[Freelance] Your Breath

acover1

Your Breath

Cast:
Wu Yifan
Hwang Hana (oc)

Support Cast:
Hwang Mi Young (Tiffany snsd)

Genre:
Romance , Sad, school life

Rating:
PG-14

Length:
Oneshoot

Summary:
I just need you’re breath

Disclamer:
Cerita ini murni milik author , so don’t be plagiat.

Nah ini ff keduaku, maaf juga kalo gaje lagi.. hehe. Dan FF ini berbeda dengan yang kemarin yaitu Allow Me To Love You (Promosi dikit) hehehe jangan lupa komen dan saran ^^ thankseu – @fg61- yang mau polow-polowan sama Author di acc itu aja ya ^^.b

#HanaPov

Pagi yang cerah ini aku sudah di antar oleh Miyoung eonni ke sekolah. Sekarang aku duduk di bangku sekolah menengah atas kelas 2 tentunya.

Ini hari pertama aku kelas 2, sungguh ini adalah hari yang meneggangkan karena kelasku di acak dengan kelas A dan C tentunya. Karena aku kelas B, aku mengharapkan dia yang sekelas denganku dan ternyata Tuhan mengabulkannya.

Wu Yifan. Murid pindahan dari Cina yang masuk ke sekolah ini pada saat semester 2 saat kelas 1.

Mungkin kau sebut aku penguntit, tapi sungguh aku tak bermaksud untuk selalu melihatnya diam-diam. Di perpustakaan yang langsung mengarah ke lapangan basket atau di ruang seni dimana aku bisa melihatnya bermain gitar kesayangannya sendirian.

Aku harus bersembunyi di gudang ruang seni untuk melihatnya, terkadang aku tertidur di dalam sana karena dia tak kunjung keluar dari ruang seni dan tak mungkin aku keluar begitu saja kan?.

Pernah sekali-dua kali ia melihatku, pandangan kami bertemu begitu saja, tapi aku adalah gadis yang tertutup. Aku tak berani jika menegurnya lebih dulu.

Dan sampai sekarang aku tak pernah berbicara padanya.

Tapi sekarang.., aku begitu senang dia sekelas denganku. Yang biasanya aku mencuri pandangnya jika aku sedang masuk kelas untuk melirik ke kelasnya sedikit hanya untuk melihatnya karena kelas kami bersebelahan, sekarang.. aku bisa melihatnya kapanpun saat aku sedang belajar.

Sesaat Lee Seonsaengnim masuk.

“Baiklah ini adalah hari pertama kalian duduk di kelas 2, aku harap kalian bisa lebih baik lagi dari kelas 1”Itulah ucapan awalnya.

“Baiklah, kita langsung saja menentukan organisasi kelas yang dimana Ketua dan wakil akan aku tentukan. Aku mau Wuyifan menjadi ketua”

Ye Seonsaengnim” jawabnya.

“Dan Hwang Hana menjadi wakilnya”

Mataku membulat, aku?, aku jadi wakil?.

“Hwang Hana, apa kau tak mau menerimanya?”

“Ah annio Seonsaengnim” jawabku gugup, walau begitu aku bisa melihatnya lebih sering kan?.

Setelahnya pelajaran di mulai.  Aku sangat senang bisa mencuri pandang padanya yang duduk di belakang sana.

Selalu terlihat pendiam tapi jika sudah bermain basket di lapangan, dia terlihat sedang mempertaruhkan nyawanya disana. Sangat berusaha dan bersemangat untuk menang.

Jujur saja aku belum pernah melihatnya kalah dalam pertandingan. Sekolah kami bahkan unggul dalam Tim basket setelah dia masuk ke sini.

-10 A.M KST-

Bel sekolah berbunyi, tandanya istirahat. Aku tetap diam di tempatku sambil berpura-pura merapihkan bukuku.

Aku ingin melihatnya dan sekarang terkabul, aku dapat melihatnya dalam jarak dekat seperti ini. Ya Tuhan, apa setampan ini dia sebenarnya?.

Akupun bangkit dan pergi mengikutinya tanpa semua orang tau. Aku seperti biasa akan ke perpustakaan, dia akan latihan untuk perlombaan siang ini yang pasti aku akan menontonnya untuk melihatnya.

Saat aku di perpustakaan, aku melihatnya dari jauh dan sesaat aku melihatnya berlatih sambil tersenyum atau bersenda gurau dengan Tim sekolah.

“Ah Hyung aku lelah” Tidak! Dia mengarah ke sini!, apa yang harus aku lakukan?.

Aku segera bersembunyi di deretan-deretan buku yang dimana aku hanya sendiri disini karena tak ada murid selain aku dan tim basket yang beristirahat disini. Mungkin ingin berteduh dengan AC yang terpasang disini.

“Hahaha orang Cina bisa juga lelah, ku kira kau tak bisa lelah karena biasanya kau sangat bersemangat Yifan-ah”

Bagaimana ini?, dia ada disini?. Mengapa anak basket Istirahat di perpustakaan, mana bisa aku keluar dengan muka yang kutundukan karena malu karena wajahku yang memerah.

Aku terjebak disini, seseorang tolong aku!

“Hey”

Deg!.Aku membeku, suara yang selalu ku rekam dalam memoriku. Suara… Yifan?

“Ah.. , waeyo?” tanyaku memberanikan diri sambil menatapnya.

“Kita satu kelas kan? Hwang.. Hana?” dia menyebut namaku..

“N..ne , dan.. kau Yifan?”

Ne.. , Bangapta Hana-ssi

Nado Bangapta Yifan-ssi” balasku dengan senyuman yang dimana dia juga tersenyum padaku sebelumnya. Itulah hari pertama dan pertama kali dalam seumur hidupku berbicara padanya.

Tanggal 6 November 2007 , saat ulang tahunnya yang ke 17. Berbeda 2 dengan ulang tahunku. Lusa.

Geurae , kita akan lebih sering bertemu kan setelah ini?”

“N..ne” jawabku gugup lagi.

“Hahaha mengapa wajahmu begitu?, yasudah aku mau latihan dulu, jangan lupa untuk menontonku”

Deg!. Apa dia tau aku selalu melihatnya di pertandingan basket? Dan hey, wajahku.. , aish, ini sangat memalukan.

Dia meninggalkanku setelahnya, tapi sekarang aku sangat senang, bisa lebih dekat dengannya.Seperti keajaiban yang datang sesuai harapanmu..

#YifanPov

Yeoja itu, akhirnya aku bisa berbicara dengannya. Agak sulit bisa dekat dengannya. Wajah manisnya yang selalu mengangguku dari pertama kali aku melihatnya di pertandingan pertamaku saat sekolah membutuhkan pemain dan aku bersedia untuk maju.

Dimana saat aku baru 3 bulan bersekolah dan hari pertama aku bertanding sebelum resmi masuk menjadi tim Basket sekolah, aku menyukai gadis itu.

Aku sekarang percaya yang orang katakan tentang Cinta pada pandangan pertama.

Aku sebenarnya selalu mencuri pandang untuk melihatnya, dan setelah hari itu aku menjadi sering melihatnya sedang melihatku. Kontak mata denganya..

Setiap aku melihatnya dan saat dia juga melihatku dalam waktu bersamaan, aku melihatnya wajahnya yang berubah sangat bingung dan memerah seperti tadi saat di perpustakaan. Aku tau dia tak sedang mencari buku apapun, dan aku memberanikan diri untuk memulai percakapan dengannya.

Apa lagi sekarang aku dan dia sudah di nobatkan sebagai ketua dan wakil kelas. Tak ada alasan dia akan menjauh lagi dariku kan?.

Setelahnya aku meninggalkannya dengan wajah yang bisa dibilang wajah orang yang paling bahagia.

#HanaPov

Aku masih saja mengatur nafasku dan wajah merahku. Apa ini benar-benar nyata? Berulang kali aku mencubit pipiku atau memukul wajahku dan bahkan banyak murid yang melihatku aneh saat aku melakukannya.

Setelah sadar banyak yang melihat padaku, akupun lekas pergi dari perpustakaan itu, karena sekarang sudah mulai banyak murid yang datang.

