[Freelance] At Least I Still Have You (Chapter 1)

at least i still have you

At Least I Still Have You

(Chapter 1)

 

Author : DantExo (@DithaANtyas)

Main cast :

Kim Jong In (Kai EXO)

Kim Chan Yoon (Kai’s brother/ OC)

Lee Hye Ra (OC)

Genre : Family, Romance, Hurt

Rate : PG-17

Length  : Chaptered

Disclaimer :

Ide cerita, alur dan semuanya milik aku.

Halal dan murni.

Jika ada kesamaan dalam ide maupun alur, itu memang tidak di sengaja dan aku tidak tahu menahu..

DONT BE A PLAGIATOR AND SIDERS!

MAAF KALO BANYAK TYPO YA^^

PLEASE LEAVE YOUR COMMENT AND LIKE ^^

Happy Reading^^

@Chapter 1

 

#Author POV#

Matahari baru saja terjaga, menyapa langit Seoul yang terlihat cukup indah dihiasi oleh awan berwarna putih yang melayang bebas. Suara cicit burung yang menjadi khas suasana pagi haripun telah tertutup oleh suara bising mobil-mobil dan beberapa kendaraan bermesin lainnya yang mulai memadati jalanan ibukota Korea Selatan itu.

Tidak ada yang istimewa memang. Semuanya berjalan seperti hari-hari biasanya.

Hari senin yang cerah, setidaknya itu bisa menjadi sebuah alasan bagi beberapa orang untuk lebih bersemangat kerja. Yah, walau tidak sedikit juga yang terlihat lesu ataupun malas-malasan hanya untuk sekedar beranjak dari ranjang dan segera memulai segala rutinitas yang terkadang membosankan.

Akhir bulan Januari.

Jika biasanya bulan pertama dalam hitungan tahun masehi ini termasuk ke dalam bulan yang dimana musim dingin terjadi, maka hari ini ada sebuah keajaiban yang sedikit terjadi. Jika pada awal bulan hingga pertengahan, sang surya tak mau menampakkan dirinya maka hari ini rupanya ia telah merasa bosan untuk terus absen dalam kehadirannya di langit Seoul. Setidaknya, itu memberi keuntungan bagi manusia yang hendak mencari kehangatan di pagi hari.

Apartment Gyeongdong-Seoul.

Gedung-gedung besar dan menjulang tinggi sudah menjadi pemandangan biasa di Seoul. Di kota besar dan maju itu sudah tak terhitung lagi ada berapa gedung bertingkat dan semacamnya. Entah itu digunakan untuk perkantoran, bank, sekolah, hotel bahkan apartment. Tak jarang juga banyak warga asli Seoul atau pendatang yang lebih memilih tinggal di apartment dengan berbagai alasan, salah satunya praktis.

Ya. Tentu tinggal di dalam sebuah apartment merupakan suatu hal yang biasa. Selain tempat yang praktis, apartment berkelas di Seoul cukup membuat para penghuninya merasa nyaman dan privasi mereka cukup terjamin di dalam sana. Dan biasanya apartment-apartment mewah itu hanya mampu dibeli oleh pengusaha kaya, konglomerat ataupun pejabat yang memiliki kantong tebal.

Hidup di kota besar itu memang sulit, kita bahkan harus bertahan hidup dengan berdiri di atas keegoisan diri kita masing-masing.

.

.

.

.

.

Seorang namja tengah sibuk dengan beberapa bahan makanan yang berceceran tak tentu di atas meja makan. Asap tipis mengepul dari dalam panci berwarna kuning itu. Harum aroma rempah-rempah yang di masak sekaligus bercampur dengan daging, sayuran dan air membuat siapa saja pasti akan tergoda untuk mencicipinya. Atau mungkin hanya dengan mencium harumnya saja akan membuat orang yang tidak lapar menjadi lapar.

Kaos hitam tanpa lengan, boxer merah dan apron berwarna biru gelap. Beginilah keseharian namja berusia dua puluh tahun itu. Apa kalian merasa heran karena baru melihat seorang namja bisa tersesat di dapur?

Oh ayolah, bahkan chef-chef yang ada di berbagai restoran di belahan dunia ini pun kebanyakan laki-laki. Lalu apa masalahnya? Toh ia memasak juga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya—makan.

Tangannya yang kekar dan putih itu memegang erat sendok sayur sebelum akhirnya ia putar-putarkan secara perlahan untuk mengaduk sayur di dalam panci itu yang hampir matang. Wajahnya ia majukan sedikit hingga hidung mancungnya itu bisa mencium aroma lezat dari masakannya. Seulas senyum terpatri di wajahnya yang tampan. Tak butuh waktu lama, dengan cekatan namja tampan itu memindahkan sayur berwarna dominan merah itu ke dalam mangkuk besar. Asapnya mengepul lebih banyak menghantarkan aroma khas yang menggugah selera.

Setelah selesai, ia segera menata mangkuk tadi di atas meja makan yang sebelumnya sudah ia bersihkan dari bahan-bahan makanan yang bercecer sebelumnya. Kali ini ia kembali ke depan kompor. Menyalakan benda berwarna hitam itu lalu meletakkan pan bersih di atasnya berikut ia tuang beberapa cup minyak goreng. Menunggu beberapa menit hingga cairan minyak itu panas, tangannya dengan lihai mencelupkan sepotong demi sepotong ayam yang telah dibumbui terlebih dulu sebelumnya.

Sambil menunggu ayamnya sedikit berubah warna, namja berambut hitam itupun melangkah mendekati lemari es yang berada di sudut dapur. Saat ia hendak mengambil sebuah apel merah dari dalam sana, saat itu pula telinganya mendengar suara derapan kaki yang berasal dari arah ruang tengah.

“Chan-a,”

Suara husky itu mau tak mau membuat namja tadi menoleh. Ia segera menutup pintu lemari es dan memandang datar sosok namja yang sangat mirip dengannya itu. Sosok itu berdiri di ambang pintu yang membatasi ruang tengah dengan dapur dengan penampilan yang terlihat segar. Celana jeans hitam, kaos oblong berwarna merah dan juga handuk putih yang melingkar di leher kokohnya.

