The Difference [Chapter 3B]

fanfiction 32

Title: The Difference [Chapter 3B]

Author : J.A.Y

Main Cast:

1.       Kai EXO

2.       Han Hyena (OC)

Support Cast:

1.       Chanyeol EXO

2.       Sehun EXO

3.       Kris EXO

4.       Kim Myung Soo

Genre: Fantasy, sad, romance, angst, drama

Rating: PG-17

Length: Chapter

Disclaimer: The storyline pure is mine. Just is mine! So, don’t copy-paste and don’t be plagiarism!!

—The Difference—

Author POV

Setengah wajahnya tertutup oleh bahu Jongin. Laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya ketika sesuatu yang basah menyentuh permukaan kulit bahunya.

“aku membutuhkan waktu”

Suara itu terdengar begitu lirih. Nadanya serak bahkan hampir tidak terdengar. Begitu halus seperti sebuah bisikan. Hyena bicara dengan sangat hati-hati. Ia takut menyakiti hati laki-laki itu.

Jongin mengerti. Ini adalah kesalahannya. Ia menuntut gadis itu untuk memberi jawaban. Tidak semudah dengan apa yang ada dipikirannya. Ini bahkan jauh lebih sulit.

Mata Jongin terpejam rapat. Otaknya bekerja mengenali bau khas dari wanita yang dicintainya.

“tidak apa-apa Hyena, aku mengerti”

Hyena tau laki-laki itu sangat baik. Terlalu baik sampai Hyena takut suatu saat akan menyakiti hati pria itu. Hatinya juga ia korbankan dalam hal ini. Ia merasa sesak dan ada perasaan lain yang ia rasakan. Ia juga merasakan sakit itu. Seperti ada yang terhubung diantara mereka.

—The Difference—

Pagi hari Korea University sudah diramaikan dengan desas-desus kasus bunuh diri. Mahasiswa lain bergerumun di luar garis batas polisi. Banyak darah yang berceceran ditempat kejadian perkara.

Kim Myung Soo.

Ditemukan dalam keadaan yang mengenaskan, tergeletak disamping gedung fakultas kedokteran dengan kondisi penuh darah. Dan namanya menjadi topik pembicaraan panas pagi ini.

Ini adalah masalah besar bagi pihak universitas. Nama universitas bisa menjadi buruk karena kasus ini. Ini memperburuk citra mereka dimata masyarakat.

Pagi tadi, sekitar pukul setengah 4 pagi, ia ditemukan oleh petugas keamanan universitas.

Tidak ada yang mengetahui tentang hal ini dari sebelumnya.

Hyena memandang kosong salju yang berwarna merah itu. Warna merah yang bukan lain adalah darah Myung Soo—temannya. Ia sangat terkejut. Dadanya sesak dan ia hampir tidak bisa bernafas. Sulit untuknya menerima ini. Hyena bahkan masih menganggap ini adalah bagian dari bunga tidurnya.

Kim Myung Soo.

Laki-laki yang sudah seperti kakak Hyena sendiri. Hyena sangat menyayanginya. Mereka dekat sejak duduk di bangku SMA dulu. Bahkan Myung Soo lah yang paling berperan dalam menghibur gadis itu. Malam ketika gadis itu kehilangan orang tuanya, Myung Soo lah yang bisa menenangkan Hyena. Terahkir kalinya Hyena bisa melihat senyum itu adalah kemarin malam dan sekarang Hyena tidak bisa melihat senyum itu lagi—selamanya.

Mahasiswa lain sudah mulai meninggalkan tempat itu. Kini hanya tinggal Ahri dan Hyena yang masih berada di tempat kejadian. Ahri mengusap pelan bahu gadis itu. Memberitahu secara tidak langsung bahwa Hyena harus ikhlas dengan kepergian Myung Soo.

