Ending of The Story [You Should Be Mine sequel, Skip Ver.]

fanfiction 28

Title: Ending of The Story [You Should Be Mine sequel]

Author: J.A.Y

Main Cast:

1.       Kai EXO

2.       Jung Ahyeon (OC)

Support cast:

Genre: Angst, romance, Marriage Life

Length: Oneshoot

Rating: PG-17

Disclaimer: Jalan ceritanya punya author. Harap jangan mengcopy-paste cerita ini.

 

—Ending of The Story—

5 tahun kemudian…

22 April 2018, Seoul.

Semua berjalan baik sampai sejauh ini.

Setelah menyelesaikan program S1 nya setahun yang lalu, ia bekerja di perusahaan milik keluarganya. Ia dikenal sebagai pemimpin yang ramah dan bijaksana. Siapa yang tidak kagum? Jabatan yang menjanjikan, memiliki pegawai yang penurut, digilai banyak wanita, tampan, kaya raya, ramah, dan satu lagi— dia pervert.

Kai sangat berbeda dari Kai 5 tahun lalu. Fisik berubah 75 % sedangkan sifatnya berubah 25 %.

Poni rambutnya yang terangkat keatas, jas hitam, kemeja putih, parfum dengan wangi mint. Semuanya menjadikan Kai sebagai laki-laki yang lebih dewasa, setidaknya dari segi—fisik.

Sifatnya?

Oh, siapa yang tau tentang sifatnya?

—Ending of The Story—

Jarum panjang menunjukkan pukul 3 dan jarum pendeknya menunjukkan pukul 7—pukul 07.15. Tirai berwarna merah muda tipis itu masih setia menutup jendela kacanya yang terkunci rapat. Sinar matahari pagi yang menyehatkan sudah menembus masuk kedalam kamarnya. Kedua mata itu masih terpejam rapat. Posisi tidurnya sedikit berubah dari posisi awal sejak ia tidur semalam.

Selimutnya?

Oh, ia bahkan tidak tau jika setengah dari selimutnya sudah jatuh tergeletak diatas lantai.

Hari ini adalah hari Rabu. Kamarnya yang tenang, suhunya yang menyejukkan, mimpinya yang indah. Ya, Ahyeon sangat menikmati ini semua. Umurnya sudah 22 tahun dan ia baru saja menghadiri acara wisudanya semalam.

Seseorang membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali.

Kai melipat tangannya diperut sambil berdecak pelan. Ini sudah jam tujuh pagi lewat 15 menit dan gadis itu masih bergelung menikmati tidurnya diatas tempat tidur.

Ia menaruh jas biru tuanya diatas meja yang sebelumnya tersampirkan dilengan kanannya. Menggulung lengan panjang kemeja putihnya sampai sesiku, dan melonggarkan sedikit dasinya.

Kai berjalan mendekati gadis itu dan merangkak dengan hati-hati sampai ia tidur telungkup disebelah Ahyeon. Namja itu meniup-niupkan poni tipis Ahyeon dan membuatnya sampai terbelah dua. Oh, Kai suka ini. Ia semakin membelah poni Ahyeon dengan tiupannya dan terkekeh kecil melihat wajah bodoh gadisnya yang sedang tertidur.

Dahi Ahyeon berkerut kecil ketika kulitnya mendapat terpaan angin yang entah darimana asalnya. Gadis itu merasa terganggu dan membalik posisi tidurnya membelakangi Kai.

Namja itu mengangkat alisnya dan mengubah posisi tidurnya.

Bukan Kai namanya jika ia akan berhenti menjahili gadis itu.

Kai memeluk pinggang Ahyeon yang membelakanginya dan merapatkan posisi gadis itu.

“bangun yebbo, ini sudah pagi” bisiknya ditelinga Ahyeon.

Ahyeon hanya bergeliat kecil dalam tidurnya, “ya, lima menit lagi” gumamnya.

“kau mau bangun sendiri atau bangun dengan cara ku, eum?” bisik Kai seduktif di telinga gadis itu.

Oh, cukup seminggu yang lalu Kai menggunakan caranya untuk membangunkan Ahyeon. Dan hasilnya, teriakan histeris mengawali pagi indah gadis itu, hampir seharian Ahyeon harus menatap waspada Kai, memberikan tatapan mengimiditasinya, dan membuat pikiran negatif gadis itu selalu keluar jika Kai berada lebih dekat dengannya.

“baiklah”, Ahyeon bangun dengan lemasnya dan tidak bertenaga sama sekali. Matanya masih terpejam dan mulutnya menggumamkan sesuatu yang membuat Kai terkekeh kecil.

“pintar”, Kai duduk mengikuti gadis itu walaupun Ahyeon membelakanginya, mengacak kecil rambut Ahyeon yang sudah berantakan menjadi semakin berantakan, “kau mau aku siapkan airnya? Air hangat atau dingin?”

Ahyeon tidak menjawab karena ia tertidur kembali dalam posisi duduk. Ya, Kai tau ini. Memang tidak mudah membangunkan Ahyeon. Kai tau gadis itu lelah karena selesai menyusun skripsi dan menghadiri acara wisuda yang panjang semalam. Tapi tidak mungkin ia membatalkan janjinya dengan nona Park hari ini. Nona Park adalah orang yang mendesain tuxedo pernikahannya nanti—termasuk gaun pernikahan Ahyeon.

“diam berarti artinya air dingin” ucap Kai.

Ya, sekitar 2 minggu lagi, atau lebih tepatnya tanggal 6 Mei nanti adalah hari bahagianya dengan Ahyeon. Seorang pendeta, karpet merah, para undangan, janji suci didepan altar, tepuk tangan yang meriah, melemparkan bunga pengantin, dan yang terahkir—malam pertama.

Senyum Kai menghilang dan digantikan dengan gelengan kuat kepalanya. Membayangkan bagian terahkir pemikirannya akan membuat otaknya akan berjalan diatas normal pagi ini. Jika ia terus memikirkan hal itu berlanjut sampai ke bagian—

“astaga!”, Kai mematikan keran air ketika namja itu merasakan telapak kakinya yang tersentuh sesuatu yang basah. Ia segera mematikan keran air dan menghela nafas kecil.

Lihat?

Ia bahkan mengisi airnya terlalu penuh sampai air itu meluap keluar.

“kenapa airnya keluar seperti ini?”

Kai berbalik kebelakang dan melihat Ahyeon yang bingung melihat luapan air yang menyentuh kakinya.

“haha. Aku lupa mematikan keran airnya tadi” ucap Kai. Namja itu sedikit mundur dan membiarkan ruang untuk Ahyeon didepannya.

Ahyeon membuka kancing piyama tipisnya. Tiga kancing itu terbuka sebelum ahkirnya ia menghentikan aktivitas tangannya. Tidak ada suara pintu tertutup dari tadi. Ia menoleh kebelakang dan masih melihat Kai yang berdiri dibelakangnya.

