[Freelance] RUN THROUGH THE TIME (Part 4)

cover run

RUN THROUGH THE TIME ( 4 )

 

AUTHOR : AKIKO

GROUP CAST : SUPER JUNIOR, EXO, SNSD

RATING : 16+

CAST : EUN SOO as Main character

Kyuhyun as Eun Soo tutor

DongHae as EunSoo Husband

Sungmin as kyuhyun’s friend

Yuri as Eun Soo’s friend

Sehun as Kyuhyun reincarnation

Luhan as Donghae reincarnation

LENGTH : SERIES

PLEASE, DON’T BE SILENT RIDERS!!!

So be wise reader ^^. ( Happy Reading ^^)

NB : Melihat respon dari chap sebelumnya, Author mohon kesabaran para reader akan alur cerita FF ini ya, Karena FF ini akan melibatkan 2 waktu yang berbeda maka author dengan sengaja memperjelas setiap plot dalam cerita agar tidak menimbulkan kejanggalan dalam alur cerita sehingga tetap nyaman untuk dibaca. ^^. Gomawo….

EunSoo PoV

Merpati putih itu kembali hinggap di lenganku, dan kini lembaran putih itu terbungkus oleh selmbar kain hitam yang sama persis seperti yang pernah pria asing itu berikan padaku.

“ apakah kau mengingatnya? Kupikir kau dapat menebakku dengan mudah karena aku tau kau bukanlah seorang putri yang bodoh.”

“ sudahlah, kau tak perlu bermain-main layaknya anak kecil jika kau telah mengetahui bila identitasmu sudah terbongkar.” Aku sengaja menuliskan jawaban surat itu dengan perasaan sedikit kesal karena ia benar-benar mempermainkanku karena aku tak dapat mengenalinya di awal pertemuan kami.

“ kau benar-benar menarik EunSoo.”

“ apakah kau sedang merayuku?”

“ ani, mengapa aku harus merayumu jika kelak kau adalah istriku sendiri? Rayuan hanya berlaku bagi pria yang ingin bermain-main saja dengan wanita.”

“ haha, .. kau pandai berkilah. Pada kenyataannya tindakanmu sekarang termasuk dalam tindakan perayuan.”

“ aku hanya ingin menyadarkanmu EunSoo, ternyata kau dapat mengenaliku dengan cepat.”

“ ha? Kau pikir aku bodoh?”

“ aku tak sabar menanti untuk bertemu denganmu langsung.”

“ jangan berharap banyak padaku.”

“ kita lihat saja nanti,..”

Aktifitasku terhenti ketika salah satu pelayanku masuk kedalam kamarku dan mengatakan jika ayahku akan datang mengunjungiku sebentar lagi.

“ ayah..” ucapku pelan sembari sedikit merendahkan tubuhku ketika ayahku tiba.

“ sudahlah, jangan bersikap seperti ini di depanku. Aku adalah ayahmu, tak perlu kau gunakan etika kerajaan jika aku mengunjungimu secara pribadi seperti ini.”

“ mianhe appa..” ucapku sambil tertunduk dan aku tahu ayahku bergerak mendekat padaku.

“ Gwencana, gwencana… Maafkan ayahmu ini, EunSoo. Ayah meminta maaf padamu jika aku tak dapat menjagamu setiap saat dan karena posisiku sekarang membuatku menjadi tak berfokus padamu. Kau tau kan, jika ayahmu ini bukan hanya milikmu saja? Ayahmu ini adalah milik kerajaan kita, negara kita. Jadi kumohon, aku berharap perngertian yang besar darimu.” Ayah mengatakan semua kalimat tersebut dengan nada suara yang rendah. Tak biasanya ayah menggunakan nada seperti itu dalam intonasi bicaranya yang selalu tampak berkuasa dan berwibawa.

“ Yuri mengatakan padaku jika lukamu mengalami perdarahan di dalam. Apakah benar?”

“ ne, tapi Yuri telah memberikanku ramuan obat secara rutin sehingga keadaanku kini telah jauh lebih baik, ayah.”

“ Syukurlah, … Aku telah lama tak berjalan-jalan di taman istana bersamamu, apakah kau mau berkeliling bersamaku?”

