Like a Sad Song (Chapter 1)

Untitled-1

Title : Like a Sad Song (Chapter 1) || Author : Anita / @Anita_Febriany || Genre : Romance, Sad || Rate : PG-17 || Main Cast : Bae Suzy (Miss A), & Huang Zi Tao (EXO) || Length : Chapter

———-Like a Sad Song———-

“Aku ingin mengulang kembali kenangan summer camp”

———-Bagian 1———-

Namaku Bae Suzy. Kedua orang tuaku bekerja, makanya setelah pulang sekolah aku sering dititipkan ke tempat penitipan anak-anak. Begitu sampai di sana, biasanya aku langsung mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru di sekolah. Setelah itu aku akan bermain sepuas-puasnya. Antara lain, bermain kartu, mewarnai gambar, dan lain-lain. Waktu itu belum ada TV-game seperti sekarang.

Biasanya anak-anak cewek lebih banyak bermain di dalam ruangan sedangkan anak cowok di lapangan, mungkin karena mereka lebih suka bermain bola.

Sehabis bermain, lalu makan bersama. Kemudian bersama-sama pula kami membereskan mainan dan membersihkan meja makan, setelah itu pulang.

Begitulah kehidupanku sehari-hari. Biasanya sekolah lebih cepat usai pada hari sabtu. Dengan demikian, aku jadi punya banyak waktu untuk bermain bersama teman-teman di klub anak-anak. Aku sangat suka klub anak-anak.

Klub anak-anak ini dibagi dua tingkat menurut kelompok umur, yaitu, kelompok besar dan kelompok kecil. Aku masuk kelompok besar karena umurku telah mencukupi. Kegiatannya pun berbeda. Jika ada acara-acara tertentu, kelompok besar akan menjadi pemimpin acara. Di luar itu, kedua kelompok ini tidak pernah bermain bersama. Bahkan terkesan anak-anak yang berasal dari kelompok besar sangat sukar untuk didekati.

Kami sangat menghormati kakak-kakak dari kelompok besar. Saat masuk kelompok besar, aku merasa tegang karena kakak-kakak senior terlihat lebih dewasa dibandingkan aku. Aku jadi seolah-olah terdampar di negeri antah berantah. Di kelompok besar itu pula aku bertemu dengan Tao.

“Bae Suzy masuk kelompok Tao, ya?” kata guru pembimbing kelompok besar.

“Wah, jadi kelompokku ya?” komentar Tao.

Anggota kelompok besar yang cewek sudah tidak ada lagi karena mereka semuanya sudah lulus. Jadi yang tertinggal hanyalah yang cowok saja. Jadilah aku pusat candaan anggota kelompok besar lainnya. Mungkin yang paling sering mengolok-olokku adalah Tao.

Acara tahunan yang paling kami sukai adalah summer camp, yang selalu diadakan setiap tahun.

“Kalian harus kompak ya?” kata guru pembimbing kelompok besar sambil tertawa, “Karena kalian sudah masuk kelompok besar, jadi harus bisa menyalakan api, masak nasi dan lain-lain. Kalian juga harus bisa menjaga anggota kelompok yang cewek!”

“Mengapa mereka sering mengolok-olokku,” keluhku pada guruku waktu itu.

“Mungkin karena sebenarnya mereka merasa malu,” jawab guruku sambil tertawa lagi.

Aku tidak mengerti arti jawaban itu, tapi gugup juga karena harus bekerja sama dalam segala hal di summer camp nanti antara lain memasak nasi, menyiapkan sayuran dan lain sebagainya.

Tanpa kusadari, setiap kami berkumpul aku selalu mencari sosok Tao. Walaupun dia suka mengolok-olokku, tapi dia selalu menolongku jika aku sedang kesulitan. Misalnya saat aku kerepotan membawa barang-barangku, Tao mendekatiku.

“Kamu ini memang lamban!” celanya sambil mengambil barang-barang yang sedang kujinjing.

Kalau sudah begitu, dia jadi terlihat sangat baik. Sepertinya Tao adalah cinta pertamaku.

