[Freelance] Having Baby with My Enemy Mr. Byun Baekhyun (Chapter VIII)

Having Baby with My Enemy Mr. Byun Baekhyun

Title                   :    Having Baby with My Enemy Mr. Byun Baekhyun (Chapter VIII)

Author/twitter   :    lucky_baek123 (twitter: @lukibaekhunniee)

Cast                   :    Byun Baekhyun, Park Ahra (OC), Xi Luhan

Genre                :    Romance, Fluff, Comedy, Marriage life, Hurt, Sad

Rating               :    PG17

Length               :    Chapter

Disclaimer         :    This story is purely mine^^

 

 

“Aku Jung Daehyun, cinta pertamamu! Jung Daehyun!” Ahra membelalakan matanya mendengar ucapan lelaki di depannya yang menyunggikan senyuman lebar dan kemudian memeluknya.

“Jung Daehyunku?” gumam Ahra yang disambut oleh anggukan kepala oleh Daehyun yang menyandarkan kepalanya di bahu Ahra sambil memeluk Ahra lebih erat.

“Bogoshipo,” gumam Daehyun sambil tersenyum kecil sedangkan Ahra yang melihat pandangan orang-orang di sekitar mereka yang kurang menyenangkan, berusaha untuk melepaskan pelukan Daehyun. Akan tetapi namja bertangan kekar itu semakin merapatkan pelukannya, tidak memberikan celah pada Ahra untuk melepaskan diri.

“Daehyun-aah, lepaskan aku! Disini banyak yang sedang melihat kita,” Ahra menenggelamkan wajahnya, berusaha menutupi identitasnya walaupun percuma karena semua orang yang melihatnya sepertinya mengenalinya sebagai Park Ahra istri Byun Baekhyun.

“Aku tidak mau,” balas Daehyun dengan nada yang terdengar sangat manja sambil menggeleng keras. Ahra hanya bisa menghela napas dan akhirnya menyerah berada dalam pelukan Daehyun, ia hendak meletakkan tangannya di punggung Daehyun ketika ia menatap sepasang mata saat ini sedang mengamatinya, Byun Baekhyun.

Baekhyun melangkah perlahan mendekat pada Ahra yang masih dalam pelukan Daehyun, tanpa melepaskan pandangannya pada kedua manik mata Ahra. Ahra yang memandang Baekhyun sebenarnya berusaha untuk mengalihkan padanngannya namun entah mengapa ia membeku. Dan semakin Baekhyun memperpendek jaraknya, Ahra dapat melihat semakin jelas luka terbuka di bagian bibir Baekhyun.

“Ehem,” Baekhyun berdehem ketika jaraknya hanya beberapa langkah dari punggung Daehyun, namun sepertinya Daehyun sama sekali tidak mendengar suara Baekhyun dan tetap menikmati pelukannya dengan Ahra. Ahra juga ikut berdehem tapi Daehyun masih tetap mengacuhkannya. Merasa kesal karena diacuhkan, Baekhyun mengendus kesal dan kembali berdehem lebih keras. Entah karena terbuai perasaan atau karena memang sengaja, Daehyun sama sekali tidak mendengar suara Baekhyun dan tetap memeluk Ahra.

“Daehyun-aah,” Ahra yang merasa tidak enak dengan situasi saat ini berusaha melepaskan diri dari pelukan Daehyun. “Aku mohon lepaskan pelukanmu sekarang, kita sudah terlalu lama berpelukan,” gumam Ahra pelan namun sepertinya Baekhyun dapat mendengar ucapan Ahra, melihat raut wajah Baekhyun yang sempat berubah beberapa detik namun kemudian mengalihkan perhatiannya dan melipat tangannya di depan dada.

“Ehm.., baiklah,” akhirnya Daehyun menganguk setuju dan melepaskan pelukannya pelan, Ahra sedikit menghela napas lega setelah terlepas dari pelukan Daehyun.

“Ehem,” Baekhyun kembali berdehem ketika Ahra sudah terlepas sepenuhnya dari pelukan Daehyun. Daehyun yang telah melepaskan pelukannyapun akhirnya mendengar suara Baekhyun dan membalikkan badannya menghadap Baekhyun.

“Nugu?” Daehyun memasang wajah bingung menatap Baekhyun, sedangkan Baekhyun yang mendengar Daehyun mengucapkan bahasa informal padanya, mengerutkan dahi kesal sambil memandang lurus pada namja yang lebih tinggi darinya tersebut.

“Aku, suami dari wanita yang baru saja kau peluk,” Daehyun mengangkat alisnya bingung mendengar ucapan Baekhyun, sedangkan Baekhyun hanya menyeringai sambil tetap menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.

“Mwo?” Daehyun yang terlihat bingung dengan apa yang sedang diucapkan oleh lelaki sombong bereyeliner di depannya itu. Setelah menatap bingung pada Baekhyun beberapa detik,  Daehyun menoleh pada Ahra yang hanya tersenyum kecil padanya.

“Ne.., lelaki ini adalah suamiku, Byun Baekhyun,” Ahra mengarahkan tangannya pada Baekhyun tanpa memandang Baekhyun. Ia masih kesal pada lelaki itu bahkan untuk menantapnya kembali Ahra merasa malas.. ya walaupun sebenarnya ia ingin melihat bagaimana luka yang ditimbulkannya beberapa menit yang lalu di bibir Baekhyun.

“Kau sudah menikah?” Daehyun memandang Ahra dengan tatapan tidak percaya, yang kemudian hanya dijawab dengan anggukan ringan dari Ahra yang merasa canggung dengan pertanyaan Daehyun.

