[Freelance] Ending Of The Story [Love Drunk Sequel : One]

C360_2014-01-28-16-58-14-368

Title                       :    Ending Of The Story [Love Drunk Sequel : One]

Author                  :    Safira Bella/@fira_bella

Genre                   :    Sad, Romance, Angts,Marriage life, Etc.

Cast                       :  

–          Xi Luhan (EXO)

–          Alexandra Wu/Xi (OC)

–          Xi Ziyo (OC)

–          And Others.

Rated                    :     PG-17

Exo milik management, orang tua dan Tuhan YME, kecuali Kris Kai Luhan. Ide seratus persen dari otak author jadi leave comment guys J

 

Happy Reading \(^o^)/

Alex menggeliyat kecil merasakan sinar matahari menyinari kamar mereka. Gadis itu mencoba bangun tapi tangan kekar Luhan melingkar manis dipinggangnya. Ia menoleh dan mendapati suaminya sedang tidur dengan damainya. Wajah pria itu begitu damai berbeda sekali dengan semalam.

Alex mencoba merenggangkan tangan itu dari pinggangnya dan ia mendapati sebuah erangan halus dari sang empunya membuat Alex mengulas sebuah senyum tipis yang sangat cantik. Pria itu tetap menutup matanya karena pada dasarnya Luhan sangat sulit untuk bangun dipagi hari.

Alex mendudukan dirinya, mengamati kondisi kamar yang sangat berantakan membuat semburat merah kembali menghiasi pipi putih gadis itu. Untuk kesekian kalinya ia kembali melakukan ‘itu’ bersama Luhan. Itu hal wajar mengingat mereka sudah menikah namun tetap saja Alex masih begitu malu jika mengingat sikapnya jika Luhan menghujamnya tanpa henti.

Gadis itu meraih kimono mandinya lalu beralih memunguti pakaiannya dan Luhan yang bertebaran dilantai untuk dicuci nantinya. Setelahnya Alex memutuskan untuk mandi.

-ooo-

Gadis yang telah berganti marga menjadi ‘Xi’ sejak beberapa bulan yang lalu itu keluar dengan penampilan yang sangat segar terlihat dari harum sabun dan rambutnya yang terlihat masih basah. Selagi mengeringkan rambutnya, Alex berjalan menuju box bayi yang berada ditengah-tengah ruangan. Terlihat disana sang malaikat kecil sedang tertidur dengan guling yang berada dalam kaki mungilnya persis seperti Luhan. Dan dari sini Alex menyakini bahwa Ziyo adalah darah daging Luhan terlihat jelas dari wajah mereka yang sangat mirip.

Puas mengamati wajah Ziyo, Alex beralih pada suaminya yang masih bermalas-malasan diranjang padahal jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi.

“Oppa bangun, ini sudah pagi oppa!” Alex mengguncang tubuh Luhan. Namun apa yang didapat, pria itu tetap tidur.

“Oppa kau harus bekerja, ayo bangun oppa!” Kali ini Alex menarik-narik selimut yang membungkus tubuh polos suaminya itu. Luhan tetap diam.

“Oppa bangun, kalau ti—KYAA!!” Tubuh Alex dengan sempurna mendarat diatas tubuh Luhan. Mata namja itu masih tertutup namun Alex yakin namja itu sudah bangun. Kalau tidak, ia tidak mungkin bersikap usil seperti itu.

“Oppa!”

“Tunggulah sebentar lagi.” Luhan meletakkan dagunya dipuncak kepala Alex. Dan entah reflex atau tidak Luhan mendaratkan ciumannya dibahu Alex yang sedikit terekspos mengantarkan sebuah sengatan listrik diarea tubuh gadis itu.

“Oppa lepaskan, kau harus bersiap.” Alex merasa jengah karena Luhan justru merapatkan tubuh mereka membuat Alex kembali teringat dengan apa yang telah mereka lakukan sepanjang malam.

“Sebentar saja.” Ia kembali mendaratkan kecupannya, kali ini ditengkuknya. Alex mendesis, sudah kesekian kalinya ia memperingatkan Luhan untuk tidak menyentuh dua area itu. Karena dua area itu merupakan tempat tersensitif Alex selain…. Hanya Luhan yang tahu.

“Oppa….” Alex mengangkat kepalanya dan langsung berhadapan dengan wajah Luhan.

“Baik baik, tapi berikan aku ini.” Luhan memainkan jari telunjuknya dibibirnya. Alexmenatapnya horor, ia justru terkekeh.

“Hanya sebentar, ayolah Lex.” Luhan sudah memejamkan matanya. Sikap usil Luhan hampir membuat Alex mati serangan jantung. Ingin rasanya kabur, tapi tangan Luhan menghancurkan semuanya. Namja ini benar-benar

“Aku menunggu.” Sedikit ragu Alex mulai memajukan wajahnya dan detik kemudian mereka berdua dapat merasakan benda lembut itu saling menempel. Hanya sebentar Alex langsung melepaskan pagutan bibir mereka, takut terjadi hal aneh nantinya. Luhan bukan tipe namja yang tak pandai memanfaatkan situasi.

“Sudah kan?” Luhan memandang Alex dengan bibir yang melengkung ke bawah.

Morning kiss macam apa itu?” Luhan memberikan tatapan kecewanya pada Alex. Gadis itu hanya mendengus karena kelakuan suaminya itu.

“Sekarang oppa bangun dan mandi, aku akan buatkan sarapan!” Alex mencoba melepas tangan Luhan namun namja itu justru menyeringai dan menindih Alex.

“OPPA MWOYA!!”

“Ssstt nanti Ziyo bangun dear?” Wajah Luhan kian dekat dan Alex semakin panik, ia menutup matanya serapat mungkin agar tidak melihat wajah Luhan yang penuh nafsu itu.

“Kalau kau tidak mau memberiku morning kiss, biar aku yang mengambilnya sendiri!” Luhan menutup bibir Alex dengan bibirnya, melumatnya begitu lembut secara perlahan. Pria itu ingin membuat Alex tergoda dan memohon untuk melakukan lebih dan lebih. Itulah Luhan sekarang.

“Nggghh….” Desahan itu tanpa sadar keluar dari celah bibir Alex yang terbuka. Luhan memporak-porandakan paginya dengan sebuah kenikmatan yang tiada tara. Luhan mengobrak-ngabrik rongga mulut Alex dengan lidahnya, mengajak lidah mereka untuk saling membelit namun seperti biasa Luhan-lah yang memimpin segala permainan.

