[Freelance] Cho Kyuhyun and The assistant (Part 4)

ze03

Cho Kyuhyun and The assistant Part 4

Tittle                : Cho Kyuhyun and The assistant Part 4

Author             : Dwi Nofianti (@NofiantiDwi)

Genre              : Romance

Length             : Chapter

Rating             : PG-15

Main Cast        : Cho Kyuhyun, Shin Eun Hye (OC)

Disclaimer       : 🙂

***

            Hari ini tepat memasuki enam bulan sudah hubungan tidak wajar Cho Kyuhyun dan assistant rumah tangga-nya, Shin Eun Hye. Entahlah, Eun Hye sendiri bingung apa sebutan yang pas untuk menggambarkan hubungannya bersama Kyuhyun. Pria bermarga Cho itu tidak pernah mengatakan cinta ataupun meminta Eun Hye menjadi kekasihnya secara tersurat, kecuali lamaran Kyuhyun bisa dikatakan pendeklarasian Lelaki itu atas diri Eun Hye. Bohong kalau Eun Hye tidak memiliki perasaan apapun pada pria itu. Karena pada kenyataannya Eun Hye benar-benar mencintai Cho Kyuhyun. Cho Kyuhyun adalah cinta pertamanya dan selamanya ia akan mencintai lelaki itu. Tapi Eun Hye benar-benar ragu akan perasaan Kyuhyun, Eun Hye takut Kyuhyun ingin menikahinya hanya karena rasa tanggung jawab Kyuhyun kepadanya. Sekedar formalitas karena telah mengambil hal paling berharga darinya. Kyuhyun tidak pernah mengatakan secara terang-terangan bahwa ia mencintai Eun Hye. Itulah mengapa Eun Hye ragu untuk menerima pinangan Kyuhyun, selain kenyataan bahwa Eun Hye trauma terhadap pernikahan kakaknya dulu. Kalau saja Eun Hye tidak pernah melihat secara langsung apa yang mantan suami kakaknya itu lakukan, pasti ia tidak akan setrauma ini. dan Eun Hye takut Kyuhyun akan melakukan hal yang sama apabila mereka telah benar-benar terikat. Lagi pula kini Kyuhyun sudah tidak pernah lagi menyinggung-nyinggung masalah pernikahan. Kecewa? mungkin . Dilain pihak, Eun Hye sudah dipastikan tidak bisa hidup dengan baik tanpa pria itu disisinya. Ia begitu takut untuk kehilangan Kyuhyun. Bagi Eun Hye, Kyuhyun bukan hanya sekedar oksigennya, tapi paru-parunya. Bagaimana bisa ia menghirup oksigen kalau paru-parunya hilang? Molla.

***

            Pagi ini, Eun Hye mendudukkan tubuhnya diatas ranjang besar yang berada di dalam kamar Cho Kyuhyun, bagian atas tubuhnya ia senderkan ke dashbor ranjang, kakinya ia selonjorkan, serta tangannya bersidekap didepan dada. Sepasang mata cokelat gelapnya terus memandangi Cho Kyuhyun yang sedang bersiap-siap menunaikan tugasnya sebagai pimpinan perusahaan terbesar Korea Selatan yang eksistensinya diakui dunia. Eun Hye tersenyum geli saat melihat Kyuhyun kesulitan memasang dasinya. Lalu bangkit menghampiri pria itu dan tanpa berujar sepatah katapun mengambil alih kegiatan memasang dasi. Kyuhyun tersenyum hangat. Kenyataan bahwa gadisnya masih disisinya selalu mampu membuat sudut-sudut bibirnya melengkung ke atas. Sesederhana itu.

“Kau tidak ke rumah sakit Hye?”, tanya Kyuhyun kepada Eun Hye yang masih sibuk dengan dasi biru tua. Eun Hye mendongakan kepalanya melihat Kyuhyun, tersenyum dan menggeleng singkat.

“aku libur hari ini. kau ingin aku datang berkunjung siang nanti?”, ujar Eun Hye kemudian. Setelah selesai memasangkan dasi Kyuhyun, tangan Eun Hye bergerak merapikan rambut cokelat lebat Kyuhyun.

Kyuhyun terkekeh pelan, “tidak. Tidak perlu. Keadaanku sedang tidak memungkinkan untuk terganggu saat dikantor”. Eun Hye menghentikan gerakan tangannya dirambut Kyuhyun, memindahkannya di dada bidang pria itu, mengusap lembut. Eun Hye cukup tahu apa maksud perkataan Kyuhyun. Kyuhyun-nya yang jenius itu selalu primitive.

“lagipula aku juga tidak ingin ke kantor-mu. Kau tahu, terlalu beresiko didengar oleh Donghae Oppa atau ahra Eonni”, lalu Eun Hye menutupnya dengan tawa ringan. Kyuhyun dan Eun Hye tahu bahwa kegiatan mereka pernah didengar oleh Donghae dan ahra. Donghae dan ahra yang memberitahukan kepadanya ketika keduanya makan malam bersama dengan Lee Donghae, Cho ahra, dan Park Boem.

