[Freelance] Love Drunk (PART 9)

img1385637120956

Title                       :    Love Drunk (PART 9)

Author                  :    Safira Bella/@fira_bella

Genre                   :    Romance, Angts, Friendship, Etc.

Cast                       :  

–          Alexandra Wu (OC)

–          EXO Members

–          VIXX Members

–          Yoon Sohee

Rated                    :     PG-17+   

Exo milik management, orang tua dan Tuhan YME, kecuali Kris Kai Luhan. Ide seratus persen dari otak author jadi leave comment guys J

 

Sebelumnya maaf ngepostnya lama soalnya author sibuk sama ulangan belum lagi tiba-tiba author jatuh (?) sakit. Semoga kalian puas sama chapter 9 ini, love you all ^^

 

Happy Reading ~~~(^o^)~~~

 

Alex membuka matanya perlahan, matanya mengerjap menyesuaikan bias cahaya yang menyelinap melalui jendela yang telah terbuka lebar. Tunggu terbuka lebar? Siapa gerangan yang telah membuka jendela kamarnya? Gadis itu memalingkan wajahnya ke samping tepatnya pada nakas untuk melihat jam. Pandangannya menatap lurus sebuah nampan yang berisi beberapa jenis makanan. Tangannya menarik sebuah kertas yang tertera tepat disamping gelas susu.

Good morning nae saengie…. ^^

 

Bagaimana tidurmu semalam? Aku harap kau menikmatinya karena kami sengaja memesan tempat tidur terbaik yang pernah ada tentunya untuk kenyamanan adik dan keponakanku hehe….

 

Maaf pagi ini tidak bisa menemanimu sarapan, aku ada urusan mendadak begitu juga Hongbin. Jangan lupa makan sarapanmu dan ingat HARUS HABIS tidak boleh ada yang tersisa. Itu masakan Hongbin dijamin kau suka, rasanya enak sekali….

 

Aku pergi dulu, hati-hati dirumah….

 

Your oppa, Sehun ^^

Alex mengulas senyum manis membaca surat dari Sehun. Hatinya hangat merasakan kasih sayang Sehun padanya. Rasa rindunya pada Kris terobati dengan adanya Sehun didekatnya. Perlahan namun pasti Alex mulai menikmati statusnya sebagai wanita hamil. Menikmati mengandung darah daging seorang Xi Luhan yang hingga saat ini tidak mengetahui kenyataan itu. Alex meletakkan surat itu lalu mulai menyantap hidangan paginya.

-ooo-

Seorang pemuda menatap lurus ke depan memandangi keindahan pantai yang menyejukan. Tangannya menyelinap ke dalam saku jaketnya merasakan udara menusuk kulit putihnya. Hawa musim gugur kali ini menurutnya sangat dingin berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Begitu juga kisah pemuda itu dalam musim gugur tahun ini.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya pemuda itu dingin.

Seorang gadis menatap lekat punggung pemuda didepannya yang terlihat dipenuhi beban. Tak lama sebuah senyum miring ia sunggingkan dibibirnya. Dia melangkah lebih dekat hingga posisinya berada tepat disamping pemuda yang sedang memejamkan matanya. Kepulan asap sering kali keluar saat pemuda itu membuang nafasnya.

“Hanya ingin bertemu….” Pemuda itu menatap sinis gadis itu. Tatapan tak suka jelas terpancar dari mata pemuda itu. Apa katanya tadi ‘hanya ingin bertemu’ menggelikan. Selain licik dia juga suka menggoda orang hanya karena ingin impiannya terwujud. Gadis itu tak jauh berbeda dengan iblis yang berasal dari neraka.

“Katakan apa maumu!” Pemuda itu kembali memandang ke depan. Dia mendengar gadis disampingnya tertawa pelan dan yakin gadis itu memiliki berjuta pemintaan picik yang ia pendam beberapa tahun yang lalu. Disinilah gadis itu menumpahkan segala rencana kotornya.

“Kau memang mengerti aku!” Gadis itu menyenggol pelan lengan pemuda itu dengan tawa yang terkesan hambar menurutnya. Pemuda itu hanya diam tak ingin merespon apapun yang gadis itu lakukan padanya.

“Bantu aku….” Pemuda itu menoleh sedang gadis itu juga menatap dalam bilik hitam pemuda itu.

“Bantu aku menghancurkan Alex….”

“A-apa?”

“Bantu aku merebut apapun yang berharga didalam hidupnya termasuk Luhan!” Gadis itu meraih tangan pemuda itu dan menggenggamnya berharap pemuda jangkung itu mau membantunya. Sedang namja itu justru menatap gadis itu dengan mata membulat hendak keluar dari tempat asalnya.

“Apa yang kau bicarakan…. A-aku tidak bisa….” Pemuda itu menarik tangannya dan hendak berbalik pergi.

“Lee Hongbin! Kau mencintainya kan?” Gadis bernama Sohee itu sontak membuat Hongbin menghentikan langkahnya. Tiba-tiba saja kakinya kaku tak dapat bergerak. Seakan udara musim gugur telah membekukan kedua kakinya. Bukan itu, justru Sohee tengah menyebut kedoknya. Dimana dia begitu mencintai gadis buronannya. Awalnya begitu namun perlahan dia menghilangkan predikat Alex sebagai gadis buronannya menjadi seorang gadis yang mendapat posisi terbaik dihatinya. Hongbin berniat berubah semata-mata karena gadis itu. Gadis yang membuatnya sadar bahwa hidup tidak harus digunakan untuk saling melempar sumpah serapah, saling menghunus pedang dan melesatkan meriam ke musuh melainkan menikmati hidup yang singkat ini.

“Kau harus ingat Tuan Lee kita adalah partner dengan misi yang sama yaitu menghancurkan kakak beradik bermarga Wu itu, aku tidak peduli masalah hatimu aku hanya ingin gadis itu menderita seperti apa yang aku rasakan!” Hongbin meremas kuat kedua tangannya menahan amarah dalam dirinya. Perkataan Sohee semua benar dimana dirinya menyetujui untuk menghancurkan kakak beradik itu namun sekarang justru dia ingin melindungi kakak beradik itu terlebih adiknya.

“Bantu aku merebut Luhan oppa dari tangan Alex!”

“Kau paksa Alex untuk menjauh dari hidup Luhan oppa dan Kai, aku tidak peduli bagaimana pun caranya!” Tambah Sohee.

