Like a Sad Song (Chapter 3)

Untitled-1

Title : Like a Sad Song (Chapter 3) || Author : Anita / @Anita_Febriany || Genre : Romance, Sad, NC || Rate : PG-17 || Main Cast : Bae Suzy (Miss A), & Huang Zi Tao (EXO) || Support Cast : Park Jiyeon (T-Ara) || Length : Chapter

———-Bagian 3———-

 

Saat aku masih SMP, ibuku terserang kanker yang parah. Nyawa ibuku sedang di ujung tanduk. Tapi untunglah nyawa ibu dapat diselamatkan. Selama dirawat di rumah sakit, nenekku sekali-kali datang menengoknya. Aku tidak mengerti, bukankah ibuku anak yang diharapkan oleh nenek? Waktu kecil, aku tidak begitu mengerti situasi keluarga ibuku. Saat menginjak SMP, sedikit demi sedikit aku mulai memahaminya.

Aku tidak pernah memprotes perlakuan nenek. Selama ibu tinggal di rumah sakit, aku membuat makanan sendiri. Lebih baik seperti ini,  aku tidak mau menyusahkan orang lain. Ibu menyerahkan segalanya kepadaku. Kupikir dengan hidup sendiri seperti ini aku tidak perlu menyakiti atau di sakiti orang, tapi masalahnya aku tidak punya uang.

“Biaya hidupmu sudah ibu titipkan kepada nenekmu. Jumlahnya sudah ibu atur,” kata ibu memberitahuku.

Aku tidak percaya ibu masih percaya pada orangtuanya dan adik-adiknya yang menyebalkan itu! Apa boleh buat? Bibiku yang baik hati itu pernah bilang kalau aku bisa datang kapan saja jika aku membutuhkan pertolongan. Aku berniat minta tolong pada bibi, tapi bibi baru saja menikah dan pindah ke kota lain yang jauh dari tempatku. Ibu menyerahkan semua uangnya kepada saudara-saudaranya untuk mengurus pembayaran rumah sakit dan biaya hidupku. Mungkin ibu merasa aku masih kecil untuk memegang uang sendiri.

Aku hanya di beri 1000 won sehari oleh mereka. Jelas itu bukan jumlah yang cukup. Belum lagi beberapa tagihan yang harus kubayar, aku harus memutar otak untuk itu. Masalah pembayaran tagihan itu harus kutanggung sendiri. Padahal ibu kan sudah menitip uang pada nenek dan saudara-saudaranya. Aku menelepon nenek untuk menanyakan uang titipan ibu.

“Pikirkan sendiri!” teriak nenek.

Saking marahnya, aku melemparkan gagang telepon ke dinding. Aku harus segera mencari jalan. Jika gas habis, aku tidak akan bisa memasak dan jika telepon di putus, maka celakalah aku karena telepon adalah alat komunikasi yang sangat penting. Jika ada apa-apa dengan ibu, bagaimana pihak rumah sakit menghubungiku? Malang sekali nasibku. Aku bahkan tidak bisa memikirkan hal-hal yang sepele sekalipun.

Aku memutuskan untuk tidur saja. Jika tidur, aku tidak perlu memikirkan apapun.

Aku bergelung di tempat tidur dan beberapa kenangan melintas di kepalaku. Pasti saat ini langit sedang bertaburkan bintang-bintang. Kira-kira Tao sedang apa ya? Mungkin sekarang dia sudah tumbuh dewasa dan tampan. Wajah ayah pun terlintas di benakku. Tiba-tiba aku merasa tidak butuh kenagan-kenangan indah itu. Akhirnya aku jatuh tertidur karena kelelahan.

Biasanya aku makan malam nasi putih dan sup sayuran. Hanya sedikit sayuran yang kugunakan, untuk menambah rasa sup saja. Untungnya kaldu yang kugunakan berasal dari sejenis kaldu blok yang enak.

Aku jadi teringat sup sayuran yang pernah kumakan di rumah nenek. Walaupun aku sangat benci nenek dan saudara ibu lainnya, aku tetap bersyukur karena mereka pernah memberiku makan walaupun hanya sekedar nasi putih dan sup. Paling tidak, itu yang kurasakan saat aku hanya bisa makan sepotong roti untuk makan malam.

Suatu hari aku mendengar beberapa teman cewek sekelasku sedang mengobrol.