Oh, hampir saja. Otaknya berjalan begitu lamban pagi ini. Bagaimana ia bisa membuka piyamanya ketika Kai masih berada dibelakangnya? Dengan pandangan yang—entah, bagaimana Ahyeon mendiskripsikannya?

“butuh bantuan?” ucap Kai dengan seringaiannya yang membuat Ahyeon selalu takut.

Gadis itu merapatkan piyamanya dan menatap Kai waspada. Ya, seringaian yang Kai berikan secara tidak langsung menyalakan alarm bahaya didalam otak Ahyeon.

“hhh, bisa kau keluar? Aku bisa sendiri”

Kai semakin melebarkan seringaiannya dan mendekatkan diri dengan gadis itu, “benar tidak mau? Biar aku yang membukanya?”

“Yaaaa!!! Dasar pervert!! Cepat keluar!!”, Ahyeon segera mengambil botol shampo nya dan memukul lengan Kai dengan benda itu, mendorong tubuh namja itu keluar kamar mandi dan mengunci pintunya rapat-rapat. Semakin bahaya jika ia membiarkan Kai berlama-lama dalam kamar mandi ini.

Kau terkekeh kecil di luar. Ya, ini yang selalu dilakukannya dengan gadis itu. Tiada ada hari yang Ahyeon terlewatkan tanpa seringaian dan kejahilan khusus darinya.

Kai berjalan kearah jendela dan menyibakkan tirainya. Membuka jendela itu dan membiarkan udara segar masuk dengan leluasa. Ia mematikan pendingin ruangan dan merapikan selimut gadis itu dengan rapi. Ia juga merapikan bantal tidur gadis itu. Oh, hampir semua ini Kai yang melakukannya, walaupun tidak setiap hari.

Ia tersenyum kecil ketika melihat ikat rambut gadis itu yang tergeletak diatas meja nakas. Ia memainkan ikat rambut itu dan tersenyum jahil kearah pintu kamar mandi. Yang ia tau gadis itu belum mengikat rambutnya ketika berada di kamar mandi tadi.

Dan benar saja, pintu kamar mandi itu langsung terbuka walaupun—hanya sedikit. Kai tau apa yang dilakukan gadis itu didalam sana. Mungkin ia sedang merutuki dirinya sendiri karena meninggalkan ikat rambutnya.

“kau butuh sesuatu?” tanya Kai.

“ohh, kau masih disitu?”

“ya, hanya merapikan sedikit. Kenapa?”

Ya, Kai tau mungkin Ahyeon akan menanyakan benda yang ada ditangannya ini.

“apa ikat rambut ku ada disitu?”

Bingo!! Kai tersenyum miring, berjalan lebih dekat ke kamar mandi dan berdiri tepat didepan pintunya.

“ada ditangan ku”

“aku membutuhkannya, bisa kau berikan?”

“sekarang?”

“iya sekarang”

“ambil sendiri ditangan ku”

“a,,, apa??”

“kenapa apa sekarang kau sedang tidak berbusana?”

“YAAA!! Cepat berikan saja?”

“ambillah sendiri. Aku masih disini”

“dimana?”

“buka saja pintunya. Aku ada didepan pintu sekarang”

“KAU GILA EOH!!!”, tangan Ahyeon yang sudah basah menjulur keluar pintu. Bergerak, seolah-olah ia sedang meraih udara hampa ditangannya itu, “mana? Cepat berikan?”

Kai menahan tangan Ahyeon yang selalu bergerak didepannya. Dingin dan basah. Serat-serat saraf yang menghantarkan implus keotaknya bekerja dengan cepat. Setelahnya Kai dan Ahyeon justru bertarik-tarikan tangan. Gadis itu berusaha menarik tangannya dari Kai, tapi namja itu tetap menahannya.

Bukan apa-apa.

Tapi?

Gadis itu selalu tau jalan pikiran namja itu. Ini masih pagi dan semua orang tau itu. Ahyeon sedang berada dikamar mandi dan Kai berada diluarnya dengan kondisi pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Karena Ahyeon tetap berusaha memperkecil celah pintunya, maka ia rela jika lengan tangannya itu terjepit dan menimbulkan bekas garis pintu yang samar di kulitnya.

Mungkin bagi Kai ini semakin lucu.

Tapi tidak untuk Ahyeon.

Keberadaannya justru semakin terancam.

“aku,,, aku tidak jadi dengan ikat rambut itu. Aku tidak memerlukannya lagi sekarang”

Kai melepas tangan Ahyeon. Dengan gerakan cepat, Ahyeon segera menarik tangannya kedalam dan menutup pintu lagi serapat mungkin. Kai hanya tertawa kecil melihat kepanikan gadis itu. Bahkan diluar kepala sekalipun, Kai tetap bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah yang diciptakan Ahyeon jika sedang panik.

“jangan lama-lama baby, hanya 15 menit”

Ahyeon menggerutu kesal didalam kamar mandi. Menatap tajam kearah pintu bercat putih yang tidak bersalah. Bukan. Sebenarnya buka pintu itu yang ia layangkan tatapan tajam, tapi lebih tepatnya—orang yang ada dibalik pintu itulah yang sedang ia tatap.

—Ending of The Story—

Desainer berambut panjang itu memperlihatkan sebuah patung yang terbalut gaun cantik yang terbuat dari bahan organza berwarna putih di depan pasangan itu. Cantik dan elegan. Bagian bawah gaun itu menjuntai kebawah menyentuh lantai marmer berwarna gading dengan mewahnya.

Ahyeon menyentuh bahan lembut gaun itu, menyusuri matanya dari atas sampai bawah. Mengagumi betapa indahnya gaun berwarna putih itu didepan matanya.

“kau suka? Aku bisa menambahkan beberapa hal lagi disini”

“tidak. Ini sangat indah. Tidak perlu ditambahkan apapun lagi”

Kai juga ikut memperhatikan gaun itu. Memang tidak ada yang aneh dari segi fisik, hanya saja ketika Kai memutari gaun itu dan melihatnya dengan seksama, ia merasa masih ada bagian dari gaun itu yang aneh. Entah memang bentuknya yang seperti itu atau bukan, Kai juga tidak tahu.

“sepertinya bagian atasnya terlalu sempit?”

Mata Ahyeon langsung memincing kearah laki-laki itu yang masih memperhatikan gaun itu.

“apa maksud mu?”

“sepertinya ukuran gaun ini harus diperbesar beberapa centi lagi”

“yaaa, ini sudah sesuai dengan bentuk tubuh ku”

“kau kan mengukur ukuran tubuhmu sebulan yang lalu, siapa tau kau bertambah gemuk”

“a,,, a,,, apa?”

Kai masih berdiri di belakang patung itu. Memandang gadis itu tanpa ada rasa bersalah sedikitpun dari ucapannya, “apa? Aku benar kan? Lihat ini—“, Kai melingkarkan tangannya dipatung itu. Menganggap jika pinggang patung itu adalah pinggang gadis yang selalu ia peluk setiap hari, “pinggangmu tidak sekecil ini tadi pagi”

Wajahnya sudah sedikit memerah. Mungkin Kai tidak sadar, tapi gadis itu sudah merasa tersinggung dengan ucapannya tadi.

