[Freelance] Having Baby with My Enemy Mr. Byun Baekhyun (Chapter III)

Having Baby with My Enemy Mr. Byun Baekhyun

Title                   :    Having Baby with My Enemy Mr. Byun Baekhyun (Chapter III)

Author/twitter   :    lucky_baek123 (twitter: @lukibaekhunniee)

Cast                   :    Byun Baekhyun, Park Ahra (OC), Xi Luhan

Genre                :    Romance, Fluff, Comedy, Marriage life, Hurt, Sad

Rating               :    PG17

Length               :    Chapter

Disclaimer         :    This story is purely mine^^

Karena kejadian-kejadian tidak terduga yang terjadi bertubi-tubi di kehidupan Ahra beberapa  minggu terakhir ini, membuat Ahra kini duduk di hadapan pria tampan berjas putih dengan tatapan penuh harap. Lelaki bermana Choi Minho itu menatap tajam pada Ahra dan Baekhyun.

“Kau sedang mengandung 4 minggu, Park Ahra-shhi,” Minho memberikan tatapan serius pada Ahra, biasanya ketika mengatakan berita ini Minho akan memberikan senyuman senang dan bahagia pada pasangan yang datang, akan tetapi Minho yang sekarang menyadari keadaan Ahra dan Baekhyun saat ini, hanya mampu memberikan tatapan simpati pada keduanya. Sedangkan Ahra dan Baekhyun yang mendengar penjelasan Minho, hanya bisa terpaku beberapa detik sambil menelan ludah.

“Bagaimana kalau saya ingin menggugurkan kandungan ini, dok?” Ahra mengatakannya dengan nada bergetar, ada rasa takut tersirat di matanya.

Minho yang alisnya berkerut mendengar pertanyaan Ahra melipat tangannya di atas meja sambil sedikit menyondongkan tubuhnya ke arah Baekhyun-Ahra, “Saya sarankan anda untuk tidak menggugurkan kandungan anda, karena hal itu dapat merugikan anda di masa depan. Bila anda menggugurkan kandungan anda, kemungkinan anda untuk mempunyai anak di masa depan akan sangat kecil dan bisa-bisa anda dapat mengalami kemandulan.”

“Tapi saya belum siap untuk menerima bayi ini, dok,” Ahra mengucapkannya lebih seperti bisikan yang terdengar sangat mengenaskan.

“Saya tahu anda pasti merasa tertekan dengan kehadiran bayi ini, tapi saya harap anda bisa menjaga bayi ini demi kebaikan anda dan bayi anda di masa depan. Dan anda tuan Byun Baekhyun, saya harap anda dapat memberikan dukungan moral pada pasangan anda,” Minho menatap ke arah Baekhyun dengan tatapan serius, namun Baekhyun hanya mengalihkan pandangannya dari Minho.

“Jadi saya harus membesarkan bayi ini, dok?” Ahra bertanya dengan suara memelas berharap Minho dapat memberikan opsi lain yang bisa membantunya.

“Saya harap anda dan tuan Byun Baekhyun menjadi orang yang bertanggung jawab,” perkataan Minho yang cukup singkat itu ternyata dapat memberikan dampak yang cukup luar biasa bagi Ahra dan Baekhyun. ‘Tanggung jawab’ kata itu adalah kata yang terniang di telinga keduanya bahkan sampai mereka berdua keluar dari klinik kerja Minho menuju cafe yang letaknya tidak jauh dari klinik.

Ahra hanya mengaduk latte di depannya dengan pandangan yang tidak fokus. Banyak hal yang dipikirkannya, masa depan dan kehidupannya yang berubah hanya karena perbuatan bodoh yang ia lakukan karena mabuk.

“Maafkan aku,” Baekhyun mulai bergumam membuat Ahra yang sedang melamun menoleh ke arahnya.

“Aku harus memaafkanmu untuk kesalahan yang mana?” Ahra menaikkan sebelah alisnya menatap Baekhyun dengan tatapan mengadili.

“Semua, kesalahanku dari malam itu hingga tadi semua kata-kata yang aku ucapkan padamu di atap.. Aku minta maaf,” Baekhyun menatap tulus pada Ahra. Ahra yang bisa menyadari ketulusan Baekhyun hanya bisa mengangguk karena demi Tuhan ini pertama kalinya ia melihat seorang Byun Baekhyun meminta maaf.

