The Difference [Chapter 2]

fanfiction 29

Title: The Difference [Chapter 2]

Author : J.A.Y

Main Cast:

1.       EXO-Kai

2.       Han Hyena (OC)

Support cast:

1.       Chanyeol EXO

2.       Luhan EXO

Genre: Romance, fantasy, sad, drama, angst

Rating: PG-17

Length : Chapter

Disclaimer: The storyline pure is mine. Just is mine! So, don’t copy-paste and don’t be plagiarism!!

 

— The Difference —

 

Hyena POV

“kau kenal Jongin?”

Aku menoleh terkejut kearah Ahri yang berada disampingku. Ahri melempari ke dengan pertanyaan yang tiba-tiba membuatku menjadi gugup, “tidak mengenal. Hanya sekedar tau”

“sepertinya kalian dekat?”

Sudah kuduga Ahri akan menanyakan ini. Ia melihatku bersama Jongin tadi pagi. Ini karena sikap Jongin yang terlalu berlebihan. Ia mengantarku sampai didepan kelas. Seperti seorang ayah yang sedang mengantar anaknya di sekolah TK. Aku sudah melarangnya, tapi laki-laki itu tetap memaksa.

“kami hanya teman. Aku tidak sengaja bertemu dengannya” ucapku seadanya.

“benarkah? kufikir kalian memang dekat”

“dia yang menolongku—ahk!”, aku menurunkan tangan ku yang tiba-tiba diangkat oleh Ahri. Astaga! Rasa linu langsung menjalar keseluruh permukaan kulit ku. Ahri tepat menyentuh luka yang ada dipergelangan tanganku, “ini belum sembuh”

“dia juga yang mengobati tangan mu?” tanyanya penuh dengan pengimiditasian. Matanya memincing kearah ku dengan penuh tuntutan.

Aku mengelus perban putih yang melingkar dipergelangan tangan ku. Mungkin rasa sakitnya akan sedikit berkurang.

“dia juga yang mengobati tangan ku”

Ahri mengangkat alisnya tinggi. Mungkin ia terkejut dengan perkataan ku.

Lalu memangnya apa?

Memang Jongin yang melakukan ini semua. Mulai dari menolongku, mengobati lukaku, meminjamkan kamar tidurnya, mengantarku sampai disini. Itu semua Jongin yang melakukannya. Yang kuceritakan pada Ahri hanya 25 % dari bagiannya. Mungkin jika aku menceritakannya seluruhnya pada Ahri, gadis itu akan lebih terkejut lagi.

“kau tau siapa Jongin?” tanya Ahri.

Aku menggeleng pelan seperti orang bodoh. Aku baru bertemu dengannya semalam.

“memangnya dia siapa?”

“aisshh! Aku sudah pernah bilangkan, terbukalah dengan kehidupan luar Hyena-ya”

“aku tidak sempat membuka diriku untuk dunia luar”

Ahri menatapku dengan antusias. Perasaan ku sudah mulai tidak enak dengan ekspresi Ahri yang seperti itu, “kau tau? Jongin dan Luhan itu sama. Mereka sama-sama populer disini”

“lalu?”

“jika kau bisa dekat dengan Jongin, maka secara otomatis kau bisa dekat dengan—“

“tunggu dulu. Jadi kau menyuruh ku untuk itu?”

Ahri mengangguk dengan senyum khasnya. Senyumnya yang lebar, aku yakin ada maksud tertentu yang Ahri ingin lakukan.

“aku tidak mau melakukannya”

“ohh, ayolah Hyena. Aku mohon”

Ahri memohon padaku. Mengeluarkan aegyo nya dan berharap membuat hatiku luluh. Tentu saja tidak. Ahri sudah melakukan itu ribuan kali didepanku. Jika sebelum-sebelumnya aku akan melakukannya, tapi tidak kali ini.

Apa maksud Ahri aku harus memanfaatkan Jongin??

“apa kau sedang menciptakan ku menjadi orang jahat?”

Ahri mengangguk dengan polosnya. Dia gila.

“tidak”

Aku melanjutkan langkahku, meninggalkan Ahri yang mungkin sedang mengkerucutkan bibirnya dibelakang ku. Tidak peduli gadis itu akan marah atau tidak. Pikirannya sudah tidak sehat. Ahri mungkin terlalu buta untuk seorang Luhan.

