[Freelance] DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 6)

LuseraDBM4

DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 6)

Author :: Sangheera
Title :: Devil Beside Me (Chapter 6)
Cast :: Luhan of EXO as Angel,  Sera (OC) as Devil

Support Cast :: Angel’s line – Suho, Xiumin, Chen, Lay, Kyungsoo.

Devil’s Line – Kris, Baekhyun, Chanyeol, Kai, Sehun, Tao
Genre :: Romance, Fantasy
Length :: Multi Chapter
Rating :: PG-17++ (Wowow, josimhae! Jigeum wihomhaeee….)

Disclaimer :: Fanfict ini adalah hasil dari kerja keras neuron di otak kanan author sendiri, jadi mohon jangan diplagiat yaaa…

Note :: Mohon diingat bahwa ini hanya fanFICTION, sekali lagi ini hanya FICTION. FIKSI. Hasil dari khayalan author. Jadi mohon untuk tidak menyangkutpautkannya dengan kepercayaan yang kalian anut ya. It’s just for fun… DISLIKE? DON’T READ!

 

-o0o0o0o-

Love is always this cruel
Love is always this sharp
Love is always like fire
Even when we know this, we still love
(CNBLUE – Love is … )

 

:: LUHAN POV ::

Aku berteleport dan mendarat diruang tengah apartemenku. Mataku langsung menangkap sosok seseorang yang sedang aku cari-cari seharian ini. Aku menghela napas lega. Xiumin benar, Sera sudah pulang.

Gadis itu duduk diatas meja pantry dengan posisi membelakangiku. Jari-jari lentiknya memegang leher gelas yang terisi penuh dengan red-wine. Beberapa botol wine nampak bergeletakkan disekitar kakinya.

“Kau terlalu banyak minum, baby…”ujarku pelan sembari mengambil gelas wine itu dari tangan Sera dan meletakkannya dimeja pantry.

Sera menelengkan kepalanya dan matanya mengerjap saat aku memosisikan diriku dihadapannya. Wajahnya memerah karena pengaruh alkohol. Iblis tidak mudah mabuk, kecuali jika kadar alkohol dalam tubuhnya berlebih. Manusia biasa bisa mati kalau minum sebanyak yang Sera minum.

“Maafkan aku, Lu…”kata-kata pertama yang Sera ucapkan membuatku terkejut. “Jangan marah padaku ya? Jangan mengusir aku dari sini. Aku tidak punya tempat tujuan lain…”

Aku tersenyum dan mengelus rambut Sera lembut. Aku benar-benar suka menyentuh helaian rambut Sera. Rasanya seperti tersengat listrik, tapi sekaligus juga lembut. “Aku yang harusnya minta maaf karena tidak menepati janji untuk menjaga anak-anak itu agar tidak mengganggumu. Maafkan aku…”

Sera mengalungkan tangannya keleherku dan sedikit menarikku agar semakin mendekat kearahnya yang masih dalam posisi duduk diatas meja pantry. Aroma wine tercium kuat dari tubuhnya, membuatku tergiur untuk mencicipinya dari bibir Sera.

“Baguslah kalau kau menyadari kesalahanmu, Lu. Kau tahu kan tidak mudah bagiku untuk meminta maaf. Aku tahu aku salah, tapi kau juga salah, aro?”

Aku tertawa kecil mendengar kata-kata Sera. “Ne, arraseoyooo, baby.

“Jika nanti kau mau mengajakku berbuat baik lagi, paling tidak diskusikanlah dahulu denganku. Jadi aku bisa menyiapkan mental dan memikirkan apa yang bisa aku lakukan nanti. Aku tidak bisa bersikap baik secara alami, Lu…”

“Tapi kau bersikap baik sekali padaku dan kau juga menyelamatkan Narim agar tidak terjatuh kelantai…”

Sera mengerjap. “Itu reflek…”

“Jika itu benar-benar reflek, berarti gadisku ini bisa ‘bersikap baik secara alami’, ya kan?”

Sera sejenak terdiam, dan kami hanya menatap satu sama lain tanpa berbicara apapun.

“Aku iblis, Lu. Bukankah jika aku bersikap baik itu akan menyalahi kodratku?”

Aku menggeleng pelan. “Tidak, sayang. Berhentilah berpikir kau tidak pantas melakukan ini, kau tidak berhak mendapatkan itu. Tidak bisakah kau melakukan apapun yang kau mau, apapun yang membuatmu bahagia? Jika kau iblis, lantas kenapa? Kau tetap makhluk ciptaan Sang Maha Pencipta. Kau makhluk yang memiliki perasaan, kau juga memiliki keinginan. Kau adalah makhluk yang aku cintai. Aku ingin melihatmu bahagia…”

Tangan Sera terangkat dan menyentuh pipiku, menghantarkan rasa panas menyengat yang langsung merambat keulu hatiku. “Kau yang membuatku bahagia…”ucap Sera manis sekali.