Sebelah tangan Luhan kini beralih menarik tali kimono mandi Alex. Sekali hentak saja Luhan berhasil menyingkirkan kain itu dan mencampakkannya ke lantai. Kini tidak ada sehelai benang pun menutupi tubuh mereka dan Luhan dengan lihainya kembali melakukan hal yang sama seperti semalam. Menjelajahi setiap lekuk tubuh istrinya dengan bibir ranumnya membuat Alex mendesah dan bergerak tak nyaman dalam kurungan tangan Luhan.

“Op—pahh—jeb—ball—ngghh—“

“Sabar sayang.” Luhan memandang puas tanda kepemilikannya dibeberapa tempat favorit yang ada ditubuh istrinya. Nafas Alex memburu, dadanya naik turun dan kulitnya mengkilap karena keringat membuat nafsu Luhan kembali meroket untuk menjamahi tubuh Alex dipagi ini.

Luhan kembali mencium Alex kali ini lebih dalam dari sebelumnya hingga timbulan decakan-decakan sensual dipenjuru kamar.

Alex mencengkram lengan Luhan begitu namja itu berhasil menyatukan tubuh mereka. Perasaan sakit, perih dan nikmat bercampur menjadi satu. Entah sejak kapan Alex begitu menyukai aktivitasnya saat ini. Luhan mulai menggerakkan tubuhnya dan otomatis membuat Alex menggerakkan tubuhnya berlainan arah dengan suaminya.

Alex sudah mencapai puncaknya tapi namja itu masih terus menghujam tubuhnya. Tubuh gadis itu sangat lelah, ia ingin segera menyelesaikan aktivitas mereka ini.

“Oppa….”

“Aku datang!”

“Ma mama…. Pa papa….”

Luhan cepat-cepat melepas kontak mereka begitu mendengar suara halus putra kecilnya. Begitu juga dengan Alex gadis itu dengan cepat menarik selimut dan menyelimuti tubuh mereka. Mereka dapat melihat sosok putranya sedang berdiri dibox bayi dengan senyum imutnya. Terpikir dipikiran dua insan itu, apakah putranya itu sudah melihat apa yang seharusnya tidak boleh ia lihat?

“Oppa Z-Ziyo melihat kita tidak?” Alex bertanya cemas. Wajahnya terlihat pucat, takut putranya itu ternodai karena aktivitas pagi mereka.

“Sepertinya tidak? Wajahnya terlihat biasa saja.”Oh God! Tentu saja Luhan! Kau berharap putramu melihatmu dengan ekspresi alis terangkat?

“Kau tidak membantu oppa! Annyeong Ziyo, bagaimana tidurnya semalam nyenyak?” Bayi mungil itu merespon dengan tawanya menampilkan gusi merah muda yang belum ditumbuhi gigi disana. Mungkin bayi itu senang karena ibunya menyapanya.

Alex meringsut turun setelah menggunakan kembali kimono mandinya. Alex bersyukur, Luhan tidak melempar kimononya ke tempat yang sulit ia jangkau. Gadis itu berlarian kecil menuju box bayi putranya.

“Aigo pangeran eomma sudah bangun, CHUP.” Alex mencium pipi gembul Ziyo, bayi itu terlihat sangat senang berbeda dengan wajah ayahnya yang tertekuk.

Dear bagaimana dengan ini?” Luhan menunjuk tubuh bagian bawahnya dan Alex mendelik kearahnya.

“Oppa atasi sendiri, aku mau membuat sarapan! Ayo Ziyo kita buat makanan untuk appa!” Alex menggerak-gerakkan tangan Ziyo sambil berlalu menuju dapur.

“Pa papa, ma appa….” Ziyo menunjuk Luhan yang masih mengeras diranjang.

“Nanti saja sayang, appa mu bau setelah mandi saja, oke?” Alex menutup pintu kamarnya. Masih terdengar jelas suara Ziyo yang berceloteh bersama Alex. Luhan mengacak rambutnya, ini bukan pertama kalinya putranya itu mengacaukan acaranya dengan Alex. Selalu seperti itu dan berakhir membuat Luhan frustasi karena dirinya yang tersiksa karena pelepasannya harus ditunda.

Luhan turun dari ranjang, melilitkan selimut tebal itu ditubuhnya lalu berjalan menuju kamar mandi.

-ooo-

Alex meletakkan sepiring nasi goreng Thailand dimeja. Gadis itu memandang puas masakannya ternyata hasil masakannya tidaklah buruk. Luhan tiba-tiba saja muncul disampingnyasambil menghirup aroma masakan yang menguar hingga ke indera penciumannya. Ia mencium pipi Alex sekilas, kemudian mengambil posisi duduk.

“Ini apa, dear?” Tanyanya mengintrupsi kegiatan Alex yang sedang meletakkan peralatan masak yang kotor ke tempat cuci.

“Nasi goreng Thailand, makanlah itu sangat enak.” Balasnya sambil menyesap teh hijau buatannya perlahan.

Luhan tersenyum lalu menyendokan sesendok nasi goreng berwarna kuning itu.

“Enak!” Ujarnya lantang dan kembali menyuapkan makanannya. Kelakuannya otomatis membuat Alex tersenyum, setidaknya usahanya tak sia-sia untuk masak.

Kai benar-benar memberi pengaruh yang besar bagi hidup Alex. Gadis itu berubah menjadi gadis dewasa yang tidak mudah rapuh. Ia berubah demi Luhan dan Ziyo. Masa lalu tetaplah masa lalu, sulit melupakannya tapi Alex mencobanya karena bagaimanapun hidup dengan bayang-bayang masa lalu itu sungguh tak mengenakan. Bahkan Alex rela belajar memasak bersama Dyo dan Lay agar Luhan senang. Luhan menolak jasa pembantu karena ia ingin hidup mandiri bersama keluarga kecilnya.

“Annyeong Tuan muda, apa tidurnya nyenyak?” Ziyo menoleh lalu kembali menggumam tak jelas dengan mainannya. Jelas saja pria mungil itu memang tidak terlalu dekat dengan Luhan, Ziyo lebih suka menempel dan bermanja-manjaan dengan Alex.

“Aigo uri Ziyo!” Luhan langsung menggendong Ziyo yang mencoba berbicara dengan boneka cars.

“Ziyo tidak sayang appa ya?” Luhan mencium pipi Ziyo yang mulai berontak dari pelukannya. Bayi mungil itu menunjuk-nunjuk Alex dengan mata berembun.

“Hmmhiks…. Mamamaa….”

“Oppa berikan padaku?” Luhan dengan berat hati memberikan Ziyo pada Alex. Luhan tidak mengerti dengan putranya itu, Ziyo tidak begitu suka jika ia yang menggendongnya saat dipagi hari.