“Benar, gadis ini sudah menikah denganku,” Baekhyun menarik tangan Ahra dan berusaha menarik tubuh Ahra mendekat padanya, karena demi Tuhan Baekhyun saat ini sangat kesal… bagaimana bisa gadis ini berpelukan dengan namja lain setelah menciumnya ‘ganas’ hingga bibirnya berdarah. Namun Ahra yang masih kesal dengan Baekhyun, malah menarik tangannya kembali dari genggaman Baekhyun dengan paksa dan mendekatkan diri pada Daehyun untuk menjauhi Baekhyun. Daehyun yang melihat tingkah laku Baekhyun-Ahra yang tidak seperti pasangan suami istri itu langsung tersenyum kecil.

“Ya, jangan sentuh aku!” ucap Ahra kesal tanpa menatap Baekhyun.

“Ya!! Apa ini yang kau lakukan pada suamimu setelah kau menciumnya dengan penuh gairah  hingga bibirnya terluka seperti ini?!” Baekhyun sengaja menaikkan volume suaranya agar orang-orang bisa mendengarnya khususnya namja bernama Daehyun yang berada di depannya, sambil menunjuk luka di bibir bawahnya yang masih basah. Daehyun yang mendengar ucapan Baekhyun memandang Ahra dan bibir Baekhyun bergantian, sedangkan Ahra mengumpat kesal sambil menahan malu.

“Apa yang kau bicarakan? Aku ingin pergi, kaja Daehyun-aah,” Ahra menghela napas dan menjawab ucapan Baekhyun setenang mungkin kemudian menarik lengan Daehyun untuk pergi menjauh dari Baekhyun. 

***

“Ahra-yaa, kita mau kemana?” tanya Daehyun dengan suara pelan sambil menahan tangan Ahra yang terus membawanya entah kemana. Ahra masih terlihat sama di mata Daehyun, walaupun tujuh tahun telah berlalu, Ahra tetap menjadi gadis pemberani yang cantik sekaligus cinta pertama Daehyun.

“Daehyun-aah, maafkan aku… aku telah melibatkanmu di situasiku yang membingungkan ini,” Ahra memutar tubuhnya, raut wajahny terlihat lelah. Daehyun tersenyum mendengar ucapan Ahra dan memegang bahu Ahra, memberikan semacam support melalui sentuhannya yang lembut. Ahra memandang Daehyun yang tersenyum, bertanya-tanya dalam hati apakah namja tampan di depannya ini benar-benar Daehyun yang dikenalnya, karena ia benar-benar sudah berubah.

“Ahra-yaa, kau tahu… bagaimanapun keadaanmu aku akan tetap mendukungmu,” Daehyun melepaskan tangannya dari bahu Ahra untuk menangkup wajah Ahra, ia tersenyum makin lebar sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Ahra yang membuat Ahra tersentak ke belakang namun….

“Ya!! Ahra-yaa!! Apa yang kau lakukan?!” Suara nyaring seorang gadis yang tidak lain adalah unnie Ahra, Park Aeri, membuat Ahra menghela napas lega. Beberapa detik yang lalu rasanya ia ingin kabur dari situasi yang canggung dengan Daehyun.

“Unniee!” untuk pertama kali dalam hidup Ahra, Ahra merasa senang dengan kehadiran unnienya.

“Aku menyuruhmu memanggil suamimu, tapi kenapa kau malah membawa namja lain?” Aeri semakin mendekat, Daehyun yang telah melepaskan tangannya dari wajah Ahra kemudian membalikkan badannya pada Ahra.

“Noona!” Daehyun langsung memeluk Aeri erat, membuat Aeri kebingungan karena aksi yang mendadak ini.

“Ya!! Siapa kau?! Mengapa kau memelukku seperti ini?!” Ahra hanya bisa tertawa kecil melihat Aeri terjebak dalam lengan Daehyun yang kekar, tapi bukan Aeri namanya bila ia tidak bisa melepaskan diri dari Daehyun. Dengan sigap Aeri menendang Daehyun dan mengunci tangan Daehyun ke belakang. Ahra yang melihat aksi Aeri dengan mata kepalanya sendiri hanya bisa terkagum ria.

“Noona sakit!! Ini aku Daehyun! Jung Daehyun~,” Daehyun mengerang kesakitan, melihat seorang lelaki tinggi kekar yang memelas di bawah seorang gadis kecil hanya bisa membuat Ahra tertawa geli.

“Daehyun?! Jung Daehyun? Siapa?” Aeri masih belum bisa mengingat siapa Daehyun, seingatnya Daehyun mantan tetangganya yang pernah ia kenal adalah seorang namja kurus kutu buku dengan kaca mata tebal, tapi namja di depannya jelas bukan namja itu.

“Unnie, dia Jung Daehyun tetangga kita,” akhirnya Ahrapun ikut turun tangan dengan memegang tangan Aeri berusaha melepaskan tangan Aeri dari Daehyun.

“Jung Daehyun?” Aeri akhirnya melepaskan tangannya dari Daehyun walaupun ia masih tidak percaya si Daehyun culun itu kini menjadi namja yang keren. “Jung Daehyun namja cinggu pertamamu?” Aeri menatap Ahra dan Daehyun dengan mata yang membulat, dan Ahra hanya bisa mengalihkan wajahnya untuk menyembunyikan dirinya yang merasa malu sedangkan Daehyun hanya tersenyum lebar sambil menangguk penuh antusias.

“Ya noona, aku Jung Daehyun namja cinggu pertama Park Ahra,” Daehyun merangkul bahu Ahra dengan senang, dan untuk saat ini demi Tuhan Ahra ingin segera kabur.

***

Baekhyun masih berputar-putar di apartementnya dengan hati yang gelisah ketika jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Ahra masih belum juga pulang. Baekhyun berkali-kali mencoba menghubungi Ahra namun yang terdengar hanya lah suara perempuan yang mengatakan bahwa ‘nomor yang anda hubungi sedang berada di luar service area.. bla bla bla..’. Baekhyun menendang-nendang kakinya kesal, ‘apa mungkin Ahra mendengar ucapanku di kelas tadi?’ pertanyaan itu terus terlintas di benaknya dan rasa bersalah terus menyelimuti hatinya. Ia hanya bercanda dengan temannya tanpa maksud apapun, tapi jika Ahra mendengar itu tentu saja Ahra pasti marah.

