[Freelance] DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 10)

LUSERADBM12

DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 10)

Author :: Sangheera

Title :: Devil Beside Me (Chapter 10)

Cast :: Luhan of EXO as Angel, Kris of EXO as Devil, and Sera (OC) as Devil

Support Cast :: Angel’s line – Suho, Xiumin, Chen, Lay, Kyungsoo.

Devil’s Line – Baekhyun, Chanyeol, Kai, Sehun, Tao

Genre :: Sad, Romance, Fantasy

Length :: Multi Chapter

Rating :: Rated M (Warning!! Jigeum wihomhaee~!!)

Disclaimer :: Fanfict ini adalah hasil dari kerja keras neuron di otak kanan author sendiri, jadi mohon jangan diplagiat yaaa…

-o0o0o0o-

 

No one can separate us
Even if you were reborn again
You’ll never find another love like ours
I breathe only to protect you
(I Love You Oh Thank You – MC Mong)

:: Flashback – 30 menit sebelum Sera berkonfrontasi dengan para malaikat ::

“Katakan padaku, Xiumin.”Luhan menggenggam tangan Xiumin erat. Menuntut jawaban. Entah mengapa jantungnya berdetak lebih cepat ketika ia tahu kisah tentang Lucifer dan Seraphim adalah benar adanya. “Dimana Lucifer berada?”

Xiumin mendongak menatap Luhan yang beberapa centi lebih tinggi darinya. Mata pria itu menatap Luhan dengan tatapan yang sulit Luhan mengerti. Kemudian bibir Xiumin bergerak, membentuk sebuah kalimat. “Lucifer sekarang terkunci disuatu tempat. Dan tidak ada yang boleh membebaskannya…”

“Terkunci?”

“Hm…”Xiumin mengangguk dan melepas tangan Luhan dari lengannya. “Tidak ada yang tahu dimana dirinya sekarang,”lanjut Xiumin. Malaikat itu bergerak untuk menaruh buku ditangannya kembali ke-rak buku. Matanya melirik pada Luhan yang masih nampak mengeryit, belum puas dengan penjelasannya tadi. Xiumin menghela napas panjang.

Lalu kegaduhan itu menarik perhatian Xiumin dan Luhan. Xiumin berjalan menuju jendela dan menengok keluar. Semburat merah menyala dilangit dunia atas menandakan ada sesuatu yang tidak wajar terjadi didunia para manusia.

“Ada apa ini?”tanya Xiumin yang dijawab Luhan dengan gelengan kepala. Xiumin melihat sesosok malaikat yang nampak terburu-buru menuju istana. Xiumin memanggilnya.

“Namjoo!”

Malaikat bernama Namjoo itu menoleh, melihat Xiumin yang memanggilnya, Namjoo berteleport sejauh yang ia bisa agar segera sampai ditempat Xiumin berada. Dihadapan Xiumin ia membungkuk penuh hormat. Xiumin memiliki pangkat yang lebih tinggi daripada Namjoo.

“Ada apa anda memanggil saya, tuan?”tanya Namjoo.

“Apa yang terjadi? Semburat merah ini mengabarkan apa, Namjoo?”

 

Luhan yang berdiri dibelakang Xiumin ikut menunggu jawaban dari Namjoo. Perasaannya tidak enak melihat warna merah mewarnai langit dunia atas hari ini.

 

“Ada seorang iblis yang mengacau, tuan. Ia membunuh manusia dihadapan manusia lain. Membuat keributan dipusat kota Seoul Korea Selatan…”lapor Namjoo.

Xiumin tersentak mendengar laporan dari Namjoo. Ia sudah bisa menebak siapa iblis yang Namjoo maksud. Tapi keterkejutan Xiumin tidak sebanding dengan apa yang Luhan rasakan. Luhan serasa baru saja tersengat listrik jutaan volt. Tubuhnya mendadak kaku.

Sera…

“Tidak hanya sampai disitu. Sekarang ia mengancam salah satu saudara kita yang bernama Sandara. Iblis itu bersikeras ingin datang kedunia atas…”Namjoo melirik sedikit kearah Luhan. “Katanya ia ingin bertemu dengan tuanku Luhan…”

“Gadis itu…”Xiumin menoleh kearah Luhan, ia ingin melihat bagaimana reaksi Luhan mendengar berita ini. Tapi Luhan masih hanya diam mematung. Mata pria itu membulat, dia sungguh nampak sangat shock mendengar kabar ini.

“Kau berniat melaporkan ini pada raja?”tanya Xiumin pada Namjoo.

Namjoo mengangguk sopan, “Iya, tuan.”

Xiumin mengulurkan tangannya, Namjoo buru-buru menengadahkan tangan siap menerima pemberian Xiumin. Sebuah kristal teleport.

“Itu lebih cepat membawamu ketempat Suho. Pergilah…”kata Xiumin. Namjoo tersenyum dan membungkuk hormat untuk pamit. Lalu kemudian gadis malaikat itu menghilang dari hadapan Xiumin.

Langsung berteleport ke Hall tempat Sang Raja Suho berada.

Xiumin berbalik kembali pada Luhan. “Lalu, Lu… ukh!”

Mata Xiumin membelalak. Tangannya bergetar, terangkat menyentuh sebuah benda asing yang sekarang menancap diperutnya. Xiumin menatap sosok didepannya dengan tatapan tak percaya. “Luh… A-apa yang kau lakukan?”

“Maafkan aku, Xiu…”ucap Luhan dengan nada penuh penyesalan. Tangannya masih memegang gagang belati yang ia tancapkan keperut Xiumin. “Aku harus pergi.”

“Tidak, Luhan. Kau tidak boleh pergi…”Xiumin menahan lengan Luhan kuat-kuat. Tapi rasa sakit diperutnya membuat kekuatan Xiumin tak berarti. Luhan melepas tangan Xiumin dilengannya dan berganti menggenggam jemari sahabatnya itu erat.

“Aku tidak melukai daerah vitalmu, Xiu. Kau akan baik-baik saja. Aku akan segera memanggil Lay setelah aku berhasil keluar dari sini…”

Wajah Luhan berangsur-angsur berubah begitu juga dengan tubuhnya. Sebuah sihir untuk merubah wujud melingkupinya dan Xiumin. Sekarang Xiumin berhadapan dengan kembaran dirinya. Luhan mengcopy tubuh Xiumin lalu mempaste pada dirinya, membuatnya berubah persis seperti bentuk tubuh dan wajah Xiumin.

