[Freelance] MY PRECIOUS PRINCESS (Part 3, BAGIAN 2)

mpp cover2

MY PRECIOUS PRINCESS…PART 3 ( BAGIAN 2)

AUTHOR :  AKIKO

Facebook : Akikochan4@gmail.com

GRUP CAST : MBLAQ

CAST : Hikari as main character

             Lee Joon MBLAQ

             Thunder MBLAQ 

             SeungHo MBLAQ as Joon’s father

             GO as Hikari’s uncle

Genre : Romance, Sad, Family and Comedy

Length : Series

Disclaimer : Please don’t coppy it for apreciate my hard work and don’t forget to leave your comment ^^ thanks 😀

                                                           

 

Thunder poV

Pagi itu, ayah mengatakan jika anak perempuan kakaknya akan melanjutkan  pendidikannya di London.

Aku sangat penasaran dengan yeoja yang akan kutemui nanti, mengingat aku adalah seorang yatim piatu yang beruntung dapat bertemu orang sebaik ayahku sekarang, namun jika hanya berdua saja dengan ayahku, lama-lama aku merasa bosan juga.

Sehingga ketika ayah mengatakan perihal tersebut, aku merasa sangat bersemangat menyambutnya.

Krek…..

Terdengar pintu pagar terbuka, dari kamarku aku dapat melihat dua orang yang berjalan memasuki rumahku.

Namja yang berada di sampingnya terlihat sedikit lebih tua dariku, namun aku lebih memusatkan perhatianku pada yeoja yang sedang tersenyum gembira memeluk ayahku dan ayahkupun tersenyum padanya.

Jarang sekali ayahku tersenyum seperti itu, sehingga aku sangat senang melihat kehadirannya.

Lalu aku segera bergegas menuju mobilku dan bertemu dengannya.

Entah mengapa wajahku dapat berbinar melihat wajah dan ekspresi yeoja itu, padahal kami baru saja bertemu.

Hikari nama gadis itu, ketika aku melihatnya dari dekat wajahnya benar-benar sangat menarik. “ menarik “ dalam kamusku adalah yeoja yang mampu membuatku benar-benar tersenyum dan nyaman berada di dekatnya.

Jika hanya cantik, aku sudah benyak melihatnya namun tak ada satupun dari mereka yang dapat membuatku sangat nyaman berada di dekat mereka, apalagi aku baru beberapa menit bertemu Hikari. Dia benar-benar gadis yang ajaib hehee

“ berarti……aku memiliki seorang kakak sekarang 😀 “

“ jadi aku bisa memanggilmu ‘oppa’ ? aku ingin sekali memanggil seseorang seperti itu.”

Aku terkejut dia mengatakan hal seperti itu padaku, aku mengira jika aku harus bekerja keras agar aku bisa akrab dengannya namun tak diduga-duga ia cepat sekali beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Namun tampaknya Joon tidak terlalu menyukai keakraban kami, karena sepanjang aku dan Hikari berbicara, Joon terlihat sangat kesal bahkan ia sama sekali tak menggubris pertanyaanku.

Aku sangat geli melihat kejadian itu, ekspresi Joon seperti anak kecil yang mainannya dirampas oleh orang lain.

Bruk..

Terdengar Joon sedikit membanting pintu mobilnya,

“ ehmm..apa aku terlalu berlebihan pada Hikari sehingga dia semarah itu? Sepertinya kami berdua akan sulit menjadi teman akrab jika membicarakan tentang Hikari” batinku sambil tersenyum.

“ Bagaimana perasaanmu pertama kali ketika sampai di London?” tanyaku membuka pembicaraan pada Hikari.

“ ehmm..Entahlah, ini kali pertama aku akan bertemu banyak orang. Aku cukup khawatir tentang itu” jawabnya tenang sambil terus menatap jalanan.

Namun aku merasa ada hal yang sedikit berbeda dari Hikari saat ini.

“ Selama ini aku hanya sering berkomunikasi dengan Joon, ketika di Korea aku sama sekali tak memiliki siapa pun. Sehingga ketika mengetahui tentang kau adalah anak pamanku, aku merasa sangat senang” tambahnya sambil melihat ke arahku.

Senyumannya ketika mengatakan hal tersebut seakan mampu menyayat perasaanku, dan aku merasa ia pasti sangat kesepian selama ini mengingat sikap Joon yang terkesan agak dingin padanya.

Aku ingat ayahku pernah bercerita bahwa orang tua Hikari tewas dalam kecelakaan pesawat saat ia masih kecil.

“ hahaa tenanglah, kau memiliki aku sekarang. Aku akan jadi oppa yang terbaik untukmu “ jawabku riang.

