[Freelance] Having Baby with My Enemy Mr. Byun Baekhyun (Chapter IV)

Having Baby with My Enemy Mr. Byun Baekhyun

Title                   :    Having Baby with My Enemy Mr. Byun Baekhyun (Chapter III)

Author/twitter   :    lucky_baek123 (twitter: @lukibaekhunniee)

Cast                   :    Byun Baekhyun, Park Ahra (OC), Xi Luhan

Genre                :    Romance, Fluff, Comedy, Marriage life, Hurt, Sad

Rating               :    PG17

Length               :    Chapter

Disclaimer         :    This story is purely mine^^

“Ahra-yaa!! Ireona!! Ini sudah jam 11 siang, bangun!! Ada seorang namja yang mencarimu!” Suara ketukan dan teriakan keras seorang wanita membuat Ahra hanya bisa bergulung-gulung di tempat tidurnya, ia merasa sangat mengantuk karena ia baru bisa tertidur setelah jam 7 pagi karena menangis semalaman.

“Ahra ireona!! Namja bernama Baekhyun itu sudah menunggumu lama,” wanita setengah baya itu kembali mengetuk pintu keras meneriakkan nama seorang namja yang membuat Ahra melompat dari tempat tidurnya.

“Eomma bilang siapa? Baekhyun?” Ahra membuka pintunya lebar menunjukkan dirinya yang sangat berantakan dengan mata yang luar biasa bengkak akibat menangis semalaman.

“Ada apa dengan matamu? Kau menangis?” Ibu mengamati mata Ahra dengan mata tajamnya, memberikan tatapan curiga pada Ahra.

“Ani eomma, tadi malam aku sedang begadang jadi mataku bengkak seperti ini,” Ahra berusaha mencari alasan yang tentu saja diketahui dengan jelas oleh ibunya bahwa itu hanyalah sebuah kebohongan.

“Terserah saja, ibu harap kau berdandan lebih baik sebelum menemui namja keren bereyeliner di ruang tamu itu. Kau hanya akan membuat ibu malu dengan berpenampilan seperti ini ketika bertemu namja sekeren dia,” ibu memberikan pandangan tajam sambil melihat Ahra dari atas sampai bawah, memberikan pandangan ‘aku malu punya anak sepertimu’ pada Ahra.

“Ah eomma, jebal eomma.. Kau seperti tante-tante girang yang siap menerkam namja polos tidak berdosa,” Ahra melemparkan tatapan menyelah pada ibunya, walaupun sebenarnya ketika berkata ‘namja polos tidak berdosa’ ia yakin seratus persen bahwa ia tidak sedang membicarakan Baekhyun.

“Dasar anak kurang ajar! Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu pada eommamu?” ibu memukul kepala Ahra keras hingga membuat Ahra mengumpat tanpa henti karena kesakitan.

“Eomma, berhenti memukul kepalaku. Apa eomma tidak tahu bahwa tangan eomma itu sekeras besi!” Ahra menatap eommanya kesal sambil mengelus kepalanya mencoba menghilangkan rasa perih akibat pukulan keras ibunya.

“Terserah kau saja! Cepat sana berdandan, jangan membuat namja keren menunggumu terlalu lama,” ibu menepuk pantat Ahra sebelum pergi meninggalkan Ahra di depan pintu kamar.

“Sial! Aku pusing sekali,” setelah ibu pergi Ahra bersandar pada frame pintu kamar, memejamkan matanya, sambil memijit pelipisnya pelan menggunakan jempol dan telunjuknya. Ia merasa sangat pusing karena semalaman menangisi keputusannya menolak namja yang saat ini selalu ada di pikirannya, Luhan.

***

Setelah lima belas menit berlalu, Ahra turun dari kamarnya yang terletak di lantai dua menuju ke ruang tamu di lantai satu. Ia tidak mandi, hanya mencuci muka, tangan, kaki, dan menyikat gigi serta menyemprotkan parfum di badannya. Ia hanya mengenakan kaos kedodoran yang nyaman dan jeans ketat yang sudah lama dijaga oleh Ahra untuk tidak dicuci oleh eommanya. Baekhyun yang melihat kedatangan Ahra, hanya bisa menyeringai memberikan tatapan ‘what the hell are you wearing now?‘ pada Ahra.

“Apa yang kau kenakan? Kau lebih mirip seorang pengemis daripada anak gadisku,” ibu memukul lengan Ahra berkali-kali melampiaskan kekesalan pada anaknya itu, Baekhyun yang melihat pemandangan itu hanya menyeringai senang.

“Eomma hentikan! Aku bukan anak kecil lagi, jadi jangan pukul aku seperti ini!” Ahra menangkap kedua tangan ibunya mencoba menghentikan pukulan-pukulan lain mengenai badannya.