Aku menghentikan langkah ku saat melihat banyak kerumunan mahasiswa lain didepan. Apa ada sesuatu yang penting?

kakiku berjalan sendirinya. Aku ikut menghampiri kerumunan orang-orang yang memadati papan pengumuman.

Aku menatap pada selembar kertas pengumuman yang tertempel pada papan pengumuman yang ada didepan lorong kampus. Bukan hanya aku, tapi semua mata yang melihat pengumuman itu juga merasa hal yang sama dengan ku.

“mungkin dia menghilang karena pergi bersama pacarnya”

Aku menoleh kearah Ahri yang tetap mempertahankan pandangannya pada kertas didepannya.

“kenapa ahkir-ahkir ini banyak yang menghilang dikampus kita?”

Dahiku berkerut tipis. Ahri benar. Sejak seminggu yang lalu sudah ada 5 mahasiswa yang menghilang disini. Setiap hari selalu ada pemberitahuan dari orang tua korban yang memberitahukan kepada pihak universitas bahwa anaknya telah menghilang. Semuanya berjenis kelamin perempuan.

Dan hari ini ada 2 orang yang menambah daftar dari mahasiswa yang menghilang.

Jaena. Mahasiswa kedokteran yang telah menghilang 2 tahun yang lalu juga belum ditemukan. Ada yang bilang Jaena melakukan bunuh diri karena tertekan dan mayatnya belum ditemukan sampai sekarang.

Bukankah itu gila?

“ayo pergi”

Aku mengikuti Ahri sambil mengalihkan pandanganku ragu pada kertas yang masih tertempel dipapan pengumuman. Mungkin karena aku terlalu lama, Ahri sudah lebih dulu menarik tanganku pergi.

“universitas ini semakin aneh” ucap Ahri

Aku menghentikan langkahku, “maksudmu?”

Ahri melepas tanganku dan berbalik, “kau lihat sendiri tadi. Kenapa rata-rata yang menghilang adalah dari jurusan kedokteran dan semuanya perempuan?”

Kufikir hanya aku yang mempunyai pemikiran seperti itu. Ternyata pemikiran Ahri sama dengan ku. Aku juga merasakan hal yang sedikit—aneh disini. Pihak universitas bahkan ikut membantu menyelidiki kasus ini.

“apa mereka semua masih hidup?”

“ya! Kau tidak boleh berbicara seperti itu”

“aku hanya menarik salah satu kesimpulannya saja”

Ahri kembali berjalan melanjutkan langkahnya. Aku yang awalnya terdiam, mulai memperlebar langkah ku demi menyusul Ahri yang hampir terlihat jauh.

— The Difference —

 

Author POV

“kemana kau membawa gadis itu semalam”

Jongin tetap memainkan pensil ditangannya. Kedua manik matanya menatap kearah meja berwarna coklat muda, mengalihkan pandangannya dari Chanyeol dan Luhan. Chanyeol menatap Jongin yang terlihat santai dengan ekspresi lain, bukanlah ekspresi bersahabat yang sering ia tunjukkan setiap kali bertemu dengan orang lain.

“gadis?”

Luhan memandang Jongin penuh tanya. Dan Jongin tetap tidak menatap mata kedua saudaranya itu. Semalam memang keduanya saling bertemu didepan toko apotik dan Jongin terlihat mencurigakan disana. Luhan memang yakin jika ada sesuatu yang dialihkan oleh Jongin semalam.

“apalagi jika tidak membunuhnya”

Alis Chanyeol terangkat sebelah. Yang ia fikirkan adalah ia masih ragu dengan jawaban Jongin. Yang tengah dibicarakan mereka adalah makanan seorang vampire yang telah direbut vampire lain. Chanyeol bukanlah tipikal orang yang akan dengan mudahnya melepaskan sesuatu yang berada ditangannya lebih dulu. Bahkan jika orang itu adalah saudaranya sendiri.

“gadis siapa yang kalian maksud?”

Luhan bertanya layaknya orang bodoh. Masalah yang berdiri ditengah-tengah Chanyeol dan Jongin—Luhan tidak mengetahuinya. Pikiran Jongin begitu tenang dan kosong. Sedangkan Chanyeol terlihat berantakan.

“benarkah? lalu kenapa kau tidak memanggil ku untuk membakar ‘bekas’nya?”

Jongin terdiam. Begitu bodoh baginya. Jalan pikirannya begitu pendek dan tidak memikirkan hal itu. Ia memutar pikirannya dengan keras—mencari jalan keluar.

