[Freelance] MY PRECIOUS PRINCESS (Part 11)

cover baru22

MY PRECIOUS PRINCESS…PART 11

AUTHOR :  AKIKO

GRUP CAST : MBLAQ

CAST : Hikari as main character

Lee Joon MBLAQ

Thunder MBLAQ

SeungHo MBLAQ as Joon’s father

GO as Hikari’s uncle

Genre : Romance, Sad, Family and Comedy

Length : Series

Author poV

“ Joooon, dimana kau letakkan kameraku? Apakah kau telah menaruhnya di dalam kopermu?” tanya Hikari setengah berteriak dari lantai atas.

Walaupun matahari baru saja terbit, Hikari telah sibuk memasukkan beberapa keperluannya ke dalam koper. Ia tampak sangat bersemangat hari ini mengingat ia akan pergi berlibur bersama Joon.

“ Joooon!!! Ppali, dimana kau letakkan kameraku?” Hikari mengulang kembali pertanyaannya dengan menaikkan volume suaranya lebih keras daripada sebelumnya.

Tuk….Terdengar bunyi benturan pelan di bahu Hikari.

Joon datang dengan ekspresi datarnya, dengan membawa kamera Hikari di tangannya.

“ bisakah kau sedikit tenang? Rasanya telingaku nyaris pecah karena mendengar suaramu” ujar Joon sambil menampilkan ekspresi seriusnya namun sebenarnya ia hanya menahan dirinya untuk tidak tertawa. Hikari yang menangkap dengan jelas jika Joon hanya menjahilinya saja, dengan segera ia mengambil kameranya lalu ia mencubit kedua pipi Joon dengan keras.

“ jika ingn tertawa, tertawa saja. “ ujar Hikari dengan senyuman di wajahnya.

Joon hanya dapat tersenyum melihat Hikari yang begitu bersemangat pagi ini.

“ tersenyumlah seperti sekarang, Hikari” Jawab Joon sambil memgang tangan Hikari yang masih berada di pipinya. Hikari yang terlihat gugup segera melepaskan tangannya dari pipi Joon, kini justru pipinya yang memerah.

“ ayo berangkat, “ potong Hikari sembari membalikkan badannya dan mengambil kopernya, Joon yang melihat tingkah Hikari hanya tersenyum geli melihat perubahan sikap Hikari. Ketika mereka sampai di garasi mobil, Hikari hanya berdiri diam menunggu Joon yang berjalan di belakangnya dengan santai. Hikari merasa sedikit malu karena telah berjalan terlebih dahulu karena ia baru ingat jika kunci mobilnya berada di tangan Joon sehingga ia hanya dapat menunggu Joon dengan menundukkan kepalanya. Mengerti dengan keadaan Hikari, Joon sepertinya tak ingin mengusili Hikari lebih banyak lagi sehingga ketika ia datang, dengan cepat ia buka bagasi mobil dan meletakkan semua tas di dalamnya.

“ kau hanya ingin berdiri di situ saja??” tanya Joon geli melihat Hikari yang hanya berdiri mematung. Joon segera membukakan pintu mobil untuk Hikari dan Hikari dengan hati-hati masuk ke dalam mobil namun itu sama sekali tak mengurangi rasa gugupnya sekarang.

“ anggaplah tak ada yang berubah Hikari, lagipula ini bukan pertama kalinya kita pergi berlibur bersama kan?” ujar Joon menenangkan Hikari yang tampak gugup.

“ geez, ia terlihat sangat tenang, sedangkan aku? “ gumam Hikari pelan, namun sepertinya Joon memiliki pendengaran yang cukup baik.

Tiba-tiba Joon meletakkan tangan Hikari di atas dadanya, dari telapak tangannya Hikari dapat merasakan jika jantung Joon berdegup begitu kencang. Hikari hanya dapat terdiam dalam beberapa menit, lalu Hikari mulai tertawa.

“ wae?” tanya Joon bingung.

“ aniya…ayo kita berangkat. Kau akan mengajakku kemana?” tanya Hikari penasaran.

“ kau akan tau nanti “ jawab Joon sambil menyalakan mesin mobil dan memasang sabuk pengamannya.