“ ne, appa.” Aku senang sekali mendapatkan kesempatan langka ini karena kesibukan ayah selalu saja menyita waktunya untuk bersamaku. Segera kugandeng lengannya dan aku berjalan semari menyandarkan kepalaku di pundaknya.

“ haha… kau tetap saja seperti anak kecil EunSoo.” Ayah terkekeh melihat sikap manjaku padanya.

“ aku begitu merindukanmu appa, jadi biarkan hari ini aku menunjukkan pada semuanya jika kau adalah milikku.” Aku semakin mengeratkan gandenganku pada lengan ayahku walaupun dibelakang kami terdapat beberapa pengawal dan pelayan yang mengikuti kemanapun kami berjalan.

Di tengah-tengah perjalanan kami menuju taman istana. Seekor merpati putih kembali datang dan mendarat tepat di pundakku.

“ bukankah ini adalah merpati yang sama??” batinku dalam diam. Sedangkan ayah hanya semakin memperhatikanku.

Beberapa saat kemudian, dari balik pepohonan munculah sosok laki-laki dengan pakaian kebesarannya, namun sekali melihatpun siapa saja akan dapat mudah menebak jika ia adalah seorang pangeran.

Namja itu, bertubuh tinggi dengan badan yang kekar. Rambutnya hitam legam dengan kulitnya yang  putih bersih serta matanya terbingkai alis tebal yang membuat pandangannya ketika menatap siapapun akan terasa hangat. Mata yang sama dengan pria asing yang bertemu denganku di hutan beberapa waktu yang lalu.

Ia tersenyum dengan penuh hormat, menatap ayahku sebentar lalu kemudian matanya menatapku dengan pandangan yang tak dapat kuterjemahkan, aku benar-benar merasa terbodohi olehnya. Aku membenci hal itu.

“ Yang Mulia… Semoga kesejahteraan dan kesehatan selalu tercurah untuk Yang Mulia. Begitu pula dengan Putri..” Ia kembali menyapa ayahku dengan gaya khas kerajaan. Sepertinya ayah telah mengatur semua ini sehingga ayah hanya tersenyum dan mengajaknya ikut berjalan-jalan mengitari taman istana Timur yang terkenal dengan keindahannya.

“ kau benar-benar menghancurkan rencanaku untuk bersama ayahku, pangeran lee. “ gerutuku dalam hati karena kesal. Karena sedari tadi ia mengambil alih perhatian ayahku, dan aku hanya mendengarkan mereka berdua berbincang-bincang.

Setelah beberapa waktu berselang, ayah membiarkan kami untuk berbicara berdua saja dan ayah segera meninggalkanku bersama seluruh pelayan dan pengawalnya.

Aku segera menatap tajam padanya, berharap agar ekspresi kekesalanku terpancar.

“ apakah kau akan membunuhku dengan tatapanmu itu, Yang Mulia Putri EunSoo?.” Ia mengawali pembicaraan kami dengan tawa menghiasi wajahnya.

“ setidaknya kau telah mengetahuinya. Syukurlah..” jawabku pendek.

“ Kau tak ingin bertanya siapa aku? atau aku harus..”

“ cukup pangeran Lee, kau tak perlu bersandiwara atau berpura-pura tak tahu. Kau kan pelaku surat tanpa tuan yang kau kirimkan pagi tadi??” Aku semakin kesal padanya karena ia benar-benar tak seperti pangeran-pangeran lainnya. Jika ia ingin menjadi suamiku maka seharusnya ia membujukku agar aku menyukainya, tapi ia tidak. Ia hanya semakin membuatku kesal.

“ kau mengalami kemajuan EunSoo. Panggil saja aku DongHae. Itu nama kecilku, jangan panggil aku dengan nama kenegaraanku.”

“ha? Mengapa aku harus memanggilmu seperti itu? Aku tak berniat untuk akrab denganmu.”

“ haha… apakah kau tak tahu? Jika kelak kita akan menjadi akrab melebihi siapapun.”

