[Freelance] Monalisa

Monalisa

Title : Monalisa
Author : Xane (@mmswp)
Main Cast : f(x) Krystal and EXO Kai
Genre/Rating : Romance / PG-13
Length : Longshoot (2.868 words )
Disclaimer : Fanfiction ini sepenuhnya dibuat oleh author yang terinspirasi oleh lagu dari MBLAQ berjudul Monalisa. Sebelumnya sudah pernah di-publish di AsianFanFic. Say no to plagiarism!
Background Music : MBLAQ – Monalisa

***

 

Everybody on the left, everybody on the right
Say lalalalala, lalalalala
Say lalalalala, yeah

Tubuh langsing dan tinggi. Kulit seputih salju. Rambut panjang ikal kecokelatan. Wajah menawan dihiasi dengan bola mata bundar hitam yang dibingkai dengan kelopak ganda dan bulu mata yang lentik, serta bibir tipis bak buah peach. Seluruh keindahan lukisan Yang Mahaesa itu tercipta dalam wujud sesosok manusia yang bahkan namanya pun sangat cantik.
“Krystal.”
Sebuah boneka beruang berwarna cokelat tua tersenyum di atas telapak tangan pemilik suara itu. Nama pemilik boneka itu adalah Baekhyun, yang baru saja menyebutkan nama sang gadis cantik.
“Ya?”
“Selamat hari Valentine, Krystal. Dalam beruang ini tersimpan perasaanku. Kau boleh memilikinya.”
“Sulli, Amber, kalian mau menerima hatinya?” Krystal berbicara pada kedua sahabatnya.
Baekhyun mendesah. Ia ditolak, sudah jelas.
“Dia sangat tampan, kau tahu.” Sulli menggigit bibirnya memandang kepergian senior mereka yang terkenal tampan itu.
“Ayo, kita ke perpustakaan. Aku mau meminjam buku,” sahut Krystal.
“Krystal!” kali ini seseorang mencegatnya di pintu perpustakaan. “Kumohon. Terimalah cokelat ini. Aku tidak memintamu menjadi kekasihku. Aku sudah sangat senang kalau kau mau menerima pemberianku.”
“Kau mau, Amber?” Krystal mengambil cokelat itu dan memberikannya pada Amber.
Murid itu, Do Kyung So, memang bukan seorang kapten basket atau jenius di sekolah, tetapi ia memiliki suara yang bisa dibilang adalah definisi dari indah.
Menjadi seorang Krystal Jung, enam orang pria menyatakan perasaan padanya di hari Valentine, bukankah menjadi seperti itu impian para gadis?
Namun sebagian lagi, justru bersyukur tidak menjadi seperti Krystal.
“Kau bodoh sekali, sih. Padahal Kyungsoo itu manusia paling ramah yang pernah kutemui!” keluh Amber.
“Dan Baekhyun sangat.. uhh!” tambah Sulli.
“Setiap manusia pasti memiliki kekurangan, Ssul, Ambie. Menurutku dia tidak tampan,” jawab Krystal.
Krystal Jung. Angkuh dan dingin mungkin adalah kata yang diciptakan untuknya.

Baby say yeah yeah yeah yes
Don’t say no no no no

“Kai-ya!”
Seseorang yang dipanggil Kai itu berlari menyongsong benda bulat berwarna hitam dan putih yang dioperkan padanya.
Hap! Dengan cekatan ia meraih bola itu dan menggiringnya menjauhi lawan-lawannya.
“Si cantik ada di sana,” teman setim pria itu menunjuk ke salah satu sisi lapangan, tempat seorang Krystal Jung berdiri – entah apa yang membuatnya berada di tempat itu.
“Mungkin si cantik itu ingin melihatku?” pria itu tertawa sambil menggiring bolanya.
Si cantik, begitulah murid-murid pria menyebutnya.
“Kau tak mau menyatakan perasaan padanya? Hari ini Valentine. Kudengar hari ini sudah enam orang.”
“Suho!” pria itu mengoper bola pada rekannya. “Sehun-ah, dia itu.. bidadari. Cantik. Tapi tidak untuk dimiliki. Mana mungkin kita bisa merebut hatinya, kan?”
“Ha, kau benar sekali. Bahkan ketua OSIS pun ditolaknya. Sebelum mendekatinya saja kau mungkin sudah ditolak,” kata Sehun.
Priit! Peluit tanda istirahat berbunyi.
“Kai-ya, coba lihat. Ada yang menghampiri si cantik.” Sehun menyikut lengan pria itu, Kai.
“Tujuh,” kata Kai. Ia menghapus peluhnya dengan sebuah handuk putih. “Kira-kira apa menariknya gadis angkuh seperti itu? Apakah karena ia cantik? Miss Korea lebih cantik darinya.”
Tak sengaja pandangan mata Kai dan Krystal bertemu.
Krystal tentu saja langsung mengalihkan wajahnya. Sementara Kai? Kai masih memandanginya dengan ternganga – hal yang mungkin baru sekali ini Kai alami pada spesies bernama wanita.
“Oh, baiklah. Dia memang gadis tercantik yang pernah ada.”