Hongbin merapatkan rahangnya, giginya bergemerutuk menahan luapan emosinya. Tidak! Dia tidak bisa melakukan itu semua. Memisahkan dua namja itu dari hidup Alex sama saja dengan membunuhnya. Sudah cukup baginya membawa pergi Alex dari mansion tidak menutupi rasa bersalahnya terhadap Kris yang sudah jelas begitu kehilangan adiknya. Sekarang dia harus memisahkan Alex dengan Luhan, ayah dari bayi yang dikandung gadis itu. Hongbin merasa menjadi manusia paling jahat didunia ini jika melakukan itu. Selain Alex yang tersiksa, bayi itu pun akan merasa kesepian nantinya. Sedang Kai, lelaki yang teramat dicintai Alex tegakah Hongbin melakukan itu kepada Alex setelah mengetahui kenyataan pahit gadis itu.

“Kau mau kan Lee Hongbin?”

“Tidak! Aku tidak bisa!” Hongbin membalik tubuhnya menatap penuh amarah Sohee yang tersenyum iblis melihat kelemahan pemuda itu.

“Kenapa? Apa karena gadis brengsek itu!” Sohee menahan nafasnya saat Hongbin meraih kerahnya. Bahkan ia dapat merasakan kedua kakinya sudah tidak berpijak lagi dibumi.

“H-Hongbin l-lepaskan a-aku….” Sohee terbatuk-batuk karena cengkraman Hongbin dikerahnya sangat kuat hingga ia tak dapat merasakan pasokan oksigen diparu-parunya. Bagi Hongbin mudah saja, tubuh Sohee hanya sebatas rahangnya kalau dia mau dia bisa saja melempar gadis itu ke jurang dibawah sana.

“JAGA BICARAMU YOON SOHEE KAU TIDAK TAHU SIAPA YANG KAU BICARAKAN TADI!”

“P-putri jalang itu….”

“BAJINGAN KAU!” Hongbin melempar Sohee ke tanah kasar dia tidak peduli tubuh gadis itu akan luka nantinya. Sohee meringis merasakan tubuhnya mendarat tak elit ditanah. Dia mendongak memandang sengit Hongbin yang justru memancarkan aura lebih horror untuknya.

“APA YANG KAU LAKUKAN!”

“Seharusnya kau tanyakan dirimu sendiri! Kau bahkan masih mengingat kejadian masa lalumu, lalu menyangkut pautkan Alex ke dalamnya, bukankah kau iblis?”

“Lalu kalau aku iblis kau apa eoh?”

“Aku…. Lelaki yang pernah disebut manusia berotak iblis dan akan terus begitu. Siapa pun yang menghancurkan barang kesayanganku akan ku pasti DIA hilang dari peradapan!” Hongbin memberi penekan pada kata ‘dia’ dengan mata yang menyorot tepat pada Sohee seakan menyindirnya. Sohee memandang sengit punggung Hongbin yang semakin menjauh dan menghilang diujung jalan sana. Dia berteriak kesal dan berharap kekesalannya itu hilang ditelan deburan ombak dibawah sana.

-ooo-

Kai membuka pintu kamar Alex perlahan. Kakinya berjalan lunglai mencari sosok yang belakangan ini memenuhi otaknya. Dia begitu merindukan sosok rupawan gadis itu. Kai menyapukan tangannya pada ranjang yang masih sangat rapi. Kai bahkan dapat mencium wangi honey lemon disekitarnya walaupun samar. Kai merasa Alex masih berada disekitarnya tertawa, tersenyum bahkan memeluknya. Bisakah ia bertemu dengan gadis itu? Memeluknya serta menciumnya seperti dulu. Kai sadar sikapnya dulu telah menyakiti gadis itu dimana dia berpura-pura tak mengetahui perasaan suka gadis itu padanya. Dia menyadari itu hanya saja masih terbayang jelas wajah Sohee dibenaknya. Sejujurnya Kai sudah begitu terpana dengan Alex sejak pertama kali bertemu. Menurutnya Alex adalah sosok gadis eye catching begitu menarik dimata Kai bahkan semua orang yang melihatnya.

Kai memandang sayu foto Alex yang tergantung manis didinding berwarna coklat soft itu. Alex yang sedang tersenyum lebar menampakkan lengkungan manis dimatanya, dengan gaya yang terkesan cuek pun Alex tetap mempesona dimata Kai. Terlebih saat gadis itu memotong dan mewarnai rambutnya kecantikannya semakin menguar. Kai menyentuh dadanya, tiba-tiba saja rasa sakit itu kembali muncul. Dia begitu mengingat bagaimana sakitnya Alex waktu itu dan bodohnya ia hanya bisa diam dan menyaksikan tanpa bertindak. Dia telah menyakiti gadis itu dan hebatnya gadis itu tetap tersenyum padanya, inikah yang dinamakan cinta itu buta sehingga Alex tak pernah memandang Kai dari sisi gelapnya.

Kai berjalan menuju balkon untuk menetralkan nafasnya. Berlama-lama dikamar Alex justru membuat Kai ingin mencari gadis itu. Dia kesepian sekarang. Dimana Sohee? Belakangan ini, gadis itu justru sering menghilang dan Kai sangat kesepian terlebih situasi mansion yang tak memungkinkan, sering kali sepi tak berpenghuni. Member lain sibuk dengan aktivitasnya masing-masing sehingga tidak begitu peduli dengan urusan yang lain. Kalau dimansion masih ada Alex mungkin Kai tidak perlu sejengah ini. Gadis itu menghilang dan pergi karena tengah menyembunyikan sesuatu yang Kai yakin tak ingin seorang pun mengetahuinya.

Kai menarik nafasnya melihat Sehun yang baru saja melajukan mobilnya keluar mansion. Baik Sehun, pemuda itu juga tidak jauh berbeda dengan member yang lain. Dia sering berkeliaran dan akan pulang keesokan harinya. Sehun tidak pernah bertingkah seperti itu sebelum Alex memilih keluar dari mansion. Apakah Sehun pergi menemui Alex? Kai berpikiran Sehun seperti menyembunyikan keberadaan gadis itu dan bertingkah seolah Alex adalah barang langka yang tak sembarang orang boleh melihatnya. Tapi apakah Kai tidak boleh melihatnya? Kris bahkan tak mengetahui dimana adiknya itu tinggal, yang jelas Alex tinggal disebuah apartemen yang kawasannya dirahasiakan oleh Sehun. Bukankah itu aneh namanya? Bahkan Sehun tak mengijinkan Kris selaku kakak dari Alex untuk menemui adiknya. Dugaan Kai, Sehun tengah menyembunyikan sesuatu.

-ooo-

Sehun mengangkat barang belanjaan disebelah tangannya, tangan yang satunya ia gunakan untuk menggandeng Alex. Mereka sedang berada dipusat perbelanjaan untuk membeli beberapa barang kebutuhan bulanan. Hanya sedikit, mengingat tidak banyak orang yang tinggal diapartemen itu. Hongbin dan Sehun menginap disitu namun soal makanan mereka membawa sendiri. Mereka tahu bagaimana sulitnya Alex untuk mengendalikan makannya dihamil mudanya ini. Merengek dan tentu saja harus dikabulkan. Hongbin dan Sehun jujur saja kewalahan dan secara tidak langsung mereka merasa ayah dari bayi itu. Ya, setidaknya Alex sudah tidak mual dipagi harinya dikarenakan usia kandungannya baru saja memasuki bulan ke-3 dan Alex berencana untuk memeriksa hari ini bersama Sehun dan Hongbin. Berbicara soal Hongbin dimana namja itu? Dia akan menyusul setelah urusannya selesai.

