[Freelance] Love Drunk (PART 13)

CYMERA_20131225_161253

Title                       :    Love Drunk (PART 13)

Author                  :    Safira Bella/@fira_bella

Genre                   :    Romance, Angts, Friendship, Etc.

Cast                       :  

–          Alexandra Wu (OC)

–          EXO Members

–          VIXX Members

–          Yoon Sohee

Rated                    :     PG-17+   

Exo milik management, orang tua dan Tuhan YME, kecuali Kris Kai Luhan. Ide seratus persen dari otak author jadi leave comment guys J

 

Happy Reading ~~~(^o^)~~~

 

Tangan Alex merosot membuat air mata Luhan menetes begitu saja. Kris tak menyerah, ia terus mengguncang tubuh Alex dan mengatakan untuk segera bangun namun itu semua sia-sia. Gadis itu tidak sedikit pun membuka matanya. Kai dengan tangan bergetar menyentuh pergelangan tangan Alex setelahnya ia terdiam karena tidak merasakan apapun serta kehangatan disana. Hongbin merosot ke lantai dengan tangis penuh penyesalan begitu juga dengan Sehun yang memilih menangis dalam diam. Member Exo membeku, wajah mereka sudah basah oleh air mata.

Member VIXX yang sedari tadi melihat pun merasakan kehilangan dan juga menyesal terlebih Hongbin. Ia tidak pernah menyangka gadis itu justru berlari untuk melindungi Kris. Tidak pernah terbesit pun dipikiran Hongbin ingin membunuh Alex. Namun nasi telah menjadi bubur, sengaja atau tidak Hongbin telah menembakkan peluru itu ke tubuh gadis yang dicintainya.

 

Luhan berdiri, dengan pandangan kosong melihat Kris yang terlihat begitu frustasi. Dia melirik Sehun yang juga melihat Kris. Kai, ia terdiam namun kedua tangannya masih menggenggam tangan Alex, tidak percaya bahwa gadis itu sungguh tak bernafas lagi.

“ALEX BANGUN ALEX!! BUKA MATAMU LEX, OPPA MOHON!!” Kris memeluk tubuh dingin itu. Kris kehilangan akalnya. Dia bodoh karena tak dapat melindungi permata hidupnya.

Sohee melihat situasi tak memungkinkan ini memilih berlari namun seseorang mencekalnya.

“Kau pikir…. Kau bisa hidup tenang setelah apa yang kau perbuat?” Ucap Chen dingin.

“Lepaskan!”

“Aku pastikan kau menangis darah karena telah merenggut nyawa Alex!”

-ooo-

Semua orang menunggu Alex didepan ruang UGD. Sesaat setelah sampai dirumah sakit Kris langsung berlari, berteriak seperti orang kerasukan meminta bantuan agar adiknya segera ditangani. Hingga 30 menit berlalu pintu besar itu belum juga terbuka. Sedari tadi Kris terus berdiam diri didepan pintu UGD itu sambil memperhatikan Alex yang sedang ditangani didalam sana. Berkali-kali bunyi mesin cardiogram berdengung ditelinga Kris memicu air mata Kris untuk terus terburai. Kris bingung, mungkin berdoa pun tidak akan memberi hal berarti pada adiknya didalam sana. Entahlah apa sebabnya hingga mesin itu sama sekali tidak dapat memancing jantung Alex untuk berdetak kembali bahkan suntikan berkali-kali yang menyiksa tubuh Alex pun tidak diindahkan oleh tubuh gadis itu. Mungkin gadis itu benar-benar lelah dan lebih memilih hidup bahagia bersama orang tuanya disurga sana ketimbang hidup bersama kakaknya.

“Sehun…. Bisa kau jelaskan ini?” Luhan berkata dengan tatapan lurus ke bawah. Pemuda itu menoleh dengan wajah dingin lalu tak lama tersenyum sinis.

“Sebenarnya…. Apa yang tidak ku ketahui?”

“Setelah 5 bulan lamanya…. Kenapa baru kau tanyakan sekarang!” Chanyeol menahan Sehun begitu merasakan hawa perkelahian.

“Apa yang kau katakan?”

“Malam itu…. Malam dimana kalian melakukannya, kau ingat?” Luhan menelan ludahnya susah payah. Dia sangat mengingat momen dimana tubuhnya dan Alex menyatu, semua itu mengalir begitu saja. Luhan tidak bisa melupakan malam itu bahkan ia selalu memimpikannya.

Kris berbalik mendengar pembicaraan serius antara Luhan dan Sehun. Ini pertama kalinya Kris melihat Luhan dan Sehun saling bersitegang.

“Malam apa? Dan dengan siapa kau melakukannya?” Luhan tak menjawab pertanyaan Kris, ia justru terdiam dan menunduk karena tatapan intimidasi Sehun yang seperti menembus matanya.

“Kau berhasil…. Kau berhasil melakukannya hingga gadis itu menangis karena ketakutan!” Luhan mencengkram tangannya.

“Kau pikir alasan Alex keluar dari rumah karena ingin mandiri? Kalian salah…. Kau salah hyung!”

“Sebenarnya ada apa? Katakan dengan jelas Sehun?” Suho memelas sesungguhnya dia tidak mengerti dengan apa sedang dibicarakan dua namja yang memiliki wajah hampir serupa itu.

“Alex…. Gadis itu…. Sedang mengandung anakmu hyung! Sadarlah!” Sehun mendorong Luhan lalu melayangkan tinjuan ke wajah tampan Luhan. Luhan terjatuh dengan mata membulat tak percaya. Apa dia bilang? Alex sedang mengandung anaknya? Tapi kenapa Alex tidak mengatakannya?

“K-kau bercanda kan Sehun. Ini tidak lucu.” Luhan meringis sambil menghapus noda darah disudut bibirnya lalu bangkit menatap Sehun yang tersenyum rendah padanya.

“Kau pikir aku bercanda eoh? Kau pikir morning sick, mengidam hingga sifat sensitive-nya itu adalah rekayasa? Sadarlah dengan segala perubahannya selama ini!” Luhan termenung. Jadi mimpi-mimpi itu benar. Dan firasatnya yang mengatakan bahwa didalam perut gadis itu terdapat sesuatu ternyata benar. Alex sedang mengandung anaknya itu sungguhan? Luhan cukup senang itu artinya ia akan menyandang gelar ayah sebentar lagi tapi benarkah seperti itu? Apakah Luhan pantas disebut ayah? Ia bahkan tidak pernah ada saat Alex membutuhkannya dimasa-masa sulitnya yang lebih mengenaskan lagi Luhan tidak tahu kehadiran anaknya. Ia mengerti bagaimana sulitnya Alex selama ini dimana ia bersusah payah terlihat tidak mencolok namun tetap memperhatikan nyawa didalam perutnya itu.

