[Freelance] DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 4)

LUSERADBM9

DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 4)

Author :: Sangheera
Title :: Devil Beside Me (Chapter 3)
Cast :: Luhan of EXO as Angel,  Sera (OC) as Devil

Support Cast :: Angel’s line – Suho, Xiumin, Chen, Lay, Kyungsoo.

Devil’s Line – Kris, Baekhyun, Chanyeol, Kai, Sehun, Tao
Genre :: Romance, Fantasy
Length :: Multi Chapter
Rating :: PG-17

Disclaimer :: Fanfict ini adalah hasil dari kerja keras neuron di otak kanan author sendiri, jadi mohon jangan diplagiat yaaa…

Note :: Mohon diingat bahwa ini hanya fanFICTION, sekali lagi ini hanya FICTION. FIKSI. Hasil dari khayalan author. Jadi mohon untuk tidak menyangkutpautkannya dengan kepercayaan yang kalian anut ya. It’s just for fun… DISLIKE? DON’T READ!

Clue :: Pembicaraan LuSera di Chapter ini jangan dianggap hanya obrolan biasa ya…

 

-o0o0o0o-

 

When I hold your hand, the whole world envies

(EXO – What is Love)

 

 

:: SERA POV ::

“LUHAAAAANNN!!!”

“LUHAAAAN OPPAAAA!!!!”

“OPPA HWAITINGGG!!! KYAAA~”

Hell, ini membuatku gila. Manusia-manusia rendahan itu sepertinya berniat membuatku lepas kendali dan membasmi mereka semua. Apa-apaan wajah sumringah, mata berbinar dan jeritan kurang ajar mereka itu.

Ditengah lapangan, Luhan dan beberapa teman manusianya sedang bermain basket. Dia nampak bersemangat sekali berebut bola dan memasukkannya ke-ring basket. Tentu saja kemampuan Luhan adalah yang terbaik. Tapi dia pasti menekan kemampuannya dilevel terendah, sehingga sesekali manusia-manusia itu bisa melewatinya dan merebut bola dari tangannya. Tubuh Luhan juga berbalut keringat, rambut kecoklatannya yang lembut itu sudah basah dan sesekali ia berhenti sambil memegangi lututnya dengan napas terengah. Malaikatku itu benar-benar pintar berakting.

Dan dia terlalu mempesona. Sangat mempesona. Sebagai iblis aku begitu kagum dengan wujudnya yang sempurna itu. Tapi, aku tidak suka kenyataan bahwa bukan hanya aku yang menikmati kesempurnaan Luhan. Puluhan pasang mata manusia dibumi ini juga menikmatinya dengan gratis. Inilah alasanku membenci sekolah. Anak-anak perempuan disekolah ini sangat menyebalkan.

Tanganku mengepal. Asal kalian tahu, aku bisa mengeluarkan pedang dari udara kosong. Satu kali tebasan saja sudah cukup untuk membuat kepala gadis-gadis itu terpisah dari tubuh mereka. Keuntungan ada dipihakku karena aku jutaan kali lebih kuat daripada manusia bodoh berjenis kelamin perempuan itu.

Baru saja gagang pedang terbentuk ditanganku, Luhan tiba-tiba muncul dihadapanku dan menahan tanganku. Senyum lembutnya tersungging sempurna diwajahnya yang tampan. Dengan wajah seperti ini, pantas manusia-manusia itu gila karenanya.

“Astaga, sayang. Kenapa kau cemburuan sekali, huh?”ujar Luhan

“Kau tadi bilang kalau aku harus menurunkan level kecantikanku kan? Lalu apa yang kau lakukan sekarang huh? Tebar pesona?”

Luhan terkekeh. “Aku hanya bermain basket. Ck, kau ini. Arasseo, aku akan berganti pakaian sebentar, kau tunggu disini ya?”

Aku mengangguk sementara Luhan mengusap kepalaku lembut. Manusia-manusia yang ada disekitar, menatapku dan Luhan dengan tatapan iri. Kebanyakan dari mereka bahkan berani menatapku dengan tatapan benci dan berkasak-kusuk. Mengumpatku dengan kalimat macam-macam. Sedangkan para pria, mereka makhluk yang lebih rasional. Melihatku dekat dengan Luhan sudah membuat mereka tidak berani macam-macam denganku.