Baekhyun coba menghungi Minyeong dan bertanya dimana Ahra, namun Minyeong yang sedang  berkencan dengan Chanyeol jelas-jelas tidak mengetahui dimana Ahra. Hal yang terlintas di benak Baekhyun adalah Ahra sedang bersama dengan laki-laki aneh bernama Daehyun itu atau sedang berada di rumah ibunya, tapi tidak mungkin Ahra pergi ke rumah ibunya karena ibu Ahra pasti tidak memperbolehkan Ahra berlama-lama disana di saat Ahra sudah punya suami yang menantinya (Cieee ilee >,<). Jadi kesimpulannya sekarang adalah Ahra sedang bersama dengan Daehyun dan yang lebih menyebalkan hingga larut malam seperti ini.

Rasa kesal atau lebih tepatnya cemburu membuat Baekhyun mengacak rambutnya kesal. Ia mengambil kaleng bir di dalam kulkasnya dan meneguknya dengan buru-buru, berusaha menghilangkan perasaan yang tidak menyenangkan di dalam dirinya. Perasaan kesal, cemburu, bersalah… semuanya membuat dirinya merasa tidak nyaman. Namun ketika ia hendak meneguk kembali kaleng kedua, pintu apartementpun terbuka… memperlihatkan Ahra yang berjalan masuk ke dalam apartement dengan tenang.

Ahra sama sekali tidak menoleh pada Baekhyun, ia hanya melangkah dengan santai ke kamar mandi dan suara aliran airpun menggema di apartement Baekhyun membuat Baekhyun merasa semakin gila. Baekhyun mendekat ke pintu kamar mandi dan mulai menggedor pintu kamar mandi pelan.

“Ahra-yaa, kita perlu bicara! Keluarlah!” ucap Baekhyun, namun tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar mandi dan suara aliran airpun semakin keras, memakan suara Baekhyun.

“Ahra-yaa!!! Keluar aku bilang!” Baekhyun meninggikan suaranya, ia masih menggedor pintu kamar mandi berkali-kali, memaksa Ahra agar segera keluar dari dalam sana. Ya.. dia memang bukan namja yang lembut dan bukan pula namja penyabar. Dia tahu ini semua memang berawal dari kesalahannya tapi entah mengapa dia merasa ingin marah karena Ahra saat ini mengacuhkannya. Namun seberapa keras dia berteriak dan seberapa keras ia menggedor pintu, Ahra tidak kunjung keluar atau bahkan menjawab panggilannya. Akan tetapi, bukan Baekhyun namanya kalau ia menyerah begitu saja.. ia memang benar-benar namja yang keras kepala. Hingga lima belas menit beralalupun, Baekhyun masih berusaha memaksa Ahra keluar dari kamar mandi dengan berteriak dan menggedor pintu. Dan sepertinya usaha Baekhyun tidak sia-sia, karena Ahra telah keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang dibalut handuk bewarna putih.

“Kenapa kau berteriak-teriak seperti ini?” ucap Ahra datar, tidak terlihat ekpresi marah maupun senang dari wajahnya. Baerkhyun benar-benar tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran gadis ini, ia hanya terpaku begitu saja mendengar pertanyaan Ahra karena demi Tuhan ia sendiri tidak tahu mengapa ia bereaksi terlalu berlebihan seperti ini.

“Ehm.. kenapa kau tidak menjawab panggilanku?” ucap Baekhyun dengan sedikit canggung.

“Aku lelah, aku ingin cepat mandi.. dan aku mengantuk.. aku ingin tidur,” Ahra berjalan melalui Baekhyun begitu saja, lagi-lagi ia mengacuhkan Baekhyun dan itu benar-benar membuat Baekhyun marah sekarang. Baekhyun menangkap tangan Ahra dan membalikkan tubuh gadis itu menghadapnya.

“Maafkan aku,” ucap Baekhyun pelan. “Aku tahu kau telah mendengar semua yang aku ucapkan di kelas tadi, tapi aku benar-benar tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya membuat lelucon konyol,” Baekhyun tidak berani menatap mata Ahra, ia hanya mengatakan semua itu dengan sangat pelan, namun ia berharap Ahra mendengarnya dan mau memaafkannya.

“Aku memang selalu jadi lelucon untukmu, Baek. Bahkan sejak kita SMA, kau selalu membuatku merasa seperti lelucon, jadi ini bukan sesuatu yang baru untukku. Bisa kah kau lepaskan tanganmu, demi Tuhan aku sedang hamil saat ini dan aku sangat lelah,” Ahra melepaskan tangan Baekhyun dari pergelangan tangannya, suara Ahra terdengar lembut tapi entah mengapa suara itu justru terdengar saat dingin di telinga Baekhyun. Ia sebenarnya ingin membalas kata-kata Ahra tapi entah mengapa pikirannya beku dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Ahra berjalan pelan, melepaskan handuk di kepalanya dan meletakkan di atas meja begitu saja, ia terlalu lelah untuk meletakkan benda itu dengan benar. Tanpa menyisir rambutnya ia berbaring di sofa pink yang dibelikan Baekhyun untuknya, menutup dirinya dengan selimut. Ia menutup matanya pelan dan bergumam pelan, “Selamat malam, Baek.”

Baekhyun hanya menatap Ahra yang telah bersembunyi di dalam selimut, “Bodoh! Kau benar-benar bodoh, Byun Baekhyun!” gumam Baekhyun mengutuki dirinya sendiri.

