The Difference [Chapter 3A]

fanfiction 32

Title: The Difference [Chapter 3A]

Author : J.A.Y

Main Cast:

1.       Kai EXO

2.       Han Hyena (OC)

Support Cast:

1.       Chanyeol EXO

2.       Sehun EXO

3.       Kris EXO

4.       Kim Myung Soo

Genre: Fantasy, sad, romance, angst, drama

Rating: PG-17

Length: Chapter

Disclaimer: The storyline pure is mine. Just is mine! So, don’t copy-paste and don’t be plagiarism!!

—The Difference—

Author POV

Jongin menunggu Hyena keluar dari rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi dan seharusnya Hyena sudah keluar dari rumahnya.

Laki-laki itu duduk diatas motornya—tepat didepan pintu gerbang rumah Hyena. Sesekali ia juga melihat kearah jam tangannya.

Tidak lama, pintu berwarna putih itu terbuka. Hyena keluar sambil membenarkan sampiran tas di bahunya. Ia terburu-buru.

Gadis itu menunjukkan ekspresi terkejutnya ketika menemukan Jongin yang sudah tersenyum didepan rumahnya. Maksudnya, untuk apa Jongin sepagi ini berada disana?

Meski bingung, tapi langkah kakinya tetap menghampiri laki-laki itu. Bahkan Jongin belum menghilangkan senyumnya saat Hyena sudah berada didepannya—dengan dahi yang berkerut.

Singatnya, ia tidak pernah menyuruh laki-laki itu untuk menjemputnya atau mengantarnya kesuatu tempat. Tapi pagi ini, ia sudah menemukan Jongin—berada didepan rumahnya.

“sudah siap?” tanya laki-laki itu.

Hyena terdiam seperti orang bodoh didepan Jongin. Dan Jongin tau itu. Ia mengerti jika Hyena bingung dengan keberadaannya.

“cepat naik, kau tidak ingin terlambat kan?”

Jongin menyalakan mesin motornya dan memakai helm. Hyena ingin bertanya sesuatu, tapi ia tau waktu tidak mengijinkannya. Gadis itu menuruti perkataan Jongin untuk segera naik.

Di belakang Jongin, Hyena terlihat masih canggung. Surai rambutnya terbawa oleh angin musim dingin. Ia berpegangan pada kedua sisi jaket laki-laki didepannya.

Waktu memang masih menunjukkan pukul 7.35 pagi. Tapi Jongin melajukan motornya cepat dijalan raya. Bibir Hyena hampir memucat karena terkena terpaan angin. Ia berkali-kali menggigit kecil bibirnya. Jujur saja, Jongin terlalu cepat melajukkan motornya. Hyena merasakan dinginnya angin yang menerpa tubuhnya. Ia semakin meremas jaket yang digunakan Jongin.

Jongin melihat Hyena dari kaca spionnya. Di balik helmnya ia tersenyum. Ini yang ia mau. Ia mengambil tangan Hyena yang berada disamping tubuhnya. Menyuruh gadis itu untuk melingkarkan tangan diperutnya.

Hyena sedikit terkejut. Tapi Jongin tetap menahan tangannya diperut pria itu. Hyena melingkarkan tangannya yang lain. Secara langsung Jongin yang memintanya. Tangan Hyena saling terkait. Ia memeluk tubuh Jongin rapat—seakan sedang mencari kehangatan disana.

—The Difference—

Jongin menghampiri Hyena yang berdiri didekat pohon. Laki-laki itu memasukkan kunci motornya kedalam saku celana. Saat gadis itu menoleh, ia dengan cepat meraih tangan Hyena—menggenggamnya. Hyena terkejut dan melihat kearah genggaman pria itu. Tapi yang dilakukan Jongin justru semakin mempererat kaitan tangan mereka.

“kau keberatan?”

Hyena membalas pandangan Jongin yang teduh. Sejujurnya ia belum terbiasa dengan ini. Tapi melihat mata itu, rasanya Hyena tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mata itu seakan mengunci saraf yang bekerja pada tubuhnya. Sangat kaku.

Hyena menggeleng pelan—tanpa ia sadari. Dan Jongin menangkap itu adalah sebagai jawabannya. Jawaban yang berarti Hyena tidak merasa keberatan dengan ini.