Alex mengelus punggung mungil Ziyo dalam sekejap tangis bayi itu hilang, yang tersisa hanya sesenggukannya. Alex memberikan air putih lalu memakaikannya dot.

“Dia hanya haus oppa?” Alex yang mengerti mencoba memberikan sugenti positifnya melihat tatapan kecewa dari suaminya itu.

“Ziyo tidak boleh begitu sayang? Ayo minta maaf dengan appa!” Alex menuntun tangan Ziyo untuk menjambat tangan ayahnya.

“Ayo katakan sesuatu pada appa.”

“Miyayo appa…. tayanghaemuach….” Alex dan Luhan terkejut. Bagaimana putra mungilnya itu berkata seperti itu. Mereka tidak pernah ingat mengajarkan kata-kata itu pada Ziyo, mungkin Ziyo mencontoh drama yang sering ditonton Alex.

“Kyeowo, ne appa maafkan. Appa saranghae.” Luhan mencium pipi putranya yang hanya dibalas meletan lidah oleh putranya.

“Oppa berangkat jam berapa?” Luhanmelirik arlojinya lalu menatap Alex.

“Sebentar lagi, aku ada pertemuan dengan klien.” Alex mengangguk paham sambil menempatkan Ziyo dipangkuan Luhan.

“Oppa siang nanti aku boleh keluar ya?” Luhan menghentikan obrolan kecilnya dengan Ziyo lalu balik melihat Alex.

“Kemana? Lalu jam berapa?” Alex terlihat berpikir lalu beralih duduk disamping Luhan.

Paradise café? Mereka sedang mengadakan pesta kecil untuk merayakan Ziyo yang baru bisa merangkak, soal jamnya mungkin jam 10 nanti, bagaimana oppa?”

“Pesta? Kok aku tidak tahu?” Luhan menyeruput kopinya.

“Tidak tahu? Boleh ya oppa? Aku merindukan mereka.” Alex menangkup tangannya dengan mata yang sudah memelas sempurna membuat Luhan tak tega untuk melarangnya pergi.

“Jadi kau ingin menghabiskan waktu dengan mereka daripada dengan suami mu ini eoh?” Alex mengerucutkan bibirnya lalu menumpu kepalanya dimeja.

“Oppa jahat!” Luhan terkekeh.

“Aku hanya bercanda dear? Iya kau boleh pergi tapi hati-hati ya sayang?” Luhan membelai rambut Alex dan sontak gadis itu menegakan kepalanya dan menatap Luhan dengan mata berbinar.

“Benarkah oppa?” Luhan mengangguk.

“Gomawo oppa!” Alex mendaratkan ciuman singkat dipipi Luhan.

“Maa mama…. Iyo do….” Ziyo menunjuk pipinya sendiri. Putra kecil itu ingin Alex melakukan hal yang sama seperti ayahnya tadi.

“Oh Ziyo juga, CHUP….” Ziyo tertawa sambil meloncat-loncat dalam pangkuan Luhan membuat orang tua muda itu tertawa gemas melihat kelakuan putranya.

“Mau ku antar tidak?”

“Uhm tidak usah oppa aku naik taxi saja, oppa pasti sibuk.” Luhan tersenyum menyadari betapa pengertiannya Alex padanya.

“Terima kasih pengertiannya dear?” Luhan mencium pipi Alex sekilas lalu kembali menyesap kopinya.

“Oh iya, oppa mau ikut tidak?”

“Uhm baiklah! Oppa akan kesana saat jam makan siang, bersama kakak ipar bagaimana?” Alex mengangguk menyetujui.

“Baiklah, aku tunggu oppa!” Luhan tersenyum.

“Oh istriku cantik sekali kalau tersenyum!” Luhan mencubit gemas hidung mancung istrinya.

“Oppa tampan sekali kalau….”

“Kalau apa?”

“Aku tidak tahu oppa?” Alex menggaruk kepalanya.

“Kalau…. Berada diatasmu, benarkan?” Alex memukul lengan Luhan.

“OPPA!!”

“Astaga dear, aku hanya bercanda.”

“Iya, aku tahu.”

“Aku berangkat dulu dear?” Luhan mengelap sekitar mulutnya dengan serbet lalu berdiri masih dengan Ziyo.

“Baiklah.”

Alex meraih jas hitam Luhan.Ia mengantarnya ke depan tentunya bersama Ziyo yang kini merengek pada Luhan.

“Hati-hati dijalan oppa.” Alex merapikan kerah kemeja dan rambutnya yang telah ditata serapi mungkin sehingga poni Luhan tidak menutupi dahinya.

“Tentu saja dear, kau juga nanti hati-hati. Ingat ada Ziyo bersama mu?” Luhanmengusap pipi Alex lalu menyerahkan Ziyo yang kini mulai menampakan tanda-tanda ingin menangis. Ziyo selalu seperti ini saat Luhan hendak pergi ke kantor.

“Appa berangkat dulu sayang, nanti appa belikan boneka cars yang banyak bagaimana?” Ziyo menggeleng dengan air mata yang sudah berjatuhan dari mata indahnya. Kedua tangannya mencoba meraih Luhan berharap Luhan segera menggendongnya.

“Sayang appa mau bekerja dulu, setelah itu Ziyo bisa bermain sepuasnya dengan appa?” Alex menepuk punggung kecil Ziyo yang mulai berontak digendongannya.

“Ziyotidak boleh nakal nak, kasihan eomma. Appa berangkat dulu annyeong.” Ziyo melambaikan tangannya tentu saja dengan bantuan Alex. Putra kecil Xi ini kalau sudah merajuk susah sekali ditenangkan.

Setelah memastikan Luhan menghilang dibalik lift Alex berjalan masuk bersama Ziyo yang mulai menangis karena ditinggal bekerja oleh ayahnya.

-ooo-

Alex meletakkan Ziyo diatas karpet wol berwarna putih dikamar. Bayi laki-laki itu baru saja mandi dan terlihat begitu tampan dengan baju merah bergambar cars kesayangannya.

“Maa mama…. Maa….”

“Iya sayang duduk disitu, eomma mau ganti baju dulu!” Alex membolak balik pakaian yang ada dilemari besar dikamarnya. Gadis itu masih mengenak kimono mandi dan handuk kecil yang melilit rambut basahnya. Akibat ulah Luhan tadi, ia terpaksa mandi untuk kedua kalinya.

“Ziyo bagus yang mana, biru denim atau biru laut ?” Alex menunjukan dua kemeja berwarna biru dengan unsur warna yang berbeda.

Bayi itu hanya mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali sampai akhirnya ia menunjuk kemeja berwarna biru denim dengan telunjuk mungilnya.