“Kamu mau uang tidak?”

“Coba saja,”

Akhir-akhir ini ajakan itu sering kudengar. Aku tidak begitu mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku ingin bertanya, tapi aku tidak begitu mengenal mereka dengan baik. Aku hanya bisa mengira-ngira mereka sedang membicarakan sesuatu yang berbahaya.

Ternyata aku benar, mereka sedang membicarakan enjo kosai (enjo kosai merupakan aktivitas dimana gadis-gadis belia di jepang yang rela menemani lelaki). Istilah enjo kosai sendiri tidak terdengar terlalu buruk di telingaku.

Dalam dunia enjo kosai di jepang, transaksi yang berlaku terkesan simpel saja. Kita hanya menukar tubuh dengan sejumlah uang. Kupikir itu tidak terlalu kotor. Aku mencoba berbicara dengan temanku, Jiyeon.

“Bagaimana kalau kamu nanti menyesal?” kata Jiyeon sambil tertawa.

“Menyesal juga tidak apa-apa, paling tidak aku ada uang untuk membeli makanan,” ujarku.

“Situasimu serba sulit ya? Kamu yang harus memutuskannya sendiri,”ujar Jiyeon.

Jiyeon memang seperti itu. Dia selalu bisa memutuskan segalanya sendiri tanpa bertanya apa pendapat orang lain.

“Bagimana kalau hari ini saja?” ajak seorang anak sambil tersenyum.

“Baik, apa yang harus kulakukan?” tanyaku.

Anak itu mengeluarkan sepucuk amplop. Isiya secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat dan uang sejumlah 100.000 won.

“Pembayaran di muka? Bagaimana kalau aku melarikan diri?”

“Kamu tidak akan melakukan hal itu kan?” kata anak itu meringis.

Mungkin dia memahami situasiku.

Matahari telah terbenam, malam ini bulan purnama. Alamat yang tertuliskan di kertas itu tidak begitu jauh dari rumahku.  Aku pergi tanpa mengenakan make-up, dan uang 100.000 won kutinggalkan di rumah. Jika ada apa-apa, uang itu sudah ada di tanganku. Aku pergi dengan perasaan seolah-olah mau berperang saja. Aku menunggu di tempat yang telah ditentukan. Tak lama kemudian, ada sebuah mobil mendekatiku secara perlahan. Wajah yang muncul dari dalam mobil adalah milik seorang pria yang usianya lebih muda dari yang kukira.

“Naiklah,”

Aku tidak mengerti mengapa dia bisa mengenaliku. Mungkin orang itu sudah terbiasa melakukan hal ini. Aku jadi gelisah, tapi aku segera teringat jumlah uang itu. Angin malam yang bertiup membuat bulu kudukku meremang.

“Anak yang baik,” kata pengemudi itu sambil tertawa.

Ucapannya itu seolah-olah ditujukan kepada seorang anak yang sedang ketakutan. Mobil yang kutumpangi berhenti di Love Hotel (love hotel adalah sejenis hotel untuk tempat kencan sesaat, hotel jenis itu terdapat cukup banyak di jepang).

Baru kali ini aku masuk ke Love Hotel. Tanganku keringatan saking tegangnya. Sudah kepalang tanggung, aku tidak bisa melarikan diri. Percuma, aku butuh uangnya. Pria muda itu menelepon seseorang lalu dia membawaku masuk ke lift, menuju ke lantai empat. Pria itu membunyikan bel sebuah kamar.

“Kita sudah sampai,”

Ada beberapa orang pria di dalam kamar itu. Bulu kudukku berdiri. Aku jadi takut. Serasa sekujur tubuhku membeku.

“Masuklah,”

Aku masuk ke dalam kamar dengan perasaan bingung. Hah? Ternyata mereka ada enam orang! Hatiku jadi cemas dan gelisah.

“Sudah terima uangnya?” tanya seseorang pria sambil tertawa.

“Sudah,” anggukku.

“Kamu tenang juga, ya!” komentar salah satu dari mereka.

Sebenarnya aku ingin menangis, tapi entah kenapa tubuhku serasa membeku. Mungkin karena aku berpura-pura bersikap tenang agar tidak menangis. Yang terbayang di benakku hanyalah ibu yang terbaring sakit dan setumpuk uang yang telah kuterima.

“Bagaimana? Kamu sanggup?” tanya seseorang.