Tangan Kyuhyun bergerak mengelus lembut puncak kepala Eun Hye, menyalurkan kehangatan yang menjalar hingga ujung kaki gadis itu kemudian mengecup kening Eun Hye. Eun Hye memejamkan matanya sejenak, berusaha merekam setiap detik kebersamaannya bersama Kyuhyun. Setelah memberikan ciuman hangat di kening Eun Hye, Kyuhyun berpamitan untuk berangkat bekerja dan Eun Hye, yang memakai gaun rumah sederhana, mengantar Kyuhyun hingga depan pintu apartemen sambil tersenyum hangat. Benar-benar seperti sepasang suami istri.

Dengan perasaan senang, Eun Hye menutup kembali pintu apartement kemudian mendudukan tubuhnya diatas sofa di ruang santai. Eun Hye selalu senang melakukan apapun jika itu menyangkut seorang Cho Kyuhyun, sekalipun itu hal kecil seperti kegiatannya pagi ini misalnya. Memasangkan dasi, bercakap ringan, dan mengantar Kyuhyun yang akan bekerja hingga depan pintu apartemen mereka. Tunggu, pintu apartemen mereka?

Saat tengah asyik menyibukan pikirannya ponsel-nya berbunyi, Eun Hye merogoh kantung gaun rumahnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya dari dalam sana. Melihat pesan masuk dari Cho ahra. ‘aku dan eomma akan berkunjung ke apartemen kalian’. Apartemen kalian? Ya Tuhan, ibu Kyuhyun akan datang.

***

            Eun Hye menautkan jemarinya diatas pangkuannya, matanya bergerak gugup dengan wajah bersemu merah. Dihadapannya kini duduk Cho ahra, kakak Kyuhyun, dan Kim Hana, ibu Kyuhyun. Eun Hye tidak mempermasalahkan kehadiran ahra, karena ia dan ahra sudah sangat dekat. Sedangkan Kim Hana, ibu Kyuhyun? Eun Hye sama sekali belum pernah bertemu dengan wanita paruh baya dengan wajah hangat itu. Ia hanya mengetahui ibu Kyuhyun sebatas foto dan Kyuhyun yang sering menceritakan ibu-nya. Tentu saja ia gugup. Perempuan mana yang tidak gugup untuk pertama kalinya bertemu wanita yang melahirkan pria yang dicintainya.

“Hye, ibuku ingin bertemu denganmu. Dan mengingat ia ingin berbicara dari hati ke hati bersamamu. Kurasa aku ingin meminjam ruang kerja Kyuhyun untuk sementara selama kau dan ibuku mengobrol”, ujar ahra memecah keheningan, ia tersenyum hangat kepada Eun Hye yang menatapnya gugup. Kemudian ahra mengalihkan pandangannya kepada ibunya yang duduk tepat disamping kanannya.

“Eomma, aku tinggal ya”, ahra bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang kerja Kyuhyun.

Kim Hana menatap lembut Eun Hye yang terlihat gugup. Mata Eun Hye menatap lantai marmer yang menjadi pijakannya.

“Kyuhyun benar, kau memang sangat cantik nona”, ucap ibu Kyuhyun kemudian. Eun Hye yang sedari tadi menatap lantai perlahan mengangkat wajahnya untuk melihat dengan jelas wajah hangat wanita paruh baya itu. Ibu Kyuhyun menyunggingkan senyum terbaiknya. Melihat Eun Hye yang gugup dan salah tingkah membuat Kim Hana bangkit lalu berjalan menuju sofa yang diduduki Eun Hye, mendudukkan dirinya disamping gadis itu. Kim Hana meraih jemari lengan kanan Eun Hye lembut, diusapnya jemari-jemari itu.

“terimakasih karena telah membuat Kyuhyun kami menjadi lebih manusiawi”, Kim Hana menarik napasnya dalam kemudian menghembuskan napasnya perlahan. Eun Hye tersenyum canggung, merasa tak pantas mendapatkan ucapan terimakasih dari ibu Kyuhyun. Eun Hye memberanikan diri untuk membalas perlakuan ibu Kyuhyun kepadanya, tangannya yang lain menangkup jemari halus Kim Hana yang sedang mengusap lembut telapak kanannya.

“aku tidak melakukan apapun Nyonya. Sungguh”, ujar Eun Hye pelan.

