[Freelance] Delusion

delusion

Title: Delusion

Author : Randika Jung (@RandikaOh)

Main Cast:

Ahn Min Jung (OC/You)

Byun BaekHyun (EXO K)

Other cast :

Length : Oneshoot

Genere : Romance, sad, little bit angst

Rating : 16+

Disclaimber : ini ff ku hasil pemikiran saya sendiri. Don’t be siders,, don’t be palgiator. Recommend Song :         Jin –Gone

2AM – I Wonder if You Like Hurt Me

Author’s Note :

Aku sedikit mengubah gaya bahasaku disini :D. Semuanya narasai ya ini. Hayati dengan lagu yang aku sebutin tadi. Semoga kalian suka. Maaf mungkin alurnya kecepetan.

Happy Reading!

16 Januari 2013

Hari ini adalah haridimana kau akan memiliki sebuah ikatan dengan seseorang yang sama sekali belum kau kenal. Orang tuamu menjodohkanmu dengan anak laki-laki dari rekan kerja mereka, kau mengerti dengan jalan hidupmu yang akan terikat seperti ini. Terikat dnegan bisnis orang tuamu, kau juga mengerti bahwa seseorang di masa depanmu juga pasti akan berada di tangan orang tuamu. Satu bulan yang lalu kau bertemu dengannya, kalian menjalani kencan buta yang di susun oleh orang tua kalian. Dia sama sekali tidak buruk, dia tampan. Kau harus bisa menjalani ini semuanya, ikatakn yang mungkin tidak terlalu sakral seperti pernikahan tapi ini tetap saja ikatan yang akan mengikat kalian sebelum menikah.

Kau sedikit menghelakan nafasmu panjang, melihat pantulan dirimu di depan cermin. Kau begitu cantik malam ini berbalutkan dress berwarna peach tanpa lengan dan sedikit memoleskan makeup yang cukup natural di wajahmu. Kau mengingat perjanjian satu bulan yang lalu, perjanjian yang kalian buat, perjanjian dimana kau suatu saat akan melepaskannya sebelum hari pernikahan kalian sampai kau memilki seseorang yang kau sukai atau ia memiliki seseorang yang ia cintai, dan bodohnya kau lupa menanyakan apa dia sudah memiliki kekasih atau belum. Tapi itu bukanlah hal yang terlalu penting sekang toh suatu ketika kau akan melepaskannya.

Kau mulai melangkahkan kakimu keluar dari kamarmu, seharusnya acara pertunangan itu mulai lima menit lagi, jadi kau sedikit terburu-buru kali ii karena kamarmu yang berada di lantai dua membuatmu harus menuruni tangga. Kau sedikit mengangkat gaunmu agar tidak menghalangi jalannya kakimu.rasanya kau benar-benar ingin mengutuk orang tuamu sendiri kali ini, kau harus menggunakan heels yang sangat merepotkan ini. Kau sedikit menolehkan pandanganmu pada pemilik tangan asing yang kini memegangi gaunmu, mengangkatnya sam seperti yag kau lakukan, satu tangannya ia gunakan untuk menggenggam tangnmu layaknya kau putri di negeri dongeng.

Kau menggumamkan namanya lirih.

“Baekhyun?”

“Aku hanya membantumu saja, lagi pula ini akan terlihat menarik saat mereka melihat kita seperti ini, tidak akan berita miring apapun tentang kita”

Kau hanya menganggukan kepalmu mendengar penjelasan laki-laki di sampingmu, ini hanya sekedar untuk meyakinkan para tamu undangan bahwa kalian saling mencintai. Laki-laki itu tersenyum padamu membuat sebuahdebaran di jantungmu sangat tak beraturan. Senyuman itu seperti ingin merombak dinding perjanjian yang kalian buat. Tidak! Itu sama sekali tidak boleh terjadi bagaimanpun itu kau harus terus membatasi dirimu.

Memperlakukannya sewajarmungkin seperti teman, ya walaupun belakangan ini kau lebih banyak menyita waktunya untuk menemanimu mengelilinge Seoul, menyita waktu belajarnya di perguruan tinggi, kau fikir itu bukan masalah yang besar. Ini semua di karenakan kau yang sudha mulai melupakan jalanan kota Seoul sejak terakhir kau meninggalkan negara ini, di saat usiamu 6 tahun. Kau harus pindah ke Kanada mengikuti perjalannan bisnis orang tuamu. Dan sampai akhirnya kau kembali beberapa bulan yang lalu. Kalian satu universitas dan kalian juga satu jurusan, orang tuamu sengaja menempatkanmu di universitas dan fakultas yang sama alasannay sangat sederhana agar kalian semakin dekat.

