[Freelance] Love Drunk (PART 4)

CYMERA_20131105_170508

Title                       :    Love Drunk (PART 4)

 

Author                  :    Safira Bella/@fira_bella

 

Genre                   :    Romance,Angts, Friendship, Etc.

 

Cast                       :  

–          Alexandra Wu (OC)

 

–          EXO Members

 

–          VIXX Members

 

–          And Others.

 

Rated                    :     PG-17+

 

Exo milik management, orang tua dan Tuhan YME, kecuali Kris Kai Luhan. Ide seratus persen dari otak author jadi leave comment guys J

 

Happy Reading ~~~(^o^)~~~

 

Alex masih terdiam ditempatnya memandang lurus pria yang sekarang mulai beranjak dari duduknya dan mendekat padanya.

“Kau sungguh tak merindukanku, Lex?” Pria itu memiringkan kepalanya melihat wajah Alex yang tak bergeming sedikit pun.

“Hug me, please.” Pria itu merentangkan tangannya bersiap menerima pelukan dari Alex.

“Oppa, I miss you.” Alex berhambur ke pelukan pria itu dan menenggelamkan wajahnya didada bidang pria itu. Pria itu sedikit terhuyung karena pelukan tiba-tiba Alex, tapi segera ia membalas pelukan gadis itu dan tersenyum padanya.

“Miss you too, Lex.” Pria itu mengkecup lamat puncak kepala Alex dengan mata terpejam lalu menumpukan dagunya diatas kepala gadis yang berstatus adiknya itu.

“Yak! Berhentilah berbicara bahasa planet, aku tidak mengerti!” Baekhyun menyahut dengan mata yang berlinangan air mata. Pria kecil itu terharu melihat adegan kakak adik yang baru bertemu.

“Itu bahasa inggris hyung.” Tao menyahut.

“Berbicara bahasa korea saja hyung!” Chen menambahkan semua menatapnya tajam.

“Aku juga tidak mengerti.” Chanyeol mengangkat tangannya dengan cengiran konyol khasnya. Semua mata berpindah pada ‘Happy Virus’ exo itu.

“Sstt diamlah!” Dyo meletakkan jari telunjuknya dibibirnya dan memandang 3 biang rusuh itu dengan mata besarnya yang sengaja ia buat menyeramkan. Tapi pandangan itu melembut saat memandang Kris. Oh, jangan lupa senyum menawannya.

“Oppa, kenapa lama sekali datang.” Alex menghapus jejak air mata dipipinya setelah Kris merenggangkan pelukannya.

Kris menundukkan kepalanya sedikit lalu menyentil dahi Alex. “Sudah ku bilang aku ada urusan.” Alex mencibir Kris sambil mengelus dahinya.

“Urusan apa sih, kenapa lama sekali.” Alex terlihat kekanakan dan manja saat bersama Kris. Kris tersenyum lalu menarik hidung Alex.

“Anak kecil tidak boleh tahu.” Alex kembali mencibir kakaknya yang suka menganiyaya dirinya apabila terkena virus rindu.

“Ngomong-ngomong Alex tak merepotkan kalian kan?” Kris mengubah posisinya menjadi menghadap member exo yang masih memandangnya sedari tadi.

“Aniyo hyung Alex tak merepotkan, dia sangat baik.” Suho tersenyum simpul pada Kris. Kris membalasnya dengan anggukan senang.

“Ne hyung Lexa baik dan menyenangkan diajak main.” Tao berlarian kecil kearah Kris dan mulai bersikap manja.

Kris tersenyum dan mengacak rambut Tao. “Memangnya kalian bermain apa?” Tao terlihat berpikir dan tak lama menjentikkan jarinya. “Setiap hari Lexa selalu menemaniku latihan dan juga bermain kartu bersamaku.” Kris mengangguk.

“Aku senang kalian akrab. Kahu tau Lex kalian berdua seperti bayi.” Kris terkekeh dan berjalan menuju sofa untuk duduk.

“OPPA!!” Alex mempoutkan bibirnya lalu ikut duduk disofa.

“Jadi bagaimana pengobatanmu hyung, sudah selesai?” Lay berbicara.

“Dokter bilang aku sudah sembuh total.” Kris melepaskan jas yang hanya ia sampirkan dikedua pundaknya. Semua member mengangguk.

“Hyung kau mengubah hair style-mu.” Baekhyun menunjuk rambut Kris yang kini berubah sangat pendek dan juga berubah warna.

Kris meraba rambutnya lalu tersenyum kikuk. “Kenapa? Jelek ya?” Kris memandangi replika dirinya lewat layar ponselnya.

Semua member menganga melihat rambut Kris yang 180 derajat berbeda dengan rambut sebelumnya. Mereka baru menyadari perubahan yang sangat mencolok dari sang ketua.

“Kau seperti tentara hyung.” Dyo menjawab polos dan diikuti anggukan yang lain.

“Kau mau ikut wamil hyung?” Kali ini biang rusuh yang lain ikut menyaut dan semakin memperpanas suasana, yaitu Chen Kembali semua member mengangguk kecuali Alex yang hanya memandang datar Kris.

“Ck kalian diamlah!” Suho mengomando. Dia sudah melihat aura angker dari wajah Kris.

“Jadi rambutku jelek begitu!” Kris meremas pinggiran sofa disampingnya sehingga terlihat kerutan disofa kulit itu. Suho yang melihat itu semakin panik.

“Omo duizhang mengamuk.” Luhan berakting ketakutan agar memancing emosi Kris. Wajah Kris kian memerah.

“Hyung wajahmu merah.” Chanyeol mencoba menyentuh wajah Kris.

“Andwe hyung! Jangan sentuh naga yang sedang mengamuk.” Kali ini Kai menyambangi lalu ber-high five ria dengan Luhan. Suho semakin frustasi wajahnya pun ikut memerah.

Tao yang berada disamping Kris mulai merasa was-was dia takut Kris melampiaskan emosinya lewat dirinya. Tao berusaha memikirkan cara agar emosi Kris tidak meluap. “Gege mana oleh-olehku.” Tao mengguncang tubuh Kris. Sehun yang mendengar oleh-oleh akhirnya bersuara. “Iya hyung, oleh-olehku mana?” Sehun menengadah tangan. 3 biang rusuh pun ikut andil dalam memohon oleh-olehnya.