Luhan berlari meninggalkanku menuju toilet pria dengan tas dipunggung. Aku tidak mengerti mengapa dia harus repot-repot seperti itu. Apa gunanya sihir? Ah iya, para manusia disini akan kena serangan jantung kalau tiba-tiba pakaian Luhan berubah dalam sedetik. Aighooo, hidup didunia tanpa sihir benar-benar membosankan.

“Ya! Kau! Hwang Sera!”

Siapa yang memanggilku dengan nada kurang ajar seperti itu?

Aku berbalik dan mendapati 5 orang manusia berjenis kelamin perempuan dengan make-up tebal diwajah mendekat kearahku. 5 gadis itu… Jeon Boram. Park Injung. Park Sunyoung. Park Jiyeon. Dan Ham Eunjung. Aku bisa membaca siapa nama mereka yang tercetak diatas kepala mereka. Ya, tepat 7 cm diatas ubun-ubun.

Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata hampir tepat menggambarkan identitas manusia yang bisa dilihat malaikat kematian di Death Note, tapi tentu saja tidak ada malaikat kematian yang sejelek Ryuk dan Rem didunia. Otak manusia saja yang eror dan suka berimajinasi macam-macam.

“Kalian memanggilku?”tanyaku malas.

“Ne.”Park Jiyeon yang menjawab. “Ttarawa!”

Park Jiyeon dkk itu berjalan melewatiku. Ham Eunjung yang paling terakhir, melotot kearahku sambil menggerakkan-gerakkan jari telunjuknya didepan wajahku. Isyarat agar aku mengikutinya.

Aku menyunggingkan smirkku. What the hell dengan manusia-manusia kurang kerjaan itu. Kakiku kulangkahkan dengan ringan, lurus kedepan. Meninggalkan gadis-gadis bodoh yang berjalan berlawanan arah dibelakangku.

“YAK!!!”

Sial. Seharusnya aku lari tadi. Sekarang gadis-gadis itu lebih frontal dengan menangkap kedua lenganku dan menarikku paksa.

“Aishhh!! Lepaskan~!!!”teriakku kesal. Tapi manusia bermake-up tebal ini sepertinya belajar dengan baik. Mereka tidak melepaskanku karena takut aku akan kabur, cih.

“Apa mau kalian?!”semprotku setelah Park Jiyeon dkk membawaku kedalam toilet wanita.

“Neo!! Apa hubunganmu dengan Luhan oppa, eoh? Kenapa kau selalu menempel padanya seperti benalu?! Menjijikkan,”Park Sunyoung bertanya sambil mendorong bahuku.

Mau main kasar rupanya.

“Oppa adalah milik kami!! Jika kau berani dekat-dekat dengan Luhan oppa, kami tidak akan segan menggunting rambutmu atau menguliti kulitmu, ara?”ancam Park Jiyeon.

“Mworago?”Aku tersenyum mengejek. “Aigho, jadi kalian tidak suka aku dekat dengan Luhan. Ckckck, payah. Yak! Jaldeuro. Luhan adalah milikku. Kalian salah jika menganggap akulah yang menempel pada Luhan. Namja itu yang menyerahkan dirinya padaku, ara? Dia bahkan bilang kalau dia mencintaiku. Kalian dengar itu? Luhan mencintaiku. Mau aku ulangi lagi? LUHAN MENCINTAIKU. Dia jatuh cinta padaku…”

Aku menatap puas wajah-wajah pias dihadapanku.

“Habis perkara, ladies…”ejekku. “Ckckck, buang jauh-jauh impian kalian tentang Luhan. Kalian bukan levelnya…”

Yeah. Aku suka kata-kata terakhirku. Tentu saja Luhan bukan level mereka. Ketika Luhan harus menurunkan level ketampanannya agar para manusia tidak gila melihat kesempurnaan wajahnya. Gadis-gadis didepanku ini rela bersusah payah mendempul wajahnya dengan make-up tebal. Level mereka benar-benar berbeda.

“YAK!! Memangnya kau ini siapa?! Kau baru datang minggu lalu tapi kenapa kau langsung merebut Luhan dari kami…”Mata Jeon Boram memerah, sedetik kemudian cairan bening keluar dari matanya. Air mata. Manusia benar-benar makhluk yang beruntung. Park Injung memeluk gadis emosional itu.