“Biru denim? Baiklah eomma akan pakai yang ini, terima kasih sayang.” Alex mengusap kepala Ziyo penuh kasih sayang lalu mencium kedua pipi gempalnya.

“Ayo pangeran, kita bertemu dengan samchon mu!” Alex menggendong Ziyo dengan tas berukuran sedang yang selalu dibawanya jika berpergian bersama Ziyo. Isinya tidak lain dan tidak bukan adalah perlengkapan Ziyo.

-ooo-

KRING

Alex mendorong pintu kaca disebuah café dikawasan myeongdong. Ia terlebih dahulu mendorong kereta bayi lalu ikut masuk ke dalamnya. Suasana café tidak begitu ramai hanya ada beberapa orang didalamnya, mengingat café ini hanya dibuka karena keperluan pesta hanya untuk hari ini.

“Kyungsoo-ya!” Alex melambaikan tangannya begitu melihat sosok namja bermata bulat itu berjalan tidak jauh didepannya dengan tangan yang sedang membawa karung berisi tepung terigu.

“Oh Alex kau sudah datang?” Dyo menghampiri Alex, tersenyum manis kearahnya lalu meletakkan karung putih itu.

“Seperti yang kau lihat. Oh iya yang lain mana?” Alex celingukan kesana kemari mencari keberadaan yang lain.

“Yixing hyung dan Minseok hyung ada didapur, yang lainnya belum datang. Mungkin saat makan siang nanti.” Alex mengangguk mengerti.

“Aigo aku melupakan Tuan muda rupanya? Annyeong Ziyo masih ingat denganku kan?” Dyo berjongkok untuk melihat Ziyo yang sedang asyik berkencan dengan botol susunya.

“Siapa namaku?” Bayi mungil itu menjeda kegiatannya menyedot susu kesukaannya lalu menatap Dyo yang tersenyum antusias melihat kedatangan bayi tampan itu.

“Do oppa!” Alex menahan tawanya mendengar suara Ziyo memanggil nama Dyo dengan panggilan yang salah.

“Ah bukan begitu panggil aku Kyungsoo hyung, ayo Kyungsoo hyung.” Cukup lama menunggu reaksi Ziyo seakan tidak pernah bosan, Dyo selalu bersemangat untuk mengajari Ziyo kata-kata yang seharusnya terucap.

“Samchon!” Dyo lemas seketika saat Ziyo memanggilnya dengan sebutan yang berbeda dengan apa yang sudah Ia ajarkan.

“Terimalah Kyungsoo kalau kau sudah tua, keke.” Dyo berdiri lalu menatap tajam Alex.

“Kau juga sudah tua Nyonya Xi!” Dyo menodong Alex dengan jari telunjuknya seketika membuat Alex mendidih mendengar bahwa ia sudah tua, yang benar saja umurnya belum genap 20 tahun.

“Berhenti memanggilku tua!” Dyo terkekeh geli. Selalu seperti itu, Alex tidak begitu suka jika ia dianggap lebih tua dari member lain hanya karena ia lebih dulu menikah dan mempunyai anak. Rasanya tak adil karena pada dasarnya ia yang lebih muda dari mereka semua.

“Tidak usah cemberut begitu, aku hanya bercanda. Ayo kita mengobrol dilantai dua saja.”

Dyo mengangkat Ziyo dari kereta bayinya lalu merangkul Alex menuju lantai dua. Disana mereka dapat mengobrol lebih santai karena lantai dua memang dikondisikan sebagai tempat berkumpul para member jika mereka mampir kemari.

-ooo-

Dua orang namja keluar dari mobil sedan hitam metalik. Keduanya menggunakan setelan jas formal berwarna serupadan penampilan khas pria karir terlihat begitu kentara dari wajah mereka. Setelah memastikan mobil itu sudah terparkir kedua namja itu bergegas masuk ke sebuah bangunan vintage yang begitu mereka kenal.

KRING

“Oh kalian sudah datang?” Namja pemilik lesung pipi bernama Zhang Yizing atau akrab disapa Yixing itu menghampirikedua namja tampan itu.

“Uhm apa Alex sudah sampai?” Sehun terlebih dahulu bertanya tentang keberadaan ‘adiknya’ itu. Lay mengangguk lalu mengarahkan telunjuknya keatas.

“Mereka ada diatas.” Sehun tersenyum lalu melempar jasnya kearah Lay.

“Ya! Bocah kurang ajar!” Sehun hanya terkekeh dan tak lama suaranya menghilang seiring dengan sosoknya yang sudah sampai dilantai dua.

“Kenapa cepat sekali? Bukannya kalian sibuk hyung?” Lay meraih jas Suho yang sudah sedari tadi ia lepas untuk digantung dilemari penyimpanan.

“Pekerjaan kami sudah selesai lagipula aku tidak tahan mendengar rengekan Sehun untuk segera bertemu Ziyo.” Mereka berdua terkekeh dengan sikap kekanakan Sehun. Namja putih itu memang tidak tahan jika sehari saja tidak bertemu Ziyo. Mungkin karena saat Alex hamil dulu, ia turut hadir mengurus serta menjaga bayi itu.

“Bocah itu ada-ada saja. Bagaimana segelas minuman dingin untuk menyegarkan pikiran?”

“Boleh juga, kebetulan aku haus sekali.” Suho merangkul Lay menuju dapur yang didalamnya terdapat puluhan minuman hasil ciptaan Xiumin.

-ooo-

Sehun memperhatikan Alex yang terlihat begitu tekun menyuapi Ziyo yang duduk manis di baby walker sedangkan Dyo sibuk memberi candaan untuk bayi tampan itu membuat seulas senyum manis terukir disudut bibir Sehun. Namja itu begitu bahagia dengan segala perubahan yang ada dalam hidupnya. Tidak ada lagi pertengkaran, senjata, dan darah yang menghantuinya hingga ia tak dapat tidur dengan semestinya.Hanya ada senyum, tawa serta kebahagiaan yang tiada hentinya terlebih sejak bayi itu lahir ke bumi memberi sejuta kebahagiaan bagi orang-orang yang terlibat didalamnya. Begitu juga dengan nama mereka, mereka sepakat untuk memanggil dengan nama asli mereka seperti contohnya Lay yang memilih dipanggil Yixing ketimbang Lay.

“Hun!” Ziyo mendorong kakinya mendekati Sehun yang masih mematung didekat tangga.

Alex dan Dyo sontak menoleh dan mengikuti arah Ziyo berjalan.

“Igoe.” Ziyo memberikan boneka carsnya pada Sehun. Namja itu tersenyum lembut lalu mencubit pipi gempalnya gemas.

