[Freelance] Love In Danger ( Chapter 2 )

love in danger2

Title: Love In Danger ( Chapter 2 )

Author : Randika Jung (@RandikaOh)

Main Cast:

Kim Jong In (EXO K)

Shin Ah Jung (OC)

Xi Luhan (EXO M)

Other cast :

All Member EXO

Krystal Jung ( F(x) )

Length : Chapter

Genere : Romance, sad, angst, School life,kekerasan

Rating : 17+

Disclaimber: ini ff asli pikiran saya don’t be siders dont’be plagiator..maaf ya buat yang chap 1nya kemaren banyak typonya aku lupa edit :D.. enjoy with my imagination guys .

Sebelum baca part dua kalian bisa baca ini dulu : Teaser| Chapter 1

Happy Reading!!

___oOo___

Pervious :

“Berhenti! Lepaskan dia”

“Tapi..”

“Sekarang dia tawananku”

 

____oOo____

“Aku membencimu, kau menghancurkan kepercayaanku! Pergi dari hadapanku Kim Jong In!”

 

“Maafkan aku Ah Jung, dengarkan penjelasanku, aku bisa menjelaskannya”

 

“Tidak ada yang perlu di jelaskan! Ini jauh lebih menyakitkan aku mendengarnya dari orang lain! Jangan kau fikir aku seperti wanita yang lainnya! Jangan pernah perlihatkan wajahmu di depanku, sengaja ataupun tidak sengaja!”

 

___oOo___

 

Laki-laki ini memandangi kedua orang di hadapannya, ia benar-benar heran apa yang terjadi pada mereka, bagaimana bisa satu orang perempuan dan satu oranglaki-laki bisa seperti ini? Mereka babak belur, bahkan bagaimana bisa ada yang tega membuat seorang perempuan memiliki luka lebam yang menyeluruh di tubuhnya?

“Kalian hutang penjelasan padaku? Oh ya tuhan jika ayah ku tau aku menggunakan namanya untuk mengancam aku bisa di bunuh, dan lagi aku menyelamatkan dia dan menyebutnya tawanan ku ayahku pasti akan bertanya-tanya”

Laki-laki bertubuh tinggi ini menggerutu kesal pada sahabatnya, menggunakan nama ayahnya itu adalah kesalahan, ia tau ayahnya adalah seorang mafia besar yang begitu di takuti dan tidak pernah ada yang berani dengan ayahnya, dan sekarang ia menggunakan nama ayahnya untuk menolong kedua orang yang tepat berada di hadapannya.

“Maaf Chan, kau bisa mengatakannya jika untuk menolongku”

“Ehm.. Maaf sebelumnya karena aku kalian jadi susah, maaf aku merepotkan kalian. Eum Jong In-ssi,Chanyeol-ssi terimakasih banyak. Sebaiknya aku pulang”

Perempuan ini membungkuk hormat menahan rasa sakit yang ada di punggungnya, ia sudah merasa bersalah membuat Jong In babak belur, bahkan mukanya sangat tidak berbentuk lagi.

“Tunggu, akh. Ah Jung-ssi, sebaiknya kau jangan pulang dulu, aku takut jika ayahmu akan memintamu melakukan hal itu lagi”

“Tapi Jong In-ssi…”

“Hanya untuk beberapa saat”

Perempuan ini menyerah, dia kembali ke posisi semula duduk di dekat Jong In dan menundukkan kepalanya. Ia terlalu tidak tega melihat wajah laki-laki di dekatnya.

“Jadi kalian bisa menjelaskan sesuatu padaku sekarang?”

“Eh. Eum itu aku..aku..”

“Dia dijadikan barang jaminan untuk membayar hutang ayahnya pada Tuan Go. Aku tidak habis berfikir ayahnya bisa setega itu. Chanyeo-ah apa apartemenmu yang satunya masih ada?”

Chanyeol menatap Jong In penuh tanya, untuk apa sahabatnya menanyakan apartemennya? Bukankah Jong In sangat kaya, ia memiliki rumah yang begitu luas seperti istana. Untuk apa lagi menanyakan hal yang sama sekali tidak masuk di akal itu?

Jong In menatap Chanyeol yang terlihat kebingungan, ia mengerti kenapa Chanyeol bisa sebingung ini. Ia mengarahkan bolamatanya menuju seorang perempuan yang tengah terduduk lemas dan menunduk. Chanyeol mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Jong In hanya mengangguk mengerti.

“Ah Jung-ssi untuk sementara kamu bisa tinggal di apartemenku yang ini, biar aku menempati apartemenku yang satunya”

“Eh tapi Chanyeol-ssi aku sudah terlalu merepotkanmu”

“Hanya sampai kau aman untuk pulang Ah Jung-ssi”

Ah Jung memandangi laki-laki di sampingnya, ia terlihat begitu tulus, ya walupun awalnya laki-laki itu membelinya untuk menikmati tubuhnya. Tapi yang terlihat dari awal justru berbanding terbalik dengan yang ia lihat sekarang, laki-laki itu terlihat jauh lebih tulus, bahkan merelakan wajah tampannya, dan tubuhnya babak belur demi melindungi dirinya.

“Baiklah, aku sungguh berterimakasih pada kalian, Jong In-ssi, Chanyeol-ssi terimakasih banyak”

“Jangan sungkan Ah Jung-ssi kalau begitu kalian ku tinggal dulu”

Chanyeol melangkahkan kakinya keluar aparetemen. Ia mengerti satuhal kenapa Jong In mau melakukan hal ini.