Aku mendengus.

“Sejak kapan kau kenal dengan Luhan oppa, eo?”tanya Park Jiyeon.

“Sejak sebulan yang lalu…”

“MWO????!!!!”

“Wae? Shireo??”

“YAK!!! Bagaimana bisa… kami semua bahkan mengejar-ngejar oppa sejak pertama kami sekolah disini. Kami jatuh cinta pada pandangan pertama pada oppa!! Kami tidak akan menyerahkan oppa pada gadis yang baru satu bulan dia temui!”

Haiiiish. Omong kosong apa lagi ini! “Apa kalian bilang? Cinta pada pandangan pertama? Mwoya igeo?”

“Kau tidak tahu?! Apa kau hidup diplanet lain selama ini?!”ejek Park Sunyoung.

Ish… dasar. Tanganku melayang hendak memukul kepala gadis itu. tapi buru-buru kuhentikan. Jika aku lepas kendali memukulnya, bisa-bisa kepala gadis itu pecah seperti semangka.

“Cinta pada pandangan pertama itu saat aku kehilangan akal, ketika aku melihat Luhan oppa. Kecuali Luhan oppa, apapun yang ada didunia ini akan bergerak lambat. Oh, katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta…”Jeon Boram malah berpuisi dengan gaya menggelikan. Kehilangan akal? Dunia bergerak lambat? Hummm… aku tiba-tiba teringat pertemuan pertamaku dengan Luhan di Rumah Sakit.

“Mwoyaaaa? Itu lirik lagunya EXO!!”protes Jiyeon yang juga diamini oleh gadis yang lain.

“Apa kalian sedang bermain-main denganku, eoh? Kalau begitu aku pergi. Buang-buang waktu saja…”

“Tunggu!!”Park Injung dan Ham Eunjung menangkap lenganku dan memeganginya erat-erat.

“Yak! Lepasss!”

Tapi kedua manusia ini malah memperkuat kuncian lengannya. Park Jiyeon mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah silet tajam. Jeon Boram yang wajahnya sembab, bersembunyi dibelakang Jiyeon.

“Aku tadi sudah bilang padamu kan, apa yang bisa kami lakukan jika kau dekat-dekat dengan oppa…”

Aku mengangguk. Tak gentar sama sekali dengan usaha kelima gadis ini mengintimidasiku. Mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.

Park Jiyeon mengambil sejumput rambutku dan mengarahkan siletnya kesana. Mataku mendelik melihat tangannya perlahan memaju mundurkan silet itu kehelaian rambutku. Oh, tidak! Rambut indahku!

Buakk!

Kakiku menendang lutut Jiyeon, membuat gadis itu tersungkur kebelakang dan memekik kesakitan. Itu tadi kekuatan level terendah, aku harap kaki gadis itu tidak patah. Sedetik kemudian aku sudah menginjak kaki Injung yang ada disebelah kananku, lalu sementara dia lengah karena kesakitan, aku mendorong tubuh Eunjung yang ada disisi kiriku. Sunyoung yang terkejut dengan perlawananku, hendak melayangkan sebuah pukulan padaku. Tapi tentu saja aku lebih cepat darinya. Kupiting tangan Sunyoung kebelakang tubuhnya, dan mendorong Sunyong hingga tersungkur kebawah wastafel. Boram menciut saat aku melihat kearahnya.

“SERA BABY!! APA YANG KAU LAKUKAN DIDALAM, EOH? AYO KITA PULANG!,”suara Luhan menghentikanku yang hendak mengerjai Boram. Aku mendengus sebal. Gadis cengeng ini benar-benar beruntung.

“Yak! Jaldeuro!”kataku sambil menyapukan tatapanku pada 5-gadis-makeup-tebal yang sedang merintih kesakitan. “Kalian tidak perlu repot-repot melakukan semua ini, aro? Mau bersusah payah seperti apapun kalian ini tetap bukan tandinganku. Aku dan Luhan suatu hari nanti akan berpisah. Kalian tunggu saja saat itu dengan tenang. Okay?”

