[Freelance] MY PRECIOUS PRINCESS (Part12)

cover baru22

MY PRECIOUS PRINCESS…PART 12

AUTHOR :  AKIKO

GRUP CAST : MBLAQ

CAST : Hikari as main character

Lee Joon MBLAQ

Thunder MBLAQ

SeungHo MBLAQ as Joon’s father

GO as Hikari’s uncle

Genre : Romance, Sad, Family and Comedy

Length : Series

Hikari PoV

“ nado saranghae..Joon”

Batinku masih saja terus mengulang kalimat sederhana yang terdengar begitu berharga, lebih tepatnya karena hatiku merasa damai dan termiliki saat ini. Ya, hatiku kini hanya milik namja yang setiap harinya selalu kuajak bertengkar namun itulah Joon yang kukenal ia adalah jiwa yang berwarna sehingga aku pun tak mampu mengekspresikan seperti apa ia dimataku. Di mataku Joon adalah Joon, namja yang kucintai tanpa alasan mengapa aku jatuh hati padanya.

Kini namja itu sedang tertidur pulas di pangkuanku, jika bukan karena kekalahanku bertanding balap kuda dengannya tak mungkin aku sekarang terduduk dengan Joon dipangkuanku. Bahkan aku terlalu malu untuk bersikap layaknya pasangan yang berpacaran karena Joon telah menjadi suatu bagian dalam hidupku. Rasanya akan terasa canggung jika semuanya harus terlihat romantis nan dramatis seperti yang ribuan kali muncul dalam drama percintaan. Aku hanya menginginkan kisah yang sederhana, dimana aku mencintainya dan ia juga mencintaiku dan kita bangun itu semua berlandaskan kesetian dan kepercayaan. Aku tak ingin mendahului takdir apa yang akan terjadi pada diriku kelak, namun kuharap jika Joon akan terus bersamaku, menjadi satu-satunya milikku hingga aku menua.

Pandanganku terfokus pada wajah polosnya ketika terlelap, semakin aku melihatnya maka aku semakin jatuh hati padanya dan perasaanku padanya semakin terikat kuat seolah-olah aku tak akan sanggup jika Joon pergi meninggalkanku.

Kuusap pelan rambutnya yang lembut, kemudian tanpa sengaja Joon memegang tanganku.

“  gomawo..” ucapnya lirih dalam keadaan mata masih terpejam.

Aku hanya terdiam dan terus memandanginya dengan senyuman di wajahku.

“ terima kasih, karena kau tak membiarkanku pergi, terima kasih karena kau tetap disini bersamaku bahkan untuk menyadari jika hatimu adalah milikku seakan-akan aku  merasa ini adalah mimpi” tambah Joon.

“ apakah sesulit itukah jika hatiku kini bersamamu Joon? Apakah aku membebanimu?” tanyaku ragu.

“ kau tau, sudah cukup lama kusimpan erat-erat perasaanku padamu, bahkan aku sempat berfikir jika ingin menguburnya dalam-dalam dan tak membiarkanmu mengetahuinya. Kini……..seperti sebuah keajaiban yang tak ingin kupercayai namun kau tampak begitu nyata olehku, maka Aku berfikir aku tak akan sanggup melepaskanmu.” Jelas Joon yang telah membuka matanya dan kini ia menatapku dengan pandangan paling indah yang pernah kutemui.

“ Percayalah Joon, aku pun memikirkan hal yang sama denganmu. “ jawabku sambil mengeratkan pegangan tanganku pada Joon.

Keesokan harinya adalah hari dimana aku harus kembali ke London, sehingga kami harus mengambil penerbangan paling pagi.

Sesampainya di London, Thunder oppa tampak menjemputku di bandara namun melihat ekspresinya kini tak tampak seperti ia sedang dalam keadaan yang baik untuk menjemputku.

“ oppa…” sapaku pada Thunder oppa yang masih memakai setelan jas lengkapnya.

“ Kita butuh berbicara serius Hikari, keadaannya benar-benar tak menguntungkan sekarang.” Ucapnya gugup sambil menarik pergelangan tanganku pelan, namun aku justru semakin bingung dengan hal apa yang terjadi dengannya.

