[Freelance] Occupe de vous voir

Copy of images (5)

Occupe de vous voir  (Oneshoot )

 

Cast :Evelyn Han

           Cho Kyu Hyun As Kyu Hyun

Genre: Smooth romance, sweet

Rated: Teenage

Legth: Oneshoot

Blog : http://penulisdini.blogspot.com/

Disclaimmer: Ini Karya saya, tidak ada hak atau wewenang bagi siapapun untuk mengakuinya, terima tidak terima ini karya saya.

Summary: Love at first sight ? Disini anda akan mengerti ketika seseorang jatuh cinta hanya karna menatapnya.

 

    “ Lucu jika memikirkan dan mengatakan bahwa hanya akulah satu-satunya orang di dunia ini yang super sibuk, dan membiarkan segalanya terlewati begitu saja. Bahkan untuk hal sekecil makan dan minumpun aku sempat melupakannya karena satu hal, mungkin aku lebih memilih untuk melihatmu. Kau tahu kenapa ? Karena kau terlalu mempersona untuk di abaikan “

 

–          Pantheon – sarbonne paris 11 november 2011 –

Aku kembali berdiri di sini untuk alasan yang tidak jelas. Sedikit klise memang, tapi aku mencintainya pada pandangan pertama.

Sial ! Aku terlihat seperti seorang penguntit, bayangkan saja beberapa orang memperhatikan gelagat anehku yang tengah berdiri di belakang pohon akasia besar. Entah hal apa yang mereka pikirkan, tapi sungguh aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Berbeda dengan gadis itu, gadis yang tengah tersenyum dengan wajah yang mendongak menatap langit siang , kilatan cahaya menembus pori-pori  kulitnya yang pucat. Nampak memukau.

Kedua  tangannya ia letakan di atas meja yang sudah lapuk termakan usia, padahal usia bangunan ini belum mencapai setengah abad. Kedua kakinya menghentakan lantai semen menyebabkan dedaunan kering berwarna coklat dan kuning tersebut melayang ringan. Kemudian tubuh kurusnya meringkuk di atas kursi terbuat dari kayu , sambil memainkan jari tangannya dengan manis. Angin hangat menghantam tubuhnya yang keras hingga surai rambut coklatnya berterbangan, ia kemudian menegakan tubuhnya lalu bersandar pada punggung kursi dan kembali mendongak menatap langit.

Baiklah, harus kuakui aku memiliki satu persamaan dengan tokoh kartun berbentuk kotak dengan warna kuning. Coba tebak, kami sama-sama autis. Jika di lihat dari sisi yang berbeda, aku pria normal biasa yang mungkin akan memilih menghabiskan waktu luang di tempat lain seperti yang lainnya, tentunya sebelum gadis itu mengusik kehidupanku.

Karena apa ?

Karena gadis itu terlalu mempesona untuk di abaikan begitu saja. Kalau saja pria di luar sana tahu tentangnya, sedikit saja tentangnya mungkin mereka akan sama terjebaknya sepertiku.

Gadis itu terlalu mempesona hingga aku sempat berpikir bahwa gadis telah menyita semua waktukku hanya untuk memastikan bahwa dia tetap baik-baik saja dalam pandangan mata. Hal itu tentu membuat nafsu makanku menurun, tidurku tidak nyenyak karena tahu bahwa kenyataan yang ada di depan mata lebih indah daripada bunga mimpi yang sering aku alami setiap malam.

Mungkin selama ini aku berpikir bahwa gadis itu telah lancang mengusik pikirkanku, tapi sungguh aku masih dalam keadaan waras.

Itu benar-benar menjengkelkan saar seseorang mengusik kehidupanmu namun hal itu tidak berlaku untukku, karena aku mulai terbiasa, aku sudah menyukai apa yang ada pada dirimu dari detik pertama ketika kita bertemu 2 bulan yang lalu. Tepat jam 09 pagi tanggal 11 september 2011.

Saat itu aku sedang menikmati beberapa pemandangan yang sangat indah di awal musim gugur. Aku masih mengingat dengan jelas seorang gadis cantik berdiri tepat di depan sebuah pohon akasia besar dengan tatapan takjub. Dan saat itu aku yakin bahwa aku telah menemukan satu hal terindah di dunia ini.

Penampilannya Nampak mempesona dengan gaun tanpa lengan bermotif bunga di atas betis, topi berwarna coklat dengan ornament pita yang membelit sisi – sisinya serta rambut coklatnya di jalin asal menyisakan anak-anak rambut berantakan tertiup angin hangat. Wajahnya mendongak, kedua kelopak matanya tertutup rapat sementara kedua sudut daun bibirnya tertarik ke samping mengukir sebuah senyuman lepas.