Ini adalah summer camp pertamaku sejak aku masuk kelompok besar. Tidak ada yang berubah dalam setiap acara summer camp. Waktu masih jadi anggota kelompok kecil, kami tidur di semacam kabin. Tapi setelah jadi anggota kelompok besar, kami diharuskan tidur di dalam tenda yang berisi dua hingga empat orang. Karena aku satu-satunya anggota cewek, maka aku tidur di tenda yang sama dengan guru pembimbing yang kebetulan wanita.

Setelah mendirikan tenda, rencananya kami akan makan dan beristirahat. Kebetulan saat ini adalah giliranku piket menyiapkan makanan dan Tao mendapat giliran untuk menyalakan api. Sedangkan teman yang satu tenda dengan Tao mendapat giliran untuk pergi mencari kayu bakar. Akhirnya hanya ada aku dan Tao saja. Aku masuk ke dalam tenda Tao.

“Ada apa?” tanya Tao yang sedang memainkan capung yang baru saja ditangkapnya tadi.

“Aku ingin main,” sahutku.

Tao melepas capung itu. Dengan perasaan aneh aku memandangi capung yang terbang melarikan diri itu.

“Bodoh. Kembali ke tendamu sendiri sana!” celetuk Tao.

“Tidak mau! Aku mau di sini,” kataku berkeras.

Aku tidak tau kenapa aku jadi begini. Mungkin karena cuaca di sekitar kemah ini segar, jadi perasaanku terasa lepas. Tao berpikir sejenak.

“Aku tidak tanggung kalau kamu dimarahi,” cetus Tao sambil berbaring.

Aku jadi ikut-ikutan berbaring di sampingnya. Kami memandangi langit-langit tenda sambil mendengarkan suara aliran sungai dan suara jangkrik. Tempat ini jadi terkesan berbeda, padahal kami sudah pernah kemari beberapa kali.

Aneh sekali. Biasanya Tao suka mengolok-olokku, tapi sekarang dia diam saja, sepertinya ada yang dipikirkan. Baru pertama kali ini kami diam-diaman seperti ini, aku sendiri juga lagi malas ngobrol. Akhirnya kami terus saja berbaring dalam diam.

“Suzy eonni!”

Tiba-tiba seorang anak cewek dari kelompok kecil memanggilku. Tao memandangiku tapi aku tidak memperdulikannya. Dia juga tidak menanyakan apakah aku ingin keluar tenda atau tidak. Tak lama kemudian suara panggilan itu tidak terdengar lagi.

Biasanya aku akan segera menyahut dengan tergesa-gesa jika dipanggil, tapi sekarang aku malah tenang-tenang saja. Kubiarkan waktu akan berlalu begitu saja. Entah kenapa, aku senang bisa melewatkan waktu seperti ini bersamanya. Kami berdua memang masih kecil, sehingga tidak tau bagaimana caranya menyampaikan perasaan kami masing-masing.

“Belum ketemu? Dimana anak itu ya?”

Terdengar suara guru pembimbing yang sedang mencari-cariku. Suara-suara orang yang sedang mencariku mendekati tenda Tao. Tao bangkit. Kukira dia akan memberitahukan keberadaanku.

“Tao, Suzy ada di dalam?” tanya guru kami.

“Tidak ada,” sahut Tao.

Pada saat yang bersamaan, Tao menutupi tubuhku dengan selimut. Aku tidak mengerti mengapa dia melakukan hal itu. Seharusnya Tao tau, mereka akan dengan mudah menemukan aku di dalam tenda yang sempit seperti ini.

“Ini apa?” tanya guruku.

Pasti yang di maksud dengan ‘ini’ oleh guru pembimbing kami adalah gundukan selimut tempat aku bersembunyi. Karena Tao tidak bicara apa-apa, aku tetap saja meringkuk dalam selimut. Waktu berjalan dengan sangat lambat.

“Orang-orang sedang bingung mencari Suzy. Semoga dia cepat ketemu,” ujar guru pembimbing kami dengan lembut.

Sepertinya beliau tau aku sedang bersembunyi di balik selimut. Jika aku telah SMP dan Tao sudah SMA, mungkin aku akan di seret keluar dari selimut. Tapi kami masih SD.

