[Freelance] BREATH

breath

     BREATH

AUTHOR :  AKIKO

GRUP CAST : EXO-M

CAST : Chen EXO-M as main character

Length : Oneshoot

Genre : Romance, Sad,

Anneyong, author kembali lagi dengan FF oneshot yang mungkin agak cepet ceritanya, ( mian biasa nulis FF series ) ^^ tapi FF ini terinspirasi dari salah satu lagu S.M The Ballad yang berjudul Breath. Walaupun secara keseluruhan tidak sama dengan MV-nya Author harap FF ini masih layak baca :3

Happy Reading….

DON’T FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT ^^

 

 

When tears fall, even my smallest
cherished memories don’t know what
to do.

Because it hurt so much,
we promised to let each other go
But whenever I’m not sure I can do it,
please let me hear
at least your breath

Chen PoV

Kulangkahkan kakiku,

Tanpa sadar aku telah berada di tempat ini lagi. Lagi-lagi aku berada di tempat dimana aku tak seharusnya berada.

Gedung sekolah tua itu kini telah berubah, tak ada lagi bagunan tua yang menghiasi taman sekolah kita.

Semua telah berubah, namun tidak dengan ingatanku.

Samar-samar terbayang dalam ingatanku, gedung sekolah kita dulu. Tempat dimana semua kisah kita dimulai dan berakhir.

Ya..berakhir. Aku tak ingin mengakuinya namun pada nyatanya kita telah berakhir

Seandainya perasaanku berakhir layaknya kisah kita, mungkin semuanya akan lebih mudah bagiku. Bagi kita pula.

Langkahku semakin jauh memasuki setiap sudut sekolah ini, aku sama sekali tak ingin melihatnya lagi namun aku tak tahu apa yang terjadi dengan otakku sehingga tiba-tiba aku telah berada di depan gedung sekolah kita dulu.

Setiap sudutnya terasa menyesakkan nafasku, karena seluruh sekolah ini layaknya saksi bisu kisah kita.

Dimanapun aku melangkah bayang-bayangmu masih terasa jelas dalam penglihatanku hingga deru nafasmu yang hangat masih dapat kurasakan.

Apakah aku telah gila karenamu? Ataukah ini semua hanyalah fantasiku saja demi menenangkan diriku yang tak mampu menerima kenyataan?

Entahlah….

Gerbang Depan yang masih terlihat sama seperti 3 tahun yang lalu

Baiklah aku akan berusaha melewatinya, walaupun kini otakku tengah memutar kembali kisah yang pernah terjadi di antara kita. Kisah dimana hanya kita berdua lah yang mengetahuinya.

 Flashback 3 years ago

  • 06.45 a.m

Masih teringat jelas dalam ingatanku, 06.45 adalah waktu dimana kita sering bertemu di pagi hari. Kau selalu melepas ikatan rambutmu sebelum melewati gerbang depan sekolah kita. Kulitmu yang putih bagaikan salju akan selalu bersinar jika terpapar sinar matahari pagi dan disaat itulah tanpa sengaja aku melihatmu. Senyuman canggung dari bibirmu selalu menghiasi wajahmu ketika tatapan kita bertemu, dan setelahnya dapat kujumpai kau menundukkan kepalamu karena aku tau pipimu akan bersemu merah.

Aku hanya dapat menggaruk kepalaku yang tak gatal sembari menyembunyikan senyumanku.

Karena kita tak pernah berada di dalam satu kelas yang sama, hal tersebut membuat hubungan kita semakin cangung.

Kita selalu bertemu di gerbang sekolah, tersenyum penuh kecanggungan dan setelahnya aku hanya dapat mengikuti langkahmu dari belakang karena letak kelas kita yang bersebelahan. Dapat kulihat dengan jelas jika kau tampak tegang dengan adanya aku yang mengamatimu dari belakang namun aku tak ingin merusak suasana yang menyenangkan ini. Sehingga kuputuskan aku hanya tersenyum sembari mengikuti langkahmu dari belakang sebelum masing-masing dari kita memasuki ruangan kelas.

