[Freelance] DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 2)

LUSERADBM3

DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 2)

Author :: Sangheera
Title :: Devil Beside Me (Chapter 2)
Cast :: Luhan of EXO as Angel,  Sera (OC) as Devil

Support Cast :: Angel’s line – Suho, Xiumin, Chen, Lay, Kyungsoo.

Devil’s Line – Kris, Baekhyun, Chanyeol, Kai, Sehun, Tao
Genre :: Romance, Fantasy
Length :: Multi Chapter
Rating :: PG-17

Disclaimer :: Fanfict ini adalah hasil dari kerja keras neuron di otak kanan author sendiri, jadi mohon jangan diplagiat yaaa…

Note :: Mohon diingat bahwa ini hanya fanFICTION, sekali lagi ini hanya FICTION. FIKSI. Hasil dari khayalan author. Jadi mohon untuk tidak menyangkutpautkannya dengan kepercayaan yang kalian anut ya. It’s just for fun… DISLIKE? DON’T READ!

 

-o0o0o0o-

When I fell in love, there’s no turning back

(EXO – Angel)

 

 

:: LUHAN POV ::

Aku mengawasi Suho yang sedari tadi sibuk membuat salad untuk makan malam kami. Wajah Suho terlihat tenang dan teduh seperti biasa, tapi aku tau ada gurat kekhawatiran disana. Aku sudah mengenalnya hampir seumur hidupku. Tidak sulit bagiku untuk menerka-nerka apa yang ada dibenaknya.

“Aku tau kau datang kesini tidak hanya sekedar mampir, Suho. Ada sesuatu yang ingin kau bicarakan, kan?”

Tangan Suho yang sedang mengaduk salad terhenti sejenak, kemudian ia berbalik dan menaruh semangkuk salad itu kehadapanku. Mataku menatap salad dan Suho bergantian, kemudian senyumku mengembang.

“Aku tahu, Suho. Kau ingin kita makan dulu, eh?”tebakku dengan setengah tertawa.

Suho nyengir. “Kau selalu tau, Luhan. Kurasa saladnya terlalu enak untuk dilewatkan…”

See. Mudah sekali menebak maksud hati Suho.

“Yah, kau benar. Melihat nafsu makanmu, aneh sekali badanmu tidak mekar seperti badan Xiumin. Aku selalu merasa heran, kemana sebenarnya makanan-makanan itu pergi.”

Suho terkekeh dan mengusap kepalaku lembut.

Tidak pernah pupus rasa hormatku pada malaikat yang ada dihadapanku ini. Ialah sosok pemimpin sempurna bagiku. Penyelamat, pembimbing bahkan pengasuhku sejak aku kecil. Suho bukanlah malaikat biasa. Dialah malaikat tertinggi. Raja kaumku.

“Kau senang tinggal didunia manusia, Luhan?”tanya Suho disela kegiatan makannya.

Aku mengangguk-angguk sambil mengunyah salad buatan Suho. Seperti yang Suho bilang saladnya memang terlalu enak untuk dilewatkan. Yah, walaupun masih kalah dengan buatan Kyungsoo, koki kerajaan kami. Oh, Tuhan, tiba-tiba aku merindukannya.

“Tidak berminat kembali kedunia asalmu?”tanya Suho lagi.

Aku menggeleng,”Tidak untuk saat ini, Suho. Tapi mungkin nanti, aku rindu masakan Kyungsoo.”

Suho tertawa kecil.

“Apa ada masalah disana, Suho?”

“Tidak,”Suho menggeleng. “Aku hanya mencemaskanmu, Luhan.”

Aku meletakkan garpuku dan menatap Suho bingung. “Mencemaskanku?”beoku tak mengerti. Kurasa aku terlalu baik-baik saja untuk dicemaskan.

“Ne. Soal gadis kaum iblis itu…” Suho menatapku lurus-lurus.” Aku tidak tau apa motif gadis iblis itu padamu, Luhan. Dan aku sangat kecewa karena kau tidak berhati-hati menghadapinya.”

