[Freelance] MY PRECIOUS PRINCESS (Part 7)

cover baru22

MY PRECIOUS PRINCESS…PART 7

AUTHOR :  AKIKO

GRUP CAST : MBLAQ

CAST : Hikari as main character

Lee Joon MBLAQ

Thunder MBLAQ

SeungHo MBLAQ as Joon’s father

GO as Hikari’s uncle

Genre : Romance, Sad, Family and Comedy

Length : Series

AUTHOR POV

“ Should we date?”

Sepertinya Thunder tidak main-main dengan ucapannya, matanya menatap tajam Hikari namun tetap menyeratkan kelembutan di dalam sinar matanya.

Hikari yang tercengang dengan pernyataan Thunder hanya dapat mematung dan tak berkata sepatah kata pun. Karena pada kenyataannya, ia tidak pernah menerima pernyataan seperti yang baru saja Thunder ucapkan.

Keadaan menjadi hening sesaat, Hikari menatap Thunder dengan ekspresi kebingungannya lalu Thunder yang menatapnya dengan pandangan penuh kasih sayang sedangkan Joon melihat Thunder dengan tatapan tak percaya. Terlihat jelas jika Joon membenci dengan apa yang baru saja Thunder ucapkan. Sehingga Joon segera menarik pergelangan tangan Hikari.

“ Sebaiknya kita segara pulang, kau terlalu lelah hari ini” ajak Joon. Pegangan tanganya di pergelangan Hikari tampak kuat namun Hikari tak beraksi apapun dengan itu. Pikirannya melayang menjauh entah kemana.

“ lepaskan dia..” cegah Thunder sambil melepas pegangan tangan Joon pada Hikari.  Terlihat bekas sedikit kemerahan pada pergelangan Hikari.

“  apa yang sekarang kau pikirkan Joon? Apakah kau akan terus menyakitinya seperti ini?” tambah Thunder dengan nada sedikit emosional, ia seolah tak dapat membiarkan Joon berbuat lebih jauh lagi.

Mendengar kata “ menyakiti “ membuat Joon terperanggah, ia kembali teringat dengan rencana ayahnya, perasaan yang seharusnya tak pernah ia miliki namun Joon hanya dapat membalut itu semua dalam diam. Ia melihat pergelangan Hikari yang sedikit memerah karenanya dan hal itu membuatnya semakin buruk.

“ Ayo Hikari..” ajak Thunder.

“ Joon..”  kata Hikari lirih, namun pandangan matanya menampakkan seribu arti yang tak dapat dengan mudah terurai.

“ Pergilah, aku baik-baik saja” jawab Joon singkat namun ia hanya terus menunduk tanpa melihat Hikari sedikitpun.

“ tapi..”

“ aku ingin sendiri sekarang. Mianhe..” Joon mengakhiri pembicaraannya dan segera bergegas pergi menjauh dari mereka berdua.

Hikari hanya dapat melihat bayangan punggung Joon yang semakin menjauh, dan itu membuatnya semakin tenggelam ke dalam perasaannya yang tak tahu harus dibawa kemana sedangkan Thunder sekarang berada di sampingnya. Ia merasa tak dapat memilih siapa yang terpenting baginya saat ini.

“ kau ingin pergi ke suatu tempat untuk menenagkan dirimu, Hikari?” tawar Thunder lembut.

“ aniya oppa, aku hanya ingin segera kembali ke rumah secepatnya. “ jawab Hikari datar, sama sekali tidak ada keceriaan dalam nada bicaranya.

Thunder yang menyadari hal tersebut menjadi menjadi sedikit merasa bersalah sehingga ia hanya dapat menggandeng Hikari pelan lalu mereka berjalan ke arah mobil Thunder diparkir.

Di sepanjang jalan, tampak beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka. Sebagian menunjukkan ekspresi tak percaya, sebagian hanya berbisik dengan pandangan yang kurang menyenangkan. Thunder menyadari hal tersebut namun ia tak terlalu mengambil pusing tentang apa yang mereka bicarakan, saat ini ia hanya terfokus pada Hikari yang sedari tadi hanya berdiam diri dan melamun sepanjang jalan.

“ aku akan mengajakmu ke suatu tempat…” kata Thunder tiba-tiba. Ia semakin mengeratkan gandengan tangannya pada Hikari.

“ gwencana oppa.” Jawab Hikari pelan.

