You Should Be Mine [Chapter 23]

fanfiction 25

Title : You Should Be Mine [Chapter 23]

Author: J.A.Y

Genre: Romance, school life

Main Cast:

  1. EXO-K Kai
  2. EXO-K Baekhyun
  3. Jung Ahyeon (OC)

Support Cast:

  1. EXO-M Kris
  2. Han Ji Eul
  3. EXO-K Chanyeol
  4. EXO-M Tao
  5. EXO-K Suho/Kim Joon Myeon
  6. EXO-M Chen/Kim Jong Dae

Rating: PG-13

Length: 6,247 word

Disclaimer : FF ini milik saya! Dilarang keras mengcopy paste/plagiat FF ini. Ini FF pertama yang author buat. Jadi mungkin jika ada kekurangan tolong tinggalkan komentar agar author bisa mengkoreksi letak kesalahan nya dimana aja. FF ini juga sudah pernah diterbitkan di www.saykoreanfanfiction.wordpress.com www.readfanfiction.wordpress.com www.kpopsotoybanget.wordpress.com www.highschoolfanfiction.wordpress.com  dan di page Facebook https://www.facebook.com/EXOFanFiction?ref=ts&fref=ts Terimakasih~ 😀

Chapter sebelumnya [Chapter 22]

Happy Reading ^^

***********

You clearly are there, you still remain there just the same
I remember the pictures that I forgot all this time, small tremblings gush out of my body
It’s a bit sad that I can’t go back to those times

How much did you change while the clock’s springs were turning
I turned the last page that is written about you
But I have no courage to read it, I will erase the sad words
Our story is not be over
Because we will meet again

[Preview]

Dari ujung lorong, dua orang itu memandangnya. Khusnya untuk laki-laki itu. Ia sangat memperhatikan gerak-gerik mantan kekasihnya yang tak wajar dimatanya. Secara tak sengaja ia melihatnya. Tidak dipungkiri jika hatinya sakit melihat mereka seperti itu. Jika Kai yang melakukannya mungkin itu tidak papa, tapi jika Ahyeon,,,,?

“lihat, kurasa Ahyeon mulai menyukai Kai” ucap Chanyeol.

Baekhyun menatap Ahyeon lamat dari jauh. Benarkah?

“tapi kurasa ada yang berubah dari Kai” lanjut Chanyeol.

Baekhyun membuang nafasnya kasar. Ia tidak percaya kenapa Ahyeon sampai seperti itu kepada Kai.

“kau sudah bicara padanya?” tanya Chanyeol.

“sudah”

“apa jawabannya?”

“tidak ada. Tapi kurasa aku mendapat jawabannya sekarang”

Chanyeol menoleh kearah Baekhyun tidak mengerti.

“kurasa kau benar. Ahyeon sudah mulai menyukai Kai. Hanya saja ia tidak menyadarinya”

[Preview End]

-You Should Be Mine-

“kau sakit lagi?” tanya Ji Eul yang melihat wajah Ahyeon di cermin.

Ahyeon menyalakan keran air dan mencuci tanganya di wastafel itu. Berharap dinginnya air yang mengalir dapat merambat kekepalanya yang sempat panas beberapa jam yang lalu.

“tidak”

“kau diam selama dikelas”

“benarkah?” ucap Ahyeon tersenyum kecil. Ia mematikan keran air dan mengambil beberapa lembar tissue untuk mengeringkan tangannya, “memangnya aku harus bicara apa?”

“bukannya begitu? Hanya saja, biasanya kau selalu bicara tentang Baekhyun sunbae”

Ahyeon tersenyum kecut sambil membuang tissue nya kedalam keranjang sampah, “kami tidak ada hubungan apa-apa lagi?”

“apa??”

“bagaimana dengan mu? Aku tidak pernah melihat Luhan sunbae menghampiri mu lagi ketika istirahat?”

Ji Eul menghela nafas kecilnya, “kami berpisah hari itu. Lalu malam nya ia kembali ke China”

Ahyeon terkejut mendengar kabar itu.

Apa hanya ia yang tidak tau?

Ia ingin bertanya lebih lanjut bagaimana temannya itu bisa berpisah dengan sunbaenya. Selama ini ia terlalu tenggelam dalam permasalahannya sendiri. Sampai-sampai Ahyeon tidak tau jika Ji Eul juga memiliki masalah lain. Tapi,,, bukankah bertanya seperti itu akan membuat Ji Eul bersedih? Mungkin karena pertanyaan yang akan di lontarkannya nanti, Ji Eul harus kembali mengingat hari itu.

Ahyeon menepis keinginannya untuk sementara. Lebih baik ia bertanya hal lain selain itu.

“kapan kembali?”

“aku tidak tau. Ia bilang tidak bisa kembali ke sini”

“tidak bisa berarti masih kemungkinan bisa datang kan? Berbeda jika ia bilang dengan kata ‘tidak akan’”

Ji Eul mencoba mencerna kalimat Ahyeon. Mungkinkah?

“aku tidak akan kembali”

“apa?”

“bukan tidak akan tapi tidak bisa”

“apa maksudmu?”

“kau harus percaya padaku. Aku benar-benar tidak ingin kita berpisah”

Ji Eul tidak percaya ini. Kenapa ia begitu bodoh malam itu. Sekalipun tidak bisa masih ada kemungkinannya untuk menjadi bisa, itu tergantung dari Luhan sendiri. Gadis itu mulai tersenyum dan memeluk temannya itu.

“terima kasih Ahyeon. Kau menyadarkan ku”

“memangnya aku menyadarkan mu apa?”

Ji Eul melepaskan pelukannya. Senyum manis nan melegakan itu menghiasi wajah manis Ji Eul. Ia mencubit gemas pipi Ahyeon dengan kedua tangannya.

“aww! Sakit. Kenapa kau mencubit pipi ku?” rintih Ahyeon sambil mengelus pipinya.

“aku terlalu bahagia umm? Jika bukan karena kau, mungkin aku tidak akan sesenang ini sekarang”

“ada apa sebenarnya? Sshhh,, pipi ku masih sakit”

“uhh, mianhae. Apa perlu ku panggilkan Baekhyun sun—“, Ji Eul langsung merapatkan mulutnya. Ia lupa jika Ahyeon tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Baekhyun, “maaf Ahyeon. Aku tidak sengaja”

Ahyeon tersenyum sebagai tanda jika ia tidak papa, “tidak papa. Lagipula aku tidak terlalu mempermasalahkan itu”

Ji Eul masih merasa bersalah dengan temannya itu.

“yaa, bagaimana jika kita ke kantin?” ajak Ahyeon.

Gadis itu merangkul bahu Ji Eul dan mengajaknya keluar kamar mandi. Ji Eul sedikit menarik senyumnya, ia benar-benar kelepasan mengucapkan nama namja itu tadi.

-You Should Be Mine-

Mereka berkumpul di tengah lapangan basket sekarang. Sebenarnya bukan mereka, tapi lebih tepatnya Kai dan Baekhyun. Yang lainnya seperti Kris, Sehun dan Chanyeol berdiri di pinggir lapangan. Suasana tegang ini kembali mereka rasakan untuk kedua kalinya. Mereka masih mengingat jelas bagaimana pertandingan ini berahkir dengan cidera di kaki Baekhyun beberapa bulan yang lalu.

