[TWOSHOOT] Friendship Love (2/2) – Choi Yura

love

Title: Friendship Love

Author: Choi Yura or JuJuYChoiHan

Cast: – Oh Sehun

– Jung So Ra (OC)

– Kim Ji Hye (OC)

Genre: Romance, Friendship, School Life, Sad (MAYBE).

Rated: PG-16

Length: Twoshoot.

Sumamry: percintaan yang begitu terasa di antara persahabatan Jung So Ra, Oh Sehun dan Kim Ji Hye.

“Tapi aku sudah menikah dengannya. Aku harap kau melupakan semua kenangan palsu itu.”

 

Chapter 1

Sehun POV.

 

Diriku terduduk di kursi, tepat di samping tempat tidur yang So Ra tiduri. Meratapi nasib sembari menatap wajah So Ra yang masih tertidur lelap tanpa mau membuka kedua matanya untuk menatapku yang berada di sampingnya.

Aku tidak tahu perasaan apa ini. Yang jelas, aku ingin sekali melihat senyumannya yang ceria dan ingin melihat tatapan miliknya yang penuh kedamaian. Senyuman itu yang ku suka dari diri So Ra, tapi sepertinya kini aku tak dapat melihat senyuman lepas miliknya. Bahkan aku tak dapat menatap matanya yang layaknya sebuah senyuman saat ia tertawa maupun tersenyum.

“Maafkan aku So Ra.”

Kedua mataku terasa perih seketika. Sejak kapan aku menjadi lelaki cengeng seperti lelaki yang memiliki jiwa kewanitaan? Aku tak pernah menangis barang sekalipun. Tapi apa ini? Mataku benar-benar terasa perih saat melihat tubuh So Ra yang tertidur lemas di kasur rumah sakit dengan alat rumah sakit yang melekat di tubuhnya.

Selang infuse yang berada di tangannya, selang oksigen yang berada di hidungnya, maupun monitor jantung yang bekerja di tubuhnya. Aku sungguh tak sanggup melihat diri So Ra yang merasakan ke sakitan saat ini. Mungkin rasanya benar-benar sakit saat dia mengalami kecelakaan sehingga membuat dirinya koma tak sadarkan diri.

Ini semua salahku, tak seharusnya aku memarahi So Ra sebelum paska kecelakaan yang ia alami terjadi. Sepertinya beban di hatiku terasa bertambah saat aku tahu kalau ia mengalami kecelakaan saat setelah aku membentaknya dan menghujaninya dengan ucapan yang terlampau dingin.

Mataku menatapnya sendu, menerawang kosong ke wajahnya yang menyiratkan kedamaian. Apa dia tidak tahu kalau sekarang ini aku berada di sampingnya? Aku di sini So Ra, menatapmu dengan kedua manik mataku yang berkaca-kaca.

Tanganku beralih menggenggam tangannya yang terkulai bebas di samping sisi tubuhnya yang tertidur. Menggenggamnya lembut dengan ibu jariku yang bergerak mengelusnya.

“Aku benar-benar sahabat yang tidak pantas untukmu.” Tak ada respon sama sekali. Diri So Ra masih saja tertidur kaku di atas kasur.

Suara gemuru monitor jantung sedari tadi menyeruak dan merambat di penjuru kamar rumah sakit yang So Ra tempati. Namun gadis itu benar-benar tak mendengar betapa nyaringnya gemuru detak jantung monitor. Sehingga membuat dirinya seperti orang tertidur dengan telinga yang tuli.

Genggaman tangan ini masih saja menggenggam tangan So Ra yang hangat. Menggenggamnya sembari menundukan wajah kebawah. Memejamkan kedua mata guna menetralisir pikiran bodohku. Pikiran ini selalu saja mengutuk kelalaianku yang tak berujung pada kebaikan.

Pikiran bodoh itu benar-benar mengganjal di hatiku, bagaikan penyakit yang terasa mengepul di relung hatiku.

Suara knop pintu terdengar menggema. Ku tolehkan kepalaku kebelakang untuk melihat asal suara pintu.

Kulihat Tuan Jung dan Nyonya Jung berjalan seraya melemparkan senyuman sapa saat melihatku yang tengah terduduk.

Aku beranjak dari dudukku dan berdiri seraya membungkuk kecil pada mereka.

“Apa kabar Nyonya, Tuan?” sapaku pelan dengan kedua sudut bibir yang mengukir senyuman kecil.

“Kami berdua baik, kabarmu sendiri bagaimana?”

Nyonya Jung tersenyum saat menjawab pertanyaanku, sedangkan Tuang Jung? Yang ku tahu ia orang yang dingin dan tak terlalu ramah. Seperti biasa, ia menatap mataku sejenak dan langsung melengos dari pandanganku. Tuan Jung berjalan dan menduduki dirinya di sofa putih yang tak terlalu jauh dari kasur So Ra.

Aku sudah terbiasa akan sifat Tuan Jung yang begitu dingin, Jadi wajar saja kalau ia menatapku datar. Aku dan Ji Hye tahu itu. Kami berdua sering bermain ke kediaman So Ra dan saat kami bertemu dengan ayah So Ra, dia adalah orang yang dingin dan terkesan tak bersahabat.

Apalagi kedua orang tua So Ra yang selalu sibuk dengan urusan bisnis yang mereka kelola. Kadang kala aku merasa kasihan dengan So Ra, tapi gadis itu selalu menutupi kehidupannya dengan selalu tertawa tanpa mau mengeluarkan kata keluhan. Ia tak pernah mengeluh barang sekali pun. Sifatnya sangat berbeda jauh dengan Kim Ji Hye. Dan ku akui itu.

So Ra seorang gadis yang mandiri meskipun dia adalah gadis bar-bar yang rusuh dengan tingkah yang ia punya. Walaupun ia anak tunggal, tapi ia tak pernah manja.

Eksistensi yang ia punya juga sama dengan Ji Hye miliki. Mereka berdua sama-sama lahir dan di besarkan dari kalangan keluarga kaya meskipun keluarga Ji Hye yang lebih di atas keluarga So Ra. Namun Ji Hye memiliki sikap kekanakan dan terkesan manja. Ia juga anak tunggal dari keluarga Kim pemilik perusahaan departement store. Tapi ia selalu mendapatkan perhatian lebih dari kedua orang tuanya dan menjadikan sikap manja itu melekat dalam jiwa Ji Hye.

So Ra tak seperti Ji Hye, aku tahu kapan So Ra akan merasa sedih. Tapi sama sekali So Ra tak ingin mengakuinya.

“Aku baik-baik saja Nyonya. Dan maaf kalau aku baru menjenguk So Ra. Aku benar-benar tak mendapat kabar kalau So Ra sedang mengalami koma.”

Aku tidak tahu apa reaksi dari Nyonya dan Tuan Jung. Karena kepala ini langsung menunduk saat selesai mengucapkan kata-kata itu.

“Tidak masalah, Sehun. Kami memaklumi itu. Kami berdua tahu kalau kalian sedang sibuk dengan sekolah kalian. Dan aku tahu kalau sebentar lagi kalian akan menghadapi ujian.”

