[Freelance] THE EAGLE EYES ( Second Version )

the eagle

THE EAGLE EYES ( Second Version )

AUTHOR : AKIKO

GRUP CAST : BIG BANG

CAST : HELEN AS MAIN CHARACTER

TAEYANG BIG BANG

Length : ONeSHOOT

Anneyong J ^^

“Kali ini author sengaja membuat versi kedua dari The Eagle Eyes dalam Hellen PoV,  semoga di versi kedua ini dapat memenuhi rasa penasaran kalian akan karakter Hellen yang misterius di The Eagle Eyes First version yang sebelumnya sudah author keluarkan terlebih dahulu dan di post di sini J. I hope it will be better than before. Happy Reading ^^”

 

 

Kesempurnaan apakah manusia pantas memilikinya? Apakah tak terlalu angkuhkah jika “ sempurna “ adalah milik manusia, dan mungkin saja dunia ini bukanlah alam fana lagi jika kesempurnaan berada di tangan manusia. Mungkin kata “ nyaris” yang paling pantas melengkapi kehausan manusia akan kerja keras yang selama ini dilakukannya.

Hellen PoV

Sore hari itu kuhabiskan dengan duduk diam termenung di depan jendela menatap setiap reruntuhan butir-butir hujan yang jatuh setetes demi setetes, seketika lamunanku kembali menerawang ke dalam seluruh kejadian yang pernah terjadi di dalam kehidupanku.

5 years ago….
Flash Back..

“ appa, pelajaran ini sulit sekali, aku hampir tak mengerti bagaimana memahaminya” . Itulah pertanyaan yang kerap kali kukeluhkan pada ayahku ketika berbagai pelajaran membuat kepalaku pusing.

“ tak ada pelajaran yang sulit ketika kau mau mempelajarinya” jawab appa enteng sambil membaca koran sambil meminum secangkir teh yang berada di hadapannya.

“ tapi appa…, “

“ kau mengatakan sulit ketika segalanya kau pikir dengan logika manusiamu,Ketahuilah jika ada kekuatan yang melebihi apapun di dunia ini”

“ apa itu, ?” tanyaku penasaran.

“ Kepercayaan apabila Tuhan akan menolongmu, tidakkah Tuhan memberi hal yang impas ketika seseorang telah bekerja keras?, Tak ada kerja keras yang tak dibayar impas oleh Tuhan dan Tuhan adalah sebaik-baiknya hakim. Kau mengerti itu? Tanamkan itu lekat-lekat di dalam hatimu”

Flashback end…

Perkataan appa beberapa tahun yang lalu tetap terulang-ulang di benak dan pikiranku, tanpa sadar aku telah berjalan terlalu jauh.

Ya berjalan terlalu jauh…

Aku tanpa sadar tumbuh besar menjadi  sosok yang lebih perfeksionis dari sebelumnya ketika melihat appa-ku, seluruh pikiran ini mengatakan jika selama ini aku tak berbuat apapun  yang dapat membuat appa-ku berkata “ aku bangga padamu, nak”.

Sehhingga sekuat tenaga, perlahan tapi pasti aku menjadi terobsesi oleh satu kalimat yang appa tak pernah ucapkan padaku. Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik, menempati posisi yang paling tinggi dalam hal apapun, berusaha menjadi pribadi yang lebih baik daripada appa-ku . Segalanya…Namun kalimat itu belum pernah terucap hingga kini.

Kupikir aku benar-benar meletakkan appa-ku sebagai sainganku sehingga benak ini pernah berkata “ aku harus lebih baik darinya”

Appa-ku memang sosok yang mengagumkan bagiku. Ketika di masa muda, beliau memiliki ketampanan, kepintaran, kekayaan dan ingatan yang sangat bagus dan lagi keberuntungan. Hingga kini ia telah memiliki aku di kehidupannya justru pesonanya semakin nyata, bukan pesona fisik yang kubicarakan karena apaa tentu saja semakin tua dan rambut putih telah tumbuh di sela-sela rambut hitamnya yang selalu tertata rapi.

