[Freelance] Perfect Idol [Part 1]

perfectidol

Perfect Idol [Part 1]

Author : CJN a.k.a cantikajulia

Twitter : @CantikaJN

Main Cast :

–          Oh Sehun

–          Lian Kim or Lyla [OC]

Other Cast :

–          Kim Jong In a.k.a KAI

–          Chae Jang Mi [OC]

–          Xi Lu Han

–          Park Min Ka [OC]

–          Byun Baek Hyun

–          Others

Genre : Romance

Lenght : Chaptered

Rate : Teenager or PG 15

Poster by : http://giriratnafanfic.wordpress.com/

Disclimer : Perfect Idol adalah FF pertamaku, jadi harap dimaklumi. FF ini murni dari imajinasiku, aku tidak meniru karya orang lain. Jika ada kesamaan cerita, itu bukan di sengaja. FF ini sudah aku posting di blog pribadi aku, silahkan di lihat http://cantikajulia.wordpress.com/.  Jika sudah terlanjur membaca, jangan lupa di komen dan follow twitter aku, gamshahamnida J … XOXO for readers

Summery :

“Aku Lian Kim, aku mahasiswa dari Seoul University. Aku juga bekerja di sebuah butik milik desainer ternama,  Danny Jo. Yah walaupun hanya membantu-bantu saja, tapi aku dapat belajar banyak di sana. Orang tua ku tinggal di Indonesia, sedangkan aku memilih menetap di Korea seorang diri. Simak ceritaku selanjutnya”

“Aku Oh Sehun, seorang aktor terkenal di Korea. Aku aktor yang berbakat, bertalenta, berkarisma, dan juga tampan. Aku menyukai segala hal yang sempurna. Lihat saja ceritaku selanjutnya”

“Aku Kim Jong In, nama panggungku Kai. Aku seorang dancer terkenal di Korea. Aku juga koreografer untuk Boyband Korea di agensiku. Hidupku untuk menari. Simak ceritaku selanjutnya”

<=Perfect Idol Chapter 1=>

[Lian Point Of View]

“Sekarang juga kau harus datang ke butikku! Tidak pakai lama!” orang itu berteriak di seberang sana, sampai-sampai aku harus menjauhkan iPhone ku dari telinga.

“Tapi, Sajangnim, aku masih di kampus”

“Tidak ada alasan. Aku mau kau sudah ada di sini, secepatnya. Titik!” tiba-tiba saja dia menutup teleponnya secara sepihak sebelum aku mencoba mengelak. Aku hanya menghela napas. “Bisa gila aku” gumamnya pada diri sendiri.

“Ada apa?” tanya seseorang dari sebelahku.

“Omo. Kau mengejutkanku saja, Minka-ya” ternyata sahabatku yang bernama MinKa.

“Dari tadi aku melihatmu seperti orang yang di kerasukan”

“Orang itu seenaknya saja memerintah orang, menyebalkan sekali bukan? Aku harus ke butik sekarang. Kalau tidak dia akan membunuhku” aku langsung lari tergesa-gesa tanpa menghiraukan teriakkan Minka.

“Ya! Lian Kim. Kau mau kemana??!! Hari ini masih ada jam kuliah!!!” teriak Minka yang membuatku terkejut. Aku baru teringat hal itu lalu langsung berbalik dan berteriak juga padanya. “Tolong katakan, aku izin!” lalu ku teruskan lariku menuju halte bis.

Sesampainya di butik aku langsung menuju ruangan Jo Sajangnim. Kutarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum membuka knop pintu itu. Perlahan tapi pasti kubuka pintunya, dan terlihat Sajangnim yang sedang menelpon dengan paniknya. Sepertinya dia sedang stress.

“Permisi, Sajangnim” aku berkata. Dia mengangkat tangannya agar aku menunggu dengan handphone yang masih di telinganya. Selesai dia menelpon dia berbalik padaku.