“ ada apa?” tanya Joon singkat yang terdengar sangat jelas jika ia memotong pembicaraan Thunder oppa.

“ Ayah akan mengadakan rapat komisaris dua hari lagi dan kau tau ini lebih cepat dari dugaan sebelumnya. Para pemegang saham menuntut kejelasan akan status perusahaan orang tua Hikari jadi ayah ingin aku menjemput Hikari untuknya.” Jelas Thunder oppa cepat, karena ia sendiri tak terlalu peduli jika Joon bertanya padanya tapi yang jelas  tatapan Thunder oppa kini terlihat dia sangat mengkhawatirkanku.

“ aku akan baik-baik saja, oppa. Ayo kita berangkat.” Jawabku yang tak dapat menunda lagi keputusanku.

Joon yang mengikutiku dari belakang terlihat sama khawatirnya dengan Thunder oppa namun kini aku tak memiliki cukup waktu untuk menenangkan mereka berdua, karena kini aku sangat memikirkan nasib Paman GO yang harus menanggung segalanya seorang diri.

Setibanya di rumah Paman GO, aku segera berlari menuju ruangannya karena aku hanya ingin mendengarkan penjelasan langsung darinya. Dengan terpaksa aku meninggalkan Thunder oppa dan Joon sendirian walaupun kutahu itu bukanlah suatu keputusan yang tepat namun aku tak memiliki pilihan lain kini.

Hikari PoV end

Joon PoV

“ apakah keadaannya benar-benar gawat?” tanyaku pada Thunder ketika kami sedang menunggu Hikari yang sedang berbicara empat mata dengan pamannya.

“ aku tak ingin berkata yang sebenarnya, namun sepertinya kau harus lebih memperhatikan Hikari mulai hari ini karena mungkin ia akan lebih sibuk daripada sebelumnya dan yang pasti adalah…” Seketika penjelasan Thunder terhenti.

“ wae?” tanyaku asal.

“ aku benci mengatakannya namun ketika ia sedang terpuruk berjanjilah jika kau akan selalu ada untuknya, karena aku tahu jika aku tak mampu melakukan tugas itu untuk Hikari. Kupercayakan ia padamu, namun jika sekali saja kau mengecewakannya maka aku tak akan segan-segan mengambil Hikari dari tanganmu, “ ucap Thunder tajam, tentu saja tak ada nada keramahan dalam nada bicaranya. Harmonisasi antara kesedihan, kekhawatiran serta harapan. Kira-kira seperti itulah ekspresi Thunder kini.

“ aku akan terus menatapnya, karena hanya dialah yang ada di mataku jadi kau tak perlu mengkhawatirkannya.”

“ baiklah, pastikan jika kau dapat memegang perkataanmu.” Jawab Thunder datar dan kemudian ia hanya berdiri sembari menunggu Hikari keluar dari ruangan.

Kira-kira satu jam berlalu, Hikari keluar ruangan dengan wajah yang sangat tegang dan serius. Namun yang kutahu ketika menatapku ia berusaha mengatakan jika ia baik-baik saja tapi aku tak dapat menampik jika aku sangat mencemaskan keadaannya sekarang.

“ bagaimana? “ tanya Thunder pada Hikari tanpa memperdulikan jika aku masih ada di dekat Hikari.

“ aku tahu jika hari seperti ini akan datang, oppa bisakah kau siapkan berkas para pemegang saham yang berada di perusahaan? Aku membutuhkannya sekarang” jawab Hikari dengan nada yang sangat jelas jika ia berusaha untuk tetap tenang.

“ aku mengerti, sekarang lebih baik kau pulang dan beristirahatlah sejenak, aku tak ingin kondisi kesehatanmu memburuk seperti dulu” jawab Thunder ramah, akupun berusaha untuk tetap bijak dalam situasi seperti ini karena Thunder merupakan salah satu pemegang peran penting dalam perusahaan Hikari kelak.