“Maafkan aku… Xiu…”ujar Luhan sekali lagi sebelum akhirnya ia meninggalkan Xiumin yang tergeletak dilantai dan telah kehilangan kesadarannya. Ia harus melakukan ini, ini satu-satunya cara yang terlintas diotaknya agar ia bisa kabur. Luhan ingin melihat keadaan Sera. Ia ingin sekali menemui gadis itu.

Luhan yang sekarang berbentuk seperti Xiumin, keluar dari kamar. Ia bertemu dengan penjaga-penjaga yang berdiri tegap waspada diluar kamarnya. Para penjaga itu menunduk hormat, tertipu dengan penyamaran Luhan. Dengan wujud seperti ini, tidak ada satupun malaikat penghuni istana yang menyadari bahwa malaikat yang berjalan dengan langkah panjang meninggalkan istana itu adalah Luhan.

Sepersekian detik setelah Luhan meninggalkan istana, tempat itu berubah gempar karena Lay yang dihubungi Luhan lewat telepati menemukan Xiumin yang tergeletak dilantai kamar Luhan dengan belati kecil terbenam diperutnya.

Luhan berlari, berteleport, mengepakkan sayapnya sebanyak yang ia bisa. Ia ingin secepat mungkin sampai ketempat tujuannya. Anehnya dunia atas, semua hal disini berbau magic, sehingga semua magic yang Luhan dan malaikat lain punya akhirnya jadi memiliki banyak keterbatasan. Kekuatannya tidak sebesar ketika makhluk ini berada didunia manusia yang udaranya masih sangat netral dan rasional tanpa sihir apapun.

“Ada seorang iblis yang mengacau, tuan. Ia membunuh manusia dihadapan manusia lain. Membuat keributan dipusat kota Seoul Korea Selatan…”

Kata-kata Namjoo tadi terngiang ditelinga Luhan. Tidak mungkin. Sera-nya tidak mungkin melakukan hal keji semacam itu. Oh… Lu, apa kau lupa siapa kekasihmu itu? Dia iblis, tentu saja iblis bisa melakukannya. Hanya saja kali ini Sera memang keterlaluan karena membunuh manusia secara langsung dengan kekerasan, bukan dengan cara mencabut jiwa/ruh didalam tubuh seperti yang biasa malaikat dan iblis pencabut nyawa lakukan.

Apalagi gadis itu melakukannya ditengah-tengah kota, dihadapan manusia lain, dan manusia yang ia cabut nyawanya belum selayaknya mati hari ini. Sera telah membuat kegemparan, mengacaukan jadwal dan takdir manusia. Hal yang seharusnya tidak boleh ia lakukan. Entahlah apa yang akan dilakukan dunia atas untuk memperbaiki ‘kerusakan’ yang Sera buat.

Atau mungkin, Sera tidak merusak apapun? Karena memang takdirnya seperti ini? Takdir yang membawa Luhan mengambil keputusan nekad untuk melukai sahabatnya hanya agar dirinya bisa leluasa mengcopy-paste wujud Xiumin dan kabur dari istana. Takdir yang membawa Sera untuk bertemu lagi dengan Luhan. Entahlah.

Yang jelas, Luhan sudah jauh meninggalkan istana ketika Suho mendengar bahwa Luhan kabur. Dan Luhan telah sampai di Hutan Pertama saat prajurit istana disebar untuk mencari malaikat pembangkang itu. Hutan Pertama adalah tempat dimana portal menuju dunia manusia berada. Jika saja Suho tidak merampas ‘kunci’ Luhan, pasti pria itu bisa membuka portal kedunia manusia sesuka hatinya—dimanapun dan kapanpun. Tapi karena Luhan tidak memegang kuncinya, satu-satunya jalan untuk bisa kedunia manusia adalah lewat portal yang ada di Hutan Pertama. Portal di Hutan Pertama selalu dalam keadaan terbuka dan malaikat yang menggunakannya tidak perlu menggunakan kunci atau paspor apapun.

Sampai didepan portal, Luhan bertemu dengan Elpham. Pohon tua yang memiliki wajah besar dibatangnya. Elpham adalah pohon pertama yang tumbuh didunia atas. Ia adalah penjaga portal, dan penyeimbang teknologi dan alam didunia atas.

“Elpham, aku haturkan salam hormat padamu…”ujar Luhan sambil membungkuk penuh hormat pada pohon suci tersebut. Luhan telah kembali kewujud aslinya.

Elpham membentuk sebuah senyuman dibatang-nya yang keriput. “My deer… Luhan… Kau akan pergi kedunia manusia?”tanya Elpham dengan suara serak dan beratnya.

Luhan mengangguk kecil. “Ya, ada yang harus aku lakukan disana…”

“Oh, anakku. Apakah melindungi gadis itu lebih penting dari apapun didunia ini?”

“Ya, Elpham. Aku tahu aku tidak boleh seperti ini, aku salah karena kabur dari dunia ini. tapi aku sungguh tidak bisa membiarkan Sera begitu saja. Aku mencintai Sera dan aku yakin bahwa aku ditakdirkan hidup dan bernapas agar aku bisa melindunginya dan membahagiakan gadis itu.”

Elpham memejamkan matanya yang sewarna kayu. Menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata pelan. “Luhan, ketika kau memutuskan kembali kedunia itu, maka takdirmu akan kembali bermuara ke tempat yang sama seperti ribuan tahun yang lalu. Suho akan mendapatkan kesia-siaan saat ia tahu kau melangkah kejalan yang sama, nak…”

Luhan mengeryit bingung. Ia sungguh tidak mengerti dengan maksud ucapan Elpham. Takdir ribuan tahun yang lalu? Takdir apa?

“Sudahlah, bukankah kau tidak punya banyak waktu? Pergilah, nak. Bahkan jika seluruh dunia menentangmu, Elpham ini akan terus selalu mendoakan kebahagianmu.”Elpham tersenyum hangat dan menggerakkan dahannya untuk menyentuh kepala Luhan.

Luhan tersenyum. Hatinya bungah mendengar kata-kata Elpham. Luhan seolah mendapatkan kekuatan baru. “Terima kasih, Elpham…”ujar Luhan sembari membungkuk hormat. Kemudian pria itu melangkah menuju portal dan melintasinya. Pergi menuju dunia manusia.