“Kau kuliah pagi, hyung?” tanya namja yang kini sedang mengupas apelnya.

“Ya,” namja yang dipanggil ‘hyung’ itu mendekat, duduk di sebelah namja pertama tadi sebelum akhirnya meneguk segelas air putih di meja makan.

Tak ada pembicaraan serius di antara keduanya. Hingga namja berkulit putih tadi segera beranjak untuk mengecek ayam gorengnya.

“Apa persediaan makanan masih cukup?”

Namja itu menggeleng, “Sepertinya untuk makan siang saja kurang, hyung. Hanya tersisa apel dan pir saja,” ia berhenti berucap dan segera melahap apel yang ia kupas sebelumnya.

“Aa, kalau begitu kau saja yang belanja. Kau kuliah siang bukan?”

“Ya,”

Selanjutnya yang terdengar hanya suara kompor dimatikan. Lalu dengan sigap, namja berkulit putih itu meniriskan potongan ayam yang sudah berwarna kecoklatan di atas piring.

Keduanya duduk bersama di meja makan berbentuk bundar itu. Mata mereka mengamati satu persatu makanan yang sudah tersaji. Sayur tomat dan daging, ayam goreng serta mangkuk yang berisi nasi putih hangat. Dan didetik berikutnya, keduanya sama-sama mulai menikmati sarapan mereka pagi ini dalam diam.

Ya. Begitulah keseharian kedua putra keluarga Kim itu—keluarga yang terkenal akan kekayaannya seantero Korea bahkan hingga Amerika. Tidak ada yang tidak mengenal mereka sebagai Kim bersaudara. Muda, tampan, tubuh tinggi dan atletis serta dompet yang tebal. Siapa yang akan menolak mereka?

Dan begitulah kisah yang akan keduanya mulai.

Kim Jong In sebagai putra sulung dan Kim Chan Yoon sebagai putra bungsu. Keduanya hampir memiliki segala kesamaan tetapi rupanya takdir mereka benar-benar berbeda.

Dan inilah takdir kehidupan.

.

.

.

.

.

Menggumamkan kata ‘permisi’ dan juga ‘maaf’ berkali-kali, rasanya tidak membuat yeoja bermantel biru itu merasa bosan. Jangankan bosan, bahkan ia rela menghabiskan waktu dan tenaganya untuk beberapa waktu kedepan demi sampai di tujuan.

Berjalan kaki.

Menyusuri bahu jalan yang nampak di padati oleh beberapa pejalan kaki lainnya di Senin pagi yang hangat. Tangan kurus yeoja itu terangkat sebelum akhirnya membenarkan letak topi yang ia kenakan. Menghembuskan napas pelan saat ia menyadari jika setelah ini tidak ada lagi kerumunan manusia yang harus ia lewati. Rasanya cukup pegal juga harus terus menunduk dan mengumam kata ‘maaf’ ataupun ‘permisi’ saat ia tak sengaja menabrak seseorang entah yang sedang berdiri ataupun sama-sama berjalan sepertinya.

Mata coklat lembut yang meneduhkan.

Kaki jenjangnya terhenti sejenak saat ia sampai di pertigaan jalan. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku mantel berharap dapat menghangatkan tangannya yang sedikit membeku. Kepala yeoja itu bergerak ke kiri dan kanan. Menatap setiap kendaraan yang melintas di hadapannya. Bukan perkara yang cukup sulit untuk menyebrang jalan, apalagi di sana bukanlah jalanan besar yang dilewati oleh truk-truk atau kendaraan sejenisnya. Hanya jalan kecil di tengah kota yang cukup ramai.

Merasa jalanan sudah cukup sepi, ia bergegas untuk menyebrang. Sedikit berlari hingga akhirnya ia sampai di depan pintu supermarket—tempat tujuannya pagi itu. Kepulan asap tipis keluar dari sela bibir pink yeoja bertopi itu sebelum akhirnya ia melangkah masuk.

Supermarket itu tidak terlalu ramai, mungkin karena masih terlalu pagi. Tapi itu lebih baik daripada harus berdesak-desakkan dengan pembeli lain seperti yang ia alami sabtu kemarin. Sedikit mengedarkan pandangan, akhirnya yeoja bertubuh jangkung itu memutuskan untuk memulai kegiatannya dari sisi kanan supermarket dimana berjajar beberapa kebutuhan dapur seperti sayur, daging, seafood, juga beberapa bumbu.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk berpikir. Dengan cekatan, ia meraih beberapa bahan makanan untuk ia masukkan ke dalam keranjang yang sebelumnya telah ia ambil. Memang gadis itu sudah cukup terbiasa untuk datang dan berbelanja beberapa bahan makanan yang hampir sama setiap minggunya mengingat ia hidup sendiri di apartment. Bukan karena ia adalah seorang perantau atau bahkan berasal dari keluarga tak mampu.

Hey, jika kalian menganggapnya seperti itu maka kalian salah besar!

Gadis bertopi coklat itu bahkan berasal dari keluarga cukup berada di Seoul. Ayahnya seorang pengusaha property dan ibunya seorang dokter di salah satu rumah sakit ternama di Seoul. Apa bisa dikatakan tidak mampu? Oh—jangan bercanda!

Dia juga bukan perantau karena sejak lahir ia memang sudah berada di Seoul begitu pula dengan keluarganya. Hanya sebuah alasan klasik saja yang membuat ia bersikeras untuk tetap tinggal di sebuah apartment. Sendirian dan jauh dari keluarga.

Hidup mandiri tanpa ada satupun orang yang menganggu.

Terlalu egoiskah?

Dia rasa tidak, karena memang sejak awal ia paling tidak suka kehidupannya terlalu dicampuri oleh tangan orang lain walau itu orangtuanya sekalipun. Berkepribadian introvert juga sangat senang menyendiri. Sangat mencintai gitar putihnya melebihi dirinya sendiri dan orang-orang bilang dia yeoja yang dingin.