Air mata itu mulai jatuh dari matanya yang indah. Tangannya terkepal disamping mantel merah yang ia kenakan. Hidungnya hampir memerah dan ia menggigit kecil bibirnya. Pandangannya sangat lurus. Dimusim dingin ini ia harus kehilangan orang yang ia sayangi.

“Myung Soo oppa”

Dari jauh kedua mata itu menatapnya dengan pandangan lain. Entah merasa bersalah atau puas yang lebih dominan.

Kim Jongin.

Orang yang membunuh pria yang ditangisi gadisnya pagi ini.

Ini diluar kendalinya. Jongin terlalu marah semalam. Ia buta dan tidak bisa berfikir lebih jauh. Pria itu bertindak dengan instingnya. Insting yang sangat kuat.

Jongin melihat telapak tangannya. Ia ingat bagaimana ia mencekik pria itu semalam. Merasakan denyut nadi itu di tangannya, mematahkan tulang leher itu dan menancapkan kuku tajamnya kedalam permukaan leher Myung Soo, dan bagaimana darah pekat itu yang mengalir ditangannya.

Jongin masih mengingat itu semua.

—The Difference—

Gadis itu memperhatikan Jongin sejak tadi. Tidak ada ekspresi lain. Wajahnya menunjukkan ekspresi seperti biasanya. Tapi pikirannya tidak seperti itu.

Ia berambisi.

Namjoo mempunyai pendirian yang kuat. Ia terbiasa seperti itu sejak dulu. Mengejar keinginannya dan berusaha mendapatkannya walaupun itu sulit—bahkan mustahil. Memang sudah seperti itu sifatnya. Ia tidak suka dikalahkan oleh orang lain.

Jika ia kalah ia merasa orang yang paling rendah.

Itulah motto hidup yang selalu ia pegang.

Baek Namjoo. Seorang gadis yang begitu tergila-gila dengan Jongin. Ia sangat menyukai pria itu.

Tapi Namjoo berbeda dengan gadis kebanyakan. Ia tidak seperti gadis murahan lainnya yang begitu terbuka menunjukkan perasaannya. Ia tidak mau melakukan hal itu. Mengirimi surat rahasia, memberikan hadiah, dan menaruh semua barang-barang itu ke loker Jongin secara diam-diam.

Terlalu murahan dan pasaran.

Namjoo enggan melakukan hal itu.

Sudut bibirnya tertarik keatas. Membentuk sebuah senyuman kecil yang memiliki arti lain. Senyum itu terlihat sepeti sebuah senyuman yang sedang merendahkan orang lain.

Ia sangat mengingat kejadian kemarin malam. Saat ia melihat mata Jongin yang berkilat marah. Ia tau laki-laki itu sangat marah. Mungkin lebih tepatnya Jongin sangat tidak suka dengan apa yang dilihatnya malam itu.

Hyena dan Myung Soo.

Namjoo menekan granit pensil hitamnya diatas kertas. Tatapannya lurus penuh dengan perasaan dendam.

Aku menyukai Hyena. Kumohon Namjoo, mengertilah

Ia ingat bagaimana Myung Soo mengatakan itu 2 tahun yang lalu. Laki-laki itu secara langsung telah merobek hatinya. Rasanya sakit bahkan hampir membuat dirinya gila. Perasaannya tidak terbalas oleh pria itu. Dan kini yang disukainya kembali berhubungan dengan Hyena—saingannya.

Namjoo mengangkat pandangannya. Ia menatap kepala Jongin yang tertunduk.

Aku tidak akan melepas mu Kim Jongin. Bahkan untuk Hyena. Aku berjanji akan menyingkirkan wanita itu.

—The Difference—

Chanyeol dan Sehun terdiam. Bukannya tidak peduli, tapi masalah itu sudah berpindah ketangan Kris sekarang. Itu sudah menjadi urusan pria itu.

Sehun berdiri didekat pintu yang tertutup, sedangkan Chanyeol duduk disebelah Luhan yang terlihat tidak peduli dengan pertengkaran kecil saudaranya. Ia tidak mau terlalu ikut campur.