Kris mengangkat wajahnya, wajahnya sudah terlihat tenang. “Kalian tahu, aku sedang berusaha menahan emosiku kalau tidak kepalaku akan pusing.” Kris memijat pelipisnya.

“Jadi….oleh-oleh kami mana hyung.” Baekhyun bersuara. Kris memandang Baekhyun acuh lalu beralih memandang Alex yang hanya diam sedari tadi.

“Lexa, kenapa diam? Kemari, duduk disini.” Kris menepuk ruang disebelahnya. Alex memandang kosong Kris. Semua member melihat ekspresi wajah Alex yang berbeda dari biasanya. Terlebih Luhan yang duduk disampingnya. Namja itu terlihat mengkhawatirkan Alex.

“Lex, gwaenchana?” Luhan menyingkirkan poni Alex yang menutupi sebagian matanya. Alex hanya diam.

“Lexa”

“Rambutmu…..seperti dulu ge…..” Alex mulai bersuara. Suaranya seperti tercekat dan berkesan enggan berbicara. Wajahnya pun pucat saat mengucapkannya.

“Alex kau—“ Kris meraba rambutnya. Hati Kris seketika mencelos. Rambutnya sekarang mengingatkan dirinya saat berumur 9 tahun. Mungkin Alex shock melihat rambut Kris sekarang karena menyerupai dirinya dimasa lalu. Tanpa sadar Kris justru membuat adiknya mengingat kejadian kelam dimasa lalu. Mereka bersumpah tak-kan mau mengubah penampilan mereka sama seperti dulu, tapi Kris melanggarnya. Kris bisa saja mengubah adiknya menjadi manusia paling mengerikan didunia ini. Sekedar informasi, sejak peristiwa Alex melihat mayat orang tuanya Alex berubah pendiam dan menyendiri. Gadis itu difonis mengalami stress akut dan itu mempengaruhi cara kerja otak Alex saat itu. Emosinya juga labil. Alex kecil suka menangis dan tertawa bersamaan. Bahkan ia sering menyakiti dirinya sendiri jadi tak jarang tubuh Alex penuh akan luka yang dibuat oleh dirinya sendiri. Alex ingin sekali mati dan menyusul orang tuanya tapi selalu gagal. Berbagai cara ia gunakan dan hasilnya dia akan berujung pada rumah sakit dan Alex sangat membenci obat juga rumah sakit.

“Alex gege tidak bermaksud.” Kris mendekat ke Alex sedangkan gadis itu menutup mata dan telinganya rapat-rapat.

“ANDWEEE AKU TIDAK MAU DENGAR!!” Alex menggelengkan kepalanya.

“Lex, dengarkan aku dulu.” Alex menepis tangan Kris yang ingin menyentuhnya.

“Ge….kau jahat hiks…..kau membuatku hiks mati perlahan hiks—“ Alex kini sudah menangis deras.

“Alex dengar, gege membawamu kesini agar kau sembuh dan melupakan segalanya.” Alex masih enggan mendengarkan. Alex terlihat sangat frustasi.

“Aku membawa pulang anakmu Lex.” Kris beranjak dan berjalan keluar. Semua member memandang satu sama lain. Kris membawa pulang anak Alex? Oh, are you kidding me? You must be Jokking? Come on, Alex such lovely girl, right? Alex terlihat sangat baik untuk memiliki anak diusia muda.

“Lex, kau punya anak?” Luhan bertanya. Wajahnya terlihat gusar seperti tak percaya dengan apa yang didengar. Alex masih setia bungkam. Semuanya memandang Alex pernuh harap. Terlebih Sehun dan Kai wajah mereka sama gusarnya seperti Luhan. Mereka menginginkan penjelasan langsung dari mulut Alex.

“Lex ini Foster.” Kris berdiri diambang Pintu dengan Foster disampingnya. Alex menurunkan tangan dari wajahnya lalu menoleh ke belakang.

“Foster” Alex berlarian kearah pintu.

GUK GUK

Semua member menoleh ke belakang. Sebelas pasang mata itu membesarkan matanya. Oh, astaga mereka baru saja salah menilai.

“Anjing?” Ucap sebelas orang itu serempak.

“Memangnya Fostersiapa? Astaga Alex gadis terhormat.” Kris memperhatikan Alex yang sedang tertawa lepas bersama anjing kesayangannya itu.

“Aku pikir—“

“Xi Luhan kau bercanda.” Kris memukul pelan pundak Luhan lalu mereka tertawa bersama.

“Senang kau kembali.” Luhan memeluk Kris layaknya seorang sahabat.

“Senang bertemu kembali, little deer.” Kris melepas pelukannya.

“Foster kemari, beri salam semuanya.”

GUK GUK

“Oppadeul kenalkan ini Foster, come on Foster.” Alex mendorong pelan Foster lalu anjing itu berjalan ke sekumpulan member exo.

“Annyeong aku Dyo.” Dyo menjulurkan tangannya dan anjing itu sigap membalasnya. Mereka berdua saling berjabat tangan. Setelah itu Foster berjalan teratur ke member selanjutnya.

“Aku Baekhyun.” Baekhyun mengelus leher anjing berbulu abu-abu itu dan begitu pun seterusnya.

“Berapa umurnya Lex.” Kai berjongkok dan mengelus bulu anjing itu.

“2 tahun, bagaimana dia lucu kan?” Alex ikut berjongkok dan mengusap anjingnya sambil tersenyum. Kai yang melihatnya ikut tersenyum.

“Dia lucu, sepertimu.” Kai mencubit pelan pipi Alex.

“Lexa, ini anjing jenis apa?” Baekhyun bertanya.

“Siberian Husky”

“Ah jinja, boleh aku bermain bersamanya?”

“Tentu saja.” Alex memberikan bola kecil berwarna ungu pada Baekhyun.

“Dia akan menangkapnya saat kau melemparnya oppa.” Baekhyun tersenyum.

“Baiklah, Foster kajja kemari.” Baekhyun mengangkat bola itu ke atas. Foster lalu berlarian kearah Baekhyun. Sedetik kemudian siluet Baekhyun dan Foster menghilang dibalik pintu. Tak lama Chen dan Chanyeol menyusulnya.

“Lex, ayo kemasi barang.”

“Kajja” Alex jalan berdampingan bersama Tao.

“Hari ini kalian ada rencana apa?” Kris merangkul Luhan dan berjalan keluar.

“Hari ini kita akan Jeju hyung.” Dyo menyambangi. Kris mengangguk.