“J-jadi itu sungguhan…. K-kenapa Alex tidak mengatakannya padaku….” Luhan terduduk lemas disalah satu bangku didepan ruang UGD. Lelaki itu tidak pernah menyangka bahwa malam itu ia berhasil menanamkan benihnya didalam rahim gadis itu, Luhan cukup senang. Tapi…. Apakah bayi itu baik-baik saja? Setelah insiden penculikan itu Luhan dapat melihat ekspresi yang sangat kentara dari wajah Alex, seperti kesakitan. Luhan tidak ingin berburuk sangka yang jelas ia hanya takut sekarang.

“Gadis itu tidak mungkin menyusahkanmu hyung…. Kau tahu pasti Alex seperti apa dan dia tidak ingin menambah bebanmu, karena itu ia memilih pergi!” Ucapnya sambil menatap lurus lantai. Dari ekor matanya Sehun dapat melihat ekspresi tegang dari member lain termasuk Kris. Lelaki itu terlihat begitu terkejut hingga tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Sedangkan Luhan, inilah yang ditakutkan Sehun dimana Luhan terlihat begitu frustasi. Ada sedikit rasa khawatir, Sehun takut Luhan pergi dan meninggalkan Alex dengan segala penderitaannya walaupun Sehun tahu Luhan bukan tipikal laki-laki seperti itu tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi.

“Jadi…. Ini alasan Alex menjauh dariku?” Sehun mengangguk lemah.

Luhan mengeraskan rahangnya lalu berjalan dengan langkah memburu mendekati Sehun.

“KENAPA KAU TIDAK MENGATAKAN SEJAK AWAL SEHUN!! KAU TAHU PASTI AKU SANGAT MENCINTAI GADIS ITU…. TAPI KENAPA? KENAPA MENUTUPINYA DARIKU!!” Kini Luhan mencengkram pundak Sehun dengan derai air mata yang sudah membanjiri kedua belah pipi Luhan. Lelaki itu sudah tidak dapat lagi menahan luapan emosi didalam dirinya terlebih mengetahui kondisi Alex.

“Tenanglah Luhan ini rumah sakit.” Xiumin menarik Luhan hendak menjauhkannya dari Sehun.

Luhan menepisnya. “Tenang? Kau pikir aku bisa tenang selagi Alex…. Sedang berhadapan dengan maut didalam sana? Dan bayiku…. Dia juga didalam sana, dengan…. Ibunya? Bagaimana aku bisa tenang eoh?” Luhan justru meneriaki Xiumin yang bermaksud baik padanya. Selain karena ini rumah sakit dan juga dengan sikap tempramen Luhan belum tentu membantu kelangsung hidup Alex dan bayinya didalam sana.

“Luhan….”

“Hiks Alex…. Little deer maafkan appa…. Aku mohon bertahanlah demi aku hiks….” Kini Luhan berdiri didepan pintu tempat Alex ditangani dengan tangisnya yang menggema dikoridor rumah sakit yang sepi, jelas saja ini masih terlampau tengah malam.

Luhan tak henti-hentinya menggumamkan nama Alex serta little deer disela tangisnya. Dia memandang Alex yang kini tengah ditangani terkadang Luhan mencengkram tangannya begitu Alex mengejang dan memuntahkan darah akibat suntikan sang dokter. Garis lurus masih terpampang dimesin pendeteksi jantung seperti enggan menampakkan tanda-anda kehidupan ditubuh Alex membuat Luhan menggila.

“Alex maafkan aku…. Aku mohon bangun demi aku…. Alex….” Luhan mengelus kaca pintu berwarna putih itu seakan sedang memberi sentuhan kasih sayang pada figur Alex yang terbaring tak berdaya dibrankar. Mata Luhan memerah dan Luhan tidak peduli itu. Walaupun seluruh temannya menyaksikan betapa lemahnya dirinya kini ia tidak peduli yang terpenting kapan gadis itu bangun lalu kembali tertawa layaknya dulu.

“Luhan….”

“Alex….”

“DEMI TUHAN LUHAN HENTIKAN!” Kris membalik tubuh Luhan lalu memberi tamparan cukup keras dipipi lelaki itu hingga meninggalkan bekas yang sangat jelas dikulit putihnya.

Aksi Kris ampuh membungkam Luhan namun namja itu tetap menangis seperti seorang perempuan yang ditinggal oleh pacarnya. Kris tidak tahu kalau Luhan dapat se-lemah ini. Setahunya Luhan adalah laki-laki tegar melebihi dirinya bahkan Suho. Kris tidak tahu kalau Luhan dapat berubah menjadi namja yang lemah hanya karena Alex.

“BERHENTILAH BERSIKAP EGOIS XI LUHAN! SUDAH BERAPA KALI KU KATAKAN PADAMU JANGAN SAKITI ADIKKU! KAU PIKIR DENGAN CARA MENANGISINYA ALEX AKAN LEBIH BAIK DIDALAM SANA EOH? Aku percaya kau tahu jawabannya….”  Luhan terdiam. Perkataan Kris menusuk hati nuraninya. Kris benar walaupun Luhan menangis darah sekalipun Alex tidak lebih baik didalam sana, mungkin saja gadis itu justru semakin menjauhkan ruhnya dari mereka.

“Tenanglah, lebih baik kita berdoa untuk keselamatan Alex….” Kris menjauh dari Luhan lalu duduk disalah satu bangku sambil memejamkan matanya. Luhan tersadar lalu menghapus kasar air matanya lalu berdoa mengikuti saran Suho sambil tetap memperhatikan Alex didalam sana.

Tak lama kemudian pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter dengan pakaian khasnya keluar melalui pintu yang terbuka tadi. Sontak membuat orang-orang yang sedari tadi sudah menunggunya bangkit dari duduk mereka kemudian menghampiri dokter tersebut.

“Bagaimana keadaan Alex dok?” Tanya Luhan tak sabar. Dokter itu menggeleng lalu melepas maskernya.

“Kau suaminya?” Awalnya Luhan terlihat bingung lalu tak lama mengangguk. Dokter itu tersenyum masam lalu menepuk pundak Luhan.