Baekhyun melempar bola basket kearah Kai dan menghampirinya.

“jika kau menang, kau boleh mendapatkannya”

Kai menatap dengan datar bola basket itu dan beralih menatap wajah Baekhyun. Ia melempar bola basket itu lagi kepada Baekhyun.

“apa kita akan melanjutkan pertandingan yang tertunda dulu?”

Baekhyun menaikkan bahunya tidak peduli, “mungkin”, Baekhyun membuka kancing kedua kemeja putihnya agar tidak membuatnya sesak ketika bermain nanti, “jika kau menang kau boleh mendapatkannya”

Chanyeol membelalakan matanya lebar, “dia gila!”

“pasti Kai yang menang. Kemampuannya tidak bisa diragukan” ucap Kris.

Chanyeol dan Sehun melihat kearah Kris bersamaan.

“kalian tidak tau? Mereka dijodohkan” sambung Kris

Sehun terbelalak sambil menganga, “kau bercanda hyung?”

“itu benar Sehun-a” ucap Chanyeol.

Kris menoleh kearah Chanyeol terkejut, “kau tau?”

“Baekhyun yang memberitau ku” jawab Chanyeol.

“hey, apa aku sudah banyak tertinggal berita??” tanya Sehun.

“banyak. Banyak sekali” ucap Chanyeol.

Kai menatap Baekhyun dengan datar, “bagaimana jika aku kalah?”

“pergilah darinya” jawab Baekhyun.

Kai membuka blazernya dan menaruhnya di kursi penonton. Ia menggulung kemeja panjang seragamnya sampai se siku.

“baiklah” ucap Kai tersenyum getir.

-You Should Be Mine-

Mata Tao berbinar saat melihat dua orang yeoja yang dekat dengannya ahkir-ahkir ini. Oh, mungkin lebih tepatnya hanya satu. Yang satunya lagi hanya dipertemukan secara tidak sengaja karena insiden jus melon. Ia menghampiri dan menepuk pundak salah satunya.

“tidak ku sangka bertemu kalian disini”, Tao langsung mendudukan dirinya didaerah yang kosong sebelah Ji Eul. Ahyeon menaikkan alisnya tipis.

“ohh, kau mengenalnya sunbae?” tanya Ji Eul. Ia baru tau jika Tao juga mengenal Ahyeon.

“tentu. Dia adalah hoobae yang menendang kaleng minuman kearahku dan membuat blazer ku kotor” ucap Tao polos.

Ahyeon menatap Tao tajam, “dan kau sunbae yang menumpahkan jus melon ke rok ku tanpa meminta maaf”

Tao terkekeh kecil. Ia melipat tangannya diatas meja dan menumpukan berat tangannya disana.

“berarti kita seimbang” ucap Tao.

“seimbang? Aku belum mendengar permintaan maaf dari mu”

“aku melakukannya tidak sengaja”

“aku juga tidak sengaja”

Ji Eul menatap Tao dan Ahyeon bergantian. Saling beradu mulut karena kata maaf. Tao berbicara dengan begitu santai seolah-olah itu bukan masalah yang besar. Tapi Ahyeon berbicara dengan menggebu-gebu seolah-olah Tao memiliki hutang yang harus dilunasi lebih dulu.

“lalu kenapa kau tidak membiarkan aku membersihkan rok mu saja waktu itu?”

Mata Ahyeon membulat. Apa ia harus melepas roknya dan membiarkan Tao yang membawa pulang? Gila. Oh, apa Tao sudah tertular pikiran kotor dari Kai?

“kau gila”

Sementara lagi-lagi Tao terkekeh pelan. Ji Eul menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin dengan mereka.

Ahyeon meneguk minumannya yang hampir habis. Tidak berjeda sama sekali. Tiba-tiba saja ia menoleh ketika sekelompok anak perempuan berlari disampingnya dan menghampiri temannya yang lain.

“kalian tau? Baekhyun dan Kai bertanding basket satu lawan satu dilapangan”

Sontak Ahyeon membulatkan matanya terkejut. Ia segera berdiri dan meninggalkan Ji Eul menuju lapangan basket.

“yaa! Mau kemana?” teriak Ji Eul.

“cinta segitiga” ucap Tao acuh.

Ji Eul mendelik kearah Tao yang sedang melihat Ahyeon pergi, “apa maksud mu?”

“tidak papa. Hanya mendengar gosip panas ahkir-ahkir ini”

“kau penggosip?” tanya Ji Eul selidik.

“yaa! Tentu tidak. Kau fikir aku seperti yeoja-yeoja centil yang selalu duduk di sudut kelas hanya untuk membicarakan hal itu”

“tapi kau mengikuti beritanya kan?”

“aku hanya mendengarnya. Mereka berbicara dengan keras, bagaimana aku tidak mau dengar?”

Ji Eul masih melihat Tao dengan penuh selidik.

“apa?” tanya Tao.

Ji Eul menggeleng pelan. Ia tidak menyangka jika Tao hampir sama seperti yeoja penggosip. Bukankah namja sepertinya seharusnya tidak peduli?

-You Should Be Mine-

Ahyeon berlari kelapangan basket di halaman sekolah. Tapi tidak ada Baekhyun dan Kai disana. Lapangan hanya di penuhi dengan murid laki-laki tingkat satu disana. Ahyeon berlari lagi menuju lapangan basket indoor yang terletak di tengah gedung sekolah.

Ahyeon tidak habis pikir bagaimana mereka melakukannya lagi? Ini cukup membuatnya menjadi gila. Ahyeon bahkan berlari seperti orang yang dikejar oleh banteng liar dibelakangnya. Tidak ada cukup waktu untuk mengatur nafasnya.

Langkahnya terhenti. Banyak anak lain yang bergerumun di depan pintu masuk. Ahyeon mengernyit melihat situasi yang begitu ramai. Apa sesuatu buruk terjadi?

Tiba-tiba pintu itu terbuka dan semua murid diam. Mereka memberi jalan seolah-olah yang lewat adalah orang paling penting di dunia.

Kai menyampirkan blazernya di bahu kiri dan menatap datar murid-murid yang membicarakannya. Murid lain sedikit menunduk ketika Kai mulai melempar tatapan tajam dan sinis kearah mereka.

Tidak lama kemudian Baekhyun dan lainnya keluar dari ruangan. Ekspresi Baekhyun sangat kontras dengan Kai. Ia sesekali mendorong lengan Chanyeol pelan dan membuat pria itu meringis. Di belakangnya masih ada Sehun yang masih memasang wajah datar nya seolah tidak peduli. Dan Kris, Kris menatap tajam punggung Kai yang lebih jauh didepannya.

Kenapa mereka semua seperti itu?

Saat Kai melewati Ahyeon, gadis itu segera menahan tangannya.

“apa yang terjadi?”