“Gomawo bonekanya, ayo kita kesana.” Sehun mendekat kearah Alex dan Dyo yang duduk diatas karpet wol berwarna abu-abu yang lembut sedangkan Ziyo mengekor dibelakangnya.

“Bagaimana kabarmu Nyonya Xi?” Sehun mengacak rambut Alex lalu duduk disampingnya.

“Baik oppa.” Sehun tersenyum hangat.

“Bagus kalau begitu. Ngomong-ngomong kau bertambah cantik, apa yang Luhan hyung lakukan padamu?” Awalnya Alex tak begitu mengerti dengan ucapan Sehun. Apa hubungannya ia yang bertambah cantik dengan apa yang dilakukan Luhan padanya. Namun beberapa saat kemudian pipi Alex merona, dia mulai mengerti arah pembicaraan Sehun.

“Apakah kalian rutin melakukannya?” Kali ini Dyo mencoba menambahkan membuat pipi Alex semakin merah. Kedua namja itu berusaha menahan tawanya, menggoda Alex adalah hobi mereka. Padahal Luhan sudah berkali-kali memperingatkan mereka untuk tidak menggoda istrinya.

“Aku rasa Ziyo akan memiliki adik sebentar lagi.”

“Ya! Berhenti menggangguku!” Suara menggelegar Alex mampu memecahkan tawa dua namja itu termasuk Ziyo.

“Huaaaaa mmaaaa….” Bayi tampan itu terkejut mendengar suara teriakan ibunya yang baru pertama kali ia dengar. Alex selama ini selalu berkata lembut padanya.

“Aigo maafkan eomma sayang.”Ibu muda itu mengangkat putranya kegendongannya, membawanya berjalan kesana kemari agar tangis bayi itu berhenti. Sejujurnya Alex tidak suka dengan tangis Ziyo, hatinya sakit selain itu juga Alex takut pernafasan Ziyo kembali terganggu karena tangisan maha dasyatnya itu.

“Ssst uljima uri adul…. Ssstt….” Kini suara Alex teredam karena ia sedang memasuki sebuah kamar. Kalau sudah begini Ziyo tidak akan berhenti menangis kecuali Alex memberinya ASI pada putranya itu.

“Kau sih hyung!” Sehun menyikut perut Dyo disampingnya.

“Apa? Kau yang salah tahu!” Dyo balas menggetok kepala Sehun.

Alex mengelus rambut tipis Ziyo selagi bayi tampan itu menyusu padanya. Ibu muda itu sedang berada di dalam kamar yang memang sengaja dibuat untuk Alex jika sewaktu-waktu datang kesini dan ingin menghabiskan waktu pribadinya bersama Ziyo disana.

“Ziyo haus uhm?” Bayi itu hanya diam memperhatikan ibunya yang berbicara padanya. Mata hitam pekatnya seolah menyedot Alex ke dalam sana persis seperti mata….

DEG

Bayang-bayang akan wajah namja itu kembali menghantui pemikiran Alex. Tangannya tetap bergerak mengelus rambut halus Ziyo sedangkan pandangan matanya menerawang lurus pada bingkai foto berukuran besar di depannya. Foto mereka saat di pulau Jeju. Semua member exo tak terkecuali Kai yang saat itu begitu tampan dengan kaus hitam dan celana jeans hitamnya. Hampir separuh dari mereka menggunakan kaca mata hitam sehingga mata mereka tidak terlihat.

Setetes air mata mengalir dari mata indahnya. Ini sudah kesekian kalinya Alex menangis dengan alasan yang sama. Sembilan bulan lamanya Kai meninggalkannya dengan setoreh luka menganga di hatinya. Sampai sekarang pun Alex tidak pernah mengerti dengan alasan Kai meninggalkannya dengan jantung yang ia titipkan untuknya.

Bahagia bersama Luhan dan bayinya?

Tak tahukah bahwa kebahagiaan Alex selama ini adalah hidup bersama dengan seseorang bernama Kim Jongin. Ia tidak apa-apa jika harus hidup dengan aura hitam mencekam yang senantiasa menghantuinya asalkan ada Kai di sampingnya. Tapi bukan berarti Alex tidak bahagia dengan kehidupannya saat ini. Ia sangat bahagia hidup bersama Luhan dan anak mereka yang semakin tampan dari hari ke hari tapi, masa lalu tetaplah masa lalu. Bagaimana pun Kai adalah satu-satunya namja yang membuatnya paham apa arti cinta dan kasih sayang. Sekeras apapun usaha Alex menghapus segala kenangannya bersama namja itu pasti kenangan itu masih membekas di hati Alex bagai virus mematikan yang begitu sulit dibersihkan walaupun menggunakan anti virus handal sekalipun.

Alex meletakan Ziyo yang kini tertidur di ranjang dan tak lupa memasangkan dot di mulut mungilnya. Gadis itu meraih ponselnya di nakas lalu jemari lentiknya menggeser ponselnya ke menu galeri yang kebanyakan adalah foto Kai.

Alex menggigit bibirnya dan memilih mencampakan ponselnya begitu saja. Wajah Alex sudah basah oleh air matanya dan mulutnya sudah sesenggukan akibat menahan isak tangisnya karena tidak ingin membangunkan putra kecilnya.

CKLEK

Alex tidak tahu siapa yang baru saja masuk ke kamar ini tapi, ia kenal betul sentuhan penuh kasih sayang dari tangan besar itu.

“Lex….”

“Hmmhiks….”

Namja itu langsung menarik Alex ke dalam pelukannya. Menenggelamkan wajah gadis itu di dada bidangnya.

“Menangislah….” Sehun mengusap rambut panjang Alex dan sesekali membisikan kata-kata manis agar gadisitu tenang.

Sehun adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa gadis itu masih belum dapat menghapus sosok Kai dari pikiran juga hatinya sekalipun Luhan adalah suaminya sekarang. Sehun juga yang selalu ada jika Alex merasa hidupnya tak seindah dulu saat ada Kai bersamanya dan Sehun akan selalu mengatakan ‘Kai akan benci jika kau terus hidup seperti ini’ saat Alex terus mengungkit pendonoran tempo hari.

“O—ppa b—agaimana bisa a—aku….” Alex benci melihat senyum Kai di figura yang tergantung di dinding itu. Ia benci karena Alex tidak dapat melihat senyum teduh dari Kai lagi.

“K—enapa dia m—eninggalkanku….” Sehun melirik foto yang masih terpampang di layar ponsel Alex, foto Alex dan Kai. Foto yang di ambil sehari sebelum Kai pergi menjauh saat Sohee datang kembali ke hidup Kai. Namja itu mencium pipi Alex dengan tulus terlihat kedua insan itu tengah di mabuk asmara hanya saja mereka belum menyadari hal itu.