Aku sering menangis seorang diri ketika rambut putih itu selalu bertambah sedangkan aku belum melakukan apa yang hebat menurutnya.

Semakin lama, appa menjadi semakin cerdas, semakin berkharisma dan yang tak pernah kulupakan selama ini adalah tak ada satu pertanyaan pun yang tak bisa beliau jawab untukku, beliau akan berusaha mencarikan jawaban yang terbaik untukku. Hingga kini….

Hal tersebut tetap berlangsung, dan aku semakin takut jika aku kehabisan waktu untuk membahagiakannya.

“ Hellen..” terdengar apaa memanggilku. Seketika aku mendekat ke arahnya.

“ bersiaplah, kita akan pergi ke acara peresmian sekolah yang baru hari ini” tambahnya.

“ ne, appa..”  jawabku singkat lalu bergegas menuju kamar untuk mengganti pakaianku.

“ Hellen?” tiba-tiba Omma masuk ke dalam kamarku.

“  wae omma? “ jawabku di tengah-tengah aku berpakaian.

“ jangan terlalu keras pada dirimu..” kata omma ku lembut seraya mengancingkan bajuku dari belakang. Kutatap omma-ku cukup lama lalu aku tersenyum melihatnya, Ia tetap cantik seperti biasanya.

“ aniya omma, aku sudah terbiasa dengan ini. Omma, baju yang sekarang kau pakai ini…aku sangat menyukainya J”

“ benarkah??”

“ ne J J”

“ ayo kita berangkat sekarang..”

Siang itu, kami berangkat ke acara pembukaan sekolah yang baru saja didirikan oleh perusahaan appa. Tentu saja sekolah tersebut lebih bagus daripada yang kukira dan batinku berkata jika sepertinya aku akan berhenti homeschooling dan memulai pendidikanku di sekolah ini. Entah mengapa ini merupakan salah satu kesempatanku untuk membuktikannya.

Banyak mata yang memandang ke arahku, memberi hormat padaku tentu saja karena posisi appa namun aku kurang menyukai ketika semua orang beranggapan jika aku adalah seorang nona besar. Aku tak suka diperlalukan berbeda.

Tentu saja sebagian orang tak mengenali bagiamana sosok asliku, karena pada saat itu aku memakai setelan baju yang menunjukkan aku sedikit lebih dewasa karena ini adalah acara formal namun aku sengaja memakai kacamata hitam dan topi yang cukup fashionable. Aku sendiri kurang menyukai seseorang yang hanya melihatku karena aku putri dari seorang direktur sehingga aku lebih sering menutup diriku.

Beberapa bulan kemudian aku telah resmi menjadi salah satu siswi di sekolah yang berisikan kalangan papan atas, dan tentu saja seluruh temanku hanya mengetahui jika ayahku memiliki bisnis yang cukup besar namun aku tak peduli dengan tanggapan mereka tentangku.

Makin lama posisiku berada dalam urutan teratas dalam daftar prestasi, tentu saja hal itu adalah kerja kerasku tanpa melibatkan apapun dari kekuasaan yang dimiliki appa.  Karena appa sama sekali tak mengetahuinya jika aku menyembunyikan identitasku yang sebenarnya. Namun cepat atau lambat aku berniat menceritakan hal ini padanya.

Kini kian kusadari kekayaan serta kekuasaan yang dimiliki oleh setiap murid di sini membuat banyak sekali pelanggaran yang terjadi dan pihak sekolah sama sekali tak mengetahuinya. Aku tak bisa membiarkan hal ini terjadi, tak akan pernah.

Mereka harus merasakan perihnya hukuman dan tanggung jawab atas perbuatan yang telah mereka lakukan sehingga kelak mereka dapat lebih bijaksana dalam menghadapi kehidupan mereka yang diberikan kelebihan materi oleh Tuhan.