“jika kau belum membunuhnya biarkan aku yang melakukannya. Dia sudah melihatku”

Jongin masih terlihat tenang sejauh ini, walaupun pikirannya sedang kacau. Pandangannya terangkat dan menatap Chanyeol datar. Tidak ada ekspresi sedikitpun yang ia keluarkan. Padahal didalam hatinya, ia ingin berteriak sekeras-kerasnya.

“aku yang melihatnya pertama kali Jongin. Kau ingat peraturan keluarga nomor 1 kan?”

Tentu saja Jongin sangat mengingatnya. Orang lain yang melihat identitas mereka secara langsung harus dilenyapkan segera. Karena jika tetap membiarkan orang itu pergi, itu adalah kesalahan terbesar.

Jongin semakin menekan granit pensil hitamnya diatas kertas. Rahangnya mengeras saat itu juga.

Saat sedang memikirkan jalan keluar, Jongin mengangkat ponselnya yang bergetar dan menerima panggilan diseberang sana.

“baiklah, sebentar lagi aku kesana”

Setelah itu ia memasuki ponselnya kedalam saku celananya. Jongin tau masalah ini masih belum selesai. Tapi ia juga tidak bisa terus berada disini dan membiarkan dirinya terus terpojok dengan pertanyaan Chanyeol.

“aku pergi”

Jongin tiba-tiba bangun dari duduknya. Mata Luhan dan Chanyeol mengikuti tubuh Jongin yang sudah ingin mengambil langkah untuk pergi.

Luhan menahan bahu Chanyeol saat pria itu akan mengejar Jongin. Mungkin Luhan menganggap ini adalah masalah sepele yang bisa diselesaikan dengan mudah tapi tidak untuk Chanyeol. Pria itu menaruh rasa dendam yang teramat besar terhadap gadis itu. Gadis yang sudah melihat mata merahnya serta merasakan betapa panas aura dari tubuh Chanyeol, gadis yang sudah melihat identitasnya secara terbuka.

Ia bahkan tidak mengerti yang dilakukan Jongin malam itu. Kesalahan yang diciptakan sendiri oleh laki-laki itu.

— The Difference —

Hyena tidak bisa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang terlihat lenggang. Ia bisa menghitung berapa jumlah dari kendaraan yang melaju diatas aspal yang basah. Suhu kota Seoul semakin turun menjadi 3 derajat celcius. Hyena bahkan bisa melihat kepulan asap tipis yang selalu keluar dari setiap nafas pejalan kaki.

Tangannya tetap memegang gelas yang putih gading yang berisi cappucino panasnya. Memainkan ibu jarinya pada bibir gelas. Sesekali ia juga menyesap minumannya itu.

Dari sekian banyak tempat duduk yang kosong, Hyena memilih tempat duduk yang berada ditengah ruangan dan duduk didekat jendela berkaca transparan.

Hyena tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Jongin sejak semalam.

Ia merasa dirinya yang aneh. Menerima tawaran menginap dari orang asing yang menyelamatkan hidupnya. Bahkan orang itu juga mengantarnya kerumah dan juga kekampus. Seharusnya tidak perlu seperti itu. Ini terlalu berlebihan menurut Hyena.

Hyena fikir ia juga terlalu merepotkan laki-laki itu.

Ia mengalihkan pandangannya kearah orang yang sedang menarik tempat duduk didepannya. Orang itu tersenyum dan Hyena membalas senyumannya.

“mau pesan sesuatu?”

Orang itu menggeleng pelan dan melihat Hyena dengan senyum kecil yang terhias diwajahnya. Ia melipat tangannya diatas meja dan tetap memikirkan sesuatu. Merasakan dirinya yang berubah gugup dan kehilangan semua kendali diri.

“bagaimana kuliah mu?”

“biasa saja. Meneliti anatomi tubuh, genetika modern, farmakogenetik, bedah saraf” ucap Jongin. “Lalu kau?” sambungnya.

Hyena mengulum senyumnya, “sepertinya materi kuliahku semakin sulit memasuki semester 6”

Jongin menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi yang ia duduki. Laki-laki itu terkekeh pelan, “kau itu pintar, mustahil jika kau menyebut itu ‘sulit’”

Mata Jongin menangkap pergelangan tangan Hyena yang masih berbalut dengan perban. Tiba-tiba perasaannya menjadi bergemuruh tidak karuan. Ia ingat Park Chanyeol.