“ Ayo kita pulang” ajakku pelan pada Hikari, dan ia mengikutiku dari belakang dengan langkah yang berat.

Setibanya di dalam rumah, Hikari segera berjalan mendahuluiku dan menaiki anak tangga menuju kamarnya, sejak ia keluar dari ruangan pamannya Hikari menjadi tak banyak bicara. Aku tak ingin membuat pikirannya menjadi lebih kacau lagi sehingga aku hanya membiarkannya seorang diri.

Beberapa saat aku terdiam memikirkan jalan keluar untuk membantunya, namun tiba-tiba handphoneku berdering, terlihat sebuah pesan masuk.

. Joon, tentu kau telah mengetahui jika Hikari akan segera menempati posisinya lebih cepat dari dugaan semula, maka bantulah ia mengurus pemindahan posisinya karena Hikari masih terlalu muda untuk menempati posisi itu. Kukirimkan file berisi seluruh laporan penting perusahaan Hikari dari tahun ke tahun serta data- data perusahaan besar yang akan menjadi saingan berat Hikari kelak. Gunakan itu dengan baik, aku hanya dapat sedikit membantumu namun kuharap itu cukup untuk memberi gambaran yang jelas akan keadaan yang sekarang terjadi

Appa menulis pesannya padaku, aku dapat mengerti jika selama ini justru appa sangat memperhatikan dan melindungi Hikari walaupun terlihat seperti appa menggunakanku sebagai alat untuk mengawasi Hikari namun aku tak terlalu memikirkan hal itu secara berlebihan karena aku pun juga ingin melindunginya. Segera kubuka laptopku yang berada di kamar dan segera kubuka emailku.

Seluruh dokumen telah dikirim rapi oleh appa, namun aku sengaja tak memberitahu Hikari akan perihal dokumen yang appa berikan padaku, aku tau jika Hikari mengetahuinya maka itu akan melukai harga dirinya dan ia hanya akan bebicara jika ia dapat melakukan segalanya seorang diri.  Segera kubaca diam-diam dokumen tersebut, dan benar saja apa yang dihadapi Hikari sekarang bukanlah hanya sekedar pemindah jabatan namun ia akan menghadapi krisis akan perusahaannya.

“ tak akan kubiarkan hal buruk terjadi padamu Hikari. Percayalah padaku.” Batinku sembari mempelajari satu persatu dokumen tersebut.

Tak terasa matahari telah tenggelam, dan malam hari pun telah menyapa namun tak terdengar sedikitpun suara langkah kaki Hikari sepertinya ia benar-benar tenggelam akan pekerjaannya. Perlahan kututup laptopku dan kubereskan seluruh dokumen yang sedari tadi kupelajari dengan cermat, kulangkahkan kakiku menuju lantai dua dimana kamar Hikari berada.

“ Hikari..” dengan hati-hati kuketuk pintu kamarnya namun tak ada jawaban sedkitpun sehingga kuputuskan untuk membuka perlahan pintu kamarnya.

Hikari terlihat tertidur di depan mejanya dengan sederet kertas berserakan di atas meja serta jari-jemarinya masih menggenggam pena yang ia gunakan untuk menulis.

Ia pasti sangat tertekan dengan keadaan mendadak seperti ini, aku hanya dapat tersenyum getir melihat nasib gadis yang kucintai ini bekerja terlalu keras untuk mempertahankan segalanya seorang diri. Kuambil selimut biru dari tempat tidurnya dan meletakkannya di punggungnya lalu segera kubereskan kertas-kertas yang berserakan di mejanya. Tanpa disadari ia terbangun, lalu ia menggenggam tanganku dengan erat.

“ aku lapar…” ucap Hikari pelan dalam keadaan mata masih tertutup.

Aku tertawa melihat tingkahnya yang masih saja seperti biasanya, lalu beberapa detik kemudian ia membuka matanya.

“ kau ingin makan? Tunggulah sebentar aku akan membuatkan sesuatu untukmu.”