“Aigoo, kau benar-benar membuat pusing. Dasar anak gadis tidak berguna,” ibu memberontak mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Ahra, namun Ahra hanya melemparkan tatapan tajam karena sakit hati pada ucapan ibunya walaupun sebenarnya ia tahu ucapannya ibunya hanyalah gertakan sambal yang esok hari akan dilupakan. Akan tetapi karena saat ini ada sosok brengsek Baekhyun yang sedang melihat ibunya memberikan makian-makian padanya membuatnya rasanya ingin melempar dirinya dan ibunya ke luar jendela.

“Sudah eomma hentikan, aku mohon,” Ahra melepaskan tangan ibunya, ia menyerah dengan sikap keras kepala ibunya yang tidak bisa disangkal mirip sekali dengannya dan memilih untuk memberikan tatapan memelas pada ibunya.

“Aigoo, anak ini,” ibu memukul pantat Ahra sebelum berjalan menuju dapur yang letaknya tidak jauh dari ruang tamu.

Ahra menatap Baekhyun yang saat ini sedang duduk nyaman di sofa ruang tamu sambil menyeringai dan mengangkat sebelah alisnya memberikan tatapan merendahkan pada Ahra. Ahra hanya balas menyeringai kemudian duduk di samping Baekhyun dengan nyaman.

“Selain gadis yang buruk kau juga putri yang buruk,” gumam Baekhyun sambil melirik Ahra yang sedang menguap di sampingnya.

“Terserah!” Ahra hanya membalas singkat ucapan Baekhyun tanpa menatap pada Baekhyun.

“Benar kata eommamu, kau terlihat seperti pengemis sekarang,” Baekhyun mengamati Ahra dari atas hingga bawa dan menyeringai geli melihat penampilan Ahra. “Dan apa yang terjadi dengan matamu yang jelek itu? Sekarang matamu jauh lebih mirip dengan mata kodok,” Baekhyun mengangkat dagunya menunjuk pada kedua bola mata Ahra yang membengkak.

“Aku rasa itu bukan urusanmu Byun Baekhyun-sshi,” Ahra menggunakan bahasa formal sambil menatap sebal ke arah Baekhyun.

“Jadi begini sikapmu pada calon suamimu?” Baekhyun menatap Ahra tajam, Ahra tiba-tiba merasa tenggorokannya tersedak begitu mendengar kata ‘calon suami’ keluar dari bibir Baekhyun.

“Hentikan omong kosongmu itu, Byun Baekhyun!” Ahra menatap tajam pada Baekhyun sambil mencoba memberikan tinju di dada Baekhyun, akan tetapi ternyata langkah Ahra masih pelan dibanding langkah Baekhyun yang telah menangkap tangan Ahra dengan satu tangannya.

“Tidak ada kekerasan, Ahra-yaa!! Bahkan sebelum pernikahan,” Baekhyun mendekatkan wajahnya ke wajah Ahra dan mengucapkan kata-kata tersebut seolah bisikan di telinga Ahra.

“Aigoo, anak muda zaman sekarang tidak malu-malu menunjukkan kemesraan di depan umum,” suara ibu Ahra membuat mereka saling melepas pandangan canggung, ibu Ahra hanya bisa menggelengkan kepala sambil meletakkan potongan semangka segar di atas meja ruang tamu dan tiga gelas es jeruk.

“Eomma, yang pertama ini bukan tempat umum dan yang kedua kita tidak sedang bermesraan,” Ahra mengacungkan kedua jarinya memberikan isyarat angka dua sambil menatap ibunya.

“Terserah kalian saja, ehm.. Ini sesuatu yang luar biasa bahwa Ahra membawa namja chinggunya ke rumah, rasanya ini pertama kalinya ya kan, Ahra-yaa?” Ibu duduk di sofa berhadapan dengan Ahra dan Baekhyun, kemudian menatap pada Ahra dengan senyuman.

“Sudahlah eomma, aku menyuruh Baekhyun datang kemari untuk menjelaskan hal penting mengenai kami berdua pada eomma,” Ahra kini menatap ibunya dengan tatapan serius membuat ibunya sedikit mengerutkan kening penasaran.

“Hal penting apa yang ingin kau jelaskan padaku, nak Baekhyun?” Ibu memberikan tatapan lembut pada Baekhyun, melihat ibunya berperilaku seperti itu membuat Ahra rasanya ingin memuntahkan isi perutnya.

“Begini ommoni,” Baekhyun bersuara agak gugup kemudian menelan ludah dan meneguk es jeruk di depannya beberapa tegukan, ibu yang melihat tingkah Baekhyun semakin mengerutkan alisnya, heran dengan maksud Baekhyun. “Aku akan menikahi putri ommoni, Park Ahra,” Baekhyun menelan ludah berkali-kali sebelum menyelesaikan ucapannya.