“Baiklah, aku rasa aku ikut.”

“Kalau begitu persiapkan barangmu hyung.” Kai datang merangkul Kris yang berada disebelah kanannya.

“Arraseo.” Mereka –Kris Luhan Kai Dyo- berjalan berangkulan menaiki anak tangga.

-ooo-

“Wushhh…. Kita meluncur.” Tao berlarian menuruni anak tangga dengan Alex yang berada dipunggungnya.

“KYAAA…. Ini menyenangkan.” Alex mengangkat satu tangannya ke udara karena begitu menikmati permainan Tao.

“Awas jatuh Lexa.” Suho yang baru saja meletakkan koper dibagasi mobilnya memperingati.

“Ne oppa, itu tidak akan terjadi Tao kuat!” Jawab Alex sambil berteriak karena Tao membawanya mengitari air mancur besar diperkarangan mansion mereka. Suho hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Alex yang kembali ceria.

“Chanyeol gendong aku.” Baekhyun merentangkan tangannya dengan bibir mengerucut lucu.

“Hya! Byunbaek apa-apaan kau ini!” Chanyeol hampir terjungkal ke depan kalau saja tidak ada tembok didepannya. Baekhyun tanpa persetujuan meloncat ke punggung Chanyeol lalu melingkarkan lengannya dileher Chanyeol.

“Cepat jalan! Bawa aku berlarian mengitari air mancur, seperti Lexa.” Baekhyun berjingkrakan tak sabaran karena mendengar teriakan Alex yang menggelegar dikala Tao berlari semakin kencang.

“Huft~ Byunbaek sadarlah kau itu namja dan kau itu sangat berat.” Chanyeol melenguh dan ikut memperhatikan Alex yang masih cekikikan bersama Tao didepan sana.

“Biar saja! Peduli tentang itu, sekarang cepat bergerak!” Chanyeol dengan pasrah ikut berlarian mengitari air mancur bersama Tao dan Alex. Mau bagaimana pun Baekhyun paling susah dibantah tentang kemauannya.

“Hyung kau tidak—“

“NO!! Cepatlah, sebentar lagi kita berangkat!” Xiumin masuk ke dalam mansion, mengambil beberapa barang yang masih tertinggal. Sedangkan Chen memaki gusar hyungnya yang sifatnya terkadang labil.

“Kau tidak seru hyung!!” Teriak Chen menggema ke seluruh mansion. Xiumin yang mendengarnya hanya terkekeh. Dia hafal betul sikap Chen dan dia juga sudah menebak bahwa namja itu pasti meminta hal yang sama seperti Baekhyun tadi.

“Cepat angkat kopermu Jongdae! Kau mau ikut kan?” Luhan muncul dibelakangnya sambil menggeret tas coklat berukuran sedang kearah mobilnya.

“Yaya.” Chen kembali mengangkat tasnya dan memasukkannya ke bagasi mobil milik Xiumin. Biasanya saat berpergian seperti ini ia akan akan mengendarai mobilnya sendiri atau paling tidak ikut bersama Tao kalau dia sedang malas. Tapi hari ini ia akan ikut bersama Xiumin karena kedatangan Kris dan Alex ke mansion. Kemungkinan Alex akan pergi bersama Tao.

Morning Luhan oppa.” Sapa Alex saat Tao membawanya duduk dicap depan mobilnya.

Morning Lexa.” Luhan tersenyum. Dugaannya gadis itu pasti akan mengabaikannya pagi ini tapi justru berkebalikan. Alex sudah kembali menjadi dirinya sendiri dan Luhan bersyukur atas itu. Setidaknya melihat sikap Alex sekarang dapat mengikis perasaan bersalah dan mengurangi bebannya. Luhan mewanti-wanti dirinya akan berterima kasih sebesarnya dengan seseorang yang berhasil menghancurkan mood buruk gadis pujaannya.

Entah mengapa pagi ini gadis itu terlihat sangat mempesona dimatanya. Padahal dari keseluruh Alex tak menggunakan pakaian atau sesuatu yang membuatnya mencolok dihadapan Luhan. Alex hanya menggunakan celana jeans diatas lutut dengan t-shirt putih yang dipadukan dengan jaket denim berwarna grey serta sepatu sneaker ungu tua sebagai alas kakinya. Rambut panjangnya pun yang bergelombang diikat asal sehingga terkesan berantakan. Entah apa yang menarik, namun bagi Luhan disitulah letak pesona Alex. Kecantikan gadis itu sangat dominan bagi Luhan walaupun hanya menggunakan pakaian yang menurutnya sederhana bagi adik seorang bos mafia besar yang melagenda itu.

“Sudah siap semuanya.” Kris menepuk pundak Luhan sehingga Luhan sedikit terlonjak karenanya.

“Aah… sudah siap…” Luhan masih mengatur jantungnya akibat kejutan kecil dari Kris. Sebenarnya Kris tidak bermaksud mengagetkan Luhan hanya saja kebetulan sekali Kris melihat Luhan melamun dan anehnya matanya hanya tertuju pada adiknya.

“Naiklah, kita akan segera berangkat.” Kris kembali menepuk pundak Luhan dan berlalu menghampiri Alex yang masih sibuk tertawa bersama Tao.

“Lexa, ayo naik kita akan berangkat.” Kris mengamit tangan Alex menariknya menuju mobil Aston Martin One-77 berwarna silver metalik yang baru saja dipesan dari USA.

“Oppa, aku pergi bersama Tao saja ya.” Alex menangkup tangannya dan memasang wajah seimut mungkin pada kakaknya. Dia tahu kakaknya itu sangat lemah melihat wajah imut adiknya. Kris sangat menyayangi adiknya terlebih perlakuan Kris dalam memanjakannya sangat-lah berlebihan.

“Baiklah, hati-hati kalau begitu. Tao-ya pastikan adikku selamat sampai tujuan dan…. Jangan lupa gunakan seat beltnya oke.” Kris mendaratkan ciuman hangat dikening adiknya.

“Aku mengandalkanmu baby panda.” Kris mengacak rambut Tao lalu meninggalkan mereka menuju mobilnya.

“Serahkan padaku ge!!” Seru Tao.

“Nah Lexa, ayo naik. Aku sudah tidak sabar untuk sampai disana.” Tao menuntun Alex untuk naik ke mobil sport putih yang dimodifikasi sehingga hampir mirip dengan mobil pembalap kelas dunia.