“ aku harus melakukan sesuatu” batinku.

Siang itu, tanpa sepengetahuan siapapun aku seorang diri mengunjungi ruang kepala sekolah dan melaporkan segalanya. Kepala sekolah itu sendiri adalah teman baik appa, namun tak seorang pun mengetahuinya. Melihat bukti-bukti yang kusodorkan maka terkejutlah kepala sekolah.

“ bukan hal yang mudah untuk menghukum siswa dari kalangan atas” respon kepala sekolah.

“ karena uangkah?” tanyaku

“ tentu saja, orang tua mereka telah membayar mahal untuk anak-anak mereka”

“ Tapi anda tau sendiri bukan, jika tanpa bantuan uang dari mereka pun sekolah ini akan tetap aman? Toh, semua uang yang mereka sumbangkan untuk sekolah masuk dalam kas tambahan sekolah ini artinya ada atau tidak uang itu maka tidak akan menimbulkan masalah”

“ ne..ne, lalu apa yang akan kau lakukan Hellen?” tanya Kepala Sekolah penasaran.

“ aku akan  memberi pelajaran kepada mereka, yang bersalah tetap harus dihukum.”

“ bagaimana jika mereka mengancam?”

“ biarkan saja, tarik saja uang-nya kalau mereka mengancam dan jika kesalahan anak mereka sudah fatal maka mereka harus keluar dari sekolah ini dan itu  justru akan menjadi bumerang bagi mereka. Karena dengan keluarnya mereka dari sekolah ini justru akan mempurburuk citra mereka sendiri di kalangan media. Tentu saja karena nama mereka dipertaruhkan ” jelasku pada kepala sekolah panjang lebar.

“ oke jika itu mau-mu. Lalu bagaimana caramu menghukum?”

“ tidak, aku hanya mengawasi gerak-gerik mereka. Segala peraturan telah dibuat di sekolah ini. Biarkan pihak penegak displin yang bekerja. Aku akan bekerja sama dengan mereka. Anda tau kan jika ketua penegak displin di sini adalah Yuki, ia adalah siswi perempuan yang paling ditakuti seisi sekolah karena kemampuan karate dan kecerdasannya tentu saja ayahnya yang bekerja sebagai Yakuza membuat hal itu semakin menguntungkan baginya.”

“” ah, Yuki…Bukankah ia adalah teman masa kecilmu?” tanya kepala sekolah kaget.

“ iya Paman, namun aku dan Yuki menyembunyikannya dari semua anak dan kami hanya berkomunikasi ketika telah berada di rumah.”

“ ide yang bagus Hellen. Jika itu yang terbaik, lakukanlah. Aku mempercayaimu.”

“ Terima Kasih paman, Saya tidak akan mengecewakan anda.”

“ Kau melakukannya demi ayahmu, bukan?. Kau tak jauh berbeda dari ayahmu ketika muda dan aku sangat mengenali sifatnya “ tanya kepala sekolah geli.

Aku hanya menjawab dengan senyuman pertanyaan kepala sekolah dan segera berpamitan kepadanya.

Untuk menjalankan segala rencanaku tersebut maka akan sangat mustahil jika penampilanku tetap menggunakan image nona glamour yang sangat melekat pada diriku sekarang.

Aku mengubah segala penampilanku sesederhana mungkin bahkan mendekati jelek haha..^^ agar tak ada yang mengenaliku ketika aku menyamar menjadi seorang pelayan di sekolah berasrama ini.

Satu tahun berlangsung, dan akhirnya aku dan Yuki menemukan banyak sekali perubahan dari perilaku siswa-siswa di sekolah ini namun dampaknya Yuki semakin ditakuti oleh semua siswa karena ia dapat mengetahui seluruh gerak-gerik mereka dan aku hanya tersenyum geli mendengarnya.

