Like a Sad Song (Chapter 8)

Untitled-1

Title: Like a Sad Song (Chapter 8) || Author: Anita / @Anita_Febriany || Genre: Romance, Sad, NC || Main Cast: Bae Suzy (Miss A), & Huang Zi Tao (EXO) || Rate: PG-17 || Length: Chapter

Preview >> [Chap 1] [Chap 2] [Chap 3] [Chap 4] [Chap 5] [Chap 6] [Chap 7]

 

———-Like a Sad Song———-

“Suzy mau tinggal bersamaku?” tanya Tao.

“Mengapa tiba-tiba kamu mau mengajakku tinggal bersama?”

Aku tidak tau sejak kapan dia memikirkannya dan mengapa memintaku tinggal dengannya.

“Aku ingin bersamamu. Jadi aku selalu bisa menjagamu,” ujar Tao dengan wajah yang damai.

Aku tidak bisa meluluskan permintaannya. Aku memiliki seseorang yang sangat kucemaskan.

“Maaf…”

“Kamu memikirkan ibumu?”

Aku hanya diam, sambil menganggukkan kepalaku.

“Jangan cemas, karena kita akan tinggal bertiga,” sahut Tao.

Saat itu tidak ada yang bisa kulakukan selain mengiyakan ajakannya. Kemudian aku membicarakannya dengan ibu. Tapi ibu menolak ajakan Tao untuk tinggal bertiga.

“Kenapa bicara seperti itu?” tanya ibu sambil tertawa.

“Aku mencemaskan ibu,”

“Masih terlalu cepat bagi ibu untuk merepotkanmu. Kamu harus menikmati hidup, ibu hanya akan merepotkan jika tinggal bersama kalian. Pikirkan saja kebahagiaanmu,”

“Jika aku tinggal dengan Tao, ibu akan tinggal sendiri. Ibu tidak keberatan?”

“Kamu harus memikirkan kehidupanmu sendiri. Ibu kalau kamu dapat memenuhi kebutuhanmu sendiri, semua ibu pasti ingin anaknya bahagia,”

“Terima kasih, ibu…” ucapku sambil memeluk erat ibuku.

Kemudian aku membereskan barang-barangku ke dalam tas.

“Ibu benar-benar tidak apa-apa?” tanyaku sambil menatap ibu dengan cemas.

“Iya,” sahut ibu sambil tertawa.

Aku masih mencemaskan ibu yang akan tinggal sendirian. Apalagi ibu belum sembuh benar, bagaimana jika terjadi apa-apa pada ibu?

“Tidak apa-apa, lagi pula rumah kalian kan tidak jauh. Apalagi ibu sudah sehat,” ujar ibu menenangkanku.

“Iya,” sahutku mengangguk sambil terus membereskan barang-barangku.

Tao tidak dapat mampir untuk berkenalan dengan ibuku karena dia sibuk dengan pekerjaannya.

“Tidak perlu tergesa-gesa,” kata ibu menenangkanku.

Sepertinya aku belum benar-benar siap pindah. T-shirt Tao yang dulu juga kujejalkan ke dalam tasku. T-shirt itu barang yang berharga bagiku.

“Ini punyamu?” tanya ibu dengan wajah yang keruh.

“Iya, ini milik Tao. Namanya Huang Zi Tao. Ibu mengenalnya?” tanyaku.

“Huang Zi Tao… Dia putra nyonya Huang, kan?”

Aku heran, bagaimana ibu bisa mengenal Tao? Mungkin karena kami tinggal satu komplek saat kami kecil dulu. Ibu mengambil T-shirt Tao dari tanganku. Tiba-tiba wajah ibu terlihat sedih seperti selayaknya kesedihan seorang ibu yang akan melepas kepergian anaknya. T-shirt milik Tao itu kumasukkan ke dalam tas.

“Kamu benar-benar akan tinggal bersama Tao, ya?” tanya ibu sedikit sedih.

“Iya. Jika bukan dengan dia, aku tidak mau,” ujarku sambil memandangi ibu.

“Jangan pernah lupakan perasaanmu yang sekarang ini. Jadi jika kalian nanti menemui kesulitan dalam hubungan kalian, kalian tidak akan mudah terpisahkan. Percayalah,”

“Iya, bu.”

Mungkin ibu sedang mengenang ayah dan ibu tidak menghendaki hubungan kami akan jadi seperti hubungan ayah dan ibu. Ibu menanggis diam-diam. Ibu hebat karena bisa bertahan padahal masalah yang dihadapinya sangat berat. Dalam keadaan apapun, ibu tetap menunjukkan senyumnya yang menentramkan itu.

Mulai sekarang kehidupanku bersama Tao telah dimulai. Dengan memikirkannya saja, aku sudah merasa bahagia. Aku memasukkan baju-bajuku ke dalam lemari sambil menunggu Tao pulang. Saat membuka lemari, mataku tertumpuk ke sekumpulan surat-surat. Mengapa Tao menyimpan surat di dalam lemari? Aku tertawa geli sambil memeriksa surat-surat itu.