Akhirnya Hikari turun dari kamarnya dan menuju dapur dimana aku sekarang berada, dengan langkah yang gontai ia mengambil gelas yang berisi air putih dan beberapa saat kemudian kuletakkan makanan yang telah selesai kumasak di atas meja, Hikari hanya diam mematung memandangi makanan yang terlihat menggiurkan di atas meja.

Segera setelah aku duduk di depannya, Hikari segera mengambil piringnya dan memulai makannya.

“ gomawo..^^ ini sangat enak. Yah..aku benar-benar beruntung memilikimu, kau sangat praktis Joon.” Ujar Hikari senang di tengah-tengah makannya.

“ praktis?”

“ ya, ibarat sebuah paket. Kau adalah paket yang paling lengkap, terkadang aku berfikir apa yang tak sanggup kau lakukan.”

“ kau ingin tau?” jawabku pelan.

“ apa?”

“ kehilanganmu. Aku tak suka mengakuinya namun aku menyadari jika kau adalah kekuatan sekaligus kelemahan terbesarku.”

“ benarkah?” jawab Hikari sambil menahan tawanya.

“ wae? Apakah kau berniat untuk mengalahkanku setelah mengetahui kelemahanku?” candaku untuk membalas jawaban Hikari.

“ bagaimana aku akan mengalahkanmu, jika aku memiliki masalah yang sama denganmu. Apakah kita akan saling mengalahkan dengan kelemahan yang sama?” balas Hikari tak kalah cerdik.

“ hahaa…kau benar-benar “ ujarku kehabisan kata-kata untuk membalas Hikari.

“ Hikari…”

“ wae?..”

“ apakah semuanya baik-baik saja?”

“ yah…aku tak dapat mengatakannya baik-baik saja namun keadaannya tak terlalu bagus. Aku harus segera menempati posisi itu bulan depan.” Jawab Hikari pelan namun terlihat dari nada bicaranya jika ia terlihat sangat lelah.

“ tegakkan kepalamu Hikari, aku bersamamu. Semuanya pasti akan baik-baik saja.” Jawabku menenangkannya dan ia hanya tersenyum padaku namun itu telah melegakan kekhawatiranku akan dirinya kini.

Joon PoV end.

Thunder PoV

Sore itu hujan turun dengan derasnya, namun kuakui jika hatiku kini akan lebih baik jika ia bersamaku sekarang, tidak! Lebih tepatnya jika aku menginginkan jika hatinya kini bersamaku namun aku mengetahui akan hal yang tak dapat kugapai membuat perasaanku ini seperti seolah tersayat sembilu. Jika saja aku bertemu dengannya terlebih dahulu akankah semuanya berakhir dengan bahagia untukku?.

Lagi-lagi kuhembuskan nafas yang berat, tak ada seharipun aku tak memikirkannya namun aku tak mempercayai jika ia memiliki hal yang sama seperti yang sedang kulakukan sekarang. Memoryku kembali menangkap disaat ia mengenakan gaun yang kuberikan padanya. Cantik. Ia benar-benar terlihat sangat cantik bahkan aku tak sanggup menggambarkan bagaimana terpukaunya diriku saat melihatnya dan itu membuatku semakin ingin memiliknya.  Aku bukanlah seseorang yang egois, yang dapat dengan mudahnya memaksakan ia agar menjadi milikku, aku tahu jika ia tak mencintaiku sehingga kenyataan bahwa aku bukanlah seseorang yang terpilih untuk dicintainya merupakan hal tersulit untuk kuterima saat ini. Air mataku tanpa sadar menetes, bagi seorang laki-laki akan memalukan jika ia terlihat menangis, namun kini hatiku terasa sangat sakit, dadaku terasa sesak sehingga pertahananku roboh dan hanyalah air mata yang tersisa, sebagai bukti bahwa hatiku sedang terluka.

“ kau tetaplah menjadi yang terbaik Hikari, apapun keadaannya, bagaimanapun terlukanya diriku. Aku akan tetap mencintai dan melindungimu.”

Thunder PoV end

Author PoV

Brak….

Terdengar suara berkas yang dibanting di atas meja, menandakan jika pemiliknya sama sekali tak menyukai dengan apa yang tertulis di dalamnya.