“Kau sudah datang rupanya. Lian, aku ada pekerjaan untukmu, aku sangat membutuhkan mu untuk proyek ini. Kau tolong ikut aku belanja bahan untuk rancangan pakaianku hari ini. Asistenku tiba-tiba saja mengajukan cuti untuk 6 bulan”

“Ah, baiklah, Sajangnim” aku berkata pelan.

“Kalau begitu, ayo kau ikut aku belanja kain” setelah berkata begitu, Jo Sajangnim keluar dari ruangannya. Akupun mengikutinya dari belakang. Ternyata kami ke Gangnam untuk membeli kain.

Oh aku belum memberi tahu Sajangnimku siapa. Dia adalah Desainer terkenal yang rancangannya selalu di pamerkan di acara Fashion Show ternama. Namanya Danny Jo, rancangannya sungguh menakjubkan, aku ingin sepertinya. Jo Sajangnim orang yang baik, karena kebaikannya itulah aku diterima kerja di butiknya. Dia pria berumur 30 tahunan, dan dia juga tampan, sayangnya dia gay -_-

“Lian, kemari kau! Jangan melamun!” aku tersadar dari lamunanku.

“Oh, ne

“Kau bawa barang belanjaannya. Masukkan ke dalam bagasi mobil” ucapnya dengan nada menyuruh. Ah sial, ternyata aku diajak kesini untuk di jadikan kuli. Batinku.

Ne” kataku agak kesal.

[Oh Sehun Point of View]

Cut! Oke, syuting hari ini selesai sampai disini” Sutradara itu berteriak dengan toa nya.

Aku langsung dihampiri oleh asistenku yang mengelap keringat di dahiku. Kemudian Managerku juga menghampiriku.

“Sehun-ah, ibumu menyuruhmu untuk datang makan malam di rumah. Sebaiknya kau temui saja ibumu itu, mungkin dia merindukanmu” Luhan Hyung memberithuku. Aku hanya menghela napas, tahu apa tujuan Eomma menyuruhku pulang untuk makan malam.

“Aku tahu apa yang akan dibicarakannya nanti padaku. Aku bosan, Hyung. Aku tidak mau dipaksa terus untuk hal yang aku tidak ingin melakukannya”

“Aku tahu. Jadi kau datang saja, temui Ibumu dan dengarkan baik-baik apa yang beliau inginkan. Lalu kau beri penjelasan padanya dengan halus” Luhan Hyung menasehatiku agar datang menemui Eomma. Sebaiknya aku harus datang, setelah dipikir-pikir aku sudah lama tidak mengunjungi Eomma karena aku sibuk dan aku tinggal terpisah dengan keluargaku.

“Ah, baiklah aku akan datang nanti malam. Ayo kita pulang” lalu aku pergi ke parkiran dan langsung masuk ke mobil. Mengistirahatkanku sambil memejamkan mata di jok samping pengemudi. Luhan Hyung yang menyetir mobilnya menuju ke perumahan elit di daerah Seoul.

Sampai di rumah aku langsung masuk ke kamar dan mandi. Luhan Hyung sepertinya sedang makan di dapur.

Setelah mandi, aku keluar kamar dan duduk di sofa ruang TV. “Hey, Sehun. Kau tidak mau makan?” tanya Luhan Hyung dari arah dapur.

“Tidak. Belum lapar”

“OHAHA aku tahu, pasti kau menunda makan karena ingin makan masakkan Ibumu nanti malam kan? Hahaha mengaku sajalah, Sehun” dia meledekku rupanya.

“Tidak. Aku hanya belum lapar saja” jawabku ketus.

“Benarkah?” tanya Luhan Hyung dengan nada yang meremehkan.

“Sudahlah. Kau makan saja, tidak usah mengurusiku dulu” kataku kesal.

“Baiklah, baiklah. Hahaha padahal sudah jelas terlihat” sekarang Luhan Hyung dia sedang terkikik geli. Ini menyebalkan. Yah, harus ku akui, sebenarnya aku memang menunggu makan makanan buatan ibuku. Tapi aku gengsi untuk mengatakannya.