Tiba-tiba aku melihat sepuncuk surat. Ada yang aneh pada surat itu. Nama yang tertera pada amplop itu adalah ‘Bae Tao’. Bae? Itu kan marga keluargaku. Walau ayah dan ibu sudah bercerai, tapi aku tetap memakai marga ayahku, Bae. Tapi mengapa Tao membubuhkan nama Bae sebagai marga keluarganya? Orangtua Tao juga sudah bercerai dan ibunya telah menikah kembali. Sejak menikah kembali, ibu Tao mengubah nama keluarganya.

“Suzy?”

Terdengar suara Tao yang berasal dari ruang depan. Setelah memasukkan pakaianku ke dalam lemari, aku menyiapkan makan malam.

“Selamat datang,” ucapku.

Tao melihat amplop yang sedang kupegang.

“Kamu sudah tau?”

Aku tidak mengerti apa maksudnya.

“Apa?” tanyaku dengan bodohnya.

“Ayahmu adalah suami kedua ibuku,” kata Tao memberitahuku.

“Apa?!”

Mataku serasa berkunang-kunang, aku baru tau hal itu hari ini.

“Rencananya aku mau menceritakan semuanya hari ini. Bahkan aku mau mengajakmu ke rumah ayah,” ujar Tao.

Aku tidak mengerti. Ucapannya terngiang kembali. Mengapa pada saat-saat seperti ini masalah ayahku muncul kembali? Berarti ayah kandungku adalah ayah tiri Tao?

“Jadi sebelum cerai dengan ibuku, ayahku sudah pacaran dengan ibumu?”

“Iya,”

“Apakah ibuku…”

“Ibumu sudah mengetahuinya,”

Ibu… Tidak heran saat itu ibu terlihat sangat sedih.

“Suzy, dengarkan dulu.”

“Tidak mau! Jangan sentuh aku!”

Aku sendiri kaget dengan ucapanku. Tapi aku tidak mau mendengar apapun lagi. Aku tidak mau tau apapun lagi.

“Aku tidak pernah mengira akan menjadi seperti ini. Orangtuamu bercerai gara-gara ibuku,”

“Dari awal kamu sudah tau kan?! Makanya kamu mengasihaniku!”

“Suzy…”

“Aku tidak mau dengar!”

“Suzy…”

“Kamu mengasihaniku. Makanya kamu selalu menghiburku, memelukku, bahkan bercinta denganku!”

Tao terdiam dan hanya bisa memandangiku lekat-lekat.

“Kenapa?! Kamu puas bisa melakukan semua itu?! Kamu melakukannya hanya karena merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada hidupku kan?!”

“Aku tidak bermaksud seperti itu,”

“Jahat!”

Aku membereskan barang-barangku,”

“Suzy…”

“Jangan pedulikan aku!”

Cuaca di luar terasa sama dengan cuaca saat aku menjual diriku dulu. Aku hanya terus berjalan sambil berpikir. Ayah selalu ada dalam hatiku. Aku tidak pernah mengira kami akan bertemu lagi. Tapi aku anak kandungnya kan? Mengapa aku tidak bisa memaafkannya? Siapa yang salah? Apakah ayah tau aku sudah dewasa?

Aku ingat saat Tao mengatakan bahwa mobil yang dia miliki itu adalah pemberian ayahnya. Saat itu aku merasa iri karena aku tidak memiliki apa-apa. Aku bahkan hidup penuh dengan kesusahan. Terlalu banyak kegetiran yang kuhadapi.

Ternyata kehidupanku yang penuh kebahagian bersama ayah telah direnggut oleh Tao. Yang membuat ibu menangis dan yang merebut ayah dariku adalah ibu Tao dan Tao. Kupikir aku telah pulih dari kegetiran itu dan aku tidak perlu lagi lari dari kenyataan. Bukankah Tao sendiri yang sering mengajarku untuk tegar.

Tiba-tiba kebahagiaanku menghilang begitu saja. Padahal aku mempercayakan diriku pada Tao karena aku mencintainya. Tapi jika teringat ibu, aku jadi benci kepadanya. Semua perasaan Tao terhadapku selama ini hanyalah perasaan kasihan. Semuanya itu bohong! Tangan yang lembut, pelukan yang erat, dan kecupan bibir Tao yang manis itu palsu! Ibu, maafkan anakmu. Aku malah mempercayai dan mencintai orang yang telah merebut ayah dari kita. Kata-kata ibu kembali terngiang di telingaku, “Jangan pernah lupakan perasaanmu yang sekarang ini. Jadi jika kalian nanti menemui kesulitan dalam hubungan kalian, kalian tidak akan mudah terpisahkan,”

Hatiku terasa terobek-robek. Bulan yang berwarna kemerahan itu seolah-olah akan jatuh saja. Aku terus saja berjalan tanpa dapat berpikir apapun lagi. Aku tidak ingin pulang karena tidak sanggup melihat wajah ibu. Dalam keadaan sedih, Tao selalu memelukku dengan lembut.

Aku berdiri di depan pintu rumah Tao.

“Kamu pulang juga,” kata Tao.