“Aku pikir aku harus memaafkanmu.. Karena sekarang kita harus berpikir apa yang harus kita lakukan selanjutnya,” Ahra sebenarnya berharap Baekhyun memberikan pendapat berupa solusi yang dapat menyelesaikan masalah mereka setelah ia selesai mengucapkan hal tersebut. Akan tetapi Baekhyun tidak berkata apa-apa, ia diam tidak menatap Ahra dan hanya mengaduk kopi di depannya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

“Baekhyun-aah,” akhirnya Ahra membuka pembicaraan kembali setelah keheningan selama sekiar lima menit itu, Baekhyunpun akhirnya menatap Ahra setelah panggilan lembut Ahra. “Nikahi aku,” kata-kata Ahra yang singkat membuat Baekhyun tercekat, tiba-tiba suara cegukan terdengar dari bibirnya. Baekhyun meminum kopinya untuk menghilangkan cegukannya tanpa berbicara terlebih dahulu pada Ahra.

Setelah beberapa menit menunggu, Baekhyun mulai membuka mulutnya, “Menikahimu? Apa tidak ada solusi lain selain itu?”

“Aku sudah berpikir dan tidak ada solusi lain selain itu, aku tidak mungkin menggugurkan bayi ini dan aku tidak ingin perutku membesar serta melahirkan bayi ini tanpa seorang suami,” Ahra hanya bisa menatap lelah pada Baekhyun, sepertinya ia juga sama frustasinya seperti Baekhyun.

“Brengsek!!” Baekhyun mengacak-acak rambutnya. “Kalau saja malam itu kau tidak mabuk dan berkata hal-hal aneh, semua ini tidak akan terjadi,” seperti biasa Baekhyun yang menyebalkan muncul kembali karena sifat egoisnya.

“Waktu itu siapa yang membuatku frustasi sampai rasanya aku ingin menyembunyikan diriku dan kabur, dan hal yang bisa aku lakukan ketika itu hanyalah minum dan minum sampai mabuk,” Ahra menatap Baekhyun kesal, selalu begini. Berada di dekat Baekhyun itu selalu membawa pertengkaran padahal yang ingin dilakukannya hanyalah menyelesaikan masalah mereka dengan kepala dingin.

“Kau juga berkata hal-hal aneh seolah-olah kau benar-benar ingin berada di rengkuhanku, kau seperti rubah yang sedang menjebakku waktu itu,” baru beberapa waktu yang lalu Ahra meningat Baekhyun sedang minta maaf padanya karena kata-kata kasarnya dan sekarang si brengsek ini kembali mengucapkan kata-kata yang menyakitinya.

“Byun Baekhyun kau emang seorang pengecut egois brengsek sejati!! Bagaimana kau bisa melempar semua kesalahan pada orang yang sedang mabuk?!” Ahra menggenggam tangannya erat menahan rasa kesal yang ada di dadanya, ia ingin sekali berteriak rasanya.

“Bukan hanya kau yang sedang mabuk! Aku juga sedang mabuk waktu itu!” Baekhyun menyandarkan tubuhnya pada kursi dan berusaha menghindari tatapan dari Ahra.

“Baiklah! Kemudian apa kau ada solusi untuk menyelesaikan masalah yang dibuat oleh dua orang idiot yang sedang mabuk?!” Ahra menatap Baekhyun yng sedang mengalihkan pandangannya, tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut Baekhyun hingga sepuluh.. Lima belas menit berlangsung.

“Brengsek!!” Baekhyun sekali lagi mengacak rambutnya kesal. “Apa benar-benar tidak ada solusi lain di dunia ini?!”

Ahra menggelengkan kepala, tiba-tiba rasa mual menyerangnya kembali, “Hueeek!!” Ahra berlari menuju toilet ketika ia merasakan isi perutnya sedang berputar-putar. Baekhyun yang melihat Ahra hendak memuntahkan isi perutnya, segera mengikuti langkah Ahra.

***

“Hueeeek!! Hueeek!!” Ahra memuntahkan seluruh isi perutnya yang hanya berisi air latte yang baru saja ia  minum ke dalam closet, suara Ahra yang sedang menderita itu rupanya sampai di telinga Baekhyun yang saat ini berada di luar toilet wanita.