Kai menunduk dan menatap wajah Ahyeon dan tangan gadis itu bergantian. Tatapan yang sangat tajam. Ahyeon belum pernah mendapat tatapan seperti itu selama ia mengenal pria itu. Kai yang selama ini selalu memandangnya dengan mata teduhnya kini berubah menjadi dingin di pagi tadi.

Itu benar. Kai tidak pernah memberikan tatapan setajam ini kepada Ahyeon. Tapi yang sekarang bukanlah tatapannya yang sebenarnya. Ini adalah salah satu caranya agar bisa menjauhi Ahyeon dari pikirannya. Tidak ada yang salah dengan yeoja itu sampai Kai harus melihatnya seperti itu. Tapi Kai seolah melihatnya bahwa yeoja itu mempunya seribu kesalahan dimatanya.

Seakan mengerti, perlahan pegangan tangan Ahyeon mulai mengendur sampai ahkirnya terlepas begitu saja. Selanjutnya Kai  berjalan mengacuhkannya seperti tadi pagi. Tidak ada satu patah kata pun yang Kai keluarkan untuk menjawab pertanyaan Ahyeon.

Gadis itu memandang sendu punggung besar Kai yang semakin menjauh. Disusul dengan Kris yang berlari dibelakangnya.

Gadis itu merasakan perasaan tidak enak di hati nya. Tidak nyaman dan kehilangan—mungkin. Dadanya terasa begitu sesak dan sempit.

“morning”

Ahyeon terkejut tiba-tiba ada yang mencium pipinya. Ia reflek menyentuh pipinya dan menoleh ke sebelahnya.

“yaa!”

Sementara Baekhyun hanya memamerkan senyum tanpa dosa didepannya, “kau terkejut?”

“apa yang oppa lakukan? Kau membuat ku malu”, gadis itu menunduk saat tatapan mata lain juga memandangnya terkejut. Bukan hanya gadis itu yang terkejut, tapi juga murid lain yang masih berdiri di depan pintu masuk. Semuanya terkejut.

Baekhyun hanya terkekeh kecil. Apa salah? Dimata orang-orang mereka masih menyandang hubungan khusus kan? Kecuali beberapa orang yang tau kenyataannya.

“bagaimana jika kita ke atap waktu itu?”

“tapi—“

Belum selesai menjawab, Baekhyun sudah menarik tangan gadis tu pergi.

-You Should Be Mine-

Kris berlari dan menarik tangan Kai sampai punggung pria itu membentur tembok, “ada apa dengan mu Kai!” teriak Kris.

Kai mendorong tubuh Kris kebelakang dan tidak berniat menjawab pertanyaan Kris sama sekali. Ia kemudian berjalan pergi meninggalkan Kris yang sebenarnya sudah menahan amarahnya sejak pertandingan basket tadi.

“KAI!” teriak Kris.

Kai menghentikan langkahnya. Dengan dingin ia berbalik dan menatap datar Kris, “bisakah kau tidak berteriak seperti itu”

“aku tau kau sengaja melakukannya. Kenapa kau membiarkan Baekhyun yang menang?”

“memangnya kenapa? Apa ada yang salah?”

“kau dan otak mu yang salah”

“aku ingin melupakannya hyung” ucap Kai lemah.

Ekspresi Kris berubah, “kau tidak akan bisa melakukannya”

“bisa kau mendukung ku sedikit?”

“tidak. Aku tidak akan mendukung mu jika ini yang kau pilih”

“cih, bukankah tidak papa jika merelakannya untuk orang lain asal dia bahagia”

“apa maksud mu?”

“aku bisa melepasnya untuk Baekhyun hyung”

“kau gila?”

“lalu apa bedanya dengan mu?”, Kai berjalan dengan senyum rendah nya mendekati Kris, “kau juga seperti itu kan dulu”

“bukankah kau dulu juga memberikan Seorin untuk Baekhyun hyung?” lanjut Kai.

Kris menahan nafasnya sejenak mendengar kalimat Kai yang begitu menusuk hatinya. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kris lebih memilih diam. Ia akui Kai memang benar.

Apa itu artinya otaknya sama gilanya dengan Kai?

Kai tersenyum miris, “kurasa kau yang harus mengajari ku bagaimana caranya melupakan seseorang”, Kai menepuk-nepuk pelan bahu Kris. Setelahnya ia kembali dingin dan pergi dari hadapan namja itu.

-You Should Be Mine-

Masih dengan pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Ahyeon begitu berat memikirkan namja itu. Baekhyun terus bicara disamping nya. Tapi tidak ia hiraukan. Apa ada yang salah dengan dirinya?

Terahkir bertemu mereka masih baik-baik saja. Tapi namja itu duluan yang merubah sifatnya sehingga membuat Ahyeon bingung sendiri. Selalu dan selalu. Ia terus mengingat kejadian tempo lalu. Ahyeon terus mengkoreksi dirinya sendiri.

Benar.

Ahyeon merasa tidak nyaman jika seperti ini. Mungkin ini gila? Hal yang tidak pernah terfikirkan sebelum-sebelumnya. Tapi—Ahyeon mulai merindukan namja itu. Kai.

Bagaimana cara Kai menggodanya? Bagaimana namja itu selalu menjahilinya? Bagaimana cara namja itu yang selalu menagtur dirinya sesuka hati?

“jadi bagaimana menurut mu?” tanya Baekhyun.

Baekhyun menghela nafas kecilnya. Ahyeon melamunkan sesuatu. Terlihat dari matanya yang begitu kosong. Baekhyun memegang pundak gadis itu untuk menyadarkannya.

Ahyeon tersentak kaget. Ia sedikit bingung memandang Baekhyun. Mungkin namja itu sudah menyadarinya. Ahyeon tidak sama sekali mendengarkan ucapan-ucapan Baekhyun sejak mereka datang ditempat ini 10 menit yang lalu.

“apa?”

“kau tidak mendengar ku?”

“aku kurang fokus. Bisa kau ulang?” tanya Ahyeon hati-hati.

Baekhyun tersenyum walaupun sebenarnya bukan itu yang ingin ia tunjukan.

“aku akan mengadakan liburan di Jeju saat liburan nanti”

“liburan?”

“setelah aku mengikuti ujian negara ku dan aku mau kau ikut?”

“hanya kita berdua?”

“tidak. Aku juga akan mengajak yang lain”

Ahyeon berfikir hati-hati. Setidaknya ia harus mengambil sisi positifnya. Tidak buruk jika menghabiskan liburan musim semi disana.

“baiklah”

Tidak dipungkiri lagi betapa senangnya Baekhyun sekarang. Dengan gerakan cepat ia memeluk Ahyeon dengan erat.

Ahyeon sedikit terkejut—awalnya. Tapi tidak lama, senyum itu mengembang saat Baekhyun mengatakan terima kasih di telinganya.

-You Should Be Mine-

Tetesan air dingin itu menetes dari dahi hingga dagunya. Wajahnya basah. Ia mengamati wajahnya yang terpantul pada cermin didepannya. Tangannya meremas kuat pada tepi wastafel yang bermarmer putih.

Ia menyalakan lagi keran air dan membasuh wajah nya. Air yang mengalir terasa dingin menyentuh wajahnya. Setidaknya Kai berharap dinginnya air itu juga bisa mendinginkan pikirannya. Jenuh dan rasanya ingin meledak seperti bom waktu yang akan menghancurkan dirinya sendiri.