“Kajja!”

“Lex.” Alex menengok ke belakang dan dilihatnya Kai menghampirinya dengan jaket hitam yang tersampir dipundaknya.

“Go with me Lex.” Kai mengulurkan tangannya. Alex menatap ragu tangan Kai. Hatinya menjadi tidak enak sekarang.

“Tapi—“

“Lex.” Tao menyentuh pundak Alex lalu tersenyum.

“Gwaenchana pergilah.” Tao mendorong Alex dan Kai menyambutnya senang.

“Kita akan bersenang-senang.” Bisik Kai sambil merangkul Alex mesra.

“Hyung gomawo. Dyo hyung pergi bersama Tao hyung saja ne, aku sedang ingin berdekatan dengan Alex. “Kai mengedipkan sebelah matanya lalu berlalu menuju mobilnya –masih dengan merangkul Alex.

“Tsk~ anak itu semaunya sekali. Kajja Tao nanti kita tertinggal.” Dyo sudah duduk manis dikursi jok depan tepat disamping kursi pengemudi.

“Ne kajja.” Tao memakai kaca mata hitamnya dan tak lupa memastikan bahwa sabuk pengamannya sudah ia pakai lalu melaju menuju pelabuhan –tempat kapal pribadi mereka berada.

Semua member exo melaju pergi menggunakan mobil mereka termasuk Alex. Kris pergi seorang diri, Luhan dengan Sehun, Kai dengan Alex, Tao dengan Dyo, Xiumin dengan Chen, Suho dengan Lay, terakhir Baekhyun dengan Chanyeol.

-ooo-

Suasana hening menemani perjalanan Alex dan Kai dalam mobil. Baik Kai maupun Alex sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Mereka baru saja turun dari kapal dan melanjutkan kembali perjalanan menuju vila menggunakan mobil. Alex sibuk memanjakan matanya melihat bagaimana indahnya pemandangan Pulau Jeju. Ini merupakan pengalaman pertama Alex mengunjungi langsung pulau lagendaris itu. Sedangkan Kai, namja itu fokus dengan setirnya terkadang melirik sebentar hanya ingin melihat betapa bahagianya gadis itu.

“Kau menikmatinya baby Wu?” Kai melirik Alex dari balik kaca mata hitamnya.

“Ne aku menikmatinya, ini indah sekali.” Alex tersenyum lalu tak lama bangkit dari duduknya dan berdiri dikursi. Tangannya melambai-lambai menikmati terjangan angin pantai yang deras. Alex membuka simpul ikatan rambutnya membiarkan angin ikut menerbangkan rambutnya. Alex sangat menikmatinya dan begitu bahagia terpancar dari wajahnya yang senantiasa tertawa dan terkadang tersenyum sangat manis pada lawan bicaranya. Kai yang melihatnya pun ikut tersenyum. Entah kenapa melihat gadis itu tersenyum dapat memicu perasaan bahagia dalam hatinya. Sudah lama dia belum pernah merasakan perasaan aneh seperti ini. Perasaan yang selalu menghantuinya dan selalu singgah hingga ke dalam mimpinya. Kai yakin ini bukan perasaan biasa, ia yakin ia telah jatuh jauh dalam pesona gadis bermarga ‘Wu’ itu dan entah bagaimana mengungkapkannya ia sedang jatuh cinta padanya. Tapi benarkah seperti itu? Hanya waktu yang dapat menjawabnya.

Kai mengangkat sebelah tangannya mengamit tangan kiri Alex yang bebas. Alex memandang tangannya yang bertautan dengan jemari Kai yang panjang, gadis itu kembali tersenyum. Tak lama ia mengangkat tangannya sehingga tangan Kai ikut terangkat. Mereka tertawa bersama tak menyadari tatapan asing dari dua orang yang berada tepat dibelakang mereka. Mobil Luhan berjalan lambat dibelakang Kai. Entah itu sengaja atau bagaimana, tapi Luhan beserta Sehun seperti sedang mematai-matai kedekatan mereka yang akhir-akhir ini sedikit tidak wajar, terlalu dekat sampai membuat orang sekitarnya curiga kalau mereka berdua memiliki hubungan khusus atau bahkan telah melakukan sesuatu tanpa sepengatuhuan yang lain.

“Kenapa lambat sekali mobilmu hyung? Apa mobilmu mulai rusak?” Sehun berusaha mencairkan suasana canggung diantara mereka. Bodoh! Sehun mengatakan bahwa mobil namja itu mulai rusak, pertanyaan bodoh. Mobil Luhan baru saja dibeli 3 hari yang lalu dan sangat jelas bahwa mesin mobil itu sangat bagus dan baru. Bodoh bukan? Inilah Sehun, dilanda keresahan tingkat akut sekarang. Jujur Sehun sakit melihat pemandangan dihadapan mereka. Dimana Alex begitu menikmati saat-saat Kai menautkan tangan mereka terlebih mengusap lembut rambut gadis itu. Sehun sadar perasaannya saat ini pada gadis itu sia-sia dan bermuara pada satu titik yang bernamakan patah hati. Karena namja itu yakin gadis itu tidak memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Sebelumnya Sehun sempat menampik perasaan asing terhadap Alex namun lama waktu bergulir serta dorongan Luhan, Sehun yakin tentang perasaannya. Tapi kenapa, disaat ia mulai yakin mengenai perasaannya harus ada kendala yang datang. Dan secara tidak langsung Sehun harus bersaingan langsung dengan kedua hyungnya yang notabene sangat dekat dengannya. Tentang Kai ia yakin pria itu memang menyukai Alex dan satu lagi yang tak terduga adalah pria yang ada disampingnya –Luhan. Luhan tidak pernah mengatakan sesuatu ataupun bercerita mengenai perasaanya terhadap orang lain walaupun Sehun sangat dekat dengannya sehingga Sehun tidak pernah tahu apa masalah yang dihadapi pria itu. Tapi sekarang dia sadar Luhan juga termasuk saingannya. Apakah harus seberat ini untuk mendapatkan gadis impiannya?

“Hyung…” Sehun menepuk pelan pundak Luhan.

“Ah… Sehun, ada apa?” Entah sudah keberakalinya hari ini Luhan seringkali melamun dan pada akhirnya terlonjak kaget dengan sebuah tepukan dipundaknya.