“Dia mencintaimu Lex….” Alex menggeleng lalu mencicit.

“Jika dia mencintaiku seharusnya ia ada di sampingku….” Sehun semakin mempererat lingkar tangannya begitu gadis itu semakin terguncang. Namja itu tidak mampu menjawab karena perkataan Alex memang benar. Seharusnya Kai ada di samping Alex jika ia mencintai gadis itu bukan menghilang ke dunia lain dan meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi Alex. Tapi ada istilah cinta tidak harus memiliki bukan?

“Dia hanya ingin kau bahagia Lex….”

Alex melepas pelukan Sehun.

“Bohong! Kebahagiaanku hanya Kai lalu kenapa dia tidak membiarkanku mati saja! Kenapa dia justru mendonorkan jantungnya, kenapa?”

“Kai pasti gila jika itu terjadi Lex….”

“Lalu apa bedanya denganku? Aku sama gilanya mengetahui Kai mati hanya demi kebahagiaan yang sampai sekarang tidak ku mengerti….”

“Kai melakukannya bukan tanpa alasan Lex, jika Kai tidak mencintaimu mungkin ia membiarkan mu sekarat dan mati bersama bayimu. Tapi Kai bukan pria pengecut Lex? Dia memang brengsek dan bejat tapi jika menyangkut dirimu Kai bukan namja seperti itu?”

Sehun menangkup wajah Alex lalu menatapnya begitu dalam.

“Dengar, hargai pemberiaannya, hargai nyawa yang sudah ia korbankan untukmu, hargai jantungnya yang berdegup di dadamu dan cobalah untuk menerima kenyataan yang ada Lex….”

“T-tapi—“

“Kau seorang ibu sekarang seharusnya kau dapat berpikir lebih luas jika kau memilih hidup seperti ini. Pertumbuhan Ziyo akan terhambat jika hidup mu terus begini, kau mau?”

Alex menggeleng pasif.

“Hiduplah dengan baik seperti Alex yang pernah ku kenal dulu. Alex yang pertama kali ku lihat dengan senyum serta tawanya yang mampu meluluhkan hati namja bejat seperti kita.”

Alex kembali mengangguk dengan air mata yang setia mengalir di kedua pipinya.

Sehun mengangkat wajah Alex yang menunduk. “Janji Lex?”

“Aku tidak janji oppa tapi…. Akan ku coba.” Sehun tersenyum lalu menyapukan kedua ibu jarinya di pipi Alex, menghapus jejak air mata disana.

“Bagus! Kalau begitu tersenyumlah, Nyonya Xi jelek jika menangis.” Sehun mencubit kecil hidung Alex lalu terkekeh geli karena hidung Alex merah karena ulahnya.

“OPPA!

“Ssstt nanti keponakanku bangun.”

-ooo-

Pria itu masih fokus dengan pekerjaannya. Jam makan siangnya masih satu jam lagi dan lagi, ia belum menyelesaikan pekerjaannya hari ini, Sehun pasti menceramahinya hingga kupingnya bernanah jika namja itu tahu Luhan belum menyelesaikan pekerjaannya. Tapi mungkin hal itu tidak akan terjadi mengingat Luhan sudah tidak mendengar suara namja itu sejak dua jam yang lalu. Biasanya Sehun akan bolak-balik masuk ruangannya demi meminta goresan tinta tangan Luhan sebut saja tanda tangan untuk proyek emas mereka di Hokaido.

Seorang pengusaha terkenal asal Jepang sepakat bekerja sama dengan Jeguk Corp karena ketenarannya yang akhir-akhir ini begitu sering terdengar oleh telinga pengusaha dan CEO perusahaan pesaing. Pekerjaan inilah yang membuat Luhan sukar bermain dan berkumpul dengan keluarganya di rumah. Lelaki berusia 24 tahun itu lebih sering bertemankan dengan sekumpulan berkas dan dokumen-dokumen yang membuat matanya berair dari hari ke hari. Hal inilah yang membuat Luhan terlihat semakin kurus karena pola makannnya tidak teratur. Jika sempat Luhan akan makan, jika tidak iya tidak. Mulut Alex pasti berkicau jika melihat Luhan sakit seperti tempo hari. Suhu badan Luhan meningkat dan kepalanya pusing karena ulahnya sendiri. Karena itu Alex sering datang ke kantornya untuk mengantar makan siang dan cemilan kesukaan Luhan yang ia buat sendiri.

Luhan meletakan berkas terakhir di meja kerjanya lalu melepas kaca matanya. Pria itu menyender di belakang kursinya dengan kepala yang menengadah ke atas. Tangannya bergerak untuk memijat batang hidungnya yang sedikit sakit karena sejak ia menginjakan kaki di kantor, Sehun sudah memboyongnya untuk segera menyelesaikan tugasnya sebelum makan siang nanti.

Dasar sekretaris

 

Bicara soal Sehun membuat Luhan teringat janjinya dengan Alex, membuatnya kalang kabut untuk segera menyerahkan berkas-berkas ini pada Kris untuk segera di tanda tangani. Maka itu Luhan meraih jas hitamnya dan kemudian ia pakai lalu buru-buru ke ruang kerja Kris yang berjarak beberapa meter dari ruangannya tak lupa dengan setumpuk berkas yang harus Kris tanda tangani.

“KRIS!”

“Ada apa? Kau membuatku kaget!” Kris melepas kaca matanya lalu beralih mendekati Luhan yang terlihat kewalahan dalam mengatur nafasnya.

“Ini berkasnya!” Kris mengangkat alisnya. Hanya untuk menyerahkan berkas saja Luhan harus berlari-lari seperti itu, memangnya ada apa? Dan lagi jumlah berkas itu sangat banyak bahkan mencapai setengah tubuh Luhan. Kris hanya dapat menggeleng samar melihat sikap adik iparnya itu. Bagaimana Alex bisa hidup dengan tenang jika mempunyai suami seperti Luhan.

“Letakan disana!” Luhan berjalan acuh ke meja Kris dan meletakan semua berkasnya disana. Setelah itu dia merenggangkan tangannya dan beralih duduk di sofa.

“Ini.” Luhan mengambil teh yang Kris sediakan dan menggumamkan kata terima kasih yang dibalas anggukan oleh sang empunya. Biasanya Sehun yang menyiapkan teh tapi entah kemana perginya bocah itu.

“Kau sudah menyelesaikan berkasmu?” Luhan mengangguk sambil menyeruput tehnya.

“Kau sudah diberitahu Alex tentang pesta itu?”

“Justru itu aku buru-buru datang kemari untuk mengajakmu pergi bersama kakak ipar?”