Aku ingin menolaknya, tapi entah kenapa aku tidak punya keinginan untuk itu. hatiku menjerit, ibu maafkan aku!

“Sanggup. Tapi aku masih gadis dan belum pernah melakukannya. Tolong jangan sakiti aku,” ujarku.

“Kamu bohongkan?”

“Tidak, aku memang gadis.”

Mereka terlihat terkejut mendengar pengakuanku. Aku bahkan tidak mengerti seperti apa hubungan seks itu. aku memang pernah membaca tentang hal itu, tapi aku sendiri belum pernah melakukannya. Jadi bisa di bilang ini pengalaman pertamaku. Aku pernah mendengar kalau sebaiknya seorang gadis melepaskan masa gadisnya dengan orang yang dicintainya. Itu benar. Tapi aku sangat membutuhkan uang untuk ibu.

“Ambil ini!” kata pemimpin mereka sambil melempar segepok uang, “Itu! Kutambah 100.000 won. Kamu benar masih gadis kan?”

Sikap pria yang melemparkan uang ke lantai itu seperti sedang menghinaku saja. Tapi aku abaikan sikapnya itu. Karena aku melakukan ini demi uang. Aku pun memungut uang itu sambil menggigit bibir bawahku.

“Kemarilah!” kata pria yang melemparkan uang tadi.

Aku melangkah mendekatinya. Dia mulai melucuti pakaianku. Aku benar-benar malu. Kelima pria lainnya juga mulai membuka pakaian mereka. Mereka lalu memandangi tubuhku yang tidak mengenakan sehelai benang pun.

Aku hanya diam saja sambil memandangi langit-langit kamar yang dipasangi sebuah cermin besar. Bayanganku yang terpantul pada cermin itu terlihat seperti sebuah boneka. Dengan serampangan mereka menjamah tubuhku. Ada beberapa dari mereka yang menyakiti tubuhku. Tak lama kemudian laki-laki yang merupakan pemimpin mereka itu berkata, “Minggir!”

Semoga semuanya cepat berlalu tanpa ada rasa sakit. Ternyata harapanku tinggal harapan. Pria itu justru memperlakukan tubuhku dengan kasar sehingga aku harus menahan sakit yang teramat sangat. Aku tidak pernah mengira pengalaman pertamaku akan menjadi seburuk ini. Aku mual dan jijik. Aku ingin semuanya segera berakhir. Setelah puas, pria itu turun dari tempat tidur.

“Selanjutnya terserah kalian,” ucapnya.

Kelima orang pria yang tadi hanya diam saja jadi ribut menentukan giliran siapa selanjutnya.

Mungkin lebih baik pingsan saja sementara mereka melakukan hal itu terhadapku. Tidak ada yang bisa kulakukan kecuali pasrah. Wajah ibu yang sedang sakit kembali terbayang.

Akhirnya semuanya berakhir. Aku melirik ke jam dinding, ternyata sudah tiga jam berlalu. Aku hanya bisa menahan rasa sakit, di sekujur tubuhku penuh dengan bilur-bilur merah.

“Mandilah,” kata si pemimpin dengan lembut sambil membantuku beranjak dari tempat tidur.

Ucapan lembutnya itu bergema dikepalaku. Sikapnya berbeda dengan perbuatannya tadi. Bahkan caranya membantuku berdiri seperti orang yang sedang memegang barang yang mudah pecah saja. Gara-gara dia memperlakukanku seperti itu, aku malah menangis. Aku menangis karena tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia berlaku selembut ini. Bukankah dia telah membali kegadisanku? Aku tidak tau seperti apa perasaanku padanya. Benci? Air mataku tak mau berhenti juga.

Aku mandi dan membasuh tubuhku sebersih-besihnya. Saat berendam di bathtub, barulah aku bisa berhenti menangis. Bilur-bilur di tubuhku terasa perih saat terkena air sabun. Aku tidak mau melakukan hal ini untuk kedua kalinya. Aku tidak akan menjual tubuhku lagi. Cukup sudah kegetiran ini.

Selesai mandi, aku keluar dari hotel. Aku minta diantar ke sebuah super market dekat rumahku karena ingin belanja. Pria yang menjemputku dan mengantarku adalah orang yang sama. Kali ini dia tidak bicara apa-apa. Aku tidak mau berurusan dengan mereka lagi.

