[Freelance] Hazard (Prolog)

139348938719977

*•.¸Title :  Hazard ¸.•*˚

˚*•.¸Author/twitter : ZYH/venatavee¸.•*˚

Cast :

Huang Zi Tao

Zhang Yixing

Hwang Joya (OC)

EXO

˚*•.¸Genre : Romance¸.•*˚

˚*•.¸Rating : PG-17¸.•*˚

˚*•.¸Length : Chapters¸.•*˚

Disclaimer : FF ini murni karya Author, FF ini bukan hasil karya jiplakan. FF ini karangan dari author, hanya saja castnya author pinjam. Apabila ada kesamaan alur ataupun ide, adalah suatu ketidaksengajaan. So, DON’T BE SILENT READERS!

Teaser joya ver | teaser lay ver | side story

 

Ruang ini gelap. Gelap tanpa ada seberkas cahayapun berhasil kutangkap melalui indra penglihatanku. Nafasku sesak. Entah hidungku yang tak berfungsi dengan baik atau ruangan ini memang dirancang untuk tidak dapat menarik oksigen bebas di udara. Mulutku terkunci rapat. Sekali lagi aku bingung apakah aku yang terlalu lelah untuk mengeluarkan kata – kata atau memang ada sesuatu yang menahan pergerakan yang dapat dilakukan bibir kecilku.

Untuk beberapa menit aku terdiam dalam posisiku. Aku bingung. Bingung dengan keadaan yang kuhadapi. Dimana aku? Mengapa duniaku terasa begitu gelap?

Perlahan indra pendengaranku mulai berfungsi. Aku mendengar suara hiruk pikuk di sekitarku. Suara itu terdengar sangat dekat. Begitu dekat. Namun tak ada seberkas cahayapun yang berhasil kutangkap. Dari mana suara itu berasal? Seperti suara orang sedang berjalan. Ada suara orang sedang mengobrol, tertawa, membicarakan business, bermain handphone. Namun mana orang – orang itu? Apa aku telah meninggal? Apa aku tidak berada di dunia lagi?

Jangan pernah datang padaku lagi, aku tak kan menerimamu sebagai anakku.

Ya, itulah hal terakhir yang kuingat. Ayahku baru saja mengusirku dari kehidupannya.

“Appa, appa  ku mohon. Aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku. Appa, aku mohon. Aku memang ceroboh. Aku tak akan mengulanginya lagi, aku mohon.” Setelah pesan itu kudapat dari ponselku, aku langsung menghampiri appa ke kantornya.

Appa sedang marah besar dan aku mengetahui itu. Bukan hanya mengetahui, aku sangat memahami itu. Aku berlutut di hadapannya. Berlutut di hadapan beliau yang membelakangiku. “Appa… berbicaralah sesuatu. Jangan membuatku takut.” Suaraku bergetar. Aku yakin mataku telah memerah, namun aku terlalu takut untuk mengeluarkan air mata.

Aku yakin apabila aku menangis appa akan berkata “Untuk apa kau menangisi kesalahanmu sendiri.” Dan aku tidak ingin mendengar kalimat itu dari mulutnya.

“Baiklah, appa akan memaafkanmu dengan satu syarat.” Appa masih membelakangiku membuatku tak bisa menebak apakah ia benar – benar ingin memaafkanku atau hanya ingin mempermainkanku dengan syaratnya yang tak mungkin kulakukan.

“Apa syarat itu, appa? Tentu aku akan melakukan apapun asal kau memaafkanku.” Aku berusaha berbicara setegas mungkin, memperlihatkan padanya bahwa aku kuat. Namun percuma, suaraku tetap bergetar. Aku tak dapat menyembunyikan ketakutan dan kegelisahan ini.

“Biar kupikirkan dulu, kita bertemu lagi nanti malam di restaurant kesukaanmu.” Aku tahu ini bukan petanda baik, tapi apa lagi yang bisa kulakukan. Aku hanya bisa berharap, kemungkinan buruk ini tidak lebih buruk dari yang aku bayangkan.

“B-baiklah, appa.”

‘Kau butuh pelajaran, gadis kecilku.’

At the restaurant

“Rupanya kau datang lebih cepat dari perkiraanku, hah?”

“Aku telah menunggu appa selama tiga puluh menit. Bukankah aku diajarkan untuk menjadi orang yang tepat waktu, appa?”Aku sengaja membalasnya dengan kalimat bijak, berharap ia sedikit terharu dengan kata – kataku sehingga hukumanku akan menjadi lebih ringan.

“Baiklah kalau kau berkata seperti itu, minumlah. Puaskan dulu isi perutmu, baru kita berbicara.”Appa mengangkat gelasnya “cheers?”

Aku mengangkat gelasku. “cheers.”dan akupun meminum minuman itu hanya seteguk kecil.

“Mengapa segan sekali makan malam bersama appa?” Aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kecil dan akupun menghabiskan minuman itu pada detik berikutnya.

Tak lama kemudian hidangan kami satu persatu datang. Entah mengapa nafasku terasa memberat. Pandanganku tak bisa fokus dan aku tak sanggup lagi menopang tubuhku.

Dari mataku yang hanya terbuka beberapa mili, aku dapat melihat tatapan licik Appa padaku. “Bawalah dia ke airport dan tinggal dia di tempat ramai dalam kondisi mulut dibengkam dan tutup wajahnya dengan karung.”

Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Aku merasa tubuhku diangkat dan pandanganku gelap. Aku tak sadarkan diri,

‘Maafkan aku, gadis kecilku, Aku tahu ini berat. Begitu berat bagimu dan bagiku. Bagaimanapun aku hanya pria biasa yang berusaha mendidik anaknya agar tak mengulangi kesalahan yang sama’

Seketika aku sadar dari lamunanku. Ya! Aku tersekap. Aku disekap! Duniaku tak gelap! Aku masih berada pada salah satu bagian di bumi dan aku berada di…

Perlahan kubuka karung yang menutupi wajahku dan lakban yang mengunci mulutku. Mataku mulai menyesuaikan dengan cahaya sekitarku. Sekelilingku ramai. Amat ramai. Orang – orang berkulit putih, bermata sipit, dan berbicara dengan bahasa yang tak kukenal berlalu lalang.

Mungkin aku begitu kecil dan kecilnya, sampai tak ada seorangpun yang melihatku. Aku terkapar disini. Di tempat yang tak kuketahui namanya. Mataku terasa basah. Aku yakin ini di salah satu daerah di Asia, namun bukan Korea.

Aku menekuk kedua kakiku, menopangnya dengan kepalaku. Aku menutup kedua telingaku dengan tangan – tanganku. Aku takut. Air mataku tumpah. Aku berteriak histeris. Namun tak seorangpun mendengarkan aku atau bahkan melihatku.

Ya, aku berada pada salah satu bagian dunia yang dihuni oleh orang – orang yang kejam yang begitu sibuk dengan diri mereka sendiri. Hingga aku mendengar sebuah suara tepat di depan wajahku. Seorang pria yang berbicara dengan bahasa yang tak aku mengerti.

“nǐ jiào shén me míng zi?” Suaranya tidak terdengar berat, namun tatapan matanya teduh. Namun di selah – selah keteduhan itu, aku melihat seusatu yang lain. Sesuatu yang tak dapat aku prediksikan.

“M-mwo?” Pria itu tersenyum. Akupun melihatnya heran.

“Kau orang Korea?” Aku menatapnya dengan tatapan yang lebih heran lagi.

“kau bisa bahasa Korea?” Aku merasa beruntung. Sangat – sangat beruntung. Ternyata di tengah keributan seperti ini masih ada seseorang yang melihatku dan pria ini berbicara dengan satu bahasa yang sama denganku.

“Siapa namamu, gadis kecil?” Pria itu mengajakku berbicara. Berbicara dengan sebuah panggilan yang tak layak untukku lagi. Seandainya kau tahu, aku bukanlah seoran gadis.

““Jo….” Namaku Hwang Joya. Namun aku tak boleh jujur padamu. “Bae Jooyi”

“Zhang…” “Piao Xiao Heng. I’m chinese.” Zhang Yixing. “Dimana rumahmu, Jooyi?”

“Rumahku.. rumahku.. Aku tidak memiliki rumah.” Pria itu menatapku dengan heran. Namun detik kemudian ia tersenyum seolah berkata “Aku mengerti keadaanmu” dan itu terpancar jelas dari senyumannya.

“Ikutlah denganku.”

•♪•◦°˚˚°◦•♪•Hazard in Fabrication•♪•◦°˚˚°◦•♪•

Yeay prolog! Semoga suka ya 😀 Aku punya beberapa pertanyaan buat quiz. Kalo ada yang berminat jawab haha. Jawaban terbaik bakal aku kasih tau di chapter berikutnya. Sertai dengan alasan, ya 😀

menurut kalian, siapa Yixing itu? Apakah dia salah satu mata – mata dari ayahnya Joya yang bertugas buat ngejagain Joya? Atau dia benar – benar orang yang menemukan Joya di tengah keramaian?

Yang kedua, apa sebenernya motivasi ayah Joya untuk menyingkirkan Joya dari Los Angeles ke Cina?

Dan yang terakhir menurut kalian, kenapa Joya gabisa kasih tau nama aslinya ke Lay dan kenapa Lay juga berbohong tentang nama aslinya?

Jawaban terbaik akan dapet hadiah looooh haha.

Oiya, jangan lupa comment ya ~

Makasi buat yang udah baca tulisan geje iniii

Also read : 3010 treacherous

9 responses to “[Freelance] Hazard (Prolog)

  1. aku msi bingung.. hehe..

    ndak ikut kuisnya ah.. m’p..
    gg yakin..
    nextnya di tunggu.. jgn lm*..

  2. aduh ya ampun thor pertanyaannya susah banget mesti belajar 3 hari 3 malam dulu mesti tapa juga buat nyari jawaban nih *abaikan*
    haha egk deh thor bcnda. brdsrkn pengamatan saya yixing itu bkn org suruhannya papa nya joya kalo yg no 2 gatau tp kalo yg no 3 mungkin joya takut kali ya kan dia lg di tempat asing ketemu orang asing terus biar ayahnya gak bisa nemuin joya kali thor hehe kalo lay katanya author nyamar buat nutupin identitas

  3. thor…. critany aja aq msih bingung thor….
    lngsng liat pertanyaanny… bkin aq pusing…

    next ya thor….
    fighting

  4. Dari prolog dan teaser yang aku lihat si lay itu ga mungkin mata-mata ayah Joya kayaknya bukan
    Terus buat yang kedua karena tadi ayah joya bilang dia ga mau anak ngelakuin kesalahan yang sama mungkin aja dulu ayah joya punya suatu kesalahan
    Dan hampir aja joya melakukan kesalahan itu juga jadi itu sebabnya dia ngasingin anaknya
    Nah kalo untuk yang ketiga maybe dia masih takut untuk percaya sama lay secara kenal aja belum dan takut itu bukan orang baik dan malah memperalat dia itu lebih buruk
    Atau mungkin memalsukan identitas itu bisa jadi

    Haduhh kok jadi kek gitu ya thor yahh pokoknya ff nya bikin aku penasaran segera dilanjut ya thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s