____oOo____

“Ibu apa kau yakin akan menikah dengan laki-laki itu? aku takut jika ibu tersakiti lagi”

“Tenanglah Lu, dia laki-laki yang baik lagi pula kau pasti akan senang, dia memiliki anak laki-laki jadi kau tidak akan kesepian”

“Terserah ibu asalkan ibu senang”

Perempuan yang berumur sekitar 40an berdarah China ini tersenyum manis pada anak laki-lakinya, menurut perempuan ini anaknya sedikit berubah sejak suaminya mencampakan ia dan memilih perempuan asli korea.

Laki-laki ini menatap ibunya penuh perasaan mendongkol dihatinya, ia tidak yakin jika laki-laki yang akan di nikahi ibunya adalah laki-laki yang baik, namun bagaimanapun ia tetap ingin ibunya bahagia.

___oOo___

Kejadian itu sudah hampir tiga hari sejak dirinya bertengkar dengan ayahnya dan keluar dari rumahnya meninggalkan fasilitas yang ada di rumah itu, terkecuali dengan ,mobil ferarri merahnya hadiah dari sang Noona.

Hari ini Jong In berniat mengatarkan perempuan itu pulang kerumahnya, entahlah laki-laki ini sedikit melupakan tujuan utamanya menyelamatkan perempuan itu. dia melupakan segalanya, taruhan yang ia lakukan, dan sekarang hanya sisa empat hari agar bisa mendapatkan apa yang ia mau, namun hanya sekedar mendekat dengan perempuan itu pun membuat jantungnya berpacu dengan cepat membuatnya tidak bisa melakukan hal itu. hanya sekedar duduk di sampingnya saja ia sudah merasa salah jika akan melakukan hal itu, apa lagi untuk selangkah lebih mendekat, menyentuhnya itu sangat tidak mungkin baginya sekarang.

Bahkan mereka sampai tidak berangkat ke sekolah demi menghilangkan bekas luka-luka yang ada di tubuh mereka, akan sangat aneh jika mereka pergi ke sekolah dengan lebam yang menyeluruh di tubuh mereka.

Hanya tinggal dengannya selama tiga hari saja sudah membuat Jong In merasa nyaman, ada sebuah syarat keteduahn di mata perempuan itu, perempuan yang sering di olok-olok patung hidup. Bahkan perempuan itu tida seburuk yang selalu mereka bicarakan, mereka bilang perempuan itu dingin dan aneh, tapi kenyataanya saat Jong In tinggal bersamanya ia justru merasa hagat di dekat perempuan itu, ya walaupun dapat Jong In lihat ada sebuah rasa gelisah dan ketakutaan saat Jong In mendekatkan dirinya.

“Jong In-ssi, kita akan berangkat kapan?”

Perepmuan itu bertanya dengan menggigit bibir bawahnya, ia merasa tidak enak hati bertanya pada laki-laki yang menolongnya,ia merasa sudah terlalu merepotkan sejak malam itu, saat laki-laki itu rela mengorbankan tubuhnya di hujami berbagai pukulan demi melindunginya.

“Kau sudah siap? Ku kira kau sudah tidak sabar untuk kembali kerumah mu Ah Jung-ssi. Ayo kita berangkat”

Dengan tanpa ragu Jong In menggenggam tangan Ah Jung mengajaknya meninggalkan apartemen ini. Sebenarnya setelah mengantarkan Ah Jung ia harus segera kembali ke rumahnya, tadi ayahnya menghubungi dirinya akan ada yang dibicarakan mengenai masa depannya. Dapat Jong In tebak jika ayahnya ingin mengirimkan dirinya ke Amerika seperti yang pernah terlontarkan beberapa hari lalu. Ada perasaannya yang mengatakan bahwa ia harus datang tapi perasaan kebenciannya selalu menahannya, mengatakan TIDAK.

Ada perasaan yang begitu berbeda dari tubuh Ah Jung, seperti perasaan nyaman yang tidak pernah ia rasakan dari seorang laki-laki. Tapi kini saat tangan yang berbeda menggenggam tangannya mengisi celah pada jari-jarinya ada perasaan yang begitu hangat menjalar kedalm hatinya. Seperti merasakan perasaan yang sedikt berbeda, pikirannya berglut dengan hatinya bagaimana pun ia harus tetap waspada, tapi hatinya mnegatakn bahwa laki-laki ini berbeda.

Sesampainya didepan rumah Ah Jung, ada seorang pria paruh baya menatap mereka dengan penuh tanda tanya dan amarah. Pandangannya mengarah pada tautan tangan mereka. Menurut pria paruh baya ini laki-laki yang menggenggam tangan anak perempuannya itu sangatlah brandalan, hanya dengan melihatnya dari penampilan dan beberapa lebam yang masih kentara di muka Jong In.

“Shin Ah Jung! Apa yang kau lakukan dengan laki-laki brandalan ini?! Bahkan kau tidak pulang ke rumah hm?!”

Jong In menatap pria paruh baya itu dengan sengit, bagaimana bisa ia menanyakan hal semacam itu sekarang? Sedangkan yang membuat putrinya harus meninggalkan rumah adalah dirinya. Jong in semakin mempererat genggaman tangannya, ia tidak ingin jika nanti tiba-tiba pria paruh baya itu menyeret Ah Jung begitu saja untuk masuk ke dalam rumah.

“Cepat Masuk!”

Ayah Ah Jung menarik tanga putrinya dengan kasar berusaha membuat perempuan itu memasuki pekarangan rumahnya. Namun tenaganya tidak cukup besar untuk merebut putrinya dari laki-laki yang mengantar putrinya pulang.

“Kau lancang sekali! lepaskan tangan putriku!”

“Maaf tuan tapi sepertinya saya tidak akan melepaskannya!”

“Jong In-ssi sebaiknya kita pergi”

Jong In yang mendengar itu lantas menarik Ah Jung menjauh dari pria paruh baya yang masih saja mengatainya tidak tau sopan santun. Dapat ia lihat raut keatukatan yang mendalam dari perempuan yang ada di sampingnya sedari tadi perempuan itu hanya menunduk dan mencengkram tangannya kuat-kuat, baju yang ia kenakan pun ikut di pegangi dengan kuat, seperti ada trauma tersendiri yang dirinya tidak tau.