Kelasku saat itu memiliki kaca yang cukup lebar, sehingga memungkinkan bagiku untuk melihat siapa pun yang berjalan melewati depan kelasku. Ketika pergantian jam pelajaran tiba aku dapat melihatmu yang berjalan melewati kelasku. Walaupun posisi kepalaku tetap mengarah pada papan tulis yang berada di hadapanku namun diam-diam aku selalu mencari-cari sosokmu di tengah-tengah kerumunan teman-teman sekelasmu.

Aku masih ingat dengan jelas..

Saat itu kau selalu meletakkan bukumu di tangan kananmu dan kau selalu tersenyum setiap kali melewati kelasku. Aku tak yakin apa makna dibalik senyumanmu itu, namun dapat kupastikan jika aku hanya melihat wajah senyummu setiap kali kau melewati depan kelasku.

Sekilas aku tak dapat berkonsentrasi terhadap pelajaran yang kini tengah kupelajari.

Batinku terus menerus bertanya-tanya..

Apakah kau tersenyum padaku?…………….

Kuhembuskan nafas berat ketika melewati jalan dimana kita dulu sering berjalan bersama dalam diam. Seutas senyuman getir terbingkai dalam wajahku saat menatap jalan kosong yang kini hanya ada aku disana.

Tak ada lagi senyuman yang tersembunyi rapat dari balik rambutmu yang terurai, atau rasa penasaranku ketika melihatmu berjalan sambil menundukkan kepalamu dalam-dalam.

Langkahku terus berjalan menelusuri setiap sudut sekolah yang kian menusuk sekaligus menenangkan hatiku.

Rasa sakit yang terbalut dalam sedikit kebahagiaan, bahwa setidaknya kita memiliki sebuah kisah yang tak akan pernah kita lupakan.

  • Perpustakaan

Tempat kecil penuh buku itu sama sekali belum berubah sejak pertemuan pertama kita disana.

Siang itu, cuaca sangat terik. Sinar matahari kian membakar kulitku ketika aku terus menerus berada di lapangan basket.

Dengan peluh yang menghiasi pelipisku, kuambil botol air minumku yang kuletakkan di rak yang berada di depan perpustakaan. Aku hanya berjalan santai untuk mengambil botol air minumku sebelum aku melihatmu yang berjalan dari kejauhan.

Melihat tingkahmu yang begitu lucu membuatku tertawa tanpa sebab di tengah jalan, bagaimana aku sanggup menahan tawaku jika matamu tiba-tiba membulat saat melihat sosokku dan kau dengan gugupnya segera masuk kedalam perpustakaan.

Aku tahu jika kau tak ingin kesana saat itu, aku tahu jika kau tersipu malu. Wajahmu terlihat memerah walaupun aku melihatmu dari kejauhan.

Aku sengaja menjahilimu dengan mengikutimu ke dalam perpustakaan.

Aku sengaja berjalan berlawanan arah denganmu agar aku dapat melihat jelas wajahmu yang semakin cantik ketika pipimu bersemu merah.

Kini aku percaya perkataan yang mengatakan jika seorang perempuan akan tampak lebih cantik ketika ia sedang jatuh cinta.

Kau memegang bukumu dengan tangan sedikit bergetar, dan membuka lembaran-lembaran buku itu dengan cepat .

Aku tau jika kau sama sekali tak membaca buku tersebut. Lagi-lagi aku hanya dapat tersenyum melihatmu yang salah tingkah.

Kau kembali berjalan menelusuri rak-rak buku di dalam perpustakaan tanpa kau ketahui buku apa yang ingin kau baca, namun beberapa saat kemudian kau menghentikan langkahmu pada salah satu rak buku yang kutahu semua buku di rak tersebut adalah bacaan kesukaanmu.

Tanganmu mencoba meraih buku yang berada di rak paling atas, namun apa daya tinggi badanmu tak mampu untuk meraihnya.

Awalnya aku hanya tersenyum menikmati pemandangan dimana kau berusaha meraih buku tersebut dalam jangkauanmu namun pada akhirnya kuputuskan untuk bergerak selangkah lebih dekat padamu.