“Mwo?! Menikah? Eonje?” Ibu membelalakkan matanya tak percaya dengan ucapan Baekhyun yang baru saja didengarnya.

“Secepatnya eomma, kita akan menikah secepatnya,” Ahra mengucapkannya tanpa bergetar mencoba untuk mengucapkannya sebiasa mungkin.

“Kenapa sangat mendadak? Jangan-jangan… Ahra-yaa!! Kau hamil?!” Ibu langsung mendekat pada Ahra dan memukul lengan Ahra keras berkali-kali.

“Eomma sakit!” Ahra bangkit dari duduknya dan memberikan tatapan kesal pada ibunya.

“Kau berhak mendapatkannya, bagaimana kau bisa hamil sebelum nikah?! Kau benar-benar membuat eomma malu,” ibu terus memukul lengan dan punggung Ahra semakin keras.

“Eomma hentikan! Kenapa hanya memukulku saja dan tidak memukul namja yang membuatku seperti ini?!” Ahra berteriak pada ibunya sambil menghentakkan kakinya keras, Baekhyun memijat tengkuknya canggung dan berusaha mengalihkan pandangannya dari ibu Ahra.

“Aigoo,” ibu menatap Baekhyun sebentar dan kemudian kembali memukul Ahra lagi. “Dilihat seperti apapun namja itu terlalu keren untuk mendapat pukulan dari eomma,” Baekhyun hampir tertawa mendengar ucapan ibu Ahra, dengan susah payah ia menahan agar tidak tertawa pada suasana seperti ini.

“Eomma, sebenarnya siapa anak kadungmu?!” Ahra berteriak kesal sambil menghentakan kakinya berkali-kali, Baekhyun masih menahan tawa melihat adegan seru di depannya yang mungkin dapat ia saksikan sekali seumur hidup.

***

“Jadi kapan kalian akan menikah?” Ibu menatap lurus pada Baekhyun dan Ahra yang saat ini duduk di meja makan sambil menyantap makanan yang sudah disajikan ibu Ahra beberapa waktu yang lalu. Baekhyun meletakkan sendoknya hendak menjawab pertanyaan ibu Ahra namun ia didahului oleh Ahra.

“Seminggu lagi,” Ahra menjawab singkat sambil terus memakan nasi dan kimchi lobak dengan lahap.

“Seminggu? Apa itu tidak terlau cepat, bahkan eonnimu saat ini masih di Busan,” mendengar Ahra memiliki kakak perempuan, Baekhyun sedikit kaget karena demi Tuhan dia sama sekali tidak tahu apapun tentang Ahra walaupun Baekhyun sudah mengenal Ahra kurang lebih empat tahun, ya walau dengan hubungan yang kurang atau bahkan sangat tidak baik.

“Biarkan saja, kalau eonni tidak bisa datang ya biarkan eonni tidak datang. Kita hanya akan mengadakan upacara kecil di gereja dengan hanya mengundang beberapa orang tanpa mengadakan pesta pernikahan,” Ahra menjelaskan dengan nasi yang masih ada di dalam mulut dan masih dalam usaha memasukkan kimci lobak lebih banyak ke dalam mulutnya.

“Aigoo anak ini,” gumam ibu sambil melihat tingkah Ahra tidak percaya, sebenarnya Baekhyun juga merasa terganggu melihat tingkah Ahra namun ia mencoba menahannya karena sekarang ia sedang berhadapan dengan ya sebut saja calon mertuanya.

“Iya ommoni, kita hanya akan mengadakan upacara kecil di gereja tanpa pesta karena kita menganggap hal tersebut tidak perluh,” ucap Baekhyun sambil menunjukkan senyuman menawannya pada ibu Ahra.

“Walaupun kalian menikah hanya karena kesalahan bodoh, kalian tetap harus merayakan pernikahan kalian dengan pantas karena itu merupakan sesuatu yang terjadi sekali seumur hidupmu,” ibu melembutkan suaranya, entah kenapa kata-kata ‘sekali seumur hidup’ membuat Baekhyun dan Ahra tersedak di saat yang bersamaan.

“Uhuuuk uhuk, apa yang ibu bicarakan? Yang jelas kami hanya akan mengadakan upacara tanpa pesta. Titik,” Ahra menepuk dadanya pelan ketika berbicara.

“Terserah kalian saja,” ucap ibu akhirnya menyerah dan lebih memilih melanjutkan makan siangnya.

