[Freelance] Having Baby with My Enemy Mr. Byun Baekhyun (Chapter XI)

Having Baby with My Enemy Mr. Byun Baekhyun

Title : Having Baby with My Enemy Mr. Byun Baekhyun (Chapter XI)
Author/twitter : lucky_baek123 (twitter: @lukibaekhunniee)
Cast : Byun Baekhyun, Park Ahra (OC), Xi Luhan, Jung Daehyun etc
Genre : Romance, Comedy, Marriage life, Hurt, Sad
Rating : Rated M(I don’t even know how to rate this part)
Length : Chapter
Disclaimer : Jika kalian menemukan adegan yang tidak bisa cocok untuk kalian baik secara umur maupun secara batin, maka alangkah baiknya jika kalian melewati adegan tersebut. author tidak bertanggung jawab atas mulai pudarnya innocent mind kalian. ^^v


Ahra hanya menangkup wajahnya, menenggelamkan wajahnya di dalam telapak tangannya.. ia berharap dengan melakukan ini, setidaknya pikirannya bisa lebih tenang, dan bayangan-bayangan yang tidak diinginkannya bisa hilang dari pikirannya. Namun semakin ia mencoba menepis bayangan itu maka semakin jelas bayangan yang tergambar di dalam pikirannya. Ia benar-benar kacau saat ini, bahkan suara Minyeong dan Aeri yang sedang berduet menyanyikan lagu bertempo beat dari salah satu girl band yang sedang booming saat ini pun tidak mampu membuat Ahra merasa lebih baik. Ia merasa sangat kecewa, kecewa karena Baekhyun tidak mengangkat teleponnya, kecewa karena Baekhyun tidak menepati janji yang dibuatnya sendiri, kecewa karena sepertinya perasaan Baekhyun tidak seperti apa yang ia pikirkan.
Ia menyandarkan punggungnya di sofa ruang karaoke yang disewa Daehyun untuk apa yang namja itu sebut sebagai ‘Pesta Ulang Tahun Ahra’.. ya walaupun apa yang sebenarnya mereka lakukan hanyalah bernyanyi di ruang karaoke dengan ditemani makanan ringan dan sebuah kue yang sama sekali tidak tersentuh karena Ahra sepertinya ingin muntah tiap mencium bau kue tersebut. Ia menutup matanya menggunakan punggung tangannya, berharap setidaknya kegelapan sedikit memberikannya ketenangan.
Daehyun yang sedari tadi mengamati Ahra akhirnya duduk mendekat di samping yeoja itu, ada sesuatu yang membuatnya merasa bahwa ia harus menghibur yeoja tersebut. Bagaimanapun pesta kecil ini dibuat untuk menghibur Ahra, setidaknya yeoja itu harus merasa senang bukan merasa frustasi seperti sekarang. “Ahra-yaa, apa yang kau pikirkan?” Daehyun menyentuh pundak Ahra lembut, membuat gadis itu tersadar dan mulai menegakkan punggungnya perlahan.
“Aku tidak memikirkan apapun,” ucap Ahra datar tanpa menatap Daehyun, ia tidak tahu harus berkata apa lagi dan hanya kebohongan yang bisa terucap dari bibirnya saat ini. Akan tetapi, ucapan bernada datar Ahra justru membuat semua nampak jelas, dan Daehyun tentu menyadari hal tersebut.
“Kau sedang memikirkan namja itu?”
“Aku tidak memikirkannya, Daehyun-aah,” lagi dan lagi, Ahra memang gadis keras kepala dan mengakui sesuatu seperti iniadalah salah satu hal yang sulit ia lakukan.
“Kau bohong, dan kau tahu itu. Sejak Minyeong mengatakan sesuatu tentang mantan kekasih namja itu, kau hanya diam dan tidak berbicara apapun. Kau tahu itu?” mendengar ucapan Daehyun, Ahra hanya bisa terdiam, ia memejamkan mata… benar, apa yang dikatakan Daehyun semua memang benar, tapi kalaupun semua itu benar apa yang harus dilakukannya?
“Kau benar Daehyun, aku memikirkannya… demi Tuhan Daehyun, dia suamiku apa aku tidak bisa memikirkannya?” Ahra akhirnya memutar wajahnya, menatap Daehyun yang saat ini menatapnya dengan tatapan kecewa.
Daehyun hanya terdiam, ia mengalihkan pandangannya dan menyambar botol alkohol di depannya. “Ternyata apa yang dikatakan namja itu benar,” gumam Daehyun sambil meneguk alkohol di tangannya langsung dari botolnya.
“Apa maksudmu?”
“Awalnya aku pikir pasti ada alasan di balik pernikahan kalian. Apalagi setelah aku tahu kau hamil.. aku pikir kalian mungkin sebenarnya tidak saling mencintai dan pasti akan berpisah nantinya,” Ahra hanya bisa membelalakkan matanya, ia terkejut mendengar perkataan Daehyun yang semuanya benar.. entah karena namja itu adalah temannya sejak kecil atau apa, tapi firasat Daehyun memang benar-benar akurat. “Tapi namja itu mengatakan omong kosong padaku di malam aku berbagi kamar dengannya.. cih! Padahal dirinya sendiri tidak tahu kalau hari ini adalah ulang tahunmu. Jadi kenapa dia mengatakan hal seperti itu?” Daehyun terus meneguk alkohol di tangannya, ucapannya jadi semakin kacau karena sepertinya cairan tersebut mulai merasuki pikirannya. Ya.. Daehyun memang bukan sepeti Ahra yang kuat meneguk alkohol hingga berbotol-botol, namja itu bisa mabuk hanya dengan meneguk beberapa gelas alkohol.
“Daehyun-aah, kau tidak bisa minum. Kau mabuk,” Ahra menahan botol alkohol di tangan Daehyun, entah mengapa sepertinya Daehyun lebih terlihat frustasi dibandingkan dengan dirinya saat ini.
“Kau tahu omong kosong apa yang ia katakan padaku?” namun sepertinya Daehyun tidak mau berhenti meminum alkohol, ia meneguk habis alkoholnya dan kemudian menatap Ahra dengan wajah yang memerah karena mabuk. “Dia bilang kau dan dia saling mencintai,” Ahra hanya bisa terdiam mendengar ucapan Daehyun, sepertinya otaknya berjalan lambat saat ini hingga ia butuh waktu lebih panjang hanya untuk mencerna satu kalimat yang diucapkan oleh Daehyun.
“Cih! Siapa yang percaya dengan ucapan namja itu? Ia hanya mengatakan hal itu karena sok keren, padahal dia benar-benar tidak keren,” Daehyun meletakkan botolnya, ia hendak mengambil botol lain namun segera di tahan oleh Ahra.
“Daehyun-aah, berhenti minum… kau sudah mabuk..,” Ahra mengambil botol alkohol tersebut dari tangan Daehyun, dan Daehyun hanya terdiam sambil menyandarkan punggungnya di sofa karena ia benar-benar pusing sekarang, ia memang tidak pernah bisa minum.
“Kau tahu Ahra, sepertinya aku sudah tahu sekarang,” Daehyun memiringkan kepalanya ke Ahra tanpa meneggakkan punggungnya, menatap Ahra dengan tatapan entah apa itu… yang jelas tatapan itu seolah berkata ‘aku melepaskanmu’. “Aku tahu sekarang.. bahwa kau benar-benar mencintai namja itu,” Daehyun tersenyum ketika mengatakan hal tersebut sebelum akhirnya ia jatuh tertidur di atas sofa karaoke, ini adalah salah satu kebiasaan minum Daehyun yang cukup aneh.. ia akan langsung jatuh tertidur begitu mabuk.
“Ahra-yaa, apa Daehyun mabuk?” Aeri yang menyadari Daehyun saat ini sedang berbaring di atas sofa berjalan menghampiri Ahra yang saat ini hanya terdiam, Ahra membeku.. waktu seolah berhenti dan membuat otaknya membeku karena ia sama sekali tidak bisa berpikir. Apa yang dikatakan Daehyun seolah tamparan yang membuatnya sadar akan sesuatu.. sadar akan perasaan apa yang selama ini membuatnya merasa sangat kacau, sekaligus tersadar akan perasaan yang selama ini terlalu sulit untuk ia katakan bahkan di dalam hati sekalipun.
“Unnie, aku pergi dulu,” Ahra menyambar tasnya, berdiri dan langsung meninggalkan ruang karaoke tersebut tanpa mengucapkan apapun lagi. Ia ingin segera bertemu dengan Baekhyun, ada yang harus ia pastikan secepat mungkin.