Beberapa menit berselang namun mereka sama sekali tak mengucapkan sepatah katapun.

“ bagaimana ini? Sepertinya kita terjebak dalam suatu hubungan yang terlarang” ucap Joon memecah keheningan di antara mereka.

“ mwo?!!! Hubungan terlarang? Bahkan aku bukan adikmu, bagaimana bisa kau menyebutnya suatu hubungan terlarang?”

“ haha..jangan salah paham Hikari, aku hanya menyadarkanmu saja jika kau baru saja meyerahkan hatimu pada pelayanmu sendiri” jawab Joon geli.

“ baru saja?? Bahkan aku telah menghabiskan umurku hingga saat ini dengan setiap saat melihatmu, mendengar ocehanmu aish….malang sekali nasibku.” Balas Hikari namun kini ia tampak sedikit memanyunkan bibirnya.

“ aku tak tahu apa yang terjadi padaku jika tak ada dirimu, orang tuaku pergi di saat usiaku masih sangat muda untuk menerima apa arti dari kesepian. Di saat itulah ayahmu membawamu ke rumahku dan kau menjadi segalanya bagiku, disaat aku memerlukan bantuanmu kau bersikap sebagai pelayan yang terbaik bagiku, disaat aku kesulitan dalam mempelajari suatu hal baru, kau dapat menjadi guru yang baik bagiku sampai disaat tersulit pun kau selalu yang terdepan memberikan bahumu untuk tempatku bersandar. Namun terkadang aku sering merasa jika kau semakin menjaga jarak denganku, dan hal itu kerap kali membuatku ketakutan jika kau akan pergi meninggalkanku.” Jelas Hikari dengan ekspresi datar, pandangannya tetap fokus ke jendela mobilnya. Matanya terlihat nanar saat ia mengucapkan kalimat jika Joon akan meninggalkannya.

Joon yang sedikit tercengang dengan penjelasan Hikari, akhirnya ia mulai membuka penjelasannya.

“ kau ingin tahu bagaimana kesan pertamaku saat melihatmu?” ujar Joon serius namun suaranya tetap selembut beludru yang terdengar jelas di telinga Hikari.

Hikari hanya dapat terdiam sambil memandangi wajah Joon dengan ekspresi penasaran.

“ gadis kecil dengan balutan gaun yang indah, namun matanya seolah-olah mengatakan padaku jika gadis kecil itu tak membutuhkan siapapun di dalam hidupnya. Pandangan pertamamu padaku dulu, merupakan tatapan gadis kecil yang memiliki hati segelap malam dan sedingin salju sehingga ingin rasanya aku memperlihatkan padamu sedikit kehangatan yang ada di dunia ini untukmu. Beberapa saat setelahnya, aku sempat benar-benar kesal padamu karena kau sama sekali tak ingin berbicara padaku, sampai akhirnya aku ingin berhenti menjadi pelayanmu dan pergi dari rumahmu.”

Tatapan Joon tetap terfokus pada kemudinya, namun perlahan pikirannya menerawang jauh ke dalam memory lamanya.

Flashback

“ Hikari…!! kau harus makan makananmu jika kau ingin tetap bertahan hidup. Kau bukan gadis biasa jadi kau tak boleh mati sekarang!!!”

Seorang anak laki-laki kecil terdengar berteriak kepada seorang gadis kecil yang terduduk manis di tengah-tengah segala kemewahan yang menyelimutinya namun kemewahan itu seakan-akan tak dapat mengembalikan senyumannya. Gadis kecil itu hanya diam memandangi Joon kecil dengan tatapan kosong, hingga Joon telah kehilangan kesabarannya.

“ Apa kau membenciku?? Mengapa kau sama sekali tak menjawab ketika aku berbicara denganmu?”

Gadis itu hanya kembali diam lalu ia menundukkan kepalanya.

“ jika memang itu maumu, maka aku tak akan tahan dengan seseorang yang bahkan hanya menganggapku sebagai patung pajangan di dalam rumah mewahnya. Aku akan pergi, Selamat tinggal Nona besar!!”