Ya benar, bagaimanapun juga suatu hari kami akan berpisah. Karena bagaimanapun aku adalah iblis, dan Luhan adalah malaikat. Kami tidak mungkin bersatu. Itu kenyataannya. Kenyataan yang menyedihkan.

Kelima gadis itu saling berpandangan, tidak menjawab pertanyaanku.

“OKAY?!”ulangku.

“O-okayyy…”

Good girl…”

Aku melangkah meninggalkan toilet sial ini dan saat keluar, Luhan sudah menungguku dengan tangan bersedekap. Wajahnya nampak tidak senang. “Kenapa kau berkelahi dengan mereka?”

Aku manyun. “Waee? Mereka yang mulai duluan…”

Luhan menghela napas berat, sebelum meraih jemari tanganku dan menggenggamnya. “Aku tidak suka jika hal ini terjadi lagi. Kalau mereka mencegatmu, kau kan bisa kabur daripada susah-susah meladeni mereka seperti itu…”

“Iyaaa…”

Luhan mengusap lembut kepalaku. “Hari ini, bagaimana kalau kita jalan-jalan, eum?”

“Kau tidak bekerja?”

“Tidak. Hari ini aku akan menghabiskan waktu bersamamu…”

“Ehe… kedengarannya menyenangkan…”

Senyuman malaikat itu tersungging. “Kkaja…”

Luhan membawaku kesebuah toko buku besar didaerah Gangnam. Aku selalu suka membaca buku-buku, termasuk buku manusia. Terutama buku yang penuh gambar yang manusia sebut dengan komik itu. Di Korea, tempat dimana Luhan dan aku tinggal, manusia menyebutnya Manhwa.

Kami berjalan bergandengan tangan melewati tumpukan buku new comer. Aku sudah tidak sabar dan setengah menarik Luhan menuju ke-section favoritku diujung toko ini. Tapi sepertinya ada buku yang menarik perhatian Luhan. Malaikatku itu menahan tanganku.

“Sebentar Sera…”katanya lembut yang membuatku berhenti menarik-narik tangannya. Luhan mengambil sebuah buku bersampul tebal dengan cover bergambar malaikat bersayap hitam yang sedang meringkuk dilantai penjara. Judulnya tercetak besar dibagian atas, dengan tinta perak. LUCIFER “Secret of the Fallen Angel”.

“Sayapnya kurang besar itu…”komentarku pada gambar yang ada dicover buku.

“Memangnya kau tahu sayap malaikat itu seperti apa?”canda Luhan.

“Eo. Kau tidak pernah membaca kitab ya? Malaikat punya 600 sayap ditubuhnya. Coba! Bisa tidak kau membayangkannya, eo?”balasku. Luhan tertawa.

“Aigho, yang punya 600 sayap itu hanya klan Gabriel. Malaikat sepertiku yang termasuk klan Azrael tidak punya sebanyak itu…”

“Eh? Lalu sayapmu ada berapa?”

“99…”

“Mwoyaaa? Jadi kau ini malaikat kelas rendahan? Kenapa sedikit sekali?”

“Heisssh, jincha! Aniya, strata malaikat tidak diukur dari jumlah sayapnya, aro?”

“Lalu dari apa?”

Luhan nyengir. “Dari ketampanannya. Tentu saja aku ada distrata tertinggi…”

“Ish…”

Aku memutar bola mataku dengan ekspresi malas. Tidak berminat meladeni kenarsisan ala malaikat. Aku masih mendengar tawa geli Luhan saat berjalan menuju section komik.

Sampai dirak penuh dengan komik-komik berjejer, aku menyempatkan menoleh kearah Luhan. Malaikat itu sudah tenggelam dengan buku bacaannya. Apa menariknya coba buku itu? Lagipula Lucifer itu hanya legenda. Di dunia bawah, dia tidak benar-benar ada. Banyak manusia yang salah kaprah menganggap Lucifer adalah Raja para iblis. Iblis adalah pendukungnya saat Lucifer membangkang pada Sang Pencipta. Jadi ketika Lucifer diusir dari surga, iblis juga ikut terusir. Tapi, Lucifer menghilang sejak itu, banyak yang percaya kalau dia telah dimusnahkan oleh Tuhan.