Elpham melihat kepergian Luhan dengan tatapan sedih. “Yang Maha Kuasa, Elpham memohon pada-Mu bukan hanya untuk kebahagiaan Luhan, tapi juga untuk kebahagiaan Sang Malaikat Malang, Seraphim. Saya mohon lindungilah mereka berdua…”

:: Flasback End ::

Tes. Tes. Tes.

Butiran air menetes dari pakaian yang Sera pakai. Membasahi lantai kayu dibawah kakinya. Sera masih tidak bergeming, hanya tubuhnya yang terguncang pelan karena isakan tangisnya yang belum mau berhenti. Sedangkan lelaki dibelakangnya—lelaki yang selama seminggu ini begitu ia rindukan—masih memeluk tubuh Sera erat. Napas lelaki itu menyapu leher Sera. Sesekali berganti dengan sapuan lembut dari bibir.

“Maafkan aku, Sera…”

Sera menggigit bibirnya. “Aku membencimu, Lu. K-kau jahat…”kata Sera dengan suara serak dan tersendat.

Luhan mendesah pelan. Merasa bersalah. Dibaliknya tubuh Sera, dan hatinya terasa teriris saat melihat mata gadis itu membengkak karena terlalu banyak menangis, basah oleh airmata. “Uljima, sayang…”Jemari Luhan menghapus aliran air bening dipipi Sera. Rasanya seperti menyentuh air mendidih. Tapi Luhan tidak peduli. Lihat, seorang iblis telah menangis dihadapan Luhan. Pasti hati iblis ini begitu sakit hingga airmata bisa meleleh dari mata indahnya.

Sera menggeleng dan menunduk. “Aku akan menangis sebanyak yang aku mau. Jangan pedulikan aku lagi, Lu…”

“Sshh… kumohon jangan bicara seperti itu. Aku tahu aku salah, tapi sungguh itu bukan kemauanku, Sera. Ada hal-hal yang membuatku terpaksa pergi meninggalkanmu. Keputusan bodoh karena ternyata kau dan aku tidak bisa hidup tanpa satu sama lain…”Luhan mengecup dahi Sera pelan. “Bahkan aku tidak merasakan kedamaian saat pulang kedunia atas. Aku tersiksa karena merindukanmu, Sera.”

Sera tersentuh oleh kata-kata Luhan. Wajahnya mendongak menatap wajah tampan milik sang malaikat yang mencintainya. Luhan tersenyum. Membelai lembut kulit wajah Sera. Bahkan walaupun Sera sekarang dalam keadaan basah kuyup, kotor, mata membengkak, dan wajah sembab, Sera tetap gadis tercantik baginya.

“Kau harus membersihkan tubuhmu, sayang. Bajumu basah. Aku tahu kau tidak akan sakit walaupun kehujanan selama setahun penuh, tapi tetap saja aku tidak tega melihatmu basah seperti ini. Aku akan memasak makan malam untukmu sementara kau mandi…”

“Kau tidak akan pergi lagi kan?”tanya Sera cemas. Gadis itu menggenggam kuat-kuat bagian depan kemeja Luhan. Ia takut, jika sedetik saja Sera mengalihkan pandangan dari pria itu, Luhan mungkin akan menghilang lagi. Tapi Luhan menggeleng dan meyakinkan gadis itu bahwa ia akan tetap bersamanya sekarang.

“Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Percayalah padaku, Sera…”Luhan mengusap kepala Sera. “Saat kau selesai mandi, kau akan menemukanku sedang memasak didapur.”

Sera tersenyum. Sedikit kaku karena wajahnya membengkak. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk Luhan.

“Aku mandi dulu, ya…”

Luhan mengangguk lalu melepaskan gadis itu untuk pergi kekamar mandi. Sesekali Sera berhenti untuk menengok kebelakang memastikan Luhan masih ada disana.

Ya, Luhan masih disana. Bersamanya.

Senyum diwajah Luhan mendadak lenyap digantikan raut wajahnya yang nampak khawatir. Luhan sempat melihat mayat manusia yang digotong kedalam ambulans itu dan wajah-wajah takut penduduk kota yang melihat perbuatan Sera. Gadisnya itu telah membunuh seorang manusia. Pasti itulah yang membuat seorang iblis mengincar nyawa Sera untuk menghukumnya.

Saat Luhan sampai didunia manusia, objek yang pertama ia lihat adalah Sera yang sedang menodongkan pedangnya keleher Sandara—malaikat klan Raphael. Tapi kemudian ia melihat hal lain yang membuatnya panik setengah mati. Seorang iblis dengan mata tajam membidik kearah Sera dengan busur dan panahnya. Tepat saat panah itu dilepas, Luhan berteleport dan memeluk Sera. Saat jarak antara tubuh Luhan dan panah itu tinggal sejengkal, Luhan berteleport lagi dan membawa gadis itu pergi sejauh mungkin.

Luhan mengangkat kedua telapak tangannya. Melihat bagaimana jemarinya masih gemetar karena panik yang melandanya tadi. Syukurlah aku datang tepat waktu, gumam Luhan sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. Luhan ngeri membayangkan apa yang akan terjadi pada Sera jika ia terlambat sedetik saja.

Luhan menghela napas berat. Dia dan Sera benar-benar dalam masalah besar sekarang. Sera yang harusnya dieksekusi dan Luhan yang harusnya menjadi tawanan, telah kabur. Karena kejadian ini, dirinya dan Sera pasti akan menjadi objek buruan penduduk dunia atas dan dunia bawah.

Mata pria itu kemudian menyapu pondok tempatnya berada. Luhan berjalan keluar, membuka pintu yang terbuat dari kayu dan mendapati dirinya berada diteras sebuah rumah kayu yang menempel disebuah pohon besar. Jauh diketinggian. Rumah pohon yang cantik sekali. Ini adalah rumah pohon milik Luhan, tempat dimana ia sering datang untuk menyendiri dan menikmati kesunyian didunia manusia. Hutan disini masih sangat perawan. Belum pernah ada manusia yang datang ketempat ini. Yang itu juga berarti tidak ada iblis maupun malaikat yang pernah datang kesini. Karena, jika tidak ada manusia, mereka tidak punya urusan untuk datang ketempat ini.

Tempat ini tempat sempurna bagi Luhan dan Sera untuk bersembunyi.