Nona Park menatap Ahyeon dan Kai bergantian. Ia bahkan ragu jika keduanya akan menjalanai hubungan rumah tangga yang baik setelah menikah nanti. Lihat saja bagaimana santainya Kai membalas tatapan mengimiditasi dari gadis didepannya.

“ahh, bagaimana jika kau mencobanya sekarang eum?” ucapnya kepada Ahyeon. Setidaknya harus ada yang menengahi kedua orang itu.

“itu benar. Sebaiknya kau mencobanya sekarang” ucap Kai. Namja itu berjalan ke sofa besar berwarna hijau muda dan mendudukan dirinya disana.

Pegawai nona Park membantu membawakan gaun itu kedalam ruang ganti. Ahyeon menatap ragu kearah gaun nya yang dibawa oleh kedua pegawai wanita itu.

Ya, memang ia akui belakangan ini ia tidak mengatur pola makannya dengan baik. Dan Ahyeon lebih suka makan ditengah malam ketimbang di jam malam biasanya. Dengan perasaan ragunya, gadis itu mengikuti kedua pegawai nona Park kedalam ruang ganti.

“sementara Ahyeon mencoba gaunnya. Aku akan mengambil pakaian mu dulu dibawah” ucap nona Park.

Kai mengangguk tersenyum kepada wanita yang berusia 26 tahun itu. Ketika nona Park sudah menuruni anak tangga, Kai berdiri melihat-lihat rancangan gaun yang terpajang di setiap sudut ruangan ini. Setiap detilnya tidak ada kekukarangan apapun dari gaun-gaun rancangannya. Kai berdecak kagum.

Beruntungnya Kai, Chanyeol mau memperkenalkan sepupunya kepadanya. Park Lea adalah sepupu perempuan Chanyeol yang sudah tinggal 20 tahun di London. Ia adalah desainer berbakat diusia mudanya.

“ohh, sudah selesia?” tanya Kai kepada kedua pegawai wanita tadi.

“belum, nona Ahyeon ingin memakai gaunnya sendiri” jawab salah satu pegawai wanita itu.

Kai menatap tirai berwarna putih salju yang menutupi ruang ganti, “kalian turun saja kebawah”

“tapi,,,”

“Ahyeon sudah menyuruh kalian keluarkan? Itu artinya dia bisa melakukannya sendiri”

Kedua pegawai itu menunduk dan segera memberi hormat kepada Kai. Seiring menghilanganya kedua pegawai tadi, seringaian itu semakin terlihat jelas diwajahnya.

Didalam ruang ganti, Ahyeon sedang menahan nafas kesekian kalinya. Tangannya kebelakang punggung, mencoba menarik resleting gaun yang sangan sulit untuk ditarik keatas. Ia sudah menarik nafas dan menahan perutnya agar lebih mudah menarik resleting itu keatas, tapi tetap tidak bisa.

Gadis itu menghela nafas kasar. Ia menatap pantulan dirinya yang terbalut gaun yang begitu cantik. Tapi sayangnya, saat ia memiringkan tubuhnya, helaan nafas kecil itu keluar lagi dimulut mungilnya.

“apa aku gendut?”

“benarkah?”

Ahyeon masih tidak percaya jika tubuhnya bertambah gemuk seperti yang dikatakan Kai. Apa bertambah beberapa centi saja sangat berpengaruh terhadap ukuran gaunnya?

Ahyeon membuka sedikit celah tirai putih yang menutupi ruang gantinya. Dahinya mengkerut saat tidak melihat pegawai wanita yang tadi.

“apa mereka pergi?” gumam gadis itu.

Ahyeon mengerluarkan kepalanya sedikit dan melihat kesekitarnya. Persis seperti seorang pencuri yang berada dikomplek perumahan.

Ahyeon menggerutu didalam gumamannya. Satu tangannya tetap berada dibelakang punggungnya, mempertahankan gaunnya agar tidak membuka punggungnya terlalu lebar dan tangan yang satunya lagi tetap memperkecil celah tirainya.

“sudah selesai?”

Kepalanya terkesiap saat melihat Kai yang sudah berdiri didepannya.

“mana pegawai yang tadi?”

“kusuruh mereka turun dan membantu Lea dibawah”

“apa?”

“kau yang menyuruh mereka keluar kan?”

Memang benar Ahyeon menyuruh mereka keluar, tapi bukan berarti benar-benar harus keluar seperti itu. Setidaknya mereka harus berjaga diluar ruangan. Karena Ahyeon tidak ingin membuka pakaiannya didepan orang lain bahkan wanita sekalipun. Gadis itu merasa risih, jadi ia menyuruh mereka semua keluar. Jika sudah selesai Ahyeon akan memanggil mereka lagi.

Ia fikir tidak ada yang salah sejauh ini. Tapi ia salah.

Sekarang Ahyeon sedang kesulitan dengan resleting gaunnya sendiri dan tidak ada kedua pegawai itu.

“kau sudah selesaikan? keluarlah, aku ingin melihat” ucap Kai.

Gadis itu meneguk berat salivanya. Ia tidak tau harus berkata sudah atau belum. Jika ia berkata belum dan mengatakan alasannya, namja itu pasti akan menertawakannya lagi seperti tadi pagi. Jika sudah, Kai pasti akan menyuruhnya keluar dan namja itu pasti bisa melihat punggungnya yang terbuka lebar.

Mengerti sampai disini?

Ahyeon semakin mempererat jemarinya pada kain tirai yang licin itu, “aku,,,”

Kai menaruh majalahnya diatas meja dan menyibakkan tirai itu lebar-lebar dengan kedua tangannya. Membuat Ahyeon harus memundurkan tubuhnya dan merapatkan punggungnya ke cermin besar.

Kai mematung ditempatnya. Melihat Ahyeon yang begitu cantik dengan gaun berwarna putih. Tidak ada yang kurang ditubuh gadis itu, semuanya terlihat sempurna dimata Kai. Tapi—

Kai mengangkat sebelah alisnya, “kenapa berdiri seperti itu?”

Ahyeon merapatkan kedua tangannya dibelakang punggung. Membuat seolah-olah bahwa tubuhnya menempel di cermin itu.

Kai berjalan lebih dekat dan Ahyeon semakin merapatkan tubuhnya kebelakang. Namja itu semakin bingung dengan gadis didepannya sekarang.

“ada apa dengan mu?”

Ahyeon diam dan hanya mengalihkan pandangan matanya kearah lain. Wajahnya sedikit memerah dan tangannya sudah sangat lelah terus berada dibelakang punggungnya.

Kai menyentuh tangan gadis itu dan akan mengajaknya keluar, tapi Ahyeon menahan tangannya. Pertahanan yang dibuat Ahyeon semakin membuat Kai semakin bingung. Kai melihat keseluruhan dari gadis itu, tidak ada yang salah.

“kau kenapa eum?”

Ahyeon menggit kecil bibirnya dan menghela nafas kecil. Rasanya sangat tidak pantas jika ia meminta tolong namja itu untuk menaikkan resleting gaunnya.