Ingin marah? Oh untuk apa, bahkan ia sendiri sadar akan hal itu. Dan terserah saat orang-orang berkomentar apapun tentang dirinya, karena ia selalu beranggapan jika tidak ada orang yang bisa menilainya selain Tuhan.

Kini gadis berpenampilan tomboy itu berbelok, membawa keranjang belanjaannya yang sudah mulai penuh sebelum akhirnya berhenti di depan lemari es raksasa. Mata coklatnya menatap tajam kotak-kotak ice cream yang ada di dalam sana. Tersenyum kecil, ia pun membuka dan meraih satu kotak ice cream rasa coklat. Oh bagaimana jika dua kotak ? Tidak masalah bukan? Satu rasa coklat dan satu lagi rasa strawberry. Dua rasa yang tidak akan pernah hilang dari hidupnya.

Merasa seluruh belanjaannya sudah terpenuhi, kini ia berjalan mendekati meja kasir yang berada di samping pintu masuk. Namun tak sengaja matanya melihat deretan coklat di salah satu rak makanan. Akhirnya ia pun membatalkan niatnya dan memilih untuk mengambil beberapa coklat yang ada.

Seulas senyum kembali mengembang dibibir mungilnya itu saat ia meraih satu kotak coklat yang menjadi favoritnya selama ini. Tanpa banyak berpikir lagi ia segera mengambil beberapa kotak untuk persediaan di rumah, namun tiba-tiba—

SREET~

Matanya membulat, dalam hitungan detik coklat itu sudah menghilang dari tangannya bersamaan dengan sosok namja yang berjalan di belakangnya secepat kilat. Yeoja itu menoleh dengan tatapan kesal mengarah pada punggung namja tadi. Tangannya mengepal erat di samping tubuh sebelum akhirnya ia berjalan cepat menyusul namja kurang ajar yang seenak jidat telah mengambil coklat miliknya.

TAP!

Dua pasang mata berbeda warna itu saling bertemu. Detik demi detik terasa melambat seiring dengan desiran aneh yang merambat di seluruh tubuhnya hingga rasanya hampir meledak di ubun-ubun. Dengan gerakan cepat, yeoja bertopi itu menarik lepas headset yang terpasang di kedua telinga namja itu.

“Hey!!”

Gadis berusia dua puluh tahun itu masih tetap pada pendiriannya. Sama sekali tidak merasa takut ataupun gentar saat teriakan yang cukup memekakan telinga itu menyambar tepat di depan wajahnya.

SREET~

Sekali lagi, gerakan cukup cepat itu membuat namja tadi terperangah. Kini coklat yang ada di genggamannya telah berpindah ke tangan yeoja di hadapannya itu.

“Ini milikku!” ucapnya galak.

Selepas itu, tanpa banyak bicara yeoja tadi berbalik dan segera melangkah pergi. Namun sayang, kali ini ia kembali kalah cepat saat sebuah tangan mencengkram erat pergelangannya.

“Dasar yeoja tidak tahu sopan santun!”

Yeoja itu berbalik dan mendelik.

“Kurasa aku tidak mempunyai masalah denganmu sebelumnya. Tapi sayangnya, kau yang mengambil ini lebih dulu dari tanganku!”

Mata elang namja itu menatap coklat yang digenggam oleh yeoja tadi kemudian kembali mengalihkan pandangannya.

“Sebelum kau mengeluarkan uangmu untuk membayar, maka semua yang ada di sini adalah milik semua pembeli!”

“Aku sudah mengambilnya lebih dulu, jika kau buta! Kukira kau memiliki kaki dan tangan untuk kembali ke sana dan mengambil coklatmu sendiri,” setelahnya yeoja bertopi coklat itu segera berbalik sebelum akhirnya menghilang di persimpangan rak.

Mendecih kesal, akhirnya namja tadi pun memilih untuk mengambil coklatnya sendiri di rak yang telah ia lewati sebelumnya.

Kim Chan Yoon—kekesalannya memuncak hanya karena sikap kasar seorang gadis aneh. Cih—jika saja dia bukan yeoja sudah kuhajar, batinnya sewot.

.

.

.

.

.

Sebuah motor sport warna hitam berhenti tepat di pelataran Seoul Art University. Sang pengendara segera melepas helm hitamnya berikut turun dari kendaraan roda dua itu. Sedikit mengacak rambut hitamnya yang cukup lebat, lalu dengan gaya kerennya ia memasang kacamata hitam yang telah ia siapkan. Mengalihkan pandangannya lurus ke depan, dan seringai sexy khasnya pun melebar. Oh—jangan anggap pemuda itu gila sebelum kalian melihat apa yang ia lihat.

Disana—tepatnya di lobi kampus, sudah berjajar para gadis cantik dengan wajah terpesona. Jangan lupakan juga wajah mereka yang memerah malu membuat siapa saja merasa gemas.

Satu.. dua.. tiga.. empat.. oh bahkan hampir ada dua puluh yeoja dengan penampilan mereka yang fashionable berjajar seolah menanti kedatangan seorang pangeran tampan untuk menjemput salah satu diantara mereka. Wajah mereka penuh pengharapan.

Tapi sayangnya, pangeran kita yang satu ini sama sekali tidak berminat untuk mengambil salah satu dari mereka. Baginya mereka tak lebih dari kumpulan yeoja bodoh yang hanya bisa menghabiskan uang orangtua mereka dan juga berkumpul bersama hanya untuk membicarakannya dan juga kakak laki-lakinya.

Pemuda tampan nan tinggi itu berhenti melangkah tepat di hadapan yeoja-yeoja yang sedang menatapnya lapar. Bahkan jika mereka sedang tidak menahan gengsi, pasti air liur mereka akan menetes membasahi lantai. Cih—menjijikkan.

Di balik kacamata gelapnya itu, pemuda berusia dua puluh tahun itu mengamati satu persatu wajah yang selalu setia menunggunya ataupun memandanginya dari jauh. Yah—anggap sajalah mereka itu fans fanatik yang saking fanatiknya malah menjadi gila.