Kai mengambil jalan yang salah.

Semakin mengabaikan gadis itu semakin membuat dirinya menjadi sakit. Seperti ada remasan kecil di hatinya dan membuat perasaannya menjadi sesak. Jika saja Kai tidak bisa menahan diri mungkin ia sudah menyeret Ahyeon pergi dan berteriak seperti orang gila didepan gadis itu.

Sejauh ini ia masih bisa menahannya.

Tapi walaupun begitu, ia tidak akan tau bisa menahannya sampai kapan. Tidak ada yang tau sampai sejauh mana ia tetap mengurung dirinya dalam keterpurukan. Terjebak dalam perasaannya sendiri.

Melepas adalah cara yang salah ketika ia masih mencintainya.

Kai menunduk dan mengamati aliran air yang keluar dari keran. Suara gemercik air begitu terdengar memasuki rongga kosong di telinganya. Mengalir tanpa ada penghalang sedikit pun. Air itu mengalir dan memasuki lubang kecil pembuangan dan akan berahkir di suatu tempat.

Kai juga ingin menjadi perasaannya seperti itu. Berahkir di suatu tempat yang akan menjadi titik ahkir. Ahkir dari perasaannya.

Kai mematikan keran air dan mengambil beberapa lembar tissue. Lembaran tipis itu menyerap air yang ada di wajah Kai. Setelah merasa kering, Kai membuang tissue itu pada keranjang sampah yang ada disudut kamar mandi.

Ia memakai blazernya lagi dan membuka pintu. Tepat saat ia mengeluarkan dirinya dari ruangan itu, dari arah lain Baekhyun dan Ahyeon berjalan bersamaan dengan arah yang sama dengannya. Gadis itu tertawa kecil seraya menyembunyikan wajahnya yang memerah. Mungkin Baekhyun sedang menggodanya.

Kai membuang pandangannya ketika iris coklat itu menangkap keberadaannya. Masih dengan sikap yang harus ia pertahankan, Kai berjalan seolah-olah ia tidak melihat apapun beberapa detik yang lalu.

Ahyeon mengangkat alisnya sedikit. Punggung namja itu semakin jauh dan Ahyeon hanya bisa menatapnya dengan miris. Sampai Kai menghilang dari balik tembok, Ahyeon sadar. Sepertinya Kai berusaha untuk menjauh darinya.

-You Should Be Mine-

Kring,,,

Bel berbunyi memandakan berahkirnya pelajaran terahkir. Guru-guru keluar dari setiap kelas nya masing-masing dan diikuti murid lainnya. Pemandangan yang sama selalu terjadi dari waktu ke waktu.

Tidak ada bedanya dengan Ahyeon dan Ji Eul. Mereka keluar kelas bersamaan bersama murid lain.

Ahyeon menghentikan langkahnya dan memikirkan sesuatu. Melihat temannya berhenti, secara otomatis membuat Ji Eul juga berhenti. Hanya saja, jika raut wajah Ahyeon yang terlihat berfikir berbeda dengan Ji Eul yang memasang wajah bingungnya.

“kenapa? Apa ada yang tertinggal?” tanya Ji Eul.

“aku belum menceritakan tentang ini”

“tentang apa?”

Ahyeon melihat sekitanya yang masih ramai. Melihat sikap aneh Ahyeon, Ji Eul juga ikut melihat sekitarnya.

“kena—“

Belum sempat selesai bertanya, tubuhnya terhuyung kedepan karena sebuah tarikan kuat pada pergelangan tangannya. Tangan Ji Eul langsung di tarik oleh Ahyeon kesuatu tempat yang lebih sepi.

Ahyeon membawa Ji Eul kedalam perpustakaan yang menurutnya adalah satu-satunya tempat paling tenang di sekolahnya. Sepi dan tidak banyak orang yang mendatangi tempat itu.

“kenapa kesini?”

Ahyeon tetap membawa tangan Ji Eul ke tempat duduk yang paling belakang. Membuat gadis itu tidak perlu repot-repot berbisik pelan karena takut pembicaraannya terdengar oleh penjaga perpustakaan. Ya, selain karena letaknya yang jauh dari meja penjaga, tempat itu juga tertutup oleh beberapa rak buku yang besar.

Masih dengan alis terangkatnya, Ji Eul mendudukan dirinya dan diikuti oleh Ahyeon yang duduk di depannya.

“berjanjilah kau tidak akan terkejut”

“apa?”

Ahyeon mengambil nafasnya dalam-dalam sebelum ia benar-benar akan menceritakannya pada Ji Eul.

“kau ingat beberapa waktu yang lalu aku pernah bercerita bahwa aku akan di jodohkan?”

Ji Eul menerawang jauh ke langit-langit perpustakaan.

“ya, aku mengingatnya”

Gadis itu menghela nafasnya pelan, “aku dijodohkan dengan salah satu murid disini”

“huh? Siapa?”

“namanya Kim Jongin”

“eihhh, kau sudah pernah memberitahu ku waktu itu”

“dan kau tau siapa yang bernama Kim Jongin itu?”

“bukankah waktu itu aku hampir mengingatnya. Nama itu tidak asing lagi di telinga ku”

“dia,,,”, Ahyeon menggantungkan kalimatnya. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dibelakangnya, “dia—“

“yaa! Siapa? Kau membuatku penasaran” sergah Ji Eul.

“dia,,,”

Ji Eul menatapnya datar, “dia siapa?”

“Kai” ucap Ahyeon dengan nada berbisik.

“apa? aku tidak dengar”

Ahyeon menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Ia frustasi dan ingin berteriak sekeras-kerasnya.

Ji Eul melihatnya semakin bingung, “sebenarnya siapa yang bernama Kim Jongin itu? Kenapa kau terlihat aneh seperti itu?”

“dia,,,”

“haaahh~ kapan kau akan menyelesaikanya?”

“dia Kai” ucapnya pelan.

“siapa?”

“Kai” ucap Ahyeon lagi.

Ji Eul tidak bergeming sama sekali. Matanya membulat dan mulutnya terbuka sedikit. Sulit dipercaya.

Ahyeon menaruh kepalanya di atas meja. Dahinya bersentuhan langsung dengan meja kayu yang berwarna coklat itu. Ia memejamkan matanya rapat dan menggigit kecil bibir bawahnya.

“ba,,, bagaimana bisa?” tanya Ji Eul.

Ahyeon menggeleng-gelengkan kepalanya diatas meja, “aku tidak tau”

“tunggu, apa itu sebabnya kau berpisah dengan Baekhyun sunbae?”

Ahyeon mengangkat kepalanya. Ia menatap Ji Eul dan mengangguk lemah.

“astaga Ahyeon”

Ahyeon menunduk dengan murung, “aku tidak memberitahunya waktu itu”

Ji Eul memandang Ahyeon dengan keprihatinan, “kau keterlaluan”

“kau fikir aku melakukan ini untuk apa? Dia tidak sengaja melihat Kai yang ada didalam apartemen ku”

“apartemen?”