I can’t take my eyes off
Even when I know I can’t have you
This is happening for the first time

“Baru kemarin kau bilang gadis seperti itu tak menarik, hanya sekadar cantik,” goda Sehun.
Kai memamerkan cengirannya. “Tahukah kau? Satu detik bisa mengubah dunia.”
“Cobalah mendekatinya,” usul seorang teman mereka.
“Kau gila? Jung Yunho saja ditolak. Apa yang dimiliki oleh seorang Kai? Ah, kecuali apabila playboy dan bodoh adalah suatu kelebihan,” ledek Sehun.
“Kita lihat saja,” ujar Kai. Dengan berani, ia berjalan, menjajari langkah Krystal yang sedang menuju ke kelasnya. “Selamat pagi.”
Krystal berhenti, menoleh sejenak, dan begitu saja melanjutkan langkahnya.
“Krystal!” panggil Sulli. “Kai? Kau bicara dengannya? Mungkinkah Kai mencoba mendekatimu?”
“Dia mantan kekasihmu, bukan?” sahut Krystal.
Sulli menjulurkan lidahnya. “Hampir seluruh murid perempuan adalah mantannya.”
“Kriteria seorang playboy ternyata tidak harus tampan.”
“Ya! Dia sangat menawan!” Sulli memprotes, lalu berjalan mengikuti Krystal.

Look at me
Even when I call, why don’t you look?

“Ya, kau!” Kai menghampiri Krystal di kelas 1-4, tidak mempedulikan murid lain yang melihatnya.
“Kai,” sapa Sulli.
“Oh? Sulli,” jawab Kai. Ia kembali memandang Krystal. “Kau. Mengapa kau tidak pernah membalas sapaanku? Setiap hari aku menyapamu. Jangan berpura-pura tidak mendengar.”
Krystal memincingkan sebelah matanya, merasa heran. Apakah ada sebuah peraturan undang-undang untuk membalas sapaan seseorang?
“Atau kau merasa dirimu sempurna? Sombong.”
Krystal tetap bertahan untuk diam.
“Aku tahu kau sangat cantik. Tapi apakah sulit membalas sapaan seseorang? Bahkan tersenyum padaku pun kau tak pernah!” Kai tak peduli meski amarahnya sungguh tak masuk akal.
Mendengar hal itu Krystal tersenyum, seolah menyanggah ucapan Kai.
“Kau kira kau apa? Patung? Lukisan? Monalisa, huh?” gerutu Kai, yang sebenarnya sedang menyembunyikan debaran jantungnya yang tak karuan melihat senyum Krystal.
“Kau orang aneh.” Krystal bangkit dari duduknya, meninggalkan Kai.

You’re like a Monalisa, without any answer
This is your spot, don’t leave me

Seorang perempuan – matanya mirip sekali dengan Krystal – memeluk Krystal yang sedang mendengarkan musik di kamarnya.
“Unnie,” kata Krystal. “When did you arrive in Korea?
Rupanya gadis itu adalah kakaknya.
“Today, when you were in school. But I have to come back to California tomorrow. I just came here to attend a business party because our dad unfortunately couldn’t.”
“Kukira kau akan lama di sini.”
Jessica Jung tertawa renyah. Ia ceria, sesuatu yang seharusnya Krystal pelajari dari kakaknya. “Bagaimana kalau kau menemaniku menghabiskan malam di Seoul?”
“Baiklah. Kau mau ke mana?” tanya Krystal.
“Butik. Mike and I will celebrate our third anniversary next week.”
“Congratulation.” Krystal menyampaikan ucapan pada kakaknya.
“Aigoo, dasar. Belum berubah juga kau, Krys.” Jessica menjitak kepala adiknya.
@@@