Seringai itu melebar saat matanya tak sengaja melihat salah satu yeoja yang berjajar tengah mengenakan pakaian yang cukup sexy. Tanktop yang dilapisi blazer hitam ketat, juga rok jeans yang hanya berjarak satu jengkal dari pangkal paha. Oh—mungkin semua namja akan menatapnya lapar hingga rasanya gatal untuk membawanya terbaring di atas ranjang. Mungkin termasuk—

“Oh dear, kau terlihat seperti pelacur saja dengan pakaian ketatmu itu,”

—oh tidak, mungkin ia bukan salah satu dari namja hidung belang atau berotak mesum.

Seringainya kini memudar digantikan oleh senyuman dingin yang mampu membuat siapa saja merasa tertusuk dan tersinggung.

Tanpa banyak bicara lagi, ia segera melangkah menjauhi kerumunan yeoja yang ia anggap gila sebelum akhirnya ia bisa sama gilanya dengan mereka. Samar-samar ia bisa mendengar bisikan, cemoohan atau bahkan hinaan keluar dari mulut yeoja-yeoja tadi.

Siapa juga yang peduli?

“Chan!”

Yang dipanggilpun menoleh. Ia melepas kacamata hitamnya sebelum akhirnya tubuhnya terhuyung sedikit ke depan saat sebuah lengan merangkul bahu lebarnya.

“Cih—selalu saja kau seperti ini, tuan muda Oh Se Hun?”

Pemuda berambut pirang itu menolak bahunya keras, “Sial kau! Kenapa selalu bersikap dingin pada mereka?”

Pemuda bernama lengkap Kim Chan Yoon itu mendengus sebelum menyingkirkan tangan Sehun dari bahunya, “Pelacur seperti mereka? Untuk apa? Dunia ini terlalu indah hanya untuk memikirkan gadis-gadis menjijikkan seperti mereka, tuan muda,”

Mereka pun mulai berjalan beriringan sepanjang koridor kampus tanpa mempedulikan tatapan memuja dari beberapa pasang mata yang melihatnya. Oh god—bagaimana kalian bisa untuk tidak mengalihkan pandangan saat ada dua pangeran tampan berjalan bersama di hadapan kalian?

Perlu di jelaskan sebelumnya, jika Oh Se Hun dan Kim Chan Yoon adalah satu dari tiga pangeran tampan yang berhasil menjadi the most wanted di Universitas ternama di Seoul itu. Dan tidak heran juga jika keduanya memiliki penggemar yang akan terus meningkat setiap jamnya.

Wajah tampan, kantong tebal, kendaraan berkelas, fashionable, dan tentu saja jantan. Siapapun tidak akan bisa menolak bukan?

“Cih—pandangan mereka membuatku merinding,” celetuk Sehun.

Chanyoon mendecih, “Lihat? Kau sadar juga akhirnya,”

Kepalanya menoleh sekilas ke belakang, memandang beberapa yeoja yang sedang duduk di bangku koridor sebelum akhirnya ia kembali menyeringai tipis membuat mereka semua tersipu.

“Bukankah kita seperti seorang playboy yang senang menebar pesona, huh?”

Sehun meringis menatap Chanyoon, “Mengerikannya dirimu!,”

Chanyoon tergelak kemudian merangkul Sehun untuk segera mempercepat langkahnya. Satu per satu anak tangga mereka pijaki sebelum akhirnya sampai di lantai atas. Sesekali keduanya bergurau ria menunjukkan seberapa akrab hubungan keduanya yang sudah terjalin sejak tahun pertama di Universitas.

“Kau tahu? Bahkan ratu gosip seantero SAU membully mahasiswa baru kemarin,” Sehun berdiri menyandarkan sikunya di pembatas koridor lantai atas. Matanya menatap liar pemandangan taman tengah kampus yang terlihat cukup ramai dari atas.

“Maksudmu Soojung? Hahahah—pasti nenek lampir itu sedang berbunga-bunga saat ini,” Chanyoon pun mengikuti posisi Sehun.

Sehun mengangguk, “Kudengar bahkan anak baru itu sampai menangis tersedu-sedu. Apalagi mengancam akan melaporkan Soojung pada ketua yayasan,”

“Ketua yayasan? Jadi dia anak ketua yayasan itu?” Chanyoon mendelik tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut sahabatnya itu.

“Ya. Bukankah Soojung adalah yeoja yang sangat licin seperti ular? Tidak mungkin ia akan terjerat begitu saja,”

Chanyoon hanya diam menaggapi ucapan Sehun. Dalam hati ia membenarkan semua ucapan Sehun. Jung Soo Jung—teman satu kelasnya itu memang salah satu yeoja yang disegani bahkan ditakuti seantero SAU. Bukan hanya karena sifat jeleknya yang suka membully, tetapi juga karena sikapnya yang sok berkuasa, membuat siapa saja tidak berani berurusan dengannya. Ya—bisa dikatakan hanya beberapa orang saja yang menjadi teman dekatnya.

Yeoja iblis, batin Chanyoon.

Keduanya pun terdiam dan lebih memilih untuk tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Sehun mengutak-atik ponsel hitamnya masih dalam posisi awal. Berbeda dengan Chanyoon yang lebih tertarik melihat ke bawah sana.

Taman berukuran cukup luas itu berada di dalam kepungan gedung-gedung kampus. Hijau, banyak pohon dan sejuk, itulah mengapa taman itu sangat diminati oleh hampir seluruh mahasiswa SAU. Di tempat itu banyak hal-hal yang bisa dilakukan. Seperti membaca buku, mengobrol bersama teman, menghabiskan bekal makan siang bahkan ada yang memanfaatkan bangku-bangku kosong di bawah pohon untuk tidur. Ya—kurang lebih seperti itulah gambarannya.

Mata elang pemuda bermarga Kim itu menyapu ke seluruh sudut taman. Sesekali ia tersenyum kecil saat tak sengaja melihat dua orang namja yang sedang berkejar-kejaran layaknya anak TK. Ada juga sepasang kekasih yang tengah bermesraan di bawah pohon. Menatap mereka membuat Chanyoon merasa sedikit iri.