“Sekali seumur hidup,” Baekhyun bergumam sambil menelan pelan makanan yang ada didepannya. Sebenarnya Ahra juga begumam hal yang sama, ia memikirkan apakah menikahi Baekhyun adalah hal yang tepat karena ia yakin ia tidak ingin menjalani sisa hidupnya bersama Baekhyun dengan status nyonya Byun.

Di tengah kegalauan yang dirasakan Ahra tiba-tiba, “Hueeek hueeek!” Ahra merasakan isi perutnya berputar, iapun segera berlari menuju toilet diikuti oleh Baekhyun di belakangnya.

***

“Ah~ apa kau yakin menikahiku adalah hal yang tepat?” Baekhyun mengayunkan tangannya dan kemudian meletakkannya di belakang kepala sambil berjalan pelan beriringan dengan Ahra di sampingnya.

“Untuk saat ini itu solusi yang paling baik yang bisa kita lakukan, toh.. Kita akan berpisah satu tahun kemudian,” Ya.. Baekhyun dan Ahra memang memutuskan untuk menikah tetapi mereka juga sepakat untuk mengakhiri pernikahan mereka setelah satu tahun setelah bayi di dalam perut Ahra lahir dengan sehat.

“Kau benar, tapi seperti yang dikatakan oleh eommamu.. Pernikahan merupakan kejadian sekali seumur hidup,” Baekhyun menatap Ahra dan menghentikan langkahnya.

“Apa boleh buat?! Apa kau mau selamanya bersamaku?!” Ahra mengangkat bahunya dan memberikan tatapan tajam pada Baekhyun yang saat ini memberikan ekspresi ‘what?! Itu tidak mungkin’ pada Ahra.

“Tentu saja aku tidak mau!! Bagaimana aku bisa menghabiskan seluruh hidupku yang berharga dengan yeoja egois keras kepala sepertimu,” ucap Baekhyun dengan nada khasnya yang menjengkelkan.

“Yaa Baekhyun-aah!! Seharusnya kau berkaca lebih dulu sebelum berkata seperti itu!” Ahra berteriak pada Baekhyun.

“Untuk apa? Untuk melihat bahwa aku lebih keren darimu?” Baekhyun mengakat sebelah alisnya memberikan tatapan menggoda pada Ahra yang membuat Ahra demi Tuhan ingin sekali menumpahkan isi perutnya di wajah Baekhyun.

“Brengsek!” Ahra mengacungkan jari tengahnya sambil mengeluarkan lidahnya mencoba mengacuhkan ucapan Baekhyun.

“Ya!! Bagaimana bisa seorang ibu yang sedang mengandung berkata hal-hal kasar seperti itu?” Baekhyun menaikkan nadanya, walaupun yang diucapkan Baekhyun hanyalah salah satu gurauan sampah tapi Ahra sedikit tercekat mendengarnya.. Ia baru menyadari sebentar lagi ia akan menjadi seorang ‘ibu’.

“Oh Tuhan, dosa apa yang aku perbuat hingga aku harus menjadi ibu di usiaku yang belum genap 20 tahun ini… Di tambah lagi ibu anak dari seorang namja brengsek,” Ahra menengadah ke atas langit menatap langit yang tertutup oleh gumpalan putih awan. Baekhyun hanya menahan tawa melihat tingkah Ahra.

“Sudahlah, jangan banyak mengeluh pada Tuhan.. Justru yang pantas mengeluh itu aku, karena namja setampan dan sekeren aku malah mendapatkan istri yang tidak menarik dengan selerah fasion buruk dan sikap yang tidak jauh buruk, sepertimu,” ucap Baekhyun sambil melirik Ahra dari atas hingga bawah seakan menilai Ahra yang rasanya hanya bisa mendapat tiga poin diantara sepuluh poin yang mungkin diberikan.

“Ah! Hentikan omong kosongmu Baekhyun dan cepat pulang sana!” Ahra mendorong tubuh Baekhyun mendekati mobil mewah facelit mercedes benz c-class bewarna hitam yang terpakir di depan halaman rumah Ahra.

“Baiklah, aku juga ingin pulang,” ucap Baekhyun sambil berbalik menghadap Ahra. “Aku ingin kau besok berdandan lebih baik untuk menemui orang tuaku, walaupun aku yakin seratus persen kau tidak cocok menggunakan dress sexy tapi setidaknya kau sedikit cocok menggunakan dress cute,” Baekhyun meletakkan tangannya di dagu sambil seolah-olah menilai penampilan Ahra.

“Aku hanya akan mengenakan kaos kotor besok! Puas?!” Ahra menatap Baekhyun kesal dan hendak meninggalkan Baekhyun sampai Baekhyun menangkap tangannya dan membuatnya membalikkan badannya menghadap ke arah Baekhyun.