***

Matahari mulai meninggi, sinar-sinarnya mulai menyinari setiap sudut bumi.. menyusup di antara celah-celah bangunan maupun jendela yang tertutup rapat di malam hari. Baekhyun yang tertidur di salah satu kursi di ruangan hotel mulai mengedip-ngedipkan matanya yang merasa silau oleh sinar matahari yang menyusup ke ruangan tersebut. Ia menggeliat, merasakan badannya yang terasa sakit karena semalaman tertidur dengan posisi terduduk seperti saat ini. Ia menatap gadis di depannya, gadis yang saat ini sedang tertidur dengan gaun dan make up yang masih lengkap.
Gadis yang tertidur itu terlihat pucat, make up yang tadinya menutup wajah pucatnya itu mulai luntur dan menunjukkan wajah pucat yang seolah menggambarkan betapa sakitnya ia sekarang. Baekhyun membelai rambut gadis itu, menyingkap rambut yang menutup wajah gadis itu dan merasakan suhu tubuh gadis itu dengan punggung tangannya. Suhunya masih tinggi..
Ia bisa merasakan gadis itu mulai menggigil di bawah selimut, gadis itu kedinginan. Baekhyun berdiri, berjalan mengambil selimut cadangan di lemari yang terletak di sudut kamar, dan meletakkannya perlahan di atas tubuh gadis mungil itu. Setelah mengamati lebih jelas, gadis itu sekarang bertambah kurus.. jauh lebih kurus dari apa yang ia ingat dulu.
“Baekhyun-aah, apa yang kau lakukan disini?” suara Baekbeom membuat Baekhyun berdiri tegak, ia mengepalkan tangan.. ada rasa kecewa yang tidak bisa dibendungnya dalam hati, ia merasa seolah dibohongi.. dan ia merasa kecewa, kecewa pada hyungnya dan kecewa pada dirinya sendiri yang tidak tahu apa-apa tentang hyungnya itu.
“Hyung,” Baekhyun membalikkan tubuhnya, menatap Baekbeom yang saat ini sedang berjalan mendekat ke arahnya.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, Baekhyun-aah.. apa yang kau lakukan disini?” tanya Baekbeom setelah berada beberapa langkah di depan Baekhyun dan bum! Baekhyun langsung menjatuhkan pukulan pada hyungnya. “Baekhyun-aah, mwoya?!” Baekbeom yang jatuh tersungkur, menengadah menatap dongsaengnya yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam dan dada yang naik turun.
“Hyung, kau benar-benar membuatku kecewa.. apa kau tahu kalau Taeyeon noona sangat mencintaimu? Mengapa kau melakukan hal seperti itu padanya?”
“Apa yang kau bicarakan?” Baekbeom bangkit dengan sedikit tergopoh, ia menatap dongsaengnya itu dengan tatapan bingung penuh tanya, ia tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang dibicarakan oleh Baekhyun.
“Hyung, kau gay?” Baekbeom membelalakkan matanya terkejut mendengar ucapan datar dongsaengnya. Ia tidak bisa berkata apa-apa, ia terlalu terkejut untuk memilih kata-kata untuk menjelaskan segalahnya yang mungkin bisa ia jelaskan pada Baekhyun.
“Baekhyun-aah,” Baekbeom mendekat dan mecoba untuk menyentuh pundak Baekhyun, namun Baekhyun segera menghindar.. ia benar-benar tidak ingin disentuh oleh hyungnya, setidaknya untuk saat ini. “Baekhyun-aah, aku akan menjelaskan semuany…”
“Cukup hyung, aku sangat bingung saat ini.. aku bingung harus berbuat apa. Aku rasa aku benar-benar tidak mengenal hyungku sendiri, aku akan pergi. Jagalah noona, ia sedang demam sekarang,” Baekhyun memotong perkataan Baekbeom, ia menyambar jaketnya yang tergeletak di atas kursi kamar hotel dan kemudian berlalu meninggalkan Baekbeom yang hanya terdiam di tempatnya.

***

“Brengsek!! Brengsek!!! Shit!” Baekhyun memukul-mukul stir mobilnya, entah apa yang ia rasakan saat ini. Ia merasa sangat kacau, hingga ia berpikir sepertinya ia bisa merasa lebih baik jika ia berhasil membuat stir mobilnya berlubang dengan pukulan-pukulannya. “Sial, apa-apaan ini sebenarnya?” Baekhyun membenamkan wajahnya di stir mobilnya, ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini. Ia tidak menyangkah hyungnya bisa melalukan hal seperti itu, hyungnya adalah orang yang sangat ia hormati dan ia sayangi.. bahkan saat ia jatuh cinta dengan Taeyeon dan Taeyeon justru mengatakan bahwa ia menyukai Baekbeom, Baekhyun hanya menerima kenyataan itu dengan hati yang lapang, karena ia berpikir bahwa hyungnya memang jauh lebih hebat dan lebih baik darinya. Susah payah ia melupakan Taeyeon, susah payah ia berusaha menganggap Taeyeon sebagai noonanya sendiri dan akhirnya justru seperti ini. Ia benar-benar tidak habis pikir. Ia melepaskan rasa kesalnya dengan memukul stir mobilnya lebih keras hingga sebuah benda dari jaketnya terjatuh di lantai mobilnya, ia melirik benda tersebut. Kotak bewarna keperakan, kotak berisi hadiah ulang tahun untuk Ahra.
Ia mengambil kotak itu, dan membukanya perlahan. Sebuah jepit bewarna perak…, janjinya pada Ahra. Apa yang ia lakukan? Ia telah melupakan janjinya pada gadis itu, ia bingung apa yang harus ia lakukan dan katakan pada gadis itu ketika ia bertemu dengannya. Pikirannya benar-benar kacau, mengetahui bahwa hyungnya gay adalah fakta yang terlalu besar untuk diterimanya dan itu cukup menguras tenaga serta pikirannya, membuatnya tidak bisa melakukan apapun dengan benar.
Baekhyun menutup kembali kotak tersebut dan meletakkannya di dashboard mobilnya. Ia mengambil handphone di sakunya, matanya langsung membulat terkejut melihat ada 25 panggilan tak terjawab dan yang lebih mengejutkan lagi semuanya dari nomor Ahra.
“Apa yang aku lakukan?” Baekhyun mengutuki dirinya sendiri, sekarang ia semakin bingung harus menjelaskan apa pada Ahra nantinya. Ia langsung menyalahkan mesin mobilnya, dan melajukannya kencang.

***

Ahra menatap handphonenya sekali lagi, sudah jam sembilan pagi dan Baekhyun belum juga pulang. Ia menunggu semalaman hingga ia tertidur di sofa ruang tamu dan terbangun di bagi hari, tapi Baekhyun belum juga pulang. Ia berharap akan ada setidaknya satu pesan dari Baekhyun di handphonenya, namun berapa kalipun Ahra menutup dan membuka kunci handphonenya.. ia sama sekali tidak menemukan satupun pesan masuk dari Baekhyun. Pikirannya kembali melayang pada apa yang ia lihat tadi malam, Baekhyun pergi ke hotel bersama Taeyeon. Semua kemungkinan yang sedari malam berusaha ia singkirkan dari pikirannya kini kembali terbayang di pikirannya. Ia hanya bisa menggigit jari, berusaha menghilangkan kegugupan yang ia rasakan saat ini, kegugupan karena khawatir akan kemungkinan Baekhyun akan meninggalkannya.
“Apa yang kau lakukan disini?” Ahra melompat dari tempatnya begitu mendengar suara Baekhyun, akhirnya ia merasa lega karena Baekhyun telah kembali namun sebagian dari dirinya juga merasa khawatir, ia masih mengingat Baekhyun dan Taeyeon yang pergi ke hotel tadi malam.. dan hal yang membuatnya khawatir adalah apa yang akan dikatakan Baekhyun mengenai hal tersebut.
“Aku sedang menunggumu, kau tidak pulang semalaman. Sebenarnya kau darimana?” tanya Ahra dengan nada yang dibuatnya tidak terdengar bergetar karena demi Tuhan ia merasa sangat gugup saat ini, ia berharap ada penjelasan atas apa yang ia lihat tadi malam dan penjelasan itu tidak seperti apa yang ia pikirkan semalaman suntuk ini.
“Maafkan aku, Chanyeol terus mengurungku di rumahnya… aku bahkan tidak bis keluar dari kamarnya kemarin.. sepertinya ia sedang ada masalah,” Baekhyun mengucapkanya sambil berlalu dari Ahra, ia sama sekali tidak menatap Ahra ketika berbicara.. dan bum! Ahra merasa seperti hatinya terjatuh karena sebuah pukulan, pukulan rasa kecewa karena kebohongan Baekhyun. Ahra jelas-jelas tahu bahwa Baekhyun berbohong karena semalaman Ahra terus menghubungi Chanyeol, memastikan pada namja itu untuk segera menghuunginya jika ia bersama atau bertemu dengan Baekhyun tapi nyatanya namja itu tidak menghububunginya sama sekali tadi malam.
“Baekhyun-aah,” Ahra memanggil nama Baekhyun lembut, sangat lembut hingga ia sendiri tidak tahu bahwa ia bisa menyebut nama namja itu selembut itu. Baekhyun yang merasakan bahwa ada yang aneh pada nada suara Ahra, menoleh ke arah dengan canggung dan yang ia dapati adalah Ahra yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh kecewa. “Kau masih mengingat Pasal I dalam perjanjian kita?”
“Pasal I. Demi kebaikan bersama maka tidak ada kebohongan, dan tidak ada yang disembunyikan selama pernikahan.” Baekhyun jelas mengingat pasal itu karena ia sendiri yang membuat pasal tersebut, awalnya ia bermaksudmenghindariterulangnya kejadian dimana Daehyun mengantar Ahra ke tempat pemeriksaan kandungan. Akan tetapi, saat ini sepertinya pasal tersebut seakan menjadi bumerang baginya karena saat ini ia jelas-jelas tahu bahwa ia sedang berbohong pada Ahra.
“Aku tahu kalau pernikahan kita memang tidak didasari oleh cinta atauapapun itu yang ada dalam pernikahan yang seharusnya, tapi demi Tuhan Baekhyun.. kau tidak seharunya mengingkari janji yang telah kau buat sendiri,” tanpa menunggu jawaban Baekhyun, Ahra berjalanan menjauh dari Baekhyun, ia ingin pergi.. pergi menjauh dari namja yang semalaman telah membuat dia menunggu dan dengan sekejab membuat ia merasa jatuh kecewa.
“Ahra-yyaa,” Baekhyun yang tidak tahu harus berkata apa, akhirnya hanya mampu memanggil nama Ahra lembut.. namun Ahra sepertinya terlalu kecewa untuk menjawab panggilan Baekhyun atau sekedar menoleh ke arah namja tersebut.
Ahra terus melangkah menuju pintu keluar apartement, hingga ia hanya beberapa langkah dari ambang pintu, ia berhenti sejenak. “Aku akan pergi ke kampus tidurlah Baekhyun… aku tahu kau pasti lelah karena semalam,” ucap Ahra dingin sambil berlalu meninggalkan Baekhyun yang hanya bisa mengutuki dirinya sendiri di dalam hati.