Aku berdiri didepannya tanpa berkata sepatah katapun.

“Ada yang ingin kamu katakan?” tanyaku.

“Tidak ada yang bisa kukatakan,” sahut Tao sambil memandangiku.

“Aku membencimu, dan tidak mau memaafkanmu. Tapi aku tidak tau mengapa aku ke sini,”

Tas yang sedang kupegang terjatuh ke lantai.

“Lupakan semua. Jangan pikirkan apapun lagi. Aku sangat ingin bercinta denganmu,” ujar Tao.

Jemari Tao menyentuh tubuhku. Bibir Tao menciumi kakiku mulai dari bawah hingga menjalar ke atas dengan lembut. Aku hanya bisa menatapnya. Tao membuka bajuku.

“Suzy…”

Tiba-tiba dia memanggilku dengan suara keras. Baru kali ini aku mendengar nada suaranya yang seperti itu. Kemudian Tao memasuki tubuhku dengan kasar. Gerakan tubuhnya begitu agresif seolah-olah dia mau menyakitiku. Badanku serasa remuk. Bahkan hatiku pun ikut jadi sakit. Sejak kapan manusia melarikan diri dari masalah dengan cara seperti ini? Seingatku, kami bercinta untuk mendapatkan kebahagiaan. Bayangan Tao yang penuh dengan peluh itu jadi terlihat mengabur.

“Suzy?”

Ternyata tanpa sadar tanganku berusaha mencekik leher Tao.

“Jika kamu mau, bunuhlah aku…”

Membunuhmu? Aku menangis. Mana mungkin aku membunuhmu. Aku kan mencintaimu. Tao tertegun.

“Jangan berhenti. Teruskan saja. Bercintalah denganku,” pintaku.

Aku tidak peduli jika Tao mau bercinta denganku hingga napasku berhenti sekalipun.

To be continue…

Note: Ada reader yang salah sangka dengan genre di FF ini. Lihat rate-nya! Kalau rate-nya NC baru bisa dikatakan FF NC, tapi FF ini rate-nya masih PG. Jadi jangan pernah mengejek author dengan kata-kata, “Sengaja ya di genre-nya tulis NC, biar ada yang baca?” Sebelum membaca makanya lihat dulu rate-nya! Dan jangan pernah berkomentar pedas pada setiap FF, bukan hanya FF ku tapi semua FF yang di post di SAY – Korean Fanfiction. Tolong hargai penulis, penulis hanya akan bersemangat jika komentar yang kalian berikan itu menyemangatinya bukan malah mengejeknya / FF-nya.

42 responses to “Like a Sad Song (Chapter 8)

  1. thor aku ganggu lg nih….gpp kan?? ^^
    thor part sljutnya lbih dipjngin lg ya thor…
    bru bca bentar aja udh tbc,dihrpkan next part dipjgin lg dr part yg ini thor…:)
    oh iya thor,si kyuhyun nya mana,odiga??
    dibykin lg scene mreka be-3 thor…
    okeh,author yg keceh…

  2. what??????
    knp gni?????
    knp suzy ma tao mlah sodara tiri????

    thor jgn dbuat sad ending yaw >_<
    chap selanjtx jgn lama2 yaw thor 😉

  3. haduh yg sabar yh thor.
    oiya, ini dari crita novel yh, berarti isi jln critanya sama dong, dan gk ada b.korea nya thor,tapi bagus ffnya sih, masalah baru nih buat taozy,
    ditunggu nextnya

  4. thoorr lagi sibuk ya makanya ngepostnya lama.. makin keren thoorr.. bikin penasaran.. ditunggu kelanjutannya thor.. hehehe semangat !!!! ^_^

  5. aku ampe terharu deh waktu tao blg klo ayah suzy nikahin ibunya tao,,pasti sedih bgt itu suzynya,,,feelnya dapet authorr,,,,lanjutannya d tunggu yahh,,,:)

  6. wah cerutanya bagus nasib suzy bener2 tragis hehehehhe$
    aq juga jd ikut sakit ngbayanginnya tao hidup enak dg ayah suzy tp suzy hidup susah!
    autor semanagat ya!

  7. wah jd ini maksudnya ._.
    ngenes bgt idupnya suzy ya -_-
    tp tlg kenapa ujung2nya mau diajakin bercinta jg -_-

  8. Aku bingung harus merasa gimana soal kenyataan yg baru terungkap kalau ayah kandung Suzy itu ayah tiri Tao sekarang..
    Aku ingin Taozy tetap bersama.. 😦 Tapi aku juga nggak mau Suzy sedih terus setiap inget ayahnya.. hiks hiks kenapa hidup begitu rumiiiiiitt!

  9. Kereeennn… Tapi sayang part 6 nya t’lewat karena d protecd.. Part 9 nya jga sma ya sista.. Mnta paswordnya ya sist.. 🙂 thx ya

  10. Penuh dengan konflik banget sih mereka berdua.. Daaaannn, so sweeettt.. Ntahh mengapa aku tersentuh dengan ceritanya.. Hehehehe.. Semangaat thoorr..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s