Terdengar langkah guru kami yang semakin menjauh. Aku keluar dari selimut dengan keringat yang bercucuran.

“Tao…?”

Tao menundukkan kepalanya dengan kesal. Mungkin dia sendiri tidak mengerti mengapa dia menyembunyikanku. Aku jadi tidak tau harus bicara apa saat melihatnya. Aku malah jadi ngomong yang aneh-aneh.

“Bajumu bagus,”

Tao mengenakan T-shirt yang tertuliskan ‘EXO’ berwarna hitam.

“Oh ini… Ayahku yang membelikannya,” sahut Tao tak kalah anehnya.

“Bagus,”

Tao tersipu-sipu.

“Mau pinjam? Baju ini biasa-biasa saja,” kata Tao.

Tao melepaskan bajunya dan memberikannya padaku. Aku hanya diam sambil menerima baju itu.

“Cocok tidak?” tanyaku sesaat setelah mengenakan baju Tao.

“Lumayan,”

Baru kali ini aku memakai baju anak cowok. Terkesan seperti orang dewasa saja. Aku jadi teringat ayahku. Ibu suka mengejekku, ‘anak ayah’. Ayah selalu pulang terlambat. Makanya tiap ayah pulang kerja, aku selalu ingin berada di dekatnya. Aku sayang ayah yang selalu membawakanku kue-kue kesukaanku. Itu dilakukannya jika ayah ingin minta maaf saat pulang telat.

“Yuk?” ajak Tao.

“Yuk!” sahutku.

Kami keluar tenda dan menuruni lereng berbatu menuju lokasi pembuatan api unggun. Anak-anak cewek dari kelompok kecil bingung bagaimana caranya menyiapkan makan malam. Kebetulan sekarang giliranku untuk menyiapkan makan malam.

“Maaf, akan segera kusiapkan,” ucapku sambil memilin-milin ujung T-shirt Tao.

Mereka memandangiku dengan tatapan heran. Entah kenapa aku merasa bangga dengan tatapan mereka.

“Itu T-shirt Tao oppa, kan?” teriak salah satu dari mereka.

Setelah mencuci tanah yang menempel pada sayuran, aku memotong-motong wortel, kentang, dan lain-lain. Walaupun sebal karena sekarang giliranku piket menyiapkan makan malam, tapi aku senang juga karena seolah-olah aku sedang menyiapkan makan malam untuk Tao.

Setelah nasi yang kumasak matang, kami semua berkumpul di meja makan dekat api unggun. Aku tidak tau kenapa aku ingin sekali mengambilkan nasi yang pertama untuk Tao. Tapi jika aku langsung ke meja Tao, guru pembimbing pasti memarahiku. Akhirnya aku membagikan nasi kepada kepada orang yang tempat duduknya paling dekat denganku.

Ayo, cepat! Aku ingin segera makan bersama Tao! Tanganku yang sedang memegang piring nasi terasa bergetar.

“Terima kasih,” ucap Tao sambil menerima piring nasi dariku.

Aku sudah cukup senang dapat memberikan piring nasi untuk Tao. Ada perasaan sedih dan gelisah karena tidak bisa ngobrol dengannya. Mungkin aku akan mendatanginya lagi di tendanya.

Tapi T-shirt Tao masih kupakai, jika summer camp berakhir, mungkin T-shirt ini akan menjadi penghubung kami. Seandainya terjadi sesuatu, saat-saat yang kulalui bersamanya selama summer camp ini akan menjadi kenangan yang berarti. Kejadian hari ini membuat perasaanku melambung.

T-shirt Tao yang kupakai lama-lama menjadi kotor. Aku bingung mau mencucinya dimana, tapi akhirnya kuputuskan untuk memakainya terus.

Aku tidak tau mengapa aku dan Tao menjadi aneh. Mungkin karena kami mulai beranjak dewasa. Jika hubungan kami tidak ada kemajuan, pasti semuanya terasa membosankan. Aku memandangi anak-anak cewek dari kelompok kecil yang bekerja dengan lamban. Tumben aku jadi sabar seperti ini, seperti bukan diriku saja.