“Saya sudah melakukan semampu saya tapi…. kami tidak bisa menyelamatkan salah satu bayi anda….”

“M-maksud anda?”

“Tuan, anda belum mengetahui perihal istri anda mengandung bayi kembar?” Luhan menggeleng. Sehun yang mendengarnya mendekat karena melihat ekspresi wajah Luhan yang terlihat susah.

“Dia baru pulang dari luar negeri dok, jadi…. Dia tidak tahu banyak mengenai masalah ini.” Luhan menoleh dipandangnya Sehun dengan ekspresi bertanya-tanya. Luhan tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Sehun, dan Luhan juga tidak tahu apa yang selama ini Sehun lakukan yang jelas ia hanya mencoba mengikutinya.

“kalau begitu….” Dokter itu membuang nafasnya. “Saya sangat menyesal mengatakan ini tapi…. Istri anda mengalami pendarahan jadi kami terpaksa mengangkat salah satu bayi dirahim istri anda….” Sehun mengusap wajahnya begitu frustasi. Dia merasa bodoh tidak dapat melindungi ‘adiknya’ itu. Sehun sudah sangat menyayangi kedua bayi itu layaknya anaknya sendiri jadi Sehun adalah salah satu orang yang merasa terpukul dengan matinya salah satu bayi mungil itu. Dan Hongbin, laki-laki itu pasti merasakan hal yang sama seperti Sehun. Mereka berdua adalah alasan dimana Alex dapat kuat dan tetap mempertahankan kandungannya.

Luhan membeku, dia tidak dapat mengatakan apapun. Lelaki itu hanya memperhatikan Alex yang masih terbaring dibrankar dengan alat bantu pernafasan dan infus. Gadis itu begitu pucat dan terlihat dingin. Luhan ingin berlari dan memeluknya tapi kedua kakinya seakan menjadi batu sehingga Luhan tak dapat berjalan.

“Lalu…. Bagaimana keadaan adik saya sekarang?” Kris mulai angkat bicara. Dia memperhatikan raut wajah dokter Kim yang terlihat semakin keruh.

“Saya tidak tahu bagaimana kejadiannya tapi peluru itu berhasil mengenai jantungnya. Kami berhasil mengakat peluru itu tapi….”

“Tapi apa dok?”

“Nona Alex butuh tranplantasi jantung secepatnya sebelum bilik kirinya menipis dan menutup jalan oksigen ke otaknya.” Kris bergetar lalu terduduk lemas dilantai. Kris tidak memiliki tenaga lagi untuk terus berdiri saat mengetahui adiknya sedang diambang kematian.

“S-sampai berapa lama Alex bisa bertahan dok….” Kai akhirnya angkat bicara. Kai tidak mungkin percaya bahwa Luhan, Kris, dan Sehun akan angkat bicara dalam situasi ini.

“Dua jam…. Waktu paling maksimal untuknya bertahan.”

Kai mulai bergetar, bagaimana mungkin dalam waktu dua jam mereka dapat menemukan orang yang mau menyerahkan jantungnya untuk Alex? Kai tak mampu berpikir tapi didalam diamnya dia berdoa agar Tuhan mengirimkan seseorang yang baik hati hendak menyerahkan jantungnya untuk gadis malaikat didalam sana.

Dokter itu menepuk pundak Kai memberi sebuah energi positif agar tetap tenang. “Berdoalah agar dua jam ke depan Nona Alex dapat bernafas leluasa….” Setelahnya dokter itu kembali masuk dan tak lama keluar kembali dengan brankar Alex dibelakangnya. Beberapa orang suster membawa brankar Alex ke ruangan ICU untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.

Semua member memperhatikannya tak terkecuali Luhan, dan Kris. Walaupun mereka masih setengah sadar namun mereka dapat melihat bahwa brankar gadis itu digiring ke ruangan yang merupakan ruangan bagi pasien penderita penyakit kronis. Kai tersadar dari lamunannya begitu Suho menepuk pundaknya.

“Aku mengurus administrasinya dulu, jaga mereka.” Suho melangkah pergi dan Kai hanya menatap nanar dua orang yang terlihat tak bernyawa disampingnya.

-ooo-

Satu jam berlalu setelah peristiwa Alex dipindahkan ke ruang ICU. Tidak ada tanda-tanda gadis itu akan membuka matanya, detak jantungnya pun semakin melemah seiring jam terus berjalan hingga ke satu jam ke depan. Kris senantiasa berada disamping Alex dengan kedua tangan yang terus membungkus tangan dingin Alex. Lelaki tampan itu tidak berhenti menangis sejak Alex dibawa ke rumah sakit. Mungkin bagi orang lain ini terlihat konyol, melihat seorang lelaki menangis layaknya bayi. Tapi bagi Kris semua ini wajar karena Alex adalah satu-satunya anggota keluarga yang dia miliki dan pahitnya gadis itu belum tentu dapat hidup dengan benar.

“Hyung dokter Kim ingin bicara denganmu, kita keluar hyung….” Sehun masuk dengan pakaian berwarna hijau khas rumah sakit. Ruang ICU merupakan ruangan steril jika hendak masuk seseorang harus menggunakan baju, sarung tangan, masker serta tudung rambut agar partikel yang berada diluar sana tidak terkena oleh pasien, selain itu jumlah pengunjungnya dibatasi agar tidak mengganggu kerja alat-alat didalam sana.

Kris meletakkan tangan Alex perlahan lalu memasukkannya ke dalam selimut tebal. Lelaki itu bangkit lalu menghapus air matanya secara kasar. Menoleh sesaat pada Alex lalu berjalan mendahului Sehun.

Sehun menoleh dipandangainya Alex yang wajahnya kian memucat dari menit ke menit. Jantung itu benar-benar memforsir semua organ vital Alex. Sehun berharap beberap menit ke depan seorang pendonor datang pada mereka dan mengatakan dengan senang hati menyumbang jantungnya untuk Alex.

“Aku harap kau segera sembuh…. Adikku….”

-ooo-

Kris baru saja keluar dari ruang dokter Kim. Wajahnya terlihat lebih cerah dari sebelumnya walaupun masih terlihat begitu berantakan. Beberapa menit yang lalu dokter Kim mengatakan bahwa pendonor jantung Alex bersedia melakukan operasi tapi sangat disayangkan dokter Kim enggan membeberkan biodata sang pendonor, padahal Kris berniat berterima kasih atas kemulian hatinya dan bersedia melakukan apa saja demi membalas budi orang itu tapi sang dokter tetap bungkam dengan alasan demi kebaikan bersama.