“ maafkan saya tuan, saya sudah berusaha meredam masalah ini agar tak keluar ke permukaan namun sepertinya terdapat pihak yang tak menyukainya.” Kata seorang sekretaris yang tampak ketakutan.

Sedangkan lelaki dengan setelan jas berwarna gelap itu hanya diam sambil mengerutkan alisnya dan sangat jelas jika ia sedang berpikir keras. Tanpa merespon apa yang telah dikatakan oleh sekretarisnya ia segera berkata,

“ panggil Thunder ke ruanganku segera”

“ baik …” jawab sekretarisnya sambil membungkukkan badan dan segera meninggalkan ruangan.

Beberapa saat kemudian Thunder memasuki ruang kerja ayahnya, dimana sang ayah telah menunggunya dengan ekspresi tegang.

“ apakah ayah memanggilku?” tanya Thunder cemas melihat ekspresi ayahnya kini.

“ duduklah..” jawab GO yang berusaha untuk tetap tenang.

“ apakah ada sesuatu hal yang terjadi? “ Thunder kembali bertanya sambil duduk di sofa.

Ayahnya tak berkata sepatah kata pun, ia hanya meletakkan setumpuk berkas di atas meja. Dengan hati-hati Thunder segera membuka berkas yang tergeletak di meja.

Seketika wajah Thunder memucat ketika melihat berkas yang disodorkan oleh ayahnya yang ternyata isinya adalah foto-foto dirinya dan Hikari ketika acara pernikahan rekan bisnis ayahnya.

“ kau,……….apakah memiliki hubungan khusus dengan Hikari yang tak kuketahui sebelumnya?” tanya GO serius.

“ appa..aku dapat menjelaskan semuanya.” Jawab Thunder yang terlihat gugup setelah melihat ekspresi ayahnya.

“ aku tak menyalahkanmu karena aku tak ingin terlalu mencampuri kehidupan pribadimu dengan Hikari namun aku harus tahu masalah ini dengan jelas, kau tahu kan jika Hikari akan segera menempati posisinya dan dengan menyebarnya isu ini maka akan tercipta skandal yang dapat memperlemah posisi Hikari di rapat pemegang saham bulan depan, dan aku harus mengadakan rapat komisaris beberapa hari ke depan” jelas ayahnya dengan nada kesabaran yang masih terekam jelas dari intonasi bicaranya yang bijaksana.

“ ne appa, maafkan aku atas kecerobohanku”

“ apakah kau mencintainya?”

Thunder hanya diam dalam ekspresi sedihnya, namun beberapa saat ia menjawab pertanyaan ayahnya

“ hatinya tak bersamaku, appa. Namun akan kupastikan jika hal ini tak akan membahayakan posisi Hikari kelak.” Jawab Thunder tegas.

aku mengerti, namun posisimu sekarang belum cukup kuat untuk meredam masalah ini jadi biarkan aku yang mengatasinya untuk sementara, Kau hanya perlu memastikan agar Hikari tak mengetahuinya, ia sudah cukup banyak mendapat beban akhir-akhir ini.”

“ ne, appa. Jika kau membutuhkan bantuanku jangan sungkan untuk mengatakannya.” Jawab Thunder sembari menggengam tangannya sendiri erat-erat, menandakan jika ia sendiri juga diliputi kekhawatiran.

Keesokan harinya di rumah Hikari….

“ Joon…aku akan pergi ke supermarket dan membeli beberapa bahan makanan untuk sarapan.” Teriak Hikari sambil berjalan melewati kamar Joon.

Joon yang baru saja bangun dari tidur segera keluar dari kamarnya dan mendapati Hikari yang telah berpakaian lengkap di pagi hari.

“ kau sudah bangun?”

“ ne, aku akan membeli bahan makanan untuk makan pagi kita, kau tau semalam aku menemukan resep makanan yang enak dan cocok sekali untuk makan pagi.” Ujar Hikari bersemangat.

“ kau memasak? “ tanya Joon ragu-ragu, karena Joon paham sekali jika Hikari akan mengacaukan seluruh isi dapur jika ia memasak.

