[Freelance] Half of My Life Chapter 2 (Sequel of Happiness)

PicsArt_1393839822795

Title : Half of My Life Chapter 2 (Sequel of Happiness)
Author : blackpearl (@vnkpspm)
Main Cast :
– Oh Sehun
– Han Seorin (OC)
– Kim Jongin
Support Cast:
-Wu Yi Fan
– Byun Hanji (OC)
– Oh Sejung (OC)
Length : Chaptered
Genre : Romance, Sad, Marriage Life, Lil bit comedy
Rating : PG-15
Disclaimer : This fiction is all mine. No plagiarism, no siders.

***


Pengunjung cafe di daerah Gangnam senin ini tidaklah ramai. Hanya ada beberapa orang saja yang ada di dalam cafe yang bergaya klasik itu. Orang tersebut termasuk 2 insan yang sejak kedatangannya membuat para pelayan bingung dengan apa yang mereka lakukan. Tidak memesan makanan atau minuman sekalipun. Tidak berbicara satu sama lain. Dan tidak bergerak sama sekali. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Kim Jongin dan Han Seorin tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Ini adalah kali pertama nya mereka bertemu lagi setelah kejadian yang sangat menyakitkan—bagi Seorin—pada saat masa-masa kuliah. Seorin tidak berhenti mengirimkan pesan pada suaminya—Sehun—agar segera menjemputnya dari tempat ini. Tetapi pesan Seorin tak kunjung dibalas oleh Sehun dan itu semakin membuat Seorin tidak merasakan kenyamanan. Ia juga ingin mengirimkan pesan kepada Wufan. Tetapi jika ia meminta sang sepupu untuk menjemputnya dari tempat ini, pria yang bernama Kim Jongin itu akan habis ditempat dan Seorin juga akan di marahi oleh Wufan. Seorin bergeridik ngeri membayangkan sepupu konyol-nya marah. Bagi Seorin, Wufan itu jika sedang bertingkah konyol, sangat konyol. Jika bercanda, tidak lucu. Jika marah, barang apapun yang ada disekitar nya melayang kemana-mana. Ia tidak mau semua itu terjadi.
Kim Jongin—pria berkulit agak gelap ini mengaku bahagia bisa bertemu sang mantan kekasih yang menurutnya masih sama dengan dulu. Cantik dan manis. Tidak ada perubahan sama sekali di dalam diri Seorin. Jongin menghadap lurus kedepan dan menatap Seorin yang sedang sibuk dengan ponsel nya. Ia yakin Seorin sedang gugup sekarang. Jujur sebenarnya ia juga merasa gugup dengan Seorin. Semenjak kejadian itu, Jongin dan Seorin sudah tidak pernah berkomunikasi lagi satu sama lain. Sehingga saat ini—menurut Jongin—seperti orang yang baru saja berkenalan. Akhirnya, Jongin pun memberanikan dirinya untuk berbicara terlebih dahulu.
“Seorin.” Panggilnya. Seorin menoleh ke arah Jongin karena ia merasa nama nya disebut. Sekujur tubuh Seorin menjadi kaku saat mendengar suara berat Jongin. Tanpa ia sadari, ia merindukan suara Jongin. Ingatan nya kembali lagi pada kejadian 4 tahun silam. Saat Jongin meninggalkannya di malam hari. Di cafe yang sama, dan ditempat duduk yang sama. Seolah de javu bagi Seorin.
“Ehm kau—apa kabar?” Tanya Jongin. Ia membutuhkan banyak tenaga hanya untuk mengucapkan 1 pertanyaan yang sudah ia lontarkan kepada wanita di hadapannya. Setelah itu ia menghembuskan nafas lega.
“Aku baik-baik saja dan bahkan aku lebih baik—setelah kejadian memuakkan itu.” Nafas Jongin tercekat saat mendengar penuturan dari Seorin. Begitu dingin dan menyeramkan baginya. Ia tidak menyangka jika Seorin akan bicara seperti itu. Seorin bisa melihat ekspresi terkejut Jongin saat ia mengutarakan isi hatinya. Seorin sangat ingin menangis, luka lama nya terbuka kembali setelah tertutup rapat-rapat. Bayangkan saja anak kecil yang terluka karena jatuh. Saat luka nya mulai sembuh, pasti ia akan baik-baik saja. Tetapi pada saat luka itu terbuka kembali, ia akan menangis meraung-raung pada ibunya.
“Oh iya, kemana kekasih mu? Bukankah saat kau meninggalkan ku pada malam itu, keesokan harinya kau langsung merangkul wanita lain?” Seorin menekankan setiap kata-kata nya agar Jongin bisa merasakan betapa sakit dan rapuhnya ia waktu itu. Seorin mengaku bahwa ia senang melihat ekspresi sedih Jongin. Setidaknya ada hiburan kecil untuk dirinya.
“Dia bukan kekasih ku.”

