[Freelance] TRY TO LOVE (Chapter 4)

Untitled-1

TRY TO LOVE

Author :

Kim Mirna/@mirnakawamura

Main Cast :

Wu  Fan/Kris Wu (Exo M)

Song Nara (OC)

Other Cast :

Find it by yourself

Genre :

Romance, marriage life, sad (?)

Ratting :

PG 13

Lenght :

Multichapter

 

Annyeong chingudeul…..!!!

Mian atas keterlambatan ff ini n gomawo sdh mau menunggu…… ngga’ tau kenapa otakku benar2 mampet pas lg ngetik ff ini jd mungkn crtanya rada-rada aneh bin ajaib gt so jgn heran ya……

author ga’ lg tau mesti ngomong apa lg so kt lnsung aja ke TKP !!! #OVJ kalleeee#

Warning : hati-hati miss Typo bertebaran……!!!! don’t copas n i hate plagiarism!!

HAPPY READING N DON’T BE A SILENT READER!!!!! ^____^

 

 

 

 

Chapter 4

 

Matahari telah merangkak dari persembunyiannya, menampakkan sinarnya yang indah di permukaan bumi menambah kesan cerah di pagi yang masih sedikit berkabut. Pagi yang cerah itu, sosok gadis masih terlelap dalam tidurnya, menghiraukan berkas-berkas sinar matahari menerpa wajah mulusnya melalui cela-cela ventilasi. Namun tidak berlangsung lama gadis itu mulai menggelinjang di atas ranjang akibat diri sinar yang menusuk kulit wajahnya. Dengan perlahan ia membuka mata, ia sedikit menyipitkan matanya karena cahaya matahari langsung menghujam tepat diretinanya yang belum beradaptasi pagi itu. ia bangun dari tidurnya, namun tak sepenuhnya bangkit dari tempat tidur, ia duduk dengan mata yang terus diedarkan dalam ruangan bernuansa cokelat itu. ada yang aneh menurutnya, ruangan ini berbeda dengan tempat ia semalam tertidur.

‘bukannya ini kamar Wufan sunbae?’ batinnya dan sedetik kemudian ia terlonjak kaget dan berdiri disamping ranjang. Ia tahu ini salah, ia tidak harusnya berada di ruangan itu.

“ omo! Apa aku berjalan saat aku tidur semalam? Ottokheo? Bagaimana kalau Wufan sunbae tahu “ ujarnya bermonolog, ia mulai semakin panik, ia bergerak-gerak gelisah sambil menggigit kuku jari tengahnya. Ia takut kalau keberadaannya di ruangan itu diketahui Wufan atau Kris, ia tidak mau mendapat tatapan membunuh itu dan juga makian yang begitu menyayat hati. Kegelisahan dan kebingungannya semakin bertambah saat ia melihat kopernya telah bertengger manis disamping lemari.

“ eoh? apa aku juga menarik koper saat sedang tidur? “ tanyanya pada dirinya sendiri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal menandakan kalau ia memang benar-benar bingung.

Sementara ia masih berkelit dengan kebingungannya…….

Ceklek

Pintu kamar mandi terbuka menampakkan Kris yang topless dan hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya dan rambutnya yang basah dibiarkan begitu saja. Mata Nara hampir saja copot saking tekejutnya, dengan cepat ia membalikkan tubuhnya, membelakangi Kris. Kris yang melihat reaksi Nara yang menurutnya terlalu berlebihan itu hanya mencibir dan berjalan dengan santainya ke arah lemari pakaiannya.

“ m-mian…. aku…. “ Nara mencoba mengklarifikasi latar belakang keberadaannya di ruangan itu namun terpotong oleh ucapan Kris.

“ kau boleh menggunakan kamar ini “ potong Kris sebelum Nara menyelesaikan kalimatnya.

“ ne? “ Nara mencoba memperjelas pedengarannya, apa ia salah dengar tadi tapi masih dengan posisi membelakangi Kris

“ aku tidak mau eomma datang tiba-tiba dan melihat barangmu berada di luar, itu hanya akan menambah masalah “ ujar Kris dingin

“…..” tidak ada respon dari Nara, ia masih mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan Kris.

Kris sudah mengambil baju dan celana yang akan di pakainya, namun saat ingin memakai baju, ia berhenti dan menatap kesal punggung Nara karena gadis itu masih berdiri di tempatnya ssperti patung.

“ sampai kapan kau akan berdiri disitu? Cepat keluar !“ tukasnya ketus

“ ne? bukannya baru saja sunbae mengizinkanku berada dikamar ini? “

“ aku akan memakai pakaianku, apa kau akan tetap berdiri disitu? “ timpal Kris malas.

“ ani “ timpal Nara cepat dan langsung berjalan keluar kamar tanpa menoleh sedikitpun pada Kris membuat Kris mencibir untuk kedua kalinya.

“ tch….. “

Nara menyandarkan punggungnya didaun pintu setelah ia menutup pintu. Ia menghembuskan nafasnya perlahan.