Bell masukpun berbunyi setelah aku membeli sebuah roti dari kantin dan menghabiskannya. Aku selalu tersenyum disaat belajar, entahlah seperti memiliki semangat baru dan sangat terang. Tapia pa aku bisa terus seperti ini?.

#YifanPov.

Sebentar lagi aku akan berangkat ke tempat pertandingan, semoga dia melihatku lagi dan aku mendapatkan semangat seperti biasanya dan memenangkan semuanya dengan mudah, dia seperti separuh dari diriku.

Setelah agak lama beristirahat dan berlatihan tadi, kami memutuskan untuk berangkat sekarang dan melihat lapangan yang akan kami pakai untuk pertandingan.

Bell sekolah, apakah kau tak bisa berbunyi lebih cepat agar dia bisa melihatku eoh?

#HanaPov

Bell berbunyi. Aku sangat senang akhirnya jam dimana aku bisa melihatnya datang. Aku segera merapihkan bukuku dan berlari keluar sekolah dan langsung menaiki bus untuk pergi ke tempat pertandingan.

Sesampainya disana aku mendapatkan kursi urutan ke 3. Sungguh beruntung aku bisa melihatnya sedekat ini.

Aku bisa melihatnya sebelum pertandingan dimulai.

Hana.. Dul… Set..HWAITING!” itulah suara tim basket

HWAITING!!!” teriakku tak kalah lebih kencang dengan wajah yang memerah.Lagi.

Pluit di bunyikan dan dia memulai permainanya. Awal pertandingan semua berjalan dengan mulus, bahkan dia beberapa kali memasukkan bola basket dengan mencetak three point! Aku sellau tersenyum saat dimana dia melakukannya.

Dan melihatku..

Aku mulai terbiasa melihatnya walau dia melihatku, walau aku agak malu dan salah tingkah menghadapinya. Tatapan matanya.

Dug dug dug..

Suara basket terus bergema di ruangan dan begitu juga decitan sepatu para pemain basket.

Dan…

Semua terlihat buruk, aku bahkan tak bisa bernafas saat melihatnya.

Dia terjatuh. Aku ingin sekali berlari kesana dan merawat kakinya yang sangat sengaja oleh lawan di haling dan mengakibatkannya seperti ini. Lawan di diskualifikasi. Tim kami menang, tapi.. apa dia bisa main lagi nanti?.

Saat aku terus memperhatikannya, ponselku berbunyi. Eonni menyuruhku pulang karena eomma akan segera datang. Karena appa sudah tiada, eomma lah yang bekerja dan biasanya kami akan masak ber 3 untuk makan malam.

Akupun dengan berat hati dan penuh kekhawatiran pergi dari tempat pertandingan, menengok sekilas ke arahnya dan pergi begitu saja. Aku merasa sangat jahat, padahal kami baru mengawali pertemanan kami.

#YifanPov

Aku melihatnya lagi dengan senyuman kali ini, dan senyuman itu jelas untukku.

Tapi semuanya berubah, aku terjatuh dan kakiku terkilir. Sial! Bisa saja lawan berbuat curang. Untungnya wasit melihatnya dan jujur, juga para juri. Mereka di diskualifikasi.

Aku heran, kemana dia pergi? Aku tak sedang berimajinasi kan kalau dia ada disini? Aku tau dia nyata saat ternseyum padaku.

Tapi mengapa ia pergi disaat aku sedang seperti ini?.

#HanaPov

Sesampainya di rumah, benar saja eomma sudah datang. Aku langsung mengganti bajuku di dalam kamarku dan ikut menyiapkan makan malam.

“Bagaimana tadi? Apakah sekolah kita menang?” tanya eonni antusias saat aku sedang memotong bawang Bombay untuk dibuat kimchi.

“Menang, hajiman…”

Hajiman mwo?..”

“Salah satu anggota tim dicurangi oleh lawan, lawan kalah karena di diskualifikasi. Untung saja wasit dan juri adil dan yang aku takutkan apa dia bisa bermain lagi?”

Aigoo.. , sepertinya kau sangat khawatir, nugu?, ah arrayo!, Wuyifan, keuchi?”

Annio bukan seperti itu eonni, jika dia sakit kan tim kita ada dalam masalah karena dialah kaptennya, iya, itu Yifan”

“Yifan.. , seberapa dekat kau dengannya? Bukankah dia sudah pindah ke sekolah kita saat kau di kelas 1 kan?”

“Hari ini adalah hari pertama kalinya aku berbicara dengannya”

“Kau payah, bagaimana kau akan mendapatkannya jika baru bisa berbicara dengannya sekarang”

EONNI!” dan kakaku ini justru tertawa puas dengan mengejekku, eomma? Dia hanya menggelangkan kepalanya seperti baisa yang melihat kenakalan kami ber 2.

Dan sebuah keajaiban karena kebodohanku datang. Aku lupa memberinya kado hari ini kan?. Aigoo..

Makan malam terasa ramai seperti biasa. Kami tertawa dan saling berbagi cerita. Selalu seperti ini walau appa sudah tidak ada lagi. Biasanya appa yang mengawali semua ini, ia bercerita tentang semua yang terjadi di kantornya, tidak yang membuat kami sedih tentunya, tetapi yang akan membuat kami tertawa dengan sangat lepas.

Tapi sosok itu menghilang, kami berjanji padanya di saat akhir-akhir kematiannya. Kami akan tersenyum untukknya sampai kami di pertemukan kembali. Di Surga..

Setelah makan malam bersama dengan eomma dan eonni, aku segera mencari benang rajut. Entah apa yang kufikirkan tapi aku berfikir untuk memberikannya topi kupluk berwarna abu-abu gelap.

Dia memiliki banya fans di sekolah, dan keuntunganku adalah aku bisa menumpuk kadoku disana tanpa ketahuan akulah yang memberikannya, aku tak mau dia menjauhiku karena aku suka padanya.

Aku terus merajutnya dengan senyuman dan berharap ini akan terlihat rapih dan sangat bagus. Abu-abu gelap menjadi pilhanku. Entahlah, mungkin karena kau sering melihat model kupluk untuk seorang pria adalah berwarna gelap seperti abu-abu tentunya.

-Pukul 10.30 P.M KST-

Sebenarnya mataku mulai berat, tapi aku tak kunjung menyelesaikannya karena harus memperkirakan berapa besar kepalanya. Dengan sabar aku tetap mengerjakannya.

!5 menit kemudian..

Akhirnya selesai. Dengan senyuman aku masukkan topi itu ke dalam sebuah kotak berwarna biru yang sudah aku siapkan dari lama untuk ulang tahunnya dan justru aku lupa memberikannya begini. Setelahnya aku menuliskan sebuah suarat yang didalamnya tertulis.

Saengil Chukkae WuYifan. Aku harap kau menyukainya dan maaf jika ukurannya tidak pas denganmu karena aku tak tau ukuranmu.. dan semoga kau dapat meraih apa yang kau inginkan, juga menyukai kadonya’.

Aku menuliskannya tanpa nama. Dan soal kadoku yang akan di tumpuk ini, semoga aku tak terlambat dengan dia yang mengambil kado-kado dari murid yang lain untuknya besok pagi. Karena kemarin pertandingan basket, aku tau dia pasti langsung pulang.

Paginya..

Aku sengaja menyalakan alarm pukul 5.30 dan segera merapihkan diri. Jam 6.30 aku sudah selesai merapihkan kamar dan rumah kecuali kamar eonni dan eomma yang biasanya mereka merapihkannya sendiri.

Aku bahkan sarapan sendirian karena eomma baru saja seelesai mandi. Aku tak mau telat memberikannya hadiah dan ini kesempatanku untuk menaruhnya tanpa ia ketahui.

Eomma aku berangkat, aku ada perlu pagi ini. Sarapan sudah siap”

Ne! hati-hati Hana-ya” teriak eomma dari dalam kamarnya.

Segera aku berlari keluar gang rumahku ini. Aku berlari dengan membawa kadonya di dalam tasku. Aku selalu melihat ke arah jam tangan pemberian appa saat ia masih hidup. Kuharap dia belum datang dan mengambil semua kado-kadonya dari depan lokernya.