Baekhyun hampir melerai Kris dan Jongin, tapi niatnya segera ditahan oleh Luhan.

Mereka berada di ruang organisasi siswa sekarang. Dua kursi kayu dan satu meja yang berada disana  hancur. Untung saja ruangan itu meiliki kedap suara. Jadi mahasiswa yang lain tidak akan mendengar keributan yang terjadi didalam.

“aku tidak menggigitnya hyung!”

Brakkk!!

Pria itu marah. Kris mendorong Jongin sampai jatuh terduduk dilantai. Tubuhnya menabrak kursi kayu. Kilatan matanya terlihat mengerikan.

Kris baru mengetahui semuanya. Kali ini ia marah besar. Sehun memberitahunya pagi ini. Tentang pertengkaran Jongin dan Myung Soo semalam.

“tapi darah mu tercampur dengannya Kim Jongin! Dia berbahaya!” Kris hampir mengangkat tubuh Jongin, “cepat cari dan bawa dia kemari” Kris mendesis didepan wajah Jongin. Taring tajamnya hampir keluar. Tapi Kris masih bisa menahannya.

Laki-laki itu melepaskan cengkramannya dan Jongin langsung menghilang detik itu juga. Kepala Kris terdongak keatas. Tangan Kris meremas rambutnya sendiri. Mata itu terpejam kuat.

“gadis itu berbahaya untuk Jongin. Kita harus segera melenyapkannya”

Luhan bangun dari duduknya. Ia tidak peduli. Semua mata melihat kearahnya.

“aku pergi”

Luhan menutup pintu. Pandangannya terlihat lain. Ia berjalan melewati lorong yang terang. Meski tidak terlalu nampak, tapi Luhan hampir menghancurkan rubik yang berada ditangannya.

Masalahnya kembali terulang pada Jongin. Ia membaca semua pikiran saudaranya. Jongin mengalami hal yang sama dengannya dulu.

Pria itu masuk kedalam kamar mandi yang sepi. Ia mengerang didepan cermin.

Prangg

Luhan melempar rubiknya kedepan cermin. Wajahnya hampir tergores oleh pecahan cermin itu. Rahang Luhan mengeras. Tangannya terkepal.

Ingatannya tentang Jaena kembali menari-nari didalam kepalanya.

Yoon Jaena

—The Difference—

Pikirannya kosong. Ia memandang pohon berada yang berada jauh didepannya. Pohon yang berdaunkan salju putih.

Gadis itu terus menyalahkan dirinya. Ia berfikir ini semua adalah salahnya. Ia orang yang terahkir bertemu dengan laki-laki itu kemarin malam.

******

“Hyena!”

Hyena menoleh. Tidak lama setelah itu ia tersenyum.

Seorang pria segera berlari kearahnya. Rambutnya terbelah dua sehingga membuat Hyena tertawa kecil.

“jangan menertawaiku” ucap Myung Soo seraya merapikan rambutnya.

Matanya menyipit membentuk bulan sabit, tulang pipinya naik. Suara kekehan kecil keluar dari mulutnya yang mungil. Hyena tertawa.

“maaf oppa, tapi itu benar-benar lucu hahaha”

Myung Soo dengan cepat mempersempit jarak pandangnya. Wajahnya berada sejengkal dengan wajah Hyena.

“aku tampan kan?”

Dengan sekejap tawa Hyena berhenti. Pipinya menyemburatkan rona merah yang samar.

“hahahaha. Lihat bagaimana wajah mu?” Kini giliran Myung Soo yang tertawa.

Hyena mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia membuang pandangannya dan menaikkan pelukan bukunya lebih keatas perut.

“menurutku itu tidak lucu” Gadis itu sedikit mengkerucutkan bibirnya.

Myung Soo berusaha menahan dirinya untuk tidak tertawa lagi, “seharusnya aku yang marah” Pria itu tersenyum seraya mengacak pelan puncak kepala Hyena. Ia sedikit menunduk dan menatap lurus wajah Hyena.