“ gomawo “ gumamnya dan senyum simpul tersungging dibibirnya.

***

Dengan lemas Nara berjalan menuju halte bus terdekat dari kampusnya. Seluruh badannya sakit semua, ia merasa kalau ada tulangnya yang patah akibat dari pembullyan yang tadi pagi diterimanya, ia benar-benar tidak habis pikir, sebenarnya apa hubungan gadis bernama Kim Yoo Rin itu dengan Wufan, mengapa ia begitu membencinya jika bersama Wufan.

Ting Ting!

Klakson mobil dari arah belakang membuyarkan lamunannya, ia menghentikan langkahnya dan menoleh, ia menatap bingung Audi hitam yang berhenti didepannya. Kaca jendela mobil itu terbuka dan menampakkan sosok pria berkulit putih susu yang tengah tersenyum lebar ke arahnya.

“noona! “ seru namja itu dari dalam mobil dengan tubuh sedikit dicondongkan ke arah Nara.

“ Sehunni! “ serunya balik

“ noona, masuklah! “ perintah namja yang dipanggil Sehun dan membuka pintu mobil agar Nara masuk.

“ tapi….” Nara sedikit ragu mengingat kondisinya yang sekarang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

“ masuklah, appa mencarimu “ perintahnya lagi. Dengan ragu Nara masuk ke dalam mobil dan dalam hitungan detik mobil itu sudah melaju kencang di jalan raya yang dipadati dengan kendaraan.

“ Sehunni, kenapa ajhussi mencariku? “ tanya Nara dan menatap Sehun yang tampak serius mengemudikan mobilnya, Sehun menoleh sepintas ke arah Nara.

“ dia ingin meminta penjelasan “

“ penjelasan? Maksudmu? “

“ tentang pernikahanmu “

“ …..”

“ aishhh….. noona, kenapa kau tidak memberitahu kami kalau kau menikah? apa kau sudah melupakanku huh? “ gerutu Sehun dan mengerucutkan bibirnya kesal.

“ ani Sehunni, aku tidak mungkin melupakanmu, hanya saja….. “

“ sudahlah, nanti saja noona jelaskan di rumah “ ucapnya memotong ucapan Nara

Skip

Nara hanya bisa menundukkan kepalanya saat berhadapan dengan pria paruh baya yang kini duduk dihadapannya dengan tatapan menuntut penjelasan, tidak jauh berbeda dengan namja yang tadi bersamanya.

“Nara-ya, kenapa kau diam saja. Jelaskan pada kami, kenapa kau tiba-tiba menikah? “ pinta Tn. Oh

“ noona, apa kau hamil? “ celetuk Sehun membuat Nara dan bahkan Tn Oh terkejut. Ia menatap Nara harap-harap cemas jika memang yang dikatakan Sehun benar.

“ Ani! “ sergah Nara cepat.

“ jadi kenapa? “

“ sebenarnya….. “ Nara mulai cerita tentang latar belakang a bisa menikah dengan Kris termasuk tentang kontrak yang ia setujui dengan Ny. Wu

“ hhhuu….. apa ia memperlakukanmu dengan baik noona? “

“ ne “

“ noona bilang padaku kalau ia menyakitimu, biar aku yang akan menghajarnya “ Nara hanya tersenyum menanggapi ucapan Sehun. Ia benar-benar beruntung telah mengenal keluarga Tn Oh. Mereka memperlakukannya dengan sangat baik, Tn. Oh sudah dianggapnya seperti ayahnya sendiri.

Tn. Oh adalah seorang dokter hewan yang ia kenal 2 tahun yang lalu tepatnya saat Sehun mengalami kecelakaan mobil dan Naralah yang pertama kali menemukannya dan membawanya ke rumah sakit, saat itu Sehun sangat Shock karena ibunya yang berada dalam mobil yang sama dengannya tidak berhasil di selamatkan membuat ia mengurung diri di kamar dan menolak menerima pengobatan yang diberikan. Nara yang melihat hal itu merasa iba dan akhirnya memutuskan untuk sering mengunjungi dan menghibur Sehun hingga kesehatannya pulih. Dan dari itulah keluarga Tn. Oh sangat dekat dengannya bahkan memperlakukan ia layaknya keluarga.

***

Dengan perasaan was-was, Nara memutar knop pintu apartemennya. Yang ada dipikirannya saat ini adalah semoga Kris tidak ada di dalam sekarang. Bukannya takut, hanya saja ia merasa tidak enak hati karena sudah selarut ini ia baru pulang dan ini semua karena ulah Sehun yang memaksanya untuk tinggal lebih lama, meskipun Sehun sudah duduk di bangku SMA tapi tetap saja dia selalu berlaku manja pada Nara.

Ceklek

Pintu terbuka dan rasa was-was Nara semakin meningkat saat mendapati apartemen itu masih terang yang menandakan kalau Kris ternyata sudah pulang. Ia kembali berharap semoga saja Kris sudah tidur sehingga ia tidak perlu memikirkan alasan jika Kris menanyainya meskipun itu adalah hal mustahil yang akan terjadi karena mereka bukan dalam hubungan yang cukup baik untuk saling tahu urusan masing-masing saat berada di luar.