***

Paginya, Ahra masih menanggapi Baekhyun dengan dingin. Sepertinya menjadi dingin ketika marah sudah menjadi kebiasaan bagi Ahra ketika ia sedang marah pada Baekhyun. Entah mengapa di saat seperti ini, ia merasa menghindari Baekhyun terasa lebih mudah daripada harus menghadapinya. Ahra masih melamun di meja kantin, ketika alarmnya handphonenya berbunyi. Ia mengambil handphone di dalam tas, matanya membulat terkejut melihat barisan tulisan yang terterah di layar handphonenya. ‘Saatnya cek up kehamilan rutin, Ahra’

Ia ingat, ini adalah waktunya ia ke klinik untuk mengecek kandungannya. Ia hanya mengutuki dirinya sendirinya sendiri karena melupakan jadwal penting seperti itu. Ia hendak menelpon Baekhyun untuk meminta lelaki itu menemaninya ketika ia teringat bahwa saat ini sedang bertengkar dengan Baekhyun. “Shit, kenapa aku harus bertengkar dengan Baekhyun di saat seperti ini? Apa aku harus ke klinik sendirian? Oh Ahra.. kau hangat menyedihkan,” Ahra menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya frustasi. Ia benar-benar frustasi saat ini.. dan yang muncul di pikirannya adalah “Apa aku mengajak Luhan oppa saja?” namun ia segera menggelengkan kepalanya, bahgaimana mungkin ia bisa berpikir untuk melibatkan Luhan di dalam masalahnya, ia sudah benar-benar merasa bersalah pada lelaki itu.

“Kau kenapa?” Minyeong yang sedang berdiri di samping Ahra sambil membawa nampan berisi makanan dan sekotak susu, duduk di depan Ahra sambil mengarahkan pandangan bingung pada sahabatnya itu.

“Minyeongiii~, apa yang akan kau lakukan hari ini?” ucap Ahra penuh semangat, tidak ada Baekhyun. Minyeongpun jadi. Setidaknya ia tidak akan ke klinik sendirian seperti seorang gadis yang menyedihkan.

“Ehm… aku akan pergi menonton film dengan Yeolli~, wae?” ucap Minyeong polos sambil meminum sekotak susunya dari sedotan plastiknya.

“Kau akan berkencan lagi dengan Chanyeol? Demi Tuhan Minyeong, kemarin kau baru berkencan dengannya?” Ahra benar-benar tidak percaya, mengaga seperti hidup Minyeong saat ini hanya dipenuhi oleh Chanyeol dan Chanyeol… ia bahkan sudah lama tidak pergi berdua dengan sahabatny itu.

“Kau tahu ketika orang jatuh cinta ia benar-benar ingin terus bersama dengan orang yang dicintainya. Ngomong-ngomong aku mendengar dari Yeol kemarin kau bertengkar dengan Baekhyun, apa kau tidak apa-apa?” Minyeong meletakkan kotak susunya dan memandang Ahra dengan mata yang membesar, mata Minyeong yang terlihat lebih besar dua kali lipat membuatnya terlihat lebih imut.. dan sepertinya Ahra tahu mengapa Chanyeol selalu ingin bersama dengan gadis ini.

“Seperti kau tidak pernah melihatku bertengkar dengan Baek, saja,” ucap Ahra santai, sebenarnya ia benar-benar tidak ingin membahas masalah Baekhyun saat ini.

“Hal itu memang benar, sebelumnya memang kalian selalu bertengkar.. tapi sekarang beda, kau adalah isrtinya,” Minyeong sepertinya tidak menyadari perkataannya, karena kemudian ia telah mengunyah makanannya dengan santai sedangkan Ahra mulai teringat fakta.. iya benar… lelaki menyebalkan itu adalah suaminya dan dia adalah istrinya, namun ia juga menyadari fakta lain yang tidak akan berubah.

“Tidak ada yang berubah antara aku dan Baekhyun, hubunganku dan Baekhyun tidak akan berubah walaupun aku telah menikah dengannya,” ya.. baginya dan bagi Baekhyun hubungan mereka tidak akan berubah.. bagi Ahra, Baekhyun adalah namja menyebalkan yang merupakan musuh bebuyutannya sejak SMA dan begitu pula bagi Baekhyun. Entah mengapa mengingat fakta ini membuat Ahra merasa ada sesuatu yang sangat keras memukul dadanya, karena demi Tuhan ia hampir melupakan fakta penting itu.

“Apa yang kau katakan?” Minyeong masih mengunyah makanannya sambil memandang Ahra penuh kepolosan.

Ahra hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Tidak ada.”

***

“Ehm.. apa aku harus menelpon Aeri unnie saja? Ah tidak, unnie pasti akan lebih menyusahkanku,” Ahra berbicara sendiri sambil berjalan, ia masih bingung memutuskan pergi dengan siapa ke klinik.. ia benar-benar tidak ingin pergi sendiri tapi ia juga tidak bisa mengajak Baekhyun.

“Ahra!!!!” suara seorang namja yang berteriak membuat Ahra berhenti dan menoleh ke sumber suara. Namja dangan rambut coklat dan kaca hitam itu berlari ke arah Ahra dan segera memeluk Ahra kuat.

“Daehyun!! Hentikan! Semua orang sedang memandang kita,” Ahra berusaha melepaskan pelukan Daehyun, tapi sepertinya namja ini benar-benar kuat karena Ahra sama sekali tidak bisa bergerak. ‘Sejak kapan namja ini berubah jadi begitu kuat seperti ini? Apa Amerika benar-benar sehebat itu?’ batin Ahra dalam hati mengingat Daehyun dulu yang dikenalnya adalah seorang namja kurus dengan kaca mata tebal yang culun dan lemah.

“Ehm.. aku sangat merindukanmu, Ahra,” ucap Daehyun tanpa memperdulikan ucapan Ahra dan tetap memeluk gadis itu semakin erat.

“Bukankah kemarin kita baru saja bertemu?”