Sebagai anak kecil yang belum pintar mengatur emosinya, Joon segera pergi meninggalkan Hikari sendirian di meja makan.

Namun ketika Joon baru melangkahkan beberapa langkah kakinya menjauh dari Hikari, gadis kecil itu menarik pelan jas Joon dari belakang. Ia menatap Joon dengan matanya yang jernih.

Hikari segera menarik Joon kedalam kamarnya lalu gadis kecil itu membuka rak bajunya. Ia tampak mengelurakan sebuah kotak kecil yang berisi potongan permen coklat.

“ ketika eomma marah padaku, maka aku akan membagikan coklat ini padanya sebagai obat agar ia tak marah lagi padaku. Sekarang coklat ini menjadi tak berguna karena eomma sudah tak ada lagi di sampingku.” Ujar Hikari kecil lirih, matanya meneteskan air mata yang mengalir ke pipinya yang kemerahan.

“ Karena eommaku telah tiada, maukah kau memakan coklat ini bersamaku? Apakah ini cukup untuk meredakan amarahmu?”

Tangan kecil Hikari mengambil beberapa potong coklat dari tempatnya dan menaruhkannya ke dalam telapak tangan Joon.

“ jangan pergi, aku akan sendirian tanpamu Joon” bujuk Hikari kecil dengan tangan penuh coklat yang akan diberikannya kepada Joon.

“ jika coklat ini tak cukup untuk membuatmu tetap tinggal, aku bisa membelinya lebih banyak lagi hingga kau tetap tinggal disini bersamaku Joon”  tangis Hikari sambil meratapi tangan kecilnya yang sudah tak mampu lagi menampung coklat.

Joon menyadari jika ia telah membuat menangis gadis kecil yang selama ini ia sukai, maka ia mengambil sebutir coklat dari tangan Hikari dan membaginya menjadi dua.

“ mari kita berbagi dalam kehidupan ini Hikari, seperti aku mebagi coklat ini padamu” jawab Joon sambil menyuapkan separuh potongan coklatnya untuk Hikari.

“ uljima,…aku akan tetap disini bersamamu” Joon berkata lembut pada Hikari sambil kembali membagi coklat di tangan Hikari hingga coklat-coklat itu habis satu persatu oleh mereka.

Flash back end

“ aku sama sekali tak berbicara pada siapapun di awal pertemuan kita” respon Hikari ringan.

“ yah, kuakui hal itu cukup menjengkelkan bagiku namun perlahan aku kembali menemukan senyuman nona besar yang hilang” ujar Joon sambil tersenyum.

Hikari hanya dapat tersenyum saat mendengar perkataan Joon, tanpa disadari mereka telah sampai di suatu tempat yang ramai oleh orang yang berlalu lalang.

“ hei, Joon mengapa kau mengajakku ke bandara?” tanya Hikari bingung.

“ kita tidak akan pergi keluar negeri kan?”

“ sayangnya liburan kali ini, kita akan menempuh jarak yang cukup jauh. Namun aku yakin jika kau sama sekali tak asing dengan tempat yang akan kita kunjungi nanti” jelas Joon dengan menyimpan seribu arti di dalam ekspresinya.

Hikari hanya dapat mengikuti Joon yang berjalan mendahuluinya, saat melihat tiket pesawat yang dipegang Joon, dengan cepat Hikari mengambilnya.

“ mwoo? Kita akan kembali ke korea?? Apa kau gila Joon, bahkan aku belum meyelesaikan studyku di sini” ujar Hikari serius.

“ aku tak mengatakan jika kita akan meninggalkan London dan melupakan studymu, namun tak inginkah kau mengunjungi tempat ini?” jawab Joon sambil menunjukkan sebuah kunci dengan gantungan pohon cemara kecil.

“ kita akan pergi ke villa eomma?”

“ apakah kau tak merindukannya?” ujar Joon yang membalikkan pertanyaannya pada Hikari.

“ tentu saja aku merindukannya, sudah sekian lama aku tak mengunjungi villa eomma. Aku penasaran bagaimana rupa villa itu sekarang.”