***

Ahra keluar dari gedung apartement Baekhyun, kakinya terlalu lemas untuk melangkah, badannya terlalu berat untuk bergerak, dan pikirannya terlalu lelah untuk berpikir harus pergi kemana. Ia sangat lelah… sangat lelah untuk pergi ke kampus atau kemanapun yang membuat pikirannya seakan terkuras, ia hanya ingin pergi ke tempat yang tenang. Tempat yang bisa membuat ia bisa menenangkan pikirannya, tempat yang mungkin bisa membuat ia melupakan semua hal tentang namja bernama Baekhyun. Namja yang membuat hidupnya selalu berputar dan bergerak pada arah yang tidak diinginkannya.
Entah mengapa air mata mulai jatuh di pelupuk matanya, ia merasa semuanya bercampur aduk di dalam hatinya dan itu membuatnya merasa sesak. Ada yang menekan dadanya hingga ia merasa sangat sakit dan sulit untuk bernapas. Ia menangkup wajanya, menenggelamkan wajahnya di dalam telapak tangannya.. ia berusaha untuk melupakan semua hal yang sekarang sedang membebani pikirannya. Setelah beberapa menit ia menangis dalam telapak tangannya, ia menarik napas dalam.. mencoba menenangkan pikirannya dan mengambil ponsel dari dalam tasnya.
Ia mengetuk layar handphonenya dan mengirim sebuah pesan, “Apa kau sekarang ada di rumah?”
***
Sudah dua minggu sejak Ahra pergi dan sejak itu, Ahra sama sekali tidak pulang atau menghubungi Baekhyun lagi. Baekhyun bingung harus berbuat apa, ia sudah mencoba untuk menghubungi teman-teman Ahra namun tidak ada satupun dari mereka yang tahu keberadaan Ahra termasuk Minyeong, sahabat Ahra. Ia bahkan memberanikan diri bertanya pada Aeri mengingat ada kemungkinan Ahra pulang ke rumahnya, ya.. walaupun itu bisa dibilang sangat kecil. Akan tetapi, apa yang ia dapat tetap nihil. Pikirannya terus melayang pada kemungkinan Ahra sedang bersama dengan Daehyun atau bahkan Luhan, dan hal itu benar-benar membuatnya frustasi. Mengetahui fakta bahwa hyungnya adalah seorang penyuka sesama jenis sudah cukup membuat otaknya bekerja dengan keras dan sekarang ditambah dengan Ahra yang tiba-tiba menghilang serta banyaknya kemungkinan bahwa gadis itu sekarang sedang bersama dengan namja lain membuat kepala seakan benar-benar akan pecah.
Baekhyun mengetuk-ngetuk ujung pensilnya di meja kuliahnya, ia sekarang sedang berada di dalam kelas Komposisi Musik. Kelas ini cukup penting untuk Baekhyun karena ini merupakan kelas utamanya di semester ini, namun selama satu jam profesor Kim, pengajar Komposisi Musik, berkeliling kelas sambil menerangkan mata pelajarannya.. tidak ada satupun hal yang masuk ke dalam otak Baekhyun. Semua yang dijelaskan profesor Kim seolah masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri, pikirannya terlalu sibuk memikirkan Ahra hingga sepertinya ia merasa tidak sanggup lagi menerima informasi lain selain hal-hal yang berhubungan dengan gadis itu. Sampai akhirnya profesor Kim mengakhiri kelasnya dan menyampaikan tugas akhir mata pelajarannya, Baekhyun tidak mendengar apapun dan hanya terdiam di bangkunya.. memikirkan berbagai cara untuk menemukan Ahra.
“Hai-yo! Ada apa denganmu?” sebuah tangan besar langsung menepuk punggung Baekhyun ketika profesor Kim telah keluar dari kelas. Baekhyun yang sedikit tersentak dengan sentuhan tiba-tiba itu langsung menoleh ke samping dan ia menemukan namja jangkung, Chanyeol, sedang menatapnya penuh tanya.
“Tidak ada, aku hanya sedang berpikir,” ucap Baekhyun, sambil berdiri dari bangkunya.
“Berpikir tentang apa? Tugas akhir yang diberikan profesor Kim atau tentang istrimu, Park Ahra?” Chanyeol mengikuti langkah Baekhyun yang mulai meninggalkan kelas sambil mengalungkan lengannya di bahu namja yang lebih pendek darinya itu.
“Apa kau bilang? Tugas akhir?” Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan bingung, ia sama sekali tidak tahu tentang tugas akhir yang dibicarakan oleh Chanyeol itu.
“Apa kau tidak mendengar apa yang diucapkan profersor kim tadi??” Baekhyun hanya terdiam, jawabannya sudah jelas ‘ya’… ia sama sekali tidak mendengar apa yang diucapkan profesor Kim di depan kelas tadi. Ya, bagaimana ia bisa mendengar ucapan profesor Kim kalau telinganya sepertinya sudah tertutup buntu dengan segala hal mengenai ahra.
“Profesor Kim menyuruh kita membuat komposisi lagu dengan minimal dua instrument, itu adalah tugas akhir mata kuliah profesor Kim untuk semester ini. Dan itu benar-benar akan mempengaruhi 65% nilai kita di mata pelajarannya. Demi tuhan baekhyun apa kau benar-benar tidak mendengar informasi sepenting ini??”
Baekhyun hanya bisa terdiam.. dia masih mencerna ucapan Chanyeol. Bagaimana mungkin ia tidak tahu apapunmengenai hal itu?? Mata kuliah profesor Kim adalah mata kuliah terpenting di semester ini dan dia sama sekali tidak mengetahui informasi sepenting itu. Sepertinya Ahra memang menjadi pengaruh yang sangat besar di kehidupan Baekhyun saat ini.
“Tenang saja Byunbaek, karena kau masih punya waktu satu bulan untuk berpikir sebelum kau mendapat nilai C di mata kuliah profesor Kim,” Chanyeol menepuk bahu Baekhyun sambil tersenyum lebar… sebenarnya ia hanya bermaksud bercanda dengan sahabatnya itu, namun melihat reaksi Baekhyun yang hanya terdiam sambil memandangnya dengan tatapan kosong membuat Chanyeol merasa tidak enak sendiri dan akhirnya ia hanya bisa tersenyum canggung pada Baekhyun.
“Jadi kita hanya diberi waktu satu bulan?? Apa kau bercanda?!” Baekhyun hanya bisa mengumpat dalam hati, kepalanya benar-benar mau pecah sekarang… rasanya otaknya benar-benar tidak bisa menerima semua informasi gila yang datang bertubi-tubi dalam hidupnya ini.
“Aku tidak bercanda Byunbaek.. apa yang aku katakan semua benar.. ada apa denganmu?? Apa ini masih masalah mengenai istrimu?? Apa istrimu belum juga pulang??”
“Apa yang harus aku lakukan yeol? Semua hal ini bisa membuatku gila!!” Baekhyun menarik rambutnya, ia benar-benar ingin menarik semua rambutnya hingga habis.. siapa tahu dengan begitu kepalanya yang terasa sangat berat saat ini bisa sedikit lebih ringan.
“Tenang saja Byunbaek, istrimu pasti akan kembali,” sekali lagi Chanyeol hanya bisa menepuk bahu Baekhyun.. karena demi tuhan ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya menghibur seseorang yang dilanda masalah rumah tangga.. Ya, siapa yang bisa tahu? Kau masih berumur 20 tahun, jadi bagaimana kau bisa memahami masalah semacam itu?
“Kau sama sekali tidak membantu yeol,” ucap baekhyun sambil menengadah menatap sahabatnya yang saat ini sedang menunjukkan deratan rapi gigi putihnya.
Tttrrrrr trrrrrrrrt trrrrrrrrrrrrt~
“Baekhyun, aku rasa handphonemu berbunyi.. angkatlah, siapa tahu itu istrimu,” Chanyeol menunjuk tas selempang milik Baekhyun setelah ia mendengar ada bunyi getaran dari tas Baekhyun. Baekhyun hanya bisa bergidik, kemampuan telinga yodamilik Chanyeol ternyata memang benar-benar luar biasa batinnya.
Baekhyun mengambil handphonenya dari salah satu kantung tasnya.. ia kemudian melihat layar handphonenya, dan sekali lagi ia merasa kepalanya benar-benar ingin pecah. Ia bingung apa ia harus menekan tombol hijau atau merah.. di dalam pikirannya ia ingin segera menekan tombol merah tapi di dalam hatinya ia ingin sekali segera menekan tombol hijau.
“Nugu??” Chanyeol melirik layar handphone baekhyun dan membaca nama yang tertera pada hanphone yang masih bergetar itu. “Itu hyungmu?? Mengapa kau tidak segera mengangkatnya??”
Baekhyun tersentak mendengar ucapan Chanyeoldan secara tidak sengaja ia menekan tombol hijau. Ya, mau tidak mau ia memang harus berbicara dengan hyunya itu.
“Ne hyung?”