Kesalahan terbesar yang dilakukan Jongin.

Ia mengutuk perkataannya sendiri jika ia telah membunuh Hyena. Terjepit didalam keadaan yang sulit—menurutnya. Jongin tidak bisa berfikir lebih jauh lagi.

Satu-satunya jalan yang harus dilakukannya adalah menjaga gadis didepannya ini. Han Hyena. Menyembunyikan bukti kehidupannya, walaupun itu sangat sulit untuk Jongin. Mereka berada diruang lingkup yang sama dan sempit.

Gadis itu masih belum tau tentang bahaya yang sedang mengejarnya.

“tangan mu masih sakit?”

Ada nada khawatir dari laki-laki itu. Matanya sekarang sudah beralih pada mata kecoklatan yang selalu membuatnya tenang.

Gadis itu tersenyum kecil dan menggeleng pelan. Membuat hati Jongin lega melihatnya.

“Ahri membantu mengganti perbannya tadi siang”

Ini mungkin terlalu aneh untuk gadis itu, tapi Jongin sedang memikirkan jalan lain agar tetap melindunginya. Berfikir bagaimana caranya agar Chanyeol tidak benar-benar yakin dengan perkataannya.

Hyena menyesap cappucino panasnya dengan sopan. Sedangkan Jongin masih melihatnya. Pandangan Hyena sempat beralih pada Jongin sebelum ia menaruh gelas cappucinonya kembali.

“kau yakin tidak mau pesan?”

Jongin terdiam dan membuat Hyena merasa bingung.

“biar aku yang memanggil pelayan” Tangan Hyena hampir terangkat sebelum Jongin yang menahannya.

“tidak perlu”

Hyena menurunkan kedua bahunya ketika Jongin menarik tangannya kembali. Ada yang aneh dari pria didepannya. Tangan Jongin dingin sama seperti semalam. Hyena melamati tangan Jongin yang sangat pucat.

“kau sakit?”

Jongin menggeleng pelan. Sangat berbeda dari sikapnya semalam. Jongin siang ini terlihat lebih pendiam didepan Hyena hari ini.

Mereka berdua diselimuti suasana canggung. Tidak ada yang berbicara setelah Hyena bertanya kepada pria itu. Hyena menunggu Jongin untuk mengeluarkan suara lebih dulu. Tapi bukan itu yang sedang dipikirkan Jongin.

“kau tidak apa-apa?” tanya Hyena ragu.

Jongin sedikit memajukan tubuhnya dan memandang Hyena dari dekat. Raut wajahnya menunjukkan jika ia sedang khawatir sekarang. Gadis itu menatap aneh Jongin.

“Hyena-ya, kau tinggal sendiri dirumahmu?”

Mata Hyena mengawasi pergerakan iris hitam milik Jongin, “ya, aku sendiri disana. Ada apa?”

“kau tidak merasa bahaya jika tinggal sendiri?”

Hyena tersenyum kecil dan menundukkan kepalanya. Ia tersenyum pada cappucino panasnya yang tinggal setengah. Mencerminkan bentuk wajahnya walau tidak terlalu terlihat.

“awalnya, tapi lama kelamaan aku sudah biasa” Gadis itu mempertemukan lagi bibir gelas itu pada bibirnya. Ia menyesap cappucino panasnya dengan hati-hati.

Jongin menyandarkan bahunya pada punggung kursi. Menatapi Hyena yang masih memandang gelas cappucinonya. Semakin lama, Jongin semakin khawatir. Jongin tidak bisa membiarkan Hyena tinggal sendiri disana.

“kau tidak mau mencari mereka?”

Kata ‘mereka’ yang diucapkan Jongin—tentu saja Hyena mengerti. Pasti yang dimaksud pria itu adalah kedua orangtuanya. Orang tua kandung Han Hyena.

Hyena mendongak dan tersenyum tipis, “mereka tidak membutuhkan ku sejak aku lahir”

Ya, Jongin sudah mendengar cerita Hyena tentang orang tua asuhnya. Panti asuhan, orangtua kandung, kecelakaan—Hyena sudah bercerita semuanya. Gadis itu bilang itu bukanlah masa lalu yang harus ditutup-tutupi dari orang lain. Jadi ia menceritakan semuanya pada Jongin.