“ tak ada yang berubah sedikitpun, aku telah memerintahkan beberapa pelayan untuk tetap merawatnya dengan baik. Kita hanya akan berada di sana selama 3 hari jadi kau tak perlu cemas.” Jelas Joon yang sangat paham jika Hikari sangat mengkhawatirkan pamannya yang berada di London jika ia tiba-tiba pergi kembali ke Seoul.

“ kau melakukannya dengan baik, Joon “ jawab Hikari ringan sambil berlalu mendahului Joon.

Joon tersenyum ringan memandangi Hikari yang berjalan dengan riangnya, sehingga ia terbawa akan suasana hatinya yang baik hari ini sehingga ia dengan tiba-tiba memeluk Hikari dari belakang.

“ a..apa yang kau lakukan Joon.” Tanya Hikari bingung dengan nada yang gelagapan.

“ ternyata seperti ini rasanya, …” ujar Joon sambil tersenyum dan melirik Hikari jahil.

“ maksudmu?” Hikari tetap kebingungan menatap ekspresi Joon yang tak seperti biasa karena menurutnya Joon terlalu ceria hari ini.

Sedangkan Joon hanya tersenyum penuh makna sembari mengedipkan sebelah matanya pada Hikari.

Hikari segera menyodok perut Joon dengan siku tangannya, “ ya! Kau ingin kita menjadi pusat perhatian karena ulahmu?”. Sebenarnya Hikari sudah terlampau malu dengan perlakuan Joon.

“ aku tak peduli dengan yang lainnya, karena pada kenyataanya sejak dahulu perhatianku hanya tertuju padamu.” jawab Joon lembut.

Hikari yang salah tingkah dengan sikap Joon hari ini segera menariknya untuk segera mengurus keberangkatan mereka, sebelum Hikari semakin memerah pipinya.

Di pesawat….

Hikari dan Joon terlihat sangat menikmati penerbangan mereka, serta mereka menyempatkan untuk mengambil beberapa foto berdua. Setelah lelah berfoto, Hikari segera mengambil kameranya dari tangan Joon dan terlihat jika Hikari ingin melakukan sesuatu hal usil untuk Joon.

“ apa yang kau lakukan?” tanya Joon penasaran dengan apa yang sedang dilakukan Hikari sehingga ia sedikit mendekatkan tubuhnya agar Joon dapat mengetahui apa yang sedang Hiakri lakukan. Sedangkan Hikari sedari tadi hanya tersenyum sembari mengutak-atik laptopnya.

“ YA!!! Hentikan..!!” ujar Joon setengah berteriak, karena ia telah mengetahui jika Hikari mengedit foto Joon dengan sangat parah hingga muka Joon labih menyerupai alien daripada dengan muka aslinya.

“ shireo…haha..” jawab Hikari menolak ancaman Joon, Hikari tampak sangat menikmati pekerjaannya saat ini.

“ hei, mengapa kau rusak wajahku yang sudah tampan?” Joon berpura-pura terlihat jengkel dengan tingkah Hikari namun sepertinya Hikari sama sekali tak memperdulikan kejengkelan Joon saat ini.

“ tampan? Mengapa kau begitu bangga dengan wajahmu? ” respon Hikari ditengah-tengah tawanya.

“ ehmm pertanyaanmu sedikit rumit, kau tau sulit bagi seseorang yang telah ditakdirkan  menjadi tampan untuk menjawab pertanyaan mengapa ia suka menjadi tampan.”

“ kau benar-benar memiliki banyak kepercayaan diri yang tak berguna”

“ tapi kau menyukainya, kan?” sindir Joon jahil.

“ lupakan…” jawab Hikari sambil memukul Joon dengan bantal yang berada di sampingnya.

Joon hanya tersenyum geli dan menggunakan bantal yang baru saja dilempar Hikari untuk tidur.

“ agh…aku sangat lelah,” gumam Joon seorang diri sedangkan Hikari sendiri masih sibuk megutak-atik hasil jepratannya.

Setengah jam berlalu, dan Hikari mulai merasa bosan karena Joon sedang tidur pulas di sampingnya, perlahan Hikari menyentuh wajah Joon dan ia nampak tersenyum manis di dalam tidurnya.