Kim Hana tersenyum singkat, mata teduhnya menatap dalam ke manik hazel milik Eun Hye kemudian berujar, “Tidak. Kau justru melakukan banyak hal kepada Putera-ku. Aku mengenal dengan sangat bagaimana putera-ku. Kau tahu, semenjak ia dekat denganmu, Kyuhyun-ku yang periang kembali. Kyuhyun kecil-ku kembali lagi. Dan, jangan panggil aku Nyonya, panggil aku eommonim. Itu lebih terdengar indah ditelingaku”. Kim Hana mengucapkannya dengan terharu, sementara Eun Hye hanya mampu menatap lembut wanita paruh baya itu. Bagaimanapun, Eun Hye bukan orang yang mudah mendekatkan diri dengan orang, kecuali dalam hal tuntutan pekerjaannya sebagai seorang dokter. Apalagi wanita paruh baya disampingnya ini adalah wanita yang mendapat predikat sebagai  Ibu dari Pria yang telah dianggapnya sebagai organ paru-parunya, sehingga sudah dipastikan Eun Hye bingung harus bersikap seperti apa. Ia belum pernah memikirkan apa yang harus dilakukannya jika bertemu dengan ibu Kyuhyun. Dan Kyuhyun sendiri tidak pernah memberikannya penataran singkat tentang apa yang harus dilakukannya jika bertemu dengan ibunya.

“Boleh aku bercerita tentang anak itu sedikit?”, tanya ibu Kyuhyun singkat, menyadarkan Eun Hye dari sekelebat pikirannya yang melintas. Karena tatapan ibu Kyuhyun yang lembut dan senyum yang terus tersungging menghiasi bibir, Eun Hye menjadi sedikit rileks, ia kembali menyunggingkan senyum gugupnya kemudian mengangguk.

Kim Hana mengeratkan tautan tangannya dengan tangan Eun Hye kemudian memejamkan matanya da memulai bercerita, “Kyuhyun lahir tiga Februari dua puluh Sembilan tahun lalu di musim dingin. Kami tentu saja sangat bahagia dengan kehadirannya di tengah-tengah keluarga kami. Sayangnya ketika Kyuhyun lahir, perusahaan yang dikelola suamiku, ayah ahra dan Kyuhyun, sedang berkembang pesat sehingga membuat suamiku jarang berada di rumah dan tentu saja jarang bertemu ahra dan Kyuhyun. Tapi baik ahra maupun Kyuhyun tetap merasakan kasih sayang yang aku limpahkan kepadanya. Ahra dan Kyuhyun tumbuh menjadi anak-anak yang periang. Keduanya sangat dekat, bahkan terkadang Kyuhyun lebih mendengarkan ahra dibanding aku”, Kim Hana berhenti sejenak, ia tersenyum, kembali memutar memori masa lalunya.

“ahra kecil tidak pernah mempermasalahkan absen-nya ayahnya di tengah-tengah kami. Namun Kyuhyun kecil, yang saat itu berumur empat tahun selalu mempertanyakan keberadaan ayahnya. Kyuhyun berbeda dengan ahra. Ia lebih sensitive dan kenyataan bahwa dalam setahun ia hanya mampu bertemu ayahnya hanya beberapa kali, tidak lebih banyak dari jumlah jemari, membuat Kyuhyun kecil menjadi murung.”, Kim Hana menghela napasnya pelan, Eun Hye melihat dari sudut mata terpejam milik Ibu Kyuhyun keluar setetes air mata. Entah mengapa melihat itu membuatnya menjadi ikut sedih dan terluka, ikut merasakan apa yang wanita paruh baya dan Kyuhyun kecil rasakan. Kehilangan sosok panutan. Walaupun pada kenyataannya Eun Hye tidak sedikitpun kehilangan kasih sayang dari ayahnya karena sesibuk apapun ayahnya, beliau selalu menyempatkan diri untuk bersama Eun Hye, walaupun sebatas menceritakan dongeng penghantar tidur.

“Kyuhyun selalu bertanya mengapa ayahnya tidak pernah datang diacara sekolahnya sementara teman-temannya yang lain datang bersama ayah dan ibunya. Mengapa ayahnya tidak pernah hadir diacara pembagian rapor-nya. mengapa ayahnya tidak pernah menyaksikan dirinya yang selalu diikutsertakan dalam olimpiade. Mengapa ayahnya tidak pernah sekalipun menghadiri setiap perayaan ulang tahunnya. Bahkan pernah sekali Kyuhyun bertanya mengapa ayahnya tidak pernah masuk kedalam kamarnya, padahal ia ingin memperlihatkan semua trofi yang ia dapatkan karena menjuarai berbagai olimpiade. Dan aku selalu tidak mempunyai jawaban untuk itu, karena Kyuhyun tidak menerima alasan bahwa ayahnya bekerja. Ketika aku mengatakan hal itu, Kyuhyun akan selalu berkata ayah teman-temannya bekerja namun selalu menyempatkan untuk pergi bersama. Dan sungguh aku tidak mampu mengelak. Ayah Kyuhyun seorang yang ambisius sehingga ia akan meletakkan pekerjaannya diatas segalanya, sekalipun itu keluarganya sendiri. Baginya pekerjaan adalah segala yang terpenting dalam dunia ini.”