Sebenarnya aku turut prihatin, namun aku sebisa mungkin menguatkannya. Aku akan menyadarkannya bahwa ia tak sendiri lagi.

Joon poV

Brukk

Lagi-lagi aku menutup pintu mobil Hikari terlalu keras.

“tunggu, apa yang terjadi denganku?”

“mengapa aku tiba-tiba kesal melihat Hikari dengan namja bernama Thunder itu?”

“ ataukah a..aku??”

“ tidak tidak, ini tidak mungkin terjadi dan tidak akan pernah terjadi” batinku sambil berjalan memasuki area sekolah.

Sialnya aku, Hikari dan Thunder berada di kelas yang sama setelah aku mengeceknya di bagian akademik.

“ oke, Hikari adalah tugasku. Tak akan kubiarkan Thunder merusak segalanya.”

Aku terlalu larut dalam pikiranku sendiri sehingga setelah berjalan terlalu jauh.

“ AKU TERSESAT”

Bagaimana ini?

Waktunya sudah tak banyak lagi, tinggal 10 menit sebelum pelajaran pertama di mulai.

Awalnya aku bersikeras mencari kelasku seorang diri namun hasilnya adalah aku semakin tersesat. Sungguh Memalukan.

Akhirnya aku harus benar-benar menyerah karena waktunya tinggal 3 menit lagi.

Kuambil HandPhone-ku dari saku seragam dan menekan speed dial “1”

“ yeoboseyo” terdengar suara yang sudah tak asing lagi bagiku.

“ Hikari…a..aku” jawabku terbata-bata karena tertekan rasa maluku, saking malunya aku hingga menutupi seluruh mukaku dengan tangan kananku.

“Joon, apa terjadi sesuatu denganmu? Apa kau tersesat?”

Sepertinya tebakannya selalu benar jika aku telah kehabisan kata-kata seperti ini.

“Kau berada dimana sekarang?” tiba-tiba terdengar suara laki-laki dan itu tak lain adalah Thunder.

Sepertinya Hikari memberikan HP-nya pada Thunder.

“ Entahlah aku tak tahu” jawabku asal.

“ apa yang ada di dekatmu sekarang?”

“ aku hanya melihat ruangan dengan pintu yang besar dan pilar-pilar marmer berjajar” jelasku.

“ aku ke sana sekarang” jawab Thunder singkat dan ia menutup telponnya.

Tak dapat kubayangkan bagaimana harga diriku nanti…X_X

Yang ada di benakku adalah wajah Thunder yang semakin bersinar akibat kemenangannya dapat menemukanku dan di dekatnya ada Hikari. Bisa dibayangkan aku yang menjaga Hikari namun malah aku yang tersesat.

“ oh tidakk!! Ini menghancurkan kredibilitasku”

Terdengar suara derap seseorang sedang berlari.

“ itu mereka” batinku dengan rasa malu yang hampir menelanku hidup-hidup.

“ Joon, gwencana?” tanya Hikari panik.

Melihat sinar matanya, ia tampak sangat mengkhawatirkanku bukan tatapann yang ingin mengejekku.

Aku yang gugup dengan tatapannya hanya dapat mengangguk pelan.

“ ayo..kita sudah terlambat” jelas Thunder.

Kita segera berlari, dan sebelum kita masuk ke dalam kelas Thunder menghentikan langkahnya.

“ Biarkan aku masuk duluan..” kata Thunder dengan tenang.

Aku merasa ada yang berbeda dengan caranya berbicara saat ini.

Ketika kami memasuki kelas, semua mata tertuju pada kami dan nampaknya Thunder cukup populer dan dihormati di sekolah ini. Hal ini tampak dari hampir mata seluruh gadis yang berada di kelas itu memandangnya namun bukan itu yang kuperhatikan, tapi cara bicaranya yang sangat berubah drastis. Terlihat penuh kharisma dan wibawa.

Setelah Thunder berbicara sebentar dengan seorang professor yang sedang mengajar, ia memperkenalkan kami secara singkat dan menyuruh kami duduk di bangku yang kosong di pojok belakang.

Sedangkan Thunder sepertinya telah memiliki kursi eksklusif, karena ketika ia berjalan di barisan depan seorang pelajar dengan sigap menyerahkan tempat duduknya untuk Thunder.

Namun ia memegang pundak pelajar tersebut agar tetap berada di tempatnya dan segera Thunder berjalan ke samping Hikari dan berbisik..

“ aku akan duduk di dekatmu”

Entahlah itu bisikan atau indra pendengaran semua murid di sini memang luar biasa karena mereka langsung memusatkan perhatiannya pada Hikari dan Thunder.

Aku sama sekali tak suka dengan cara Thunder memandang Hikari saat ini, sepertinya ia berencana memonopoli Hikari untuk dirinya sendiri. Tak bisa kubiarkan hal itu terjadi.