Nara masuk ke dalam apartemen dengan cara mengendap-endap layaknya seorang pencuri yang takut ketahuan. Langkahnya baru sampai di depan ruang tamu yang juga sekaligus ruang nonton ketika suara berat itu terdengar….

“ Darimana saja kau? “ tanya sang pemilik suara yang tak lain adalah Kris. Tubuh Nara menegang saking terkejut dan menghentikan langkahnya, ia menoleh ke asal empunya suara yang sedang duduk di ruang nonton dengan laptop di depannya dan menggunakan kacamata berbingkai hitam. Jantungnya kembali berdegup kencang saat melihat tatapan dingin Kris di balik kacamatanya.

“ sunbae….. “ Nara mencicit.

“ Darimana saja kau? “ ulangnya lagi masih dengan tatapan dinginnya dan belum beranjak dari tempat duduknya.

“ a-aku habis bertemu seseorang “ jawab Nara sedikit terbata karena pengaruh dari debaran jantungnya yang mulai tidak stabil. Kris menyunggingkan smirknya, ia melepas kacamatanya dan berjalan ke arah Nara dan menatap gadis yang sedang menunduk di depannya itu dengan tatapan merendahkannya.

“ seseorang?? Apa pelangganmu? “ sindirnya masih dengan smirknya. Mendengar itu Nara sontak mendongak dan menatap bingung ke arah Kris.

“ apa maksudmu sunbae? “

“ cih, berhentilah bersikap polos di depanku Nara’ssi karena itu sungguh memuakkan. aku juga tidak peduli dengan apa yang kau lakukan diluar sana tapi bisa kah kau menghentikan pekerjaanmu itu dan menjaga prilakumu selama kau berstatus sebagai istriku? karena tidak menutup kemungkinan, pria-pria yang kau layani itu adalah kolega bisnisku dan aku tidak mau kau mempermalukanku, itu akan mempengaruhi kelancaran bisnisku “ ujar Kris tajam dan menatap dingin Nara. Hati Nara bagai tertohok oleh jutaan anak panah saat mendengar perkataan Kris. Marah? Tentu saja, tapi ia lebih memilih meredamnya. Ia menggigit kuat bibir bawahnya dan mengepal tangannya, itu semua dilakukan untuk mencegah agar cairan bening yang sudah membendung di pelupuk matanya tidak keluar.

“ apa serendah itu kau menilaiku sunbae? “ tanyanya lirih

“ wae? Apa aku salah? “

“ kalau aku mengatakan kau salah. Apa kau akan mengubah penilaianmu? Tidakkan? Jadi anggaplah jika itu memang benar “ tukasnya tegas membuat Kris semakin kesal. Rahangnya nampak mengeras menahan amarahnya, ia tidak suka dengan sikap Nara yang terkesan menantangnya.

“ tsk “ Kris mendengus kesal dan berlalu meninggalkan Nara. Ia keluar meninggalkan apartemen dan menutup pintu dengan suara keras.

Sepeninggal Kris, Nara menghebuskan nafasnya berat, bahunya melemas.

“ gwencana,,, kau sudah melakukan hal yang tepat Song Nara “ ujarnya pada diri sendiri.

***

Kris meminum hampir 1 botol wine yang ada di hadapannya ditengah alunan musik. Ya, ia sekarang tengah berada di bar bersama sahabatnya, Suho. Ia memang selalu ke tempat itu saat ia sedang memiliki masalah, menengguk beberapa gelas alkohol dapat membuat ia melupakan masalahnya untuk sementara, begitulah pikirnya.

“ sudahlah, kau sudah mabuk “ Suho mengambil gelas berisi wine yang hendak Kris minum. Kris menatapnya tajam dan merebut kembali gelasnya dan meminum isinya sampai habis tanpa jeda.

“ kau ada masalah lagi?? Apa tentang istrimu? “ selidik Suho

“ jalang itu bukan istriku! “ sergah Kris dan menatap Suho tajam, sedangkan yang ditatap hanya menghembuskan nafas beratnya melihat tingkah sahabatnya itu.

“ kau tidak boleh seperti itu, suka tidak suka, sekarang dia itu istrimu “ Suho mencoba memberi nasihat sahabatnya itu tapi bukannya sadar, Kris malah balik membentaknya.

“ diam kau! Kau tidak tahu apa-apa dan juga aku mengajakmu ke sini bukan untuk menasehatiku“

“ aku hanya….. “ Suho hendak berucap lagi namun tepotong oleh teriakan seseorang.

“ oppa! “ panggil suara itu tidak jauh di belakang mereka, Suho dan Kris menoleh bersamaan.

“ kenapa dia disini? “ tanya Kris pada Suho dengan nada tidak suka setelah mengetahui gadis yang tadi memanggilnya.

“ mianhae…tadi dia menelponku dan menanyakanmu, dia terus memaksaku memberitahu keberadaanmu “ sesal Suho tapi Kris yang terlanjur kesal tidak menanggapinya.