“ ckck, dasar kau memang type penggoda Joon, siapa yang tak akan terpikat jika saat tidurpun kau masih sempat menebar pesonamu seperti itu” bisik Hikari pelan namun tanpa sepengetahuan Hikari, Joon malah menarik tangan Hikari dan membawa Hikari ke dalam pelukannya.

“ sst, kau dilarang berbicara seorang diri, apalagi membicarakan orang yang sedang tidur. Aku hanya tertarik dengan satu yeoja, jadi sekarang diam dan beristirahatlah” gumam Joon sambil tetap memejamkan matanya namun Hikari hanya tersenyum geli di pelukan Joon.

Akhirnya mereka berdua terlelap di sepanjang perjalanan mereka.

Beberapa jam berlalu, tanpa terasa mereka telah sampai di bandara Korea dan mereka segera dijemput oleh salah satu supir keluarga Hikari serta mereka segera bergegas menuju villa.

Di tengah perjalanan..

“ Joon, lihatlah…hehe” ujar Hikari sambil menunjukkan wallpaper pada layar Handphonenya.

“ aish…segera hapus gambar itu Hikari” jawab Joon sambil merebut HP Hikari dari tangannya.

“ shireo, shireo..” balas Hikari dengan menjulurkan ujung lidahnya keluar sebagai tanda jika Hikari sedang mengerjainya.

“ mwoo! Kau sengaja mengganti password Handphonemu kan? Sehingga aku tak bisa menghapusnya.” Ucap Joon sembari mengutak-atik HP Hikari.

“ kau pikir  aku akan memudahkan jalanmu untuk menghapusnya? Tidak akan pernah “

“ baiklah jika itu maumu,” respon Joon pelan namun perlahan Joon semakin mendekatkan tubuhnya mendekati Hikari sehingga Hikari menjadi salah tingkah.

“ a..apa yang akan kau lakukan?”

Namun Joon hanya diam, dan semakin mendekatkan wajahnya pada Hikari hingga jarak diantara mereka hanya beberapa centi saja, tentu saja hal tersebut membuat Hikari semakin gugup dan tanpa sengaja Hikari memejamkan matanya. Namun yang terjadi adalah…

“ hapus gambar itu, atau aku akan terus menggeletikimu” canda Joon tiba-tiba. Sepertinya Joon  mengetahui jika Hikari salah sangka padanya dan Joon hanya tertawa lepas menikmati wajah Hikari yang memerah karena malu.

“ hentikan Joon, ! haha…ini sangat geli” ucap Hikari sambil tertawa karena Joon mengerjainya dan akhirnya Hikari dengan cepat menangkap tangan Joon lalu mendorongnya menjauh.

Joon terlihat sangat bahagia dapat mengerjai Hikari hingga ia terbatuk-batuk karena tawanya.

“ sst,..ini sangat memalukan.” Bisik Hikari pelan karena ia tersadar jika mereka sedang berada di dalam mobil.

“ ne..ne..araseo “ jawab Joon dengan memegang perutnya karena menahan tawa.

Sekilas Joon segera mengubah ekspresinya menjadi serius karena ia tersadar sedari tadi supir Hikari terlihat menahan tawanya juga karena melihat tingkah mereka. Sesampainya mereka di villa, Hikari segera menghambur keluar mobil dan dengan sengaja membiarkan Joon membawa semua tas mereka.

“ itu hadiah untukmu Joon “ kata Hikari riang sembari ia berlari menuju taman villanya.

Setelah Joon bersusah payah menurunkan semua koper dan tas mereka, Joon segera menghampiri Hikari yang sedang duduk di taman dimana ia dulu sering bermain dengan ibunya.

“ semuanya telah berubah Joon, kini aku harus tumbuh dewasa dan harus terus menguatkan diriku.” Ucap Hikari setelah menyadari kehadiran Joon yang duduk di sebelahnya.

“ yah..segalanya memang berubah namun jangan biarkan perubahannya melemahkanmu Hikari, segala masalah pasti memiliki makna untuk membuatmu kembali lebih baik. Percayalah padaku..” respon Joon lembut dan beberapa detik kemudian ia menggenggam tangan Hikari erat-erat.