***

Baekhyun menatap ke luar jendela kaca di sebelahnya, ia memandang jauh pada jalanan yang ada di luar jendela berbentuk persegi panjang itu. Sekarang sudah mendekati musim panas, semua orang sepertinya sudah mulai mengenakan pakaian tipis dan karena melihat pemandangan ini, Baekhyun mulai menyadari waktunya yang telah ia habiskan bersama Ahra sebagai sepasang suami istri ternyata cukup panjang. Namun bila diingat-ingat lagi apa yang dilakukannya pada gadis itu selama ini adalah nothing.. ia tidak benar-benar menjaga gadis itu layaknya seorang suami yang menjaga istrinya. Mungkin itulah alasannya kenapa Ahra sekarang meninggalkannya, dan mungkin ahra tidak akan pernah kembali padanya.
Baekhyun mengacak rambutnya, pikiran-pikiran buruk mengenai Ahra benar-benar membuatnya merasa frustasi. Setelah pernah merasa benar-benar yakin bahwa ia bisa bercerai dan berpisah dengan gadis itu, sekarang seolah semuanya berubah… ia tidak yakinapa mungkin ia bisa menjalani hidup tanpa gadis itu.
“Kau sudah datang?” Baekhyun menengadah, lamunannya terhenti setelah mendengar sebuah suara.. suara berat khas… suara hyungnya. “Maaf aku terlambat, jalanan sedikit padat tadi,” ucap Baekbeom tanpa menunggu jawaban dari Baekhyun, ia langsung mengambil kursi dan duduk berhadapan dengan dongsaenganya yang sekarang sedang menatapnya dengan tatapan yang mengisyaratkan rasa kecewa.
“Apa yang ingin hyung katakan padaku?” Suara Baekhyun terdengar sangat dingin, dan selama 20 tahun menjadi kakak dari seorang Byun Baekhyun, baru pertama kali ini Baekbeom mendengar suara Baekhyun sedingin ini.
“Maafkan aku, hyun,” hanya itu yang bisa terucap dari bibir Baekbeom.. ia benar-benar tidak tahu apa lagi yang bisa ia katakan pada dongsaengnya kecuali ucapan maaf.
“Kau tidak seharusnya mengatakan hal ini padaku, kau seharusnya meminta maaf pada Taeyeon noona, appa, dan omma, hyung,” baekhyun tidak bisa memendam rasa kecewa dalam ucapannya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya orang tuanya jika mengetahui anak pertama mereka yang sangat mereka banggakan adalah seorang penyuka sesama jenis.
“Aku selalu mengatakan itu pada mereka, hyun. Omma dan appa sudah lama mengetahu bahwa aku….,” suara Baekbeom tertahan, ia seperti tersedat sesuatu hingga ia tidak bisa menyelesaikan ucapannya, kata terakhir yang ingin dikatakannya itu seolah tertelan oleh angin musim panas.
Sebaliknya Baekhyun hanya bisa terdiam, ia masih mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh hyungnya itu. Omma dan appa sudah lama mengetahuinya? Jadi selama ini orang tuanya sudah mengetahui semuanya, sekarang semua sudah jelas.. Jika diingat-ingat lebih baik, itu sebabnya mengapa kedua orang tuanya sangat senang ketika tiba-tiba baekhyun mengatakan akan menikah.
“Mianhe, hyun-ahh.”

***

“Ahra-yaa, mau sampai kapan kau tinggal disini?” Minyeong mengangkat panci sup kimchi yang baru saja ia panaskan dari kompor.. ia berjalan perlahan menuju meja makan dan menatap sahabatnya yang saat ini sedang menenggelamkan wajahnya di antara lengan yang terlipat. “Setidaknya kau harus mengatakan pada suamimu bahwa kau menginap disini, apa kau tahu betapa lelahnya aku berbohong pada Baekhyun setiap ia bertanya tentangmu?”
“Minyeongii~ tidak bisakah kau berhenti membicarakan Baekhyun? Aku lelah,” Ahra mengangkat kepalanya, menatap sahabatnya dengan tatapan yang mengisyaratkan kelelahan. Ia memang lelah, lelah dengan segala hal yang berhubugan dengan Baekhyun. Ia merindukan namja itu… benar-benar merindukannya… tapi ia tidak bisa menemuinya.. ada sebagian dari dirinya yang mengatakan untuk tidak menemui Baekhyun dan bagian itu rupanya mendominasi seluruh pikiran Ahra karena ia telah berhasil membuat Ahra tidak menemui namja itu selama dua minggu.. dua minggu. Ahra menghitung jarinya, ‘ini sudah dua minggu rupanya,’ batin Ahra dalam hati.
“Aku akan berhenti membicarakannya jika baekhyun sudah tidak datang padaku dan memburuku dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai dirimu,” Minyeong mendorong mangkung berisi nasi ke samping Ahra, ia tidak bisa membiarkan sahabatnya itu tidak makan.. ini semacam kewajiban moral menjaga sahabatnya yang sekaligus ibu hamil itu dengan baik.
“Apa yang harus aku lakukan, yeongi??” Ahra menatap mangkuk nasi yang disodorkan Minyeong, kemudian menatap sahabatnya itu dengan tatapan kosong.
“Pulanglah, ahra.. Baekhyun pasti merindukanmu.. apa kau juga tidak merindukannya?”
“Aku merindukannya, yeongi~ sangat merindukannya.”

***

Ahra berjalan perlahan, ia baru memasuki ruangan klub fotografi. Ia mengintip ke dalam ruangan. Tidak ada siapapun, ini memang bukan waktunya pertemuan rutin jadi wajar saja jika ruangan ini kosong. Ahra langsung memasuki ruangan tersebut dan mendaratkan diri di salah satu kursi, ia ingin menyendiri untuk sesaat… ia ingin berpikir dengan tenang sebelum memutuskan untuk kembali pulang ke apartement Baekhyun.
Ia menjelajah setiap sudut ruangan dengan tatapannya.. dan tiba-tiba seberkas bayangan tentang segala hal yan pernah ia lakukan dengan Baekhyun di ruangan ini muncul di benaknya. Ia teringat kenangan ketika Baekhyun mempermalukannya di depan para senior ketika pertemuan rutin pertama mereka. Dan entah mengapa mengingat kejadian menyebalkan itu membuat ahra tertawa.. ia merindukan saat-saat itu, ia merindukan Baekhyun.
“Mengapa kau tertawa sendiri disini?” Ahra menoleh pada sumber suara yang berasal dari pintu masuk ruangan klub. Luhan… namja itu sedang menatapnya sambil berdiri di samping frame pintu. Rambutnya sudah tidak lagi bewarna ungu, Luhan telah mengecat rambutnya lagi dengan warna hitam dan itu membuat namja itu tampak lebih manly.
“Oppa?”
“Apa yang kau lakukan disini?” Luhan berjalan mendekat ke arah Ahra sambil tersenyum lemut. Ah, sudah lama sekali sejak Ahra terakhir kali melihat senyuman itu. Ia benar-benar merindukan senyuman lembut Luhan.. senyuman yang menghangatkan hati seperti senyuman seorang oppa pada dongsaengnya. Melihat Luhan yang tersenyum saat ini membuat Ahra sadar inilah alasan mengapa ia menyukai Luhan. Luhan seperti sosok lembut seorang appa yang selalu ia bayangkan di dalam benaknya sejak kecil.
“Ani oppa, aku hanya sedang memikirkan sesuatu,” Ahra membalas senyum Luhan ketika namja itu telah duduk di sampingnya.
“Apa yang kau pikirkan? Byun Baekhyun?” Luhan mengangkat sebelah alisnya sambil menunjukkan tatapan jahil pada Ahra, tatapan yang sudah lama tidak dilihat Ahra dari sosok ceria Luhan.
“Ani…, aku tidak… mem..mikirkan..nya,” jawab Ahra sedikit terbata-bata sambil menghindari tatapan Luhan, entah mengapa tatapan Luhan saat ini membuatnya merasa tidak nyaman, ia seperti sedang diinterograsi oleh tatapan itu.
“Aku dengar kau sedang bertengkar dengan Baekhyun. Apa itu benar?” Ahra tersedak ludahnya sendiri.. darimana Luhan tahu bahwa ia sedang bertengkar dengan Baekhyun. Apa Minyeong yang mengataknnya? ‘Dasar minyeong!! awas saja dia!’
“Darimana oppa tahu?”
“Ehm…,” Luhan hanya bisa berdehem sambil memegang tengkuknya canggung, ia bingung atau lebih tepatnya tidak bisa menjawab pertanyaan Ahra itu. “Ehm… aku tidak sengaja mendengarnya, kau tahukan betapa gosip cepat menyebar di klub ini?” Ahra sebenarnya merasa ada yang aneh, tapi ucapan Luhan benar juga.. gosip memang menyebar dengan cepat di dalam klub ini.
Ahra kemudian mengehal napas dan kemudian menatap Luhan, “Ne oppa, semuanya benar… aku memang sedang bertengkar dengan Baekhyun.”
“Tapi bukankah kau sudah sering bertengkar dengan Baekhyun? Jadi sekarang apa masalahnya?” Ahra sedikit terkejut dengan ucapan Luhan, bila dipikir-pikir apa yang dikatakan Luhan memang benar.. ia memang selalu bertengkar dengan Baekhyun? Jadi sekarang apa masalahnya? Apa yang membuatnya ia sampai menghindari Baekhyun selama dua minggu terakhir ini?
“Apa kau merasa pertengkaranmu kali ini dengan Baekhyun ada yang beda?” Luhan melanjutkan pertanyaannya tanpa menunggu jawaban dari Ahra, dan entah mengapa Ahra merasa sepertinya Luhan lebih tahu apa yang ada di dalam hatinya daripada ia sendiri.
“Mungkin,” Ahra hanya menjawab pertanyaan Luhan dengan senyuman, ia sebenarnya tahu dengan jelas jawaban dari pertanyaan Luhan. Memang ada yang beda dalam pertengkarannya kali ini, bedanya adalah Ahra telah jatuh cinta pada Baekhyun. Karena perasaan yang terbalas ini, ia merasa tidak mampu memenui Baekhyun dan disinilah akhirnya ia, menghindari Baekhyun untuk waktu yang cukup lama.
“Walapun mungkin ada bedanya pertengkaran kali ini dengan pertengkaran-pertengkaranmu sebelumnya, dan walaupun mungkin pertengkaran kali ini jauh lebih besar tapi kalian tetaplah suami istri. Sudah menjadi tugas sepasang suami istri untuk menyelesaikan masalah sebesar apapun bersama-sama.. jadi aku rasa kalian pasti bisa melewatinya,” Luhan menepuk punggung Ahra perlahan, seolah memberikan keyakinan pada setiap sentuhannya.
“Gomawo oppa,” gumam Ahra sambil tersenyum pada Luhan.
“Kau tahu apa yang aku katakan padamu mengenai kalung yang aku berikan adalah benar.. kau pasti akan mendapatkan cinta sejatimu, aku menjaminnya karena aku juga mengalaminya,” ucap Luhan sambil menunjukkan kalung-cincin yang mirip dengan milik Ahra.
“Eh?” namun Ahra sepertinya tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Luhan, karena ia hanya bisa merespon dengan pertanyaan sambil menatap Luhan yang sedang tersenyum dengan tatapan penuh kebingungan.
“Ahra!! Apa yang kau lakukan disini??” sebuah suara lain langsung membuat Luhan dan Ahra memutar tubuh mereka ke arah sumber suara tersebut, Aeri. Gadis itu saat ini sedang berjalan mendekat ke arah mereka.
“Unni, apa yang unni lakukan disini?”
“Seharusnya aku yang bertanya padamu.. kau kemana saja?? Suamimu terus menanyakanmu.. dan aku bingung harus berkata apa,” Aeri langsung menatap Ahra tajam begitu ia sudah berdiri tepat di depan Ahra.
“Unni tidak perlu berkata apa-apa,” jawab Ahra sambil mengalihkan pandangannya.
“Kau gila! Cepat kembali pada suamimu! Kau sudah membuat semua orang gila karena kau menghilang tiba-tiba sepeti ini!”
“Aku tidak gila, dan aku juga tidak menghilang.. aku hanya… hanya ingin berpikir dengan tenang.”
“Kembalilah pada Baekhyun, Ahra-aah… waktumu untuk berpikir sudah terlalu panjang,” Luhan menjangkau tangan Ahra dan mengelus lembut punggung tangan Ahra, ia seolah berusaha menambah keyakinan dalam diri Ahra. Namun sepertinya ada sepasang mata elang yang sedang melirik gerakan tersebut dan dengan gerakan cepat segera menginterupsi mereka.
“Benar Ahra! Kau harus cepat kembali pada suamimu,” ucap Aeri sambil menarik kedua tangan Ahra, entah mengapa Ahra merasa Aeri seperti menekan ucapannya pada kata ‘suamimu’ dan itu benar-benar membuat Ahra menyadari ada sesuatu yang aneh pada unninya itu.
Trrrrrt trrrrrt trrrrrrt
“Handphonemu bergetar,” ucap Aeri sambil melirik tas Ahra. Ahra yang menyadari handphonenya sedang bergetar segera mengambil handphonennya dari dalam tasnya.. ia melihat layar handphonennya dan menemukan nomor tak dikenal sedang mencoba menghunginya. Awalnya ia ragu untuk menjawab panggilan tersebut tapi entah mengapa tangannya seolah melakukan sesuatu tanpa diperintahkan otaknya, karena dengan refleks ia langsung mejawab panggilan tersebut.
“Yeobseyo?”
“Ahra-sshi, ini aku Taeyeon.. Kim Taeyeon. ”