“Bagaimana dengan ini?” tanya Jessica.
Krystal menimbang-nimbang. Lalu menggeleng. Seperti yang ia lakukan pada tiga dress sebelumnya.
“Baiklah, baiklah. Masih ada dua lagi yang akan kucoba,” gerutu Jessica.
Tak berapa lama, Jessica kembali keluar. “Bagaimana dengan ini? Pinknya bagus.”
“Cukup bagus,” puji Krystal.
“Kau memuji tidak ikhlas sekali,” keluh Jessica. Meski begitu ia tetap mengikuti pendapat adiknya untuk membeli pakaian barbie-look itu.
Suasana malam kota Seoul sangat ramai di akhir pekan. Banyak sekali pasangan muda-mudi yang berjalan-jalan berdua, bergandengan tangan dan tertawa.
“Kau tidak ingin?” Jessica tiba-tiba membuka mulutnya.
“Apa?”
“Seperti itu. Berbahagia,” kata Jessica, lalu tersenyum. Mungkin ia sedang membayangkan dirinya dan Mike.
Krystal menjawabnya dengan pandangan heran. “Did you ask me to have a boyfriend?”
“Maybe?” Jessica mengangkat bahu.
“Do I need to answer?”
“Hmm,” sahut Jessica. “Aku berani bertaruh pasti banyak pria yang menyukaimu di sekolah.”
Entahlah, mungkin takdir sendiri yang ingin membenarkan ucapan Jessica. Dari arah berlawanan dengan mereka, tampak sesosok pria – kira-kira sepantaran dengan Krystal – yang sedang berdiam terpaku di tempatnya berdiri. Ia memandangi Krystal dengan tak percaya, seolah sedang melihat seorang bidadari yang jatuh dari khayangan.
“Krystal,” sosok itu bahkan tak sadar es krim di tangannya sudah meleleh.
“Es krimnya mencair,” kata Krystal sebagai jawaban.
“Kau.. cantik sekali tanpa seragam..”
Jessica tersenyum. “Teman sekolahmu, Krys?”
“Kau siapa?” tanyanya.
“I’m Jessica. Ibu melahirkanku lima tahun sebelum melahirkan Krystal.”
“Ah? Kakak Krystal?” buru-buru ia membungkuk memberi salam. “Nama saya Kai. Teman sekolah Krystal. Salam kenal.”
“Teman. Hanya teman, tidak lebih, dan tidak akan menjadi lebih.” Krystal menegaskan, lalu menarik tangan Jessica untuk segera pergi.
Rasanya seolah diterbangkan ke langit ketujuh, bertemu dengan seorang bidadari khayangan, lalu dijatuhkan dengan kejam oleh ucapan sang bidadari.

I know, I know, I know, I know
Love you, love you, I love you
I want you more passionately than the sun
But I’m afraid that you are like the Monalisa I can’t have

“Kau mau?” Amber menyodorkan sekotak takoyaki kepada Krystal dan Sulli.
“Tidak, aku sudah makan,” tolak Krystal.
“Krystal,” kata Sulli, “kau tahu? Kai menghubungiku belakangan ini. Tidak hanya sekali. Dan ia selalu, menanyakanmu. Sepertinya dia serius menyukaimu.”
“Aish,” kesal Krystal.
“Krystal.” Bukan, bukan Sulli lagi yang memanggilnya, melainkan Baekhyun. Masih ingat, bukan? Seorang ketua klub voli di sekolah ini yang pernah menyatakan perasaannya pada Krystal dua minggu yang lalu.
“Sunbae mencariku?”
“Apakah kau ada waktu hari Sabtu besok? Hm. Beruang itu masih menunggu untuk kau ambil,” katanya tiba-tiba.
“Maaf, aku sibuk,” jawab Krystal, lalu melanjutkan kegiatannya membaca buku.
Baekhyun tak kehilangan akal. Ia berusaha mengambil alih perhatian Krystal dengan.. mencium pipi kiri Krystal. Membuat seisi kantin terkejut.
“Sunbae.” Krystal berdiri. Meraih apapun yang dapat diraih tangannya – dan, ah, tangannya meraih kotak takoyaki milik Amber. “Gunakan mulutmu.. untuk hal-hal positif,” kata Krystal sembari menjajalkan takoyaki beserta bungkusnya itu ke mulut Baekhyun.
“Krystal!” Sulli dan Amber tak menduga Krystal seberani itu.
“Monalisaku. Sungguh berbeda.” Sepertinya Kai dari jauh menyaksikannya, lalu tersenyum.
@@@