Ah sudahlah, cerita tentang Lucifer memang simpang siur penuh misteri. Mungkin itu yang membuat Luhan-ku tertarik. Tapi untukku, komik Jepang tentang manusia yang terkurung didalam tembok besar agar tidak dimakan oleh makhluk bernama Titan ini lebih menarik.

Di salah satu kitab disebutkan bahwa ada makhluk yang dipenjara didalam sebuah bangunan yang berupa tembok tinggi dan tersembunyi disuatu bagian didunia manusia. Kami menyebut makhluk itu Ya’jud Ma’jud, nama yang lucu untuk makhluk pemakan daging manusia kan? Sudah lama para iblis memelihara tempat itu dan ketika kiamat telah dekat kami akan membebaskan mereka agar terjadi bencana besar didunia ini. Mungkin cerita ini yang menginspirasi kreator Attack on the Tittans. Ckckck, imajinasi manusia memang sangat liar.

Aku sedang membaca komik kedua saat kusadari ada seorang pria yang berdiri disampingku dan menatapku penuh minat. Ck, manusia berjenis kelamin laki-laki memang selalu tidak tahan melihat tubuh S-line didekatnya. Padahal aku hanya memakai seragam sekolah. Dasar mesum. Aku mendelik kearah pria itu.

“Apa lihat-lihat? Kau tidak lihat pacarku ada disana?!”bentakku sambil menunjuk kearah Luhan yang sedang berbincang dengan seorang manusia perempuan. Waiiiiitttttt~ apa yang dilakukan perempuan itu didekat Luhan-ku!!

Aku melangkah dengan langkah-langkah panjang kearah Luhan dan langsung menempatkan diriku diantara Luhan dan perempuan itu. Menatapnya tajam.

“Aku tadi diganggu pria disana itu, Lu…”laporku sambil mendongak kearah Luhan yang berdiri dibelakangku. “Tapi kau malah mengobrol dengannya?”tatapanku beralih pada perempuan didepanku. Lihat. Memamerkan belahan dada untuk menggoda pria eh? “Annyeonghaseyo, ahjumma…”sapaku sok innocent.

Luhan tersenyum geli. Malaikatku itu melingkarkan lengan kirinya dibahuku. “Aku datang kemari dengan pacarku, noona. Siapa namamu, baby?”

“Sera,”kataku sambil menyodorkan tangan kearah perempuan dada besar didepanku. Perempuan itu tersenyum masam. Lalu buru-buru pamit. Ne. Ne. Lebih cepat kau pergi lebih baik.

“Apa-apaan itu tadi? Aku benar-benar tidak boleh melepaskan pandanganku darimu ya Luhan? Seharusnya kita jalan-jalan dengan sayap saja, jadi manusia-manusia itu tidak bisa melihatmu…”

“Maaf, aku tidak bisa bersikap sepertimu. Membentak manusia dan memukul mereka. Malaikat tidak dilengkapi fitur seperti itu…”

“Ckckck, payah…”

“Eo. Benar-benar payah…”Luhan terkekeh.  “Terima kasih sudah menyelamatkanku, baby. Noona tadi benar-benar berisik.”

“Tidak masalah. Kau bisa mengandalkanku untuk urusan seperti itu…”Aku nyengir.

Di toko buku ini, Luhan dan aku membeli lebih dari selusin buku. Salah satu buku yang Luhan beli adalah buku tentang Lucifer tadi. Setelah membayar dikasir dan meninggalkan toko buku, Luhan mengajakku kesebuah tempat yang terkenal sekali di Seoul. Namsan Tower.

Ini sudah malam, dan Luhan bilang pemandangan kota dari Namsan Tower sangat indah. Aku tidak mengerti, daripada repot-repot kesana, kita kan bisa mengembangkan sayap lalu menatap kota dimalam hari sampai puas dari langit.

“Hari ini, lupakan siapa kita sebenarnya. Bukankah kita serasi sekali jika bersanding sebagai manusia seperti ini?”kata Luhan saat aku melayangkan protes.

Serasi ya? Benar juga. Selain kenyataan bahwa tubuh kita menghantarkan rasa panas menyengat saat bersentuhan, kita nampak benar-benar seperti remaja manusia normal yang sedang berkencan. Itu tidak buruk, kurasa.