Tubuh Myung Soo kembali tegak. Ia melihat sekilas kearah jarum jam tangannya, “kau ada kelas malam?”

Hyena menggelengkan kepalanya kecil, “tidak. Aku baru selesai 10 menit yang lalu”

“tidak biasanya”

“ini karena dosen Kim mengganti jamnya empat hari yang lalu”

“benarkah? Tapi bukankah seharusnya kau sudah berada di cafe?”

“oppa lupa, ini hari selasa”

“ahh, iya aku lupa”

Myung Soo tertawa kecil dan memegang tengkuk belakangnya. Matanya menyipit dan membuat Hyena kembali terkekeh pelan.

“berarti masih ada waktu”

Dahi Hyena berkerut tipis, “apa?”

“kau mau lihat sesuatu?” ujar Myung Soo

Hyena belum menjawab tapi tangannya sudah ditarik terlebih dahulu oleh Myung Soo. Pria itu membawanya melewati 2 gedung fakultas kedokteran dan hukum. Cukup jauh, karena letak gedung itu saling berjauhan satu sama lain.

 “oppa kenapa kesini?”

“kau akan tau nanti” ucap laki-laki itu seraya tersenyum.

Myung Soo membawanya kedalam bagunan yang cukup besar. Ruangan itu adalah salah satu fasilitas yang diperuntukan khusus untuk kelompok Keahlian Astronomi FMIPA di Universitas ini. Banyak terdapat alat-alat penelitian disana. Khususnya untuk berbagai macam jenis refraktor.

Myung Soo menuntun gadis itu kearah tempat refraktor yang diletakkan di tengah ruangan.

“kenapa kau mengajakku ketempat ini?”

“memperlihatkan sesuatu kepadamu”

Myung Soo tersenyum dan melihat kearah refraktor yang berada didepanya itu. Sebelah matanya sedikit menyipit dan ia menggerak-gerakkan refraktor itu sedikit kearah kanan dan kiri. Myung Soo belum menemukan objek yang ia cari.

“seharusnya ada disini” gumamnya.

Hyena memperhatikan Myung Soo. Ia melihat sekelilingnya. Ia mencari kursi yang mungkin bisa ia gunakan untuk duduk. Tapi kedua matanya tidak menemukan benda itu.

“dapat!”

Tubuh Myung Soo kembali tegak. Ia segera menarik lengan Hyena agar lebih dekat dengannya.

“lihat ini”

Hyena menatap bingung pada pria yang masih terlihat antusias itu.

Myung Soo tidak sabar. Ia membantu tubuh Hyena membungkuk dan mengarahkan gadis itu pada refraktor bintang tadi.

Hyena mendekatkan sebelah matanya pada bagian ujung refraktor itu. Sedetiknya ia memandang takjub pemandangan yang Myung Soo berikan.

“cantik” gumamnya.

Myung Soo tersenyum kecil dan ia senang. Ia senang bisa melihat Hyena tersenyum.

Hyena menegakkan tubuhnya, “itu gerhana?”

Myung Soo mengangguk, “itu gerhana bulan. Kau suka?”

Hyena mengangguk semangat. Senyumnya sangat manis. Sebelumnya ia belum pernah melihat gerhana bulan sedekat itu.

Saat itu juga Myung Soo meraih tangan Hyena dan menggenggamnya lembut.Pandangan Myung Soo berubah serius dan itu membuat Hyena bingung.

“Hyena, kau tau aku masih menunggu jawaban itu. Kau sudah memikirkannya?”

Hyena sama sekali tidak lupa. Ia ingat jika Myung Soo memintanya untuk menjalani hubungan yang lebih dari teman atau sahabat.

Tapi sampai detik ini Hyena tetap memandang Myung Soo seperti sahabat atau kakak laki-lakinya sendiri. Ia tidak bisa melihat Myung Soo sebagai apa yang diinginkan laki-laki itu. Rasanya sangat sulit untuk dirubah.