Sebulan sudah Kai berusaha mendekati Krystal, dan sayangnya, tidak membuahkan hasil. Tetapi hari ini hari istimewa. Kai akan berusaha memanfaatkan hari ini.
Hari ini adalah hari keempatbelas dalam bulan Maret.
White Day.
“Kau yakin?” tanya Sehun, melihat Kai yang mondar-mandir menunggu Krystal tiba di sekolah.
Kai menelan liurnya dengan berat. Padahal ia sudah memikirkan hal ini matang-matang, tetapi begitu melihat Krystal, semua keberaniannya lumpuh. “K, K, Krystal-ssi, selamat pagi.”
Seperti biasa, Krystal hanya berlalu begitu saja.
Tak kehabisan akal, Kai mengikuti langkah Krystal, menarik tangan gadis itu. Krystal memandangi tangannya. Berusaha menariknya, tapi tak bisa.
“Apakah dua tangan kurang sehingga kau mau mengambil tanganku?” kata Krystal.
“Krystal, aku suka padamu,” sahut Kai to the point.
Seperti anak SD saja sesederhana itu menyatakan perasaan.
“Dan?” tanya Kai.
“Dan? Kau ingin aku bicara apa?” tanya Krystal balik.
Kai mengusap bawah hidungnya, menghapus rasa gugup yang menyelimutinya. “Kau bagaimana? Kau tidak memiliki sedikitpun perasaan padaku?”
“Kai-ssi.” Krystal menarik tangannya, melipat kedua tangannya, dan tersenyum tipis. “Hari sudah pagi. Sebaiknya kau bangun dari mimpimu itu.”
“Krystal, tunggu!” Kai menarik lagi tangan Krystal. “Sedikitpun?” tanya Kai.
“Lepaskan tanganku dan aku akan memberitahumu.”
“Baik,” jawab Kai mantap. Ia menurut untuk melepaskan tangan Krystal.
“Aku-tidak-menyukaimu. Sedikitpun. Tidak melakukan sesuatu yang bernilai, hanya bisa mengganggu saja. Merecokiku. Mendekatiku saja kau tak melakukannya dengan benar, tiba-tiba menembakku. Apakah itu namanya laki-laki? Baiklah, aku sudah menjawab. Kau sudah puas, bukan? Selamat tinggal.”

Don’t say goodbye to me
Don’t talk to me with that kind of look
Baby say yes, baby say yes
Putting on the same expression like Monalisa

“Kai.” Sehun memanggil. “Kai.”
“Hah? Eh? Ada apa?” tanya Kai kaget.
Sehun menunjuk ke arah gawang. Tim lawan baru saja mencetak angka setelah sebelumnya merebut bola dari Kai yang melamun.
“Gol? Kapan?”
“Kau hanya diam saja saat bola di kakimu direbut,” erang Sehun.
“Maaf,” sahut Kai.
Beberapa minggu ini memang Kai sepertinya tidak seperti dulu. Lebih sering melamun dan terdiam.
Permainan usai dengan skor 4-2 untuk tim lawan. Kai bahkan membuat gol bunuh diri di babak kedua. Untung saja ini hanya latih tanding, bukan pertandingan.
“Kai,” tegur pelatih tim sepak bola Freya High School, “aku tahu pasti ada sesuatu yang terjadi padamu. Tetapi jangan membawa masalah pribadi ke lapangan.”
“Maaf,” ujar Kai lesu.
@@@

“Krystal. Krystal,” panggil Sulli.
Kaget, Krystal menoleh, mencari orang yang memanggilnya. Rupanya teman sebangkunya sendiri. “Ya?”
“Aku baru saja menanyakan bagaimana ujianmu tadi. Kau melamun?”
“Aku mau ke toilet,” jawab Krystal. Tidak menunggu balasan dari Sulli, ia meninggalkan kelas dan berjalan tanpa arah.
Tiba-tiba Krystal berpapasan dengan Kai yang baru selesai berlatih, dengan peluh masih membanjiri tubuhnya. Dan.. Kai begitu saja meninggalkan Krystal. Tidak menyapa, atau bahkan menoleh.
Meskipun begitu, tanpa Krystal tahu, setelah itu Kai membalikkan badannya.
Haruskah Kai selalu begitu? Hanya bisa memandangi Krystal dalam diam?