Parahnya Hikari justru membalas senyumannya, Oh My God..

Keadaan di kelas semakin aneh sekarang.

Aku tak suka jadi pusat perhatian jadi aku segera menarik Hikari untuk duduk.

“ ehem…..kita lanjutkan” kata Professor itu memecah keheningan.

Jika professor itu tak berkata demikian mungkin saja akan ada pertunjukan drama di kelas ini akibat ulah Thunder yang tiba-tiba mendekati Hikari di tengah keramaian.

Ketika aku berusaha keras menghilangkan pikiran-pikiran tentang Hikari, tapi mengapa keadaan justru memicu aku terus menerus memikirkannya ataukah ini hanya syndrom aku terlalu sering dengannya?

Namun sepertinya alasan itu tidak masuk akal juga, mengingat komunikasiku dengan Hikari sangatlah buruk.

“ agh aku sangat bingung..” runtukku sambil duduk.

Tiga jam jam berlalu, untuk sejenak kami dapat fokus dengan pelajaran yang diajarkan namun setelah professor keluar dari kelas, kekacauan tersebut dimulai kembali.

Segerombolan anak perempuan mendatangi tempat duduk Hikari, dan aku telah memasang sikap waspada jika para gadis-gadis itu mengganggu Hikari.

Author poV

“ wah..rambutmu indah sekali, hitam legam dan sangat lembut. Bagaimana kau mendapatkan rambut seperti ini? “ kata salah seorang gadis yang mengitari Hikari.

“ iya, bahkan wajahmu pun benar-benar bersih dan bersinar, aku sepertinya akan menjadi penggemarmu” tambah yang lainnya.

Karena Hikari tidak terbiasa dengan suasana seramai ini, dia hanya dapat tercengang melihat sekelompok perempuan mengaguminya.

Joon merasa tak tahan dengan keramaian yang terjadi di sekitanya sehingga ketika ia akan mengusir para gadis yang sangat ramai itu, tiba-tiba..

be quite ladies, Can I get my privacy?” Thunder mengatakan kalimat singkat tersebut sambil mengeluarkan senyuman mautnya, sehingga para gadis itu seakan terhipnotis dan pergi meninggalkan mereka bertiga.

Joon yang melihat fenomena aneh tersebut tampak semakin kesal apalagi ia sudah berniat membantu Hikari namun Thunder mendahuluinya dan lagi ketika ia hendak berdiri, gerombolan gadis tersebut menabraknya sehingga Joon jatuh terduduk lagi di kursinya. ( poor Joon ^^)

“ gomawo oppa..aku belum terbiasa dengan situasi seperti tadi” kata Hikari sambil membereskan bukunya.

“ tak perlu sungkan J  bukankah aku sudah berjanji akan menjadi oppa yg paling baik untukmu?”

“ ne..” jawab Hikari tersenyum malu.

Joon poV

“ mwo??”

“ mengapa ia tersenyum hingga wajahnya memerah seperti itu?”

Aku benar-benar tak habis pikir mengapa Hikari dapat tergoda dengan kakak barunya itu, padahal aku yang lebih lama berada di sisinya.

“ Hei, apa kau ingin berkeliling ke sekolah ini?” tawarku pada Hikari.

“ apa kau yakin??” jawab Hikari sambil menaikkan sebelah alisnya dan ia terlihat tak percaya padaku.

“ mengapa tidak?” jawwabku enteng. Sebenarnya aku ingin menjauhkannya dari cengkraman si Thunder yang berusaha menyebar pesonanya kepada Hikari.

“ ehhm, bagaimana baiknya? “ jawab Hikari sembari berfikir seorang diri.

“ Thunder oppa, maukah menemani kami berkeliling? “ tawar Hikari seketika, dan tentu saja hal tersebut membuatku membelalakkan mata.

“ mwo? Membawa Thunnder ikut juga? OMG aku benar-benar benci situasi ini” batinku.

“ mengapa tidak? Bukankah kita akan pulang bersama juga..” jawab Thunder dengan wajah berbinar.

“ Huh,  tidak bisakah namja satu ini tidak bersikap sok kharismatik seperti itu –___–“ bisikku pelan.

Akhirnya dengan terpaksa kami mengelilingi sekolah ini bertiga.

“ mian Joon, aku hanya takut jika kita tersesat bersama dan jika hal itu terjadi maka bencana akan terjadi” kata Hikari sambil berjalan mendahuluiku dan menyusul Thunder yang ada di depanku.

“ BENCANA? Tapi kan setidaknya kita akan menemukan jalan keluarnya bersama jika tersesat? “ jawabku tak mau kalah.

