[Freelance] MATH vs PHYSICS (Part 4)

cover math

MATH vs PHYSICS ( 4 )

AUTHOR :  AKIKO

GRUP CAST : Boyfriend

CAST : YoungMin as main character

Lisa as his rival

JeongMin as Lisa’s brother

KwangMin as YoungMin’s sibling

 

YoungMin PoV

“ aku bersama dengan adikku sekarang, jadi kau tak perlu khawatir. Aku ingin apa yang kau bicarakan tadi tentang JoonSu jangan sampai Lisa mengetahuinya. Gomawo.”

Beberapa detik kemudian kutulis pesan balasan untuk JeongMin Hyung.

“ ne arraso Hyung, aku tahu apa yang harus kulakukan. “

Dari kejauhan aku dapat melihat JeongMin menenangkan adiknya, kini aku harus kembali ke sekolah sebelum aku benar-benar terlambat.

Suasana sekolah hari ini menjadi dua kali lipat lebih ramai karena terdapat banyak event yang dibuka dari masing-masing perwakilan kelas. Aku ingin sekali mendatangi KwangMin yang terlihat sedang bercanda dengan Sandra. Sepertinya kini aku memiliki alasan untuk menggoda KwangMin haha.

“ hyung, kau telah ditunggu pelatih di lapangan tenis.” Ujar salah satu adik kelasku ketika ia melihatku.

“ ah, ne. Gomawo.”

Tampaknya keberuntungan sedang melandaku hari ini karena aku melihat JoonSu sunbae yang berdiri di samping pelatih club Tenis sekolah kita.

“ YoungMin kemarilah” panggil pelatih itu sembari mengajak JoonSu sunbae untuk mendekat ke arahku.

“ kita bertemu lagi YoungMin” sapa JoonSu sunbae dengan nada yang tak berubah semenjak pertama kali aku bertemu dengannya. Entah apa yang terjadi pada otakku, namun aku semakin penasaran dengan karakter orang yang kini berdiri di depanku. Seseorang yang dapat merubah perempuan yang kutahu tak akan pernah terlihat lemah di depan semua orang.

“ apa yang kau lakukan di sini Sunbae?” tanyaku pada JoonSu sunbae namun pertanyaanku telah dijawab oleh pelatihku.

“ karena JeongMin berhalangan hadir, jadi kuputuskan hari ini kau akan berpartner dengan JoonSu, kau tau kan jika JoonSu dulu pernah menjuarai perlombaan tenis tingkat nasional? Dia akan jadi partner dan teman belajar yang baik untukmu YoungMin mengingat kau yang akan pergi ke pertandingan Nasional tahun ini.” Jelas pelatih tenis dengan semangat, namun ekspresiku hanya datar-datar saja.

“ baiklah, mari kita coba. Tapi untuk kali ini aku ingin melawan JoonSu Sunbae dalam permainan tunggal. Bagaimana Sunbae? Aku bahkan belum mengetahui bagaimana permainanmu.” Ucapku begitu saja pada JoonSu sunbae.

“ oke, itu metode yang cepat untuk mengetahui bagaimana pola permainan kita sehingga kita dapat berpartner dengan baik.” Balas JoonSu  dengan senyuman yang tak kutahu apa maksud dibalik senyumannya itu, aku harus semakin berhati-hati dengannya karena aku tahu ia bukan orang yang bodoh ataupun seseorang yang mudah untuk dijebak.

Permainan berlangsung ketat, ternyata ia juga cukup tangguh dan tak memberikan celah sedikitpun bagiku untuk mencetak nomor. Skor kami berdua pun bisa dibilang saling kejar-mengejar.Tak dapat kupungkiri aku pun mengagumi cara permainannya, menurutku ia tak mengeluarkan kemampuannya yang sesungguhnya jadi dapat kupastikan jika kemampuannya  sekarang melebihi kemampuanku walaupun sekarang aku telah menguras seluruh tenagaku.

Hingga akhirnya…..

Aku harus menerima kekalahanku dengan selisih 4 poin tertinggal darinya. Keringatku mengucur deras dari pelipis namun aku semakin bersemangat untuk mengalahkannya di pertandingan selanjutnya.

“ permainanmu cuku bagus, namun kau terlalu menguras tenagamu di awal-awal permainan cobalah untuk mengontrol tenagamu.” Ucap JoonSu sembari memberikan sebotol air minum padaku.

“ apakah itu adalah hal yang buruk? aku hanya berusaha memberi  pukulan-pukulan yang kuat” jawabku terengah-engah karena nafasku yang belum teratur.

“ aku tak mengatakan jika itu buruk namun kau akan membuang tenagamu dengan percuma dan akhirnya pukulanmu di menit-menit terakhir tak sekuat saat awal permainan.”

“ ne, gomawo Hyung.”

“ kau memiliki pukulan yang unik, pertahankan itu. Lawanmu tak akan pernah tahu kemana arah bolamu akan berhenti.” Balas JoonSu sunbae lalu ia segera berdiri dan bergegas menemui pelatih, sedangkan aku hanya duduk diam di pinggir lapangan memikirkan perkataannya.