Malam ini kalian begiu menjadi pusat perhatian, dapat kau dengar bebrapa orang berbisik membicarakn kalian. Mengenai kelian yang sangat terlihat serasi, dan terlihat bahagia. Kata bahagia itu seolah membuatmu tertohok, mebuatmu merasa tersindir, kau sama sekali tidak bahagia, ini semua bisnis dan kau merasa tertekan karena ini. Bagaimnapun itu kau mencoba tetap tersenyum seperti pemuda di sampingmu. Kalian mulai berjalan menuju orang tua kalian yang tersenyum puas dan bangga.

“Kau cantik sayang malam ini. Ibu tidak tau jika kau akan menjadi anak yang penurut seperti ini”

Ibumu berkomentar tentang penampilanmu malam ini dan juga kemanisanmu menuruti perintah orang tuamu, kau hanya tersenyum manis menannggapi perkataan ibumu. Seperti inilah dirimu, Ahn Min Jung, gadis yang sedikit berbicara, sedikit keras kepala. Kau melakukan ini hanya sekedar untuk menghormati orang tuamu yang sudah emmbesarakn mu dan memberikanu kehidupan yang layak. Kau sendiri melihat bagaimana dulu ayahmu membangun perusahaan yang sekarang sudah sangat terkenal itu, kaian harus bersusah dulu untuk mendapatkannya dan sekarang terbayarkan begitu saja saat kau mau menuruti pernitah mereka.

“Aku sudah tidak sabar untuk menjadi keluarga yang lebih besar”

Kini ayah Baekhyun mulai berkomentar, beliau memang menyukaimu sejak pertama bertemu. Menurut beliau kau sangat manis, pintar dan sangat anggun walaupan wajahmu sanagt terlihat dingin tapi itu sama sekali tidak membuat pengurangan dalam penilaian ayah Baekhyun. Pernah saat kalian makan malam bersama kau memainkan sebuah piano yang berada di restaurant yang sedang kalian kunjungi beliau berdecak kagum melihat keahlianmu. Beliau selalu mengelu-ngelukanmu calon menatu yang sempurna, ada perasaan bersalah di dalam hatimu, perasaan yang begitu membelenggu. Bagaimana jika beliau tau tentang kenyataan yang sebenarnya bahwa kalian hanya berpura-pura dan membuat perjanjian? Pasti beliau akan sangat kecewa nantinya padamu maupun Baekhyun.

“Lebih baik kita memulai acaranya sekarang tamu undangan sudah menunggu sedari tadi”

Kau sedikit setuju dengan apa yang di ucapakan Bakehyun, kau sendiri memang orang yang sangat tidak suka mengulur waktu. Memanfaatkan waktu itu akan jauh lebih baik dari pada mebuang-mbuang waktu untuk hal yang tidak berguna.

Kau memperhatiakn pembawa acara yang sudah mulai berada di auditorium, membacakan acara yang akan di lakukan malam ini. Sebelum memasuki inti dari acara tersebut, ada sebuah acara yang membuatmu terkejut, orang tuamu sama seklai tidak pernah mengatakan bahwa akan menayangkan filem ini. Dimana kau tumbuh menjadi gadis dewasa seperti sekarang, beberapa fotomu terpampang jelas dari layar LCD. Kau benar-benar mendapatkan keisalan kali ini, tapi itu semua sama sekali bukan fotomu saja, ada foto Baekhyun dari kecil hingga sekarang. Kau sedikt menahan tawamu saat meihat Baekhyun di dandani lengkap layknya anak perempuan.

“Jangan menertwakan apa pun, itu Noonaku”

Kau semakin menahan tawamu kali ini saat Baekhyun membisikan kata-katanya tadi. Bagaimana bisa laki-laki itu bekilah saat sudah terlihat bahwa itu beanar-benar Baekhyun.