“ aniya..aku tau kau sedang tak baik-baik saja sekarang, jadi biarkan aku menghiburmu sejenak. OK..? J” ajak Thunder sambil memasukkan tangan yang sedang menggandeng Hikari ke dalam saku mantelnya.

Sebelum Hikari sempat menjawab, Thunder sudah dengan cepat mengambil keputusannya sendiri. Sehingga Hikari hanya dapat terdiam kembali namun pikirannya tetap mengarah pada apa yang sedang terjadi pada Joon.

Thunder sepertinya dapat menerka dengan tepat apa yang sedang Hikari pikirkan sekarang namun ia hanya menyimpan pikirannya itu seorang diri.

Setelah beberapa menit berada di dalam mobil, sampailah mereka di depan sebuah bangunan yang cukup tua namun pemandangan di sekitarnya terlihat sangat indah. Banyak pepohonan rindang yang tumbuh dengan baik di sekitarnya lalu di sebelah barat bangunan itu terdapat danau yang cukup tenang dan banyak sekali anak-anak yang memancing di danau tersebut atau mereka hanya sekedar berlarian kesana-kemari.

“ bangunan itu adalah panti asuhan dimana aku dulu berada, ketika pikiranku sedang buruk aku sering pergi kesini untuk sekedar berkeliling atau duduk diam menikmati suasana yang ada.” Thunder berkata memecah keheningan.

“ ini benar-benar indah..” respon Hikari pelan.

Melihat ekspresi Hikari yang sedikit membaik, Thunder hanya dapat tersenyum kecil dan membiarkan Hikari untuk berjalan-jalan sendirian di sekitar danau tersebut sedangkan ia hanya mengawasinya dari jauh sambil duduk di bawah pohon.

Thunder merasa lega dapat membuat Hikari sedikit lebih baik namun ia memikirkan jika Hikari pulang ke rumahnya hari ini maka ia akan bertemu dengan Joon lagi dan tentu saja suasana hati Joon sedang kurang baik untuk Hikari.

Sepanjang Thunder mengawasi Hikari dari kejauhan, ia perlahan mengambil Handphone dari saku mantelnya.

“Yoboseyo” Terdengar suara  lelaki dari Handphone Thunder.

“ appa, aku ingin memohon bantuanmu” kata Thunder pelan namun ia sama sekali tak mengubah ekspresinya sehingga Hikari tidak curiga padanya dari kejauhan.

“ apa yang kau inginkan?”

“ tolong appa hubungi Hikari sekarang dan katakan padanya agar menginap di rumah kita selama 5 hari..”

“ wae? Apakah sesuatu terjadi?”

“ ne appa, akan kujelaskan nanti ketika kita bertemu. Mianhe…Sementara ini aku ingin ayah melakukan ini untukku. Kamsahamida.”

“ ne, arraso..” jawab GO mengakhiri pembicaraannya dengan Thunder.

Setelah selesai menelepon ayahnya, Thunder kembali memandangi Hikari yang sedang berjalan-jalan mengelilingi jalan setapak di sekitar danau. Lagi-lagi Thunder tersenyum lembut padanya.

“ Hikari, aku tak akan membiarkan Joon menyakitimu untuk kesekian kalinya..” batin Thunder.

Beberapa menit kemudian…

“oppa…wae geure?” tanya Hikari penasaran dengan apa yang Thunder pikirkan karena Thunder hanya berdiam diri selama Hikari berjalan-jalan.

“ kau sudah kembali?” tanya Thunder.

“ ne, apakah ada sesuatu yang terjadi, oppa?”

“ aniya, tidak ada apa-apa. Tenanglah. “

Tringg…

Handphone Hikari berbunyi..

“ oh, Paman GO?? Mengapa ia menelepon pada jam seperti ini?” tanya Hikari sambil menatap layar Handphonenya.

“ aku kurang tau, angkatlah telponnya maka kau akan tau” jawab Thunder ringan.

Hikari terlihat sedikit penasaran, lalu ia mengangkat telponnya.

“ yoboseyo…”

“ Hikari, apakah kamu baik-baik saja??” tanya pamannya.

“ ya! Apakah paman hanya akan menanyakan hal sederhana macam itu di jam kerja seperti ini, wae? Ada apa apa paman? Katakan saja..”

“ Hikari, apakah kau tidak tau jika pamanmu ini sangat mengkhawatirkanmu? Oke, aku memang ingin mengatakan sesuatu padamu. Menginaplah selama 5 hari di rumah.”