Luhan mengucap mantra dan menebar jaring-jaring ghaib yang akan melindungi rumah tempat Sera dan dirinya berada. Rumah ini akan berubah tak kasat mata, bahkan oleh makhluk astral sekalipun. Luhan memandang daerah disekitarnya sambil berpikir. Apakah cukup hanya rumahnya saja yang ia mantrai? Pulau ini tidak besar, sepertinya Luhan mampu jika menebar jaring ghaibnya untuk menutupi seluruh pulau.

Tapi baru saja Luhan hendak mengembangkan sayapnya, ia ingat. Malaikat biasa yang satu level dengan Luhan mungkin memang tidak akan menemukan pulau ini, tapi tidak dengan Suho. Suho pasti bisa mendeteksi jika ia merasakan ada sinyal dari sihir Luhan ditempat ini. Apalagi jika sihir itu menyebar diseluruh pulau.

“Ini saja sudah cukup, kurasa…”gumam Luhan. Mengingat bagaimana sihir yang ia gunakan dan mungkin juga sihir yang Sera gunakan bisa dideteksi, berarti ia dan Sera harus berusaha meminimalkan penggunaan kekuatan mereka.

“Lu!!”terdengar suara teriakan dari dalam rumah. Sera sudah selesai mandi dan gadis itu terkejut saat mendapati Luhan tidak berada didapur.

“Aku disini, sayang…”balas Luhan.

Suara derap langkah terdengar nyaring dilantai kayu itu, kemudian sosok Sera muncul dari balik pintu. Luhan tersenyum. Sera menghela napas lega. Gadis itu menggembungkan pipinya kesal dan menubruk tubuh Luhan.

“Kukira kau pergi lagi…”Sera mengeratkan pelukannya ditubuh Luhan. Mengunci tubuh pria itu dengan lengannya. Seolah Sera tidak akan membiarkan Luhan lepas darinya sedikit saja. “Katanya aku akan menemukanmu didapur setelah selesai mandi. Pembohong…”

“Uh… maaf, baby. Aku tidak menyangka mandimu cepat sekali. Aku menyempatkan untuk menebar mantra sebelum memasak. Ayo, aku akan buatkan sesuatu untukmu…”

Sera menggeleng pelan. “Aku tidak lapar, Lu…”

“Sungguh?”

Sera mengangguk. “Ada dimana kita sekarang?”tanya gadis itu sambil mengedarkan pandangannya kesekitar. Hutan rimba, gelap, mistis. Luhan pasti telah membawanya berteleport sejauh ribuan mil dari Korea.

“Kita berada disebuah pulau tanpa nama di Samudra Pasifik…”

“Wahh… kemampuan teleportmu benar-benar hebat Tuan Lu…”puji Sera.

Luhan terkekeh. “Tentu. Aku salah satu yang terbaik.”

Sejenak Sera dan Luhan terdiam. Mereka hanya berpelukan tanpa mengucap satu patah kata apapun. Suara burung hantu terdengar dari kejauhan. Berpadu dengan suara jangkrik, lolongan serigala dan makhluk malam lainnya. Daun bergemerisik, bergesekan diterpa angin malam yang menegangkan bulu kuduk.

“Lu, apa kau melihatnya?”

“Hm?”

“Mayat manusia itu…”

Deg.

Luhan terhenyak.

“…aku yang membunuhnya…”

Luhan tidak berkata-kata. Matanya memejam, menunggu kalimat selanjutnya dari gadisnya ini.
“Aku pembunuh, Lu. Apa kau masih mencintaiku?”

“Sera…”Luhan melepas pelukannya untuk menatap wajah Sera. Tenggorokan Luhan terasa tersumpal ketika melihat wajah Sera yang nampak ketakutan. Mata gadis itu melebar dan tidak fokus. Tubuh kecilnya bergetar.

“Aku tidak takut menjadi pembunuh, Lu. Aku tidak menyesal sama sekali. Kau sungguh masih mencintai diriku yang seperti ini? Aku iblis, Lu. Aku bukan gadis yang pantas untukmu… aku…”Sera tak mampu melanjutkan kata-katanya. Aku setengah manusia, Lu. Makhluk menjijikkan.

“Ssst, sayang…”Luhan menenggelamkan kembali tubuh Sera kedalam pelukannya. Mengusap lembut punggung gadis itu. Sera sedikit mengeryit saat Luhan tanpa sengaja menekan luka dilengannya. “Aku tidak peduli dengan semua itu. Cintaku padamu tidak berubah sedikitpun dan tidak akan pernah berubah. Aku lah yang salah karena meninggalkanmu, ya semua ini salahku karena tidak menepati janjiku padamu. Kau melakukan itu semua hanya untuk membalas perlakuanku padamu, aku akan berpikir seperti itu. Jadi kau tidak perlu mencemaskan bagaimana penilaianku padamu saat ini…”

“Aku benar-benar sudah tidak waras…”ucap Sera pelan. “Aku kacau sekali saat kau tidak ada, Lu.”

“Aku akan memastikan kejadian ini tidak akan terulang lagi, Sera..”kata Luhan sungguh-sungguh. Ia sungguh tidak ingin Sera menderita lagi.

Mata pria itu menelusuri tubuh Sera yang masih memakai pakaian kotornya tadi, walaupun sekarang pakaian itu sudah benar-benar kering karena Sera pasti mengeringkannya dengan kekuatannya.

“Kau harus mengganti pakaianmu, sayang…”Luhan melepas pelukannya dan menarik Sera kembali kedalam rumah pohon. Ia membuka lemari pakaian dan memilihkan pakaian mana yang sekiranya cukup Sera pakai. Tidak ada pakaian wanita tentu saja, karena rumah pohon ini adalah milik Luhan jadi pakaian-pakaian dilemari pun semuanya milik Luhan.

“Sedikit kebesaran kurasa…”kata Luhan sambil menyerahkan kemeja berwarna putih gading itu pada Sera.

Sera mengambil baju itu dan dalam sekali jentikan jari sudah terpasang ditubuhnya.

“Ckckck… hidup kita ini benar-benar praktis ya? Kau bahkan tidak perlu repot-repot membuka bajumu untuk berganti baju…”

“Kau mau melihatku membuka baju?”tanya Sera usil. Seringaian dibibir gadis itu membuat Luhan keki.