“ Yuki…apakah ini akan baik untukmu?” tanyaku pelan padanya.

“ Wae? Bukankah ini terasa menyenangkan Hellen J” jawabnya enteng.

“ Tapi kau akan semakin dijauhi oleh mereka karena mereka pasti menakutimu.”

“ Mereka takut padaku karena mereka memang melakukan kesalahan,  dan kau tau aku sama sekali tak butuh teman yang hanya melihat cover luarku saja.”

“ Aku cukup senang bisa berteman baik denganmu” tambahnya.

Kupahami perkataan Yuki dan memang ada benarnya, aku pun tak menginginkan teman yang hanya melihat sudut luarku saja.

Setelah pembicaraanku dengan Yuki usai, aku kembali melakukan tugasku sebagai pelayang gadungan dan ketika aku melewati salah satu pagar kelas ballet,..

Crash..

“ agh..appo”

Tak sengaja tanganku tergores pagar itu karena aku sangat terburu-buru, namun lukaku meneteskan darah yang cukup banyak. Segera aku membebatnya dengan sapu tanganku lalu berlari ke ruang kesehatan. Tak banyak siswa yang datang ke sini jika pelajaran telah usai. Maka dengan tenang aku mengambil kotak P3K dan segera bersembunyi di kamar asramaku untuk mengobati lukaku.

2 hari berselang namun lukaku masih belum mengering dan aku tak berani mengenakan seragam berlengan pendek. Seharusnya hari ini seragamku berlengan pendek namun aku sengaja memakai seragam dengan lengan panjang.

“ Agh, karena berurusan dengan siswi yang terus saja meminta ini itu padaku aku jadi sedikit terlambat di acara makan siang” batinku kesal.

Aku berjalan cepat menuju ruang makan dan  duduk lalu memakan makananku dalam diam. Beberapa detik kemudian aku merasa jika ada seseorang yang menatapku dalam waktu yang lama. Segera kulihat dia, ternyata seorang namja. Lupakan ia hanya menatapku lalu sedikit tersemyum kecil pada sudut bibirnya. Tak terlalu kuambil pusing karena tingkahnya, yang kutau ia adalah murid baru hari ini.

Setelah jam makan siang usai, pelajaran berlangsung seperti biasa dan lagi-lagi aku tertidur di sela-sela jam tersebut.

“ agh, aku ngantuk sekali..” kataku pelan. Seusainya pelajaran sengaja aku berjalan ke perpustakaan untuk melanjutkan tidurku 😉 karena kutahu disana tempat yang cukup tenang untuk tidur.

Sesampainya di sana, angin sepoi-sepoi berhembus melewati sela-sela rambutku. Pemandangan hijau di sekitar perpustakaan selalu menentramkanku dari segala kepenatan yang seharian ini telah kualami, perlahan rasa kantukku menghilang dan sepertinya aku tertarik untuk membaca beberapa buku baru hari ini.

Ketika 30 menit berselang

“ apakah di sekolah ini memperbolehkan siswinya bekerja paruh waktu sebagai pelayan? “

Tiba-tiba ada suara yang mengatakan itu padaku, dan segera kulihat siapa dia karena jantungku kini berdegup dengan kencang karena ia mengucapkan hal yang selama ini kusembunyikan.

“ apa maksudmu? bicaralah secara rasional, tak ada yang memperbolehkan aturan seperti itu berjalan di sekolah ini, sebaiknya hati –hati dengan ucapanmu.” Jawabku padanya dan ternyata ia adalah anak baru yang ketika jam makan siang menatapku sambil sedikit mengeluarkan senyumannya. Ternyata ini kejutannya, ia benar-benar tahu cara bagaimana membuatku sangat terkejut.

Aku masih tetap menyembunyikan kenyataan yang baru saja ia lontarkan dan berusaha bersikap setenang mungkin.