***

Ahra menengadah menatap papan bertuliskan ‘de cafe’ di atas sebuah cafe di dekat kampusnya. Ia menghela napas, rasanya berat melangkahkan kaki ke tempat ini. Rasanya berat harus menemui orang yang membuat dua minggu terkahirnya ini terasa seperti dalam neraka. Dengan perasaan yanh masih berat itu akhirnya Ahra melangkahkan kakinya masuk ke dalam cafe tersebut. Ia menyapu ruangan di dalam cafe dengan tatapan dan menemukam sosok kecil seorang gadis saat ini sedang duduk di salah satu pojok ruangan sambil mengaduk latte di depannya. Gadis itu terlihat tidak bersemangat dan entah mengapa itu justru membuat Ahra merasa bersalah.
“Unnie,” Ahra memanggil lembut Taeyeon, membuat gadis itu menengadah menatap Ahra dan kemudian tersenyum lemah.
“Ahra-sshi kau datang,” ucap Taeyeon sambil menegakkan punggungnya, ia masih menunjukkan senyumanya pada Ahra.. dan entah mengapa senyum itu justru terasa miris di mata Ahra.
“Kenapa unnie ingin bertemu denganku?” ucap Ahra sambil duduk di depan Taeyeon.
“Aku ingin meminta maaf,” Ahra hanya bisa memandang Taeyeon dengan tatapan bingung, ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Taeyeon. Mengapa ia meminta maaf padanya, apa yang telah diperbuat Taeyeon hingga ia harus meminta maaf padanya?
“Kenapa unnie meminta maaf padaku?” tangan Ahra sedikit gemetar ketika mengatakanya, ada rasa takut bahwa apa yang akan dikatakan oleh Taeyeon merupakan hal yang tidak ingin ia dengar.
“Aku hanya ingin meminta maaf, padamu dan pada Baekhyun,” ucap Taeyeon pelan, walaupun apa yang diucapkan Taeyeon bukanlah hal yang dipikirkan Ahra akan tetapi begitu nama Baekhyun disebut entah mengapa ia merasa sangat aneh.. ada rasa cemburu ketika nama Baekhyun keluar dari bibir gadis mungil di depannya itu.
“Itu tidak menjawab pertanyaanku, unnie.. Mengapa unnie meminta maaf padaku dan mengapa unnie harus tidak mengatakannya langsung pada Baekhyun jika unnie merasa bersalah padanya?” semua langsung terucap begitu saja dari bibirnya, ia sudah tidak bisa menahan semua hal yang dipikirkannya. Ia sudah terlalu frustasi untuk memendamnya sendiri.
“Aku tidak bisa menemui Baekhyun untuk saat ini,” Taeyeon mengalihkan padangannya pada latte di depannya, ia mengaduk lattenya tanpa menatap Ahra yang saat ini rasanya ingin menangis kencang.. karena demi Tuhan menghadapi orang seperti Taeyeon ternyata bisa sangat menyesakkan seperti ini.
“Maaf unnie, tapi aku juga tidak bisa menemui Baekhyun untuk saat ini.. jadi lebih baik unnie sampaikan sendiri permintaan maaf unnie itu,” ucap Ahra sambil bangkit dari tempat duduknya, ia merasa sudah tidak mampu lagi menahan amarahnya. Namun sepertinya Taeyeon menyadari hal tersebut, karena ia langsung mengikuti langkah Ahra dan menahan gadis itu pergi menjauh dengan meraih pergelangan tangannya.
“Waeyo, Ahra-sshi? Apa kau sedang ada masalah dengan Baekhyun?” tanya Taeyeon pelan.
“Apa itu yang unnie harapkan?” ucap Ahra, matanya sudah mulai basah karena menahan air mata… ia tidak tahu sejak kapan air mata mulai terbentuk di sudut matanya yang jelas sekarang ia merasa air matanya bisa jatuh kapan saja.
“Tunggu, kau sepertinya sedang salah paham, Ahra-sshi.. tentu saja aku tidak menginginkan hal itu, mana ada seorang kakak yang menginginkan adiknya bertengkar dengan istrinya.. Baekhyun sudah seperti adikku sendiri, Ahra-sshi,” Taeyeon masih menahan pergelangan tangan Ahra, ia menahan tangan Ahra sangat kuat hingga Ahra sendiri merasa heran dari mana kekuatan seperti itu muncul dari gadis semungil itu.
“Kalian mengatakan hal yang sama, sepertinya kalian memang sehati,” ucap Ahra dingin.
“Apa yang kau katakan, Ahra-sshi? Apa kau merasa cemburu dengan kehadiranku?”Ahra tidak menjawab, ia hanya mengalihkan pandangannya.. entah mengapa ia merasa malu mengakui hal tersebut.
“Aku hanya seorang noona untuk Baekhyun, dan Baekhyun hanya seorang adik untukku,” Taeyeon menarik tangan Ahra dan menyuruhnya untuk duduk kembali, ia benar-benar menggunakan kekuatannya hingga Ahra seolah tidak mampu menolak perintahnya. Ia mengelus bahu Ahra sambil duduk di samping Ahra.“Kau mungkin telah mendengar bahwa aku pernah berkencan dengan Baekhyun, tapi.. itu hanya karena Baekhyun terlalu kecil untuk menyadari apa itu cinta sebenarnya. Aku hanya membantunya untuk tahu apa itu cinta sebenarnya, dan kau tahu.. dia mencintaimu Ahra-sshi.. jadi kau tidak perlu merasa cemburu dengan kehadiranku,” ucap Taeyeon sambil tersenyum.. Ahra hanya bisa terdiam mendengar ucapan Taeyeon, ‘dia mencintaimu Ahra-sshi’ kata-kata itu terus terniang di kepalanya dan itu membuatnya merasa seperti melayang di suatu tempat yang tidak bisa di definisikan olehnya.. perlahan ia mulai merasa pipinya memerah dan memanas, Taeyeon yang menyadari hal itu hanya tersenyum kecil.. melihat orang yang sedang jatuh cinta memang sesuatu yang selalu menyenangkan.
“Aku akan segera meninggalkan Korea, dan aku tidak bisa menghubungi Baekhyun.. jadi aku rasa menghubungi akan lebih mudah,”Taeyeon melanjutkan ucapannya, dan itu membuat Ahra sedikit tersedak karena terkejut.
“Unnie akan kembali ke Amerika?”
“Tidak, aku akan ke Paris.”
“Dengan Baekbeom ajubunim?”
“Ani, aku pergi sendiri.”
“Waeyo?”
“Karena aku sudah bukan tunangan oppa lagi.”