Eun Hye menatap sendu Kim Hana yang semakin tenggelam dalam memori itu, “apa Kyuhyun tidak pernah mengatakannya kepada ayahnya?”, tanya Eun Hye, memberanikan diri untuk membuka suara. Ketika kecil dulu, Eun Hye selalu mengatakan apapun yang mengganjal hati dan pikirannya kepada kedua orang tuanya dan kakak perempuannya. Tidak mungkin bukan Kyuhyun tidak pernah menyampaikan keberatan akan absen-nya sang ayah kepada ayah-nya langsung.

Kim Hana membuka kedua bola matanya, tatapannya yang lembut dan teduh telah berganti menjadi tatapan sendu yang sarat akan kesedihan.

“Pernah sekali Kyuhyun berkata kepada ayahnya untuk datang diacara seni sekolahnya, saat itu ia masih duduk dibangku kelas tiga sekolah dasar. Namun saat itu ayah Kyuhyun sedang dalam suasana hati yang tidak baik sehingga alih-alih bersedia untuk hadir justru Kyuhyun mendapatkan murka ayahnya. Dan sejak saat itu Kyuhyun tidak pernah lagi meminta apapun kepada ayahnya. Tidak, bukannya Kyuhyun takut akan kembali mendapat murka ayahnya. Kau tahu mengapa Kyuhyun tidak lagi meminta kepada ayahnya?”, mata wanita paruh baya yang sudah memerah itu menatap lembut Eun Hye. Eun Hye hanya menggelengkan kepalanya singkat sebagai jawaban.

“aku pernah menanyakan Kyuhyun akan hal itu. Dan jawabannya benar-benar diluar ekspektasi-ku kala itu. Bayangkan bagaimana anak usia sepuluh tahun mempunyai jawaban yang sarat dengan emosi. Ia berkata bahwa ia tidak ingin memaksa ayahnya lagi. Ia sangat menyayangi ayahnya, dan karena ia sangat menyayangi ayahnya ia tidak akan memaksakan kehendaknya lagi. Ia tidak ingin orang-orang yang disayanginya tertekan karena permintaannya.”, jawab Kim Hana kemudian, air mata-nya semakin deras mengaliri kedua belah pipi-nya. Eun Hye tercenung mendengar penuturan Ibu Kyuhyun itu. Kyuhyun tidak ingin orang-orang yang disayanginya tertekan karena permintaannya. Kyuhyun tidak ingin memaksakan kehendaknya kepada orang-orang yang disayanginya. Apakah itu berarti Kyuhyun menyayanginya? Makanya pria itu tidak pernah memaksanya untuk segera menikah dengannya. Benarkah? Kemudian Ibu Kyuhyun kembali membuka suaranya, membuat Eun Hye kembali memfokuskan dirinya untuk mendengarkan.

“Namun sejak saat itu Kyuhyun menjadi anak yang pendiam, kaku, dan dingin. Orang akan melihat Kyuhyun sebagai seorang yang beruntung. Tapi sayangnya Kyuhyun tidak seberuntung itu, dua puluh Sembilan tahun hidupnya ia habiskan hanya untuk berharap mendapatkan secuil saja kasih sayang dari seorang ayah. Dari luar Kyuhyun mungkin terlihat tegar dan kuat, tapi sesungguhnya ia sangat rapuh. Rapuh karena seumur hidupnya ia tidak pernah merasakan pelukan ayahnya. Pernah sekali waktu Kyuhyun bercerita kepada ahra, bahwa ia ingin sekali merasakan duduk santai bersama ayahnya dan bercakap ringan bagaimana caranya menjadi seorang laki-laki yang bertanggung jawab, bagaimana memperlakukan seorang wanita dengan baik. Sayangnya, hingga detik ini, itu hanya menjadi harapan yang tersimpan rapi di dalam lubuk hatinya”, Kim Hana berhenti sejenak, menatap Eun Hye yang sedang menatap sendu dirinya. Ia meremas pelan jemari Eun Hye, mencoba mencari kekuatan dari sana.

“alih-alih mendapatkan kasih sayang, Kyuhyun justru mendapat tekanan dari ayahnya. Dan sekali lagi, Kyuhyun hanya bisa menuruti apa yang ayahnya ucapkan. Menjadi seorang pebisnis, padahal yang menjadi cita-citanya adalah menjadi seorang penyanyi. Menghabiskan waktunya untuk berkutat dengan pekerjaannya tanpa memikirkan kesehatannya, bahkan menerima saja ketika ayahnya menjodohkannya dengan Park ae Rin, anak dari kolega bisnisnya. Sekali lagi, semua itu Kyuhyun lakukan hanya untuk mendapatkan sedikit pengakuan dan perhatian ayahnya. Dan sekali lagi harus kukatakan, itu hanya sebatas angan Kyuhyun”, Kim Hana menghembuskan napasnya pelan. Lengan bebas Eun Hye bergerak menyusuri wajah ibu dari pria yang dicintainya itu, Cho Kyuhyun si pria keras kepala sok tegar. Jemari halusnya menghapus air mata yang mengalir di wajah yang menua itu. Untuk sekedar membayangkan Kyuhyun yang selalu berharap akan perhatian ayahnya saja ia tak mampu, apalagi kalau ia harus merasakan menjadi Kyuhyun. Entahlah.