Mereka menghentikan pemutaran filem itu, dan mulai memasuki acara inti. Jantungmu berdetak sangat kencang kali ini, pikiranmu berlari-lari kemanapun itu, membayagkan hal terburuk yang akan terjadi. Kau gugup untuk pertama kalinya, kau sedikit menarik nafas dan membuangnya perlahan ini sama sekali bukan hal yang berhubungan dengan seni yang sering kau lakukan jadi kau tidak perlu gugup.

Kau melirik Couple Ringyang berada di depanmu, cinicn yang sangat sederhana namun kau menyukainya hanya terdapat beberapa ukiran yang melambangkan nama kalian, B.M. kau mulai menjulurkan tanganmu agar Baekhyun bisa memasangkan cincin itu pada jari manismu, sentuhan tangan Bakhyun tadi seolah menghilagkan rasa gugupmu yang mendera begitu saja. Kau bahkan juga tidak mengerti dnegan apa yang kau rasakan.

Sekarang giliran Baekhyun yang menjuurkan tanganya, agar kau bisa memasangkan cincin itu di jari manis Baekhyun, setelah kedua cincin itu bertengger manis di jari manis kalian, kalian mulai melemparkan senyum satu sama lain. Para tamu undangan memberikan tepuk tangan mereka atas setatus baru kalian.

Ayahmu mulai memberikan ucapan bangganya padamu menjadi putri yang sangat patuh dengan orang tua, ayahmu juga snagat berterimakasih pada tamu undangan yang datang dan memberikan ucapaan selamatnya pada kalian. Ini pertama kalinya kau melihat ayahmu mennagis, beliau menangis di auditorium saat menucapkan rasa bahagia dan selamatnya untuk kalian. Kau menjadi begitu emosional saat ini, kau ikut menangis melihat beliau menangis kau tidak pernah berfikir bahwa ayahmu akan sebahagia ini. Tanpa kau sadari Baekhyun mengusap air matamu lembut dan mulai membawamu kedalam pelukannya.

“Jangan menangis”

Kau diam mendengar Baekhyun berucap seperti itu, kau mneghentikan tangisanmu, tangisan bahagiamu untuk ayahmu. Kau begitu menghormatinya, kau tidak ingin membuatnya kecewa. Rasa bersalah didalam hatimu seperti bertambah dua kali lipat saat ini. Semua mata tertuju pada kalian saat ini, mereka terus saja membicarakan kemesraan yang kalian lakukan saat ini, kau yang mendengar itu sedikit mendorong dada Baekhyun agar ia menjauh. Awalanya laki-laki itu menatap mu protes namun kau segera mengalihkan pandanganmu kepada tamu undangan, sejenak Baekhyun berfikir lalu ia mngerti kenapa kau menjauhkan pelukan itu.

Acara pertunangan kalian di akhiri dengan tepuk tangan yang sangat meriah, tanpa kau sadari kedua ujung bibirmu tertarik sempurna membentuk senyuman. Ada rasa kepuasan tersendiri yang tidak pernah kau tau, seperti puas dapat mengikat laaki-laki yang ada di sampingmu.

27 November 2013

 

Kau sedikit menggeliatkan tubuhmu saat ada yang membangunkanmu, kau sama sekali tidak tau siapa itu, kau hanya meraih ponselmu melihat jam yang teretera di layar ponsel. Kau menyeringitkan darimu, ini  tengah malam siapa yang berani membangunkanmu dari tidurmu, kau tak berhenti menggerutu menyumpahi orang yang berani emmbanunkanmu, kau sama sekali tidak sadar jika orang yang membangunkanmu terkikik geli melihat tingkahmu.

“Sayang, bangunlah ini aku Baekhyun”

Saat nama itu disebut kau mebelalakan matamu sempurna. Baekhyun bagaimana bisa ia berada di apartmenmu semalam ini. Kau mulai merapikan rambutmu yang berantakan dan mengikatnya, kau duduk di bbir ranjang dengan setengah malas, kau mentapanya penuh tanya. Tapi apa laki-laki itu justru tersenyum manis dan menunjukan sebuket mawar putih kesukaan mu. Kau tersenyum menerima itu kau sama sekali belum menyadari tujuana laki-laki ini datang ke apartemnmu. Baekhyun mulai meraih tanganmu, menuntunmu keluar kamar, kau sama seklai tidak mengerti pada laki-laki yang bersetatus sebagai tunanaganmu itu.