___oOo___

“Ibu aku tidak salah dengarkan?! Ibu akan menikah dengan Kim Joong Kook!?”

Ini pertama kalinya laki-laki ini berbicara dengan nada tinggi pada ibunya, ia merasa terkejut dengan yang ibunya katakan. Tidak apa baginya jika ibunya akan menikah lagi, justru dirinya akan merasa senang melihat ibunya bahagia. Namun sekarang setelah ibunya mengungkapakn siapa pria yang akan menikahinya, semuanya terasa begitu berat merelakan ibunya menikah dengan laki-laki itu. dimana pria itu adalah ayah dari musuh terbesar dalam hidupnya, Kim Jong In. Jika itu laki-laki lain mungkin ia akan menerimanya tapi kali ini ia berat sangat berat dalam hatinya, dan nantinya mereka akan sering bertatap muka, tinggal dalam rumah yang sama sedangkan mereka benar-benar berbeda, saling berkubu, harus terlihat akrab di depan orang tua mereka nantinya. Tidak! Ia sama sekali tidak menginginkan hal itu.

“Pelankan suaramu Xi Luhan! Apa seperti ini caramu berbicara dengan ibu?!”

“Bukan, bukan begitu bu maksudku, Ibu aku kohon aku sangat menghormati keputusan ibu untuk menikah lagi tapi apa tidak bisa jika itu tidak dengan Kim Jong Kook. Kumohon bu”

“Ada apa sebenarnya denganmu? Jika kau menghormati keputusan ibu maka kau akan menerima Kim Jong Kook sebagai ayahmu yang baru, sudahlah tidak ada gunanya kita bertengkar. Bersihkan tubuhmu dan kita akan makan malam, lagi pula ibu sudah terlanjur hamil anaknya. Jadi tolong hargai ibu”

Luhan hanya bisa pasrah mendengar apa yang ibunya katakan, tapi menjadi saudara tiri Jong In itu bukanlah hal yang terlalu buruk menurutnya, justru itu memperlancar membuat Jong In bertekuk lutut padanya, tapi itu juga akan mempermudah Jong In menghancurkannya. Tapi kata terakhir ibunya sedikit membuatnya menahan amarah, bahkan ayah Jong In sudah berani-beraninya menyentuh ibunya sebelum adanya ikatan yang resmi.

___oOo___

Belum lama Jong in dan Ah Jung sampai di pantai ini, pantai yang sering Jong In kunjungi saat dia merasa kesepian. Pantai yang berada di busan. Beruntung saat ini di pantai ini sedang ada festival pasir, dimana mereka akan membuat sesuatu yang berupa bangunan atau benda dari pasir-pasir yang ada di pantai.

“Kau menyukainya?”

Jong In bertanya dengan tersenyum hangat pada perempuan di hadapannya, sebuah senyuman yang begitu manis merekah dari bibir perempuan itu. senyum itu seolah menarik dunia Jong In begitu saja, senyuman yang membuat desiran darahnya begitu cepat. Perasaan yang sama sekali tidak pernah ia rasakan pada perempuan manapun.

“Bermainlah aku akan menunggumu disini”

Ah Jung menganggukan kepalnya, ia merasa bebas kali ini tidak ada perasaan tertekan seperti hari-harinya yang lalu. Berada di dekat seorang laki-laki yang bahkan belum terlalu ia kenal tak disangkanya justru membuat dirinya bebas dan tenang.

Jong In melihat Ah Jug dari kejauhan. Perempuan itu sedang membuat sebuah bangunan dari pasir namun bangunan itu terus saja hancur tergegus air pantai. Tak hentinya gadis itu menggerutu, itu membuat Jong In tersenyum. Menurutnya perempuan itu terlalu lucu sekarang,berbeda dengan image yang diciptakan saat di sekolah begitu dingin. Ia begitu risih melihat rambut Ah Jung yang tergerai membuat perempuan itu harus terus membenahi rambutnya yang berantakan, sedangkan tangannya begitu kotor dengan pasir pantai.

Perempuan ini terkejut saat ada yangmenyibakan rambutnya, mengikatnya. Ia menatap laki-laki yang ada di hadapannya penuh tanya, naumn hanya sebuah tatapan hangat dan senyuman yang terlihat.

“Apa? Aku hanya berusaha membantumu mengikat rambut, tanganmu terlalu kotor  untuk mengikatnya sendiri”

“Oh, terimakasih”

Perempuan ini teresenyum lagi dan ini membuat Jong In tak hentinya mengagumi keindahan lekukan bibir itu. ini pertama kalinya ia melihat secara dekat wajah perempuan ini, ‘SEMPURNA’ tidak ada sedikitpun cacat pada wajah perempuan ini. Jong In mengaguminya tanpa ia sadari.

Semuanya berlalu denganbegitu menyenangkan, Ah Jung tidak lagi sendiri membuat bangunan dari pasir tapi Jong In membantunya, sesekali mereka berseru saat bangunan itu hampir selesai lalu kemudian ombak menghantamnya dan membuat bangunan itu roboh, membuat mereka menggerutu tiada henti. Mereka menyerah, mereka sudah terlalu lelah meneruskannya. Toh jika di teruskan banguna pasir itu akan roboh kembali.

“Ah aku lelah”

Perempuan ini bergumam pelan, tubuhnya setengah basah karena air pantai yang Jong In siramkan padanya, tubuhnya sedikit menggigil kedinginan. Ini membuat Jong In sedikit tidak tega, ia yang membuat perempuan in kedinginan.