“Oppa, Bin oppa dimana?” Alex bergelayut dilengan Sehun layaknya balita yang ingin meminta permen kapas. Mulai sekarang Hongbin harus rela dipanggil Alex dengan sebutan Bin karena Alex berdalih itu adalah permintaa little deer. Mau tidak mau Hongbin mengiyakan karena tak ingin gadis itu merengut sepanjang hari. Toh, Alex memanggilnya ‘oppa’ jadi tidak masalah.

“Dia akan menyusul, bersabarlah Lex?” Sehun mengusap puncak kepala Alex.

“Lama sekali oppa, aku lelah menunggu.” Ucapnya dengan bibir mengerucut. Ya, Hongbin berjanji akan menjemputnya dikarenakan Sehun tidak membawa mobil.

“Kakimu pegal lagi? Kalau begitu ayo naik….” Sehun hendak berjongkok namun Alex menahannya.

“Tidak oppa, aku hanya haus….” Alex menunjuk kios bubble tea dengan dagunya. Sehun mengikuti arah pandang Alex lalu tersenyum.

“Kau ingin bubble tea? Kalau begitu tunggu dibangku itu, oppa akan segera kembali….” Alex mengangguk antusias dan Sehun segera mengantri bubble tea.

Alex hendak duduk namun ekor matanya menangkap pemandangan menarik. Dia melirik Sehun yang masih mengantri dan kebetulan antriannya cukup panjang. Alex hendak duduk tapi nalurinya berkata untuk masuk ke toko itu dan akhirnya Alex memilih nalurinya. Alex mendorong pintu kaca itu dan memandang takjup isi toko itu. Toko yang dipenuhi perlengkapan bayi yang lucu. Membayangkannya saja Alex hendak tersenyum karena begitu antusias. Dia melangkah mendekati tumpukan pakaian bayi yang berwarna soft pink. Ditambah sepatu, kaus kaki, sarung tangan dan bando mungil itu, sangat menggemaskan. Alex beralih ke pakaian bayi berwarna blue soft yang terlihat lucu. Ini khusus untuk bayi namja. Alex sontak memegang perutnya dan matanya memandang sayu pakaian bayi itu.

Sehun menghampiri sebuah bangku yang diduduki oleh Alex. Kosong. Sehun mengitari pandangannya ke seluruh bangku dan ia tak kunjung menemukan gadis berambut hitam itu. Sehun berlarian kesana kemari mencari gadis itu. Dia merutuki dirinya yang begitu lalai meninggalkan gadis itu, seharusnya ia mengajak Alex untuk mengantri bersamanya tapi Sehun juga tidak ingin membuat gadis itu kelelahan karena belakangan ini Alex sering merasa pegal dengan kakinya. Sehun berhenti melangkah begitu matanya menangkap sosok Alex yang terpaku didepan tumpukan baju bayi. Sehun langsung melangkah masuk  dia ingin memastikan sendiri bahwa ‘adiknya’ itu baik-baik saja.

“Alex kau—“

“Oppa….” Alex sontak memeluk Sehun. Namja itu merasakan tubuh gadis itu bergetar hebat dipelukannya.

“Gwaenchana, ayo kita pulang….” Sehun berbalik dan menemukan sosok Hongbin dibelakangnya. Hongbin mengerti lalu mengambil alih belanjaan dan bubble tea.

Mereka berjalan menuju basement dengan Alex masih pada posisi yang sama. Sehun mengerti perasaan gadis itu dimana dia begitu membutuhkan sosok Luhan disampingnya begitu pun Hongbin. Dia berniat menghilangkan segala penatnya saat bertemu Alex setelah pertemuan tak diinginkan tadi, namun justru Hongbin harus melihat pemandangan yang menyayat hatinya, dimana mata gadis itu kembali terburai oleh air mata.

-ooo-

“Kandungan Anda berusia 3 bulan dan kondisi bayi Anda dalam keadaan sehat Nona Wu.” Dokter itu meletakkan stetoskopnya lalu memandang kedua namja didepannya bingung.

“Maaf…. Kalian berdua suaminya?” Sehun dan Hongbin saling bertatapan lalu menggeleng.

“Kami berdua kakaknya dok?” Jawab Sehun cepat. Hongbin justru tersenyum menyembunyikan kegugupan didalam dirinya. Sebenarnya dia tidak begitu menyukai saat Sehun mengatakan ia adalah kakak Alex. Tapi hanya dengan cara inilah Hongbin dapat menyalurkan rasa cintanya pada gadis itu.

“Lalu bagaimana dengan suaminya?” Sehun melirik Alex yang masih terduduk dikatil dengan kepala menunduk. Ingin sekali Sehun menyumpal mulut dokter ini karena kelancangan dalam berbicara. Tak tahukah gadis itu sedang merasa sedih.

“Suaminya bekerja diluar negeri dok?” Sehun kembali menjawab. Alex mengangkat kepalanya mendengar jawaban Sehun. Mata gadis itu hendak mengeluarkan cairan bening itu lagi. Dari sini Sehun ingin sekali membawa gadis itu pulang dan menenangkannya. Gadis itu masuk dalam vase sensitivnya jadi jangan heran kalau Alex sangat manja dan mudah menangis.

“Lain kali Nona Wu harus check up bersama suaminya agar suaminya dapat mengetahui keadaan istrinya….” Sehun dan Hongbin hanya mengangguk kaku merasa tidak enak dengan Alex yang terus saja mengungkit masalah suami yang secara tidak langsung mengungkit ayah dari bayi itu.

“Kalau begitu kami permisi dok.” Dokter itu tersenyum dan mengangguk. Sehun menggandeng Alex yang masih menundukan kepalanya. Alex akan selalu seperti ini usai memeriksa kandungannya. Dia mengingat sosok Luhan yang belum mengetahui kehamilannya sekarang.

-ooo-

“Ini dia bubble tea rasa blue berry!” Sehun menyodorkan cup bubble tea dari jok depan. Alex sedang duduk dikursi penumpang dibelakang dengan muka yang masih kusut, Sehun berusaha menghibur tapi tidak dengan Hongbin yang justru mengamati lamat gadis yang dicintainya itu. Selain fokus menyetir Hongbin bukan tipe namja yang pintar menghibur jadi dia memilih diam.

Alex mendorong tangan Sehun yang masih kukuh membujuknya.