Wajah tampan dan mempunyai segalanya tidak bisa menjamin seseorang akan mendapat kekasih dengan mudah, contohnya saja Chanyoon. Pemuda berusia dua puluh tahun itu bahkan bisa dikatakan sangat jarang berhubungan dengan wanita selain ibunya—oh bahkan ia sangat tidak dekat dengan sang ibu. Mendengus, ia menggelengkan kepalanya pelan berusaha mengusir pikirannya itu.

Baginya semua yeoja itu sama saja. Keras kepala, seenaknya sendiri, egois dan cengeng. Bahkan tanpa berhubungan jauh dengan seorang yeoja pun ia dapat dengan mudah mengenali karakter mereka. Lagipula apa untungnya menjalin hubungan seperti itu? Yang ada hanyalah membuang waktu dan tenaga. Toh, tanpa berpacaran pun ia masih hidup dan tentunya memiliki orang-orang yang bisa ia percaya.

Terdengar helaan halus dari mulut Chanyoon sebelum akhirnya pemuda tampan itu mengalihkan pandangannya kedepan. Dan saat itu pula ia tak sengaja melihat sosok yeoja yang tengah terduduk di salah satu bangku yang ada di taman. Mengerjap pelan, ia berusaha untuk menajamkan penglihatannya.

Chanyoon mengerutkan alisnya saat ia merasa pernah bertemu dengan yeoja berambut pendek itu. Tapi di—aahhh ia ingat sekarang. Yeoja itu adalah sosok yang ia temui di supermarket pagi tadi. Seulas senyuman remeh menghiasi wajah tampan Chanyoon. Ia tidak habis pikir, kenapa dunia ini begitu sempit? Bahkan belum lama mereka saling bertemu dan sekarang kembali bertemu? Tuhan pasti sedang mempermainkanku, batin Chanyoon.

“Chan.. Chanyoon! Chanyoon!!”

“Eoh? N-ne?”

Lamunan Chanyoon pun buyar karena usikan Sehun. Pemuda itu menoleh menatap wajah Sehun yang balik menatapnya aneh.

“Ada apa?” tanya Chanyoon.

Sehun terlihat mengerutkan keningnya, “Kau yang kenapa? Melamun eh?”

“Anyi,” kepala bersurai hitam itu kembali menatap lurus. Masih dengan objek yang sama dalam penglihatannya, Chanyoon kini memperhatikan setiap gerak-gerik yeoja itu.

“Eum~ Sehun-a,”

“Mwo?” Sehun membalas tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.

“Kau tahu siapa yeoja itu?”

“Eh? Yeoja?” dengan sigap Sehun segera mematikan ponselnya dan mengalihkan pandangannya tepat dimana yeoja yang Chanyoon tunjuk berada. Matanya menyipit melihat sosok yeoja itu di bawah sana.

“Kau tahu dia?” tanya Chanyoon kembali.

“Oh.. dia? Yeoja berambut pendek itu?”

Chanyoon mengangguk.

“Hyera.. dia Lee Hye Ra,” ungkap Sehun.

“Kau mengenalnya?”

“Eum~ dia teman SMAku dulu. Kami satu sekolah tapi tidak pernah satu kelas,”

Chanyoon menatap sekilas Sehun sebelum akhirnya kembali memandang lurus, “Dia.. yeoja yang aneh,”

“Eoh?”

“Hyera, dia yeoja yang aneh,”

Sehun memandang Chanyoon dengan pandangan tak mengerti, “Aneh bagaimana?”

“Lihat saja,” Chanyoon mengindikkan dagunya, “Bermain gitar, aneh bukan? Biasanya yang senang bermain gitar itu namja,”

“Cih—sejak kapan kau jadi suka mencampuri urusan orang lain huh?”

Chanyoon menggeser posisi berdirinya, “Bukan begitu. Aku hanya merasa aneh saja,” mata elangnya menatap lekat sosok yeoja yang masih terlalu asing baginya itu, “Apa dia yeoja yang dingin?”

“Tidak juga,” Sehun menopang dagunya dengan sebelah tangan, “Dia yeoja yang baik, ramah dan juga cukup pintar,”

“Begitukah? Kurasa jauh dari perkiraanku,”

“Kau pernah bertemu dengan Hyera?” tanya Sehun.

Pemuda bermarga Kim itu mengangguk pelan.

“Justru sekarang aku yang merasa kau itu aneh, Chan”

Chanyoon menoleh dengan raut wajah tidak suka.

Sehun meringis geli, “Sangat jarang kau ini mau tahu akan orang-orang disekelilingmu. Itu aneh, padahal dalam kenyataannya bahkan kau sangat dingin dan cenderung pendiam,”

Suara Sehun terus terngiang dalam telinga Chanyoon. Pemuda tampan itu hanya bisa diam menanggapi celotehan panjang dari sahabatnya itu. Ya, ia sadar jika selama ini memang sikapnya terlalu tertutup bahkan ia tergolong namja yang cuek dengan segala apa yang ada di sekitarnya.

Tapi entah apa yang terjadi pada dirinya hingga ia merasa begitu penasaran akan sosok yang Sehun sebut sebagai Lee Hye Ra. Chanyoon pun bingung, kenapa ia begitu tertarik mengetahui lebih jauh tentang gadis yang bahkan sama sekali tak ia kenal. Bertemu pun baru tadi pagi—dalam suasana yang sangat tidak mengenakan juga tentunya.

Ada apa dengannya?

Kenapa rasanya ada sebuah magnet yang berusaha untuk menariknya jauh lebih dekat ke arah Hyera? Perasaan aneh macam apa itu? Shit! Chanyoon menggelengkan kepalanya berusaha untuk kembali tersadar akan posisinya saat ini. Tidak! Ia tidak mungkin tertarik pada yeoja seperti Hyera. Tidak juga karena ia ingin berteman dengan gadis dingin itu. Haaah—rasanya Chanyoon mual karena terlalu banyak berpikir pagi ini.