Aku menengadahkan wajahku, menatap Nyonya Jung yang tengah tersenyum ramah padaku. Dan mata senyuman itu sangat mirip dengan mata yang So Ra miliki. Kini aku baru sadar kalau Eye Smile yang So Ra miliki ternyata menurun dari Nyonya Jung.

“Apa aku bisa meminta tolong, Sehun?”

Aku mengangguk dan tetap memfokuskan tatapanku pada sosok Nyonya Jung.

“Bisakah kau mengambil pakaian So Ra? Dan bilang pada bibi kalau kau bertugas untuk mengambil pakaian So Ra dan membawanya ke rumah sakit. Aku ada urusan lagi, jadi sepertinya tidak ada salahnya kalau aku meminta tolong padamu.”

Kedua sudut bibirku melengkung kecil, terkesan senyum yang ambigu.

Sepertinya aku bisa merasakan ke getiran saat kedua orang yang sangat kita butuhkan begitu sibuk dan tak selalu siap siaga di samping kita saat kita sedang mengalami koma. Dan aku bisa merasakan yang So Ra rasakan, namun benar-benar sangat di sayangkan. So Ra tidak ingin mengakuinya saat ia merasa kesepian dan bersedih, dia selalu bilang kalau tak ada yang perlu di ketahui dari dirinya. Dia selalu bilang kalau dia tidak memiliki sesuatu yang patut untuk di kasihani.

Aku sering merasa iba padanya, tapi ia selalu menolak itu dengan ucapan yang terlampau dingin padaku. Aku juga sangat bangga padanya, karena ia gadis yang sangat pintar dan juga mandiri.

“Baik Nyonya saya akan kesana.”

 -FRIENDSHIP LOVE-

Kini aku sudah berdiri sempurna di ruang tamu rumah So Ra. Rumah yang bergaya desain minimalis, itulah yang dapat aku simpulkan dari gaya rumah So Ra. Aku sudah mengucapkan pada pembantu So Ra kalau aku datang kesini karena di mintai tolong oleh ibu So Ra, dan pembantu So Ra tengah ke dalam untuk mengambil perlengkapan pakaian So Ra yang akan aku bawa.

Kakiku bergerak melangkah untuk membawa diriku melangkah lebih dalam. Menyusuri ruang tamu hingga membawaku kedepan sebuah pintu yang berwarna coklat. Aku tahu jelas kalau ruangan ini adalah kamar tidur So Ra. Tapi ia tak pernah mengijinkan ku dan Ji Hye untuk memasuki kamarnya.

Entah apa yang membuatku kini penasaran, mungkin ini semua faktor dari ke kagumanku pada sosok So Ra. Meskipun ia gadis yang periang, namun aku tahu. Banyak sekali rahasia yang tersembunyi dari senyuman riang yang ia punya. Ia selalu mengatakan kalau semua baik-baik saja dan tak perlu ada yang di khawatirkan dari dirinya. Kelihatannya saja ia tegar, tapi kenyataan yang ada. Dia tak lebih dari gadis rapuh yang tak ingin mengungkapkan sebuah kejujuran yang ada padanya.

Tanganku bergerak beralih memegang knop pintu kamar So Ra. Membukanya secara perlahan dan membuka pintu itu sedikit lebar. Lantas aku mengedarkan pandangan dan melihat ke setiap penjuru kamar So Ra dengan tatapan tak percaya.

Sejak kapan gadis bar-bar seperti So Ra menyukai kamar yang terkesan dengan warna yang lembut dan elegan. Yang ku tahu, ia sangat membenci sesuatu yang berbau dengan wanita. Tapi apa yang kulihat sekarang? Kamarnya penuh dengan konsep elegan.

Adanya vas bunga yang berisi bunga mawar hijau tengah bertengger di atas meja kamarnya, dan ada sebuah akuarium tak berisi air di penuhi dengan perahu kertas berwarna yang sering ia buat.

So Ra sering membuat perahu kertas, aku dan Ji Hye tahu itu. Tapi aku tidak pernah tahu kalau ia suka mengoleksinya di ruang pribadi miliknya. Seperti yang ku katakan tadi, kalau So Ra benar-benar gadis yang penuh misteri meskipun dirinya gadis bar-bar yang berlagak seperti wanita setengah lelaki.

Aku berjalan dan semakin masuk ke dalam kamar So Ra, berjalan menghampiri vas bunga mawar hijau dengan kedua sudut bibirku yang mengukir senyuman kecil.

Aku tersenyum, entah hal apa yang membuatku tersenyum saat mengetahui semua yang ada pada diri So Ra.

“Kau gadis yang tertutup.” Gumamku pelan sembari meraba vas guci itu dengan perlahan.

Badanku membungkuk kecil dan mendekati wajah ini pada mawar hijau yang tengah bertengger di meja bulat yang berada tidak jauh dari tempat tidur. Menciumnya perlahan dan meresapi harum wanginya mawar hijau ini.

Sepertinya bunga mawar ini selalu diganti saat bunga ini sudah layu atau pun mati. Tampak jelas kalau bunga ini sangat tampak segar dan terkesan sangat terawat.

Aku masih belum mempercayai kalau So Ra menyukai bunga mawar hijau, ia tak pernah mengakuinya. Tapi yang jelas, aku masih mengingat kejadian itu. Kejadian di mana gadis itu tengah terdiam sembari melihat bunga mawar hijau.

__________

“Sehun jangan lari…” So Ra terus saja berteriak dari belakang, namun tak ku hiraukan sama sekali.

Kami baru saja pulang sekolah bersama dan sudah berlari-lari layaknya anak kecil karena hal yang sangat sepele. Berlari menyusuri trotoar dengan seragam sekolah yang masih melekat pada tubuh aku dan So Ra.

Aku berlari sekencang mungkin agar menghindari amukan So Ra. Ini semua salahku, tak seharusnya aku membangunkan beruang madu seperti So Ra. Kini ia benar-benar marah padaku karena aku telah merobek perahu kertas yang baru saja ia buat. Sekarang aku benar-benar tak ingin bertanggung jawab karena tak mungkin aku akan menerima caci maki dan pukulan darinya.

Sering sekali So Ra memukuliku, dan tubuh ini sering memar tanpa sengaja akibat pukulannya. Kelakuan brandalan yang ia punya itu, sangat tak kusukai dari dirinya.

Kepalaku dengan kontan menoleh kebelakang saat diriku sudah tak mendengar teriakan So Ra. Dengan seketika aku memberhentikan langkah lariku dan memutar balikan tubuhku dengan cepat. Mengedarkan pandangan ke setiap sisi tepi jalan.

Sekarang aku benar-benar panik. Bagaimana mungkin tiba-tiba saja gadis itu menghilang? Apa sedang terjadi sesuatu pada dirinya?

Aku mengedarkan pandangan ke setiap sisi, memutar tubuh searah dengan putaran jarum jam yang bergerak. Namun sosok So Ra sama sekali tak ku temukan. Kamana ia pergi, aku pun tak tahu.

Jung So Ra…

Ku putuskan untuk berlari kecil, kembali ke jalan yang ku lalui tadi sembari mengedarkan pandanganku ke setiap sisi tepi jalan. Namun siluet So Ra tak kunjung tertangkap oleh manik mataku. Gadis itu benar-benar lalai, bagaimana bisa ia menghilang dan tak bisa ku temukan?