“Aku serius kali ini,” ucap Baekhyun dengan nada dan pandangan serius yang hanya dapat membuat Ahra menaganggukan kepalanya karena, mata bereyeliner tebal itu ketika menatap tajam sungguh menakutkan atau lebih tepatnya sebenarnya mempesona, tapi Ahra terlalu gensi untuk mengakui hal tersebut bahkan dalam hati sekalipun. “Baiklah anak pintar,” Baekhyun kemudian tersenyum dan kemudian mengacak rambut Ahra pelan sebelum berlalu menuju mobil mewahnya dan meninggalkan Ahra.

Untuk beberapa detik Ahra hanya bisa berkedip, terpaku dan kemudian, air mata kembali menetes di pipinya.. Ia teringat Luhan yang sering melakukan hal yang sama padanya, tiba-tiba dadanya terasa sesak karena dipenuhi kerinduannya pada Luhan. “Brengsek! Apa yang dilakukan si brengsek itu padaku? Aku jadi teringat Luhan oppa.”

Tittt tiiit.. Ponsel di dalam saku celana Ahra bergetar, Ahra membuka ponsel tersebut dan menemukan satu pesan masuk dengan nama ‘Si Brengsek Byuntae!’

From; Si Brengsek Byuntae!

Kompres matamu yang bengkak dan jangan menangis lagi, gadis brengsek!

Ahra dengan cepat memainkan jarinya untuk membalas pesan Baekhyun dengan balasan yang sangat singkat.

To; Si Brengsek Byuntae!

Fuck!

***

Keesokan harinya, seperti yang diperintahkan Baekhyun.. Ahra menggunakan dress bunga-bunga selutut bewarna hijau dengan sedikit nuansa kuning. Dress yang menunjukkan lengan itu kemudian di balut dengan cardigan ketat bewarna hijau yang menampakkan lekuk tubuh Ahra dan tentu saja membuat Ahra terlihat lebih feminim dibanding hari biasanya. Tapi Ahra sepertinya terlalu berlebihan untuk mencoba terlihat cute, karena tidak seperti penampilan kesehariannya yang simple dengan lebih banyak rambut dikuncir kuda.. Ahra sekarang terlihat mengurai rambutnya dan menjepit sisi kanan rambutnya dengan jepit bewarna hijau lucu yang lebih cocok digunakan anak TK dibanding gadis yang sudah masuk kuliah. Baekhyun yang melihat penampilan Ahra hanya bisa berkedip-kedip tidak percaya, matanya tertuju pada jepit  di rambut Ahra yang membuat ekspresinya tiba-tiba berubah seperti mau muntah.

“Ya!! Apa yang ada di rambutmu itu?” Baekhyun menunjuk jepit bewarna hijau yang menangkring di kepala Ahra dengan mata yang menyipit.

“Ini? Ini jepit, apa kau tidak tahu?” Ahra memegang jepitnya dan melemparkan tatapan kesal pada Baekhyun karena sepertinya ia tahu arah pembicaraan Baekhyun saat ini.

“Lepaskan itu, kau terlihat menjijikan dengan itu,” seperti yang diprediksi Ahra, Baekhyun selalu mengucapkan hal-hal kasar padanya. Ahra segera melepaskan jepit rambutnya kasar dan kemudian berlalu pergi menuju mobil mewah Baekhyun. Tanpa basa-basi, Ahra membuka pintu dan masuk ke dalam mobil sambil melipat tangan di atas dada.

“Kau bilang aku harus cocok terlihat cute?” Ahra bergumam ketika Baekhyun sudah duduk di kursi pengemudi.

“Kau tadi terlihat menjijikkan dengan sesuatu di atas kepalamu, tapi sekarang kau terlihat.. Ehm.. Sedikit cantik,” ucap Baekhyun sambil menginjak gas hingga menimbulkan suara cukup keras untuk menutupi kata terakhir yang diucapkan Baekhyun.