Kris tersenyum lalu menghampiri member lain yang masih duduk didepan ruang rawat Alex. Mereka menunggu Kris yang hendak mengeluarkan perkataan.

“Bagaimana hyung? Apa kata dokter Kim?” Baekhyun menghampiri Kris lalu mencengkram tangan Kris tak sabaran.

Kris menepuk kepala Baekhyun lalu angkat bicara. “Alex akan dioperasi sebentar lagi Baek….” Baekhyun melebarkan matanya tak percaya. “Sungguh hyung?” Kris mengangguk pasti.

“Alex memiliki pendonor hyung?” Chen kembali memastikan dan Kris kembali mengangguk.

“Dokter Kim sedang bersiap….” Kris mengedarkan pandangannya merasa ada yang hilang dari anggotanya.

“Dimana Luhan dan Kai?”

“Mereka didalam hyung.” Tao menyahut dengan suara serak. Namja panda itu tak henti-hentinya menangis begitu mengetahui Alex sekarat selain itu ia juga mengantuk.

“Begitu….”

-ooo-

Luhan mengamit tangan Alex lalu diusapnya memberi kehangatan ditubuh pucat Alex. Sudah sejak beberapa menit yang lalu Luhan terus duduk diam disamping Alex. Lelaki itu merasa bersalah karena baru mengetahui perihal Alex tengah berbadan dua terlebih mengetahui fakta Luhan harus kehilangan salah satu bayinya. Luhan tidak tahu apa reaksi Alex jika mengetahui fakta mengerikan ini yang jelas gadis itu pasti akan histeris. Luhan siap menerima segala kemungkinan, ia siap Alex memukulnya atau lebih parahnya membunuhnya. Alex pantas melakukannya karena Luhan bukanlah sosok namja serta seorang ayah yang baik untuk bayinya. Luhan merasa bodoh karena selama ini mengaku mencintai Alex tapi tak dapat melindunginya.

Kai yang sedari tadi berdiri dibelakang Luhan memilih maju lebih dekat. Kai memperhatikan mesin cardiogram yang tak kunjung berjalan normal membuat Kai putus asa. Sampai sekarang pun belum ada kabar pendonor jantung Alex jika tidak salah hidup Alex hanya tersisa 20 menit. Hingga waktu itu tiba Kai bingung harus melakukan apa. Minta maaf? Gadis itu pasti tidak akan mendengar permintaan maafnya. Membuatnya tersenyum? Lebih mustahil, bahkan gadis itu begitu susah dalam hal bernafas bagaimana tersenyum. Kau bodoh Kai

 

“Hyung….”

“Mau apa lagi? Kau ingin menyakiti Alex eoh?” Ucapnya tanpa memandang Kai.

“Hyung….” Kali ini Kai menyentuh pundak Luhan.

“Apa kai!”

“Bisakah kau memaafkanku, aku tahu aku salah walaupun aku bersujud sekalipun aku yakin tidak akan melunturkan rasa benci Alex padaku. Aku mohon hanya Alex tidak kau hyung…. Cukup Alex yang membenciku jangan kau Xi Luhan…. I begging you….” Kai bersujud dihadapan Luhan yang melihatnya tak percaya. Ia tidak tahu Kai dapat merasa serendah ini hingga ia rela bersujud dikakinya layaknya pesuruh. Lebih menyedihkan lagi pemuda itu menangis dihadapannya. Tak dapat dipungkiri hati Luhan terenyuh melihat perjuangan Kai meminta kata maaf darinya. Sebenarnya ini bukan hak Luhan, sesungguhnya Alex-lah yang berhak memaafkannya bukan dia.

Luhan menuntun Kai untuk berdiri, pemuda itu masih menangis membuat Luhan tak tega untuk terus mendiamkannya.

“Kai….” Kai mengangkat kepalanya.

“Minta maaflah pada Alex, aku tidak berhak melakukannya karena sebenarnya pihak yang merasa dirugikan adalah gadis itu….” Luhan menunjuk Alex.

“Aku yakin gadis itu akan memaafkanmu, Kai.” Luhan menepuk kepala Kai. Namja berkulit tan itu kini mulai dapat mengendalikan dirinya. Dengan mantap Kai berjalan mendekati Alex. 15 menit sebelum waktu berhentinya nafas Alex.

Kai awalnya terdiam namun Kai mengingat waktu mereka tidaklah banyak.

“Maafkan aku Lex…. Aku bodoh, salahkan hatiku yang tengah menolak segala kasih sayangmu. Aku bodoh karena….”

“Bodoh karena aku baru menyadari bahwa aku….”

“Mencintaimu Lex…. Jadi aku mohon padamu segera sembuh dan buka matamu…. Aku merindukanmu….” Air mata Kai kembali mengalir. Kai tahu permintaan maafnya sia-sia tapi Kai cukup lega dapat mengungkapkan apa yang selama ini membuatnya resah, tentang perasaannya. Sudah terlalu banyak laki-laki yang terbodohi dengan perasaannya sendiri karena Alex salah satunya adalah Kai. Kai baru menyadari betapa berharganya Alex baginya setelah gadis itu memberi jarak yang sangat jauh baginya. Kai merasa seluruh hatinya kosong padahal pada waktu itu Sohee masih berada disampingnya. Sejak itulah Kai belajar untuk dapat membedakan yang mana cinta dan yang mana rasa menganggumi. Karena jika kalian salah mengira kalian akan bernasib sama seperti Kai, menyesal.

“Terima kasih Lex atas kasih sayangmu selama ini, aku mencintaimu….” Kai mencium kening gadis itu lalu memandangi wajah damai Alex untuk terakhir kalinya.

Kai memejamkan matanya begitu pintu ruang ICU dibuka. Derap langkah dapat terdengar jelas dipendengaran Kai.

“Maaf dok, Alex mau dibawa kemana? Bukankah…. Masih beberapa menit lagi?” Luhan menahan Dokter Kim yang baru saja hendak bergabung dengan beberapa orang suster yang mengurus peralatan medis Alex.

“Istri anda akan segera dioperasi saya harap anda tidak menghalangi kerja kami!” Luhan memilih keluar dan membiarkan dokter itu melakukan tugasnya.