Kau terkejut saat melihat keadaan luar kamarmu, tidakada penerangan apapun kecuali lilin yang begitu banyak. Ada sebuah meja di sekat kamarmu, meja dengan dua kursi dan kue diatasnya. Kau memperhatikan Baekhyun yang masih terus tersenyum padamu.

“Selamat ulang tahun Ahn Min Jung”

Ya  tuhan bahkan kau melupakan bahwa hari ini adalah hari ulang tahunmu. Kau sedikit menyesal tidak menyadari hal ini sedari tadi. Laki-laki itu mulai menuntunmu pada meja yang sudah ia persiapkan untuk kalian. Kau meliriknya, kau ingin seklai emmluknya dan mengucapkan terimakasih banyak padanya.

“Buatlah satu permintaan”

Dia menyuruhmu membuat satu permintaan sebelum akhirnya kau akan meniup lilin itu, kau menutup matamu membuat permintaan yang kau inginkan. Setelah itu kau membuka mata dan meniupnya. Kau memperhatikannya yang sekarang berdiri berjalan kearahmu, meraih tanganmu dan menarikmu dalam peluknya. Pelukan yang selalu kau rasakan belakangan ini.

Hubungan kalian memang semakin membaik belakangan ini. Kalian layknya pasangan pada umumnya, saling bergenggaman tangan, menjalani kencan pada umumnya. Kalian juga sempat berciuman, bahkan kau pernah tidur satu ranjang namun kalian sama sekali tidak melakukan hal apapun itu selain berbicara dan memandang satu sama lain. Itu terjadi karena kau sakit beberapa minggu yang lalu, kau memintanya menemanimu.

Kau menyadari perasaanmu saat ini. Kau menyukainya. Kau sedikit tergelitik geli di daereah lehermu. Laki-laki itu menelusupkan kepalanya di sela-sela rambutmu saat ini, menghirup aroma buah chery yang sering kau gunakan. Entah kenapa ini memang menjadi kebiasaannya belakangan ini menelusupkan kepalanya di sela-sela rambutmu dan meghirupnya dalam-dalam. Baekhyun mengecup lehermu sekilas ini seperti membuat syaraf-syaraf di seluruh tubuhmu tidak berkerja denagn baik. Ia mulai narik kepalanya dari lehermu, memperhatikanmu yang sekarang sedang mencerna apa yang laki-laki itu lakukan tadi, ia terkiki melihat tingkahmu saat ini.

“Apa permohonanmu?”

Kau menatapnya, kau tidak pernah berfikir bahwa laki-laki ini akan emnanyakan permohonan yang kau buat tadi. Kau menghirup udara sebentar memberanikan diri mengungkapkan apa yang kau buat jadi permohonan tadi.

“Aku ingin, kau, aku, kita membatalkan perjanjian ini dan menjalani hubungan ini dnegan serius. Aku.. aku mencintaimu”

“Aku juga mencintamu, baiklah jika kau menginginkan itu mari kita jalani semuanya dengan serius”

Dia mencium bibirmu, menggigitnya, dan melumatnya. Ksu mengalungkan kedua tanganmu pada lehernya sedangkan tangan Baekhyun melingkar sempurna dipinggang mu.

Aawalnya kau berfikir mungkin saja Baekhyun menolakmu begitu saja namun ternyata kau salah. Dia mrmbalas perasaanmu. Saat ini kau begitu menikmati ciuman itu, ciuman yang begitu lembut. Kau melepaskan tautan itu dari bibirnya, ia sedikit menatapmu protes namun kau hanya tersenyum tanpa dosa padanya. Ini membuatnya gemas dengan mu, menurutnya kau ini perempuan yang sangat ia inginkan, seperti tipe idelnya.

Saat ini, kau melupakan rasa kantukmu yang tadi kau rasakan. Kalian duduk berdua di sofa depan televisi. Dengan manjanya Baekhyun tidur di pangkuanmu, kau membelai rambutnya lembut. Kalian merencanakan untuk kencan besok, kau sangat ingin mengunjungi nenekmu yang berada di Mokpo, dan Baekhyun mengabulkannya. Pria itu menutup matanya, kau tau dia sangat lelah dapat kau lihat dari raut wajahnya.kau masih setia membelai lembut rambut pria ini. Kau mencintainya sangat mencintainya.