“Tentu saja tidak…”sungut Luhan. Sera terkekeh melihat tingkah cute Luhan. Wajah pria itu sudah memerah seperti tomat.

“Ck, kau nampak payah…”Luhan mengambil sebuah sisir didalam laci almari, lalu menarik Sera untuk duduk diatas kasur. Memosisikan Sera agar duduk membelakanginya. Perlahan pria itu menyisir rambut Sera. “Rambutmu kusut sekali, baby. Aku bahkan harus memantrainya agar terurai…”

“Mm. Kau lihat kan betapa menderitanya aku tanpa dirimu…”kata Sera lugas.

Luhan menghela napas berat. Hatinya diluapi rasa penyesalan. “Ya, aku melihatnya dengan sangat jelas…”

“Aku bahkan bisa mati jika kau meninggalkanku lebih lama lagi…”

“Itu tidak akan terjadi, sayang. Aku disini bersamamu sekarang.”

Sera berbalik menghadap kearah Luhan. Gadis itu mengangkat tangannya dan menyentuh lembut wajah Luhan. Luhan meraih jemari Sera lalu mengecupnya.

“Tidurlah… hari ini pasti berat untukmu…”kata Luhan sambil memegang lengan Sera untuk merebahkan gadis itu keranjangnya yang hangat. Tangan pria itu menekan tepat keluka Sera, membuat Sera tanpa sengaja mengaduh pelan.

“Apa yang terjadi padamu?”tanya Luhan yang tersadar bahwa ada yang tidak beres dengan lengan Sera.

Pria itu panik saat ia melihat darah yang merembes dibagian lengan kemeja Sera. Luhan buru-buru menggulung lengan kemeja itu hingga terlihatlah luka sayatan yang cukup dalam dilengan Sera. Luka itu nampak sedang mencoba menutup—wujud usaha keras dari metabolisme tubuh Sera—tapi lukanya terlalu dalam dan kulit disekitarnya sudah mulai membiru karena infeksi.

Luhan menatap Sera marah. “Bagaimana bisa kau membiarkan dirimu terluka seperti ini Sera?! kau bisa kehilangan tanganmu!”

Sera tidak menjawab. Sejak Luhan pergi ia giat sekali melukai dirinya, hanya demi mengalihkan rasa sakit dihatinya ke rasa sakit ditubuh. Keputusan bodoh karena rasa sakit ditubuh toh tidak bisa menghilangkan rasa sakit dihatinya. Luka yang dibuat oleh Chanyeol ini juga menurutnya sama sekali tidak seberapa. Padahal jelas-jelas luka itu sangat parah.

Luhan berkonsentrasi, menggunakan mantra penyembuh apapun yang ia bisa. Seandainya Lay ada disini. Pria itu akan bisa melakukan sesuatu yang lebih baik pada luka Sera. Lay punya kekuatan penyembuh yang alami didirinya, bukan kekuatan penyembuh yang dipelajari seperti yang Luhan gunakan sekarang.

“Ini tidak berhasil…”gumam Luhan putus asa. Pria itu lalu memunculkan satu set peralatan operasi dan dengan teliti menjahit luka Sera. Sera merintih kesakitan saat benang-benang itu menembus dagingnya.

“Lu, sakitt…”

Luhan mengeryit, ia merapalkan mantra agar lengan Sera bisa sejenak mati rasa selama ia menjahit lukanya. Setelah selesai, Luhan membebatkan perban putih kelengan Sera. Pria itu kemudian mengecek lagi bagian tubuh Sera yang lain. Bibirnya merutuk pelan ketika ia melihat bekas luka sayatan itu tidak hanya ada ditangan kanan dan kiri Sera tapi juga dileher dan bahkan mungkin didada gadis itu.

“Apa kau mendapatkan siksaan dari rajamu selama aku pergi?”tanya Luhan dengan raut wajah sedih.

Sera menggeleng pelan. “Ini salahku, Lu. Tapi lukanya tidak sakit kok, kau tahu kan, luka kecil hanya dalam hitungan detik akan segera menutup.”

“Seharusnya aku tidak meninggalkanmu, maafkan aku, Sera…”Luhan menunduk. Hatinya sakit melihat Sera ternyata begitu terluka setelah kepergiannya.

“Aku tidak punya siapapun selain dirimu, Lu. Hanya kau yang mencintaiku. Jadi disaat kau pergi, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan…”

Luhan tercekat. Tidak cukup segala penderitaan yang Sera lalui sebagai seorang iblis, bahkan sekarang Luhan telah berkontribusi melukai gadis itu.

“Maafkan aku, Sera…” Ya, hanya itu yang bisa Luhan ucapkan. Memohon ampun dari gadisnya ini.

Sera tersenyum lemah. Mengalungkan lengannya ditubuh Luhan dan menegakkan tubuhnya agar bisa memeluk pria itu. Luhan membalas dengan melingkarkan lengannya dipinggang Sera. ia menenggelamkan kepalanya didada Sera, menghirup aroma tubuh gadisnya itu dalam.

“Aku mencintaimu…”bisik Luhan lembut yang mampu menggetarkan hati Sera. Rasa hangat merambati dadanya. Sera mencium helaian rambut Luhan yang berada diwajahnya. Menikmati wangi sang malaikat. Entah sejak kapan ungkapan cinta Luhan dan harum tubuhnya seolah menjadi kebutuhan vital gadis iblis itu. Seolah jika Sera tidak mendapatkannya sehari saja, fungsi tubuhnya akan layu seketika.

Kemudian Sera merendahkan tubuhnya dan mengecup bibir Luhan lembut. Luhan memejamkan mata merasakan ledakan perasaan dihatinya. Ia mengeratkan pelukannya dan melumat bibir Sera. Sera berusaha membalasnya, bibirnya bermain ditiap sisi bibir Luhan. Jemarinya menekan tengkuk Luhan agar tidak melepas ciumannya. Tangan Luhan menelusuri punggung Sera, mengusap-usapnya pelan saat dirasakannya tubuh Sera menegang karena lidahnya yang membelai bibir gadis itu lembut.

Luhan mengecupi bibir bawah Sera dan bergumam lirih,”Uh, betapa aku merindukan hal ini, Sera…”gumam Luhan disela ciumannya.

Sera hanya menjawab dengan desahan lirih sambil terus mengecup bibir atas Luhan dan menelusupkan jemarinya kebalik kemeja Luhan.