Sudah beberapa toko etalase yang kulewati dan aku benar-benar sudah jauh dari tempat ku berhenti tadi. Tapi So Ra sama sekali tidak ku temui. Kini aku benar-benar panik dengan keadaan So Ra.

Aku terus berlari kecil sembari menatap kaca etalase toko yang tampak tembus pandang. Tapi toko yang kulalui dan kulihat tampak tak terlalu ramai pengunjung maupun sosok So Ra yang berada di dalamnya.

Langkah lariku terhenti dan aku menghela nafas sejenak. Sepertinya aku bisa bernafas lega sekarang. Aku sudah menemukan keberadaan So Ra dan gadis itu ternyata baik-baik saja.

Ia tampak terdiam di depan toko bunga, manatapnya dengan wajah terdiam. Apa yang dia lakukan? Dia hampir saja membuatku serangan jantung. Sekarang ia malah terdiam dengan wajah yang menyiratkan kesenduan.

Aku ingin sekali memarahinya karena telah membuatku khawatir dengan keadaannya, tapi sepertinya aku tak bisa melakukan semua itu. Tatapanku ini sudah terlanjur menatap wajah So Ra yang terdiam. Seolah-olah gadis itu begitu manis saat ia terdiam dengan sejuta renungan-dirinya begitu damai melihat bunga-bunga yang berada di luar toko.

Aku berjalan santai dan menghampiri dirinya yang terdiam tegak.

“Kau hampir saja membuatku jantungan.”

So Ra tampak mengedikkan bahunya reflek dan mulai menolehkan kepalanya. Kedua matanya menatapku datar, sama sekali ia tak menjawab ucapanku dan malah memfokuskan pandangannya kembali ke toko itu.

“Apa kau sangat suka membuat orang khawatir?”

Dengan cepat So Ra menolehkan wajahnya dan menatapku yang berada di sampingnya. Sepertinya gadis itu tengah menyiratkan tatapan tak percaya akan ucapan ku barusan.

“Apa? Kau mengkhawatirkanku?”

Mataku menatapnya dengan tatapan amarah yang tak terlalu membara. Menatapnya kesal karena ia mananyainya dengan nada tenang dan seperti tak terjadi apa-apa.

“Sudahlah aku tak tega memarahimu. Aku akui, ini semua salahku karena telah meninggalkanmu dan berlari duluan.”

“Makasih karena telah mengkhawatirkanku. Tapi aku tak butuh di khawatirkan karena semua yang ada pada diriku baik-baik saja.”

Senyuman yang begitu teduh terukir di kedua sudut bibirnya, mata yang layaknya senyuman tengah terukir indah di lekukan matanya.

Dan kini aku tak bisa memandangi mata itu terlalu lama. Ia kembali memfokuskan pandangannya ke toko bunga yang berada di hadapan kami.

“Apa yang sedang kau lihat?”

So Ra menggeleng berulang kali dan tersenyum kecil sembari menatap toko bunga itu.

“Apa kau menyukai bunga, Sehun?”

Aku tersenyum sepele seraya menyilangkan kedua tanganku di depan dada.

“Apa kau menganggapku seorang wanita?”

“Tidak, aku hanya bertanya. Apa kau menyukai bunga atau tidak?”

Ia menolehkan pandangannya kembali padaku. Manik matanya menyiratkan ke jengahan saat menatapku yang kini tengah memutar bola mata.

“Nanti kau yang menyukai bunga-bunga itu.”

So Ra memandangku dengan tatapan bengis sembari berkacak pinggang.

“Aku suka atau tidak. Itu semua bukan urusanmu.”

“Baiklah.”

Aku memfokuskan pandanganku lurus kedepan dan menatap bunga mawar hijau yang terpampang di luar toko dengan kedua sudut bibir yang mulai melengkung ke atas.

“Apa Kim Ji Hye menyukai bunga mawar hijau?”

Tangan yang berada di pinggang So Ra mulai terkulai ke sisi tubuhnya dan mulai menatap ke depan dengan pandangan menerawang.

“Aku tidak tahu.” Jawabnya pelan dan mulai menggerakan kakinya dan berdiri di hadapanku.

Kini ia menghalangi pandanganku pada mawar hijau yang berada di depan toko. Ia sudah memposisikan dirinya di hadapanku dengan senyum manis yang ia punya.

“Kalau kau ingin membelikan Ji Hye. Belikan saja, mungkin ia akan bahagia kalau yang memberikannya adalah kau. Tapi yang ku tahu, Ji Hye itu alergi dengan harum wangi bunga. Kalau kau ingin di marahi olehnya, ya sudah kau beli saja bunga-bunga itu.”

“Alergi?”

So Ra mengangguk dengan bibir yang mengatup. Kini ia mulai melangkahkan kakinya pergi dan meninggalkanku yang tampak terdiam di depan toko bunga .

Namun semua perhatianku teralihkan pada dirinya, aku melihat punggung badannya yang terus berjalan dan meninggalkan aku seorang diri, kedua bibir ini saling tertarik dan mengulas sebuah senyuman pada sosok So Ra yang semakin lama semakin samar di penglihatanku.

__________

Kenangan itu mulai berputar kembali dari otakku, benar-benar getir saat mengingat kenangan itu kembali. Yang ku tahu So Ra adalah gadis yang sangat penyayang. Bahkan ia sangat menyayangi Ji Hye. Aku tahu itu, ia memiliki jiwa keibuan yang tak pernah ia akui. Bahkan ia sangat mendukung akan hubunganku dengan Kim Ji Hye.

Saat setelah aku dan Ji Hye berpacaran, aku merasa kalau So Ra seperti menghindariku dan Ji Hye. Namun yang paling sering di hindari So Ra adalah aku. Entah apa yang membuatnya sering menghindariku saat aku tengah menghampirinya, dan hatiku merasakan hal yang lain saat ia lebih memilih menghindar dariku. Aku yakin kalau gadis itu benar-benar menghindar dariku.

Aku mulai membuang pandanganku dari mawar hijau dan beralih melihat akuarium tak berisi air itu. Akuarium itu terletak di meja belajar So Ra.

Apa gadis itu sering melihat perahu kertas yang berada di akuarium saat ia sedang belajar? Yang ku tahu So Ra sangat suka membuat perahu-perahu dari kertas. Namun aku tak tahu kalau gadis itu mengoleksi dan meletakannya di dalam akuarium persegi kecil.

Ku ambil salah satu perahu kertas dari dalamnya. Kuperhatikan perahu itu dengan seksama, namun aku menemukan keganjalan. Kertas berbentuk perahu itu seakan terukir dengan tulisan hangul. Tulisan itu sangat rapi dengan tulisan yang terukir di dalamnya.

Ku buka pola perahu kertas ini dan sudah mendapati sebuah tulisan yang terukir hingga setengah kertas. Saat sudah kubuka sepenuhnya, aku mendapati tulisan yang sangat rapi yang tengah terukir di dalamnya.

Ku bijakan penglihatan ini dan membaca setiap kata yang terukir di atasnya.