“Aku bisa mengatasinya, Suho. Kau tidak perlu cemas…”

“Aku tahu. Tapi aku ragu kau bisa mengatasi perasaanmu pada gadis itu, Luhan. Dia iblis. Jurang perbedaan terbentang jelas didepanmu, tapi aku sedih kau mulai tak mau melihatnya. Aku datang untuk memperingatkanmu. Kumohon berhati-hatilah. Jaga jarak dengannya. Jangan biarkan dia mengusikmu lagi. Aku tidak ingin kau terluka.”

“Suho…”

“Luhan, kau tahu apa yang aku sukai darimu? Sifat manusiawimu yang sangat jarang aku temui dimiliki oleh seorang malaikat. Tapi, hal itu mulai membuatku cemas, Luhan. Kau mulai sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah.”

Suho menggenggam tanganku erat. Matanya memancarkan kecemasan yang sarat.

“Kembalilah kedunia kita, Luhan. Disana kau lebih aman. Paling tidak, gadis itu tidak akan semudah itu menemuimu. Gadis itu berbahaya…”bujuk Suho.

Aku tertegun mendengar kata-kata Suho. Entah mengapa aku merasa sulit. Kata-kata Suho tadi rasanya bukanlah hal yang mudah kulakukan.

“Aku benar-benar minta maaf, Suho. Aku tidak bisa…”

Dimana Sera?

“Nugu? Hwang Sera? Kayaknya nggak ada nama itu deh Lu dikelas kita…”

Aku mengeryit menerima jawaban dari Dongwoo, teman sekelasku. Padahal dia adalah fans berat gadis itu dan selalu mengoceh tentang betapa cantiknya Sera dan betapa irinya dia padaku karena Sera secara khusus hanya mau bicara denganku. Tapi kali ini, kenapa dia terkena amnesia mendadak begini?

Tapi ternyata bukan hanya Dongwoo, semua teman sekelas bahkan teman satu sekolah dan para guru seolah berkomplot menghapus Sera dari memori mereka. Nama Sera  pun tidak tercantum lagi didaftar absensi.

Penghapusan jejak yang disengaja.

Ada apa ini?

Kemana gadis itu sebenarnya?

Kemarin adalah hari minggu dan aku merasa ada yang aneh karena dia tak datang keapartemenku seperti biasa. Mungkinkah dia sudah menyerah untuk mendapatkanku? Mungkin. Tapi entah kenapa hal itu sama sekali tidak membuatku lega. Aku malah terus menantinya seperti orang bodoh dan berharap mungkin besok bisa melihat sosoknya disekolah.

Tapi ternyata apa? Nihil. Sera tidak muncul disekolah. Dia tidak ada dimanapun.

Seharian aku mencarinya. Bahkan aku tidak malu bertanya pada iblis lain yang kutemui. Aku gelisah dan tidak bisa menghentikan keinginanku untuk mengetahui dimana gadis itu. Sekuat apapun aku berusaha menghentikan kegilaanku untuk menemukannya, aku semakin tidak sanggup.

Aku tertawa. Rasanya miris karena sikapku yang menyedihkan. Seorang malaikat yang kebingungan mencari iblis, eh? Benar-benar aneh. Pasti ada yang salah dengan diriku.

Aku semakin putus asa saat mengingat nasehat Suho dua hari lalu. Aku mulai merasa kata-kata Suho benar. Aku harusnya berhati-hati. Aku harusnya tidak percaya semudah itu pada seorang iblis karena mereka adalah makhluk munafik yang penuh tipu daya. Aku harusnya tidak mengacuhkan jurang perbedaan yang membentang diantara diriku dan Sera.

Aku harusnya tidak menikmati saat-saat bersamanya. Harusnya aku tidak menikmati sentuhan dan hembusan nafasnya. Harusnya aku tidak menikmati caranya memanggil namaku. Harusnya aku tidak menikmati suara gelak tawanya. Harusnya aku tidak menikmati ekspresi wajahnya. Dan harusnya aku tidak merindukannya seperti ini. Tidak seharusnya aku begini.

Luhan, kau sungguh menyedihkan.