—Ending of The Story—

“mereka sudah sampai 15 menit yang lalu” ucap nona Park.

Ibu Jongin tersenyum dan memberikan mantel putihnya pada salah satu karyawan disana. Matanya tiba-tiba beralih kepada pakaian yang tengah dibawa nona Park, “itu pakaian untuk Jongin?”

Nona Park menunduk melihat tuxedo putih yang masih menggantung ditangannya. Ia kemudian tersenyum dan mengangguk.

“kalau begitu kita langsung saja menemui mereka diatas” ajak ibu Jongin.

Kedua wanita itu menaiki anak tangga, diikuti beberapa asisten nona Park. Sesampainya diatas, pandangan mereka mengedar kesegala arah. Tidak ada siapapun diruangan itu.

“bisakah kau menahannya lagi”

Alis mereka semua bertautan mendengar suara berat yang tertahan dari balik tirai. Semuanya melihat kearah tirai yang menjadi penutup ruang ganti. Para asisten nona Park saling berpandangan satu sama lain. Sedangkan nyonya Kim sedang meragukan pikirannya sendiri. Suara itu adalah suara Jongin.

Tapi apa yang dilakukan anak itu didalam? Nonya Kim memberanikan dirinya mendekati ruang ganti itu. Semakin dekat dan semakin dekat. Sampai ahkirmya ia menghentikan langkah kakinya.

“aku sudah tidak bisa. Bisa kau percepat?”

Semua terkejut saat mendengar suara lain dibalik tirai itu.

“tahan lah Ahyeon, sedikit lagi hampir selesai”

“pelan-pelan. Kau bisa merobeknya”

“ughhh, ini sangat sulit”

Nyonya Kim menahan nafasnya. Ia hampir saja terkena serangan jantung ditempat. Kedua lututnya melemas. Semua orang yang berdiri disekitarnya sudah berfikiran macam-macam. Entah mereka yang memiliki pikiran kotor atau tidak. Tapi suara-suara itu sudah memancing pikiran mereka.

“sedikit lagi baby”

“ahhh”

Kedua orang itu mendesah lega didalam ruang ganti. Entah sudah berapa kali Ahyeon menahan nafasnya disana. Begitu juga dengan Kai. Keringat membasahi dahi keduanya.

“tapi oppa, ini sempit”

“pasti karena ukurannya”

Nyonya Kim sudah tidak tau harus berkata apa. Kedua lututnya benar-benar melemas sehingga ia hampir terjatuh jika tidak ditahan dengan nona Park dan para asistennya. Mereka membantu nyonya Kim duduk diatas sofa. Satu diantaranya ada yang langsung memberikan segelas air putih dan ada yang mengipasi wanita itu dengan majalah yang ada diatas meja.

Didalam ruang ganti, Kai menatap pantulan Ahyeon yang terlihat cantik. Pria itu memeluk Ahyeon dari belakang, melingkarkan tangannya dipinggang gadis itu.

“kau cantik” bisik Kai ditelinga gadis itu

Ahyeon tersenyum simpul. Ia juga ikut menggenggam tangan Kai yang melingkar diperutnya. Mereka saling bertautan tangan sekarang.

“sepertinya aku bertambah gemuk”

Kai terkekeh pelan dan menaruh dagunya diatas bahu Ahyeon yang terbuka. Pria itu bisa mencium jelas aroma wangi yang lembut dari tubuh gadis itu. Aroma lembut seperti wangi bunga dan buah yang lembut. Kai sangat menyukainya.

“hanya bertambah beberapa centi kurasa itu tidak masalah”

Ahyeon melepas pelukan Kai dan membalik tubuhnya berhadapan dengan pria itu. Gadis itu sedikit berjinjit dan mencium kilat pipi Kai.

“ayo keluar”

Tangan Kai sudah ditarik lebih dulu oleh Ahyeon. Gadis itu memang sengaja langsung membuang pandangannya kearah lain. Tanpa diberitahu, Kai sudah mengetahuinya lebih dulu. Wajah Ahyeon pasti sudah memerah dan ia tidak ingin menunjukkannya pada laki-laki itu.

Ahyeon membuka lebar tirai penutup berwarna putih itu. Wajahnya seketika bingung melihat banyak orang yang berkerumun disofa.

Bukan hanya Ahyeon yang bingung. Tapi Kai juga.

“ohh astaga!” Nona Park membalik tubuhnya terkejut. Bak seseorang yang baru saja melihat hantu. Ia terkejut melihat Kai dan Ahyeon yang sudah dibelakangnya.

Mata Kai membulat saat melihat eommanya yang tidak sadarkan diri di sofa. Laki-laki itu segera menghampiri eommanya dan melihat keadaannya. Ahyeon juga tidak berdiam diri begitu saja. Ia ikut menghampiri wanita yang tidak sadarkan diri itu.

“eomma kenapa?” tanya Kai.

“dia pingsan tadi” jawab nona Park.

“eomma, kau mendengar suara ku?”

Mata nyonya Kim terbuka perlahan. Ia bangun dan dibantu duduk oleh Ahyeon dan Kai. Nyonya Kim memandang anaknya tidak percaya.

“kau mempermalukan eomma Jongin”

Alis Kai bertautan. Pria itu memandang Ahyeon dan beralih lagi ke eommanya.

“maksud eomma?”

“bisakah kau menunggu sampai hari itu tiba? Kenapa kau melakukannya Jongin, ditempat ini. Kau memalukan?”

Kai semakin bingung. Ahyeon menenangkan nyonya Kim dengan mengelus bahu wanita itu pelan. Kai melempar pandang kepada Ahyeon, menanyakan maksud eommanya. Tapi gadis itu hanya mengangkat bahunya dan menggeleng pelan. Ia juga tidak tau maksudnya.

“apa yang kau lakukan didalam tadi benar-benar sudah memalukan?”

“eomma, aku—“

“kau sama saja dengan ayahmu”

“eomma a—“

“hari pernikahan mu 2 minggu lagi Jongin. Tidak bisakah kau menunggu sedikit lagi? 2 minggu bukanlah waktu yang lama”

“eomma, aku tidak mengerti” ucap Jongin “aku hanya membantu Ahyeon dengan gaunnya didalam. Apa itu termasuk hal yang memalukan?”

Nyonya Kim terhenyak ditempatnya. Ia memandang Ahyeon disebelahnya yang sudah memakai gaun berwarna putih.

“oppa benar. Dia hanya membantu ku didalam. Aku sedikit kesulitan dengan bagian resleting gaun ini” ucap Ahyeon meyakinkan wanita paruh baya itu.

“itu benar?”

Ahyeon mengangguk yakin. Sedangkan nyonya Kim masih terpaku ditempatnya. Apa yang barusan difikirkannya? Ia berfikiran anaknya sudah melakukan hal yang tidak-tidak.

“eomma fikir kalian tadi—“ Nyonya Kim memandang putranya yang bingung, “ahh, sudahlah lupakan”

“eomma sedang sakit? Sebaiknya eomma tidak perlu kesini” ucap Kai yang masih terlihat khawatir.