Perahu kertas, apa kau tahu siapa orang yang telah mewarnai duniaku? Ya, kau patut menuduhku sebagai wanita yang tak konsisten dengan perkataan. Namun kau harus tahu kalau wajahnya bagaikan malaikat yang sangat meneduhkan. Aku tahu ini benar-benar di luar logika. Namun kau harus percaya dengan perkataanku… entah kenapa aku menyukai dirinya.

Kedua mataku terpejam sejenak dan mulai melipat kertas berwarna itu menjadi terlipat hingga dua bagian. Jujur, aku tak dapat membentuk pola perahu ini lagi seperti sedia kala.

Ku rentangkan tangan ini ke dalam akuarium itu, dan mengambil satu kertas perahu dari dalamnya. Ku buka lagi kertas ini hingga terdapat sejumlah tulisan di dalamnya.

Entah kenapa ingin sekali rasanya musnah dari dunia. Sungguh aku tak sanggup membukakan kedua mata ini untuk melihat betapa mesranya mereka berdua. Yang ku tahu ini semua salahku, seharusnya aku tak menutupi semuanya dan membohongi diri di depan mereka. Kenapa aku selalu beranggapan kalau semuanya akan baik-baik saja. Namun kenyataan yang ada bukanlah yang selalu ku ucapkan. Semuanya terasa hampa dan terasa tak berarti semenjak ketakutanku mulai terjadi. Ketakutan ini mulai menjalar dengan sangat hebatnya, membuat sakit di hatiku bertambah membengkak. Apa kalian tahu? Aku pantas diklaim menjadi gadis yang egois dan tak konsisten dengan perkataan awal yang telah ku ucapkan. Namun aku menyayangimu, tapi ada kalanya aku merasa iri padamu. Dan sosok yang ku irikan adalah Kim Ji Hye. Namun demi apapun, aku tak pernah membencinya walau ia telah merebut orang yang kusuka. Karena sosok lelaki itu tak akan mencintaiku. OH SEHUN tak akan pernah menyukai seorang gadis bar-bar sepertiku.

Aku mengernyit saat melihat untaian kata yang terukir di kertas berwarna soft pink yang berada di tanganku. Entah apa yang sedang ku baca dari kertas ini.

Aku bingung siapa pemilik tulisan tangan ini, namun kertas ini terletak di kamar So Ra dan aku yakin kalau perahu kertas ini adalah buatan So Ra.

Kini penasaranku mulai merambat seluruh saraf otakku. Tanganku mulai melipat kertas soft pink itu dan mulai mengambil perahu kertas yang lainnya.

Perahu kertas berwarna biru muda menjadi tujuan selanjutnya. Dan perahu kertas itu tak terlalu banyak, hanya ada tiga pola perahu kertas yang berada di dalam akuarium.

Ku buka perlahan kertas itu dan membacanya dengan bijak, walaupun hanya hatiku yang dapat mendengarkan untaian kata yang telah ku baca di dalam hati.

Aku adalah Jung So Ra. Gadis bodoh yang memiliki kelembutan hati yang lebih. Aku benar-benar sangat bodoh, sehingga membiarkan diriku larut di dalam jurang yang begitu gelap dan curam. Kini aku benar-benar takut, tak ada orang yang ingin menyelamatkanku. Aku hanya sendirian, kedua orang tuaku sangat tak mempedulikanku, yang hanya ada di pikiran mereka adalah kerja,kerja, dan kerja. Mereka tak pernah mau tahu tentang perkembanganku ataupun keseharianku. Tujuanku hanyalah mencari perhatian di luar keluargaku yang sangat super sibuk. Dan Tuhan benar-benar mengabulkannya, sosok itu tiba-tiba saja hadir dalam hidupku di saat aku dan Kim Ji Hye sedang merasakan hawa dingin di taman belakang sekolah. Dia duduk di salah satu bangku taman yang ada di tempat itu. Terduduk nyaman di bawah pohon maple dengan sebuah buku yang berada di tangannya. Benar-benar tampan, namun aku tak punya keberanian untuk memujinya. Ji Hye sudah terlebih dahulu bergumam tentang seberapa tampannya lelaki itu. Dan ucapanku harus ku telan bulat-bulat dalam diam. Yang ku tahu, ia adalah murid pindahan dari Anyang Art High School. Sekolah yang memiliki popularitas yang tinggi, namun entah apa yang membuat dia pindah kesekolah yang aku dan Ji Hye sekolahi. Yang ku tahu namanya OH SEHUN. Aku menyukainya hanya karena alasan yang tak logis. Ia mampu membuatku nyaman dan merasa melupakan masalah keluarga ku. Aku sangat berterimakasih padamu Sehun. Dan aku bahagia karena memiliki seorang sahabat sepertimu. Walaupun ku tahu kalau hati ini ingin memiliki status yang lebih padamu. Namun kau telah berpacaran dengan Ji Hye, dan sebaiknya aku pergi dan menghindar darimu, aku tak ingin menjadi penghalang untuk hubungan kalian. Aku hanya bisa mengucapkan ‘selamat’ atas hubungan kalian berdua.

Tubuhku mulai limbung, rasanya benar-benar menusuk hati. Sungguh aku tak tahu dengan semua ini. Setelah aku membaca untaian kata yang di tulis So Ra, ternyata aku baru tahu kalau gadis itu menyukaiku. Aku tidak tahu menahu tentang perasaan So Ra padaku. Kini penyesalan mulai menjalar lebih leluasa di dalam hatiku. Semenjak detik ini dan hari ini aku mengetahui kalau dirinya mencintaiku.

Sekarang belum terlambat, aku harus kembali ke rumah sakit dan menunggui dirinya sampai ia sadar dari koma. Aku harus menyampaikan semua permintaan maafku dan penyesalan yang ada di hatiku.

Dengan cepat ku lipat semua kertas-kertas bewarna itu dan memasukannya di dalam saku celana sekolah ku.

Mulai melangkahkan kaki dan meninggalkan kamar So Ra dan beserta isinya dengan langkah lebar.

-FRIENDSHIP LOVE-

Hanya sebentar aku memandang diri So Ra di rumah sakit. Menatapnya sendu dengan tatapan penyesalan. Namun diri So Ra tak kunjung terbangun dari tidurnya. Aku sudah memegangi tangan dinginnya dengan kedua tanganku yang menggenggamnya. Namun aku yakin kalau So Ra benar-benar tak merasakannya.

Sudah berulang kali ku lontarkan kata permintaan maafku padanya dan sudah berulang kali juga ku ucapkan kalau aku benar-benar menyesal telah melukai hatinya karena tak peka dengan perasaan So Ra. Namun gadis itu seakan tuli dan tak merespon perkataan ku barang sekalipun.

Ia tetap saja tertidur dengan kedua mata yang mengatup. Tetap berbaring di atas tempat tidur dengan posisi tubuh yang tak pernah berpindah. Sampai aku menatapnya cukup lama dan menangis dalam renungan. Tiba-tiba saja Ji Hye melponku dan menyuruhku datang ke taman Kota yang sudah di rubungi oleh gelapnya langit malam. Aku hanya menyetujui permintaannya dan sudah duduk berdampingan dengannya di bangku taman yang berada di taman Kota.