“Hey ini enak Lex, coba lihat bobanya banyak sekali….” Sehun menunjuk boba atau biasa disebut black pearl dicup milik Alex. Sehun sengaja memesan boba lebih banyak untuk Alex karena gadis itu menyukainya.

“Aku tidak mau!” Alex kembali mendorong cup itu. Sehun terdiam dengan pandangan memandang lurus Alex yang sedang mengamati jalanan diluar sana. Hongbin menatap nanar Alex melalui spion yang matanya kembali membendung air mata. Ini merupakan pemandangan sehari-hari Sehun dan Hongbin saat bersama Alex. Cukup sulit mengendalikan mood Alex sehingga memaksa mereka untuk berhati-hati dalam berbicara, jangan sampai menyinggung perasaan gadis itu.

“Alex, lihat oppa juga minum ayo minum!” Hongbin menyeruput bubble tea rasa coklatnya untuk membujuk Alex yang tingkahnya layaknya balita yang sedang sakit. Alex tak menoleh sedikit pun membuat Hongbin membuang nafasnya kasar.

“Alex….”

“Ne oppa aku minum.” Alex meraih cup bubble teanya lalu menyedotnya perlahan. Sekarang Alex mulai bisa mengendalikan dirinya, posisi duduknya pun sudah baik dengan wajah yang kembali seperti biasa.

“Jangan marah lagi Nona Wu, kau jelek.” Hongbin memberitahu dan Alex mengangguk.

-ooo-

Mobil audi berwarna putih berhenti dibasement apartemen dikawasan Gangnam. Dua orang namja keluar dari pintu dan salah satunya membukakan pintu untuk seorang gadis dikursi penumpang.

“Ayo Lex kita turun.” Sehun mengulurkan tangannya pada Alex yang sedang duduk malas dijok mobil.

“Oppa….”

“Ada apa? Kau lelah eum?” Sehun menyibak poni Alex terlihat wajah gadis itu lelah. Sehun mencemaskan keadaan ‘adiknya’ itu. Sebenarnya dokter itu berbohong mengatakan bahwa kondisi kandungan Alex sehat, ya memang sehat tapi rentan. Karena dari awal kehamilannya Alex sudah sering terguncang jiwanya hingga berpengaruhlah dengan kondisi si jabang bayi. Kalau Alex terus menerus kelelahan kemungkinan bayi Alex akan premature Sehun tidak ingin hal itu terjadi.

“Ayo ku gendong Lex.” Sehun hendak menggendong Alex tapi Hongbin menahannya.

“Biar aku saja, kau pasti lelah seharian menemaninya.” Sehun mengangguk lalu membiarkan Hongbin menggendong Alex.

“Pegangan yang erat Lex!” Alex mengangguk dipundak Hongbin lalu mereka bertiga berjalan menuju apartemen mereka yang terletak dilantai 20.

-ooo-

Luhan menatap kosong jus apel yang sedari tadi hanya ia pandangi. Dia tidak berniat untuk menghabiskan minuman itu. Teringat bahwa minuman ini juga merupakan minuman kesukaan gadis itu. Alex akan selalu meminumnya disela-sela waktunya kapan pun itu. Luhan pun sering membelinya hanya untuk Alex dan mereka akan menikmatinya bersama diatap kampus. Sekarang justru itu tak berlaku, Alex lebih sering menghabiskan waktunya dikantin bersama Sehun dan Hongbin. Luhan ingin melarangnya namun seakan diberi tameng justru Luhan enggan bergerak. Dia bisa melihat betapa bahagianya Alex bersama Sehun dan Hongbin. Luhan dapat melihat senyum lebar dibibir gadis itu saat Alex bersama mereka. Setelah sekian lama akhirnya gadis itu mau tersenyum walaupun bukan untuknya tapi setidaknya Luhan dapat melihatnya.

Luhan mengangkat kepalanya yang sedari tadi hanya menyandar malas pada meja dikamarnya. Dia melirik ponselnya yang tak menampakkan tanda-tanda kehidupan disana alias tak seorang pun yang menghubunginya atau mengiriminya pesan singkat. Sesungguhnya Luhan berharap Sehun menelfonnya memberitahukan keadaan gadis itu. Bukankah Sehun tahu bahwa Luhan juga menyukai Alex? Apakah Sehun hendak menjauhkan dirinya dengan Alex? Gadis yang melekat kuat didalam palung hati seorang Xi Luhan. Dia meraih ponselnya menekan beberapa digit angka yang sangat ia hafal.

Panggilan tersambung, Luhan mengulum bibirnya menunggu panggilan itu terjawab. Tak berapa lama kemudian panggilan tersambung, Luhan membuang nafasnya lega.

Yeoboseyo?

Luhan mengernyit mendengar suara namja yang sangat ia kenali.

“Sehun-ah itukah kau?” Luhan dapat mendengar desahan nafas Sehun diseberang sana.

Dia baru saja istirahat hyung….” Sehun menjawab, pemuda itu sudah dapat menangkap apa tujuan Luhan menghubungi Alex.

“Secepat itukah?” Luhan tersenyum getir karena untuk kesekian kalinya tak dapat mendengar suara gadis itu.

Sehun mengangguk. ”Iya hyung.

Hening, mereka berdua bagai kehabisan rangkaian kata-kata. Luhan kecewa karena gagal mendengar suara gadisnya sedangkan Sehun merasa bersalah karena memisahkan Alex dengan Luhan hanya karena alasan yang dibuat gadis itu. Sejujurnya ini bukan mau Sehun, dia hanya tidak ingin Alex terluka.

“Kalau begitu salam untuknya, katakan aku merindukannya!”

Iya hyung, itu pasti.

“Aku tutup”

Luhan membuang nafasnya berat lalu menghempaskan tubuhnya diranjang untuk memasuki dunia mimpinya berharap gadis itu masuk ke dalam mimpinya.

Sehun memandangi Alex yang baru saja terlelap, gadis itu kelelahan karena berjam-jam berjalan-jalan mengelilingi mall. Tangannya terangkat mengusap lembut puncak kepala Alex. Dia tersenyum melihat wajah damai gadis bermata coklat almond itu.

Maafkan aku Lex

-ooo-

Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi menandakan jam istirahat. Semua mahasiswa di Universitas Hanyang sontak berjalan tergesa-gesa menuju kantin termasuk Alex. Gadis itu sedang sibuk memasukkan peralatan tulis serta bukunya ke dalam tasnya.

PUK

“Astaga! Ada apa Tao-ya?” Alex mengelus dadanya karena tiba-tiba saja Tao menepuk pundaknya sedikit keras.

“Kau ini kenapa Lex, dari tadi aku memanggilmu kau tidak dengar?” Alex menggeleng lalu melepas headset yang tersemat ditelinganya.

“Pantas saja tidak dengar!? Lex ayo ke kantin bersama aku lapar….” Tao mengusap perutnya dari balik t-shirt yang ia kenakan. Alex menyampirkan tas selempangnya dipundaknya lalu menatap Tao.