Setelah sampai di halte, bus datang dengan lumayan cepat karena aku hanya menunggunya 5 menit. Aku langsung memasuki bus itu tanpa terkecuali dan sampailah aku dengan selamat di sekolah. Aku berlari masuk ke dalam dan segera menuju lokernya.

#YifanPov.

Saat baru saja aku tiba di sekolah dengan bus, aku melihatnya lagi. Agak kesal dan.. penasara. Dia terlihat buru-buru? Bahkan sampai berlari seperti itu. Ada apa memangnya?.

Aku mengikutinya perlahan tapi pasti. Dia berdiri di depan lokerku dan membawa sebuah kotak. Apa dia memberikan kado ulang tahunku?. Aku baru ingat sekarang kemarin adalah ulang tahunku.

Dia , melihat kanan kirinya. Jelas hanya ada sedikit murid yang baru lalu lalang. Setelah sepi tak ada yang melihatnya, ia langsung menyimpan kotak itu dan langsung mengarah ke lokernya lalu mengambil buku yang ia perlukan.

Ia pergi ke kelas dan dengan leluasa aku bisa mendekat ke lokerku dengan susah payah sebenarnya sedari tadi aku mengikutinya. Kakiku masih sakit karena terkilir kemarin.

Aku mengambil kotak yang paling atas itu dan membukanya. Sebuah topi kupluk abu-abu. Seeperti di rajut dan …

Sebuah surat ada di balik topi itu. Aku membukanya dan membacanya.

Sebuah garis lengkung tergambar di wajahku. Aku bahkan melupakan soal kemarin dia pergi dari pertandingan basketku, walau begitu aku ingin tau sendiri alasannya mengapa dia menghilang pergi begitu saja saat itu.

Akupun dengan membawa kotak itu dan mengambil buku di lokerku, aku berjalan ke kelas dan melihatnya sedang membaca novel. Sendirian.

Aku duduk di sampingnya, karena duduk di kelas adalah sesukamu, maka aku memilih duduk di sampingnya.

Wajahnya memerah lagi.

#HanaPov

Aku sangat kaget saat tau Yifan datang. Apa dia tadi melihatku?, semoga tidak. Dan mengapa dia membawa kotakku?.

Jelas saja wajahku memerah sekarang. Aigoo, apa kau terlambat?.

Gomawo” ucapnya dan membuatku betambah membeku. Bahkan tersenyum!.

“Ah.. aku..”

“aku melihat ini di atas tumpukan kado, mengapa kau tak memberikan langsung padaku?” tanyanya langsung.

“aku.. ,aku hanya..”

“Apa?”

“Tak berani.., aku tak punya memiliki keberanian” aish, aku salahh berbicara!

“Kita kan teman, kau ingat?” aku tersenyum membalasnya yang sebelumnya tersenyum padaku tepat di sampingku sekarang.

Aku mengangguk.

“Dan aku ingin bertanya padamu, mengapa kau menghilang kemarin di pertandingan basket?”

“ah.. mianhae, aku hanya disuruh kakaku untuk pulang”

“Kalau tak salah kakamu adalah sunbae kita kan?” Kita..?

“N..ne” jawabku masih gugup, entahlah, aku selalu tak bisa mengontrol diriku di depannya.

“Ah aku lupa mengatakannya”

Mwo?”

Gomawo Hana-ya” aku hanya tersenyum-lagi. Aku sangat senang dia menyukai kadoku.

Bell berbunyi..

Hari ini ada pameran di sekolah, semacam bazar, tapi dimana Yifan?, dia tiba-tiba menghilang saat bell sekolah berbunyi tanda bazar dimulai.

Akupun memtuskan keluar dari gedung sekolah dan lapangan basket terlihat di sulap menjadi lapangan bazar. Semua membuka bazar mereka. Tak hanya dari kalangan murid di sekitar sekolah saja yang tertarik dengan berbagai macam yang di jual dalam bazar, orang yang ada di luar dan sekolah lain yang mungkin sedang libur karena hari ini hari sabtu, mereka semua tertarik dan membeli barang bazar dari murid-murid sekolahku.

Tapi aku masih penasaran dimana dia.

Akupun memutuskan mencarinya di ruang seni seperti biasa. Benar saja dia disana, tapi kali ini dia sedang melukis?.

“Masuklah” aku sangat kaget saat dia berkata seperti itu, dia tau aku suka melihatnya seperti ini?.

“Ah.. mianhae jika aku menganggumu”

“mengapa kau harus minta maaf?, ayo duduk” ujarnya menarik sebuah bangku.

“Kau menggambar apa? Indah sekali?”

“Hanya pemandangan sunga Han, entahlah seperti ada yang kurang di gambar ini” dia langsung mengambil kuasnya lagi dan menggambar seorang wanita yang menghadap sungai Han.

Nugu?, itu seperti aku?” tanyaku polos.

“Itu memang kau” aku tercekat dan tak berani menatapnya. Aku masih melihat lukisan itu dan setelahnya mengedarkan pandanganku.menyembyunyikan wajah merahku-lagi.

Wae?, apakah ini buruk?”

“Ah.. annio, ini sangat bagus” pujiku dan itu tulus!.

Dia tersenyum lagi.

Bulan ke bulan terasa sangat cepat, bahkan kami tak sadar bahwa kami semakin dekat. Selalu bersama, walau kami bukanlah kekasih, tapi entahlah aku nyaman dengan Yifan yang sellau memberi perhatian lebihnya padaku.

Walau caci maki beberapa murid sampai padaku karena tak suka jika akulah yang dekat dengan Yifan, tapi Yifan selalu datang membelaku, menolongku.

Bahkan pernaah dimana aku di dorong seorang sunbae yang menyukai Yifan, Yifan datang dan menangkapku hingga aku tak harus merasakan sakitnya punggungku yang akan langsung dipukul oleh kerasnya dan kasarnya tanah.

Yifan nyaris memberi pelajaran kepada sunbae itu, tapi aku menahannya. Cukup, jangan dia yang membalasnya, biar Tuhan yang berkehendak. Aku percaya Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya, contohnya tadi. Aku diselamatkan olehnya kan?.

“Hari ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan”

“Eoddi?”

“Kau akan tau nanti, ayo ikut aku!” ujarnya lalu menarik tanganku. Entah apa yang ia fikirkan, dia membawa sepedah. Dia memboncengku ke entah kemana, melewati pepohonan rindang dan jalan yang cukup tidak mulus ini.

#YifanPov

Sekarang, hari ini, aku akan menyatakan semuanya. Aku sudah tau tempat yang bagus yang dimana biasanya aku menyendiri tanpa ada orang ketahui selain ruangan seni.

Aku membawanya dengan sepeda. Aku bercanda dengannya karena jalanan yang jelek ini walau seebenarnya jalan ini sangat indah, tapi jika untuk sepeda ini tak membuatmu nyaman, tapi berbeda denganku sekarang.

Sesampainya di sebuah puncak yang dimana kau bisa melihat sedikit kota seoul dari sini, aku duduk bersamanya.

Kami bercerita dan berbincang seperti biasa. Aku akan memperhatikannya bercerita tanpa ia tau. Jika dia akan menoleh ke arahku, aku akan berakting melihat pemandangan padahal justru aku ingin melihatnya lebih lama.

Saat kami di keadaan hening karena menikmati pemandangan dan situasi ini, aku meraih tangannya dan dia tidak menolakku.

Aku tau, itulah jawabannya, dia tak menolakku.Dia menerimaku, dan aku tak perlu kata-kata lagi kan jika sudah seperti ini?.

Wajahnya memerah lagi. Kau tau, bagian favoritku disaat seperti ini adalah disaat wajahmu memerah seperti itu Hwang Hana.

#HanaPov

Semuanya terasa indah setelah hari dimana dia mengenggam tanganku. Aku merasa terjaga dan nyaman bersamanya, tak takut akan ejekan yang lain.

Pernah dimana aku sedang berjalan-jalan dengannya di insadong dia menggandeng tanganku dan seorang yeoja yang dimana mungkin itu adalah murid dari sekolah lain yang menyukainya karena ya tim basket sekolah kami cukup di kenal dari berbagai sekolah dan Yifan terkenal menjadi murid berprestasi di permainan basket tentunya.