“AAAAh kenyangnya. Sehun-ah, aku pulang dulu yaaaa! Aku titip salam untuk Ibumu. Bye” lalu dia beranjak keluar rumah.

“Cih, dasar. Kau disini hanya menumpang makan saja. Iya nanti kusampaikan, kalau ingat -_-“
“Hehehe” dia hanya menyengir tak jelas lalu sudah hilang dari balik pintu.

Aku mengdesah pelan. Entahlah, aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan pada Ibuku yang selalu mengatakan permintaannya dengan cara halus tapi cukup medesakku itu. Aku akan mencoba untuk menuruti dulu keinginan Ibu ini.

[Lian Point of View]

Sesampainya dirumah aku langsung rebahan di sofa ruang TV. Aku menatap langit-langit rumahku dengan napas yang masih tersengal-sengal.

Aku melimpahkan kekesalanku dengan memaki Jo Sajangnim. “Orang itu membuatku susah saja. Dia menyuruhku mengangkut semua barang belanjaannya. Memangnya aku kuli apa? Yah, memang sebenarnya aku kuli sih, tapi diakan bisa membantuku juga membawa setengahnya, kenapa harus dilimpahkan semuanya padaku??!! Apa pekerjaan asistennya seperti itu ya?” hiiiii aku bergidig ngeri.

“Eh, ngomong-ngomong Minka kemana ya?” aku melemparkan pandanganku ke seluruh rumah flat kecil ini.

Di rumah yang hanya terdapat dua kamar tidur, satu dapur, satu kamar mandi, satu ruang TV, dan ditambah balkon yang menghadap ke arah barat ini ditinggali aku dan Minka sahabatku. Kami sudah berteman lama sekali saat kami sama-sama duduk di bangku SMA hingga sekarang kami kuliah sudah semester 3 di kampus yang sama, dan jurusan kami juga sama yaitu fashion desainer.

Temanku yang satu itu padahal dia orang kaya, tapi dia ingin hidup mandiri katanya. Dan aku juga sama dengannya, orang tuaku tinggal di negara yang berbeda.

Ayahku orang Korea asli, Ibuku orang Indonesia asli, mereka menikah dan tinggal di Indonesia sampai aku lahir disana, kemudian kami pindah ke Korea karena Ayahku ditugaskan di sini. Kami menetap di Korea hingga aku berumur 6 tahun, kemudian kami pindah lagi ke Indonesia. Dan lahirlah adikku yang lucu itu, Ririn. Sekarang dia kelas 1 SMA di Indonesia. Aku merindukannya.

Ceklek

Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan menampakkan seseorang dari pintu itu. Aku langsung terkejut melihatnya.

“Oh kau. Kukira siapa. Aku sampai terkejut. Kenapa baru pulang?” tanyaku pada Minka yang baru pulang itu.

“Ada seseorang yang mengajakku kencan tadi”

“Heuuh.. siapa lagi pria itu?”

“Kau ini! berbicara seperti aku seorang playgirl saja!” dia langsung cemberut. Minka yang cantik, tak heran banya lelaki yang jatuh hati padanya dan diapun menyambut mereka dengan senyuman menawan, tapi aku tahu dia tidak sembarangan bermain denga lelaki.

Sedangkan aku. Aku gadis yang biasa saja, aku tidak pernah terlihat dekat dengan laki-laki. Bukan berarti aku ini tidak laku, enak saja. Aku hanya tidak mau terlibat dalam urusan percintaan. Memikirkannya saja sudah membuatku bergidig ngeri. Aku hanya dekat dengan Byun Baekhyun, satu-satunya teman laki-laki yang dekat dengaku. Aku tidak pernah menganggapnya laki-laki, karena tingkahnya itu yang selalu sok imut. Idih geli aku.

Aku, Minka, dan Baekhyun adalah teman semasa SMA. Sayangnya aku dan Minka tidak sekampus dengan Baekhyun. Tapi dia masih tinggal di Seoul, kadang kala dia juga suka main ke rumah flat kami yang kecil ini.