***
Ahra melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartement Baekhyun, sudah lama sejak ia tidak menginjakkan kakinya di tempat ini. Apartement Baekhyun menggunakan kode kunci untuk masuk dan sudah jelas Baekhyun tidak akan mengubah kode kuncinya apalagi disaat Ahra belum pulang selama dua minggu.
Kegelapan langsung menyambut Ahra ketika ia masuk ke dalam apartement tersebut, sepertinya Baekhyun belum pulang karena tidak ada tanda-tanda kehadiran namja itu di dalam apartement ini. Ahra melangkah perlahan untuk merabah dinding, mencari saklar lampu untuk setidaknya menghidupkan lampu di ruang tamu. Cahaya lampu langsung menyinari ruang tamu, membuat Ahra kini mampu melihat dengan jelas dan yang ditemukannya adalah Baekhyun saat ini sedang tertidur di atas sofa ruang tamu.
Ahra berjalan perlahan mendekat ke arah Baekhyun, ia berjalan sangat pelan berusaha untuk tidak membuat suara sedikit mungkin. Ia memandang wajah Baekhyun yang sedang tertidur pulas di atas sofa, nampak jelas sekali bahwa namja itu sangat lelah saat ini. Rasa bersalahpun menyelimuti tidak bisa berhenti menyelimuti Ahra, ia tahu semua ini adalah kesalahannya.. karena emosi sesaat ia melakukan hal konyol tanpa mau mendengar penjelasan dari Baekhyun karena mungkin saja Baekhyun punya alasannya sendiri mengapa ia berbohong dan tidak sepantasnya Ahra merasa marah.
Ahra melipat kakinya, menyamakan level matanya dengan wajah Baekhyun yang saat sedang tertidur. Tanpa terasa tangannya membelai lembut rambut Baekhyun… ya, dia merindukan namja ini..sangat merindukannya. Rasanya aneh ketika dua minggu terlewat tanpa namja ini di sampingnya dan ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa jika setelah mereka bercerai nanti, ia akan melewati hari-harinya tanpa Baekhyun.
“Euhmm euhmmm,” Baekhyun bergumam dalam tidurnya, dan setelah beberapa kali tidur satu ranjang dengan Baekhyun.. Ahra akhirnya tahu bahwa bergumam saat tidur adalah salah satu kebiasaan tidur seorang Byun Baekhyun. Ia tersenyum melihat Baekhyun masih bergumam dalam tidurnya, namun detik kemudian Ahra melihat sesuatu… air mata jatuh dari pelupuk mata Baekhyun. Baekhyun menangis dalam tidur.
Tangan Ahra tidak bisa berhenti bergetar, baru pertama kali ini dia melihat Baekhyun menangis seperti ini. Namja yang selalu terlihat percaya diri dan selalu melakukan hal-hal yang menyebalkan itu ternyata bisa menangis juga. “Wae Baekhyun? Kenapa kau menangis?” gumam Ahra lembut sambil menghapus air mata di pipi Baekhyun dengan jemarinya.
.
.
.
Dan bum!
Kedua mata Baekhyun tiba-tiba terbuka membuat Ahra tersentak ke belakang karena terkejut. Ahra hanya bisa terdiam sambil mengedipkan-ngedipkan matanya, melihat Baekhyun yang tiba-tiba menatapnya seperti itu membuatnya merasa sangat gugup. Setelah keheningan untuk beberapa detik, Ahra memberanikan diri mengeluarkan suara dengan berdehem pelan dan kemudian berdiri perlahan.
“Aku pulang,” gumam Ahra sambil membalikkan badannya, karena demi Tuhan ia ingin sekali menghindari tatapan Baekhyun saat ini. Ia bisa gila bila ia harus melihat Baekhyun menatapnya seperti itu, ia ingin melangkah menjauh.. ia ingin memberikan jarak beberapa meter dari Baekhyun agar ia setidaknya bisa menarik napas lega.
“Ahra-yaa~,” Ahra menghentikan langkahnya ketika ia mendengar Baekhyun memanggilnya, sudah lama ia tidak mendengar suara namja itu… dan ia tidak ingat sejak kapan suara Baekhyun bisa berubah menjadi selembut ini.
“Wae?” Ahra hanya bertanya lembut tanpa membalikkan badannya, ia tidak punya kekutan untuk menatap Baekhyun.. untuk saat ini, ia ingin sebisa mungkin mengindari tatapan Baekhyun.
Baekhyun tidak menjawab pertanyaan Ahra, ia bangkit dari sofa dan berjalan perlahan mendekat ke Ahra. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Ahra, memeluk gadis itu dari belakang… rasanya lega, ternyata Ahra yang dilihatnya saat ini bukan mimpi.. Ahra yang ada di dalam pelukannya saat ini adalah nyata.
Ahra yang terkejut karena tindakan Baekhyun yang terlalu tiba-tiba hanya bisa menahan napas, jantungnya berdetak lebih kencang tapi entah mengapa oksigen sepertinya tidak mengalir ke otaknya karena ia merasa kepalanya benar-benar kosong sekarang.
“Aku mohon Ahra, jangan pernah pergi dariku lagi,” gumam Baekhyun sambil menyandarkan dagunya di bahu Ahra, menghirup aroma tubuh gadis yang selama dua minggu dirindukannya itu. Ahra sebaliknya hanya mampu menutup matanya, ia tidak tahu harus menjawab apa lagi pada Baekhyun karena jawabannya sudah jelas… ia tidak ingin pergi jauh dari Baekhyun.
“Mianhe,” ucap Baekhyun sambil memperat pelukannya, ia benar-benar tidak ingin melepaskan gadis itu lagi… ia terlalu takut Ahra akan akan pergi lagi jika ia melepaskan pelukannya itu.
“Nado mianhe, Baekhyun-aah,” gumam Ahra pelan sambil memegang tangan Baekhyun yang saat ini melingkar di pinggangnya, keduanya hanya terdiam.. tanpa kata, tanpa tindakan.. hanya diam.. dengan saling bertukar suhu tubuh, saling menghirup aroma masing-masing, mereka berharap mereka akan saling mengerti perasaan yang ada di hati mereka, perasaan yang mungkin akan membawa mereka ke tempat yang paling bahagia.. karena tidak ada yang lebih baik dari perasaan yang saling berbalas.