“ ckck, jelas saja ia terpukau dengannya. JoonSu sunbae memang nyaris sempurna untuk yeoja manapun” batinku singkat.

Ketika aku disibukkan dengan pikiranku sendiri, tanpa sadar JeongMin Hyung memukulku dengan handuk kecil yang melingkar di leherku.

“ YA!! Apa yang kau lamunkan? “ ucapnya dengan nada yang cukup mengagetkanku.

“ Bagaimana keadaanya?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaan JeongMin Hyung.

“ aku menyuruhnya untuk tetap tinggal di rumah, karena keadaanya juga tak terlalu baik aku membiarkannya untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.”

“ lalu?”

“ entahlah, aku hanya menasehatinya agar tak terlalu terbawa oleh emosi dari masa laluya. Bagaimana kau bisa mengetahuinya YoungMin ah?”

“  aku tak sengaja mendengar percakapan mereka di dalam bus.” Jawabku singkat.

“ apakah kau mengikuti adikku?” selidik JeongMin Hyung sembari menyipitkan matanya terhadapku.

“ aniya Hyung!! Bagaimana mungkin aku bisa mengikuti adikmu, jika aku ketahuan olehnya bisa-bisa ia akan menendang kakiku hingga patah.”

“ mwo?? Hahaa Lisa pernah menendangmu? “

“ jangan tertawa Hyung, adik perempuanmu itu berbakat menjadi mafia jika ia tak ingin melanjutkan sekolah.”

“ adikku bukanlah gadis yang gemar melakukan hal-hal yang sering dilakukan oleh remaja seusianya, sejak kecil ia memang lebih terfokus pada kursus karate yang digemarinya sejak dulu namun seiring berjalannya waktu, aku menemui adikku berubah menjadi lebih cantik dan menjadi menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan aktifitas remaja seusinya seperti belajar memasak, membuat kue ataupun merajut yang kutahu semuanya bukanlah hal yang biasa ia lakukan.Semua itu bermula semenjak ia bertemu dengan JoonSu”

“ lalu mengapa mereka berpisah?, ..ah mianhe Hyung aku tak seharusnya bertanya soal ini padamu.” ucapku tak enak hati pada JeongMin Hyung.

“ mereka berpisah semenjak JoonSu terpilih untuk pertukaran pelajar di Belanda tahun lalu, aku tak mengerti secara detail mengapa mereka berpisah namun sejak awal hubungan mereka memang disembunyikan dari siapapun karena baik JoonSu maupun Lisa saat itu sama-sama sedang menduduki posisi puncak prestasi mereka, bahkan kau tak mengetahuinya kan? padahal kau hampir setiap hari bertengkar dengan adikku hahaa” jawab JeongMin Hyung dengan nada geli pada akhir kalimatnya.

Entah apa yang harus kuucapkan untuk menjawab penuturan JeongMin Hyung, seharusnya aku tak terlalu ambil pusing dengan masalah pribadi seseorang apalagi ini adalah masalah pribadi yeoja yang notabenya adalah teman berdebatku dalam segala hal, akhirnya aku hanya memilih diam dan tak menjawab apapun mengenai alasan mengapa Lisa memutuskan berpisah dengan JoonSu sunbae, lelaki yang nyaris menjadi idaman seluruh perempuan di sekolah.

“ aku…menitipkan adikku padamu.” ujar JeongMin hyung seketika, aku sedikit tercengang dengan ucapannya karena aku merasa bukanlah siapa-siapa bagi Lisa, setidaknya itu yang akan dipikirkan oleh Lisa.

“ wae Hyung? Kau tau kan hubunganku dengan adikmu tidak terlalu baik haha” jawabku setengah bercanda.

“ Aku tak ingin adikku menyesal dengan sikapnya sekarang, Olympiade yang akan kau ikuti dengan Lisa kali ini adalah salah satu ambisi adikku bahkan ia telah menyiapkan segalanya sejak setahun yang lalu. Kuberi tahu kau satu rahasia yang hanya diketahui oleh siswa golden class, jika kau dan Lisa dapat memenangkan olympiade ini maka kau akan mendapatkan free pas untuk masuk ke dalam golden class.” Bisik JeongMin Hyung padaku dan aku tahu bahwa bukan hal yang mudah untuk memasuki golden class.

Golden class adalah kelas yang akan dibuka pada saat pertengahan semester di kelas 11, di dalamnya hanya berisi 10 siswa yang lulus seleksi tes masuk. Sedangkan golden class sendiri memiliki peraturan dan tradisi yang sedikit berbeda dengan kelas reguler pada umumnya. Siswa yang berada di dalam golden class akan berada di gedung yang berbeda, memiliki jas tersendiri yang harus selalu dipakai setiap hari sebagai pembeda dari murid yang lainnya dan tentu saja aura persaingan di dalamnya tak kalah mengerikan dari medan perang yang sesungguhnya karena di akhir semester akan diumumkan 2 orang yang berkesampatan untuk menjalani program pertukaran pelajar selama setahun di Belanda sebelum mereka semua menempuh ujian kelulusan.