Dia berkata-kata kasar sambil berteriak bersama beberapa orang. Tapi apa yang Yifan lakukan?.

Dia merangkulku dan memasangkan headset di telingaku. Aku menatapnya sambil tersenyum begitu juga dia yang membalasnya dengan senyuman yang selalu membuat jantungku berdetak lebih cepat dari normal.

Entah sampai kapan aku bisa melihatnya. Aku sangat takut.. kehilangannya tentunya.

Jujur saja jika ada seorang gadis yang mendekatinya hanya untuk memberikan kado padanya, hatiku terasa panas. Aku memang seperti ini, mudah cemburu padanya, tapi dia langsung mengobatinya, dia menenangkanku dengan kata-kata lembutnya.

Sungguh Tuhan, jika nanti di umurku yang terakhir, aku ingin nafas terakhirku adalah mengatakan betapa aku mencintainya dan menyayanginya juga terimakasih untuk semua yang ia berikan padaku. Hanya itu saja, aku tak ingin kebahagiaan yang lain, bagiku, dialah kebahagiaanku.

#YIfanPov

Hubungan kami berjalan sangat baik walau banyak komentar dari sana sini. Tak ada masalah.

Aku memang belum mengenalkannya kepada orangtuaku, tapi sepertinya mereka menyukainya. Mengapa Hana semakin pucat dan sering sekali izin sekolah karena sakit, apa yang sebenarnya ia sembunyikan dariku?.

Aku pernah bertanya kepadanya dan apa jawabannya?, selalu tidak apa-apa. Apa dia tau aku tak bisa dibohongi dengan wajah pucatnya?, atau saat kami berdua di taman belakang sekolah dia meminta kebelakang? Dan aku mendengarnya batuk-batuk di dalam.

Entah apa yang kau sembunyikan dariku, tapi kumohon, itu hakku juga sebagai milikmu untuk tau Hwang Hana.

Lagu missing you terdengar dari headsetku yang terpasang tepat di terlingaku dan telinganya hari ini, di bawah pohon taman belakang sekolah, dia berada dipelukanku sedang tertidur. Sungguh Hwang Hana, apakah aku tak berhak tau mengapa kau begini?.

Akupun mengelus pipinya, mencium pipinya lembut. Aku tak mau kehilangan dirinya ya Tuhan, apa yang dia sembunyikan? Siapa tau aku bisa menyembuhkannya dengan membawanya ke rumah sakit! Demi Tuhan Hwang Hana katakanlah..

Tapi entah kenapa aku tak mau mengganggunya, sepertinya dia sedang menikmati tidurnya, atau setiap aktifitas yang kita lakukan. Dia seperti tak mau menyia-nyiakan sedetikpun, apapun itu saat bersamaku.

Bell sekolah berbunyi dan lekas aku membangunkannya.

Hey pretty girl, wake up, bell sudah berbunyi Chagi, apa kau ingin di hukum?” dia tak bergeming.

“Hana.., wake up” ujarku lagi.

Dia mengerang. Syukurlah, aku kira terjadi sesuatu padanya, dan hey, mengapa aku berfikir terjadi sesuatu padanya?.

“Aku bangun.., kajja kita ke kelas” ujarnya, dan.. saat dia terduduk dari tidurnya, sesuatu mengalir dari hidungnya. Berwarna merah. Darah.

“Hana hidungmu..”

Eoh?” dia langsung meraba hidungnya dan melihat darah itu, dia bangkit dan berlari meninggalkanku, aku mengejarnya dan berhenti di depan toilet wanita.

Dia menangis di dalam, aku bisa mendengarnya.

Changi.., Chagiya.., gwenchanayo?, Hana-ya!” ujarku panik.

Nan gwenchana, geunyang.., kembalilah ke kelas aku akan menyusul” teriaknya dari dalam. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi, tapi sungguh aku tak kembali ke kelas. Aku tak mau terjadi sesuatu dengannya.

Kau tau, setelah hari itu dia menutupi dirinya dariku, tidak masuk selama 1 minggu. Dan hari ini dia masuk bahkan duduk bersebelahan denganku. Aku tak menanyakan apapun, dia juga selalu hanya tersenyum menanggapi kata-kataku.

Aku memutuskannya menariknya ke ruang seni.

“Sungguh Hwang Hana, katakana padaku apa yang terjadi!, apa kau ingin melihatku seperti orang gila hanya karenamu tak memberikan informasi mengapa kau sebenarnya? Aku berhak tau Hwang Hana! Aku Namjachingumu..” suaraku melembut setelah meninggi, dan berangsur-angsur menjadi isakkan. Tentu saja aku menangis, aku duduk di sebuah bangku.

Dia menghampiriku, berlutut di depanku dan mengusap air mataku. Dia menangis.

Mianhae.., aku belum bisa menjadi yang terbaik untukmu Wuyifan..” ujarnya dengan lemah. Aku langsung meraih tangannya, ku ciumi tangannya.

Aku sangat khawatir dan tak mau sedetik saja dia menghilang dari hadapanku saat ini.

“kau yang terbaik dan yang pertama untukku Hwang Hana, katakanlah.. mengapa kau seperti ini?”

Dia menjatuhkan air matanya lagi. Dia menggenggam tanganku erat dan mengusap pipi basahku sama seperti apa yang aku lakukan padanya.

“aku.., aku terkena leukemia, Yifan-ah..”

Aku sangat kaget, terasa sekali air mataku jatuh kembali.

“Leukimia stadium 2..”

Sungguh begitu terpukulnya aku mendengarnya.

“Itulah mengapa aku selalu berdarah dan memakai topi ini dan rambut ini, sungguh ini rambut palsuku, bukan lagi yang asli” ceritanya dengan air matanya.

“Maafkan aku..” isakknya.

“Hwang Hana..” panggilku malam itu, ya sebenarnya ini sudah malam, karena sekolah kami pulang malam.

Dia mendongkak ke arahku.

“Just Kiss Me” kali ini aku memberanikan diri untuk ini, jujur ini adalah first kissku, aku ingin dia ypemilik first kissku. Aku ingin dia, bukan yang lain.

Dia mendekatkan kepalanya dengan pasti, aku meraih tangannya, menggenggam tangannya pasti. Aku yang menariknya mendekat dengan perlahan.

Sebenarnya aku sangat gugup melakukan ini. Bahkan aku menelan salivaku berkali-kali.

Dia mendekat dengan pasti dan aku juga mulai memberanikan diri hingga tautan itu menyatu. Menjadi satu.

Tak ada gerakan, hanya sentuhan lembut antara bibirnya dan bibirku. Pipiku basah dan kuyakini dia menangis. Aku merasakannya. Aku tak melepaskannya, tetap seperti itu sampai beberapa lama. Aku menahan lehernya untuk tidak melepaskannya.

Sungguh, aku tak mau ini yang terakhir Hana-ya..

1 menit 2 menit berlalu..

Aku melepasnya, menghapus air matanya.

“Kita akan menghadapinya bersama kan?”

Dia mengangguk dan memelukku. Apapun yang terjadi nanti, aku akan ada di sampingnya.

Hari berganti hari tentunya juga bulan lalu Tahun, tak terasa kami akan menjadi mahasiswa. Aku juga tak lupa menemaninya ke rumah sakit untuk kemo.

Dia selalu tersenyum saat keluar dari ruangan yang baunya sangat menyengat. Aku tak ingin menyakiti hatinya, aku tak memakai masker sama sekali saat dia keluar, aku menahan nafasku dan menyambutnya. Aku menahan bau itu saat berbicara dengannya.

“Kau hebat, bahkan aku tak pernah melihat orang leukemia seberani dirimu Chagi” pujiku smabil mendorong kursi rodanya. Rambutnya sudah tidak ada lagi dan aku tak memaksanya untuk memakai rambut palsu, aku tau tu tak nyaman untuknya.

“Aku hebat karenamu, aku tersenyum karenamu Yifan” jawabnya dengan tersenyum ke arahku. Tentu saja aku berbalik tersenyum padanya.

Seminggu kemudian..