Terpaan angin malam begitu terasa menyejukkan, membuat benda apa saja bergoyang akan terpaan angin sejuk.

Bintang-bintang hampir memenuhi gelapnya langit Kota. Sedikit menyinari taman Kota yang kami duduki. Namun ada beberapa lampu taman yang tengah berdiri tegak guna menyinari taman yang kami singgahi.

“Kau kemana saja, Sehun? Aku sudah mencarimu dan menelponmu. Namun kau tak kunjung mengangkat panggilanku dan kenapa baru sekarang kau mengangkatnya?” Ji Hye menanyainya dengan wajah panik dan nada yang sedikit kesal.

Aku tahu, ini adalah sifat yang selalu ia tunjukan padaku. yang ku suka darinya adalah dirinya yang selalu mencemaskanku dan mempedulikanku. Diriku sangat peka dengan tingkah lakunya yang sangat perhatian padaku. Namun entah kenapa aku tak peka dengan perasaan So Ra. Yang ku tahu ia tak pernah menunjukan rasa sukanya padaku.

Wajahku mulai menengadah ke atas, menatap langit Kota Seoul yang banyak di taburi bintang-bintang. Ucapan Ji Hye membuatku teringat pada So Ra kembali. So Ra tak pernah menanyai kabarku dengan nada selembut Ji Hye. Ia hanya menanyainya dengan tingkah biasa-biasa saja. Namun aku mengingat kembali, ternyata So Ra juga sangat mempedulikanku.

Ia sering menanyaiku, namun aku tak merespon lebih tentang kecemasannya karena aku berpikiran kalau So Ra tak pernah serius dengan semua ucapannya.

“Aku sedang menemani So Ra dirumah sakit.”

“Apa?” kedua mata Ji Hye membulat lebar, menatapku dengan raut wajah yang terkejut.

“So Ra sekarang koma.” Ucapku lemas, aku benar-benar tak sanggup mengatakan tentang keadaan So Ra sekarang. Rasanya benar-benar sakit mengatakan itu semua pada Ji Hye.

“Sejak kapan So Ra koma, Sehun?”

“Sudah seminggu yang lalu.”

Wajahku mulai tertunduk dengan kedua tangan yang saling tertaut di atas pangkuanku.

“Bukankah itu hari saat kau memarahinya?”

Dengan cepat ku tolehkan wajah ini menghadap Ji Hye. Gadis itu memandangku dengan tatapan yang sulit di artikan.

Kenapa ia mesti mengungkit kejadian itu lagi. Aku sungguh tak sanggup mendengarnya.

“Tolong jangan ingatkan aku tentang itu semua. Aku mohon.”

-FRIENDSHIP LOVE-

Kini aku dan Ji Hye tengah berjalan beriringan, berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan keranjang buah parsel yang berada di tanganku.

Seragam sekolah masih melekat di tubuh kami berdua. Setelah pulang sekolah, aku dan Ji Hye memutuskan untuk menjenguk So Ra di rumah sakit. Ji Hye mencemaskan keadaan So Ra, dirinya belum sempat menjenguk So Ra. Awalnya kami akan menjenguk So Ra kemarin malam. Namun kemarin malam terlanjur hujan dan mengurungkan niat aku dan Ji Hye. Jadi kami putuskan untuk pergi menjenguk So Ra setelah pulang sekolah.

Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut aku dan Ji Hye. Kami berdua tetap berjalan sembari terdiam. Hanya suara orang-orang yang tak ku kenal yang sangat terngiang di koridor rumah sakit ini.

Kini kami berdua sudah berada di depan kamar rumah sakit. Kamar yang kami datangi adalah kamar So Ra.

Tanganku mulai beralih pada knop pintu itu, membukanya perlahan dan mengedarkan pandanganku pada penjuru kamar So Ra. Namun tiba-tiba saja penglihatanku mendapati tempat tidur So Ra yang kosong dan sudah tersusun dengan rapi. Aku sungguh terkejut dan membuka pintu itu dengan selebar-lebarnya.

Sepertinya Ji Hye sudah bisa membaca gelagatku yang terkesan frontal. Bagaimana tak terbaca? Aku bahkan sangat terkejut dengan wajah yang panik. Kini Ji Hye mulai menilik wajahku dengan bijak, namun aku tak menghiraukannya.

Ia sudah melangkahkan kakinya dan memasuki kamar So Ra. Namun ia juga sama terkejutnya denganku.

“So Ra kenapa tidak ada, Sehun?” Ji Hye menanyainya dengan nada panik dan menatapku dengan tatapan penekanan.

Kepalaku hanya menggeleng di hadapan Ji Hye. Aku benar-benar tak tahu kemana So Ra pergi.

Aku berinisiatif untuk menemui perawat yang bertugas di resepsionis. Berlari hingga membawaku sampai kehadapan resepsionis.

“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya resepsionis itu setelah aku sudah sampai kehadapannya.

“Saya ingin bertanya, kemana pasien yang berada di kamar 107?”

Perawat itu mulai membuka lembaran buku panjang yang berada di atas mejanya.

“Oh, Nona Jung So Ra, beliau sudah pindah dari rumah sakit ini.”

“Apa?”

Aku benar-benar terkejut atas penuturan suster itu, membelalakkan kedua mataku yang terkejut tak terkendali.

“Apa anda tahu pasien Jung So Ra di pindahkan?”

“Maaf Tuan, kami tak bisa memberitahukan hal lebih lanjut tentang pasien. Karena ini sudah prosedur dari rumah sakit yang harus kami patuhi.”

Wajahku mulai menunduk kebawah. Kenapa So Ra pergi? Apa gadis itu sudah sadar dari komanya? Aku masih terus-terusan bertanya dalam hati sembari memejamkan kedua mataku sejenak.

“Kalau begitu terimakasih.”

Wajahku masih saja tertunduk dan meninggalkan meja resepsionis untuk menemui Ji Hye yang sempat tertinggal. Pasti Ji Hye masih berada di depan kamar So Ra.

Saking terkejutnya, aku sampai melupakan Ji Hye dan meninggalkannya begitu saja demi So Ra.

Aku benar-benar terkejut dan ingin menanyai keberadaan So Ra. Dan rasa penyesalan semakin berkembang biak di dalam hati dan pikiranku.

“Bagaimana Sehun? Apa So Ra sudah di temukan?” Ji Hye bertanya padaku saat aku sudah menduduki diriku di samping dirinya yang duduk di kursi tunggu yang berada di sudut sisi koridor rumah sakit.

Kepalaku menggeleng pelan dan mulai menengadahkan wajah ke depan.

“So Ra sudah pindah dari rumah sakit ini.”

Kulihat wajah Ji Hye yang tercengo sembari tertegun. Menatap mataku dengan dahi yang mengerut.

“Tidak mungkin. So Ra tak mungkin pergi.”

-FRIENDSHIP LOVE-

Entah sudah berapa tahun sekarang, tidak terasa bila sekarang aku sudah menjalani kehidupan tanpa ada So Ra yang berada di sampingku. Yang ku rasa ini sudah lewat dari 6 tahun setelah aku tamat dari sekolah menengah keatas. Namun diri So Ra tak kunjung hadir dan gadis itu tak pernah menemui aku dan Ji Hye.