“ kuberi tahu kau hal ini karena aku telah berada di dalamnya selama satu tahun” tambah JeongMin dengan nada santai. Aku tak akan kaget dengan kenyataan bahwa Lisa menjadi sosok yang sedikit berambisi dengan prestasinya, karena kakaknya sendiri pun juga memiliki kualitas yang tak kalah dengan adiknya.

“ lalu mengapa tahun lalu kau tak pergi ke Belanda bersama JoonSu sunbae?” tanyaku penasaran.

“ kau menanyakan pertanyaan yang sulit untuk kujawab, namun sebenarnya banyak misteri di dalamnya. Saat itu memang aku yang akan pergi ke Belanda bersama JoonSu, namun seseorang memohon padaku agar aku menyerahkan kesempatan itu padanya.”

“ seseorang?”

“ Rachel..”

“ mengapa ia melakukan hal itu?”jawabku kaget karena Rachel noona juga bersekolah di sini walau saat ini dia belum kembali dari studinya di Belanda.

“ Ia telah ditunangkan oleh JoonSu sejak usianya 16 tahun, dan Rachel tak ingin kehilangan JoonSu.”

“ Hyung! Kau tau kan jika adikmu berpacaran dengannya? Lalu mengapa kau membiarkan adikmu terluka?” responku tak percaya dengan penuturan JeongMin Hyung, tanpa kusadari aku telah mengetahui beberapa rahasia yang tak seharusnya kuketahui.

“ Justru aku tak ingin melihat adikku terluka jika ia mengetahui keadaan yang sebenarnya, Lisa hanya akan merasa terbohongi, sedangkan ia tak mengetahui hal apapun mengenai Rachel yang sudah ditunangkan dengan JoonSu jadi demi kebaikan adikku, aku membiarkan Rachel pergi dengan JoonSu ke Belanda.”

“ lalu akhirnya hubungan mereka berakhir juga kan?” jawabku yang masih bingung dengan pola pikir JeongMin Hyung.

“ aku tak mengharapkan adikku terluka namun akan lebih baik baginya untuk terluka sementara, sebelum masalah semakin rumit baginya. JoonSu juga merahasiakan hubungannya dengan Lisa saat itu, sehingga sering kali mereka bertengkar karena permasalahan tersebut. Yah, setidaknya Lisa tak mengetahui hal yang sebenarnya jika JoonSu menyimpan sebuah rahasia besar padanya.”

“ hyung…mengapa kau menceritakan segalanya padaku?”

“ entahlah, mungkin akan terlalu berat jika aku harus menyimpannya sendiri, pokoknya aku menitipkan Lisa, ok? Aku percaya padamu. “ katanya sembari menepuk pelan pundakku dan JeongMin Hyung segera berdiri.

“ eh?” aku tetap saja bingung dengan keputusan JeongMin Hyung yang selalu memutuskan segalanya sendirian.

“ hahaa…suatu saat kau akan menyadari jika kalian berdua sebenarnya telah menyukai satu sama lain sejak lama.” Jawab JeongMin Hyung kembali dengan nada bercanda, padahal Lisa sendiri selalu menganggapku sebagai musuhnya bahkan cho-cho pun dididiknya agar menjadikanku sebagai musuhnya juga.

Keadaan sekolah belum juga sepi hingga siang hari, aku yang kelelahan karena berlatih tenis sejak tadi pagi hanya dapat berjalan gontai menuju food court untuk membeli sebotol minuman dingin.

“ ya!! Seharusnya kau membuat ia sibuk agar ia dapat melupakan mantan pacarnya dan di tengah kesibukannya kau harus ada di sampingnya, itulah cara yang ampuh agar kau dapat mendekatinya tanpa membuatnya curiga.” Ucap salah satu murid laki-laki yang sedang duduk menggerombol di food court sembari membicarakan hal yang aku tak tahu apa yang mereka bicarakan.

Tapi tunggu dulu…

“  membuatnya sibuk?? “

Ya sepertinya aku tahu apa yang harus kulakukan untuk membuat Lisa tetap fokus pada olympiadenya. Tanpa sengaja aku tersenyum tipis setelah mengetahui apa yang harus kulakukan, Aku bergegas menemui guru pembimbingku segera setelah minumanku habis.

“ Ini jadwal bimbingan olympiade yang kau minta, sebetulnya kau bisa mengatur sendiri jadwalmu namun jika kau memaksa meminta jadwal resminya maka aku tak dapat menolak. Kuharap kau dan Lisa dapat mendapatkan hasil yang maksimal” ucap Guru pembimbing dengan wajah ceria karena aku terlebih dahulu berinisiatif untuk memulai bimbingan.

“ ne. Gomawo” jawabku singkat sembari membungkukkan badan sebelum meninggalkan ruang guru.

