[Freelance] Love Drunk (PART 7)

CYMERA_20131117_195203

Title                       :    Love Drunk (PART 7)

 

Author                  :    Safira Bella/@fira_bella

 

Genre                   :    Romance, Angts, Friendship, Etc.

 

Cast                       :  

–          Alexandra Wu (OC)

 

–          EXO Members

 

–          VIXX Members

 

–          Yoon Sohee

 

Rated                    :     NC-17

 

Exo milik management, orang tua dan Tuhan YME, kecuali Kris Kai Luhan. Ide seratus persen dari otak author jadi leave comment guys J

 

Chapter ini sedikit vulgar dari chapter sebelumnya, jadi sebelum baca mending liat dulu RATED-nya. Agar tidak terjadi pelanggaran masalah umur 😀

 

Happy Reading ~~~(^o^)~~~

 

 

Luhan menjatuhkan payungnya saat tiba-tiba Alex memeluknya. Luhan merasakan jantungnya seperti diremas karena mendengar gadisnya menangis.

“Uljima.” Luhan membalas memeluk Alex dan memberikan sapuan lembut dipunggung gadis itu. Didalam sunyinya malam dan dinginnya malam mereka berpelukan saling menumpahkan rasa sakit didalam dada mereka.

“Lepas semuanya Lex…..” Seiring kalimat Luhan, Alex berteriak mengalahkan suara hujan. Luhan semakin memeluk gadis itu. Dia tidak peduli tubuhnya basah dan dadanya yang sakit karena pukulan gadis itu. Namun lebih sakit lagi saat melihat orang yang kita cintai menangis. Apa yang bisa Luhan lakukan sekarang?

Cukup lama, Luhan mulai membuat jarak. Dia menangkup wajah Alex yang pucat karena terlalu lama terguyur hujan. Luhan memperhatikan Alex yang masih memejamkan matanya dengan isak tangis yang tak kunjung berhenti. Luhan sendiri tak dapat membedakan yang mana air mata dan air hujan.

“Ayo kita pulang…..” Luhan memapah Alex menuju mobil. Alex hanya menurut bahkan terkesan pasrah. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang.

Dalam perjalanan keduanya hanya diam. Luhan memfokuskan pandangannya dengan sesekali menoleh sebentar melihat keadaan Alex yang memprihatinkan. Sedangkan Alex memilih diam dan menyender dijendela dengan mata yang menatap kosong jalanan. Luhan masih bisa mendengar suara sesenggukan gadis itu. Sebenarnya Luhan ingin mengetahui perihal penyebab gadis itu menangis tapi mengingat kondisi Alex sekarang Luhan menundanya karena takut gadis itu kembali menangis. Hal paling mengerikan didunia ini bagi Luhan adalah melihat Alex menangis.

Dimansion semuanya menunggu dengan harap-harap cemas. Karena hingga jam sudah menunjuk pukul  11 malam Luhan juga belum pulang. Mereka berharap tidak terjadi sesuatu dengan kedua orang itu terutama Alex. Kai yang baru saja tiba memilih diam karena sedari tadi dia menanyakan apa yang terjadi semua member kompak tak membuka mulutnya. Sohee hanya memasang wajah yang langka tak seorang pun dapat membacanya.

Kris mengangkat kepalanya saat mendengar suara mobil memasuki area mansion. “Itu pasti Alex….” Seru Baekhyun. Semua member berlarian menuju pintu utama. Kai membuntuti dibelakang dengan alis menyatu. Alex? Ada apa dengannya?

 

“Lex gwaenchana? Darimana saja kau?” Kris mendekati Alex yang badannya bergetar karena kedinginan. Alex mengangkat sebelah tangannya memberikan kode agar Kris tak mendekatinya.

“Biarkan dia sendiri….” Xiumin menepuk bahu Kris yang memandang sayu punggung adiknya yang menaiki anak tangga bagai sesosok tubuh yang kehilangan separuh jiwanya.

“Luhan ganti bajumu dan Dyo siapkan makanan untuk Alex lalu antar ke kamarnya.” Dyo mengangguk lalu melesat ke dapur. Luhan pun berlalu menuju kamarnya. Xiumin menghela nafas setelah itu berjalan kecil menuju ruang tengah diikuti member yang lain kecuali Kai dan Sehun.

Sehun hendak ke ruang tengah hingga suara Kai menghentikannya. “Sehun, bisa jelaskan ada apa sebenarnya?” Posisi mereka berdua saling memunggungi. “Apa kau melupakan sesuatu Kim Jongin? Tanyakan sendiri pada dirimu.” Sehun melanjutkan kembali langkahnya. Lantas Kai mematung. Selintas bayangan Alex mampu membuat Kai membulatkan matanya. Perasaan bersalah menghantuinya. Kesalahan fatal yang membuat gadis itu terluka. Kai melupakan janjinya dengan Alex untuk menemuinya ditaman dan memilih menemani Sohee membeli kebutuhan mandinya. Sesungguhnya Kai bukan melupakan lebih tepatnya lupa. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Alex, Kai tak akan memaafkan dirinya.

-ooo-

Sesampainya dikamar Alex mengurung diri dikamar mandi. Rasa asing itu mengerumuni tubuhnya. Tiba-tiba saja tubuhnya sakit rasanya mirip seperti disayat-sayat. Alex menenggelamkan tubuhnya dibath tab dengan baju yang masih lengkap. Rasa sakit itu tak kunjung hilang justru semakin parah. Alex mencoba meraih figura kecil diatas washtafel. Dia tersenyum miris melihat figura yang terdapat dirinya dengan member exo lainnya saat di Jeju. Itu dulu

 

Alex membanting figura itu saat rasa sakit itu kembali menjalar ke tubuhnya. Dia mendongak dengan mulut berbusa. Tangannya yang masih terjulur mencoba meraih pecahan kaca yag bertebaran dilantai kamar mandi. Alex menyayat tangannya untuk mengalihkan rasa sakit ditubuhnya. Dia bahkan tak meringis saat benda lancip itu menggores kulitnya. Alex tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Pandangannya gelap dan tubuhnya mengejang didalam bath tab, masih dengan mulut yang mengeluarkan busa serta tangan yang penuh sayatan dan darah yang membanjiri.

Dyo mengetuk pintu kamar Alex karena tak kunjung mendapat jawaban Dyo memilih masuk. Kosong. Kamar gadis itu kosong. Kemana gadis itu? Dyo meletakkan nampan makan itu diatas buffet lalu menoleh memperhatikan pintu kamar mandi yang hanya tertutup setengah. Dyo memberanikan diri mendekati kamar mandi. Keadaan kamar mandi itu gelap. Dyo meraba dinding untuk mencari saklar lampu. Dan……

“Astaga…… ALEXXXXXX!!”

Teriakan Dyo mengejutkan member lain yang masih duduk santai diruang tengah. Kris berlarian keatas menuju kamar adiknya. Perasaannya sudah tidak enak.

“DYO DYO!!” Kris berjalan cepat ke kamar mandi karena mendengar suara tangis Dyo dikamar mandi.

“ALEXXXXXX!!” Kris mengangkat Alex dari bath tab. Tubuh gadis itu masih mengejang dengan bibir membiru serta berbusa. Dan jangan lupa luka sayatan ditangannya.

“ALEX KATAKAN SESUATU!! ALEXXX!!” Kris menepuk pipi adiknya yang tak merespon apapun.

Luhan dan member lain hanya berdiri mematung diambang pintu. Mereka memandang shock Alex yang masih mengejang dalam pelukan Kris. Luhan terduduk kakinya tiba-tiba saja tak mampu menopang tubuhnya. Dyo masih menangis disamping Kris. Sedangkan Sehun menatap tajam Kai yang juga shock dengan kondisi Alex.

“H-hyung k-kita b-bawa Alex….” Dyo menarik tubuh Kris untuk bangun dengan sesenggukannya.Kris berdiri lalu berlarian ke bawah dengan Alex digendongannya. Luhan pun ikut berlari untuk mendampingi Alex diikuti member yang lain.