“Hey! Kau melamun, Lian Kim. Sedang memikirkan apa?? Oh aku tahu kau sedang berpikir, kau juga ingin dekat dengan laki-laki kan?” tanya Minka sambil menggodaku menyadarkanku dari lamunanku. Ternyata dari tadi aku melamun, astaga.

“Iya, kan?” tanyanya lagi sambil menyolek daguku. Langsung kutepis lenganya sambil berkata dengan ketusnya.

“Apa sih??! Aku tidak pernah berniat bermain-main sepertimu”

“Eiiiy. Kita ini kan masih muda. Bersenang-senanglah sedikit, Lian-ah

No! I never gonna falling in love” ucapku tegas.

“Kau jangan berbicara sembarangan. Pasti nanti kau akan merasakan jatuh cinta, Lian-ah

“Sudahlah. Aku mau tidur. Capek!” ucapku sebal lalu memasuki kamarku.

“HAHAHAHA~” Minka tertawa terpingkal-pingkal.

Dikamar aku termenung di depat cermin. Aku jatuh cinta? Hah! Tidak mungkin. Aku mengerutu sedikit lalu bergegas untuk mandi.

[Sehun Point of View]

Malam ini, aku akan datang ke rumah orang tuaku. Sudah 6 bulan aku tidak pernah berkunujung. Sekarang aku sudah ada di depan pagar rumah. Lalu kubuka perlahan pagar rumah besar milik CEO perusahaan Sam Electronic, yaitu ayahku.

“Aku datang, Eomma

“Oh kau datang, Sehun-ah?” Ibuku yang sedang duduk di sofa sambil bersantai langsung menghampiriku dan memelukku.

“Ada apa Eomma menyuruhku datang?”

“Wah ternyata Luhan sudah memberi tahu mu ya? Baik sekali anak itu. Apa kau tidak merindukan Eommamu ini, Sehun-ah?”

“Iya, aku merindukanmu” jawabku pelan.

“Aaaah senangnya aku. Kau istirahat saja, biar Eomma buatkan makan malam”

Sementara Ibuku menyiapkan makan malam, aku naik ke lantai atas menuju kamarku. Wah, sudah lama sekali aku tidak mengunjungi rumah ini sampai-sampai aku merindukan kamarku sendiri. Aku duduk di kursi meja belajarku dan menatap semua barang-barang di kamar ini.

“Hah… Eomma pasti ada maksud memintaku datang selain karena dia rindu padaku. Pasti karena wanita lagi” aku menghela napas berat.

Lalu aku keluar kamar dan menuju dapur.

Abeoji masih di kantor?” tanyaku. Ibuku langsung menoleh dan tersenyum padaku.

“Sebentar lagi juga pasti pulang”

Benar kata Ibuku. Tak lama sebuah klakson mobil berbunyi. Dan pintu besar rumah ini terbuka menampakkan sosok Ayahku yang sudah tua.

“Oh, kau ada di sini, Sehun-ah?” tanya Ayahku.

Aku memberi hormat padanya dan menjawab. “Ne, Abeoji

“Suamiku sudah pulang rupanya. Ayo kita makan malam bersama” Ibuku tiba-tiba berseru.

Kami duduk di meja makan yang di atasnya penuh makanan yang disiapkan Ibuku dan pelayan. Aku menyantap makanan itu dengan khidmat. Setelah selesai acara makan malam, ibuku tiba-tiba berkata.

“Sehun-ah. Apa kau sudah memiliki yeoja? Jika belum, Eomma berniat menjodohkanmu dengan anak gadis dari teman Eomma. Bagaimana?” sudah kuduga, pasti akan muncul pertanyaan halus dari Ibuku tentang hal ini.

“Benar, Sehun-ah. Kau kan anak tunggal dari keluarga Oh. Sudah seharusnya kau meneruskan perusahaan ini dan berhenti dari pekerjaanmu itu, Sehun-ah” Ayahku ikut menimpali perkataan Ibu. Aku jadi teringat ucapan Hyungtadi sore.