“Gwencana?” Baekhyun berteriak dari luar toilet namun tidak ada jawaban, yang ia dengar dari Ahra hanya suara Ahra yang berusaha mengeluarkan isi perutnya.

Baekhyunpun dengan langkah pelan sambil melihat sekitar, memberanikan masuk ke dalam toilet wanita. Baekhyun sangat beruntung karena saat itu tidak ada wanita lain di toilet tersebut kecuali Ahra yang berwajah pucat lemas di samping closet.

“Gwencana?” Baekhyun menepuk pundak Ahra berusaha membantu Ahra.

“Tahukah kau bahwa yang paling menderita saat ini adalah aku?” Ahra tanpa menatap pada Baekhyun berbicara dengan nada yang datar.

“Brengsek!!” Baekhyun mengumpat pelan sambil terus menepuk pundak Ahra. “Baiklah Park Ahra, mari kita menikah!” Baekhyun menatap Ahra yang saat ini sedang menengadah menatap Baekhyun. Keduanya dengan tatapan yakin kini sedang memutuskan hal yang benar-benar akan merubah takdir mereka.

***

Ahra saat ini sedang berada di depan sebuah cafe menunggu kedatangan Luhan yang tadi siang mengajaknya untuk makan malam. Walaupun Ahra merasa tidak enak badan karena mual, namun Ahra merasa ia perlu menghibur dirinya setelah apa yang terjadi di antara dirinya dan Baekhyun beberapa waktu yang lalu. Dengan alasan tersebut, Ahra menerima ajakan makan malam Luhan. Belum semenit Ahra menunggu, suara riang Luhan sudah terdengar menyapanya dari seberang.

“Apa kau sudah lama menunggu?? Maafkan aku, datang terlambat,” Luhan dengan napas terengah-engah tersenyum pada Ahra yang ada di hadapannya.

“Ani oppa, aku juga baru berada disini,” Ahra tersenyum pada Luhan sambil menggelengkan kepalanya.

“Syukurlah kalau begitu,” Luhan tersenyum lega, melihat Luhan yang tersenyum dengan rambut pirang yang menawan sungguh perpaduan yang sempurna. ‘Bagaimana ada orang semenawan Luhan oppa di dunia ini’ Ahra bergumam dalam hati.

“Jadi, kita akan makan malam di cafe ini?” Ahra bertanya sambil menunjuk cafe ala itali di belakang mereka.

“Ani, kita akan makan di tempat yang lebih indah,” Luhan menggeleng kepalanya pelan sambil menyimpulkan senyum manis di akhir kalimatnya.

“Kita akan kemana, oppa?” Ahra bertanya dengan nada penuh kebingungan.

“Rahasia, tapi aku rasa kau akan menyukainya,” Luhan mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum riang pada Ahra menunjukkan gigi bawahnya yang tidak tertata rapi namun tetap menawan.

“Baiklah oppa, aku percaya padamu,” Ahra tersenyum pada Luhan sambil mengikuti langkah Luhan yang kini mengenggam tangan Ahra erat dan Ahra merasa pipinya memerah ketika tangan mereka saling bersentuhan.

***

Ahra membuka matanya lebar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Luhan membawanya ke aula kampus, tempat dimana seminar kampus sering diadakan. Tempat ini sebenarnya tertutup bagi mahasiswa, untuk masuk ke tempat ini di jam seperti ini saja sudah cukup membuat Ahra tercengang. Ditambah dengan dekorasi yang sekarang dilihatnya… Meja dan dua kursi bernuasa klasik dengan corak coklat keemasan tertata rapi di tengah aula, di atas meja terdapat kain bewarna keemasan dan sebuah tempat lilin bernuasa klasik dengan dua lilin yang menyalah. Di sekitar meja, terdapat banyak mawar merah dalam vas keemasan yang diletakkan mengelilingi meja. Pantas saja ketika pintu dibuka Ahra dapat mencium wangi mawar. Mata Ahra terlihat berkilauan menatap pemandangan tersebut, cahaya remang yang hanya terfokus pada meja dan kursi di tengah aula sungguh menggambarkan nuansa romantis yang sering dilihat Ahra di drama-drama, tepatnya ketika si pemeran pria sedang melamar si pemeran wanita.

Candle light dinner, hal yang sangat romantis kan?” Luhan tersenyum menyadari Ahra yang masih terkagum dengan pemandangan di depannya.