“tidak apa-apa. Ahh, sebaiknya kau juga mencoba pakaian mu”

Nona Park menyerahkan tuxedo putih Kai kepada nyonya Kim. Kemudian nyonya Kim menyerahkannya kepada Kai.

Kai menerima tuxedo itu dengan ragu. Perasaannya masih saja belum tenang. Mungkin karena perkataan eommanya yang masih membingungkan di kepalanya.

—Ending of The Story—

Houston, Texas, United States.

Baekhyun tersenyum miris melihat kertas undangan yang berada diatas mejanya. Ia menekan jemarinya diatas kertas undangan itu. Entah perasaan mana yang lebih dominan ia rasakan. Lega atau sakit. Baekhyun merasakan keduanya.

6 Mei 2018, Jung Ahyeon & Kim Jongin

Baekhyun seakan memakan senjatanya sendiri. Perasaan aneh yang mulai kembali kedalam relung hatinya. Ya, Baekhyun tidak memungkiri perasaan itu lagi.

Baekhyun menahan tengkuknya dan mengadahkan kepalanya. Merasakan betapa lelah tubuhnya. Baekhyun tidak tidur semalaman karena harus menyelesaikan proposal proyek barunya. Sampai detik ini Baekhyun berusaha keras melepaskan perusahan ayahnya dari garis perusahaan milik keluarga Jung.

Ya, Baekhyun tahu itu semua.

Sebuah ketukan pintu mengembalikan kesadarannya. Baekhyun menyuruh sekertarisnya masuk dan mengantarkan seorang gadis yang berusia sama dengannya. Gadis dengan paras yang manis, rambutnya yang sedikit bergelombang diikat setengah. Ia menggunakan pakaian dengan warna yang manis serta aroma parfum yang lembut.

Gadis itu menyuruh sekertaris Baekhyun agar mengantarnya cukup sampai disini. Setelah sekertaris itu pergi ia menghampiri Baekhyun yang sudah tersenyum kepadanya sejak tadi.

“kau sibuk?”

“tinggal sedikit lagi. Aku akan menyelesaikan yang satu ini dulu”

“mmm, baiklah” Gadis itu tersenyum mengangguk, “aku akan menunggu mu”

Baekhyun kembali melanjutkan pekerjaannya. Gadis tadi berjalan menuju sofa dan mendudukan dirinya disana. Ia menaruh tas nya disamping dan mengambil majalah tentang bisnis yang berada dibawah meja.

“Baekhyun-a, bagaimana jika kita bertemu ayah dirumah sakit?”

Baekhyun mendongak dan berfikir sebentar, “baiklah, setelah ini kita menjenguk ayahmu”

Gadis itu kembali tersenyum dan melihat lagi kearah majalah yang berada dipangkuannya. Baekhyun belum mengalihkan matanya dari gadis itu. Senyumnya perlahan menghilang digantikan dengan tatapan nanar kearah gadis itu.

Gadis yang bersamanya hampir setahun terahkir ini benar-benar mengingatkan dirinya dengan Ahyeon. Nama mereka sama. Gadis itu bernama Ahyeon atau lebih tepatnya Seo Ahyeon.

Nama yang sama tapi dengan wajah yang berbeda. Bagaimana cara gadis itu tersenyum, tertawa, bingung, panik, semuanya mengingatkan Baekhyun. Setiap Baekhyun memanggil nama gadis itu yang selalu diingatnya adalah seorang Jung Ahyeon, bukan Seo Ahyeon.

Seo Ahyeon memiliki sifat yang lebih dewasa dan begitu pengertian. Penyabar dan keibuan. Berbeda dengan Jung Ahyeon.

Baekhyun kembali terjebak pada lubang gelap yang lebih sulit dari sebelumnya. Ia benar-benar tidak bisa melupakan Jung Ahyeon di hatinya. Mungkin ini adalah teori kehidupan yang benar-benar membuat akalnya pusing. Terjebak dalam seorang gadis yang memiliki nama yang sama.

Tuhan sudah menuntun jalan kepadanya sampai sejauh ini. Katakanlah jika ia egois atau semacamnya. Ia memang tidak bisa memiliki Jung Ahyeon seutuhnya, tapi dengan kehadiran Seo Ahyeon—Baekhyun merasa memiliki wanita itu dengan penuh.

—Ending of The Story—

Seoul, 06:30 PM

Ahyeon sibuk dengan pisau dapur dan tahu putihnya. Matanya memincing tajam ketika ia terlalu kecil memotong ukuran tahu putihnya. Membuat potongan itu berbeda dengan potongan tahu yang lainnya.

“bisakah oppa menunggu dulu? Kau menyulitkanku”

“mmm, aku tetap ingin disini” gumamnya.

Kai semakin mengeratkan lingkaran tangannya dipinggang gadis itu. Menumpukan dagunya di bahu Ahyeon. Gadis itu pasti merasa tubuhnya yang berat sebelah karena perbuatan Kai. Tapi Kai tetap tidak peduli. Yang ia inginkan adalah tetap berada di sisi gadis itu.

Ahyeon tidak tau kapan Kai berubah manja seperti ini. Yang jelas, Ahyeon selalu merasa kesulitan jika Kai seperti itu.

Dari tadi yang Ahyeon lakukan hanya memotong bahan masakannya. Tidak ada kompor yang menyala atau kuah sup kaldu yang sudah mendidih. Mati-matian ia belajar untuk ini. Siapa lagi kalau bukan Kai yang menyuruhnya. Kai bilang jika mereka sudah menikah nanti, ia tidak mau memakai jasa pembantu rumah tangga atau apapun itu. Yang ia inginkan adalah memakan masakan Ahyeon setiap pagi dan malam.

Eommanya sudah memberikan beberapa tawaran untuk itu. Tapi Kai dengan tegas menolaknya. Itu yang membuat Ahyeon merenggut kesal malam itu.

“aku ingin mengambil lobak putihnya dulu”

“nanti saja”

Kai menahan pergerakan Ahyeon dan tetap membiarkan gadis itu didalam pelukan hangatnya. Mata laki-laki itu terpejam dengan damainya, menghirup aroma lembut dari gadis itu dibahunya. Ahyeon selalu membuat Kai menjadi gila walaupun ia tidak melakukan apapun.

Ahyeon melepas semua pekerjaannya. Meremas telapak tangan Kai yang juga ikut menggenggam tangannya. Ia menggigit kecil bibirnya dan berusaha menahan sesuatu disana. Ahyeon sudah tidak merasakan Kai menumpukan dagunya disana. Yang ia rasakan adalah Kai sudah menyibakkan rambut panjangnya kesamping dan bibir pria itu yang mulai menyentuh permukaan kulit lehernya.

Kai lupa bagaimana ia mengendalikan keinginannya. Semua yang ada digadis itu, Kai menginginkannya. Ada pikiran gila yang memasuki pikirannya malam ini. Ia ingin sedikit ‘bermain’.