“Kau baik-baik saja hyung?” Tanya Sehun. Hanya untuk sekedar basa-basi. Karena dia dapat membaca dari raut wajah Luhan kalau pria itu sedang tidak dalam keadaan baik sama sepertinya, kacau.

“Aku baik-baik saja, memangnya ada apa?” Luhan  memaksakan sebuah senyuman dan kembali fokus pada jalanan. Walaupun mata Luhan tertutup oleh bingkai hitam kaca matanya tapi Sehun tak dapat dikelabuhi. Exo menghabiskan waktu 6 tahun untuk hidup bersama bukan menjadi masalah karena mereka pasti tahu karakter masing-masing.

“Aniyo hyung, akhir-akhir ini kau terlihat aneh.” Ucapan Sehun seperti menampar keras pipi Luhan. Namja itu seperti tahu masalah yang ada dalam benak Luhan sehingga tebakannya seperti sedang menyindir Luhan. Semua ini berawal akibat tabiat dirinya yang terlalu care terhadap Alex hingga pada akhirnya dia terlalu jauh dalam bertindak dan membuat dirinya terperangkap didalamnya. Berawal dari ciuman itu, Luhan mengakui  Alex adalah gadis pertama yang mendapat ciuman tulus darinya. Luhan seringkali berciuman dengan para wanita tapi perlakuannya sangat berbeda saat ia mencium Alex waktu itu. Luhan selalu menggunakan nafsu saat bercumbu dengan gadis lain tapi dengan Alex ia yakin bukan nafsu yang menguasainya. Sempat terbesit dalam benaknya melindungi Alex hanya karena tuntutan tugas dari Kris dan ia wajib melakukannya. Tapi sekali lagi Luhan mengakui semua ini berlandaskan cinta yang bodohnya Luhan baru menyadarinya saat gadis itu mulai sedikit menjaga jarak dengannya. Apakah Luhan bodoh? Ya, dia bodoh. Membiarkan gadis itu pergi tanpa perlu bertindak untuk kembali mengambil alih gadisnya.

“Mungkin itu hanya perasaanmu saja Sehun-ah.” Luhan kembali memasang wajah tebalnya dihadapan Sehun. Karena bagaimana pun tidak boleh seorang pun dari mereka yang boleh mengetahui tentang perasaannya pada Alex terlebih Kris dan Sehun. Biarkan kejadian waktu itu larut seiring berjalannya waktu. Luhan berharap dapat melupakan Alex.

“Eo, semoga saja.” Sehun mengangguk acuh lalu menyandarkan sikunya pada jendela mobil.

“Sehun-ah…”

“Emm…”

“Berusahalah….”

“Mwoga?”

“Berusahalah…. Untuk menjadikan Alex milikmu, aku akan membantumu.” Ucap Luhan tanpa melihat raut wajah tidak suka Sehun. Namja itu sedikit jengkel dengan muka tebal Luhan yang terkadang membuatnya harus sakit seorang diri. Apakah ini merupakan lampu hijau dari Luhan? Apakah Luhan menyerah sebelum berperang? Sehun rasa Luhan benar-benar namja bodoh.

“Gomawo hyung.” Sehun menjawab seadanya. Karena jauh dalam benaknya dia membenarkan ucapan Luhan untuk menjadikan Alex miliknya walaupun Kai-lah orang yang harus dihadapi. Namun dalam hati kecilnya dia sedikit ragu karena hati kecilnya berkata untuk mendapatkan Alex ia harus dapat menyakinkan dirinya bahwa Luhan sudah benar-benar melepas gadis itu. Aku tidak ingin menyakiti hatinya gumam Sehun dihatinya.

“Cheonman, dan aku berharap kau dapat menepatinya Hun.” Setelah itu Luhan melajukan mobilnya sehingga mobil Kai yang ada didepannya spontan berhenti karena Luhan tiba-tiba saja menyalip dengan sangat kencang.

Shit~ Ada apa dengannya? Mengganggu orang saja.” Gerutu Kai. Dia kembali menjalankan mobil dengan perlahan karena dia begitu menikmati waktu berduaannya hanya dengan Alex tanpa member yang lain.

“Mungkin Sehun dan Luhan oppa sudah tidak sabar, keke.” Kekeh Alex sambil membetulkan rambutnya yang berantakan.

“Itu tidak benar, buktinya wajah mereka datar-datar saja dari tadi.” Kai membetulkan letak kaca matanya.

“Benar juga sih…” Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu kembali mengalihkan pandangannya kearah pantai yang indah. Menatap Kai terlalu lama membuatnya merasa tidak nyaman. Canggung, ini semua karena kegiatan pagi mereka waktu itu. Gadis itu menjadi canggung saat berdekatan dengan Kai.

“Hey setelah ini kita ke pantai bagaimana? Kita bermain air seperti pagi tadi.” Kai menyeringai tetap dalam posisi menyetir.

“Cih, tadi pagi kan kita tidak melakukan apapun Kai.” Benar. Pada awalnya Kai berniat untuk mandi bersama Alex. Tapi sebelum hal itu terjadi Dyo sudah terlebih dahulu menggeret Kai keluar. Jadilah Alex hanya mandi sendiri dan Alex bersumpah akan memakan semua masakan Dyo karena telah melepaskan dirinya dari jeratan setan mesum seperti Kai.

“Jongin” Koreksi Kai.

“Ne Jongin.”

Good girl.” Kai mengacak puncak kepala Alex.

“Aish! Rambutku berantakan Kai.” Alex menyingkirkan tangan Kai yang masih mengacak rambutnya yang sedari tadi masih berantakan.

“Jongin!”

“Ne ne baiklah Jongin….” Alex memperbaiki rambutnya lewat cermin kecil yang terletak diatas dash board.

“Kau ini menggemaskan baby Wu.” Kai mencubit pipi Alex gemas. Disinilah, situasi dimana Alex gundah untuk melansir semua perasaannya. Aliran darahnya seakan berhenti tepat diwajahnya sehingga wajahnya senantiasi merona dikala Kai ataupun Luhan menyentuhnya.

-ooo-

“Kita sampai.” Kai memarkirkan mobilnya disamping vila yang persis menghadap pantai.

Alex buru-buru membuka pintu mobil setelah itu berlarian menuju pagar pembatas. Vila mereka terletak diatas bukit hijau yang dibawahnya terdapat pantai berpasir putih yang indah.

“Segarnya.” Alex merentangkan kedua tangannya merasakan angin pantai yang segar menerpa tubuhnya yang ramping.