Jong In berlari ke mobilnya, mengambil sebuah handuk dan jaket yang selalu ada di dalam mobilnya.

“Pakailah ini, keringkan rambutmu juga”

Lihatlah perempuan ini kembali menunjukan sebuah senyuman manisnya saat ia menerima handuk dan jaket yang Jong In berikan. Bisakah perempuan ini berhenti tersenyum seperti ini, ini membuat hati Jong In benar-benar tidak beraturan, ada perasaan yang sedikit bergejolak di hatinya. Perasaan yang berbeda. Apa mungkin Jong In telah jatuh cinta, pada perempuan yang dijadikannya sebuah taruhan, pada perempuan yang sering di olok-olok patung hidup perempuan yang jauh dari kata tipe idela Kim  Jong In. Ya! Jong In jatuh cinta pada perempuan itu, mungkin saja ia bisa menolaknya secara fikirannya namun tidak untuk hatinya. Jong In terjatuh pada permainanya sendiri saat ini, pada permainan yang tidak pernah ia kehendaki sama sekali.

“Sebaiknya kita kembali ke apartemen Chanyeol. Hari sudah hampir berganti malam”

“Baiklah”

Meraka kembali berpegangan tangan, tidak ada rasa kecanggungan atau ketakutan lagi pada diri Ah Jung, justru ia merasa nyaman. Presepsinya tentang laki-laki sedikit berubah saat ia di dekat Jong In, setiap laki-laki tidaklah sama seperti yang dirinya fikirkan.

____oOo____

Pria ini sedikit merapikan jas dan dasi yang ia kenakan, baru saja ia sampai di sebuah restauran yang mewah, tempat ia dan ayahnya berjanjian. Sebenarnya dirinya sendiri juga tidak mengerti kenapa ayahnya mengajaknya makan malam di tempat yang sebegitu mewah. Bukankah awalnya ayahnya mengatakan akan membicarakn hal yang menyangkut masa depannya, kenapa harus disini? Apa dirumah tidak bisa.

Sebenarnya ia sedikit ragu untuk datang ketempat ini, rasa kebenciannya pada sang ayah menolak apa yang ia lakukan sekarang tapi di samping itu ada sebuah hal yang benar-benar merasa membuatnya terancam. Ayahnya akan mengalihkan seluruh warisannya pada panti asuhan jika dia tidak datang malam ini. Dan itu memang titik lemahnya, pria ini egois tentang harta, dia ingin memiliki semuanya dia tidak bisa hidup tanpa harta dan kekuasaannya dengan uang. Kakinya terus saja berjalan pada ruang makan yang tertutup, sebuah ruang makan yang begitu megah dengan dekorasi yang klasik.

Saat ia sudah berada di dalam ruang makan itu matanya terarah pada seorang perempuan yang mampu ia tebak umurnya sekitar 40 tahun, ada seorang laki-laki di sampingnya. Atau lebih tepatnya terlihat seperti putranya. Di depan wanita itu ada ayahnya yang memandang dirinya penuh senyuman hangat senyuman yang hampir tidak pernah ia lihat lagi. Senyuman yang menunjukan bahwa diantara mereka baik-baik saja tidak ada sebuah masalah yang begitu membentengi mereka. Dirinya sedikit terkejut dengan sosok pemuda yang ada di hadapannya saat ini. Musuhnya. Dia ada di hadapannya tersenyum manis seperti seorang teman lama, tapi menurut pria ini senyum itu menjijikkan senyuman yang penuh arti.

“Hello Jong In-ssi”

Jong In menatapnya geram kali ini. Ini memuakan apa maksud dari semua ini? Melihat musuh besarnya berada di hadapannya tersenyum manis. Itu memuakan, pikirannya terus mengatakan pria yang ada adi hadapannya benar-benar bermuka dua. Bersikap mainis di hadapan ibunya sedangkan di belakang ibunya ia begitu liar, sangat liar. Jong In hanya tersenyum tipis menanggapi sapaan dari musuhnya, sapaan yang sangat menjijikan baginya.

Dengan berat hati Jong In mendudukan dirinya meredam emosinya, menjaga sikapnya jangan sampai ayahnya melontarkan kata-kata yang mengancam hak warisnya.  Mereka memakan makannya dengan begitu tenang hanya ada beberapa canadaan antara ayahnya dan wanita yang ada di hadapan ayahnya. Candaan yang menurutnya sangat berbasai-basi. Di sela-sela makan malam mereka itu ayahnya mulai mengutarakan tujuan mengajaknya berkumpul di tempat ini.

“Jong In-ah kenalkan dia Xi Yuen Yi, dan ini anaknya Xi Luhan. Yuen Yi akan menjadi ibumu”

Tunggu ini seperti candaan yang begitu mengiris hati Jong In  kali ini. Menjadi ibu darinya? Bersaudara tiri dengan Xi Luhan? Tidak! Ia sama sekali tidak mau bersaudara tiri dengan musuh terbesarnya. Dan jika Xi Yuen Yi akan menikah dengan ayahnya itu artinya posisi ibunya di hati sang ayah sudah jatuh begitu saja. Sungguh ini mengiris hatinya bahkan ayah dan ibunya sama sekali belum resmi bercerai dan sekarang ayahnya mengatakn hal seperti ini? Dia akan menikah lagi dengan perempuan China itu, ibu dari XI Luhan.

Luhan menatap Jong In yang begitu tenang namun ada raut kemarah yang mampu Luhan tangkap. Kini diirnya benar-benar tersenyum menang. Ia tidak perlu lagi bersusah payah melukai dirinya, berkelahi dan membuat masalah untuk mengahncurkan Jong In, dan bertekuk lutut di hadapannya. Dengan ibunya menikah dengan ayah Jong In ini mampu merusak hidup Jong In secara keseluruhan, Luhan tau itu.