Untuk menuju Namsan Tower, kita memilih menggunakan cable car.

“Yak! Kenapa benda ini bergetar seperti ini?? Apa ini benda yang aman, huh?”tanya Luhan padaku sambil berpegangan erat pada pegangan besi dan tanganku.

“Mana aku tahu. Ige mwoya? Apa kau takut, Lu?”

“M-mana mungkin aku takut. Kau tidak tahu aku sering terbang hingga menembus luar angkasa. Lalu kenapa aku harus takut naik benda macam ini, eo? Jangan bicara hal tidak masuk akal seperti itu, Sera,”elak Luhan.

Aku mencibir. Lalu kenapa tanganmu gemetar seperti ini, eh? Astaga. Bagaimana bisa seorang malaikat yang setiap hari terbang kesana-kemari, takut menaiki benda seperti ini. Ckckck, didunia memang tidak ada yang sempurna selain Sang Maha Esa.

Setelah naik cable car, kami menuju puncak Namsan Tower dengan lift. Luhan salah. Apanya yang indah? Ini sih biasa saja. Maksudku, aku sering melihat pemandangan kota dimalam hari dari langit sana dan tidak ada hal yang menarik dengan itu. Untuk manusia mungkin ini memang indah, karena mereka tidak setiap hari melihat pemandangan dari ketinggian seperti ini. Aku juga tidak perlu repot-repot menggunakan teropong yang ada di observatorium untuk melihat dengan jelas apa yang ada dibawah sana. Mataku ini bisa dizoom sebanyak yang aku mau, hasil visualnya juga lebih clear dan detil daripada teropong tercanggih sekalipun.

Tapi, di Namsan Tower ada hal lain yang menarik. Gembok cinta. Awalnya kupikir hal ini konyol. Entah kenapa manusia suka sekali dengan hal-hal non-sense semacam ini. Tapi ketika Luhan memaksaku memilih gembok yang bagus, membelinya dan menulis namaku dan Luhan disana, aku merasakan sesuatu yang berdesir aneh didadaku.

Rupanya aku menyukainya. Aku menyukai bualan manusia yang mengatakan bahwa jika aku menuliskan namaku dan Luhan lalu mengunci gembok ini dipagar dan memasukkan kuncinya keboks yang ada disana, takdir kita terkunci selamanya disini. Yang itu berarti aku dan Luhan tidak akan pernah terpisahkan.

Sambil memelukku dari belakang dan menatap kota Seoul dari atas Namsan Tower, Luhan membisikkan kalimat itu lagi ditelingaku.

“Aku mencintaimu, Sera…”

Aku hanya tersenyum. Cinta? Tidak ada kata cinta dalam kamus hidup seorang iblis sepertiku.

“Lu, berapa umurmu?”tanyaku, berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Mmm… 1500? Mungkin lebih,”jawab Luhan enteng.

Mataku membulat. Terkejut dengan jawaban Luhan. “Bohong!! Kau tua sekali! Masa kau seumuran dengan ayahku?! Baekhyun saja baru berumur 800an tahun.”

“Benarkah?!”Luhan nampaknya juga terkejut sepertiku. “Ck, memang apa pentingnya umur bagi kita. Tubuh kita toh tidak akan menua.”

“Hei, kau tahu berapa umurku? Aku bahkan belum genap satu abad…”

Kali ini Luhan pasti benar-benar terkejut. Dia menoleh kewajahku dan menampakkan wajah syok. “Jinchaya?”

Aku mengangguk. “Jincha. Aku lahir saat pecah Perang Dunia I di dunia manusia…”

“Waaahhh, perbedaan umur kita bukan main jauhnya, Sera…”Luhan terkekeh. “Jincha. Kita benar-benar pasangan paling tidak masuk akal diseluruh alam semesta…”

Aku ikut tertawa bersamanya. “Kita adalah pasangan paling aneh diseluruh jagad raya. Seharusnya kita masuk Guiness World Record, ya kan Lu? Seperti yang dilakukan manusia…”

Tawa merdu Luhan semakin keras. Setelah reda, malaikat itu mencium puncak kepalaku lembut dan memeluk tubuhku lebih erat. Aku bersandar nyaman didadanya. Mengabaikan sengatan menyakitkan yang menjalari seluruh tubuh karena bersentuhan dengan Luhan.