“Maaf Tao aku—“

“Lex ayo ke kantin….” Sehun merangkul Alex hendak membawanya ke kantin.

“Eoh Tao hyung….” Sehun menepuk pundak Tao. Namja itu hanya tersenyum tipis moodnya mendadak tidak enak melihat sosok yang tadi datang bersama Sehun.

“Sehun…. Kau….”

“Aku duluan hyung, ayo Lex…. Bin….” Sehun merangkul Hongbin dan Hongbin menggandeng Alex disampingnya.

-ooo-

Suasana kantin cukup sepi dikarenakan sebagian dari mereka memilih makan dicafe depan universitas untuk membeli minuman hangat yang lebih bervarian. Nampak kumpulan 10 namja duduk manis disebuah bangku yang berada ditengah kantin, itu merupakan tempat mereka saat makan dikantin tak seorang pun boleh duduk disitu tanpa seizin sang petuah.

Mereka mengobrol ringan terkadang tertawa mendengar lelucon salah satu dari mereka. Namun tidak bagi tiga orang ini –Kris Luhan Kai- Kris memang terbiasa makan dalam diam namun sikap diamnya kali ini berkesan dingin dan tak peduli. Luhan adalah salah satu namja yang akan tertawa lebar saat Chen menirukan suara bebek namun justru ia hanya diam dan memandangi makanannya tak nafsu. Sedangkan Kai dia menoleh ke bangku disebelahnya dimana bangku Sohee kosong. Gadis itu sedang ada urusan di Mokpo dalam beberapa waktu ke depan kemungkinan Kai kesepian sangat besar. Perubahan sikap ketiga namja itu tak lain karena Alex. Mereka begitu merasa kehilangan sosok gadis cantik itu. Kris merindukan adiknya sedang Luhan dan Kai merindukan gadis yang mereka cintai. Ya, Kai mulai menyadari bahwa perasaannya terhadap Alex sangat kuat. Perasaan pada Sohee hanya sebatas menganggumi tidak seperti dulu yang mencintainya. Kai tersenyum hambar mengingat betapa lambannya dia menyadari perasaannya.

Mereka mengangkat kepalanya melihat Alex yang duduk didepan mereka dengan tawa merekah. Alex tidak sendiri melainkan bersama Sehun dan Hongbin. Tak lama Tao datang dan duduk dibangku disebelah Kai.

“Hey i-itu Alex?” Baekhyun memandang aneh Alex yang duduk bersama Hongbin terlebih Kris ada disini. Apakah gadis itu mulai berani terang-terangan.

“Ya itu Alex hyung….” Tao mengigit sandwich-nya gusar sesungguhnya dia merasa jengkel dengan kehadiran Hongbin disekitar Alex. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

“Hyung kau—“ Chen melihat Kris yang justru sibuk menikmati kopinya sesekali memainkan ponsel hitamnya.

Kris hanya diam mendengar kehebohan anggotanya melihat kedekatan Alex dengan Hongbin. Kris memang terlihat cuek namun dihatinya dia menyayangkan bagaimana adiknya bisa begitu dekat dengan musuhnya. Kris melirik Alex yang sedang tertawa bersama Hongbin dan Sehun, disini Kris menyadari satu hal bahwa adiknya telah menemukan kebahagiaan lain didalam hidupnya. Kris berjanji akan berusaha membuat tawa adiknya itu tak akan pernah hilang bagaimanapun caranya, jadi Kris memilih membiarkan adiknya bersama Hongbin, mungkin ini yang terbaik.

“Sudah selesai makannya Lex?” Hongbin mengelap mulutnya dengan selembar tisu.

“Sudah oppa” Alex menyampirkan tasnya.

“Kajja!” Sehun menggaet tangan Alex.

Alex tersenyum begitu juga Sehun. Mereka bertiga berjalan berdampingan keluar kantin menuju kelas. Sebenarnya hanya Hongbin dan Sehun karena mereka memiliki kelas yang sama. Alex hendak membaca buku diperpustakaan. Saat melintasi meja Kris dan yang lain, mata Alex bertemu dengan mata Luhan yang sedari tadi terus memandangnya. Alex ingin tersenyum dan menyapa tapi entah kenapa mulutnya terkunci rapat. Alex juga ingin menghampiri Kai dan menyapanya tapi sekali lagi tubuhnya tak dapat berfungsi dengan baik, ditambah cengkraman tangan Sehun ditangannya membuatnya enggan. Dia mengerti isyarat tubuh Sehun yang mengatakan agar menjaga jarak dengan kedua namja itu agar mereka paham letak kesalahannya. Alex mau tidak mau menyanggupi karena memang tak dapat dipungkiri dia ingin kedua namja itu mengetahui letak hatinya yang sekarang.

-ooo-

Alex mendudukan dirinya dibawah pohon maple besar dibelakang kampus dengan tangan yang memegang sebuah buku. Kedua namja itu memiliki kelas hingga pukul 14.00, Alex yang memang pulang bersama mereka memilih menunggu disini sambil membaca buku. Padahal sebelumnya Sehun menawarkan agar Alex istirahat siang diuks namun Alex menolaknya. Semilir angin menghempaskan rambut hitam gadis itu. Indera penciumannya dapat merasakan bau dedaunan yang khas, begitu menenangkan. Matanya terus terfokus pada bukunya tanpa menyadari sepasang mata tengah memandangnya.

“Hey….”

“L-Luhan oppa….” Alex sontak berdiri melihat Luhan tengah berdiri didepannya.

“Hey kau mau kemana? Ayo duduk, temani aku menghabiskan ini….” Luhan mengangkat kotak bekal berwarna biru ditangannya lalu menuntun Alex untuk duduk kembali.

“Kau suka tteobokki?” Alex hanya mengangguk kaku.

Luhan tersenyum lalu menyodorkan garpu yang sudah terdapat tteobokki disana. Alex mengangkat tangannya untuk meraih garpu itu walaupun dengan tangan yang bergetar. Sesungguhnya Alex tidak begitu menginginkan bertemu Luhan dalam situasi seperti ini. Dia berharap dia bertemu Luhan setelah bayi itu lahir namun entah takdir atau bagaimana Alex terus bertemu dengan Luhan. Satu lagi tak dapat dipungkiri, Alex begitu merindukan sosok Luhan yang penyayang. Dia begitu merindukan segala yang ada dalam diri Luhan, entah itu sentuhannya atau senyumnya yang semuanya mempunyai unsur ketulusan disana. Apakah Alex benar-benar merindukan Luhan atau apakah ini faktor dari sindrom kehamilannya?

“Aku suapin saja ya Lexa.” Ucapnya sambil mencubit pipi Alex dengan senyum manis yang mampu membuat benteng besar dihati Alex runtuh.