Ada dua jenis orang bodoh di dunia ini, mereka yang benar-benar bodoh dan mereka yang bodoh karena mereka sedang jatuh cinta. Aku harus masuk kategori yang mana ? Oh, lupakan hal tersebut.

Kau tidak akan membayangkan betapa gadis itu berhasil membuatku terpukau dalam detik pertama ketika aku memandanganya, gadis pertama yang membuatku berhasil menatapnya lebih dari 3 detik dari yang aku kira, menyebabkan serangan jantung kecil sehingga denyutnya bergerak begitu cepat.

Kurasa Albert Einstein benar-benar jenius, aku pikir semua yang di katakannya benar-benar akurat ! Dia mengatakan bahwa gravitasi tidak berlaku pada orang yang sedang jatuh cinta dan nyatanya pada saat itu aku merasakan kedua kakiku tidak lagi berpijak pada tanah.

Jika kau seorang pria, kau pasti akan merasakan hal yang sama  ketika kau melihat wnita yang sangat sempurna yang pernah tertangkap retina matamu. Dan kau tahu, kau takkan pernah berniat memalingkan wajahmu karena otakmu sibuk merekam gerakan tubuhnya, ekspresi wajahnya yang Nampak natural dan senyumnya yang menawan. Bagaimanapun kau tidak ingin berhenti menatapnya walau hanya sejenak, karena hanya dengan menatapnya kau akan berpikir bahwa kebutuhanmu menarik nafas sudah terpenuhi.

Aku kembali berpikir bagaimana takdir ikut serta dalam hal ini. Mungkin terdengar konyol, namun aku di lahirkan di dunia ini untuk jatuh cinta padanya, cinta pada pandangan pertama tanpa tahu siapa namanya, mengapa aku bisa menyukainya. Sekali lagi, itu terdengar klise bukan ?

Yang aku tahu, aku menatap gadis itu tidak kurang dari 3 detik dan aku sudah jatuh cinta padanya.

Gadis itu , ia memutar kepalanya dan menatapku dengan mata teduhnya  lalu beberapa saat kemudian ia tersenyum. Senyum yang sangat manis.

Hari ini, hari di mana aku benar-benar menggilainya dan aku pikir aku sudah jatuh cinta padanya.

“Evelyn”

Dan akhirnya nama itu akan selalu terdengar akrab bagiku, nama yang cantik.

“ Evelyn”

**

 

Entahlah apa yang menyebabkannya meneruskan pendidikan di sana, universitas yang terletak di perancis tersebut.

Gadis itu tidak mengerti mengapa ia mengambil jurusan humaniora di sana. Menagapa dia tidak mengambil jurusan yang sesuai dengan kemampuannya saja, seperti ekonomi, sosiologi,geografi dan sastra. Oh , sepertinya yang terakhir bukan merupakan bagian penting dari universitasnya.

Di waktu luang dia lebih memilih menyibukan dirinya di perpustakaan universitas yang di kenal dengan ‘ sorbonne’. Tetapi mungkin waktu luangnya akan habis begitu saja ketika ia menemukan 3 juta buku dalam susunan rak besar yang menjulang tinggi hingga menyentuh atap langit. Atau dia akan berpikir ulang untuk kembali pulang ke apartement dan mendekam di dalam kamar dengan secangkir coklat hangat.

Kurasa tidak, buku adalah segala hal terbaik baginya. Selain buku, gadis itu menyukai teh, mempunyai hobby manis seperti melukis  dan beberapa kali aku pernah melihatnya melukis di atas kanvas. Entahlah dia menyadari kehadiranku atau tidak di sana, yang jelas menghabiskan waktukku di sana adalah waktu favoritku. Hanya untuk alasan yang sama…Ingin melihatnya.

Gadis itu suka sekali dengan mitologi yunani kuno, terutama ares, Aphrodite, Athena, cupid, zeus, dan hermes. Menurutku sangat membosankan. Aku juga sering melihatnya membaca di perpustakaan dan aku selalu duduk tepat di  belakangnya, dan aku akan pergi setelah dia menyelesaikan acara membacanya. Aku selalu mencari tahu hal apa yang dia sukai, oleh karena itu sebelum aku pulang aku menyempatkan diri terlebih dahulu untuk melihat buku apa saja yang ia baca.