“Maka dari itu bolehkah aku meminta sesuatu hal kepadamu Shin Eun Hye?”.

***

            Kyuhyun menghempaskan tubuhnya diatas kursi singgasananya, ia memejamkan matanya, tangan kanannya ia gunakan untuk memijit pelipisnya. Lagi. Ia harus kembali beradu argument dengan ayahnya saat rapat tadi. Saking emosinya, ia melupakan bahwa situasi tidak memungkinkan untuknya menentang ayahnya secara terang-terangan. Ini menyangkut proyek Real Estate yang dirancang ayahnya di London dan Kyuhyun diminta untuk menanganinya. Lagi? Haruskah selalu dirinya ketika selama enam tahun ini waktunya ia habiskan hanya untuk menjalankan perintah ayahnya menangani pekerjaan ini itu, tidak bolehkah ia menolak untuk kali ini saja? Ia lelah, sungguh. Lelah bukan karena perkerjaannya, ini lelah terlebih karena apapun yang dilakukannya tidak pernah mendapat perhatian ayahnya. Padahal selama ini ia berharap dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang ia punya, ayahnya dapat sekali saja memberikannya senyum hangat, memeluknya, dan berkata ‘kau memang putera terbaikku’. Hanya itu yang ia harapkan. Sepanjang hidupnya ia habiskan untuk menatap iri teman-temannya yang tertawa lepas bersama ayahnya. Sepanjang hidupnya ia habiskan hanya untuk mengharapkan ayahnya memasuki kamarnya dan mengajaknya mengobrol ringan sebelum tidur. Sepanjang hidupnya ia habiskan hanya untuk mendapatkan pengakuan berarti dari ayahnya. Tapi, kini Kyuhyun menyadari sesuatu, bagi ayahnya Kyuhyun tidak lebih dari seorang jenius yang dapat digunakannya untuk membuat Froex Corporation semakin berkembang pesat. Hari ini ia benar-benar terpuruk, kenyataan menghantamnya tepat di dadanya. Ketika tadi ia mengatakan bahwa ia tidak mampu untuk menangani rencana proyek di London, Cho Yeonghwan, ayahnya mengatakan, ‘Memangnya kau siapa berani menolak perintahku, Cho Kyuhyun-ssi? Kau hanyalah seorang direktur yang aku pekerjakan untuk menangani perusahaan ini dengan baik, bersikaplah selayaknya seorang yang jenius. Aku tidak pernah memedulikan statusmu sebagai anakku, yang aku pedulikan adalah keberlangsungan perusahaan ini. jadi berhentilah bersikap seolah-olah kau adalah putera-ku yang membutuhkan perhatianku. Kurang cukupkah jabatan yang kuberikan kepadamu?’. Setelah mendengar pernyataan ayahnya, Kyuhyun langsung pergi begitu saja meninggalkan ruang rapat, pergi menjauhi ayahnya dan orang-orang yang menatap terkejut keduanya. Sungguh, bukan jabatan direktur yang ia inginkan dan butuhkan, yang ia butuhkan dan inginkan hanyalah secuil kasih sayang ayahnya. Kalau boleh, ia lebih memilih hidup didalam keluarga biasa yang hangat dan penuh kasih sayang daripada ditakdirkan menjadi seorang Cho Kyuhyun malang yang bahkan tidak pernah merasakan didekap oleh ayahnya.

Tanpa Kyuhyun sadari, ayahnya yang berada di depan pintu ruangannya yang terbuka menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.

***

            Sore ini Eun Hye mengendarai Hyundai-nya menuju sebuah taman dipinggiran kota Seoul. Beberapa saat lalu Kyuhyun meneleponnya dan memintanya untuk menemuinya di taman tersebut. Semenjak kedatangan Cho ahra dan ibu Kyuhyun tadi pagi, Eun Hye selalu merasakan kekhawatiran berlebihan terhadap Kyuhyun. Apakah pria itu sedang bersedih? Bagaimana suasana hatinya sekarang ini? kenyataan bahwa Kyuhyun menghadapi hal seperti itu membuatnya berpikir bahwa dirinya telah menjadi seorang yang egois. Bersikap seperti ayah pria itu yang tidak menghiraukan permintaan Kyuhyun. Permintaan untuk menikah.

Ini sudah memasuki musim gugur, sehingga angin yang berhembus sedikit menghantarkan hawa dingin. Eun Hye merapatkan hoodie yang dikenakannya. Setelah memarkirkan sedannya, ia melangkah kecil-kecil menuju bangku kayu bercat hijau panjang yang Kyuhyun duduki. Pria itu duduk membelakangi arah datangnya.