“ mengapa begitu mendadak paman? “

“ YA!! Apakah aku tidak boleh merindukan keponakanku?”

“ hahaa ne aku mengerti paman, aku tak akan bertanya lagi..”

“ ya sebenarnya aku juga ingin berbicara banyak padamu jadi kita butuh waktu untuk membicarakan ini secara serius.”

“ maksud paman?”

“ kau akan mengerti nanti, oke kita bertemu besok ketika sarapan tiba. Bye Hikari”

Tut tut tut..

“ aish, kebiasaannya sama sekali tak berubah selalu saja menuntup dan mengangkat telpon seenaknya.” Kata Hikari sedikit kesal.

“ wae?” tanya Thunder.

“ aniya, Paman hanya menginginkanku menginap di rumahnya selama 5 hari”

“ mungkin ayah merindukanmu “ jawab Thunder.

“ ne, tapi bagaimana dengan Joon? “ jawab Hikari lemah.

Melihat perubahan ekspresi Hikari, Thunder seolah hendak mengutuk kelakuan Joon yang hanya dapat membuat Hikari mengeluarkan ekspresi sedih.

“ Hikari, dengarkan aku..” Thunder meletakkan kedua tangannya di pundak Hikari dan menatapnya lekat-lekat.

“ Kau membutuhkan waktu untuk berpikir jernih, jika kau kembali ke rumamhmu dalam keadaan seperti ini kau sama sekali tak memecahkan masalah namun justru semakin memperkeruh pikiranmu, dan lagipula sepertinya ayah ingin berbicara hal yang penting denganmu karena ia jarang sekali meneleponmu di jam kantornya.” Jelas Thunder panjang lebar.

“ ne oppa, kau benar. Namun aku takut…aku takut jika aku akan mengambil suatu keputusan yang salah”  Hikari terlihat sangat kacau dan sedih sekarang sehingga ia hanya dapat menunduk.

“ Hikari, …” Thunder mengankat dagu Hikari perlahan sehingga kini Thunder menatap Hikari lembut.

“ apapun keputusanmu, aku akan selalu di pihakmu. Tak peduli apapun itu. Kau mengerti? Jadi kau tak perlu takut untuk berbuat kesalahan apapun.”

“ ne, gomawo oppa..” jawab Hikari terharu. Tanpa sadar air matanya mengalir.

“ gwencana..semuanya akan baik-baik saja. Kau tak sendiri Hikari”  kata Thunder sambil memeluknya dan menepuk-nepuk punggung Hikari perlahan untuk menenangkannya.

Author poV end

Joon poV

“  apa yang sekarang kau pikirkan Joon? Apakah kau akan terus menyakitinya seperti ini?”

Tidak…!

Mengapa Thunder mengatakan kalimat itu begitu jelas? Apakah aku hanya seseorang yang hanya dapat menyakitinya?

Tidak! Aku adalah seseorang yang harus bertugas menjaganya, namun kenyataan saat ini membuat perasaan dan logikaku kacau.

Kulihat wajah Hikari perlahan dari sudut mataku, ia terlihat sangat kebingungan dan aku sangat sulit untuk menterjemahkan apa yang ada dalam benaknya sekarang.

Namun tak dapat kupungkiri jika aku menjadi dia maka aku akan berbuat hal yang sama dengannya atau bahkan pengendalianku tak sebaik dia.

Ia harus menghadapi sifat konyolku yang kusadari selalu berubah-ubah setiap saat dan tetntu saja aku menyadari itu namun ketika aku harus mengingat segala perkataan ayahku, logikaku sendiri dan perasaanku padanya, hal itu membuatku benar-benar terlihat seperti orang bodoh yang tak berprinsip.

Sepertinya aku harus segera memutuskan untuk menghentikan semuanya, aku tak ingin menyakitinya lagi tapi Thunder telah berada disisinya hal itu sedikit banyak membuatku berfikir jika Hikari akan lebih baik bersamanya. Namun untuk melepasnya begitu saja, atau bahkan memikirkannya saja menbuat dadaku terasa sangat sesak. Aku tak tau langkah apa yang akan kulakukan selanjutnya.

Aku hanya dapat terdiam, tak satu katapun terlontar dari mulutku. pikiranku terlalu keras memikirkan jalan keluar apa yang terbaik untukku dan dia.