Hana semakin sehat, bahkan wajahnya tak sepucat saat dia mimisan dulu. Aku menggandeng tangannya hari ini memasuki kelas. Semua murid sangat berisik dan kami hanya tersenyum berdua.

Aku seperti di dunia yang berbeda saat bersamanya.

“Hana, kau akan kuliah dimana setelah ini?”

“mungkin Konkuk, kau?”

“Hmm.. sepertinya aku akan pergi ke tempat yang sama, entahlah karena orangtuaku belum memastikan aku akan kemana”

Dia hanya mengangguk.

“Walau kita berbeda tempat, aku akan selalu datang menjemputmu”

Tak terasa bulan berganti dan sekarang saatnya aku dan Hana juga murid lainnya menghadapi ujian kelulusan.

Dia di tempat yang berbdeda tapi aku yakin dia bisa menjalaninya dengan mudah.

#HanaPov

Bahagia ? tentu saja, kami akan kuliah dan menjadi mahasiswa. Aku semakin sehat kali ini, bahkan eomma selalu berterimakasih kepada Yifan yang selalu mengantarku kemitrapi di rumah sakit.

Sekarang aku sedang menjalani ujian kelulusan. Aku sangat yakin Yifan bisa mengerjakan semua soal-soalnya karena kami serinng belajar bersama. Dia adalah pria yang luar biasa, di samping dia merawatku dan punya bakat yang tinggi terhadap basket, dimata pelajaranpun ia mempunyai bakat tersendiri, dia dengan mudah mengerti apa yang aku ajarkan padanya.

Aku mengisi kertas ujianku dengan senyum yang sangat bahagia, sampai akhirnya sesuatu jatuh ke tanganku, dan seharusnya itu tak terjadi lagi.

Aku berlari ke kamar mandi. Aku melihat diriku kepada cermin. Sungguh Tuhan, apa memang ini ajalku?.

Selesai ujian..

Aku tak memberitahu apapun pada Yifan. Kami terus berjalan seperti tak ada masalah atau apapun  yang menghalangi kami.

Sesampainya di rumah, aku menuliskan pesan, berjaga-jaga jika sesuatu terjadi padaku, aku bisa memberitahunya betapa beruntungnya aku memilikinya di saat-saat akhirku. Disampingku. Selalu.

Menangis? Jelas saja aku menangis?, rasanya lebih sakit dibandingkan kemotrapi.

Eonni menghampiriku dan memelukku. Dia sangat mengerti keadaanku. Dia menangis bersamaku disaat memelukku, mengelus rambutku juga menenangkanku. Tapi apa dayaku yang hanya bisa menyerahkan hidupku sekarang padaa Tuhan.

Kumohon, aku masih ingin bersamanya Tuhan..

Aku menangis, menangis terus dan terus. Besok adalah hari Minggu dan dia tak mengajakku kemana-mana. Aku terdiam di kasurku dan beristirahat sepanjang hari tanpa keluar dari kamar. Lagipula aku juga bingung harus melakukan apa.

Aku memejamkan mataku. Apa ini yang akan aku rasakan nanti jika ajalku tiba?, nyaman.. damai..

Tapi bagaimana Yifan..?

#YifanPov

Sekarang aku sedang berkumpul dengan keluargaku. Dimana orangtuaku memberitahukan aku akan kuliah di tempat yang berbeda dari Hana dan jauh dari tempatnya berkuliah sehingga aku harus pindah rumah.

Ini tidak adil, walau aku masih satu Negara, tapi bisakah tidak di Incheon?, aku ingin terus disampingnya. Tapi lihatlah ayahku yang sangat ingin aku kuliah di tempat pilihannya itu. Jelas tentu aku menurutinya dengan berat, sangat berat hati.

Bagaimana aku akan mengatakannya pada Hana?.

Hari demi hari aku lewati dengan sesuatu yang kusembunyikan. Aku merasa jahat padanya, aku menuntutnya memberitahukanku tentang apa yang terjadi dengannya, penyakitnya. Tapi aku? Aku justru menyembunyikannya dari Hana.

Upacara kelulusan tinggal 12 hari lagi. Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Aku menyayangi gadis ini, dia seperti nafasku, bahkan nyawaku.

“Wah.. hari ini sepertinya aka nada salju turun” Hana disampingku sekarang. Dia tersenyum dan melihat ke atas langit. Karena sekarang kami sudah bebas dari ujian dan sekarang kami bebas.

“Dan aku akan bersamamu saat salju pertama jatuh” ujarku sambil menggandeng tangannya.

Dia tersenyum sangat manis. Senyum yang sangat kurindukan dan aku tak mau kehilangannya. Sakit..

Disini, di dadaku.

#HanaPov

Aku sangat nyaman bersamanya sekarang. Tepatnya setiap bersamanya. Tuhan, aku sangat berharap hamba kecilmu ini biarkan dia bahagia. Aku ingin bersamanya.

“Hana.., bisakah kita check in lagi ke rumah sakit?”

Deg!

Apa yang akan ku katakana padanya. Aku selalu mengatakan aku selalu mulai baikkan. Tapi memang akhir-akhir ini aku rajin minum obatku walau rasanya sangat pahit, tapi aku merasa aku lebih segar dan sehat dari sebelumnya, kau tau.. aku bahkan tidak mimisan lagi. Aku berharap penyakitku akan lekas sembuh.

Pada akhirnya kami ke rumah sakit untuk check lagi.

“Pasien nona Hwang Hana, silahkan masuk”

Mengapa semuanya terasa cepat. Apa yang harus ku katakana jika penyakitku masih ada?.

Kajja kita masuk” ujar Yifan dan aku hanya tersenyum lalu menurutinya masuk.

Aku di check oleh dokter dan bahkan hasil lab keluar dengan cepat.

“Selamat nona Hana, penyakitmu sudah mulai mereda dan kau akan segera sembuh” senyum dan tangis bahagiaku muncul di saat yang bersamaan. Begitu juga Yifan yang tersenyum bahagia untukku.

Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengabulkan do’aku, Engkaulah yang maha penyayang pada hambamu. Syukur aku persembahkan untukmu, terima kasih..

Tapi kebahagiaan itu hanya seperti sebuah iklan yang ada di televisi. Upacara kelulusan datang dan Yifan memberitahuku sesuatu yang harus ku telan lebih pahit dari obat yang selalu kuminum hanya untuk sembuh dan bisa tersenyum untuknya.

Apakah ini hasil perjuanganku?. Dia memberikan sebuah gelang padaku dan berkata aku harus menjagaya. Tapi apa haruskah dia pergi?. Aku tau ini gelang couple, tapi setidaknya kenakan gelang ini saat kau bersamaku..
bukan dimana kau tak ada di sampingku atau tidak bersamaku Yifan!.

“Maafkan aku Hana, aku harus pergi bersama orangtuaku. Aku tau aku akan sibuk di sekolahku dan ini semua permintaan orangtuaku, aku sudah berusaha agar aku tetap disini”

Aku diam tanpa bergeming.

“Jadi.. kita berakhir?”

Dia tak menjawabku. Jadi ini yang dia berikan setellah aku berjuang mati-matian menahan sengatan bau obat di rumah sakit, menahan sakitnya selang yang masuk ke dalam tubuhku, menahan semua pahitnya obat yang aku minum setiap harinya sampai kehilangan rambutku?.

Aku tak bisa membencinya.., aku tak bisa marah padanya.. walau sekarang dia berbalik dan meninggalkanku dan pergi.

Aku mengejarnya dengan sepedah yang ia pinjam saat dulu untuk kita berdua, sepeda milikku..

Ya, sebenarnya sepeda itu adalah milikku.

Aku meneriaki namanya, aku mengejarnya dan tak di gubris olehnya, sedikitpun. Bahkan aku terjatuh dari sepeda. Tangisku pecah, pertahananku runtuh, semua kekuatan untuk tidak menangis, semuanya ,menghilang.

“YIfan! … hiks.. Yifan..”

Apa aku tidak diizinkan bahagia Tuhan?, bahkan appa sudah Engkau ambil dariku..

