[Freelance] Love Drunk (PART 10)

img1385637120956

Title                       :    Love Drunk (PART 10)

Author                  :    Safira Bella/@fira_bella

Genre                   :    Romance, Angts, Friendship, Etc.

Cast                       :  

–          Alexandra Wu (OC)

–          EXO Members

–          VIXX Members

–          Yoon Sohee

Rated                    :     PG-17+   

Exo milik management, orang tua dan Tuhan YME, kecuali Kris Kai Luhan. Ide seratus persen dari otak author jadi leave comment guys J

Di chap ini kalian bakalan tau penyebab kenapa VIXX dan EXO itu musuhan. Disini aku baru ngasih sedikit penyebabnya sisanya bakal author kasih tau lengkap di chap 11. Disini juga author bakal kasih tau masa lalu antara Luhan, Kai, dan Sohee. Jadi kalian gak perlu galau mikirin kenapa Sohee terobsesi banget dapetin Luhan, oke ^^

 

Happy Reading ~~~(^o^)~~~

Kai merebahkan Alex diranjang yang berada apartemennya. Pilihan yang tepat daripada membawa Alex ke mansion. Kai mengerti bahwa gadis itu butuh ketenangan terlebih melihat kondisi Alex saat ini. Kai merendahkan dirinya lalu membasuh area wajah Alex yang masih terdapat bulir-bulir keringat. Kai juga sudah merapatkan selimut dan melepas jaket tebal yang Kai yakin membuat gadis itu merasa tidak nyaman. Kai meletakkan handuk basah itu diatas nakas lalu duduk tenang ditepi ranjang mengamati wajah damai Alex. Tangannya terangkat menghapus helai rambut yang menutupi sebagian wajah cantik gadis itu. Untuk kesekian kalinya Kai mengagumi setiap lekuk wajah Alex, begitu cantik dan lembut. Kai bahkan tak dapat membedakan manusia atau seorang malaikat yang turun dari langit.

Kai hendak keluar untuk mengganjal perutnya yang meronta minta diisi. Sejak pagi tadi Kai tidak begitu nafsu untuk menyentuh makanannya tapi sekarang sejak melihat gadis ini terlebih bersamanya Kai seakan mendapat pasokan semangatnya kembali. Jadi ia ingin terlihat segar didepan gadis itu saat ia sadar nanti. Alex sudah tak sadarkan diri saat Kai tengah menuju apartemen. Sebenarnya Kai ingin membangunkannya tapi mengingat wajah pucat gadis itu Kai memilih merelakan tangannya untuk kembali menggendong gadis itu. Setelah mendaratkan ciuman singkat dimata serta bibir gadis itu Kai berdiri. Kai meraih baskom berisi air hangat itu hendak membawanya keluar namun suara getaran ponselnya menghentikannya. Kai melihat nama yang tertera dilayar ponselnya lalu melirik Alex yang masih tertidur. Kai menghela nafasnya lalu memilih menggeser layar ponselnya.

“Ada apa?”

Kau dimana?” Ucap suara disebrang sana. Kai kembali menghela nafas mendengar suara tak bersahabat dari sebrang sana lalu berjalan kearah balkom kamar takut mengusik tidur gadisnya.

“Di apartemen, kenapa?” Jawabnya santai dan Kai dapat mendengar suara geraman disebrang sana.

Kirimkan aku alamatnya aku akan segera kesana.

“Untuk apa kau melakukan itu bodoh! Kau pikir aku akan menyakitinya eoh?” Kai berusaha menahan intonasi suaranya selain tidak mau membangunkan gadis itu Kai juga tidak ingin berperangan pendapat dengan namja itu.

Tsk Kim Jongin aku hanya tidak ingin kau kembali menyakiti gadis itu. Sadarlah kau telah banyak membuang waktunya hanya karena menunggu harapan palsu darimu. Kau sudah terlalu banyak menarik ulur hati gadis itu.” Kai tersenyum getir mengingat sikap bodohnya yang bodohnya lagi baru ia sadari akhir-akhir ini. Kai tidak mencoba melawan karena perkataan namja itu memang benar.

“Kau sudah tidak percaya lagi padaku Oh Sehun!” Sehun tersenyum remeh disebrang sana. Rupanya Kim Jongin telah menampakkan sikap bodohnya lagi.

Kau sudah punya gadis itu, jadi jauhi Alex sebelum aku bertindak!

“Kau menyukainya?”

Kenapa kau berpikiran begitu?

“Aku bertanya padamu!”

Cih seharusnya sejak awal kau sudah tahu siapa-siapa saja yang menyukai Alex. Aku yakin kau sudah mengetahuinya?” Kai menggertakan giginya begitu mengingat nama namja yang menyukai Alex. Dua orang namja yang sama-sama begitu ambisius sama seperti dirinya.

Ingat Kai aku akan menjemput Alex besok tanpa kekurangan apapun, ingat itu!” Setelah itu sambungan terputus. Kai menatap datar layar ponselnya lalu beralih melihat Alex dengan raut wajah nanar.

“Lex….maafkan aku….”

-ooo-

Alex membuka matanya begitu merasakan cahaya hangat menghampirinya. Ia duduk menyandar pada head board sambil mengucek-ngucek matanya. Selagi tangannya bergerak aktif matanya meneliti setiap detail kamar bernuansa abu-abu yang terlihat manly. Tunggu dulu, abu-abu? Ini bukan kamarnya. Seingat Alex kamarnya diapartemen berwarna biru laut. Intinya sekarang ia berada dimana? Alex menghentikan pemikirannya begitu mencium aroma sedap dari arah luar. Perutnya seketika berbunyi hendak mengikuti asal aroma sedap itu. Ditambah tendangan halus didalam perutnya membuatnya sadar bahwa ada nyawa yang harus ia urus sekarang. Alex tidak bisa seenaknya memasok sesuatu ke dalam sana mengingat little deer semakin mengerti jenis makanan yang ibunya konsumsi.

“Kau lapar eoh? Umma juga?” Alex mengusap perutnya sambil merekahkan sebuah senyum. Ada perasaan bahagia begitu mengetahui bahwa dirinya tengah menjadi seorang calon ibu. Alex begitu menikmati sebuah momen dimana ia berkomunikasi dengan janin didalam sana.

Alex bangkit tetap mengelus perutnya yang kini sudah sedikit membesar. Usia kandungannya baru memasuki 4 bulan terhitung 5 bulan lagi agar Alex dapat melihat bayinya lahir ke muka bumi. Alex membuka pintu dan aroma sedap itu semakin kuat menusuk hidungnya. Alex menghirup aroma sedap itu begitu kakinya telah membawanya sampai didapur. Alex dapat melihat punggung lebar sedang bergerak kesana kemari meracik bahan makanan. Alex termenung. Ia hafal betul siapa pemilik punggung lebar dan rambut kecoklatan itu. Satu lagi, kulit tan yang Alex begitu sukai.

“Morning Lex, tidurmu nyenyak?” Tanya Kai sambil meletakkan telur dadar yang baru saja matang.

Alex hanya diam sambil menundukkan kepalanya dalam. Ia enggan melihat pemilik iris hitam milik Kai yang selalu menguncinya setiap saat ia menatapnya.