Aku bahkan sudah menolak mentah-mentah saran orang yang paling aku hormati dalam hidupku. Demi apa? Hanya demi gadis iblis yang tidak jelas apakah dia menipuku atau tidak.

Aku memejamkan mataku dan menyandarkan tubuhku kepinggir tempat tidur. Beginikah akhirnya? Mungkin namaku akan dicatat dalam sejarah sebagai malaikat bodoh yang terjerat pada rayuan iblis wanita yang sangat cantik. Yah, kedengarannya lumayan sebagai pembelajaran.

Tapi…

Bagaimana kalau ini ulah Suho?

Jelas-jelas dia tidak menyukai Sera.

Bisa saja kan dia memberi perisai disini dan disekolah sehingga Sera tidak bisa menemuiku.

Aku bangkit dari dudukku dan mulai meraba udara sekitar. Aku mengembangkan sayapku dan melayang diluar apartemenku. Tapi tidak ada apapun. Atau mungkin terjadi sesuatu pada Sera?

“Oh, Tuhan, hentikan Luhan. Kau ini sebenarnya kenapa?!”rutukku. Aku melesat kembali kedalam kamarku. Bodoh sekali seorang malaikat bisa begitu kelabakan hanya karena seorang iblis. Bahkan sampai menuduh sembarangan tuan-nya seperti itu. Terlintas lagi wajah kecewa Suho saat mendengarku yang lebih memilih bertahan didunia manusia daripada kembali bersamanya.

Eeeergh, tapi aku ingin Sera sekarang juga.

“Sera!!!”teriakku pada udara kosong. Kupikir mungkin Sera bisa mendengarku. Agak bodoh memang. Tapi, aku tidak peduli. Aku begitu frustasi karena gadis itu.

“Datanglah!! Kau dengar aku, huh?! Datanglah kemari dimanapun kau berada, kalau tidak aku akan membencimu selamanya!! SERA!!!”

Tak ada jawaban.

Apartemenku masih tetap sunyi. Aku sendirian. Berteriak-teriak seperti orang bodoh karena tidak sanggup menahan rindu. Aku ingin bertemu Sera. Sekarang juga. Tak bisa ditawar-tawar.

“Sera lihat!! Aku menginginkanmu. Aku menjadi milikmu sekarang. Bukankah ini yang kau mau?! Jadi temui aku, please!”

Mataku memanas.

Perlahan aku disergap rasa malu dan putus asa yang luar biasa. Demi apa sang malaikat Luhan mengiba seperti ini pada seorang iblis, huh? Demi apa…?

Aku terpuruk dilantai, airmataku berjatuhan. Bagus, Sera. Kau hebat karena sudah membuat seorang malaikat menjatuhkan harga dirinya hanya untuk dirimu.

“Tidak. Bukan ‘hanya’. Kau berarti, Sera. Kumohon… aku ingin bertemu denganmu. Kau dimana?”lirihku.

Srak.

“Luhan…”

Sepasang sayap hitam melingkupi tubuhku. Lalu wajah itu, suara itu, sentuhan itu, pembawaan itu, tergambar sempurna didepanku. Aku menelusuri wajahnya, berharap ini bukan ilusi.

“Luhan, ada apa? Kenapa menangis?”

Bukan. Ini bukan ilusi.

“Luhan…”

Aku memejamkan mataku saat Sera menghapus airmata yang jatuh dipipiku dengan buku-buku jarinya yang halus. Menikmati tiap sentuhan yang begitu aku rindukan. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan begitu tergila-gila pada makhluk mempesona ini dan aku sama sekali tidak menyesalinya.

“Kau menangisi jiwa yang pergi lagi atau menangisi diriku, Luhan?”tanya Sera. Sebuah kecupan lembut mendarat dikeningku.

“Menangisimu…”jawabku pelan.

Aku merasa Sera tersenyum mendengar jawabanku. Kemudian sebuah ciuman mendarat dikelopak mataku yang terpejam.

“Kenapa? Kau merindukanku?”