“ Kris oppa, kenapa kau tidak menjawab panggilanku eoh?? “ rajuk gadis yang tadi memanggilnya yang kini tengah bergelayutan manja di lengannya. Kris menatap datar gadis itu beberapa detik, kemudian menepis gelayutan manja gadis itu dan kembali menengguk winenya.

“oppa, kenapa kau mengabaikanku? “ tingkah gadis itu semakin melunjak. Ia menjarah gelas wine Kris dan menangkup wajah Kris agar menatapnya. Suho memutar matanya bosan, ia kemudian beranjak meninggalkan Kris dan gadis manja itu, ia tidak tahan menyaksikan lebih lama serial mini darama itu.

“ keumanhae Yoorin-ah, aku sedang tidak mood saat ini “ tukas Kris malas. Ia melepas tangan Yoorin dari wajahnya.

“ waeyo?? Apa karena si jalang itu?? apa dia membuatmu kesal?? Kalau benar, aku akan memberinya pelajaran besok “ selidik Yoorin

“ Kim Yoorin!! Sudah ku bilang hentikan. Aku sedang malas membahasnya! “ bentak Kris membuat semua pengunjung bar yang tengah berdansa di lantai dansa menatapnya.

“ o-oppa, kau membentakku? Kau membentakku karena gadis itu?? apa kau menyukainya oppa? Kau jahat oppa! “ ujar Yoorin bersimbah airmata, tanpa menunggu jawaban Kris, Yoorin berlari meninggalkanya. Kris mengacak rambutnya gusar dan kemudian berlari menyusul Yoorin.

“ Yoorin-ah ! “ panggilnya sambil terus berlari mengejar Yoorin.

“ Yoorin-ah “ panggilnya lagi dan sekarang ia berhasil menarik tangan Yoorin dan membuat gadis itu menghadapnya

“ kau mau apa lagi oppa? Bukannya sudah jelas? Aku kecewa padamu oppa! “ tukas Yoorin dengan suara parau, airmatanya masih terus mengalir dipipinya.

“ Yoorin-ah, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Mianhae, karena tadi aku membentakmu tapi hari ini moodku benar-benar buruk. Keurom, mengertilah! “ jelasnya dengan suara pelan.

“ jadi kau tidak menyukainya? “

“ Ne “ timpal Kris disertai anggukan kepala.

“ oppa.. “ Yoorin menghambur kepelukan Kris dan masih terisak.

“ sudahlah jangan menangis lagi “ ujar Kris lembut sembari mengelus rambut panjang Yoorin. Ya, dia memang sudah menganggap Yoorin seperti adiknya meskipun hubungannya dengan Yoona, kakak Yoorin  sudah berakhir. Hal itu karena ia merasa kasihan pada Yoorin yang harus melewati harinya seorang diri, orangtuanya telah bercerai dan meninggalkannya, Yoona juga pergi meninggalkannya seorang diri. Ia masih ingat bagaimana Yoorin menangis pilu dan memintanya agar ia tidak meninggalkannya juga.

***

Seorang gadis yang tengah berbaring di atas tempat tidur terlihat sedang meraba-raba nakas di samping tempat tidurnya, mencari suatu benda yang dapat memberitahunya jam berapa sekarang, jam weker.

08.32

Matanya membulat saat melihat jarum jam weker itu menunjukkan pukul 08.32, ia cepat-cepat bangkit dan duduk di atas tempat tidur. Untung saja hari ini adalah hari minggu jadi ia tidak perlu buru-buru ke kampus. Ia kemudian menyadari sesuatu, ia menoleh disisi kanannya, ia tidak menemukan Kris berbaring disana.

“ dia tidak pulang “ gumamnya. Tatapannya berubah sendu saat mengingat kejadian semalam, saat dimana Kris begitu merendahkannya. Hatinya kembali sakit, ingin rasanya ia menangis saat ini, ia menatap langit-langit kamar dan mengerjap-ngerjapkan matanya agar airmata yang ingin keluar, menguap di udara. Ia menarik nafas dan menghembuskannya kemudian ia bangkit dari ranjang dan masuk kamar mandi, ia berdiri di depan wastafel dan menatap pantulannya di cermin atas wastafel.

“ apakah aku mampu melalui semua ini? “ gumamnya dan menatap nanar pantulannya di cermin.

***

Di sebuah kedai jajanan makanan khas Korea tampak seorang ajhumma yang begitu semangat melayani pelanggannya di bantu dengan 2 pelayan lainnya. Ia bolak balik dapur untuk mengantarkan pesanan pelanggannya. Sesekali ia membungkuk pada pelanggan saat mengantarkan pesanannya. Senyum senang tak luput dari bibirnya yang tampak kering. Saking sibuknya melayani pelanggan, ia tidak menyadari kalau ternyata ia sedang diperhatikan oleh seorang gadis yang berdiri di depan pintu. Song Nara.