“Ayo sarapan, kau pasti lapar kan?” Kai menuntun Alex untuk duduk dimeja makan karena melihat Alex seperti tidak ingin merespon sapaannya.

“Makanlah! Aku sengaja membuatnya untukmu.” Kai meletakkan sepiring nasi goreng ke hadapan Alex. Gadis itu menelan ludahnya begitu aroma nasi goreng itu merasuk kuat di indera penciumannya. Tangannya hendak meraih sendok untuk segera melahap dan menjinakkan cacing serta mahkluk mungil yang sedari tadi memberontak.

“K-kau tidak makan?” Tanyanya ragu dengan pergerakkan tangan yang mengambang diudara menunggu jawaban dari namja itu.

Kai menggeleng lalu mengangkat gelas berisi cappuccino. “Aku tidak lapar, kau makanlah….” Alex mengangguk samar lalu kembali menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya. Alex mengunyah perlahan dan tersenyum tipis begitu merasakan kenikmatan dari sarapan paginya. Sungguh ini begitu enak. Entah karena memang Kai pintar memasak atau karena yang memasak sarapannya adalah Kai, mungkin keduanya.

“Enak….” Ucapnya tanpa sadar membuat Kai tersenyum.

“Kalau begitu habiskan.” Kai mengusap kepala Alex lembut membuat gadis itu menunduk karena malu.

-ooo-

Dyo dan Lay sedang sibuk mencuci piring-piring kotor setelah sarapan tadi. Lay yang mencuci sedangkan Dyo yang meletakkan piring-piring itu ke lemari penyimpanan.

“Oppa lihat Kai tidak?” Lay menoleh begitu suara Sohee sampai ke pendengarannya. Lay mengerut lalu menggeleng.

“Kai tidak mungkin bersama kami. Mungkin dikamarnya?” Dyo menjawab namun tetap fokus pada pekerjaannya.

“Ck oppa lupa kalau Kai tidak ikut sarapan tadi?” Mulut Sohee mengerucut lalu melahap gusar strawberry yang terletak diatas counter.

Dyo mengerutkan dahinya lalu menatap datar piring dihadapannya. Mengapa ia tak dapat menyadari bahwa namja berkulit eksotis tidak pernah menampakkan batang hidungnya sejak usai makan siang kemarin.

“Hey kenapa kau makan strawberryku?” Baekhyun langsung merampas  semangkuk strawberry yang ada dalam genggaman Sohee. Gadis itu hanya nyengir dengan polos.

“Maaf, aku lupa oppa.” Ucapnya dengan wajah memelas membuat Baekhyun memutar matanya malas.

“Tch jangan pasang wajah seperti itu didepanku karena tidak akan mempan. Didepan Kai saja oke?” Baekhyun menepuk kepala Sohee dengan senyum miring lalu beranjak pergi. Gadis itu menggeram tertahan dengan tangan mengepal kuat. Satu persatu member exo telah menampakkan tanda-tanda tidak suka dengan kehadirannya dirumah ini. Rencananya bisa berantakan kalau saja semua member memilih memberontaknya dan memihak gadis itu.

Sohee mengangkat kepalanya begitu melihat siluet Luhan melintas didepannya lalu menghilang dibalik pintu pembatas antara ruang tengah dan pintu menuju kolam renang. Sohee tanpa ragu berlari mengikuti Luhan. Lay dan Dyo saling berpandangan lalu kembali pada aktivitasnya dengan wajah risau. Perasaan buruk tiba-tiba datang memenuhi otak mereka.

Luhan duduk ditepi kolam dengan kedua kaki yang sengaja dijulurkan agar dapat terendam. Kakinya bergerak-gerak dengan mata yang sibuk memandang pemandangan didepannya yang merupakan hamparan taman bunga blue bell yang terlihat cantik. Bunga yang merupakan bunga kesukaan Alex. Luhan ingat gadis itu begitu keras kepala untuk memelihara bunga yang tak dapat hidup didaratan asia, bunga itu hanya bisa tumbuh didaratan eropa namun berkat kerja keras Alex bunga-bunga itu dapat tumbuh subur dilingkungan mansion. Masih segar diingatan Luhan gadis itu melompat senang begitu melihat bunga itu tumbuh dengan baik dan berlari padanya hanya untuk memberitahu bahwa ia berhasil menanam bunga itu. Luhan tersenyum lalu melihat pantulan dirinya di air. Wajahnya berubah keruh begitu menyadari gadisnya sudah tidak semanis dulu. Tidak ada senyum manis, pandangan mata yang teduh serta suara tawa yang membuatnya meleleh, semuanya hilang dilenyapkan oleh kesedihan serta keterpurukan.

Luhan mengangkat kepalanya begitu melihat refleksi lain yang nampak di sebelahnya. Kepalanya otomatis menoleh ke samping dan sontak mulutnya menyerukan suara gadis yang ada di pikirannya.

“Alex….”

“Aku Sohee oppa, bukan Alex.” Senyum lantas hilang dari bibir merah Luhan lalu kembali memposisikan kepalanya lurus ke depan dengan pandangan kosong.

“Untuk apa kau kesini?” Tanyanya dingin.

Sohee tersenyum lalu duduk lebih dekat dengan Luhan.

“Naluriku membawaku kesini.”

Luhan mengernyit lalu kembali bersuara. “Apa maumu?”

“Oppa! Bisa tidak bersikap manis padaku! Aku ingin seperti dulu….” Sohee menunduk membuat Luhan menghela nafas jengah.

“Waktu sudah berlalu dan kau tidak bisa memaksaku untuk kembali menjadi Xi Luhan yang dulu….”

“Oppa….” Sohee mendongak melihat Luhan.

“Kita sudah berada dalam kondisi serta situasi berbeda Sohee-ssi, aku rasa itu mustahil!”

“Oppa!” Luhan membulatkan matanya begitu merasakan sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Sohee memeluknya dari belakang.

“Sohee lepas!” Luhan hendak menyentak tangan Sohee namun siapa sangka pelukan Sohee sangat kuat.

“Aku ingin kita seperti dulu oppa! Aku mohon!” Sohee semakin merapatkan tubuhnya dengan Luhan dan menangis di balik punggung Luhan.

“Aku tidak bisa—“

“Tidak! Katakan ini tidak benar!” Luhan berhasil melepas tangan Sohee dari pinggangnya lalu berbalik untuk melihat Sohee. Sohee menangis dan penampilannya sangat berantakan membuat Luhan iba. Luhan menghela nafas lalu menarik Sohee ke pelukannya dan mengelus punggung Sohee agar lebih tenang.

“Oppa aku mohon jadilah milikku! Kau tidak pantas menyukai gadis sepertinya.” Sohee berkata di tengah tangisnya. Luhan termenung, hatinya berkedut begitu mendengar nama Alex.

“Jauhi Alex dan hidup bersamaku!” Sohee mengungkapkan. Dia melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Luhan. Dia menatap Luhan penuh harap.

Dia berharap kalau lelaki di hadapannya itu mengangguk dan setuju, namun Luhan hanya diam membeku. Dia tidak mengatakan apapun, hanya diam tertunduk sepertinya dia sedang berpikir.