“ Joon…”

Ia memanggilku lirih, sekilas kupandangi wajahnya dan di matanya memancarkan kesedihan yang terlalu jelas, bahkan untuk sekedar kulihat dalam tempo beberapa detik saja. Aku tak bisa melihatnya seperti ini, rasanya seperti ada sebuah beban besar yang menekan dadaku namun aku tak bisa meluapkannya. Aku ingin sekali memeluknya dan mengatakan bahwa “ bukan itu yang sebenarnya kumau, aku hanya ingin membuatmu bahagia”.

Namun berbagai pikiran-pikiran lain tak lepas dari otakku. Aku merasa benar-benar hampir gila memikirkannya. Aku tak ingin kehilangannya, namun aku lah yang selalu membuatnya menangis dan bersedih. Seolah aku berada di ujung jurang, tak ada satu pilihan pun yang dapat kuambil. Jika aku mundur dan merelakannya bersama Thunder itu akan lebih baik namun aku tak ingin hidup dalam penyesalan.

Ya, penyesalan. Aku tak ingin diriku merasa menyesal karena melepaskan Hikari begitu saja. Namun untuk terus menggengamnya erat di sisiku, aku merasa jika ia mengetahui tentang semua rencana ayahku hal itu akan jauh lebih menyakitinya.

“ oh Tuhan tolonglah aku “

“ aku ingin sendiri sekarang. Mianhe..”

Hanya kalimat itulah yang mampu terlontar dari mulutku sedangkan mataku sama sekali tak mampu menatapnya lebih jauh lagi. Mungkin akan sedikit lebih baik jika aku menenangkan diriku terlebih dahulu.

“ maafkan aku Hikari…”

Aku segera bergegas pulang, membuka kenop pintu yang terkunci dan untungnya pikiranku masih dapat berjalan hanya untuk sekedar mengingat password rumah Hikari.

Rumah ini terlalu besar jika aku hanya sendirian di sini, biasanya ada selentingan suara gaduh Hikari atau hanya suaranya yang memangil namaku untuk sekedar mengusiliku saja namun aku sangat merindukan suasana itu sekarang.

“ aku berharap kau di sini, namun itu tak akan baik untukmu ” batinku dalam diam.

Sepi…

Hanya terdengar derap kakiku seorang diri, hanya dapat mendengar hembusan nafasku. Tak ada tempat berbagi, tak ada apapun di sini. Apakah hal ini yang dirasakannya sekarang?

Sendiri…

Mengapa ini lebih menakutkan dari yang kukira?,

Mianhe Hikari, jeongmal mianhe..

Aku tak tahu jika kau telah berada dalam kegelapan ini terlalu lama.

Tanpa sadar air mataku menetes, setidaknya aku belum terlalu terlambat untuk menyadarinya.

“ Tuhan, berilah aku kesempatan untuk membahagiakannya. Walau hanya setitik cahaya di hatinya.” Doaku lirih.

Kurebahkan tubuhku di atas kasur dan berusaha memejamkan mataku untuk mendapat sedikit ketenangan.

Kringg….

Kulihat layar HandPhoneku, ternyata itu adalah appa.

“ yoboseyo..” jawabku seperti biasa, aku tak ingin membuat appa curiga akan perubahan suaraku.

“ bagaimana keadaanmu? “ tanya Appa langsung.

“ gwencana, ada hal apa yang membuat appa menghubungiku?” tanyaku singkat, karena aku tau appa bukalah orang yang sering menelponku.

“ malam ini aku akan pergi ke London. Ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu. “

“ malam ini? “

“ ne, kita bertemu keesokan harinya. Alamatnya akan kukirim padamu.”

“ ne, ngomong-ngomong apakah kau baik-baik saja appa?” tanyaku bingung karena rencana mendadak appa.

“ kau akan tau nanti ketika kita bertemu.”

“ appa, sepertinya ada hal yang akan kubicarakan denganmu juga.”

“ apa itu?”

“ aku akan membicarakannya langsung besok.”

“ ok.. sampai bertemu besok. Jaga dirimu baik-baik.”

“ ne appa, kau juga.”

Tut tut tut…

Sambungan telpon terputus, dan sepertinya aku harus memutuskan memilih jalan ini. Inilah jalan yang terbaik. Setuju atau tidak appa padaku, tak akan mengubah keputusanku.

Beberapa menit berselang dari appa menelponku, HandPhoneku kembali berdering.

Deg…

Hikari??

Perlahan kudekatkan handphoneku ke telinga.