“Oppa ini benar-benar daebak!!” Ahra mengangkat kedua jempolnya ke atas sambil tersenyum riang pada Luhan. “Tapi apa yang akan kita makan?” Ahra menatap pada meja yang masih kosong.

Luhan tersenyum kecil, “Sabar princess, sebelumnya silakan duduk princess,” Luhan menggeser salah satu kursi di samping meja, ke belakang memberi isyarat pada Ahra untuk duduk di kursi sambil tersenyum hangat pada Ahra. Ahra yang mendengar kata ‘princess’ keluar dari mulut Luhan hanya bisa tersenyum geli, walaupun demikian Ahra memilih untuk ikut dalam roleplay yang dimainkan Luhan.

“Terima kasih, prince charming,” Ahra mengangkat dress selututnya sambil menyilangkan kakinya dan membungkuk seolah memberikan salam pada Luhan ala bangsawan-bangsawan Eropa. Ahra melirik sambil tersenyum pada Luhan sebelum duduk di atas kursi yang digeser Luhan.

“Sama-sama princess,” Luhan tersenyum kemudian duduk berhadapan dengan Ahra.

“Ehm, baiklah oppa.. Selanjutnya kita melakukan apa?” Ahra menyilangkan kedua tangannya di atas meja sambil menyondongkan tubuhnya, menunjukkan rasa ketertarikan pada roleplay ini.

“Masuk!” Luhan tersenyum sebelum meninggikan suaranya sambil menepuk tangan keras seolah memberikan isyarat pada seseorang yang membuat Ahra sedikit kebingungan.

Setelah suara tepuk tangan yang menggema, seorang namja dengan pakaian serba putih ala koki masuk sambil membawa nampan di tangan kanannya. Di cahaya yang remang-remang, Ahra tidak dapat melihat begitu jelas siapa namja tersebut hingga jarak di antara mereka kini hanya dipisahkan oleh meja. Ahra bisa melihat namja cute berpipi tembem dengan mata dan bibir mirip Kim Sohee Wondergirl.

“Minseok sunbae,” Ahra membungkuk menyadari namja di depannya adalah sunbaenya di klub fotografi, Kim Minseok.

“Duduk saja, saat ini aku disini bukan sebagai sunbaemu tetapi sebagai pelayanan di candle light dinner romantis bersama Luhan,” Minseok tersenyum sambil menepuk bahu Luhan menggunakan tangan kirinya yang bebas. Luhan hanya tersenyum malu sedangkan Ahra tersenyum geli mendengar Minseok mengucapkan ‘candle light dinner romantis bersama Luhan’.

“Baozi, kau membuatku merasa seperti seseorang yang akan melamar kekasihnya,” ucap Luhan dengan nada diseret ketika Minseok meletakkan dua cup kecil chesse soufle yang diletakkan rapi di atas piring putih yang cantik.

“Bukannya memang seperti itu,” Minseok mengedipkan sebelah matanya pada Luhan sambil menepuk bahu Luhan sekali lagi sebelum berlalu pergi, Ahra sedikit kaget mendengar ucapan Minseok namun kemudian ia menganggap ucapan Minseok hanyalah gurauan untuk menggoda Luhan saja.

Suasana menjadi sedikit hening untuk beberapa detik hingga Ahra mencoba membuka pembicaraan, “Oppa?”.

“Ya?”

“Apa ini dimasak oleh Minseok sunbae?” Ahra mengangkat sebelah alisnya sambil menunjuk chesse soufle yang dihidangkan rapi di depannya.

“Hahahaha…,” Luhan kemudian tertawa keras melihat ekspresi Ahra, “Tentu saja bukan, semua makanan dibeli di restoran Eropa di dekat sini. Baozi hanya sedang mewujudkan mimpinya waktu kecil dengan berpakaian seperti tadi,” Luhan tersenyum riang pada Ahra yang sedang menghela napas.

“Ah~.. Sebenarnya tadi aku agak ragu karena berpikir ini semua dimasak oleh Minseok sunbae,” Ahra mendekatkan badannya ke arah Luhan, dan berkata seperti nada berbisik pada Luhan. Mereka kemudian tertawa riang, membayangkan ramen yang dulu pernah dimasak oleh Minseok saat pertemuan klub, mie yang terlalu mengembang karena terlalu lama dimasak dan rasa yang hambar karena terlalu banyak air. Sungguh, semua orang yang mencicipinya akan berpikir bahwa itu adalah ramen dengan rasa terburuk yang pernah mereka makan.