“Hey, sudah lama menungguku?”, tanya Eun Hye segera setelah berada tepat disamping Kyuhyun. Kyuhyun mendongak menatap Eun Hye yang berdiri di sampinya, ia tersenyum, kemudian menepuk-nepuk tempat kosong di sebelah kanannya, menyuruh Eun Hye untuk duduk. Dengan senang hati Eun Hye duduk disamping pria itu. Namun ada yang mengganjal dari pria ini. Wajahnya terlihat sendu dan lelah, tidak seperti biasanya. Kemudian Eun Hye meringsek merapat, meletakkan kepalanya diatas bahu Kyuhyun, kedua lengannya ia gunakan untuk memeluk tubuh Kyuhyun dari samping. Hangat.

“Kau ada masalah, uh?”, tanya Eun Hye kembali. Sementara yang ditanya hanya menatap lurus kedepan, menyaksikan beberapa anak kecil yang sedang bermain bola bersama ayah-ayah mereka. Ia tersenyum miris, ingin sekali rasanya mengunjungi taman bermain bersama ayahnya, sekalipun hanya duduk-duduk memandangi deretan pohon mulberi yang daunnya mulai mengering dan berguguran.

Eun Hye yang menyadari arah tatapan Kyuhyun kembali mengeratkan pelukanya, “Cho, apakah aku mengecewakanmu?”. Kyuhyun yang mendengar itu langsung menoleh menatap Eun Hye yang sedang bersandar dibahu kanannya.

“Tidak. Kau tidak pernah sekalipun mengecewakanku, Hye-ya”, ujar Kyuhyun. Lalu ia kembali memfokuskan pandangannya kearah kumpulan anak laki-laki dan ayah-ayah itu.

Eun Hye menatap Kyuhyun sendu. Sungguh, ia tidak ingin semakin mengecewakan Kyuhyun karena ia tahu ia telah mengecewakan pria ini.

“Cho, maafkan aku”, Eun Hye menenggelamkan wajahnya dibalik bahu Kyuhyun, membaui wangi tubuh pria yang telah meluluh lantakkan hatinya. Tangan Kyuhyun bergerak pelan mengelus lembut tautan tangan Eun Hye dipinggangnya.

“Hey, untuk apa meminta maaf? Kau tidak pernah melakukan kesalahan apapun”, ujar Kyuhyun lembut.

“Maafkan aku karena aku belum memiliki nyali untuk menikah denganmu, Cho. Sungguh, bukan maksudku untuk mempermainkanmu”. Kyuhyun tersenyum singkat. Ia mengerti. “aku mengerti.”

Eun hye semakin mengeratkan pelukannya. Kyuhyun sedang membutuhkannya. Ia yakin itu. Kyuhyun bukan orang yang mudah memasang wajah sendu, dan ketika wajah sendu itu menghiasi wajah tampannya, Eun Hye tahu bahwa pria ini sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Tapi ia bingung, apa yang harus dilakukannya.

“Cho, bagaimana ternyata aku telah dijodohkan orang tuaku dengan pria lain. Apa kau akan menerimanya?”, Eun Hye mengucapkannya dengan nada bercada. Berharap dengan menggoda Kyuhyun dapat membuat Kyuhyun sedikit melupakan masalah apapun yang telah membuat wajah tampannya yang tegas menjadi sendu.

Kyuhyun terkekeh singkat mendengar penuturan Eun Hye, “Pria pilihan orang tuamu itu hanya mempunyai dua pilihan. Berakhir di bangsal rumah sakit atau di dalam peti mati.”.

Eun Hye mencubit pelan pinggang Kyuhyun, “Kejam sekali kau, Tuan Muda Cho”, Eun hye terdiam sejenak kemudian kembali melanjutkan, “bagaimana jika aku baru bersedia menikah denganmu ketika kita sudah lanjut usia. Apa kau akan tetap menungguku?.

Kyuhyun mengusap kepala Eun Hye pelan, jemarinya bergerak lembut diatas sana, “tentu saja. Waktuku tak terbatas untuk itu. Kau tahu? Aku lebih suka menunggumu menerima lamaranku meskipun itu untuk waktu yang lama daripada kau menjawabnya sekarang yang dapat kupastikan bahwa kau menolak lamaranku”.

“Kenapa?”