Aku tersenyum . “Kalau begitu, kau harus terus berada disisiku. Kau tidak boleh pergi begitu saja seperti tadi dan membuatku cemas,”kataku sambil mengecup lembut jemari Sera.

“Kau juga, kau tidak boleh meninggalkanku apapun yang terjadi, Lu. Janji?”

Aku mengangguk kecil dengan senyum yang tak lepas dari bibirku. “Janji.”

Sera mungkin memang sangat berbeda dariku, dia iblis dan aku malaikat. Hitam dan putih. Tapi, bagiku dan bagi Sera, kami saling membutuhkan dan menganggap istimewa satu sama lain. Itu sudah lebih dari cukup.

“Lu, aku mau hadiah. Hari ini untuk pertama kalinya aku mengucapkan maaf tanpa diminta…”kata Sera tiba-tiba.

“Hm? Apa?”

“Kisseu…”

Belum sempat aku menjawab, Sera sudah menarik tengkukku kearahnya, dan mendaratkan bibirnya kebibirku. Gadis itu melumat bibirku lembut, membuatku tidak mampu untuk menolak. Sera masih diposisinya yang duduk dimeja pantry, sedangkan aku dalam posisi berdiri didepannya. Tangan kananku berada disisi kiri tubuh Sera, bertumpu pada meja. Sedangkan tangan kiriku meremas pelan pinggang gadis itu.

Bibir Sera yang bergerak diatas lapisan bibirku membuat darahku berdesir dan jantungku seakan tak berima. Aku membalas, menikmati kelembutan dan sensasi menyengat yang dihantarkan oleh gesekan bibir kami. Sera adalah gadis pertama yang kucium dan akan menjadi yang terakhir nantinya.

Aku merasakan hawa panas ditubuhku, apalagi ketika Sera membuka bibirnya dan membuatku bebas memperdalam ciuman kami. Sisa-sisa wine dibibir Sera, membuatku tak mampu mengendalikan diri dan semakin menginginkannya. Sungguh, untuk hal ini kami beruntung karena tidak harus menarik napas demi menyuplai oksigen kedalam paru-paru. Aku dan Sera bisa terus saling melumat, menghisap dan mengeksplor lekuk bibir satu sama lain tanpa jeda, selama yang kami mau.

Aku baru membiarkan Sera menarik napas saat aku melepas bibirnya dan berganti menyusuri rahang dan terus turun hingga kelehernya. Bibirku terasa panas ketika aku menempelkannya kekulit Sera, dan aku tahu Sera juga pasti merasakan sensasi panas itu. Sesekali aku menggesekkan gigiku dikulitnya dan tersenyum puas jika Sera mengeluarkan desahannya. Aroma tubuh Sera membuatku mabuk. Aku tidak bisa berhenti menyentuhnya.

“Aku mencintaimu, Sera…”bisikku dengan suara berat ditelinganya. Hembusan napasku, membuat Sera mengerang pelan.

“Lu..”

Sera menarikku lagi dan meraup bibirku. Menggerakkan bibirnya sekasar yang ia bisa. Ini membuatku gila, Sera benar-benar membuatku gila. Aku melingkarkan lenganku dipinggang gadis itu dan menahan tengkuknya dengan tanganku yang lain. Ditengah ciuman kami, aku merasakan jemari-jemari lentik Sera menyentuh kulit dadaku. Jemari Sera merambati dadaku, membelainya pelan, membuatku mengerang tertahan dibibirnya. Hentikan Lu, kau tidak akan bisa mengatasi jika lebih dari ini. Kau malaikat, ingat?

Benar. Ada batas yang tak boleh dilewati dan batas itu tidak akan sanggup kulihat lagi jika aku membiarkan Sera menyentuhku lebih dari ini.

Aku menahan tangan Sera yang merambat hingga keperutku, dan menyudahi ciuman kami. Entah sejak kapan gadis itu telah membuka seluruh kancing kemejaku.

“Gadis nakal…”kataku pelan sambil menyentil hidungnya.

“Waeyo, Lu? Tidak boleh lebih dari ciuman?”tanya Sera sambil menatapku polos. Tangannya lagi-lagi meraba dadaku. Buru-buru kupindahkan tangan nakal gadis itu.

“Tidak, baby… kau tidak boleh menggodaku seperti tadi, eo? Hanya ciuman dibibir, tidak boleh lebih dari itu.”

“Mwo? Kau tadi seenaknya saja menciumi leherku, tapi aku tidak boleh melakukan itu padamu, begitu?”protes Sera. Ah ya… itu tadi juga kesalahan sebenarnya. Seharusnya aku tidak melakukan sejauh itu.