“Iya, tapi entah mengapa aku merasa masih merindukanmu,” Ahra semakin merasa sesak karena Daehyun yang semakin mempererat pelukannya.

“Daehyun-aah, aku mohon lepaskan aku… aku benar-benar tidak bisa bernapas.”

“Ehm.. maafkan aku, karena kau terlalu imut maka dari itu aku ingin memelukmu setiap saat,” Daehyun akhirnya melepaskan pelukannya dari Ahra dan tersenyum senang memandang Ahra. Melihat senyuman Daehyun, Ahra benar-benar lupa apakah namja ini dulu setampan ini. (wkwkwkwk, jadi inget foto predebut Daehyun)

“Aku tahu kalau aku memang mempesona, tapi bisakah kau tidak melakukan hal ini lagi? Ingat Daehyun, aku sudah punya suami sekarang,” raut wajah Daehyun sedikit berubah ketika Ahra menyebut ‘suami’ namun ia segera merubah raut wajahnya dengan senyuman lebar selang beberapa detik kemudian.

“Aku tahu, tapi aku tetap tidak bisa untuk tidak merindukanmu,” Daehyun menatap Ahra sangat dalam, membuat Ahra merasa canggung hingga ia memilih untuk menghindari tatapan Daehyun.

“Ehm.. baiklah, tapi apa yang kau lakukan disini?” tanya Ahra berusaha untuk memecah keheningan yang terasa sangat canggung di antara mereka berdua.

“Sudah aku bilang, aku merindukanmu…,” Daehyun masih tersenyum riang.

“Tidak ada lagi? Kau kesini hanya karena merindukanku?” Ahra menunjukkan wajah penasarannya yang dijawab dengan anggukan penuh senyum oleh Daehyun. Dan “bum!” sebuah ide muncul di kepala Ahra, ia tersenyum menatap Daehyun dan bertanya lembut,  “Kalau begitu, maukah kau mengantarku ke suatu tempat?”

***

Ahra mengetuk-mengetuk kakinya hingga menimbulkan irama yang senada dengan suara jarum yang berdetak dari jam dinding yang berada di sudut ruangan. Apa yang dirasakannya kini mirip dengan apa yang dirasakannya saat pertama kali datang ke tempat ini, kira-kira sebulan yang lalu. Bedanya adalah sekarang orang yang di sampingnya bukan lagi Baekhyun, namja bereyeliner menyebalkan yang ia kenal, melainkan Daehyun yang terus tersenyum sambil mengamati orang-orang yang berlalu di depan mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Ahra-yaa, sepertinya aku tahu tempat apa ini,” Daehyun mendekatkan wajahnya ke telinga Ahra, seolah berbisik. Ia masih menatap para ajjummah dengan perut yang membesar berjalan kesana-kemari di depannya.

“Ehm?”

“Ini klinik kandungan, apa aku benar?” tanya Daehyun akhirnya mengalihkan padangannya ke arah Ahra, ia menatap Ahra dengan tatapan penuh tanya yang membuat Ahra rasanya ingin tertawa oleh kepolosan Daehyun.

“Hahahaha… demi Tuhan Daehyun, apa kau baru menyadarinya sekarang? Di depan bahkan sudah tertulis jelas bahwa tempat ini adalah klinik kandungan,” ucap Ahra masih berusaha menahan tawa, bahkan ia bisa merasakan air mata di ujung matanya karena terlalu banyak tertawa.

“Kalau begitu, apa kau sedang hamil, Ahra-yaa?” Daehyun masih menatap Ahra dengan tatapan penuh tanda tanya, walaupun ia sedang melihat Ahra tertawa tapi ia benar-benar tidak merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk tertawa.

“Ehm..,” Ahra seketika berhenti tertawa setelah mendengar pertanyaan Daehyun, ia hanya mampu bergumam sambil mengangguk pelan.. demi Tuhan dia merasa pipinya sekarang memerah karena malu, membicarakan hal seperti ini memang sedikit memalukan.. ia lupa bahwa Daehyun belum tahu mengenai dirinya yang sedang hamil.

“Kau hamil? Dengan siapa?” Daehyun semakin membelakkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru dikatakan Ahra, Ahranya sekarang sedang hamil.. mengetahui bahwa Ahra sudah menikah saja sudah seperti bom besar untuknya dan sekarang hamil. Isn’t it too much for him?

“Tentu saja dengan suamiku, dengan siapa lagi?” Ahra mengalihkan pandangannya dari Daehyun, ia merasa tidak mampu memandang mata Daehyun ketika mengatakan hal semacam itu.. oh Tuhan! Ini terlalu memalukan untuknya.

“Kau benar-benar telah melakukan ‘itu’ dengan namja aneh bereyeliner itu?” Daehyun masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar, dunia benar-benar sedang mempermainkannya sekarang.

“Sudahlah, kenapa kau bertanya hal seperti itu? Yang jelas sekarang aku sedang hamil. Titik! Tidak ada lagi pertanyaan, Jung Daehyun,” Ahra menyilangkan tangannya di atas dada, memandang ke depan, berusaha untuk menghindari tatapan Daehyun atau lebih tepat berusaha menghindari pertanyaan lebih dalam Daehyun.

“Daebak!” gumam Daehyun sambil ikut menyilangkan tangan.

***

Menunggu memang terasa seperti selamanya, apalagi jika menunggu bersaa dengan seseorang yang membuat suasana terasa semakin canggung. Ya… setelah Daehyun menyadari kehamilan Ahra, suasana tidak bisa lebih buruk selain menjadi sangat canggung. Daehyun tidak berkata apa-apa, ia hanya terdiam sepertinya ia berusaha mencerna semua  fakta yang baru ia dengar beberapa menit yang lalu. Sedangkan Ahra, ia hanya terus melihat jam, berharap waktu cepat berlalu dan seseorang segera memanggil namanya untuk masuk ke dalam ruangan pemerikasaan. Dan setelah menunggu selama kurang lebih dua jam… akhirnya namanya dipanggil, untuk pertama kalinya ia merasa suara seseorang tidak dikenal yang sedang memanggil namanya bisa seperti suara dari surga.