Nara sangat bahagia melihat ibunya yang begitu sumringah dan semangat melayani pelanggannya. Sesekali ia juga tersenyum saat ibunya memberikan guyonan pada pelanggannya. Ia sudah lama sekali tidak melihat senyum ibunya yang seperti itu sejak ayahnya, Tn Song Woo Bin meninggal dan mengubah hidup mereka dengan drastis.

“ Nara-ya, neo wasseo? ” suara Ny. Kim menyadarkan Nara dari lamunnya, ternyata ibunya telah menyadari kehadirannya dan sudah berdiri di hadapannya

“ mm “ Nara mengangguk dan menyunggingkan senyumnya.

“ kenapa kau hanya berdiri di sini, masuklah, kau pasti lapar “

“ ne, nan jeongmal baegoppa eomma “ uajrnya manja dan melingkarkan tangannya di lengan ibunya.

“ aigoo…. bersikaplah sesuai umurmu eoh “ tukas Ny. Kim dengan ekspresi yang di buat-buat lalu mereka tertawa bersama tak menghiraukan pelanggan yang sedang memandang mereka.

“ kau mau makan apa? Eomma akan membuatkannya spesial untukmu “ tanya Ny. Kim setelah mereka duduk di salah satu meja makan.

“ aku ingin makan ddukbokki yang sangat pedas “

“ baiklah, eomma akan membuatkanmu yang extra pedas “ Ny. Kim langsung melesat menuju dapur membuat pesanan Nara. Nara melihat sekelilingnya dan sesekali menyunggingkan senyum pada pelanggan yang kebetulan melihatnya. Ia benar-benar tidak menyangka jika rumah yang dulunya adalah tempat pelacuran sekarang bisa menjadi kedai yang sangat sederhana dan ramai pengunjung dan ini semua berkat uang yang di berikan Ny. Wu sebagai kompensasi agar ia menikah dengan putranya, Kris.

“ ternyata uang benar-benar bisa mengubah segalanya “ gumamnya lirih.

“ ddukbokki extra pedas datang! “ seru Ny. Kim yang berjalan ke arah Nara dengan nampan di tangannya.

“ uwaahh…. sepertinya enak “ seru Nara sumringah saat melihat ddukbokki berwarna merah dan masih mengepulkan uap panas.

“ apanya yang sepertinya??? Ddukbokki ini memang benar-benar enak “ Ny. Kim ikut duduk di depan Nara.

“ eomma, tidak usah menemaniku makan, layani saja pelanggan yang lain “

“ sudahlah tidak apa, kita sudah lama tidak duduk di meja makan yang sama. Lagipula ada Oh dan Jung ajhumma ” Nara menatap ibunya sendu. Ibunya benar, sudah lama mereka tidak lagi makan bersama. Ia mulai memakan ddukbokki ekstra pedasnya.

“ bagaimana hubunganmu dengan Wu Fan? “ Nara menghentikan kegiatan menyendok ddukbokkinya saat mendengar pertanyaan ibunya, ia menatap ibunya beberapa saat dan kemudian beralih menatap ddukbokkinya kembali.

“ kami baik-baik saja “ timpalnya tanpa menatap ibunya, ia tidak ingin melihat ibunya dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Ia kembali teringat dengan sikap dingin Kris selama ini padanya membuat hatinya kembali sakit.

Nara memakan ddukbokkinya dengan kepala yang menunduk dalam. Cairan bening yang sejak kemarin di tahannya kini sukses membanjiri pipinya. Isakan kecil mulai meluncur dari bibir mungilnya yang masih mengunyah ddukbokki.

“ Nara-ya, kenapa kau menangis “ tanya Ny. Kim khawatir. Nara mengangkat kepalanya dan mencoba tersenyum meskipun sangat sulit.

“ aniyo, aku tidak menangis.  Ddukbokki ini terlalu pedas jadi airmataku keluar “ ucapnya dengan suara tertahan dan tersenyum paksa mencoba menunjukkan kalau dia baik-baik saja sehingga ibunya tidak khawatir. Nara kembali melanjutkan makannya, ia kembali terisak. Saat ini ia tidak bisa menahan rasa sakit yang dirasakannya, ini terlalu memilukan.

Ny. Kim menatap sendu putrinya. ia tahu kalau saat ini Nara menangis bukan karena ddukbokkinya yang pedas. Hatinya sangat sakit melihat putri yang selama ini di besarkannya menangis tertahan dan ia tidak bisa melakukan apa-apa karena ini semua adalah kesalahannya.

“ maafkan aku Nara-ya “ batinnya lirih. Tangannya terangkat mengelus lembut kepala Nara dengan penuh kasih sayang yang membuat Nara semakin terisak. Ia tidak peduli dengan pelanggan yang menatapnya heran.

Aku terjebak dalam sebuah situasi dimana aku harus memilih, pilihan yang keduanya berujung pada rasa sakit. Hidup sebagai anak seorang pelacur dan dicemooh oleh semua orang atau hidup sebagai anak pemilik kedai tapi direndahkan oleh orang yang aku kagumi dan itu sungguh menyakitkan.