“Mian… aku bisa lepas kendali jika kau melakukan hal itu padaku…”kataku sambil mengusap bekas basah dibibir Sera dengan jemariku.

“Waeee? Tidak apa-apa kalau kau lepas kendali, aku rela kok memberikan tubuhku untukmu…”

Pipiku memanas. Astaga, bisa-bisanya gadis ini mengatakan hal seperti itu dengan tampang polos menggemaskan seperti ini. Apa dia tidak sadar kata-katanya itu sangat berbahaya, eh?

“Sera sayang, kau tidak perlu memberikan tubuhmu, kau hanya perlu memberikan hatimu padaku, eo? Ayo, coba katakan! Katakan kau mencintaiku!”

Sera merengut. “Aku tidak mencintaimu, Lu. Iblis tidak mengenal cinta…”

Aku menghela napas berat. “Kau masih saja berpikiran seperti itu…”

“Kau benar-benar tidak menginginkan tubuhku, Lu? Katanya kau mencintaiku…”

“Astaga, tentu saja tidak! Kau ini apa-apaan berpikir seperti itu, eo? Memangnya kalau aku mencintaimu, itu berarti aku juga menginginkan tubuhmu, begitu?”

“Tapi, kata Baek…”

Aku tidak memperhatikan kata-kata Sera karena pikiran buruk tiba-tiba terlintas diotakku. “Jangan bilang kalau kau pernah melakukan hal ‘itu’ dengan pria lain…”

“Pria mana maksudmu? Aku tidak punya pria lain selain dirimu…”

Aku menatap Sera sangsi. “Jinchanya? Kau tidak punya budak manusia dan sebagainya. Yang bisa kau ajak melakukan sesuatu saat kau ingin…”

Sera menggembungkan pipinya. “Mwoya?? Aku tidak serendah itu, Lu…”

Aku menarik napas lega. “Good girl…”

Aku layak bersyukur karena untuk seorang iblis, Sera ini ternyata masih benar-benar polos. Seleranya pada seseorang juga jauh berbeda dengan iblis lain. Gadisku ini memang istimewa.

“Oh, Lu! Jangan-jangan malaikat tidak dilengkapi fitur ‘itu’ ya? Programnya belum diinstal atau bagaimana?”celetuk Sera, usil sekali.

Aku menepuk jidat Sera pelan. “Memangnya kau pikir aku komputer. Yak! Sera baby. Kenapa pikiranmu jadi aneh setelah menghilang seharian, eo? Apa telah terjadi sesuatu dengan kepalamu? Kau terbentur sesuatu?”

Sera nyengir. “Pengaruh alkohol mungkin. Aku minum terlalu banyak. Kepalaku sedikit pusing…”

“Ckckck, kalau begitu, lebih baik sekarang kau tidur, ya?”aku menyelipkan tanganku dilipatan kaki dan dipunggung Sera, lalu mengangkat tubuh gadis itu. Sera mengalungkan tangannya dileherku dan menyandarkan tubuhnya kedadaku. Sedetik kemudian aku sudah sampai dipinggir tempat tidur dengan kemampuan teleportku. Tubuh Sera kubaringkan ketempat tidur, lalu aku menarik selimut dan memosisikan diri tidur disamping Sera.

Sera beringsut memeluk tubuhku. Memandangiku dengan tatapan lugunya. “Kau benar-benar tidak berminat melakukannya denganku?”Ia masih saja berusaha menggoda. Dasar.

“Hentikan, Sera…”kataku pelan tapi tegas.

“Kau mencintaiku kan, Lu?”

“Eo…”jawabku singkat sambil menatap manik mata indah Sera.

Sera tersenyum lebar. “Arraseo…”katanya dengan nada riang sambil menyurukkan kepalanya didadaku. Mau tak mau aku tertawa melihat tingkah gadisku ini. Apa-apaan coba itu tadi? Sera selalu saja bertindak seenaknya sendiri. Membuat jantungku selalu kebat-kebit dengan tingkah tak terduganya. Walapun sampai sekarang aku masih belum tahu perasaannya yang sebenarnya terhadapku, tapi melihat dia tetap kembali padaku saat aku mengecewakannya membuatku senang. Ini memberiku harapan dan kekuatan agar terus memperjuangkannya.

:: AUTHOR POV ::

Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Diluar, butiran salju turun bergumpal-gumpal kedaratan. Menambah dinginnya malam dimusim dingin. Luhan yang sedetik lalu telah tertidur pulas sambil memeluk Sera, mengeryitkan dahinya saat dirasakan hawa diruang apartemennya berubah. Ada 3, ah tidak, yang keempat baru saja datang kedalam kamarnya. Satu diantara mereka mendekat ketempat Luhan dan Sera berada.