“Park Ahra-sshi,” Ahra segera bangkit dan berjalan menuju ruangan yang sebulan lalu pernah dikunjunginya bersama Baekhyun. Daehyun yang menyadari nama Ahra sudah dipanggil mengikuti langkah Ahra dari belakang.

“Kau akan benar-benar akan memerikasan kandunganmu, Ahra-yaa?” untuk pertama kali setelah dua jam penuh keheningan itu, Daehyun membuka mulutnya dan masih dengan pertanyaan dengan tema yang sama, pertanyaan seputar kehamilannya.

“Aku mohon Daehyun, jangan bertanya apa-apa lagi,” ucap Ahra sebelum masuk ke ruangan bernuansa putih itu. Seperti sebulan yang lalu, ia bisa melihat seorang dokter muda sedang terduduk dengan jas putihnya di meja. Dokter itu tersenyum pada Ahra, dan seperti sebulan yang lalu Ahra masih merasa bahwa senyuman dokter itu sangat menawan. (hahaha, Minho gitu loh)

“Selamat sore, silakan duduk,” ucap dokter yang tidak lain bernama Minho itu sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Ahra.

Ahra dengan segera menjabat tangan Minho dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Minho. Minho kemudian mengarahkan tatapannya pada lelaki di samping Ahra, dan sedikit bergidik.. karena sepertinya ia menyadari lelaki yang sedang bersama Ahra saat ini bukanlah lelaki yang datang kemari bersamanya sebulan yang lalu.

“Selamat sore….,” Minho mengulurkan tangannya dan memberikan tatapan penuh tanya pada Daehyun yang langsung dijawab dengan senyuman oleh Daehyun.

“Jung Daehyun,” ucap Daehyun sambil menjabat tangan Minho dan duduk di kursi yang terletak di sebelah Ahra.

“Baiklah Park Ahra-sshi, bagaiaman kondisimu?” tanya Minho sambil tersenyum pada Ahra.

“Wah, dokter benar-benar masih mengingat saya?” tanya Ahra kagum dengan kemampuan ingatan Minho yang luar biasa.

“Tentu saja, saya mengingat semua pasien saya, hahaha,” Minho tertawa dan menunjukkan eye smile serta lesung pipi yang menawan, ‘Oh sungguh namja yang menawan, seandainya anakku nanti bisa seperti dia,’ batin Ahra dalam hati. (kwakwakwkawk)

“Tapi saya sedikit ragu tadi, karena sepertinya namja yang menemani anda sekarang bukanlah namja yang sama dengan yang terakhir kali,” Minho mengerutkan alisnya, menampakkan rasa penasaran yang membuatnya entah mengapa terlihat lebih cute di mata Ahra. “Apa mungkin, tuan ini adalah suami anda?” tanya Minho yang langsung membuat Ahra tercekat.

“Iya, dok.. saya suami nona Park Ahra, Jung Daehyun,” jawab Daehyun langsung sambil tersenyum, membuat Ahra kini menoleh pada Daehyun dengan wajah penuh kekesalan. ‘Sial, harusnya tadi aku tidak mengajak Daehyun kesini.’

***

“Baiklah, Park Ahra-sshi… secara umum kondisi kehamilan anda sangat baik. Saya rasa anda lebih kuat dari apa yang terlihat. Tapi perlu saya ingatkan lagi, bahwa anda jangan sampai stress karena hal itu bisa menganggu pertumbuhan janin anda. Jika anda stress maka bayi anda akan merasakan stress dua kali lipat dari anda, maka dari itu saya mohon untuk lebih memperhatikan hal tersebut.” ucap Minho tenang sambil memandang Ahra dengan senyum yang terus terpasang di wajah mungilnya.

“Ehm.. baiklah, dok. Saya memang agak stress belakangan ini, saya tidak tahu kalau bayi saya juga bisa merasakan hal tersebut,” ucap Ahra sambil mengusap perutnya halus, untuk pertama kalinya, Ahra merasa benar-benar akan menjadi ibu… ‘seandainya ada Baekhyun disini’ gumam Ahra dalam hati, ‘what? Apa yang aku pikirkan? Mengapa aku jadi memikirkan namja menyebalkan itu?’ Ahra segera menyingkirkan pemikirannya tentang Baekhyun dengan menggeleng kepala pelan.

‘Anda dan bayi anda saat ini sedang berbagi darah yang sama, makanan yang sama, dan oksigen yang sama, jadi apapun yang anda rasakan tentu bayi anda juga akan merasakannya. Jadi saya harap anda selalu menjaga kondisi anda, demi kebaikan janin anda. Ehm.. Baiklah,  saya akan menuliskan beberapa resep vitamin dan suplemen yang bisa anda tebus di apotek. Semoga anda dan bayi anda selalu sehat, Park Ahra-sshi,” ucap Minho sambil mendorong kertas berisi tulisan nama-nama obat pada Ahra.

“Baik, terima kasih, dok.” Ahra bangkit dari tempat duduknya dan kemudian membungkukkan punggung untuk memberi hormat pada Minho. Daehyun yang ada disampingnya juga ikut melakukan hal yang sama dan berjalan keluar dari ruangan dengan Ahra.

“Daehyun-aah, seharusnya kau tidak mengatakan bahwa kau adalah suamiku,” ucap Ahra begitu mereka keluar dari ruangan Minho.

“Itu keluar dari bibirku begitu saja,” ucap Daehyun sambil memberikan tanda peace menggunakan kedua jarinya.

“Lain kali jangan lakukan hal seperti itu,” ucap Ahra kesal sambil berlalu mempercepat langkahnya.