“ mengapa kau tak pernah menyapaku, padahal kita telah mengenal satu sama lain sejak lama?” itulah kalimat pertama yang kuucapkan padanya sembari membantunya mengambil buku yang hendak diambilnya.

Ia hanya tertunduk sembari tersenyum malu, “ aku tak pandai memulai percakapan, mianhe.”

Ia menjawab pertanyaanku sambil meraih buku yang ada di tanganku.

Dan disitulah awal percakapan kita dimulai.

Kembali kutelusuri rak buku dimana awal percakapan kita dimulai, tanpa sadar air mataku menitik karena aku menyadari jika aku hanya berdiri seorang diri sekarang. Sedangkan pikiranku terus menerus menampilkan bayanganmu di depan mataku. Apa yang harus kulakukan?

Ini terlalu sakit bagiku, namun apa dayaku kini. Aku hanya berhadapan dengan bayanganmu dan kenanganku akan dirimu. Buku-buku itu masih tertata rapi di tempat yang sama, namun tidak sama denganku. Karena semuanya kini telah berubah.

Akhirnya aku berjalan menjauh dan meninggalkan perpustakaan dengan langkah yang berat.

  • Lukisan Dinding

Hubunganku dengannya berangsur-angsur semakin dekat, walaupun kami selalu gugup ketika pandangan kami saling bertemu namun itulah yang meninggalkan bekas di hatiku. Aku benar-benar terlihat seperti orang bodoh dihadapannya.

Kepandaianku, kecerdasanku dan seluruh bakatku sepertinya hilang diterpa angin ketika aku bersamanya. Aku memandang diriku hanyalah seperti diriku yang apa adanya, begitu pula dengannya.

Hari ini adalah perayaan ulang tahun sekolah kita dan seperti tahun-tahun sebelumnya, sekolah kita mengadakan perlombaan untuk membuat lukisan dinding.

Saat itu bukanlah waktu yang tepat bagiku untuk bercakap-cakap denganmu karena terlalu banyak orang disekitar kita sehingga sedikit menganggu pandanganku untuk melihat keberadaanmu. Sehingga aku hanya bisa berkonsentrasi pada lukisanku.

Beberapa jam berlalu dan ternyata cat yang kumilki telah habis, sehingga aku harus mengambilnya di ruang lukis.

Ketika aku sedang sibuk mencari-cari cat yang kubutuhkan, aku melihat bayangannya dari luar ruangan dan tersenyum di dalam hati.

Ia tampak melihatku diam-diam dari balik pintu yang tak sepenuhnya tertutup. Aku sama sekali tak sanggup menahan kegelianku melihat tingkah lakunya yang begitu menggemaskan sehingga aku segera menariknya masuk ke dalam ruangan dimana aku biasa menyelesaikan lukisanku.

“ masuk saja jika kau ingin bertemu denganku, kau tak perlu melihatku diam-diam seperti tadi.”

Ia tersenyum dengan senyumannya yang khas sebelum ia menjawab ucapanku,..” aku tak ingin mengganggumu, apa yang sedang kau lakukan seorang diri disini? Bukankah kau seharusnya melukis disana?” Tanyanya sembari berjalan-jalan memutari ruangan.

“ aku membutuhkan beberapa cat, lalu bagaimana denganmu? Mengapa kau tak segera pulang?”

“ ani, aku ingin melihatmu terlebih dahulu sebelum pulang namun setelah melihat semua lukisan ini, sepertinya aku memiliki alasan untuk lebih lama disini. Apakah kau melukis ini semua sendirian?”

“ ne, ah…kutunjukkan satu lukisan, pasti kau menyukainya.” Aku mengajaknya untuk masuk kedalam ruangan penyimpanan lukisan.

“ gadis itu….mirip denganku??” tanyanya dengan nada ragu-ragu.

“ itu memang kamu…” tatapanku tetap mengarah lurus pada lukisan itu karena kini aku tak sanggup menatapnya secara langsung. Jantungku berdebar begitu cepat dan dapat kupastikan mukaku sekarang sedikit memerah.