Brakk…

“Tidak aku tidak akan menerima pernikahan kalian apa lagi menggangtikan posisi ibu! Aku tidak sudi memiliki ibu tiri maupun saudaara tiri!”

Kini amarah Jong In sudah tidak bisa tertahan lagi setelah melihat Luhan tersenyum penuh kemanangan.

“Kim Jong In! Pelankan suaramu, berbicaralah dengan sopan pada orang yang lebih tua!!”

“Cih, kau jangan bersikap manis pada ku seolah kita ini tidak ada masalah, menutup-nutupi ketidak akuran antara anak dan ayah di depannya hanya demi membuat ia menjadi istrimu!! Jangan harap aku menerimanya menjadi ibuku! Ingat kau amsih terikat setatus pernikahan dengan Jung Jihyoo ibuku! Dan kau Ajjhuma Xi Yuen Yi, bearapa haraga yang ayahku berikan padamu sampai kau mau dinikahi olehnya. Dan kurasa kau lebih rendah dari perempuan lain yang ayahku tiduri”

Tidak bisakah laki-laki itu menahan sedikit bicaaranya, mulutnya yang terlalu pedas saat mencecar orang lain, mencari celah kesalahan orang lain. Mulutnya bagaikan pisau yang tajam kapanpun itu. bahkan Yuen Yi hanya meneteskan air matanya menahan sesak di dadanya mendengar apa yang baru saja anak dari calon suaminya. Sebegitu bencinyakah Jong In pada dirinya, dan memengeluarkan kata-kata pedas dan mengiris hatinya.

Plakkk….

Satu tamparan mendarat dipipi Jong in, ini bukan tamparan yang sama seperti kemarin yang ia rasakan tamparan ini juah lebih ia kenal. Tamparan dari seorang Xi Luhan.

“Jaga mulutmu Kim Jong In! Ibuku tidak seperti itu!”

“Benarkah Xi Luhan! Apa aku ingin memulai pertengkaran denganku hm?! Lalu jika ibumu tidak seperti itu lalu seperti apa?! dia tidak lebih baik dai seoang pelacur kau tau? Bahkan dia mau di jadikan yang kedua. Menjijikan ini drama keluarga yang sangat menjijikan!”

Plakk…

Satu lagi tamparan menadaraat di pipi Jong In, ini tamparan dari ayahnya. Dapat ia lihat ayahnya begitu berapi-apai setelah mendengar ucapan Jong In. Ini semakin membuat Jong In benar-benra membenci ayahnya. Ia tidak perduli lagi tentang warisannya nanti entah akan di limpahkan kepada Luhan, panti asuhan ataupun pada perempuan yang baru saja ia katai ia sama sekali tidak perduli lagi. Yang ia perdulikan saat ini ibunya. Ibunya yang berada di mokpo, di tempat neneknya.

“Kau menamparku lagi?! Inikah yang dinamakan ayah?! Menikahlah dengannya jika kau mau, tapi jangan pernah berharap aku akan datang kepernikahanmu mengucapkan selamat dan tersenyum hangat padanya. Jangan berharap itu akan terjadi!”

Jong In pergi begitu saja dari ruang makan ini. Ayahnya terus berteriak memanggil namanyam, namun itu semua sama seklai tidak ia hiraukan. Ia benra-benar frustasi dan penuh dengan amarah saat ini. Pikirannya benar-benar kacau.

Pikirannya sama sekali tidak dapat berfikir dengan jernih kali ini, ia membanting roda pengemudi dengan kasar menjatuhkan kepalnya pada roda pengemudi itu. pikirannya tertuju pada satu hal saat ini. Menari. Segera ia menaarik gas mobilnya menuju sekolahnya, yang hanya berjarak 300 meter dari tempatnya berada sekarang.

____oOo____

Perempuan ini sedikit berlari di lorong sekolahnya, ini sudah menunjukan pukul delapan malam. Sebenarnya ia sedirkit bergidik ngeri saat harus berjalan sednirian di lorong ini, begitu sepi dan gelap. Namun hatinya terus saja bergejolak merindukan sesuatu yang sudah beberapa hari ini tidak dirinya sentuh, seolah benda itu seperuh dari jiwa perempuan ini. Biola. Sduah beberapa hari ini ia tidak memainkan biola yang selalu membuatnya tenang, ia merindukan alunan musik yang halus saat biola itu digesek, suara yang begitu menenangkan baginya. Bermain biola seolah mampu membuatnya terlepas dari segala bebannya.

Kini ia harus berlari sedikit lagi mendai beberapa abnak tangga sebelum menuju ruang musik yang ada di lantai tiga. Nafasnya sedikit terengah ketika ia sudah berada di lantai tiga, ia mulai menyusuri lorong kembali mencari ruang musik yang biasa ia tempati. Ruangan itu tepat berada di depannya sekarang, segera ia tarik gagang pintu itu menunjukan ruangan yang begitu luas, dan di penihi berbagai alat musik. Kakinya melangkah menuju salah satu rak tempat penyimpanan biola.

Dia mulai menarik nafasnya perlahan, mengambil salah satu biola yang ada, ia mulai memainkan sebuah lagu kesukaannya.

___oOo___

Laki-laki ini bergidik ngeri saat ia harus menyusuri lorong lantai tiga ini, ini sudah hampir pukul sembilan malam tapi niatnya untuk menuju ruang tari sama sekali tidak terhalangi oleh susana seoklah yang begitu menyeramkan. Ia berjalan menuju  ruang tari yang tepat berada di samping ruang musik. Ia berhenti tepat di depan pintu ruang musik, bulu kuduk nya terasa merinding ketika mendengar suara alunan biola dari dalam kelas itu. apa mungkin itu hantu? Batin laki-laki ini terus menebak, ia sedikit membuka pintu ruang musik itu. memperlihatkan seseorang didalamnya tengah duduk di auditorium dan memaninkan biola dengan anggunnya. Dahi laki-laki ini sedikit berkerut ketika ia semakin mendekat pada soosk itu, ia mengenal orang itu, mengenali seluet tubuh perempuan yang memainkan biola itu.