“Puas kau Kim Jongin!” Setelah itu Sehun meninggalkan Kai yang terdiam karena ucapannya tadi. Dari sini Kai mulai menyadari kebodohan dirinya. Niat Kai mengajak Alex bertemu karena Kai ingin menjelaskan perasaannya pada Alex dan karena kebodohannya dia justru melupakan janjinya. Dan juga meminta maaf karena sikap kasarnya selama ini.

“ARG!!” Kai membanting tubuhnya diranjang Alex. Sohee muncul diambang pintu lalu menghampiri Kai.

“Kai tenanglah, Alex pasti baik-baik saja.” Sohee memeluk Kai dan Kai membalasnya. Kai menyandarkan dagunya pada pundak Sohee. Gadis itu mengelus punggung Kai dan tanpa Kai sadari gadis itu justru menyeringai licik dibelakangnya.

-ooo-

“Bagaimana keadaannya dok?” Kris dan Luhan sedang berada diruangan dokter Kim dirumah sakit. Ya, karena kepanikan Kris ia justru membawa Alex ke rumah sakit. Inilah Kris saat mengetahui adiknya dalam ambang kematian.

“Itu gejala karena Nona tak mengkonsumsi heroin. Sakau, Nona pasti kesakitan sehingga menyayat tangannya sendiri. Itu semua diluar kendalinya Tuan.” Dokter itu menghela nafas berat.

“Lalu saya harus bagaimana?” Ucapnya dengan suara tercekat matanya pun sudah memerah. Kris hendak menangis karena mengetahui kondisi adiknya.

“Dia harus direhabilitasi Tuan—“

“TIDAK!!” Kris menggebrak meja tak setuju dengan saran dokter Kim.

“Kris….”

“SAMPAI KAPAN PUN AKU TIDAK SETUJU ALEX HARUS DIREHAB TIDAK AKAN!!” Kris membanting pintu. Pikirannya berantakan dan Kris memilih menenangkan dirinya. Klub mungkin tempat yang tepat.

“Terima kasih dok.” Luhan pamit dan membungkuk hormat.

Luhan berjalan gontai menyusuri koridor rumah sakit. Pikiran Luhan tak jauh beda dengan Kris. Dia tidak menyangka hanya karena patah hati Alex bisa seperti itu. Sakau? Luhan tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya Alex harus menahan rasa sakit itu. Luhan merasa menjadi namja jahat hanya dengan melihat kondisi Alex sekarang. Dia mencintai Alex tapi tak dapat membahagiakannya. Luhan menginginkan segelas kopi sekarang dan berharap kopi itu dan menggenjot semangat Luhan untuk membahagiakan Alex.

-ooo-

Sehun baru saja akan membuka pintu kamar rawat Alex saat melihat Hongbin duduk manis diruang tunggu tepat didepan kamar rawat Alex.

“Sedang apa disini?” Sehun berdiri tepat didepan Hongbin.

“Mengunjungi malaikat itu….” Sehun melirik sebuket bunga mawar putih dalam genggaman Hongbin. Sehun menghela nafas lalu memasukkan dua tangannya ke dalam saku celananya.

“Masuklah….” Hongbin mendongak mendengar perkataan Sehun.

“Mwo?” Sehun tersenyum lalu menepuk pundak Hongbin. Oh, ini pertama kalinya Sehun berbicara langsung dengan Hongbin bahkan Sehun tersenyum. Ini pemandangan langka.

“Masuklah, aku akan berjaga disini….” Sehun kini beralih duduk disamping Hongbin dan membesarkan matanya karena Hongbin tak kunjung masuk melihat ‘malaikatnya’. Hongbin membungkuk kikuk lalu masuk ke kamar rawat Alex.

Sehun menyandarkan tubuhnya lalu menyeruput bubble tea rasa coklat favoritnya. Sebenarnya Sehun tidak rela Hongbin begitu mudah masuk dalam kehidupan Alex. Hanya saja Sehun dapat melihat ketulusan dimata namja itu. Ketulusan yang membuktikan bahwa Hongbin serius mencintai Alex. Sehun tak mungkin membangun dinding kalau sudah begini. Toh, Alex sangat bahagia dekat dengan Hongbin bahkan Alex tak pernah absen tertawa jika bersamanya. Sehun sangat menyukai Alex dengan tawa dan senyumnya. Setidaknya Alex berhak mendapatkan kehidupan layak dimasa kini cukup masa lalu gadis itu saja yang kelam tapi tidak dengan sekarang. Sehun akan melakukan segala cara agar ‘adiknya’ itu selalu tersenyum. Sehun percaya Hongbin adalah namja yang dapat diandalkan dalam hal ini.

Sedangkan didalam Hongbin sibuk menata bunga mawar putih yang sengaja ia beli khusus untuk Alex. “Lex bunga mawarnya cantik sekali, just like you are….” Namja itu tersenyum lalu beralih duduk disamping gadis itu. Alex masih tak sadarkan diri sejak semalam. Dokter mengatakan Alex mengalami dehidrasi serta efek heroin yang membuatnya mudah sakit. Dengan kesimpulan heroin itu mengikis sedikit semi sedikit sistem imun Alex.

“Cepat sembuh Lex, sakit seperti itu tidak enak….. kau jelek kalau seperti itu….” Hongbin menyingkirkan anak rambut Alex dan mendaratkan kecupan hangat dikeningnya.

“Aku pergi dulu malaikatku. Setelah sembuh aku berjanji akan membantumu untuk kembali terbang….” Setelah itu Hongbin keluar. Sebenarnya ia ingin berada lama bersama ‘malaikatnya’ tapi karena situasi dia memilih mencari aman. Dia sudah bersyukur Sehun mengijinkannya melihat langsung keadaan Alex, dia tidak mau dicap sebagai namja penjilat.

“Sudah selesai?” Sehun berdiri saat melihat Hongbin menutup pintu kamar rawat Alex. Hongbin mengangguk. “Ne sudah, kalau begitu aku permisi dulu….” Hongbin membalik badannya. “Emm terima kasih sudah mengijinkanku, aku akan membalasnya dilain waktu Sehun-ssi….” Setelahnya Hongbin menghilang diujung lorong. Sehun memandang bingung Hongbin lalu memilih masuk menemani ‘adiknya’ didalam.

-ooo-

Alex membuka matanya, pandangannya masih membayang dan kepalanya pun pusing. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah suasana kamar yang serba putih serta bau obat-obatan yang menyeruak. Ini bukan kamarku.Ya, Alex sangat membenci rumah sakit karena masa lalu. Dan sekarang justru ia berada dalam tempat yang paling ia benci didunia ini. Alex meraba pakaiannya yang telah berubah menjadi pakaian khas pasien rumah sakit. Alex benci ini. Dia beranjak turun dan berniat melarikan diri dari rumah sakit. Dia tidak peduli tanggapan orang lain tentangnya nanti. Yang jelas dia harus keluar dulu dari tempat ini.

“Sehun Alex mana!” Kris menghampiri Sehun yang baru saja kembali dari toilet.

“Ada dikamarnya hyung….” Kris menggertakan giginya tangannya mengepal menahan emosinya. Sepertinya Korea bukan tempat yang tepat untuk Alex, adiknya.

“DIA TIDAK ADA DIKAMARNYA SEHUN!!” Kris nyaris menghancurkan wajah Sehun dengan tinjuannya kalau Luhan tidak datang dan menahannya.

“Tenangkan dirimu Kris. Sehun katakan….” Keuntungan Luhan menjadi member tertua adalah member yang lain memberi respect yang tinggi terhadapnya termasuk Kris.

“Aku…. Hanya ke toilet sebentar…. Lalu aku tidak tahu lagi hyung….” Sehun berubah panik mengetahui ‘adiknya’ menghilang entah kemana. Belakangan ini Alex sering kali menghilang dan kembali dalam keadaan yang mengerikan.

“Tenang semuanya Alex pasti kembali, bersikaplah rileks.” Xiumin datang dan membimbing ketiga dongsaengnya duduk.

-ooo-

Member exo memutuskan untuk pulang dikarenakan lelah mendominasi mereka. Kris pun akhirnya ikut pulang berkat bujukan dari Xiumin awalnya Kris kukuh menunggu adiknya dirumah sakit. Kris menurut karena pikirannya mendadak tak dapat diajak berpikir dengan baik. Alex meluluh lantahkan ketegasan seorang Kris Wu. Hanya Alex yang dapat melakukannya.