Ugh—bahkan kini pandangan pemuda itu mulai kabur. Tiba-tiba rasa pusing itu terus menjalar, membesar di kepala Chanyoon. Oh Tuhan, kenapa lagi ini? Bahkan untuk sekedar menopang tubuhnya sendiri Chanyoon merasa tidak kuat. Kepalanya begitu berat disertai rasa pusing yang cukup berat. Chanyoon segera bergeser, menyandarkan tubuhnya di dinding dengan kedua tangan mencengkram erat kepalanya.

“Aaaakhh!!” erangnya kesakitan.

Sehun terhenyak. Matanya mendelik saat melihat Chanyoon sudah terduduk sambil merang kesakitan.

“Chanyoon!!”

Secepat kilat Sehun menopang tubuh Chanyoon yang hampir limbung. Dengan kedua tangannya ia berusaha untuk tetap menjaga tubuh Chanyoon dalam posisi duduk.

“Kau kenapa? Yak!! Chanyoon!!”

“Aaakkhh!! Ssshhh—“ sama sekali tak ada jawaban dari mulut Chanyoon. Hanya erangan dan teriakan kesakitan yang ia keluarkan.

“Chan!! Kau kenapa?!! Sadar Chan!!”

Pemuda bermarga Oh itu bisa merasakan aliran keringat dingin yang mulai membasahi seluruh tubuh sahabatnya itu. Raut wajah Sehun berubah penuh dengan ketakutan. Ia tidak tahu harus berbuat apa karena ia memang belum pernah melihat Chanyoon yang kesakitan seperti ini.

“Ssshhh—sakit!! Ya Tuhan!! Ssshh— akkhh!! Hyung!!”

“Chanyoon!! Sadarlah!! Jangan membuatku takut!!”

“Aaaaakkhhh!! Se—sehun… sshhh—akkhhh!!”

Sehun hanya bisa meringis melihat keadaan Chanyoon yang semakin mengakhawatirkan. Ia ingin sekali membawa Chanyoon ke ruang kesehatan, namun Sehun tidak bisa melakukannya karena ia tidak bisa memapah tubuh Chanyoon sendirian. Belum lagi posisi ruang kesehatan yang terletak cukup jauh.

“Aaakkkhh!! Tuhan!! Aakkhh—“

Chanyoon mengeluarkan airmatanya. Sakit yang menyerang bagian kepalanya begitu hebat hingga membuatnya sulit untuk bertahan. Tubuhnya menegang saat rasa sakit itu semakin menjadi membuat dirinya semakin tenggelam dalam rasa sakit yang selama ini menyiksa dirinya.

“Sssshh—Se—sehun.. Sehun-a, to—long ssshhh—tolong hubungi Jongin hyung!!”

Sehun mendelik kaget sebelum akhirnya ia segera meraih ponselnya dan menghubungi Jongin.

Dalam hati ia hanya bisa berharap jika rasa sakit yang Chanyoon rasakan dapat segera menghilang.

.

.

.

.

.

Ruangan serba putih dengan bau obat yang begitu menyengat terlihat cukup sunyi. Seorang pemuda berambut hitam tengah terduduk cemas di kursi tunggu. Tepat di depannya ada sebuah meja yang diatasnya tertera nama seorang dokter. Ya, saat ini ia sedang berada di rumah sakit, menanti sang adik yang tengah diperiksa oleh dokter di dalam sana.

Menghela napas berkali-kali, Kim Jong In—pemuda berusia dua puluh satu tahun itu berusaha untuk membuat dirinya sesantai mungkin saat ini. Hal ini bukan pertama kalinya bagi Jongin saat ia harus duduk diam tanpa bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan kondisi adik lelakinya. Sudah tak terhitung lagi berapa kali ia dan Chanyoon harus mengunjungi tempat itu hanya untuk berobat. Tapi apa boleh buat, saat ini Jongin tak memiliki pilihan apapun. Yang hanya bisa ia lakukan adalah berdoa demi kesembuhan Chanyoon dan selalu berusaha mencari jalan kesembuhan bagi adik satu-satunya itu.

Tangan kekar Jongin mulai mengeluarkan keringat dingin karena rasa cemas, khawatir, takut semuanya bercampur aduk menimbulkan efek luar biasa baginya. Dalam hati ia terus berdoa semoga apa yang ia takutkan selama ini tidak akan pernah menjadi kenyataan. Ia tidak sanggup jika harus melihat kondisi adiknya yang lemah, terpuruk dan menderita. Jongin tidak sanggup jika harus ditinggalkan oleh Chanyoon.

Di dunia ini, hanya Chanyoonlah teman hidup satu-satunya. Hanya Chanyoon keluarga terdekatnya dan apapun akan ia lakukan demi kelanjutan hidup Chanyoon. Dan jika kalian bertanya dimana kedua orangtua mereka, maka jawabannya adalah tidak ada. Bukan, bukan karena mereka yatim piatu, tetapi lebih tepatnya orangtua mereka tidak berada di Korea. Merek sibuk dengan urusan dunia, terus mencari uang, berusaha mencari kepuasan dunia yang tidak ada ujungnya dan dengan tega menelantarkan kedua putra mereka.

Menelantarkan disini bukan berarti orangtua mereka membiarkan anak-anaknya hidup tanpa ada topangan, tetapi lebih pada tidak memberikan mereka kasih sayang yang semestinya. Bukankah setiap anak pasti membutuhkan kasih sayang dan cinta dari orangtuanya? Apa harta bisa memberikan kebahagiaan? Tidak. Maka dari itulah yang membuat Jongin merasa kesal dan marah pada mereka. Orangtuanya sama sekali tak memberi perhatian sebagai mana mestinya. Bahkan cukup dihitung dengan jari berapa lama mereka berada di Korea, selebihnya maka hidup Jongin dan Chanyoon tak ubahnya seperti yatim piatu yang hidup mewah berkat asuransi kematian kedua orangtua mereka.