“oppa? Aku,,,”

Hyena menatap Myung Soo yang menunggu kalimatnya yang menggantung. Ia tau setelah ini Myung Soo pasti merasa kecewa dengan jawabannya. Jawaban yang tidak sesuai dengan keinginan laki-laki itu.

“aku belum bisa”

Hyena mengamati ekspresi Myung Soo yang sedikit berubah. Tidak terlihat begitu jelas tapi Hyena mengetahuinya. Pandangan laki-laki itu berubah. Ia tau Myung Soo pasti merasa kecewa.

“maaf”

“tidak apa-apa” ucap Myung Soo seraya tersenyum kecil, “kau bilang belum kan? Itu artinya aku masih bisa menunggu”

Senyum itu terlhat sangat dipaksakan. Hyena merasa sangat bersalah. Perasaannya tidak bisa dipaksa untuk menganggap Myung Soo sebagai orang yang lebih. Hyena sudah berusaha mencobanya, tapi ia tidak bisa. Ia tidak mau membohongi laki-laki itu. Hyena tidak mau membuat Myung Soo senang dengan jawaban palsunya.

Sulit memang jika sudah membicarakan tentang perasaan.

Bagi Hyena , akan lebih baik jika ia dan Myung Soo tetap berhubungan seperti biasa. Hyena tidak bisa menerima Myung Soo dengan perasaan palsunya. Itu akan membuat laki-laki itu menjadi sakit suatu saat nanti.

*****

Ia hanya belum percaya dengan semuanya. Baru kemarin malam Hyena berbicara dengan laki-laki itu. Banyak hal yang mereka bicarakan semalam, selain perasaan tentunya. Tersenyum, tertawa bersama, bahkan Myung Soo sempat mengantarnya pulang. Hanya saja ketika mereka berada pada setengah jalan, Myung Soo berkata jika ia ingin kembali untuk mengambil catatannya yang tertinggal dibangunan tempat mereka melihat gerhana itu.

Satu hal yang Hyena rasa saat itu. Ia berat membiarkan Myung Soo kembali sendiri kesana. Hyena ingin ikut, tapi Myung Soo melarangnya.

“seharusnya aku ikut” gumamnya.

Hyena bangun dari duduknya. Ia sedikit berkedip beberapa kali saat matanya hampir berkaca-kaca. Hyena tidak boleh terlalu larut dengan kesedihannya. Itu tidak akan membuat kepergian Myung Soo menjadi tidak tenang.

—The Difference—

Jongin terus mengawasi makam Myung Soo. Matanya tidak ia alihkan dari sana. Orang tua Myung Soo masih menangis karena kepergian anaknya. Jongin sendiri tidak peduli. Ia terus memikirkan bagaimana caranya ia bisa membawa tubuh Myung Soo pada Kris.

Dengan terpaksa Jongin harus menunggu sampai keadaan menjadi sepi, baru ia akan menggali makam Myung Soo kembali. Jika perlu Jongin akan membawa Myung Soo bersamaan dengan petinya kehadapan Kris.

Jongin berdiri didekat pohon yang melindungi tubuhnya. Sebenarnya tidak masalah bagi Jongin jika ia terkena sinar matahari. Ia memiliki perisai khusus yang melindungi tubuhnya dari sinar itu. Itu adalah salah satu kelebihan yang dimilikinya.

Kembali pada Myung Soo, Jongin sebenarnya—sedikit—merasa bersalah dengan laki-laki itu. Tidak seharusnya Myung Soo merenggang nyawa malam itu—dengan cara yang tragis tentunya. Jongin belum terlalu mengenal Myung Soo lebih jauh. Ia juga tidak tau apa hubungan pria itu dengan Hyena.