“ gomawo..aku menyukainya.” Jawabnya sembari tersenyum padaku. Sedangkan aku hanya dapat membalas senyumannya sembari menundukkan kepalaku dalam-dalam.

 

Aku selalu menyukai senyumannya yang tampak begitu memukau. Tapi ketika semuanya hanyalah sebuah kenangan dan senyumannya yang sangat familiar dalam ingatanku seakan menjadi pisau bermata dua bagiku.

Aku tak ingin mengingatnya, aku tak ingin membayangkannya. Penyangkalan demi penyangkalan kulakukan namun hasilnya bayangannya semakin jelas menusuk kalbuku.

Baru kuketahui jika cintaku padanya harus terasa begitu menyakitkan.

Senja telah menggantikan sinar mentari yang bersinar hari itu. Di tengah-tengah cahanya yang redup, aku berdiri tepat di depan lukisan dindingku sendiri. Perlahan kau mendekat kepadaku..

“ aku selalu menyukai lukisanmu, Chen.” Ia kembali menatapku dengan pandangan yang menyejukkan.

“ akan kutunjukkan padamu bagaimana aku dapat melukis semua ini” jawabku sembari mengajaknya pergi dari area sekolah.

“ mian, aku tak membawa mobilku hari ini. “ ucapku pelan padanya. Sebetulnya aku lebih nyaman menggunakan sepedaku daripada membawa mobil yang terasa sedikit merepotkan.

“ gwencana, apa yang ingin kau tunjukkan padaku?” ia bertanya padaku dengan pandangan yang penasaran.

“ kau akan mengetahuinya nanti..” jawabku sembari tersenyum ringan.

Karena kini ia berada tepat di belakang punggungku dengan tangannya yang melingkar hangat di pinganggku.

Sesekali ia tertawa dan memukul pelan punggungku karena jalan yang kami lewati tak begitu bagus sehingga menyebabkan ia sedikit terguncang.

“ kau tak melakukannya dengan sengaja,kan?” selidiknya di tengah-tengah tawanya.

“ ehmm mungkin …” aku menjawab pertanyaanmu dengan sedikit candaan.

Namun yang kuperoleh adalah pukulan keras dari balik punggungku.

“ awas kau jika kau sengaja melakukan ini semua padaku..”

“ apakah kau akan marah padaku jika aku mengatakan bahwa aku melakukannya dengan sengaja?” 

“ haha..hentikan candaanmu Chen.” Ia tidak lagi memukulku namun ia menggelitiku dari belakang dan aku nyaris kehilangan keseimbanganku karenanya.

“ YA!! Ya! Kita bisa terjatuh bersama jika kau seperti itu.” Aku hanya semakin tertawa karena menahan rasa geli dari balik punggungku.

“ ne..ne araso ^^.”

Setelah melewati jalan yang cukup terjal, akhirnya kami tiba di dalam sebuah dermaga dengan pemandangan yang sangat indah.

Pantulan sinar matahari yang sayup-sayup hilang dari pandangan menjadikan air di lautan tampak begitu berkilau layaknya berlian yang tersebar rata.

Matanya semakin bersinar saat melihat pemandangan yang baru saja kutunjukkan.

“ kau tau caranya bagaimana memilih objek yang baik bagi lukisanmu..” ucapnya pelan sembari terus menatap pemandangan senja sore itu.

“ harus kuakui hal itu…mataku ini..memiliki bakat yang luar biasa.”

“ haha..lupakan. Kutarik lagi pujianku padamu”

Kita tertawa bersama di balkon kecil di dekat tempat pemberhentian kapal-kapal kecil bernaung.

Saat tawa kami terhenti, tanpa sengaja tatapan kami bertemu. Perlahan kugenggam tangannya yang terasa sedikit dingin bagiku.

Dapat kulihat jika kau menyembunyikan senyumanmu dengan memalingkan wajahmu ketika kugenggam erat tanganmu.