“Berhenti memanggilku dengan sebutan seperti itu!”

“Kenapa? Bukankah kau kakak iparku uhm?” Mata Luhan mengerling genit pada Kris membuat namja itu bergidik melihatnya.

“Aku tidak menyangka adik iparku itu kau Xi Luhan!”

“Tapi itu kenyataannya Kris? Oh iya Sehun kemana, mejanya kosong apakah dia kabur dari tugasnya?” Luhan meraih majalah di bawah meja lalu membukanya asal.

Luhan tidak asal bicara. Terkadang Sehun suka mentelantarkan tugasnya dan memilih pergi ke apartemen Alex untuk bermain-main dengan Ziyo dan akibatnya pekerjaan yang seharusnya selesai dalam waktu tujuh hari harus tertunda hingga dua minggu kemudian.

“Dia lebih dulu menyelesaikan tugasnya dan pergi ke café bersama Junmyeon, kau tidak lihat berkasnya sudah ada di mejaku?” Kris menunjuk segudang berkas yang tersimpan rapi di meja Kris bertepatan di sebelah berkas Luhan yang tak kalah banyak.

“Aku kira bocah itu kabur? Kalau begitu ayo kita berangkat aku ingin bermain dengan putraku.” Luhan meletakan kembali majalah bercover mobil sport lalu bangkit selagi tangannya merapikan jasnya.

“Oh iya, Kyungsoo berpesan untuk membelikannya bunga lily kau saja yang beli!”

“Kenapa aku? Bukannya kau yang disuruh Kris?”

“Aku paling malas berurusan dengan bunga atau sejenisnya lebih baik kau saja, aku duluan.” Kris menepuk pundak Luhan lalu pergi begitu saja.

“Lalu bagaimana dengan uangnya?”

Kris berbalik.

“Tentu saja pakai uangmu Tuan Xi, mengeluarkan uang sedikit apa salahnya?”

“Uangku untuk membeli susu anak ku Kris.”

“Memangnya Ziyo minum susu apa Tuan Xi, emas? Gajimu lebih dari cukup untuk keperluan kalian Xi Luhan? Sudah turuti saja, aku pergi!”

Luhan hanya menggerutu setelah kepergiaan Kris. Tidak masalah jika ia yang membeli bunganya hanya saja pria itu sudah tidak dapat menahan rasa rindunya terhadap keluarga kecilnya. Ia ingin lekas bertemu Alex dan Ziyo karena seharian ini isi kepalanya penuh dengan dua manusia yang memiliki kedudukan istimewa di hati namja bermarga Xi itu.

-ooo-

“Ini Lex, pie buah kesukaanmu.” Dyo meletakan sepotong pie buah di atas piring kecil khusus kue.

“Gomawo Kyungsoo-ya.” Dyo mengangguk lalu mengambil posisi duduk di depan Alex.

Saat ini Alex sedang duduk di lantai satu yang di sebelahnya terdapat kaca yang menampilkan hiruk pikuk kawasan Myeondong yang padat. Jelas saja jam baru saja memasuki jam makan siang. Mungkin beberapa orang sibuk mencari tempat untuk sekedar mengisi perut kosong mereka setelah cukup lama bekerja. Ini merupakan tempat favorit Alex jika mampir ke Paradise café dan Ziyo selalu duduk dipangkuannya.

“Sayang tidak boleh seperti itu. Ziyo makan ini saja ya?” Alex memberikan biskuit susu yang merupakan camilan Ziyo jika menjelang makan siang lalu meraih tisu basah khusus bayi dan disapukan di tangan kiri Ziyo yang terkena saus blueberry dari pie buah.

“Bagaimana enak tidak?” Dyo memangku tangannya menunggu jawaban dari Alex.

“Selalu enak seperti biasanya!” Dyo menyeringai. Seperti biasa Alex akan selalu memuji hasil masakannya dan Alex adalah tipe gadis yang jujur jadi dia akan mengkritik sesuai rasa masakan itu, namun sejauh ini Dyo tidak pernah mendapat komentar buruk dari gadis itu.

“Tidak salah kalau kalian membuka café dan restoran di dekat sini, sepertinya  pelanggan kalian sangat kecewa jika café kalian tutup hari ini?” Alex memperhatikan beberapa orang pelanggan yang sebagian besar adalah yeoja berlalu lalang di depan café dan terlihat kecewa melihat tulisan ‘close’ di pintu café.

“Awalnya aku juga tidak menyangka kalau usaha kami berjalan sukses seperti ini?” Dyo menerawang kejadian beberapa bulan yang lalu dimana ia menjadi seorang anggota bandar narkoba dan mafia terbesar di Asia dan Eropa. Apa yang dilakukannya hari itu sangat kotor dan penuh dosa. Jika saja polisi lebih pintar mencari mereka –EXO- mungkin Dyo dan yang lain sudah mendekam di balik jeruji besi dan membusuk disana. Polisi dan agen-agen rahasia Korea mengira jika kelompok Kris sudah habis di boyong polisi Amerika. Kris berhasil menyuap salah satu anggota polisi Amerika sehingga lolos dari hukum dengan alasan ia akan hidup lebih baik tanpa benda-benda haram itu.

“Aku senang usaha kalian sukses, selamat iya!” Alex memberikan senyuman penuh kebahagiaannya sambil meletakan Ziyo di atas meja yang masih sibuk dengan biskuit susunya.

“Terima kasih saran dan dukunganmu Lex?”

“Tidak masalah, aku senang membantu.”

KRING

“Apa aku tertinggal sesuatu?” Kris mengacak rambut hitam Alex lalu duduk di samping gadis itu.

“Oppa datang? Lalu, Luhan oppa dimana?”

“Dia sedang membeli bunga. Aigo keponakanku kemari?” Sebelum bayi itu bergerak Kris sudah terlebih dahulu menggendong bayi itu ke pangkuannya.

“Bunga? Untukku?” Alex menunjuk dirinya sendiri, wajahnya terlihat begitu cerah mendengar Luhan membeli bunga sebelum datang kemari. Alex begitu suka dengan bunga terlebih jika Luhan yang membelinya untuknya.

“Untuk Kyungsoo.” Mata Alex memicing pada Dyo yang justru tersenyum dengan polosnya.

“Untuk dekorasi café, tidak boleh ya?”

“Seharusnya itu untukku.” Bibir Alex mengerucut membuat Kris gemas melihatnya.

“Sakit oppa!” Kris terkekeh. Walaupun Alex sudah menikah sekalipun, tidak ada alasan bagi Kris untuk tidak memperlakukan Alex seperti adik kecilnya. Alex tetap adiknya, seseorang yang memiliki darah dan DNA yang sama dengannya.