Setelah mandi mereka mumutuskan untuk makan malam bersama. Suasana malam kali ini tenang bukan dalam artian formal namun karena mulut mereka yang tiba-tiba enggan berbuat keributan. Baekhyun, Chen, dan Chanyeol yang biasa sering membuat onar dimeja makan kali ini tak berkutik sedikit pun. Semuanya makan dalam hening ditelan dingin dan hambarnya keadaan.

“Mana makananku….” Alex tiba-tiba berdiri diujung meja makan yang berhadapan langsung dengan Kris.

“Alex….” Kris membulatkan matanya melihat adiknya itu tengah berdiri jauh dihadapannya. Sebenarnya bukan itu yang membuat Kris mampu merubah raut wajahnya, penampilan gadis itulah yang membuat Kris termenung.Sejak kapan Alex merubah rambutnya ?Ya, rambut Alex yang biasanya berwarna dark coklat bergelombang dan panjang kini berubah. Berwarna hitam dan lurus. Rambutnya hanya sebatas bahu dan menurut Kris itu pendek. Melihat penampilan Alex sekarang mengingatkan Kris dengan Alex dimasa lalu. Semua yang ada dalam diri Alex sekarang mengingatkan Kris dengan adiknya dimasa lalu. Masa dimana adiknya itu mengalami frustasi yang mengguncang jiwanya. Masa dimana Alex mengalami kehilangan yang teramat dalam. Kris bahkan tak dapat menyentuh adiknya satu tahun penuh karena kerapuhan kejiwaan Alex. Hanya dokter yang dapat berkontak langsung dengan Alex tidak Kris. Kalau sudah seperti ini Kris dapat menduga adiknya mulai kembali dalam dunia kelamnya. Buktinya dia lebih memilih hidup sebagai Alex dimasa lalu dibanding Alex yang sekarang.

“Aku ambil sendiri saja kalau begitu…..” Alex membimbing tangannya untuk mengambil piring dikursi yang biasa dia tempati. Kris memang sengaja mengosongkan kursi Alex dan tidak boleh seorang pun yang mendudukinya. Hanya Alex yang boleh duduk ditempat itu, tidak yang lain. Alex mengambil nasi serta lauk pauknya setelah itu tanpa izin melangkah pergi keluar. Semuanya memandang Alex dengan gelisah karena gadis itu tiba-tiba bertingkah layaknya orang asing. Luhan yang merasa makanannya hambar memilih mengikuti Alex. Kris masih melihat pintu besar didepannya, tempat dimana adiknya itu pergi. Kris merasa suatu hal telah membangun dinding antara dia dan Alex.

Luhan menyembulkan kepalanya dipintu kamar Alex. Luhan merasakan hawa dingin saat memasuki kamar gadis itu. Luhan menghela nafas karena nyatanya gadis itu tak menyalakan pemanas ruangan padahal diluar sana udara sangat tidak bersahabat. Kembali Luhan membuang nafasnya melihat pintu balkon terbuka lebar dan Luhan melihat Alex sedang duduk membelakanginya bukan menggunakan kursi melainkan duduk dilantai.

“Lex kau sedang apa?” Luhan berjongkok disamping Alex yang sedang menekuk kedua kakinya. Pandangannya pun lurus ke depan. Luhan melirik piring berisi makanan yang tadi Alex ambil yang sebenarnya tidak berubah Alex pasti tidak menyentuh makanannya.

Luhan memilih mengambil piring itu lalu menyendok nasi serta lauk untuk disuapkan pada Alex. Luhan tidak ingin gadis itu kembali sakit. Padahal Alex belum bisa dikatakan sehat sekarang. “Aku kenyang!” Alex menggelengkan kepalanya saat Luhan hendak menyuapkan makanan. Luhan menarik kembali sendok itu. Alex tidak pernah menolak sebuah makanan terlebih yang sudah ada didepan matanya. Gadis itu dengan terbuka menerima makanan dan tidak akan pernah menolak. Walaupun itu jenis makanan yang asing sekalipun.

“Lex ayo makan, sedikit saja….” Alex tak menjawab justru menenggelamkan kepalanya dibalik lekuk kakinya.

“Kalau kau makan aku janji akan membelikan es krim yang banyak untukmu Lex, bagaimana?” Tak lama Alex mengangkat kepalanya dan menatap Luhan dengan pandangan berbinar. Luhan sangat mengetahui apa yang sangat disenangi gadis pemilik rambut hitam itu salah satunya es krim. Alex tidak akan pernah tahan dengan es krim.

“Jeongmal oppa….” Luhan mengangguk dengan senyumnya. Alex dengan senang hati membuka mulutnya dan Luhan mulai menyuapkan. Luhan cukup senang Alex akhirnya mau makan walaupun tanpa ada sayuran hijau disana setidaknya gadis itu mau mengisi perutnya. Semenjak Alex terpegok mengonsumsi heroin Luhan jarang sekali melihat Alex pergi ke dapur untuk mencari makanan itu membuatnya khawatir. Cukup hati gadis itu saja yang sakit jangan raganya mengikuti hatinya kosong.

“Emm Lex kenapa kau tidak pernah memanggil Dyo, Tao, Kai dan Sehun oppa mereka lebih tua darimu kan?” Luhan mulai membuka topik pembicaraan. Karena Luhan tak mungkin berharap Alex akan membuka suaranya disaat seperti ini.

“Menurutku aneh saja dan juga….. wajah mereka tak pantas untuk menjadi kakak….” Alex kembali membuka mulutnya untuk disuapkan oleh Luhan. Luhan tak menyangka kalau Alex mau menjawab pertanyaannya. Dugaannya Alex akan mendiamkannya selama dia menyuapi gadis itu.

“Jadi kau memanggilku ‘oppa’ karena aku tua begitu?” Luhan mencoba memancing Alex.

“Haha aniyo oppa kau tidak tua, kau itu pemilik wajah baby face seperti Baekki oppa…..” Luhan menarik sebuah senyum melihat senyum Alex yang akhirnya ia perlihatkan setelah beberapa waktu terakhir seakan hilang dari hidupnya.

“Aku itu tampan bukan imut Lex….” Luhan mengerucutkan bibirnya. Luhan berakting layaknya dia sedang merajuk pada Alex. Luhan ingin melihat reaksi lain gadis itu padanya.

“Arraseo oppa memang tampan….” Tetap Kai yang lebih tampan

 

Luhan mengacak puncak kepala Alex gemas. Hatinya hampir meledak mendengar pengakuan Alex tadi. Dia merasa malamini adalah malam yang tak akan pernah dia lupakan. “Kau baru menyadarinya Nona Wu?” Alex mengendus karena kembali mengetahui sifat asli Luhan. Luhan adalah pria tampan, romantis, baik hati, usil dan terakhir mempunyai tingkat percaya diri yang tinggi. Luhan masuk jajaran namja yang merupakan tipikal namja idealnya tapi entah kenapa bayangan Kai selalu menghantuinya seperti menghalangi Alex untuk mencoba mencari sosok lain untuk menggantikan Kai dihatinya.

“Sudahlah aku hanya bercanda tadi….”

“Mana bisa begitu, kau curang Nona….” Luhan menoyor pelipis Alex gadis itu mengerucutkan bibirnya.

“Kau tahu Lex aku ingin sekali dipanggil deer appa oleh istri dan anakku kelak…..” Luhan meletakkan piring kosong itu disampingnya. Makanan itu terlalu sedikit sehingga Alex cepat menghabiskannya. Luhan meluruskan kakinya lalu memandang langit-langit malam yang tak berbintang diatas sana.

Alex memandang Luhan bingung dia tidak begitu mengerti dengan arah pembicaraan namja imut itu.

“Wae?” Alex hanya merespon seadanya sebagai bentuk respect.

“Aku menyukainya. Member lain selalu menganggapku seperti rusa karena namaku jadi aku pikir kalau aku menikah dan memiliki anak nanti aku juga ingin memanggil anakku little deer, serasi kan?” Luhan menoleh dan hampir membuat Alex terserang penyakit jantung. Senyum Luhan bagaikan obat untuk raganya dalam situasi seperti ini. Entah kenapa senyum Luhan mampu membuat aliran darah Alex selalu berpusat diwajahnya sehingga wajahnya pasti merona karena senyumnya.