Hyena menceritakannya tidak dilandasi alasan apapun. Yang ia katakan pada hatinya adalah ia percaya pada Jongin. Dan Jongin mengerti sampai sejauh ini.

— The Difference —

Jongin terus menghisap darah korbannya. Ia melepas gumpalan kain yang ia gunakan untuk menutup mulut korbannya. Jongin tidak ingin ada jeritan malam ini. Aliran darah yang mengalir disudut bibirnya ia usap dengan ibu jarinya. Pria itu lalu menjilat ibu jarinya sendiri layaknya ada lelehan coklat disana.

Manis.

Setelah puas, pria itu membawa korbannya kehadapan Chanyeol dan meletakkannya dengan sembarang. Sama seperti ia meletakkan barang yang sudah tidak berguna. Mayat itu terjatuh tepat didepan kaki Chanyeol yang sedang menghisap darah lain.

“bakar dia”

Setelah itu Jongin kembali pergi. Tidak ada kata tolong atau terima kasih yang terucap dimulutnya.

Chanyeol juga menjatuhnya korbannya diatas mayat wanita yang dibawa Jongin tadi. Tubuh mereka saling bertumpuk. Kulit pucat pasi yang saling bersentuhan—tanpa darah.

Dengan satu tunjukkan jari, Chanyeol mengeluarkan apinya disana. Begitu mudah, semudah membalikkan telapak tangan.

Dua mayat yang menggenaskan itu mejadi abu dalam seketika. Abunya berbaur dengan pasir yang berada diatas aspal.

— The Difference —

Hyena POV

Kaki ku terasa kaku ketika melihat jalan gelap yang ada didepan ku. Jalan dimana aku bertemu dengan mata menakutkan itu. Jeritan kesakitan dan rasa panas yang masih berbekas dalam ingatan ku. Tidak ada siapapun disana. Jalanan itu masih sama.

Diterangi dengan satu lampu temaram. Sunyi, sepi, dan memiliki aura yang aneh.

Aku berbalik dan tidak ingin melewati jalan itu. Lebih baik menempuh jalan yang panjang, asal aku bisa menyelamatkan hidupku disana.

Lolongan anjing pun ku hiraukan. Aku mengeraskan volume lagu yang menembus indra pendengaran ku.

Tidak fokus dengan apa yang sedang ada dikepalaku sekarang. Yang ku inginkan adalah kedua kaki ku ini bisa sampai diujung jalan dengan cepat.

Udara semakin dingin dan malam semakin larut.

Aku merasa ada aura aneh dibelakang ku. Dingin dan lembab.

Kutolehkan kepalaku kebelakang—tidak ada siapapun disana. Hanya ada pantulan dari sinar lampu yang berada dikaca mobil yang sedang terparkir.

Aku mematikan mp3 player yang sejak tadi kuputar. Berjaga-jaga jika ada sesuatu yang buruk menemuiku lagi.

Setelah merasa keadaan lebih aman, aku membalikkan tubuhku ragu kearah depan. Mengambil langkah besar dan terburu-buru. Ini yang tidak aku sukai sejak awal.

Berjalan pulang kerumah dengan kondisi seperti ini. Setiap hari aku melewati malam demi malam dengan suasana yang sama. Dingin, takut dan mencekam.

Aku semakin mempercepat langkah ku, bahkan hampir berlari kecil.

Kepulan asap tipis semakin sering keluar dari celah bibir ku. Nafas ku terengah-engah. Aku memperlambat langkahku supaya bisa mengatur nafas dengan baik.

Ini mengerikan.

Aku merasa hidupku tidak aman ahkir-ahkir ini. Banyak kejadian aneh yang selalu kutemui dimanapun aku berdiri.

Seperti ada yang selalu mengikutiku.

Tepatnya setelah malam itu berahkir dan berganti menjadi malam ini.

— The Difference —

Jongin POV

Aku bersembunyi dibalik tembok saat ia memalingkan pandangannya kearah ku. Secepat kilat aku menghilang dan bersembunyi dibalik tembok ini.

Ini gila.

Ya, ku akui mungkin aku memang gila.

Aku mengikutinya sejak tadi.

Saat gadis itu menginjakkan kakinya keluar dari rumahnya, berangkat bekerja, berdiri didepan mesin kasir, memberikan pesanan minuman kepada pelanggan, keluar dari cafe, dan yang terahkir sekarang—

Ia berjalan pulang menuju rumahnya.