Oh oh oh oh oh
Oh baby say yes, baby say yes
I am looking at you in a daze

Bruk! Mendadak Krystal terjatuh di lantai. Mungkinkah ia pingsan?
Tak banyak pikir, Kai berlari menghampiri Krystal yang terjatuh tak jauh dari tempatnya berdiri. Benar saja. Krystal pingsan. Badannya sangat pucat dan dingin.
“Krystal?” Kai mencoba membangunkan Krystal.
Alih-alih membawanya ke ruang kesehatan sekolah, Kai justru membawa Krystal ke mobilnya – Hyundai Genesis putih bersih. Meninggalkan sekolah. Membolos.
@@@

“Hngg..” Krystal mengerang. “Di mana?”
Kai tersenyum senang melihat Krystal sudah bangun. “Kau ada di mobilku.”
“Kai?” kaget Krystal.
“Kau sakit? Apa yang terasa tidak enak?” tanya Kai penuh perhatian.
“Mual,” jawab Krystal pelan. “Perutku sakit. Kepalaku sakit.”
“Kapan terakhir kau makan? Kau tidur jam berapa?”
Berpikir sejenak. “Kemarin sebelum berangkat sekolah aku minum susu dan sereal. Aku tidak tidur semalam.”
“Jangan bilang kau belajar hingga tidak tidur,” ujar Kai, terdengar seperti memprotes. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya yang kelihatannya seperti roti isi. Mungkin selagi Krystal pingsan, ia sempat mampir ke supermarket. “Makan.”
“Terimakasih.” Krystal memakannya tanpa membantah.
“Mengapa kau tidak makan dan tidak tidur?”
Krystal menelan roti yang ada di mulutnya lalu menjawab, “Sepi sekali.”
“Apanya?” tanya Kai.
“Rumahku,” sahut Krystal.
Kening Kai mengerut, pertanda ia bingung. “Kau tidak suka makan sendiri, begitu? Bukankah kau sudah lama hidup sendiri? Kau masih belum terbiasa? Ah, Jessica noona pasti sudah kembali ke California. Orangtuamu dinas di mana sekarang? Australia?”
Mau tak mau Krystal terkesan juga Kai mengetahui tentang keluarganya. “Mereka baru saja pindah ke Brazil kemarin.”
“Pasti tadi malam kau videocall dengan orangtuamu lalu kau lupa tidur. Aigoo, perbedaan waktu di Brazil dan Korea pasti besar sekali.”
“Bagaimana kau tahu?” tanya Krystal.
“Ha? Oh, eh, itu,” Kai yang tertangkap basah menyahut dengan gugup, “kau pernah menuduhku tidak melakukan pendekatan dengan benar dan langsung menyatakan perasaan. Yah, ehm, mungkin memang cara pendekatanku yang salah. Tapi tenang saja, aku tak mungkin menyukaimu tanpa mengenalmu.”
Wajah Sulli seketika muncul di pikiran Krystal.
Ah, jadi begitu. Pantas saja menurut Sulli, Kai merepotkannya. Rupanya ia ‘mendekati’ Krystal melalui jalur belakang seperti ini. Hm. Berbeda dengan laki-laki lain yang mendekatinya.
“Tapi tadi, kau mengabaikanku ketika kita berpapasan,” Krystal menuding. “Sama saja.. seperti laki-laki lain.”
“Mungkin sama saja,” sahut Kai.
“Iya.”
“Asal kau tahu. Aku menyukaimu, Krystal. Rasa itu tidak pernah berkurang. Justru semakin bertambah di setiap harinya. Oke. Memang hanya sebatas suka, bukan cinta. Aku tidak mau mencintaimu kalau kau tidak mulai menyukaiku.”
“Itu urusanmu,” Krystal mengangkat bahu.
Kemudian Kai mendekatkan bibirnya ke bibir Krystal. Krystal seketika memalingkan wajahnya yang membuat Kai justru tersenyum.
Perempuan ini memang bukan perempuan sembarangan.
“Kau tidak suka kesepian. Tetapi mengapa kau menutup diri? Tidak membiarkan satupun dari sekian pria untuk mendekatimu?”