“Luhan pasti membeli juga untukmu Lex? Nah, ini minumannya!” Xiumin meletakan wadah berukuran sedang yang di dalamnya terdapat cairan berwarna violet terang dengan buah berry tercampur di dalamnya. Tak lupa tiga gelas untuk menampung minuman itu.

“Wah apa namanya?”

Berry blow lonic hasil ciptaanku, aku harap kalian suka.”

Xiumin memberi gelas yang sudah terisi oleh minuman berwarna violet itu pada Alex. “Ladies first.”

“Ini enak oppa!”

“Ah benarkah? Gomawo.” Xiumin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Wah hyung minumanmu terlihat menggugah selera. Oh iya Lex ini buburnya.” Lay memberi bubur yang tadi ia buat untuk makan siang Ziyo.

“Gomawo oppa. Nah Ziyo kita makan ya, buka mulutnya!” Alex menyendokan bubur itu tidak lupa meniupnya terlebih dahulu agar mulut putranya tidak terbakar.

“Ziyo makannya lahap sekali.” Xiumin bersuara.

“Tentu saja! Lihat saja badannya gembul seperti dirimu Minseok!”

“Apa maksudmu?” Tangan Xiumin yang mendarat di kepala Kris justru memicu tawa orang-orang di sekitarnya begitu juga Alex. Gadis itu ikut larut dengan suasana hangat di sekitarnya. Namun itu tidak berlangsung lama.

Suaranya tercekat, nafasnya memburu seakan pasokan oksigen menipis di paru-parunya. Matanya membulat hampir keluar dari tempatnya. Begitu iris matanya menangkap sosok yang tak asing baginya. Sosok itu?

DEG

Mata Alex terus mengikuti sosok itu berjalan di depan café dan hendak pergi begitu melihat tanda ‘close’ di depan pintu. Walaupun wajah sosok itu tertutup oleh topinya namun Alex mengenal struktur wajah sosok itu.

KRIET

“Alex kau mau kemana? Alex!”

Alex tidak memperdulikan panggilan demi panggilan dari kakaknya. Bahkan ia meninggalkan putranya dan memilih mengikuti sosok itu. Kaki Alex terus berjalan mengikuti langkah panjang sosok itu. Ia tidak peduli dengan keluhan orang di sekitarnya akibat benturan dari tubuhnya yang tak terkontrol akibat berlari bagaikan di kejar sekumpulan malaikat pencabut nyawa. Alex terus berlari dengan pandangan kosong mengikuti sosok itu, sosok yang membuatnya lupa bahwa di sekitarnya ada Luhan dan Ziyo.

“TUNGGU!” Panggilnya dengan suara bergetar. Wajahnya sudah lembab akibat air mata yang entah sejak kapan lolos dari matanya. Alex ingin memanggil sosok itu tapi entah kenapa lidahnya kelu untuk sekedar bersuara.

“TUNGGU!” Alex terduduk di trotoar melihat sosok itu menghilang di antara kerumunan orang. Gadis itu sudah tidak sanggup berlari ataupun sekedar bergerak. Sosok itu mampu melumpuhkan persendian dan aliran darah di tubuhnya.

“Lex….” Alex sudah tidak sanggup menahan gejolak di dadanya. Pandangannya memburam dan setelah itu hanya kegelapan yang dapat ia lihat.

TBC~

 

Ini nih sequel yang waktu itu aku janjiin. Maaf ya kalo hasilnya gak memuaskan, soalnya buatnya di tengah-tengah tumpukan tugas yang memusingkan kepala 😀

 

Oke, comment juseyo 🙂

135 responses to “[Freelance] Ending Of The Story [Love Drunk Sequel : One]

  1. keren thor..ak nngis bca.y.
    kpan klnjutannya?,klo dilihat share nya sdh lma ya.soalnya bru bca..

  2. Jangan bilang itu kai..??
    Trus yg mangil alex.siapa??
    Duh eonn bikin penasaran..
    lanjut ditunggu eonn

  3. baru nemu sequelnya dan bikin penasaran…itu yg di liat sama alex siapa thor? beneran kai? ayooo thor next chapternya cepetan di publish

  4. part two donk …. jangan lama-lama^^
    penasaran + galau nih
    masih gk percaya kalo Pendonor si KAI …
    pirasaat ku mengatakan kalo dia adalah HONGBIN ….
    kai kasih jantung ke alex
    dan hongbin kasih jantung ke kai
    jd yang meninggal itu hingbin please :l
    gak tau ah penasaraaan siapa yang diliattt alex :0
    hayoolah di next dan diperpanjang lagi yaaa :3

  5. Author, mari… mari… LANJUTKAN ni FF
    palli pallihaejuseyo…

    squelnya agak lucu – lucu gimana gitu (?)
    karena udah ada little deer.. haha

  6. aku ga percaya klo yg donorin jantung itu kai, itu jantung hongbin kan?
    luhan kasian msh blm dpet sepenuh.nya hati alex.
    itu kai bkn yg dikejar alex?

  7. Baru nemu ff ini,,penasaran sm ceritanya…Baca sekilas yg love drunk..Itu Kai nya kok ada lagi..Luhan – Alex sweet bgt siih,,,Kasian yee Luhan nanggung bgt,,hahahaha..Mau baca next nya dulu 😀

  8. Wonderful blog! I found it while browsing on Yahoo News. Do you have any
    suggestions on how to get listed in Yahoo News?
    I’ve been trying for a while but I never seem to get there!

    Thanks

  9. Huaaa thoorrr…
    Daebaaak….
    Itu yg d lihat lexa siapa ya??
    Jgan” …….!!
    Omoo…
    Apa itu kaai???
    Omooo….
    Lanjuut trs thoor..
    Daebaak…
    Oo iya thor …
    Aku bleh mnta pass. Love drunk chapt 14 gk??
    Udh hmpir smnggu nnggu tp gk ada kriman sms tntng password…
    Thanks beforee…
    Gomawooo

  10. Kapan ya Alex bsa move on
    dri Kai, kasian Luhan 😦 thor
    plis jgn pisahin Alex sma
    Luhan…. OMG please ..jgn bilang itu Kai? Tpi bagaimana bisa?? masa Kai hidup
    lagi ???

  11. Aku lupa udah baca ini apa belom..
    Aku jg lupa udah coment ap belom..
    Tp gpp yaa kalo semua jd dua kali hiihii

    It yg dikejar siapa? Kai ya? Bknny kai ny udh meninggal??
    Lanjut baca yaa^^

  12. Siapa pria yg dikejar alex jangan2 kai lagii?? Tapi kalo beneran kai gimana luhann plis jangan sakiti hati luhan lagi 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s