Alex membalasnya dengan senyum kaku. Kepalanya pun menunduk. Alex tidak pernah merasa secanggung ini saat bersama Luhan namun saat mengetahui Luhan berhasil menanam benih didalam rahimnya Alex seakan menjadi gadis tak berbusana dihadapan pria manis itu.

“Enakkan?” Alex kembali mengangguk kaku dengan mulut yang mengunyah potongan tteobokki. Luhan pun sedang mengunyah tteobokkinya.

“Indah ya Lex?” Alex kembali mengangguk. Luhan menoleh dipandanginya wajah cantik Alex seakan tak pernah bosan menatap gadis berduplikat malaikat itu lalu membatin.

Kau lebih indah Lex

“Kau suka musim gugur Lex?”

“Ne”

“Boleh tahu alasannya?” Luhan menatap Alex polos dengan tangan sebagai penopang wajahnya.

Alex mengerjap beberapa kali lalu mengalihkan pandangannya.

“Tidak ada alasan khusus, hanya suka saja….” Setelahnya Alex kembali berkutat dengan bukunya.

Luhan mengangguk. “Begitu….” Luhan menutup kotak bekalnya dan meletakannya ke dalam tas.

“O-oppa….” Alex menjatuhkan bukunya saat tiba-tiba Luhan menaruh kepalanya dipaha Alex. Sekejap tubuhnya bergetar dan ingin sekali tumbang jika saja Luhan tak menatapnya begitu penuh arti.

“Tetaplah seperti ini Lex…. Aku merindukanmu….” Ungkapnya dengan suara seperti bisikan.

Alex membulatkan matanya lalu mengangkat kepalanya yang beberapa menit lalu terus menatap Luhan. Ia ingin sekali menghilang secepatnya tapi tubuh dan hatinya seakan telah disegel hanya untuk Luhan sehingga saat berdekatan dengannya Alex tak bisa pergi kemana pun.

“Tetaplah disisiku….” Alex memejamkan matanya ingin sekali menangis. Ia sangat membenci dirinya yang sekarang, begitu lemah dan rapuh. Begitu mudah baginya untuk menangis dan terus menerus membuat tubuhnya lelah. Tak dapat dipungkiri perkataan Luhan tadi sungguh menohok hatinya yang paling dalam, dimana secara tidak langsung Alex mencoba memisahkan seorang ayah dengan anaknya itu jahat menurutnya. Tapi dalam kasus ini Luhan tidak boleh mengetahuinya, disamping berbahaya Alex juga tidak ingin membuat namja itu kesulitan karenanya. Penderitaan Luhan tidak perlu ia tambah lagi.

Dengan tangan bergetar Alex membelai lembut kepala Luhan yang berada dipangkuannya. Luhan begitu menikmatinya hingga kedua mata namja itu terkatup. Luhan mempernyaman tubuhnya dengan memposisikan wajahnya menghadap perut Alex yang tertutup oleh jaket serta t-shirt berkain tebal didalamnya.

“Entah hanya perasaanku saja, aku merasa didalam sini seperti terdapat sesuatu….” Tukasnya lalu memberi kecupan lamat diperut Alex. Alex yang mendengarnya lantas menumpahkan buliran beningnya namun cepat-cepat ia hapus. Dia tidak ingin Luhan mengetahui tentang kerapuhan dirinya, cukup Sehun dan Hongbin yang tahu.

“K-kenapa begitu?”

“Aku merasa sesuatu telah terjadi padamu Lex….” Luhan sontak mendudukan dirinya lalu mencengkram pundak Alex.

“Katakan apa yang sebenarnya terjadimu padamu Lex!” Luhan mengguncang pundak Alex yang kini matanya mulai berembun.

“Lex….”

“A-aku—“

Luhan membungkam mulut Alex dengan bibirnya. Alex membulatkan matanya kenapa selalu seperti ini. Disaat ia ingin menumpahkan segala keluh kesahnya Luhan selalu menciumnya seakan tidak ingin mendengar masalah yang hendak ia bagi. Kenapa selalu seperti ini? Apakah ini cara Luhan untuk menenangkan hati Alex? Kalau seperti itu Luhan berhasil. Luhan berhasil menenangkan gadis rapuh itu. Luhan mulai menggerakkan bibirnya dengan lumatan lembut disetiap gerakannya. Alex menatap Luhan yang tengah memejamkan matanya dengan mata berlinangan air mata, tak lama Alex memejamkan matanya. Seiring waktu berjalan air mata itu semakin deras hingga Luhan dapat merasakan rasa asin disela-sela ciumannya, gadisnya kembali menangis. Luhan semakin memperdalam ciumannya untuk meredam isak tangis gadisnya. Kedua tangannya pun melingkar erat ditubuh gadis itu. Sekian menit Luhan melepas ciumannya, dipandanginya Alex yang juga menatapnya masih dengan mata sembabnya.

“Sudah berapa kali kukatakan padamu, datanglah padaku saat kau bersedih kau lupa eoh?” Luhan menangkup kedua sisi wajah Alex yang kini memerah karena dingin dan juga malu. Malu karena sudah begitu sering bercumbu dengan Luhan tanpa status yang jelas. Dan harus menelan pecahan kaca karena tengah mengadung benih dari pria itu tanpa status yang jelas. Alex bukan kekasihnya bukan juga istrinya melainkan gadis yang selalu butuh hiburan dari Luhan.

CHU~CHU~

“Aku mencintamu Lex….” Alex menatap tak percaya Luhan. Semua ini diluar pemikirannya. Bagaimana bisa Luhan menaruh perasaan istimewa itu padanya? Bukankah iya hanya gadis yang selalu ia anggap adik dan ingin ia hibur?

Luhan menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan membisikan berjuta kata maaf dan cinta disana. Gadis itu tersenyum dalam pelukan Luhan, ia ingin sekali meledak. Ucapan Luhan mampu membuat kupu-kupu diperut Alex berterbangan. Luhan membuatnya melayang namun nama seseorang masih terukir jelas dihati Alex. Sebesar apapun usaha Alex untuk menghapus Kai dari hati dan juga pikirannya pastilah masih tertinggal bekas disana. Tak dapat dipungkiri Kai membawa pengaruh besar bagi hidup Alex dimana Kai mengubah hidup Alex yang membosankan menjadi berwarna. Dimana Kai membuat Alex dapat merasakan indahnya cinta pertama dan sakitnya patah hati. Alex telah dimabukkan dengan pesona Kai yang begitu kuat hingga Alex terjebak didalamnya. Bagaimana mungkin perkenalan yang begitu singkat bisa membawa kesan yang begitu melekat?