Keesokan harinya kau menggeliatkan tubuhmu saat cahaya matahari menyilaukan matamu. Kau bangun dari tidurmu dan mengamati ruangan yang sekarnag kau tempati, kamarmu. Bagaimana bisa kau berada di kamar ini sedangkan terakhir yang kau ingat adalah kau tertidur di ruang tengah memangku kepala Baekhyun.

“Kau sudah bangun?”

Suara itu mengejutkanmu, pria itu masih di apartemenmu sedari tadi dan kau juga tidak menyadarinya, dia tersenyum kearahmu, tersenyum hangat. Baekhyun membelai rambutmu lembut, dia duduk di dekatmu, mengusap wajahmu lembut, apa yang ia lakukan ini membuat kau heran, seperti bukan Baekhyun yang kau kenal.

“Mandilah, aku akan menunggu di ruang makan. Setelah itu persiakan apa yang harus kita bawa ke Mokpo”

Kau tersenyum mendengar itu, Baekhyun seperti kekasih impianmu yang mengerti dirimu kapanpun itu. kau memeluknya penuh sayang kali ini. Kau mengucapkan rasa terimakasihmu padanya dari saat dia aembuatkan pesta ulang tahun mu sampai saat dia megabulkan keinginanmu untuk mengunjungi rumah nenekmu di Mokpo.

Dia emmang tidaka banyak bicara, dia hanay mengangguk dan tersenyum lagi padamu, kau mencium pipinya sekilas dan lekas berlari kekamaar mandi.

Kau sudah siapa dengan segalanya, kau sudah rapi, sudah mempersiapkan barang-barang yang perlu kau bawa, tapi kau lupa satu hal kau belum mengisi perutmu. Ini membuat Baekhyun menunggu lama di meja makan, kau mulai merasa bersalah padanya, kau berlari dan menghampiriny, ia msidh setia duduk dan menompang dagunya dengan kedua tangannya.

“Maaf tadi aku mempersiapkan barang-barang dulu”

Kau mengucapkan maaf mu dengan tersenyum manis, dan itu memangd i tanggapi Baekhyun dengan positif dia hanya mengangguk dan menyuruhmu duduk. Kalian makan tanpa ada suara sedikitpun. Baekhyun bukan orang yang suka berbicara di saat mereka makan.

Butuh waktu beberapa jam untuk kalian sampai di Mokpo. Kau mulai keluar dari taxi yang kalian tumpangi kau terenyum rian merasakan udara Mokpo yang sudah sangat lama tidak kau kunjungi. Kau masih ingat betul letak rumah nenekmu disini. Kau berjalan mendahului bakhyun yang membawakan tasmu.

Kau berhenti di depan rumah adat korea, rumah ini masih sama. Ini rumah nenekmu, kau merindukannya saat ini. Kau melangkah masuk dan kau melihat wanita tua sedang duduk dan membaca buku di samping rumah. Kau berteriak memanggil nenek mu. Tentu saja ini mmebuat wanita tua itu menoleh dan mengertutkan dahinya.

“Halmeoni, ini aku Ahn Min Jung”

Wanita tua itu mulai tersenyum manis padamu dan memelukmu penuh sayang. Kau berubah menjadi anak kecil saat ini, bukan seperti kau yang terlihat tenang. Kau suka bergelayut manja pada nenekmu. Nenkmu memperhatikan laki-laki yang berada di belakang mu. Kau tersenyum penuh arti pada laki-laki itu dan menyuruhnya mendekat pada kalian.

“Annyeong halmeoni, saya Baekhyun. Kekasih Min Jung”

Nenekmu tersenyum bahagia ketika melhita Baekhyun memperkenalkan dirinya sebagai kekasihmu. Nenekmu bahagia kau memiliki seorang kekasih saat ini, seingat nenekmu kau masih gadis kecil yang suka menangis dan bergelayut manja di pelukan beliau.

Hari ini kau dan Baekhyun berencana menginap semalam disini, dan ini benar-benar membuat nenkmu bahagia. Beliau hanya hidup sendiri disini dengan para teangga. Saat tetangga nenkmu berlalulalang dan menanyakan siapa kau dan laki-laki di sampingmu yang selalu setia menggenggam tanganmu, dengan bengganya nenkmu memperkenalkan kau sebagai cucunya dan laki-laki yang ada di sampinmu adalah kekasihmu.