Ahra dan Luhan kemudian melanjutkan makan malam romantis mereka dengan diselingi gosip dan gurauan yang membuat mereka tertawa sepanjang makan malam. Ahra juga merasa heran karena di sepanjang makan malam, Ahra sama sekali tidak merasa mual. Padahal ketika steak disajikan di depannya ia sangat takut akan merasa mual di pertengahan menyantap makanannya akan tetapi, hingga sekarang ia sedang memakan makanan penutup berupa gelato dengan flavor rasa kiwi, ia tidak merasa mual sama sekali.

“Oppa, gomawoyo,” Ahra bergumam sambil meletakkan sendok es krimnya dan tersenyum manis pada Luhan.

“Untuk apa?” Luhan mengangkat sebelah alisnya memberikan  pandangan menggoda pada Ahra.

“Ya.. Untuk semua… Sebelumnya aku merasa seperti ingin mati saja, tapi setelah ini aku merasa lebih baik,” Ahra berbicara dengan nada yang agak canggung dan terbata-bata tanpa menatap pada Luhan.

“Ahra-ya..,” Luhan memanggil nama Ahra lembut sambil meraih tangan Ahra untuk digenggamnya lembut. “Apa kau ada masalah? Ceritakanlah pada oppa,” Luhan menatap Ahra lembut.

“Ehm.. Tidak ada yang bisa aku ceritakan saat ini, oppa. Aku hanya merasa lelah dengan hal-hal yang menimpahku belakangan ini,” Ahra menundukkan kepalanya berusaha menghindari tatapan lembut Luhan.

“Baiklah kalau kau tidak siap bercerita padaku, aku siap menjadi pendengar yang baik kapanpun,” Luhan mengenggam erat tangan Ahra sambil tersenyum penuh arti pada Ahra. “Yang penting, kau terhibur saat ini,” Luhan melepaskan tangannya dan kemudian menunjuk sekitar dengan kedua tangannya. “Ngomong-ngomong gelato ini dibuat dengan menggunakan susu sapi special dan buah kiwi asli sehingga rasanya  luar biasa enak, jadi aku sarankan kau untuk menghabiskannya,” Luhan menunjuk semangkuk gelato hijau di depannya dan kemudian mengedipkan sebelah matanya.

“Dengan senang hati,” Ahra mengambil sendok es krimnya dan melanjutkan memakan gelato di depannya, Ahra sangat menikmati setiap sendok gelato yang masuk ke mulutnya karena demi Tuhan kiwi adalah flavor favoritnya.

Ahra terus menyendok gelato masuk ke mulutnya sampai ia merasakan sesuatu yang keras berada di mulutnya dan Ahra yakin itu bukan salah satu potongan kiwi. Ahra mengeluarkan benda tersebut dari mulutnya, matanya membesar heran ketika ia melihat benda tersebut adalah sebuah botol ukuran dua ruas jari dengan kertas bewarna kuning di dalamnya.

“Oppa, apa ini?” Ahra mengangkat botol itu dengan tatapan bingung.

“Bukalah,” ucap Luhan singkat sambil memberikan isyarat mengunggunakan dagunya.

Ahra membuka tutup botol itu dan menggoyangkan botol tersebut untuk mengeluarkan isi di dalamnya. Ahra melirik pada Luhan yang kemudian dibalas dengan senyuman oleh Luhan. Ahra membuka perlahan kertas tersebut dan membaca sebuah kalimat yang membuatnya tercekat. Kalimat ‘Park Ahra, maukah kau menjadi yeoja chingguku?’

“Oppa..,” Ahra hanya bisa bergumam sambil menatap Luhan.