“Enthlah, akan kupikirkan nanti”

“Baiklah tidak apa-apa. Gadis ini seorang model cantik, mungkin kau akan terpesona padanya. Jika kau sudh siap, aku akan menyiapkan pertemuan kalian”

“Terserah Eomma saja. Ini sudah malam, sebaiknya aku pamit pulang”

“Tidurlah disini, Sehun-ah” Ibuku merajuk lagi.

“Yasudahlah, kau pulang saja” kata Ayahku.

“Baiklah, aku pulang dulu” aku langsung memberika hormat kepada orang tuaku dan beralan keluar rumah.

Saat di perjalanan pulang, aku banyak berpikir bagaimana aku harus menolak perintah halus dari kedua orang tuaku.

Aku harus mencari wanita untuk menjadi pacar gadungan, sepertinya. Batinku. Tiba-tiba aku teringat harus ke super market dulu. Ku belokkan mobilku menuju super market terdekat. Sebelumnya aku melakukan penyamaran terlebih dahulu.

[Lian Point of View]

            Aku teringat harus membeli sesuatu ke super market. Lalu ku raih mantelku dan keluar dari kamar.

“Kau mau kemana?” tanya Minka.

“Ke super market, kau mau menitip apa?”

“Aku titip Ramen ya”

“Baiklah”

Udara di malam hari saat musim gugur sunggung kejam. Untung aku mengenakan mantel. Dan untung juga super marketnya tidak jauh dari gedung rumahku.

“Oh, Lian eonni. Tumben sekali keluar malam-malam?” ternyata penjaga kasir yang sudah kukenal berbicara padaku.

“Iya, aku harus membeli sesuatu” lalu kuserahkan barang belanjaanku padanya.

“Jadi 15.000 WON eonni” katanya sambil tersenyum padaku. Ku rogoh sakuku dan mencari uang. Lalu aku menatap Sohee si kasir.

“Ada apa eonni?” tanyanya yang melihat aku kebingungan.

“Uangku tidak ada, Sohee-ah” jawabku dengan panik. Kurogoh sakuku lagi mengeluarkan iPhoneku. Aku menelpon Minka agar menyusulku ke super market dan membawa uang, tapi dia tidak mengangkatku. Aku langsung menaruh asal iPhone ku di meja kasir.

Eonni, kau bisa pakai uangku dulu kalau kau mau”

“Tidak usah, Sohee-ah

“Kalau begitu, sebaiknya pria yang dibelakang dulu saja yang di layani” ucap Sohee kembali. Lalu aku menoleh dan mendapati seorang laki-laki yang mengenakan topi hiam, kacamata hitam, dan syal yang hampir menutupi wajahnya, dia sedang sibuk menelpon. Aneh sekali, malam-malam pakai kacamata, bodoh, batinku.

“Baiklah” aku minggir ke samping sambil merogoh sakuku kembali. Aku melihat pria itu menyimpan teleponnya di meja kasir lalu mengeluarkan uang, lalu buru-buru keluar dari super market. Aku menghelah napas.

“Sohee-ah, sepertinya aku harus meminjam uangmu dulu” kataku lirih.

“Tidak masalah, eonni” katanya. “Terima kasih” aku tersenyum padanya sambil mengambil belanjaanku dan iPhoneku. “Besok aku bayar” kataku sebelum meninggalkan tempat itu.

Aku berjalan ke gedung apartemen kecilku itu. Jalanan lengang, jarang mobil yang lewat. Sebenarnya aku sudah terbiasa keluar malam seperti ini, tapi entah kenapa aku merasa ada yang salah. Entahlah.

[Sehun Point of View]

Sepulangnya  dari super market tadi entah kenapa aku merasa seperti terganggu dengan perasaan yang mengganjal, tapi aku tidak tahu kenapa. Saat di super market tadi aku sempat menelpon Luhan Hyung tentang makan malam bersama Ibuku. Lalu aku menceritakan Ibuku membahas tentang wanita lagi. Dan juga aku menyampaikan ide gila ku padanya yang langsung di sambut pekikan nyaringnya. Haha masa bodo dengan hal itu.