“ ayolah, ijinkan aku memakai dapur ya..ya, aku ingin seperti teman-temanku yang dapat membuatkan masakan untuk namjachingunya. Ya boleh kan?” bujuk Hikari dengan ekspresi memelas.

Joon hanya tersenyum geli melihat kelakuan Hikari yang membujuknya agar meminjamkan dapurnya sendiri, sebenarnya Joon tak mempermasalahkan jika Hikari ingin menggunakannya namun ketika Hikari mulai menggunakan dapur maka pekerjaan Joon akan menjadi dua kali lipat lebih banyak.

“ ehmm, aku akan mempertimbangkannya nanti.” Ujar Joon singkat  lalu ia bergegas ke kamar mandi.

Namun sebelum Joon masuk ke dalam kamar mandi, Hikari segera menarik baju Joon kebelakang.

“ ayolah Joon, boleh ya..”

Joon hanya dapat menahan tawannya namun tiba-tiba ia segera menarik Hikari dan dengan cepat Joon mencium pipi Hikari.

“ YA!!.. apa yang kau lakukan” jawab Hikari yang kaget dengan sikap Joon.

“ haha…kau boleh menggunakan dapurnya, namun kita harus pergi berbelanja bersama. Tunggu aku sebentar” ujar Joon sambil berlalu dan masuk ke dalam kamar mandi.

Hikari hanya menggembangkan senyumannya dan ia segera bergegas mengambil secarik kertas dan menuliskan beberapa nama barang yang harus mereka beli. 15 menit berlalu, Joon telah berdiri tepat di hadapan Hikari dengan kaos berwarna putih lengkap dengan jaket yang membuat tampilan Joon menjadi sangat sporty.

“ ayo kita berangkat ^^” ajak Joon sembari mengambil topi dari raknya.

Karena supermarket yang akan mereka kunjungi tak jauh dari rumah maka mereka memutuskan untuk berjalan kaki dan disepanjang perjalanan tentu saja Joon tak tinggal diam, ia berkali-kali menjahili Hikari dan tentu saja membuat Hikari sangat malu karena orang-orang yang berada di jalan itu selalu memperhatikan tingkah laku mereka. Ketika Joon berusaha menarik Hikari untuk berada di dekatnya, Hikari justru semakin menjauh dari Joon karena ia merasa sangat malu namun justru sikap Hikari inilah yang semakin membuat pandangan semua orang tertuju pada mereka. Karena semakin Hikari menghindar, Joon akan semakin sering mengusilinya dan tentu saja jalanan menjadi ramai karena ulah mereka sendiri.

“ Joon, hentikan..kau ingin seluruh orang memperhatikan kita,huh?” omel Hikari di sela-sela ia mengambil beberapa barang di supermarket.

“ hahaa, semua akan lebih mudah jika kau tidak berusaha menghindar dariku “ jawab Joon yang semakin senang melihat reaksi Hikari.

“ bagaimana aku tak menghindar darimu, jika kau sendiri berdiri terlalu dekat”

“ jika kau diam saja dan tidak berusaha menghindar, mereka tidak akan mencurigai kita. Namun kau membuatnya menjadi lebih jelas.” Jawab Joon cuek namun sebenarnya ia hanya menjaga agar ia tak tertawa terlalu keras.

“ kau!!…>.<” respon Hikari dengan nada jengkel dan ia dengan sengaja membiarkan Joon membawa seluruh barang mereka.

“ kau tau, aku merasa jika kita bukan sepasang kekasih lagi.” Ujar Joon tiba-tiba.

“ lalu?” tanya Hikari bingung.

“ yah, aku justru merasa jika aku telah menghabiskan separuh hidupku untuk selalu ada untukmu walau itu merupakan tugasku,namun sejak pertama kali aku melihatmu aku menjalankan semuanya bukan karena aku sebagai assistenmu namun sebagai seseorang yang akan selalu melindungimu dan aku berharap dapat melakukannya hingga nafasku berakhir.”