“kami pernah tinggal bersama”

Kalimat Ahyeon sudah membuat Ji Eul menganga lebar. Perempuan itu begitu terkejut. Tidak ada kata-kata lagi yang mampu ia keluarkan untuk Ahyeon—tidak ada.

“Baekhyun oppa ingin hubungan kami kembali seperti dulu. Tapi aku bilang padanya, aku butuh waktu untuk berfikir”

“kenapa kau perlu berfikir? Ini mudah Ahyeon. Jika aku jadi kau, aku akan langsung mengangguk dan berkata iya dengan semangat. Tapi kau? Kau kenapa?”

“kau tidak tau. Bagaimana perasaan mu tentang Kai oppa? Dia juga pasti akan sakit”

“lalu bagaimana dengan Baekhyun sunbae? Dia yang akan lebih sakit Ahyeon-a”

Ahyeon diam. Ji Eul menatap Ahyeon dengan penuh mengimiditasi. Ada yang aneh disini. Ji Eul memajukan tubuhnya dan memperhatikan ekspresi Ahyeon baik-baik.

“apa?”

“kau? Jangan bilang kau mulai menyukai Kai?” tanya Ji Eul hati-hati.

“apa!”

Tidak masuk akal untuk Ahyeon. Tidak mungkin ia menyukai Kai. Seperti melanggar sebuah pendirian yang ia pegang teguh selama ini. Ia tidak akan menyukai pria itu.

Ji Eul menarik tubuhnya lagi, “lalu kenapa kau peduli dengannya?”

“itu karena,,,, karena aku,,, aku tidak ingin membuat orang lain kecewa”

“lalu bagaimana dengan Baekhyun sunbae?”

“argghh!!”, Ahyeon menggeram frustasi. Ia melipat tangannya diatas meja dan menaruh wajahnya disana.

“kau menyukai nya Ahyeon. Kalau tidak, kau tidak akan mungkin memiliki kepedulian terhadapnya”

Ahyeon mengangkat kepalanya dan menatap nanar Ji Eul. Tidak mungkin. Ia tidak mungkin menyukai Kai. Dasar apa yang membuatnya memiliki perasaan kepada namja itu. Tidak ada.

“pikirkan lah baik-baik. Tanpa sadar kau sudah menyakiti yang lain”

“aku tidak mungkin menyukainya”

“Perasaan suka bisa datang kapan saja. Mungkin saja tanpa kau sadari perasaan itu sudah mengubah hatimu”

Ahyeon menunduk pasrah. Ia menghela nafas pasrah.

Benarkah?

-You Should Be Mine-

Kai berjalan santai keluar kelasnya. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku blazer dan berjalan acuh. Tidak ada yang ia pedulikan. Termasuk Kris yang meneriaki namanya dari belakang.

Kai menuruni tangga dan sampai di lantai 1. Ia baru saja akan berbelok tapi tubuhnya terhenti karena ada seseorang yang menghalangi jalannya.

Kai memutar bola matanya malas dan mengacuhkan hoobaenya itu.

“sunbaenim” panggil gadis itu.

Kai memutar tubuhnya dan menatap tajam hoobae perempuannya itu.

“apa? ada apa?”

Hoobae itu mengulurkan sebuah kotak berukuran kecil dan ada kartu ucapan diatas nya.

Kai memandangi kotak itu tidak peduli. Ia berbalik dan melangkahkan kakinya pergi ketempat parkir.

Tapi hoobaenya itu mempunyai otak sekeras batu. Ia mengikuti Kai di belakangnya seraya berlari kecil, berusaha menyamakan langkah kaki Kai.

“kenapa kau mengikuti ku?” tanya Kai sarkatis.

“terima dulu, baru aku pergi” ucap hoobaenya seraya memberikan lagi kotak itu.

“aku tidak tertarik”

Kai kembali melanjutkan langkahnya. Tapi hoobaenya tidak mau menyerah sampai disini. Ia tetap mengikuti Kai layaknya anak ayam yang selalu mengikuti induknya kemana pun.

Kai jengah, ia berhenti dan memejamkan matanya sejenak. Kai hampir berteriak di tengah koridor panjang ini jika ia tidak menahannya.

“berhenti mengikuti ku!”

“terima dulu”

“kau mengganggu ku. Tidakkah kau melihatnya?”

Gadis itu menggeleng pelan.

“aisshh!! Apa tujuan mu?”

“aku hanya ingin memberikan ini. Aku menyukai mu” ucap gadis bangga.

Kai tidak berekspresi. Kedua telinga sudah memerah karena menahan sesuatu yang akan meledak sebentar lagi di puncak kepalanya.

“berapa umur mu?”

“15 tahun”

“aku 19 tahun dan kau 15 tahun. Kau tau, aku tidak suka jika menyukai orang yang jaraknya terlalu jauh dengan ku. Lebih baik kau pulang dan belajar dengan benar di meja belajar mu”

“aku hanya bilang menyukai mu. Dan aku tidak meminta respon mu sunbae”

“aishh! Baiklah”, Kai mengambil kotak itu dengan kasar. Ia lalu memasukan dengan asal kedalam saku blazernya, “sudah puas?”

Hoobaenya terlihat begitu senang karena Kai menerima kotak pemberiannya walaupun dengan terpaksa.

Kai mendengus kesal. Ia lalu berbalik dan melanjutkan jalannya lagi ketempat motornya ia parkirkan tadi pagi. Dibelakangnya, ia masih mendengar langkah kaki yang begitu dekat. Kai memutar bola matanya malas dan menoleh kebelakang.

“kenapa masih mengikutiku?”

“disanakan pintu keluarnya. Aku juga ingin pulang” ujar gadis itu.

Kai menghela nafas nya pelan. Ia sedikit menggelengkan kepalanya, menyadari betapa sensitif nya ia hari ini. Apa karena pengaruh hormon? Mungkin ia merasa tertekan karena sebentar lagi ia akan menghadapi ujian kelulusannya. Ya, Kai fikir begitu.

Kai berjalan lagi sambil menetralkan dirinya. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Semoga tidak ada lagi yang akan memancing emosinya lagi setelah ini.

Semakin dekat dengan tempat parkir, Kai menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Gadis itu sudah tidak asing lagi dimatanya. Gadis yang memunggunginya berdiri disebelah motor sport merahnya.

Jadi, Ahyeon menunggunya?

Tatapan Kai berubah. Ia menatap sendu punggung gadis itu dari jauh.

Hoobaenya tadi melintas disebelahnya, namun dengan cepat Kai menahan tangannya. Tubuh gadis itu berbalik dengan terkejut dan menatap bingung tangan Kai yang ada dipergelangannya.

“kau mau pulangkan?” tanya Kai.

“ne”

“ikut aku. Kau hanya perlu tersenyum dan jangan berbicara apapun”

Sebelum hoobaenya itu bertanya kenapa, Kai dengan cepat menarik tangannya membawa hoobaenya itu jalan bersamanya. Hampir dekat dengan Ahyeon, dan benar saja, Ahyeon langsung berbalik saat Kai berada sekitar 7 langkah dari nya.