Oh, ya. Saat aku ingin membaya di kasir ada seorang gadis yang terlihat begitu kacau. Si kasir juga ikut dibuat bingung olehnya. Lalu tiba-tiba dia menolehkan kepalanya ke belakang, tepatnya ke arahku.

Tatapan mata kami bertemu, tidak-tidak, kami tidak bertatapan. Hanya aku saja yang menatap dalam matanya. Dia melihatku dengan pandangan aneh. Yah itu wajarlah, karean aku mengenakan kacamata hitam di malam hari dan pakaian ku semuanya tertutup.

Mata itu sangat indah, seperti ‘berlian’. Indah sekali. Matanya itu sangat jernih. Tapi, tiba-tiba dia membuang muka dan menggeser tubuhnya kesamping, mempersilahkanku untuk duluan ke kasir.

Ah, aku merasa lelah sekali. Besok masih ada syuting, aku harus cepat-cepat tidur.

[Lian Point of View]

Sinar matahari mencoba masuk dari sela-sela jendela kamarku. Tapi, aku sudah tidak mendengar lagi kicauan burung-burung yang biasanya bertengger di jendela kamarku.

Aku bangun dari tidur dan menggeliat sebentar. Kepalaku terasa pusing. Aku menolehkan kepalaku ke meja kecil di samping tempat tidurku. Mataku membelalak.

MWO??!! Jam 8.45? huaaaa aku terlambat!!! Kenapa alarm di handphone tidak menyala??” aku berteriak dengan hebohnya. Lalu aku meraih iPhone ku yang ada di meja.

Ige Mwoya??!! Handphone siapa ini?? sejak kapan iPhone ku berwarna hitam?”

[Sehun Point of View]

Kring~kring~kring

“Arrgghh!! Bunyi apa itu. Mengganggu tidurku saja!” suara bising itu masih saja berdering dengan riangnya. Terpaksa aku bangun dari tidurku yang nyenyak ini. Aku mengedarkan pandangan, pandanganku tertuju pada meja kecil di sebelah tempat tidurku dan benda yang sedang menyala-nyala itu. Lalu aku meraihnya.

What is it??!! Handphone siapa ini?? sejak kapan iPhoneku berwarna putih?”

To Be Continue

50 responses to “[Freelance] Perfect Idol [Part 1]

  1. Wkwkwk,iphone nya ketuker ya…
    awal yg bagus,Next ya thor…penasaran jg,sehun di jodohin ma sapa ya????

  2. Wah~ wah~ wah~ 😮 fantastic ide ff.nya thro.. Sumpah! Gue suka suka suka bangett^^ tp bagian jongin blm muncul yah. Kurang panjang menurut aku thor,,,
    Kelihatan.nya ff ini akn jd ff yg q ikutin d tahun ini, tp please thor jgn pake PW -_- q janji akn coment,, dan next.nya cepet yah 🙂

  3. Ff ini kaya crta di novel. Gua prnh baca novelnya. Kalo ga salah judul novelnya Summer In Seoul. Ini authornya trinspirasi apa ngikutin crta itu novel? Ga ada jongin di next chap

  4. hmm, maaf ya thor bukannya aku sok tau atau apa. tp kayanya ini ‘agak’ mirip sama cerita novel Summer In Seoul deh.,
    tp gk tau sii, kalo aku liat di chap ini memang agak mirip sma cerita novel itu, cuman bedanya kejadiannya dibalik
    tp aku gk bermaksud apa kok thor, cuman tanya aja. atau mungkin memang authornya terinspirasi sma novel itu kali yaa 😀

  5. Ini ff persis banget ceritanya kaya novel karya ilana tan yg summer in seoul. Jadi gak surprise bacanya.

  6. annyeong…mian aku baru baca n komen skrg…aku pikir bakal mirip banget sama novel summer in seoul…g taunya beda…bagus koq saeng…fighting saeng..^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s