 

Kugenggam lagi tanganku yang kosong, masih terasa kehangatan senja dimana kita pernah membagi tawa bersama. Aku tak pernah menyangka jika kini aku harus melihat diriku sendiri tampak begitu menyedihkan.

Sungguh, aku ingin menyembunyikan semua ini agar seluruh dunia tak perlu tau tentang kisahku. Namun semakin aku menyimpannya di dalam hatiku maka semakin aku terluka karenanya.

Apa yang harus kulakukan dengan perasaanku ini?

Kuputuskan untuk mempercepat langkahku, aku tak ingin berada lebih lama disini. Kenangan tentangmu semakin terbayang jelas dalam ingatanku dengan adanya semua hal yang dapat mengingatkanku padamu.

Bagaimana keadaanmu kini?

Apakah kau menjalani hidupmu dengan baik?

Apakah kau masih mengingat tentang semua kisah kita seperti layaknya aku yang tak sanggup melupakan setiap detiknya?

Prang..

Mug yang penuh berisi pensil itu jatuh dari mejanya dan isinya berhamburan entah kemana di lantai. Di situlah awal pertengkaran kita.

“ mengapa kau melakukan semua ini padaku? Mengapa kau berbohong padaku!!” Suaraku tercekat oleh rasa kecewa yang kini tengah menderaku sehingga aku tak tahu apa yang harus kuucapkan pada gadis yang kini berada dihadapanku.

“ wae? JAWAB PERTANYAANKU!!!”

Diam..lagi-lagi ia hanya berdiam diri di hadapanku sembari  menundukkan kepalanya.

‘ mianhe,  jeongmal mianhe…”

“ apakah sebuah kata maaf akan menyelesaikan segalanya? Apakah sebuah permintaan maaf dapat mengubah segalanya? Jika kau tau ini semua salah, mengapa kau tetap menjalaninya? Mengapa kau melakukan ini kepadaku?!!” Tanpa sengaja nada suaraku meninggi dan kutahu ia hanya dapat menangis sebagai ekspresi penyesalannya.

“ mianhe,, i..ini salahku. Seharusnya saat itu a..aku tak perlu tersenyum padamu, aku tak perlu mengalihkan pandanganku padamu, aku tak perlu berjalan mendekat padamu. Mianhe…kau boleh membenciku mulai sekarang.”

“ ne, kau benar. Mungkin aku akan membencimu namun apakah semudah itukah kau mengatakannya padaku? Apakah perasaanku hanya seperti uang yang dapat diambil dan dikembalikan kapanpun kau mau? Apakah kau sama sekali tak memikirkan bagaimana terlukanya diriku karenamu?” Aku berjalan mundur dan memutuskan untuk duduk sembari memegang kepalaku yang terasa sakit namun hatiku kini jauh lebih sakit. Sehingga air mataku sama sekali tak mampu menetes.

“ Chen, kumohon dengarkan penjelasanku..” Ia berlutut dihadapanku sembari memohon padaku agar aku mau mendengarkan penjelasannya.

“ apakah ada hal lain yang masih kau sembunyikan dariku? Selain kenyataan bahwa sebenarnya kau telah memiliki namjachingu jauh sebelum kisah kita dimulai?” mataku memerah saat memandangnya, ia terlihat begitu terluka tapi rasa kecewaku padanya telah menutupi segalanya.

Saat itu aku tak dapat melihat apapun selain diriku sendiri yang tampak sangat bodoh didepannya.

“ aku pun tak menyadarinya Chen, aku..bukanlah yeoja yang mudah tertarik pada semua namja. Aniya..itu bukan diriku. Namun ketika aku melihatmu…aku merasa telah memasuki dunia yang belum pernah kualami, aku merasa….jika aku benar-benar jatuh cinta padamu layaknya remaja yang baru pertama kali mengenal cinta. Aku tak tahu mengapa perasaanku demikian namun….tidak dapat kau melihat perasaan tulusku padamu?” Ia memegang pergelangan tanganku ketika mengatakan apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya.