“ ne. Aku tahu. Tapi bukan berarti aku harus akrab denganmu sekarang. Sudahlah.. jika tak ada yang ingin kau bicarakan lagi , aku akan pergi. Aku memiliki jadwal sangat padat hari ini.” Dengan sengaja aku tak meladeninya, karena ia membodohiku layaknya orang yang tak tahu apa-apa mengenai identitasnya. Namun pada kenyataannya aku pun juga tak ingin mengetahui banyak tentangnya.

EunSoo POV end..

Author PoV

Dari kejauhan tampak seorang namja yang menahan tawanya karena melihat tingkah EunSoo.

“ benar-benar seperti yang kuduga.” Ucap Kyu dari jauh yang melihat kejadian dimana EunSoo meninggalkan DongHae sendirian.

‘ apakah ini adalah pemandangan yang menyenangkan bagimu?” tanya SungMin yang berada di sebelah Kyu.

“ haha.. entahlah. Aku tak tahu bagaimana jadinya nanti namun pangeran Lee harus lebih bekerja keras untuk menakhlukkan EunSoo.” Kyu kembali terkekeh sembari berjalan menjauh dari taman istana bersama SungMin.

“ lalu bagaimana denganmu?”

“ aku? bukankah sudah pasti aku akan menjadi penasehatnya kelak.”

“ bukan itu maksudku pabo? “ SungMin segera memukul kepala Kyu dengan keras.

“ YA!! Kau tau kan jika aku bekerja menggunakan otakku, bagaimana bisa kau memukul otakku begitu keras?”

“ kau sendiri yang salah, mengapa kau bertindak seolah-olah kau tak peduli.”

“ aku hanya tak ingin membuatnya berada di posisi yang sulit. Aku tak ingin menunjukkan kegundahanku padanya. Bagiku… selama aku bisa berada di sisinya dan melihatnya bahagia. Itu semua sudah cukup.”

“ ckck… aku tak mengerti dengan kisah cinta kalian berdua.” SungMin mulai lelah menjadi penonton kisah Kyu dan EunSoo yang terlihat tak membuahkan titik terang.

–oOo—

Tuk…

Terdengar anak panah yang melesat tepat pada sasarannya. EunSoo yang tampak kesal segera melampiaskan kekesalannya pada setiap anak panah yang ia lepaskan dari busurnya.

“ kudengar kau telah bertemu dengan Pangeran Lee hari ini.” Yuri terlihat membawakan ramuan obat bagi EunSoo.

“ ne..” EunSoo menjawab pertanyaan Yuri dengan singkat sembari kembali memusatkan pikirannya pada anak panah yang akan ia lesatkan.

“ lalu??”

“ ia menyebalkan, terlihat arogan dan terlalu bangga dengan kecerdasannnya.” EunSoo meletakkan busurnya untuk meminum obat yang telah dibawakan Yuri.

“ pangeran lee memang yang paling cerdas dari seluruh putra raja dari istana Barat.” Yuri menjawab EunSoo dengan enteng sembari duduk di sebelah EunSoo.

“ tapi ia tak perlu membuatku terlihat bodoh didepannya.”

“ aku tak mengira jika awal pertemuanmu adalah sebuah pertengkaran.”

“ sudahlah, unnie. Aku tak ingin membicarakannya lagi.”

“ apakah Kyu mengetahui jika kau bertemu dengan pangeran Lee hari ini?”

“ Entahlah, namun cepat atau lambat ia akan mengetahuinya juga.”

“ lalu?”

“ lalu? Apa maksudmu, Unnie?”

“ hubungan kalian akan semakin rumit.”

“ kau benar Unnie. Namun aku tak bisa menolak untuk bertemu dengan pangeran Lee. Kau tau sifat Kyu kan? Jika aku semakin menolak perjodohan ini, entah hal apa lagi yang akan ia lakukan pada dirinya sendiri. Unnie.. kau mengetahui jika Kyu akan menjadi penasehat agungku kelak?”

“ mianhe EunSoo..” Yuri terlihat membuang mukanya sebagai tanda jika ia bersalah karena telah menyembunyikan hal tersebut pada EunSoo.

“ sudah kuduga.. hanya aku yang tak tahu menahu mengenai alih jabatan Kyu.” Sesal EunSoo singkat.

“ Bukan begitu maksudku EunSoo..” Yuri berusaha mencari kalimat yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada EunSoo.