Dokter Kim menatap pengertian Kai lalu menepuk bahu pemuda itu. Pemuda itu hanya tersenyum samar lalu keluar meninggalkan dokter yang masih melihat kepergiannya.

-ooo-

Brankar Alex baru saja memasuki ruangan lebih dulu, ia terbaring lemah diatas sana. Tak lama kemudian datanglah para dokter dan para susternya. Beberapa dokter berlalu lalang disekitar Alex, entah apa yang dilakukan mereka, semua orang tak dapat melihatnya dengan jelas.

Luhan berdiri didepan ruang operasi, memandang cemas gadis yang tertidur dipembaringan ruang operasi. Luhan tidak dapat melihat dengan jelas dikarenakan terhalang oleh para dokter dan suster dan beberapa alat-alat medis canggih yang tersusun acak disana. Luhan terlihat semakin cemas karena samar-samar melihat Alex senantiasa mengeluarkan cairan pekat berwarna merah dari mulutnya. Luhan lantas mengeluarkan air matanya lagi bahkan lebih deras dari sebelumnya. Xiumin menyentuh pundak Luhan, membuatnya sadar dari sekelebat bayangan akan Alex. Luhan menatap Xiumin dengan tatapan berharap agar semua yang ada dipikirannya sirna. Xiumin tertegun, terdiam sejenak, menarik napas lalu memaksakan senyuman sangat manis, hanya untuk menenangkan lelaki yang ada didepannya. Luhan pasrah dan mengikuti Xiumin untuk duduk tenang seperti yang lain.

Dokter dan asisten-asistennya bersiap, berkumpul disekitar tubuh Alex. Tubuh Alex masih terus mengejang dan terus-menerus memuntahkan darah, hingga sebuah jarum suntik yang berisi cairan pembius menusuk dipergelangan kanan Alex, Alex mencengkram tangannya kuat menahan sakit, hingga selang 3 menit kedua mata Alex terkatup sedikit demi sedikit. Seiring dengan otot, persendian, saraf, serta urat nadi diseluruh tubuh Alex yang mulai mati rasa. Sang dokter mempersiapkan diri matang-matang beserta alat-alat medis yang lengkap disekelilingnya bergegas memperbaiki posisi Alex yang sebentar lagi akan menjemput takdirnya.

Luhan tidak sanggup lagi dengan pemikirannya sendiri, ia seolah takut untuk menerima kenyataan yang akan terjadi ke depannya, bahkan untuk sekedar memikirkannya. Luhan menghindar dari ruangan operasi dengan lampu berwarna merah yang menyala terang diatasnya, menandakan operasi tengah berlangsung didalam. Ia kembali berdiri bersandar malas ditembok rumah sakit berwarna putih gading itu. Kepalanya tertunduk sendu, menatap ke bawah, kearah ujung sneakersnya yang berwarna merah terang, tatapan kosong dan datar. Kris hanya bisa menghela nafas sedangkan Tao senantiasa menangis getir, takut kehilangan sahabat sekaligus adiknya.

Menit dan detik berpacu dengan cepat, sadar atau tidak Luhan masih bertahan dalam posisinya. Satu jam sudah Alex berada dalam detik-detik penentuan nasibnya, didalam ruangan yang sesak akan alat-alat medis menyeramkan itu. Lampu merah diatas bangsal belum juga padam. Kris berharap cemas dalam diamnya. Ia duduk, tak menentu juga, kadang ia berdiri, berjalan kesana-kemari, ekspresi linglung, serta mimik cemasnya yang nampak jelas.

2 jam berlalu……

“Hyung…..ini minumlah.” Sehun menyodorkan se-cup kopi hangat kearah Kris yang tersedia khusus dikoridor rumah sakit. Kris tersenyum lalu mengambilnya dan meneguknya sedikit. Kris mengucapkan terima kasih. Lalu Sehun beranjak berjalan mendekati Luhan yang sedang memainkan jemarinya dilantai rumah sakit berwarna crem pastel. “Hyung…minumlah dulu…” Luhan mendongak, tanpa berucap apapun Luhan mengambil kopi itu lalu meminumnya sedikit. Sehun hafal betul bagaimana kelakuan Luhan apabila menyangkut dengan Alex. Beginilah sikapnya, dingin namun tetap berusaha tak menampakkan amarahnya didepan orang banyak.

Sehun tidak jadi meneguk kopinya sendiri ketika kedua matanya tidak sengaja mengarah kearah lampu diatas bangsal ruang operasi, cahaya merahnya padam, menandakan operasi telah usai. Kris menyadari akan hal itu, kontan mereka semua bergerak serentak mendekati pintu bangsal, dengan harapan siapapun yang keluar melewati bangsal memberikan kabar yang baik. Kris berada dibarisan depan diikuti Luhan dan Sehun didekatnya. Pintu bangsal terbuka, dokter Kim keluar dengan mulut dan hidung masih tertutup masker.

“Dokter, bagaimana keadaan adik saya??” Kris bertanya dengan cemas. Dokter menghela nafas, merautkan kecemasan diwajahnya. “Operasi adik anda berhasil Tuan…” Jawab dokter lembut, Kris mengelus dada, kompak semua orang menghembuskan nafas leganya. Luhan melirik Alex masih tertidur dalam pembaringannya dengan berbagai alat medis yang melekat ditubuhnya. Kantung darah disampingnya terus mensuplai darah menuju tubuh Alex yang pucat pasi. “Tapi tuan… kandungan adik anda melemah?? Akibat benturan diperutnya mengakibat guncangan dirahim adik anda. Kami akan melakukan tindakan medis berikutnya untuk mengevakuasi bayi Nona Alex…” Jelas sang dokter. Seketika wajah yang tadinya senang berubah drastis menjadi cemas. Dikarenakan orang yang terbaring lemah disana diharuskan melakukan tindakan medis sekali lagi, yang membuat Kris dan yang lain kalut ditelan kekhawatiran.

“A….pa bayinya dapat selamat dok??” Tanya Luhan dengan nada getir. Dokter itu menggeleng.

“Usia kandungannya masih 5 bulan lebih. Ia belum bisa hidup dalam usia itu, minimal harus berusia 7 bulan. Organ dalam tubuhnya belum terbentuk sempurna. Jika kita mengeluarkannya maka ia belum sanggup bernafas selayaknya bayi pada umumnya. Jadi kemungkinan hidupnya sangat kecil.…” Semua orang tertohok mendengar penjelasan dokter Kim. Itu artinya kemungkinan Alex untuk hidup sungguh tipis.