“Sohee kau harus tahu aku tidak mencintaimu lagi.” Luhan berkata. Mendengar itu air mata kembali muncul di sudut mata Sohee.

“Bohong! Kau bilang kau mencintaiku! Kau bilang kau tidak akan meninggalkanku!” Sohee berkata. Dia ingat janji manis Luhan dimasa lalu.

“Kau bilang cinta mu tidak akan hilang walau aku menghilang dari hadapanmu, mana janjimu Xi Luhan!” Sohee berkata dia menatap Luhan dengan mata berkaca-kaca.

“Kau bilang kau akan terus bersamaku dan melindungiku.” Sohee mengenang masa lalunya. Luhan menggigit bibirnya.

Dulu Luhan memang mencintai Yoon Sohee namun gadis itu justru mengkhianati perasaannya dan terus menempel pada Kai. Yoon Sohee adalah alasan utama kenapa dia tidak ingin terlibat dengan wanita. Selama ini Yoon Sohee lah yang menjadi ketakutannya dalam merajut asmara, tapi sejak Alex datang semuanya berubah.

“Lalu bagaimana dengan Kai? Kau bahkan tahu aku mencintaimu tapi kenapa kau begitu dekat dengan Kai dan mengabaikanku seperti sampah!” Dia mencengkram tangan Sohee.

“Oppa….”

“Lucu sekali, sekarang kau berbicara soal cinta? Jika kau benar-benar mencintaiku kau tidak akan pergi dan memilih Kai bersamamu.” Luhan melepas tangan Sohee dari wajahnya.

“Jangan pernah dekatiku lagi dan jangan pernah mengatakan kalau kau mencintaiku, semuanya bohong! Aku tidak pernah percaya lagi padamu!” Luhan berbalik dan hendak pergi namun Sohee segera menyusul dan kembali memeluknya.

“Aku mohon oppa! Aku benar-benar mencintaimu…. Aku bodoh! Kai…. Aku tidak pernah mencintainya. Dia…. Dia hanya sahabat bagiku tidak lebih. Maafkan aku telah mengabaikanmu…. Maafkan aku oppa.” Sohee memeluk Luhan erat. Dia tidak akan membiarkan Luhan pergi dan hidup berbahagia dengan Alex.

Luhan hanya diam dia tidak merespon sedikit pun, Sohee tidak akan melukai hatinya lagi hanya Alex yang dapat melakukannya karena Luhan sangat mencintainya. Dia cukup bodoh untuk meladeni dan memberikan perhatiannya untuk Sohee yang jelas-jelas telah menyakitinya.

Sohee membalik tubuh Luhan. Wajah Luhan begitu kaku sekali dan dia benci itu. Kemana Luhan yang tersenyum setiap kali dia melihatnya. Sekarang yang ia hadapi adalah Luhan yang terlihat lelah dan dingin.

“Katakan padaku, apa kau lupa semua kenangan kita oppa ?” Sohee bertanya lirih, suaranya bergetar.

Luhan menatap kearahnya, tatapan lelaki itu benar-benar kosong membuat Sohee sedih. Kemanakah cahaya yang selalu menyinari mata Luhan? Kemanakah semua kebahagiaan yang selalu Luhan tunjukkan padanya?

“Aku tidak akan pernah melupakannya.” Tambah Sohee. Dia tidak peduli jika Luhan akan merespon atau tidak.

“Kau ingat ciuman pertama kita oppa? Saat itu hujan dan…. Dan kita berlindung dengan hanya satu payung.” Sohee tersenyum mengingat Luhan yang berdiri didepan sekolahnya hanya untuk menunggu Sohee pulang dari sekolah.

Dia tidak peduli jika dia kedinginan yang terpenting Sohee tidak. Sohee masih ingat kalau Luhan menunggunya dan langsung memeluknya saat dia melihat Sohee berlari dia bahkan tak peduli kalau bajunya ikut basah.

Luhan melepaskan jaketnya dan melingkarkannya dibahu Sohee. Saat itu Sohee menggigil karena kedinginan. Dia memeluk Luhan dengan erat dan tersenyum merasakan hangat tubuh pemuda itu namun tiba-tiba saja Luhan melepaskan pelukannya.

Dia menatap dalam-dalam kearah Sohee, Sohee tidak mengerti pada saat itu. Dia masih muda dan lugu, dia tidak tahu kenapa Luhan bersikap seperti itu. Beberapa menit kemudian Luhan mendekat dan bibir mereka pun bersentuhan untuk pertama kalinya. Ciuman pertama mereka terasa dingin sekaligus hangat.

Keadaan mereka sekarang sama persis saat mereka pertama berciuman, hanya saja posisinya terbalik. Sekarang dialah yang memeluk Luhan dan juga ingin mencium lelaki itu dan memilikinya.

Sohee mendekat dan menarik kerah baju Luhan sehingga Luhan menunduk. Beberapa detik kemudian bibir mereka bersentuhan lagi. Sohee bahagia sekali setelah beberapa tahun akhirnya dia bisa kembali merasakan kehangatan bibir Luhan.

Luhan awalnya ikut larut dalam godaan Sohee. Dia menarik Sohee mendekat dan mencium gadis itu penuh gairah. Namun saat ia membuka matanya dan dia menyadari kalau gadis yang dia peluk sekarang bukanlah Alex, dia merasa jijik.

Luhan langsung mendorong Sohee menjauh darinya. Luhan merasa jijik dan kotor saat dia sadar kalau dia mencium gadis lain selain Alex. Dada Luhan terasa sesak dan dia sadar kalau dia baru saja mencium gadis lain selain Alex, sang gadis yang telah Luhan miliki seutuhnya.

Luhan segera berbalik dan pergi menjauh. Dia berlari menjauh dan menyeka bibirnya. Rasanya dia ingin mencuci bibirnya jika bisa. Luhan tidak pernah merasa sekotor ini. Dia benci perasaan yang dia rasakan sekarang. Dia harus pergi bertemu Alex dan memeluk gadis itu. Jalan satu-satunya untuk menenangkan dirinya adalah dengan bertemu gadis itu. Setidaknya dia bisa melupakan apa yang baru saja terjadi.

Sohee menatap dingin punggung Luhan yang menjauh. Rahangnya merapat dengan suara giginya yang bergemerutuk menahan amarah. Untuk kesekian kalinya air mata lolos begitu saja. Sohee kambali menangis dan itu karena Luhan. Satu-satunya namja yang membuatnya berlutut serta hancur bersamaan adalah Luhan. Dia begitu benci perasaan ini. Perasaan dicampakkan dan dilupakan. Perasaan yang hanya dimiliki oleh orang-orang lemah. Dalam situasi ini Sohee sama saja dengan orang-orang itu. Tapi biarlah, ini hanya sesaat dan kemudian digantikan dengan tawa kemenangan darinya. Waktu yang telah ditentukan akan tiba dimana ia melihat kehancuran kakak beradik itu dan melihat Kris bersujud didepannya. Dan melihat Alex mati karena api kehancuran yang menyulut jiwanya begitu melihat Luhan berada dalam pelukannya. Menurutnya itu sangat menarik dan akan menjadi pemandangan yang paling indah yang pernah ia lihat.