“ aku mengerti, setidaknya hal itu yang kini kupercayai.” Balas Hikari sambil menyandarkan kepalanya di pundak Joon dan Hikari membalas genggaman tangan Joon yang terasa hangat di telapak tangannya.

Di tempat lain…..

Tampak seorang wanita dengan pakaian yang menunjukkan kekuasaannya tengah berdiri mematung di balik jendela ruang kerjanya, meskipun ia terlihat melamun namun sebenarnya pikirannya telah menyusun berbagai rencana di otaknya. Beberapa menit kemudian, datanglah assistennya yang tampaknya ia membawa berita penting bagi tuannya.

“ saya telah menemukannya, nyonya. Ia berada di korea, tepatnya di villa itu” ujar assistennya singkat.

“ arraseo, aku mengerti. Ikuti terus perkembangannya dan jangan melakukan langkah apapun sebelum aku memberi perintah, kau mengerti?”

“ ne..” jawab assistenya sambil membungkukkan badannya lalu ia segera pergi meninggalkan ruangan.

Segera setelah assistennya pergi, wanita itu perlahan duduk di meja kerjanya dan  ia terlihat sedang menandatangani beberapa dokumen penting, tanpa sengaja siku tangannya menyenggol buku tebal yang ada di sebelahnya dan selembar foto muncul dari sela-sela lembaran buku tersebut.

Dengan pandangan yang nanar, ia ambil foto tersebut air matanya tampak mengalir di wajahnya yang sudah tak muda lagi.

“ maafkan ibu, Joon. Ibu tak bisa menjadi ibu yang baik untukmu. Di kemudian hari ibu pasti membayar hutang ini padamu.” bisik wanita itu seorang diri, beberapa saat ia membiarkan dirinya menangis namun tak butuh waktu lama untuk ia menghapus air matanya dan meraih telpon yang ada di meja kerjanya.

“ Pengacara Jung, segera siapkan dokumen yang diperlukan, aku telah memutuskan jika aku akan menyerahkan usaha ini untuk anakku Joon. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengannya secepatnya.” Ujar wanita itu tegas.

Malam harinya, Joon dan Hikari tampak bosan karena mereka hanya duduk berdua di sofa sambil menonton siaran televisi yang membosankan.

“ aku bosan, Joon. Aku bosaaan” ujar Hikari sambil membuang remote TV dari pangkuannya.

“ ah, bagaimana jika kita pergi berkuda? Pasti akan sangat menyenangkan.” Jawab Joon bersemangat.

“ malam-malam seperti ini? “

“ mengapa? Bukankah vila ini memiliki lapangan pacuan kuda ? Kita hanya berkeliling sebentar lagipula kita sudah lama tak bertanding balap kuda Atau jangan-jangan kau takut jika kalah denganku?” kata Joon yang memanas-manasi Hikari agar mau bertanding balap kuda dengannya.

“ baiklah mengapa tidak? Awas jika kau kalah, kau akan menerima hukumannya Joon.” Balas Hikari yang menerima tantangan Joon.

Mereka berdua segera menuju tempat pacuan kuda yang berada di area villa Hikari.

“ kau boleh memilih kudamu terlebih dulu Hikari” ujar Joon sambil tersenyum simpul.

“ apakah kau sedang meremehkanku? Kita akan memakai cara yang adil, ok? “ jawab Hikari sembari mengeluarkan sebuah koin dari sakunya.

“ jika yang keluar adalah sisi depan maka aku yang memilih kuda terlebih dahulu, jika sebaliknya maka kau boleh memilih dulu, bagaimana?” tambah Hikari yang tengah bersiap melempar koinnya.

“ ok, kita coba saja..^^”

Ting…koin pun terlempar ke udara dan dengan cepat Hikari menangkapnya.

“ bagaimana?” tanya Joon yang penasaran dengan hasilnya.

Hikari pelan-pelan mengintip ke dalam telapak tangannya, dan seketika ia berteriak gembira.

“ yaa…aku menang ^^, kau boleh melihatnya” ujar Hikari sambil menunjukkan koin yang terletak di telapak tangannya.