#YifanPov

Aku tau dia mengejarku bahkan jatuh dari sepedahnya. Tapi aku bisa berbuat apa?, hanya tangisan yang bisa keluar dari emosiku ini. Aku tau orangtuaku tau aku menangis, bahkan aku membenci mereka sekarang. Mereka tak mengerti aku sama sekali.

3 bulan kemudian..

Setiap harinya aku hanya pergi kuliah dan masuk ke kamar. Makanpun jarang dan 3 bulan di rumah baruku aku sudah seperti mayat hidup. Wajahku sangat pucat, aku hanya makan di luar setiap pagi dan siang, sisanya tidak.

Aku bahkan tak akan makan jika aku tidak keluar rumah.

Aku masih muak dan tak menerima ini semua. Aku masih ingin memberontak agar mereka tau seberapa tersiksa aku hidup dengan paksaan dan tuntutan mereka!.

“Yifan.., ayo makan”

Aku tak bergeming dari tempat dudukku. Menangis melihat keluar jendela sambil mengelus gelang couple yang ku belikan percis sama dengan Hana.

Ya.. aku menangis.., aku sudah menyerah, aku tak tau hidupku ini tujuannya untuk apa.

Mengingat kembali kenangan bersamanya dengan lagu yang biasa kami dengarkan bersama. Breath.. atau Missing You..

Hanya ada 2 lagu itu di Ipodku saat ini. Semua lagu ku hapus kecuali 2 ini. Aku hanya ingin bernafas untuknya dan aku hanya ingin merindukannya dan mencintainya apapun itu alasannya.

Aku bingung..

Aku tak punya tujuan hidup lagi..

Bahkan aku tak berani bertemu dengan Hana lagi..

Aku seperti manusia tanpa Jiwa. Jika aku dimasukan ke rumah sakit jiwa, aku bahkan tak peduli, mungkin juga dokter akan bilang bahwa memang aku terkena gangguan jiwa.

Ya.. aku sudah gila..

Aku hanya ingin Hana saat ini, taka da lagi.

#HanaPov

Sudah 3 bulan, tapi aku masih bisa bertahan sampai sekarang walaupun setiap malamnya aku akan menangis dan di peluk oleh eomma atau eonni.

eonni..” ujarku saat dia mengelus rambutku menemaniku tidur.

Ne?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu tapi jangan sela ucapanku sebelum aku selesai”

Ne..”

“Jika aku tidak ada nanti, apa kau bisa menyampaikan surat yang ada di kotak kesayanganku itu untuk Yifan, jika kau bisa eonni..”

“Kau tak boleh bicara seperti itu”

Eonni.., semua orang tak selamanya hidupkan?, dan kumohon, hanya itu pesanku dan permintaanku”

Diapun akhirnya tersenyum, mengelus rambutku lagi dan mengangguk. Aku membalasnya dengan senyuman dan tertidur dalam pelukan kakaku ini.

1 minggu kemudian.

Saat aku pulang dari sekolahku, aku baru saja akan pulang tapi aku melihat seseorang yang sangat ku kenal sedang berjalan tanpa payung menuju sebrang. Aku menariknya.

“Yifan..”

Dia sangat kaget tapi dia menarik lengannya dan meninggalkanku. Aku tau dia menangis saat meninggalkanku, dia menyebrang tanpa melihat sisi manapun, melihat hanya ke bawah.

“YIFAN!” aku berlari ke arahnya setelah melihat mobil melintas dengan sangat cepat, aku mendorongnya dan semua terasa damai. Aku tersenyum dan melihat sebuah cahaya turun dari atas.

#YifanPov

Aku baru saja melihat sekolahku bersama Hana dulu. Orangtuaku tak tau aku berada di Seoul sekarang.

Aku sangat kaget melihat Hana yang menarikku. Tapi aku tetap berjalan, aku masih merasa bersalah dengannya. Tapi apa yang aku lakukan?, aku … , eku membunuhnya?.

Aku terdiam di lokasi, ambulance datang. Aku membulatkan mataku melihat darah dari kepalanya.

“Ha..na.., HWANG HANA!” teriakku, aku menangis disana.

“JEBAL Hana , andawe!, andwae…” Aku menangis seperti orang gila disana, sungguh aku menyesal dengan apa yang kuperbuat tadi. Aku memeluknya, aku tak peduli dengan hujan yang membasahi tubuhku dan darah yang mengotori bajuku. Aku sudah tak peduli lagi.

“Hana..” isakku, aku melihatnya memejamkan mata sambil tersenyum, aku mencium keningnya, pipimua dan terakhir bibirnya. Sampai paramedis datang mengambil Hana, aku ikut ke atas sana dengan menyesal.

Hana di bawa masuk, aku tak sanggup bertemu dengan keluarganya. Akupun memutuskan pergi ke taman di sebrang rumah sakit. Bermain basket dengan keras di tengah Hujan.

Kemana dia Tuhan.., bukankah dia seharusnya melihatku saat ini sedang bermain basket seperti dulu?.

Semuanya terulang seperti film di otakku.

Awal aku bertemu dengannya, saat dia tersenyum dan wajahnya bersemu merah, dimana aku menggenggam tangannya pertama kali bahkan saat naik sepedah bersama ke tempat dimana hari itu adalah hari pernyataan bahwa dia milikku.

Sampai dia sakit dan tersenyum saat keluar dari ruang kemopun aku mengingatnya. Semuanya.

Dan lagu Missing You seperti sengaja terputar dalam memoriku yang sedang mengingatnya.

Ijen guttega anirago hedo (Meskipun aku berusaha meyakinkan diri ini, tetap saja semua tidak sama seperti dulu)
animyon nal kamahge ijossodo(
Meskipun kau berusaha melupakanku seutuhnya)
non danji nege jinan saramirado(
Meskipun kau menganggapku hanya seseorang yang baru saja berlalu)
tonight is just one night (
Setiap malam – malam ku)
norul ilhgi jonchorom(
Tetap sama, seperti saat kau belum meninggalkanku)

Nal dashi gadgo shiphun ne maumun (Hatiku berontak untuk menemukanmu kembali)
we gurohge miryonsuroun gonji (
Mengapa semua ini tidak cepat berlalu?)
niga obnun nal injonghal suga obnun (
Sulit menjalani hidup ini tanpa kehadiranmu)
tonight is just one night (
Setiap malam – malam ku)
norul ilhgi jonchorom(
Tetap sama, seperti saat kau belum meninggalkanku)

Hanbonman ne mamul durojwo(Tolongdengarkanlah jeritan hatiku ini, meskipun hanya sekali saja)
every day every night I am missing you (
Setiap hari dan malam yang kulalui, aku merasa kehilanganmu)
ne gyothe obsodo ijen bol su obsodo (
Meskipun kau tak disampingku lagi Meskipun aku tak mampu melihatmu sekarang)
onjena ne mamen togathun noingol (
Dihatiku kau tidak akan pernah berubah)

Nal dashi gadgo shiphun ne maumun (Hatiku berontak untuk menemukanmu kembali)
we gurohge miryonsuroun gonji (
Mengapa semua ini tidak cepat berlalu?)
niga obnun nal shilgam hal suga obnun(
Sulit menerima kenyataan kau bukan miliku lagi)
tonight is just one night (
Setiap malam – malam ku)
norul ilhgi jonchorom (
Tetap sama, seperti saat kau belum meninggalkanku)

Hanbonman ne mamul durojwo (Tolong dengarkanlah jeritan hatiku ini, meskipun hanya sekali saja)
every day every night I am missing you (
Setiap hari dan malam yang kulalui, aku merasa kehilanganmu)
ne gyothe obsodo ijen bol su obsodo (
Meskipun kau tak disampingku lagi Meskipun aku tak mampu melihatmu sekarang)
onjena ne mamen togathun noingol (
Dihatiku kau tidak akan pernah berubah)

Aku menangis sejadi-jadinya. Melempar bola basketku. Aku merasa aku adalah pria terbodoh di dunia ini. Dia jelas ada di depanku tadi. Memanggilku tapi apa yang aku lakukan? Aku belum berani bertemu dengannya…

Walau aku masih sangat mencintainya dan ingin memeluknya, aku masih merasa bersalah…

Dan kini masalah baru aku buat sendiri, lagi..