“ aku mengerti Unnie. Aku memutuskan jika aku tak akan membuatnya berada di posisi yang sulit. Aku tak ingin menunjukkan kegundahanku padanya. Sehingga perjodohan ini harus tetap berjalan, itulah satu-satunya jalan agar Kyu tetap berada di sisiku.  Aku telah cukup menelan pil pahit karena Kyu telah mengorbankan masa depannya untukku, sehingga aku tak dapat membuatnya melakukan hal berbahaya lebih dari ini hanya karena keegoisanku.”

“ kau tau jika keputusanmu ini membahayakan? “

“ ne, aku tahu. Mungkin aku bukanlah takdir yang tepat bagi Kyu, namun jika kekuasaanku dapat membuatnya tetap berada di sisiku. Maka aku tak akan pernah melepaskannya.”

“ kau benar-benar mencintainya, EunSoo.”

“ jangan katakan hal itu Unnie, akan lebih sulit bagiku jika aku mengakuinya. Aku tak ingin perasaanku semakin serakah dan menginginkan lebih. Cukup ia berada di sisiku saja.. yah… itu cukup”

“ EunSoo, kau tak dapat berbuat seperti itu pada dirimu sendiri. Kelak kau akan menikah, dan apakah kau tak berniat mencintai suamimu?”

EunSoo menghela nafas panjang yang dalam sebelum ia menjawab pertanyaan Yuri.

“ aku akan tetap menjadi istri yang baik bagi suamiku. Aku akan menjadi ratu yang baik bagi negaraku, namun perasaanku… biarkan itu menjadi rahasiaku sendiri. “

“ kau akan menjalani kehidupan yang berat EunSoo. Kau akan berdiri di atas dua buah kapal dimana kau harus selalu seimbang diatasnya.”

“ aku tahu Unnie, aku tahu. Namun ini adalah satu-satunya jalan agar nyawa Kyu tetap terjaga. Aku tak ingin membiarkan ia selalu terluka ketika melihatku menderita, aku ingin ia melihat aku bahagia. Walaupun aku tahu jika kebahagianku hanyalah saat bersamanya. Aku yakin Kyu juga memikirkan hal yang sama denganku.”

‘ aku hanya dapat mendoakan hal baik selalu menyertai kalian berdua.” Yuri semakin pasrah dengan keputusan tuan putrinya itu.

Beberapa bulan berlalu semenjak pertemuan pertama EunSoo dengan DongHae. Walaupun mereka berdua sering bertengkar karena kebiasaan EunSoo yang keras kepala namun hal itu tak membuat DongHae menyerah mengenai calon istrinya tersebut.

Waktu beberapa bulan tersebut cukup bagi DongHae untuk mengenal bagaimana EunSoo sebenarnya, begitu pula EunSoo yang tetap pada kebiasaan lamanya. Selalu besikap tak peduli pada Donghae walaupun ia tak pernah menolak sekali pun ajakan DongHae untuk bertemu.

“ apa yang kau inginkan sekarang? “ tanya EunSoo malas ketika ia bertemu DongHae di depan ruang belajarnya. Kyu juga berada di ruang belajar EunSoo karena saat itu EunSoo memiliki jadwal belajar bersama Kyuhyun.

“ aniya, aku hanya ingin melihat hal apa saja yang kau pelajari sehingga membuatmu terlihat begitu keras kepala.” Jawab Donghae santai. Kini ia telah tahu jika berbicara serius dengan EunSoo tak akan pernah membuahkan hasil yang baik sehingga DongHae hanya mengajaknya berbicara ringan.

“ kau tak akan mengerti hal yang kupelajari.” Jawab EunSoo singkat namun pada akhirnya EunSoo tetap mengajak DongHae masuk kedalam ruang belajarnya.

Kini hatinya tengah menangisi keadaannya sendiri, ia sungguh tak ingin membiarkan lelaki manapun mencuri waktunya saat bersama Kyu namun jika EunSoo tak membiarkan Donghae masuk ke dalam ruangannya, Kyu akan berpikir jika EunSoo telah menolak Donghae demi dirinya dan tentu saja hal tersebut akan semakin menjauhkan EunSoo dari Kyuhyun.