Dan yang lebih membuat Jongin sedih, selama hampir dua tahun ia berusaha untuk memendam segala masalahnya dalam hati. Tentang semua penderitaannya dan juga Chanyoon, bagaimana kehidupannya selama ini, bahkan apa yang sudah terjadi pada Chanyoon. Semuanya, tak satupun yang mereka ketahui. Toh percuma saja jika mereka tahu. Apa yang akan mereka lakukan? Paling-paling akan kembali mengeluarkan uang sialan dari dompet mereka untuk membantu masalah Chanyoon sama seperti seorang donatur yang menyumbang untuk anak-anak di panti asuhan. Miris sekali.

Jongin tersenyum kecut mengingatnya.

SREEEK~

Tirai biru muda yang menjuntai itu terbuka membuat Jongin kembali sadar dalam situasi nyata. Dilihatnya seorang dokter yang sudah sangat ia kenal muncul dari sana diikuti oleh sang adik yang kini telah duduk disampingnya.

Pemuda berusia dua puluh satu tahun itu melirik sekilas sebelum akhirnya suara sang dokter mengintrupsi.

“Apa obat yang saya berikan sudah habis?”

Jongin mengerutkan dahinya namun sebelum ia membuka mulut, Chanyoon lebih dulu menyambar.

“Sudah,”

“Menurut perhitungan obat itu untuk pemakaian selama satu bulan, tetapi terakhir kali kalian check up dua minggu lalu,” dokter berusia paruh baya itu tetap memasang wajah tenangnya.

“Lalu apa yang terjadi sebenarnya dok?”

Terdengar helaan napas dari dokter berkacamata itu, “Tanpa adanya obat itu maka rasa sakit yang Chanyoon derita akan muncul kembali. Ini juga bisa menghambat penyembuhannya,”

Jongin terlihat memijit pelipisnya. Mendadak kepalanya terasa berat saat mendengar penjelasan dokter Yoon.

“Kalau begitu, akan saya berikan resep obat yang baru,”

Jongin hanya mengangguk pelan tanpa mau bersuara sedikitpun. Ia sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa. Segala pengobatan sudah ia usahakan demi kesembuhan Chanyoon. Jongin tidak mau Chanyoon semakin menderita dalam sakitnya. Lalu apa yang harus ia lakukan?

“Ini resepnya,”

Dokter Yoon memberikan secarik kertas putih dengan goresan tinta yang tentu Jongin tidak tahu apa maksudnya. Sedetik kemudian ia bangkit dan membungkuk sopan.

“Terima kasih atas waktunya dok, kami permisi,”

Sama seperti apa yang dilakukan kakaknya, Chanyoon pun tak lupa memberikan salam hormat pada dokter yang sudah menanganinya selama ini. Menghela napas pelan sebelum akhirnya ia melangkah mengikuti Jongin yang sudah keluar terlebih dulu dari ruangan itu.

Pandangannya kosong walau kakinya tetap melangkah mengikuti jejak sang kakak. Entah kenapa kali ini ia merasa benar-benar lelah. Sampai kapan ia harus terus menjalani pengobatan seperti ini? Meminum berbagai pil, istirahat, dan juga harus menahan rasa sakit di kepalanya?

Terkadang Chanyoon merasa Tuhan tidak adil kepadanya. Kenapa dirinya yang harus menanggung penyakit seperti itu? Kenapa bukan orangtuanya saja yang menderita? Kenapa bukan orang lain? Chanyoon ingin hidup normal, sama seperti teman-temannya yang lain. Tapi setiap kali ia merasakan hal itu, maka Jongin akan mendukungnya. Memberikan nasihatnya jika apa yang sedang Chanyoon alami merupakan cobaan dari Tuhan.

Pemuda bermarga Kim itu memang bisa menerima nasihat dari sang kakak, tetapi entah ia merasa terlalu lelah dengan hidupnya. Terlalu banyak yang tidak bisa ia lakukan bahkan di usia mudanya. Apa ini hukuman dari Tuhan? Tapi kenapa Tuhan harus menghukumnya? Apa salahnya? Apa dosanya?

“Kim Chan Yoon!”

Sontak yang dipanggilpun menoleh. Chanyoon mengangkat kepalanya menatap Jongin yang berdiri beberapa langkah di depannya. Pemuda yang berstatus sebagai kakak kandungnya itu terlihat mengeraskan rahang dengan tatapan tajamnya. Chanyoon pun tahu apa penyebabnya.

“Aku memang tidak meminum obat sialan itu,”

Akhirnya Chanyoon membeberkan perilakunya selama ini. Ia memang tidak sepenuhnya meminum obat yang didapat dari dokter Yoon. Sebagaian ia minum dan sisanya ia buang. Lagipula siapa yang akan tahan jika setiap hari harus mengonsumsi obat sebagai tiga pil sekaligus? Chanyoon tidak mau hidupnya terus menerus bergantung pada obat. Ia ingin hidup normal layaknya orang lain. Dan karena alasan itulah Chanyoon selalu membuang obatnya tanpa sepengetahuan Jongin. Tapi toh saat ini tidak ada gunanya lagi untuk terus menutupinya.

“Kenapa kau melakukan itu?! Apa kau tidak pernah berpikir apa akibatnya?” nada bicara Jongin mengeras. Pemuda itu sudah cukup untuk bersabar menghadapi adiknya.

“Hyung tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan selama ini! Aku benci racun itu!! aku benci hidup seperti ini!!”

“Tapi tidak seharusnya kau membuangnya!! KAU INGIN MATI HAH!!”

“IYA!!! AKU MEMANG INGIN MATI BAHKAN AKU TIDAK INGIN DILAHIRKAN DI DUNIA INI!!!”

Dua kakak beradik itu saling melempar tatapan tajam dengan napas memburu. Terlihat kilatan emosi di masing-masing mata mereka. Lorong rumah sakit itu kini sepi seketika. Suara mereka yang meninggi saling beradu kuat dan menggema sepanjang lorong telah hilang. Beruntung disana bukanlah tempat untuk kamar inap para pasien.

“Kau—“ geram Jongin.

Dengan langkah cepatnya ia mendekati Chanyoon. Kedua tangannya mencengkram erat bahu adiknya, “Jika kau memang ingin mati, bukan begini caranya. Sebagai pria sejati tidak seharusnya kau menyerah begitu cepat, Kim Chan Yoon!!”