“Ahra-yaa… jangan marah. Apa kau tidak mendengar apa yang dikatakan dokter tadi. Kau tidak boleh stess,” ucap Daehyun yang telah memperpendek jaraknya dan Ahra dengan berlari di samping Ahra.

“Oh Tuhan!” gumam Ahra kesal.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika Ahra masih berada di dalam mobil bersama Daehyun, mereka terjebak macet. Setelah sekitar tiga jam berada di rumah sakit, mengantri obat selama hampir dua jam, sekarang mereka harus terjebak macet selama hampir tiga jam. Jalanan Gangnam sebenarnya jarang macet walau banyak orang yang berlalu lalang di jalanan ini, tapi sepertinya ada kecelakaan lalu lintas yang membuat jalanan jadi semacet ini. Ahra melihat handphonenya, ‘shit!’ Ahra mengumpat melihat handphonenya yang telah mati. Bagaimana tidak, ia sudah hampir dua belas jam berada di luar tanpa mengecharge baterainya. Ahra mengehela napas sambil menyenderkan punggungnya di kursi penumpang, memilih untuk bersabar menunggu kemacetan panjang ini.

Daehyun yang menyadari bahwa Ahra saat ini sedang frustasi kemudian melirik gadis itu dan bertanya pelan, “Ahra-yaa, apa kau ingin jalan-jalan?”

Ahra menoleh pada Daehyun, memberikan tatapan penuh tanya pada pemuda itu, “Apa maksudmu?”

“Sebentar,” ucap Daehyun sambil mengangkat telapak tangannya, mengisyaratkan pada Ahra untuk menunggu sebentar. Ia kemudian mengambil handphonenya dan menekan beberapa tombol. “Bisakah kau kemari? Ke daerah Gangnam, Iya.. lebih baik kau berjalan karena jalanan sedang macet. Baik aku akan menunggu,” ucap Daehyun akhirnya mengakhiri percakapannya dengan entah siapa.

“Siapa yang kau telepon?” tanya Ahra tidak bisa berhenti merasa penasaran.

“Supir pengganti, aku menyuruhnya untuk menggantikan kita menunggu kemacetan supaya kita bisa jalan-jalan, bagaimana?” Daehyun menatap Ahra sambil memberikan wink natural miliknya, membuat Ahra kemudian tesenyum riang sambil menggangguk senang.

***

“Wah, makanan ini memang enak,” Ahra mengangkat tangannya dan mengacungkan jempolnya dengan wajah yang bersinar. Ia baru saja menghabiskan dua mangkuk ramyeon deobboki yang sukses membuat Daehyun terus membatin di dalam hati, ‘Wah, sejak kapan Ahra jadi suka makan seperti ini? Apa ini efek hamil?’

“Kau jadi lebih banyak makan jika ada makhluk kecil lain di dalam tubuhmu yang perlu diberi makan juga, Daehyun-ahh,” ucap Ahra yang sepertinya mengetahui arti dari tatapan Daehyun padanya.

“Iya, kau benar Ahra. Kau memang harus makan lebih banyak,” Daehyun hanya menanggukkan kepala tanda setuju dengan ucapan Ahra.

“Ehm… setelah ini ayo kita beli bakso ikan. Aku akan meminta saos deobboki pada ajjumah disini,” ucap Ahra riang sambil berdiri berlalu memanggil ajjumah penjual ramyeon deobboki untuk meminta saos deobboki lebih.

Daehyun yang memandang tingkah Ahra hanya bisa tersenyum senang sambil menggelengkan kepala, “Kau tidak pernah berubah, Ahra-yaa,” gumam Daehyun pelan.

Ahra menyelupkan bakso ikannya ke dalam plastik tempat ia meminta saos deobboki lebih pada ajjumah-ajjumah penjual ramyeon tadi. Ya… sejak kecil inilah makanan kesukaan Ahra, bakso ikan yang ditamah saos deobboki. Ahra dan Daehyun masih berjalanan menyusuri jalanan Gangnam yang dihiasi lampu-lampu. Daehyun bergidik melihat Ahra yang sepertinya senang sekali memakan bakso ikannya.

“Sejak kecil makanan kesukaanmu tidak berubah, Ahra-yaa,” ucap Daehyun sambil melirik Ahra dari ujung matanya.

“Tentu saja, bakso ikan dengan saos deobboki adalah yang paling jjang!” Ahra memasukkan kembali bakso ikannya, membuat saos deobboki kini bertengger tidak beraturan di ujung bibirnya. Daehyun hanya tersenyum kecil melihat saos di ujung bibir Ahra, ia masih melihat si polos Ahra yang dulu dikenalnya, Ahra yang dulu dikenalnya ternyata tidak pernah berubah.

“Ahra-yaa,” Daehyun menghentikan langkahnya, ia memanggil nama Ahra yang tentu saja membuat Ahra juga ikut berhenti dan menoleh pada namja yang lebih tinggi darinya itu. Begitu Ahra memnghadap sempurna ke arah Daehyun, sebuah kecupan langsung mendarat di ujung bibirnya, membuat gadis itu hanya membulatkan matanya karena terlalu terkejut.

“Ada saos di bibirmu,” ucap Daehyun setelah ia melepaskan kecupannya.

Ahra hanya bisa berkedip untuk beberapa saat sebelum.. Tak!

“Ouhhh!” ucap Daehyun kesakitan, Ahra baru saja memukul kepalanya keras dan itu benar-benar keras hingga ia merasa sepertinya burung sedang berputar-putar di sekitar kepalanya.

“Jangan lakukan hal semacam itu lagi, Daehyun-aah!” ucap Ahra dengan tatapan tajam dan wajah yang serius, membuat Daehyun hanya bisa tersenyum canggung.