Kyuhyun menghirup oksigen dalam-dalam kemudian menghempaskan karbondioksida dari hidungnya, “karena dengan menunggumu aku memiliki alasan untuk tetap bertahan hidup. Namun jika kau menolakku sekarang juga, aku memiliki alasan untuk mengakhiri hidup. Kau tahu, Hye-ya? Sekarang ini hanya kau satu-satunya alasanku untuk tetap eksis di bumi ini, dan hanya kau satu-satunya segala yang kuinginkan dan kubutuhkan dalam hidup. Jadi tetaplah disini, disisiku, maka dapat kupastikan aku tetap mampu berpijak di bumi ini dengan baik. Mengertilah, saat aku mengatakan padamu bahwa aku membutuhkanmu. Dan mengertilah saat aku mengatakan aku tidak ingin memaksakan kehendakku padamu, aku tidak ingin kau menjauhiku. Dan sekali lagi, mengertilah saat aku mengatakan bahwa aku, Cho Kyuhyun, mencintaimu, Shin Eun Hye, mencintaimu disetiap tarikan dan hembusan napasku. Mencintaimu dengan sederhana. Sesederhana rasa minuman cokelat hangat kesukaanmu namun tak pernah sedikitpun cita rasanya kau lupakan. Mencintaimu dengan sangat. Shin Eun Hye, Saranghaeyo”. Dan pada akhirnya, Cho Kyuhyun mengucapkannya, mengatakan sepenuh hati bahwa ia mencintai Shin Eun Hye. Gadis itu terus mengeratkan pelukannya. Menjalari rasa hangat bukan hanya kepada dirinya, tetapi juga kepada Kyuhyun. Aku juga mencintaimu, Cho. Sangat.

***

            Setibanya di apartement, jam sudah menunjukan pukul delapan malam. Kyuhyun langsung membaringkan tubuhnya begitu sampai didalam kamar, sementara Eun Hye berjalan menuju meja dapur, menyiapkan dua baskom air hangat dan dua handuk waslap. Eun Hye membawa kedua baskom air hangat dan handuk waslap itu sedikit susah payah. Untunglah Kyuhyun belum menutup pintu kamarnya, sehingga ia tidak terlalu kesulitan. Ditangkap oleh mata Eun Hye, Kyuhyun yang berbaring dengan memejamkan matanya, gurat-gurat lelah terlihat jelas diwajah sempurna pria itu. Pria yang baru beberapa saat lalu mengatakan bahwa ia mencintai dan membutuhkan dirinya. Dan sungguh, Eun Hye tidak akan pernah pergi meninggalkan Cho Kyuhyun. Cho Kyuhyun yang ia cintai.

Eun Hye meletakan baskomnya di nakas samping tempat tidur. Kemudian ia meraih salah satu baskom dan handuk waslap. Meletakannya diatas tempat tidur didekat kaki Kyuhyun. Tangannya bergerak melipat celana bahan cokelat tua yang Kyuhyun kenakan hingga sebatas lutut. Ia mencelupkan handuk waslap kedalam baskom kemudian memerasnya. Membasuhkannya ke kaki jenjang Kyuhyun berharap ini dapat menghilangkan rasa lelah Kyuhyun. Walaupun hanya sedikit. Ia terus mengulangi mencelupkan handuk waslap, memerasnya, dan memastikan seluruh bagian kaki Kyuhyun telah ia basuh. Kemudian ia mengganti baskomnya dengan baskomnya yang lain, begitupun handuk waslapnya. Sekarang ia membasuh wajah tampan dan sempurna milik Kyuhyun, mengelapnya sepelan dan selembut mungkin, agar tidak mengganggu Kyuhyun yang sedang mengistirahatkan tubuh dan otaknya. Kemudian bergerak membasuh leher putih pucat kepunyaan pria itu. Setelah selesai, Eun Hye meletakkan baskomnya kembali diatas nakas tempat tidur, lalu ia berbaring disamping Kyuhyun, menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Ia bergerak mendekat tubuh Kyuhyun, memeluk tubuh berbaring pria itu dari samping, kemudian mengecup pipi pria itu dan berbisik disana, “Maafkan aku. Aku mencintaimu”. Lalu Eun Hye pun membiarkan dirinya memasuki dunia mimpi. Membiarkan Kyuhyun membalas memeluknya dengan erat.

***

            Kim Hana menatap sendu Eun Hye, jemarinya terus meremas pelan jemari Eun Hye, mencoba mencari kekuatan disana. Wajah yang telah dihiasi kerutan-kerutan itu terlihat sendu, lelah, dan sedih.

            “Maka dari itu bolehkah aku meminta sesuatu hal kepadamu Shin Eun Hye?”

            Eun Hye menatap lurus tepat ke manik milik wanita paruh baya itu. Kemudian ia berujar, “apapun, eommonim”.

            Kim Hana menghembuskan napasnya perlahan, mencari tenaga untuk kembali mengeluarkan kata-kata.

            “Selama hidupnya, Kyuhyun-ku sudah banyak menelan kekecewaan akibat perlakuan ayah-nya. aku tahu ia tidak pernah menunjukannya dihadapan siapapun juga. Tapi aku ibunya, aku yang mengandung, melahirkan, dan memerhatikan setiap pertumbuhannya, jadi aku tahu seberapa besar kekecewaan yang ia rasakan. Aku sangat mengetahui dengan jelas bahwa ia mencintaimu. Baru kali ini aku melihatnya berbinar bahagia dan selepas ini. dan aku mengetahui dengan jelas bahwa kaulah yang menjadi alasannya bahagia. Jadi, untuk kali ini saja aku mohon, tetaplah berada dijarak pandang anak-ku dan jangan mengecewakannya. Tetaplah menjadi alasannya untuk terus kuat dan tegar”

            Kim Hana menatap Eun Hye penuh harap. Eun Hye tercenung sejenak setelah mendengar semua yang dikatakan ibu Kyuhyun. Dalam hati ia berjanji akan tetap bersama Kyuhyun, tidak akan pernah meninggalkan Kyuhyun kecuali kalau pria itu sendiri yang memintanya untuk pergi jauh dari sisinya.