“Apa hanya itu cara satu-satunya dok?” Tanya Luhan membuat dokter menghembuskan nafasnya pelan.

“Sayangnya hanya itu. Determinasi bayi adalah satu-satunya jalan karena bayi itu akan semakin hyperaktif karena lingkungannya yang tak nyaman memicu rasa tidak nyaman pada sang ibu membuat ibunya mengalami penurunan kinerja alat tubuh. Tapi dalam hal ini semua berada ditangan kalian Tuan Xi. Diskusikanlah dengan istri anda saat beliau sadar nanti.” Terang dokter Kim dengan mimik wajah serius. Luhan kehabisan kata-kata, ia tidak tahu harus berkata apa. Keterangan dokter tadi sudah cukup jelas menerangkan kondisi terakhir Alex saat ini.

“Dokter, tolong selamatkan Alex adikku!” Pinta Kris dengan tampang memohon, matanya sudah berkaca-kaca.

“Saya akan melakukan yang terbaik karena ini adalah tugas saya. Tapi saya berharap Nona Alex memilih untuk mengevakuasi bayinya karena bila Nona Alex memilih tetap mempertahankan bayinya kemungkinan hidupnya tidak akan lama.” Dokter itu menerangkan membuat Kris sekali lagi merasa terpukul. Lelaki itu sudah merasa senang adiknya berhasil dalam operasi tranplantasi jantungnya tapi Kris kembali dihadapkan dengan kenyataan yang lebih pahit. Ia dipaksa untuk memilih dan ia benci itu. Ia tidak mungkin bertindak ceroboh dengan nekat mengatakan pada dokter untuk mengangkat bayi itu, adiknya itu pasti akan membencinya seumur hidup.

“Kalau begitu saya permisi dulu, masih banyak pasien yang harus saya tangani.” Dokter itu membungkuk lalu bergegas pergi menuju ruangannya.

Dibelakangnya brankar seseorang yang diduga adalah pendonor Alex digiring menuju ruang mayat. Mereka tak dapat melihat wajah pendonor itu dikarenakan seluruh tubuhnya telah dibalut oleh kain putih. Lay hendak bertanya mengenai profil pendonor itu tapi suster-suster itu tidak mau menjawabnya membuat Lay penasaran. Mungkin ia harus menyelidikinya esok.

-ooo-

Luhan menggenggam tangan Alex. Suhu tubuh gadis itu tidak se-dingin sebelumnya namun tetap saja Luhan merasa khawatir, terlebih mendengar keterangan terakhir kondisi Alex membuat Luhan takut dan bingung. Apa yang harus ia lakukan? Ia tidak mungkin memilih mengevakuasi bayi itu dan melihat Alex terluka dan menangis untuk seumur hidupnya. Lagipula Luhan tidak berhak melakukannya , dia tidak pernah ada disaat Alex membutuhkannya dan ia dengan seenaknya menghilangkan bayi itu dari ibunya, Luhan pikir itu kejam. Tapi bila Luhan tidak mengikuti saran dokter gadis itu akan pergi darinya, menghilang dari pandangannya dan hidup didunia yang berbeda dengannya, Luhan tidak mau itu.

“Hyung istirahalah, kau terlihat lelah. Biar aku yang menjaganya.” Luhan sedikit terkejut saat Lay menepuk pundaknya. Lelaki itu tersenyum samar lalu menggeleng tanda menolak tawaran Lay.

“Tidak Lay biar aku saja, aku ingin menjadi orang pertama yang dilihatnya saat ia sadar nanti.”

“Kau namja yang baik hyung.” Luhan tersenyum pahit.

“Tidak seperti yang kau bayangkan Yixing-ah….” Luhan kembali memperhatikan Alex yang masih bernafas dengan alat bantu pernafasan. Walaupun dokter mengatakan jantung Alex sudah berkerja normal namun pernafasan gadis itu sedikit terganggu akibat kontraksi dirahimnya.

“Menurutku kau pria baik hyung, aku senang kau ayah dari bayi itu.” Luhan tidak tahu harus berekspresi seperti apa tapi perkataan Lay seakan tidak membantunya. Banyak orang yang mendukungnya tapi Luhan merasa justru ia dalang pembuat keonaran ini. Jika saja malam itu ia mengejar Alex dan menjelaskan semuanya mungkin ini tidak akan terjadi. Tapi terlambat, semua sudah terjadi dan Luhan tak dapat melakukan apapun selain menyerahkannya pada sang pencipta.

“Lay, kau lihat Kris?”

“Aku tidak melihatnya.”

“Mungkinkah dia….” Lay mengangkat bahunya.

“Mungkin dia butuh ketenangan. Aku tidak melihatnya paska operasi Alex dan…. Kai juga begitu. Bahkan ia menghilang sejak Alex dinyatakan hendak dioperasi.” Luhan menoleh kali ini wajahnya terlihat begitu serius.

“Kemana anak itu?” Lay kembali mengangkat bahunya.

“Suho hyung mengatakan Kai pergi untuk menenangkan diri.” Luhan mengangguk lalu kembali memposisikan wajahnya menghadap Alex.

“Tidakkah…. Kau penasaran dengan pendonor itu?”

“Pikiranku sudah penuh dengan Alex, Lay.” Lay mengangguk paham.

“Kalau begitu aku pergi, kau mau menitip sesuatu?”

“Nanti saja Lay.”

“Baiklah, aku pergi.”

Luhan mencium lekat tangan Alex lalu mengusap wajahnya dengan penuh kelembutan. Luhan diam namun didalam diamnya dia terus memanjatkan ribuan doa untuk Alex berharap semuanya baik-baik saja dan gadis itu dapat kembali membuka matanya. Sadar atau tidak Luhan berharap ia ingin kembali ke masa dimana ia dan Alex tidak bertemu agar semuanya dapat berjalan semestinya. Luhan berharap ia kembali ke masa dimana ia belum mengetahui Alex dan semua kembali baik-baik saja. Tapi Luhan tertunduk lemas karena sadar telah mengharapkan sesuatu yang mustahil.

Luhan menghapus air matanya yang kembali terburai untuk kesekian kalinya. Dia memandangi lekat-lekat wajah gadis itu seperti tidak pernah bosan memandangi ciptaan Tuhan itu.