“Emm bagus….” Alex memilih menumpukan kepalanya dikakinya agar Luhan tak melihat wajahnya yang merona. Terlambat, Luhan sudah besar kepala karena melihat wajah merah Alex. Mungkin kau membutuhkan senyumku Lex

 

“Kau ini, igeo makanlah.” Luhan meletakkan beberapa bungkus permen coklat ditelapak tangan gadis itu.

“Eung….” Alex mendongak menatap bingung Luhan yang sudah berdiri dan masih menepuk belakang celananya.

“Kau butuh makanan manis Lex. Masuklah diluar dingin tidak baik bagi kesehatanmu …..chup…. aku ke kamar dulu ne….” Setelah itu Luhan keluar dengan piring kosong yang ada ditangannya. Alex masih membulatkan matanya karena perbuatan Luhan tadi. Luhan mengecup bibirnya entah apa tujuannya tapi Alex menyukainya. Bibir Luhan yang manis seakan dapat memberi rasa sendiri pada bibirnya yang pahit. Kembali Alex merasakan dilema, dia tidak mungkin menyukai 3 namja dalam hidupnya. Baik Kai, Hongbin maupun Luhan, Alex belum begitu memahami perasaannya kepada ketiga namja itu. Yang jelas Alex merasa rasa cintanya lebih kuat pada Kai lalu bagaimana dengan kedua namja itu?

-ooo-

Alex berjalan menyusuri koridor yang sepi dikarenakan hari sudah sore. Hari ini Alex memutuskan untuk berkuliah dengan alasan banyak tugas yang menunggunya padahal sesungguhnya dia tidak suka ditinggal sendirian dirumah sebesar itu. Membosankan. Alex bisa saja bermain dengan foster –anjingnya- tapi karena tiba-tiba saja anjing ras Siberian husky itu sedang sakit sama seperti dirinya. Alex menyedot jus apelnya perlahan karena begitu menikmati cairan halus itu mengalir dirongga mulutnya. Alex cukup lama tidak mengonsumsi jus kesukaannya itu. Dia sudah mulai terbiasa hidup tanpa heroin didekatnya namun terkadang ‘sakau’ itulah yang mengganggunya. Seringkali dia kehilangan kontrolnya karena rasa sakit itu. Baekhyun pun terdiam melihat tanda goresan panjang dikedua lengan Alex. Bukan satu atau dua melainkan banyak dan kebanyakan dari mereka adalah luka yang terbilang baru. Baekhyun melihatnya saat Alex tertidur karena Alex pasti akan marah jika siapa pun melihat dan menyentuh lukanya. Baekhyun awalnya hanya ingin memeriksa keadaan Alex. Baekhyun sudah menganggap Alex sebagai adiknya. Malam itu Alex menggunakan t-shirt pendek yang otomatis memperlihatkan luka itu. Mulai dari sini Baekhyun mulai menyadari penyebab berubahnya sikap Alex.

Alex menghentikan langkahnya melihat diujung sana tepat didepan kelasnya ia melihat Kai sedang mengurung seorang gadis dalam rengkuhan tangan kokohnya. Alex ingin sekali menjatuhkan tubuhnya dari gedung kampus saat melihat Kai mendaratkan sebuah ciuman dipipi gadis itu lalu tak lama memperlihatkan senyuman miring pada gadis yang sedang tersipu malu itu. TIDAK senyum itu hanya untuknya. Kai hanya boleh tersenyum menggoda seperti itu hanya padanya bukan dengan gadis lain. Setelah itu Kai meninggalkan gadis itu setelah mencubit pipinya.

“Hai Lex….” Sapa Kai saat melewati Alex dengan memberikan senyum miring yang Alex sukai.

“H-hai….” Balasnya dengan senyum kaku. Selain efek senyum Kai yang memabukkan karena Kai mulai menampakkan posisi Alex dihatinya. Alex menangkap bahwa Alex bukanlah gadis yang dicintainya melainkan pelampiasannya belaka.

Alex membuang jus apel yang masih tersisa setengahnya ke dalam bak sampah. Tiba-tiba rasa manis dari jus itu hilang ditelan kepedihan dipalung hati Alex.

“Hai Lex, hari ini kita sekelas lagi ?” Alex mengangguk lalu duduk dibangku belakang yang berdekatan dengan jendela. 30 menit ke depan mungkin saja Alex bosan mendengar celotehan dosen dan menginginkan mendinginkan otaknya melalui pemandangan diluar jendela. Pemandangan halaman belakang kampus yang hijau dan indah.

Tak lama dosen mereka datang. Alex memfokuskan pandangannya hanya pada dosen Park saja. Dia tidak begitu peduli dengan Sohee yang terus mengetik sesuatu diponselnya. Jujur saja Alex merasa terganggu memiliki teman sebangku seperti Sohee membuat konsentrasinya buyar. Dia tidak ingin mengecewakan Kris lagi. Kris sudah sangat kecewa dengan sikapnya belakangan ini, Alex ingin mengembalikan nama baiknya didepan kakaknya dimulai dengan cara kembali menjadi mahasiswa yang baik.

“Lex, kau sungguhan adik Kris oppa?” Tanya Sohee. Alex mengalihkan pandangannya tepat kearah Sohee.

“Ne” Jawab Alex. Sohee tertawa kecil lalu menyelipkan rambutnya ke belakang.

“Kau sungguh adik Kris oppa, mirip sekali.” Sohee menyodorkan tangannya kearah Alex dengan senyumnya yang begitu manis dan lembut. Alex memandang lama tangan Sohee hingga akhirnya Alex menjabat tangan Sohee.

“Senang berteman denganmu, Alex…” Alex menelan salivanya susah payah, menyiapkan kalimat yang akan ia lontarkan pada Sohee.

“N-ne….”

“Lex, kau pacaran dengan Luhan oppa?” Tanya Sohee. Alex kembali menghentikan aktivitas mencatatnya lalu menautkan alisnya sambil menatap Sohee.

“Mengapa kau berpikiran begitu?” Alex meletakkan penanya bersiap mendengar kelanjutan ucapan Sohee yang janggal.

“Entahlah, kalian begitu dekat dan—“

“Kami tak memiliki hubungan apapun!” Alex kembali melanjutkan kegiatan mencatatnya.

“Kau tahu aku senang kembali ke sini….”

“Maksudmu?”

“Kepergianku ke Jerman itu bukan karena ada urusan tapi karena aku ingin menghindari Kai. Aku takut membuatnya sakit hati karena aku tahu dia benar-benar mencintaiku. Dulu, saat ia masih bersamaku sikapnya masih lunak dan lembut. Aku mendapat berita dari member exo semenjak kepergianku ke Jerman, Kai berubah total. Dia menjadi begitu brutal dan dingin. Saat itu juga aku merasa bersalah. Lama di Jerman entah kenapa aku selalu terbayang wajah Kai, aku berusaha menghapusnya namun dia selalu hadir. Kai selalu menemani langkahku meski ia tak berada disampingku. Dan hingga akhirnya aku putuskan untuk mencari dimana Kai berada. Aku sadar bahwa aku benar-benar telah mencintainya.  Aku tak bisa menolak, hatiku menginginkan Kai…” Sohee menoleh dan menatap Alex dalam.

“Aku mencintainya Alex Wu, aku benar-benar terpuruk dalam rasa cintaku padanya….” Sohee mengakhiri kalimatnya. Dari tatapan itu Sohee seolah mengatakan –jauhi Kai demi aku- Alex mengerjap lalu mengarahkan pandangannya kearah meja, menekuk kedua tangannya lalu menenggelamkan kepalanya ditangannya.

“Dan aku yakin cinta Kai padaku….. masih ada…. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan Kai lagi kali ini…”

Degup jantung Alex seperti berhenti berdetak saat mendengar kalimat itu terucap dari bibir Sohee. Alex mengigigit bibirnya mencoba sekuat mungkin menahan tangisnya. Suara tarikan tas, Sohee menyampirkan tasnya. Ya, dosen Park hanya memberi sedikit materi disebabkan urusan mendadak. 30 menit itu bagaikan tak berarti bagi Alex.