Jongin mengacak rambut gadis itu pelan. Kemudian ia membawa Hyena jalan bersama.

Semua orang yang ada ditempat itu melihat mereka dengan pandangan lain. Banyak yang saling berbisik. Hyena melihat risih mereka dan juga dirinya. Tapi berbeda dengan Jongin. Laki-laki itu terus melangkah layaknya tidak terjadi sesuatu dengan mereka.

Hyena merasa bingung dengan dirinya. Kenapa ia bisa menurut dengan mudahnya? Genggaman Jongin begitu berbeda. Dingin tapi tidak sedingin es. Dan rasa itu berbeda dengan yang diterima hatinya. Hyena merasakan sesuatu yang sangat kontras disana. Perasaan hangat.

—The Difference—

“mereka berpacaran?”

“sepertinya iya”

“omo, gadis itu benar-benar beruntung mendapatkan Jongin”

“haaa, kau benar”

Matanya menatap datar Kris yang berada didepannya. Sebelumnya Chanyeol menatap kedua gadis yang duduk di meja lain dari sudut matanya. Chanyeol hampir memecahkan gelas kaca yang sedang ia pegang detik itu juga. Tapi Kris menahan pergerakannya.

“kita bicara ditempat lain”

Kris bangun dari duduknya diikuti Chanyeol. Deritan kursi Chanyeol menjadikan dirinya menjadi pusat perhatian di tempat itu. Ekspresi wajahnya tampak marah dan menandakan ada yang tidak ia sukai disini.

Sampai di sebuah laboratorium kosong, Kris dan Chanyeol masuk kedalam ruangan putih itu. Ruangan dengan 5 buah lemari besar dan gelas-gelas kimia dengan berbagai ukuran didalamnya, pakaian lab, meja panjang dan juga kursinya, jendela yang tertutup tirai berwarna hijau tosca, pajangan anatomi tubuh manusia dan alat-alat lainnya.

Kris menutup pintu rapat dan berbalik kearah Chanyeol.

Chanyeol mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ia memberikan sebuah foto dan memberikannya pada Kris.

“namanya Hyena. Dia juga mahasiswa disini. Semester 5 jurusan psikologi. Dan dia melihatku malam itu”

Kris meremas foto ditangannya. Matanya tajam dan rahangnya mengeras. Detik kemudian pria itu dengan cepat mencekik leher Chanyeol dan membuat pemiliknya membelalakan matanya.

“kau membiarkannya?” desis Kris. Mata Kris mulai berubah menjadi merah dan leher Chanyeol juga mulai terasa panas.

“Jo… Jongin… Jongin yang membawanya” ucap Chanyeol susah payah.

Cengkraman kuat dileher Chanyeol mulai mengendur. Kris melepaskan cengkramannya dileher saudaranya. Mata pria itu mulai kembali normal.

“kita harus memisahkan mereka”

“aku sudah memperingatkannya hyung. Tapi Jongin adalah orang yang keras kepala” ucap Chanyeol yang masih memegang lehernya.

Kris tersenyum miring. Kedua tangannya terkepal kuat dan ia hampir terbakar.

—The Difference—

Hyena memperhatikan sekitarnya. Pandangan aneh yang selalu menatapnya. Hyena merasa tidak nyaman jika terus seperti ini. Kepalanya terus ia tundukkan—memandang sepatunya dan lantai yang berwarna putih gading.

Sampai dikelas, ia segera mencari tempat duduk disamping Ahri. Gadis itu sedang berbincang dengan dua orang gadis lain yang berada dibelakangnya. Ketika Hyena sampai ditempat duduknya, gadis satunya berhenti berbicara.

Ahri mengangkat alisnya, “kenapa berhenti?”

“tidak apa-apa, ahhh, aku ingin keluar sebentar. Hubungi aku jika dosen sudah datang ya?” ucapnya, kemudian gadis itu pergi dengan tasnya.

“aku ikut!” ucap gadis lain yang mengikuti temannya.

Ahri menaikkan bahunya tidak peduli. Ia membenarkan posisi duduknya menghadap Hyena. Gadis itu sedang membuka catatan materi yang baru ia catat kemarin.

“jadi nona Han, bisa kau bercerita mengenai berita pagi ini?”

Hyena menghela nafas kecil disana, “itu tidak penting”

“tapi kau dan Jongin sudah menjadi pembicaraan panas pagi ini?”