“Begitukah? Kenapa tidak kau jadikan kekasih saja? Dia cantik dan bertubuh indah, kan? Biasanya pria playboy seperti mu suka dengan wanita yang bertubuh indah.”

“Seorin—geumanhae.” Jongin tidak sanggup mendengar segala perkataan Seorin yang jelas-jelas sedang memojokkan nya. Sakit hati, itulah yang ia sedang rasakan sekarang. Mungkin ini adalah balasan dari Tuhan karena selama ini ia selalu mempermainkan wanita termasuk yang ada di hadapan nya sekarang.
Tiba-tiba ponsel Seorin berdering. Nama Wufan tertera di layar ponselnya. Seketika Seorin bingung. Ia bingung ingin mengangkatnya atau tidak. Jika ia mengangkatnya, kemungkinan besar Wufan akan melontarkan banyak pertanyaan yang akan membuat Seorin menjadi badmood. Jika tidak, Wufan akan memarahi nya saat mereka bertemu. Dan akhirnya Seorin memilih mengangkat panggilan dari Wufan.
“Ne gege, wae—“

“EOMMAAAAA!!” Seorin terlonjak kaget saat mendengar teriakan dari seberang sana. Ia sedikit menjauhkan ponselnya dari kuping. Lalu kembali mendekatkan nya.
“Sejung-ah, kenapa harus berteriak sayang? Telinga eomma sakit.” Ujar Seorin sembari mengusap-usap keningnya yang terasa berdenyut setelah mendengar teriakkan dari sang buah hati.

“Eomma kapan pulang? Sejung lapar. Wufan samcheon juga kelaparan disini. Kasihan samcheon, eomma. Wajahnya seperti orang mati. Sejung takut.”

“Oh, dia ada di rumah? Kenapa Wufan samcheon tidak membeli makanan sendiri?”

“Samcheon tidak punya uang.”

“Astaga—baiklah. Sebentar lagi eomma pulang.”

Setelah menutup telefon, Seorin langsung berdiri dan hendak pergi tanpa pamit dengan Jongin. Tak lupa ia juga menenteng tas belanjaan nya yang sangat banyak. Dengan gerakan cepat, Jongin menarik tangan Seorin dengan kasar dan membawa tubuh Seorin kedalam pelukannya. Seorin merasa sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Jongin yang notabenenya adalah mantan kekasih yang sudah membusuk dihatinya. Ia ingin memberontak, tetapi sekujur tubuh nya menjadi kaku. Susah untuk digerakkan.

***
Sehun memukul klakson mobil nya dengan keras. Ia tidak peduli jika klakson nya akan rusak saat ini juga. Sudah sekitar 20 menit mobilnya tidak bisa berjalan sama sekali. Jalanan yang sekarang ia tempuh mengalami kemacetan yang cukup panjang dan itu semua membuat mood Sehun sangat turun. Ia juga sangat khawatir akan sang istri, Seorin, yang sedari tadi mengiriminya pesan singkat. Seorin meminta Sehun untuk menjemputnya di cafe yang terletak di kawasan Gangnam dan itu membuat Sehun sangat bingung. Sedang apa Seorin disana? Bukankah tadi ia bilang ingin berbelanja di supermarket dekat apartement? Sehun menghembuskan nafas berantnya. Ia takut terjadi sesuatu dengan Seorin.
Sehun pun mencoba menelpon Seorin. Tapi tidak ada jawaban sama sekali. Ini semakin membuat Sehun gelisah. Pikiran-pikiran negatif mulai berjalan seperti kereta api di otak nya. Ia kembali menghadap kedepan, lalu berdecak kesal. Keadaan jalan masih sama seperti tadi. Sehun bingung apa yang harus ia lakukan. Ia menoleh ke kanan dan kirinya. Tidak ada jalan kosong yang tersisa. Semuanya penuh dengan kendaraan beroda empat. Beberapa saat kemudian, ia menyadari sesuatu. Ia kembali menoleh ke arah kananya. Disana terdapat palang yang bertuliskan “Gangnam Street.” Sehun tersenyum lebar saat melihatnya. Ternyata ia sudah ada di daerah Gangnam. Tanpa basa-basi, ia pun segera mematikan mesin mobilnya dan turun. Beruntung, mobil Sehun berada di pinggir jalan. Jadi ia tidak akan dimarahi orang-orang sekitar.
Sehun berlari kecil untuk mencari cafe yang sedang dikunjungi oleh Seorin. Dan sialnya, ia lupa menanyakan apa nama cafe tersebut. Sehun mengacak-acak rambutnya frustasi. Bagaimana ia bisa lupa menanyakan apa nama cafe yang sekarang dikunjungi oleh Seorin. Sehun merasa dirinya sangat bodoh.
Saat sedang melihat-lihat sekitar, Sehun menemukan sebuah cafe bergaya klasik yang tepat ada disampingnya. Ada sesuatu yang sangat aneh di dalam otaknya saat melihat cafe tersebut. Tanpa ragu, Sehun memasukki cafe itu. Pandangannya langsung tertuju ke arah etalase. Karena ia tahu kalau sedang makan di sebuah cafe, Seorin pasti akan memilih meja di dekat etalase. Ia terus berusaha mencari Seorin di cafe ini.