“Aku duluan Lex? Kai oppa sudah menungguku!” Ujar Sohee. Alex hanya terdiam diposisinya dengan berjuta jarum yang menusuk-nusuk hatinya. Apa Sohee sengaja mengatakan hal itu didepan Alex agar ia tak lagi mendekati Kai? Ataukah Sohee tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi antara Kai dan Alex ? Sohee tidak tahu, bahwa didalam hati kecil Alex ia begitu mencintai dan membutuhkan Kai. Setelah Sohee benar-benar keluar dari kelas, air mata Alex terburai. Isakkan tangisnya mulai menggema. Ia meringkuh didalam balutan syal yang membalut lehernya.

“Hiks…. Aku memang bodoh…. Mengapa aku menangis?! Geumanhae Alex Wu!! Geumanhae!!” Bisik Alex. Rasa sesak itu sudah tak tertahankan lagi. Alex sudah tak dapat menahan detakan jantungnya yang seakan hendak meledak. Jantungnya berpacu karena tusukan jarum yang tepat menyentuh hatinya.

Dan sore itu pula Alex menangis sejadinya tanpa seorang pun yang tahu.

-ooo-

Alex menatap bayangannya dicermin dimeja riasnya. Dia meraba wajahnya yang pucat.

Apa yang salah dariku

 

Ya, apa yang kurang dari Alex. Fisik maupun jasmaninya Alex sangatlah sempurna. Apa mungkin karena Sohee lebih lembut dan feminim darinya.That’s all ?Kalau begitu Alex akan mengutuk dirinya karena terlahir menjadi gadis tomboy yang tak memiliki sisi lembut sedikit pun. Tapi bagaimana dengan sikap Kai yang selama ini ia tunjukkan padanya. Panggilan itu, sentuhan serta kecupan itu Alex bersumpah dia bagaikan gadis paling bahagia didunia ini saat Kai seolah mendesahkan namanya disetiap ia memanggilnya. Sentuhannya yang bagaikan penghantar kondektur dan isolator yang bertemu akan terbakar. Alex merasakan tubuhnya terbakar saat jemari Kai menyentuh tubuhnya. Lalu bagaimana dengan kecupan itu ? Ciuman yang mampu membuat Alex merasakan bagaimana nikmatnya hidup sebagai seorang yeoja, begitu memabukkan. Hingga Alex lupa apa itu bumi saat Kai menciumnya.

 

Alex meremas rambutnya saat merasakan rasa sakit itu kembali menggerayangi tubuhnya. Dia butuh benda itu sekarang. Alex membuka seluruh laci serta lemari yang ada dikamarnya berharap benda itu terselip diantara tumpukan barang miliknya. Namun nihil, Alex sudah menghancurkan isi kamarnya hanya untuk menemukan benda yang ia anggap ‘obat’. Rasa sakit itu tak kunjung hilang justru bagaikan membakar organ dalam tubuhnya. Rasanya panas dan sakit.

Appa eomma eottokhe

 

Alex melesatkan tangannya ke cermin hingga kaca itu bertebaran kepenjuru sudut. Kedua tangan Alex penuh dengan darah yang terus mengalir bagai air terjun yang tak akan pernah berhenti hingga mata air itu hilang. Ya, darah Alex tidak akan berhenti hingga jantungnya berhenti berdetak. Kaki gadis itu pun tak luput dari bercak darah. Kaki Alex tanpa sadar menginjak serpihan kaca dilantai. Sekali lagi Alex tak merasakan rasa sakit apapun saat luka itu kembali terukir ditubuhnya.

“Appa eomma bogoshipo…… bolehkah aku menyusulmu ke surga aku bosan hidup disini…… tidak ada lagi yang peduli denganku……. barang yang tak terpakai itu namanya sampah…… bukankah sampah harus dibuang ke tempat seharusnya ? Eomma appa jeb—“

“Stop Alex!” Alex menghentikan gumamamnya saat Kris memeluknya dari belakang. Kris dan Sehun sedang berbincang ringan namun saat melewati kamar Alex tanpa sengaja mereka mendengar suara pecahan didalam sana. Kris memutuskan untuk memeriksa karena takut terjadi hal bengis didalam kamar adiknya. Dan dugaannya….

“Alex tebak aku bawa ap—“ Luhan menjatuhkan se-plastik es krim yang sengaja ia beli untuk memenuhi janjinya kemarin.

“Alex….” Luhan tak kuasa menahan rasa sedih dihatinya. Gadisnya kembali sakit.

“Aku butuh benda itu ge…..” Lirihnya setelah itu Alex tumbang. Kris sigap memeluknya, dia tidak peduli pakaiannya kotor karena cairan berwarna pekat itu. Untuk kedua kalinya Alex kembali mengejang dengan mulut berbusa. Kris yang tak kuasa melihat penderitaan adiknya langsung membopong adiknya ke rumah sakit. Luhan dengan langkah tertatih mengikuti perginya Kris.

Sehun menoleh sebentar pada Kai yang tadi kebetulan lewat dan tak sengaja melihat Alex kembali ‘sakau’. Sehun melangkah pergi tanpa mengatakan apapun pada Kai kali ini. Menurutnya tatapannya sudah cukup menjelaskan apa yang hendak Sehun keluarkan. Percayalah, namja berkulit eksotis itu pasti menyadarinya. Kai berdiri kaku diambang pintu kamar Alex. Dia menatap nanar kondisi kamar Alex yang berantakan itu.

“Maafkan aku Lex….” Gumam Kai.

Ya, mulai saat ini Kai menyesali perbuatannya berpura-pura tidak tahu perasaan Alex. Sejak awal Kai sudah dapat membaca perasaan Alex padanya hanya saja Kai mengabaikannya karena masih terpuruk dengan masa lalu. Sehun yang juga menyadari semua itu hanya mampu menutup mulutnya. Menurutnya semua itu hanya perlu kesadaran masing-masing pihak. Tapi kalau keadaannya sudah begini Sehun jadi enggan untuk hanya diam dan hanya menonton apa yang ke depannya akan terjadi. Menurutnya Kai bodoh karena mengabaikan kesempatan yang ada terlebih gadis itu adalah Alex. Gadis yang jelas-jelas bebet bibit dan bobotnya sangat berkualitas. Lantas kenapa Kai masih menunggu cinta yang semu belaka.

-ooo-

Kris membetulkan letak selimut Alex sebelum meninggalkan gadis itu. Alex dinyatakan sembuh dari candunya mengonsumsi heroin. Dengan waktu satu bulan penuh Alex direhab didalam kamarnya tanpa gangguan dari pihak luar termasuk Kris. Ya, Kris menyetujui tahap rehab itu tetapi jika dilakukan dalam rumah dan pihak rumah sakit menyetujuinya. Sekarang tubuh Alex bersih dari kandungan zat perusak itu. Kris bisa bernafas lega sekarang karena kondisi tubuh adiknya sudah kembali seperti dulu. Hanya saja psikis gadis itu masih terguncang. Kris bingung harus melakukan apa jika berkaitan dengan masalah kejiwaan.

“Jaljayo nae yadomsaeng….” Kris menutup pintu kamar Alex perlahan setelah mengecup kening dan mematikan lampu kamar gadis itu. Kris berlalu pergi karena hari ini merupakan hari ulang tahun exo yang ke 6. Kris berencana merayakan dihotel berbintang lima yang berada dipusat kota Seoul tentunya bersama member lain.

“Alex sudah tidur?” Tanya Lay saat Kris baru saja turun. Kris merangkul Lay lalu tersenyum.

“Sudah, kajja kita berangkat.”

-ooo-

Matanya yang tajam dihias eyeliner tebal serta diberi eyeshadow dan mascara yang sedikit tebal. Bola matanya yang kecoklatan memandang sosoknya didepan cermin. Dengan gaun malam berwarna hitam polos yang mengekspos hampir setengah punggung gadis itu. Rambutnya terurai dan sedikit diberi efek gelombang disana. Bibirnya merona pink peach alami. Gadis itu mengenakan high heels berwarna hitam senada dengan gaunnya. Setelah ia merasa puas dengan penampilannya ia segera keluar dari kamarnya. Senyum seringai terukir dibibirnya.