Nol gidehajanha dashi nege ondago (Aku tidak mengharapkan agar kau kembali padaku)
onjena ne mamun ni ane gadhingol (
Hatiku masih terperangkap jauh didalam dirimu)

Hanbonman ne mamul durojwo (nol bolsu obnun nan) (Tolong dengarkanlah jeritan hatiku ini, meskipun hanya sekali saja (Untukku yang tidak bisa memiliki mu lagi) )
every day every night I am missing you (
Setiap hari dan malam yang kulalui, aku merasa kehilanganmu)
ne gyothe obsodo dashin bol su obsodo (
Meskipun kau tak disampingku lagi Meskipun aku tak mampu melihatmu sekarang)
onjena ne mamun (Hati ku akan selalu…)
because I’m loving you and missing you (
Karena aku Mencintaimu dan sangat merindukanmu)

“AAAAGGGRRRRRHHHHH!!!!!” aku berteriak menyesali apa yang kuperbuat sendiri.

Hanbonman ne mamul durojwo (Tolong dengarkanlah jeritan hatiku ini, meskipun hanya sekali saja)
every day every night I am missing you (
Setiap hari dan malam yang kulalui, aku merasa kehilanganmu)
ne gyothe obsodo ijen bol su obsodo (
Meskipun kau tak disampingku lagi Meskipun aku tak mampu melihatmu sekarang)
onjena ne mamen togathun noingol (
Dihatiku kau tidak akan pernah berubah)

Negen nomanun tokathun noingol (Bagiku, kau akan tetap sama..)

Menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainanya. Aku berteriak dan tak menggubris apapun yang ada di sekitarku bahkan aku tak sadar lenganku berdarah karena memukul lapangan ini dengan keras.

SIAL! MENGAPA INI TERJADI TUHAN!!!. Teriakku dalam hati.

Aku menangis di bawah hujan, entah apa yang akan ku terima besok, aku memutuskan untuk pulang ke Incheon.

Tanpa mengetahui keadaanya. Dan mungkin inilah kesalahanku yang ke 2.

1 minggu kemudian..

Di sebuah pagi aku bangun dengan sinar matahari yang tak begitu terang. Mendung.., dan firsatku tak enak sekali. Aku melihat fotoku bersamanya yang ku letakkan tepat di meja samping tempat tidur.

Aku keluar untuk mengambil segelas air. aku merasa kepalaku sakit dan gelas yang ku bawa pecah. Ibuku sangat khawatir tapi aku katakan aku tak apa-apa. Kembalilah aku ke kamarku.

Aku sangat kaget foto kami berdua yang ku pajang di kamarku jatuh dari tempatnya. Ada apa ini?.

Segera aku melihat ponselku yang sudah banyak sekali telepon entah dari siapa. Ponselku berdering lagi dan aku segera mengangkatnya.

Annyeonghaseo, apakah ini Wuyifan?” terdengar dari sana dia menanyakan diriku. Suaranya sangat familiar di telingaku.

Ye.., Nuguseo?”

“aku.. , aku kakaknya Hana, Hwang Hana” aku membeku mendengar pengakuan si penelepon ini.

Aku tak bisa berkata apapun kecuali aku menjatuhkan airmataku lagi. Aku bahkan seperti orang yang ingin lari dari kenyataan ini, tapi aku tak bisa..

Nado moreulge jeonhwagireul deulgo marasseo (Tanpa menyadarinya , aku memegang telepon)
naya…cheom oreanmaniya(
Ini aku , sudah begitu lama)
neomu himi deureoseo jabgido mianhaeseo (
Karena ini begitu berat, karena aku merasa buruk jika aku menahanmu kembali)
neoreul bonaen ge… huhwidwaeseo hansumman swineungeol(
Karena aku menyesal membiarkanmu pergi, aku hanya bisa mendesah)

Neomu nollaseo mari naojido anhasseo (Karena aku sangat terkejut, aku tidak bisa berkata-kata)
ddeollineungaseumman budjabasseo (
aku berpegang pada hatiku yang gemetar)
manhi himdeunji jigeum eodi ittneunji (
Apa kau berusaha begitu banyak ? Dimana dirimu?)
mudgido jeone nunmuri heulleosseo (
Bahkan sebelum aku bisa bertanya, air mata ini jatuh)
Ne sumsuriman deullyeodo geurae (
hanya dengan mendengar suara nafasmu)

“M..mworago?, eoddi? Sekarang dia dimana?” tanyaku panik sampai aku lupa dimana dia saat ini.

Aku mendengarnya, aku tau kakaknya tidak sedang main-main. Hana koma..

Aku tak mendengarkan apa yang orangtuaku katakana saat aku berlari keluar, aku mengambil mobilku dan segera melesat ke Seoul dengan gas full tanpa rem. Berkali-kali klakson mobil kunyalakan dan untungnya polisi tak mengejarku.

Nunmuri ireohke heulleonaerimyeon (Ketika air mata jatuh)
Akkideon nae jageun chueogdeulmajeodo Eojjeol jul molla (
bahkan kenangan terdalam yang tersimpang didalam hatiku tidak tahu harus apa)
Neomu apaseo seoro nohajugil yaksokhaejiman (
Karena ini sangat menyakitkan, kita berjanji untuk melepaskan satu sama lain)
Jasin eobseul ddae (
Tapi setiap saat aku tidak yakin bisa melakukannya) ,
Gakkeum sumsorirado deullyeojugil (
setidaknya biarkan aku mendengar nafasmu)

Disaat aku sedang menyetir, bayangan kita terulang lagi Hana-ya.., kumohon bertahanlah, aku janji tak akan meninggalkanmu lagi, aku janji akan di sampingmu meskipun orangtuaku akan mengusirku, kumohon.. kau hidupku Hana..

Sumeul swineun ge maeil nuneul deuneun ge (Bernapas , membuka mataku setiap hari)
gyeou harureul saneun ge (
hampir tak bisa kulakukan setiap hari)
Jugneun geot boda himi deundago nege mareul mothaesseo (
Aku tidak bisa memberitahumu)
geokjeonghal geot gataseo… (
hal-hal itu justru lebih sulit daripada mati)
Babocheoroeom hansumman swineun geol (
karena kau akan khawatir seperti orang bodoh , aku hanya bisa merintih)

Nunmuri ireohke heulleonaerimyeon (Ketika air mata jatuh)
Akkideon nae jageun chueogdeulmajeodo Eojjeol jul molla (
bahkan kenangan terdalam yang tersimpang didalam hatiku tidak tahu harus apa)
Neomu apaseo seoro nohajugil yaksokhaejiman (
Karena ini sangat menyakitkan, kita berjanji untuk melepaskan satu sama lain)
Jasin eobseul ddae (
Tapi setiap saat aku tidak yakin bisa melakukannya) ,
Gakkeum sumsorirado deullyeojugil (
setidaknya biarkan aku mendengar nafasmu)

Sesampainya di rumah sakit, aku tak peduli dengan mobilku. Aku menaruhnya di depan dengan rapih. Aku masuk ke dalam rumah sakit dan berlari mencari kamar dimana Hana berada. Akhirnya aku melihat kakaknya di depan ICU bersama ibunya.

Entah apa yang membuat mereka menangis, tapi hatiku seperti tersayat seperti irisan.

“Yifan..” kakaknya melihatku dan aku membungkukkan tubuhku pada ibu dan kakaknya. Dia terlihat sedih, apa yang terjadi dengan Hana?.

“Diamana Hana..?”

“Dia.. dia akan segera tiada saat .., saat alatnya di cabut..” isaknya. Aku langsung masuk ke dalam dengan baju pengunjung. Aku genggam tangan Hana disana, aku ingin mendengarkan suaranya walaupun hanya suara nafasnya.

“Hana.., Hana-ya..”

Chagi.., Chagiya..” isakku pada akhirnya, aku memanggilnya seperti itu lagi. Tangisku pecah disana, di tangannya.

Dan pergerakkan tangannya membuatku kaget begitu juga kakak dan ibunya. Mereka masuk dengan cepat tanpa memakai baju pengunjung yang biasanya dipakai di ICU.

Dia membuka matanya, tentu kami sangat senang.