“  bagaimana jika aku mengetahui kenyataannya, apakah aku boleh mencampuri urusanmu? bagaimana dengan luka di lengan kananmu itu?”

Deg…aku semakin takut dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Ia benar-benar teliti dengan apa yang dilihatnya. Aku harus waspada dengannya.

“ semua orang bisa saja terluka”  jawabku mengelak.

“ oh ya, bagaimana jika letak luka itu terlihat sama persis dengan pelayan yang menyuruhku turun ke meja makan? bukankah kamu terlambat pada saat itu? dan satu lagi, hari ini tidak seharusnya kamu memakai seragam lengan panjang, kan?”

Jantungku kian berdebar, rasa cemasku semakin meningkat karena ia menunjukkan semua bukti yang ada jika aku benar-benar pelayan yang menyuruhnya untuk segera turun ke meja makan. Sial, ia benar-benar memiliki ingatan yang bagus.

“ ma..masalah itu, aku sedang tak enak badan hari ini. Sudahlah, lebih baik pikirkan masalahmu sendiri.”  Aku berusaha semakin  mengelak walau sepertinya tampak seperti penyangkalan yang sia-sia saja, aku ingin segera pergi dari sini dan tidak berurusan dengannya. Namun ketika aku hendak pergi ia mencengkeram lengan tanganku kuat-kuat, sehingga aku tak dapat beranjak sedikitpun.

“ lalu apa ini? aku melihatnya saat kamu tertidur pulas di pojok kelas. Ingin mengelak lagi? jika kamu bersikap seperti ini, bisa saja aku mengatakannya ke seluruh sekolah. Bukan hal yang sulit untukku.”

Tidak..! Tidak ! ini buruk, benar-benar buruk..jangan sampai ia menyebarkan semuanya ke seluruh penjuru sekolah. Aku tak ingin hasil kerja kerasku sia-sia . Kutatap lekat matanya dan kuputuskan untuk menceritakan segalanya. Kurasa ia cukup bisa dipercaya melihat dari caranya berbicara dan caranya menatapku.

Kukatakan segalanya dan anehnya ekpresinya berubah 90 derajat aku benar-benar kaget dibuatnya.

Namja yang aneh dan kuketahui namanya Taeyang.

Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah ia menawarkan untuk menggantikan tugasku selama satu minggu.

“ apa maksudnya ia berkata demikian??” batinku.

“Apakah ia hanya seseorang dengan kebanggaan diri yang tinggi sehingga ia merasa optomis untuk menggantikanku?”

Batinku terus bertanya-tanya seorang diri namun aku juga cukup penasaran dengan bagaimana ia mempertanggung jawabkan ucapannya. Ini cukup menarik untukku.

Namun dibalik semua rasa penasaranku padanya ia tak mengalihkan begitu saja perhatiannya padaku. Ia merawat lukaku dengan benar dan ia sempat berkata padaku..

“ aku tulus melakukannya, jangan anggap aku mengambil keuntungan darimu nona besar..;)”

“ wae? Bukankah apa yang baru saja kau lakukan memang meningkatkan rasa curigaku padamu?” jawabku untuk mengetahui responnya.

“ tentunya bagi nona besar sepertimu tak rumit untuk meminta sesuatu bukan? Namun apakah kau dapat membeli sebuah ketulusan dengan uangmu?” Ia balik bertanya kepadaku.

“ jangan bicarakan hal seserius itu” responku cepat.

“  Mengapa kau mengelak? “

“ entahlah… “

Taeyang hanya terdiam lalu tersenyum penuh arti padaku. Lalu aku menyetujui tantangannya padaku.

“ ok..aku mempercayaimu. Namun jangan salah, aku akan terus mengawasi gerak-gerikmu walaupun aku tak berada di depan matamu. Sampai bertemu seminggu kemudian, bye…!”  Jawabku mengakhiri pembicaraanku dengannya. Namun sejujurnya aku tak dapat mempercayainya 100% jadi kuputuskan untuk mencari tahu siapa dia sebenarnya.