“ yoboseyo, “ suara Hikari terdengar dari kejauhan. Terbersit sedikit rasa lega ketika mendengar suaranya yang telah sangat kuhafal.

“ ne, waeyo Hikari? “

“ aniya, aku hanya ingin mengatakan padamu jika aku harus menginap di rumah paman selama 5 hari. Ada hal penting yang akan paman bicarakan padaku sehingga aku harus menginap di sana. Aku akan pulang sekitar satu jam lagi untuk mengambil keperluanku.”

Entah apa yang kupikirkan namun dari suara Hikari sepertinya Hikari berusaha melupakan kejadian yang baru saja dialaminya, suaranya sekarang seolah menganggapku seperti orang asing. Sejenak aku mulai merasa takut jika kehilangannya.

“ tak perlu, aku akan kesana. Ada hal yang ingin kubicarakan padamu. Tunggulah sekitar 2 jam lagi di sana aku akan membawakan keperluanmu.”

“ ah ne, gomawo Joon.”

Pembicaraan kami berakhir layaknya transaksi jual beli yang terdengar terlalu formal, bahkan untuk aku yang mengenalnya sejak ia berusia kanak-kanak.

Setelah menutup telepon Hikari, aku segera menuju kamarnya dan menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkannya.

Joon pOV end.

Hikari poV

Aku ingin berbicara seperti biasa padanya, namun entah mengapa suasana kali ini sedikit berbeda aku tak ingin dia berubah menjadi sosok yang asing bagiku. Diantaranya dan Thunder oppa, mereka adalah orang yang sama-sama penting untukku.

Aku sendiri merasa sedikit ketakutan jika Joon benar-benar melepaskan tanggung jawabnya dalam menjagaku, aku tahu ini sangat konyol mengingat aku dapat mencari siapapun dengan cepat untuk menggantikan posisinya namun aku tak ingin menggantinya dengan yang lain. Terlalu banyak kenangan bersamanya, terlalu banyak cerita yang terukir, walaupun terkadang sikap menyebalkannya muncul, tapi ia adalah orang pertama yang akan memberiku bahunya jika aku sedang mendapatkan suatu masalahnya.

“ aish…apa yang kupikirkan sekarang? Mengapa aku tiba-tiba merindukan namja bodoh itu?”  runtukku seorang diri sambil duduk di teras Rumah paman GO sendirian.

“ siapa yang kau rindukan?” tiba-tiba terdengar suara dari belakangku, dan pemilik suara itu membuatku kaget setengah mati.

“ Jo..Joon.” jawabku terbata-bata, jelas aku tak bisa memungkiri rasa maluku karena ia tiba-tiba muncul di belakangku.

“ YA!! Mengapa kau mengagetkanku!!” ujarku sedikit berteriak untuk menutupi rasa maluku.

“ kau yang terlalu tenggelam dalam pikiranmu, sehingga kau sama sekali tak mendengar langkah kakiku. Tapi apakah kau tadi berkata jika merindukanku??” tanya Joon padaku, jelas sekali jika dia hanya menggodaku saja. Menyebalkan.

“ aniya…mengapa aku harus merindukanmu?” jawabku sambil memanyunkan bibirku dan segera membuang mukaku agar ia tak melihat mataku. Joon sangat pandai membaca ekspresiku apalagi jika aku sedang berbohong, ia pasti menyadarinya jika ia sedang memandang wajahku.

“ jinja? Kau tak tak berbohong? J “ tanyanya padaku dan jelas Joon menahan tawanya karena mengerjaiku. Awas kau Joon.

“ ne..” jawabku tetap dengan posisiku sebelumnya.

Namun beberapa saat kemudian Joon berjalan tepat di hadapanku, dan tiba-tiba kedua tangannya memegang lembut wajahku. Kemudian ia berkata,..

“ Tak apa jika kau merindukanku, karena aku pun juga merindukanmu”

Glek, aku hanya dapat menelan ludah karena kaget dengan apa yang sekarang ia katakan padaku, jelas Joon mengetahui jika aku berbohong.

Mataku menatapnya lembut, begitu pula denganya. Dapat kulihat jika ia tersenyum padaku. Aku sangat merindukan senyumannya yang seperti itu, hatiku akan terasa hangat setiap kali ia memandangku dengan senyumannya seperti saat ini.