***

Nara masuk ke dalam kamar tidurnya dan Kris dengan mata yang sedikit sembab, ia melihat sekitar kamar itu masih sama dengan saat ia keluar tadi pagi menandakan kalau Kris belum pulang sampai sekarang. Ia duduk di sisi ranjangnya dan kembali teringat dengan ucapan ibunya sebelum ia kembali ke apartemen.

“ eomma tahu, hubungan kalian hanyalah sebatas hubungan yang terikat oleh sebuah kontrak. Tapi ingatlah di depan Tuhan dan hukum kalian tetaplah sepasang suami istri yang sah. Jadi bersikaplah sebagai istri pada umumnya, berikan ia perhatian meskipun ia tidak menyukaimu karena seorang pria menyukai wanita yang memberinya perhatian.

“ haruskah aku bersikap seperti itu? “ gumamnya. Ia menghembuskan nafasnya dan berdiri dengan tangan yang terkepal.

“ aku akan mencobanya! “ ucapnya yakin, ia bahkan sudah melupakan ucapan Kris kasar semalam. Ia berjalan keluar apartemen menuju swalayan yang tidak jauh dari apartemennya yang bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Setelah sampai di swalayan, ia langsung berbaur dengan pelanggan-pelanggan membeli sesuatu yang bisa di masaknya. Setelah dirasa cukup dan trolynya sudah penuh dengan aneka ragam peralatan dapur mengingat peralatan di dapur Kris tidak lengkap, ia juga membeli sayur-sayuran dan buah-buahan serta beberapa bahan masakan lainnya, ia segera menuju kasir sebelum akhirnya ia kembali ke apartemen.

Nara tampak serius memasak beraneka ragam masakan yang dikuasainya. Ini untuk kali pertama orang lain akan mencicipi masakannya, jadi ia benar-benar mengerahkan semua kemampuan memasaknya. 2 jam berlalu dan masakannya sudah siap terhidang di meja makan, sekarang tinggal membereskan dapur yang sedikit berantakan dan menunggu Kris pulang.

1 jam

2 jam

3 jam

Hari sudah semakin sore dan Kris belum juga pulang padahal sekarang sudah waktunya jam pulang kantor. Nara menatap iba masakannya yang sudah dingin sejak tadi, ia menghembuskan nafasnya putus asa.

“ apa dia tidak pulang “ gumamnya dan beberapa detik kemudian ia mendengar pintu apartemen terbuka. Ia segera bangkit dari duduknya menghampiri Kris yang sudah berdiri di ruang nonton.

“ kau sudah pulang? “ tanyanya dan sedikit tersenyum. Kris berhenti dan menatap heran ke arah Nara. Ia mengangkat sebelah alisnya dan hidungnya seperti mencium aroma makanan, ia melihat ke arah ruang makan yang bisa terlihat dari ruang nonton. Ia semakin menatap bingung Nara.

“ apa yang kau lakukan ? “ tanyanya ketus

“ ah, aku hanya memasak sedikit tadi, kau sudah makan? “

“ aku tidak lapar “ ujar Kris dingin dan berlalu meninggalkan Nara yang kini tenggelam dalam kekecewaan.

“ ternyata sangat sulit “ gumamnya.

Sudah hampir 2 minggu Nara selalu memasak makan untuk Kris dan membuatkannya sarapan dan selama itu pula Kris belum juga mau memakan masakannya. Nara mulai lelah dan kehabisan kesabaran, ia merasa kasihan dengan makanan yang selama ini dimasaknya harus terbuang sia-sia.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, Nara selalu membuatkan Kris sarapan, ia sudah selesai memasak dan tepat saat itu Kris keluar kamar lengkap dengan stelan kantornya. Kris tidak menghiraukan Nara yang berdiri di samping meja makan, ia berlalu menuju pintu.

“ kau tidak sarapan? “ tanya Nara saat Kris melewatinya, Kris menoleh sepintas dengan tatapan dinginnya kemudian kembali melanjutkan langkahnya.

“ sunbae, tunggu “ Nara sedikit berlari menghampiri Kris dan menarik tangan Kris. Kris berbalik ke arah Nara dan menatapnya tidak suka, Nara langsung melepaskan tangannya.

“ mianhae….. tapi bisakah kau sedikit menghargai usahaku? Aku sudah beusaha bangun pagi dan membuatkanmu sarapan, tidak bisakah kau sedikit mencicipinya? “ ujar Nara dengan nada sedikit memohon. Kris menatap Nara yang tengah menunduk di depannya, ia bisa melihat ketulusan gadis itu.

“ baiklah, tapi… tidak dengan kau disini “

“ Ne? “ Nara menatap Kris beberapa saat yang dibalas tatapan dingin Kris “ baiklah “ lanjutnya, ia kemudian pergi menuju  kamar mengambil peralatan kuliahnya kemudian keluar apartemen.

“ makanlah selagi masih hangat “ ujar Nara saat melewati Kris. Sepeninggal Nara, Kris hanya menatap makanan yang terhidang di depannya dengan tatapan kosong tanpa menyentuhnya sedikitpun.