Di super market, semua makanan yang kusukai kumasukkan ke dalam keranjang. Tapi makanan-makanan itu sama sekali tak terlihat lezat. Selesai belanja, aku pulang. Aku sangat lelah dan ingin tidur. Besok aku harus sekolah.

Tiga bulan kemudian keadaan ibuku membaik dan diizinkan pulang ke rumah. Kehidupanku kembali seperti sedia kala. Sebelum ibu pulang, aku harus menghemat uangku dengan cara memakainya seperlunya saja. Aku juga sudah terbiasa tidur dan bangun sendiri.

Aku senang karena akhirnya ibuku bisa pulang dari rumah sakit dalam keadaan baik-baik saja. Tapi tentu saja ibuku belum boleh bekerja. Jadi kami masih harus tabah dengan kehidupan yang seperti ini.

“Selama ibu tidak ada, semuanya baik-baik saja kan, Suzy?” tanya ibu.

Ibu terlihat agak kurusan. Setelah pulang dari rumah sakit pun pasti ibu akan bertambah kurus karena akan ada setumpuk masalah yang dihadapi. Kanker yang di derita ibu telah menjalar ke lambungnya dan tidak ada jalan lain selain mengoperasinya. Syukurlah operasinya dapat berjalan lancar.

Saat aku mendengar ibu divonis kanker, aku jadi gemetar. Sekujur tubuhku lemas. Jika ibu meninggal, aku tidak tau apakah aku bisa sekolah atau hidup sendiri. Segala kemungkinan buruk bisa saja terjadi. Aku benci memikirkan kemungkinan ibu akan meninggal akibat kanker.

“Ibu, saat dokter bilang ibu terkena kanker, aku langsung berpikir tentang kanker alias kantong kering lho,” kataku bercanda.

Ibuku hanya tertawa mendengar perkataanku.

Aku bercanda untuk menutupi kegugupanku. Tapi syukurlah karena operasi ibu telah berhasil.

“Uang yang ibu titipkan ke nenek cukup?” tanya ibu.

Ucapan ibu membuat hatiku perih. Aku tidak ingin mengatakan perlakuan nenek yang hanya memberiku sedikit uang.

“Cukup,” sahutku dengan riang.

Jika kukatakan yang sebenarnya, ibu pasti sedih dan merana. Tapi yang jelas, aku tidak sudi berhubungan dengan saudara-saudara ibu lagi! Memikirkannya saja tidak mau!

“Ibu tidur saja, kalau ibu sakit lagi nanti aku juga yang bingung,”

“Jangan bilang karena ibu…” sahut ibu sambil berbaring.

Dari tadi aku tertawa dan tersenyum. Setelah ibu tidur, baru aku merasa tenang. Aku lelah berpura-pura tersenyum di depan ibu.

To be continue…

Akhirnya chapter 3 selesai juga di ketik ^^ maaf kalau lama menunggu. Padahal tinggal ngetik ulang! Hahaha soalnya banyak yang harus di edit. Yang ketikan warna merah di atas, itu penjelasan yang aku dapet di internet. Semoga kalian mengerti. Oke, sampai bertemu di chapter berikutnya!!!

35 responses to “Like a Sad Song (Chapter 3)

  1. OH NOOOOOOOOO kenapa suzy mesti ngerelain tubuhnya dia? bego apa gimana ya T.T aku tau sih kehimpit ya gak ada jalan lain cuma ampun aku kira gadisnya dia bakalan bwt tao 😦 keluarganya jahat bgt -_____-

  2. Nggak kuat rasanya baca chapter ini… hiks hiks huwaaaaaa!
    Aku bingung mau lanjutin baca ke chapter selanjutnya atau nggak..
    Emm… tapi aku masih berharap akhir yang bahagia untuk Suzy, jadi kuputuskan untuk baca cerita ini sampai habis. Fighting!

  3. where is tao?? hehe…

    ouh, poor suzy! why her life is so difficult? huft… i can feel her sadness and despair.

    thanks to author! ^_^

  4. Kasian bner Suzy, idup dah susah mkin susah aja
    Lgian ayahnya mana seh, wlaupn udah cerai masa ga peduli bner!

  5. Ya Tuhan, Suzy kenapa ngelakuin hal itu? Ah lagipula keluarga ibunya jahat banget! Kenapa gitu sih, dasar serakah-_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s