“aku tau”

“kau memiliki hubungan khusus dengannya?”

“tidak Ahri, tidak seperti itu”

“jadi?”

Hyena menutup buku catatannya. Lalu menggeleng pelan.

Hyena juga tidak tau bagaimana ia harus menceritakannya. Semua berada di luar kemampuannya. Semua yang terjadi belakangan ini dan juga Jongin. Entah apa yang membuatnya menjadi begitu dekat dengan pria itu.

Hyena tau jika mungkin maksud Jongin adalah pria itu ingin berteman dengannya. Tapi semua itu berbeda dengan yang ada dipikirannya. Sikap Jongin terkadang sedikit membuat Hyena merasa tidak nyaman. Perhatian yang diberikan pria itu sangat lain. Berbeda dengan perhatian yang diberikan kepada seorang temannya.

Di sudut lain, Hyena ingin mengatakannya. Ia ingin memberitau Jongin bahwa pria itu melakukan sesuatu yang hampir diluar batas. Tapi ketika Hyena akan mengatakannya, justru ada hal lain yang menghalangi tujuannya.

Hyena terdiam dan menjadi penurut dengan yang dikatakan laki-laki itu. Tidak ada perlawanan sedikitpun. Tapi tubuhnya tidak memungkiri hal itu. Rasa tidak nyaman itu berubah menjadi perasaan yang nyaman. Hyena merasa dikendalikan tapi ia juga menyetujuinya.

“kami berteman”

“kau berbohong”

“aku sungguh-sungguh Ahri”

Ahri memegang pundak kiri Hyena dan mengusapnya pelan, “tidak apa-apa Hyena. Jika kalian memiliki hubungan yang khusus, aku menyetujuinya”

Hyena memandang Ahri dengan pandangan lain. Ini tidak seperti apa yang bayangkan orang disekitarnya. Mereka salah paham.

—The Difference—

Sehun meringis kesakitan lantaran Jongin yang baru saja memukul kepalanya dengan buku yang sangat tebal. Buku yang menjelaskan tentang anatomi manusia. Tenta saja buku itu begitu tebal. Ketebalannya hampir mencapai 5 cm.

“bukankah biasanya seperti itu? Kau berkencan lalu ketika kau haus kau akan—“

Jongin langsung menatapnya tajam dan itu berhasil membuat Sehun merapatkan bibirnya.

Jongin mengalihkan pandangannya, ”aku tidak akan melakukan itu”

“kau gila Jong! Rayuan apa yang digunakan perempuan itu?”

“tidak ada rayuan apapun. Aku serius dengan ini”

“astaga Jongin! Kau sadar dengan apa yang kau lakukan?”

“aku sadar. Bahkan sangat sadar”

“kau membahayakan keadaan gadis itu”

Jongin sangat menyadari itu. Bahkan ia harus berjaga setiap malam didekat gadis itu. Menjaganya sampai Hyena hampir membuka mata Setelah itu Jongin membuat semuanya berjalan seperti biasa. Menunggu gadis itu diluar rumah dan mengajaknya berangkat bersama.

Jongin sadar dengan posisi keberadaannya. Ia melawan alam.

Semua yang seharusnya begitu mudah terlihat sulit untuknya. Ilustrasinya seperti Jongin melawan arus pada jalan raya. Ia tidak mengikuti peraturan yang telah ditetapkan. Jongin berjalan berlawanan arah dari saudaranya.

Tentu masalah yang akan ia temui akan jauh lebih banyak lagi. Ia harus mengeluarkan kemampuannya sekuat yang ia bisa.

“aku yang akan melindunginya”

Sehun tertawa rendah, “kau melindungi sesuatu yang akan mati nantinya. Jangan melangkah terlalu jauh. Bunuh, lalu semuanya selesai”

Jongin melirik Sehun tajam dan Sehun menatapnya datar.

“bukankah seharusnya gadis itu sudah mati ditangan Chanyeol hyung?”

Sehun berbicara sepelan mungkin. Tapi Jongin masih mendengarnya dengan jelas. Tangannya terkepal kuat di bawah meja. Jika saja ia tidak ingat dimana tempatnya, ia akan mematahkan leher Sehun saat itu juga. Tidak peduli jika Sehun adalah saudaranya sendiri.