Kai melepaskan sentuhan bibirnya dengan leher gadis itu. Membalik tubuh kecil perempuan itu dan membawa tatapan matanya dalam menembus iris hitam milik Ahyeon.

Semakin lama, nafas keduanya saling bertemu. Kai mempersempit jarak mereka. Sebelah tangan Kai sudah bertengger manis dipinggang gadis itu. Sedangkan tangan sebelahnya lagi menuntun tengkuk gadis itu.

Kai yang memulainya dengan sentuhan lembut. Lumatan-lumatan kecil yang bisa membuat gadis itu merasa melayang. Ahyeon lupa bagaimana caranya ia bisa berfikir secara jernih. Semua sentuhan yang Kai ciptakan selalu membuatnya berfikir dibawah garis normal.

Ahyeon menyukainya.

Ia juga membalas dan membuat Kai tersenyum disela-sela aktivitas mereka. Tidak ada yang mereka takuti lagi. Mereka saling menikmati dan menyalurkan kelembutan didalamnya. Tidak ada paksaan yang membuat gadis itu takut.

—Ending of The Story—

6 Mei 2018, 09:15 AM—Yoido Full Gospel Church, Seoul.

Semua undangan telah duduk disetiap kursi panjang berwarna coklat. Di depan pintu masuk sampai tempat altar digelar karpet merah serta ada taburan kelopak bunga mawar putih. Bunga baby breath menghiasi setiap sudut ruangan yang bernuansa putih dan merah maroon tersebut.

Setelah lilin dinyalakan dan orang tua wanita telah duduk, musik dimainkan. Sang pendeta berjalan pertama kali diawal mars pernikahan, mengambil tempat ditengah ruangan gereja.

Kai mengikuti pendeta itu dengan ayahnya masuk kedalam—berdiri didepan—disamping sang pendeta.

Selama lagu itu masih berlangsung, pengiring pengantin, pembawa cincin dan semua orang yang mengambil bagian dalam pernikahan mengambil tempatnya masing-masing.

Kai merasakan detak jantungnya yang berdetak diatas garis normal. Tangannya yang terbungkus sarung tangan dengan bahan yang lembut berwarna putih sudah basah karena keringat dinginnya. Rambutnya menjulang keatas—memperlihatkan betapa tampannya Kai sekarang.

Tidak lama kemudian, yang ia nanti-nantikan ahkirnya tiba. Ahyeon tiba dengan pamannya memasuki pintu gereja dengan anggunnya. Ada beberapa anak kecil yang mengikuti dibelakang mereka. Membawa keranjang bunga dan menaburkan bunga itu disetiap langkah mereka.

Kai tersenyum kearah Ahyeon dan langsung disambut dengan semburat merah dipipi gadis itu. Ahyeon sedikit menunduk untuk menyembunyikan senyum malunya. Ia sama seperti Kai. Tangannya yang sudah berkeringat semakin menggenggam tangan pamannya.

Sampai didepan Kai, paman Jung memberikan telapak tangan Ahyeon dengan lembut kepada pria itu. Begitu tangan keduanya bertemu, hal pertama yang mereka rasakan adalah sebuah genggaman kuat dari pasangan masing-masing.

Suasana begitu tenang dan damai. Mereka yang berada didalam gereja itu begitu menghormati jalan pernikahan dari pasangan itu.

Setelah sang pendeta mengucapkan kata-kata yang ia sampaikan sebelum janji pernikahan, pendeta lalu mengambil tempat di depan mimbar, memberi isyarat kepada pengantin untuk datang kehadapannya, memberi isyarat kepada pendamping pria dan wanita untuk mengambil tempat mereka di sisi yang lain, lalu upacara pernikahan dimulai.

“saudara Kim Jongin bersediakah anda, dihadapan Tuhan dan disaksikan oleh seluruh manusia yang berada disini, berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah maupun senang, wanita di sebelah kanan anda yang sekarang sedang anda genggam tangannya. Apakah anda berjanji untuk menempatkan dia sebagai yang utama dari segala hal, menjadi suami yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung bagi dia, dan hanya bagi dia, selama-lamanya hingga akhir hidup anda? Bersediakah anda?” ucap sang pendeta.

“saya bersedia” ucap Kai.

“apakah anda bersedia untuk mengambil dia sebagai istri yang sah, selama masa hidup anda berdua? Bersediakah anda?”

“saya bersedia”

Kini giliran pendeta itu yang menatap Ahyeon.

“saudari Jung Ahyeon bersediakah anda, dihadapan Tuhan dan disaksikan oleh seluruh manusia yang berada disini, berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah maupun senang, wanita di sebelah kanan anda yang sekarang sedang anda genggam tangannya. Apakah anda berjanji untuk menempatkan dia sebagai yang utama dari segala hal, menjadi suami yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung bagi dia, dan hanya bagi dia, selama-lamanya hingga akhir hidup anda? Bersediakah anda?” ucap sang pendeta.

“saya bersedia”

“apakah anda bersedia untuk menerima dia sebagai suami yang sah, selama masa hidup anda berdua? Bersediakah anda?”

“saya bersedia” ucap Ahyeon.

Kai tersenyum bahagia. Tidak ada lagi yang lebih membahagiakannya selain hari ini. Ahyeon resmi menjadi miliknya. Kai bahkan tidak bisa menurunkan senyumannya hanya untuk semenit. Hatinya diisi oleh perasaan hangat yang membuatnya nyaman. Sangat nyaman.

Pendeta sudah selesai mengucapkan doanya. Kini tinggal berlanjut keacara yang selanjutnya. Penyematan cincin. Pembawa cincin yang tak lain adalah Seorin mendatangi dirinya dan Ahyeon.

Kai mengambil satu cincin dan menyematkannya dijari manis gadis itu. Begitu juga dengan Ahyeon. Ia melakukan hal yang sama dengan pria itu. Menyematkan cincin dijari manis Kai dan diiringi dengan tepukan tangan dari para undangan.

Kai membuka kain tipis yang menutupi wajah gadis itu sejak tadi. Ahyeon tersenyum dan Kai juga ikut membalas senyumannya.

Jika dulu mereka berjalan dijalannya masing-masing, kini mereka berjalan dijalan yang sama. Ahyeon dan Kai sudah resmi menjadi pasangan suami istri hari ini. Menjalani kehidupan rumah tangga yang manis dengan anak mereka kelak.

Kai mengecup kening gadis itu dengan penuh rasa sayang. Kini bibirnya berpindah ke bibir gadis itu. Ya, tidak ada ciuman disana. Kai hanya mengecupnya sebentar dan beralih ke pipi gadis itu yang sudah bersemu merah.

Ahyeon dan Kai membagi senyum bahagia mereka dihadapan orang tua mereka juga para undangan. Ada Sehun, Hyesung, Kris, Joon Myeon, Chanyeol, Seorin, dan Lea. Ji Eul dan Luhan menyampaikan permohonan maaf mereka lewat sebuah bingkisan kecil. Ya, mereka berdua tidak bisa datang menyaksikan langsung upacara pernikahan mereka.