Sampai sekarang aku dan Ji Hye tak pernah mendapat kabar tentang dirinya, aku tak tahu kalau So Ra masih hidup atau tidak. Terakhir kali, aku dan Ji Hye mendatangi kediaman So Ra yang berada di daerah Gangnam. Namun yang kami temukan adalah penghuni baru rumah itu.

Penghuni itu bilang kalau keluar Jung sudah pindah, namun pemilik baru itu tak tahu keberadaan keluarga So Ra. Dan tanpa jejak apapun, So Ra pergi dari kehidupan aku dan Ji Hye. Ia benar-benar telah pergi tanpa meninggalkan bercakan jejak sedikit pun.

Sekarang ini aku berdiri tepat di depan pigura yang berukuran besar. Pigura itu melekat apik di dinding.

Yang berada di pigura itu adalah sosok aku dan Ji Hye. Aku hanya tersenyum kecil saat berada di foto itu. Aku tak tahu perasaan apa yang mengganjal di hatiku saat aku ingin mengucapkan ikrar janji antara aku dan Ji Hye. Sampai upacara itu selesai, aku tak kunjung menampakan keceriaan.

Foto ini di ambil saat aku dan Ji Hye sudah sah menjadi pasangan suami-istri. Yang ku tahu Ji Hye sangat bahagia saat hari pernikahan kami di lakukan.

Dan mulai tahun silam dan tahun ini, aku sudah sah menjadi suami dari Kim Ji Hye.

Kakiku mulai melangkah, membawa tubuhku kedepan pintu yang tertutup rapat. Ku alihkan tangan ini untuk memutar knop pintu dan mulai mengedarkan pandanganku ke dalam penjuru ruanga ini.

Begitu banyak barang-barang yang berantakan dan tak tersusun rapi. Dan sedikit cahaya tampak menyembul di sela-sela jendela ruangan ini.

Ini adalah gudang dan wajar bila barang-barang di dalamnya tak tersusun rapi dan tak terurus.

Aku sudah mulai memasuki ruangan ini dan berjalan menghampiri sebuah lemari yang tampak banyak debu yang menempel di lemari ini. Membuka lemari ini perlahan dan mengambil kotak peti kecil berwarna coklat.

Peti yang sudah berada di tanganku tampak kusam dan berdebu, membuatku harus meniupnya meskipun sesekali aku terbatuk akan debu yang berterbangan.

Ku buka peti itu perlahan dan sudah mendapati tiga kertas berwarna yang berada di dalamnya. Kertas itu saling terlipat dan tergeletak tak beraturan di dalam peti kecil yang berada di tanganku.

“Sudah berapa lama surat-surat ini?” aku bertanya pelan sembari tersenyum getir.

Terlalu miris untuk mengingat kenangan yang terdahulu. Seberapa lama aku menunggunya, ia sama sekali tak kunjung hadir di hadapanku.

“Aku merindukanmu So Ra.”

Tanganku mulai mengerat pada peti kecil yang berada di genggamanku.

Kertas-kertas itu merupakan kenangan terakhir dari So Ra, meskipun bukan ia sendiri yang memberikannya padaku.

Tanganku mulai menutup peti itu kembali dan meletakannya di dalam lemari, menutup lemari itu dengan perlahan.

Mulai kulangkahkan kaki ini dan meninggalkan ruangan itu beserta kenangan So Ra yang berada di dalamnya.

-FRIENDSHIP LOVE-

Kini badanku mulai lelah, berada seharian di kantor membuat stamina tubuhku mulai menurun. Kerja menjadi pemimpin kantor malah membuatku memiliki tanggung jawab yang lebih.

Kini aku sudah menginjakan kakiku ke dalam rumah dan mulai memasuki rumah mewahku dengan sempurna. Aku sedikit merenggangkan dasi panjang yang berada di leherku sembari berjalan lurus. Hingga membawaku melewati ruang tamu.

“Sehun.” Panggilan itu menghentikan langkahku dan membuatku menoleh kebelakang- tempat asal suara.

Aku sudah mendapati Ji Hye duduk di sofa ruang tamu dengan pandangan yang sulit di artikan. Ia terus saja memandangku sembari berjalan menghampiriku yang terdiam.

“Ada apa?” tanyaku datar padanya.

Kini aku benar-benar lelah dan tak ingin membuang waktu istirahatku yang sangat sedikit. Ini sudah tengah malam, kenapa wanita yang berada di hadapanku tak kunjung tidur?

“Aku ingin meminta penjelasan darimu.”

Aku tertegun dan menilik wajahnya lebih bijak.

“Penjelasan? Penjelasan apa?”

“Tentang ini.”

Tangannya yang menggenggam kertas warna di acungkannya di hadapanku. Ia menunjukannya tepat di depan wajahku yang terdiam.

Aku perhatikan kertas itu dengan seksama dan kemudian beralih menatap Ji Hye dengan tatapan dingin.

Kini aku baru tahu ternyata kertas yang berada di tangannya adalah kertas perahu So Ra yang sudah ku simpan bertahun-tahun di dalam peti kecil yang berada di gudang.

“Dari mana kau mendapatinya?”

“Apa So Ra mencintaimu?” ia bertanya dengan kedua mata yang tampak berkaca-kaca.

Yang dapat ku simpulkan darinya adalah kekecewaan. Aku tahu, pasti Ji Hye merasa kecewa dengan apa yang baru saja ia ketahui.

Aku tak pernah memberitahunya tentang So Ra yang menyukaiku. Aku hanya menyembunyikan itu sendiri tanpa Ji Hye ketahui. Aku benar-benar tak sanggup bila mengakui ini semua pada Ji Hye. Aku sudah menyakiti So Ra dengan ketidak pekaan yang aku miliki. Dan pasti So Ra tak ingin bila aku menyakiti Ji Hye hanya karena dirinya.

“Sudahlah tidak perlu di bahas lagi.” Jawabku tak acuh dan mulai melangkahkan kakiku pergi meninggalkan Ji Hye yang tetap terdiam di tempatnya.

“Kalau aku tahu sejak awal, aku tak akan berpacaran denganmu maupun menikah denganmu.” Suara Ji Hye menghentikan langkahku seketika dan tetap membelakanginya sembari menatap kosong ke depan.

“Maafkan aku atas hari dimana kau memarahi So Ra. Semua itu salahku, aku yang mengajak So Ra untuk menemaniku. Jadi semua itu bukan salah So Ra. Saat aku terjatuh, itu murni karena kelalaian ku sendiri. Aku mohon maafkan aku Sehun.” Ku dengar Ji Hye terisak pelan setelah mengucapkan kata-kata itu.

Sekarang aku sudah tahu semua dari dirinya sendiri. Aku tak tahu, harus bersikap bagaimana ke Ji Hye. Di dalam hatiku ada kekesalan yang ingin ku luapkan. Namun aku tak bisa menyakiti Ji Hye, tak ada yang perlu ku salahkan dari dirinya. Ini semua juga salahku karena terlampau terhanyut tentang keluhan Ji Hye.

“Aku ingin dapat perhatian lebih darimu, maka dari itu aku lebih memilih bersifat seperti itu di hadapan kau dan So Ra.”