***

Nara PoV

Menatap daun berguguran dari pohon di musim gugur adalah hal yang sangat aku suka. Seperti sekarang ini, aku duduk dibangku taman belakang kampus dan terus memperhatikan daun-daun yang sudah kecokletan berguguran dari pohon dan terbawa oleh angin. Aku memejamkan mataku merasakan hembusan angin yang menerpa kulit wajahku dan hidungku dimanjakan dengan bau dedaunan kering. Aku sangat menikmati saat-saat seperti ini, saat-saat dimana hatiku bisa merasa tenang dan hangat.

“ Nara-ya ! “ panggil seseorang menghentikan kegiatanku. Aku menoleh dan mendapati Ji Eun yang sedang berlari kecil menghampiriku.

“ tidak biasanya kau datang sepagi ini? “ tanyanya setelah duduk di sampingku, aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya.

“ kenapa kau tersenyum? Kau baik-baik sajakan? “

“ Ne, aku baik-baik saja Ji Euna-ah “

“ syukurlah “ Ji Eun ikut menatap pohon yang daunnya berguguran di depan kami. Kami sama-sama terdiam larut dalam pikiran masing-masing.

“ bagaimana hubunganmu dengan Wu Fan sunbae? “ tanyanya tiba-tiba dengan mata yang masih menatap lurus kedepan. Aku menoleh mendengar pertanyaannya dan menatapnya. Ia juga menoleh menatapku.

“ bagaimana hubungamu dengannya? “ ulangnya lagi.

“ kami baik-baik saja “ jawabku dan langsung memalingkan wajahku ke depan, aku tahu Ji Eun sangat mudah menebak jika aku berbohong hanya dengan melihat ekspresi wajahku.

“ jangan coba membongiku Nara-ya, aku mengenalmu dengan baik. Aku sangat tahu jika kau sedang berbohong “

“ mengatakan hubungan kami tidak baik-baik sajapun tidak akan mengubahnya menjadi lebih baik “ ucapku lebih terdengar sebuah gumaman. Ji Eun menggenggam tanganku erat mencoba memberiku kekuatan.

“ mianhae…… “ lirihnya. Menatapnya dan matanya sudah berkaca-kaca.

“ kenapa kau minta maaf? “

“ karena aku tidak bisa melakukan apa-apa untukmu. Aku merasa sudah menjadi sahabat yang buruk untukmu. “ ujarnya dengan suara parau, ia menunduk menyembunyikan airmatanya.

“ gwencana…. kau sudah mejadi sahabat yang terbaik untukku selama ini. aku tidak tahu apa jadinya aku jika tidak memiliki sahabat sepertimu. Kau seperti eommaku, selalu merasa bersalah dengan apa yang menimpaku tapi apa kalian tahu? Aku jauh lebih sedih jika kalian memperlakukanku seperti itu. Aku merasa sangat menyedihkan dan lemah “ jelasku Ji Eun mengangkat wajahnya dan menatapku dengan penuh penyesalan. Aku menariknya dalam pelukanku.

“ mianhae… mianhae Nara-ya, aku tidak pernah bermaksud sepeti itu. mianhae… nan jeongmal mianhae “ aku menepuk-nepuk punggung sahabatku itu mencoba menenangkannya, setelah tidak ada lagi suara yang keluar dari mulutnya selain isakan.

***

Kris PoV

Aku menyandarkan kepalaku di sandarn kursi dan memijit leherku. Rasanya benar-benar melelahkan setelah berjam-jam berkutat dengan dokumen-dokumen yang harus kuperiksa dan kutandatangani.

Aku menatap langit-langit ruanganku dan tiba-tiba memori kebersamaanku dengan appa terputar kembali. Saat dimana aku pergi memancing bersama dengannya di pulau yang terpencil, saat ia memasak makanan kesukaanku. Aku telalu sibuk dengan kenangan-kenangan masa laluku hingga aku tidak menyadari cairan bening mengalir dari kedua sudut mataku. Cepat-cepat aku memperbaiki posisi dudukku dan menyeka airmataku sebelum ada yang masuk di ruanganku dan melihatnya. Aku mengambil handpone yang tergelatak di mejaku dan mengubungi seseorang.

“ yeobseo “ terdengar suara dari sebrang telpon menjawab panggilanku.

“ ajhussi, siapkan aku mobil, aku ingn ke rumah sakit sekarang “

“ Ne, sajangnim “

Skip

Aku memasuki gedung rumah sakit dan berjalan menuju ruang diamana ayahku di rawat. Aku tiba di depan kamar berlabel angka 207 di bagian ruang VVIP. Dengan menarik nafas terlebih dulu, aku membuka pintu kamar itu perlahan. Saat pintu terbuka lebar, aku bisa melihat dengan jelas ayah yang sangat ku kagumi berbaring lemah di atas ranjang dengan segala macam alat bantu yang terpasang di tubuhnya. Hatiku miris melihat pemandangan itu. Aku berjalalan menghampiri tempat tidurnya. Sebelum duduk aku sedikit membungkuk memberi hormat.