Tatapan Ahyeon itu bingung dan berpusat pada tangan Kai yang menggenggam perempuan lain. Kai membuang wajahnya dan melanjutkan langkahnya. Sementara hoobae perempuannya, ia mengikuti perintah Kai, gadis itu tersenyum seperti yang Kai katakan padanya.

“bukankah aku sudah bilang tadi pagi?” tanya Ahyeon ketika Kai yang sudah menaiki motornya.

“dan bukankah sudah kukatakan juga jawaban ku tadi pagi?” timpal Kai.

Ahyeon mengenyit. Ia menatap tajam perempuan yang masih berdiri di samping Kai.

“siapa dia?” tanya Ahyeon sambil menatap sebal kearah perempuan yang dibawa Kai tadi.

“perlukah ku beritahu?” ucap Kai.

“tapi aku sudah menunggu mu dari tadi?”

“apa aku menyuruh mu?”, Kai mengalihkan pandangannya pada hoobaenya yang masih tersenyum. Bodoh. Senyum itu terlihat membuatnya bodoh. Ahyeon pasti berfikir ia sedang membawa yeoja gila.

“kenapa masih disitu? Cepat naik?” perintah Kai kepada hoobaenya itu. Gadis itu terkesiap dan segera naik keatas motor Kai.

“yaa! Kau membiarkan ku disini sendiri?”

Kai melihat kebelakangnya dan melihat motor sport hitam Baekhyun yang masih terpakir. Menandakan  pemiliknya belum pulang.

“pulang saja dengannya. Baekhyun hyung masih didalam”

“tidak. Aku tidak akan pulang” ucap Ahyeon.

Kai menutup kaca helmnya yang gelap dan memundurkan motornya. Sedetiknya ia langsung meninggalkan Ahyeon dengan raut wajah kesal. Ya, Kai bisa melihat itu dari kaca spionnya.

Ahyeon melipat tangannya diperut. Bibirnya mengkerucut dan ia ingin melempari kepala Kai dari sini dengan batu besar. Batu yang sangat besar sehingga bisa membuat pria itu sadar.

-You Should Be Mine-

Kai memberhentikan motornya itu di tepi jalan. Ia membuka kaca helmnya dan menoleh kebelakang. Memberikan pandangan tajam nya kepada gadis yang duduk dibelakangnya. Gadis itu terlihat bingung dengan sikap Kai.

“turun”

“apa?”

“cepat turun”

Meski dalam keadaan bingung, gadis itu menurutinya. Begitu turun, Kai segera pergi bersama motornya meninggalkan gadis itu di tepi jalan. Ia melongos. Jadi Kai meninggalkannya? Lalu untuk apa tadi Kai menawarkan tumpangan kepadanya?

Anggap saja Kai sudah gila. Ia memutar arah kembali kesekolahnya. Bukan karena ada buku nya yang tertinggal atau yang lain. Tapi ia kembali untuk mengambil Ahyeon ditempat ia meninggalkannya tadi. Sejauh ini Ahyeon selalu berkata serius dan tidak pernah main-main. Jadi itu sebab nya sejak tadi Kai merasa bersalah.

Bagaimana jika Ahyeon benar-benar tidak akan pulang?

Gadis itu sama keras kepalanya dengan hoobaenya tadi.

Tidak seharusnya Kai meninggalkannya. Ia tidak ingin Ahyeon seperti malam itu. Pulang larut malam dalam keadaan basah dan keesokkannya gadis itu sakit.

Benar. Kai merasa sangat khawatir sehingga ia semakin mempercepat laju motornya. Namja itu bahkan hampir tidak berhenti saat lampu merah sedang menyala. Gila memang. Dan hanya Ahyeon yang bisa membuatnya seperti ini.

Ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kris benar. Jika tidak bertanya, ia tidak akan tau perasaan Ahyeon selama ini.

—Tempat lain—

Dari jauh, Baekhyun tersenyum. Ia bahkan mempercepat jalannya, tidak memperdulikan tas ranselnya yang begitu berat. Mungkin sekitar setengah jam yang lalu. Baekhyun menyibukkan dirinya didalam perpustakaan. Meminjam beberapa buku yang mungkin bisa membantunya untuk belajar di rumah nanti.

“kenapa masih disini?” tanya nya.

Ahyeon menoleh mengangkat alisnya. Ia menegakkan tubuhnya dan menurunkan lipatan tangannya yang berada di perutnya.

“kau menunggu seseorang?” tanya Baekhyun sambil melihat kanan kiri. Tapi sekolahan ini sudah mulai sepi dan hanya ada beberapa siswa yang masih berada disini. Itu pun hampir rata-rata murid tingkat tiga.

“aku tidak menunggu siapapun” jawab Ahyeon.

“lalu kenapa belum pulang?”

“oppa juga belum pulang? Kulihat yang lainnya sudah pulang lebih dulu” ucap gadis itu mengalihkan pertanyaan Baekhyun.

“ahh, aku di perpustakaan tadi. Kau mau pulang?”

Gadis itu diam. Ia melihat jam tangannya dengan murung. Untuk apa masih tetap disini. Toh, yang ditunggunya juga mungkin tidak akan kembali.

“kita pulang bersama eum? Bagaimana?” tawar Baekhyun.

“baiklah”

“tunggu lah di pintu gerbang”

Ahyeon mengangguk seraya tersenyum.

Tidak ada yang lebih membuat Baekhyun tenang selain bersama wanita itu. Ya, meski kenyataan Baekhyun suatu saat harus menghadapi keputusan gadis itu yang akan menyakitinya nanti. Tidak apa. Selama masih ada waktu, Baekhyun akan menggunakan waktu itu dengan baik.

Baekhyun menghentikan motor sportnya disamping Ahyeon. Awalnya gadis itu diam. Tapi tidak lama gadis itu tersenyum dan mengerti. Ia naik keatas motor Baekhyun sambil berpegangan pada dua bahu pria itu.

Baekhyun tersenyum. Ia segera mutar tubuhnya sedikit kebelakang dan meraih tangan Ahyeon. Baekhyun melingkarkan tangan gadis itu ke perutnya.

“aku tidak akan menurunkan kecepatanku nanti. Jadi berpeganganlah yang kuat”

Sebelum gadis itu berbicara, Baekhyun sudah melajukan kendaraannya itu. Berbaur bersama kendaraan lain di tengah jalan raya. Ya, Dibalik kaca helmnya, namja itu tersenyum. Semakin cepat Baekhyun melajukan motornya, maka semakin erat juga lingkaran tangan Ahyeon diperutnya.

Dia sengaja.

Sudah lama Baekhyun tidak merasakan pelukan Ahyeon yang seperti ini. Terahkir kali Baekhyun merasakan ini 8 bulan yang lalu. Mungkin dirinya tidak merasa sesenang ini saat pertama kali Ahyeon melakukan ini. Ya, itu karena ia tidak begitu serius saat itu. Tapi lama kelamaan namja itu sadar. Menyesali kejadian berbulan-bulan yang lalu. Seharusnya waktu pertama kali ia langsung menetapkan hatinya. Bukan hanya memikirkan masa lalunya yang membuat hatinya menjadi bingung.