***
“Apa yang kau lakukan pada rumah ini, Baek?” Ahra berjalan keliling ke dapur Baekhyun, matanya menyapu keadaan ruangan tersebut yang sepertinya sudah tidak bisa disebut sebagai dapur lagi. “Kau membuat tempat ini jadi sangat kacau, Baek,” ucap Ahra sambil membereskan sampah bekas bungkus makanan dan mangkuk kotor di meja makan.
“Apa kau tahu? Tenagaku sudah benar-benar habis untuk mencarimu, dan aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk membereskan ini semua,” ucap Baekhyun sambil duduk di kursi meja makan, mengamati Ahra yang mulai membersihkan segala kekacauan yang telah dibuatnya selama dua minggu terakhir ini. Menatap Ahra yang sedang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti ini, membuat Baekhyun merasakan bahwa ia benar-benar memiliki istri… dan entah mengapa di matanya kini Ahra terlihat lebih cantik dari biasanya.
“Yaa… yaa.. bilang saja kalau kau memang pemalas, tuan Byun,” ejek Ahra sambil memasang sarung tangan untuk mencuci piring.
“Aku bukan pemalas… aku hanya terbiasa hidup denganmu sebagai istriku yang selalu mengurusku,” Ahra hanya terdiam, mendengar kata ‘istrimu’ membuat wajahnya memerah, dan ia benar-benar tidak ingin Baekhyun melihatnya dengan wajah memerah seperti itu… jadi sebisa mungkin ia berusa mengendalikan emosinya dengan menarik napas pelan.
“Jika kau terus seperti ini, bagaimana kalau kita sudah bercerai nanti?” Ahra terdiam, kata-kata itu terucap begitu saja dari bibirnya.. dan ia bisa merasakan ada ketegangan di antara mereka setelah kata ‘perceraian’ kembali terucap.
Tidak ada suara… hening… Baekhyun tidak menjawab pertanyaan Ahra dan Ahra merasa ada yang aneh. Entah mengapa ia jadi takut Baekhyun pergi atau marah karena mendengar perkataannya. “Baek..,” Ahra membalikkan badannya dan kalimatnya terhenti ketika ia menemukan Baekhyun kini telah berdiri di depannya dengan jarak yang sangat dekat… sangat dekat hingga Ahra merasa oksigen di sekitarnya tersedot begitu saja karena sekarang ia merasa kesulitan bernapas.
“Aku hanya akan meminta hal ini darimu, dengarkan lah dengan baik… dan jawablah dengan kata ‘iya’ karena aku benar-benar hanya akan memintanya sekali,” ucap Baekhyun sambil menangkup wajah Ahra, membuat kedua mata gadis itu kini menatap matanya. “Maukah kau hidup sebagai istrikuuntuk selamanya, Byun Ahra?”
Ahra hanya bisa terdiam.. dia terlalu terkejut dengan pertanyaan Baekhyun itu.. otaknya tidak bisa berpikir dan tubuhnya tidak bisa bergerak. Ia merasa dirinya saat ini benar-benarcompletely paralyze.
Di sisi lain, Baekhyun merasa jantungnya benar-benar bisa lepas dari dadanya karena demi Tuhan jangtungnya berdegup terlalu kencang dan itu membuatnya merasa pusing. Mengatakan hal memalukan seperti ini memang benar-benar menghabiskan tenaganya, karena sekarang ia tidak punya tenaga untuk berpikir.. ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ahra hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaannya… dan itu membuat jantungnya semakin berdegup lebih lebih dan lebih kencang.
“Ahra-yaa… karena kau hanya diam maka aku akan menganggap kau telah menjawab ‘iya’.. jadi sekarang kau milikku selamanya,” ucap Baekhyun sebelum akhirnya mendaratkan bibirnya di bibir mungil Ahra, yaa… ia sudah tidak tahan lagi.. bisa-bisa ia mati gugup jika terus menunggu jawaban Ahra dan dengan mencium Ahra ia berharap setidaknya, kegugupannya bisa sedikit berkurang. Namun apa yang dipikirkannya ternyata salah, jantungnya semakin berdegup kencang.. apalagi Ahra hanya diam, tidak membalas ciumnnya sertaadanya kemungkinan gadis itu akan mendorong tubuhnya dan menolak ciumannya.. membuat Baekhyun merasa lebih gugup.
Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena Ahra kemudian menyambut ciuman Baekhyun. Ia melingkarakan lengannya di leher Baekhyun dan berjinjit untuk menjangkau serta memperdalam ciumannya. Ada rasa lega yang tersalur pada ciumannya itu, rasa lega karena beban yang ada di dalam hatinya kini semuanya terasa terangkat begitu saja. And here they go.. that feeling really make their kiss become more passionate than the other kisses that they ever shared.
Passionate kiss, diiringi dengan suara decakan lidah, dan sentuhan lembut Ahra membuat Baekhyun menginginkan lebih… ia menginginkan Ahra secara total. Dan keinginan itu membuat Baekhyun menarik tubuh Ahra semakin mendekat, dan tanpa ia dasari.. ia telah menuntun tubuh mereka masuk ke dalam kamar.
Baekhyun melepaskan ciumannya ketika mereka telah berada di dalam kamar, ini seperti magic karena dalam waktu beberapa detik dan tanpa mereka sadari mereka telah berpindah dari dapur ke dalam kamar. Sebenarnya situasi ini terasa sangat canggung, tapi tatapan Baekhyun pada Ahra saat ini sangat lembut… benar-benar lembut hingga membuat rasa canggung itu sirna terganti oleh hasrat untuk saling memiliki dan saling menyatu.
“Kau benar-benar milikku sekarang,” bisik Baekhyun lembut, membuat Ahra tidak bisa berhenti tersenyum dan memerah… untung mereka belum sempat menyalakan lampu kamar jadi Baekhyun tidak bisa melihat wajah Ahra yang memerah.. kalau saja Baekhyun bisa melihat wajahnya sekarang, Ahra benar-benar akan merasa sangat malu.
“I’m totally yours, Baekhyun-aah.. so take me,”bisik Ahra sebelum menjatuhkan ciuman di bibir Baekhyun. Tidak ada lagi keraguan, semuanya sudah jelas… mereka saling mencintai dan saling menginginkan satu sama lain. Dan blum! Bisikan dan ciuman Ahra saat ini seolah menjadi undangan untuk Baekhyun.. undangan untuk menyatukan tubuh mereka dibawa rasa sadar dan hasrat yang menyelimuti mereka saat ini.
Baekhyun membalas ciuman Ahra, dan perlahan tangannya mulai menyusup di ujung baju Ahra, memberikan sensasi aneh seperti sengatan listrik di sepanjang tubuh Ahra. Sarung tangan yang tadinya dikenakan Ahrapun mulai terlepas satu persatu diikuti dengan terlepasnya pakaian Ahra, dan saat ini tubuhnya hanya terbalut pakaian dalam tipis. Walaupun tidak ada cahaya lampu yang menerangi kamar, namun cahaya malam masih mampu menembus mewati celah-celah jendela kamar Baekhyun dan cahaya itu cukup untuk menerangi bagian tubuh mereka yang terbuka tanpa balutan kain itu.
Baekhyun membaringkan tubuh Ahra di atas tempat tidur, memberikan posisi yang nyaman bagi mereka berdua. Baekhyun meletakkan kedua sikunya disamping kepala Ahra untuk menopang tubunya, ia tidak ingin memberikan beban pada Ahra mengingat Ahra sedang hamil saat ini. Ia melepaskan ciumannya dan menatap wajah Ahra, menyingkirkan helaian rambut yang menutup wajah Ahra… di bawah sinar bulan seperti ini, sama seperti pertama kali mereka berada di posisi seperti ini beberapa bulan yang lalu, Ahra masih terlihat cantik. Sangat cantik untuk membuat Baekhyun tidak bisa berhenti menyentuh gadis itu.
“Kau sangat cantik Ahra,” gumam Baekhyun… dan itu seperti dejavu bagi Ahra, walaupun saat itu ia mabuk.. tapi kini ia bisa mengingat bahwa Baekhyun mengatakan hal yang sama saat itu dan itu tidak bisa membuat Ahra berhenti bersemu merah.
Baekhyun tersenyum dan mendaratkan ciuman di kening Ahra, kemudian di kedua pipi Ahra, di kedua mata Ahra, di hidung Ahra, dan di bibir Ahra… ia seolah ingin menjelajahi seluruh tubuh gadisnya itu dengan ciumannya. Tidak berhenti disitu, kini ciumannya semakin turun ke leher jenjang Ahra, meninggalkan bekas kemerahan yang besok akan mengingatkan mereka pada segala sesuatu yang sedang mereka lakukan saat ini. Ciuman yang semakin turun itu, membuat Ahra mengeluarkan suara rintihan lembut.. hingga ciuman itu telah sampai di dadanya, tanpa disadarinya ia mengangkat bahunya.. mempermudah Baekhyun melepaskan branya dalam sekali gerakan.
Dan ternyata, berada di bawah Baekhyun dengan bagian atas yang terbuka tanpa tertutup sehelai kain dan dengan keadaan sadar adalah sesuatu yang sangat memalukan bagi Ahra karena secara refleks ia langsung menutupi bagian dadanya begitu Baekhyun hanya terdiam memandangnya. “Jangan menatapku seperti itu,” ucap Ahra sambil mengalihkan padangannya.
“Apa kau tahu? Sebenarnya aku tidak pernah tertarik dengan gadis berdada datar sepertimu,” ucap Baekhyun sambil tersenyum, membuat Ahra melotot ke arah Baekhyun penuh dengan rasa tidak percaya…’oh God! Ini benar-benar memalukan’ gumam Ahra dalam hati, ia merasa sangat malu saat ini… ia tidak pernah berpikir melakukan hal seperti ini ternyata bisa sangat memalukan. “Tapi entah mengapa sekarang aku merasa dada datarmu sangat indah,” ucap Baekhyun tanpa berhenti tersenyum, dan Ahra hanya bisa memerah karena demi Tuhan apa yang dikatakan Baekhyun benar-benar memalukan.
“Berhentilah mengatakan hal-hal yang memalukan, Byun Baekhyun,” ucap Ahra kesal, namun Baekhyun hanya membalasnya dengan senyum. Ia menarik lembut tangan Ahra, dan menahannya di samping kepala Ahra, membuat bagian dada gadis itu kembali tereskpos di depan Baekhyun.
“Kalau begitu, berhentilah menutupinya karena aku menginginkannya,” dan dengan itu.. mereka kembali menyatu dalam gerakan lembut dan suara rintihan halus yang terdengar seperti musik di sepanjang malam yang indah itu. Mereka kembali menyatu dengan keadaan sadar dan yakin akan perasaan mereka masing-masing. Dan selama hidup mereka, mereka akan mengingat malam ini sebagai malam pertama bagi mereka.