“Ah Jung-ssi?”

Perempuan itu menghentikan permainan biolanya, ia mulai menoleh menuju sumber suara itu, suara yang belum lama ini sering ia dengar. Dahinya berkerut dalam-dalam melihat sosok laki-laki di hadapannya menatap dirinya penuh tanya.

“Jong In-ssi?”

Jong In melangkahkan kakinya menuju perempuan yang baru saja menyebutkan namanya, ia sama skelai tidak tau jika perempuan itu bisa memainkan biola dengan begitu indahnya.

“Apa yang kau lakukan disini? Kau tidak menuruti perintahku untuk tetap di apartemen, huh. Bagaimana jika orang suruhan Tuan Go itu masih mengejarmu? Dan tadi menemukan mu? Itu sangat bahaya, seharusnya jika kau ingin keluar apartemen beritau aku”

Ah Jung tertawa geli melihat Jong in yang memaraihinya layaknya Ah Jung adalah anak gadis Jong In. Ini pertama kalinya ia diperhatikan oleh laki-laki yang baru saja ia kenal, bahkan ia bisa merasa begitu nyaman di sampingnya.

“Maaf, tapi aku hanya tidak ingin semakin merepotkanmu”

“Mainkan aku sebuah musik baru aku maafkan”

Dengan tanpa persetujuan dari perempuan itu Jong In menaruh kepalanya pada paha Ah Jung, Ah Jung hanya bisa mengelakan nafasnya panjang melihat kelakuan Jong In yang begitu manja seperti ini. Namun tidak menunggu lama Ah Jung memainkan biolanya mengalunkan sebuah nada indah sama seperti tadi.

Jong In menutup matanya perlahan, mendengarkan alunan musik ini seperti membuat hatinya yang sedari tadi dipenuhi emosi hilang begitu saja, membuat dirinya melupakan tujuan awalnya. Perempuan ini bernar-benar mampu mengubah jalan fikiran Jong In hanya dengan sebuah sneyuman hangat yang begitu menenagnkan bagi Jong In.

Perempuan ini menyudahi permainan biolanya, ia memandangi laki-laki yang sekarang terlelap dalam pangkuannya. Benar-benar terlihat damai, tidak ada kesan yang menakutkan dari wajah laki-laki itu. di rapikannya rambut laki-laki itu yang sedikit berantakan memperlihatkan dahinya yang begitu sempurna. Perempuan ini mengaggumi lekukan wajah laki-laki yang tertidur di pangkuannya, laki-laki yang membuat ia merubah presepsinya tentang dunia luar dan laki-laki tidak semuanya memiliki nafsu binatang. Ia benar-benar menikmati wajah ini, tangannya sedikit membelau pipi laki-laki itu, benar-benar lucu.

‘’Eunggh..”

“Eh apa aku mengganggu tidurmu?”

Perempuan ini merasa bersalah, seharusnya dirinya tidak membelai lembut pipi laki-laki itu, ini membuatnya terbangun dari tidurnya.

“Tidak, kurasa tidurku sudah cukup. Eum Ah Jung-ssi boleh aku meminta sesuatu”

Ah Jung menatap Jong In penuh tanya apa yang akan laki-laki itu minta darinya? Asalkan itu bukan hal yang sama sekali tidak ia inginkan itu tidak apa-apa.

“Bolehkan aku menciummu? Haya di pipi saja aku berjanji”

Ah jung terkikik geli lagi melihat tingkah Jong In, hanya ingin meminta sebuah ciuman dipipinya dan Jong In harus meminta izin dulu padanya, benar-benar menggemaskan. Jong In layaknya anak kecil berumur 5 tahun yang tengah merajuk pada orang tuanya.  Ah Jung hanya menganggukan kepalanya, ini bukan permintaan yang berlebihan bukan, hnaya sebatas pipinya saja.

Jong In memajukan tubuhnya mengecup sikilas pipi perempuan yang ada di sampingnya, pipi perempuan itu memerah, laykanya kepiting rebus. Ingin sekali ia tertawa tapi semua itu segera ia tepis ada yang membuatnya sedikit mengingkari janjinya pada perempuan ini, kecupan itu tidak hanya berakhir di pipi saja namun juga di dahi Ah Jung.

Sejenak Ah Jung membeku, dahinya baru saja di kecup dengan manisnya oleh Jong In, terasa hangat di hatinya.

“Hey jangan melamun, maaf aku sedikit mengingkari janjiku. Tapi tidak apa lan hanya sebatas dahimu saja”

Perempuan ini tersadar dari lamunannya, Jong In benar, ini tidak apa-apa hanya sebatas pipi dan dahi. Itu masih memasuki daerah yang wajar, tapi ada perasaan yang bergejolak dihati perempuan ini saat Jong In mendaratkan ciumannya tepat pada dahinya.

“Ayo kita pulang”

___oOo___

Krystal Jung, ia mendnegus kesal saat ini. Tadi pagi ia melihat Jong In dan perempuan yang sering ia olok-olok patung hidup berangkat bersama bahkan menggunakan mobil Jong In. Dirinya yang mantan kekasih Jong In saja belum pernah berangkat bersama apa lagi berada dalam mobil Jong In  ia sama sekali tidak pernah melakukan hal itu.

Ia melangkah pada segeraombolan teman-teman Jong In yang tenagh asik bercengkrama. Tidak ada Jong In disana. Ini membuat gadis ini terus berfiir apa perempuan yang emmilik hati seperti es dan seperti patung hidup itu sudah mengubah hidup Jong In?