Di bawah pohon yang rindang itu, Kai melihat semuanya. Ia menghentikan motornya dan menepi di bahu jalan saat melihat Ahyeon keluar dari halaman sekolah. Awalnya Kai ragu, tapi begitu Kai sudah yakin akan menghampiri Ahyeon, tidak lama Baekhyun segera menampakkan dirinya disamping gadis itu. Itu yang membuat Kai kembali mundur. Ia baru saja akan menjemput Ahyeon dan baru saja mengkhawatirkan gadis itu. Bodoh. Ia melupakan hal yang penting disini. Ada Baekhyun yang tidak akan menelantarkan gadis itu disini.

-You Should Be Mine-

Sampai di kamar, Ahyeon merebahkan dirinya diatas kasur empuk miliknya, menatap langit kamarnya yang putih. Matanya sempat terpejam sebelum ahkirnya terbuka kembali.

“tidak bertanggung jawab”

Ahyeon mencibir pada atap kamarnya seolah-olah ia sedang berbicara disana..

“dan siapa gadis tadi? Jadi dia lebih mengantar orang itu?”

Ahyeon mendudukan dirinya. Ia melepas blazernya dan keluar kamar. Berjalan menuju dapur dan membuka lemari esnya. Ahyeon mengambil sebotol air dingin dan menuangnya kedalam gelas. Sebelum bibirnya menyentuh tepi gelas, ia menaruh gelasnya itu kembali diatas meja.

“kau menyukai nya Ahyeon. Kalau tidak, kau tidak akan mungkin memiliki kepedulian terhadapnya”

“pikirkan lah baik-baik. Tanpa sadar kau sudah menyakiti yang lain”

“Perasaan suka bisa datang kapan saja. Mungkin saja tanpa kau sadari perasaan itu sudah mengubah hatimu”

Tangannya menggenggam gelas yang dingin itu. Basah dan dingin. Buliran air dingin itu menguap keluar sehingga membuat tangannya menjadi basah.

Ia merasa bingung jika mengingat perkataan Ji Eul. Ya, mungkin memang benar belakangan ini ia mempunyai kepedulian kepada Kai. Lalu? Itu hanya sekedar perasaan peduli.

Ia meneguk air dinginnya. Ia berdiri dan menaruh botol air dingin itu kedalam kulkas. Ia tersenyum getir. Tangannya mengambil sayuran yang ada di lapisan bawah lemari es nya. Ya, daun bawang. Mengingatkan Ahyeon dengan Kai. Dan secara otomatis, segala macam hal-hal yang menyangkut tentang Kai bisa membuatnya tersenyum tanpa ia sadari. Ia kembali menaruh daun bawang itu dan menutup lemari es nya.

Ya, tanpa ia sadar perasaan nya berubah. Ia seperti orang yang tidak memiliki sebuah pendirian tetap dan terlalu lamban menyadari semuanya.

Ia kembali kedalam kamarnya. Memasuki kamar mandinya dan melepas semua pakaian yang dikenakannya. Ia tau siang ini cuaca cukup panas. Matahari bersinar terik dan membuat suhu kota Seoul naik beberapa derajat. Jadi, tidak ada salahnya jika ia mendinginkan tubuhnya dengan berendam.

-You Should Be Mine-

Joon Myeon merapikan beberapa pakaian nya dan memasukkannya kedalam koper hitam yang besar. Melipat beberapa dasi formalnya dan menyelipkan diantara kemeja nya yang terlipat. Besok adalah hari dimana ia akan pulang ke Seoul. Ya, setidaknya Joon Myeon sangat menantikan hari ini. Ia selalu tersenyum melihat tiket pesawatnya yang ada disamping kopernya.

Jong Dae datang dari ruangan yang berbeda. Dengan pakaian santainya dan juga sebungkus kripik kentang ditangannya, Jong Dae mengunyah kripik itu sambil memperhatikan Joon Myeon di ambang pintu. Ya, dia tidak membantu Joon Myeon sama sekali.

“hey itu kripik kentang ku” ucap Joon Myeon.

Jong Dae hanya tersenyum lebar dan tanpa rasa bersalah, ia tetap memasukan beberapa potongan kripik itu masuk kedalam mulutnya.

“kau bisa membelinya lagi”

Joon Myeon menggeleng pelan, menarik nafas dan memasukan kemeja putihnya yang terlipat kedalam koper.

“kau yakin?” tanya Jong Dae.

“ya, aku sudah menunggu untuk besok”

“kau akan kembali kesini?”

“ya, dan ketika aku kembali mungkin aku akan membawa seseorang”

“kesini? Kedalam apartemen ini?”

“tentu saja”

“lalu aku?”

“kau pulang lah sendiri ke apartemen mu. Lagi pula kita kan hanya berjarak 3 lantai. Kau dilantai 12 dan aku dilantai 9. Kenapa kau tidak pernah tidur didalam apartemen mu sendiri?”

“kau tau aku kan? Aku tidak bisa tidur jika hanya sendiri disana”

“kenapa tidak pulang kerumah nenek mu?”

“dan aku harus tidur bersama nenek ku? Oh, tidak terima kasih”

“kasihan nenek mu itu. Dia sudah tua dan sendiri”

“Dia tidak sendiri, ada sepupu ku yang menjaganya”

“haa, kau ini”

Joon Myeon menutup resleting kopernya. Kedua tangannya menurunkan koper itu dari atas tempat tidurnya dan menaruh disebelah meja nakas. Ia juga menaruh tiket nya kedalam laci meja. Joon Myeon merenggangkan tangannya ke atas. Suara gemeletuk tulang pinggangnya terdengar nyaring.

“berapa lama kau disana?”

“tidak lama. Tapi aku juga tidak tau kapan kembali”

“pekerjaan mu?”

“aku sudah menyelesaikannya”

“Semua?”

“ummm”, Joon Myeon berjalan keluar kamarnya. Tapi sebelum itu ia memandang Jong Dae yang sedang mengunyah kripik kentangnya.

“kau sudah menyelesaikannya?”

“apa?”

“pekerjaan mu?”

“masih di kantor”

Tatapan Joon Myeon datar. Saat tangan Jong Dae akan mengambil beberapa kripik kentang Joon Myeon dengan cepat merebut kripik kentang itu dan membawa nya pergi.

“YAAAA!!”

“Ini milikku”

“tapi aku dulu yang menemukannya”

-You Should Be Mine-

“aku menyukai nya?”

“benarkah?”

“aku menyukai Kim Jongin?”

“Kim Jongin?”

“Aku menyukainya?”

Ahyeon terus berbicara sendiri dengan buket bunga yang dipangkunya. Hanya itu yang ia ucapkan sejak di toko bunga tadi. Supir taksi yang sedang menyentir berkali-kali melirik kebelakang dan mengernyit bingung.

“ahjussi” panggil Ahyeon.

“ne”

“kau pernah jatuh cinta?”

“apa?”

“kau pernah menyukai seseorang. Kau sudah menikah kan? Bagaimana perasaan mu saat pertama kali bertemu istri mu?”

Ahyeon memberikan serentetan pertanyaan itu kepada seorang supir taksi. Ia menghela nafas dan mencabut beberapa kelopak bunga mawar yang di pangkunya itu.