—The Difference—

Ia belum menyelesaikan tugasnya. Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 pm. Sudah seharusnya ia pulang dan menyelesaikan mata kuliahnya. Kepala Jongin mendongak saat menangkap sebuah pergerakan yang ia kenali diluar jendela.

Jongin menahan amarahnya mati-matian. Ketika dia melihat Hyena dan pria lain yang saling berbagi canda bersama. Hyena tertawa dengan lepasnya disana. Selama bersama Jongin Hyena tidak pernah menunjukkan tawa yang selepas itu. Benar-benar seperti tidak ada beban disana.

Dirinya berubah menjadi panas. Ia hampir berteleportasi keluar jendela.

Prangg…

Semua melihat kearah tempat Jongin berdiri. Tanpa sadar, gelas kimia yang dipegang Jongin pecah. Air wastafel masih dalam keadaan menyala karena Jongin baru saja mencuci gelas itu.

Darah yang berwarna gelap pekat itu menetes dari tangannya. Sebagian tetesannya berada ditepi wastafel dan sebagian lagi sudah bercampur bersama air yang mengalir.

Jongin menatap tajam keluar jendela. Warna matanya hampir berubah jika Sehun tidak menyadarkannya. Rahang Jongin mengeras menatap Sehun. Jongin menjatuhkan pecahan kaca itu dan Sehun membawanya keluar laboratorium.

Gadis lain yang berada didekat Jongin juga ikut menatap keluar jendela. Setelahnya ia tersenyum rendah. Ia menemukan penyebab Jongin menjadi seperti itu. Gadis itu menekuk lututnya diatas lantai. Ia merapikan pecahan kaca yang berceceran dan memasukkannya kedalam keranjang sampah.

Kena kau Hyena

Didalam ruang kesehatan, Sehun membelakanginya. Setelahnya pria itu berbalik dan mencengkram kerah Jongin.  Sehun memojokkan Jongin di pintu ruang kesehatan yang sedang tertutup.

“kau harus mengendalikkannya” desis Sehun, “kau hampir membongkar semuanya Kim Jongin”

Jongin tersenyum miring, “hampir”

Rahang Sehun ikut mengeras. Ia semakin memperdalam cengkramannya di kerah pakaian Jongin. Mata Sehun sudah berubah tajam dan merah, kulitnya dingin dan wajahnya memucat.

“aku yang akan membunuhnya”

Tangan Jongin terkepal. Tetesan darah itu masih menetes dari telapak tangannya yang terluka. Jongin membalikkan keadaan. Ia mendorong tubuh Sehun sampai punggung pria itu menabrak tembok dengan sangat keras. Jongin mencekik leher Sehun.

Giginya saling bergemeletak. Rahangnya mengeras. Jongin semakin memperdalam cekikkannya bahkan hampir mengangkat tubuh pria itu. Matanya sudah berubah menjadi merah tajam.

“jika kau berani menyentuhnya, aku yang akan membunuh mu lebih dulu Oh Sehun”

Jongin melepaskan cengkramannya. Menjatuhkan tubuh Sehun diatas lantai. Sedetiknya Jongin pergi dengan kekuatannya.

Sehun menyentuh bekas cengkraman Jongin dilehernya. Jongin hampir mengeluarkan seluruh kekuatannya. Pria itu mencengkram dengan keras lehernya. Sehun bahkan tidak bisa mengeluarkan kekuatannya untuk membela diri.

Darah Jongin menempel di permukaan kulitnya. Sehun menarik selimut putih yang terlipat diatas tempat tidur. Ia lalu membersihkan lehernya dan membuang selimut itu kedepan.

“kau membuat kesalahan terbesar Kim Jongin”

—The Difference—

Jongin bersembunyi di balik tembok lorong kampusnya. Ia mendengar suara langkah kaki itu semakin mendekat. Matanya sudah merah menyala.

Ingatan beberapa menit yang lalu terus berputar didalam kepalanya. Kepalan tangan Jongin semakin menguat.

Kim Myung Soo—orang yang berani mendekati miliknya.

Ia tidak suka melihatnya. Ia hanya ingin senyum itu hanya untuknya. Ia ingin Hyena hanya tertawa dan tersenyum dengannya. Belum lagi tangan pria itu yang berani menyentuh puncak kepala Hyena. Membuat mereka terlihat sangat dekat.