Baekhyun, Chanyeol, Suho, Sehun, dan D.O yang tengah asik berbincang tiba-tiba terusik dengan kehadiran Krystal. Mereka sama seklai tidak ingin kena amuk gadis itu. pasti ia datang pada mereka untuk menanyakan perihal Jong In dengan patung hidup itu. satu persatu dari mereka pergi meninggalkan bangku taman yang atdai ia duduku terkcuali Bakehyun dan Chanyeol. Mereka malah tersenyum dengan konyolnya melihat Krystal menghampiri mereka.

“Bisah jelskan sesuatu pada ku hm? Tentang Jong In dan patung hidup itu?”

Baekhyun dan Chanyeol hanya saling menatap dan kemudian tertawa, ia menertawakan Krystal yang tengah melontarkan pertanyaan yang meurut mereka sangat tidak berbobot. Paing tidak dalam bayangan mereka Krystal menghampiri mereka karena Krystal akan mengajak kencan salah satu dari mereka sama seperi gadis-gadis lain yang datang pada mereka.

“Ayolah Krystal Jung, selera Jong In tidak seburuk itu. dia hanya emnajadi bahan taruhan kami. Maksudku si patung hidup itu. Jong Inharus bisa meni patung hidup itu dalam jangka waktu seminggu”

Ya tuhan bisakah mulut ember Baekhyun ini tidak berbicara tentang rahasia teman-temannya sedikit saja. Apa perlu mereka menyiapkan sebuah plester untuk membekap mulut Baekhyun itu.

“Kalian gila! Taruhan macam apa itu, huh!”

Perempuan itu emninggalkan Bakehyu dan Chanyeol dengan gerutuan yang tiada hentinya. Pantas saja mereka sering di juluki Trouble Makerternyata memang benar mereka selalu membuat ulah dan memunculkan ide-ide gila dari otak mereka.

___oOo___

Laki-laki ini memandangi dua orang yang engah asik berbicara dan tertawa manis bersama. Kebersamaan yang dimatanya memuakkan, ia menyimpan dendam lebih pada laki-laki-laki yang tengah ia pandangi sekarang.

“Jadi diakah gadis Jong In, kau harus merasakan sakit yang sama dengan ubuku Kim Jong In!”

“Lu apa yang kau lakukan disini?”

“Aku ingin dia”

Luhan menunjuka seorang peremouan yng sedang berbicara dengan Jong In, ia menginginkan perempuan itu.

“Kau gila Lu? Dia itu perempuan yang hampir tidak pernah di dekati”

“Tapi aku ingin dia Kris, dia yang akan menghancurkan Jong In”

Kris hanya mengangguk mngerti kenapa Luhan menginginkan perempuan yang bahkan tidak pernah memilki sebuah ekspresi itu, tapi kini ia merasa terheran-heran melihat Jong In dan juga peremouan itu tertawa bersama.

“Lu, in akan menjadi sesuatu yang sulit untumu. Dia anak asrama putih. Bagaimana jika perempuan dari asrama kita mengetahuinya jika kau menginginkan perempuan itu. akan bahaya baginya sebelum kau memilikinya”

“Itu bagus, aku ingin tau bagaimana Jong In melindugi perempuan itu nantinya dari gadis-gadis yang akan mencakar dan mungkin bisa membunuh perempuan itu”

Luhan tersenyum penuh kemenangan lagi saat ini, ini cara lain agar membuat Jong I bertekuk lutut di hadapannya.

___oOo___

Ketiga gadis ini menyeret Ah Jung dengan kasaarnya, mengikat tubuh mungil itu dengan tali tambang, sudut bibirnya mengeluarkan darah, beberapa bagian tubuhnya lecet-lecet bahkan pelipisnya mengeluarkan darah. Ia habis di bully oleh ketiga gadis yang kini menyeretnya menuju kamar mandi yang berada di sudut sekolah. Setega itukah mereka pada Ah Jung.

“Kau itu seharusnya tau diri! Apa kau itu terlau murahan?!  Sampai kau tidak sadar hanya di jadikan bahan taruhan Jong In, kau menyedihkan!”

Perempuan ini merintih kesakitan saat air itu diguyurkan begitu saja ke tubhunya, tulang-tulangnya terasa ngilu. Tapi semua itu tidak dengan hatinya, hatinya jauh lebih sakit dari tubuhnya saat in, ia  tidak percaya dengan apa yang di katakan ketiga gadis ini, apa lagi mendengar semuanya dai mulut orang lain. Untuk apa Jong In berbuat baik, manja dan juga membuatnya terjatuh padanya jika hanya untuk taruhan. Untuk apa malam itu Jong In menahan nafsunya untuk tidak menidurinya jika pada kenyataannya ia hanya di jadikan bahan taruhan saja. Ini mneyakitkan jauh lebih menyakitkan ketika kepercayaan yang ia bangun untuk Jong in hancur begitu saja dalam sekejap.

Brakkk…

“Ya! Apa yang kalian lakukan!”

Pria ini membuka paksa pintu kamar mandi ini, tadi ia tidak snegaja melihat ketiga gadis itu menyeret seorang perempuan dengan teganya seperti menyeret binatang.

“Kau! Ayo kita pergi!”

Perempuan ini memberika intruksi pada kedua temamnya untuk meninggalkan perempuan dan laki-laki yang ada di hadapannya, laki-laki yang benar-benar ia benci. Laki-laki yang pernah melukai hantinya secara lansung, laki-laki yang pernah mempermalukannya di depan umum.

“Krystal Jung, aku bisa melaporkanmu kapanpun jika kau melakukannya lagi!”