PLAK~

Chanyoon menepis tangan Jongin begitu saja.

“Aku tidak akan mendengarkan semua nasihat hyung! Aku sudah bosan hidup seperti ini, aku lelah!”

“Kau pikir hanya kau saja yang lelah? Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan kakakmu ini?” tiba-tiba saja tatapan Jongin berubah lembut.

Chanyoon terdiam. Lidahnya bahkan terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Jongin.

“Orangtua kita.. jika kau memang merasa sudah tidak peduli dengan mereka, setidaknya kau bisa terus hidup demi hyung-mu ini Chan-a,”

“Hyung—“

Jongin menggeleng keras seraya mencengkram erat kedua bahu Chanyoon, “Kau satu-satunya keluarga yang aku miliki. Kau satu-satunya adikku! Dan jangan pernah berpikir untuk pergi karena aku akan sangat marah!”

Pandangan Chanyoon menjadi buram diikuti dadanya yang menyesak. Perlahan tapi pasti cairan hangat sebening kristal itu pun menetes membasahi pipi tirus pemuda itu. Tapi dengan segera ia menepis semua itu. Chanyoon mengusap airmatanya dengan kasar sebelum akhirnya ia pergi dari sana meninggalkan Jongin yang masih diam mematung.

“KIM CHA YOON!!”

“Jangan cari aku hyung!!!”

Dan Jongin hanya bisa mematung ditempat menatap punggung Chanyoon yang semakin menjauh dari pandangannya. Mungkin—memang itu yang bisa ia lakukan saat ini. Chanyoon hanya butuh waktu.

 

ToBeCo~

Sambil nunggu sequel mommy dateng silahkan kasih komentar tentang ff ini. Mau di lanjut atau gak? Itu terserah kalian 😀

Pai Pai^^

86 responses to “[Freelance] At Least I Still Have You (Chapter 1)

  1. karna bru chapt 1 jdi blm begitu tau sifat mereka masing”,,tp sejauh ini chanyoon agak keras kepala juga,,,jongin jdi kakak yg perhatian,,aku sempet mikir kalo hyera udah kenal ama jongin,,
    d’tunggu next part’nya:-D

  2. Krn bru chap 1 jdi ak gak trlalu ngerti -_- . Aku penasaran sbnrnya chan skt apa ?? Kyknya sakitnya chan parah…

  3. Krn bru chap 1 jdi ak gak trlalu ngerti -_- . Aku penasaran sbnrnya chan skt apa ?? Kyknya sakitnya chan parah…
    Di tunggu chapter 2 nya^^

  4. aku masih kebawa suasana mommy, jadi ga menduga kalo yang jadi sodaranya Jongin itu Chanyoon.__.
    itu Chanyoon sakit apa? penasaran thor T-T
    berharapnya sih di next, sekalian nungguin sequel mommy, tapi terserah authornya deh *lah? xD
    oh iya, aku minta pw mommy dong thor u,u

  5. Awalnya aku kira jongin udah kenal sama hyera tp ternyata blum terverifikasi/?
    Suka banget sama hubungan jongin & chanyoon yg saling melengkapi *apadah*
    sejauh ini blum tau sifat mereka lebih jauh jadi blum bisa komen tentang mereka
    hwaiting eonni!! Di tunggu next chap ya,!

  6. Kok hyera nya tomboy sih ? Cwe serampangan gitu ya. Trs gue maunya dia harus sma jong in ya dit. Hatus. Mutlak itu mah. Wkwk fighting buat mommy’s squel 😉

  7. waaah..dengan cast yg sama tapi jalan cerita yg berbeda, agak susah si bayangin chan udah gede, kebawa karakter dy di mommy, kkkk
    lanjut author..ditunggu juga sequel mommy nya 😀

  8. Chan sakit apa.ini jadi ff sedih ya.penasaran chan suka sama hyera yah.drpd penasaran aku tunggu lanjutan ja . semangat author

  9. hah. . Aq bru tau ada ff ini . .
    Keren parah. .
    Walaupun ide ceritanx ckup pasaran,ttg anak orang kaya yg kurang kasih sayang dari orang tua mrka. .tp dsni benar2 jd gag pasaran ceritanx. .dikemas dgn kece,bahasa yg gag berat,dan brothership yg bkin nyesek. .huaaaaa aq jadi pngen nangis.. Dsini karakter kai benar wow buat gue,bgtu menyayangi adiknx sepenuh hati. . Hikz3 sabar kai
    O_o chan bisa masak?kaget ajha pas pertama baca set lelaki masak. Wow .keren parah..gag nyangka dibalik sikap chan yg dingin dan cuek,dia ternyata menderita penyakit parah. .huaaaa sabar dek., get well soon.

    .next chapt nx gue tunggu saeng .

  10. Wahh keren keren!
    Next chap ditunggu thor..
    Oh ya thor,, q minta pw mommy donk.. Soal.a q udh mention ke twitter author tp ga ada jawaban.. Nama twitter q @haifanathehun
    ditunggu ya thor pw ny

  11. Pas liat nama Chanyoon di baris “Main Cast” kukira ini sequel mommy 😀
    Maka dari itu pas awal-awal baca rada bingung,,

    Mau nanya nih thor, kalimat “Perlu di jelaskan sebelumnya, jika Oh Se Hun dan Kim Chan Yoon adalah satu dari tiga pangeran tampan yang berhasil menjadi the most wanted di Universitas ternama di Seoul itu” itu bukannya ‘dua dari tiga pangeran’ ya ?
    hehe maaf sebelumnya ..

    Sequel mommy ditunggu ya .. Keep writing thor 🙂

  12. chanyoon sakit apaan thor?
    walaupun agak2 bingung bcanya tapi tetep keren thor!.. mnrt q feelx dpet bnget.. keep writing thor.
    next chap di tunggu 😉

  13. Kereeenn bangett thor.. Kyaaa chan sakit apa?? Semoga gak separah yang aku kira.. Jong in jadi kakak yang perhatian ama adenya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s