Tunggu aku Nona Wu

-ooo-

Alex dan Kai baru saja keluar dari lift hendak menuju basement. Alex hanya berjalan membuntuti Kai dibelakang sedangkan pemuda itu berjalan didepannya.

“ini….”

Alex mendongak melihat Kai lalu melirik helm berwarna putih yang disodorkan untuknya.

“Untuk apa?” Mendengar itu Kai lalu tersenyum. Gadis ini begitu polos dan Kai mengingat satu hal bahwa Alex semakin polos dan cantik semenjak memutuskan hidup mandiri.

“Mobilku ada dibengkel, kita naik motor saja ne?” Kai menunduk untuk memakaikan helm itu untuk Alex. Dari jarak sedekat ini Kai dapat melihat rona merah yang menyembul dari kedua pipi gadis itu dan membuatnya semakin cantik. Alex mengangguk patuh dengan kepala yang menunduk ia sadar jarak antara dia dan Kai sangat dekat. Alex tidak mau membuat jantungnya berolahraga terus disaat ia nekat terus melihat Kai.

Sebenarnya ini hanya bualan Kai bahwa mobilnya sedang berada dibengkel. Mobil itu dalam keadaan baik-baik saja. Kai melakukannya karena ingin merasakan kehangatan tubuh Alex saat Alex memeluknya nanti. Sudah lama sekali Kai tidak pernah melekatkan tubuh mereka. Terakhir saat pagi itu dimana semuanya gagal karena ulah dua hyungnya –Lay Dyo-

“Kalau begitu ayo naik….” Kai sudah memposisikan badannya diatas motor dengan helm yang sudah ia kenakan. Untuk kesekian kalinya Alex memilih patuh dan naik keatas motor itu tanpa protes. Sesungguhnya Alex tidak begitu senang ketika Kai mengajaknya naik motor. Karena masa lalunya Alex jadi takut menaiki motor.

Saat umurnya masih 13 tahun Kris mengajaknya untuk menaiki motor besarnya. Alex yang waktu itu sangat penasaran ia pun duduk manis dibelakang kakaknya. Tapi tak sangka saat mereka sedang menikmati sepoian angin membuat mereka terhempas karena Kris yang tiba-tiba menghentikan motornya begitu melihat pohon didepannya. Akibatnya Alex terpental cukup jauh dan koma hingga 2 minggu karena benturan keras dikepalanya. Kris yang pada saat itu hanya terluka ringan merasa bersalah karena telah membuat adiknya celaka. Sejak saat itu Kris tidak pernah lagi mau membawa Alex dengan kendaraan beroda dua itu.

“Pegangan yang erat.” Kai melirik Alex dari spion begitu Alex sudah duduk diatas motornya.

Tangan Alex bergerak menggenggam erat ujung jaket hitam yang Kai kenakan. Kai tersenyum dibalik helmnya. Alex begitu lugu dan pemalu setelah apa yang mereka lakukan. Kai ingat, pagi itu ia hampir menyentuh gadis itu dan pada akhirnya gagal karena kedatangan Dyo dan Lay. Mungkin tanpa kehadiran mereka Kai berhasil menanam benihnya dalam tubuh Alex dan gadis itu resmi menyandang wanita milik Kai seutuhnya.

“Kalau begitu kita berangkat!” Kai melajukan motornya dengan penuh semangat membuat Alex panik karena laju motor Kai membuat jantungnya berdegup kencang. Ia tidak mau membekam didalam kamar berbau obat itu karena kembali terluka.

Alex dengan ragu melingkarkan tangannya dipinggang Kai dan semakin erat begitu menyadari laju motor Kai yang bertambah. Ia tidak ingin ambil resiko. Setidaknya kalau mereka jatuh Kai bisa menjadi tameng untuknya. Kai yang merasakan tangan hangat melingkar dipinggangnya tersenyum. Ia begitu senang hingga ingin rasanya meledak. Inikah yang nama cinta?

Mereka baru saja sampai ditaman kota. Kai memarkirkan motornya lalu membuka helmnya. Setelahnya Kai menoleh pada Alex yang masih berdiri kaku disampingnya.

“Kita sudah sampai Nona Wu….” Kai melepas helm Alex dan terkejut begitu melihat wajah pucat gadis itu.

“Lex gwaenchana? Kau sakit?” Kai menepuk pipi Alex. Kai merasa bersalah dan ia yakin karena sikap ugal-ugalannya tadi dalam berkendara sehingga memberi efek buruk pada gadis didepannya.

“Kau duduk disini dulu aku segera kembali.” Kai menghilang begitu saja setelah mendudukkan Alex dikursi taman.

Tak berapa lama kemudian Kai kembali dengan dua kantung dengan warna yang berbeda.

“Ini minumlah.” Kai menyodorkan sebotol air mineral dan Alex menyambutnya dengan tangan bergetar.

“Maafkan aku Lex, aku tidak—“

“Gwaenchana.” Alex meletakkan botol yang sudah tersisa setengah isinya disampingnya lalu merogoh tasnya untuk mencari benda yang dapat menyeka peluhnya.

“Aku tahu kau tidak baik, jadi…. Izinkan aku menebusnya.” Kai mengeluarkan sapu tangan berwarna coklat dari saku jaketnya lalu menyapukannya disekitar wajah Alex yang berkeringat. Alex mematung melihat wajah tampan Kai yang semakin tampan dengan jarak sedekat ini. Keringat semakin bercucuran dikala mata mereka bertemu saling menyampaikan kalimat lewat sorot mata.

Seperkian menit hanya mereka habiskan dengan saling bertukar pikiran lewat mata. Entah bagaimana Kai mulai menghapus jarak yang tersisa hendak mendaratkan ciuman dibibir gadis itu. Kai selalu tersihir begitu melihat bibir Alex yang merah dan juga tipis. Entah kenapa Kai begitu candu untuk selalu mengecup bibir plum Alex.

Kai menatap Alex kecewa karena disaat jarak mereka yang begitu dekat gadis itu justru memalingkan wajahnya. Kai sadar apa yang sudah dilakukannya lalu duduk kaku disebelah Alex. Kai sadar dengan sikapnya yang kurang ajar dan berani menyentuh gadis itu setelah ia menyakiti gadis itu. Ia yakin alasan Alex menolaknya secara terang-terangan seperti itu karena masih memendam sakit hati padanya. Kai mencoba mengerti itu. Namun tak dapat dipungkiri Kai, ia begitu merindukan gadis itu.

Sedangkan Alex berusaha menahan air matanya. Ia tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya. Dia juga tidak begitu mengerti alasan ia ingin menangis. Tidak dapat dipungkirinya Alex begitu merindukan Kai. Ia juga ingin merasakan kehangatan dari bibir penuh Kai dibibirnya. Tapi satu hal yang membuatnya enggan melakukannya seakan tembok tinggi tak kasat mata yang menghalangi mereka. Bayinya. Alex merasa bayi itu tidak menyukai kehadiran Kai didekatnya. Dan sengaja atau tidak wajah Luhan melintas dipikirannya dan secara tidak langsung membuat Alex takut bertindak arogan dengan lelaki lain. Jika saja Alex tidak memalingkan wajahnya tadi, Alex sudah merasa menjadi wanita jalang yang mengkhianati bayi serta ayah dari bayinya. Sudah cukup bagi Alex yang menganggap dirinya wanita kotor dan dia juga tidak ingin dianggap pengkhianat.