“ Mianhe Kyu, aku tak memilki pilihan lain selain ini demi melindungimu. Melindungi kita.” Batin EunSoo dalam diamnya. Terlihat jika mereka diam-diam saling memandang satu sama lain dengan raut muka yang redup.

“Gwencana, aku tak akan pernah menyalahkanmu EunSoo. Tempatmu memang seharusnya bersama dengannya. Aku telah cukup puas berada di sampingmu seperti sekarang.” Batin Kyu yang berjalan menjauh dari meja belajar EunSoo.

Kyuhyun telah resmi menjadi penasehat EunSoo semenjak pertemuan EunSoo dengan Donghae yang berjalan semakin sering. Menurut aturan istana, Kyu diharuskan memakai topeng yang dikhusukan bagi penasehat resmi seorang calon Ratu seperti EunSoo dengan maksud agar Calon suami EunSoo percaya jika calon ratunya tidak akan pernah melihat wajah penasehatnya sebagai bentuk kesetiaan sang ratu kepada suaminya.

Kyuhyun tetap berada di ujung ruang belajar EunSoo sembari mengatur seluruh jadwal EunSoo untuk beberapa hari ke depan. Sedangkan EunSoo tetap fokus dengan bukunya. DongHae sekilas berjalan-jalan melihat seluruh koleksi buku yang dimiliki EunSoo dan ia tak percaya jika seorang putri sanggup membaca buku sebanyak ini.

“ tak kusangka, ternyata ini yang menyebabkanmu begitu keras kepala dan angkuh dengan harga dirimu sendiri, ehmm?” DongHae kembali tersenyum pada EunSoo sekilas EunSoo hanya menjawabnya dengan senyum simpulnya.

“ kau belajar dengan cepat Hae, mari kutunjukkan sebuah buku yang mungkin berguna bagimu.” EunSoo segera beranjak dari tempat duduknya dan mengambil satu buku dari laci mejanya.

“ ini adalah buku yang jarang dimiliki oleh siapapun, namun jika kau dapat mempelajarinya dengan baik maka kau akan mengetahui strategi perang yang bagus.” EunSoo meletakkan buku tersebut di meja di dekat dimana DongHae berdiri. DongHae terlihat sangat tertarik dengan buku yang ditunjukkan oleh calon istrinya tersebut.

Dada EunSoo semakin sesak dengan adanya Kyu yang berada di ruangan yang sama dengannya dan Hae. Ia tak sanggup terus menerus menyakitinya seperti ini walaupun ia tahu semua yang ia lakukan sekarang adalah demi kebaikan mereka berdua. EunSoo segera memutar otaknya agar Kyu tak perlu melihatnya bersama DongHae.

“ Kyu, bisakah kau memastikan pada Dewan Istana tentang audiensi yang akan dilakukan beberapa bulan lagi? Aku membutuhkan semua bahannya.” EunSoo dengan sengaja memerintahkan Kyu untuk pergi menemui Dewan Istana yang letaknya cukup jauh dari ruang belajar EunSoo.

“ mianhe Kyu, aku tak ingin melihat sosokmu yang terlihat begitu kesepian.” Batin EunSOo setelah ia mengeluarkan perintahnya.

“ baik Putri..” Kyu segera mohon diri untuk keluar dari ruang belajar EunSoo. Tepat sebelum Kyu menutup pintu ruang belajar EunSoo, tatapan mereka berdua kembali bertemu. Namun ekspresi wajah Kyu saat ini begitu teduh seolah-olah ia mengatakan ‘gwencana’ pada putrinya tersebut.

Hae yang sedari tadi memperhatikan buku yang diberikan EunSoo hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya pada EunSoo.

“ YA! Apakah kau ini seorang raja? Bagaimana bisa seorang putri membaca bahan audiensi dari dewan istana? “ kekeh DongHae yang tak habis-habisnya terkejut dengan keunikan sikap EunSoo.

“ kau tak perlu khawatir Hae, kelak tugasmu akan lebih ringan karena calon istrimu ini paham akan semua urusan kenegaraan.” Ucap EunSoo santai.

“ yah, mungkin benar. Aku akan bersyukur pada Tuhan dapat bertemu dan ditakdirkan untuk bersamamu” ucap DongHae lembut kini ia tengah mememluk EunSoo dari belakang.