Tiba-tiba saja emosi Sehun membuncah. Ia mencengkram bagian bawah jas kerja nya dengan sangat kencang. Rasanya ingin ia membentur kepala nya dengan meja-meja yang ada disini. Coba bayangkan, suami mana yang tidak marah jika melihat istrinya berpelukan dengan orang lain ditempat umum? Dan lebih parahnya lagi, sang istri tidak memberontak sama sekali. Apa itu tidak menyakitkan?
Dengan wajah yang sudah memerah, Sehun menghampiri Seorin yang sedang berpelukan mesra—menurutnya—dengan seorang pria tidak tahu malu. Tanpa basa-basi, Sehun langsung menarik pundak sang pria lalu memukulnya tepat di pipi. Darah segar muncul dari sudut bibir tebal pria tersebut—Jongin. Seorin sangat terkejut dan hanya mematung di tempat. Ia tidak bisa berbuat apapun. Sehun menatap Seorin dengan tajam sehingga membuat Seorin ketakutan. Seorin tidak berani membalas tatapan mengerikan dari suaminya. Ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Sehun langsung menarik tangan Seorin dengan kasar dan segera membawanya pulang.

***
Seorin terduduk di pinggir kasur berukuran king size yang terdapat dikamarnya—dan Sehun. Sama seperti saat di cafe, sekujur tubuhnya membeku. Lidahnya juga terasa kelu. Ia tidak bisa bicara apapun. Wajahnya memerah dan jangan lupakan kedua bola mata indahnya yang sedari tadi mengeluarkan cairan bening yang disebut air mata. Seorin tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia sudah berterus terang dengan Sehun bahwa dirinya hanya salah paham. Tetapi Sehun tetap tidak percaya.
Baru kali ini Sehun sangat marah pada istrinya. Ia merasa sangat tersakiti. Bagaimana bisa seorang perempuan yang sudah bersuami, dan memliki anak, berpelukan dengan laki-laki lain yang ternyata adalah mantan kekasihnya. Itu sangat gila bagi Sehun. Sebenarnya Sehun tidak tega melihat Seorin menangis sesenggukan dihadapannya seperti ini. Tetapi orang salah, tetaplah salah baginya.
“Seorin—selama ini aku percaya padamu. Tapi kenapa kau bertemu lagi dengan manusia brengsek itu lagi hah?!” Sehun menaikkan volume bicaranya pada Seorin. Ia tidak peduli jika Sejung yang ada diluar kamar akan mendengarnya. Sehun benar-benar tidak bisa menahan emosinya kali ini.
“Aku tidak memeluknya, oppa! Ia yang memelukku lebih dulu. Aku sudah memberontak tetapi aku kalah dengan tenaganya! Kenapa kau tidak mempercayaiku?!”

“Ck. Sekarang aku bertanya, kenapa kau bisa bertemu dengan Jongin? Wufan hyung sudah pernah bilang padamu untuk tidak bertemu lagi dengan nya, kan?”

“Aku bertemu dengannya saat aku belanja tadi, oppa. Sungguh. Lalu ia mengajakku ke sebuah cafe. Awalnya aku menolak, tetapi aku tidak enak padanya karena ia yang membayar seluruh belanjaan ku.”

“Ah sudahlah. Mulai dari sekarang, aku tidak akan mengizinkan mu pergi tanpa persetujuan dariku. Dan juga—“ Sehun menghembuskan nafasnya sejenak.