Tapi Jongin juga tidak tau dengan dirinya sendiri. Ia begitu merasa marah pada Myung Soo. Jongin merasa Myung Soo lebih dekat dengan Hyena ketimbang dirinya sendiri. Itu terlihat dari pancaran mata Myung Soo kepada Hyena. Myung Soo menatap Hyena sangat lembut.

Jongin merasa iri.

Ia tidak ingin ada yang menyainginya.

Jongin ingin selalu merasa diatas. Karena itu ia tidak akan segan-segan menyingkirkan yang menjadi penghalan pada tujuannya. Jongin tidak bisa menghilangkan ambisi itu. Ambisinya seakan sudah menyatu pada insting vampirenya.

Dan Hyena—Jongin harus menunggu perasaan gadis itu.

Jongin pertama kali merasakan ini. Rasa aneh yang selalu berputar didalam dirinya. Melihat gadis itu menangis membuat Jongin menjadi orang yang rapuh. Tubuhnya bergerak sendiri untuk memeluk gadis itu. Jongin tidak tau apakan ia bisa memberikan pelukan yang hangat atau tidak untuk Hyena, tapi Jongin akan berusaha untuk itu.

Ini aneh tapi juga membuat Jongin nyaman.

Sekalipun perasaannya ini ditentang oleh saudaranya tapi Jongin tetap akan mempertahankan itu.

Saat Jongin sedang melamunkan tentang Hyena, sesuatu mengejutkannya.

Seorang gadis yang berjalan berlawanan dengan teman dan keluarga Myung Soo yang mulai meninggalkan makam. Ia membawa tangkai bunga mawar yang berwarna merah pekat. Ia menggunakan pakaian yang serba hitam.

Hyena melepas kacamata hitamnya. Jongin bisa melihat jelas mata Hyena yang sembab, bahkan sedikit membengkak.

Hyena menangisi Myung Soo.

Jongin ingin menghampirinya. Kaki Jongin baru selangkah berjalan, tapi ia kembali menarik langkahnya lagi. Jongin kembali bersembunyi dipohon besar yang menutupinya.

Belum saatnya.

Jongin lebih baik melihat Hyena dari jarak sejauh ini.

Gadis itu memejamkan matanya dan memibarkan genangan dimatanya jatuh. Ia berdoa dalam hatinya. Angin yang tertiup membawa helaian rambut Hyena ikut terbawa. Dinginnya angin yang berhembus seakan menelan hangatnya sinar matahari yang baru bersinar. Seharusnya Hyena bisa merasa sedikit lebih hangat karena sinar itu. Hyena kembali membuka matanya dan menaruh bunga mawar yang ia bawa.

“kau janji tidak akan membuat ku menangis saat itu. Dan sekarang lihat. Aku menangis” ucap Hyena, “ini karena dirimu oppa”

“seharusnya kau tidak pergi”

“mereka pergi dan sekarang kau juga pergi”

“lalu siapa yang akan menjaga ku”

“seharusnya kau membiarkan ku ikut malam itu”

Hyena menunduk. Ia tidak bisa lagi bicara. Gadis itu terisak didepan makam Myung Soo.

Jongin mencengkram kuat pohon yang sedang ia pegang. Kulit pohon itu hampir terkelupas dengan kukunya. Rahang Jongin mengeras. Hyena begitu sedih kehilangan laki-laki itu.

Seharusnya tidak seperti itu.

Jika aku yang pergi apa kau juga akan sedih?

—The Difference—

Hyena baru akan menutup pintu rumahnya. Tepat saat ia berbalik, tubuhnya dikejutkan dengan kehadiran seseorang.

“bisa kita bicara?”

Dahi Hyena terangkat. Ia seperti pernah melihat laki-laki didepannya. Tepatnya dimana Hyena lupa dengan itu.

“kita bicara di cafe tempat kau bekerja. Bagaimana?”

Hyena diam. Ia bingung dan penasaran.