EunSoo hanya dapat diam sebelum ia membalikkan tubuhnya agar ia dapat melihat wajah DongHae dengan jelas.

“ ne…” Eunsoo tersenyum padanya dengan segunung rasa bersalah pada calon suaminya tersebut.

DongHae menatap lembut EunSoo, dan mengusap pelan pipinya yang putih.

“ meskipun ini adalah sebuah perjodohan, tapi aku tak ingin pernikahan kita merupakan sebuah perjodohan pula. Kau mengerti maksudku? Kita akan tetap menunggu hingga kita berdua sama-sama saling mencintai.”

“ aku tau, aku pun sedang mengusahakan hal yang sama denganmu.” Balas EunSoo dengan tatapan matanya yang sendu. Lisan dan hatinya kini tengah mengatakan dua  hal yang berlawanan.

“ gomawo…aku tahu ini tak mudah bagi kita. Namun kita tak dapat membiarkan segalanya berantakan hanya karena pernikahan kita dilakukan tanpa dasar cinta. Kelak aku akan berusaha membahagiakanmu EunSoo.” Donghae kembali memeluk EunSoo dengan lebih erat dan EunSoo hanya dapat kembali diam membisu karena ia sama sekali tak tahu apa yang harus ia katakan pada Donghae. Semakin ia berkata banyak, semakin menumpuk pula rasa bersalahnya.

“ aku akan belajar untuk mencintaimu, mencintai segala kelebihan dan kekuranganmu sebagai bagian dari diriku.” Hae mengatakan kalimat tersebut dengan nada yang serius namun tetap terasa kelembutan di dalamnya.

“ Hae?”

“ hmm?”

“ apakah kau benar-benar bisa mencintaiku? Tak adakah gadis lain yang pernah menempati hatimu kini?”

“ dengarkan aku EunSoo, demi dapat berjodoh denganmu aku harus terus menerus berada di luar kerajaanku dan berperang. Jadi bagaimana bisa aku melihat seorang gadis di medan perang?”

“ maksudmu?”

“ sebelum kau resmi menjadi calon istriku, aku dan kedua kakakku sempat melakukan sebuah kompetisi dan melakukan sebuah pengabdian untuk negara , sebagai hadiah bagi pemenangnya adalah mendapatkanmu sebagai calon istri. Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan kedua kakakku yang sangat berambisi memilikimu, karena aku sama sekali tak ingin kau jatuh oleh kedua kakaku karena aku telah tertarik padamu sejak kau berusia 7 tahun.”

“ bagaimana bisa kau bertemu denganku?”

“ pada saat itu adalah hari pemakaman ibumu, aku beserta keluargaku datang mengunjungi istanamu dan disana kulihat seorang putri kecil yang sama sekali tak meneteskan air matanya ketika ibunya akan dimakamkan.”

“ lalu?”

“ aku tertarik padamu, entahlah. Saat itu usiaku baru 10 tahun dan aku tak mengerti apapun tentang perasaan namun tak kupungkiri sejak saat itu aku terus menerus memperhatikanmu.”

“mianhe, saat itu aku tak dapat mengenalimu.” Sesal EunSoo.

“ haha..sejak kapan kau dapat mengenaliku dengan mudah? Tapi sudahlah yang terpenting sekarang kau tak akan salah mengenaliku lagi kan?”

“ ne…” EunSoo menjawabnya dengan senyuman khasnya.

“ EunSoo, ?”

“ wae?”

“ kau ingin mengusahakannya untukku, kan? demi masa depan kita?”

“ tenanglah Hae, aku akan berusaha semampuku untuk menjadi istri terbaik bagimu. Aku akan belajar untuk menerimamu, dan menerima segalanya. Kau percaya padaku, kan?” ucap EunSoo meyakinkan DongHae yang kini berdiri di hadapannya.