“Aku akan mengambil kamera milikmu. Aku tidak mau kau bergelut lagi dengan dunia fotografi. Cukup diam dirumah dan mengurus Sejung dengan baik. Arra?”

Langit seakan runtuh menimpa tubuh tidak berdaya Seorin. Dadanya terasa sangat sakit seperti di tusuk oleh ribuan pisau yang baru saja diasah. Air mata kembali muncul dari mata Seorin. Kali ini lebih deras daripada yang tadi. Kenapa Sehun begitu kejam padanya? Hanya karena sebuah kesalah pahaman, Sehun menjadi tidak mempunyai perasaan.
Seorin bangkit dari kasur dan menghampiri Sehun yang sedang membelakanginya. Dengan sisa tenaga yang Seorin milikki, ia memukul tubuh Sehun dari belakang. Sehun terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Seorin. Sehun berusaha melindungi tubuhnya dengan sepasang tangan yang ia milikki. Belum puas memukuli Sehun, Seorin mengambil beberapa buku novel miliknya dan melemparinya satu-persatu ke arah Sehun.
“Kau jahat oppa! Aku benci padamu!” Teriak Seorin dengan terus melempari Sehun dengan buku. Seorin tidak peduli seberapa sakit yang Sehun rasakan saat ini. Toh kenyataannya juga Sehun tidak peduli dengan rasa sakit yang ada dihati Seorin saat ia bilang akan mengambil kamera miliknya dan melarang Seorin untuk bergelut didunia fotografi lagi.
Sehun mendekat kearah Seorin dan berusaha memberhentikan aksi brutal sang istri. Ia memegang lengan Seorin agar tidak melemparinya dengan buku lagi. Dari jarak dekat, Sehun bisa melihat wajah Seorin yang sangat merah dan matanya yang sudah mulai membengkak. Seorin berusaha memberontak. Ia belum puas mengutarakan semua rasa sesak yang ada dihatinya.
“Lepaskan aku! Aku membenci mu! Aku membencimu—“

PLAK~

Satu tamparan yang cukup keras mendarat di pipi merah milik Seorin. Seketika Seorin menghentikan aksinya yang brutal. Ia memegangi pipi kanan nya yang baru saja di tampar oleh Sehun. Seorin tidak percaya dengan apa yang Sehun perbuat padanya. Ini semua seolah mimpi baginya. Sehun juga tidak percaya dengan apa yang ia lakukan. Tangan nya seolah-olah bergerak dengan sendirinya.
Seorin melepaskan tangan nya dari cengkraman yang sudah mulai mengendur. Ia mundur selangkah dan sedikit mengangkat kepalanya agar bisa melihat wajah Sehun. Seorin menatap mata Sehun sangat dalam. Sehun menyesali perbuatannya sejak tadi. Seharusnya ia mempercayai Seorin. Seharusnya ia tidak bilang bahwa akan mengambil kamera nya. Seharusnya ia tidak melarang Seorin untuk berada di dunia fotografi lagi. Seharusnya ia tidak menyalahkan Seorin. Begitu bodoh.
“Aku—membencimu.”Ujar Seorin lemah. Sehun membelalakan matanya tidak percaya. Seorin melontarkan kata-kata laknat itu kepadanya. Seorin bergegas meninggalkan Sehun yang masih mematung di tempat. Ia sudah lelah dengan semua ini.
Seorin membuka pintu kamarnya dan mendapati Sejung sedang duduk dihadapan televisi. Ia pun menghampirinya dengan senyuman yang terkesan dipaksakan. Sejung yang menyadari kehadiran sang eomma langsung berlari kearahnya. Seorin sedikit menundukkan badan nya yang sudah lemas lalu ia membawa Sejung kedalam gendongan nya.
“Eomma, kenapa tadi appa menyuruh Wufan samcheon pergi dari sini?” Tanya Sejung dengan wajah polosnya.

“Tadi kan Wufan samcheon kelaparan, jadi appa menyuruhnya untuk makan diluar. Mungkin~” Jawab Seorin apa adanya. Sejung hanya mengangguk kecil.
Tiba-tiba suatu ide setan muncul begitu saja di otak Seorin. Ia ingin menenangkan otak dan hatinya yang sudah penuh saat ini. Bisa dibilang—Seorin mempunyai ide untuk kabur dari rumahnya.
“Sejung-ah, bagaimana kalau nanti malam kita menginap dirumah Hanji imo untuk sementara? Bukankah waktu itu kau ingin kesana?”