“Kau tahu kisah tentang kejatuhan Lucifer?”tanya Luhan.

Aku mengangguk kecil. “Tentu saja, dia yang membuat kaumku memiliki tugas spesial didunia manusia. Malaikat Pembangkang yang dijatuhkan. Anehnya, Lucifer sendiri bak dongeng didunia bawah. Tidak ada dari kaumku yang bisa membuktikan pernah bertemu dengan Sang Lucifer. Mm, ani. Aku yakin sekali Tuan Kris pernah bertemu dengannya. Ya, pasti hanya Tuan Kris yang pernah bertemu dengan Lucifer.”

“Kau benar. Lucifer adalah malaikat yang membangkang perintah Tuhan untuk bersujud dihadapan Adam, karena itu dia dikutuk dan diusir dari surga. Kau pernah dengar versi lain dari cerita ini?”

Aku mendongak menatap wajah Luhan dibelakangku, lalu menggeleng pelan. Luhan tersenyum.

“Ada yang bilang Lucifer dijatuhkan bukan karena kesombongannya, tapi karena matanya yang telah dibutakan oleh cinta. Disurga, ada malaikat yang begitu sempurna. Seluruh alam semesta memuji kecantikan makhluk ciptaan Yang Maha Agung ini. Lucifer jatuh cinta padanya, pada malaikat bernama Seraphim…”

“Seraphim?”ulangku. Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.

Luhan mengangguk. “Dia adalah salah satu dari sembilan malaikat pertama yang diciptakan. Seraphim, Gabriel, Michael, Raphael, Azrael, Uriel, Israfel dan Jophiel. Calon pemimpin klan para malaikat. Lucifer juga adalah salah satu dari delapan malaikat pertama. Tapi, Lucifer mempunyai satu hal yang tidak dimiliki malaikat lain, yaitu nafsu. Kau bisa bilang, dia adalah produk gagal.”

“Produk gagal…”gumamku. Aneh, sepertinya aku dan Lucifer memiliki satu kesamaan. Sama-sama sebuah produk gagal.

“Malaikat diciptakan tanpa unsur nafsu didalam dirinya. Saat seharusnya hanya Tuhan-lah Dzat yang malaikat sembah dan puja, Lucifer malah menempatkan Seraphim dihatinya. Jadi, ketika Tuhan memerintahkan seluruh alam semesta bersujud pada Adam, Lucifer berani menolak. Baginya tidak ada yang lebih pantas dia puja kecuali Seraphim. Adam tidak ada apa-apanya dibandingkan malaikat sempurna itu.”

“Karena itu Lucifer diusir? Karena cintanya pada Seraphim?”

“Ya. Seraphim yang mengetahui hal itu, menyalahkan dirinya sendiri dan memohon pada Tuhan untuk melenyapkan keberadaannya. Seraphim merasa malu karena kecantikannya telah membuat Lucifer hilang akal dan memberontak pada Sang Pencipta…”

“Apa Tuhan mengabulkannya?”aku bertanya cemas.

Luhan mengangguk kecil. “Mm. Seraphim dilenyapkan, tapi hanya dari surga. Katanya, Tuhan mengirim jiwa Seraphim kedalam perut keturunan Hawa…”

Aku terhenyak. “Jadi dia…”

“Eo. Seraphim sekarang adalah manusia, makhluk yang telah dihina oleh Lucifer di surga…”

Dadaku sesak. Takdir yang menyedihkan.

“Kenapa kau menceritakan ini padaku, Lu? Kisah ini konyol.”

Luhan tertawa kecil. “Bukankah ini mirip dengan kita? Luhan Lucifer, Sera Seraphim. Lalu, cinta yang terlarang.”

“Mwo? Apanya yang mirip? Itu hanya nama. Bagaimana mungkin aku Sera-Seraphim? Aku kan iblis. Tapi kalau cinta terlarang-nya…”Sera diam sejenak. “Aku setuju.”

“Pasti ini informasi dari buku barusan ya, Lu? Imajinasi manusia memang berlebihan…”lanjutku.