Nenekmu menyuruhmu membawa Baekhyun berkeliling kota Mokpo, ya walaupun mokpo tidak seluas Seoul kau masih mengingatnya sedikit. Kau berencana akan membawa Baekhyun ke pantai yang sering kau kunjungi dulu. Kau sering melihat matahari tenggelam disana dan kau berencana menunjukan itu pada Baekhyun

Laki-laki ini masih saja mengaggumi apa yang kau elu-elukan sedari tadi di perjalanan. Ia memandangi matahari yang hampir tenggelam disisi barat itu. benar-benar indah. Kalian duduk berdua di pinggir pantai, kau menyandarkan kepalamu di pundaknya. Kau ingin selamanya seperti ini terus berada di sampingnya hingga kalian tua nanti.

Baekhyun membalikan tubuhnya memandangimu lekat-lekat. Dia memajukan mukanya pada mukamu, kau tau apa yang akan terjadi selanjutnya, kalian akan berciuman. Kau emnutup kedua matamu saat ini sampai akhirnya bibir Baekhyun mendarat dibibirmu, kalian melakukan ciuman itu lagi, dan matahari hampir tenggelam saat ini. Kau sama sekali tidak perduli dengan orang yang berlalu lalang memperhatikan kalian.

Setelah itu kalian pulang menuju rumah nenekmu. Sesampainya di rumah kau langsung membesihkan diri, begitu juga Baekhyun. Saat makan malam nenekmu menanyai kalian berbagai macam pertanyaan seperti kapan kalian mulai pacaran?, kapan kalian bertemu?, kapan kalain akan menikah? Pertanyaan terakhir tadi seolah mengingatkan mu pada rencana orang tua kalian, bukankah menjodohkan itu artinya juga akan di akhiri dengan pernikahan tapi kau sama sekali tidak memikirkan hal itu saat ini, kau berfikir bahwa kau masih muda untuk memikirkannya.

Baekhyun hanya tersenyum menanggapi apa yang nenkmu tanyakan namun kemudian ia menajawab dengan lantangnya seperti laki-laki sejati.

“Tahun depan kami akan menikah”

Kau membelalakana matamu tidak percaya mendengar apa yang Bakhyun katakan. Bagaimana bisa laki-laki ini berasumsi seperti itu sekarang sedangkan orang tua kalian sama sekali belum memutuskan apapun tentang hal pernikahan kalian. Tapi kau sama sekali tidak membantah apa yang Baekhyun katakan, toh tahun depan itu bisa kapan saja.

Pagi menjelang dengan begitu cepat rasa rindumu pada nenekmu sama sekali belum terobati kau harus segera kembali ke Seoul pagi ini karena kau tidak mungkin menyita waktu Baekhyun terlalu lama, kalian juga harus menuntut ilmu, di tambah Baekhyun sudah berkerja paruh waktu di kantor orang tuanya.

Kau memeluk nenekmu laam, kau ingin menangis kali ini. Kau tidak tega meninggalkan nenekmu sendiri disin.  Sampai akhirnya kau harus melambaikan tanganmu pada waita tua itu.

16 Januari 2014

 

Kau tersenyum bahagia melihat kalender yang ada di ponselmu, sudah satu tahun hubungan kalian berlangsung. Kau merasa seperti baru kemarin kau resmi menjadi tunangannya. Kau menarik kedua ujung bibir mu membuat lekukan indah disana. Kau memperhatikan bulan seanjutnya di tanggal dua Febuari itu terligkari, dua minggu lagi kalian akan menikah. Terlalu cepat memang naun ini sama seperti apa yang di katakan Baekhyun saat di rumah nenekmu. Orang tua kalian juga sudah memaksa kalian untuk cepat menikah.

Hari ini kau tersenyum bahagia seharian, kau berjalan dengan membawa sebuket bunga mawar putih dan satu kardus kue yang baru saja kau beli juga beberap bahan belanjaan. Kau berencana membuat kejutan untuk Baekhyun dengan datang ke apartemennya. Dari luar kau bisa mendengar sayu-sayu suara seorang perempuan yang menangis di dalam apartemn Baekhyun, kau sedikit menepis kemungkinan buruk itu. kau mulai memasukan kode pada apartemen ini, kau sangat terkejut saat ini melihat apa yang ada di hadapanmu, semua barang yang kau bawa jatuh dengan begitu saja. Ini terlalu cepat untuk kau rasakan. Seperti inikah rasanya sakit hati?