Hikari hanya tersipu-sipu mendengar perkataan Joon yang baru saja ia katakan. Hikari ingin sekali menjawabnya namun hatinya kini terlalu bahagia sehingga hanya sinar kebahagian yang terpancar dari mata indahnya yang mampu menjawab semua perkataan Joon.

Namun tanpa mereka sadari, dari kejauhan tampak sepasang mata mengawasi segala gerak-gerik mereka.

“ Sepertinya semua barang yang kita butuhkan telah terbeli, mari kita pulang dan membuat sesuatu yang yang enak untuk sarapan ^^” ujar Hikari dengan nada gembira sambil mendorong troli belanjanya menuju kasir. Sedangkan Joon yang berada di belakangnya hanya diam dalam senyumnya sambil sesekali ia menoleh ke belakang, ia merasa ada sesuatu yang janggal namun ia tak mengetahui hal apa yang akan terjadi.

Sepasang mata itu masih mengawasi mereka berdua dari kejauhan agar mereka tak menaruh curiga terhadapnya, ia terus mengawasi dan mengikuti mereka hingga mereka sampai di rumah Hikari.

Sesampainya di rumah, Hikari segera membuka kantung belanja mereka dan mengeluarkan isinya satu per satu. Namun setelah Hikari selesai mengeluarkannya tiba-tiba Joon berpamitan padanya jika ia hendak membuang sampah. Hikari yang sama sekali tak menaruh kecurigaan sedikitpun, hanya mengiyakan permintaan Joon.

Joon yang telah merasa diikuti sejak mereka pergi ke supermarket segera pergi menuju luar rumah Hikari dengan alasan ingin membuang sampah padahal ia hanya ingin memastikan jika tak ada hal yang berbahaya di sekitar mereka. Orang asing tersebut masih menatap Joon lekat-lekat di tempat ia bersembunyi sebelum seorang pria berjas mendekati Joon dan mereka sempat berbicara berdua dengan serius.

Author PoV end

Joon PoV

Aku tak ingin berprasangka buruk sebelumnya namun kali ini terdapat seseorang yang mengikutiku dan Hikari sejak berada dalam supermarket, aku tak ingin bertindak ceroboh dan membuat Hikari menjadi panik sehingga kuputskan untuk melihat keadaan di luar rumah.

Beruntungnya Hikari sama sekali tak menaruh kecurigaan terhadap sikapku, karena aku hanya berpamitan ingin membuang sampah, sebelum keluar dari rumah perlahan kuaktifkan sistem pengamanan di rumah Hikari karena ia berada seorang diri di dalam rumah. Aku tak ingin mengambil resiko apapun jika hal buruk terjadi padanya sekalipun ia memliki kemampuan bela diri yang tinggi.

Seorang pria asing tak dikenal perlahan mendekatiku.

“ Apakah anda Joon?” tanya pria tersebut dengan nada bicara yang cukup pelan.

“ Siapa kau? “

“ Anda tak perlu mengetahui siapa saya, jika anda ingin tahu silahkan ikuti saya sebentar saja. Terdapat seseorang yang ingin menemui Anda” jawab pria asing tersebut, dan ia segera membawaku ke dalam sebuah restoran yang sangat mewah dengan ruangan VIP di dalamnya.

Pria asing tersebut membawaku masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa banyak mengeluarkan perkataan. Ia hanya diam dan memfokuskan pandangannya pada jalan yang sedang ia lalui. Setelah memastikan aku telah masuk ke dalam ruangan yang dituju, pria asing tersebut segera pergi meninggalkanku seorang diri.

“ lama tak bertemu Joon” terdengar suara perempuan dari arah meja yang berisi dua gelas wine.

“ omma…” jawabku pelan. Bahkan aku tak tahu apa yang harus kukatakan setelah berpisah darinya semenjak aku masih kanak-kanak.

“ duduklah…” perintah ibuku dengan suara yang tak pernah berubah. Suara yang selalu kuingat sebagai suara dari malaikat yang telah melahirkanku ke dunia ini dan aku hanya menuruti perintahnya untuk duduk di kursi yang telah disediakan namun aku tetap membisu.