Namun tetap saja, pikiran dan hatiku terasa begitu kusut saat itu sehingga aku hanya dapat melepaskan tangannya dari tanganku dan bangkit dari tempat dudukku.

“ aniya, aku dapat melihatnya. Bahkan perasaanmu tampak terlalu nyata bagiku sehingga membuatku berharap terlalu tinggi padamu. Mianhe.. sepertinya kita harus berakhir sampai disini, atau mungkin kita memang tak pernah mengawalinya sehingga aku tak perlu mengakhiri apapun tentang kita berdua. Jaga dirimu baik-baik” ucapku pelan pada saat itu. Aku tak ingin mengucapkan kalimat menyakitkan itu padanya tapi takdir merubah apa yang telah kurencanakan.

“ andwe..Chen! Tidak dapatkah kita tetap berteman? Tak masalah bagiku jika aku tak dapat memilikimu karena kesalahanku, namun tak bisakah kita bersikap seperti dulu?” Ia kembali menahan lenganku agar tak beranjak pergi darinya.

“ Terlalu menyakitkan bagiku untuk tetap berada disampingmu sedangkan aku tahu di hatimu kini…. bukanlah aku yang memilikinya. Aku tak ingin menjalani kehidupan dengan perasaan seperti ini. Sudah cukup, kita hentikan semuanya cukup sampai disini. Cukup kita saling menyakiti satu sama lain” Tanganku berbalik melepas genggaman tangannya dari lenganku.

“ chen.. apakah kau berniat untuk menganggapku layaknya orang asing?”

“ ne,.. setidaknya itu akan lebih baik untuk kita berdua.”

Ia hanya termenung dalam diamnya sedangkan air matanya tak henti-hentinya menetes.

“ Karena ini terasa begitu menyakitkan… akan lebih baik jika kita melepaskan segalanya. Mianhe.. namun ini adalah keputusan yang terbaik bagi kita berdua.” Jawabku mengakhiri pembicaraanku dengannnya dan yang kutahu itu adalah akhir dari seluruh kisahku.

3 tahun berlalu, namun ingatan itu sepertinya lebih kuat daripada dugaanku sebelumnya. Mungkin memang tak ada yang berubah dari semua ingatanku tentangnya namun  tanpa kusadari diriku telah benyak berubah.

Semenjak perpisahanku dengannya, aku memutuskan untuk pergi dari pandangannya dan melakukan hal apapun yang kusukai hanya sekedar untuk melampiaskan amarahku yang tak pernah tersampaikan padanya.

Namun apa daya, kemarahanku padanya hanya membuat hidupku semakin lebih baik. Karena aku harus menjalani kehidupanku jauh lebih baik dibandingkan ketika aku bersamanya. Aku berusaha meraih apapun yang kuinginkan, meraihnya dan terus berulang dan berputar seperti itu.

Tapi setelahnya, hanya kekosongan yang kudapatkan. Aku tak memiliki apapun untuk dibanggakan sekalipun itu tampak memukau bagi siapapun. Perlahan kusadari jika hidupku kian gelap dan tak berwarna semenjak perpisahan itu.

Kupandangi layar HandPhone lamaku dan disitu tertera namamu, bahkan untuk menghapus segalanya tentangmu aku terlalu takut. Aku takut jika jejakmu dalam ingatanku akan hilang seiring aku menghapus segala hal tentangmu.

Perlahan langkahku menjauh dari gedung dimana pusat kenangan kita tertuju. Sekilas kukembangkan senyumanku pada diriku sendiri.

“ setidaknya aku masih memiliki sebuah kisah yang dapat kusimpan seorang diri”

“ jangan mengatakan jika kau akan menyimpannya seorang diri.” Tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar bagiku. Nafasku kian tercekat ketika melihat seorang yeoja dengan tampilan yang begitu elegan berdiri di belakangku.

“ bagaimana kabarmu, Chen? “ Aku tak pernah mengira jika aku akan bertemu dengannya lagi di tempat yang sama ketika awal pertemuan kita dahulu.