Aku membuka mata dan melihat wajah Sera yang begitu dekat dengan wajahku. Senyumnya mengembang dan aku melayangkan ciuman singkatku kebibirnya sebelum menjawab,”Ya. Aku merindukanmu.”

Mata Sera mengerjap tak percaya. Aku tertawa geli melihat reaksinya. Untuk pertama kalinya aku menciumnya terlebih dulu dan aku sangat puas dengan reaksinya.

“Luhan…”

“Apa? Hm?”

Kuulaskan kembali ciumanku kebibirnya, kali ini ciuman yang lebih dalam dan intens. Sera membalas. Aku bisa merasakan kegembiraan ditiap gerak bibirnya. Sambutan yang sangat meriah dari Sera yang membuatku tidak mau sedikitpun untuk melepasnya. Dia milikku sekarang. Harus menjadi milikku.

Aku melingkarkan tanganku dipinggang Sera yang kecil. Menarik gadis itu lebih rapat ketubuhku. Aku bisa merasakan jemari lentik Sera mengirimkan sengatan-sengatan kecil ditengkuk dan kepalaku. Sera menegakkan tubuhnya, menumpu tubuhnya pada lutut dan kaki bagian bawahnya, membuatku harus mendongakkan kepala untuk terus menciumnya. Gadis itu memaksaku membuka mulutku demi mendapatkan ciuman yang lebih dalam.

Sera selalu mengawali ciuman-ciuman kami sebelumnya. Tapi, kali ini aku tidak membiarkannya memimpin. Aku mendorong tubuhnya hingga terbaring kelantai kamarku dan menindihnya dibawah tubuhku. Aku tidak tahu bagaimana caranya menghentikan bibirku yang terus melumat bibir lembut Sera. Aku hanya tahu bahwa aku menginginkan gadis ini lebih dari apapun.

“Ya! Luhan!”Sera mendorong tubuhku hingga ciuman kami terlepas. Keningku mengeryit bingung.

“Berikan aku kesempatan bernapas, babo! Kau mau membunuhku ya?! Ish, aku tidak menyangka kau sekejam ini saat berciuman,”bibir Sera mengerucut kesal karena ulahku.

“Siapa suruh kau meninggalkanku seharian penuh kemarin, cantik,”candaku. “Lagipula kau ini aneh sekali. Kau kan bernapas bukan karena butuh. Kita bernapas hanya karena otomatis paru-paru kita bergerak memompa udara, kan? Sekedar formalitas. Aku yakin kita berciuman tanpa henti selama sebulan pun kau tak akan mati.”

Mata Sera membulat lucu,”Eh? Jincha?”

“Ne. You wanna try?”tanyaku menggoda. Aku sungguh tidak keberatan jika harus menciumnya sebulan full  tanpa henti, kekeke…

“Ish! Tentu saja tidak!” Sera melayangkan pukulan kedadaku. “Aku heran kenapa ada malaikat sepertimu!”

“Memangnya kenapa dengan diriku?”

“Perayu!”

“Mwo? Hahahaha…”tawaku meledak seketika.

“Kenapa tertawa? Aku sedang tidak melucu, Luhan,”protes Sera.

Aku begitu gemas dengan iblis manis satu ini, jadi kurengkuh saja dia kedalam pelukanku. Sera menggerutu, membuat tawaku semakin menjadi.

Tanpa sengaja aku melihat memar dileher Sera. Kulepas pelukanku dan melihat kembali lukanya dengan seksama. Bekas cekikan? Aku mendongak menatap Sera yang menghindari tatapanku.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa mendapat luka seperti ini?”

“Gwaenchana…”gumamnya pelan tapi tidak kuhiraukan. Aku menyentuh lukanya dan dia berjengit kecil. Kulihat ia menahan sakit. Ini bukan luka biasa. Kami adalah makhluk yang tidak rapuh seperti manusia. Hanya kekuatan yang sangat besarlah yang mampu melukai tubuh kami.

“Apa karena aku?”

“Bukan.”