“ mianhe Kyu, biarlah cintaku menjadi milikmu dan ragaku menjadi miliknya karena aku tak bisa berbuat jahat pada DongHae yang telah begitu baik padaku. Aku tak dapat mengecewakannya hanya demi keegoisanku sendiri”

“ ne.. “ DongHae menatap lembut calon istrinya tersebut sehingga kini tatapan keduanya pun bertemu, EunSoo yang merasa canggung dengan pandangan DongHae dengan segera mengalihkan tatapan matanya namun tangan DongHae segera meraih tengkuknya dan mengakibatkan EunSoo tetap menatap DongHae.

DongHae semakin mendekatkan wajahnya pada EunSoo, sedangkan EunSoo hanya mampu memejamkan matanya karena ia sama sekali tak tahu apa yang harus ia lakukan. Dengan ragu-ragu DongHae menempelkan bibirnya pada bibir EunSoo dan sekilas ia mencium EunSoo dengan lembut. Setetes air mata keluar dari pelupuk mata EunSoo sebagai pertanda bahwa ia akan berada di situasi dimana ia harus berdiri secara seimbang di antara dua buah kapal. Perasaannya sendiri dan Nasib kerajaannya.

“ DongHae, maafkan aku. Aku tak bermaksud membohongimu, tapi apa daya perasaanku padanya tak akan pernah goyah. Mianhe,….. sebagai gantinya aku akan memberikan sisa hidupku untukmu, untuk membayar segalanya. Membayar perasaanku yang tak akan pernah tergantikan oleh apapun. Kelak aku pasti akan membahagiakanmu, tapi kumohon biarkan aku menyimpan perasaanku ini hanya untuk diriku sendiri.”

To Be Continued……

Please leave your comment ^^

27 responses to “[Freelance] RUN THROUGH THE TIME (Part 4)

  1. Wahhhhh tambah seru nihhh gimana ya kelanjutannya

    Keep writing ya thor, fighting!!!!!!!! 🙂

  2. aahhhh nyesek bgt jadi eunsoo sma kyu hrus mendem perasaan mereka 😦
    tambah kereeenn author gpp ceritanya kyuhae dlu yar jelas author smpe tr renkarnasi jadi hunhannya kekeke
    kereeeennnn deh author lanjuut ya 😀
    sukaa bgt ❤

    • sabar ya, ketika reinkarnasi itu tandanya mereka akan membawa masalah di masa lalu di waktu sekarang, jika masalah di masa lalu blm dijelaskan dengan detail, alur di masa sekarang akan berantakan 😀

  3. nah loh.. rasanya part ini kenapa pendek amat.. tapi seneng lah akhirnya chapter ini dipost juga..

    9 nyampe chapter 4 ini aku masih bertanya2 kapan anak EXO muncul…

    Pokoknya hwaiting deh thor buat next chap.. Moga bisa di post cepet+ bisa lebih panjang lagi..

  4. akhirnya setelah ngerjain semua tugas aku bisa baca ff ini, sejak hari pertama di post sebenernya aku udh niat mau baca.. tp ya kerjaan numpuk dam hasilnya aku simpen ff ini dihp *curcol*
    tp setelah nunggu akhirnya ff ini memuaskan/? gpp kok kalo dijelasin dulu satu” kan biar kesannya alurnya gak buru” dan nantinya gak bikin bingung ^^ aku masih fans setia ff ini.. keep writing author sayang~ semoga sehat selalu biar bisa lanjutin ff ini kkk~

  5. Huhuhuhuhu mau kasian sama siapa ya ?? Kasian sama kyuhyun iyaa karna setiap hari bareng” sama mereka berdua kebayang kan gimana rasanya saat orang yg kau cintai begitu dekat tapi rasanya begitu jauh dan gabisa memiliki nya ;(, kasian samaa donghae juga iyaa dia cuma dijadiin kedok sama mereka berdua eun soo ga mau ngebales cinta nya donghae karna eun soo cuma cintanya sama kyu huhuhuhuhuhu ;( kasian abang onge ku digitu’in sebenernya rada benci juga nihh sama eun soo masa udahh dicintai dengan sepenuh hati donghae nya tampan pula tapi dia malah mengkhianati donghae ya walaupun donghae gatau huhuhuhu ;( kalo donghae tau ada hubungan apa diantara kyuhyun sama eun soo reaksinya bakalan kaya gimana yaa ??? Huhuhuhuhu ;( gak rela dehh kalo bang onge digitu’in ;(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s