdiri dan menghapus airmatanya.

“ kenapa kau disini “ ujar Na Ra yang tidak kalah dinginnya, ia bahkan berbicara nonformal tanpa memanggil sunbae seperti yang biasa ia lakukan.

“ kau harus ikut denganku “

“ mwo? Hhe… setelah kau menghinaku habis-habisan sekarang kau menyuruhku ikut denganmu??? Apa kau pikir aku begitu bodoh hingga harus ikut denganmu??? “

“ aku juga berharap kau tidak ikut denganku, aku berharap tidak melihatmu lagi tapi keadaan yang memaksaku hingga aku harus membawamu “ ujar Kris sambil menarik tangan Na Ra tanpa menghiraukan Na Ra yang berteriak kesal dan memberontak berusaha melepaskan tangannya.

“ apa yang kau lakukan??? “  tanyanya setengah berteriak, ia kini sudah berada dalam mobil Kris.

Kris hanya menoleh sebentar pada Na Ra dengan tatapan datarnya kemudian melajukan mobilnya.

^^ Skip ^^

“ yaak… apa yang kau lakukan??? Lepaskan tanganku?? “ Na Ra memberontak ketika Kris menyeretnya kedalam rumah yang sangat asing baginya. Apa dia akan membunuhku??? Pikirnya.

Setelah cukup jauh masuk ke dalam rumah akhirnya Kris melepaskan tangannya. Dan menatap tajam ke mata Nara. Sedangan yang ditatap hanya bisa terdiam, ia terlalu takut dengan tatapan mata Kris, tatapan yang bisa mematikan orang yang ditatapnya.

“ ehemm “ terdengar dehaman dari arah belakang mereka, sontak Na Ra berbalik, ia mendapati seorang wanita yang kira-kira berumur sama dengan eommanya tapi masih sangat cantik dan juga berwibawa, tatapannya dingin sama dengan  tatapan Kris, ia kemudian menoleh ke arah Kris, ya… mereka memang sangat mirip?? Apa dia eomma Wu Fan sunbae? Pikirnya.

“ apa kau yang bernama Song Na Ra?? “ tanya Ny. Wu setelah berdiri tepat dihadapan Na Ra.

Nara yang kaget karena ternyata wanita itu mengetahui namanya hanya bisa membukukkan tubuhnya.

“ Ne “

Untuk sesaat jantung Nara berdetak sangat cepat dan darahnya tiba-tiba membeku ketika ia melihat tatapan Ny. Wu yang sangat dingin, Ny.Wu memperhatikan Nara dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan selidik.

“ duduklah “ ucapnya kemudian setelah selesai memperhatikan Na Ra. Iapun melangkah ke sofa dihadapannya dan duduk sedangkan Na Ra masih berdiri mematung karena bingung dengan apa yang terjadi. Sedangkan Kris hanya memasang ekspresi datarnya, ia juga belum duduk.

“ sampai kapan kau akan berdiri? Duduklah ? “ kata Ny.Wu yang terkesan memerintah. Dengan ragu, Na Ra pun duduk di sofa yang berada didekatnya, berhadapan dengan Ny.Wu, Kris baru akan melangkah meninggalkan Na Ra dan Eommanya namun langkahnya terhenti karena Ny.Wu memerintahkannya juga untuk duduk.

“ kau mau kemana?? Kau harus tetap disini “

“ kenapa aku juga harus disini?? Bukankah eomma ingin bertemu dengannya “ ujar Kris ketus sambil melirik Na Ra.

“ karena ini ada hubungannya denganmu “

Kris memandangi eommanya dengan tatapan bingung tapi ia kemudian duduk disamping Na Ra.

Hening, itulah yang terjadi diruangan itu. Tak satupun yang angkat bicara, Na Ra hanya bisa menundukkan kepalanya.

“ aku sudah menyelidiki keluargamu Nona Song, aku sudah tahu semua tentang kehidupanmu “ ujar Ny. Wu memecah keheningan, sontak membuat Nara mengangkat kepalanya dan Kris yang duduk disampingnyapun ikut terkejut.

“ k-kenapa anda melakukannya?? “ tanya Na Ra sedikit gugup.

“ aku hanya ingin tahu latarbelakangmu karena kau sudah membuat masalah besar pada keluargaku “

“ aku… “ Na Ra baru ingin berbicara tapi Ny.Wu memotongnya lagi.

“ aku tidak tahu mengapa kau bisa difoto sedang tidur bersama Kris, mungkin kau sedang ada masalah besar dengan perekonomian keluargamu hingga kau berkomplot menjebak Kris “

Ucapan Ny.Wu bagaikan anak panah yang menusuk jantung Na Ra, perkataan Ny.Wu sama tajamnya dengan Wu Fan atau Kris, airmatanya sudah mau keluar lagi tapi dengan sekuat tenaga ia menahannya. Menjebak??? Siapa yang menjebak siapa???

“ maaf Nyonya, memang benar aku orang miskin tapi aku tidak pernah berpikir untuk melakukan hal serendah itu. Aku tidak pernah berpikir untuk menjebak anak anda. Kalau Nyonya memanggilku kesini hanya untuk menghinaku sebaiknya aku pergi, aku minta maaf kalau aku sudah memberi masalah pada keluarga anda. “ ujar Na Ra dengan suara yang berat. Ia kemudian berdiri dan membungkukkan sedkit tubuhnya ke arah Ny. Wu dan hendak melangkah keluar namun ia tiba-tiba berhenti setelah mendengar ucapan Ny. Wu.

“ kau harus menikah dengan Kris “

To be continued

kYAaaaaa…….. akhirnya chapter 2 nya kelar jg…….

ottheo chingudeul??? Critanya udah panjangkan?? Feelnya blm dpt??? Gaje?? Ngebosanin??? Ya ya ya…. seperti itulah……. tp jgn bosan-bosan ya berikan kritik dan sarannya…….

oh ya yg mau coment lewat twitter jg bs…

@mirnakawamura

22 responses to “[Freelance] TRY TO LOVE (Chapter 2)

  1. Semangat ya thor bikin ff nya, ini keren banget sumpah suka bgt aq bacanya ,,kasian nara ga tau apa2 malah di kira jebak hmm… Kris oppa pedes bgt ngomongnya sm persis kaya mm nya ,lanjut thor 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s