“ kau tak bisa kabur dari semua ini Lisa” batinku sambil mengeluarkan HandPhone dari saku celanaku.

YA!!  Dimana kau sekarang?”

Beberapa saat kemudian terdengar balasan pesan dari Lisa.

“ wae? Aku tidak ingin bertengkar denganmu hari ini.”

“ Jangan salah paham, jika bukan karena jadwal bimbingan olympiade yang sudah keluar, aku tak akan menanyakan kau sekarang berada dimana.”

“ ckck, lihatlah kau tetap saja memicu pertengkaran.”

“ aku tak peduli jika kau mengambil kesimpulan seperti itu, namun jangan biarkan aku repot dengan jadwal milikmu”

“ apakah kau mengambilkannya untukku?”

“ ha?? Kau pikir aku dapat menolak ketika guru pembimbing kita dengan riangnya memberikan jadwalnya padaku?”

“ baiklah, kirim saja jadwalnya ke emailku”

“ pastikan kau melihatnya dan PERHATIKAN BAIK-BAIK!! AKU TAK INGIN KAU MENGACAUKAN SEGALANYA”

“ kau meragukanku?”

“ tentu saja! kemampuanku sekarang lebih baik daripada dirimu”

MWO??? APA KATAMU??? LEBIH BAIK?? Cih..jangan bergurau denganku”

“ haha… —_____— kau sendiri yang menunjukkan bukti padaku jika kemampuanmu telah melemah”

“ kita lihat saja nanti, YoungMin ah. “

“ geure, aku menanti hari dimana aku akan mengalahkanmu.”

“ simpan itu dalam mimpimu”

“ aku tak akan memasukkanmu ke dalam mimpiku”

“ aku tak menyuruhmu seperti itu”

“ tidak! Kau baru saja mengatakannya “

“ anggap kau tak pernah mendengarnya”

“ aku sudah mendengarnya”

anggap kau akan melupakannya”

“ aku sudah mengingatnya”

aku lelah berdebat denganmu”

“ namun kau menyukainya kan?”

MWO?? Kau benar-benar !!”

sudahlah, aku sibuk sekarang. Pastikan kau melihat jadwalnya dengan baik, bye”

“ persiapkan dirimu, Lisa. Mulai minggu ini kau benar-benar akan merasakan kesibukan yang luar biasa” batinku geli.

YoungMin PoV end

 

Lisa PoV

“ Apa-apaan dia!!! Mengapa ia bisa tetap menyebalkan seperti itu haishh…Dia benar-benar tak paham jika suasana hatiku sedang tak enak.” Jawabku sebal sembari melempar HandPhoneku di atas kasur.

Sekilas aku hanya dapat terdiam, apa yang harus kulakukan untuk membangun kembali semangatku? , Bagaimana aku dapat bangkit dari keterpurukan ini, padahal JoonSu oppa selalu berkeliaran di dalam pikiranku setiap saat.

“ aish…merepotkan saja. yah aku harus bangkit! Hidupku masih terus berlanjut, tak akan kuijinkan ia mengambil alih masa depanku.”

Ting…

Terdengar lentingan kecil dari laptopku yang tergeletak di meja belajarku, aku dapat menduga jika itu adalah email yang dikirim YoungMin.

“ APAAa!! Apakah ia ingin membunuhku dengan jadwal ini?? “ teriakku seorang diri dari dalam kamar ketika melihat jadwal yang ia kirimkan untukku.

Monday

Start 06.00 a.m- 07.30 a.m à additional Math lesson

07.45 a.m – 02.30 p.m à regular class

03.00 p.m – 5.30 p.m à additinonal Science lesson

Note : aku mengirimkan 200 soal olympiade yang harus kau kerjakan dan semua soal itu akan dibahas besok ketika additional lesson.

Seolah-olah aku tak ingin mempercayai kenyataan buruk ini namun YoungMin benar-benar mengirimkan dua ratus soal matematika dan sains untukku.

Segera kuraih HandPhoneku dan menekan nomornya dengan kecepatan yang tidak wajar.

“ YA!! Apakah kau ingin membunuhku? Bagaimana mungkin kau bisa mengirimkan soal sebanyak ini huh? “

Terdengar suara YoungMin seperti ia baru saja bangun dari tidurnya.

“ apa yang kau bicarakan? Itu sudah hal yang wajar bukan?” jawabnya dengan nada suara yang pelan dan terdengar sangat santai.

“ YAA!!!! Ini soal olympiade, dan soal ini bukanlah standart soal yang bisa dikerjakan dalam waktu satu menit.” Ucapku seraya menaikkan nada suaraku yang benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan namja yang tak tahu kira-kira ini.

“  Sekarang kau ingin merusak gendang telingaku? Setelah beberapa hari yang lalu kau sempat membuat kakiku nyaris lumpuh gara-gara tendanganmu DAN perlu kau garis bawahi  ITU SEBABNYA KAU PERLU BANYAK BERLATIH!!! Aku sanggup mengerjakan semua soal tersebut hanya dalam waktu 200 menit saja. Kau dapat melihat kan? jika kau tak ingin kalah olehku lebih baik segera kau kerjakan semua soal itu DAN JANGAN GANGGU TIDURKU!!”