“Apa kau tahu? Disebut cantik bagi wanita adalah sesuatu yang membahagiakan. Mereka semua mengatakan aku cantik, ingin menjadi kekasihku. Mereka mengajakku pergi ke pesta, pentas seni. Tetapi bercanda di kelas? Makan di kantin? Mengapa mereka tidak pernah mengajakku? Apakah aku hanya,”
“Barang pameran,” sela Kai. “Monalisa.”
“Monalisa. Apakah kau juga adalah pengunjung museum Louvre yang ingin melihat lukisan itu?” Krystal bertanya.
Kagum juga Kai. Ternyata gadis ini tak hanya cantik dan menarik, namun juga cerdas. Ia lantas memamerkan sederet giginya yang rapi dalam sebuah guratan senyum yang lebar. “Iya. Aku memang adalah seorang pengunjung.”
Mereka berdua terdiam, sampai Kai kembali bersuara.
“Tetapi, aku datang ke Louvre bukan untuk mengagumi Monalisa, melainkan untuk menghancurkan kaca yang membatasi Monalisa dengan dunia. Aku datang tidak dengan tangan kosong. Aku membawa kuas dan cat untuk memberikan warna. Agar lukisan itu tidak terasa sendiri, sepi, karena aku tahu Monalisa tak suka kesepian. Anggap saja aku.. membawakan masa depan untukmu,” ucap Kai.
Dalam hati Kai memaki dirinya sendiri, ‘dapat darimana kau, Kai, kata-kata seperti itu? Hueeeek, mendengarnya saja aku ingin muntah!’ Kai membatin, merutuki dirinya sendiri.
“Hm.” Krystal tak memberikan reaksi. Ekspresinya masih sedatar biasanya, tak mengucapkan sepatah katapun.
Namun tiba-tiba.. Krystal tertawa. Tertawa.
“Krys.. tal?” panggil Kai. Oh, sial! Gadis ini manis sekali kalau tertawa!
“Sayang sekali kemudian security museum datang dan menghujat tindakanmu itu. Lalu..” kata Krystal.
“Lalu mengusirku dari Louvre. Bagus sekali. Berarti aku sudah terusir dua kali,” Kai memandang ke jendela mobilnya.
Tidak. Ia tidak boleh menunjukkan emosinya. Tidak di depan gadis yang disukainya.
“Hm. Lalu security itu segera mengganti kaca yang kau pecahkan itu supaya orang lain tidak dapat berbuat macam-macam pada lukisan Monalisa. Namun sungguh sayang sekali, ternyata kau belum sempat pergi dari situ. Kau memprotes mereka, tetapi mereka malah menertawaimu. Kata mereka, ‘Itu salahmu sudah berani masuk. Sekarang sebagai hukumannya, kau tidak boleh keluar dari sini!’” Rupanya Krystal melanjutkan ucapannya. Ia tertawa lagi.
Kai menoleh. “Kau..?”
“Ya?” tanya Krystal polos.
“Sedetik memang bisa mengubah dunia. Aish, bagaimana bisa aku sudah mencintaimu!” erang Kai. Kai menarik tubuh Krystal dan tanpa banyak bicara ia menempelkan bibir kemerahannya pada bibir peach itu.
Menjadikan sang Monalisa miliknya.

You never know
That you might become my girl
That I might end up looking at you again
Without any word, on your expressionless face
You are laughing, as you are moving further away

-END-

Meet the man who TRAP-ped on the next!

9 responses to “[Freelance] Monalisa

  1. hahahaha kai d kerjain krystal….

    sequel donk thor…. crita bhagia kai-krys

    d tnggu ffny yg lain thor….

    fighting

  2. Waah,, keren !! Krystal arrogant banget sama Kai.. tapi akhirnya mereka bareng juga ^^ nice fic !! 😀

  3. Akhirnya, penantian Kai mendapat Krystal tercapai juga. Yeay! Happy end!

    Bagus banget ceritanya, pas di mobil itu sweet banget.

    Bikin FF KaiStal lagi ya. Fighting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s