Mereka menolehkan kepalanya kearahmu, kau mulai mundur teratur berusaha menjauh dari jangkauan pria yang sekarnag mengejarmu. Kau berlari, berlari dengan kencang, dadamu terasa sesak seperti ada luapan emosi yang ingin kau keluarkan namun kau tidak bisa.

“Min Jung tunggu!”

Kau sama sekali tidak menghiraukan perintah itu, kau sudah sampai di depan gedung apartemen itu kau sama sekali tidak memperhatikan jalanmu kau menerobos jalan raya, dan saat kau berada di tenga-tengah jalan ada sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tunggi, kau berteriak histeris, kau menutup matamu. Namun kau merasa ada yang menarikmu menjauh dari tengah jalan raya.

“Apa kau gila! Aku hampir saja terkena serangan jantung jika kau tidak selamat. Dengarkan aku, itu sama sekali tidak seperti yang kau lihat”

Suara itu, ini suara Baekhyun. Apa ia masih peduli dengan mu? Setelah kau melihat dengan mata kepalamu sendiri bahwa tunanganmu berciuman dengan wanita lain, wanita yang kau kenal sebagai Krystal Jung di universitas.

“Aku tidak membutuhkan penjelasan apapun Baek, semuanya jelas sangat jelas Baek apa yang ku lihat itu sudah merupakan sebuah penjelasan…”

Kau menghelakan nafasmu  panjang sabelum akhirnya aku meneruskan ucapanmu “… batalkan pernikahan kita. Kau melilihnya”

Kau mulai menjauh lagi dari hadapan Baekhyun yang kini diam mematung mendengar apa yang kau katakan. Semuanya sudah tersusun rapi, gedung, undangan, dan semuanya sudah beres dan sekarnag kau membatalkan pernikahan itu dengan begitu saja.

Ada perasaan yang tidak bisa kau terima saat Baekhyun menghianatimu begitu saja. Kau terus saja menguatkan dirimu kau tidak boleh menangis, kau tidak boleh menangis. Kau selalu menghibur dirimu sendiri.

Kejadian itu sudah satu minggu yang lalu, kau merasa kehilangan sosok yang selalu ada di dampingmu. Sudah berkali-kali Baejhyun menghubungimu namun selalu saja kau alihkan. Sudah seminggu ini juga kau tidak di Seoul. Kau sudah mengatakannya pada orang tuamu, kau menceritakannya pada ibumu tentang kejadian yang sebenarnya, ibumu memakluminya dan membatlakn pernikahan yang sudah tersusun dengan rapi.

Hari ini kau mengunjungi pantai dimana kau dan Baekhyun berciuman, kau seperti melihat bayangannya kembali disini saat kau dan dia menunggu matahari tenggelam, kalian berjalan menyusuri pantai begenggaman tangan dna bercengkrama dengan hangatnya. Kau merindukan momen itu. kau merindukan senyuman itu. kau masih ingat betul saat kau sedang duduk disini Baekhyun menghampirimu dengan senyuman indahnya. Kau seperti melihat Baekhyun yang berjalan kearahmu. Ini seperti nyata, delusi ini semakin menguasi dirimu, luapan emosi yang kau tahan beberapa hari ini akhirnya terluapkan. Kau menangis di minggu pertamamu.

Kau sama sekali belum pernah merasakan sakit hati seperti ini , seperti kehilangan sebagian dari dirimu, seperti kau tak sempurna. Kau mengeluarkan ponselmu melihat foto yang menjadai Wallpaper mu, foto kalia yang kau ambil disini beberapa bulan yang lalu. Kau sangat merindukannya. Kau emnangis untuk petama kalinya kaarena Baekhyun. Kau memeluk lututmu kau menunduk dan menangis. Kau emngingat di mana saat kau dan dia amsih bersama. Dia begitu menyayangimu, dia menjagamu dengan baik. Dia menuruti apa pun yang kau mau.