Kai dan Ahyeon mengerti. Luhan dan ji Eul sekarang menetap di China. Ji Eul menjadi salah satu pengajar siswa sekolah dasar disana. Dan Luhan meneruskan perusahaan neneknya. Oh, ada satu lagi yang terlewat. Mereka sudah menikah sejak 6 bulan yang lalu.

Joon Myeon dan Seorin bisa menyempatkan waktu mereka untuk datang. Walaupun hanya 2 hari di Seoul.

Ahyeon masih mencari-cari orang yang seharusnya juga berada diantara mereka. Matanya terus mengedar sampai ke barisan belakang tempat duduk para undangan. Sampai ahkirnya helaan nafas kecil itu keluar dari sela-sela bibir mungilnya.

—Ending of The Story—

Sampai acara itu selesai pada malam hari dan semua undangan sudah pulang kerumahnya masing-masing, Ahyeon dan Kai juga ikut pulang seperti yang lainnya.

Didalam mobil—masih dengan gaun yang sama, Ahyeon duduk disamping Kai. Membiarkan kepalanya bersandar pada bahu pria itu. Genggaman tangan Kai membuatnya semakin hangat. Ahyeon hampir saja tertidur jika Kai tidak membangunkannya.

“kau lelah?”

Ya, Ahyeon akui ia sangat lelah. Memakai gaun yang besar, sepatu hak tinggi, berdiri selama berjam-jam. Siapa yang tidak lelah dengan itu semua?

“kau?”

Gadis itu membalikkan pertanyaan Kai.

Kai tersenyum kecil tanpa diketahui Ahyeon. Ia memainkan jemari Ahyeon yang saling berkaitan dengan jari tangannya. Matanya tertuju pada cincin yang tersemat di jari manis gadis itu.

“tidak”

Ahyeon mendongakkan kepalanya dan mendapati Kai yang tersenyum disana. Senyum yang Ahyeon sukai. Senyuman khas yang bisa menariknya untuk ikut tersenyum.

Sampai dihalaman rumah Kai, ahjussi Kim membukakan pintu untuk mereka. Kai keluar lebih dulu, baru setelahnya gadis itu menyusul.

Mobil orang tua Kai juga tiba setelah kedatangan mereka. Tidak lama kedua orang yang berumur itu keluar dari dalam mobil. Mereka berempat saling melempar senyuman hangat. Nyonya Kim menghampiri anaknya—termasuk Ahyeon—mengajak mereka masuk kedalam rumah. Tuan Kim yang berada dibelakang mereka hanya menggelengkan kepalanya pelan.

“kalian bermalam disini kan?” ucap nyonya Kim saat sudah berada di anak tangga. Ketika masuk kedalam rumah, ia menuntun kedua anaknya itu menaiki anak tangga. Atau lebih tepatnya, ia menuntun Kai dan Ahyeon kedalam kamar Kai.

“besok kami kembali keapartemen” jawab Kai.

Nyonya Kim membukakan kamar untuk mereka berdua. Ia tersenyum dengan arti lain disana.

“ini kamar kalian”, Nyonya Kim mengajak Kai dan Ahyeon masuk kedalam, “eomma ada dibawah jika kalian butuh apa-apa”

Setelahnya wanita itu menepuk-nepuk bahu Kai sambil tersenyum. Entah apa maksudnya? Kai juga merasa bingung. Sedetiknya nyonya Kim segera melangkahkan kakinya keluar kamar dan menutup pintu.

Tiba-tiba keduanya merasa canggung. Ahyeon dan Kai saling berpandangan seperti orang yang bodoh. Mereka sadar dengan status pada diri mereka masing-masing. Ahyeon berdeham kecil mengisi suara sunyi yang berdiri ditengah-tengah mereka.

—Ending of The Story—

Kai menghembuskan nafas disana entah sudah yang keberapa kalinya. Ia menatap wajahnya didepan cermin. Pria itu meletakkan telapak tangannya didada nya yang tidak tertutup kain apapun. Merasakan jantungnya yang berdetak cepat.

“tenang Kai. Tenang”

Ia berbicara dengan pantulan dirinya yang berada didalam cermin.

Setelah merasa yakin, ia keluar dari dalam kamar mandi dan mendapati Ahyeon yang sedang duduk di samping tempat tidur. Gadis itu belum mengganti kimono handuknya dengan pakaian tidur yang masih terlipat rapi disamping duduknya. Ia sedang sibuk menyisir rambutnya dan memperhatikan setiap ujung helaian rambut kecoklatannya.

Selalu seperti itu.

Ahyeon sadar Kai sudah memperhatikannya dari tadi. Ia hanya terdiam—aneh—memandangi pria yang hanya memakai celana selututnya itu.

“sudah selesai?” tanya Ahyeon.

“emm” Pria itu bergumam kecil seraya mendekati gadis yang sudah resmi menjadi istrinya itu. Jung Ahyeon atau lebih tepatnya Kim Ahyeon. Kai duduk disebelah Ahyeon dan mengambil sisir yang berada ditangan kiri gadis itu.

“biar aku yang menyisirnya”

Ahyeon menurut dan segera merubah posisi duduknya. Ia duduk membelakangi Kai.

Kai menyisir helaian rambut itu dengan hati-hati. Sejujurnya didalam pikirannya ia sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang membuatnya menjadi gugup saat berada didekat Ahyeon.

Kai tau status apa yang melekat pada dirinya untuk Ahyeon. Mereka sudah suami istri sekarang. Mengikat janji suci bersama didepan altar dan membentuk keluarga kecilnya.

“oppa”

“emm” gumam Kai yang masih menyisir rambut Ahyeon.

Ahyeon membalikkan tubuhnya, berhadapan dengan Kai. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi Ahyeon ragu dengan itu. Ia memndang Kai mencoba memberanikan dirinya.

Kai menunggu gadis itu untuk berbicara. Tapi Ahyeon melakukan hal yang membuatnya terkejut. Gadis itu tiba-tiba memeluknya sangat erat. Permukaan kulit mereka saling bersentuhan. Kai belum memakai pakaiannya dan ia dapat merasakan langsung rasa hangat yang menjalar dibahu kirinya. Kulit wajah Ahyeon yang langsung bersentuhan dengan tubuhnya membuat Kai merasa lebih gugup dari sebelumnya.

“kau kenapa eum?” tanya Kai.

Jujur saja, kai sudah mulai tidak fokus dengan ini. Kepalanya terasa penuh dan berdenyut.

“aku merindukannya”

Dahi Kai berkerut tipis. Dan Ahyeon semakin menyembunyikan wajahnya di lekukan lehernya. Membuat setiap deru nafas gadis itu menerpa lembut permukaan lehernya.

“siapa?”

“Baekhyun oppa”

Kai terdiam.

Ahyeon menunggu Kai untuk merespon ucapannya. Ini yang Ahyeon takutkan. Ia takut Kai akan marah jika ia membahas hal ini. Oleh sebab itu, Ahyeon memeluk Kai agar ia tidak melihat ekspresi wajah pria itu yang berubah.