***
Huaaaa akhirnya chapter 2 selesaaiii.
Maaf nih chapter 2 nya pendek. Otak aku lagi penuh banget. Jadi aja begini /?
Maaf juga kalo chapter ini kurang memuaskan para reader ya. Aku janji di chapter selanjutnya bakalan lebih panjang dan tentunya lebih hot lagi /plak/ Oh iya aku mau kasih tau sesuatu, di chapter sebelumnya kan aku nulis length nya itu oneshot. Aku lupa ngerubah itu sebelum dikirim wkwk -_-
Terus ada yang nanya juga kan, aku bakalan selesai sama berapa chapter. Mungkin sampe 4. Tapi gatau juga sih. Aku juga masih gak yakin hehe. Makasih ya buat para readers yang udah mau komen. Aku sangaaaaattt menghargai komentar kalian semua. Dan buat yang masih siders, plis komen dong. Aku butuh kritik dan saran dari kali juga, hehe ^^
Okedeh segitu dulu ceramahnya. Babai /gandeng Kris/

46 responses to “[Freelance] Half of My Life Chapter 2 (Sequel of Happiness)

  1. iya kurang panjang…tp nga apa2 asal nextnya dicepetin..oh ya salam kenal aku new readers dsini..semangat thor!!

  2. Akhirnya dipost juga 😀
    Si sehun mah cemburuan sangat u,u tapi tetap cinta kok hha 😀
    Sehun seorin shipper♡♡ jongin buang aja -_-v

    Kelanjutannya ditunggu~

  3. nah lu sehun istri mu ngambek mw kabur noh.

    Sehun kejam ayo minta maaf hahahah sebelum your yeobo minggat

    next chapter ditunggu

  4. Wahh jongin nekat banget mau deketin Seorin?
    sampek pake meluk2 segala dicafe …
    dapet bogem mentah deh dari sehun …
    konfliknya udah mulai mau memanas nih, seorin pake mau kabur segala ??

    jadi penasaran lanjutannya dan gimana reaksi sehun setelah seorin kabur??
    kalo gitu ditunggu chapter selanjutnya 🙂
    dipanjangin lagi ya thor 🙂

  5. iya, kok jadi marahan sihhhh
    aduhhhh
    ntr jgn smpe endingnya ama jongin…, ngga kan???
    kan tokoh utamanya sehun

  6. Akhirnya dipost juga.. tapi chapter ini kurang panjang author. Semoga chapter selanjutnya lebih panjang ya? Sehun kenapa jadi tenprament gini sih? Ringan tangan.. Seorin mau kabur sambil bawa sejung pula? Semakin memperparah keadaan.. chapter selanjutnya saya tunggu ya author.. jangan terlalu lama 🙂 fighting!!^^

  7. ffnya kependekan thor, chapter selanjutnya kalo bisa lebih panjang lagi… aduh sehun pake salah paham lagi, terus seorin mau kabur segala lagi, ahh makin penasaran, di postnya jangan lama-lama ya thor.. di tunggu.. Fighting !

  8. iyaa ini kurang panjang thor 🙂
    itu si sehun cemburu nya keterlaluan. ditinggal seorin baru tahu rasa 😀
    next chap ditunggu ^^

  9. Keren thor,, itu si kai kok gak tau malu banget sih masih godain istri orang (maafkan nunna kai) ☺”̮ћϱћϱћϱћϱ”̮☺ q tunggu chap selanjutnya thor

  10. Kyaaaaa lagi asyik baca udh tbc aja thorr huaa gak nyangka sehun bakal tega kayak gitu, jongin kenapa ganggu hubungan org sihh astagaa

  11. aq blank,,, gk bisa komen,, hehehe,,,
    udah thor sgini aja jgn di terlalu panjang nanti aq gk bisa ikutan komen kalau kpnjangan,, yg pnting next nya di cepetin ok

  12. what.?? seorin mau kabur.?? terus sehun gimana.??
    aduuuhhh…jadi penasaran nih…yg part selanjutnya agak panjang ya thor… 😀

  13. wah..sehun knp sampe nampar seorin..pdhl kn seorin cm g mau kameranya d ambil.,
    tp untung wu fan ga tau..
    Seruu..

  14. sehun cemburu buta…. tp g gitu juga kale…. masa sampe tampar istri…..
    anak istri kabur baru tau rasa…..

  15. Ikhhh jadi berantem kan?
    aigooo
    itu cy jongin iksshhh aku pengen da bejek bejek mpe kaya adonan kue
    kesel aku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s