Kecuali untuk saat-saat tertentu aku berhenti mengawasinya karena harus memenuhi kebutuhan ku.

Saat aku kembali, ia masih berdiri disana. Mengembalikkan kembalian uang kepada pelanggannya. Tersenyum dan membungkuk hormat.

Dia cantik, sopan, dan ramah.

Aku menyukainya.

Han Hyena—matanya yang kecoklatan membuat diriku melupakan perbedaan kami.

Ia mulai berjalan lagi 5 meter didepan ku. Aku terus mengikutinya. Menjaganya dari hal buruk yang mungkin akan terjadi.

Khususnya Park Chanyeol.

jika kau belum membunuhnya biarkan aku yang melakukannya. Dia sudah melihatku

Tangan ku terkepal. Tidak ada yang lebih membuatku panas selain mengingat perkataan Park Chanyeol. Hyena milikku dan tidak akan kubiarkan orang lain menyentuhnya.

— The Difference —

Author POV

Jongin berdiri di samping tempat tidur Hyena.

Hyena tidur dengan nyaman di balik selimut putihnya. Saat tidur, wajahnya begitu tenang dan polos. Sama seperti selembar kertas putih yang belum ternoda sedikit pun.

Jongin merendahkan tubuhnya—menekuk lutut—memandangi wajah Hyena dari dekat. Jongin ingin lebih dekat dengannya. Bukan hanya sebatas sebagai teman atau sahabat. Jongin ingin memilikinya.

Semakin dekat dengan Hyena semakin membuat hati Jongin diliputi oleh perasaan nyaman. Ada sebuah dorongan aneh yang dikepala pria itu. Sesuatu yang membuatnya menghawatirkan gadis itu setiap saat. Jongin selalu ingin berdiri disampingnya. Entah gadis itu tau atau tidak.

“kau milikku”

Tangannya terangkat ingin menyentuh pipi gadis itu. Tapi sebelum benar-benar menyentuhnya Jongin menarik lagi tangannya. Tatapanya nanar.

Ia membalik telapak tangannya yang pucat pasi.

Perbedaan itu kembali muncul dibenak kepalanya. Membuat Jongin semakin merasa frustasi. Kenapa mereka harus berbeda?

aku yang melihatnya pertama kali Jongin. Kau ingat peraturan keluarga nomor 1 kan?

Ia kembali memandang Hyena yang sudah merubah posisi tidurnya. Gadis itu memiringkan tubuhnya kearah Jongin. Membuat Jongin bisa melihat seluruhnya lekukan wajah gadis itu.

Tangan Jongin turun. Ia menatap Hyena dengan yakin.

Aku yang melihatmu pertama kali. Bukan dia. Kau milikku Hyena. Dan selama itu, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu sedikit pun.

Jongin memejamkan matanya dan memberanikan dirinya. Ia mempersempit jaraknya dengan Hyena dan mencium kening gadis itu lembut.

Setelahnya Jongin pergi dan meninggalkan Hyena sendiri disana.

Bersamaan dengan menghilangnya Jongin, mata Hyena terbuka. Ia melihat sekelilingnya dengan penuh rasa terkejut. Seperti merasakan ada yang lain dikamarnya. Hyena mendudukan dirinya dan menyalakan lampu meja. Ia kembali melihat sekelilingnya. Perasaannya bergemuruh aneh. Ia menyentuh dadanya dengan telapak tangannya.

Kenapa jantungnya berdetak begitu cepat?

— The Difference —

Jongin tiba didepan pria yang sedang membalikkan majalah diruang santai dengan perapian kecil yang masih menyala. Entah fungsinya untuk apa. Mungkin ia hanya menggunakannya sebagai kamuflase biasa. Pria itu mendongak dan menutup majalahnya. Alisnya terangkat sebelah melihat Jongin dengan pandangan aneh disana.

“ada apa?”

“aku menyukainya hyung”

Chanyeol menaruh majalahnya diatas meja. Ia berdiri didepan Jongin. Menatap pria itu dengan tanda tanya besar dikepalanya.

“aku menyukai gadis itu. Lepaskan dia” sambung Jongin.

Alis Chanyeol turun kembali pada letak semula. Ia menaruh kedua tangannya didalam saku celana panjangnya. Chanyeol tau siapa gadis yang dimaksud Jongin. Sudah ia duga ini akan terjadi. Chanyeol menatap Jongin datar.

Tidak mungkin ini terjadi lagi.