Jongin bersumpah akan membunuh pria itu malam ini juga.

Langkah kaki itu sudah dekat dengan dirinya. Ketika Myung Soo melewatinya, Jongin segera membawa pria itu ke atas gedung.

Jongin membawa tubuh Myung Soo keatas tembok pembatas. Jongin hampir menjatuhkannya. Setengah dari tubuh Myung Soo melayang diudara. Lehernya tercekik kuat dan matanya membelalak.

“Kim… Kim Jongin”

Jongin menancapkan kuku-kukunya menembus permukaan kulit Myung Soo. Aliran darah segar langsung mengalir disela jemarinya.

“aku akan membunuh mu” desis Jongin.

Jongin tidak merasa khawatir jika ada yang melihat mereka. Tinggal beberapa mahasiswa yang berada universitas ini. Termasuk dirinya dan Kim Myung Soo.

“aku….” Myung Soo berusaha melepaskan cengkaraman tangan Jongin yang membuatnya tidak bisa bernafas.

“Hyena milikku”

Dan saat itulah Jongin mematahkan tulang leher Myung Soo. Mata Myung Soo sempat terbelalak sebelum ahkirnya tertutup rapat. Darah Jongin dan Myung Soo menyatu disana. Tetesan darah itu jatuh diatas tanah dari tempat mereka berada. Darah itu jatuh diatas salju yang masih menggumpal di tepi bangunan gedung berlantai 7. Membuat salju itu memiliki bercak merah di permukaannya.

Tidak ada denyut nadi lagi yang dirasakan pria itu. Jongin mengambil tangan kiri Myung Soo dan menggores pergelangan tangan pria itu dengan kukunya. Memutuskan pembuluh nadinya. Tangan Jongin berlumuran banyak darah.

Ia tidak mau menghisap darah itu.

Terlalu menjijikan untuknya.

Tanpa membuang waktu Jongin menjatuhkan tubuh Myung Soo dari tempatnya berdiri. Pria itu tersenyum ketika mendengar suara dentuman keras di bawah. Bunyi dari suatu benda yang dijatuhkan dari lantai 7.

—The Difference—

Hyena merasakan perasaannya yang tidak enak. Ia terus memegang dadanya yang selalu bergumuruh. Gadis itu meminum gelas yang berisi penuh dengan air putih. Ia bangun dari duduknya dan membenarkan sampiran tasnya. Hyena menaruh gelas itu diatas meja makannya yang terbuat dari batu marmer.

Ia mengambil nafas kecilnya dan melangkahkan kakinya menuju pintu. Sudah saatnya ia pergi berkerja. Tapi semakin dekat dengan pintu perasaannya menjadi semakin tidak enak. Hyena menggeleng pelan mengusir pikiran negatif yang mulai menggerayangi kepalanya.

Ketika tangannya membuka pintu—matanya sedikit membulat.

“Jongin??”

Jongin tiba-tiba melangkah masuk dengan perlahan dan membuat Hyena mengambil langkah mundur. Wajah Jongin begitu pucat dan Hyena merasakan aura aneh dari pria itu.

“Hyena-a”

Punggung Hyena sudah menyentuh dinding. Jongin semakin menyudutkannya.

Hyena merasakan hal lain dengan pria itu. Tatapan mata Jongin sangat berbeda dari sebelumnya. Tatapan yang menyiratkan bahwa pria itu sedang merasakan kacau. Hyena sulit menelan salivanya. Begitu berat dan ternggorokannya seperti tercekat.

“aku menyukai mu”

Jongin semakin mempersempit jaraknya. Ia mengunci tubuh gadis itu dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya menangkup sisi kiri wajah Hyena.

“Jongin, aku—“

“aku menyukai mu Hyena”

Hyena menundukkan wajahnya. Ia tidak berani menatap mata Jongin sedekat ini. Ada ketakutan tersendiri yang gadis itu rasakan. Ia tidak tau apa yang harus ia katakan. Bibirnya terlalu kaku untuk mengucapkan satu kata pun. Hyena terlalu merasa terkejut dan bingung.

Jongin menaikkan wajah Hyena lembut. Mata keduanya bertemu dengan jarak yang dekat. Jongin mengunci pandangannya. Perasaannya begitu kacau membuatnya sesak.