Dia berbohong. Aku menekankan jariku kelukanya. Dengan cepat memori-memori luka itu menyerbu masuk keotakku. Ini adalah kemampuan kecilku, tak kusangka bisa kugunakan juga pada iblis. Seseorang dengan kekuatan yang sangat besar, yang kuyakin setara dengan Suho, telah mencekik Sera. Aku bisa merasakan ketakutan gadis ini saat mata lelaki itu menatapnya. Dia kah raja para iblis?

“Apa yang kau lakukan, Luhan?”desis Sera yang menyadari aku melakukan sesuatu pada lukanya.

“Menanyakan pada lukamu, Sera,”jawabku jujur. “Aku jadi mengerti kenapa kau menghilang seharian kemarin. Diakah yang menahanmu?”

Sera menghela napas berat,“Bukan. Bukan Tuan Kris tapi Ayahku. Dia tidak suka aku datang kepadamu, Luhan. Jadi seharian kemarin dia mengunciku dikamar.”

Aku shock mendengar jawabannya. “Mianhae, karena aku…”

“Ani,”potong Sera. “Aku hanya tidak mengerti, Luhan. Sebenarnya  apa yang terjadi pada kita? Aku begitu kalut saat mendengar kau memanggilku. Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya, kan? Dan tanpa sadar aku sudah menerobos perisai yang ayah buat dan menyeberang kedunia manusia untuk bertemu denganmu…”

Kening Sera mengeryit. Wajahnya nampak gelisah. Aku merengkuh kembali tubuh Sera kedalam pelukanku. Berusaha membuatnya nyaman. Mendengar kata-kata Sera, hanya ada satu hal yang terlintas dipikiranku. Satu hal yang aku yakin adalah benar.

“Sera, mungkinkah kita telah jatuh cinta?”tanyaku ditelinganya.

Sera melepaskan pelukanku dan menatapku sangsi sebelum akhirnya menggeleng.

“Wae?”tanyaku lagi sebagai respons jawabannya.

“Kau tahu aku, Luhan. Aku wanita bangsawan dan kami sudah ditakdirkan menjadi pelayan setia rajaku. Secara teknis jiwa dan ragaku ini miliknya.”

“Oya? Tapi dalam prakteknya, kau sekarang ada disisiku kan, bukan disisi rajamu itu.”

“Mmm, yah, itulah yang dirisaukan ayahku dan Baekhyun. Aku agak sedikit berbeda, Luhan.” Sera meringis.

“Baguslah!”seruku tanpa sedikitpun menyembunyikan kegembiraanku. “Aku malas kalau harus bersaing dengan rajamu.”

“Eh? apa maksudmu?

“Apa lagi? Karena aku jatuh cinta padamu…”

Sera membelalakkan matanya. “Luhan…”

“Kau pikir aku tidak bisa jatuh cinta padamu?”

Sera tampak gusar. “Tapi, Luhan…”

“Tidak ada tapi-tapian, Sera. Ini alasan yang paling tepat untuk menjelaskan apa yang terjadi padaku dan kuharap itu juga menjadi alasan yang tepat untukmu.”

“Luhan! Aku ini iblis…”

“Aku tahu, Sera. Tidak perlu kau tegaskan seperti itu.”

“Kita tidak mungkin…”

“Aku hanya ingin kau terus disisiku. Itu cukup.”

“Kau tidak bisa seperti ini, Luhan…”Sera mulai tampak kesal. Aku memeluknya. Mencoba meredakan kegelisahannya.

“Bagaimana mungkin, ha? Malaikat jatuh cinta pada iblis? Kau tahu seberapa konyolnya itu?”

“Aku tidak peduli, Sera. Aku mencintaimu.”

Sera berontak dari dekapanku. “Hentikan, Luhan! Kau bisa mendapat masalah, kaummu tidak akan suka. Kau bisa…”

“Tidak masalah.” Aku merengkuh wajah Sera dan menatap matanya dalam. “Asal aku bersamamu…”

“Luhan, please…”

“Sera, please. Kau ingin aku jadi milikmu, sekarang aku lakukan. Aku bahkan telah dengan senang hati menyerahkan hatiku untukmu, Sera. Seharusnya kau senang kan?”