Biip….

Tiba-tiba YoungMin mematikan sambungan telpon seenaknya.

“ AKU TAK AKAN PERNAH KALAH DENGAN DIRIMU!!!! Lihat saja nanti, aku dapat mengerjakannya hanya dalam waktu 180 menit saja!!” ucapku seorang diri di depan HandPhoneku. Rasa kesalku pada YoungMin telah sampai pada ubun-ubun, dengan segera aku mencetak semua soal-soal tersebut dan bergegas mengerjakannya.

“ Lisa,..Sandra mencarimu” ucap ibuku tiba-tiba yang muncul dari balik pintu kamarku.

“ Oh?? Biarkan ia masuk ke kamarku saja, eomma.” Jawabku singkat yang masih saja memusatkan pikiranku pada printer yang sedang mencetak soal-soal yang baru saja dikirim oleh makhluk menyebalkan itu.

Beberapa saat kemudian…

“ YA!! Mengapa kau hari ini tak masuk sekolah huh? Apakah kau sakit?” tanya Sandra yang baru saja masuk ke kamarku sambil membawa sekotak penuh kue dan buah-buahan.

“ ne, hatiku yang sakit” balasku pelan dengan nafas yang berat ketika menjawab pertanyaan Sandra.

“ wae? Apakah terjadi sesuatu?”

“ entahlah, aku sepertinya masih terperangkap oleh kenangan masa laluku dengannya, seharusnya itu tak boleh terjadi.”

“ lalu apa hubungannya dengan kau tidak masuk sekolah hari ini?  banyak yang mencarimu karena mereka mengandalkanmu di semua perlombaan, aku tak mau tahu pokoknya besok kau harus memenangkan lomba estafet untuk kelas kita.”

“ ne..ne araso. Aku akan berlari secepat-cepatnya besok. Kau puas sekarang?” jawabku setengah bercanda sambil merapikan tumpukan soal yang telah selesai kucetak.

“ kau belum menjawab pertanyaanku..”

“ oh…karena…karena, aku bertemu dengannya pagi ini dan ia ingin memulainya dari awal lagi.” Jawabku sesantai mungkin, aku tak ingin Sandra memandangiku dengan pandangan yang mengiba.

“ kau bisa menerimanya lagi, namun kau juga dapat menolaknya. Kau pilih yang mana?”

“ entahlah, terlalu sulit bagiku untuk kembali lagi dengannya. Aku merasa walaupun aku pernah berpacaran dengannya namun aku sendiri  merasa jika aku adalah orang asing karena ia banyak sekali menutupi suatu hal denganku.”

“ yah…aku juga merasa jika JoonSu sunbae sangat menjaga kehidupan pribadinya.”

“ terkadang aku seperti tak mengerti siapa dia, mengapa ia berbuat seperti itu. Terlalu banyak hal yang tak kumengerti, terlalu banyak salah paham di antara kita dan lagi sepertinya ia tak cukup percaya padaku untuk memasuki kehidupannya”jawabku pelan, tak kupungkiri kini aku benar-benar sedih untuk mengakui semuanya.

“ sudahlah, aku harus menyelesaikan ini semua sebelum YoungMin terus-terusan menerorku” tambahku mengalihkan suasana.

“ kau akan baik-baik saja kan?” tanya Sandra yang terdengan sangat mengkhawatirkan keadaanku.

“ Yah, aku akan baik-baik saja. Kumohon selalu ingatkan aku ya untuk tetap fokus. Aku telah menunggu olympiade ini sejak lama jadi aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menang tahun ini” jawabku optimis.

“ iya, aku percaya padamu Lisa” balas Sandra sembari tersenyum lembut padaku.

Malam harinya….

“ AAAAAAAAAAAAAAAAA aku benar-benar sebal dengan manusia satu ini!!” teriak Lisa sebal setelah menerima sms YoungMin.

“ guru matematika sedikit meragukanmu karena insiden beberapa hari yang lalu di kelas, jadi ia menitipkan 100 soal tambahan khusus untukmu. Fighting!!!”

“ aku baru saja menyelesaikan 200 soal darinya dan kini ia menambahkannya lagi!! Jinja..”

Aku sudah tak dapat sabar lagi menghadapi YoungMin, segera kuambil HandPhoneku untuk meminta penjelasan padanya. Tak mungkin guru matematika tiba-tiba memberikan YoungMin soal matematika untuk diberikan padaku.

“Bip..bip…nomor yang anda tuju sedang tidak aktif…”

“ bagus sekali kau YoungMin ah!! Kau memberikan soal padaku dan kini kau melarikan diri dengan menonaktifkan HandPhonemu!!, Mari kita lihat apakah kau dapat mengerjakan 100 soal yang baru saja kau kerjakan” ucapku seorang diri sambil mencetak 100 soal tambahan yang baru saja dikirim YoungMin lewat emailku.