Matahari terbenam lebih lama saat musim panas. Langit mulai berubah warna. Sinar matahari yang terbenam itu membiaskan warna merah pada daun pepohonan. Saat matahari telah benar-benar condong, langit berubah menjadi jingga. Itu menandakan malam akan turun.

Api unggun dinyalakan. Kami asyik memandangi langit yang dihiasi banyak bintang. Bahkan para guru juga ikut-ikutan menyaksikan kumpulan bintang di langit. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi ingin menangis. Air mata kutahan sambil memilin-milin T-shirt Tao yang masih kupakai. Aku masih memikirkannya hingga aku terlelap.

Saat aku tersadar, ada seberkas sinar dari luar tendaku. Terdengar gema suara aliran sungai. Kukira hari telah pagi, tapi ternyata masih malam. Keheningan malam seperti ini membuatku takut. Saat mau membangunkan guruku yang masih tidur, aku menangkap kilasan cahaya yang menyilaukan dari luar tenda. Aku memberanikan diri menyibak penutup tenda.

“Ssstt,”

Tao berdiri di luar tendaku sambil menggenggam senter.

“Jangan keluar dengan baju seperti itu,” kata Tao.

“Tidak apa-apa,” sahutku.

Aku keluar dari tenda secara perlahan agar tidak membangunkan guruku. Aku tidak tau apa yang akan terjadi, tapi aku mengikuti Tao. Seolah-olah dia telah menyihirku untuk mengikutinya.

Kami berdua duduk di sebuah batu besar yang terletak di dekat tenda. Suara aliran sungai yang tadi terdengar berisik, sekarang terdengar sangat merdu. Suasana di sekitarku pun ikut berubah jika ada Tao.

“Langitnya indah ya?”

Di sekitar sini tidak ada lampu jalanan. Api unggun juga telah dipadamkan. Tao juga telah memadamkan senter. Begitu senter dimatikan, suasana sekitar kami menjadi sangat gelap. Tapi anehnya, aku sama sekali tidak takut. Jantungku terasa berdetak dengan lembutnya. Aku tidak tau mengapa aku jadi begini.

“Dingin juga ya,” ujarku.

“Aku kan sudah bilang tadi. Sebentar ya…”

“Tidak apa-apa…”

Tanpa menunggu ucapanku selesai, Tao berlari ke tendanya. Dia kembali dengan selembar selimut di tangannya.

“Pakailah, mungkin bisa menghangatkanmu,”

“Terima kasih,”

Jika kami pulang nanti, mungkin segalanya akan berakhir. Mungkin Tao akan kembali menjadi cowok usil yang suka mengolok-olokku. Jika kami dewasa, apakah waktu akan berpihak kepadaku? Tapi sepertinya impianku tidak akan terkabul karena ada sebuah peristiwa sedih yang menantiku di rumah.

To be continue…

—————————————————-

Terlalu membosankan ya? Hahaha ini baru awal, baca sampai akhir yaaa~ ^^

Karena novel aslinya aku suka banget. Sampai-sampai mencari novelnya tu butuh waktu 4tahun-an, dan baru awal masuk pekuliahan aku menemukannya di toko buku bekas. *curhat*

Sampai ketemu di chapter berikutnya!!!

43 responses to “Like a Sad Song (Chapter 1)

  1. ceritanya keren thor.. ga bosenin kooo… malah kaya ada di situ juga..ikut rasain yg dirasain sama mereka.. wkwkwk

  2. oh no cinta pandangan pertama di summer camp? sweet bangettttt!!!!! mana dr yg awalnya slg ngejek jd slg suka hahaha aku penasaran sama cerita nyaaa T.T

  3. Halooo
    Krn aku tuh reader br jd ny ff yg aku bc rd g berrtan
    Hehehe
    Harap dimaklumi
    N this is my first comment

  4. bahkan walau masih berfokus pada kisah masa kecil suzy, daya tariknya tetap terasa. aku selalu suka gaya bahasa kak anita yg sederhana, manis, dan mengalir…

  5. Jadi senyum senyum sendiri kalau ngebayangin ceritanya, ya Tuhan itu pasti so sweet banget pas lagi ngeliat bintang-bintang 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s