“Cih, kau berlebihan sayang.” Sindir Kris yang tiba-tiba datang lalu mencubit kecil hidung adik perempuannya itu.

“Oppa kenapa tidak bilang kalau di Korea ada tempat seperti ini.” Alex mempoutkan bibirnya yang semakin membuat Kris gemas untuk tidak mencubit adiknya.

“OPPA!!” Alex memukul lengan kakaknya karena Kris sangat senang mencubit dirinya. Kris lagi-lagi hanya terkekeh.

“Maafkan aku saengie. Kajja masuk bereskan tasmu dulu.” Alex mengangguk setelah itu Kris merangkulnya menuju vila.

-ooo-

“Wah makanannya banyak sekali, dalam rangka apa?” Alex baru saja selesai berbenah dan turun untuk menikmati makan malam bersama.

“Dalam rangka kepulangan Kris hyung pastinya, benar kan hyung?”

“Ne itu benar.” Lay mengangguk sambil melempar senyum pada Alex.

“Wah ini pasti enak, aku akan makan semuanya keke.” Alex tertawa lucu dengan mulut yang mirip seperti seseorang yang menahan lapar.

“Kalau begitu duduk yang benar Lexa.” Suho memperingati. Ia duduk bersebrangan dengan Alex bersama Kai dan Tao disampingnya.

“Arrata” Alex duduk bersebelahan dengan Kris dan Luhan.

“Hyung kenapa kau duduk disebelah Lexa.” Kai terlihat tidak suka Luhan duduk berdampingan dengan Alex. Luhan hanya tersenyum simpul menanggapinya.

“Karena—“

“Kkamjong !! Berikan kesempatan yang lain untuk bersama Alex. Seharian kau terus bersamanya, Luhan hyung juga ingin bersamanya gelap!!” Sehun yang duduk dikursi ujung berdekatan dengan Chen langsung menyaut kemauan Kai yang egois menurutnya.

“Yak!! Cadel apa masalahmu aku—“

“Kai!” Suho menahan pergerakkan Kai yang ingin berjalan mendekati Sehun.

“Masalah kita belum selesai kawan.” Kai melemparkan death glare ke Sehun yang hanya ditanggapi tatapan datar olehnya.

“Bisakah kalian diam dan nikmati hidangan yang ada!!” Kris bangkit dari duduknya. Tatapannya sangat mengerikan. Semuanya menunduk patuh. Kris tidak suka apabila seseorang mengganggu waktu makannya walaupun Alex sekalipun.

“Oppa….” Alex mengusap lembut tangan kakaknya mengurangi luapan emosi Kris yang sangat berkoar-koar apabila itu terjadi masih dalam posisi duduk. Kris menurut lalu duduk dengan tenang. Beberapa menit ke depan mereka habiskan untuk makan malam dengan hikmat dan tertib.

-ooo-

Matahari baru saja menyembulkan sinarnya menandakan kegiatan pagi akan dimulai. Disebuah vila terlihat sunyi diluar namun tidak dengan keadaan didalam sana.

“Hyung Lexa hilang!” Dyo berlarian kearah Suho yang sedang sibuk menyesap kopi hangat diberanda vila.

“Hilang? Bagaimana bisa!” Luhan yang juga sedang duduk bersama Suho sedikit memekik dan tak lama menutup mulutnya karena takut yang lainnya mendengar.

“Aku juga tidak tahu hyung, aish bagaimana ini!?” Dyo mengacak rambutnya gusar. Namja mungil itu sedang memikirkan berbagai cara untuk dapat menemukan Alex sebelum Kris-kakaknya tahu atas berita hilangnya adik kesayangannya.

“Kita harus segera cari Alex.” Saran Luhan yang membuat kedua namja yang lain-Dyo Suho menoleh. Saran Luhan ada benarnya. Setidaknya mereka harus berusaha sebelum sesuatu yang buruk terjadi.

“Tapi kemana hyung!?” Dyo kembali bersugesti. Luhan dan Suho harus memutar otak dimana tempat dikawasan ini yang dianggap menarik oleh gadis itu. Namun yang mereka dapat hanya-lah sebuah helaan nafas putus asa dari mulut mereka.

“Kau yakin sudah memeriksa kamarnya Dyo?”

“Sumpah hyung. Aku sudah menggeledah kamarnya dan aku tak menemukan apapun. Bahkan tempat tidurnya masih rapi.” Luhan memijat pelipisnya. Jawaban Dyo semakin membuatnya frustasi. Dua hal yang dia takuti. Pertama, Kris akan mengamuk jika ia tahu hal ini terjadi. Kedua, Luhan takut sesuatu yang buruk terjadi pada gadis yang dicintainya itu. Ya, Luhan bersumpah akan melindungi gadis itu walaupun ia tak dapat mengambil hatinya. Setidaknya biarkan dirinya melindungi gadis itu.

“Tenanglah hyung, kau terlalu tegang. Santai-lah sedikit.” Suho menepuk bahu Luhan.

“AKU HARUS BAGAIMANA EOH!! APA KITA DIAM SAJA TANPA MELAKUKAN APA-APA!!” Suho yang paham hanya bisa mengusap punggung Luhan. Hanya melihat ekspresi Luhan dia dapat menangkap sesuatu hal yang lain dari mata Luhan. Dia yakin Luhan tengah menaruh rasa pada gadis itu.

“Maaf”

“Tidak apa-apa hyung, aku mengerti.” Suho kembali menepuk pundak Luhan. Tidak salah apabila Suho menyandang gelar ‘Leader’ kedua dalam kelompok mereka. Suho memiliki jiwa wibawa yang besar.

Samar-samar mereka mendengar suara tawa dari ujung jalan sana. Karena hari masih pagi sehingga menghambat jarak pandang mereka untuk melihat lebih jelas siapa pemilik suara itu. Kepulan kabut diujung jalan sana masih cukup tebal dipagi hari seperti ini. Dari suaranya saja mereka dapat menangkap bahwa suara itu bukan hanya milik satu orang melainkan dua orang. Dan dugaan mereka itu adalah suara yeoja dan namja.

“Annyeong oppadeul, sedang apa disini? Tunggu dulu kenapa wajah kalian tegang begitu? Luhan oppa gwaenchana?” Gadis yang sedari tadi diributkan muncul dengan wajah polos seperti tak memahami situasi yang ada. Alex memandang Luhan cemas karena ekspresi wajah Luhan terlihat kosong .