Kendati, dia sangat benci ketinggian dan kecepatan. Aku juga pernah mengikutinya hingga apartement. Gadis itu akan memejamkan matanya ketika bus melaju dengan kencang, dan ia akan mencengkram erat pegangan besi ketika menaiki anak tangga. Ia menyukai animasi jepang dan bahkan ia terobsesi pada karakter animasi bernama chiaki. Chiaki berperan sebagai seorang konduktor music yang berasal dari keluarga yang berada, sangat kharismatik dan berjiwa seni sangat tinggi. Dari sana juga aku tahu bahwa dia sangat menyukai Beethoven dan lupin dan instrument favoritenya adalah Beethoven sonata 5 ‘spring’.

Tanpa sadar aku menghabiskan banyak waktukku untuk mempelajari setiap gerak geriknya,tingkah lakunya dan kebiasaannya. Aku memang mencintainya, tapi aku belajar untuk lebih mencintainya dari detik ini dan berlangsung di detik-detik berikutnya.

Dan kini aku berada dalam satu ruangan dengannya, menghabiskan waktu  senggang dengan secangkir kopi hangat tentunya dengan meja yang berbea di sebuah café yang terletak di sebrang jalan. Aku senang walaupun aku hanya duduk di sini dan melihatnya dari jarak yang tidak terlalu dekat, ketika wajah kecil itu mendongak dan mengalihkan tatapannya dari secarik kertas. Ia tersenyum tanpa sebab dan hal tersebut malah membuat hatiku rasanya ingin meledak, seolah ada ribuan kupu-kupu yang mengepak secara bersamaan dan melesat keluar dari dalam sana.

Lama kami saling bertatapan seakan hanya dengan bertatapan kami sudah saling melengkapi satu sama lain.

Aku suka suasana seperti ini, aku suka sekali karena mata coklat itu menatapku dengan cara cara yang sama ketika aku menatapnya, daun bibir itu menyunggingkan sebuah senyuman yang membuat wajahnya berkali-kali lipat lebih cantik.

Aku tercengang ketika mendengar bunyi berderit dari arah pintu dan lonceng yang berdenting ketika pintu itu di tarik ke dalam dan kini, gadis itu sudah menghilang dari pandanganku. Aku berdiri membawa tubuh ini menuju meja yang gadis itu tempati,aku hanya menemukan secarik kertas kusut yang sepertinya sudah berulang kali gadis itu remas.

‘Le coup de foudre’

Kedua sudut bibirku tertarik menyunggingkan sebuah senyuman tipis setelah membaca sepenggal kalimat berbahasa perancis tersebut. Cukup aneh,gadis itu sangat menyukai berbagai hal menyangkut perancis termasuk bahasanya.

“ Cinta pada pandangan pertama “

**

 

Aku menyukai caranya berjalan, kaki kurus tingginya berjalan dengan santai tanpa tergesa-gesa. Sweater  berwarna orange tersebut nampak serasi dengan kemeja putih dan hotpans yang membalut tubuhnya, sementara rambutnya kali ini di biarkan tergerai begitu saja.

“ Evelyn“ Teriakku dan gadis itu berbalik menatapku dengan tatapan lugunya. Aku sudah tidak tahan lagi, aku tidak bias menahan perasaan ini lebih lama. Aku tidak perduli jika setelah ini dia akan mengataiku gila atau mencaciku dengan kata-kata kasar.

“ Evelyn, bagaimana jika kau jadi milikku ? Aku bisa gila jika tidak melihat wajahmu satu hari saja !”

Aku berhasil mengatakannya,namun gadis itu sama sekali tidak bereaksi. Cukup lama kami diam mematung dengan saling bertatapan.

Beberapa menit berlalu dan kami masih membisu, aku tahu ini terdengar bodoh tapi aku serius dengan apa yang aku ucapkan.

Aku sedikit tidak percaya ketika gadis itu berjalan ke arahku, semakin dekat dan kali ini aku tahu bahwa tubuhnya hanya sebatas daguku.

Gadis itu mengulurkan tangan kanannya tanpa ragu.

“Hanni, namaku Hanni.. Sedangkan Evelyn nama baratku “

Dia tersenyum lepas lalu menarik tangan kananku untuk di jabatnya. Hangat, pertama kali kami bersentuhan secara langsung membuat sensasi yang berbeda. Rasa hangat tersebut menjalar hinggga kedua sisi wajah dan menimbulkan efek warna merah merona, yang pasti kau tahu mengapa hal itu bisa terjadi.