Tatapan mata Jongin seakan meruntuhkan tembok pertahanannya. Ia tidak tau dengan apa yang terjadi dengan laki-laki didepannya. Perasaannya semakin bergemuruh. Ia tidak yakin dengan yang ia lihat. Ada kilatan lain dimata Jongin.

“jangan menolakku. Aku mohon”

Pria itu memohon dan membuat Hyena semakin bingung.

“tetaplah bersamaku dan aku akan melindungi mu”

Iris kecoklatan itu bergerak gelisah memandang Jongin. Ia tidak mengerti. Ia tidak mengerti dengan yang diucapkan Jongin. Otaknnya bekerja selamban siput. Sarafnya seakan mati dan tidak bisa merespon informasi yang ia terima melalui indranya.

Detik berikutnya Jongin semakin mempersempit jaraknya. Ia bisa merasakan deru nafas Hyena yang sedikit memburu menerpa permukaan kulit wajahnya.

Apa Jongin membuatnya takut?

Dengan perasaannya yang masih kacau, Jongin memberanikan dirinya. Ia menutup bibir Hyena dengan bibirnya. Membuat gadis itu membelalakan matanya.

Gadis itu mengepalkan tangan ketika Jongin mulai menciptakan pergerakan kecil. Ia meremas ujung pakaian yang dikenakannya. Hyena melihat Jongin yang menutup matanya rapat.

Apa yang membuat Jongin seperti ini?

Hyena seperti merasakan yang dirasakan pria itu. Walau ia juga tidak yakin sepenuhnya. Hyena juga merasa kacau dengan perasaannya. Ia tidak bisa memastikan keputusannya. Hyena merasa ini terlalu cepat.

Jongin semakin bergerak dalam. Ia menuntut gadis itu untuk membalasnya. Tapi Hyena tidak melakukan apapun. Ia diam dan sibuk berperang dengan hatinya. Hyena tidak ingin dirinya terseret lebih jauh lagi. Ia berusaha menarik dirinya, tapi Jongin semakin menahannya. Gadis itu hampir kehabisan nafas.

Berhenti. Ku mohon

Dan saat itu juga Jongin berhenti. Ia perlahan melepas tautannya dengan gadis itu. Nafas Hyena sangat memburu. Dadanya naik turun dan mulutnya terbuka kecil. Mata Hyena hampir berair menahan sesuatu didalam sana. Ia ingin menangis.

Jongin menatap bersalah kearah gadis itu. Ini diluar dugaannya. Ia menakuti Hyena. Gadis itu memintanya berhenti dan Jongin mendengarnya. Tindakannya terlalu jauh dan terkesan memaksa.

“maaf” lirih Jongin.

Hyena tidak bisa menahan genangan itu. Air mata itu jatuh dengan mudah—membasahi pipinya.

Jongin menatap nanar gadis didepannya. Laki-laki itu tidak bisa melihatnya, ia tidak bisa melihat air mata itu. Tangannya membawa Hyena kedalam pelukannya. Jongin terlalu kalut dengan perasaannya. Ia tidak bisa mengendalikan tindakannya.

“maafkan aku Hyena”

TBC

26 responses to “The Difference [Chapter 3A]

  1. Wuuaa saeng deg2n bacanya
    tegang
    kasian amat sih si myung soo mpe d bunuh gtu pdhl kn cm ngobrol doang sm hyena
    haadeehh
    sadiisss
    py aq suka karakter jongin disini

    lanjuutkan.. 😛

  2. ya.. kenapa myungoo yg jadi korban kai.. o_o
    btw kris itu ketuanya apa gmn? kok chayeol ampe ketakutan gitu?
    maksud omongannya sehun apa coba..? nextnya ditunggu.. 🙂

  3. huwaaaaa kai….knp kau sadis. bgt bnuh myungsoo hnya krn cmbru buta…
    daebaaaaaaaaak….dtggu next chaptx g pake lama y..

  4. y ampun kai sadis bgt sampai bunuh myung soo gara cemburu
    makin penasaran sm critanya lanjut bc chao selañjutnya

  5. Wooow… Jongin ngeri ya kl sudah cemburu…
    Penasaran sama hyena… Bales perasaannya jongin atau enggak y?
    Lanjut baca ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s