10 menit berlalu, kini aku telah berpakaian lengkap dan memasukkan semua buku yang kuperlukan ke dalam tas.

“ aku akan membuat perhitungan denganmu!! LIHAT SAJA NANTI”

Meow…

Terdengar cho-cho berlari ke arahku yang sedang marah-marah tak jelas seorang diri.

Meow… Cho-cho memperhatikanku dengan tatapan penasaran.

“ dengar ya Cho-cho, mulai hari ini YoungMin adalah musuhmu! Jadi kapanpun dia kemari kau harus menggigitnya. Araso??”

Cho-cho yang tak tahu apapun hanya dapat melebarkan matanya dan ia tampak mengangguk pelan padaku.

“ oke..kucing pintar. Kau tunggu di sini saja ya, aku akan membuat perhitungan dengan orang yang baru saja menjadi musuhmu!!”

Bruk bruk bruk bruk

Terdengar bunyi langkahku yang terburu-buru dari anak tangga.

“ kau mau kemana malam-malam begini sayang?” tanya eoma penasaran.

“ ehmm…ada beberapa soal yang harus kukerjakan bersama YoungMin jadi aku akan kesana sekarang eomma.” Jawabku ragu-ragu karena aku berusaha merendahkan suaraku agar eomma tak mengetahui jika aku sedang benar-benar marah pada YoungMin.

“ ah, apakah itu untuk persiapan olympiade?” tanya eomma sembari memakaikan syal pada leherku.

“ ne..”

“ baiklah jika begitu, tapi kau jangan pulang terlalu malam ya” respon eomma tanpa rasa khawatir karena memang orang tuaku dan YoungMin adalah teman dekat sejak mereka bersekolah, sayangnya aku dan YoungMin tak mewarisi keakraban mereka.

“ minta YoungMin untuk mengantarkanmu pulang jika terlalu malam” ucap kakakku yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“ YA!! Jangan keluar kamar mandi dengan penampilan seperti itu!! Pakai bajumu.” Balasku tanpa mendengarkan perkataan kakakku barusan tapi setelahnya..

“ oppa, kau saja ya yang menjemputku, ne? Ne? Ne?”

“ apakah kau sekarang sedang merayu kakakmu sendiri? “ jawab JeongMin oppa sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“ ayolah oppa, ne?, aku kan hanya memilikimu” rayuku lagi pada JeongMin oppa.

“ sudahlah jemputlah adikmu, lihatlah wajahnya yang sudah mengiba seperti itu” kata appa geli melihat kelakuanku yang ketahuan merayu kakaku sendiri.

“ ne..ne adikku sayang, puas??” kata JeongMin oppa yang terlihat jika ia kini menahan tawanya sendiri.

“ gomawo oppa,…^^”  ucapku senang lalu aku mencium pipi kanan JeongMin oppa dengan cepat sebelum aku pergi.

“ aish…sampai kapan kau terus-terusan berbuat seperti itu pada kakakmu” balas JeongMin oppa sambil tertawa geli.

Sesampainya di rumah YoungMin.

“ Anneyounghaseyo..” sapaku ramah kepada ibu YoungMin yang membukakan pintu untukku.

“ Lisa, apa yang membawamu malam-malam kemari nak?” tanya Ibu YoungMin tak kalah lembut dengan eommaku.

“ ehm..ada beberapa soal yang harus saya diskusikan dengan YoungMin.” Balasku sopan, tentu saja aku tak ingin membawa emosiku pada ibu YoungMin.

“ mengapa kau tak menghubungi YoungMin saja dan biarkan dia yang datang ke rumahmu daripada kau sendirian yang datang kemari?”

“ HandPhone YoungMin sedang tidak aktif..” jawabku ragu-ragu.

“ aish,,anak itu, ah kau masuk saja ke dalam YoungMin berada di kamarnya bersama KwangMin.” Ucap Ibu YoungMin sambil menggandengku menuju kamar YoungMin.

“ masuk saja, jika kau membutuhkan sesuatu, Tante ada di lantai bawah.” Tambah ibu YoungMin saat ia mengantarkanku tepat di depan kamar YoungMin.

“ ne…kamsahamnida” balasku sambil sedikit membungkukkan badanku.

Setelah ibu YoungMin turun..

Tok tok tok…

Kuketuk perlahan pintu kamar YoungMin dan untungnya YoungMin sendiri yang membuka pintu.

“ Ada apa..eom..ma” perkataan YoungMin terputus segera setelah melihatku berdiri tepat di depan kamarnya.

“ anyeong..” sapaku dengan tatapan sadis.

“ Li..lisa apa yang kau lakukan di rumahku?” tanya YoungMin sedikit gugup lalu beberapa detik kemudian KwangMIn muncul dari balik punggung YoungMin.

“ Apakah kau ingin menjelaskan bagaimana kau mendapatkan 100 soal tambahan ini? Lalu mengapa KAU MEMATIKAN HANDPHONEMU , huh?!!” ucapku sebal pada YoungMin, emosi yang sedari tadi kutahan-tahan akhirnya sedikit meledak juga.