“Tenanng saja, aku tidak akan melaukan hal itu lagi. Aku tau kau ingin perempuan itu, ambilalh dan jaga dia baik-baik. Jangan buat dia lepas dan kembali dalam pelukan Jong In”

“Apa hak mu menyuruhku seperti itu, ku inginkan atau pun tidaknya perempuan itu, itu sama sekali bukan urusanmu!”

Laki-laki ini melangkahkan kakinya melihta kondisi perempuan yang baru saja di sksa Krystal da teman-temannya. Keadaannya sungguh buruk, tubuhnya yang terikat tali tambang hanya bisa merintih kesakitan, menahan semuanya sampai ada seseorang yang menolong dirinya. Laki-laki ini menatap waja perempuan yang ada di hadapannya dengan iba. Perasaannya begitu berbeda saat pandangan mereka bertemu.

“Aku hanya menolongmu Noona, tenanglah aku tidak bermaksud jahat”

Laki-laki ini melepaskan ikatan tali tambang itu dan membantu perempuan ini berdiri bahkan bajunya sangat kotor dan berantakan, ada beberapa bagian pada kemeja perempuan itu sobek membuat pria ini melepas blezer hitamnya untuk melindungi tubuh perempuan itu.

“Ya tuhan Ah Jung, kau tidak apa?”

Seorang laki-laki berlari kearah Ah Jung dan seorang pria yang baru saja menolong Ah Jung. Tatapannya menajam pada pria itu, ia meminjamkan blezernya untuk Ah Jung. Ia bencia melihat Ah Jung di sentuh laki-laki lain, entah itu perasaan yang seperti apa tapi ia benar-benar membeci apa yang dirinya lihat sekarang. Ah Jung bersama dengan  laki-laki yang sanagt ia benci dalam hidupnya.

“Untuk apa kau emnanyakan keadaanku? Aku sudah tau kau hanya menjadikanku taruhan, kau tidak perlu lagi bersikap baik padaku”

Ucapan itu megitu menusuk hati pria ini,bagaimana bisa Ah Jung tau? Sedangkan dirinya baru saja ingin membatalkan taruha gila itu pada Chanyeol tapi semuanya terlambat perempuan ini sudah tau lebih dulu.

“Aku bisa menjelaskannya..aku.. aku .. baikalh iaya awalnya aku hanya ingin menjadikanmu taruhan tapi..”

“Aku membencimu, kau menghancurkan kepercayaanku! Pergi dari hadapanku Kim Jong In!”

Jong In mematung mendengar apa yang Ah Jung katakan, ini semua salahnya jika saja ia tidak menerima taruhan itu Ah Jung tidak akan tersakiti olehnya, dan dirinya sendiri yang telah mengahancurkan kepercayaan dari Ah Jung. Sekarang Jong In mengaerti dnegan perasaannya dia mencintai perempuan ini.

“Maafkan aku Ah Jung, dengarkan penjelasanku, aku bisa menjelaskannya”

“Tidak ada yang perlu di jelaskan! Ini jauh lebih menyakitkan aku mendengarnya dari orang lain! Jangan kau fikir aku seperti wanita yang lainnya! Jangan pernah perlihatkan wajahmu di depanku, sengaja ataupun tidak sengaja!”

Pria ini memapah tubuh perempuan yang ada di sampingnya dnegan hati-hati dia rasa sudah cukup melihat drama percintaan anak sekolah. Yang terpenting adalah membawa perempuan ini ke ruang kesehatan.

Sakit. Sangat sakit perempuan itu meminta Jong in menjauh dan memilih menrima bantuan dari musuhnya, Xi Luhan. Luhan menatapnya dan terasenyum dengan sinis sebelum pergi tadi, senyuman yang penuh rasa kemenangan darinya. Kepalanya terasa sakit, ini akan menjadi bahaya jika perempuan itu dekat dengan Luhan, ia tau Luhan seperti apa tidak lebih dari srigala berbulu domba. Ia tau apa tujuan Luhan mendekati perempuan itu. ini semua karenanya jika ia tidak terlalu menujukan kedekatannya dengan perempuan itu pasti ini semua tidak akan terjadi.

Mencintai Ah Jung sama saja menyeret perempuan itu dalam bahaya yang ada di dalam hidupnya.

___oOo___

Preview next Chapter

“Sepertinya kita harus segera bertindak, ini tidak akan beres jika hanya berdiam”

 

“Luhan ingin aku datang kesana sendiri tanpa membawa kalian”

 

“itu tidak adil Kai, kau harus di kerumuni banyak orang demi menyelamatkan Ah Jung. Maafkan kami membawanya dalam masalah besar”

 

“Tidak apa-apa semuanya sudah terjadi”

 

Jong In meremas kertas yang ada di tangannya, ia msih ingat betul kata yang tertulis di kertas itu, kelimat yang terlihat mengancam.

TBC

Hahah udah Tbc aja itu 😀 maaf ya lama. Solanya udah masuk sekola dan sedikit ada halangan dengan pikiranku beberapa hari ini dan baru tadi malem aku nglembur ini FF. Gimana udah panjangkah? In udah lebih dari 5000 words loh ya 😀 di harap untuk komennya ya. Semakin banyak yang komen aku semakiin cepert nerusinnya. Maaf aku enggak bisa bales komen kalian satu-satu. Tapi aku berterimakasih banget sama kalian yang udah mau komen dan menghargai karya ku . J jangan bosen-bosen nungguinnya ya. Oh ya maaf kemarin banyak typonya lupa aku edit dulu. Adakah yang bisa menabak gimana kelanjutan untuk part selanjutnya?

253 responses to “[Freelance] Love In Danger ( Chapter 2 )

  1. Sepertinya ahjung benar2 membuat Jong in berubah,
    Suka bngt pas moment jong in sama ahjung di ruang musik
    Keren thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s