“ bagaimana kabarmu Joon? Apakah kau baik-baik saja?” tanya ibuku anggun. Ia masih saja berkharisma dengan pakaiannya dan tatapan matanya yang berkaca-kaca.

“ ne..aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu, omma?” jawabku dengan hati-hati seolah-olah nadaku terdengar seperti cekikan karena aku tak tahu harus bagaimana.

“ tak ada seharipun aku tak memikirkanmu Joon, aku terus bersembunyi demi melihat anakku tumbuh dewasa. Mianhe..karena aku tak dapat menjadi ibu yang baik untukmu, aku telah berusaha yang terbaik untukmu Joon. Namun ayahmu menahanmu begitu kuat sehingga aku tak memilki daya untuk meraihmu.” Ucap ibuku yang kini ia berdiri di dekatku.

“ aku telah mendengar semuanya dari ayah.” Jawabku singkat. Tanpa sepengetahuannya mataku telah memanas, agar air mataku tak jatuh dari pelupuk mataku.

“ kau telah memliki waktu yang berat Putraku, namun maafkan ibumu ini  karena tak dapat melindungimu dengan baik. Karena diantara kami, perpisahan adalah jalan yang terbaik. Aku tak ingin melihat ayahmu semakin menderita karenaku atau aku yang menderita karena mengetahui ia mencintai wanita lain.”

Penjelasan ibuku membuat hatiku semakin teriris-iris, namun aku berusaha untuk tetap mengendalikan diriku, bagaimanapun mereka memiliki masalah tersendiri yang tak dapat dijelaskan sejelas-jelasnya meskipun aku adalah anak mereka. Aku mengerti jika ibuku pun telah memiliki waktu yang sulit pula, sehingga mempersalahkannya atas segala masalah ini sepertinya akan memperburuk perasaannya.

Sayangnya semua pemikiranku terganjal dalam otakku saja, lisanku tak mampu berkata apapun ,tak dapat dipungkiri jika aku pun sedih melihat hubungan ayah dan ibuku tidak berada dalam keadaan yang baik. Sehingga aku memilih untuk diam dan mendengarkan.

“ aku tak berharap kau dapat memaafkanku dengan mudah Putraku, karena selama ini aku memilih untuk tetap menjauh darimu. Jadi untuk kali ijinkanlah ibumu membayar waktu yang terbuang bersamamu.” Tambah ibuku sembari memegang tanganku lembut. Tangannya terlihat sedikit gemetar ketika memegang tanganku yang menggengam kuat untuk menahan segala gejolak yang bergemuruh di dalam dada dan pikiranku.

“ mengapa kau baru mengatakannya sekarang, eomma?” tanyaku lirih.

Lagi-lagi ibuku menahan air matanya dan ia segera meneguk wine yang ada di dalam gelasnya.

“ karena saat ini, aku telah memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk mengambilmu dari tangan ayahmu” ujar ibuku pelan namun nada bicaranya menunjukkan keyakinan yang tinggi.

To Be continued……

Don’t forget to leave your comment ^^

8 responses to “[Freelance] MY PRECIOUS PRINCESS (Part12)

  1. Author,,,,,,
    Aku suka,apa lagi ketika konflik mulai muncul dimana-mana.
    Di tunggu next part nya yah author

    • oke 😀 mungkin kelanjutannya agak lama ya. Maklum sepertinya banyak siders jadi untuk chap selanjutnya author belum ada feel untuk nulis. Mianhe

  2. sorry thor bru bisa comment d chap ini….

    ceritanya seru thor….
    aq pnasaran joon akan ttp brsma hikari atau memilih brsama eommany????

    next thor…
    fighting

  3. Heh, Y* (sensor)… Terusinlah FF-nya.. Ah, kau ni… Bikin pnasaran ja… Kasian yang jd pembc setia niii… :p

  4. next yaa thor ceritanya keren bgt
    sorry yaa thor br coment d chapter yg ini soalnya br liat nih ff langsung aja baca dr chapter 1-12 ngebut banget yaa ckckck
    fighting yaa thor 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s