“Maafkan aku….”

“Gwaenchana aku mengerti….” Alex mencoba mengulas senyum pada Kai yang terlihat begitu gusar.

Kai ikut tersenyum lalu merogoh kantung berwarna putih lalu memberikannya pada Alex.

“Bubble tea rasa baru, kau pasti suka.” Alex menerimanya ragu lalu menyeruput perlahan bubble berwarna ungu pucat itu.

“Enak….”

“Benarkan? Itu rasa lavender Lex.” Alex mengangguk lalu menyeruput bubble tea itu dengan wajah riang. Bubble tea itu berhasil menjadi mood buster Alex untuk beberapa jam ke depan. Karena Alex pun tidak tahu menahu apa yang akan terjadi beberapa menit ke depan.

“Mau coba milikku? Ini rasa rumput laut. Tenang saja aku belum mencobanya.” Alex kembali menerimanya lalu menyeruputnya dengan wajah seakan berpikir. Tak lama ia tersenyum menenangkan membuat Kai kembali merasakan hatinya meleleh.

“Ini juga enak!” Pekiknya senang membuat Kai tersenyum. Alex kembali menampilkan senyum manis entah itu sengaja atau tidak yang pasti Kai begitu senang melihatnya. Sulit baginya untuk bertemu dengan Alex terlebih melihat senyum gadis itu. Bagi Kai ini merupakan pemandangan paling indah dimatanya saat ini.

“Kalau begitu ambilah.” Alex menoleh dengan mata berbinar dengan mulut yang bergerak karena sibuk mengunyah butiran black pearl.

“Eum…. apa kabar Lex?” Alex menatap Kai bingung. Untuk apa namja itu menanyakan kabarnya sedang ia berada disampingnya. Bukankah sudah jelas keadaannya? Namun Alex merubah air wajahnya begitu menyadari raut cemas dari sorotan mata Kai. Apakah namja itu mulai menyadari satu hal?

“Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?” Alex balik bertanya. Ia juga tidak mengerti sejak kapan ia pandai berakting. Kris selalu mengajarkannya untuk selalu berkata jujur namun dalam situasi saat ini kemungkinan kecil Alex mau melakukannya. Selain takut Alex juga tidak ingin orang lain ikut campur dalam urusannya. Cukup baginya Sehun dan Hongbin yang mengetahui, jangan lagi orang dalam mengetahui hal tersebut.

“Entahlah…. perasaanku mengatakan kalau tidak baik-baik saja.”

Alex tersenyum masam. Gadis itu tidak bisa mengelak bahwa perkataan Kai benar. Alex sedang berdiri tepat diujung jurang dan sedang menunggu seseorang menolongnya agar tidak benar-benar terperosok ke dalam jurang dan menghilang begitu saja. Mungkin itu salah satu perumpamaan yang tepat untuk Alex.

“Itu hanya perasaanmu saja, aku…. Baik-baik saja….” Alex kembali tersenyum meyakinkan agar namja ini tidak mengetahui arti sorotan matanya yang terkesan menipu. Entah sudah keberapa kalinya Alex menipu banyak orang akan keadaan dirinya, yang jelas Alex melakukannya untuk bertahan demi bayi didalam perutnya. Kalau saja Alex lengah mungkin bayi itu sudah menghilang dari perutnya. Dia tidak ingin itu terjadi. Perlahan namun pasti Alex mulai mengakui keberadaan little deer didalam tubuhnya memberi efek baik bagi tubuhnya, dimana Alex akan lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu hal atau memasok makanan dan minuman ke dalam tubuhnya. Alex tidak ingin terjadi apa-apa pada bayinya karena ia begitu menyayangi bayi hasil pembuahan Luhan. Walaupun Luhan tidak menginginkannya sekalipun Alex akan terus mempertahankan bayinya sampai Alex dapat melihat bayinya lahir ke dunia ini, karena ia adalah ibunya.

“Aku harap begitu….”

Setelahnya mereka terdiam menikmati hembusan angin musim gugur. Alex sibuk menikmati bubble teanya dengan pikiran yang bercabang. Berpikir bagaimana caranya agar ia dapat melupakan cinta pertamanya serta namja yang pertama kali menyita perhatiannya yaitu Kai. Dan berpikir bagaimana caranya ia bersembunyi agar dimasa hamil tuanya kelak ia tidak dapat diganggu serta mendengar kabar buruk yang tidak ingin ia ketahui. Yang jelas Alex ingin tenang dihari dimana ia akan segera melahirkan buah hatinya kelak.

Sedangkan Kai ia berpikir tentang kelangsungan hubungan Alex dan dirinya. Sampai sekarang pun Kai belum memahami perasaan apa yang Kai rasakan saat bersama Alex. Kai memang mencintai Sohee tapi begitu Kai mendengar bahwa Luhan menyukai Alex, Kai seakan merasa terancam. Entah terancam dalam arti apa yang jelas Kai takut. Takut posisinya dihati Alex sirna karena kehadiran Xi Luhan dan namja lain yang mungkin memiliki rasa yang sama seperti Luhan. Mungkinkan ini rasa yang lebih besar dari rasanya yang selama ini ia anggap abadi hanya untuk Yoon Sohee?

“Lex….”

“Eum….”

“Aku ingin mengatakan sesuatu?”

“Katakan saja….” Alex mengangguk tanpa memandang Kai yang telah memasang raut wajah serius. Alex sedang sibuk menikmati bubble teanya.

“Waktu itu….”

“Kenapa?” Alex menoleh dengan sorot mata penuh tanya.

Kai berdehem menghilangkan kecanggungan yang entah kenapa muncul. Kai tidak pernah merasa canggung jika berada dekat oleh Alex justru gadis itulah yang terlihat selalu menjaga jarak dengannya. Sekarang justru mereka berada dalam situasi yang berbalik.

“Pesan yang waktu itu kukirimkan untukmu….”

Alex menghentikan kegiatan menyedot bubble teanya. Mulutnya sedikit terbuka karena terkejut lalu kembali mengalihkan pandangannya kearah depan. Alex begitu penasaran apa alasan Kai mengajaknya bertemu ditaman waktu itu. Dia sudah siap mendengarnya hanya saja bukan berarti dia siap melihat tatapan intimidasi Kai padanya. Apapun alasannya yang jelas tidak akan memberikan efek yang berarti untuknya. Sudah terlambat bagi Kai untuk menjelaskan semua itu.

“Sebenarnya aku—“

“Lex sedang apa disini? Ayo pulang!” Sehun tiba-tiba muncul didepan Alex dengan raut wajah cemas. Perlu kalian ketahui Sehun benar-benar mencemaskan keadaan ‘adiknya’ itu.

“Oh Kai kebetulan sekali.” Sehun tersenyum sinis pada Kai sedang Kai hanya membalasnya datar. Sehun yang sekarang terlihat lebih menyeramkan dan ambisius. Kai merasa terintimidasi dengan tatapan tajam Sehun.