“ omo..sepertinya aku harus keluar dari kamar, kalian butuh berbicara berdua. Aku tak akan terlibat dalam pertengkaran suami istri seperti ini.” Ucap KwangMin malas sambil membawa beberapa buku pelajarannya keluar dari kamar.

“ oke..sekarang jelaskan padaku, APA MAKSUD SEMUA INI?” tanyaku lagi pada YoungMin.

“ itu milikmu, mengapa kau harus protes kepadaku?” jawab YoungMin cuek seolah-olah ia tak melakukan kesalahan apapun.

“ baiklah, mari kita uji seberapa besar kemampuanmu sekarang” tantangku pada YoungMin.

“ jadi kau menantangku untuk mengerjakan 100 soal yang seharusnya kau kerjakan?”

“ wae? Kau takut tak bisa menjawabnya?”

“ aniya!! Mari kita buktikan.!!”

“ oke, waktunya 100 menit, masing-masing soal harus terselesaikan dalam waktu 1 menit.”

“ baiklah..jika itu maumu”

Akhirnya aku harus mendekam selama 100 menit di dalam kamar bersama YoungMin untuk mengerjakan soal-soal tambahan itu, aku dengan cermat memperhatikan gerak-gerik YoungMin saat mengerjakan ataupun saat ia sudah memulai membalik lembar baru. Kita sama-sama tak ingin kalah satu sama lain sehingga suasana terasa begitu tegang dan canggung. Hingga 100 menit berlalu, kita sama-sama meletakkan pulpen secara bersamaan.

“ selesai…” ucap YoungMin sembari meletakkan pulpennya dan menghembuskan nafas panjang.

“ aku juga..”

Lalu tiba-tiba KwangMin masuk ke dalam kamar untuk berbicara dengan YoungMin.

“ eomma memanggilmu..”

“ ah ne..”

“ tunggu sebentar, dan jangan berani-beraninya melihat pada lembar jawabanku sebelum kita mencocokkannya bersama” ucap YoungMin sebelum pergi meninggalkanku di kamar sendirian.

“ tak akan pernah!!” jawabku singkat.

“ ahh,..aku lelah sekali hari ini.” Ucapku seorang diri sambil meregangkan tanganku.

Lisa PoV end

YoungMin PoV

“ bawalah ini ke atas, “ ucap eomma sembari memberiku sepiring buah-buahan untuk Lisa. Aku hanya dapat menuruti perkataan ibuku.

Saat aku memasuki kamarku, kudapati Lisa yang tertidur pulas dengan kertas-kertas yang berserakan di meja, tanpa sadar aku tersenyum geli melihatnya.

“ ia benar-benar berwajah polos ketika sedang terlelap” batinku sambil berusaha membereskan kertas-kertas yang berserakan di meja. Kulakukan sepelan mungkin agar tak membangunkannya. Tanpa sengaja tanganku menyenggol buku catatan Lisa yang tergeletak di tepi meja, terdapat selembar kertas terjatuh dari buku catatan tersebut.

Slowly, My tears fall without I notice it
I tried to swab
and wipe it away many times
Though I can erase, though I can forget
no matter how I think, without you I cry

Without saying anything, you went away,
It’s okay to come back, It’s okay to come back
the short moment we separated,
 I thought it was only a dream
Nothing happened, nothing happened
If this night passes, and I wake up,
I can find you again, …

I repeat it in my heart, repeat it on my lips
I recall you many times, Afraid that I would lose you
Though I can erase, though I can forget
Without you, no matter how much I think, I’m fear

Without saying anything, you went away

“ apakah sesakit itukah rasanya? Ternyata kau masih saja menangis diam-diam dibalik semua kekeras kepalaanmu terhadapku. Ternyata hatimu masih begitu terluka olehnya, ataukah terlalu sulit bagimu untuk mengetahui kenyataan bahwa ia telah pergi darimu?” ucapku pelan setelah tanpa sengaja kubaca catatan yang ditulisnya. Kertas dimana ia menuliskan segala isi hatinya tampak lusuh dan sedikit lembab.

“ apakah ia menangis ketika menulisnya? Apakah tak apa baginya untuk menanggung segalanya seorang diri? Aish..bahkan aku tak memiliki alasan apapun untuk mencampuri urusannya.

45 menit berlalu, jarum jam telah menunjukkan pukul 11 malam namun Lisa belum juga terbangun dari tidurnya, aku hanya diam-diam mengawasinya dari jauh agar pandanganku tak membangunkannnya. Lalu tak lama kemudian, ia perlahan membuka matanya.

“ hah!! Jam berapa sekarang?? “ ucap Lisa kaget sembari membenarkan rambutnya yang berantakan.

puk…

Tanpa sengaja kulembarkan penghapus tepat mengenai punggungnya.