“Y..yi..Yi..fan..?” tanyanya dengan sangat lemah. Aku mencium tangannya.

“Aku disini Hana..” ujarku sambil tersenyum

#HanaPov

Hagopeun mari manhado (Ada begitu banyak yang ingin kukatakan)
nan amu maldo meot hago… (
tapi aku tidak bisa mengatakan apa-apa)
da gwaenchanadago seororeul dalleago (Apahaesseo) (
kita berkata kita baik-baik saja, menghibur satu sama lain (dalam sakit) )
Da dwideurrimyeon urin haengbokhagiman haesseo (
ketika aku melihat masalalu, kita hanya bahagia)
Nohji mothago isseo (
tidak melepaskan satu sama lain)

Saat ini aku seperti melihat masa laluku yang dimana kau tersenyum dengan senyuman itu dan aku akan bersembunyi dimanapun aku bisa. Melihatmu dari perpustakaan saat kau main basket, atau melihatmu diam-diam di gudang ruang seni sampai aku tertidur.

Aku ingin mengatakan banyak hal padamu, tapi Tuhan hanya memberi waktuku sebentar lagi Yifan..

“A.., ak.. ak..ku.., s..ssa..sang..at men..cinta..i..m..mu Wu..Yi..fan..” nafasku hampir habis, walau begitu, aku harus bisa menyampaikan pesan terakhirku padanya.

“Go..mma..wo.., hhh… , jeong..mal.. sara..rang..hae..”

#YifanPov

Aku kaget, dia berkata dengan sisa nafasnya. Aku ketakutan. Tanda di monitor detak jantungnya hanya garis lurus dan bunyi yang sangat nyaring.

“Hana-Ya.., HANA!” aku menangis dan memeluk jasadnya.

Nunmuri ireohke heulleonaerimyeon (Ketika air mata jatuh)
Akkideon nae jageun chueogdeulmajeodo Eojjeol jul molla (
bahkan kenangan terdalam yang tersimpang didalam hatiku tidak tahu harus apa)
Neomu apaseo seoro nohajugil yaksokhaejiman (Karena ini sangat menyakitkan, kita berjanji untuk melepaskan satu sama lain)
Jakku nega saenggak nal ttaen.. (
Ketika aku terus berpikir tentangmu)
Cheomeul su eobsi himdeul ttaen… (
Ketika ini begitu berat dan aku tidak bisa menerimanya)

Ireohkerado gakkeum sumsorirado deullyeojugil (Tolong biarkan aku mendengar setidaknya nafasmu)

Andwae Hana-ya, Andwae…, ireona.. jebal…” isakku, aku meringis dan juga keluarganya menangis di belakangku.

“Hana… Jebal..” aku mencium keningnya berulang kali dan taka da respon darinya lagi.

Itulah terakhir kalinya aku bertemu dengannya.

Hari ini, aku berjalan ke sebuah makam bersama yang lain. Mengubur jasadnya, bahkan orangtuaku datang disini. Akhirnya mereka tau alasanku mengapa aku seperti itu. Akhirnya mereka sadar bahwa seseorang yang penting dalam hidupku sekarang telah tiada.

Aku tak ingin menikah dengan siapapun sampai ajalku menjemputku dan orangtuaku tak bisa berkutik lagi, aku akan berbuat apapaun jika mereka memaksaku lagi.

Sesudah pemakaman berakhir dan semua orang pergi, aku membaca surat yang di berikan Miyoung noonapadaku saat ia ingin pulang bersama ibunya.

‘ untuk Wuyifan..

Hai.., kau tau kan siapa yang menulis ini?, kau tau aku merasa sangat bersalah menyembunyikan penyakit ini padamu, hanya saja aku tak mau kau tau dan mengkhawatirkanku.. mianhae..
Kau sudah tau semua sekarang dan aku mulai sembuh karena rajin minum obat dan kemotrapi ditemanimu tentunya.
Maafkan aku Yifan aku sakit lagi dan tidak memberi tahumu.. – Hwang Hana – ‘

Surat yang kedua..

Aku membukanya masih di depan makamnya, gundukan tanah dimana di dalamnya ia berbaring, berisitirahat untuk selamanya..

‘ Untuk Wuyifan..

Yifan! Kau tau aku sembuhkan? Aku sangat senang mendengar dokter berkata seperti itu.., tapi mengapa kau pergi?, apa aku salah berjuang sembuh untukmu? Untuk bisa menemanimu dan membalas semua senyummu yang kau berikan padaku? Juga perlindungan yang kau berikan padaku?.

Aku ingin membalas semua kebaikanmu, jadi tolong kembalilah, aku seperti orang gila disini memikirkanmu.. menangisimu.. , tapi jangan khawatir karena aku berlajar untuk tegar dan bahagia, dan kau tau? Aku tak akan menerima siapapun kecuali kau kembali padaku.

Mianhae.. , maafkan aku jika aku egois, tapi aku tak mau menikah dengan siapapun nanti, dimasa depan, dan kau bisa memegang janjiku ini.

Aku hanya milikmu.., aku mencintaimu.. aku menyayangimu..

Terima kasih untuk semua yang kau berikan Yifan.. kau memberiku pelangi di setiap hariku saat kita bersama, kau bahkan membuatku sembuh dari penyakit ganas yang biasanya kebanyakan orang meninggal gara-gara ini.

Yang perlu kau tau adalah aku masih sangat mencintaimu, dan aku berterima kasih atas segalanya, terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku.. Wuyifan.

Mungkin kau akan membaca surat ini jika aku telah tiada entah karena apa, aku tak tau mengapa aku berkata seperti itu karena firasatku mengatakan bahwa aku tak akan hidup lebih lama setelah Ini..

Gomawo.. , mianhae.. , jeongmal saranghae… – Hwang Hana – ‘

Aku menangis untuk kedua kalinya, aku memeluk batu nisannya dan memberikan bunga matahari kesukaannya.

Dia pernah berkata bahwa.. ‘ bunga matahari itu seperti matahari, warnanya yang cerah menggambarkan hidupku yang mulai cerah setelah adanya dirimu, disampingku , Wuyifan..’

Fin-

Nah.. selesai deh, maaf ya.. kalau jelek dan gaje ceritanya. Don’t forget to comment readers!, dan aku mau promosi, ini author yang bikin ff Allow Me to Love You loh.. dan ffnya juga di post di sini juga. Jadi jangan baca blogger yang mana-mana, disini ajah soalnya lengkap ^^.b

20 responses to “[Freelance] Your Breath

  1. Gk terasa tiba2 air mata ku langsung keluar. . .eomma sama appa ku jadi bingung. . Daebakk thor sad bnget..

  2. speechless..jujur aku sedih bgt waktu baca ff ini saeng..aku hampir nangis karna keinget sahabat aku..bukan lebay..tp itu jujur..
    Daebak saeng..:)

  3. Sedih bacanya 😥 sad ending .. Aku kira yifan sama hana endingnya bakalan hidup bahagia.. tapi ternyata tidak, hana sudah mendahului yifan 😥 .. Semuanya udah lumayan thor, cuman pada saat pengakhiran kalimat gunakan tanda titik. Contoh : “Hmm.. sepertinya aku akan pergi ke tempat yang sama, entahlah karena orangtuaku belum memastikan aku akan kemana.” itu aja saran aku thor .. Semangat ya 🙂 ditunggu karya lain darimu

  4. Gue terlalu melankolis thor walaupun banyak ff yang kayak gini tapi ini tetep bagus

    Walaupun mainstream tapi penulisan dan kata-katanya bagus kok
    Feelnya dapet
    And walaupun ada readers lain bilang ff author mainstream yang penting ini original buatan author^^

    Jjang><

  5. Wah makasih yg udah komen juga komentarnya , maklum aku baru blajar bikin ff sih hehe ^^ makasih y yg udh ngasih masukkan, lain kali author bikin lebih baik lagi hehe… saranghae readers ♡

  6. Huuaa… ini Sad ending bgt thor 😥 Dari pertengahan udah hampir nangis,, dan di akhir bener” nangis 😥 ngena bgt feelnya (y)

Leave a Reply to nadilla Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s