            Eun Hye mengangguk mantap, kemudian tersenyum tulus kepada Kim Hana, wanita yang telah melahirkan seorang pria tampan yang dicintainya.

***

95 responses to “[Freelance] Cho Kyuhyun and The assistant (Part 4)

  1. aigoooo……ibunya kyu bijak bnget…baek lg…..kasihan ahra ma kyu…bapaknya beer2 ngeri bgt

  2. kyuhyun udah cinta banget,calon ibu mertua udah ngerestuin,tunggu apa lagi eunhye? Terima aja lamaran kyuhyun,kasian dia..

  3. Appa kyuhuyun jahat tega banget am anak kandung sendri -_-
    aq jd agak was” takut hubungan eunhye am kyuhyun gg direstui :/
    akhirnya ada ungkapan cinta jga diantara mereka ,. ahh senang.a bssa liat kyu hye bahagia ^^
    kyuhun so sweettttt bangettt ya >.<

  4. terharuuuu bangettty dngerrr kata kata ibu nya kyuuu yg bilang klo eunhye adalah alasan kyu hidupp, semogaaa eunhye ga pergi kmn mn ttep di smpng kyuuuu…aminnn hahaha lanjut yaaa thor

  5. appanya kyu kyknya ngerasa deh kl dia emng udh keterlaluan, ughhh sumpahhh ga tega liat kyuhyun kyk gtu, semoga eun hye ttep ada di samping kyu..

  6. Appa kyu lbh mentingin perusahaan dr pd keluarga..
    kasian ya kyuppa -___-
    Semoga eun hye cepet1 terima lamaran nya kyu deh. udah di restuin juga sama eomma kyu n ahra eonn. appa eun hye juga restuin kyu tunggu apa lg coba??

  7. hikz. Part ini Kyu sedih bgt. Ga nyangka punya tekanan batin seberat itu. Tahulah prasaan.anak yg diacuhkan ortu krn pkerjaan. *eh curcol..wkwk
    Semoga cpet nikah deh ya. biar ga da yg tersakiti. dan mrsa mnyakiti.. *aelaaahhh

  8. Astgaa…. knpa appa kyu gtu bgt sma kyu ?? Jahat bgt 😦 trus tdi apa yg dipkrkan appanya kyu ?? Eun hye knpa gak mw nikah sma kyu ? Pdhal kan mrka udh jauh bgt hbgan y

  9. Ayayaya…so sweet nyaa😍😍
    ayolah eunhye trima lamaran kyu dong kan kyu juga udah nyatain cinta😆

  10. Huwaaaaa, appa.y kyuppa nappeun banget:,(
    Msa anak sndiri di gituin. . . Ckckck Yg sbar ya kyuppa, msi bnyk kok yg syang ama kmu:)

  11. ouww ibunyaaa Kyuhyun perhatian baik.. aku semakin penasaran sama kelanjutan cerita ini!! keren!

  12. ternyata konfliknya justru dtg dri keliarga kyuhyun…
    ga nyangka ternyata ayahnya sekeras itu sama anaknya…
    mungkin itu juga alasannya knp kyu ga tinggal sama orangtuanya ya…

  13. Tumben banget gk ada ehkm_ekhm nya biasanya kyu paling semangat klo masalah ‘gituan’ disini udh mulai ada konflik tp kyknya masih ada yg lainya deh selain konflik bpknya kyu..,kira” apa ya o_0? Next

  14. Kasian bgt si cho kyuhyun saking pengen diperhatiin sama ayahnya dia rela lakuin apa aja??
    Kejam bener c ayahnya..
    Untung ada eun hye yg selalu dsamping dia..
    Klw eun hye ninggalin dia,apa kbrnya yachh???kyuhyun tanpa eun hye???

  15. Kasian kyuhyun berharap perhatian ayahnya tapi sang ayah selalu menyakiti hatinya…mungkin ayah kyuhyun memiliki alasan tersendiri bersikap kasar dengan kyuhyun..

  16. Ikut sedih merasakan kyu sedari kecil smpai dewasa tdak mendpatkan kasih sayang dari sang appa …yg ad sering menelan kekecewaan dgn perilaku sang appa.
    semoga appa kyu bisa menyadarinya ttg sikap dy k putranya sndri.
    untuk lah kyu bertemu dgn eun hye yg bisa membuat dunianya berwarna krena ada alasannya yg membuat hidup dy bgtu bahagia mencintai seorang eun hye

Leave a Reply to Dhea Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s