-ooo-

Kris duduk termangu diatap rumah sakit. Rambut pirangnya berantakan akibat terpaan angin pagi yang menghambur rambutnya. Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 itu artinya sudah lebih dari tiga jam pria itu tidak tidur. Dalam keadaan seperti ini siapapun enggan untuk menutup matanya barang sebentar termasuk Kris. Bagaimana ia bisa tidur disaat adiknya itu tengah sekarat. Kris sudah sangat senang saat adiknya dinyatakan berhasil dalam operasi pencangkokan jantung namun ia kembali dihadapkan dengan kenyataan pelik. Kris benci ini, mengapa adiknya terus-menerus terkena hukuman yang seharusnya ia yang mendapatkan. Selama ini adiknya selalu berbuat baik agar Tuhan selalu mendengar pesan disetiap doanya. Namun takdir rupanya telah memainkan jiwa gadis itu. Entah apa kesalahan gadis itu hingga harus menghadapai segala cobaan yang begitu rumit ini.

Ternyata benar kata orang, dimana orang berhati bak kertas putih akan selalu tersiksa hingga akhir. Sampai tokoh jahat itu memilih menyerah kemungkinan tokoh baik itu akan kembali seperti semula atau kemungkinan lainnya justru menghilang dari dunia ini. Kalau Kris boleh memilih ia ingin adiknya hidup walaupun adiknya itu membencinya. Tapi Kris juga tidak mungkin hidup berjauhan dengan adiknya itu. Bagaimana pun Alex adalah belahan jiwanya, saudara sedarahnya yang tidak mungkin terpisahkan. Tapi apakah harus seperti itu? Kau begitu egois, setidaknya biarkan gadis itu memilih takdirnya.

Kris menghapus air matanya lalu mengacak rambutnya hingga semakin kacau. Selama ini Kris tidak pernah percaya bahwa Tuhan itu ada karena Kris merasa jika Tuhan menyayanginya kenapa ia terus-menerus memberi cobaan yang selalu membuatnya hancur. Tapi situasi sekarang Kris jujur ingin kembali padanya dan berharap Tuhan mendengar doanya untuk sekali ini saja. Kris akan memberikan segalanya asalkan adiknya sembuh.

“AKU MENYERAH TUHAN!! KAU SUDAH MENGAMBIL ORANG TUAKU, HYUNRI, KEBAHAGIANKU DAN KEHORMATANKU, tapi kenapa? KENAPA…. KAU MENGAMBIL ALEX JUGA DARI HIDUPKU EOH?” Kris membentak langit seakan langit itu adalah wujud dari Tuhan. Kris terlihat begitu frustasi dan untuk kesekian kalinya lelaki itu kembali menitikkan air matanya.

Saat ini hanya ada Kris Wu yang lemah, tidak ada sosok Kris yang tegas dan berwibawa. Tidak ada lagi wajah dingin, sekarang hanya Kris yang begitu rapuh dan putus asa. Ia bingung harus mengadu pada siapa. Kris sudah begitu jauh berjalan dari jalan yang diberikan oleh Tuhan, mustahil ia memutar balik dan kembali seperti awal.

“Dengan kerendahan hatiku aku menghadap pada-Mu…. Aku mohon untuk kali ini saja…. Dengarkan doaku…. Aku tidak akan meminta apapun setelah ini….” Kris bersujud menghadap langit yang mulai menampilkan cahaya jingga diujung timur.

“Sembuhkan Alex, karena…. Aku tidak dapat hidup tanpa kehadiran adikku hiks…. aku mohon padamu….” Kris membiarkan air matanya membanjiri wajah lelahnya. Memohon dengan segala kerendahannya agar sang pencipta mau mengabulkan permintaannya.

“Hyung….” Kris memejamkan matanya menikmati kehangatan dari cahaya matahari yang baru saja terbit. Dia tak memperdulikan Suho yang terus memanggil namanya.

“Hyung….”

“Bisa kau tinggalkan aku sendiri!” Suho menghebuskan nafas beratnya, ia harus kuat demi orang-orang yang terlihat seperti barang pecah belah yang dapat hancur kapan saja.

“Hyung….”

“DEMI TUHAN JUNMYEON TINGGALKAN AKU SENDIRI!”

“LALU MEMBIARKANMU TERUS MENYALAHKAN DIRIMU BEGITU?” Nafas Suho naik turun begitu melontarkan kalimat yang selama ini ia simpan. Suho tidak tega melihat Kris terus-menerus menyalahkan dirinya. Ia sudah sangat gila dengan member lain yang terus menekuk dan diam dengan ekspresi wajah yang sangat kosong. Diantara member lain yang terlihat cukup tegar hanya dia, Lay dan Xiumin selain itu mereka akan bersikap bak mayat hidup seperti halnya Luhan dan Kris.

“Kalau kau terus begini hyung…. Alex juga akan sedih, berhentilah bersikap gila hyung!” Kris menutup wajahnya dengan tangannya saat Suho memarahinya layaknya bocah 12 tahun yang nakal.

“Dengarkan aku hyung, dengarkan aku sebagai sesama leader. Kita harus kuat demi mereka dan Alex, kau kakaknya kan?” Kris mengangguk pasif.

“Hibur dan rawat dia, dia membutuhkanmu hyung.” Suho menepuk-nepuk pundak namja Chinese-canadian itu lalu tersenyum penuh ketulusan  membuat energi yang selama ini terbuang kembali bersemi layaknya bunga dimusim semi.

“Terima kasih Junmyeon, terima kasih banyak.”

-ooo-

Alex sedang duduk menyandar dengan tiga bantal dipunggungnya. Gadis itu baru saja sadar beberapa menit yang lalu. Luhan duduk disampingnya sedangkan Sehun sibuk mengupas apel untuk Alex.

“Ayo Lex buka mulutmu, ini apel yang sangat manis dan lezat ayo makan.” Sehun menyodorkan sepotong apel merah yang sudah dikupas menggunakan garpu kecil khusus memakan buah. Alex melahapnya pelan membuat Sehun senang, karena walaupun sakit nafsu makan gadis itu tidak menurun.

“Bagaimana, enak kan?” Alex mengangguk.

“Makan yang banyak Lex agar kau cepat sembuh.” Luhan mengusap kepala gadis itu dengan senyuman palsunya. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa gadis itu baru saja kehilangan salah satu bayinya. Kondisinya belum memungkinkan untuk mengetahui semua itu.