Luhan membuka matanya, dan secepat kilat menangkap tangan yang sedang menyentuh puncak kepala Sera.

“Apa yang kau lakukan, Kyungsoo?”desis Luhan pada sesosok malaikat yang amat dikenalinya.

“Aku hanya sedang membuat gadis iblis ini tertidur lebih lelap, Lu…”Kyungsoo menatap Luhan datar dengan mata bulatnya. Tidak terintimidasi sama sekali dengan tatapan marah Luhan.

“Kyungsoo melakukan itu agar Sera tidak perlu ikut campur pembicaraan kita, Luhan.”Xiumin menengahi. “Kami hanya butuh bicara denganmu tanpa gangguan…”

Luhan perlahan menarik lengannya yang ditindih tubuh Sera dan beranjak dari tidurnya. Menyapukan tatapannya kearah 4 malaikat yang sekarang berada diruang apartemennya. Chen, Lay, Kyungsoo, dan Xiumin. Apartemen Luhan sudah terlindungi dari perisai yang sengaja ia pasang untuk mencegah siapapun masuk. Bukan hanya mencegah manusia, tapi juga mencegah makhluk astral seperti iblis maupun malaikat. Jadi jika bukan karena bantuan seseorang, keempat malaikat itu tak mungkin bisa dengan mudah masuk kekamarnya. Dan Luhan tahu sekali siapa orang itu.

“Ada dimana Suho?”tanya Luhan to the point.

Luhan melihat Xiumin bergerak cepat kearahnya. Xiumin memegang tangan kanannya, lalu sedetik kemudian tubuhnya telah berpindah kelain tempat. Langit gelap musim dingin menggantung diatas kepala Luhan menggantikan plafon kamarnya. Salju bergerak pelan disekitarnya. Udara dingin menyapa tubuhnya, membuat Luhan harus meninggikan lagi level tubuhnya agar tidak kedinginan. Luhan menyadari dirinya sekarang berada diatap gedung apartemennya.

Xiumin, Chen dan Lay berdiri dikanan-kiri Luhan. Sedangkan Kyungsoo berdiri didekat sosok malaikat paling megah diantara malaikat lain. Luhan menunduk hormat saat sosok Suho mendekat kearahnya. Begitu pula dengan Chen, Lay dan Xiumin.

Suho tersenyum tipis, mengangguk singkat untuk membalas salam hormat dari Luhan dkk.

“Ada keperluan apa, Suho? Kenapa kau memanggilku dengan cara seperti ini?”tanya Luhan dengan nada suara datar dan tenang. Tapi Suho tetap dapat merasakan bahwa malaikat klan Azrael itu sedang kesal dari pilihan katanya.

“Kau masih bertanya ‘ada keperluan apa’? Bukankah kau seharusnya sudah tahu suatu saat aku akan datang? Apa kau tidak sadar kalau kau sekarang melakukan kesalahan fatal, Lu?”balas Suho tajam.

Pemimpin kaum malaikat itu gagal menahan emosinya saat melihat Luhan. Jika manusia beranggapan malaikat adalah makhluk suci, jernih, lembut, tanpa emosi negatif… mereka salah. Malaikat hidup beriringan dengan manusia selama bepuluh-puluh ribu tahun. Seperti halnya nama dan bahasa yang teradaptasi. Emosi mereka pun teradaptasi dengan emosi manusia.

Suho merasa kesal dan sangat sangat kecewa melihat Luhan memilih jalan yang salah. Padahal Suho-lah yang merawatnya ketika Luhan dibebaskan dalam keadaan nol dan yang menanamkan mana yang baik dan mana yang benar pada Luhan. Tapi, sekarang Luhan telah terbutakan oleh cinta. Terjebak oleh lingkaran takdir yang sama.

Seperti dulu.

“Jika kau berniat membujukku agar kembali kedunia atas, lebih baik kau urungkan saja niatmu itu, Suho. Aku tidak akan pergi,”kata Luhan, sambil menatap lurus-lurus kearah wajah keras Suho.

“Kau akan kembali denganku ke dunia atas, Lu! Tidak peduli jika aku harus memotong kedua kakimu dan menyeretmu,”tegas Suho. Udara disekitarnya terasa bergetar karena luapan emosinya.

Kyungsoo dan Chen meneguk ludah cemas, ini mungkin akan berakhir dengan perkelahian jika salah satu antara Luhan dan Suho tidak ada yang mengalah. Tentu saja jika itu terjadi, Luhan akan berada dipihak yang kalah. Dengan kemampuannya saat ini, tidak mungkin baginya menang melawan sang raja.

“Jangan mengancamku, Suho. Aku tidak akan merubah keputusanku,”kata Luhan keras kepala.

“Yak! Lu!”Chen berteriak gemas. “Kami melakukan semua ini untuk melindungimu. Kenapa kau selalu mempersulit kami dengan sikap egoismu, eo?!”