-ooo-

Kris yang sedang tertawa dengan member lain membulatkan matanya saat melihat sosok Alex didepannya. Tubuhnya mematung begitu saja. Ia tidak bisa mengelak bahwa adiknya itu cantik sekali malamini, walaupun dandanannya terlihat dewasa dari usianya sekarang tidak menjadi masalah bagi Kris. Member yang lain pun menganga lebar melihat Alex terutama Baekhyun, Sehun, Luhan dan Tao. Kai yang semula asyik tertawa bersama Sohee kini menempatkan pandangannya pada Alex. Tak pernah dalam hidupnya Alex berpenampilan seperti itu didepannya terlebih sekarang didepan semua member exo. Alex tersenyum manis pada mereka semua lalu berjalan anggun mendekati mereka yang tengah duduk ditengah ballroom.

Wah Lex your sexy tonight!” Baekhyun bersiul saat Alex duduk diantara Luhan dan Sehun lalu merebut segelas red wine dari tangan Luhan, menyilangkan kakinya dengan gaya sensual. Yang lain pun hampir menumpahkan saliva mereka karena melihat paha mulus Alex yang terekspos. Jelas saja ini pertama kalinya Alex menggunakan baju terbuka seperti ini sesungguhnya dia merasa gerah dengan tatapan nakal laki-laki disekitarnya namun karena tekat Alex untuk meluluhkan hati Kai semua itu tak jadi masalah baginya.

Shut your mouth oppa, just enjoy your drink!” Ujar Alex dengan tangan kanan yang sedang mengguncang pelan gelasnya. Baekhyun tertawa genit lalu melemparkan tatapan nakal pada Alex.

Right away chagi….” Goda Baekhyun sambil menjilat bibirnya. Alex hanya tertawa. Luhan menatap Alex dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia gila

 

“Lex ikut aku….” Kris menarik Alex menjauh dari member lain.

“Ada apa ge?” Tanya Alex setelah mereka dalam jarak aman.

“Sedang apa disini ? Kau seharusnya dirumah Lex, kau baru saja sem—“

“Ge ijinkan aku bersenang-senang, aku sudah lama tidak berpesta. Come on ge?” Alex memeluk lengan Kris manja. Dia tidak peduli pendapat orang lain tentang sikapnya. Kris bukan hanya mengundang membernya tetapi teman satu rekannya. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang berasal dari ras eropa.

Kris menghela nafasnya. Terkadang Kris membenci dirinya yang terlalu memanjakan adiknya sehingga terkadang Alex selalu menyalah gunakan perhatiaannya. “Baiklah….” Alex berseru lalu mengecup kilat pipi Kris. “Thanks ge, you’re the best….” Alex berlari kecil menuju tengah ballroom yang telat disulap menjadi klub mini sehingga banyak orang yang menari disana. Kris meneguk winenya cepat dan mendesis saat cairan itu seakan menghunus rongga tenggorokannya. Kris berjalan menuju sofa disudut ruangan lalu mendudukan dirinya. Kris bahkan tak menyadari bahwa ballroom telah disulap menjadi klub mini kecil sehingga lampu didalam sini cukup temaram. Kris memijat kecil kepalanya yang berdenyut karena reaksi minuman itu cukup membuat kepala Kris pening. Kris sudah lama tak merasakan minuman itu sehingga tubuhnya seakan memberi penolakan saat cairan itu masuk ke dalam tubuhnya. Namun Kris bukan tipe orang yang mudah sekali mabuk hanya karena meminum satu gelas wine.

Alex masih meliuk-liukan badannya dengan tangan yang masih menggenggam red wine. Gadis berumur 19 tahun itu sudah cukup mabuk karena sedari tadi Alex terus meminum minuman alcohol favoritnya entah sudah ke berapa gelas sekarang yang jelas gadis itu butuh rehat. Suasana dance floor itu semakin memanas kebanyakan dari mereka sudah memasuki alam bawah sadar mereka, mabuk. Alex tertawa kecil saat Chanyeol membisikannya sesuatu, bukan hal yang penting melainkan konyol. Namja tinggi itu tengah memeluk Alex dalam keadaan yang sama seperti Alex, setengah mabuk. Setidaknya mereka berdua masih memiliki kesadaran untuk mengenal satu sama lain. Alex menggeliat ditubuh Chanyeol saat tangan namja itu menggerayangi punggungnya yang terekspos. Tangannya sontak melingkar dileher Chanyeol karena merasa pergerakkan tangannya seakan mencoba merangsangnya.

Stop it oppa, you try to tease me eoh?” Alex menyandarkan kepalanya pada pundak lebar Chanyeol dengan tubuh yang saling merapat.

But you like it right?” Chanyeol mendaratkan kecupan dipundak gadis itu. Alex mengigit bibirnya merasakan bibir Chanyeol menyentuh kulitnya sesungguhnya Alex sangat sensitive jika seseorang menyentuh kulit tubuhnya kalau hanya sebatas diwajah Alex tidak akan mempersalahkan. Dalam keadaan sekarang tidak dipungkiri Alex sangat menginginkan lebih, darahnya mendidih karena Chanyeol terus menggodanya. Dia benci cara seperti ini, membencinya karena dia begitu menyukainya.

Hell, stop it oppa….” Alex terpaksa mendorong Chanyeol karena apabila tubuh mereka berdua masih menempel kemungkinan Alex terlebih dahulu menyerang Chanyeol.

“Keke kau menggemaskan….” Chanyeol mengusap pipi Alex dan Alex tersenyum ringan menikmatinya. Tak beberapa lama senyum itu hilang saat melihat pemandangan dibelakang Chanyeol. Seakan malaikat baru saja merenggut senyum gadis itu dan Chanyeol pun mengerutkan keningnya. Walaupun dengan pencahayaan yang minim tidak menjadi penghalang bagi Chanyeol untuk mengetahui perubahan air wajah Alex.

“Lex gwaenchana?” Chanyeol menepuk pelan pipi Alex. Gadis itu memandang sayu dua sejoli dibelakang sana. Ya, Kai dan Sohee. Mereka sedang berdansa romantis sambil berpelukan tak peduli dengan tempat mereka berada sekarang. Alex ingin sekali berlari kesana lalu menghempaskan Sohee dan mengatakan bahwa Kai hanya miliknya seorang bukan dia. Tapi mengingat kenyataan bahwa Kai tak mencintanya bagai mencabut belati yang baru saja dihunus ke dalam hatinya.

“Lex kau kenapa?” Chanyeol khawatir. Alex membekap mulutnya ia sudah tak kuasa menahan cairan hangat yang sedari tadi ia simpan diujung matanya. Hancur pertahanannya saat dengan terbukanya Kai mencium Sohee tepat dibibirnya. Bahkan ciumannya itu lebih mengandung banyak arti ketimbang Kai menciumnnya waktu itu. Mereka terlihat sangat menikmati.

Alex berlari tanpa pedulikan Chanyeol yang terus menyerukan namanya khawatir. Luhan yang sedari tadi hanya duduk dan memperhatikan Alex mulai berlari mengejar Alex yang tengah berlari keluar.

Alex terus berlari sambil memegang dadanya yang terasa sesak. Air matanya terus mengalir dan Alex mengaku perlakuan Kai selama ini seakan menikamnya perlahan. Alex terus berlari hingga tubuhnya terhuyung karena menabrak seseorang.

“Chogi gwaencha—“ Alex langsung memeluk namja itu. Dia menangis didada bidang namja itu. Namja itu awalnya terkejut namun kedua tangan itu bergerak memeluk dan mengusap sayang gadis itu. Alex bukan tanpa alasan memeluk namja itu karena dia begitu mengenal suara namja itu. Ya, namja yang selalu menghiburnya dikala dia terpuruk.

“Uljima….” Suara lembut itu seakan menghipnotis Alex untuk terus menumpahkan kesedihannya. Namja itu sejujurnya merasa bodoh karena tak dapat melindungi gadis yang dia cintai sehingga gadis itu sering kali menangis hanya karena ulah Kai, sang muka tembok.