Kini amarahku tiba-tiba saja membuncah di dalam hati dan sudah menjalar hingga ke ubun-ubun. Ji Hye benar-benar egois. Baru ku sadari jika gadis itu memiliki sifat yang buruk termasuk pada sahabatnya sendiri.

Dengan cepat ku tolehkan tubuhku kebelakang dan menatap Ji Hye dengan tatapan amarah yang sudah membara.

“Apa kau tahu yang sudah kau perbuat Ji Hye? Apa kau tak punya hati sampai rela menjerumuskan sahabatmu sendiri?” aku berujar dengan nada yang sedikit tinggi, sehingga membuat Ji Hye memejamkan kedua matanya erat hanya karena bentakan yang ku peruntukan padanya.

“Aku mohon maafkan aku.”

Ini tak bisa di biarkan. Bertahun-tahun kupendam penyesalan dan rasa bersalahku sendirian. Dan baru sekarang ia mengakuinya padaku. Rasa kesalku padanya telah membuncah keluar sehingga membuat Ji Hye terisak lebih kencang.

Aku benar-benar tak peduli atas dirinya yang terus saja menangis. Aku mulai membalikan tubuhku dan semakin meninggalkan dirinya yang terduduk lemas di lantai sembari menangis.

-FRIENDSHIP LOVE-

“Selamat atas pernikahan kalian.”

Semua teman-temanku selalu memberikan ucapan selamat padaku dan Ji Hye. Memang mereka pantas mengucapkan selamat padaku dan Ji Hye. Kami baru melangsungkan pernikahan dan kini sudah berjalan dua minggu.

Di tempat yang ramai inilah aku dan Ji Hye berjalan beriringan. Melewati setiap orang yang ku kenal dengan senyum kecil yang mengukir di kedua sudut bibirku.

Mereka semua adalah teman-teman ku dan Ji Hye sewaktu sekolah menengah ke atas.

Setiap orang yang kami lalui selalu mengucapkan selamat dan tersenyum menggoda pada kami. Namun aku dan Ji Hye hanya mengucapkan terimakasih dan tetap terus berjalan untuk menghampiri teman-temanku yang paling dekat denganku.

“Oh Sehun. Kim Ji Hye.” Lelaki itu Xi Luhan, ia adalah teman terdekatku sewaktu SMA, aku dan dia selalu menghabiskan waktu bersama untuk bermain bola kaki.

Ia tampak melemparkan senyuman padaku dan Ji Hye. Dan pandanganku beralih pada wanita yang berada di sampingnya. Yang ku tahu ia adalah istri Luhan yang sangat ia cintai, namanya Choi Yura. Aku sempat ke acara pernikahannya dengan wanita yang bernama Yura saat ia dan Yura menikah sebulan yang lalu.

Kami mulai berbincang dan saling menyapa.

“Aku permisi ke toilet dulu.” Ji Hye berpamitan padaku setelah kami sudah berdiri sempurna di hadapan Luhan dan Yura.

Ia mulai melangkah pergi dari hadapanku yang tengah berbincang dengan Luhan.

Para alumni murid sekolah mengadakan pesta untuk acara reuni. Dan acara reuni ini sudah di datangi banyak orang yang seangkatan denganku sewaktu sekolah dulu. Konsep acara ini adalah pesta dansa yang membuat kami harus mengenakan tuksedo dan gaun elegan bagi para wanita.

“Dia siapa?” Luhan bertanya dan mengalihkan pandangannya dari mataku.

Yang ku lihat ia tampak tertegun seperti menatap suatu objek yang berada di belakangku. Kini aku beralih menatap Yura, wanita itu juga tengah memandang kearah yang sama seperti Luhan.

Dengan perlahan ku ikuti arah pandang mereka dan memutarkan tubuhku kebelakang dengan perlahan.

“So Ra.” Dengan spontan aku menyebut nama itu.

Benar-benar tak bisa di percaya. Wanita itu bahkan sangat cantik dengan balutan dress yang elegan. Aku yakin kalau ia adalah So Ra. Wanita yang selalu membuatku merasa bersalah.

Namun tatapanku beralih menatap orang yang berada di sampingnya. Lelaki itu memiliki postur badan yang tak terlalu tinggi, namun lelaki itu memiliki wajah yang tak kalah tampan.

Mata ini terasa sakit saat menerima kenyataan jikalau diri So Ra tengah menggelayutkan kedua tangannya di lengan lelaki itu.

“Halo Sehun.”

Aku bahagia karena sudah mendapati keadaan So Ra secara langsung. Ternyata So Ra masih hidup dan baik-baik saja. Namun di lain sisi aku merasakan ketidak sukaan karena ternyata dirinya datang di hadapanku dengan seorang lelaki yang ada di sampingnya.

Aku tersenyum getir untuk membalas sapaan So Ra.

-FRIENDSHIP LOVE-

“Apa selama ini kau baik-baik saja, So Ra?”

Aku memutuskan ingin berbicara dengannya di luar ruangan. Aku ingin membicarakan hal yang lebih lanjut padanya.

“Aku baik-baik saja.” Hanya itu yang ia ucapkan padaku dan tetap memandang lurus kedepan tanpa mau melihat kedua mataku yang melihat dirinya.

Gelapnya langit malam seakan memburamkan penglihatanku pada sosok So Ra yang cantik. Balutan dress elegannya membuatku harus mengakui kalau dirinya sangat cantik di bawah binarnya bintang langit malam.

“Maafkan aku.”

So Ra mulai menolehkan kepalanya menghadapku. Ucapanku yang terlalu lemah membuatnya menatapku dengan tatapan yang tampak berpikir.

“Apa yang perlu di maafkan?” ia bertanya dengan nada yang terlampau datar dan mulai memfokuskan wajahnya kebawah.

“Maaf karena aku telah menghindarimu dan menyuruhmu untuk menjauhi Ji Hye.”

“Tak ada yang perlu di sesali. Dan kau bisa melihat sendiri, aku tak apa-apa dan aku bisa hidup tenang sekarang.”

Kini aku mulai penasaran dengan kehidupan So Ra.

Setelah wanita itu sudah tampak sehat, tiba-tiba saja sifat dia berubah dan sangat berwibawa. Ku akui kalau jati dirinya sekarang bukanlah So Ra yang dulu. So Ra yang ku kenal tak seperti ini, ia wanita yang baik dan sangat ramah. Namun apa ini? Ini bukanlah diri So Ra yang pernah ku kenal.

“Sifamu sudah berubah.” Aku memberitahunya dengan nada yang datar dan membuatnya harus bertemu dengan tatapanku kembali.

“Ini sudah sepatutnya. Dan maaf kalau aku tak pernah mengabari kalian berdua.”

Ia mulai beranjak dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan aku yang masih terduduk.

“Apa kau sudah tak mencintaiku?” aku langsung bangkit dari dudukku dan menatap punggung mulusnya dari belakang.

Gaun yang ia kenakan sedikit terbuka dan membuat lekukan tubuhnya yang sempurna menjadi terlihat. Aku tak pernah tahu kalau ternyata So Ra adalah gadis yang sangat sempurna di bandingkan Ji Hye.