Luhan menaruh dagunya dipundakku. “Imajinasi manusia terkadang lahir karena dua hal ini, Sera. Pertama karena bisikan dari kaummu, dan kedua karena bisikan dari Sang Maha Mengetahui yang ingin menyampaikan pesan pada manusia. Terkadang, didunia manusia ini, kebohongan dianggap sebagai suatu yang benar, sedangkan kebenaran dianggap sebagai mitos. Karena hanya Tuhan yang tahu akan segala hal. Bukan hanya manusia, Iblis dan malaikat pun sering salah paham.”

Aku terdiam. Berusaha mencerna kata-kata Luhan. Ya. Didunia ini tidak ada yang lebih hebat daripada Sang Maha Mengetahui dalam merahasiakan sesuatu. Karena itulah, iblis selalu berusaha mencuri dengar dan mengambil informasi apapun dari dunia diatas langit. Aku dan Luhan juga, pertemuan dan kisah ini, entah apa yang sebenarnya diinginkan Tuhan. Semua ini adalah rahasia-Nya.

:: AUTHOR POV ::

Sementara Luhan dan Sera sedang menikmati pemandangan kota Seoul dimalam hari dari Namsan Tower. Dibelahan bumi lain, tepatnya disebuah kota kecil di Inggris, seorang pria dengan pakaian serba hitam dan kacamata hitam, berjalan pelan menyusuri celah-celah diantara ratusan batu nisan. Udara dingin tidak mampu membuat ia kedinginan. Setiap tumpukan salju yang ia injak, langsung serta merta mencair dan menguap keudara.

Pria itu membawa sebuket bunga mawar merah semerah darah. Langkahnya terhenti di sebuah nisan usang. Nisan itu tidak sebesar nisan-nisan bergaya eropa disekitarnya. Hanya ada patung malaikat kecil diatasnya.

Rest in Peace

SERAFINA A. FENNET

1893 – 1917

Pria itu melepas kacamatanya dan menaruh buket mawar yang ia bawa dihadapan batu nisan itu. Pria itu tahu, seseorang yang terbaring dibawah nisan ini tubuhnya telah lebur dengan tanah dan jiwanya telah pergi. Tapi kenangan atas dirinya, tidak pernah hilang sedikitpun dari ingatan pria itu.

Senyum cantiknya. Pembawaannya yang anggun namun juga lucu dan manja. Mata indah bercahaya. Bibir merah merona yang lembut. Kulitnya yang halus dan seputih susu. Aroma tubuhnya yang harum. Pria itu ingat semuanya.

“Aku datang lagi, Serafina. Apa kau merindukanku?”Pria itu—Baekhyun—tersenyum sedih. Iblis itu menyentuh nisan Serafina dengan tangan gemetar, seolah dirinya sedang menyentuh tubuh gadis itu.

“Aku sangat merindukanmu…”

To be continued…..

Hayoooo, apa ini??? Karena mood yang lagi happy, jadinya di Chapter ini yang ada hanya senang-senangnya versi LuSera. Mereka berdua kan sedang pacaran. Jadi ya tak apalah kalau sejenak melupakan masalah mereka. Tapi di Chapter berikutnya, ayo bersiap untuk serius lagi. Bagaimanapun Iblis dan Malaikat adalah makhluk yang diciptakan dari bahan dan dengan tujuan yang berbeda. Jadi mungkin gak sih LuSera bisa bersatu? Hehe… tungguin chapter selanjutnya dengan sabar ya reader-ku tercinta.

Oiya, yang kemarin-kemarin belum RCL, ayo sekarang RCL. Itung-itung ibadah lho, kan nyenengin hati author. Yang kemarin udah RCL, matur THANK YOU!!! Chapter kmrn komennya mencapai 100-an… yehetttt~ Di Chapter ini, RCL lagi yaaa… Dont Be Silent Reader, guyssss~

Ngomong2, adakah reader ini yang orang Solo-Surakarta??

257 responses to “[Freelance] DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 4)

  1. gemes banget kalo mereka lagi sama2 cemburu hahaha
    serafina sama baekhyun punya hubungan apaan? jangan2 baekhyun pernah suka juga sma malaikat dan malaikatnya itu serafina yg di usir dari surga trus jadi manusia dan itu makamnya yg baekhyun datengin?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s