BHUG

Namja itu –Hongbin- terkapar dilantai karena pukulan keras Luhan yang mengenai rahangnya. Hongbin menumpahkan banyak darah saat Luhan menendang perut namja itu keras. Luhan tak dapat menahan emosinya saat ia mengetahui gadisnya menangis karena ulah Kai yang kini tengah menjadi rivalnya dan mengetauhi Alex dipeluk oleh namja yang berstatus musuh besar kelompoknya. Luhan mengakui usaha Hongbin mendapatkan hati Alex sangat gigih bahkan Luhan seakan hampir tergeser dari hati gadisnya.

“OPPA STOPPP!!” Suara lengkingan Alex berhasil menghentikan aksi bejat Luhan menghakimi Hongbin. Pemuda itu terus memuntahkan darahnya tendangan Luhan seakan menghancurkan organ dalamnya. Luhan dengan enggan menghentikan aksinya mendengar suara sesenggukan gadis itu yang menggema dipenjuru basement membuat Luhan nyaris tak bertenaga untuk berdiri. Kembali Luhan melihat gadisnya tersakiti untuk kesekian kalinya.

Luhan berjalan menghampiri Alex dan langsung menarik gadis itu menuju ke dalam hotel. Pikiran Luhan kacau dan hendak meledak. Entah apa yang akan terjadi nanti Luhan tak peduli.

Sehun yang sedari melihat kronologi peristiwa mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Ya, sedari tadi Sehun mengikuti kemana Luhan pergi mengikuti Alex. Dia berjongkok menyodorkan sebuah sapu tangan dengan inisial namanya.

“Pakailah…..” Sehun menyerahkan sapu tangannya pada Hongbin yang meringkuk kesakitan dilantai basement.

Hongbin hanya memandang datar sapu tangan itu. Didalam benaknya dia tidak menyangka masih ada orang baik didalam kelompok yang berstatus musuhnya. Hongbin mengambil sapu tangan itu ragu lalu menghapus noda darah ditepi bibirnya setelah menggumamkan kata terima kasih.

“Kenapa kau begitu baik padaku?” Tanya Hongbin dengan suara serak. Sesungguhnya Hongbin enggan membuka suaranya dikarenakan tendangan Luhan tadi membuat tenggorokannya tercekat.

“Karena kita menyukai orang yang sama…..” Jawab Sehun santai. Hongbin mengerutkan keningnya.

Sehun bangkit dan menenggelamkan tangannya disaku celananya. “Sudah lama aku menginginkan seorang adik perempuan, sejak bertemu Alex aku seakan menemukan kriteria adik idamanku begitu manis dan ceria….”

“Kau harus ingat aku bukan rivalmu. Rivalmu hanya dua dan aku yakin kau sudah mengetahuinya jadi….. bersikaplah tegar, sainganmu sangat kuat….” Sehun menepuk pundak Hongbin lalu melenggang pergi memasuki ke dalam hotel. Hongbin tersenyum penuh arti setidaknya dia memiliki rekan baru sekarang yang dia yakin dapat dipercaya dengan baik.Terima kasih Oh Sehun

 

-ooo-

Alex hanya terdiam dengan tangan yang masih dicengkram oleh Luhan. Tak lama mereka sampai dikamar hotel milik Luhan. Luhan membukanya dan menarik Alex lalu mengunci pintunya. Luhan mendorong Alex ke ranjang dan menindihnya. Kedua tangan Alex ia tahan disisi kepalanya. Luhan dengan ganas melumat habis bibir Alex membuat tubuh Alex menggeliat dibawahnya terlebih saat tangan Luhan mulai meramba ke tubuh gadis itu. Alex melenguh saat Luhan melepas ciumannya yang ganas. Ia menatap Alex dengan nafas yang tersengal-sengal. Disana, terlihat jelas guratan kehancuran didalam manik mata Alex. Luhan tahu soal itu, mengetahui bahwa Alex sedang hancur dan rapuh sekarang dan bermula dari ulah namja yang tak memiliki perasaan peka.

Luhan dengan pelan mendekatkan wajahnya ke Alex lalu melumat bibirnya lembut tanpa ada nafsu seperti yang dilakukannya tadi. Tubuh Alex pun mulai beradaptasi dengan sentuhan kulit Luhan. Luhan melepas kedua tangan Alex dan Alex mulai melingkarkan tangannya dileher Luhan memperdalam ciuman mereka.

Luhan melepas kembali ciumannya lalu mempertemukan kening mereka seraya matanya terpejam. Alex ikut memejamkan matanya berusaha menstabilkan nafasnya. Beberapa menit kemudian mereka habiskan dengan saling diam dengan posisi yang sama. Hingga Luhan membuka matanya lalu menarik Alex untuk duduk dipangkuannya.

Your pretty Lex, really.” Puji Luhan dengan tangan yang lantas mengusap lembut pipi gadis itu dan tak lama mendaratkan ciuman kilat dibibir gadis itu.

Thanks.” Jawabnya dengan senyum samar. Luhan tersenyum walaupun hatinya pun sakit melihat gadisnya.

Don’t be sad, because I’m here….” Alex menoleh dan ditatapnya Luhan yang sedang memandangnya sendu. Alex benci dengan tatapan itu, tatapan yang seolah mengasihaninya. Tapi tatapan Luhan bagai menyiram air dingin diwajah Alex yang penuh amarah.

Luhan kembali mendekatkan wajahnya saat melihat genangan air mata kembali menumpuk dimata indah Alex. Awalnya Luhan menciumnya dengan lembut seiring waktu berjalan Luhan mulai mendorong wajahnya seolah memberikan ciuman terdalamnya. Tempo gerakannya semakin cepat dan dalam. Terdengar suara decapan memenuhi kamar hotel. Luhan mengigit kecil bibir Alex, gadis itu mencengkram pundak Luhan saat merasakan benda basah tak bertulang itu memutari rongga mulutnya. Tanpa ragu Luhan mendorong pelan tubuh Alex ke ranjang dengan tetap melumat setiap sisi bibir tipisnya.

Tak lama waktu menjelang Luhan telah menurunkan gaun Alex hingga sebatas perut begitu juga dengannya. Kini tak ada sehelai benang ditubuh bagian atas mereka. Tanpa ragu tangannya mulai meraba gesit ke seluruh tubuh Alex. Alex hanya bisa mencengkram kuat pundak dan tengkuk Luhan karena perlakuan hebatnya. Ketika tangan Luhan beralih ke kain terakhir yang ada ditubuh Alex hanya bisa diam dan menikmati. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi setelah ini. Dalam pikirannya Luhan dapat menghiburnya dengan cara yang dia inginkan.

Luhan berhasil melucuti sisa pakaian ditubuh Alex sekarang mereka berdua benar-benar tidak berbusana lagi. Sentak saraf Alex menegang terutama dibagian sensitifnya. Luhan mulai sibuk mengedarkan belaian tangan dan kecupan dari bibir ranumnya ke seluruh tubuh Alex. Selang beberapa lama Luhan menarik paha Alex dan…… milik Luhan berhasil masuk ke dalam tubuh Alex. Alexmenjerit antara menahan sakit dan nikmat. Luhan diam sejenak, menatap Alex lalu mengelus kening dan pipi Alex dengan sangat lembut. Alex yang melihat bibir Luhan yang memerah membuatnya tersihir untuk mengecupnya. Luhan seperti mendapat telepati, ia kemudian mencium kembali kedua bibir Alex dengan gerakan yang begitu dalam dan kuat. Berkali-kali milik Luhan membuat Alex bagai melayang ke langit ke tujuh.

6 jam mereka melakukan ‘itu’ dikamar hotel. Dikeheningan malam dengan hawa dingin menambah sensasi tersendiri bagi mereka. Alex mengerang tak karuan mendapat perlakuan Luhan. Entah karena lelah atau merasa sudah puas, keduanya memutuskan untuk menyudahinya. Alex langsung tertidur saat selesai melakukannya. Mungkin karena terlalu lelah.