“dia manusia Jongin”

“aku tau”

“didalam tubuhnya ada aliran darah”

“aku tau”

“dia berbeda dengan kita”

“aku tau hyung”

“kau sama seperti Luhan”

“tidak” Jongin menatap tajam Chanyeol. Ia tidak suka disamakan dengan Luhan. Jongin tau persamaan apa yang dimaksud Chanyeol “aku tidak sama dengan Luhan hyung”

“suatu saat kau juga akan melakukannya. Sama seperti Luhan”

Tangan Jongin terkepal di samping jahitan celananya. Ia hampir memukul Chanyeol saat itu juga. Tidak ada yang benar disini. Jongin harus menahan dirinya atau semua ini akan menjadi lebih sulit untuknya.

Chanyeol juga tidak akan merubah pikirannya. Ia tetap berpegang pada prinsip dan peraturan yang telah dijalani keluarganya selama ratusan tahun.

“jangan memaksakan keadaannya Jongin. Lagipula dia tidak tau kita ini siapa. Kau fikir dia akan menerima kenyataannya”

Jongin sangat tau hal itu. Tidak ada yang lebih menyulitkannya kecuali hal ini. Jongin tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Ia ingin mempertahankan ini lebih lama. Walaupun itu sulit.

2 tahun yang lalu….

“HYUNG!!!”, Jongin berteleportasi menghampiri Luhan di ujung gang yang gelap dan sepi, “apa yang kau lakukan?”, mata Jongin membulat ketika melihat Luhan yang tengah duduk sambil memeluk seorang perempuan yang tidak berdaya.

“aku membunuhnya” ucap Luhan. Nada bicara Luhan sangat parau. Ia mengadahkan kepalanya menatap Jongin yang sedang berdiri didepannya, “aku membunuhnya Jongin”, Luhan memperlihatkan wajah Jaena yang sangat pucat kepada Jongin.

Jongin terbelalak saat melihat luka besar yang ada dileher perempuan itu. Jongin tau itu bukan sekedar luka biasa, itu adalah luka gigitan dari taring vampire yang sangat tajam dan menyakitkan.

“kau membunuhnya?”

“aku tidak bisa menahannya. Insting ku sudah bekerja lebih dulu”, Luhan mengusap darah yang ada disekitar mulutnya dengan telapak tangannya.

Luhan meletakkan tubuh Jaena di atas tanah dengan hati-hati. Ia kemudian menatap Jongin dengan mata nya yang masih berwarna merah, “suatu hari kau akan melakukan hal sama seperti ku Jongin”

Jongin tidak mengeti dengan maksud Luhan.

“hyung,,,”, Jongin semakin mundur ketika Luhan semakin mendekatinya, “kau berjanji akan menjaganya waktu itu”

Luhan berhenti ditempatnya. Warna matanya perlahan kembali seperti semula. Ia mengadahkan kepalanya memandang langit dan tersenyum kecut. Gerhana bulan total sudah berahkir. Bulan sudah berubah menjadi bulan purnama seperti biasanya. Luhan kembali menatap Jongin yang masih berdiri didepannya. Ia berjalan mendekat dan memegang pundak pria itu.

“jangan pernah sekali-kali kau mencintai manusia Jongin. Kau akan merasa sangat menyesal ketika sudah membunuh orang yang kau cintai dengan taring mu sendiri”, Luhan tersenyum kecil dan berjalan meninggalkan Jongin.

Mata Jongin masih meperhatika punggung Luhan yang kian lama semakin menjauh. Jongin bisa melihat nya tadi. Mata Luhan memberikan pandangan lain disana. Ia tau itu.

Ia kemudian melihat kearah jasad Jaena yang mengenaskan. Bekas gigitan Luhan mulai membiri disekitar leher gadis itu. Kulit lehernya robek dan terbuka. Darahnya hampir mengering disana. Ia menghampiri Jaena dan menekuk lututnya disamping gadis itu. Jongin bisa melihat jelas pipi Jaena yang basah. Jaena pasti menangis sebelumnya.

“aku tau kau mencintainya. Aku harap kau bisa memaafkan Luhan hyung dan tenanglah disana Jaena”

TBC

22 responses to “The Difference [Chapter 2]

  1. akirnya di post jugaa 😀

    makinn seruu, mkiin pnsrann smaa klanjutan kisah kai-hyena 😀

    Next partnya jgn malama ya thorr ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s