Luhan menoleh kearah Chen yang berdiri disamping kirinya. “Melindungiku dari apa, Chen? Sera sama sekali tidak berbahaya.”

“Kaumnya itu yang berbahaya! Mereka musuh kita, Lu. Kalau kau menyadari itu, sebaiknya kau tidak melangkah terlalu jauh.”

“Tapi…”

Suho buru-buru memotong. “Jika kau tidak peduli pada keselamatanmu sendiri. Bagaimana jika kau mulai memikirkan keselamatan Sera?”

“Apa maksudmu, Suho?”

Suho menatap Luhan dingin. Menunjukkan sisi lain dari dirinya. “Aku bertemu dengan raja para iblis 40 hari lalu, dan saat itu kita membuat kesepakatan, Lu.”

“Kita tidak boleh berperang hanya karena hal ini, Kris.”kata Suho sambil menatap tajam kearah Kris.

“Why not? Karena nasib manusia lebih berharga daripada nasib kita?”

“Ya. Jangan lupakan untuk alasan apa kita diciptakan. Jika kita berperang, akan timbul banyak kekacauan di dunia manusia. Tapi, jika memang itu takdir dari Sang Maha Berkehendak, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk saat ini, kita buang jauh-jauh dulu pikiran untuk berkonfrontasi secara langsung…”

“Yeah, good idea,”Kris menyesap vodka-nya. “Jika perang terjadi, aku juga tidak bisa melaksanakan rencana-rencana yang telah aku susun untuk menyambut datangnya Hari Kiamat. Itu cukup menyebalkan, kurasa.”

“Pertama kurasa aku harus menggunakan cara negosiasi dulu dengan, Luhan. Kenyataan bahwa keselamatan Sera juga akan terancam jika dia tetap nekad mempertahankan gadis itu, tentu akan menggoyahkan pendiriannya…”

“Jika kau gagal, maka giliranku untuk beraksi. Yahhh, aku bisa melakukan ini dan itu pada Sera. Karena aku masih menghormati persahabatan kita, aku tidak akan menyentuh malaikatmu, Suho. Kau tahu kan bagaimana style-ku?”Kris tersenyum licik. “Little bit violence can be work, right?”

Suho menyelesaikan ceritanya. Matanya menelusuri raut wajah Luhan yang nampak sangat terkejut. Amarah berkobar dimata malaikat itu. Suho bisa menduga bagaimana reaksi Luhan, dan dugaannya tidak meleset.

“Kau pikir kami tidak memikirkan kemungkinan akan disakiti oleh pihak malaikat atau iblis jika kami tidak berpisah? Kami memikirkan semua itu, Suho. Dan kami siap menanggungnya…”ujar Luhan.

Suho tersenyum. “Apa maksudmu dengan ‘kami’, Lu? Sepertinya kau tidak mendengar ceritaku dengan baik. Kau tidak akan terluka, aku jamin itu. Tapi tidak untuk Sera. Ah iya, apa kau ingat luka bekas cekikan dileher Sera. Kris menceritakan padaku bahwa dia yang melakukannya. Jadi kau bisa bayangkan kan bagaimana effect-nya jika seorang iblis membangkang pada rajanya…”

“SUHO!!!”Luhan hendak menyerang kearah Suho, tapi Xiumin lebih cepat menahan tubuhnya. Luhan berontak dan menggeram marah.

“Pulanglah ke dunia atas, Lu. Dengan begitu, kau telah membebaskan Sera dari masalah. Bukankah kau bilang, kau mencintai gadis iblis itu, huh?”bisik Xiumin ditelinga Luhan.

“Kumohon, Lu…”bujuk Suho sekali lagi. “Belum terlambat bagimu untuk kembali…”

“Kau dengar sendiri kan, Lu. Kris tidak akan melukaimu, tapi dia akan memaksa Sera kembali padanya bahkan jika harus dengan kekerasan. Kau tidak akan menang melawannya…”

“Jangan mempengaruhiku!”Luhan menggeram pada Lay yang sekarang berusaha memasuki otaknya dan mengirimkan sugesti-sugesti kedalam pikiran Luhan. Tapi Lay tetap pada tugasnya, terus-terusan membombardir isi otak Luhan.

“Kau bahkan tidak bisa menghentikanku, Lu. Bagaimana kau bisa menghentikan Raja para iblis?”

“Demi Tuhan, berhenti meracuni otakku, Lay!!”

Lay menggeleng. “Tidak, aku tidak akan berhenti sebelum kau bersedia kembali kedunia atas, Lu.”

Luhan terjatuh. Lututnya terasa lemas dan matanya menatap Lay dengan tatapan nanar saat sebuah visi dikirimkan Lay keotaknya.