“ahjussi tau, teman ku berkata aku menyukainya. Tapi aku tidak yakin. Bagaimana menurut ahjussi?”

“eehh, saya tidak tau nona”

“ini membuat ku bingung. Ahhh, kurasa aku sudah gila sekarang”, Ahyeon memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.

Ahjussi itu terkekeh pelan, “sudah sampai nona”

“oh, benarkah?”, Ahyeon mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan memberikannya kepada ahjussi itu, “terima kasih ahjussi”

Laki-laki paruh baya itu tersenyum. Ahyeon turun dari dalam mobil taksi dengan buket bunga yang besar ditangannya.

“nona tunggu?”

Ahyeon baru akan menutup pintu tapi ahjussi itu memanggilnya. Gadis itu sedikit menunduk dan memberikan sebuah gantungan ponsel yang berbentuk bintang laut kepada Ahyeon.

“ini apa?”

“jika kau menyukainya, kau akan terus ingin berada didekatnya. Itu yang ku ingat”

Ahjussi itu tersenyum. Ahyeon tersenyum kaku karena bingung. Bukan karna ucapan ahjussi itu yang membuatnya bingung, tapi karena gantungan kunci yang diberikan ahjussi itu yang membuatnya bingung.

“terima kasih ahjussi”, Ahyeon menutup pintu mobil dan membiarkan mobil itu berjalan menjauhinya.

Dahi nya berkerut, “lalu apa maksud nya dengan ini?”. Ia menaikkan bahunya tidak peduli dan menyimpan benda itu di dalam tas kecil nya.

Ia mengadahkan kepalanya melihat rumah didepannya, “bukankah aku baik?”, Ahyeon menekan bel rumah bertingkat itu. Beberapa kali sampai sang pelayan rumah itu keluar.

“nona Jung?”

“dia sudah pulang?”

“ne. Satu jam yang lalu. Masuklah nona”

Ahyeon masuk dan diikuti Han ahjumma dibelakangnya. Ahyeon tiba-tiba berbalik dan membuat wanita itu terkejut.

“apa dia ada dikamarnya?”

“ne. Tuan muda sedang tidur dan berpesan agar jangan ada yang mengganggunya nanti”

“apa? Aku akan kekamarnya sekarang”

“tapi nona tuan muda bilang—“

“tidak papa ahjumma” sergah Ahyeon, “kamarnya masih diatas kan?”

“ne”

Ahyeon tersenyum dan berjalan menaiki anak tangga. Han ahjumma sedikit ragu. Bagaimana jika majikannya itu akan marah besar nanti?

Sampai didepan kamar Kai, Ahyeon membuka pintu kamar namja itu pelan. Tidak ada deritan suara pintu sama sekali.

Dan Han ahjumma benar. Kai sedang tidur bergumul dengan selimut tebalnya. Lantai kamar Kai dingin karena pria itu menurunkan suhu pendingin ruangannya sampai di level minimun. Ahyeon masuk dengan hati-hati ia menutup pintu itu kembali.

Gadis itu semakin mendekati Kai dan menaruh buket bunganya diatas meja nakas. Ahyeon berjongkok menekuk lutut dan memangku dagunya diatas lutut.

Ia tersenyum kecil. Kai tertidur sangat lelap dengan matanya yang saling terpejam rapat. Tangannya naik meraih surai rambut Kai dan mengelusnya pelan dengan ujung jarinya. Turun sampai di dahi, hidung dan terahkir,,,

Ahyeon kembali menarik tangannya lagi ketika jemarinya hampir menyentuh bibir namja itu.

“bagaimana jika memang aku menyukai mu eum?” gumaman itu keluar dari mulut Ahyeon.

Tatapannya nanar. Ia berdiri dan dengan sendirinya ia membungkukkan badannya, menatap dalam wajah Kai yang terlelap.

“jangan menjauhiku lagi oppa. Ku mohon” bisik nya.

Ia menarik tubuhnya lagi. Sebelum Kai terbangun, Ahyeon segera keluar dari kamar namja itu.

Ya, ahjussi itu menyadarkannya. Ahyeon mengakui ia menyukai Kai. Ia tidak bisa jika Kai terus menjauhinya. Seperti ada perasaan aneh di dalam hatinya melihat Kai yang selalu membuang wajahnya dan tidak mau menatap matanya secara langsung.

Ia merindukannya. Ahyeon merindukan pelukan hangat Kai yang bisa membuatnya tenang. Ia juga merindukan Kai yang memperhatikannya.

TBC

Sudah ketebak lah endingnya Ahyeon sama siapa 😀 Satu chapter lagi udah END 😀 Yeayyy!!! *tiup balon* Abis YSBM end sebenernya aku udah berfikir mau bikin 2 sequel. Satu sequel buat kehidupan masa depannya Ahyeon dan yang satu lagi sequel tentang pertemuan pertamanya Baekhyun sama Ahyeon. Gimana? Ada yang mau? Kalo banyak yang minta nanti aku bikinin 😀

Note: chapter 24 nanti mau aku proteksi, kalo ada yang mau passwordnya minta langsung ke aku ya 😀 @yupitamrd

444 responses to “You Should Be Mine [Chapter 23]

  1. Kyaaaaaaa daebakk bgust bgtz ff ni…
    Mian cman bru bsa comment skrg…
    Tp cman bsa bca mpe part 23 ….
    Mntag pw yg part 24 dounkz…
    Cz aq gx pny Twitter…😔

  2. Akhhh sumpah nih ff daebak banget. Bacanya bikin deg deg’an sendiri, seharian baca nih ff dikamar tanpa keluar. Ga bisa berenti, terlalu kepo sama jalan ceritanyaaa. Dan maaf banget thor saya baru komen hehehe
    Agak kesel juga sama ahyeon plin plan gtu yaa, antara baekhyun atau kai. Tapi saya dukung bgt klo ahyeon sama kai. Suka part pas ahyeon takut takutin jongin pake daun seledri hahaha
    Semoga jongin denger atas pengakuan si ahyeon..
    Salam kenal yaa eonn, eonni aku minta pw buat chapter 24 dong. aku penasaran bgt sama kelanjutan ceritanya..
    ini email aku : anissalarasati1997@gmail.com
    line : anissalarasati97_

  3. Sedih deh bacanya :’) kasihan bgt kainyaa, keadaan yg membuat mereka kya gtu kan(?) Kerenn ceritanya suka bgt, jarang bgt nemu ff kya gni, unik tpi menarik, lanjut yaa msh penasaran bgt>>

  4. Min aku tertarik baca ff nya udh sampe 23 nanggung ni bacanya, boleh minta passwordnya gk min ni I’d line aku
    Lilissuryani_samosir
    Makasih min cepat ya hehehe

  5. akhirnya ahyeon menyadarinya juga, tinggal bilang aja sm kai…..bagaimana cara mendapatkan pwnya bisa lewat email gak ?

  6. Anjir maapkeun aing yg baru komen 😂 susah sih ya kalo suruh milih baek ma kai…tp penasaran siapa yg bakal dipilih ahyeon…minta pw nya plis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s