Luhan melepas ciumannya sejenak, membiarkan Sera bernapas. Ia merengkuh kepala Sera agar tetap menunduk kewajahnya dan Luhan menempelkan kening Sera kekeningnya.

Mata mereka terpejam.

Napas mereka memburu.

Tapi mereka sama sekali belum merasa cukup.

Kerinduan pada satu sama lain yang begitu menyesakkan membuat mereka benar-benar menikmati sentuhan-sentuhan dan debaran-debaran jantung penuh gairah seperti ini.

Luhan lagi-lagi melumat bibir Sera.

Bibir yeoja ini serasa bagai candu baginya.

Manis.

Sangat manis.

“Sera…”bisik Luhan dibibir Sera.

“Hmmm?”gumam Sera sambil terus menciumi bibir Luhan.

“Kali ini mungkin aku tidak akan berhenti…”kata Luhan dengan suara serak.

Sera meremas rambut Luhan lembut dan mempererat tubuhnya ketubuh namja dipelukannya ini,”It’s allright, Lu…”gumamnya.

Mendengar itu, Luhan langsung melumat bibir Sera dengan lebih ganas. Menarik tubuh Sera untuk duduk dipangkuannya dan semakin melekatkan tubuh mereka berdua. Saat ini apa yang paling tidak diinginkan Luhan adalah jarak. Sedangkan hal yang paling diinginkan Luhan saat ini adalah sentuhan yang menyengat dari Sera.

Sera membuka mulutnya sebagai isyarat kalau dirinya meminta lebih. Dan Luhan menyambutnya. Membuat tubuh Sera sedikit limbung, tapi tangan Luhan dengan kuat menahan pinggang gadis itu. Kepala Sera berada diatasnya, dan bibirnya terbuka di bibir Luhan. Luhan menggelitik rongga dalam mulut Sera dengan lidahnya. Membelai lidah Sera hingga membuat gadis itu mengerang pelan.

Luhan melepas ciumannya dan menurunkan bibirnya kedagu Sera lalu terus turun sampai kelehernya. Menyibakkan rambut indah Sera agar ia bisa leluasa menjelajahi leher jenjang gadis itu.
Sera bergidik merasakan napas Luhan yang hangat dilehernya.

Pria itu menghirup aroma Sera dalam-dalam.

Gadis satu ini benar-benar bisa membuatnya begitu tergoda.

Luhan menyusupkan jemarinya kebalik kemeja yang Sera pakai dan menelusuri kulit lembut punggung Sera sementara bibirnya terus menciumi leher Sera. Menghisapnya dalam. Meninggalkan tanda kepemilikan disana. Abai sama sekali dengan rasa sakit yang diderita tubuh mereka.

Mereka iblis dan malaikat, yang akan menyakiti satu sama lain saat bersentuhan karena bahan yang berbeda dari tubuh mereka. Tapi Luhan dan Sera tidak peduli. Mereka membutuhkan sentuhan untuk melampiaskan seluruh perasaan mereka. Rasa sakit itu seolah terbayar lunas dengan kepuasan mereka karena bisa saling memiliki.

Perasaan itu semakin membuncah ketika Sera menyebut nama Luhan disela desahannya disamping telinga pria itu. Membuat mata Luhan semakin berkabut oleh nafsu. Luhan tidak tahu bagaimana harus berhenti. Sera terlalu membuatnya mabuk oleh cinta. Malaikat itu kehilangan pandangannya akan batas yang tidak boleh ia lewati. Perlahan ia menanggalkan pakaian gadis yang ia cintai itu, menidurkan Sera diranjang yang hangat dan menciumi setiap luka yang tercetak ditubuh Sera. Berharap bahwa luka itu akan menghilang seiring dengan usapan lembut bibirnya.

Sera dan Luhan saling menatap dalam. Sera membelai lembut rahang Luhan, mengagumi setiap jengkal wajah tampan pria itu. Lalu Luhan merendahkan tubuhnya, mengurung Sera dalam ciumannya yang penuh gairah. Malaikat dan iblis itu akhirnya tergiring menuju pemenuhan keinginan mereka untuk menyatu. Mendaki kenikmatan bersama. Meluapkan segala perasaan yang mereka simpan, terutama rasa sakit karena tidak kunjung mendapatkan titik terang dalam hubungan cinta mereka. Sera dan Luhan melampiaskan semua malam ini. Mereka bergerak melawan kodrat mereka.

Menentang dunia.

Luhan merapikan rambut Sera yang melekat didahinya karena keringat. Mengecup lembut kelopak mata gadis itu yang tertutup. Seperti halnya dirinya, napas Sera masih terengah, dan gadis itu memejamkan matanya erat.

“Apa masih terasa sakit?”tanya Luhan lembut.
Sera menggeleng pelan.

“Lalu kenapa kau tidak mau membuka matamu?”

Sera menggigit bibirnya sebelum menjawab. “Aku malu. Ini pertama kalinya aku dilihat dalam keadaan seperti ini oleh seorang pria…”

Luhan hampir tertawa mendengar pengakuan polos Sera, tapi pria itu buru-buru melipat bibirnya untuk menyembunyikan senyumannya. “Wae? Kau seharusnya merasa bangga, bukannya malu, Sera. Lihat! Kau sangat cantik. Tidak ada dari dirimu yang tidak cantik…”

Sera perlahan membuka matanya. Hal pertama yang gadis itu lihat adalah mata Luhan yang indah. Pria itu masih memerangkap Sera dibawah tubuhnya. Memanjakan mata Sera dengan tatapan sayang, wajah tampan dan senyuman lembutnya.

Mau tak mau, bibir Sera tertarik membentuk senyuman karena pujian Luhan. “Mmm, tentu saja. Pacar Luhan sang malaikat Azrael tentu saja harus cantik…”canda Sera sambil menyisir rambut Luhan yang juga basah karena keringat. “Astaga, apa yang harus aku lakukan padamu, Lu?”

“Hm?”

“Aku menarikmu kedalam masalah bukan? Membuatmu menjadi malaikat pembangkang. Kau benar. Kita sepertinya memang mirip seperti Seraphim dan Lucifer. Kau terjebak pada kecantikanku dan akhirnya jatuh cinta padaku. Mirip seperti Lucifer yang terpesona pada kecantikan Seraphim. Tapi, aku bukan Seraphim… aku tidak akan menyesal karena membuat sang malaikat jatuh cinta padaku dan mengorbankan segalanya demi diriku. Karena…”Sera tersenyum lembut. “Karena aku juga menginginkanmu. Aku membutuhkanmu disisiku.”