Visi itu, Kyungsoo yang melihatnya dan ia mentransfer kedalam pikiran Lay dengan menyentuh malaikat klan Gabriel itu. Kyungsoo memiliki kemampuan untuk melihat kemasa depan. Lalu dengan kemampuan Lay yang bisa menginvasi otak orang lain hanya dengan menatapnya, ia mengirimkannya ke Luhan.

Gambaran visi Kyungsoo masih sangat samar, tapi Luhan bisa melihatnya dengan baik. Disebuah ruangan, Luhan dan Sera dikepung oleh Kris dan para pengawalnya. Kris tersenyum dengan tatapan licik kearahnya. Lalu kemudian visi itu berubah menunjukkan wajah Suho yang menatap dingin kearah Luhan. Sekelebat kemudian gambar itu terganti dengan Luhan yang berteriak-teriak dengan tubuh kaku.

Gambar dalam visi Kyungsoo berganti, menampakkan hal yang paling mengerikan dari semua ini.

Sera—gadis itu terkapar dilantai. Bukan lantai apartemen Luhan karena lantai itu terbuat dari marmer putih. Beberapa kelopak bunga berserakan disekitar tubuh Sera. Dan yang membuat Luhan syok adalah kondisi Sera yang sangat mengenaskan. Gadis itu mengerang kesakitan, darah mengotori bibir dan gaunnya yang berwarna putih. Luhan bisa mendengar suaranya yang meneriakkan nama Sera, tapi ia tidak muncul untuk menolong Sera. Ia tidak ada didekat gadis itu ketika Sera menggeliat dan berteriak karena rasa sakit ditubuhnya.

Luhan berteriak frustasi dan menjambaki rambut dikepalanya. Visi itu membuat seluruh pertahanannya runtuh.

“Kau bisa mencegah ini terjadi, Lu…”Suho menghampiri Luhan dan memegang lengan pria itu. “Kau tahu visi itu muncul karena keputusanmu. Masa depan akan berubah jika kau merubah keputusanmu.”

Luhan menggeleng pelan. “Aku tidak bisa meninggalkannya, Suho… aku tidak bisa hidup tanpanya.”

“Kau bisa. Sera hanyalah seorang iblis, kau pasti bisa melupakannya nanti.”

Luhan menepis tangan Suho. Jika saja… jika saja dirinya lah yang seorang iblis dan Sera-lah yang malaikat, Sera tidak perlu merasakan kekejaman Rajanya itu. Dengan begitu, Luhan bisa menanggung rasa sakit gadis itu. Luhan akan pergi keneraka dengan sukarela demi Sera. Bagaimana-lah ini? Bagaimana-lah caranya agar terbebas dari situasi yang mencekik ini?

Kenapa kita diciptakan sebagai makhluk yang berbeda dan saling bermusuhan, Sera? Apakah tidak mungkin bagi kita untuk bersatu selamanya?

Luhan berjalan terseok kedalam kamar apartemennya. Emosinya terkuras. Ketika melihat Sera yang masih tertidur pulas diranjang, dadanya mendadak terasa begitu sesak. Jantungnya serasa diremas kuat. Gambaran sosok Sera yang terluka itu menyergap pikirannya lagi.

Luhan bergerak perlahan kearah tempat tidur. Tangannya berpegangan pada rak buku yang ada disisi kanan tempat tidurnya. Langkahnya terhenti saat jemarinya tak sengaja menyentuh sebuah buku tebal bersampul hitam. Luhan mengambilnya.

LUCIFER “Secret of the Fallen Angel”.

Luhan membuka lagi chapter yang paling disukainya. Chapter yang menceritakan kisah lain dari legenda kejatuhan Lucifer. Kisah cinta yang kata Sera adalah omong kosong imajinasi liar manusia.

Lucifer jatuh cinta pada Seraphim. Malaikat suci itu menodai dirinya dengan perasaan cinta menggebu pada malaikat sempurna bernama Seraphim. Ia bahkan rela kehilangan akal sehat-nya dan bergerak menentang pada Sang Pencipta. Lucifer mencoba menghancurkan takdir yang membelenggunya. Lucifer begitu iri pada Adam karena Tuhan memberi Adam seorang belahan jiwa. Manusia berjenis kelamin perempuan bernama Hawa.

Manusia sungguh makhluk yang beruntung.

“Manusia sungguh makhluk yang beruntung…”gumam Luhan, mengulang kata-kata yang tercetak didalam buku itu. Meresapi arti dari kata-kata itu.

….

Akibat dari cinta Lucifer, bukan hanya Lucifer yang menanggungnya, tapi Seraphim juga. Saat Lucifer terusir dari surga, Seraphim terpuruk. Malaikat tercantik sejagad raya itu, memohon pada Sang Pencipta untuk memusnahkannya karena tidak tahan dengan akibat yang timbul dari cinta terlarang yang dimiliki Lucifer. Ia malu dan merasa berdosa karena membuat Lucifer kehilangan akal-nya.