Ia tetap saja terdiam dan tetap membelakangiku.

“Mencintaimu? Dari mana kau tahu semua itu?”

“Aku tahu atau tidak, itu semua tak perlu kau ketahui.”

So Ra langsung membalikan tubuhnya dan menatapku dengan tatapan datar.

“Aku mencintaimu So Ra. Aku sudah mencintaimu sejak lama, namun aku tak pernah mengungkapkannya padamu. Aku merasa tak pantas mengucapkannya padamu.” Kini aku sudah mengakui yang sebenarnya, rasanya beban di hatiku sudah mulai berkurang walaupun hanya sedikit.

Jujur saja, orang yang sudah lama ku cinta adalah So Ra. Namun aku adalah lelaki bodoh dan tak bisa mengucapkan yang sejujurnya dari awal.

“Aku tidak tahu tentang kau yang mencintaiku. Namun aku sudah memiliki kehidupan sendiri. Aku sudah menikah dan lelaki yang bersamaku adalah suamiku, namanya Do Kyung Soo.”

Seketika tubuhku mulai membujur kaku. Aku berdiri dengan tatapan yang masih terfokus pada sosok So Ra.

“Dan kau sudah menikah dengan Ji Hye. Tujuanku untuk tak kembali ke hadapan kalian karena aku tak ingin merusak hubungan kau dan Ji Hye. Dan aku ucapkan selamat atas pernikahan kalian.”

“Sejak kapan kau menikah dengannya?”

“Sebelum kau dan Ji Hye menikah.” Pertanyaanku langsung di jawab So Ra dan membuat diriku harus menahan kepahitan ini seorang diri.

Ia mengucapkannya begitu santai dan terkesan tak terjadi apa-apa. Namun aku tetap memandangnya dengan tatapan kerinduan yang tak bisa ku jelaskan.

“Tolong jaga Ji Hye dan jangan pernah menyakiti Ji Hye. Meskipun aku baru tahu tentang perasaanmu sekarang, tapi aku tak bisa meninggalkan suamiku.”

“Aku~” tiba-tiba saja bibirku kelu dan membuatku terdiam sejenak seperti orang idiot di hadapan So Ra.

“Aku mohon So Ra jangan membuatku merasa tertekan dengan perasaan ini. Aku benar-benar mencintaimu dan maafkan aku jika membuatmu merasa kegetiran ini seorang diri. Aku memang lelaki bodoh yang tak bisa mengakui kejujuran di hadapanmu.”

Sekarang aku benar-benar seperti orang idiot. Mengemis pengungkapan cinta yang ingin dapat respon positif darinya. Menatapnya dengan kedua mataku yang penuh pengharapan lebih.

“Tapi aku sudah menikah dengannya. Aku harap kau melupakan semua kenangan palsu itu.”

Setelah mengucapkan itu semua, So Ra langsung melangkahkan kakinya dan meninggalkanku dengan kedua manik mataku yang berkaca-kaca.

Ini semua tak bisa di bendung. Penolakan yang So Ra lontarkan begitu menusuk di hatiku. Seakan ada tohokan bambu runcing yang menembus hingga ke ulu hatiku yang paling dalam.

“Tapi aku benar-benar mencintaimu.”

Air mataku mulai mengucur dari pelupuk mataku dan sudah membasahi kedua pipiku.

Kini aku menyesal, sungguh sangat menyesal.

Aku mulai menunduk dan menangisi penyesalan ini dalam diam dan renungan.

.

.

.

_END_

 

 aku mau ngelunasi ff yang ku post di mari,,, jadinya aku post juga di sini. tapi nie ff udah aku post di wp pribadiku klo kalian mau kunjungi wp pribadi ku, kunjungilah http://fishytelekinetics.wordpress.com

dan niatnya kalo semua ff hampir udah mau lunas,,, aku mau buat projek ff yg married life😄

28 responses to “[TWOSHOOT] Friendship Love (2/2) – Choi Yura

  1. Jadi sehun juga cinta sama sora. Kerenn sumpah.. pembalasan nya bener2 ngenes nyesekk.. fell dapet abis.. keren keep writting

  2. hiks..T^T nyesek banget bacanya..thor masih ada kta yg typo jadi mungkin bisa lebih teliti lagi..
    DAEBAK…ditunggu ff yang lain

  3. hiks..T^T nyesek banget bacanya..thor masih ada kta yg typo jadi mungkin kedepannya bisa lebih teliti lagi..
    DAEBAK…ditunggu ff yang lain^^

  4. YaAmpunn ngeness nyaa sehunn… Kereenn ff nya thor^^ aku pengen ada side story nyaa deh thor, saat sora nya koma dibawa kmna trs gmna prtemuannya sama kyungsoo>< tapii ituu cma prermintaan kcil ajasihh😀 hehe gini aja udh memuaskan^^ keep writing thor^^

  5. Sad ending TT || Sayang banget soranya udh nikah & bener jihye memang egois** asdfghjkl.. kesel banget dengan jihye || di tunggu yaa ff marriage lifenya ^^

  6. Kenapa dari dulu gak ngaku aja sih sehun kalo suka sora, aigoo tp untungnya sora bahagia juga sm kyungsoo wkwkwk
    Daebak thor^^

  7. nyesek abis,ternyata sehun suka juga sama sora ,aihh….padahal berharap sehun sama sora,ternyata hmmm…tak sesuai yang di harapkan ~~
    tapi bagus thor keep writing and fighting!

  8. Sad ending bagi sehun, and happy ending bagi sora/? Sedih banget ceritanya eon. Di ff ini bnyk yg bisa aku pelajari. Ditunggu karya selanjutnya eonn ^^

  9. Astagfirullah FF ternyesek yang aku baca Minggu ini, Aku kasihan sama Sehunnya sumpah. Ngenes banget. I read this fic sambil dengerin lagunya Whitney Houston yang ‘I Have Nothing’ Feelsnya dapet banget.
    Keren padahal aku kira disini sehun bakal sama sora yehet T^T

  10. Kyaaaaa udah ada ENDnya
    demi apa ?? Trnyata Sehun jg Cinta ama SoRa, tp knp dia ga mau jujur ?? Trs knp pas di SHS sikapnya kya biasa2 aja tuh ke SoRa bahlan trkesan ga ada sukanya sama sekali. Yrs pertanyaan trbesarku adalh KNP SEHUN GA MAU NGUNGKAPIN PERASAANNYA PAS MASIH DI SHS ???!!!!

    good job chingi
    saranghae heheee

  11. Hhuuuaaaa nangis baca ni ff😦
    Suka bangetttt sm ff ini..
    Keren bangettt ><
    Apalagi sm karakter sora suka banget sumpahhhh
    Ff ini juga mirip ama jalan hidup saya #curhat
    Smoga aku bisa sekuat sora😀

  12. keren thor, cuma lebih nyesek yang pertama sih(??) aku jadi sebel sama ji hye wkwkwk jahat banget jadi sahabat. sehunnya juga hih-_- pokoknya keren thor!!! keep writing:Db

  13. Nyeseek banget thor. aku sampe nangis loh. malang banget nasib cinta mereka. tapi gantung thorr. aku msh berharap ada sequel yg bkal happy endingn mereka😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s