Sera terdiam. Dia menatapku dengan tatapan kesalnya. Kemudian dengan gerakan lambat, gadis ini memelukku dan berkata dengan suara lembutnya. “Luhan, sejak bertemu denganmu aku punya harapan kecil. Mau dengar?”

“Tentu.”

Sera mengeratkan pelukannya ditubuhku dan bergumam lirih,”Suatu hari nanti aku harap aku bisa menangis, Luhan. Sepertimu.”

:: SERA POV ::

Mataku terbuka seketika.

“Eh? Maaf membuatmu terbangun, Sera. Aku Cuma…”

“Aku tidur?”tanyaku memotong perkataan Luhan.

“Ne. Kau tidur pulas sekali tadi sebelum aku menyentuh pipimu. Maaf…”jawab Luhan dengan tatapan minta maaf.

Aku balas menatapnya dengan tatapan tak percaya. “Pulas katamu?”

“Ne. Kau langsung tertidur seperti bayi setelah aku menyanyi untukmu. Apa ada yang salah dengan itu?”

Ah iya, aku ingat lagu konyol tentang naga ajaib bernama Puff yang dinyanyikan Luhan. Seingatku lagunya terhenti saat Jackie Paper tidak muncul lagi, atau memang saat itulah aku tertidur?

Aku mengerang dan menyurukkan kepalaku kedada bidang Luhan.

“Wae?”tanya Luhan lembut ditelingaku.

“Aku sudah lama sekali tidak tidur…”

“Benarkah?”

“He’em. Mungkin terakhir aku tidur sekitar setengah abad yang lalu, bahkan mungkin lebih…”

“Selama itu?”

“Ne. Aku bahkan sudah melupakan rasanya. Kau memantra-mantraiku, eh?”

Luhan terkekeh. “Aku hanya menyanyikan lullaby, sayang. Sumpah.”

“Ck, kau itu mengerikan Luhan. Jincha!”

Kali ini Luhan tertawa renyah ditelingaku. Ia mengecup puncak kepalaku lembut dan mengelus-elus punggungku. Sensasi menyengat ini, membuatku merasa nyaman. Sejak pertama bertemu Luhan, aku tahu dia berbeda. Wajahnya yang dihiasi airmata hari itu membuatku tertarik. Aku suka aromanya, aku suka wajahnya yang sedikit mengeryit saat kusentuh, aku suka penolakan-penolakan kecilnya yang membuatnya terlihat sangat manis, aku suka senyumnya dan aku suka hal-hal aneh yang terjadi padaku tiap bersamanya, termasuk masalah tidur ini.

Aku suka semua yang ada didiri Luhan. Aku ingin mendapatkannya. Aku ingin menjadikannya milikku. Aku tahu dia tidak akan pernah membuatku merasa bosan dan akan selalu menyenangkanku. Tapi, tak kusangka ia malah jatuh cinta padaku yang entah mengapa malah membuatku galau.

Cinta? Sebenarnya perasaan seperti apa itu? Apakah seorang iblis sepertiku bisa memilikinya?

“Luhan…”

“ya?”

“Kenapa ka—”

Deg.

Kata-kataku terhenti saat kurasakan ada hawa berbeda disekelilingku. Bau mawar yang sangat familiar, hawa jahat yang kurasakan hampir setiap hari dan perasaan benci yang muncul tiap ada didekatnya,tergambar sempurna diinderaku.

“Ada yang datang…”kata Luhan dengan sikap waspada. Tangannya semakin erat memeluk diriku.

“Itu Baekhyun, Luhan. Kakakku. Pura-puralah tidur, aku akan menghadapinya sendiri.”

Luhan menatapku dengan tatapan tak suka.

“Lebih baik kau tidak ikut campur. Baekhyun benar-benar tidak menyukaimu. Aku juga tidak suka jika terjadi keributan diantara kalian. Itu akan menyulitkanku, Luhan. Kau mengerti kan?”jelasku.