….

….

Lucifer memporak-porandakan Surga ketika ia mendengar berita bahwa Seraphim telah dimusnahkan dari dunia. Ia begitu frustasi karena rasa cinta-nya ternyata telah melukai Seraphim dan membuat malaikat itu memilih dilenyapkan. Lucifer menggigil ketakutan saat ia menyadari bahwa dirinya tidak akan pernah bertemu dengan malaikat tercintanya. Ia menyesali nasibnya yang menyedihkan.

….

….

Luhan tersenyum miris. “Nasib yang menyedihkan…”gumamnya pelan. Sebulir air mata jatuh membasahi lembaran kertas buku itu. Meresap dan meninggalkan bekas basah berbentuk bulat. Tubuh Luhan bergetar. Ia menutup bukunya dan terisak pelan.

“Luhan?”

Sera yang terbangun terkejut melihat Luhan menangis. Gadis itu mendekati Luhan dan menyentuh wajah pria malaikat itu. “Luhan? Kenapa menangis?”

Luhan merutuk dalam hati dan buru-buru menghapus airmata yang jatuh dipipinya. Airmata adalah simbol kelembutan jiwa malaikat, tapi airmata ini membuatnya nampak begitu lemah. Seharusnya Luhan bisa menahan diri agar gadis itu tidak melihatnya menangis seperti ini.

“Apa buku ini sesedih itu sampai kau menangis?”tanya Sera lagi saat melihat buku yang dipegang oleh Luhan.

“Eo…”jawab Luhan lirih dengan senyum dipaksakan tersungging dibibirnya. Luhan tidak ingin membuat Sera cemas. Gadis itu tidak boleh tahu tentang pertemuannya dengan Suho dan teman-teman malaikatnya barusan. Syukurlah tadi Kyungsoo membuat Sera terlelap pulas, sehingga Sera tidak terbangun sebelum Luhan kembali.

Sera mengambil buku itu dari tangan Luhan dan menaruhnya kembali kerak buku. “Kalau begitu tidak usah dibaca, Lu…”tegur Sera.

Luhan tersenyum karena tingkah Sera. Pria itu merentangkan tangannya. Sera yang mengerti maksud Luhan, tersenyum senang dan menubruk tubuh pria itu. Memeluk Luhan erat-erat. Luhan membalas pelukan Sera tak kalah erat dan menenggelamkan wajahnya dirambut lembut gadis itu. Gambaran visi Kyungsoo berkelebat lagi dipikiran Luhan. Sera yang terluka dan Luhan yang tidak mampu berbuat apa-apa. Luhan mengeluh dalam hati. Dia sungguh tidak ingin meninggalkan Sera, tapi ia juga tidak ingin membuat Sera terluka karena dirinya.

Terlintas dibenak Luhan pembicaraannya dengan Suho tadi.

“Beri aku waktu, Suho. Aku ingin mengucapkan selamat tinggal padanya. Setelah itu aku akan kembali kedunia atas,”ujar Luhan lemah.

Suho tersenyum, kelegaan nampak jelas dimatanya. “Kuberi waktu 24 jam, Luhan. Itu waktu yang cukup untukmu. Jika lebih dari itu, mungkin kau akan berubah pikiran dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”

Ya.

Pada akhirnya, Luhan menyerah pada pilihan paling mengerikan yang harus ia ambil dalam hidupnya. Saat ini pun, ia masih belum sepenuhnya rela dengan keputusannya itu. Apakah Luhan sanggup? Apakah ini keputusan yang benar? Tapi, jika mengingat apa yang bisa dilakukan Kris pada Sera jika gadis itu terus kabur demi dirinya membuat hati Luhan tidak tega.

“Bagaimana jika kita pergi kencan pagi ini? Ada banyak hal yang ingin aku lakukan bersamamu,”bisik Luhan ditelinga Sera. Benar, Luhan ingin menghabiskan waktunya bersenang-senang dengan Sera hari ini, karena mungkin hari ini adalah hari terakhir untuk mereka.

Sera mendongak untuk melihat wajah Luhan. Mata gadis itu berbinar.

“Kita mau kemana?”

“Mmm, rahasia…”jawab Luhan sambil mengusap penuh sayang rambut hitam Sera.

“Eiii, kalau kau berniat mengajakku kepanti asuhan, panti jompo atau panti-panti yang lain, urungkan saja niatmu itu, Lu! Aku pastikan aku akan kabur lagi sesampainya kita ditempat itu.”