“Oppa—“

Alex baru saja melanjutkan perkataannya terpotong karena Luhan langsung menariknya masuk ke dalam vila. Alex yang terkejut hanya mengikuti langkah Luhan yang memburu didepannya. Sedangkan Dyo dan Suho masih terdiam didepan beranda memandang pemuda tampan yang diduga membawa pergi Alex.

“Aku masuk dulu hyung.” Dyo yang paham dengan situasi lebih memilih masuk ketimbang harus mendengar hyungnya-Suho melabrak habis pemuda itu.

Morning Suho hyung.” Sapa pemuda itu ramah dan juga sopan. Siapa yang tidak ingin memilikinya kalau sudah seperti ini.

Morning.” Sebuah sapaan singkat namun terkesan dingin. Walaupun mimik wajah Suho terlihat ramah tapi tidak dengan hatinya. Seseorang yang diduga mengancam kelangsungan hidup kelompoknya akan mendapat gelar black list dalam benak seorang Kim Joon Myeon-nama asli Suho-

“Kalau begitu aku permisi dulu hyung.” Pemuda itu –Hongbin- melangkahkan kakinya setelah membungkuk sekilas yang ia tahu tidak akan mendapat respon yang berarti.

“Terima kasih telah membawa pulang Alex seperti semula.” Suho mulai angkat bicara. Hongbin yang berdiri membelakanginya hanya dapat tersenyum simpul. Entah apa arti senyuman itu yang jelas pemuda itu hanya ingin tersenyum bahkan sangat lebar karena mendengar ucapan ‘terima kasih’ dari salah satu anggota musuh abadi kelompoknya. Hongbin juga dapat menangkap arti dalam ucapan itu. Kata itu ‘seperti semula’, ia yakin namja itu menduga bahwa gadis itu akan kembali dalam keadaan mengenaskan seperti contohnya dimutilasi mungkin. Astaga terlalu berlebihan. Tapi ada benarnya juga. Siapa yang tahu hal itu dapat saja terjadi. Hongbin pun tak bisa menjaminnya. Tapi hanya namja bodoh yang mau melakukan itu pada gadis yang dia cintai. Ya, kali ini Hongbin berani mengatakan dengan lantang bahwa ia bersungguh-sungguh mencintai gadis itu. Dari kata suka menjadi cinta itu tidak-lah mustahil. Aku benar kan?

“Sama-sama hyung.” Balas Hongbin masih dalam posisi semula dengan senyum tipis namun tulus. Suho hanya menangkap satu dari respon Hongbin, sebuah tanda bahwa Hongbin tidak main-main mendekati adik dari sang ketua –Kris-.Bukankah ia terlalu berani? Suho rasa akan terjadi sesuatu yang hebat diakan datang.

“Dan aku berharap kau mulai menjaga jarak sebelum hal buruk menimpamu!” Suho melenggang masuk lalu menutup pintu vila mereka. Namja itu –Hongbin-. Jangan tanya bagaimana ekspresi wajahnya sekarang. Karena ekspresi namja itu tidak menampakkan ketakutan yang teramat kentara. Bahkan wajahnya terlihat santai. Ucapan Suho tadi mungkin hanya lelucon baginya namun tidak bagi Suho. Karena ancaman itu dapat bermanfaat bagi Hongbin dikemudian hari. Suho sudah memikirkan hal ini dengan matang. Tapi sepertinya Suho membutuhkan tenaga ekstra untuk menghadapi orang keras kepala layaknya Hongbin. Kapan saja namja itu bisa saja mengambil alih Alex dari tangan exo dengan cara apapun.

Tidak akan.” Lirih Hongbin seorang diri.

-ooo-

Sementara ditempat lain. Alex kembali dihadapkan dengan Luhan yang menariknya entah kemana. Entah kenapa kejadian ini persis dengan kejadian waktu itu. Kejadian dimana Alex harus ditarik paksa oleh Luhan karena terpegok berdekatan dengan Hongbin dan akhirnya…… first kiss gadis itu hilang.

Setelah menarik Alex dan membawanya ke kamar gadis itu, Luhan mendorongnya ke ujung ruangan lalu mengurung Alex dengan kedua lengan kokohnya.

“O-oppa aku bisa jelaskan, i-ini tidak seperti yang kau—“

“SUDAH KU KATAKAN PADAMU JAUHI DIA ALEX!!” Luhan yang lepas kontrol tanpa jeda langsung membentak Alex. Gadis itu memandang Luhan shock dan terlihat bahwa mata gadis itu berkaca-kaca. Luhan yang menyadarinya spontan memeluk gadis yang rapuh itu.

“Mianhae, aku tidak bermaksud.” Luhan semakin menenggelamkan kepala Alex dicelah lehernya. Dia dapat merasakan nafas tak beraturan dari gadis yang berada dalam pelukannya.

“Gwaenchana, aku memang salah oppa. Hukum-lah aku.” Alex mencengkram kaus hitam Luhan. Gadis itu tidak menangis hanya saja shock yang dirasakannya.

“Maafkan aku Lexa.” Luhan menyapukan jemarinya pada pipi Alex yang entah sejak kapan mulai merona.

“Aku juga minta maaf oppa. Sekarang hukum-lah aku.” Alex menutupkedua matanya menunggu reaksi Luhan. Luhan justru menyeringai daripada terlihat bingung.

“Bersiap-lah menerima hukumanmu Lexa.” Bisik Luhan tepat ditelinga gadis itu.

Luhan menghapus jarak diantara mereka hingga ujung hidung mancung mereka saling bertemu. Setelah itu keduanya dapat merasakan benda lembut mereka bertemu. Luhan melumat halus permukaan bibir tipis Alex hingga Luhan merasakan Alex melenguh didekapannya.

That’s your punishment. Jika kau mengulanginya lagi kau akan berakhir di…..” Luhan menunjuk ranjang dengan senyum nakal.

“OPPA!” Alex mendorong tubuh Luhan keluar dari kamarnya sebelum Luhan melakukan hal lebih.

“Ingat itu Lexa atau…..” Luhan kembali menunjuk ranjang.

Understand perfectly oppa!!” Jawabnya nyaring setelah menutup pintu cukup keras dihadapan Luhan. Namja itu justru tertawa melihat sikap Alex dan semakin kencang saat mendengar teriakan frustasi dari dalam kamar.