“ appa aku datang “ ucapku meskipun aku tahu ayahku tidak mungkin mendengar apa yang ku kakatan

“ maafkan aku karena beberapa hari ini tidak mengunjungimu. Apa kau kesepian appa?? “ tanyaku dengan suara parau, aku duduk di kursi samping ranjangnya dan menggenggam erat tangannya yang terasa dingin dan lemah.

“ nado. Aku juga sangat kesepian “ ujarku lagi. Aku tampak seperti orang bodoh berbicara pada orang yang jelas-jelas tidak dapat mendengarku. Tapi aku sudah terbiasa melakukan ini, aku terbiasa menumpahkan keluh kesahku pada ayah meskipun sekarang situasiya sudah berbeda aku tetap melakukannya.

“ appa, aku sudah menikah dengan wanita yang tidak kucintai, aku bahkan tidak mengenalnya”

“ jujur saja aku merasa bersalah terus bersikap kasar padanya tapi aku tidak mampu menutupi kekesalan dan kemarahanku. Aku marah kenapa dia tiba-tiba hadir dalam kehidupanku dan membuatnya semakin rumit. Aku tidak salahkan appa?? “ aku terus berbicara pada ayahku, berharap ia mampu mendengarnya. Airmataku bahkan sudah menetes dipipiku membuatku begitu rapuh. Aku tidak pernah menyangka jika kehidupan yang selama ini aku banggakan dengan segala kemewahan yang kumilki kini berubah menjadi kehidupan yang sungguh membosankan dan menyedihkan, kehidupan yang sanggup membuat seorang Wu Fan begitu lemah dan rapuh.

TBC

Akhirnya ff abal-abal ini selesai juga….. mian ya chingudeul klu feelnya kurang dapat (gmn feel sedih mau dpt klu bikinnya sambl dengar lagu Rock….hehehe) tapi aku sudah mngerahkan segala kemampuanku di ff ini kok.

Oh ya, just info! untuk beberapa minggu kedepan mungkin klnjutan ff ini akan sangaaaat telat di update coz author akan prg kesuatu tempat dalam wkt yng cukup lama….. jd bg readers yg tertarik ma ff ini, sabar menunggu ya…..

Thanks sdh mau baca n jgn lp comment ya….

See You Next Chap…… annyeong! #BOW#

43 responses to “[Freelance] TRY TO LOVE (Chapter 4)

  1. Uhh akhirnya keluar juga ffnya..
    Tambah bagus thor ceritanaya aku suka..
    Lanjur thor tapi jangan kelamaan ya thor..

  2. akhir nya udah dah post ……
    kris jahat bnget . gak kasian apa ma nara . !!!!!!!
    btw feel nya dpet thor . kta2 nya jga bgus . smua perfect dah ……. oke di tnggu klanjutannya thor . fighting !!!!!!! 😀 XD 😉

  3. akhir post jga chap 4nya haha

    gue kasian sama nara, di katain gtu sama si angry bird ganteng itu(?)
    ditunggu next chaptnya thor
    🙂

  4. Lanjuttttt!!!
    Kalo aku jadi Nara, dah kutinggal tuh tiang bendera, Tpi ceritanya gak bagus kalo gtu. . .hehehe..
    Pengen banget ada bagian Nara jenguk appanya Kris (loh?)

    pokoknya lanjuttt ya thor, ga pake lama pokoknya.. Trus part selanjutnya harus panjang kayak part ini.. Oke? 😀

    #plak!

  5. Lanjutannya jan lama-lama ;;;;
    Penasaran nih. Hubungan Oh fams sama nara deket sekali, jangan-jangan nara itu anak dari Tn. Oh/? /apadeh/
    Keep writing yah.

  6. anneyong, thor..reader baru ini…kekeke
    duh, gregetan deh liat sikapnya Kris, jd sebel sendiri
    aarrgghhh….Kris peka dikit lah, Nara itu g kyk yg km pikir
    pokoknya ff author ini keren, tlg di lnjut ya, thor, jgn lama2…

  7. wah ini ceritanya keren,,,fell nya dapet banget,,berasa jadi nara yg ngalamin semua kejadian itu hehehe:-D
    nara kasian banget yah d’cuekin ama tiang listrik,,,kris blom sadar aja;-)kenapa nara gak kefikiran bwat nyari ortu kandungnya yah??siapa tau ortunya orang kaya,,byar gak d’hina” terus,,:-(
    chapter 5 d’tunggu thor,,berharap secepetnya^^

  8. annyeong ..
    aku reader baru d sni ..
    tor , sikap kris buat aku nyesek bgt

    kasian sm nara nya 😥
    tor , d tunggu ne chap slanjutnya 🙂
    kasian sm readers lain nya yg lumutan nunggu nya 😀

  9. Kris oppa dingin banget sih sm Nara ,kan kasian oppa ayo donk buka hatimu buat Nara ,,nyesek bgt nih aq smpe nangis 😥 lanjut ya thor next.. ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s