“Kau benar-benar gadis egois.”Luhan terkekeh geli. “Tapi itulah yang membuatku tak bisa lepas darimu. Aku membutuhkanmu karena kau hanya melihat diriku. Bahkan jika boleh jujur, aku sedikit merasa senang ketika kau begitu kehilangan diriku, Sera. Itu artinya, aku memang sangat berharga bagimu…”ujar Luhan. Perlahan Luhan memeluk tubuh Sera dan menenggelamkan wajahnya diantara bahu dan leher gadis itu. “Aku mencintaimu, Sera sayang…”

Sera memejamkan matanya, merasakan hangatnya hembusan napas Luhan saat pria itu membisikkan kalimat cintanya. Gadis itu melingkarkan lengannya ditubuh Luhan, membalas pelukan pria itu erat.

“Aku juga, Luhan…”

Luhan membulatkan matanya. Tubuhnya dengan cepat menegak kembali, bertumpu pada sikunya. Mata pria itu menatap Sera dengan tatapan terkejutnya yang membuat Sera tersenyum geli.

“Aku juga apa?”

Sera meraih tengkuk Luhan dan menariknya untuk kembali memeluknya. Ditelinga malaikat itu, Sera berbisik lembut. “Tidak peduli aku siapa. Bahkan jika iblis memang benar tidak pantas untuk mendapatkan anugerah itu, aku tidak peduli. Aku mencintaimu, Lu. Ya. Aku mencintaimu…”

Luhan mengerang pelan mendengar pengakuan Sera. Oh, akhirnya… ia mendengar kalimat itu dari bibir Sera. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Luhan merasa terbang karena rasa bahagia yang memenuhi rongga dadanya.

“Terimakasih, sayang.” Luhan mengecup sekilas leher Sera, tepat diatas kissmark yang tadi ia buat. Lalu ia berbisik lagi ditelinga Sera. “Bolehkah jika aku meminta satu kali lagi…”

Sera tersenyum. “Aku mencintaimu, Lu…”

Luhan menegakkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya kewajah Sera, menatap tepat pada manik mata indah gadisnya itu.

“Mm… mm…”Luhan menggeleng. “Bukan yang itu, sayang…”

Sera yang akhirnya tahu maksud permintaan Luhan, memukul punggung Luhan pelan. “Shireo…”

“Satu kali lagi saja, Sera…”Luhan sedikit mengangkat tubuhnya dan menatap Sera dengan tatapan memohon. Pria itu mengerucutkan bibirnya, mengeluarkan aegyo andalannya.

Tapi bukan Sera namanya jika ia bisa luluh oleh serangan aegyo super imut Luhan. “Shireo!”

“Aku akan lebih lembut kali ini, ya?”

Gadis itu tak percaya. “Cih, bohong! Kau malaikat, tapi saat diranjang kau benar-benar ‘jahat’, Lu,”ujarnya sambil mendorong tubuh Luhan menjauh.

“Tapi kau suka kan?”

Sera membulatkan matanya. Wajah gadis itu seketika memerah. “Tidak!!”

Luhan tersenyum geli. “Aku mencintaimu, baby…”

“Jangan menggunakan kata-kata itu untuk merayuku agar melakukannya lagi denganmu, Lu… Dasar malaikat pervert!!”

“Saranghae, baby…”

“Hentikan, Lu…”desis Sera.

“Aishiteruuu, hime-sama~…”

“Ish, diam!!”

“Wo ai niii…”

“Geumanhae!”

“I love youuu…”

“YAK!!!”

Istana para iblis hari itu bergejolak hebat. Raja para iblis—Kris—mengamuk. Menghancurkan benda apapun yang berada dalam jangkauan. Tao yang hari itu gagal melaksanakan perintah Sang Raja, duduk bersimpuh dilantai. Menunduk dalam dengan tubuh gemetar ketakutan. Kepalanya mengeluarkan darah segar, akibat lemparan benda keras dari Kris yang tepat mendarat dikepala Tao.

Chanyeol berlari terburu-buru kedalam penjara bawah tanah. Menemui sahabatnya yang sedang menunggu kabar darinya. Penjara bawah tanah benar-benar merepotkan. Disini semua kekuatan iblis tidak akan berfungsi dengan baik, jadi Chanyeol tidak bis berteleport dan akhirnya harus berlari-lari seperti itu.

“Luhan kembali…”kata Chanyeol dengan napas tersengal. Baekhyun yang mendengarnya langsung berdiri dan mendekat kearah Chanyeol. Tangannya memegang jeruji besi dengan ekspresi tak sabar.

“Jadi ketika Tao melepas panahnya, Luhan membawa Sera pergi. Kau tidak akan percaya ini, Baek. Aku sungguh terkejut saat melihat Sera tiba-tiba lenyap begitu saja dalam hitungan detik…”lapor Chanyeol.
Baekhyun menghela napas lega. Akhirnya anak semata wayangnya itu untuk sementara selamat dari maut. Jika Luhan akhirnya kembali, itu berarti ada seseorang yang akan menjaga Sera didunia manusia. Baekhyun memang tidak menyukai malaikat itu, tapi entah mengapa ia bisa mempercayai Luhan.

“Tapi sepertinya, Tuan Kris benar-benar marah akan hal ini…”ujar Chanyeol.

Tepat setelah Chanyeol menyelesaikan ucapannya, terdengar suara gelegar dari atas. Chanyeol mendesah panjang. “Tuh, istana hampir terbelah menjadi dua karena amukan Tuan Kris. Aku tidak mengerti mengapa Tuan Kris harus semarah itu. Kalau Sera lolos kan tinggal diburu lagi…”

Baekhyun mendelik mendengar kalimat terakhir dari Chanyeol. Chanyeol meringis. Uh, untuk urusan Sera, Baekhyun memang sulit diajak bercanda.

“Tuan Kris cemburu. Dia benci jika ada orang lain menjadi saingannya…”Baekhyun menyeringai. Ini wajah tersantainya setelah berhari-hari didalam penjara. “Dan kukira, Luhan bisa mengalahkan Tuan Kris dalam hal ini.”