“Gomawo,” ucap Ahra singkat yang membuat Baekhyun tersedak kaget karena ia mengira Ahra tidak mendengar apa yang diucapkannya. Sebenarnya ketika mendengar Baekhyun mengatakan ia terlihat cantik, pikiran Ahra melayang pada memori dimana Ahra pertama kali makan malam bersama Luhan. Ketika itu untuk terlihat cantik, ia menggunakan dress bewarna pink selutut dan high hell senada. Akan tetapi karena tidak terbiasa menggunkan high hell, Ahrapun terjatuh dan membuat pergelangan kakinya keseleo. Luhan hanya tertawa ketika itu menggoda Ahra sebelum akhirnya mengendong Ahra di punggungnya sampai depan rumah Ahra. Dan sebelum Ahra masuk kembali ke dalam rumah, Luhan meraih tangan Ahra dan mengatakan “Kau terlihat cantik dengan dressmu,” saat itu cahaya tidak cukup terang untuk membuat Ahra melihat wajah Luhan yang sudah memerah. Sejak saat itu setiap ada kesempatan keluar dengan Luhan, Ahra selalu mengenakan dress. Sekarang Ahra sudah memiliki koleksi dress cukup banyak meningat ia cukup sering pergi keluar dengan Luhan. Dan sebenarnya alasan Ahra mengenakan dress hijaunya saat ini adalah karena dress ini satu-satunya yang tidak memiliki kenangan apapun tentang Luhan karena ia baru membelinya tepat sebelum ia mengetahui bahwa ia sedang hamil. Ia berharap dengan menggunakan dress ini, kenangan bersama Luhan tidak akan muncul di kepalanya akan tetapi sepertinya hal tersebut percuma saja karena sekarang ia sudah teringat Luhan. Ia merindukan Luhan, merindukan senyuman lembutnya, merindukan eye smile sempurnanya, merindukan lelucon konyolnya, merindukan sentuhan tangan Luhan di ubun-ubun kepalanya, merindukan semua tentang Luhan.

Ahra menggelengkan kepala, berusaha menghilangkan bayangan Luhan di kepalanya. Dan memulai pembicaraan dengan Baekhyun yang sedang berkonsentrasi menyetir, “jadi dimana orang tuamu tinggal?”

“Di Seoul,” jawab Baekhyun singkat.

“Orangtuamu tinggal di Seoul dan kau tinggal di apartement di kota yang sama, wow Baekhyun! Kau memang brengsek kaya raya,” Ahra mengatakannya dengan nada mengejek yang membuat Baekhyun hanya menyeringai kecil.

“Itu lah gunanya kau punya uangkan?” Baekhyun melirik Ahra sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Nae.. Kau benar.. Kau memang seorang brengsek ByunBaek!” Ahra memandang Baekhyun dengan tatapan ‘dasar anak mama’.

“Terserah padamu, chagiya,” ucap Baekhyun dengan nada manja tanpa melihat Ahra dan hanya melihat lurus ke depan.

“Chagiya? Jangan panggil aku seperti itu!” Ahra menatapa Baekhyun dengan tatapan tajam.

“Lalu kau ingin aku panggil apa? Aku ingin kita terlihat seperti pasangan kekasih di depan ibuku, aku ingin ibuku tidak tahu bahwa kau sedang hamil,” ucap Baekhyun dengan nada serius, walaupun Baekhyun tidak sedang menghadap Ahra tetapi Ahra bisa merasakan tatapan Baekhyun juga serius saat ini.

“Oh shit! Baiklah, panggil aku chagiya!” Ahra akhirnya menyerah dan membiarkan Baekhyun memanggilnya ‘chagiya’ walau sebenarnya ia merasa mual tiap Baekhyun mengucapkan itu.

“Baiklah chagiya,” Baekhyun kini merubah nada bicaranya menjadi nada menggoda seperti biasanya.

***

Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya Ahra dan Baekhyun sampai di sebuah rumah mewah dengan tembok bernuasa batu bata dan pagar warna hitam yang mengelilinginya. Melihat betapa besar rumah Baekhyun, Ahra hanya bisa bergumam ‘wow! Si brengsek ini memang benar-benar seorang pangeran kaya raya. Sepertinya aku tidak salah menikahi namja’ dalam hatinya.

Baekhyun berjalan mendekati pagar kemdian memencet bel di samping pagar, “Naya! Cepat buka pintu!” Baekhyun berteriak pada seseorang yang tidak diketahui Ahra dan beberapa detik kemudian pagar terbuka. “Cepat, masuk,” Baekhyun menggandeng tangan Ahra dan membawanya masuk.

“Baekhyun-ahh, aku tidak menyangkah kau sekaya ini,” Ahra memandang penuh kagum ke halaman rumah Baekhyun yang indah dan luas, halamannya dipenuhi rumput hijau dan beberapa pohon besar, bunga-bunga yang masih menguncup, kursi taman, sebuah ayunan, dan gazebo bernuasa klasik berwarna putih dengan detail-detail pahatan berkelok-kelok.

“Jaga mulutmu jangan sampai berliur ketika masuk ke dalam, karena itu akan sangat memalukan,” Baekhyun berbicara ketus dan membuat Ahra segera menutup mulutnya yang membuka lebar karena kagum.

“Dasar brengsek!” Ahra memukul lengan Baekhyun kesal.

“Aku bilang tidak ada kekerasan,” Baekhyun memang tangan Ahra menahan Ahra untuk tidak memberikan pukulan lagi di tubuhnya. Ahra masih memandang kesal pada Baekhyun sampai suara melengking mengagetkan mereka.