“ aku baik-baik saja bagaimana denganmu?.” jawabku singkat namun sebenarnya banyak sekali yang ingin kusampaikan padanya. Tapi hatiku mengatakan akan lebih baik jika aku tak melakukannya.

“ ehmm sejauh ini, dapat dikatakan aku menjalani hidupku dengan baik.” Ia menjawab pertanyanku dengan sebuah senyuman yang sama sekali tak berubah dari 3 tahun yang lalu.

“ ah,…ne. “ aku tak tahu apa lagi yang harus kukatakan padanya sehingga aku memutuskan untuk tetap berjalan lurus ke depan.

“ apakah kau masih menganggapku sebagai orang asing?”

Deg..

Kumohon jangan buka kembali luka lama yang susah payah kusembunyikan jauh di dasar hatiku walaupun aku tau, aku nyaris kehilangan perasaanku sendiri karenanya.

Aku hanya diam dan tersenyum sebelum berjalan untuk menjauh darinya.

“ jalani hidupmu sebaik yang kau katakan padaku dan jangan pernah melihat kebelakang. “ Kutepuk pundaknya pelan sebelum aku benar-benar pergi dari penglihatannya.

“ Chen…. Mianhe. Jeongmal Minahe… Aku tahu jika kau masih belum dapat memaafkanmu hingga saat ini namun kau perlu tau jika aku selalu mendoakan kebahagian agar selalu menyertaimu.” Ucapnya sebelum aku masuk kedalam mobilku.

“ gomawo.. aku pun selalu mendoakan hal yang sama untukmu jauh sebelum kau mengatakannya padaku. “ balasku pelan

Setelahnya aku kembali memacu mobilku untuk menjauh dari gedung sekolah dimana saksi bisu kisahku berada.

Di dalam kehidupan ini

Terdapat beberapa hal yang terkadang harus kau lepaskan

Sekalipun kau menginginkannya untuk selalu berada di sisimu

Namun ketika semuanya terasa begitu menyakitkan bagi semuanya hingga perpisahan adalah jalan terbaik yang harus ditempuh

Apakah kekuatan manusia mampu mengalahkannya?

Jika takdir telah menggariskan

maka tak satupun manusia sanggup melawannya

Begitu pula cintaku padamu

Walaupun cinta kita tak pernah salah

Namun waktu tak mempertemukan kita di waktu yang tepat

Mungkin benar apa yang pernah pepatah katakan

Jika tak semua cintamu akan berakhir padamu

Tak semua cinta yang hadir di kehidupan ini memiliki akhir yang sama

Karena ia datang pasti dengan tujuan tertentu

Mungkin kau lah yang pertama bagiku

Orang pertama yang membukakan pintu hatiku

Namun tak semua orang yang membuka pintu akan selalu menjadi seseorang yang menutupnya

Begitu pula denganmu

Kisah kita

Mungkin bukanlah kisah yang indah untuk selalu kita kenang

Namun kisah akan cukup baik untuk menjadikan kita lebih memaknai hidup ini

Memaknai setiap makna akan seluruh kejadian yang pernah terjadi dalam kehidupan ini

Karena aku tau bahwa

Kau selalu menempatkanku sebagai salah satu bagian dari hidupmu

Begitu pula denganku

Yang selalu menempatkanmu di ujung pintu hatiku

Walaupun aku tahu kau bukanlah yang menempati pintu akhir hatiku

 

THE END

Don’t forget to leave your comment ^^

20 responses to “[Freelance] BREATH

  1. huwaaaaa so sweet bgt ceritanya thor buagus banget dah pkoknya. applause buat authornya kata-katanya puitis bgt itu thor jadi pen nangis

  2. ahh… ceritanya sedih, kata-katanya sedih, tapi semuanya indah. benar-benar memukau. DAEBAK, Author!! suka setengah mati sama gaya bahasa & kepenulisannya. kereeen..!

  3. waw daebak thor… tapi cukup menyedihkan..
    kasihan chen..

    but at all is wonderfull..

    Keep writing..!! FIGHTING…!!!
    banyak-banyakin buat FF yang main castnya chen ya thor..^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s