Dari kejauhan seseorang memandang benci kearah dua insan itu lebih tepatnya pada Alex. Tatapan penuh dendam jelas terpancar dari mata gadis itu. Tangannya mengepal begitu menyadari betapa sulitnya menggapai namja itu dan membawanya kembali ke dalam pelukannya. Gadis itu hendak melangkah mendekati dua insan itu namun tertunda karena sebuah tangan mencekalnya.

“Ikut aku!”

-ooo-

“APA YANG KAU LAKUKAN!”

Namja itu menatap datar gadis bernama Sohee itu ingin sekali melempar gadis itu ke bawah lalu membuang mayatnya ke belahan dunia asing sehingga tidak ada orang yang dapat melihatnya.

“JAWAB AKU!!”

“Aku punya nama Sohee-ssi. Naneun Oh Sehun imnida….” Sehun menepuk-nepuk kepala Sohee yang lantas ditepis kasar oleh gadis itu.

“Kenapa kau menarikku kemari? Katakan apa tujuanmu!” Sohee menatap serius Sehun yang justru terlihat enggan menanggapi. Sehun berbalik lalu melipat kedua tangannya.

“Sang domba telah membuka identitasnya rupanya!”

“OH SEHUN!”

“Jangan ganggu mereka!”

“A-apa?”

“Jangan rebut Luhan hyung dari Alex cukup Kai saja!” Tukas Sehun datar namun sangat tegas hingga membuat Sohee mengeraskan rahangnya.

“Cih kau tahu pasti tujuanku kesini karena apa bukan? Mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!” Sehun membuang nafasnya begitu sulit menghadapi sosok iblis berupa manusia seperti Sohee. Otaknya dipenuhi dengan ratusan ide picik dan ambisius yang tidak seorang pun pernah memikirkannya.

“Itu dulu….”

“M-maksudmu?”

“Kau tak menyadari perasaannya dulu dan lebih berdekatan dengan Kai, sekarang kau justru ingin mengambil alih Luhan hyung setelah apa yang mereka lalui selama ini begitu!” Sehun berbalik dan menatap tajam Sohee yang menundukan kepalanya merasa perkataan Sehun begitu menyinggungnya begitu dalam.

“Kau tak bisa menjawab Nona Yoon….”

“Aku tidak peduli! Siapa pun yang menghalangiku mendapatkan apa yang aku inginkan akan habis ditanganku!” Sohee kini telah kembali menjadi dirinya yang bengis. Dia mengangkat kepalanya seakan ingin menjatuhkan Sehun dihadapannya. Sehun justru tertawa sinis menanggapinya.

“Yoon Sohee Yoon Sohee haha. Manusia sepertimu tidak pantas hidup dimasa sekarang, lebih baik kau kembali ke masa lalu kalau kau terus mengingat masa lalumu!”

“Aku beri tahu manusia sepertiku tidak akan hidup akur dengan manusia pendendam sepertimu jadi ku peringatkan kau untuk hati-hati dalam bertindak sebelum kau kehilangan semuanya…. Termasuk Luhan hyung?” Ucap Sehun dengan bisikan diakhir kalimatnya.

Sehun melangkah pergi dan tangannya hendak membuka knop pintu sebelum suara Sohee kembali terdengar.

“Katakan apa istimewa Alex dimata kalian? Mengapa kalian begitu ingin melindungi gadis itu?” Ucap Sohee. Posisi mereka sedang membelakangi satu sama lain.

“Dia begitu istimewa, sangat istimewa. Begitu mahal dan juga antik. Jarang sekali seorang gadis memiliki sifat seperti Alex hingga aku bertemu dengannya semuanya berubah. Barang mahal dan antik harus dilindungi dari partikel tak layak seperti halnya debu. Aku akan melakukan hal apa saja agar debu itu tidak terus menempel dengan benda kesayanganku, kau paham!” Sohee mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangannya memutih dengan mulut yang siap melempar sumpah serapah pada Sehun. Sehun yang merasa telah selesai urusannya segera beranjak dari tempat itu. Dia tidak ingin berlama-lama bersama gadis pembawa sial itu.

“Aku bersumpah akan membunuhmu Alexandra Wu!” Gumam Sohee.

-ooo-

“Aku mencintaimu Lex….”

Kembali Luhan mengucapkan kalimat itu. Alex memandang sayu Luhan yang juga sedang memandangnya. Membuat Alex menyadari akan satu hal bahwa namja bukan hanya Kai namun sangat banyak. Ia yakin disekitarnya banyak berjuta namja yang lebih baik dari Kai salah satunya Luhan. Betapa bodohnya ia hingga tidak menyadari Luhan yang berada dekat dengannya. Semua bentuk perhatian serta kasih sayangnya semata-mata karena Luhan mencintainya. Kembali pada inti masalah, hati Alex sudah terlalu penuh menampung nama seorang Kim Jongin hingga betapa sulit baginya untuk meraup Luhan ke dalam hatinya.

“Jadilah milikku!” Kini Luhan bukan lagi meminta melainkan memohon atau bila perlu ia ingin bersujud dihadapan Alex agar gadis itu mau menjadi miliknya.

“A-aku—“

“Lex aku sungguh mencintaimu!” Luhan membingkai wajah Alex menggunakan kedua tangannya. Iris mata Luhan menembus jauh dimata Alex yang justru terlihat kosong.

“A-aku tidak bisa oppa.” Alex menyingkirkan tangan Luhan dari wajahnya lalu berbalik meninggalkan Luhan.

“Wae? Apa karena Kai?” Luhan menahan tangan Alex.

Alex menggigit bibirnya sambil memejamkan matanya. Apakah ia harus jujur?

“Tidak bisakah kau membuka hatimu untukku Lex?” Luhan menarik kembali tangannya lalu tertunduk lesu.

“Maafkan aku oppa aku tidak bisa.” Alex menghentak tangan Luhan lalu berlari meninggalkannya.

Luhan terpaku ditempatnya memandang nanar setiap langkah yang Alex pijaki. Luhan ingin berteriak untuk melepaskan semua kekesalannya. Dibenaknya mengapa begitu sulit baginya menaklukkan hati gadis itu. Secara logis Luhan sudah memiliki segalanya dari gadis itu tapi entah kenapa untuk meraup hati serta perhatian gadis itu Luhan seakan mendapat pembatas yang sangat besar.

-ooo-

Kai berjalan santai menyusuri koridor kampus. Ia baru saja usai mengikuti kelas terakhir dan hendak pulang. Kai ingin mendinginkan otaknya namun pulang ke rumah sepertinya bukan pilihan yang tepat. Selain suasana rumah yang tiba-tiba berubah asing semenjak insiden perginya Alex dari rumah dan sikap member yang berubah acuh. Walau Kai hidup disekitar mereka tapi tak dapat dipungkiri Kai bagai hidup bersama patung hidup berjalan. Dan satu tempat yang ada dipikirannya mungkin dapat merubah moodnya menjadi lebih baik.