“Ya putraku Baekhyun~ kau datang,” seorang wanita setengah baya dengan dandanan menor, lipstik merah dan bedak tebal serta baju serba bulu-bulu dipenuhi mutiara di sekitarnya, membuka tangannya lebar menuju Baekhyun dan kemudian memeluk Baekhyun erat. “Sudah lama kau tidak datang, eomma sangat merinduhkanmu,” wanita itu memberikan ciuman di kedua pipi dan kening Baekhyun, meninggalkan jejak bibir di wajah Baekhyun yang membuat Ahra merasa geli melihatnya.

“Eomma hentikan! Aku bilang jangan menciumku seperti itu,” Baekhyun melepaskan paksa pelukan eommanya dengan kekuatan penuh dan eommanya hanya tertawa sambil menekan hidung Baekhyun.

“Dasar namja, kau pasti lebih menginginkan ciuman HOT dari yeoja cantik di sebelahmu ini kan dibandingkan ciuman eomma? Jadi, siapa yeoja cantik ini?” Eomma mengacak rambut Baekhyun sebelum menatap lembut pada Ahra, Ahra kemudian membalas dengan tersenyum hangat pada eomma.

“Dia tidak cantik eomma, dan dia adalah calon istriku,” ucap Baekhyun datar sambil memijit pelan tengkuknya canggung setelah mengucapkan kata ‘calon istriku’.

“Mwo?! Calon istri?! Cepat bawa dia masuk ke rumah, appa harus segera tahu!” Eomma menarik tangan Ahra dan kemudian dengan langkah cepat membawa Ahra masuk ke dalam rumahnya, Ahra menoleh ke arah Baekhyun memberikan pandangan bingung namun Baekhyun hanya membalasnya dengan tersenyum kecil.

“Yeobo!! Yeobo!!” Eomma berteriak, membuat suaranya menggema di rumah besar dengan gaya klasik bernuansa coklat keemasan dengan sentuhan warna hitam pada hampir semua perabotannya.

“Yeobo, suaramu itu terlalu berisik,” seorang namja setengah baya dengan beberapa uban di rambutnya yang tersisir rapi, dan kaca mata berframe hitam di depan mata kecilnyanya yang sangat mirip dengan mata Baekhyun, mendekat ke arah Eomma sambil memasukkan kelingkingnya ke telinga seakan berusaha mengambil sesuatu dari dalamnya. Sikap sombong dan cuek yang diperlihatkan namja setengah baya tersebut entah mengapa membuat Ahra seakan melihat gambaran Baekhyun beberapa tahun lagi.

“Yeobo! Kau harus tahu! Baekhyun membawa calon istrinya!” Eomma dengan semangat penuh mendorong Ahra mendekat pada Appa. Appa hanya memberikan pandangan tajam menilai Ahra dari atas sampai bawah, sikapnya yang seperti ini mirip sekali dengan Baekhyun pikir Ahra. Sekarang Ahra jadi tahu darimana asalnya sikap sombong Baekhyun.

“Tidak buruk,” appa memegang dagunya dengan tangan kanan dan tangan kiri di dada.

“Appa masih belum melihat sikapnya yang buruk, dia benar-benar yeoja yang buruk,” Baekhyun mengikti gerakan appanya dan menggelengkan kepala, Ahra hanya menatap tajam pada Baekhyun penuh dengan rasa kesal. Bagaimana mungkin Baekhyun bisa mempermalukan Ahra di depan kedua orang tua Baekhyun seperti itu.

“Dasar dua namja jahat ini!” Eomma mendorong Baekhyun dan appa menjauh. “Ngomong-ngomong, siapa namamu, nak?” Eomma menoleh pada Ahra dan memandangnya lembut.

“Ahra omonim, Park Ahra,”  ucap Ahra sambil tersenyum semanis mungkin.

“Nama yang cantik untuk yeoja yang cantik,” eomma memencet hidung Ahra dan tersenyum lembut, Ahra merasa tersanjung dipuji cantik oleh eomma Baekhyun karena demi Tuhan bahkan ibunya sendiri tidak pernah memujinya cantik.

“Kamsahamida ommonim,” Ahra membungkuk pada eomma dan tersenyum senang.

Baekhyun menatap Ahra yang sedang tersenyum malu-malu pada eommanya, ia bergumam pelan, “setidaknya ini berjalan dengan baik.”

***

“Apa? Kalian akan menikah akhir minggu ini?” Eomma meletakkan cangkir tehnya dan menatap Baekhyun dan Ahra dengan tatatapn tidak percaya.

“Nae eomma, aku dan Ahra sudah berpikir untuk menikah jadi lebih cepat kami menikah maka lebih baik,” Baekhyun mengucapkannya dengan tenang seakan keputusannya menikahi Ahra bukan karena keterpaksaan.