“ haha…aku mengerti, sekarang pilihlah kuda terbaik dan pastikan kau tak akan kalah olehku.” Canda Joon santai yang sama sekali tak menghiraukan kekalahannya.

Hikari tentu saja memilih kuda paling baik karena ia tak ingin kalah oleh Joon namun sepertinya Joon sama sekali tak terpengaruh oleh pilihan Hikari karena sedari tadi Joon hanya tersenyum memandanginya dengan penuh makna. Setelah Hikari selesai memilih kudanya, Joon dengan santai memilih kuda mana saja yang tersisa.

“ kau siap?” tanya Joon pada Hikari dengan nada yang sedikit jahil.

“ tentu saja..” jawab Hikari yang juga tak mau kalah.

Akhirnya mereka berdua bertanding balap kuda di area sekitar villa mereka tampak sangat menikmati momen tersebut, pada awalnya Hikari memimpin di depan namun tiba-tiba Joon berhasil memimpin di saat-saat terkahir dan akhirnya pertandingan tersebut dimenangkan oleh Joon.

“ bagaimana Hikari? Aku akan menang, bukan? ^^” ujar Joon sedikit terngah-engah namun ia tak dapat menyembunyikan kegembiraannya.

“ tertawalah sesukamu Joon, lain kali aku akan mengalahkanmu” jawab Hikari sambil turun dari kudanya.

“ nah hukuman apa yang pantas untukmu, Hikari?” sindir Joon yang masih tetap berada di atas kudanya.

Hikari yang terlihat sedikit kesal, namun setelahnya ia tertawa karena kekalahannya sendiri.

“ kemarilah,” kata Joon lembut.

“ wae??”

“ kau tak ingin kabur dari hukumanmu kan?”

Akhirnya Hikari pun mendekat ke arah Joon, lalu setelahnya Joon segera mengulurkan tangannya bagi Hikari.

“ kau akan mengabulkan permintaanku kan? “ tanya Joon.

“ apa yang kau minta?” Hikari kembali menanyakan permintaan Joon sembari tanganya meraih tangan Joon.

“ naiklah, aku ingin menaiki kuda ini bersamamu. “ jawab Joon pelan, namun suaranya terdengar seperti hembusan angin yang begitu menyegarkan bagi Hikari.

Hikari hanya tersenyum malu mendengar permintaan Joon namun ia juga tak dapat menolaknya.  Kini mereka menunggangi kuda tersebut berdua lalu mereka mengelilingi area villa itu bersama-sama.

“ sejak pertama kali aku melihatmu belajar naik kuda, aku selalu meyakinkan diriku agar aku dapat menungganginya lebih baik darimu. Ketika aku melihatmu belajar dengan keras, maka aku akan selalu berusaha lebih banyak untuk belajar daripada dirimu. Dan ketika seluruh keahlian yang telah kau pelajari sejak kecil maka aku akan selalu berusaha lebih unggul darimu.” Ucap Joon di tengah-tengah perjalanan mereka, kini jarak mereka sangat dekat hingga Hikari dapat merasakan suhu tubuh Joon dari punggungnya.

“ kau ingin tau mengapa aku melakukan semua itu? Aku melakukannnya karena aku ingin melindungimu. Di semua hal yang kau pelajari, dalam hal apapun aku selalu ingin melindungimu, menjadi tempat bersandar bagimu karena aku tak ingin kau terluka.”

“ kau sudah cukup melindungiku, Joon.”  Jawab Hikari lembut sambil menggenggam tangan Joon yang memegang tali kekang kuda.

“ saranghae..” bisik Joon.

Hikari segera menoleh ke belakang, dan ia mendapati seorang namja yang dicintainya itu memancarkan tatapan yang begitu tulus padanya. Hikari tersenyum lembut pada Joon, lalu Joon perlahan mendekatkan wajahnya pada Hikari dan menciumnya dengan sangat hati-hati seolah-olah Hikari adalah kuntum bunga yang mudah hancur.

“ nado saranghae,… Joon” batin Hikari sembari meneteskan air mata bahagianya bagi Joon.

TO BE CONTINUED…

DON’T FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT ^^

8 responses to “[Freelance] MY PRECIOUS PRINCESS (Part 11)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s