Untuk pemikiran pertama kali yang muncul dikepalanya adalah, siapa pria ini? Bagaimana ia bisa tau Hyena tinggal disini dan yang ketiga adalah bagaimana ia bisa tau kalau dirinya sedang bekerja disebuah cafe?

“lebih cepat lebih baik”

Nadanya terdengar begitu dingin. Hanya perasaannya atau tidak, Hyena merasa laki-laki itu seperti sedang menahan sesuatu didalam dirinya. Hyena tidak tau itu apa, tapi itu terlihat begitu jelas.

“aku ingin bicara tentang Jongin”

Pria itu berbalik. Ia berjalan keluar dan masuk kedalam mobilnya.

Hyena ragu untuk mengikuti pria itu. Gadis itu tidak bodoh, ia tau jika pria itu pasti mengenal Jongin. Walaupun begitu, Hyena tetaplah harus waspada. Ia tidak mau begitu saja mengikuti pria itu masuk kedalam mobilnya.

Tidak lama pria itu keluar kembali dari dalam mobilnya. Ia menghampiri Hyena yang masih berdiri didepan pintu rumahnya.

“aku akan menunggumu disana”

Sedetiknya pria itu berjalan cepat kedalam mobilnya dan pergi.

Aneh.

Tingkah lakunya benar-benar aneh.

Hyena sekarang ingat. Laki-laki itu pernah ia temui saat menghadiri acara festival musim gugur didalam universitasnya. Acara tertutup yang hanya bisa dihadiri oleh mahasiswa disana. Dan Hyena yakin laki-laki itu adalah salah satu dari mereka.

Tapi untuk apa ia datang kemari dan ingin bicara dengannya?

Terlebih lagi pria itu ingin berbicara tentang Jongin padanya.

—The Difference—

“jauhi Jongin”

Hyena menaikkan pandangannya. Dahinya berkerut tipis. Ini seperti lelucon untuknya atau apa?

Sejak 10 menit yang lalu laki-laki itu hanya diam didepannya. Matanya tidak beralih dari satu titik. Hyena merasa tidak nyaman dengan pandangan pria itu. Tatapannya sangat tajam dan membuat Hyena tidak bisa melihat pria itu. Seperti ada pengimiditasian didalam tatapannya.

Hanya 2 kata yang ia ucapkan—jauhi Jongin.

“kau harus menjauh darinya” sambungnya lagi.

“kenapa aku harus melakukannya?”

“aku tidak bisa memberikan alasan untuk itu. Tapi jika kau mengikuti ucapan ku, maka semua akan baik-baik saja”

“siapa kau sebenarnya? Kau datang bertemu dengan ku hanya untuk membicarakan hal ini. Jika aku kembali bertanya, bagaimana jika ada orang yang menginginkan mu untuk jatuh dari lantai 10 tanpa alasan yang jelas, lalu kau harus menurutinya?”

“kau akan tau sendiri alasannya”

Hyena merasa pria didepannya sedang ingin mempermainkannya. Suasana hatinya sedang tidak baik. Hyena lelah jika harus melayani laki-laki didepannya ini. Permintaan yang tidak masuk akal. Ia tau jika gosip murahan tentangnya dan Jongin sudah meyebar luas. Tapi mereka tetap tidak tau apapun.

“permintaan mu tidak masuk akal” ucap Hyena, “maafkan aku, tapi aku harus bekerja kembali”

Hyena bangun dan memberi penghormatan kecil pada laki-laki itu. Gadis itu tanpa berkata apapun, ia membalikkan tubuhnya dan pergi.

Pria itu tersenyum licik dibalik punggung Hyena. Ia sekarang tau kenapa Jongin tetap bersikeras  mempertahankan Hyena. Gadis itu memiliki daya tarik tersendiri pada matanya. Cantik dan hampir membuat dirinya melupakan tujuan awal bertemu gadis itu.

Hyena tidak memperdulikan ucapannya.

Apa itu artinya ia menolak?

Hyena menolak menjauhi Jongin.