“Mianhe,” ucap Daehyun mengelus kepalanya, berusaha menghilangkan rasa sakit dari pukulan berat Ahra. “Kau terlihat imut dengan saos di ujung bibirmu.. ehm.. itu membuatku ingin menciummu,” Daehyun agak terbata-bata mengatakannya, jantungnya berdegup kencang ketika mengatakan hal itu pada Ahra.

“Ya! Apa tinggal di Amerika membuatmu seperti ini? Jangan berperilaku seperti mereka di depanku, Daehyun-aah,” Ahra memukul lengan Daehyun keras, membuat Daehyun kini memanyunkan mulutnya. (>,<)

“Aku tidak berperilaku seperti mereka, aku hanya bertindak sesuai kata hatiku, hehehe,” Daehyun yang tertawa canggung membuat Ahra hanya bisa tersenyum geli, ia tidak pernah menyangkah jika lelaki di depannya itu adalah cinta pertama sekaligus sahabatnya yang hampir dilupakannya. Kehidupan cintanya dengan Daehyun memang tidak seindah cinta pertama orang lain pada umumnya, tapi tetap cinta pertama adalah cinta pertama.

“Ngomong-ngomong apa kau masih ingat dengan janji kita?” Daehyun menatap Ahra dengan tatapan tajam, membuat gadis itu berhenti tertawa. Ia bisa merasakan ada atmosfer yang berbeda ketika Daehyun menatapnya saat ini.

“Janji apa?” Ahra hanya membulatkan matanya berusaha mencari tahu apa yang coba disiratkan oleh Daehyun melalui tatapannya, tatapan kecewa.

Trrrt trrrt

“Yeobseyo?” Daehyun mengangkat teleponnya, mengakhiri saling tatap canggung di antara mereka berdua. Ahra merasa sangat lega karena demi Tuhan merasa tidak mampu menatap Daehyun lebih lama, ada perasaan aneh yang entah mengapa membuatnya merasa bersalah.

“Nee… kami akan segera datang kesana, kamsahamida,” Daehyun menutup teleponnya dan memandang Ahra dengan senyum. “Sepertinya macet sudah berakhir, ayo kita pulang.” Daehyun melangkah pergi diikuti oleh Ahra di belakangnya, dan selama perjalanan hanya keheningan yang menemani mereka berdua.

***

“Sudah sampai,” Daehyun menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung menjulang, apartment Baekhyun.

“Ehm… terima kasih Daehyun-ah, ehm.. aku akan turun,” Ahra sedikit terbata-bata, masih ada perasaan canggung yang menyelimutinya dan itu sangat mengganggunya. Dengan canggung akhirnya Ahra turun dari mobil Daehyun, dan ketika ia hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartment Baekhyun, langkahnya terhenti oleh teriakan Daehyun.

“Ahra-yaa!!” Daehyun keluar dari mobilnya, melangkah perlahan menuju Ahra yang masih berdiri di tempatnya, masih bingung dengan apa yang sedang terjadi. Namun belum sempat Ahra mencerna apa yang sedang terjadi, Daehyun telah menarik tangannya dan membuat tubuh mereka saling berbenturan.

“Wae??” hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir mungil Ahra ketika ia merasakan namja di depannya itu menatapnya dengan tatapan yang semakin dalam.

“Walaupun kau sudah melupakan janji kita, tapi aku masih mengingatnya. Aku telah menjadi namja keren dan aku akan selalu melindungimu,” Ahra hanya bisa terdiam mendengarkan ucapan Daehyun dan….

Cup

Daehyun mendaratkan ciuman di kening Ahra. Untuk beberapa detik mereka hanya terdiam sampai Daehyun menarik tubuhnya mundur ke belakang.

“Aku mohon jangan pukul aku lagi~,” Daehyun membuat gerakan melindungi diri dengan tangannya, seakan berusaha menghalau serangan yang mungkin saja akan segera diterimanya. Ahra mengerti tujuan Daehyun melakukan hal konyol itu dan ia rasa Daehyun berhasil.

Ahra tertawa menatap Daehyun, rasa canggung yang sempat menyelimuti mereka akhirnya sirna dan entah mengapa beban di hati Ahra saat ini sedikit berkurang. Ia benar-benar berterima kasih akan hal itu.

“Terima kasih,  Daehyun-aah,” ucap Ahra pelan di sela tawanya.

“Sama-sama, Ahra-yaa.”

Mereka berdua terus tertawa riang, saling menggoda mengingat masa lalu yang pernah mereka lewati, yang mungkin akan terus menjadi kenangan yang indah di antara mereka berdua. Tapi mereka tidak menyadari.. bahwa saat ini sepasang mata sedang mengamati mereka berdua, sepasang mata milik Baekhyun.

-bersambung-

Anyyeoooong~

Akhirnya ketemu lagi sama aku… hohoho…

Maaf ya.. setelah membuat kalian lama menunggu, aku comeback dengan cerita yang sangat gag jelas kayak gini. Sumpah jadwal di Jepang itu padet banget, malah kemana-kemana kebanyakan jalan.. jadi pulang-pulang ke hotel capek banget.. tapi tetep, pengalaman kesana itu seru banget.. nget nget!! Sungguh pengalaman luar biasa, apalagi bisa ketemu sama banyak temen and sempet jatuh hati sama salah satu temen tapi berakhir dengan phpan… (curcol wkwkwkw ^^)

Sorry banget ya, kalau kalian ada yang ngerasa gg puas dengan chap ini… aku janji aku akan memperbaikinya di part selanjutnya. (insyaallah). Di chap selanjutnya bakal lebih banyak moment BaekAhranya. Ini sueer n beneran… hehehe…. Jadi tetep dukung FF ini ya, biar lebih semangat lagi nulis kelanjutannya untuk kalian semua… Love You Guyssss!!!

Semoga hari kalian menyenangkan

Anyeeeeeoooong~

361 responses to “[Freelance] Having Baby with My Enemy Mr. Byun Baekhyun (Chapter VIII)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s