Luhan terkekeh “Aighooo, baby. Tenang saja, aku tidak akan membawamu kesana. Kita akan pergi bersenang-senang hari ini. Percayalah padaku…”

“Hehehe… Okay-okay. I’ll trust you…

24 jam… hanya 24 jam. Lalu semua ini akan berakhir. Akhir yang menyedihkan.

To be continued …

Haiii… Sangheera here~ Chapter 6 here~ Lusera here~

Author nulis ini disela suntuk ngerjain laporan interpretasi Tes Grafis, jadi maaf kalo acak-kadut yaa… huhuhu… kkaebsong~. Kadang kuliah di Psikologi itu bikin H.A.P.P.Y, terutama klo dosen lagi share soal pengalaman mereka jadi Psikolog and soal analisis mereka tentang kasus-kasus menarik disekitar kita. Apalagi penyakit psikologi kan unik-unik, kadang malah bikin gak percaya—kok ada penyakit kayak gitu.

Tapiiiii klo udah mulai ada tugas, praktikum and bikin laporan… ukh, neraka. Dan demi apa author sekarang harus kekampus dari senin-sabtu kayak anak sekolahan!!! Hiks-hiks… pergi pagi pulang malam. Uda kayak anak SMA klo mau UAN aja. Mian ya, curcol dikit. #sigh.

Jadi di-chapter ini rate-nya agak naik dikit yaaa, hehehe. And gak terlalu banyak clue. Kecewa? Jangan dong~ Semoga kalian semua pada makin setia nungguin gimana nasibnya LuSera selanjutnya ya. Kemarin ada beberapa reader yang tebakannya bener lho, hehehe… author senang sekali.

RCL Please… Dont Be Silent Reader, ne? Hargailah usaha author untuk menulis ini dengan komen or like kaliannnn…

240 responses to “[Freelance] DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 6)

  1. Fix deh kayaknya Luhan itu ‘Lucifer’ dan Sera itu ‘Seraphim’ >.< aiiigoo makin penasaran Terjebak di cinta yang sama.-.

  2. Tragis banget cinta Luhan . .
    Penasaran nih, apa Sera masih belum bisa mencintai Luhan ?? Wlaupun bgtu Luhan tetap mencintainya . .

    Jjang banget ff nya . .

    b^^d

  3. ohh my gosttt 😥 lusera kenapa kisah cintanya rumit banget sih thor aku jadi penasaran endingnya kaya apa, semoga mereka bisa bersatu untuk selamanya 🙂

  4. Pas luhan nangis…ko feel nya duhhhh bnr2 ikutan sedih. Aku rasa dia ingin jd manusia agar bs terus bersama sera 😥

  5. Tinggal 24jam aj mereka bersama? 😥 andwaee.. 😥
    Huft, mungkin ga ya Lu bkl jdi lucifer and Sera jdi Seraphim? Hmm.. Izin lanjut ya eon~ fighting~

  6. Suho ada benernya juga. Klo bener luhan sayang sera,, dia ga akan tega ngeliat sera tersiksa, yauda.-. Luhan hrus berkorban #pikiranapaini?-_-

  7. aaaaaa……authornya daebak…imajinasinya luar biasa …..good job author smga lbh bnyk lgi ide2 yg jauh lbh fntastis u/ ff bruny nnti..

  8. duh, bener bener harus baca maraton:’D
    sempet-sempetnya, pdhl besok ada tugas banyak-ada ulhar harian;; *maafkan ya thor, curhat diikit

    so saad banget cintanya luseraa :(,penasaran endingnya kayak gimana
    tapi.. sempet kepikiran kalo sera tu anaknya baeki(?)._.
    next chaap

    keep writing thor 😀

  9. duh pnasaran masa lalu luhan sma sera it kyak gmna kok kyaknya mreka pernah trlibat cinta mgenaskan spti ini. cinta terkdang mmg tak hrus memiliko trutama bagi yg berbeda gtu ya susah

  10. Kayaknya luhan itu emang lucifer, tapi sera kayaknya cucunya serafim deh. . Tapi kan serafim lenyap ya. . ,?
    Hipotesis ku sih luhan lucifer
    Serafim punya anak serafina yang kemudian sama baek dan finabaek punya anak sera.
    Hahaha

  11. Keren! Makin tambah rumit,tapi aku sukaaaaa><. Author pinter meliuk liukkan hati reader ini. Really really really good job!! Ddaebak author! Keep writing,kak!!

  12. Luhan, kamu mesti selamatkan Sera dulu, bru kemudian mxsun rencana utk ngambil Sera dr dunianya… yaya itu pemikiran yg bagus! haha .. Next bacanya ya Author.. 🙂

  13. kisah itu terulang kembali sama luhan dan sera.. ga kebayang kalo visi itu bener2 terjadi sama mereka berdua..
    mungkin untuk saat ini biarkan mereka berpisah dulu aja x ya ga sanggup klo harus sera tersiksa gtu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s