“Oppa…. Sedang apa disini?” Alex langsung berdiri begitu tahu bahwa namja yang berdiri didepannya adalah Sehun. Begitu juga dengan Alex, gadis itu sedikit takut dengan tatapan tajam Sehun. Sebelumnya Sehun sudah memperingatkan agar Alex menjaga jarak dengan Kai dan Luhan karena alasan Alex sedang mengandung. Sehun benar-benar mengabulkan permintaan Alex untuk menjauhkan Alex dari mereka berdua dan sekarang ia menyesali permintaannya.

“Membeli bubble tea, kau mau?” Sehun mengangkat kotak karton yang berisi 4 gelas bubble tea didalamnya. Alex menggeleng.

“Aku sudah membelinya oppa.” Alex tersenyum membuat Sehun ikut tersenyum. Namja itu sedikit melirik gelas bubble tea yang berisi cairan berwarna ungu pucat itu dan memicing pada Kai yang terlihat terus memandangi Alex didepannya.

“Ayo kita pulang, Hongbin membuat pie apel kesukaanmu.” Sehun melingkarkan lengannya dipundak Alex tanpa memperdulikan ekspresi muka Kai yang telah berubah.

Ini pertama kalinya bagi Kai, ia melihat secara langsung bagaimana akrabnya Alex dengan Sehun. Sebelumnya Sehun selalu menjaga jarak dan akan menatap dingin Alex yang hendak mencoba akrab dengannya. Sekarang Kai merasa Sehun telah bertranformasi menjadi namja dengan dua kepribadian, berubah hangat saat bersama Alex dan dingin saat bersama orang lain. Terlebih Alex memanggil Sehun dengan sebutan sayang yaitu oppa. Terbesit dipikiran Kai diantara Alex dan Sehun terjadi sesuatu hal yang sengaja mereka sembunyikan.

Kedua, yang membuat Kai hendak menarik Sehun lalu melesatkan sebuah tinjuan diwajahnya adalah dia dengan seenaknya menyebutkan nama namja yang merupakan anggota musuh bebuyutan kelompoknya. Entah bagaimana Sehun bisa begitu akrab dengan namja itu yang jelas Kai tidak menyukainya terlebih namja itu juga masuk dalam ruang lingkup Alex. Entahlah Kai begitu takut dan memiliki firasat Alex sedang dalam bahaya.

“Benarkah oppa!” Sehun mengangguk.

“Ne, ayo kita pulang nanti pie nya dingin.” Sehun hendak menggiring Alex pergi sebelum gadis itu kembali menoleh melihat Kai.

“Kai aku pulang dulu, bye.” Alex tersenyum manis sambil melambaikan tangannya. Kai meresponnya dengan senyum paksa agar ia tidak melihat wajah cemas dari gadis itu lalu ikut melambaikan tangannya.

“Terima kasih Kai sudah menjaga Alex.” Setelah itu mereka berdua berjalan menjauh dari Kai yang masih termenung melihat punggung mereka yang menghilang dibalik ujung jalan sana.

-ooo-

Luhan menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Kepalanya berdenyut hendak meledak. Dia memukul kecil puncak kepalanya berharap rasa sakit itu hilang. Matanya terpejam dan selintas bayangan Alex singgah dibenaknya. Dimana Alex tersenyum kaku padanya. Dimana Alex menangis dalam ciuman mereka hingga Alex yang menolak pernyataan cintanya. Semuanya berputar-putar dalam kepalanya bagai kaset rusak. Luhan frustasi dengan semua kenyataan ini. Bagaimana pun usaha Luhan untuk memaksa Alex menjadi miliknya gadis itu pasti dengan lantang mengatakan bahwa ia menyukai Kai. Luhan tahu itu dan itu adalah hak Alex untuk memilih. Tapi yang sangat disayangkan adalah Alex sama sekali tidak melihat Luhan dari segi pandang manapun. Luhan selalu memperhatikan dan menenangkannya dikala ia terpuruk namun gadis itu tetap saja tak mau membuka hatinya untuk Luhan. Luhan hampir saja angkat tangan kalau saja dia tidak mengingat satu hal.

Belakang ini Luhan sering kali mengalami insomnia dan mimpi buruk yang tak memiliki alur yang jelas. Didalam mimpi itu entah kenapa Luhan sering kali mendengar suara tangis bayi seperti hendak meminta pertolongan dengan Luhan. Awalnya Luhan mencoba untuk melupakannya tapi seiring berjalannya waktu mimpi buruk itu sungguh mengganggunya. Dan entah kenapa mimpi itu kembali mengingatkannya dengan Alex. Luhan juga tidak tahu apa hubungannya tangis bayi itu dan Alex, dia sendiri tidak dapat mengklarifikasinya.

Luhan membuka matanya ketika mendengar daun pintu kamarnya terbuka menampakkan sesosok namja bertubuh tinggi.

“Luhan, apa kau sibuk?” Kris menghampiri Luhan yang baru saja mendudukkan dirinya diranjang.

“Tidak, ada apa?”

Kris tersenyum kecil lalu ikut duduk diranjang Luhan.

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Luhan menautkan alisnya melihat raut wajah Kris yang terlihat serius.

“Katakanlah!” Luhan kini tengah melipat kedua kakinya menunggu pertanyaan dari namja bermata elang itu.

“Kau ingat kejadian 5 tahun yang lalu?”

“Dimana aku terpaksa pulang ke Kanada karena cidera ditubuhku, kau ingat itu?” Lanjut Kris.

Luhan terdiam otaknya berusaha memproses apa yang baru saja dikatakan oleh Kris. Walaupun kejadian itu cukup lama terjadi tapi masih sangat jelas diingatan Luhan tentang peristiwa itu. Luhan tidak bisa membayangkan apabila peristiwa itu kembali terulang dan entah kenapa Luhan memiliki firasat buruk mengenai arah pembicaraan Kris.

“Luhan….”

“Iya, aku mengingatnya lalu?”

“Kau berpikir apa yang sedang kupikirkan.” Luhan menampakkan ekspresi wajah tegangnya. Rupanya Kris berpikiran sama sepertinya.

“Menurutmu apa alasan N membawa masuk Hongbin dalam kehidupan Alex?”

“Maksudmu?”

Kris menghela nafasnya. “Aku baru saja diberi kabar oleh Mr. Lee bahwa N tengah merencanakan suatu hal.” Luhan terlihat cemas. Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk memikirkan hal itu. Hongbin tidak mungkin bergerak seorang diri kecuali tanpa perintah dari orang lain dan Luhan yakin sebab Hongbin mendekati Alex karena perintah dari N yang perlu kalian ketahui adalah pemimpin dari grup mereka. Tapi satu hal, Luhan mulai meragukan bahwa Hongbin adalah sosok namja jahat yang ingin memperalat Alex sebagai gadis sasarannya. Awalnya begitu, tapi melihat ekspresi tulus namja itu saat bersama Alex, rasanya tidak mungkin kalau Hongbin masih menyimpan niat itu. Sehun pernah mengatakan bahwa Hongbin mencintai Alex sama sepertinya terbukti dari beberapa hal. Hongbin akan selalu muncul saat Alex membutuhkannya, seperti pada saat kejadian dihotel waktu itu.