“ aku tak menginap lama di rumah paman, jadi jangan kira aku akan meringankan tugasmu.” Candaku pelan. Karena jantungku sudah berdegup cepat jika suasana seperti tadi terus dilanjutkan.

“ aku akan menunggumu pulang, aku juga tak ingin memakan gaji buta “

“ ckck, jadi hanya karena itu? “ jawabku sedikit sebal.

“  aku akan sulit bernafas jika kau tak ada di dekatku.” Jawab Joon sambil sedikit membenturkan sedikit dahinya ke dahiku.

Jarak wajah kami hanya beberapa centi saja, rasanya jantungku ini hendak meloncat dari rongga dadaku. Aku bahkan dapat merasakan nafasnya yang hangat.

Beberapa detik ia mebiarkan posisi kami tetap seperti itu, kemudian ia berbisik lembut padaku.

“ Mianhe, Hikari. Mianhe jika selama ini aku memberi banyak penderitaan padamu.”

“ Joon..apa yang kau katakan?”

“ aku meninggalkan sesuatu di tasmu, bacalah setelah aku pergi. Mungkin aku tak akan sanggup mengatakannya jika berada di hadapanmu” jawab Joon sembari menjauhkan kembali wajahnya ke dalam posisi normal. Aku hanya terdiam mendengar perkataaanya.

“ aku pulang dulu, ada hal yang harus segera kuselesaikan. Bye J” jawab Joon sambil membalikkan badanya.

Sesaat kemudian ia membalikkan kembali tubuhnya, dan melambaikan tangannya padaku.

Aku hanya dapat tersenyum melihatnya. Kemudian aku melihat koper yang dibawakan Joon untukku, segera kuambil dan membawanya ke dalam kamarku.

Sesampainya di kamarku, aku segera membuka apa saja yang Joon masukkan ke dalam koperku.

“ ckck, ini terlalu rapi dan berlebihan jika seorang namja yang menatanya” ujarku seorang diri. Karena Joon menata koperku dengan begitu rapi dan tentu saja barang-barang yang dimasukkannya terlalu berlebihan.

Mulai dari pakaian biasa, pakaian formal sampai gaun pesta pun ia masukkan ke dalamnya dan ia pun tahu mana gaun kesukaanku.ia juga memasukkan beberapa buku bacaan yang belum selesai kubaca, lalu beberapa obat-obatan yang akan kuperlukan jika aku mendadak sakit. Aku merasa seperti anak kecil yang hendak pergi tamasya selama sebulan jika bawaanku seperti ini.

Ia benar-benar perfeksionis dalam pekerjaannya.

Ketika aku sedang membuka-buka tumpukan pakaianku, terlihat kertas putih yang sengaja dilipat kecil, karena penasaran segera kubuka kertas itu.

Hikari, …

Mianhe…

Entah berapa kali harus kuucapkan untuk membayar semua kebodohanku selama ini karena membiarkanmu terlalu menderita seorang diri.

Mulutku serasa bisu jika aku berhadapan denganmu dan membicarakan masalah ini, berhari-hari memikirkannya membuatku layaknya orang bodoh. Kubiarkan tatapan sedihmu memenuhi pikiranku, hal itu hampir membunuhku hidup-hidup.

Aku tak akan sanggup untuk melihatmu dengan tatapan seperti itu ketika melihatku. Namun untuk terus menggengammu erat di sampingku, aku merasa terlalu takut karena kau adalah nona besar bagiku. Ketika penyangkalan demi peyangkalan kulakukan, persaan takut akan kehilanganmu semakin kuat menderaku bahkan aku nyaris keluar dari logikaku.

Mungkin ini terlihat seperti aku memonopolimu, tapi aku tak dapat diam membiarkanmu berada di samping orang lain, melihatmu tersenyum manis pada orang lain selain padaku. Entah mengapa aku tak bisa menerimanya.

Pada akhirnya segala kekusutan di dalam pikiranku menuju pada satu kesimpulan, ijinkanlah aku untuk membayar sedikit demi sedikit kesalahanku. Aku akan menjadi orang pertama yang akan mengusahakan kebahagianmu, aku akan rela memberikan kedua pundakku hanya untukmu sebagai tempatmu bersandar.

Kau tak sendiri Hikari, hatiku bukanlah milikku lagi. Ia ada bersamamu sekarang.

TO BE CONTINUED……

Don’t forget to leave your comment chingu ^^

2 responses to “[Freelance] MY PRECIOUS PRINCESS (Part 7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s