Kau sama sekali tidak bisa mengalihkan pikiranmu darinya, bayangan dirinya terlalu berperan kuat dalam kehidupanmu. Dia yang mampu membuatmu tersenyum bahagia, namun di saat kau melihat dengan mata kepalamu sendiri saat dia berciuman dengan wanita lain di hadapanmu kau seperti kehilangan semuanya, satu hal yang kau sesali, kau sama sekali tidak pernah bertanya apa dia sudah memiliki kekasih atau belum. Itu keasalahan mu dan satu minggu yang lalu kau melihatnya menciuam gadis lain. Ini secara tidak langsung membatalkan pernikahan kalian.

Kau menangis semakin menjadi-jadi kau sama sekali tidak bisa amengahpuskan dia, kau benar-benar frustasi kali ini. Bagaimana pun ini keputusanmu untuk meninggakannya, dia layak untuk hidup bahagia, dari pada dia harus tertekan menikah denganmu.

Setiap hal apapun yang kau lakukan saat ini benar-benaar selalu mengingatkan mu tentangnya, meskipun kau mencoba untuk tetap tersenyum menutupi lukamu. Kau berfikir apa dia memikirkan mu saat ini? Apa dia merasakan sakit yang sama sepertimu. Kau bahkan hampir mengingatnya setiap hari didalam hidupmu. Bisakah kau merasakan pelukan hangatnya sekarang? Di saat kau menangis hanya dia yang menenagkanmu, memberikanmu sebuah kedamaian. Bisakah kau melihat senyumnya. Kau berteriak meluapkan seluruh emosimu, kau amsih menangis dan sekarng keadaan semakin memburuk kau emnangis sesenggukan. Kau harus melupakannya. Perintah di otakmu memerintahmu seperti itu tapi hatimu sangat sulit melakukannya. Kau mencintainya.

Tidak akan semudah itu meupkan seseorang yang kita cintai. Dadamu semakin sesak, kau menjatuhkan dirimu di pasir pantai, kau tidak bisa menahannya lagi rasa asakit didadamu yang begitu menusuk hatimu, benar-benar menyakitkan. Kau memukuli dadamu kencang. Tangisan itu seperti mengolok-ngolokmu saat ini kau bukan Ahn Min Jung yang kuat lagi. Kau Ahn Min Jung yang lemah yang menangis karena laki-laki yeng menjadi tunanganmu menghianatimu.

Dia bahkan sudah tidak pernah berusaha menghubungimu, kau beranggapan bahwa mingkin dia sudah kembali dengan kekasihnya. Ini semakin menambah rasa sesak di dadamu, kau seperti tidak kuat membayangkan jika Baekhyun akan bergelayut manaja pada kekasinya, jika dia akan mengecup manis bibir kekesihnyua jika dia akan mengisi kekosongan di sela jari-jari kekasihnya. Dulu itu milikmu, dulu dia milikmu tapi tidak untuk sekarang.

Kau mengnginkan dia kembali, kembali mengisi kekosongan di hatimu, di sela-sela jarimu. Tapi itu hanya khayalanmu saja mendapatkan dia kembali kau sudah meninggalkannya. Dan sekanag kau harus bisa bertahan tanpa dia, tanpa dia yang akan mendekap tubuhmu.

“Aku harus bisa melupakannya”

Kalimat terakhirmu itu membuat airmatamu semakin deras, rasa sesak itu bertambah banyak seperti bertubu-tubi menghujam hatimu.

The End

Aa maaf feelnya enggak dapaet banget ya? L maaf ya harus end kalok di suruh buat Sequel aku harus berfikir dulu ini soalnya aku harus nyelesaiin Love In Danger dulu. Maafya jelek dan berakhir gitu aja. Mungkin ada beberapa typo

26 responses to “[Freelance] Delusion

  1. belum trlalu ngeh nih.. thor ingin sequelnya dong hihihi.. ::-D

    akupun juga suka love in danger thor hehe

    fighting ne ^^

  2. yang part ngeliatin foto2 pas tunangan itu, persis banget sama salah 1 drama korea yang pernah gue tonton. tapi yang lain gak kok… semangat buat ff nya… spirit…

  3. Pingback: [Freelance] Memories (Sequel of Delusion) | SAY - Korean Fanfiction·

  4. Baru bAcA dan keren..thor itu mah uda bukan sedikit lagi melainkan banyak bgt typo..keke~
    Lanjut ke sekuel aaahh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s