“ YA! Apakah kau kesini hanya untuk tidur? Lihatlah..dari 100 soal kau melewati 2 soal yang tak kau jawab. Kau lupa mengerjakannya atau kau memang tak bisa mengerjakannya?” tanyaku padanya. Karena sembari aku menunggu ia terbangun, aku dengan sengaja memeriksa pekerjaannya.

“ benarkah? Ah..mianhe, aku terlalu lelah hari ini. YA!! Tapi mengapa kau memeriksa pekerjaanku tanpa izin?!?” balas Lisa yang tetap memiliki cukup tenaga untuk bertengkar denganku.

“ aku tak bisa diam saja melihatmu tertidur, jadi daripada melamun aku melihat pekerjaanmu. Ckck kau memiliki kebiasan tidur yang buruk” Jawabku polos padahal itu semua hanyalah alasanku saja.

“ apa yang kulakukan selama aku tidur hah?” respon Lisa gelagapan.

“ kau ingin tau?….aku dapat melakukan apa saja, ditambah lagi ini adalah kamarku.” Bisikku pelan. Hahaa aku senang sekali melihat ekspresi Lisa saat ini.

“ kau pikir aku akan percaya padamu?” jawab Lisa dengan wajah sedikit tegang.

“ apakah aku perlu menjelaskan apa saja yang baru aku lakukan padamu?”

“ YA!!! Jangan main-main denganku” bantah Lisa yang tak ingin melanjutkan obrolan ini dan sebagai imbasnya ia melemparkan bantal kearahku.

Beberapa saat kemudian Lisa segera membereskan buku-bukunya.

“ kau ingin pulang?” tanyaku singkat.

“ ne, aku tak akan tahan berlama-lama di dekatmu.”

“ JeongMin Hyung baru saja kemari, dan ia meninggalkanmu di sini.”

“ mwoo!?? Oppa kemari? Mengapa kau tak membangunkanku.”

“ kau tak bisa dibangunkan. -_-  jadi kakakmu menitipkanmu padaku, aish merepotkan saja. Segera pakai jaketmu aku akan mengantarkanmu pulang.” Jawabku sedikit malu-malu karena aku tak pernah mengantarkan seorang yeoja pulang ke rumahnya hingga larut malam.

“ gomawo..” ucapnya lirih sepertinya ia menyesal karena telah tidur hingga tak bisa dibangunkan oleh kakaknya sendiri.

“ eomma, aku akan mengantar Lisa pulang.”

“ ah, ne hati-hati di jalan. Salam untuk orang tuamu ya” jawab ibuku ramah pada Lisa, aku jadi salah tingkah dengan sikap ibuku, seolah-olah kini aku sedang memerankan suami yang akan mengantarkan istrinya pulang ke rumahnya.

“ aish…ada apa dengan pikiranku?” batinku dalam hati.

Setelah keluar dari rumahku, tiba-tiba Lisa menghentikanku.

“ kau akan mengatarku pulang dengan mobil?” tanyanya seolah-olah ia tak percaya jika aku bisa mengemudi.

“ ne, wae?”

“ apakah kau telah mendapatkan izin mengemudi?”

“ YA! Aku sudah 18 tahun jadi aku telah mendapat izin mengemudi, kau tak percaya padaku?”

“ mengapa aku harus percaya padamu?” jawabnya malas.

“ masuklah, semakin lama kita bertengkar maka akan semakin larut malam kau sampai di rumah, aku tak ingin orang tuamu menganggapku sedang menculik anaknya.” Kataku sembari membukakan pintu mobil untuknya.

Di sepanjang jalan kami berdua hanya terdiam karena tak tahu apa yang harus dibicarakan, hingga tanpa sadar kami telah sampai di depan rumahnya. Namun ketika kami berdua sama-sama keluar dari mobil, Lisa dikejutkan oleh seseorang yang sekarang sedang berdiri menatap kami berdua.

“ JoonSu sunbae? Apa yang kau lakukan malam-malam begini di rumahku?”

“ karena aku ingin mendengar alasanmu mengapa kau bisa bersama dengan YoungMin hingga larut malam.”

Tanpa kusadari aku telah terlibat dalam permasalahan pribadi mereka, dan kini JoonSu sunbae melayangkan pandangan tajamnya kearahku.

To be Continued…….

Don’t forget to leave your comment ^^

24 responses to “[Freelance] MATH vs PHYSICS (Part 4)

  1. ouw….. joonsu udh punya tunangan…..
    tp untung ada joengmin.oppa yg bisa jagain adeknya….
    youngmin-a…. buatlah lisa biar bisa lupa ma joonsu…..

  2. kasian lisa di kerjain sama youngmin suruh ngerjain soal mtk banyak bngttt 😀 …..
    btw ngapain ya joonsu mlm ke rumah lisa ….
    lama2 ceritanya bikin greget

  3. Yuhuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu, persiapan perang dimulai. Modem? Check. Kuota? Check. Charger laptop? Check. Aku siap, aku siap!!!!! (ala Spongebob). Lanjutkan!!!!! (ala Demok**t)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s