***

 

Matahari sepertinya sudah mulai menunjukkan wujudnya di atas langit, karena sinar-sinarnya kini mulai menyinari bumi dan memasuki sebuah rungan bernuasan putih melalui celah-celah jendela yang terbuka. Ahra bisa merasakan panasnya sinar matahari yang menyentuh tubunya, membuat ia menggeliat dalam tidurnya. Ia mulai mengangkat tangannya perlahan, berusaha menghalau sinar matahari yang mau tidak mau membuatnya terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan, dan menemukan tubuhnya masih telanjang di bawah selimut putihnya. Ia meneloh ke samping, Baekhyun masih tertidur dengan posisi terlentang.. memperlihatkan bagian dadanya yang tidak tertutup selimut. Melihat Baekhyun seperti ini, membuat Ahra teringat saat pertama kali ia terbangun di kamar ini dengan keadaan yang tidak jauh beda dengan keadaannya saat ini. Saat itu ia sangat histeris hingga ia melakukan hal-hal konyol sampai melempar celana dalam Baekhyun tempat ke wajah namja itu. Mengingat hal itu, membuat Ahra tersenyum geli… ia merasa geli dengan hubungannya dengan Baekhyun saat itu. Hubungan yang tidak bisa dijelaskan dengan mudah… hubungan permusuhan yang membawa mereka berakhir telanjang di atas ranjang.
Tanpa berhenti tersenyum, Ahra mengelus lembut wajah Baekhyun… merasakan kulit lembut Baekhyun dengan sentuhan halusnya. Pandangannya terjatuh pada bibir tipis Baekhyun dan ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium namja yang sedang tertidur itu. Dan akhirnya ia mendaratkan ciuman lembut di bibir Baekhyun, menempelkan bibirnya pada bibir Baekhyun membuat ia bisa merasakan betapa lembutnya dan hangatnya bibir namja itu. Ia benar-benar tidak ingin melepaskan bibirnya dari bibir tipis Baekhyun, sepertinya ia telah kecanduan dengan sensasi ketika bibir mereka saling bersentuhan seperti ini.
“Berhentilah menciumku jika kau tidak ingin berakhir di atas ranjang seharian,” gumam Baekhyun di antara ciuman tersebut, membuat Ahra langsung tersentak ke belakang.
“Kau… kau sudah bangun?” tanya Ahra sedikit terbatah, ia benar-benar terkejut.. ia tidak menyangkah Baekhyun ternyata sudah bangun.
“Bagaimana kau tidak bangun jika ada seseorang yang menyerangmu tiba-tiba seperti ini?” ucap Baekhyun sambil menguap pelan dan terduduk menghadap Ahra.
“Siapa yang menyerangmu? Aku tidak melakukan hal semacam itu,” ucap Ahra dengan wajah yang memerah tanpa menatap Baekhyun, ia benar-benar malu saat ini karena ketahuan mencium namja itu diam-diam.
“Jadi mencium seseorang yang sedang tidur itu tidak dikategorikan sebagai ‘menyerang’?” tanya Baekhyun sambil mengangkat sebelah alisnya, memberikan tatapan menggoda pada Ahra yang saat ini hanya bisa bersemu merah.
“Terserah padamu, Byun Baek.. aku mau mandi,” ucap Ahra sambil menarik selimutnya, ia hendak bangkit dari tempat tidurnya namun Baekhyun lebih dulu menggapai tangannya dan mengurungnya di bawah tubuh namja itu.
“Bagaimana mungkin kau meninggalkan seorang namja sepertiku setelah menyerangnya secara tiba-tiba seperti tadi?” ucap Baekhyun sambil menunjukkan seringain khasnya. “Sekarang kau harus bertanggung jawab, Byun Ahra,” ucap Baekhyun sebelum akhirnya menjatuhkan ciuman di bibir Ahra. Ahra tersenyum dan kemudian membalas ciuman Baekhyun, ya.. karena sebenarnya ia juga menginginkan ciuman ini.. jadi tidak masalahkan jika ia menghabiskan waktu beberapa jam lagi di atas tempat tidur untuk sesi bercumbu di pagi hari?
Keadaan baru saja akan memanas sampai Ahra mendengar suara bel pintu aparment Baekhyun…
Ting tong ting tong…
“Baekhyun, ada seseorang diluar,” ucap Ahra sambil berusaha mendorong tubuh Baekhyun yang saat ini sedang menciumi lehernya.
“Sudah lah, biarkan saja,” gumam Baekhyun tanpa menghentikan aktivitasnya.
“Baekhyun hentikan, bagaimana jika itu adalah orang tuamu?” ucap Ahra sambil mendorong tubuh Baekhyun lebih kuat, dan sepertinya kali ini usahanya berhasil karena Baekhyun telah menghentikan aktivitasnya.
“Sial,” gumam Baekhyun sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur, membuat Ahra hanya bisa tertawa kecil melihat betapa tidak sabarnya seorang Byun Baekhyun.

***

“Siapa?”tanya Baekhyun sambil mengenakan kaos bewarna hitamnya ketika Ahra menghidupkan layar kamera di depan pintu untuk melihat siapa yang datang.
“Minyeong,” ucap Ahra begitu melihat ternyata yang saat ini sedang berada di depan pintu apartement Baekhyun adalah Minyeong, sahabatnya.
“Tahu begitu, kita tidak perlu menghentikan aktivitas kita tadi,” ucap Baekhyun sambil memeluk Ahra dari belakang.
“Cukup Baekhyun, kau benar-benar seorang byuntae,” Ahra memukul lengan Baekhyun keras, membuat namja itu melepaskan pelukannya dan merintih kesakitan.
“Ahra-yaa, bisakah kau berhenti menggunakan kekerasan di dalam rumah tangga?” ucap Baekhyun sambil mengusap lengannya yang terasa perih karena pukulan Ahra, namun Ahra hanya membalas jawaban Baekhyun dengan mengeluarkan lidah mengejak namja itu dan kemudian berlari ke arah pintu apartement.
Baru saja ia membuka sebagian pintu apartemntnya, Minyeong sudah langsung memeluk Ahra dengan menangis sesenggukan. Ahra hanya bisa terdiam, ia terkejut dengan tingkah Minyeong saat ini. Ia melirik Baekhyun dan memberikan tatapan penuh tanya pada Baekhyun yang hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh namja itu.
“Ahra-yaa… Chanyeol selingkuh,” gumam Minyeong dalam sesenggukannya.
-bersambung-
Anyeeeong~
Wah, kayaknya sudah lama kita tidak bertemu para readers! Maaf karena updatean kali ini terbilang jauh lebih lama daripada updateanku biasanya. Kuliah membuatku sangat sibuk, dan lelah… jadi tiap pulang kuliah aku langsung tepar di atas tempat tidur bahkan kadang aku udah tidur tanpa sempat belajar atau melakukan mengerjakan tugas. And then part ini jadi sedikit terbengkalai.. mian mian *bow
Wah, karena ternyata readers ini lumayan banyak dari yang aku perkirakan.. aku memutuskan untuk tidak memprotect part ini karena ya.. sepertiya aku gg akan sanggup membalas mention atau chat dari kalian satu per satu, mengingat quota internetku yang terbatas… jadi sorry bagi kalian yang mention atau chataku tapi belum sempat aku balas.. sorry banget.. *sekali lagi bow
Sepertinya part selanjutnya juga akan sedikit lama, karena aku harus menyiapkan mid test dan ujian selama dua minggu ke depan. Jadi aku mohon kalian tetep bersabar ya…
Tenang saja, karena sebagai bentuk penghargaanku bagi kalian yang sudah setia membaca ff ini dan meninggalkan ff koment di ff ini… aku mau berjanji sesuatu… aku mau mengadakan giveaway poster Growl bertandangan EXO OT12 milikku jika koment di part ini mencapai 600 sebelum part selanjutnya dipublish. Berhubung disini aku gg bisa upload gambar posternya, maka kalian bisa liat gambarnya di favorit twitter aku (@lukibaekhunniee)… jadi kalian aku harap kalian tetap semangat dan mau berkenan meninggalkan komen kalian di ff ini.
Btw, ini adalah pertama kalinya aku menulis adegan rated M dengan bahasa Indonesia, dan ini benar-benar membuatku malu sendiri ketika membacanya.. jadi aku gg melakukan review di part ini… so, kalau ada typo atau semacamnya.. aku minta maaf. Aku udah mau kabur aja pas nulis ini… jadi ya…. beginilah hasilnya, mohon dimaklumi… hahahaha

Ehm.. aku rasa udah terlalu panjang… happy reading chinggu! Bye~

Semoga hari kalian menyenangkan…
Love you guyssss~
Anyeoeeeng~

523 responses to “[Freelance] Having Baby with My Enemy Mr. Byun Baekhyun (Chapter XI)

  1. kasian baekki ,, ditinggal ahra sampek 2 minggu, padahal kan cuma salah paham.
    untung aja mereka udah baikan. n janji buat jadi suami istri selamanya ..
    yeayy…

    aduhh, minyeong pagi pagi gangguin pasangan Baek-Ra,,
    Chanyeol masa selingkuh sih??

  2. Pertengkaraan rumah tangga yang sedikit errrggg..
    Oiya aku kira Taeyeon akan jadi orang ketiga di antara Baekhyun dan Ahra, ya walaupun sempat jadi orang ketiga tapi tidak sepenuhnya sih..
    End aku senang di chap ini karena Baekhyun dan Ahra akhirnya berbaikan deh 😀 senangnya melihat mereka berbaikan dan sweet2an mek gini  (o^^)o tapi aku juga sedih di chap ini 😦 kenapa Chanyeol bisa selingkuhin Minyeong kan kesian minyeongnya dan aku juga kesian sama cabe, karena acaranya terganggu.. Hahahhaha

  3. Duh duhh suka banget sama pasangan ini, dri awalnya mereka kusuh bebuyutan jadi romantis gini aaaaa, kasian byunbaek ditinggal haha
    Minyeong ganggu pas lagi adegan romance mereka😂😂
    Udah baca ulang ulang gak bosen bosen sama ff ini, kapan dilanjutin? Udah lama nunggu loh😢 setiap nyari di google cuma baru sampe chap 13 yaaah,
    Jjang buat author yeay💘💘💘

  4. Kayaknya aeri kencan nya sma luhan deh.
    Yeay, akhirnya, itu pasangan (byunbaek-ahra) bersatu juga, baik pernikahan maupun hatinya,
    .
    APAAAA?? CHANYEOL SELINGKUH? O,O ANDWE..

  5. thor, chapter 14 nggak di update yaa, seru nih thor bagus juga, bikin greget, ayo thorr jangan gantungin aku, mian thor tiba tiba nongol, maapkan dakuu
    salam kenal thor. ditunggu banget kan nanggung tinggal dikit.
    안영 언!!

  6. thor chapter 14 sampek ending buruandi update, sumpahh thor, tega banget gantungin ane, mian tapi ane sudah waiting for long looo, 안영 maap eon,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s