Tapi hatiku menjadi bimbang setelah mendengar perkataannya mengenai “ketulusan”.

“ apakah masih ada hal seperti itu di dunia ini?”

Di tengah kebimbanganku, aku terus mengawasi gerak-gerik serta perilakunya. Beberapa hari aku melihatnya, aku melihat ia seperti jiwa yang bebas. Tersenyum ketika ia ingin tersenyum, marah ketika ia ingin marah namun ia tak pernah membohongi akan apa yang ia rasakan.

Pengawasanku padanya justru menjadi bumerang bagi diriku sendiri, ia benar-benar sosok yang memikat. Entah apa yang kupikirkan, sepertinya aku tak bisa lepas untuk tetap terus melihatnya.

Di hari terakhir pengawasanku, aku mengetahui bahwa aku mulai menyukainya. Menyukai dia secara keseluruhan, apa yang ada padanya telah menjadi satu kesatuan yang utuh yang tak mampu dipisahkan. Sekalipun itu adalah kekurangannya, seolah aku tak peduli dengan semua itu.

Beberapa minggu setelahnya, aku kian dekat dengan Taeyang. Di awal perbincangan kami, kami hanya sering membicarakan masalah-masalah  sepele  namun lama kelamaan Taeyang sepertinya berhasil menemukan sisi lainku, yaitu bagaimana sosok asliku yang sebenarnya.

“ kau benar-benar gadis yang polos jika saja kau tidak berakting seperti biasanya dengan segala image yang melekat di dirimu.” Katanya suatu saat.

“  kau terlalu pandai berbicara, Taeyang..” jawabku sambil tersenyum kecil.

“ aku menyukai sisi polosmu,namun sisi lainmu ketika pertama kali kita bertemu juga tak kalah memikat” jawabnya seketika.

“ lalu??”

“ Aku menyukai keseluruhan darimu, bahkan untuk segalanya yang tak bisa kujelaskan dengan perkataan”

“ kuharap kau tau apa maksud dari ucapanmu tersebut” jawabku sedikit gugup menanggapi ucapannya.

“ Aku yakin dan tau pasti akan apa yang baru saja kuuccapkan. “ Taeyang menjawab balasanku dengan tenang namun terlihat jika sudut bibirnya sedikit tersenyum.

Aku tak mampu menjawab apapun lagi, mungkin keheningan di antara kita saat ini mampu menjelaskan apa yang sebenarnya tertanam dalam hati kita. Biarkan angin yang berhembus, daun-daun yang berguguran menjadi pelengkap akan penjelasan hati kami yang bersemi dalam bisu.

Aku tak mampu berkat begitu pula dengannya, seolah lidah kami kelu untuk mengucapkan sepatah kata saja sehingga tenggelam dalam diam adalah yang terbaik bagi kita untuk saling berkomunikasi saat itu. Ketika matanya bertemu dengan kedua tatapan mataku, sinar mata kami seolah menyampaikan dengan jelas tentang apa yang sebenarnya sedang kami rasakan.

Hari-hari berlalu tanpa terasa, banyak warna yang mengisi kebersamaanku bersamanya, walaupun tak selalu diwarnai dengan canda dan tawa tanpa sadar kami telah saling mengisi kekurangan satu dengan yang lain, berbagi suka duka bersama. Suatu pengalaman yang belum kudapatkan sebelumnya dan aku sangat bersyukur dengan kehadirnya di dalam hidupku.

Hingga suatu ketika….

Beberapa bulan sebelum kelulusaku tiba, Ayah mendadak mengatakan padaku jika aku harus keluar dari sekolah  ini, karena ayah menghendakiku mengurus sebuah cabang perusahaan ayah yang baru saja dibuka di luar kota.