Luhan berjalan melewati lorong kamar yang hanya dikhususkan untuk kamar Alex dan Kris. Tangannya menyentuh dadanya merasakan jantungnya kembali berdetak cepat disaat bersama gadis itu terlebih sudah kedua kalinya ia mencumbu Alex. Walaupun dalam benaknya ia masih kecewa, karena gadis itu belum mau membalasnya. Sejujurnya dalam batin Luhan apa yang kurang darinya? Dia tampan, kaya, pintar, romantis dan juga berpostur tubuh bagus, lantas apa yang membuat gadis itu tak sedikit pun mau meliriknya. Apa sikapku belum cukup selama ini? Ya, mungkin saja. Diujung lorong, sepasang mata menatapnya tajam. Pemilik mata itu melihat jelas awalan bagaimana Luhan menarik Alex ke dalam kamarnya. Dan namja itu dapat menebak apa yang sudah terjadi didalam sana. Itu berarti Luhan terlebih dahulu mencium gadisnya. Rupanya namja itu kalah cepat dengannya. Bahkan sikap Luhan yang santai seperti itu dapat mendapatkan hal yang dia inginkan sejak awal. Apakah dirinya yang terlalu agresif dan juga terburu-buru? Entahlah.

“Sedang apa kau disini?” Namja itu menatap Luhan dengan pandangan menyelidik. Sebenarnya ia tidak perlu menanyakan hal itu karena seperti yang kalian tahu namja itu sudah sangat tahu penyebabnya.

“Kau juga sedang apa disini….. Kai?” Ya, pemilik sepasang mata tadi adalah Kai. Kai berniat mengajak Alex berenang disaat dirinya baru selesai mandi tadi pagi. Tapi dengan tidak sengaja Kai melihat Alex ditarik Luhan menuju kamarnya. Sebelumnya dia juga melihat Suho dan Dyo berbincang singkat didepan pintu utama vila, tidak biasanya. Setelah diselidiki dia melihat seorang namja berjalan menjauhi vila mereka dan Kai tahu siapa namja itu. Kai berniat mengikuti Alex hingga ke depan pintu kamarnya. Tapi diurungkan karena tepat didepan pintu kamar Alex adalah kamar Kris. Kemungkinan namja itu masih bergelut diranjangnya tapi bisa saja suatu keajaiban terjadi sehingga Kris mau bangun dipagi hari.Bisa menjadi petaka apabila Kris memergokinya. Jadi Kai memutuskan untuk bersabar dan menunggu dibalik tembok ini. Butuh beberapa menit hingga ia melihat Luhan keluar dari kamar Alex dengan wajah yang berbeda, sangat cerah bahkan terkesan kegirangan. Dia dapat menduga apa yang sudah terjadi didalam sana antara Luhan dan Alex. Terlebih Alex tipe gadis yang pasrah dan tidak suka menolak, kemungkinan besar dia menerima apa saja yang Luhan lakukan padanya. Bukankah menyebalkan? Rela membagi gadis yang ia sukai dengan orang lain? Tapi Kai bukan-lah tipe namja pengalah, oh NEVER. Ngomong-ngomong sejak kapan Kai mulai mengakui menyukai Alex, gadis yang selama ini ia anggap hanya sebagai obsesinya saja.

“Kau tahu hyung, kau itu terlalu berani.” Kai tersenyum sinis dengan mimik wajah meremehkan yang sangat kentara. Luhan, justru hanya tertawa singkat karena menurutnya ucapan Kai semuanya benar. Dia sangat menikmati dirinya yang justru sangat terlampau berani. Bisa saja dirinya celaka kemudian hari karena sikapnya yang terlalu ‘berani’ tadi.

“Apa perlu ku bawakan cermin? Kau bahkan lebih mengerikan dariku.” Luhan membuang mukanya kearah lain malas melihat wajah Kai yang terliahat over confident dimatanya.

Kai menarik kerah Luhan dan memojokannya ditembok. “Apa maksudmu eoh!!” Kai bahkan melupakan bahwa Luhan adalah member tua kedua dikelompoknya dan wajib memanggilnya ‘hyung’.

Luhan mencoba melepaskan tangan Kai dari bajunya tapi cengkraman Kai ternyata cukup kuat untuk dilepaskan. “JAWAB AKU!” Kai kali ini membentak Luhan. Dia tidak peduli yang lainnya akan melihat ini yang terpenting sekarang adalah apa yang dikatakan Luhan tadi sama saja menghancurkan harga dirinya.

“Kau mengatakan bahwa aku berani, benar kan Kai?” Luhan mengambil jeda.

“Justru kau-lah yang berani Kai.” Nada bicara Luhan sangat santai dan juga pelan sehingga menurut Kai itu lebih mengejeknya ketimbang berbicara dengan nada membentak.

“Katakan dengan jelas!?” Titah Kai sambil membenturkan tubuh Luhan pada dinding. Luhan sedikit meringis karena dorongan Kai yang kedua kalinya. Oh, ini pertama kalinya mereka bertengkar semenjak 5 tahun yang lalu.

“Kau ternyata terlalu naif Kai. Singkat saja aku lebih suka perlahan daripada agresif dan juga aku lebih suka sembunyi daripada terang-terangan. Contoh saja saat makan malam kemarin, apa yang sudah kau katakan didepan yang lain, bukankah itu semua jelas Kai.” Kali ini Luhan menyeringai dan menatap Kai yang seakan tersedot seluruh pasokan oksigennya. Luhan menyentak tangan Kai dari bajunya lalu menepuk-nepuknya seperti menghilangkan partikel debu.

“Dengar Kai, aku memiliki feel bahwa kejadian 5 tahun yang lalu akan kembali terjadi. Dan aku rasa kali ini aku tidak akan tinggal diam membiarkanmu selalu menang dalam kisah yang membuatku terpuruk hingga kini. Jadi bersyukurlah rival-mu ini masih berbaik hati. Camkan itu.” Luhan menepuk pipi Kai yang langsung ditepis olehnya dan berjalan menuruni anak tangga. Luhan memutuskan untuk menunggu yang lain dimeja makan. Hitung-hitung menghibur diri melihat hidangan pagi disajikan didepannya.

“SIAL!!”

TBC~

64 responses to “[Freelance] Love Drunk (PART 4)

  1. Ktanya luhan mw mihak sehun??
    kok jdi dia ikt2an ngejar lexa sih…
    bwt kai sabar yaa…
    fighting trus bwt kai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s