Kai merogoh saku celananya saat mengetahui jarak parkiran sudah begitu dekat. Dan saat itu juga Kai merasakan tubuhnya terhuyung dan sesuatu menubruknya. Kai hendak memaki sesuatu yang menghambat langkahnya namun ia urungkan mengingat sesuatu yang menghambat langkahnya bukanlah sesuatu melainkan seseorang yang berhasil menyita perhatiannya.

“Maafkan aku, aku permisi.” Gadis itu –Alex- berkali-kali membungkuk meminta maaf lalu berlalu tanpa mengetahui siapa yang ia tabrak.

“Tunggu!”

Alex membulatkan matanya begitu mendengar suara yang begitu ia rindukan. Suara berat yang mampu membuatnya bertekuk lutut.

“Kai….” Bisiknya seorang diri.

“Lex….kau kah itu?” Alex memejamkan matanya. Mengapa hari ini ia harus dipertemukan dengan kedua orang yang justru harus ia hindari dimasa kritisnya. Alex sudah mengetahui bahwa keadaan bayi didalam kandungannya sangat lemah sehingga wajib bagi Alex untuk menjaga kondisi fisik maupun mentalnya agar tidak berpengaruh pada kesehatan bayinya. Anggaplah Alex sudah menyadari bahwa little deer adalah hal yang penting bagi hidupnya saat ini. Dan satu hal yang harus Alex ketahui kemungkinan besar Alex mengandung bayi kembar dikarenakan perut Alex yang lebih besar dari usia kandungan seharusnya.

“A-aku harus pergi….”

Alex menahan nafasnya ketika Kai menariknya ke dalam pelukannya membuat Alex tak dapat menolak kehangatan dari tubuh Kai. Alex ingin berontak dan berlari ke apartemen untuk menenangkan diri. Sejak pertemuannya dengan Luhan, Alex sudah merasakan sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya terutama perutnya. Perutnya seperti diaduk oleh penggiling berkali-kali hingga membuat kepalanya pun mendadak berputar. Alex hendak merosot saat tangan Kai mengelus punggungnya menyalurkan kehangatan yang Alex rindukan. Lutut Alex begitu lemas untuk menopang tubuhnya hingga pada akhirnya Alex merosot dalam dekapan Kai.

“Lex kau kenapa? Wajahmu pucat.” Tanyanya dengan raut wajah cemas. Tidak dapat dipungkiri Kai begitu cemas dengan Alex. Wajahnya pucat dan keringat dingin yang bercucuran disekitar pelipisnya.

“A-aku tidak apa-apa, aku harus pergi….” Kai menggeleng lalu mengangkat gadis itu.

“Kai kumohon a-aku harus pergi….”

“Tidak dalam keadaan seperti ini Lex!” Alex terdiam. Lagipula Alex begitu merindukan sosok yang sedang menggendongnya ini. Suatu kebahagiaan tersendiri bagi Alex bisa bertemu dengan Kai hari ini. Dan sejujurnya bila Kai membiarkan Alex pergi mungkin Alex akan pingsan didalam mobil Sehun. Pemuda itu sengaja tidak mengunci mobilnya dikarenakan Sehun mengingat Alex yang mungkin merasa bosan dan memilih beristirahat didalam mobilnya.

“Kai….”

Kai tidak membalas. Ia sibuk memakaikan seat belt untuknya dan Alex lalu melajukan mobilnya membelah jalanan Seoul yang lenggang.

Sehun yang saat ini sedang fokus mendengarkan materi tak sengaja menangkap pemandangan dibawah sana. Dimana Kai menggendong Alex ke dalam mobilnya lalu pergi begitu saja. Sehun tidak dapat menahan rasa jengkelnya, tangannya terkepal dengan urat-urat yang tampak ditangan kokohnya. Dia tidak habis pikir dengan pikiran teman sekelompoknya. Kai adalah orang ketiga dikelompoknya yang tidak dapat ditebak pemikirannya setelah Kris dan Luhan. Sehun tidak menyangka bahwa Kai masih memiliki keberanian diatas limit untuk kembali mendekati Alex setelah apa yang dilakukan pada gadis itu. Sehun tidak dapat menutupi perasaan cemasnya pada gadis itu. Gadis itu sedang mengandung dan berjuang untuk melewati fase kritisnya namun dengan seenaknya Kai membawa gadis itu sehingga lepas dari pengawasan Sehun. Entah apa yang akan terjadi yang jelas ini tidak baik.

“Apa yang kau rencanakan Kai….”

TBC~

76 responses to “[Freelance] Love Drunk (PART 9)

  1. thor aku ga suka kai sm alex. kai jahat, dia udh buat alex yg kyk mayat idup. kai seneng bgt ngasih harapan palsu buat alex sih? kasian alex. thor biarin alex sm luhan

  2. Aiish….
    Ommo…
    Sohee… yaakk…
    Babo yeoja…
    Pergi…. hush…hush..
    Alexaaa….
    Kyaaa…jga drmu nak…
    Bhya mngancam…
    Lanjuut thoor..
    Daebak…
    Makin seru aja nich critanya

  3. aku suka peran sehun disini 😀 oh udah seperti malaikatnya alex..
    gue masih belum bisa menebak ending cerita ini seperti apa?! huaa aku suka sekaliiiiiii 🙂

  4. Alexx knapa U nolak Luhan Oppa…??
    Buka pikiran U Lex,, Jgan harapkan c kAmjjong Yg Gelap tu .. Heheheh #ketawaEviL
    LuHan Oppa kapan sihh Hrus tahu Kalo Alex tu Hamill..
    Dia lagi mnGandung Liitle deer Loh..
    Tu c Kai mw bwa Alex kmne..??
    Smngat Author-nim.. 😉

  5. aishhh kai mengganggu -,-
    udahlah kai gak usah ngejar” lg gak liat sakitnya alex gara” kai -,-
    next chap 🙂
    hwaiting

  6. dri awal udah curiga ama sohee bakal bgini. kasihan alex 😭 😭 😭. kasihan juga ama Luhan sbgai ayah dri bayi alex tapi alex nolak. untuk kesekian kalinya bikin nyesek

  7. dri awal udah curiga ama sohee bakal bgini. kasihan alex . kasihan juga ama Luhan sbgai ayah dri bayi alex tapi alex nolak. untuk kesekian kalinya bikin nyesek

  8. dasar soohee gk tw diri bgt!!!
    lexa knp gk nrima ketulusan luhan, aigooo dy hrs tw…
    kai, mw apa lagi coba, gk cukup buat lexa dombang-ambing…
    udh telat bgt!!!

  9. hadohhhh bener2 licik si sohee.. #panas
    make nolak luhan lagi.. mau nya apa dah..
    semoga aja bener2 jadian.

    yak! kai! lexanya mau dibawa kemana?! -_-“

Leave a Reply to d_hasnasari Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s