Aku seperti menalan buah simalakama, aku terjepit diantara dua pilihan yang harus kupilih dan aku harus memutuskan untuk meninggalkannya untuk sementara. Ini bukanlah pilihan yang mudah untukku, namun untuk menentang keinginan ayahku itu juga mengartikan jika aku lari dari tanggung jawabku. Aku tak ingin mengecewakan Taeyang atau mengecewakan ayahku.

Terlihat jelas jika Taeyang tampak tak dapat menyembunyikan kesedihan yang ada di hatinya begitu pula denganku. Mental yang telah kusiapkan sebelumnya runtuh dalam sekejap ketika melihat ekpresi sedihnya. Maafkan aku, Taeyang.

“ tak bisakah, diundur hingga kelulusan tiba?” tanyanya padaku dengan nada yang sangat cemas.

“ maafkan aku, aku sama sekali tak bisa melakukan itu. Masalah kelulusanku,  tidak perlu terlalu cemas dengan hal tersebut. Aku bisa melanjutkan sekolahku dimana saja, jadi kumohon kamu jangan terlalu khawatir padaku. Aku akan baik-baik saja.” Jawabku menenangkannya namun sepertinya justru emosiku yang tak tertahankan. Air mataku tanpa sadar jatuh dan aku terisak menahan tangisku sendiri.

Di tengah kebingungannya, Ia memelukku lembut dan berkata..

“ sudahlah, hentikan tangismu itu. Bukankah kamu tak pergi terlalu jauh dari sini, kan? Jika ingin, kelak aku akan mengunjungimu di setiap akhir pekan. Bagaimana?”

Tentu saja aku tak dapat membuatnya repot dengan urusanku, aku mengerti hal ini karena ia juga memiliki tanggung jawab sendiri bagi perusahaan orang tuanya. Aku tak ingin menjadi beban di pundaknya, biarkan aku melindunginya dengan tetap membiarkannya tumbuh menjadi lelaki yang bertanggung jawab akan segala urusannya.

Ini merupakan pembicaraan paling memilukan yang pernah kami lakukan, jujur aku tak ingin melihat ia bersedih namun itu adalah permintaan yang mustahil.

Sebelum keberangkatanku tiba, aku memutuskan untuk pergi berjalan-jalan dengannya di suatu pagi.

Tak ada tangis, tak ada sedih , tak ada kebimbangan..biarkanlah hari ini kita isi dengan tawa serta kebahagiaan karena ini bukanlah keadaan yang akan memisahkan kita.

Justru ini adalah keadaan yang akan membuat kita lebih dewasa, lebih memaknai satu diantara yang lain dan tentu saja bagaimana kita bekerja keras meraih segala mimpi dan harapan untuk masa depan kita. Karena masa depan kita bukanlah semata-mata milik kita, masa depan kita adalah hadiah terindah yang akan kami persembahkan bagi orang tua kita akan jerih payahnya dalam membesarkan kita, memperjuangkan kita dan segalanya yang tak dapat kami hitung.

“Kita memiliki banyak orang yang mencintai kita, Taeyang dan kau menjadi penghuni baru dalam daftar itu ;)” kataku padanya.

“ kau juga telah berada di dalam daftarku” jawabnya lembut.

Aku tersenyum lega melihat wajahnya yang kembali membaik.

“ aku akan kembali lagi padamu Taeyang, genggamlah hatiku erat-erat dan  begitu  pula denganmu.  Aku akan menunggumu “

 

The End

5 responses to “[Freelance] THE EAGLE EYES ( Second Version )

  1. astaga thor!!!
    bgus bgett msa’ , kta”.a kgak nhan hihi XD
    sya ska, sya ska *plok
    dtunggu ff slnjut.a iy thor, Fighting*

  2. hehehe percintaan yang sopan.
    sebenernya pengen tau juga siy nanti appanya si eagle eyes ini mau mengakui kemampuan dia apa enggak
    ada lanjutannya atau ini udah beneran ending?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s