Alex tertidur diatas tubuh Luhan. Tubuh mereka berdua terasa basah dan lembab karena keringat. Mereka masih dalam keadaan tak berbusana hanya selimut tebal yang menutupi tubuh bagian bawah mereka. Alex masih terlelap semenjak kejadian semalam padahal hari sudah pagi sedangkan Luhan sudah terjaga sejak 1 jam yang lalu karena begitu menikmati setiap desahan nafas dan degup jantung Alex yang berdetak normal. Alex bergerak kecil merasakan keningnya tersentuh benda hangat, Luhan sedang menciumnya.

Morning Lex….” Sapa Luhan. Alex tersenyum penuh arti.

Morning oppa….

Luhan menundukan kepalanya lalu mengecup pelan bibir Alex. “Morning kiss!” Ujar Luhan. Alex tertawa kecil lalu mengusap lengan Luhan yang ada dipinggangnya.

Beberapa menit kemudian mereka terdiam pada posisi seperti itu hingga akhirnya Luhan mendudukan tubuhnya. Luhan membetulkan tubuh Alex yang sedang duduk dalam pangkuannya. Luhan melingkarkan tangannya kembali dipinggang Alex lalu menaruh dagunya dibahu Alex. Alex menatap kosong kearah balkon yang terang karena pantulan cahaya matahari. Tak lama air mata pun lolos dari mata Alex. Luhan yang menyadari hal itu pun semakin mengeratkan pelukannya pada Alex. Luhan membelai halus rambut Alex dan menghirup aroma wangi dari rambutnya.

“Kau merindukannya Lex?” Ucap Luhan tiba-tiba. Alex membulatkan matanya tak mengerti dengan apa yang dikatakan Luhan.

“Kau merindukan Kai, bukan?” Ucap Luhan lagi. Kini Alex mengerti dan tak lama ia terisak didalam pelukan Luhan.

“Hiks…. o-oppa aku mencintainya. Aku sungguh mencintainya!” Isak Alex sambil memeluk tangan kokoh Luhan yang melingkar dipinggangnya. Matanya memerah dan mulai membengkak.

Aku tau Lex, aku tau…

 

Karena itu aku selalu ingin bersamamu…

“Bersabarlah lex, kau pasti bisa lalui semua ini.” Bisik Luhan lembut. Luhan membalik tubuh Alex menatapnya ke dalam manik mata Alex yang rapuh. Ah, Luhan benci tatapan mata itu, tatapan penuh kesakitan dan keterpurukan. Ini sudah kesekian kalinya bagi Luhan melihat Alex menangis dengan alasan yang sama. Bahkan dia tidak menangis saat tertembak tempo hari.

“Aku akan selalu berada disampingmu jika kau membutuhkanku. Panggil saja aku…. Lexa…” Ujar Luhan dengan tangan yang mengusap air mata Alex yang berjatuhan. Alex tersenyum kecil lalu memeluk Luhan.

“Gomawo….oppa….gomawo…. kau memang orang baik…” Gumam Alex dalam pelukan Luhan . Luhan hanya mengangguk, membiarkan Alex berada dipelukannya memberikan  Alex kehangatan dan memberikan Alex kekuatan agar ia tak terpuruk lebih dalam.

Meski cintaku bertepuk sebelah tangan….

 

Tapi aku berjanji akan terus ada disampingmu….

 

Luhan memakai celananya lalu berjongkok didepan Alex yang masih terduduk diranjang. Dia mengangkat tangannya membelai pipi Alex. “Mengenai kejadian semalam aku—“

“Gwaenchana oppa…” Balas Alex sambil membenahi letak selimut yang membungkus tubuh polosnya.

“Tidak…. Aku akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padamu!” Luhan meletakkan tangan Alex didadanya menggambarkan bahwa ia serius dengan kata-katanya.

“Tapi oppa—“

“Ssst tidak ada tapi, katakan saja Lex eum….” Luhan tersenyum teduh membuat lengkungan yang indah dikedua manik matanya. Alex sangat menyukai senyum Luhan. Luhan bagai malaikat ketiganya dalam situasi ini setelah Hongbin dan Sehun tentunya.

“Ne”

“Bagus, sekarang kamu mandi bersihkan dirimu.” Luhan meraih kemejanya lalu memakainya.

“Oppa mau kemana?”

“Membeli makanan, kenapa? Kau mau mandi bersama?” Luhan tersenyum nakal. Alex mendadak panik lalu segera mengangkat selimut itu menuju kamar mandi. Dia malu saat Luhan kembali mengungkit hubungan mereka semalam.

Luhan yang melihat tingkah gadisnya hanya bisa tersenyum. Sebenarnya Alex tidak pantas disebut gadis karena semalam Luhan berhasil merenggut mahkota kebanggaannya. Alex sudah menjadi milik Luhan seutuhnya tapi yang sangat disayangkan adalah sampai saat ini Luhan tak dapat memiliki hati gadis itu. Raga saja tidak cukup karena rasa cinta sesungguhnya berasal dari hati. Luhan tersenyum miris mengingat fakta itu. Hatinya mencelos karena mengetahui Alex begitu mencintai Kai bukan dirinya. Terlebih Kai sudah memiliki tambatan hati gadis itu tak urung tetap mencintai Kai. Satu dibenak Luhan, dia berharap karma dapat membalas semua ini. Luhan sudah berusaha semampunya setelahnya dia akan duduk manis dan menunggu karma itu datang. Suatu saat karma akan berlaku.

TBC~

79 responses to “[Freelance] Love Drunk (PART 7)

  1. astaga mereka melakukan ‘itu’? luhan sadar kan? ga mabok kan? astaga, tp aku seneng, krn aku dukung luhan bkn kai. kkk
    ayo dong alex buka hati.nya buat luhan, kasian luhan

  2. Yaaa..
    Alex …
    Knpa gtu…
    Huhuhu..
    Shrusnya kmu bsa mmprthankannyaa…
    Daebak thoorr…
    Lanjuut

  3. omonaaaa luhan sama alex sudah melakukan ritual itu ahahaha… luhan selalu jadi yg pertama ya buat alex.. tapi aneh alex mau aja lagi ya. ahhh wajar lah mau digituin luhan ge kan ganteng.. aku juga relaaa jadi alex huaaaaa *digebukinMasa* tapi aneh aja dah kok dia malah cinta sama kai? oh smoga abis ini alex hamil anak luhan! ^^

  4. Hikss.. Hiks… Pa lagu skrang..??
    Alexxx kNapa kau Kayak gni..??
    Masih da Luhan yg mncintaiMu..
    Aduh.. Aduh.. Ni buLan puasa…
    Saia gak tahu cHap ni Ada ‘adegan’y.. Jdi lUhan yg Prtama buat Alex…
    Yee,, Gak salah Saia dukuNg Luhan.. Hehehe
    author-nim Jjang CaYo!! :*

  5. Kyaaa author sekarang kenapa aku jadi berubah pikiran yaa?.-. Kenapa alex gak sama baby luhan aja huhuhu abisnya kalo sama kai disakitin teruss. Next thor^^

  6. smoga aja alex bisa nglupain kai. smioa aja luhan bisa bikin lexa jatuh cinta sama luhan 🙂
    next chap
    hwaiting 🙂

  7. iya alexandra wu mending sama luhan oppa yg super cute itu daripada sama kai
    daebaak unnie thor , unnie udah sukses buat aku sebel sama kai ! semogaa nanti bahagia jadi milik alex yaa
    sedih tiap ngeliat alex
    semangaat ya unnie writing nya
    over all keren pokoknya !

  8. Idih jd kesel da sm kai
    Itu alex kok pasraah aja diajak tidur sm luhan ? Aneh deh
    Jd kesannya ngga ada rotan akar pun jd , yah apalah itu peribahasnya

  9. pengaruh alkohol nih makax alex merespon sentuhan dr luhan, tp emang bener klo dr cerita yg aku th klo udah sakaw kdg suka ngelakuin sesuatu yg ekstrim spt yg dilakuin alex

  10. Kaiii-,-nappeun nappeun-,-
    Lexa sama luhan nganu/? :v tp mereka berdua sama2 sadar…hah..hanya untuk mengalihkan susana hati aja :v

  11. OOWWW!!!
    Pada akhirnya.. udalah lexhan jadian aja. kasian cinta bertepuk sebelah tangan.

    chabal yaa lulu oppa.. bhaqq. :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s