Ahyeon tau ini salah. Ini bukan saat yang tepat. Tapi Ahyeon sudah memendam ucapan itu didalam kepalanya dan membuat kepalanya pusing. Berbagai macam pikiran saling berkecamuk didalam kepalanya.

Kenapa Baekhyun tidak datang?

Apa dia marah?

Atau dia sudah melupakanku?

Semua pertanyaan itu yang selalu membuatnya tidak bisa mengalihkan pikirannya sejak di gereja tadi.

“sepertinya dia tidak datang” ucap Kai “aku belum melihatnya tadi” sambung Kai.

Kai mengerti dengan gadis itu. Ia tidak mengambil pemikian buruk tentang ucapan Ahyeon. Ia tau itu.

“dia pasti baik-baik saja disana” sambung Kai lagi.

Ahyeon diam menenangkan pikirannya. Matanya terpejam.

Keheningan diantara mereka pun terjadi. Kai tau sebenarnya ini adalah situasi yang memalukan untuk mereka. Ahyeon tidak berkata apapun lagi, tapi gadis itu masih memeluknya.

Ahyeon membuka matanya pelan. Ia baru sadar dengan apa yang barusan terjadi dengannya. Dan sejujurnya, Ahyeon merasa terkejut dengan ini. Gadis itu merasakan detak jantung Kai yang berdetak cepat. Tangannya terasa begitu hangat mengingat telapak tangannya yang langsung bersentuhan langsung dengan permukaan punggung Kai.

Gadis itu perlahan merenggangkan pelukannya. Awalnya kepala Ahyeon menunduk menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah. Gadis itu terlalu malu dengan ini. Tapi dengan lembut, Kai menaikkan pandangannya. Kai mengangkat dagu gadis didepannya dengan lembut. Mempertemukan kedua matanya dengan iris hitam milik Ahyeon. Kai mengunci pandangan Ahyeon—menatapnya dalam.

Ahyeon menatap Kai lekat-lekat. Suasana hening menyelimuti keduanya.

Sampai ahkirnya, Kai membuat nafas keduanya saling bertemu. Pria itu mulai memejamkan matanya begitu juga yang dilakukan Ahyeon.

Kai sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia mulai menciptakan pergerakan kecil dan lembut dibibir gadis itu. Semakin lembut dan membuat Kai semakin gila. Ia semakin merapatkan dirinya dengan Ahyeon.

Kai tau apa yang dilakukannya.

Lalu apa?

Kai juga bukan orang yang munafik memikirkan hal yang lain padahal ia tau yang sebernarnya. Mungkin ini sedikit memalukan untuk dibicarakan. Tapi ini malam pertamanya dengan gadis didepannya. Tentu saja ia tidak mau membuat pikiran gadis itu dipenuhi dengan perasaan rindunya kepada Baekhyun.

Kai ingin menjadi orang yang egois untuk malam ini. Ia hanya ingin Ahyeon yang memikirnya, bukan orang lain.

Kai sudah menarik gadis itu kedalam dunianya. Dunia kecil yang Kai ciptakan untuk mereka. Ahyeon mulai membalas dan membuat Kai menginginkan lebih dari ini.

Bagi Kai ini belum cukup.

Tangan Ahyeon mulai merambat naik—menyusuri tangan Kai yang besar. Gerakannya sangat perlahan, seakan ia sedang menggoda pria itu. Sampai ahkirnya tangannya ia kalungkan dibelakang leher Kai. Menggodanya pelan dengan sentuhan jemarinya disana.

—S K I P—

Mau TBC apa END??

Bagian yang ke skip itu bagian nc nya 😀 Ngertikan??

Kalo mau lanjut aku bisa bikin pas mereka lagi honeymoon nanti 😀

90 responses to “Ending of The Story [You Should Be Mine sequel, Skip Ver.]

  1. Dgn terpaksa hrs nunda baca chapternya=,= walaupun dari beginning lgsg ke ending, tetep ngerti ceritanya. Sequelnya menarik bgt!:)

  2. Kyaaaa, apa yg teejadiii??? Bagus, tapi aku msih blum smoet baca chpter 24…… 😦 eoni author, jangan lpa bales mentionku yaaa… maakasihhhh….. (y)

  3. Akhrnya….to thor q blm bc chapter 24nya lho…jgm lp bg2 ow ya…pw bt fullversionnya jg…gomawo

  4. Oh my._.
    Hahaaaa mereka sweet banget tapi yak*garukgaruktembok
    Author jjang !
    Baik bangeet krna yg ini dibuatin dua versi, meskipun gak full aku sukaaa bangeet deh beneran, makasiih*deepbow
    Waah lanjuut kayaknya seru nih, apalagi dibikin ngefluff kan mereka lagi honeymoon
    Semangat menulis terus pokoknya buat author-nim ❤

  5. soweet bnget mereka akhirnya nikah 🙂
    knpa baekhyun gak dtenng ke pernikahan ahyeon?
    next 😀
    hwaiting 🙂

  6. Lanjut bagian nc plis/? .-.
    Tapi aku mohon lanjut ampe berpuluh puluh chapter ㅠㅡㅠ
    Hihi kocak ya keduanya malah canggung dan oke kai mulai yad*ng….
    Daebak author!

  7. wah akhirnya kai sm ahyeon nikah
    makin sosweet aja kai sm ahyeon
    thor aku minta pw You should be man chap 24 sm ending of story (sequel you should be mine nc full version ) dong aku dah mention ke twitter tlng bls y

  8. Q nangis bca chap ini, apalagi pas ahyeon bilang dia rindu sma baekhyun,, q bukan bias kai ataupun baekhyun tp entah knp q pingin bgt ahyeon sma baekhyun bkan sma kai.. Smkin baca next chap’y smkin kasian sma baekhyun…

  9. Add sequelnya hahaha yehetttttt
    Gk sia2 aq ngobrak abrik libarary skf hahahaah mianata hahahaha tp aq sukaaaa karater kai y gk pernh berubah dr dlu wkwkwkkw seruuuuuuuu
    Akhhhhh aq udh mnta pw chap 24 nya dn klo boleh sklian sma nc ver. Boleh hehehheheh

  10. Aku baru baca ff ini masa’ -_-
    Beneran deh ini ffnya bagus.
    Pas di butik aku ngakak, semua salah paham di kira kai ama ahyeon begituan 😀
    pokoknya 2 jempol buat kamu 🙂

  11. Kak sumpah kern banget.. aku baca ff ini dari awal sampe akhir greget mulu.. tapi aku baru sempet komen sekarang soalnya aku kalo baca dihp andnitu lola kalo komentar satu”. Maaf ya kak.. tapikak sumpah aku ga bisa ngomong apa” lagi baca ff kakka. Tapi aku belum baca yg chp 24 sama yang eekkhm full ncnya itu u.u dipw. Ohbiya semangat ya kak and semoga kaka bisa cepet bales mention aku di twitter 🙂 FIIGHTHING ♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s