“Baiklah kalau kalian sudah berpikir seperti itu,” appa menegakkan punggungnya di kursi nyamannya dan kemudian menatap Baekhyun lekat.

“Tapi apa kalian sudah mempersiapkan semuanya?” Eomma memandang Baekhyun-Ahra masih dengan tatapan bingung.

“Kami hanya mengadakan upacara kecil di gereja tanpa mengadakan pesta, eomma,” Baekhyun meminum tehnya pelan berusaha mengurangi rasa kering di tenggorokannya yang muncul tiba-tiba.

“Tidak bisa!! Kalian tidak boleh mempermainkan pernikahan! Kalian harus mengadakan pesta pernikahan apapun alasannya,” eomma dengan nada melingkingnya memberikan penekanan pada setiap kata yang diucapkannya.

“Eomma sudahlah, karena ini pernikahan yang diputuskan dengan cepat maka tidak perlu ada pesta pernikahan,” Baekhyun masih bersih keras dengan pendapatnya.

“Benar kata eommamu, pernikahan harus dilakukan dengan benar karena itu sekali seumur hidup,” lagi-lagi kata-kata ‘sekali seumur hidup’.. Kenapa semua orang punya pikiran yang sama tentang pernikahan pikir Baekhyun dan Ahra dalam hati mereka.

“Baiklah, tapi kita tidak punya banyak waktu untuk mempersiapkan itu semuanya sampai akhir minggu,” Baekhyun memandangan kedua orang tuanya berharap mereka akan menyerah menyuruh mereka mengadakan pesta pernikahan.

“Tenang saja, serahkan semua pada eommamu ini,” eomma mengedipkan sebelah matanya kemudian bangkit berdiri. “Ayo Ahra, ada banyak hal yang harus kita lakukan!” Eomma menarik Ahra yang masih bingung dengan apa yang dibicarakan eomma, ia menoleh ke arah Baekhyun yang hanya tersenyum sambil mengisyaratkan dengan tangannya untuk pergi saja.

-bersambung-

Anyeong cinggudeul~

Gomawo untuk cinggu yang menyempatkan waktu untuk baca FF ini, dan memberikan komentar manis untuk FF ini… aku juga berterima kasih untuk para pembaca yang mungkin gg sempat ninggalin komentar…. bagi yang khawatir kalau part selanjutnya bakal aku protect, tenang saja karena sejauh ini aku gg ada rencana mau protect karena kalian baca az aku udah seneng^^

Dan aku minta maaf kalau aku gg sempat balas komentar kalian satu persatu baik di sini atau di twitter, karena akhir-akhir ini aku sering pusing dan susah tidur, padahal mata pandaku sudah mulai melebar melebihi punya Tao.. hahaha^^  jadi aku agak sering linglung dan lupa hal2 kecil… sekali lagi, aku minta maaf ya^^

Oh ya, maaf kalau menurut kalian setiap chapter di FF ini terlalu pendek.. karena pas itu aku nulisnya di HP… kalau di HP kan berasa tulisannya udah panjang aja.. hahahaha… dan untuk para cinggudeul yang bingung dengan latar ceritanya, tenang aja… semakin kalian baca FF ini semakin kalian ngerti latar ceritanya, dari kisah awal Baek-Ahra bertemu, latar keluarga Baek dan Ahra, sampe pendidikan mereka berdua pasti kejawab dengan seiring cerita berjalan… jadi tenang aja… dan tetap setia baca kelanjutan FF ini ya… hehehe… pi aku tetep mau minta maaf buat kalian yang agak kebingungan dengan latar ceritanya… mungkin kalau di akhir FF ini kalian masih bingung, aku bakal jelasin lebih detail lagi di part special mengenai kehidupan Baek-Ahra dan para cast lain di FF ini… hehehe^^

Semoga hari kalian selalu menyenangkan…

Anyeeeeonggg~

273 responses to “[Freelance] Having Baby with My Enemy Mr. Byun Baekhyun (Chapter IV)

  1. Hah ini keren bighit. Hahaha pasangan kocak bin aneh nyeleneh ya baekhyun sama ahra hahaha.
    Kak thor aku ijin lanjut baca lagi

  2. Ini nih.. yang aku suka dari tulisan kakak menceritakan nya dengan alur.. satu persatu.. dan pas banget bacanya di hp duh.. okeh banget deh kakak :*

  3. Eh gila, Baekhyun emang deh ya lu emang gila bang ㅋㅋㅋ Itu si Ahra lagi kena omel plus pukul emaknya, si Baekhyun bukannya nolongin apa kek, ini malah ketawa ._. Dasar pasangan gila Baek-Ahra ㅋㅋㅋ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s