“Oppa tadi kau mengatakan aku baru saja melakukan tranplantasi jantung, katakan siapa pendonornya aku ingin berterima kasih padanya.” Kedua namja itu saling berpandangan lalu Luhan meraih jemari gadis itu lalu mengelusnya hangat.

“Kita akan kesana setelah kau sembuh oke.” Luhan kembali menampilkan senyumnya yang menenangkan.

“Memangnya aku sakit apa?” Luhan membeku, dia tidak tahu harus menjawab jujur atau tidak. Bila ia berbohong itu justru semakin melukai gadis itu bila ia memilih jujur gadis itu akan shock dan kemungkinan sakitnya bertambah parah.

“Oppa jawab aku?” Luhan hendak membuka mulutnya sebelum pintu kamar rawat Alex menjeblak terbuka menampilkan sosok Kris yang begitu berantakan.

“Alex….” Kris berhamburan memeluk adiknya erat seperti takut kehilangan sosok itu.

“Oppa kenapa?” Alex merangkum wajah Kris dengan kedua tangan ringkihnya. Ia menatap Kris yang begitu sayu dan sembab.

“Lex ayo angkat bayi itu!”

“M-maksud oppa?” Alex melihat Kris tidak mengerti lalu menoleh pada Sehun meminta penjelasan.

“Kau mengalami infeksi dirahimmu, aku mohon angkat bayi itu sebelum terlambat Lex.” Alex tak merespon apapun, otaknya sibuk memproses apa yang baru saja kakaknya katakan. Infeksi rahim? Kau bercanda?

“K-kenapa bisa infeksi? Kenapa harus diangkat? Jelaskan semua padaku!” Kris tak mampu berkata-kata, ia hanya menunduk menatap lantai.

Sehun melihat Alex prihatin, gadis itu pasti kecewa dengan kenyataan yang menimpanya.

“Karena benturan keras kandunganmu melemah Lex hingga mengakibat infeksi dirahimmu. Jalan satu-satunya adalah mengangkat bayi itu, ini demi kebaikanmu Lex.” Sehun menjelaskan secara perlahan. Walaupun begitu tak berpengaruh apapun melainkan semakin membuat wajah kecewa yang terlihat jelas diwajah pucatnya.

“Lex….”

“Aku tidak mau…. Aku susah payah membesarkannya lima bulan terakhir ini, aku tidak mungkin menghilangkannya dari hidupku, aku…. Aku sangat menyayanginya….” Alex menitikkan air matanya membuat ketiga namja itu semakin merasa bersalah. Benar dugaannya, gadis itu pasti memilih mempertahankan bayi itu daripada menyelamatkan nyawanya sendiri.

“Tapi Lex itu akan membahayakan nyawamu, l-lagipula bayi itu sesak berada dilingkungan tak nyaman didalam sana.” Kali ini Kris bersuara. Namun gadis itu tetap kukuh pada pendiriannya.

“Aku bisa oppa, aku akan menunggunya hingga organ tubuhnya terbentuk dengan sempurna. Tujuh bulan, itu tidak lama kan?” Alex tersenyum manis walaupun getir.

“Kali ini saja Lex, dengarkan omongan oppa! Oppa tidak akan menuntut hal lain setelah ini!” Alex menggeleng.

“Aku akan pertahankan bayi ini….” Alex membelai perutnya penuh kasih sayang. Luhan yang melihatnya begitu bodoh karena tak dapat melakukan apapun. Menenangkannya? Bahkan Luhan pun sangat gelisah sekarang. Menghiburnya? Bodoh! Ia pun butuh hiburan sekarang. Lalu apa? Ia hanya bisa diam dan mendukung apa keputusan gadis itu.

“Tapi Lex?”

“Aku ibunya oppa! Aku tahu yang mana yang terbaik untuk anakku!”

“Dia hanya akan menyakitimu Lex!”

“Seorang anak tidak mungkin menyakiti ibunya oppa….”

“Alexandra Wu!” Sehun menahan Kris.

“Aku ingin istirahat oppa, tinggalkan aku sendiri!” Gadis itu tidur menyamping, menghindari tatapan intimidasi Kris.

Sehun meletakkan piring berisi potongan buah apel diatas meja lalu menuntun Kris berjalan keluar. Sedangkan Luhan, lelaki itu masih mengeras ditempatnya memandangi punggung Alex yang bergetar.

“Ambil keputusan yang menurutmu benar Lex, aku mendukung semua keputusanmu. Tapi…. Aku ingin kau mengerti perasaanku selama ini….” Alex mengigit bibirnya menahan isak tangisnya terlebih mendengar ucapan Luhan yang mengenyuh hatinya.

“Aku mencintaimu….” Luhan mencium kepala Alex. Luhan tak dapat melihat wajah gadis itu karena ia sedang tidur membelakanginya tapi ia yakin gadis itu tidak tidur dan sedang menangis sekarang, terlihat dari bahunya yang bergetar. Luhan membuka pintunya melihat Alex sebentar lalu menghilang begitu saja. Ia ingin memberi ruang bagi Alex. Ia yakin gadis itu butuh ketenangan.

Setelah Luhan pergi Alex menangis dengan kerasnya. Ia ingin meluapkan segala keresahan yang menyumbat hatinya. Apa yang harus ia lakukan? Memilih mempertahankan bayinya atau menhilangkan bayi itu dari hidupnya.

TBC~

276 responses to “[Freelance] Love Drunk (PART 13)

  1. yaAllah kai kalo beneran dia yang donorin sumpah sedih bangettttt jujur feel aku hongbin tapi gayakin juga ah ffnya bikin nyesekkkkkkkk
    Part akhirnya dipw dan aku penasaran bgtttt ini ff udah lamaaku minta pwnya di twitter author ajayah

  2. Kasian alexnya kena bencana terus… penasaran siapa yang ngedonorin jantung… kamjong atau bin oppa… eoni aku reader baru… boleh minta pasword part 14

  3. Thor setelah membaca dua tahun yg lalu, aku meninggalkan satu chapter yaitu chapter 14. Hikss password nya aku minta di twitter author aja nde

  4. Eonni.. mnta pw yg part terakhir dong. Baru baca ffnya padahal udh setahun yang lalu tpbeneran daebak banget dah.
    Oh iya mian gk comment d part part sebelumnya jaringan.ngandet mulu hehe.

  5. kai atau hongbin?
    kayak nya sih kai, soalnya udah keliatan di percakapannya tadi.. mungkin maksud dr menenangkan diri yaa itu…

    huaa terharu.. ~T_T~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s