—The Difference—

Mata Jongin merah. Tatapannya tajam dan menusuk. Ia hanya fokus pada satu titik dimatanya. Makam Myung Soo. Tangan kiri Jongin membawa sebuah alat yang bisa ia gunakan untuk membantunya menggali makam itu.

Lebih cepat Jongin membawa tubuh Myung Soo itu lebih baik.

Bulan bersinar terang tanpa dihalangi awan apapun. Dan Jongin semakin lapar. Ia ingin mencari makanannya. Sudah berjam-jam ia menunggu di tempat ini hanya karena permintaan Kris. Dan lagi, Jongin tidak tau kenapa keluarga Myung Soo tidak ingin membakar sendiri jasad anaknya. Yang mereka lakukan justru menguburnya dan menambah pekerjaan baru untuk Jongin.

Kaki Jongin sudah berdiri tepat disamping makam laki-laki itu. Jongin tersenyum kecil dan ia menggumamkan satu kata dimulutnya.

Maaf

Dan detik itu juga Jongin mulai menggali. Ia melakukannya dengan cepat.

Tidak butuh waktu yang lama untuk Jongin melakukannya. Alat galinya sudah terbentus sesuatu yang keras dan Jongin yakin itu adalah peti mati Myung Soo.

Jongin menyingkirkan tanah yang menutupi kaca peti itu. Semakin lama semakin jelas.

Dan saat itu juga mata Jongin membulat. Ia menyingkirkan semua tanah yang menutupi peti itu untuk memastikan penglihatannya.

Tubuh Jongin kaku. Ia tidak percaya.

Seharusnya peti itu tidak kosong. Seharusnya Myung Soo ada didalamnya.

Jongin yakin ia tidak salah menggali makam orang lain.

Ia terus mengawasi makam ini sejak berjam-jam yang lalu. Dan Jongin yakin tidak ada yang menggali makam ini selain dirinya. Saat prosesi pemakaman Jongin juga dengan jelas melihat bagaimana tubuh Myung Soo masuk kedalam tanah bersama petinya.

Tapi sekarang, peti itu kosong dan benar-benar kosong.

Jongin gelisah. Ia melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan. Tidak seharusnya ia membiarkan darah Myung Soo menyatu dengan darahnya malam itu. Darah vampirnya.

TBC

19 responses to “The Difference [Chapter 3B]

  1. akhirnya di post juga lanjutannya.. 🙂
    yes… semoga myungsoo g mati, tapi jadi vampir kayak jongin, supaya tetep bisa ngejaga hyena
    tpi klo myungsoo beneran jadi vampire berarti dia yg terkuat dong ya? bener g sih *kepo* 😀
    lanjutannya ditunggu ^^~

  2. yg nemuin hyena sp thor??
    trus ko mayat myung soo bs ilang gtu sih??
    jgn2 dy jd vampir y??
    hadeehh masih byk pertanyaanya
    lanjut thor
    aq penasaran tingkat tinggi nh haadeeehh
    :-O 😦 😥

  3. muehehehe akhir ni ff keluar juga, masih sama dengan cerita sebelumnya. aku suka!!! keren wehh! lope lope buat ff ini :*

  4. yg ketemuan sama hyena kayaknya luhan deh, bener ga thor? *kepo
    ahh penasaran thor sama kelanjutan ceritanya ..
    lebih cepat lebih bagus :))

  5. Jangan2 ntar myungsoo.a jadi vampire yah?
    Yg bkal nyusahn jongn dkk. . .
    It yg dtengn hyena kayanya luhan dh?

  6. yg ngomong sama hyena buat ngejauhin jongin siapa sih? kris ato canyol? aku ngerasa otak canyol gak beres disini wkwkwk
    mayat myungsoo menghilang. sungguh tidak beres ini >_<

  7. OMG… Myung soo jadi vampire kah?
    Trus lelaki yg menyuru hyena menjauhi jongin itu paakah Luhan?
    Penasaran…
    Lanjut….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s