Luhan tampak berpikir sejenak, kemudian dengan helaan napas panjang ia mengangguk. Aku pun mengulaskan kecupan kecil dibibirnya dan segera beranjak dari tempat tidur Luhan. Sayapku terkembang menyambut tamu tak diundang malam ini.

“Selamat malam, Sera”

Baekhyun datang beberapa detik kemudian dengan senyum ganjil yang sulit aku pahami. Apa maunya kali ini?

To Be Continued….

 

 

Ahhh… apa maunya Baekhyun kali ini? Merusak suasana aja, hehehe. Ada yang menunggu Chapter 2? Eotte? Suka?

Ini hadiah untuk reader sebagai perayaan berakhirnya liburan panjang author!!

Author mau curhat dikit ya. Tanggal 240214 besok, author udah mulai masuk kuliah. Karena semester ini ambil 24 SKS dan sekarang author juga jadi asisten dosen mata kuliah praktikum (yg membuat author harus hadir dijam matakuliah itu setiap minggu, nungguin praktikum ampe malam, dan mengoreksi selusin laporan mahasiswa yang tebelnya ampe 100an lembar), jadi benar-benar bakal repot kuadrat dikampus. Karena itu, untuk melanjutkannya lagi dengan cepat, author butuuuuuuuuuh banget dukungan dari teman-teman reader semua. Jadi for SIDERS, ayo luangin waktu buat nulis satu-dua kata aja buat author. Ya? Ya?

Terimakasih untuk readers yang uda baca Chapter 1 dan udah meluangkan waktunya untuk menyenangkan author dengan memberi komentar ^o^. Wuidih, ternyata banyak yang suka eaaa. Author senang sekali. Jeongmal gamsahamnida, yeoreobunnn…

Tp, jgn Cuma Chapter 1 ea yg di RCL, Chapter 2 ini juga… hehehe…
Dont Be Siders.

275 responses to “[Freelance] DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 2)

  1. Wah baru nemu nih ff udah baca chap 1 tapi maaf baru komen di part ini gue suka banget ma cerita nih ff beda sama yang lain semoga sera luhan bisa tetep sama sama yah

  2. aduh!!! baca ffnya sampe ngefly masa. wkwkwk,,
    apa lagi di bagian “Kali ini Luhan tertawa renyah ditelingaku. Ia mengecup puncak kepalaku lembut dan mengelus-elus punggungku. Sensasi menyengat ini, membuatku merasa nyaman.”
    ihh.. suka banget bagian itu..
    berkarya terus yaa!!!

  3. alurnya agak kecepetan,_, apa cuma feelingku aja/?
    asal sama kak sangheera gakpapa deh 😀
    tapi tetep seru ceritanya ❤
    keep writing thor 🙂

  4. aku rasa hubungan mreka akan sngat sulit karna perbedaan kehidupan mereka..aihh jdi makin pnsarannn..lanjut baca next part 🙂

  5. Eonni…wow. Aku makin kagum ma Eonni,di tengah2 kesibukan Eonni,tapi masih sempat buat nulis ff. Gak kebayang,pasti Eonni melawan rasa lelah dan kantuk yg berat. Eonni,khamsaheyo…untuk semua waktu dan pengorbanan Eonni. Semangat ya,eon…keep your health,please…

  6. Malaikat jatuh cinta ama Iblis,,, knp Sera gk ngrti cinta pdhl yg sllu ngjer2 Luhan kn dy,,,skrg stlh Luhan brtekuk lutut pdnya,, Sera mlh mlarang,, aneh ni Sera…tp qu suka liat mrka brsama trlihat romantis…

  7. wwaah Luhan secara terang-terangan jjur klau dia jatuh cinta sma Sera… ksian y mreka. hrusx mreka brmsuhan? # aku sedih bgt bca -ProdukGagal- berasa bgt sakit atinya hiks.. 😦 Baekhyun dtg y, psti mw ngambil Sera.. mudh2n dy g dpt mslh deh

  8. finally luhan luluh juga sama sera tapi disaat luhan udah cinta seranya malah galau hahahah
    itu baekhyun ngapain dateng? ganggu aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s