“Kau berpikir Hongbin tengah membalaskan dendamnya atas kematian kakaknya?”

“Aku rasa itu tidak mungkin Kris? Kau bisa lihat bagaimana sikapnya terhadap Alex selama ini.” Kris terdiam namun didalam hatinya dia membenarkan pernyataan Luhan. Kris dapat melihat sorotan ketulusan dari mata pemuda itu terlebih sikap hangatnya pada adiknya. Kris kenal betul sikap pemuda itu dimasa lalu. Hongbin selalu bersikap hangat pada kakaknya dan selalu tersenyum sangat manis pada kakaknya begitu juga bersama Alex, Kris dapat menemukan semuanya. Kris meyakini satu hal rasa cinta Hongbin pada Alex tidaklah hanya bualan belaka.

“Kau percayakan aku tidak melakukan itu!” Kris mencengkram pundak Luhan dengan mata memerah, bukan karena marah melainkan ingin menangis. Ini kedua kalinya bagi Luhan melihat kelemahan seorang ‘Duizhang’. Pertama saat 5 tahun yang lalu Kris menangis karena kehilangan salah satu sahabat terbaiknya sekaligus wanita yang ia cintai ditambah posisi Alex di Kanada tidaklah aman. Kedua dimomen ini, jam ini, menit ini, detik ini, Luhan kembali melihat ekspresi langka dari seorang ‘Duizhang’ yang terkenal dengan julukan ice blood.

Semua ini berawal dari peristiwa lima tahun yang lalu. Exo dan VIXX merupakan teman bukan musuh. Pada waktu itu, Kris hendak menemui Lee Hyunri –Kakak Hongbin- karena merasa bersalah telah memutuskannya secara sepihak. Kris melakukannya bukan tanpa alasan melainkan karena N. Setelah mengetahui kenyataan bahwa N juga mencintai Hyunri membuatnya merasa bersalah terlebih namja itu terlebih dahulu menaruh rasa pada gadis itu. Menurutnya tidak adil karena Kris bertemu gadis itu setelah N berteman cukup lama dengan Hyunri. Melihat perjuangan N selama ini untuk mendapat perhatian dari Hyunri membuat Kris sadar bahwa perjuangannya selama ini tidaklah sebanding dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Menurutnya Hyunri lebih pantas bersanding dengan N dari pada dirinya, jadi Kris memilih memutuskan hubungan mereka walaupun ada perasaan tidak rela didalam hatinya. Namun tidak disangka semuanya justru tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan Kris pada awalnya. Ia berpikir Hyunri akan bahagia dengan N, namun nyatanya gadis itu justru menutup dirinya dengan sekitarnya. N pun begitu. Semenjak Kris memutuskan Hyunri, N memilih menjaga jarak dengan Kris karena begitu kecewa dengan keputusannya. Bagi N semua akan baik-baik saja selama gadis yang ia cintai bahagia.

Dan puncaknya adalah begitu Kris melihat Hyunri tergeletak tak berdaya dikamarnya dengan kedua tangan yang berlumuran darah. Kris memeluk tubuh kaku itu erat dengan tangis pilu yang menggema dikamar bernuansa putih itu. Kris dapat melihat luka sayatan yang menganga dikedua pergelangan tangan Hyunri. Darah segar itu terus mengalir hingga mengenai pakaian yang Kris kenakan. Kris tidak peduli yang jelas ia hanya ingin tubuh yang sedang ia peluk ini kembali membuka matanya dan tersenyum manis padanya. Itu mustahil. Bahkan malaikat maut pun tak akan mendengar beribu permohonan Kris untuk kembali meniupkan nyawa Hyunri ke raganya. Bagi Kris ini merupakan pemandangan paling mengerikan dalam hidupnya setelah melihat sendiri bagaimana frustasinya hidup Alex paska terbunuhnya orang tuanya.

Kris menghapus air matanya. Mata elangnya menangkap benda berkeliau yang tergeletak tidak jauh dari tubuh Hyunri. Kris meraihnya dan menatap nanar pisau yang juga berlumuran darah itu. Kris sangat yakin Hyunri menghabisi nyawa sendiri dengan menggunakan pisau itu. Tidak pernah terpikirkan olehnya gadisnya akan bertingkah nekat hanya karena pemutusan hubungan mereka. Kris merasa bodoh karena sebelumnya dia mengetahui bahwa Hyunri sangat frustasi karena ulah gilanya namun ia justru tidak memperdulikannya. Bagaimana tidak? Hubungan yang sudah terjalin selama 1 tahun itu berjalan mulus tanpa hambatan. Tidak ada pihak ke tiga ataupun pertengkaran yang begitu berarti, jelas saja Hyunri tidak terima dengan keputusan sepihak Kris. Selama ini Hyunri selalu memberikan yang terbaik untuk Kris. Dia tidak pernah merasa pernah menyakiti hati namja berdagu runcing itu.

Mimpi buruk itu datang. N tiba-tiba saja masuk dengan kotak berisi pie apple kesukaan Hyunri. N ingin menghibur gadis itu berharap gadis itu kembali menjadi sosok yang ceria layaknya dulu. Tapi apa yang ia temukan? Hyunri terbaring kaku dalam rengkuhan Kris. N tidak tahu apa yang sudah terjadi yang jelas pikirannya gelap dengan pandangan yang membayang terlebih melihat benda yang sedang dipegang oleh Kris. N kehilangan akal sehatnya hingga pada saat itu juga ia menarik Kris dan memukulnya membabi buta. Ya, N menduga Kris yang tengah membunuh Hyunri gadis yang dicintainya. Hari itu perkelahiaan antara kedua kelompok tak dapat dihindarkan. Kai menghabisi N begitu melihat Kris terlihat hampir sekarat. Itu merupakan penyebab mengapa N begitu membenci Kai. Karena ulahnya lah ia harus membekam dirumah sakit selama berbulan-bulan karena tulang rusuknya yang patah. Luhan lebih membela Kris ketimbang N karena dia percaya sebab kematian Hyunri bukan karena Kris melainkan karena ulahnya sendiri. N merasa tidak terima dengan keputusan Luhan hingga akhirnya Luhan pun menjadi salah satu orang yang menjadi peringkat teratas orang yang paling dibenci oleh Cha Hack Yeon –nama asli N- setelah Kris dan Kai.

“Aku percaya Kris, aku berada dipihakmu.” Luhan tersenyum simpul sambil menepuk pundak Kris yang justru terlihat semakin gusar.

“N sedang merencanakan sesuatu yang berbahaya Luhan! Firasatku mengatakan sasarannya adalah Alex. Kau tahu sendiri gadis itu sekarang lepas dalam pandanganku, aku….aku bahkan tidak tahu dia dimana! Aku sungguh ingin melindunginya!” Kini Kris menangis. Lelaki itu sangat ketakutan dengan nasib adik semata wayangnya itu. Ia tak dapat membayangkan adiknya itu bernasib sama dengan Hyunri nantinya.

“Kris….”

“Kau tahu sendiri kan alasanku masih bertahan sampai saat ini karena siapa?” Luhan mengangguk. Alasannya adalah Alex. Kris tidak mungkin meninggalkan adiknya dengan segala kekurangannya itu. Mungkin kalau Kris tidak mengingatnya sudah dari dulu ia mengikuti jejak orang tuanya ke surga.