“Hei, Baekhyun! Bukankah Tuan Kris bilang bahwa Sera adalah titisan dari malaikat Seraphim? Kalau begitu tentu saja Lucifer itu ada. Kita selalu menganggap Lucifer itu dongeng sejak kecil. Kau tidak memikirkan apa yang kupikirkan?”Chanyeol menerawang. Mencoba berhipotesis.

“Memikirkan apa?”

“Kalau Luhan itu titisan Lucifer…”

Chanyeol dan Baekhyun saling berpandangan.

“Oke-oke… memang ini agak random. Tapi aku memikirkan hal itu ketika melihat Luhan hari ini, coba kau pikir, mana ada sejarah malaikat yang jatuh cinta selain sejarahnya Sang Lucifer. Kau tahu sendiri malaikat tidak punya nafsu seperti kita. Jadi pada dasarnya, bukan Sera yang tidak mungkin jatuh cinta, tapi sebaliknya, Luhan-lah yang seharusnya tidak mungkin jatuh cinta pada seseorang. Kalau benar Lucifer dulu dihukum dan dilenyapkan seperti kabar yang beredar, tidak menutup kemungkinan Luhan itu juga titisan Sang Lucifer, ya kan?”

Baekhyun menggeleng. “Salah…”

“Mm?”Chanyeol mengeryitkan dahinya. Yah, padahal hipotesisnya tadi menurutnya sudah masuk akal sekali.

“Luhan bukan titisan Lucifer—“Baekhyun sejenak terdiam. “Kurasa, dialah Lucifer itu sendiri…”

TBC…

Aaaa!!!!!! #tutupmata. Akhirnya author bikin ff dengan rate berbahaya… Ehem-ehem. Ada yang senang akhirnya LuSera bertemu kembali. Tapi ini masih TBC yaaa… Oiya, author udah berusaha sekuat tenaga buat manjangin Chapter ini, apa masih kurang panjang???

Karena author mau UTS, bertepatan ma para reader yang sekarang kelas 3 and sedang menyambut UAN, Chapter 11 kayaknya bakal sedikit lama publishnya. Maaf yaa… author juga lg kena writer block akhir2 ini, huhuhu…

EXO mau comeback!!!! Overdose era melandaaa!!! Kmrn agak terkejut ma issue yang katanya EXO bakal punya konsep Devil and Angel, ya ampun, FF gue bgt dongg~~!! Hahaha… sempet berharap line-nya sama kyk cast-nya FF ini, tp tyt melenceng dari harapan. Wkwkwk… tp, tetep suka konsep EXO yg pnuh fantasy itu… selera aku bgt soalnya  Dr mulai Mama ampe Growl krmn, mesti tema lagunya EXO gak pnh jauh2 dr dunia fantasy. Apalagi Heart Attack, kalau dgerin tu lagu, berasa diseret ke dunia tempat para makhluk-makhluk dunia bawah tinggal, hohoho.

Sudahlah, kok jadi pjg lebar… Jangan lupa komen+like-nya yay… See you for the next Chap~~~

293 responses to “[Freelance] DEVIL BESIDE ME (CHAPTER 10)

  1. Ya ampunnn….lusera hot hehehe tapi tetep romantis gak parah ko..aku suka. Bikin melting deh Luhan :v

  2. yey,,ternyata tebakanku benar,,dan jwban.ny ada di akhir chap ini…
    huaaa…senangnyaaa *pelukAuthor

  3. Lol Luhan pervert :v yeyyy Lusera moment comeback (~’-‘)~ tpi di dunia bawah porak poranda tu kena Kris :v dan gua syok sma perkataan Baekhyun diujung scene omonaa,, lanjut eon~ fighting~

  4. Yang namanya takdir ya?-_- lucifer dan seraphim dipertemukan kembali yeay. Iya ya._. Berarti luhan itu bukan titisan lucifer, tapi, dia itu lucifer? Udah mulai ngerti yey xD

  5. Tebakanku sama kan kaya baek kalau luhan itu emang lucifer ceritanya makin seru bikin orang berimajinasi tentang semua teka tekinya

  6. lgu came back home (2NE1) n back (infinite)……..hiks……tak bsa tk nangis…. authorny daebak bwt ff ny smpai trbwa suasana ….

  7. baca part ini senyumsenyum sendiri thor xD
    malaikat ternyata juga bisa “pervert” gitu yaa, wkwk
    kagum ah sama kakak:(( nuangin imajinasi ke tulisan jadi kereeen, kereen, kereen..*jangan bosen sama komenku yg ini ya thor
    duh, antara gak rela next chap._. tuan kris apakabar(?)
    maraton baca lagi, minggu ini ada tugas se-gunung, jadi
    jangan heran kalo terlalu cepet yg ngoment u,u
    tapi thor aku bacanya penuh penghayatan kok 😀
    aduh komentnya malah lebih banyak curhatnya._.
    maafkan daku thor

    keep writing! 🙂

  8. What????? Luhan licifer???? Aku sudah menduganya, soalnya umur Luhan udah tea banget trus tadi bilang sure itu mendoza mezuzah Luhan, dan perkataan poon tadi, tp sayangnya Luhan hilang ingatan, huuuhhh baca ff ini rasanya kena banget dihati huhuhuhu, ijin lanjut baca yha thor?….

  9. what what what luhan adl lucifer? kok bsa jd malaikat? trus baekyun it siapa sbnernya?? aduh q ga paham 😦

  10. KYAAAA….LuSera!!! Kalau aku jadi suka sama Luhan,ini salah author! Padahal,pas EXO muncul aku lebih tertarik ke yg lain dprd Luhan. Karena dia terlalu imut. Tapi….pas baca ini jd bayangin Luhan yg errrr…. Tapi sukaaaaa!! LuSera momentnya!! Kakak,kau kok bisa sih imajinasimu se-‘wild’ ini?!! Ah,gak sabar pengen lanjut!! Aigooo…pokoknya Author Jjang!! FIGHTING!!!><

  11. Aiyuhhhhh LuSera couple bener” keren abis, cinta itu tidak memandang apakah dia itu angel atau devil ^^

    What? Luhan sendirilah sang lucifer?

  12. ini luhan malaikat apa bisa se pervent itu? hahaha
    ga ngerti lagi dah sma lusera bakalan kaya gimana nasibnya?
    ngeri sama kris lagi ngamuk gtu
    hah luhan lucifer?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s