“ ambillah resiko itu seorang diri Joon 😛 “ tambahnya.

“ aish, awas kau! Akan kuberi hukuman kau ketika tiba di rumah nanti..”

Author poV

“ kalian tampaknya sangat akrab” tanya Thunder sembari mereka berjalan perlahan.

“ ah, ne..lebih tepatnya keakraban kami ini lebih ke arah yang negatif “ jawab Hikari sambil tertawa ringan.

“ negatif??’ tanya Thunder bingung.

“ ya , lebih tepatnya kita hanya berkomunikasi dalam pertengkaran hahaa, jadi jika kita berkomunikasi maka itu adalah sebuah pertengkaran, aish Joon itu bukanlah seseorang yang suka berbaik hati”

“ namun ia tampak sangat menjagamu..” tambah Thunder.

“ aniya, dia hanya menjalankan tugasnya dengan baik, kau tau dia itu termasuk type perfeksionis.”

“ aku tau jika ayahnya bekerja untuk keluargamu, namun di luar itu ia tampak sangat melindungimu bagaimana ya menjelaskannya , terlihat dari tatapan matanya yang sesekali memandangimu seolah-olah kau adalah miliknya.” Papar Thunder jelas dan ekspresi Thunder kini berubah menjadi serius.

“ oppa, memperhatikan Joon?”

“ aniya, aku mengetahuinya karena aku meperhatikanmu, dan lagi Joon juga memperhatikanmu”

“ benarkah?” jawab Hikari gugup. Ia sama sekali tak menginginkan percakapan tersebut dilanjutkan, jika berbicara tentang hal tersebut maka perasaannya akan kacau kembali.

“ oppa, bagaimana jika kita bergegas pulang? Bukankah paman meminta kita untuk pulang lebih awal untuk mempersiapkan makan malam?” tambah Hikari mengalihkan pembicaraaan.

“ ok,  J

Joon yang memperhatikan mereka berjalan di depannya tampak semakin kesal atau lebih tepatnya ia tampak sangat kesal.

“ tak masalah, lanjutkan saja seperti itu, pekerjaanku akan semakin ringan kelak” katanya seorang diri.

“ Joon, kita pulang sekarang “ teriak Hikari dari depan.

“ ckck, teriakan macam apa itu Joon, kita harus pulang sekarang sedangkan ia memanggil Thunder oppa..oppa sepanjang hari ini ckck..” gerutu Joon.

Setibanya di tempat mobil mereka diparkir Joon segera berlari dan berdiri di depan Hikari.

“ wae? “ tanya Hikari malas.

“ kau ikut denganku, itu mobilmu! Bagaimana bisa kau menyuruhku mengemudikan mobilmu”

“ OK jika itu maumu kau bisa meninggalkan mobil itu dan aku akan menyetirnya sendri.” Jawab Hikari sambil membuang mukanya, ia tampak mulai kesal dengan sikap Joon hari ini.

“ Hikari, kau pikir aku akan membiarkanmu menyetir mobil itu sendri sedangkan kau sendiri tak memiliki ijin untuk mengemudi di sini” jelas Joon tegas, kini matanya menatap Hikari tajam seakan tak memberikan sedikit tolernsi pada Hikari.

“ ayo..” ajak Joon sambil menarik pergelangan tangan Hikari.

Thunder hanya diam melihat percakapan mereka berdua dan bergegas masuk ke dalam mobilnya sendiri. Sepertinya ia tak ingin terlalu jauh mencampuri urusan mereka.

Cengkraman tangan Joon terlalu kuat di pergelangan tangan Hikari, sehinga Hikari mengaduh kesakitan sesampainya di dalam mobil.

“ Joon, apa yang kau lakukan?” tukas Hikari sambil melepaskan tangan Joon dari pergelangannya.

“ aku hanya melakukan tugasku” jawab Joon dingin.

“ kau bersikap kekanak-kanakan hari ini, bisakah kau menghentikan sikapmu yang seperti ini?” tanya Hikari tak kalah kesal.

“ Aku hanya mengkhawatrikanmu, Hikari” jawab Joon lembut  sambil memasangkan sabuk pengaman Hikari dan Hikari dapat melihat tatapan sedih Joon.

Melihat hal tersebut, Hikari mendorong Joon menjauh darinya dan ia tak berbicara sedikitpun sepanjang jalan begitu pula dengan Joon.

“ mianhe, Hikari..sepertinya aku tak sanggup untuk berusaha tak peduli padamu.”

TO BE CONTINUED………

3 responses to “[Freelance] MY PRECIOUS PRINCESS (Part 3, BAGIAN 2)

  1. kok mereka bsa sekelas?
    bukannya joon 2 taun d atas hikari?
    sama halnya dengan thunder
    jadi bingung…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s