“Aku tahu Kris justru itu kau tenanglah. Kita pikirkan baik-baik solusinya.”

-ooo-

Kai membolak-balik modulnya tak selera. Bulan telah memasuki awal Desember pihak kampus sepakat meliburkan para mahasiswanya sebagai liburan musim dingin. Kai cukup senang ingat cukup senang. Para dosen memberikan tugas makalah untuknya dikarenakan nilai Kai yang tidak begitu memuaskan. Untuk menutupi nilai merah itu pihak dosen memberikan setumpuk tugas yang akan menemaninya selama liburan musim dingin yang panjang. Kai mengerang lalu membanting kepalanya dimeja kaca yang berada diruang tengah itu. Namja itu begitu kesepian. Kai memutuskan tinggal diapartemennya dikarenakan suasana mansion yang kian lenggang. Selama 1 bulan pula Sohee menghilang tak berjejak, Kai bahkan tak dapat menghubunginya. Kai merasa sendirian apabila ia tetap tinggal dimansion. Terlebih Alex sudah tidak tinggal dimasion membuat Kai semakin merasa sendirian. Sebenarnya Kai tidak ambil pusing dengan hilangnya Sohee toh ia sudah menyadari bahwa Sohee hanya obsesi sesaatnya. Namun yang menjadi kendalanya adalah Alex. Masih teringat jelas peristiwa penolakan Alex ditaman waktu itu. Kai tahu apa penyebab gadis itu berani menolaknya secara terang-terangan seperti itu. Anggaplah Kai bodoh telah mengabaikan gadis semanis Alex yang tengah menaruh rasa padanya.

Kai mengangkat kepalanya begitu melihat ponselnya berkelip-kelip menampakkan sebuah amplop yang menandakan sebuah pesan baru saja masuk. Kai mengerutkan keningnya begitu melihat nama sang pengirim. Tidak biasanya orang ini mau mengiriminya pesan singkat. Tapi Kai tak ambil pusing dan bersiul kecil dalam setiap langkahnya menuju dapur. Kai hendak membuat ramen untuk mengganjal perutnya disore hari seperti ini. Pilihan tepat, selain mengenyangkan juga dapat membuat tubuh hangat. Kai berniat tidak akan datang dalam undangan makan malam yang akan diadakan dimansion menurutnya tidak seru karena Kai berpikiran Alex tidak akan datang kesana.

Kai menghentikan kegiatannya menuang air dalam panci begitu mendengar suara bel berbunyi. Kai mendesah berat siapa orang yang datang saat perutnya keroncongan minta diisi. Pada akhirnya Kai memilih membukakan pintu walau dengan langkah malas.

CKLEK

Pintu terbuka dan Kai tidak melihat seorang pun dihadapannya. Kai mencibir, pikirnya ini adalah kerjaan para gadis tetangga apartemennya. Memang apartemen dilantai 14 itu dominannya dihuni oleh gadis-gadis yang rata-rata seusia dengannya. Mungkin saja gadis-gadis itu sedang menjaili Kai karena penasaran ingin berkenalan dengannya pikirnya.

Namun Kai yang sudah siap untuk menutup pintu menjadi urung ketika ia menemukan sebuah amplop berukuran sedang dengan tali berwarna coklat yang mengikat disisi tengahnya teronggok begitu saja didepan apartemennya. Ia segera menoleh ke kiri dan kenan, melihat apa ada orang lain lagi. Tetapi tidak, lorong itu benar-benar sepi. Kai bertolak pinggang sambil menatap amplop itu ragu. Dipikirannya mungkin saja itu surat cinta atau semacamnya tapi rasanya itu tidak mungkin mengingat amplop yang digunakan merupakan amplop yang terkesan informal. Maka ia putuskan untuk membawa masuk amplop itu lalu meletakkannya dimeja dapur. Mungkin Kai bisa membukanya setelah ia selesai makan nanti. Otaknya menerka-nerka siapa pengirimnya dan apa isinya. Mengingat pada amplop itu tidak ada alamat pengirim ataupun nama pengirimnya. Namun rasa penasarannya mengalahkan segalanya. Jadi Kai memilih membukanya dan berharap isinya adalah kupon makan ayam goreng gratis.

Kai mengernyit rupanya isinya adalah beberapa lembar foto. Matanya memicing begitu melihat foto Sohee dan Luhan. Apa maksud semua ini? Kai kembali memasukkan foto-foto itu ke dalam amplop dan duduk kaku dimeja makan. Dadanya berdenyut hebat seperti dipukul-pukul dengan gada berduri. Kai tidak tahu perasaan apa yang sedang menyelimutinya antara marah dan juga kecewa. Kai mengepalkan tangannya. Luhan sudah bertindak terlalu jauh dan mulai dari sini Kai harus meluruskannya sebelum pihak lain tersakiti. Kai mencabut keinginannya untuk tidak menghadiri makan malam tersebut. Kai akan datang dengan maksud ingin memberitahu semuanya bahwa Luhan adalah namja penghianat yang patut dihakimi. Ia ingin memperlihatkan siapa sebenarnya yang bajingan disini, Luhan atau Kai. Ia ingin semuanya melihat ini terlebih Alex. Alex harus tahu.

TBC~

 

Gimana? Terjawab gak kegalauan (?) kalian? Semoga kalian puas dengan chap ini. Soalnya author buatnya pas badan lagi gak enak. Maklum pelajar kalau udah sakit kaya zombie hehe. Chapter 11 siap-siap ya konfliknya bakal lebih ekstrim hehe, Comment juseyo ^^

84 responses to “[Freelance] Love Drunk (PART 10)

  1. speechless jadinya :” kenapa sih mesti ada sohee huaaa sebel kan jadinya -,- semoga alex gak kenapa2 deh yaa krn ulah N

  2. Pasti ulah sohee nich…
    Kurang krjaan banget sich tuh orng..
    Mau krjaan bukk…
    Sini..
    Saya btuh pmbntu…
    Kyaaa…
    Kaaiii…
    Itu jbakan… jgan d prcya…
    Apalgismpek ngsih tau k lexa…
    Omooo…
    Daebaakk thooor…
    Lanjutt

  3. Ahh tu c SOHee mauNya Pha sich…??
    Aduuhh,, jgan Kim Kai,, itu Jebakan dri SoHee Pabo..
    Jgan smpE Alex nGelait foto tu..
    Dia psti bakal Salh Paham ma Luhan… 😦
    aaahh Kris-ge kau mNangis… T.T
    lnjut Author-nim..
    CAYO…!!

  4. Huaaaa authorrr sekarang aku kembali suka kai *oke labil* tapi kenapa sih disini bikin aku gregetan huhuhu😢

  5. Mian thor baru komen lagi. Yampun perannya kai bikin aku gregetan!! Hohoho. Sohee rasanya pengen aku jambak. Dia itu jahat bgt sih jadi orang. Bener2 bikin greget ini ff

  6. aahhh jd karena itu toh mereka musuhan.. cuma kesalah pahaman doang. ahh N nya sih yg udh berbikiran negatif..

    duhh yg terakhir bikin perasaan gak tenang.. 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s