“Mulai,” Luhan tersenyum sambil menepuk tangannya memberikan isyarat pada sesuatu dan beberapa detik kemudian, Ahra dapat melihat sekumpulan namja masuk ke dalam aula. Ia dapat melihat semua namja tersebut adalah seniornya di klub fotografi. Henry, senior dengan rambut coklat cepak bergelombang dan pelafalan bahasa korea yang aneh karena dia bukan orang korea asli, masuk membawa violin di tangan kanannya. Di belakang Henry, ada Minseok sunbae, Kyungsoo teman satu angakatan Ahra di klub fotografi, dan Kris senior keturunan China yang datang dari Kanada. Henry kemudian memainkan violinnya mengeluarkan nada-nada indah yang kemudian diikuti oleh suara lembut Kyungsoo dan bait rap dari Kris dan Minseok. Ahra hanya bisa terpaku melihat semua itu, Luhan yang melihat Ahra terpaku kemudian bangkit dari tempat duduknya dan kemudian berlutut di samping Ahra.

“Park Ahra, maukah kau menjadi yeoja chingguku?” Luhan membuka telapak tangannya seakan siap menerima tangan Ahra. Kepala Ahra tiba-tiba menjadi pusing, ia tidak bisa mengelak kalau ia menyukai namja dengan senyum manis di depannya itu, sangat menyukai malah hingga ia tidak pernah berpikir bahwa Luhan akan membalas perasaannya seperti ini. Pikirannya terus berteriak untuk meletakkan tangannya di atas telapak tangan Luhan dan mencium Luhan dengan senyuman sambil berkata ‘ya, aku mau’ tapi gambaran Baekhyun dan anak yang sedang dikandungnya membuatnya tidak bisa melakukan hal tersebut. Air mata menetes di pelupuk mata Ahra akibat perang batin yang melandanya saat ini.

Dengan suara bergetar Ahra mulai membuka mulutnya, “Oppa maafkan aku, aku tidak bisa. Aku akan segera menikah.”

Jawaban Ahra membuat Luhan membelalakkan matanya kaget, alunan musik dan lagu yang tadinya terdengar merdu tiba-tiba berhenti membawa keheningan di aula tersebut. Semua mata kini tertuju pada Ahra dengan pandangan tidak percaya.

-bersambung-

Anyeeong~

Ketemu lagi sama author gak jelas ini.. pertama-tama author mau ngucapin makasih karena banyak banget yang ngasih doa untuk kelancaran perjalanan author dan you know what… semua urusan author selesai dalam sehari… gomawo.. semua berkat doa kalian, dan author sekarang masih nunggu seminggu lagi untuk ujian… doain semoga lancar dan dapat nilai memuaskan ya… kalau kalian yang doain, aku yakin pasti manjur. Hehehe^^

Makasih sekali lagi karena udah mau meluangkan waktu untuk membaca FF ini dan berkomentar manis di FF ini.. rasanya seneng banget baca koment kalian… kelanjutan hubungan Baek sama Ahra akan lebih romantis lagi nantinya, dan bakalan ada karakter-karakter lain yang muncul di FF ini yang bakal jadi kejutan, jadi tunggu aja ya… di chap berikutnya, akan lebih banyak momment Baek-Ahra, dan sedikit membahas momment patah hati Ahra karena menolak Luhan. Penasaran?? Tunggu chapter selanjutnya… gomawooo~^^

Oh ya, satu lagi… author minta maaf ya kalau banyak banget kata kasar di FF ini… waktu nulis FF ini di HP author gg nyadar kalau banyak banget kata-kata kasar di FF ini, pas itu author lagi tergila-gila sama FF di AFF yang judulnya Marriage Life of Mr. Byun, yang udah pernah baca pasti tahu betapa banyaknya kata kasar di FF itu. Tapi sumpah, FF itu manis banget dan sangat mempengaruhi aku pas nulis FF ini… bagi yang belum pernah baca FF itu, baca gih.. pokoknya recommended banget deh… hehehe^^… oh ya lanjut-lanjut, dan author baru sadar kalau banyak banget kata kasar di FF ini ketika temen author yang pertama kali baca FF ini ngomong ke aku, dan sejak itu kata-kata kasarnya makin berkurang, kalau gg salah sejak part 4 sih kayaknya… jadi buat kalian yang merasa gg nyaman karena banyak banget kata-kata kasar disini, aku minta maaf banget ya… mohon maafin author. *bow

Anyeoong^^

303 responses to “[Freelance] Having Baby with My Enemy Mr. Byun Baekhyun (Chapter III)

  1. luhan di tolak sama ahra karena dia mau nikah sama baekhyun, kasihan luhan…. aku siap gantiin ahra di hatimu oppa wkwk…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s