“ Cho Kyu Hyun, namaku Cho Kyu Hyun “

Aku tahu alasan mengapa aku suka sekali melihatnya berjalan, bukan karena kakinya yang jenjang dan indah. Akan tetapi kedua kaki itu berjalan dan membawa dirinya padaku.

**

*

Perjalanan pulang yang terkesan sunyi seperti awal pertemuan yang tidak sama seperti kesempatan-kesempatan sebelumnya. Malu, itulah yang tergambar di antara kami saat ini. Aku sempat melirik evelyn sejenak hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan karena aku tidak tahu bagaimana caranya agar bisa terlepas dari gadis itu. Sekali saja aku sudah melihatnya maka detik itu pula dia telah berikrar tidak akan pernah melepaskannya. Kami diam tanpa saling menegur atau membicarakan sesuatu seperti pasangan lainnya. Aku senang, aku merasa semua yang telah aku lakukan tidak sia-sia. Aku berhasil mengatakannya, aku hanya tinggal menunggu jawaban dari gadis ini saja.

Aku kembali menatapnya,mata teduhnya adalah satu hal yang aku suka dari gadis ini, dia cantik dan aku akui dia adalah gadis pertama yang berhasil merebut hatiku. Aku melihat tangannya yang bergetar, dan jemari kecilnya bergerak menarik-narik ujung lengan sweater . Rupanya gadis ini gugup, tapi wajahnya tidak menyiratkan perasaan tersebut.

“ Evelyn “ Entah mengapa aku suka sekali memanggilnya dengan sebutan itu, karena nama tersebut terdengar cantik untuknya.

“ Um “ Dia mendongak, kembali memperlihatkan wajah polosnya. Aku sedikit menunduk, menyeimbangkan tinggi tubuhku dengan tubuhnya .

“ Kau sangat cantik, aku menyukaimu “ Matanya mencelos mendengar pernyataanku, aku hanya bisa tersenyum ketika gadis itu berdiri mematung dan sepertinya gadis itu harus membuat pengakuan bahwa aku lebih tampan dari yang dia bayangkan. Aku tersenyum tanganku dengan ragu terangkat pelan dan membawa tangannya dalam genggaman. Gadis itu melirikku, wajahnya memerah begitu pula denganku. Aku tidak terbiasa dengan ini semua, tapi aku rasa aku mulai terbiasa dengan kehadirannya.

Kami berjalan tanpa topic pembicaraan seperti hanya dengan bergandengan tangan saja sudah cukup bagi kami. Gadis itu berhenti lalu mendongak dan menatap wajahku sejenak.

“ Kau tahu, seorang pelukis tidak akan pernah menggambar satu objek yang tidak di cintainya atau membuatnya merasa tertarik “ Evelyn menghembuskan nafasnya pelan lalu merogoh secarik kertas dari dalam saku hotpansnya.

“ Kau hanya tidak tahu, aku menyisakan bagian penting dari cinta pada pandangan pertama “Evelyn memberikan kertas itu padaku,dan aku terkejut . Secarik kertas itu adalah sketsa wajahku, jika ini terjadi kemungkinan setiap kami bertemu dia selalu menggambar wajahku. Tapi kenapa dia melakukannya ?

“ Kau tidak mengerti ?” Tanyanya retoris.

“ Maksudmu ?”

“ Aku tidak akan menggambar satu objek yang tidak aku cintai..Dan jika aku menggambar wajahmu artinya……”

“ Kau mencintaiku “ Sambungku memotong pembicaraannya.

Dia hanya tersenyum , dan aku tahu ternyata dia juga mencintaiku sebesar itu,dia menginginkanku sebesar itu dan dia juga menatapku sebanyak itu.

Mungkin ini hanya kisa cinta biasa, namun semua akan terasa berbeda jika kau merasakannya benar-benar. Cinta tidak tumbuh dengan sendirinya, cinta tumbuh karena terbiasa. Terbiasa melihat misalnya.

             FIN

 

 

Sebenarnya aku malu publish Fanfict ini, jelek sih T,T bener ngak huhuhu

Apa tulisanku tambah jelek atau ada peningkatan ?

Kasih komentar yang jelas yah ! Thank you !!!

Penulis : Dini. Widianti

7 responses to “[Freelance] Occupe de vous voir

  1. aku suka cerita nya, kata-kata nya itu romatis hehe 😀
    aku suka cara penulisannya+kata-kata nyaa..
    tambah sukses lagi thor bikin ff nya yaaak?
    oh ya tadi ada yg typo kyknya tapi aku lupa letaknya dimanaa hehe :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s